Rimbunan Pisang di Nunmafo

MENJAGA alam tetap lestari sambil memanfaatkan kekayaan alam merupakan hal yang biasa dilakukan masyarakat desa. Demikian juga warga di Desa Nunmafo, Kecamatan Amabi Oefeto Timur. Kabupaten Kupang.

Warga desa di ini juga selalu menjaga kelestarian hutan dengan tujuan menjaga agar debit air tetap mengalir di wilayah ini. Namun belakangan ini ada saja oknum tidak bertanggung jawab yang membabat hutan.

Desa Nunmafo berjarak sekitar 75 dari Kota Kupang, masuk dalam wilayah Kecamatan Amabi Oefeto Timur yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Kupang Timur. Menuju ke desa ini melintas jalan Timor Raya (jalan negara) dan masuk ke jalan kabupaten melalui Kecamatan Fatuleu (setelah Camplong). Untuk mencapai desa ini, harus melewati jalan aspal, jalan berbatu dan jalan tanah yang berlumpur saat musim hujan.

Sebagian besar masyarakat Desa Nunmafo adalah petani, namun desa ini hingga tahun 2003 hampir tidak memiliki tanaman unggulan yang bisa mendongkrak ekonomi rakyat. Infrastruktur jalan yang belum memadai menjadikan wilayah ini jauh dari akses pembangunan.

Hingga tahun 2003, sebuua yayasan sosoal mulai membuka isolasi kemiskinan di wilayah ini. Pola pendampingan yang dilakukan lembaga tersebut dengan mengajak menanam sambil menjaga lingkungan membuat masyarakat mulai mengerti cara bercocok tanam yang baik.
Salah satu yang dikembangka masyarakat adalah pisang seperti kafendi, ambon, beranga dan aneka tanaman lainnya "Pada tahun 2005, para petani menanam 446 anakan pisang dari berbagai jenis di kebunnya masing-masing," ungkap Olis Isa salah satu petani di desa tersebut.

Dengan menanam pisang, ada tiga manfaat sekaligus yang diperoleh, yaitu daun pisang dapat menahan asap terutama asap yang berasal dari api liar (aifui), akar pisang sebagai bahan dasar obat lokal, sedangkan tanaman pisang bisa dimanfaatkan untuk menahan erosi.

Pengembangan tanaman pisang sejak tahun 2005 tersebut sedikit merubawa wajah desa khususnya di kebun-kebun petani. Hutan pisang menjadi hal yang biasa bagi warga desa. Bahkan kini mereka sudah menikmati pisang hasil jerih parah mereka.

Bila berkunjung ke desa tersebut, tidak heran bila menyusuri pedalaman maka kita akan melewati rimbunan pohon pisang. Tanaman pisang pun kini sudah dinikmati warga" Saat ini, kami tidak perlu menjual pisang ke pasar. Banyak pedagang yang masuk mencari pisang di sini," tutur Simon, salah satu warga desa tersebut.

Menurutnya, hasil penjualan pisang tersebut sudah sangat membantu ekonomi keluarga. Hasil penjualan pisang, selain memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga sudah digunakan untuk membiayai sekolah anak-anaknya, bahkan sudah bisa membeli sejumlah peralatan elektronik. (Alfred Dama)

Pos Kupang, 17 Juli 2010 halaman 5
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes