Pesona Carbonero-Seredova

Sara Carbone dan Iker Casillas
SPANYOL versus Italia. Pasukan di bawah koordinasi Iker Casillas melawan pasukan di bawah pengaruh Gianluigi Buffon. Dua tim terbaik Eropa yang sama-sama dipimpin oleh dua kapten yang adalah kiper atau penjaga gawang. Dua tim finalis Piala Eropa 2012 yang sama-sama dipimpin oleh pemain berpengalaman dengan usia di atas 30 tahun.

Kehebatan Casillas ataupun Buffon, di kampungnya masing-masing, tak perlu diragukan lagi. Aksi di Piala Eropa 2012 sejauh ini sudah membuktikan kehebatan mereka. Dan tentu saja, di belakang karier kiper-kiper terbaik ini ada perempuan-perempuan yang berpengaruh besar bagi kehidupan dan kepribadian mereka.

Iker Casillas mungkin bisa dikatakan lebih beruntung karena sering didampingi oleh Sara Carbonero. Pasalnya, Carbonero adalah seorang presenter dan reporter olahraga televisi yang sering meliput ajang-ajang akbar sepak bola, tempat Casillas juga bisa hadir.

Dia juga kerap menulis kolom di surat kabar-surat kabar besar di Spanyol. Pada Juli 2009, Carbonero dinobatkan oleh FHM USA sebagai "Reporter Terseksi di Dunia", meski kemudian wawasannya sebagai jurnalis olahraga sempat dipertanyakan karena beberapa kali melemparkan pertanyaan konyol kepada narasumbernya.

Alena Seredova-Gianluigi Buffon
Namun, keberuntungan ini kerap dikritik juga oleh sejumlah pihak. Kehadiran perempuan berusia 28 tahun ini di lapangan dinilai kerap mengganggu konsentrasi Casillas saat tampil bersama timnya. Salah satunya, saat Spanyol ditaklukkan 0-1 oleh Swiss dalam laga penyisihan Grup C Piala Dunia 2010. Dia juga akhirnya dikenal setelah mewawancarai kekasihnya seusai salah satu laga. Saat itu, Casillas menciumnya di depan jutaan pasang mata di seluruh dunia.

Pasangan ini rencananya akan menikah setelah ajang Piala Eropa 2012 berakhir. Rumor berkembang bahwa mereka akan menikah pada 7 Juli mendatang. Namun, kabar itu sempat ditampik oleh keduanya.

Oleh pembaca Blick.ch, sebuah situs besar di Polandia-Ukraina, dia dipilih sebagai istri atau kekasih (WAGs atau Wife and Girlfriends) bintang sepakbola yang paling menarik. Penampilannya memang menarik, apalagi karena dia tak segan bergerak ke sana-kemari demi tugasnya.

"Tugas tetap nomor satu, baru kemudian bertemu dan memberi semangat kepada Iker. Saya berharap Spanyol bisa meraih prestasi terbaik di Polandia-Ukraina. Mengenai kostum, apa yang saya pakai, itulah yang paling nyaman buat saya," katanya.

Ingat surat terbuka Gianluigi Buffon yang dituliskan sebelum laga semifinal melawan Jerman, 28 Juni 2012? Surat terbuka itu dipuji banyak pihak. Mereka kagum dengan kepribadian yang kuat dari Buffon untuk menularkan semangat dan keberanian untuk bermimpi kepada semua orang.

Kehidupan pernikahan yang bahagia bersama Alena Seredova menjadi inspirasi tersendiri bagi hidup Buffon. Wanita cantik asal Ceko yang dinikahinya pada Juni 2011 ini kerap terlihat di tribune-tribune penonton bersama kedua anak lelaki mereka, Louis Thomas dan David Lee, untuk menonton aksi kiper berusia 34 tahun itu bersama timnya.

"Kehadiran keluarga bisa menjadi motivasi bagi setiap pemain," ungkap perempuan yang juga berusia 34 tahun ini saat menyaksikan Buffon dan timnas Italia mengalahkan Irlandia, 18 Juni lalu.

Di sela-sela kehidupannya sebagai istri dan ibu, runner-up Miss Ceko 1998 dan mantan supermodel Ceko itu membangun bisnis fashion-nya sendiri berlabel Baci e Abbracci dengan menggandeng mantan striker timnas Italia, Christian Vieri.

Tentu tak ada kaitan langsung dua diva ini dengan hasil pertandingan di Stadion Olympic Kiev, Ukraina, hari Minggu nanti. Namun, jika menerawang dari pesona tiap-tiap diva kapten kedua tim ini, kira-kira Spanyol atau Italia yang akan menjadi juara Eropa berikutnya?

Sumber: Kompas.Com

Selamatkan Anak Bangsa

ilustrasi
SUDAH menjadi rahasia umum bahwa peredaran narkoba selalu melalui jaringan yang rapi sehingga sulit terdeteksi. Sejak lama  Indonesia menjadi salah satu tempat yang elok bagi beroperasinya jaringan internasional antara lain sindikat dari Iran, Nigeria, India, China, dan Malaysia. Dan, sindikat tersebut melibatkan warga negara Indonesia (WNI) baik pria maupun wanita. Sudah banyak yang telah dibekuk aparat berwenang, menjalani proses hukum hingga  vonis mati.

Namun, masih banyak juga yang  lolos sehingga Indonesia mau tidak mau harus memperkuat diri dalam perang melawan kejahatan narkotika.

Tiada hari tanpa perang melawan kejahatan narkotika.Segala daya dan upaya konkret mesti kita lakukan guna memutus mata rantai peredaran narkotika dan obat- obatan berbahaya (narkoba).  Tujuannya cuma satu yakni menyelamatkan segenap anak bangsa ini dari kehancuran. Dalam konteks itulah kita sungguh mengapresiasi langkah Kepolisian Resor Kota (Polresta) Manado menangkap Akbar Datunsolang (28),  anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) atas dugaan memiliki narkoba jenis sabu sabu, Senin (25/6) lalu.

Meski tidak serta-merta memberantas peredaran narkoba, namun langkah kepolisian tersebut memberi efek positif secara hukum. Penegakan hukum yang tegas terhadap pengedar dan pengguna narkoba  merupakan salah satu cara meminimalisir mata rantai peredaran narkoba di Provinsi Sulawesi Utara.Tentu masih banyak cara yang harus ditempuh secara simultan dengan melibatkan setiap komponen masyarakat.

Menurut pandangan kita,  lembaga keluarga merupakan fondasi utama selain lembaga pendidikan  dan lingkungan sosial. Mengingat kelompok generasi muda merupakan pasar utama narkoba, maka fokus perhatian kita hendaknya ditujukan kepada mereka. Setiap keluarga di Sulawesi Utara mesti segera menyelamatkan anak-anak dan remaja dari serangan bom narkoba yang mematikan itu. Sebagai warga masyarakat kita tidak boleh diam. Setiap orang wajib meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas remaja di lingkungannya. Jika ada gelagat yang mencurigakan, segera ambil langkah pencengahan cepat dan tepat. Narkoba bisa menimpa siapa saja termasuk anak, saudara, famili atau tetangga kita.


Bahaya narkoba di negeri ini memang mencemaskan. Data yang disampaikan
Ketua Badan Narkotika Nasional (BNN) Ketua BNN, Gories Mere akhir tahun lalu bikin bulu kuduk berdiri.

Menurut Gories Mere, berdasarkan hasil survei prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia, jumlah pengguna makin meningkat dari tahun ke tahun. Prevalensi penyalahgunaan narkoba tahun 2009 adalah 1,99 persen dari penduduk Indonesia berusia 10-59 tahun atau sekitar 3,6 juta orang. Pada tahun 2010, meningkat jadi 2,21 persen atau sekitar 4,02 juta orang.

Pada tahun 2011, prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat 2,8 persen atau sekitar 5 juta orang. Gories melukiskan hal itu sebagai fenomena gunung es. Artinya masih banyak pengguna yang belum terdeteksi. Lebih mencengangkan lagi kalangan pelajar dan mahasiswa merupakan kelompok paling rentan mengonsumsi narkoba. Gila! *

Sumber:Tribun Manado 28 Juni 2012 halaman 10

Kokoh di Tengah Krisis

ilustrasi
TENTANG sepakbola, Italia memiliki dua  karakter yang khas. Pertama, negeri itu memiliki sistem pertahanan grendel alias catenaccio yang dipandang sebagai cara bermain sepakbola negatif. Cara main bola yang tidak atraktif dan menghibur penonton. Karakter kedua persis seperti dilukiskan pemain bintang Spanyol, Xabi Alonso.  "Italia selalu mempunyai problem pada babak awal, tetapi kemudian mereka  menjadi lebih baik dan akhirnya juara. Italia memiliki kekuatan luar biasa di tengah krisis," kata Alonso merujuk pada prestasi Italia di Piala Dunia 2006.

Ya, tahun 2005-2006 wajah sepakbola Italia sungguh berlumuran malu oleh skandal calciopoli (pengaturan skor) di ajang kompetisi elit Serie A. Skandal anti fair play yang dibuka polisi Mei 2006 melibatkan juara liga Juventus dan klub-klub terkemuka seperti AC Milan, Fiorentina dan Lazio. Mereka dituduh mengatur permainan dengan memilih wasit tertentu, dan beberapa pemain dituduh memperjudikan pertandingan sepakbola secara ilegal.

Pengadilan kemudian menghukum Juventus degradasi ke Serie B, pengurangan 30 nilai untuk musim berikutnya (2006/2007), penghapusan dua gelar juara Serie A musim 2004/2005 dan 2005/2006, dilarang tampil di Liga Champions Eropa 2006/2007 serta didenda 100.000 dolar AS. Lazio dan Fiorentina juga dihukum meski tidak seberat Juventus.

Dibayangi skandal memalukan  itu Italia menuju putaran final Piala Dunia 2006 di Jerman. Ketika banyak orang pesimistis akan prestasinya, Italia justru perlahan namun pasti terus melaju ke babak puncak bahkan dengan menggulung tuan rumah Jerman di semifinal. Di partai final Italia mengalahkan Perancis lewat adu penalti.

Sepakbola Italia sungguh hebat! Hanya tahun 1970  kesebelasan Samba Brasil di bawah komando sang maestro Pele berhasil menang telak 4-1. Setelah itu, hampir 40 tahun Italia tidak pernah kalah dengan selisih skor tiga gol. Malah melawan Belanda sejak tahun 1978 pasukan biru tersebut tak terkalahkan.

Kali ini di Piala Eropa 2012 Italia tampil pas-pasan dengan hanya bermain imbang 1-1 melawan Spanyol dan Rusia di Grup C. Tapi di laga akhir grup melawan Republik Irlandia, grafik permainan Squadra Azzurra makin baik dan  menang 2-0 untuk lolos ke perempatfinal bertemu Inggris (juara Grup D). Krisis dalam negeri pun menghantui persiapan tim nasional Italia. Meski belum segempar skandal tahun 2006 silam, namun masalah pengaturan skor kembali tercium di negeri itu. "Krisis membuat kami lebih tangguh," kata kapten tim Gianluigi Buffon. Perjalanan Italia di Euro 2012 memang masih panjang dan berliku. Namun, bukan mustahil  keyakinan Buffon  menjadi spirit bagi Italia untuk melaju lebih jauh.

Kita bisa memetik hikmah dari karakter sepakbola Italia yaitu bagaimana mengelola krisis menjadi sebuah momentum untuk bangkit. Krisis tak mesti membuat galau berkepanjangan. Krisis demi krisis dalam kehidupan kita, baik dalam rumah tangga, keluarga, tempat kerja bahkan krisis sebagai  warga bangsa tidak boleh mematikan kreativitas. Individu atau kelompok masyarakat yang tangguh justru memandang krisis sebagai peluang mengasah diri untuk meraih kejayaan baru.*

Sumber: Tribun Manado 21 Juni 2012 halaman 10

Racun Rasialisme

RASIALISME, diskriminasi terhadap bangsa yang berbeda, teramat kental telah mewarnai dunia sepak bola di Eropa. Mulai pertandingan antarklub hingga pesta sepak bola antarnegara, rasialisme sering terjadi di "Benua Biru" itu. Pelecehan rasial dilakukan terhadap pemain sepak bola berdasarkan warna kulit, kewarganegaraan, agama, atau etnis.

Beberapa korban biasanya tim lawan pelaku rasialisme. Sejumlah kasus yang dialami pemain justru karena perlakuan dari pendukung tim sepak bola yang sama.

Tak hanya Eropa, rasialisme sepak bola juga melanda belahan dunia mana pun, mulai dari Amerika, Asia, hingga Afrika yang pesepakbolanya kerap menjadi sasaran rasialisme suporter kulit putih. Celaan yang sering diekspresikan adalah dalam bentuk suara menyerupai monyet.

Kasus tersebut, misalnya, terjadi saat pertandingan liga Perancis antara Paris Saint-German melawan RC Lens, Januari 2005. Padahal, kedua klub ketika itu sepakat untuk melakukan gerakan anti-rasialisme mengenakan seragam serba putih untuk Paris Saint-German dan hitam untuk RC Lens.

Inisiatif itu justru menjadi bumerang karena sebagian penonton menirukan suara kera saat pemain RC Lens menguasai bola. Insiden yang cukup terkenal adalah ketika Samuel Eto'o yang saat itu bermain di klub Barcelona mendapatkan perlakuan rasialis dari fans Real Zaragoza.

Sejumlah suporter bersuara seperti monyet jika Eto'o tengah menggiring bola. Saat itu pula, mereka menghamburkan kacang ke arah lapangan. Eto'o berniat meninggalkan lapangan di tengah pertandingan, tetapi dicegah rekan-rekannya.

Pemain Barcelona, Ronaldinho, yang juga menerima ejekan serupa meski tak seintens Eto'o, membujuknya. Barcelona kemudian menang 4-1. Seusai laga, Eto'o melakukan tarian seperti kera dengan alasan para penonton Real Zaragoza memperlakukannya tak berbeda dengan hewan tersebut.

Beberapa suporter Indonesia ternyata juga pernah terlibat tindakan rasialis. Dalam pertandingan persahabatan antara Filipina dan Indonesia di Rizal Memorial Stadium, Manila, Filipina, pada 5 Juni 2012, sejumlah suporter Indonesia berteriak, "Hindi kayo Pilipino!".

Teriakan dengan arti "Kamu bukan orang Filipina" itu ditujukan kepada para pemain sepak bola Filipina yang merupakan keturunan pernikahan campuran. Berdasarkan kesejarahan, Filipina saat masa penjajahan abad ke-19 banyak didatangi warga Spanyol.

Mereka kemudian menetap, menikah dengan penduduk setempat, dan menghasilkan keturunan yang disebut mestizo. Hingga saat ini, cemoohan terhadap para mestizo yang dianggap bukan warga Filipina asli sesekali masih diutarakan.

Di beberapa daerah di Polandia, nyanyian antisemit (kebencian terhadap Yahudi) dikumandangkan sekelompok warga di beberapa sudut kota menjelang Piala Eropa 2012. Beberapa pendatang berkulit hitam juga menerima hinaan berupa suara bak kera yang dilontarkan dari teras-teras rumah penduduk.

Nomor 88 di Jerman

Rasisme dalam sepak bola Jerman lebih halus. Suara kera digantikan dengan kode, misalnya nomor 88 yang identik dengan HH. Huruf-huruf itu merupakan singkatan dari "Heil Hitler" atau "jayalah Adolf Hitler", pemimpin Jerman yang memicu Perang Dunia II.

Rasialisme di Jerman turut diakselerasi reunifikasi pada tahun 1990. Gerakan baru neo-Nazi mulai melebarkan sayapnya dalam persepakbolaan. Mereka memanfaatkan pertandingan-pertandingan sepak bola sebagai ajang untuk menyerang komunitas lain, terutama keturunan Turki.

Dalam laga antarklub Jerman, Sachsen Leipzig dengan Hallescher, pemain Adebowale Ogungbure juga diteriaki "nigger" yang merupakan istilah bagi budak berkulit hitam. Pemain gelandang Sachsen Leipzig dari Nigeria itu juga diludahi dan dipanggil monyet.

Sebagai balasannya, ia meletakkan dua jari di bawah hidung dan memberikan salam Nazi kepada para pendukung Hallescher yang menghinanya. Ogungbure ditahan polisi Jerman karena segala hal yang berbau Nazi dilarang. Namun, ia dibebaskan 24 jam kemudian.

Kejadian lain yang cukup menarik perhatian pemerhati sepak bola adalah saat Inggris menghadapi Spanyol dalam pertandingan persahabatan di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, Spanyol, November 2004. Shaun Wright-Phillips dan Ashley Cole menjadi korban.

Jika kedua pemain Inggris berkulit hitam itu mendribel bola, suara-suara kera dari para pendukung Spanyol membahana. Bahkan, ketika para pemain Inggris masih menyanyikan lagu kebangsaannya, "God Save The Queen", sebelum laga dimulai, sejumlah fans "La Furia Roja" sudah mencemooh.

Pihak UEFA memberlakukan denda untuk menekan tindakan rasialisme. Namun, upaya itu tampaknya tak berdampak besar. Setelah investigasi terhadap laga Spanyol-Inggris, UEFA memberikan denda 87.000 dollar AS (sekitar Rp 820 juta) kepada Federasi Sepak Bola Spanyol.

Spanyol diancam menerima sanksi lebih berat jika rasialisme masih terjadi. Perdana Menteri Inggris Tony Blair dan Menteri Olahraga Inggris Richard Caborn bahkan bereaksi. Caborn menyatakan, perilaku fans Spanyol lebih terbelakang 20-30 tahun ketimbang Inggris.

Bahkan, Afrika juga tak lepas dari rasialisme. Maklum, di "Benua Hitam" itu bermukim banyak suku. Perang dan konflik negara-negara miskin yang berkecamuk menjadi akar persoalan rasialisme yang mengemuka dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk sepak bola.

Hanif Adams, pemilik klub sepak bola Zambia, Lusaka Dynamos, mendapatkan perlakuan rasis sewaktu mencalonkan diri menjadi presiden Asosiasi Sepak Bola Zambia. Adams tak disukai beberapa pencandu sepak bola Zambia karena ia keturunan India. (bay)

Sumber: Kompas.Com

Kepung CR7

Cristiano Ronaldo (AP)
CRISTIANO Ronaldo (CR7) bakal dikepung para pemain Real Madrid dan Barcelona saat Portugal bertemu Spanyol dalam semifinal Euro 2012 di Donbass Arena, Rabu (27/6/2012) malam atau Kamis (28/6/2012) dinihari Wita. Spanyol melaju setelah mengalahkan Prancis 2-0. Sedang Portugal lebih dulu meraih tiket usai mengandaskan Republik Ceko 1-0.

Ronaldo yang bersama Real Madrid musim ini mengemas 46 gol di La Liga, bakal berhadapan dengan rekan sendiri seperti kiper Iker Casillas, gelandang Xabi Alonso, dan bek Sergio Ramos, serta Alvaro Arbeloa. Nah, yang menarik Ronaldo selalu bermain di sisi kanan pertahanan lawan, baik saat membela Real Madrid maupun timnas Portugal.Ddengan demikian ia akan bertemu, head to head, dengan rekannya di Real Madrid, bek kanan Spanyol,  Arbeloa.

Selain itu, ia pun bakal dijepit para pemain Spanyol asal Barcelona yang merupakan rival abadinya yakni Xavi, Andres Iniesta, Sergop Busquet dan Cesc Fabregas. Para punggawa La Braugana ini  pastinya akan semakin termotivasi untuk mengalahkan Ronaldo sebagai dendam kekalahan Barcelona dari Real Madrid musim ini.

Xabi Alonso, yang memborong dua gol Spanyol ke gawang Prancis kemarin,  mengakui bahwa performa Ronaldo sedang dalam puncaknya. Permainannya di Real Madrid membuktikan kelas Ronaldo sebagai pemain dunia. Namun yang menjadi perhatian utamanya menjelang melawan Portugal adalah, tim harus terus fokus dan bermain dalam performa terbaik.

Namun sebelumnya, banyak pihak telah menyatakan bahwa Portugal tak melulu Ronaldo. Ada pemain lain yang juga memiliki kemampuan yang patut diwaspadai, yaitu Nani dan Joao Moutinho. Keduanya juga kerap memberikan andil bagi kemenangan tim."Portugal juga punya penyerang yang dapat membahayakan lawan, dua sayap Ronaldo dan Nani adalah pemain yang hebat," katanya dilansir Reuters.

Di kubu Portugal, selain ada Ronaldo juga ada Pepe dan Fabio Coentrao yang bermain sebagai bek tengah dan bek kiri Real Madrid. Kedua pemain juga pasti sudah hafal benar permainan gelandang dan penyerang Barcelona dengan tiki-taka-nya. Alonso bahkan memperkirakan bahwa pertandingan semifinal nanti akan menjadi reuni yang hangat antara pemain dua tim yang berasal dari Real Madrid. "Tapi yang pasti adalah, semua pemain akan bertarung mati-matian untuk memenangkan pertandingan," tuturnya.


Gelandang Spanyol, Cesc Fabregas pun mengakui bahwa Portugal akan menjadi lawan yang menyulitkan di laga semifinal nanti. Ia menilai Selecao, yang berisikan pemain berkualitas, tak akan mudah dikalahkan. "Portugal akan sangat sulit dikalahkan. Mereka memiliki pemain yang kuat, Ronaldo, Nani, Raul Meireles, dan Joao Moutinho. Mereka juga sangat bagus dalam serangan balik, dan kami akan bekerja keras dalam pertandingan nanti," jelasnya.Bek La Furia Roja, Sergio Ramos menyatakan siap menghadapi Portugal di semifinal. Baginya, Portugal akan menjadi lawan yang berat untuk dihadapi. "Setiap pertandingan adalah final dan Portugal bermain sangat baik untuk mencapai semi-final, jadi nanti akan sulit," tuturnya.

Pertahankan Formasi
Pelatih Spanyol, Vicente Del Bosque lagi-lagi menerapkan strategi penyerang palsu di laga perempatfinal melawan Prancis, dengan memasukkan Cesc Fabregas menggantikan Fernando Torres. Meski sempat menuai banyak kritikan, Bosque tetap membanggakan taktiknya yang menurutnya selama ini cukup berhasil. Menurutnya, ia tetap memeragakan permainan menyerang, walaupun tanpa penyerang murni. Bukan tidak mungkin ia akan tetap mempertahankan skema 3-4-3 tanpa penyerang dalam menghadapi Portugal di semifinal. Pasalnya, selain Fernando Torres juga gagal mencetak gol tambahan saat melawan Prancis, Pedro yang diturunkan menggantikan Silva juga tampil cemerlang.

Di kubu Portugal, kapten tim Cristiano Ronaldo mengakui bahwa laga semifinal akan lebih berat daripada sebelumnya. Tapi ia yakin dengan performa tim yang terus membaik. "Kami tahu pertandingan semifinal akan sulit, tapi kami siap. Kami percaya diri, tim ini sangat matang, jadi kami siap untuk duel melawan Spanyol," tuturnya.

Bek Pepe juga optimistis menjelang laga semifinal. Baginya, siapapun lawannya, Portugal siap meladeninya.  "Kami siap menghapi Spanyol. Mereka adalah tim besar. Kami menunggu mereka. Saya harap saya akan bermain dengan baik dalam pertandingan nanti, sehingga kami mencapai final," paparnya. Sayang, optimisme mereka sedikit dirusak dengan kabar buruk. Penyerang andalan Helder Postiga dipastikan absen. Meski awalnya Federasi sepakbola Portugal menyatakan ia hanya akan absen di semifinal, namun cederanya dikabarkan sangat parah.

Jika Spanyol mengalahkan Portugal, mereka akan bertemu dengan Jerman yang akan melawan pemenang antara Inggris dan Italia. Sebelumnya pada Piala Eropa 2008, Spanyol merebut trofi setelah menekuk Jerman 1-0 di final. Spanyol adalah tim pertama yang berkesempatan mematahkan mitos bahwa juara bertahan Piala Eropa tidak pernah mampu mempertahankan trofi untuk kedua kalinya, termasuk menyandingkannya dengan trofi Piala Dunia. (tribunnews/wid)

Sumber: Tribun Manado 25 Juni 2012 halaman 1

Cucchiao Pirlo

Pirlo memperdayai Joe Hart di Kiev, 24 Juni 2012
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

MALAM panjang dan membosankan di Stadion Olimpiade Kiev-Ukraina, Minggu 24 Juni 2012 berakhir manis. Dan, seniman yang menghibur itu bernama Andrea Pirlo, satu-satunya pria Italiano berwajah inosen di Euro 2012. 

Pirlo memberi pesan tegas  Italia 2012 memang tim tanpa bintang di antara 16 kontestan. Namun, bintang tua seperti dia belum tergolong karatan. Pirlo tetaplah Pirlo yang menjadi roh Squadra Azzura disokong tiga veteran lainnya kiper Gianluigi "Gigi"  Buffon, si anak nakal Antonio Cassano dan bek tengah  Danielle De Rossi.

Di saat ketegangan demikian memuncak dalam drama adu penalti melawan Inggris setelah skor 0-0 selama 120 menit, Pirlo tetap cool.  Eksekutor pertama Italia, Mario Balotelli membuka skor adu penalti setelah tembakannya mampu mengoyak sisi kanan gawang Joe Hart. Inggris menyamakan 1-1 lewat sontekan jitu kapten tim Steven Gerrard. Moral Italia runtuh saat  tembakan Riccardo Montolivo meleset.

Sementara alogoji Inggris Wayne Rooney mudah saja mengecoh Gigi Buffon.
Dalam posisi Inggris sementara  unggul 2-1, Andrea Pirlo mendapat giliran sebagai algojo ketiga Gli Azzuri. Tidak terbersit sedikitpun keraguan dalam dirinya saat mengambil penalti. Dengan sangat tenang dia mencukil bola ke tengah gawang, memperdayai Hart yang terlanjur bergerak ke sisi kanan. Skor imbang 2-2. Penalti Pirlo menjadi titik balik Italia. Penembak ketiga Ashley Young tertekan. Tendangan Young membentur mistar gawang.

Antonio Nocerino balik membuat Italia unggul 3-2 setelah tendangan penaltinya menipu Hart. Inggris mulai kehabisan napas. Penendang keempat, Ashley Cole gugup. Buffon membaca arah tendangannya ke arah kiri. Si kulit bundar mudah saja dipetik kiper Juventus tersebut. Habislah Inggris. Penendang kelima Italia, Alessandro Diamanti menggenapi kemenangan lewat sepakan kaki kiri.

Penendang kelima Inggris, Joleon Lescott tak perlu menendang lagi karena tim "Tiga Singa" sudah pasti out. Skor 4-2 untuk Italia. Terseok-seok sejak penyisihan grup, Italia kini sudah berada di semifinal Euro 2012 dan siap  melawan Jerman yang so  pasti "pusing kepala" mencari cara jitu untuk menghentikannya.

Penalti Andrea Pirlo ke gawang Inggris pada babak perempafinal Euro 2012 sungguh menjadi buah tutur. Bukan cuma di kalangan pemain bintang, tapi para pelatih. Pirlo  dengan dingin mencongkel bola untuk menipu Joe Hart. Bolanya melengkung, kira-kira setinggi setengah tiang gawang, masuk pelan ke dalam jaring tatkala Joe Hart justru  sibuk menghalau angin.

Ekspresi Pirlo setelah mencetak gol itu pun cool abis. Sedingin pembunuh keji tapi tak merasa berdosa. Padahal itulah gol yang meruntuhkan mental Ashley Young, eksekutor ketiga Inggris. Pelatih Inggris,  Roy Hodgson menyatakan, tendangan  penalti Pirlo dan cara dia mencukil bola tidak biasa diajarkan dalam latihan. Itu sepenuhnya talenta seorang pemain. Talenta itu tidak semata keterampilan mengolah bola, tapi bagaimana ketahanan mental mengelola tekanan pada suasana pertandingan yang menentukan nasib baik dan buruk.

Pelatih Italia  Cesare Prandelli, yang tegang selama babak adu penalti, baru merasa tenang setelah tendangan Pirlo yang indah.  "Dia seorang bintang. Seorang bintang tahu apa yang harus dilakukannya dan, ya, dia melakukannya," demikian Prandelli seperti dilansir UEFA.com.   Media  Italia edisi  Senin 25 Juni 2012 menyebut penalti jenius persembahan gelandang Juventus itu sebagai  Cucchiao. Bahasa Italia yang artinya sendok. Pirlo seperti mencedok bola dengan sendok lalu
memasukkannya secara perlahan ke mulut gawang Inggris.

 Diksi itu pernah diangkat pers Italia untuk penalti Francesco Totti  ke gawang Belanda pada Euro 2000. Aksi kapten AS Roma itu sepertinya menjadi inspirasi Andrea Pirlo kala mengecoh kiper Inggris, Joe Hart. Adalah Daniele De Rossi yang mengingatkan "penalti sendok" tersebut kepada Football Italia. "Malam yang akan selalu dikenang. Tendangan Pirlo mengingatkanku pada gol Totti 12 tahun yang lalu. Pirlo mencetak gol penalti dengan luar biasa," kata De Rossi memuji rekannya.

Lalu bagaimana Pirlo bisa melakukan tendangan yang akan terus dikenang pencinta bola sejagat itu? "Dalam satu saat aku melihat kiper melakukan pergerakan aneh, jadi aku menunggunya bergerak dan menendang bola seperti itu. Buatku, mencongkel bola seperti itu mudah. Apa yang aku lakukan justru menekan Inggris dan faktanya Ashley Young gagal mengeksekusi penaltinya," demikian Pirlo

Terlepas dari faktor keberuntungan bagi Italia  lolos ke semifinal melalui adu penalti, sepanjang laga 120 menit harus diakui mereka bermain lebih baik. Italia di bawah kendali Pirlo bermain lugas dan Pirlo memainkan peran sangat penting.

BBC melansir beberapa fakta terkait Pirlo yang terpilih menjadi man of the match.
Pirlo adalah pemain Italia yang paling rajin memberikan operan. Total Pirlo memberikan 131 passing. Unggul telak dibanding dengan pemberi operan terbanyak di Inggris, Ashley Cole, dengan 44 kali. Sebanyak 13 dari 14 pemain Italia memiliki rerata 80 persen lebih dalam urusan operan yang tipis, sementara Inggris hanya memiliki lima orang dalam kategori tersebut. Italia menendang ke gawang Inggris  39 kali, sebanyak 12 di antaranya ke arah gawang. Sementara lawannya, Inggris, hanya menendang sebanyak 13 kali dengan on target cuma empat kali. Menurut UEFA, Pirlo menjelajahi lapangan sejauh 11,58 kilometer, unggul dibanding kapten Inggris, Steven Gerrard 11,26 kilometer.

Pirlo sukses menjadi jenderal lapangan tengah untuk mengurung Inggris habis- habisan selama 90 menit bahkan sampai babak tambahan waktu 2x15 menit. Dengan statistik ball possesion 64 persen, Italia membalikkan perkiraan banyak orang bahwa tim asuhan  Prandelli  akan bermain defensif. Striker Mario Balotelli mendapat sedikitnya lima peluang emas, namun tak satupun bisa menjebol gawang Joe Hart, rekan setimnya di klub juara Inggris musim ini, Manchester City.
Kekurangan Italia adalah penyelesaian akhir yang buruk  serta gagal menembus kokohnya lini pertahanan Inggris yang dikoordinir bek Chelsea, John Terry.

Bagaimana dengan Inggris? Sepakbola Inggris di Euro 2012 makin tua dan melapuk. Inggris memainkan  gaya bertahan total ala Italia tahun 1980-an yang ketinggalan zaman.  Ketika trio Italiano dipimpin Leonardo Bonucci mengurung Wayne Rooney, tak satupun kreator Inggris yang memupus kebuntuan itu.

Gerrard bermain terlalu ke bawah, sehingga Rooney  harus sering turun menjemput bola sendiri. Itu membuatnya lelah. Danny Welbeck dan Andy Carrol pun tak berbahaya bagi Buffon karena minimnya pasokan bola matang ke kotak penalti. Lapangan tengah Inggris mati kutu tanpa kehadiran Frank Lampard yang cedera dan buruknya penampilan Gerrard. Gerrard mati, Inggris habis!

Inggris sesunguhnya punya pemain dengan karakter dan kualitas lebih kurang sama dengan Pirlo dalam hal usia, kematangan mental, passing, assist,  kontrol bola dan visi bermain. Sayang  dia tidak masuk skuad. Namanya Paul Scholes. Dalam 20 tahun terakhir Inggris menghasilkan puluhan pemain bintang sepakbola dunia sekelas pengumpan nomor wahid,  David Beckham. Namun,  Inggris tidak pernah melahirkan pelatih yang baik. Negara monarki itu cenderung tradisional termasuk dalam mengurus sepakbola. Saat Don Fabio Capello mundur,  FA memilih  Roy Hodgson.  Om Roy sudah terlalu tua usianya. Yang tua lazimnya kurang kreatif lagi. Yang tua  mestinya tahu dirilah. Ciao England! *

Manado, 25 Juni 2012

Tragedi Bloemfontein

"Gol" Lampard 2010
 
"Gol" Marko Devic 2012
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

GELANDANG
Inggris yang absen di Euro 2012 karena cedera, Frank Lampard  tak akan melupakan Bloemfontein. Lampard melukiskan Bloenfontein sebagai tragedi bagi Inggris dan akan selalu terkenang sepanjang hayatnya. Bloemfontein dalam bahasa Belanda berarti "air mancur bunga-bunga" merupakan satu dari tiga ibu kota Afrika Selatan bersama Pretoria dan Cape Town. Nama kota ini dalam bahasa Sesotho adalah Mangaung, yang artinya "tempat para cheetah tinggal".

Tanggal 27 Juni 2010, Frank Lampard menangis di kota ini. Dalam laga melawan Jerman  di babak 16 besar Piala Dunia 2012, tembakan Lampard  menit ke-39 menembus gawang Jerman yang dikawal Manuel Neuer. Bola menerpa mistar lalu memantul ke dalam gawang. Dalam tayangan ulang televisi jelas terlihat bola telah melewati garis gawang, tapi Wasit Jorge Larrionda dari Uruguay tidak meniup peluit untuk mensahkannya sebagai gol. Saat itu Inggris tertinggal 1-2.

Lampard dan pemain Inggris ramai-ramai memprotes Larrionda. Ofisial Inggris di bibir lapangan mulai dari Pelatih Fabio Capello, asisten pelatih Stuart Pearce hingga David Beckham bangkit dari kursi, mengangkat tangan tinggi-tinggi, menggerutu sejadi-jadinya. Apa daya keputusan wasit tak bisa diganggu gugat!

Inggris sempoyongan. Mental John Terry dkk ambruk. Jerman makin garang menggilas lawan hingga 4-1, lebih telak dari kekalahan mereka 44 tahun sebelumnya. "Inggris terkena karma 1966." Begitu bunyi headline pers Jerman.
Inggris pulang dari Afrika lebih cepat dari dua edisi FIFA World Cup sebelumnya ketika The Three Lios bertahan sampai perempatfinal. "Ini lelucon. Hakim garis pura-pura tak melihat. Mereka  kembalikan kita ke tahun 1966," kata fans Inggris dikutip The Sun.  Fans lain berseru nyaring, "Kita butuh hakim garis dari Rusia!"

Rusia yang dimaksud adalah Tofik Bakhramov, hakim garis asal Uni Soviet yang memberitahu wasit Gofffried Dienst (Swiss) di final Piala Dunia 1966, bahwa bola  tendangan Geoff  Hurst menit ke-101 telah melewati garis gawang Jerman yang membuat Inggris juara dunia setelah menang 4-2.  Beda dengan Jorge Larrionda yang tidak berdiskusi dulu dengan asistennya sebelum memutuskan tembakan Lampard tidak gol. Larrionda berseru "Oh My God" melihat tayangan ulang insiden tersebut saat turun minum.

Pada tahun  tahun 1966, sebuah studi menghitung bahwa bola tendangan Hurst  masih berjarak 6 cm dari garis gawang atau belum terjadi gol. Dalam tragedi  Bloemfontein  pers Inggris menyebut tembakan Lampard sudah masuk 60 bahkan 90 cm ke dalam gawang Neuer hingga bisa samakan skor 2-2. Dalam posisi itu Inggris yakin hasil akhir bisa berbeda.

Setelah Wembley 1966 dan Bloemfontein 2012,  "gol hantu" terulang di Stadion Donbass Arena, Donetsk, Ukraina Selasa 9 Juni 2012. Dalam tragedi ketiga ini Inggris yang kegirangan. Dewi Fortuna memihaknya seperti 1966.  Dalam laga penentuan Grup D Euro 2012, bola sepakan pemain Ukraina Marko Devic sejatinya sudah melewati garis gawang Joe Hart sebelum disapu keluar John Terry. Namun wasit Viktor Kassai memutuskan itu belum terjadi gol. Ukraina akhirnya kalah 0-1 dan gagal melaju ke babak perempatfinal.

Beberapa jam kemudian pemimpin wasit UEFA asal Italia, Pierluigi Collina 
angkat bicara. Collina mengakui Ukraina seharusnya berhak atas gol tersebut.
"Kami telah membuat kesalahan," kata Collina, mantan wasit terbaik FIFA. Colina memastikan wasit Viktor Kassai serta para asistennya tidak lagi dipercaya memimpin sisa laga Euro 2012. Tapi dia enggan menyalahkan mereka. "Wasit juga manusia, dan manusia membuat kesalahan," ujarnya.

Insiden Donbass menghangatkan lagi perdebatan heboh soal perlu tidaknya memakai teknologi guna memastikan bola telah melewati garis gawang. Dunia kembali terbelah dalam dua kubu dengan aktornya, Presiden Federasi Sepakbola Eropa (UEFA), Michel Platini dan Presiden Federasi Sepakbola Dunia (FIFA), Sepp Blatter. Blatter mengatakan teknologi garis gawang menjadi harga mati untuk memastikan kesalahan serupa tidak terulang di masa depan.  "Setelah pertandingan Ukraina lawan Inggris, GLT (teknologi gawang) sangat mendesak digunakan sebagai alternatif," tulis Blatter lewat akun Twitternya.

Platini bersikukuh pada sikapnya. Dia menolak karena intervensi teknologi justru mengurangi esensi sepakbola itu sendiri. Menurutnya, penggunaan wasit kelima lebih baik dan dapat mengurangi kesalahan wasit dan hakim garis soal gol. "Dengan adanya wasit kelima, semua akan jelas terlihat. Mereka akan mengambil keputusan dengan lebih tepat," kata Platini kepada The Guardian.

Platini menekankan filosofi bola yang dianutnya yakni tidak boleh mengabaikan sisi manusiawinya. "Teknologi garis gawang sebenarnya bukan masalah. Masalah akan terjadi setelah penggunaan teknologi ini. Akan hadir teknologi yang mengatur handsball lalu memutuskan offside dan seterusnya. Tidak akan berhenti sampai di situ saja. Hal ini akan terjadi terus-menerus. Bola akan kehilangan sisi terpenting yaitu pelaku utamanya tetaplah seorang manusia biasa," kata pria Prancis ini.

Tahun 1966 wasit Dienst  baru dibantu dua asisten wasit (enam mata manusia), tahun 2012 Larrionda dibantu empat asisten (delapan mata), tahun 2012 wasit Kassai disokong lima asisten sekaligus. Bahkan satu asisten khusus bertugas di dekat garis gawang!  Mata wasit bertambah jumlahnya demi menghadirkan laga sepakbola yang lebih fair tetapi akurasinya tetap saja meleset akibat  human error.
Collina benar, wasit adalah manusia dan manusia pasti membuat kesalahan.

Kiper paling kontroversial dalam sejarah bola asal Kolombia, Rene Higuita punya pendapat sederhana. "El Loco" alias Si Gila  kelahiran MedellĂ­n, 27 Agustus 1966 itu menyentil Blatter, mainkan saja robot-robot sepakbola agar golnya akurat. "Bola mempesona karena kontroversi manusia seperti saya," demikian Hiquita. Tuan pilih yang mana, sepakat dengan Blatter atau mengamini pandangan Platini? *

Manado, 22 Juni 2012

Nafsiah Mboi: Terus Terang Saya Happy

Dr Nafsiah Mboi saat dilantik SBY 14 Juni 2012 (tribun)
DOKTER Nafsiah Mboi menikmati jabatan baru sebagai Menteri Kesehatan. Menurut Nafsiah, dia merasa tertantang dengan berbagai masalah yang akan dihadapi di kementerian tersebut. "Terus terang saya happy," kata Nafsiah dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis 14 Juni 2012.

Nafsiah percaya bahwa jajaran Kementerian Kesehatan akan berlaku profesional dan memberi masukan kepadanya untuk menyelesaikan permasalahan. Nafsiah juga tidak menampik kabar bahwa ia sudah sering dinominasikan menjadi Menteri Kesehatan. Namun semuanya itu ia serahkan kepada Tuhan.

"Tuhan telah mengatur hidup saya dengan memberikan pekerjaan yang saya cintai. Alhamdullilah ada hasilnya, kalau belum, pasti masih ada yang lebih baik dari saya," ujarnya,

Dengan masa tugas selama dua tahun sampai 2014, Nafsiah berjanji bekerja secara profesional memimpin Kementerian Kesehatan mengantikan almarhumah Sri Rahayu Sedyaningsih.
"Saya terus terang merasa happy, bukan karena mendapat mobil yang bagus, itu juga saya senang walaupun hanya dua tahun. Akan tetapi bekerja dengan profesional bagi saya sesuatu kebahagiaan tersendiri dan saya sangat mensyukuri karena saya diberi kesempatan," ungkapnya.

Masuknya Nafsiah Mboi dinilai akan membawa angin baru dan perbaikan di tubuh Kementerian Kesehatan. Setumpuk pengalaman di bidang kesehatan menjadi modal tersendiri bagi Nafsiah. Wakil Menteri Kesehatan, Ali Gufron Mukti mengaku sudah kenal dengan Nafsiah. "Beliau cukup berpengalaman. Kita harapkan Kemenkes bisa lebih baik lagi," katanya  di Istana Negara, Jakarta, Kamis (14/6/2012).

Nafsiah, menurut Ali Gufron, adalah pilihan tepat dari Presiden SBY. Diharapkan sepeninggal mendiang Endang setumpuk Pekerjaan Rumah (PR) dalam memberikan dan membenahi pelayanan kepada masyarakat bisa lebih dioptimalkan. Paling tidak, mengenai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Hal itu menurut Ali sangat fundamental dan melibatkan banyak kementerian.

Hal ini tidak mudah. "Jadi itu persoalan yang tidak gampang, di mana seluruh masyarakat Indonesia memiliki jaminan," jelasnya. Selaini itu masalah MDG's , yang juga termasuk bidang yang selama ini digeluti Nafsiah, khususnya mengenai HIV AIDS. "Ini PR yang harus diselesaikan. Dan banyak program yang substansial yang harus menyentuh masyarakat bawah. Itu perlu diselesaikan bersama-sama," lanjutnya.

***

USAI diumumkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  menjadi Menteri Kesehatan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu (13/6/2012), nama Nafsiah Mboi semakin mencuat ke permukaan. Bagi sebagian pegiat kesehatan masyarakat, nama Nafsiah sudah tak asing lagi. Namun, bagi sebagian masyarakat awam lainnya, nama Nafsiah masih asing. Siapakah Nafsiah, yang pernah dicalonkan sebagai menteri kesehatan pada 2004? Berikut ini adalah profil Nafsiah yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan.

Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH adalah dokter spesialis anak yang juga ahli Kesehatan Masyarakat yang telah mengenyam pendidikan di Indonesia, Eropa dan Amerika. Nafsiah memiliki pengalaman karir panjang sebagai Pegawai Negeri di Departemen Kesehatan (1964-1998), sebagai anggota DPR (1992-1997), dan Pegawai Perserikatan Bangsa-bangsa (1999-2002) tepatnya sewaktu menjabat sebagai Direktur Department of Gender and Women's Health pada World Health Organization Pusat di Geneva, Swiss.

Nafsiah yang lahir di Sengkang, Sulawesi Selatan, 14 Juli 1940 adalah lulusan Spesialisasi Dokter Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tahun 1971. Gelar Master of Public Health diperoleh di Prince Leopold Institute of Tropical Medicine, Antwerp, Belgium, tahun 1990. Beberapa penghargaan yang pernah diperolehnya di antaranya Ramon Magsaysay Foundation Award for Government Service dari Ramon Magsaysay Foundation, Manila, Philippines (1986), Satya Lencana Bhakti Sosial diterima dari Presiden Republik Indonesia (1989), Fellow of the Australia-Indonesia Institute (1993), Penghargaan dari Asia HRD Congress (2008) dan Penghargaan Soetomo Tjokronogoro yang diberikan oleh PB-IDI (2009).

Nafsiah menikah dengan Brigjen Purn Dr. Ben Mboi MPH, mantan Gubernur NTT dan dikaruniai 3 orang putra dan 5 cucu. Nafsiah memulai karirnya di Departemen Kesehatan sejak tahun 1964. Beberapa jabatan yang pernah diembannya selama menjadi karyawan Departemen Kesehatan adalah sebagai Kepala Rumah Sakit Umum, Ende, Flores (1964 - 1968), Kepala Seksi Perijinan pada Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Prop. NTT, Kupang (1979 - 1980), Kepala Bidang Bimbingan dan Pengendalian Pelayanan Kesehatan Masyarakat (BPPKM) pada Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Prop. NTT, Kupang (1980 - 1985).

Selain jabatan karir, Nafsiah pernah menjadi Anggota DPR/MPR RI (1992 - 1997), Ketua Komite PBB untuk Hak-hak Anak (1997 - 1999), Direktur Department of Gender and Women's Health, WHO, Geneva Switzerland (1999 - 2002) dan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (2006 - sekarang).

Lebih dari 70 karya dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris telah dipublikasikan, 20 di antaranya adalah makalah dan artikel. Nafsiah dikenal sebagai sukarelawan dan pekerja masyarakat sejak masih berstatus sebagai pelajar. Selain itu, Nafsiah juga dikenal sebagai aktivis bidang keluarga berencana. Dirinya juga mendedikasikan diri untuk upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia.

Komitmen untuk antidiskriminasi dan kesetaraan dalam masyarakat mengarahkan Nafsiah menjadi aktivis untuk hak-hak azasi manusia, dan menjadi salah satu pendiri Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia, anggota Komnas HAM, dan Wakil Ketua Komnas Perempuan.

Terlahir dari 6 bersaudara, Nafsiah Mboi merupakan putri sulung dari pasangan Andi Walinono dan Rahmatiah Sonda Daeng Badji. Ayah Nafsiah adalah hakim yang pernah bertugas di Makassar, Surabaya, Jayapura, dan Jakarta serta merupakan tokoh masyarakat dan intelektual di Sulawesi Selatan. Nafsiah memiliki saudara kandung bernama Prof. Dr. Andi Hasan Walinono, Direktur Jenderal dan Sekjen Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada era 1980-an, dan Erna Witoelar, aktivis lingkungan yang juga mantan Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah pada Kabinet Persatuan Nasional era Presiden Abdurrahman Wahid.

Suaminya, dr. Aloysius Benedictus Mboi atau kerap dipanggil Ben Mboi sempat menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) periode 1978-1988. Keduanya bertemu di kampus FK UI. Ben adalah kakak kelas Nafsiah. Ben sendiri lulus pada 1961 dan sempat terjun bersama Benny Moerdani saat operasi Trikora di Papua Barat pada tahun 1962. Kemudian, setelah Nafsiah lulus pada tahun 1964, mereka menikah dan dikaruniai 3 orang anak. (*)

Biofile
Nama: Nafsiah Mboi

Jabatan: Menteri Kesehatan Indonesia ke-19

Mulai menjabat: 14 Juni 2012

Presiden:     Susilo Bambang Yudhoyono

Didahului oleh: Sri Rahayu Sedyaningsih.

Lahir:     14 Juli 1940

Suami: dr. Aloysius Benedictus Mboi, M.P.H (Mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur)

Anak:     Maria Yosefina Tridia Mboi, Gerardus Majela Mboi, Henri Dunant Mboi

Almamater:     Universitas Indonesia, Institute of Tropical Medicine, Antwerpen, Belgia

(Sumber: Tribunnews, Kompas, Wikipedia)

Bos atau Pemimpin?

Seorang BOS menciptakan rasa takut dalam diri anak buahnya sedangkan seorang Leader alias PEMIMPIN membangun kepercayaan. Seorang BOS mengatakan "saya". Seorang PEMIMPIN mengatakan "kita"

Seorang BOS tahu bagaimana pekerjaan harus dilakukan.Seorang PEMIMPIN tahu bagaimana suatu karier harus ditempa. Seorang BOS mengandalkan kekuasaan.Seorang PEMIMPIN mengandalkan kerjasama.

Seorang BOS menyetir dan Seorang PEMIMPIN memimpin. Seorang BOS menyalahkan. Seorang PEMIMPIN menyelesaikan masalah dan memperbaiki kesalahan. Seorang BOS menguasai 10 persen tenaga kerja bermasalah.Seorang PEMIMPIN menguasai 90 persen tenaga kerja yang kooperatif.

Seorang BOS menyebabkan dendam bertumbuh.Seorang PEMIMPIN memupuk antusiasme yang bertumbuh. Seorang BOS menyebabkan pekerjaan menjemukan. Seorang PEMIMPIN menyebabkan pekerjaan menyenangkan atau menarik.

Seorang BOS melihat masalah sebagai musibah yang akan menghancurkan perusahaan.Seorang PEMIMPIN melihat masalah sebagai kesempatan yang dapat diatasi staff yang bersatu padu, dan berubah menjadi pertumbuhan. INGAT. SEORANG BOS BERKATA, "PERGI! "SEORANG PEMIMPIN BERKATA, "AYO PERGI". BOS kebanyakan Otoriter sedangkan pemimpin Demokratis. (dari berbagai sumber)

Mari kita mengaca diri, masuk daftar BOS atau PEMIMPIN??

Pasukan Anti Galau

Catatan Sepakbola Dion DB Putra

TENTANG
sepakbola, Italia memiliki dua  karakter yang khas. Pertama, negeri itu memiliki sistem pertahanan grendel alias catenaccio yang dipandang sebagai cara bermain sepakbola negatif. Cara main bola yang tidak atraktif dan menghibur penonton.

Karakter kedua persis seperti dilukiskan pemain bintang Spanyol, Xabi Alonso.  "Italia selalu mempunyai problem pada babak awal, tetapi kemudian mereka  menjadi lebih baik dan akhirnya juara. Italia memiliki kekuatan luar biasa di tengah krisis," kata Alonso merujuk pada prestasi Italia di Piala Dunia 2006.

Ya, tahun 2005-2006 wajah sepakbola Italia sungguh berlumuran malu oleh skandal calciopoli (pengaturan skor) di ajang kompetisi elit Serie A. Skandal anti fair play yang dibuka polisi Mei 2006 melibatkan juara liga Juventus dan klub-klub terkemuka seperti AC Milan, Fiorentina dan Lazio. Mereka dituduh mengatur permainan dengan memilih wasit tertentu dan sejumlah pemain bintang dituding menjadikan pertandingan sepakbola sebagai ajang judi ilegal.

Pengadilan kemudian menghukum Juventus degradasi ke Serie B, pengurangan 30 nilai untuk musim berikutnya (2006/2007), penghapusan dua gelar juara Serie A musim 2004/2005 dan 2005/2006, dilarang tampil di Liga Champions Eropa musim 2006/2007 serta membayar denda 100.000 dolar AS (Amerika Serikat).

Lazio dan Fiorentina pun degdradasi ke Serie B. Fiorentina mengawali kompetisi musim berikutnya dengan nilai minus 12 serta membayar denda 63.000 dolar AS. Lazio mendapat pengurangan tujuh nilai plus denda 50.000 dolar AS). AC Milan menjadi  satu-satunya tim yang bertahan di Serie A, tetapi nilainya dikurangi 15 untuk musim berikutnya. Melalui banding, keempat tim tersebut mendapat keringanan hukuman. Fiorentina dan Lazio bertahan di Serie A sementara AC  Milan mendapatkan pengurangan nilai menjadi 8 poin saja. Juventus tetap di Serie B namun memulai musim kompetisi 2006-2007 dengan nilai awal  minus 17. Pada 26 Juli 2006, Inter Milan dinobatkan  sebagai juara Serie A musim 2005/2006.
Juara musim 2004/2005 dinyatakan kosong.

Dibayangi skandal paling memalukan dalam sejarah  sepakbola itu,  Italia menuju putaran final Piala Dunia 2006 di Jerman. Ketika banyak orang mencibir serta  pesimistis akan prestasinya, Italia justru perlahan namun pasti terus melaju ke babak puncak bahkan dengan menggulung tuan rumah Jerman di semifinal. Di partai final Italia mengalahkan Perancis lewat adu penalti. Dalam bahasa gaul remaja masa kini, Italia bagaikan pasukan anti galau. Mereka tidak kalut dan gagap meskipun didera skandal.

Sepakbola Italia sungguh hebat! Hanya tahun 1970  kesebelasan Samba Brasil di bawah komando sang maestro Pele berhasil menang telak 4-1. Setelah itu, hampir 40 tahun Italia tidak pernah kalah dengan selisih skor tiga gol. Malah melawan Belanda sejak tahun 1978 pasukan biru tersebut tak terkalahkan.

Kali ini di Piala Eropa 2012 Italia krisis dalam negeri kembali menghantui persiapan tim nasional Italia menuju Poland-Ukraine 2012. Meski belum segempar skandal tahun 2006 silam, namun masalah pengaturan skor kembali tercium di negeri itu. Italia pun tampil pas-pasan di Euro 2012  dengan hanya bermain imbang 1-1 melawan Spanyol dan Rusia di Grup C. Tapi di laga akhir grup melawan Republik Irlandia hari Senin 18 Juni 2012, grafik permainan Squadra Azzurra makin membaik dan  menang 2-0 untuk lolos ke perempatfinal bertemu Inggris (juara Grup D).  "Krisis membuat kami lebih tangguh. Kami sekarang berusaha lolos ke semifinal," kata kapten tim Gianluigi Buffon.

Perjalanan Italia di Euro 2012 memang masih panjang dan berliku. Namun, bukan mustahil  keyakinan Buffon  menjadi spirit bagi Italia untuk melaju lebih jauh. Lawan yang akan mereka hadapi di babak perempatfinal adalah Inggris yang menang kontroversial atas tuan rumah Ukraina dengan skor 1-0  dalam laga akhir Grup D, Selasa 19 Juni 2012 di Stadion Donbass Arena, Donetsk.

Semestinya laga tersebut berakhir 1-1 sebab Ukraina sempat membuat gol di babak kedua. Namun, wasit tak mengesahkan gol tersebut karena bola dianggap belum melampaui garis gawang. Padahal dalam tayangan ulang televisi, bola jelas sudah melewati garis gawang Joe Hart sekitar setengah meter sebelum dihalau keluar oleh John Terry. Gol yang tidak disahkan  tersebut menimbulkan keraguan  apa manfaat ofisial (wasit) keempat yang bertugas di belakang garis gawang yang mulai diberlakukan UEFA di Euro 2012? Keberuntungan lagi-lagi memihak Inggris setelah sebelumnya menang susah payah 3-2 atas Swedia. 

Melawan Italia di babak knok-out  bukan  perkara enteng bagi The Three Lions. Rekor head to head selama ini menunjukkan, Inggris selalu sulit menghadapi Italia baik dalam kejuaraan resmi maupun laga persahabatan.  Striker Inggris, Wayne Rooney menyadari hal itu.  "Italia akan sulit bagi kami. Namun, kami percaya pada diri kami," ungkapnya. Keraguan Rooney bisa dimengerti. Italia telah terbukti piawai mengelola krisis menjadi momentum untuk bangkit.  Krisis tak mesti membuat galau berkepanjangan.*

Kairagi Manado, 20 Juni 2012

Anekdot Beruang Merah


Dick Advocaat (AFP)
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

RUSIA 
dalam enam tahun terakhir sangat percaya dengan polesan tangan dingin pelatih asal Belanda.  Di Piala Eropa 2008 Rusia memilih Guus Hiddink, pelatih fenomenal yang menciptakan sejarah baru di Piala Dunia 2002 dengan mengantar tim Korea Selatan menembus babak semifinal. Itulah pertama kali dalam sejarah Piala Dunia sejak 1932  tim Asia masuk daftar empat besar.

Setelah sukses menjulangkan Korea Selatan, Hiddink dipinang Australia empat tahun kemudian.  Di tangannya juga Australia yang tak ternama dalam jagat persepakbolaan dunia menembus babak perempatfinal Piala Dunia 2006 di Jerman. Prestasinya  luar biasa itulah menjadi alasan bagi Federasi Sepakbola Rusia memilih Hiddink melatih tim Beruang Merah menuju Piala Eropa 2008.  Dalam melatih kesebelasan Rusia, Hiddink mempunyai asisten pelatih bernama Alexander Borodzjoek. Borodzjoek merupakan pemain profesional seangkatan dengan Oleg Blochin, bintang klub Dynamo Kiev  tahun 1970-an.   Kepada Hiddink, Borodzjoek pernah menceritakan anekdot Rusia berikut ini.

Syahdan, hiduplah dua sahabat yang kurang beruntung sehingga mereka memohon kemurahan dari Tuhan.  Tuhan setuju  tetapi mematok syarat yakni jika seorang meminta, lainnya akan mendapat dua kali lipat dari yang ia minta.  Maka mintalah seorang dari mereka, ”Tuhan, berilah saya rumah yang indah.” Dan sahabatnya pun mendapat dua rumah yang indah. Ia minta lagi sebuah mobil, maka sahabatnya mendapat dua mobil di depan rumahnya. Ia memandang temannya dan berkata, ”Tuhan, ambillah sebuah mata saya....”

Hiddink sangat suka anekdot ini. Diterapkan pada bola, anekdot tersebut akan berbunyi: janganlah kamu meminta kemenangan, nanti lawanmu yang mendapat kemenangan dobel. ”Saya tidak percaya pada keberuntungan. Saya menuntut perjuangan,” kata Hiddink.  Bagi Hiddink, anekdot itu juga mengajarkan, jika kamu berani kehilangan sebelah matamu, lawanmu akan buta. Maka katanya, ”Berkorbanlah dan berikanlah dirimu mati-matian.” (Sindhunata dalam The Che Guevara dari Rusia, Kompas.Com,  Rabu  18 Juni 2008).

Filosofi Hiddink yang terinspirasi dari anekdot ini sungguh mumpuni.  Rusia di Euro 2008 yang dipandang sebelah mata  pers Barat justru sanggup meruntuhkan tim-tim raksasa.  Kala itu Rusia memulai kampanye dengan buruk rupa, kalah 1-4 melawan Spanyol dalam laga pembuka.  Ketika banyak orang pesimistis termasuk para pejabat Federasi Sepakbola Rusia,  Hiddink berhasil membalikkan keadaan. Perlahan tapi pasti Rusia terus melaju hingga babak semifinal sebelum menyerah 0-3 atas Spanyol yang akhirnya tampil sebagai juara dengan mengalahkan Jerman di final.

Rusia sebenarnya masih menginginkan Hiddink bersama mereka lebih lama. Namun, sudah menjadi watak Hiddink yang tak mau bersama sebuah tim dalam jangka panjang. Hiddink memilih istirahat dari urusan si kulit bundar dan jabatan pelatih akhirnya jatuh ke tangan Meneer Belanda lainnya yang juga punya nama besar, Dick Advocaat.

Di tangan Advocaat perjalanan Rusia menuju Poland-Ukraine 2012 bagaikan jalan tol. Mengesankan. Bahkan sampai sebelum laga terakhir Grup A Euro 2012 melawan Yunani di Warsawa, Sabtu malam 16 Juni 2012, Rusia memegang rekor 16 partai tanpa kalah di tangan Advocaat. Dari 16 laga tersebut, tim Beruang Merah memenangi delapan di antaranya.  Terakhir Rusia kalah 0-1 melawan Iran dalam partai persahabatan 9 Februari 2011. Tim ini pun sangat efektif di lini pertahanan serta lini depan. Gawang Rusia hanya bobol empat kali dalam 13 partai terakhir.  Tim asuhan Dick Advocaat mencetak lima gol dalam tujuh tembakan ke gawang lawan selama Euro 2012. Artinya dalam dua laga lawan melawan Republik Ceko dan Polanda  hanya dua tembakan pemain Rusia yang meleset.

Rusia memimpin klasemen Grup A dengan empat poin sebelum menjalani pertandingan terakhir melawan Yunani. Mereka membuka Euro 2012 dengan kemenangan 4-1 atas Republik Ceko dan menahan tuan rumah Polandia 1-1. Melawan Yunani di Warsawa Sabtu malam, Rusia cuma butuh hasil seri untuk lolos ke perempatfinal.

Drama 90 menit di Stadion Nasional Warsawa 16 Juni 2012 berakhir tragis. Yunani justru tampil kesetanan dan menang 1-0 lewat gol gelandang veteran Giorgos Karagounis pada masa injury time babak pertama. Satu gol kemenangan sudah cukup bagi tim dari negeri Dewa Dewi untuk memulangkan Rusia ke kampungnya karena peraturan baru UEFA (Federasi Sepakbola Eropa) mensyaratkan skor head to head bukan hitung-hitungan selisih gol.

Dengan demikian meskipun perolehan nilai Yunani dan Rusia sama-sama empat bahkan selisih gol Rusia lebih baik, Yunanilah yang berhak mendampingi Republik Ceko ke babak delapan besar. Dalam pertandingan di saat bersamaan, Ceko menekuk Polandia 1-0.  Ceko yang dipermalukan Rusia pada partai pembuka justru memimpin klasemen grup dengan poin enam disusul Yunani (4). 

Begitulah misteri bola.  Segala kemungkinan masih bisa terjadi sebelum wasit meniup peluit panjang. Orang banyak menduga  tim sekelas Rusia akan melenggang dengan mudah karena alasan rasional  yang ditopang data statistik tentang kinerja tim ini.  Alasan tersebut luruh dalam hitungan menit ketika Yunani mengepakkan sayap kemenangannya. 

Ingat kenangan Euro 2004 ketika Dunia Menemukan Yunani atas prestasinya yang luar biasa. Terseok-seok sejak penyisihan bahkan tidak masuk daftar unggulan, tim asuhan Otto Rehagel saat itu malah melesat sampai partai puncak dan merebut tropi Piala Eropa dengan mengalahkan tuan rumah Portugal di final. Kemenangan Yunani 2004 memaksa  Cristiano Ronaldo menangis seperti bocah kehilangan mainan kesayangannya.

Lalu, ada apa dengan Rusia? Mengapa tiket perempatfinal Euro 2012 yang nyaris dalam genggaman justru hilang begitu mudah?  Seperti pendahulunya Guus Hiddink, Dick Advocaat tidak percaya mutlak pada faktor keberuntungan.  Meneer Dick sudah meminta Andrey Arshavin dkk bertarung habis-habisan seperti beruang ganas. “Saya menuntut perjuangan keras mereka. Tapi kami ternyata gagal menembus pertahanan lawan. Salut untuk Yunani, mereka sulit dilawan di babak kedua," kata Advocaat.  Anekdot Beruang Merah seolah tergenapi. Selamat jalan Rusia. *

(180612PK)

Nazar Ibrahim




Catatan sepakbola Dion DB Putra

SEPAKBOLA
dilahirkan agar dunia boleh tertawa dan menangis dalam kepolosan.  Tawa dan tangis sebagai ekspresi manusiawi yang  spontan, lugas, tanpa basa-basi. Tangis dan tawa dalam jagat bola bukan lakon sinetron, tidak  sekadar peran tokoh di panggung sandiwara. Tangis bola adalah tangis manusia seutuhnya. Tawa bola adalah tawa human being. Bola memang  senantiasa menyembulkan  ketelanjangan.  Hari ini hingga akhir hayat kisah sepakbola. Entah kapan?

Dengan bertelanjang dada  puluhan ribu putera-puteri Ukrania-Prancis mandi hujan di Stadion Donbass-Arena di Donetsk Ukraina, Jumat (15/6/2012) malam. Mandi bareng tanpa komando diiringi musik halintar dan kilatan blitz  petir karya agung penguasa langit dan bumi. 

Cihuy... sungguh pemandangan langka.  Mestinya itu masuk Guinnes  Book of  Record. Kalau di Indonesia layak  terdaftar di Museum Rekor Indonesia (Muri). Hujan badai dan guntur yang menggelegar di langit Donestk bukan halangan bagi mereka untuk berdansa dalam guyuran hujan yang luruh berderai membahasi bumi.  Mana ada manusia dewasa rela mandi hujan sambil girang ria? Di mana pernah dikau melihat itu?  Benar selalu kata-kata filsuf Albert Camus,  penggemar sepakbola sejati itu:  hanya di lapangan bola aku merasa seperti kanak-kanak lagi.

Kaos basah kuyup dan dingin menusuk kulit tak memaksa lebih dari 40 ribu penonton Jumat malam pulang rumah lebih lekas. Mereka menunggu dengan sabar, menanti dengan nyanyian dan lambaian bendera  sambil menyaksikan petugas stadion menikam-nikam lapangan hijau agar air cepat meresap.  Donbass-Arena merupakan stadion bintang lima, baru dibangun tahun 2009 dengan kapasitas 51.504 penonton. Jauh sebelum Euro 2012 bergulir Kepala Eksekutif Donbass-Arena, Alexander Atamanenko, mengatakan stadion yang menjadi markas klub Shakhtar Donetsk itu memiliki sistem drainase paling bagus di antara stadion Euro 2012 di Ukraina.

Jumat malam 15 Juni 2012, Atamanenko tersenyum getir melihat rembesan air liar menabrak ke mana-mana. Drainase mewah tak sanggup menampung air mata langit yang tercurah sedemikian derasnya. “Kami tidak bisa berbuat banyak. Cuaca ekstrem ini di luar perkiraan kami. Dasyhatnya alam siapa bisa melawan?” kata Atamanenko menjawab ofisial pertandingan yang menggerutu di lorong pemain karena jenuh menunggu kepastian pertandingan bisa berlanjut atau tunda.

Untungnya alam seolah berempati dengan keceriaan dan kesabaran para penggemar bola, tidak hanya di Donbass-Arena tapi miliaran pasang mata sejagat raya.  Kegilaan hujan badai dan halintar yang bersahut-sahutan hanya berlangsung sekitar 30 menit. Cuaca sontak berubah lebih cerah dan pertandingan bisa berlanjut lagi setelah sebelumnya dihentikan wasit pada menit ke-4 detik ke-27.

Isyarat alam Jumat malam jadi pertanda buruk bagi tuan rumah Ukraina. Andriy  Shevchenko dkk yang galak membekuk Swedia 2-1 pada laga perdana Grup D Euro 2012 bermain dalam kedinginan. Begitu minim sontekan  berbahaya yang mengancam Prancis. Setelah 45 menit pertama yang agak membosankan, Ayam Jago berkokok nyaring pada awal paruh kedua. Dalam tempo empat menit gawang Ukraina jebol dua kali.   Ketangguhan Andriy Pyatov di bawah mistar Ukraina luruh di menit ke-53 saat sepakan Jeremy Menez bergulir mulus ke pojok kiri gawang Pyatov. Tiga menit kemudian,  Yohan Cabaye menambah derita Ukraina. Dan, Karim Benzema layak mendapatkan pujian. Dua gol Les Bleus semua berawal dari assist-nya yang  terukur.
Wajar bila kemudian Pelatih Laurent Blanc  mengaku sangat menikmati permainan anak buahnya. “Malam ini, kami lebih baik daripada Ukraina, Tuhan tahu pertandingan ini tidak mudah karena mereka didukung seluruh orang dalam stadion ini," kata Blanc.

Blanc berjingkrak girang. Ukraina belum pupus harapan.  Segala kemungkinan bisa terjadi di Grup D karena masih ada satu partai pamungkas. Nasib sial justru menerpa Swedia. Tim kuning tersingkir! Tercatat sebagai kontestan kedua yang out dari persaingan Euro 2012 setelah Irlandia. Ibrahimovic lunglai di ujung laga. Merunduk  bisu di Stadion Stadion NSK Olympic Kyiv-Ukraina Jumat malam.

Sedih melihat kegetiran Ibrahimovic setelah bertarung spartan selama satu jam 30 menit. Swedia menyerah 2-3 atas Inggris. Swedia 2012 yang amat bergairah harus  pamit lebih awal.  Apa mau dikata.  Ibrahim(ovic) nama Bapak Bangsa miliaran manusia sedunia sudah berusaha menjaga imej  (jaim} dengan menahan air mata. Tidak terekam kamera TV memang. Tapi di  kamar ganti, air mata Ibra mengalir di pundak sang pelatih Erik Hamren. “Kami bermain lebih baik daripada Inggris. Kami memberikan yang terbaik, tapi kemenangan bukan milik kami,” kata Ibra, pria bongsor berkuncir yang menjulang namanya di Serie A selama tiga musim terakhir.  Hamren menghibur Ibra dengan kata-kata klise. ”Ibra, kita kalah dengan kepala tegak. Kita bermain seperti yang diinginkan, tapi mereka (Inggris) mencetak tiga gol, sementara kita hanya dua," kata Erik Hamren.

Nasib baik memang memihak Inggris. Sempat tertinggal 1-2 dari Swedia, The Three Lions  akhirnya unggul 3-2 hingga akhir pertandingan.  Pemain yang mengubah nasib Inggris bernama Theo Walcott. Dia hanya butuh 17 detik untuk menyamakan skor kemudian Inggris berbalik unggul lewat gol Danny Welbeck. Hingga hari ini setidaknya kandidat juara Euro 2012 mulai menampakkan diri. Jerman,  Spanyol, Perancis dan Inggris. Italia masih mencemaskan. Portugal was-was. Belanda agaknya harus mengucapkan sayonara Polandia-Ukraina 2012. Der Oranje sungguh kehilangan roh  total football yang dua tahun lalu amat memukau penonton  Piala Dunia di Afrika Selatan.

Cuma satu hal  hampir pasti dilakoni Zlatan Ibrahimovic. Sebelum Euro 2012 kapten Swedia ini mengungkapkan nazarnya yang unik  yaitu  jika timnya merebut trophi Piala Eropa 2012 maka  Ibra  akan mencukur  rambut kuncir kudanya.  Kuncir itu kesayangan Ibra yang ia pelihara sejak bermain di  Ajax, Inter Milan, Barcelona hingga  AC Milan. Ternyata nazar Ibra tak kesampaian! *

Kupang, 16 Juni 2012 (buat fans Inggris dan Perancis)

Labuan Bajo tak Hanya Komodo

Tarian Caci
BETUL. Kalau Anda ingin melihat komodo di habitatnya, Pulau Rinca dan Pulau Komodo, kota terdekat untuk menjangkau binatang purba tersebut adalah Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Komodo, primadona pariwisata NTT itu, kini menjadi salah satu dari New 7 Wonders of Nature. Dampak positifnya, kota di ujung barat Pulau Flores ini selalu diramaikan kedatangan wisatawan dalam dan luar negeri. Pesawat yang mendarat di Bandar Udara Komodo hampir dipastikan selalu penuh penumpang, apalagi di musim libur. Tujuannya sebagian besar ingin melihat langsung komodo di alam aslinya.

Namun, sebelum melihat komodo, Kota Labuan Bajo juga memiliki beragam obyek wisata yang tak kalah menarik untuk dikunjungi. Sebut saja Kampung Melo. Kampung Melo yang terletak di Desa Liang Ndara, Kecamatan Sanonggoang, merupakan kampung terdekat untuk bisa menyaksikan kesenian tradisional, yakni Caci.

Penasaran dengan pertunjukan Caci, Rabu (30/5/2012) pagi, rombongan Tim Adira Beauty X-Pedition meluncur ke Kampung Melo yang berjarak sekitar 22 km dari pusat kota. "Tidak jauh Bapak, tak sampai setengah jam dari Labuan Bajo," kata Jack, pemandu wisata yang sudah sepuluh tahun menggeluti pekerjaan menemani wisatawan mengunjungi obyek wisata di Kabupaten Manggarai Barat.

Selama perjalanan menuju Kampung Melo, iring-iringan mobil melewati jalan lintas provinsi, jalan yang hanya cukup untuk berpapasan dua mobil. Perjalanan melintasi jalan lintas Flores ini terbilang sangat lancar dan tidak ada hambatan sama sekali. Sangat menyenangkan, jauh dari kemacetan seperti di Jakarta. Setelah melewati Kota Labuan Bajo, selanjutnya jalanan menanjak dan pemandangan di kiri-kanan jalan dipenuhi pepohonan yang menghijau.

"Itu Kampung Melo. Sebentar lagi kita sampai," kata Jack sambil tangannya menunjuk arah depan di mana sudah ada spanduk selamat datang di Kampung Melo yang siap menyambut rombongan Tim Adira Beauty X-Pedition yang saat itu tengah memasuki etape ketiga, yakni menjelajahi bumi Flores. Adira Beauty X-Pedition memulai perjalanan wisata ini dari Tugu Nol Kilometer, Sabang, Aceh. Etape terakhir adalah Papua pada awal Juli 2012.

Nah, sebelum memasuki Kampung Melo, rombongan disambut ketua adat di pa'ang atau pintu masuk kampung serta diiringi alunan musik tradisional. Setiap tamu disambut secara khusus dengan mendapatkan selendang khas Kampung Melo. Lokasi Kampung Melo sekitar 600 meter di atas permukaan laut. Jika cuaca cerah, pemandangan Kota Labuan Bajo dari atas bukit ini begitu cantik.

Musik tradisional masih terus mengiringi para tamu menaiki anak tangga satu demi satu memasuki rumah adat yang dinamakan Rumah Gendang. Ini sekaligus mencerminkan bahwa tuan rumah sangat gembira dan dengan hangat menyambut tamunya.

Di halaman Rumah Gendang, tim Adira Beauty X-Pedition duduk di halaman dan mulailah ketua adat menggelar serangkaian ritual untuk menyambut tamu. Ketua adat juga mendoakan dan memberikan kata-kata ucapan dalam bahasa adat, tanda menerima kami sebagai tamunya. Bagi masyarakat Manggarai Barat, wajib hukumnya menyambut tamu dengan baik dan ramah. Bila sampai ada tamu yang tidak disambut dengan baik, artinya mereka gagal menjaga adat Manggarai Barat. Semua rangkaian prosesi adat ini menunjukkan bahwa Ketua Adat Kampung Melo menerima kunjungan tamu dengan senang hati dan sudah menganggap tamu sebagai saudara.

Sebagai bentuk tanda keakraban, para tamu akan diberikan sopi atau tuak lokal serta pinang sirih. Sopi yang disajikan adalah hasil olahan penduduk Kampung Melo dari pohon enau dan sebagai sopan-santun, para tamu wajib meminumnya. Jangan ragu untuk meneguk sopi, karena rasanya manis. Seusai penerimaan secara adat, tamu akan dipersilakan memasuki Rumah Gendang dan setelah itu dipersilakan duduk di halaman rumah untuk menyaksikan tarian Caci.

Di halaman, beberapa penduduk pria Kampung Melo telah siap-siap dengan kostum dan peralatan tarian Caci, yakni kain yang melingkari pinggang, lonceng yang melingkari pergelangan kaki dan pinggul, tameng, cambuk, dan tongkat. Cambuk yang digunakan terbuat dari rotan dan pegangan kulit. Tameng terbuat dari bambu rotan dan kulit kambing.

Atraksi Caci terdiri dari beberapa babak, di mana setiap babak terdiri dari dua pemain yang secara bergantian akan beralih peran sebagai penyerang dan yang diserang. Ketika melakukan penyerangan, sang penyerang memegang cambuk dan segera mengambil ancang-ancang, memutar-mutar cambuk di udara, melompat-lompat, mengumpulkan seluruh tenaga untuk melakukan serangan dengan mencambuk lawan. Gaya si penyerang yang mengambil ancang-ancang membuat lonceng yang melilit pinggang dan kaki begitu berisik, membuat penonton menahan napas, ingin tahu apa yang selanjutnya terjadi. Sementara yang diserang telah melindungi kepalanya dengan topi dan menutupi wajahnya dengan kain dan tak lupa memegang tameng untuk menahan diri dari serangan.

Alunan musik pun semakin meningkat, mencekam, sekaligus menggairahkan suasana. Bumi makin bergetar dan tiba-tiba.... jeddarrrrrr!!! Suara cambuk yang ujungnya terbuat dari kulit kerbau dan telah dikeringkan itu menggelegar serta mengagetkan tamu yang menyaksikan. Tak sedikit dari mereka yang menutup wajahnya saat melihat si penyerang mencambuk lawannya dengan sekuat tenaga.

Lantas apa yang terjadi? Meskipun mendapatkan cambuk dengan sangat kuat dan membuat luka memar di pinggang dan lengan, tetapi yang diserang malah tertawa-tawa dan menari-nari dengan riangnya. "Ooooiiiii.... maantaappp...." teriak yang diserang sembari tersenyum dan menari, seolah-olah cambukan yang diperolehnya tidak berarti sama sekali. Masing-masing dari mereka merasa gembira dan damai. Babak berikutnya, yang diserang akan berganti posisi sebagai penyerang. Demikian hal itu dilakukan dengan pasangan yang lain.

Meskipun tampak seperti perkelahian serius serta menimbulkan luka, tidak ada rasa dendam antara keduanya. Mereka tetap tersenyum sambil terus menari-nari diiringi alunan musik tradisonal.

Menurut Jack, tarian Caci bukan suatu pertandingan untuk mencari yang menang atau yang kalah. Caci merupakan wujud puji dan syukur kepada Tuhan dan leluhur atas keberhasilan, baik hasil panen, perkembangan penduduk, serta kesehatan jasmani dan rohani. Bagian tubuh yang terkena cambuk mempunyai arti yang penting. Bila punggung lawan terkena cambuk, itu pertanda baik, panen akan menjanjikan. "Darah mengalir dari luka yang kena pecutan cambuk merupakan persembahan kepada leluhur untuk kesuburan tanah," katanya.

Setelah tarian Caci berakhir, dilanjutkan dengan tarian yang dibawakan penduduk perempuan Kampung Melo, yakni Ndundu Ndake dan Tetek Alu. Tarian Ndundu Ndake merupakan tarian persembahan kepada tamu untuk mengekspresikan rasa syukur, terima kasih, dan kebahagiaan.

Selain Ndundu Ndake, ada lagi Tetek Alu, sebuah permainan tradisional di mana kaum perempuan menggerak-gerakkan bambu-bambu dan ada yang menari sambil menghindari jepitan bambu. Para tamu akan diajak bergembira menikmati permainan tradisional dengan iringan musik gendang. Presdir Adira Finance Willy Suwandi Dharma saat pertama bermain Tetek Alu agak kikuk juga. Namun, setelah menemukan irama yang pas, Willy mulai sedikit piawai melompat-lompat menghindari jepitan bambu. Kuncinya cuma satu, jangan sampai kaki Anda terjepit bambu.

Sebelum meninggalkan tempat, ketua adat Kampung Melo mengatakan, "Kami tahu perjalanan Bapak ke puncak Melo. Kami gembira terima Bapak. Semoga tak ada halangan di jalan. Semoga Bapak kembali dengan aman dan bahagia...."

Sumber: Kompas.Com

Che Guevara dari Rusia

Dalam Piala Eropa 2008, Guus Hiddink tak mempunyai target berlebihan. Ia hanya mempunyai satu-satunya tujuan: membuat Rusia bertahan selama mungkin. Hiddink sama sekali belum berpikir menghadapi Belanda.

"Oranye masih jauh di seberang jembatan,” katanya.

Memang, untuk menghadapi kesebelasan Oranye, Hiddink dan anak-anaknya harus membekuk dulu Swedia. Padahal, katanya, ”Swedia mempunyai kaliber yang sama sekali lain dari Yunani.”

Hiddink mengakui, Rusia adalah outsider. Memang tak ada nama besar dalam kesebelasan Rusia. Pers-pers Barat sepakat, jika Rusia mempunyai bintang, itu adalah seorang Belanda. Siapa dia kalau bukan Guus Hiddink?

Che Guus, demikian julukan Hiddink, setelah Rusia memukul Yunani dan berpeluang memukul Swedia. Beberapa fans muda Rusia menggambari kausnya dengan tokoh revolusioner Che Guevara, yang wajahnya beraut guratan muka Hiddink.

Hiddink tiba-tiba menjadi hero baru bagi anak-anak muda Rusia. Memang, sejak Uni Soviet runtuh, belum pernah Rusia lolos dari babak pertama pertandingan akbar Piala Eropa. Jika hal itu terjadi, Hiddink akan menjadi tokoh revolusioner yang mengembalikan kejayaan sepak bola Rusia.

In Guus we trust, pelesetan dari in God we trust, mungkin terdengar kembali jika Hiddink bisa membawa anak-anaknya lolos ke babak berikut dengan menghantam Swedia.

Harapan itu tak mustahil kalau orang ingat Hiddink adalah seorang motivator amat ulung. Terbukti ia berhasil memotivasi kesebelasan-kesebelasan tak bernama. Dalam Piala Dunia 2002, dibawanya Korea Selatan masuk ke semifinal dan menjadi juara keempat. Empat tahun kemudian, di bawah asuhannya, Australia berhasil masuk ke babak perempat final.

Seperti dikatakan kapten Sergey Semak, kali ini Hiddink juga berhasil menciptakan iklim yang sangat bagus bagi kekompakan tim. Di bawah Hiddink, Rusia terbentuk menjadi kesebelasan yang dalam peristilahan bola disebut ”gerombolan anjing muda”.

Istilah ini hendak menggambarkan bagaimana para pemain bermain bola dengan amat gembira, lebih-lebih jika mereka sedang menguasai bola. Persis seperti anjing kecil yang kesenangan bermain bola.

Hiddink mengakui, kesebelasan macam ini juga mempunyai kelemahan besar. ”Kami banyak berlari, tetapi lari kami tadi banyak yang keliru. Sering kali saya lebih suka bila mereka tak banyak berlari, tetapi toh itu dilakukan sebagai langkah yang benar,” katanya.

Bahaya lain dari permainan gaya ”anjing-anjing kecil” ini adalah pemain suka egoistis terhadap bola yang sedang ada di kakinya, padahal seharusnya ia cepat mengoper bola kepada kawannya. Persis seperti anak anjing yang tidak rela jika bola lepas dari kakinya. ”Lihatlah penyerang Roman Pavlyuchenko, berkali-kali ia sendiri di depan gawang Yunani, tetapi selalu gagal. Entah karena nervous, entah karena ia terlalu egoistis dengan bola,” kata Hiddink.

Risiko itu sungguh menjadi malapetaka ketika Rusia dihajar Spanyol, 1-4. Hiddink geram dan memarahi anak-anaknya. Mereka langsung di-drill untuk latihan mengambil posisi yang tepat tanpa banyak berlari. ”Lihatlah Sergei Semak dan Konstantin Zyryanov. Mereka sering membahayakan gawang Yunani, dan itu terjadi bukan ketika mereka berlari, tetapi ketika mereka berada pada posisi yang tepat,” katanya.

Begitulah prinsip sepak bola Hiddink: ”Jangan hanya memandang dan mengikuti bola, tetapi pertimbangkan juga situasi, apa yang sekiranya akan terjadi dalam sedetik dua detik lagi, ketika kamu sendiri atau lawanmu sedang menguasai bola.”

Dalam melatih kesebelasan Rusia, Hiddink mempunyai asisten, namanya Alexander Borodzjoek. Borodzjoek adalah angkatan Oleg Blochin, bintang Rusia dari Dynamo Kiev, yang bersinar di tahun 1970-an. Dari Borodzjoek, Hiddink banyak belajar mengenai sejarah sepak bola di negeri bekas Uni Soviet itu.

Kepada Hiddink, Borodzjoek pernah menceritakan anekdot Rusia ini. Ada dua sahabat yang hidupnya tak beruntung, lalu mereka minta kemurahan pada Tuhan. Tuhan setuju, tetapi meminta syarat: jika seorang meminta, lainnya akan mendapat dua kali lipat dari yang ia minta.

Maka mintalah seorang dari mereka, ”Tuhan, berilah saya rumah yang indah.” Dan sahabatnya pun mendapat dua rumah yang indah. Ia minta lagi sebuah mobil, maka sahabatnya mendapat dua mobil di depan rumahnya. Ia memandang te- mannya dan berkata, ”Tuhan, ambillah sebuah mata saya....”

Hiddink sangat suka anekdot ini. Diterapkan pada bola, anekdot ini akan berbunyi: janganlah kamu meminta kemenangan, nanti lawanmu yang mendapat kemenangan dobel. ”Saya tidak percaya pada keberuntungan. Saya menuntut perjuangan,” kata Hiddink.

Bagi Hiddink, anekdot itu juga mengajarkan, jika kamu berani kehilangan sebelah matamu, lawanmu akan buta. Maka katanya, ”Berkorbanlah, dan berikanlah dirimu mati-matian.”

Hiddink mengakui, Swedia adalah favorit. Namun, tak mustahil anak-anaknya akan membutakan pasukan Lagerback, Kamis (19/6) dini hari nanti.(Oleh Sindhunata Wartawan Pencinta Sepakbola)
 
Sumber: Kompas.Com

Kekalahan yang Heroik

Turki kalah, tapi kalah dengan terhormat. Tanpa beberapa pemain intinya, mereka tetap bermain dengan cemerlang dan terus-menerus membuat kalang kabut Jerman.

Seperti sudah diduga oleh Joachim Loew, malam itu Turki memainkan bola yang sama sekali tak bisa diduga. Permainan Turki digerakkan oleh emosi yang menjilat-jilat. Tapi, mereka tak terbakar oleh emosi itu. Malahan dengan dingin rasio mereka mengendalikan permainan.

Kendati demikian, permainan mereka tak pernah terikat pada struktur rasional yang sistematis dan kaku. Kata Loew, prinsip permainan mereka selalu berubah. Anak-anak Turki selalu pandai menciptakan ruang, kebebasan, dan kreativitas.

Menghadapi Turki malam itu, Jerman benar-benar kewalahan. ”Kaki kami rasanya sulit bergerak,” kata kapten Michael Ballack, yang malam itu tak banyak berkutik. ”Turki terus mendapat angin. Mereka sungguh membuat hidup kami sulit,” aku Philipp Lahm.

Turki memang bermain hebat. Pemainnya seperti tukang sulap. Mereka bermain dari trik satu ke trik lainnya. Betapa pemain Jerman mudah terkelabui oleh trik-trik itu, sampai akhirnya trik itu berubah menjadi gol yang diceploskan Ugur Boral.

Kehebatan Turki tentu tak terlepas dari pelatihnya, Fatih Terim. ”Ia bisa memberikan motivasi luar biasa kepada kami. Ia membuat kami berkobar-kobar. Ia bilang, kami semua kuat. Ia seperti bapak bagi kami. Ia adalah pelatih terbaik yang pernah saya miliki,” kata Semih Senturk.

Terim memang jago dalam menyuntikkan motivasi. Para pemainnya meyakini kata-katanya, seperti para penganut agama meyakini iman yang dikhotbahkan oleh dai atau ustadznya. ”Kami tak mempunyai ketakutan untuk kalah dan kami takkan pernah menyerah,” kata Hamit Altintop.

Pantang menyerah, itulah doktrin sepak bola Terim. Maka, walau banyak pemain inti cedera atau terkena akumulasi kartu, Terim tetap bertekad menang. ”Cedera bukan alasan untuk minta maaf jika kami kalah,” katanya.

Terim hanyalah anak pedagang kecil. Masa kecilnya banyak ia lewatkan di jalanan dengan bermain bola. Maka, ketika kemudian menjadi Pelatih Turki, ia dijuluki ”Imparator Jalanan”. Pantas jika beberapa pengalaman keras dan sifat ”jalanan” itu kemudian memengaruhi alam bolanya. Itu tampak, misalnya, dalam kehendak kuat untuk menang, intuisi mengambil keputusan yang benar, dan tak takut bermain liar.

Di samping itu semua, Terim juga berjiwa patriotik. ”Saya menentang eropanisasi. Eropanisasi dalam segala aspek bukanlah suatu modernisasi. Kita harus pandai memilih dan mengambil, mana yang baik dan indah bagi kami,” kata Terim.

Rindu untuk memiliki identitas yang asli itu juga ditunjukkan Altintop. Altintop lahir dan dibesarkan di Gelsenkirche, Jerman. Toh, ia memutuskan membela Turki. ”Saya tidak berhenti menjadi Turki, tak peduli di negara mana saya hidup. Karena itu, saya memutuskan bermain di timnas Turki,” kata Altintop.

Masalah Altintop dan juga Hakan Balta, yang dilahirkan di Berlin, memang sempat menimbulkan polemik politik. Politikus perempuan dari Partai Hijau, Claudia Roth, mempertanyakan, bagaimana mungkin pemain seperti Altintop dan Balta tidak masuk dalam kader timnas Jerman, padahal mereka dilahirkan dan dibesarkan di Jerman. ”Sekali lagi ini menunjukkan bahwa politik integrasi di Jerman tidaklah berfungsi,” kata Roth.

Masalah tersebut memang patut dipertanyakan. Soalnya, dalam timnas Jerman juga terdapat pemain yang tidak murni Jerman, seperti Miroslav Klose dan Lukas Podolski, yang berasal dari Polandia. Mengapa pemain yang berdarah Turki dan dilahirkan serta besar di Jerman sampai sekarang belum pernah main untuk timnas Jerman?

Syukurlah, masalah perbedaan ras ini tidak merebak sampai ke dalam dunia sepak bola. Sejak tahun 1998, Turki sendiri malah membentuk tim pemandu bakat, yang bertugas mencari pemain-pemain berbakat berdarah Turki yang bermain di liga Eropa. Semboyan tim ini dirumuskan Erdal Keser, profil berdarah Turki yang pernah merumput di Bundes Liga. Semboyan tersebut berbunyi, ”Disiplin dan Hati—Kami mesti memadukan apa yang terbaik dari kedua kultur.”

Itulah sepak bola. Kendati tiap kesebelasan nasional mempunyai ciri khas, identitas, dan rasa nasionalisme, mereka tetap hanya mempunyai satu bahasa, yakni bahasa bola. Bahasa bola itu hanya bisa mempersatukan, tak pernah memecahkan. Betapa pun pertandingan Jerman melawan Turki kemarin sarat dengan emosi nasionalisme dan perbedaan identitas, toh pertandingan itu berjalan dengan damai dan fair karena masing-masing memakai satu-satunya bahasa, yakni bahasa bola.

”Kedamaian dan kesatuan itu adalah warna dari kehidupan. Namun, betapa jarang kita menemui hal demikian dalam kehidupan. Hanya bola yang bisa memberikannya. Karena itu, bagaimana saya bisa tidak mencintai bola,” kata penulis roman Turki, Mario Levi. Memang, alangkah indahnya jika dunia yang penuh persaingan dan perbedaan ini bisa hidup damai seperti dalam dunia sepak bola.  (Oleh Sindhunata Wartawan Pencinta Sepakbola)
 
Sumber: Kompas.Com

Saatnya Telah Tiba

Dua puluh tahun lalu, piala kejuaraan sepak bola Eropa 1988 diboyong oleh Van Basten dan kawan- kawannya ke Belanda. Agar para pencinta bola bisa ikut merasakan kegembiraan itu, KNVB, PSSI-nya Belanda, mengelilingkan piala tersebut ke kota-kota yang mempunyai kesebelasan amatir.

Waktu itu Rafael van der Vaart masih kanak-kanak. Di kotanya ada kesebelasan amatir, De Kennermers. Klub ini juga diberi kesempatan berfoto bersama dengan piala, lambang supremasi sepak bola Eropa 1988, itu.

”Rafael sangat merindukan kedatangan hari itu. Sayang, persis hari itu tiba, ia sakit. Panitia tahu kekecewaan kami. Maka, syukur di ujung hari, piala itu diampirkan ke rumah kami. Akhirnya, kerinduan Rafael kesampaian, ia berfoto dengan piala kebanggaan itu,” tutur Ramon van der Vaart, ayah Rafael van der Vaart.

Cinta yang mendalam terhadap kesebelasan Oranye sudah tertanam di hati Rafael sejak ia kecil. Tahun 1988, semua duel tim Oranye diikutinya. Ia bahkan melek sampai jauh malam ketika Belanda menjungkirkan Jerman di semifinal.

”Dengan cara dan paksaan apa pun, ia tak mau disuruh tidur,” kata ayahnya. Kekaguman itu tinggal padanya, juga setelah turnamen selesai. ”Pertandingan Belanda-Jerman saya rekam dalam video. Setengah tahun lamanya, Rafael memutar terus video itu setiap malam,” tutur Ramon van der Vaart lagi.

Seperti Rafael van der Vaart, Dirk Kuyt juga mempunyai kenangan manis akan saat itu. Sebagai anak, semula ia hampir tidak mengerti mengapa tiba-tiba kota Amsterdam pecah dalam kegembiraan. Begitu ia tahu itu karena Belanda juara, ia pun ikut bergembira.

”Saya melihat semua pertandingan di rumah. Habis pertandingan, saya terus bermain bola di pelataran. Saya tergila-gila akan Gullit dengan rambut rastanya. Maka, saya bahagia ketika akhirnya ia melatih saya di Feyenoord,” kenang Kuyt.

Kenangan manis tak hanya ada pada Van der Vaart atau Kuyt, tetapi juga pada semua pemain Belanda. Kenangan itu terbawa 20 tahun lamanya. Karena itu, Piala Eropa 2008 ini rasanya adalah saat yang tepat untuk mewujudkan impian masa kecil mereka, yakni menjadi seperti Van Basten atau Gullit, yang dua puluh tahun lalu memboyong Piala Eropa ke Belanda.

”Kami mempunyai kualitas untuk melakukan yang spesial. Kami akan melihat apa yang terjadi. Perebutan kejuaraan kali ini memang keras. Tetapi, kami yakin, kami akan meraihnya,” kata Dirk Kuyt. Kuyt yakin akan sampai ke tujuan karena ia merasa kali ini Belanda sungguh kuat dan menyatu sebagai tim.

Een doel, een gevoel, samen zijn we Oranye, satu tujuan, satu hati, bersama-sama kita adalah Oranye, memang itulah semboyan kesatuan kesebelasan Belanda kali ini. Tetapi, ingatlah, tak semua warga bola Belanda seoptimistis itu. Salah satunya adalah Ronald de Boer, mantan pemain Oranye sendiri.

Menurut De Boer, sejak tahun 1988, kesebelasan Belanda seakan kehilangan keinginan untuk menang. Keinginan itu seharusnya memenuhi jiwa maupun raga setiap pemain. De Boer memberi contoh mata para pemain Brasil. Mata mereka seakan selalu siap meneteskan air mata kebanggaan bila mereka boleh membela negaranya.

Lain dengan pemain-pemain Belanda. ”Kami terlalu dingin untuk bisa mempunyai mata seperti mereka,” kata De Boer.

Menurut De Boer, boleh jadi karena pemain-pemain Belanda berasal dari situasi serba kecukupan. ”Pemain yang berasal dari negara berkekurangan, seperti pemain Amerika Latin, tampaknya bisa lebih mempunyai kebanggaan nasional,” sambungnya.

Lebih daripada De Boer, malah ada yang mengatakan, tim Belanda kali ini sangatlah misterius. Tak diketahui apakah sistem sepak bola yang mereka pakai? Ruud van Nistelrooy sendiri bilang, mereka sudah meninggalkan sistem total football. Soalnya, terbukti selama ini mereka tak pernah menang dengan sistem itu. Tapi, kalau tidak total football, lalu sistem apa, ia pun tidak bisa menerangkannya.

Dalam uji coba melawan Austria, Belanda ketinggalan terlebih dahulu dengan skor 0-3, baru kemudian menang dengan 4-3. Pers Belanda menyebut pertandingan itu sebagai ”parodi kesebelasan unggulan”. Jelas hasil itu menambah teka-teki terhadap kesebelasan Belanda.

Sementara Van Basten dikritik tak terlalu otonom sebagai pelatih. Disinyalir, ia banyak bergantung pada legendaris Belanda, Johann Cruijff. Belakangan Cruijff membantah. ”Marco punya akal cukup untuk melihat siapa-siapa yang harus menjadi pemain dalam kesebelasannya,” kata Cruijff. Memang terlalu riskan jika Van Basten sendiri tidak mempunyai kendali langsung terhadap kesebelasannya.

Esok dini hari, Belanda akan mulai menerjuni grup neraka. Juara dunia Italia segera siap menghadang impian mereka. ”Empat puluh tahun lamanya kami ingin merebut kejuaraan di Eropa. Sekarang saatnya kami membawa piala ke rumah,” kata Andrea Pirlo. Kerinduan itu tentu menstimulasi Italia untuk merobohkan lawannya begitu kesempatan pertama tiba. (Oleh Sindhunata Wartawan Pencinta Sepakbola)
 
Sumber: Kompas.Com

Tergulingnya Raksasa Tradisional

Kembang api bersemburat indah di langit Stadion Vienna. Michael Ballack terduduk lesu tak berdaya. Wajahnya murung menyelimuti duka. Bekas darah masih tersisa di pelipisnya. Darah yang seakan sia-sia tertumpah karena akhirnya dalam pertandingan final itu dia kalah. Matanya menerawang jauh, memandang aneka bunga-bunga api, yang bertaburan di angkasa untuk menghormati sang juara. Ia melihat kapten lawan, Iker Casillas, mengangkat tinggi-tinggi piala juara. Alangkah bahagianya andaikan ia yang juga kapten boleh mengangkat piala itu.

”Kami sudah sampai di final, tapi kami kalah. Tentu kami kecewa luar biasa,” kata Ballack. Ballack adalah seorang lelaki yang kuat. Tapi ia pernah berkata, ”Dalam hal bola, seorang lelaki juga bisa menangis.” Malam itu tidak hanya dia yang menangis. Orang-orang Jerman juga menangis bersamanya.

Ballack adalah tumpuan utama kesebelasan Jerman. Menurut Franz Beckenbauer, Ballack-lah yang membedakan Jerman dari Spanyol. Spanyol memang tim hebat. ”Tapi mereka tidak mempunyai chef di lapangan. Ya, Spanyol tidak memiliki kapten yang tangguh,” kata Beckenbauer.

Waktu Jerman melawan Portugal, Ballack menunjukkan, dia adalah chef yang sesungguhnya. ”Ballack seakan hendak mengatakan, siapa hendak mengalahkan Jerman, dia harus terlebih dahulu mengalahkan saya,” kata Beckenbauer lagi.

Beckenbauer berharap agar Ballack bisa memahkotai prestasinya dengan menjadi juara di Vienna. Ternyata Ballack tampil bukan sebagai calon juara. Sama sekali tak tampak ia adalah chef lapangan tengah. Malah sering kali ia hanya marah-marah.

Di malam final itu, Jerman di bawah Ballack memang tak pantas menjadi juara. Komentator sepak bola Jerman sendiri pun mengakui, Jerman belum masak menjadi juara. Komentator-komentator luar mengkritik, Jerman selayaknya kalah.

”Jerman telah melempar handuk. Jerman jauh di bawah Spanyol. Jerman seperti kesebelasan anak-anak sekolah yang harus bermain melawan kesebelasan bernama Spanyol,” kata Giovanne Elber, mantan pemain Stuttgart yang sekarang menjadi komentator televisi di Brasil.

Jerman adalah langganan juara. Itu karena mereka mempunyai keutamaan-keutamaan dasar sepak bola yang tradisional, seperti mentalitas yang kuat, disiplin yang tinggi, pantang menyerah. Belum lagi mereka terkenal mempunyai fisik yang kuat. Semuanya itu ternyata tidak cukup, ketika mereka harus menghadapi Spanyol yang bermain dengan begitu modern dan dengan intelegensi dan teknik yang tinggi. Belum lagi, Spanyol menunjukkan sepak bola bukan lagi permainan individu, tapi permainan tim. Memang Spanyol telah meninggalkan gaya permainan matadornya yang individual dan beralih ke permainan yang mengandalkan kekompakan tim.

Perubahan ini terkait dengan sejarah sport di Spanyol sendiri. Di bawah diktator Franco, individualitas amatlah dipentingkan. Tak mengherankan bila dalam kurun selanjutnya, Spanyol berjaya dalam olahraga individual, seperti tenis, formula 1, dan balap sepeda. Baru akhir- akhir ini Spanyol juga berjaya di bidang olahraga beregu, seperti bola tangan, basket, dan hoki.

”Perubahan itu terjadi sebagai akibat dari sebuah modernisasi masyarakat,” kata pelatih basket Spanyol, Pepu Hernandez. Perubahan itu juga merambat ke sepak bola. Tim Spanyol di bawah Luis Aragones jelas memperlihatkan, sepak bola modern hanya bisa dimainkan dalam kebersamaan.

Pengabdian kepada tim inilah yang membuat sepak bola Spanyol menjadi indah. Mereka bermain dengan passing pendek dan jeli. Tempo permainan juga berubah-ubah, cepat, lambat, dan kemudian jadi cepat lagi. Mereka seakan memainkan sepak bola Brasil yang lambat, tapi indah, sekaligus memadukannya dengan kecepatan yang dituntut sepak bola modern.

Sergio Ramos dan kawan-kawannya bermain tegas dan lugas. Tapi, tak ada kesan kekerasan militerisme dalam setiap gerak mereka. Malah mereka menampakkan suatu romantisme sepak bola yang indah. Betapa eloknya passing Xavi. Dengan permainan demikian, Jerman yang mengandalkan keutamaan sepak bola klasik ternyata dibuat kalang kabut tak karu-karuan.

Sepak bola adalah cermin dari dinamika masyarakat. Dari sepak bola Spanyol kita boleh menarik refleksi untuk kehidupan bermasyarakat kita. Dalam abad modern ini tak cukuplah bila kita membangun diri dengan berpegang pada keutamaan lama, yang berasal dari nilai-nilai klasik dan tradisional kita.

Kita masih harus terus mencari intelegensi, trik, teknik, dan taktik baru, yang mungkin tak ada sambungannya sama sekali dengan keutamaan dan nilai-nilai lama kita. Dan, itu harus kita cari bukan secara individual, tapi dalam kebersamaan. Hanya dengan demikian kita akan menjadi seperti Spanyol modern yang sanggup menggulingkan raksasa tradisional Jerman.
(Oleh Sindhunata Wartawan Pencinta Sepakbola)
 
Sumber: Kompas.Com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes