Damyan Godho, Firmus Wangge dan Uskup Petrus Turang


Damyan Godho
TANGGAL 27 Juli itu istimewa. Setidaknya bagi ketiga tokoh ini, Firmus Wora Wangge, Damyan Godho dan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr.

Nama pertama dan kedua telah berpulang ke haribaanNya. Berselang setahun saja.  Damyan Godho meninggal dunia 29 Januari 2019.  Dua belas purnama kemudian Firmus Wangge menyusul, 6 Februari 2020.

Buat Om berdua yang terkasih, semoga bahagia di sisiNya. Amin.
Saya mengenang 27 Juli karena gara-gara tanggal itulah saya berintekrasi cukup intens  dengan mereka.

Itu dua dekade lalu, 23  tahun silam, tepatnya 27 Juli 1997. Setahun menjelang Soeharto lengser keprabon.

Saya masih wartawan muda.  Belum genap lima tahun berkiprah bersama Harian Pos Kupang  yang mulai terbit 1 Desember 1992.


Semua  bermula dari kota suci Vatikan tanggal 21 April 1997.

Kegembiraan disertai rasa penasaran menyeruak di Kupang serta kota dan desa seantero wilayah Keuskupan Agung Kupang  ketika pemimpin Umat Katolik Sedunia Paus Johanes Paulus II mengumumkan Petrus Turang sebagai uskup koajutor.

Umat  Keuskupan Agung Kupang (KAK) gembira mendapat seorang gembala. Serentak pula merebak rasa  penasaran mengenai sosok sang  gembala yang kala itu berusia 50 tahun  karena namanya belum begitu familiar.

Sebagai uskup koajutor, Mgr. Petrus Turang berhak menggantikan Uskup Agung Kupang Mgr. Gregorius Manteiro, SVD yang waktu itu telah memasuki usia pensiun. Kondisi kesehatan beliau pun tidak begitu bugar lagi.

Firmus Wangge
Saat Uskup Manteiro wafat  10 Oktober 1997,  Mgr. Petrus Turang meneruskan secara otomatis kepemimpinan keuskupan ini sampai sekarang.

Pascapengumuman Tahta Suci 21 April 1997 tersebut,  pekerjaan besar menanti hirarki gereja lokal dan seluruh umat  KAK  yaitu mempersiapkan acara penahbisan Uskup Petrus Turang.

Rapat menetapkan penahbisan tanggal 27 Juli 1997 di Kota Kupang. Firmus  Wangge didaulat  sebagai ketua panitia pentahbisan Uskup Turang.

Suatu  pagi yang cerah,  Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Pos Kupang, Damyan Godho memanggil saya ke ruang kerjanya di kantor kami, Jl. Kenari No 1 Naikoten I Kupang.

“Dion, saya sudah masukkan  kau di seksi Humas dan Publikasi Panitia Penahbisan Uskup Piet Turang. Kerja baik-baik ya,” kata Om Damyan Godho membuka percakapan.

 “Iya Om,:” jawab saya.

“Om Damy, sebagian besar masyarakat NTT sepertinya belum terlalu mengenal bapak uskup kita yang baru,” lanjut saya.

“Benar. Justru karena itu tugas kau untuk menulis sebanyak mungkin tentang beliau  sehingga bisa dikenal umat Keuskupan Agung Kupang dan masyarakat NTT pada umumnya,” kata Om Damy.

Sebelum saya pamit  dari pertemuan pagi itu, Om Damy meminta saya segera bersua  Firmus Wangge sebagai ketua panitia.

“Ingat, selalu koordinasi dengan kau pung Om  Firmus. Usahakan satu atau dua hari ada berita mengenai persiapan penahbisan.” kata Om Damy memberi arahan. Saya menganggukkan kepala.

Kurang lebih tiga bulan persiapan panitia, saya  jadinya berintekasi cukup intens dengan Om Firmus dan semua anggota panitia yang lain seperti Alo Djong Joko, para tokoh umat  termasuk Gubernur NTT saat itu, Herman Musakabe.

Semua informasi mengenai tahbisan  itu selalu saya publikasikan di Pos  Kupang yang merupakan satu-satunya koran harian yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat itu.

Jangan dikau tanya media online karena belum muncul  batang hidung dan sosoknya, sehingga  Pos Kupang  merupakan sumber informasi utama bagi masyarakat Flobamora.

Mgr. Petrus Turang, Pr
Hampir sebulan menjelang penahbisan saya menulis mengenai tema tersebut.

Beberapa topik yang saya tulis secara serial antara lain, sejarah Keuskupan Agung Kupang dari gereja diaspora hingga menjadi keuskupan,sejarah Gereja Katedral Kupang,  profil Uskup Gregorius Monteiro dan yang paling menantang saya adalah profil Uskup Petrus Turang.

Maklum sumber referensi mengenai Yang Mulia di sekretariat keuskupan pun tidak banyak.

Saya mesti  putar otak (baca: kerja keras)  untuk mendapatkannya.  Waktu itu belum ada Google,  bung. Jadi semua harus cari secara manual. Tapi di situlah letak keasyikannya.

Puji Tuhan semua bahan yang saya butuhkan tersedia pada waktunya. Maka saya menulis profil Mgr. Petrus Turang sejak masa kecil di Tondano, Minahasa, Provinsi  Sulawesi Utara, masa pendidikan di seminari, tahbisan imamat serta pengabdian beliau sebelum diangkat Paus Johannes Paulus II sebagai uskup.

Petrus Turang yang ditahbiskan menjadi imam diosesan Keuskupan Manado pada 18 Desember 1974 sempat memegang jabatan sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Saya juga  menulis makna motto beliau Petransiit Benefaciendo atau Berkeliling Sambil Berbuat Baik (Kisah Para Rasul 10:38), makna lambang keuskupan dan lain-lain yang berkenaan dengan tugas sang gembala kelahiran Tataaran, Tondano Selatan, Minahasa, Sulawesi Utara, 23 Februari 1947 tersebut.

Bekerja dengan Om Firmus Wangge dalam kepanitiaan menyenangkan. Berlatarbelakang pengusaha, cara berpikir dan bertindak Om Firmus jauh dari birokrasi bertele-tele.

Apalagi waktu efektif bagi panitia pentahbisan saat itu tidak lama. Hanya kira-kira dua bulan lebih.

Om Firmus selalu memastikan setiap rencana dapat dikerjakan secara baik oleh masing-masing seksi dalam kepanitiaan. Orangnya tegas, bicara blak-blakan tapi juga mau mendengar setiap saran dan masukan.

Singkat cerita tibalah hari H  acara penahbisan Uskup Petrus Turang pada 27 Juli 1997 di Arena Promosi Hasil Kerajinan Tangan Rakyat NTT, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Kelapa Lima, Kupang.

Di lokasi tersebut kini berdiri megah Lippo Mall Kupang. Arena promosi yang dibangun masa pemerintahan Herman Musakabe  tak berbekas lagi.

Uskup Agung Jakarta, Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ bertindak sebagai Penahbis Utama  didampingi Pro-Nuncio Apostolik untuk Indonesia yang bergelar Uskup Agung Tituler Bellicastrum, Pietro Sambi dan Uskup Agung Kupang saat itu, Gregorius Manteiro, SVD.

Upacara penahbisan berlangsung hikmat dan meriah. Sukses. Puluhan ribu umat Katolik tumpah ruah di sana.

Saya masih ingat  kepada siapa ucapan terima kasih pertama yang disampaikan Uskup Petrus Turang, Pr saat memberikan sambutan seusai prosesi penahbisan. Beliau mengucapkan terima kasih kepada wartawan!

“Terima kasih wartawan yang telah menulis sangat banyak tentang saya dan keuskupan ini.” kata Uskup Petrus Turang.

Saya yang berdiri meliput dari sisi kanan tribune, merinding. Tak lazim seorang tokoh melakukan itu. Biasanya terima kasih bagi wartawan di bagian akhir, bahkan cukup sering tak ada  sama sekali.

Tentu bukan tujuan utama kami meminta atau mengharapkan ucapan terima kasih.

Menulis adalah tugas dan kewajiban jurnalis. Tapi ketika seorang gembala mengucapkan pada sebuah forum yang luar biasa, sungguh merupakan sesuatu.

Sampai akhir hayatnya, Om Damyan Godho dan Om Firmus Wangge menjalin relasi indah dengan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang.

Hubungan mereka tidak sekadar antara umat atau tokoh umat dengan sang gembala atau pemimpinnya. Mereka bersahabat. Teman diskusi. Saling berbagi.

Ketika kematian menjemput Om Damy dan Om Firmus, Yang Mulia Bapa Uskup Petrus Turang, orang pertama yang memberi peneguhan bagi keluarga.

Beliau juga yang memimpin misa requiem melepas jenazah kedua sahabatnya menuju tempat peristirahatan terakhir.

“Damy sudah berada di tempat yang lebih baik.” kata Mgr. Petrus Turang ketika memimpin misa pelepasan jenazah Om Damyan Godho di Gereja St Fransiskus dari Asisi Kolhua Kupang, akhir Januari 2019 silam.

Kata peneguhan dan penghiburan senada beliau sampaikan ketika memimpin misa requiem saat pemakaman jenazah Om Firmus Wangge di Gereja Katedral Kupang, Minggu 9 Februari 2020.

Saya, terus terang, belajar banyak dari beliau bertiga dalam membangun relasi. Saling berbagi dalam setiap gerak langkah untuk berkontribusi bagi pembangunan daerah, masyarakat luas, untuk Gereja dan Tanah Air.

Tatkala Om Damyan Godho dipercayakan Uskup Turang menjadi Ketua Panitia Pembangunaan Taman Ziarah Yesus Maria di Belo, Kabupaten Kupang, saya tidak kaget.

Bapak Uskup tahu betul kepada siapa beliau memberikan kepercayaan dan tanggung jawab yang besar tersebut.

Bukit tandus dan lerengnya seluas kurang lebih 5 hektare berubah menjadi taman ziarah yang indah setelah dibangun selama 4 tahun.

Menurut Mgr. Petrus Turang, lahan ini merupakan hibah dari seorang umat, Yoseph Soleman kepada Keuskupan Agung Kupang.

Keuskupan lalu berinisiatif membangun tempat ziarah dengan bantuan para dermawan serta swadaya umat.

Pembangunan taman ziarah tersebut  yang panitianya dipimpin Om Damyan Godho  mulai 1 Oktober 2009. Di taman ini ada 20 titik tempat berdoa dan satu kapel di puncak bukit, Kapel St. Yohanes Paulus II.

Dari halaman kapel itu peziarah akan menikmati pemandangan indah jika mengarahkan  pandangan mata ke Teluk Kupang serta pegunungan Fatuleu di kejauhan sana.

Pada hari Senin tanggal 25 November 2013, taman ziarah  Yesus Maria Belo diresmikan Kardinal dari Vatikan, Mgr. Stanislaw  Rylko.

Sampai akhir hayatnya Om Damyan Godho tercatat sebagai pengurus stasi taman ziarah tersebut. Setiap kali berziarah ke sana, saya selalu teringat beliau. Karyanya akan terkenang selalu.

Dalam wujud dan cara yang berbeda, kontribusi Firmus Wangge untuk Gereja dan Tanah Air  pun tidaklah kecil.

Dalam suatu forum diskusi kecil, saya melihat bagaimana Firmus Wangge, Damyan Godho dan Uskup Mgr. Petrus Turang bertukar pandangan untuk membangun daerah, membangun Indonesia. Mereka tak sekadar  bergumul dengan masalah tapi memberikan tawaran solusi.

Kesaksian mengenai peran penting Firmus Wangge itu antara lain diungkapkan mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Drs. Frans Lebu Raya.

"Jasa beliau sangat besar bagi pembangunan di Nusa Tenggara Timur. Kita kehilangan seorang putra terbaik Flobamora," kata Frans Lebu Raya  hari Sabtu (8/2/2020) malam.

Firmus Wangge dikenal luas sebagai pengusaha dan  sesepuh Partai Golongan Karya (Golkar).

Pria kelahiran Ende, Flores tersebut  pernah menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Nusa Tenggara Timur.  Firmus juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Menurut Lebu Raya, ketika dirinya masih menjabat gubernur,  Firmus Wangge selalu menyempatkan waktu bertemu dan berdiskusi tentang pembangunan.

Frans Lebu Raya selalu mendengar dan menghargai masukan dari Firmus.

"Saya sering bertemu beliau untuk berdiskusi, tukar pikiran. Beliau selalu memberikan masukan yang sangat berharga bagi daerah ini. Saya sangat menghormatinya," kata Lebu Raya.

Ketua DPD I Partai Golkar NTT, Melki Laka Lena juga mengenang jasa mendiang Firmus Wangge bagi Nusa Tenggara Timur.

"Pak Firmus Wangge memberi warna ekonomi dan politik di NTT.   Sampai akhir hayatnya  masih terus berbicara dan mengamati perkembangan ekonomi dan politik NTT," kata Melki Laka Lena, anggota DPR periode 2019-2024.

Demikian sekeping catatanku  mengenang dua  tokoh yang bersahabat karib, Damyan Godho dan Firmus Wangge.

Om Damy…
Om Firmus…
Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. 

Bapa Uskupku, Mgr. Petrus Turang, sehat selalu dan bahagia.

Dengan penuh cinta

Dion DB Putra
Denpasar, 11 Februari 2020

Sampai Maut Memisahkan


ilustrasi
KABAR duka itu datang di hari Minggu atau hari Senin waktu Indonesia.
Dunia terguncang hebat, tak kalah geger dibandingkan demam virus Corona yang menebar cemas serta mengurai air mata.
Legenda bola basket NBA dan dunia, Kobe Bryant meninggal dunia setelah helikopter yang dia tumpangi menghujam bumi di California, Minggu pagi 26 Januari 2020.
Tragis. Sang bintang pergi dalam usia terbilang muda, 41 tahun.
Bryant tidak sendirian. Putri keduanya, Gianna Maria-Onore Bryant (13), meninggal pula dalam kecelakaan tersebut.
Gigi, panggilan Gianna, punya niat, minat dan bakat mengikuti jejak sang ayah di lapangan basket.
Ketika jatuh dan meledak hebat di lereng berkabut, helikopter Sikorsky S-76B nomor registrasi N72EX yang ditumpangi Bryant dalam menuju Mamba Sports Academy, kamp latihan basket miliknya di Thousand Oaks, California.
Pilot dan enam orang lainnya juga tewas dalam musibah ini.
Kepergiaan Kobe Bryant sontak mengalirkan lara sejagat.
Sepanjang hari Minggu dan Senin dia menjadi trending topic.
Bahkan hingga hari ini pun kenangan akan lelaki kelahiran Philadelphia, Pennsylvania, 23 Agustus 1978 itu masih bergulir di berbagai belahan dunia.
Kiranya dapat dimengerti manakala sebagian besar masyarakat dunia menangisi sang legenda berjulukan Black Mamba tersebut.
Kisah hidup Bryant telah menginspirasi banyak orang, tidak semata penggemar cabang olahraga bola basket yang sangat populer di tanah airnya.
Warisan Kobe Bryant yang bisa disebut antara lain kerja keras, telaten, disiplin, kerendahan hati, jujur, berjiwa besar, kerelaan memaafkan serta setia.
Selama 20 tahun kariernya yang gemilang di NBA, dia hanya membela satu klub yaitu Los Angeles (LA) Lakers tahun 1996-2016.
Mirip Francesco Totti di klub sepakbola AS Roma atau Paolo Maldini di AC Milan, Italia.
Tidak banyak atlet profesional yang setia dan loyal semacam ini.
Torehan prestasi Kobe Bryant bukan tanpa pengorbanan.
Selain kerja keras yang menjadi fondasinya, Bryant berkali-kali cedera serius yang nyaris mengakhirnya kiprahnya di lapangan basket.
Misal, dia mengalami patah tulang metakarpal tangan kanan pada musim 1999-2000.
Lalu, laserasi jari telunjuk kanan dan bahu kanan terkilir pada 2003-2004, disusul pergelangan kaki kanan terkilir pada 2003-2004.
Makin serius pada musim kompetisi NBA 2009-2010.
Dia mengalami retak avulsion jari telunjuk, pembengkakan lutut kanan, dan pergelangan kaki
kiri terkilir.
Pada musim 2012-2013, tendon achilles kaki kirinya sobek dan dioperasi.
Setahun kemudian, musim 2013-2014, tulang di lutut kirinya patah.
Setahun menjelang pensiun, rotator cuff yaitu kumpulan otot dan tendon yang melindungi sendi—bahu kanannya sobek.
Hebatnya, Kobe Bryant tidak patah semangat. Dia menyadari bahwa cedera merupakan risiko seorang atlet.
Mengakui Berzina
Tak ada gading yang tak retak, di luar lapangan basket NBA yang gemerlap itu, kehidupan pribadi dan keluarga Kobe Bryant tak kurang pula pasang surutnya.
Sisi kelam turut menyertainya.
Kobe Bryant pernah melakukan kesalahan fatal yang nyaris meremukkan bahtera rumah tangganya.
Kobe Bryant menikah dengan Vanessa Laine pada tahun 2001.
Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai empat anak.
Lahir berturut-turut Natalia Diamante Bryant (Januari 2003), Gianna Maria-Onore Bryant (Mei 2006-20 Januari 2020), Bianka Bella Bryant (Desember 2016), dan Capri Kobe Bryant (Juni 2019).
Guncangan hebat melanda keluarga pasangan ini pada tahun 2003 ketika Kobe Bryant sedang berada di puncak kejayaannya.
Kobe Bryant ditangkap pihak berwenang di Eagle, Colorado.
Bryant dituduh memperkosa seorang wanita, karyawati hotel berusia 19 tahun.
Orang yang melaporkan Kobe Bryant menyebut legenda Los Angeles Lakers itu memerkosa si perempuan muda pada malam sebelum Kobe menjalani operasi lutut.
Kobe Bryant jujur mengakui telah berzina dengan perempuan tersebut, namun membantah memerkosa.
Seperti diberitakan Tribun Bali, Selasa (28/1/2020), kasus ini berdampak besar bagi Kobe Bryant.
Reputasinya di mata publik hancur.
Kobe kehilangan sejumlah kontrak dengan perusahaan-perusahaan besar seperti McDonald's dan Nutella.
Penjualan replika jersey Kobe Bryant jatuh.
Pada tahun 2004, Kobe Bryant akhirnya mengakui kesalahannya secara terbuka.
Dia meminta maaf kepada perempuan tersebut atas tindakannya malam itu.
"Meskipun saya benar-benar meyakini kejadian ini antara kami atas dasar kesepakatan, dia tidak melihat kejadian ini seperti saya. Setelah berbulan-bulan meninjau, mendengarkan pengacaranya, dan bahkan kesaksiannya secara langsung, sekarang saya paham seperti apa perasaannya bahwa dia tidak setuju terhadap kejadian ini," ujar Bryant.
Apa yang membuat Bryant berani jujur dan berjiwa besar?
Dalam wawancara dengan Majalah GQ tahun 2015, Kobe Bryant menuturkan bagaimana iman Katolik yang dia yakini membantu dia mengatasi dampak tindakan atas wanita tersebut bagi hubungan pribadi dan citra profesionalnya.
Bagi Kobe kehilangan sponsor bukan menjadi perhatian utama, Dia justru sangat takut masuk bui.
Saat itu dia terancam hukuman penjara selama 25 tahun. Namun demikian, semangatnya tumbuh karena iman yang dia yakini.
"Satu-satunya yang sangat membantu saya selama proses itu, saya Katolik, saya tumbuh sebagai orang Katolik, anak-anak saya Katolik, adalah berbicara kepada seorang pastor," kata Kobe Bryant yang menjalani masa kecil selama 8 tahun di Italia.
"Lepaskan. Bangkitlah. Tuhan tidak akan memberikan kamu sesuatu yang tidak bisa kamu atasi, dan sekarang semuanya berada di tangan Dia. Ini bukan sesuatu yang bisa kamu kendalikan. Lepaskan," ujar Kobe menuturkan nasihat pastor itu kepada dia.
Dalam sesi wawancara tersebut Kobe Bryant pun menuturkan perjuangannya menyelamatkan pernikahan dengan Vanessa Laine.
Pasangan ini menikah pada 18 April 2001 di Gereja Santo Eduardus Sang Pengaku di Dana Point, California, Amerika Serikat.
Pada tahun 2011 Vanessa mengajukan cerai karena alasan perbedaan yang tidak bisa diatasi.
Pasangan ini bisa mengatasi masalah perbedaan tersebut 13 bulan kemudian.
"Saya tidak akan bilang pernikahan kami sempurna. Kami masih bertengkar, seperti pasangan lain. Tapi reputasi saya sebagai seorang atlet adalah saya punya tekad dan giat berlatih. Bagaimana saya bisa melakukan itu dalam kehidupan profesional saya jika saya tidak merasa seperti itu dalam kehidupan pribadi saya, ketika itu memengaruhi anak-anak saya? Tidak masuk akal," ujar Bryant.
Bahtera rumah tangga Kobe Bryant-Vanessa Laine langgeng sampai akhir, hingga maut memisahkan mereka pada 26 Januari 2020.
Kobe Bryant selalu teringat kalimat ini: yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia.
Dia berpegang teguh pada tiga ciri perkawinan Katolik yaitu ikatan yang terus berlangsung seumur hidup, ikatan monogami, yaitu satu suami dan satu istri serta ikatan yang tak terceraikan.
Kobe Bryant hanya sekali menikah hingga akhir hayatnya.
Kobe Bryant sangat mengasihi keluarganya.
Legenda NBA, Michael Jordan, yang kini menjabat Presiden Charlotte Hornets, klub pertama Bryant mengungkapkan kesaksiannya.
"Ia adalah ayah yang luar biasa, lelaki yang mencintai keluarganya begitu dalam," kata Jordan.
Keluarga ini juga rutin menggelar aksi sosial melalui Kobe & Vanessa Bryant Family Foundation.
Melalui lembaga ini Bryant dan keluarga berusaha membantu orang-orang yang mengambil keputusan-keputusan buruk dalam hidup mereka untuk mencapai titik balik, termasuk para tunawisma.
Kobe Bryant melakukan itu karena menyadari bahwa dia sudah mendapatkan segalanya dan patut berbagi kepada sesama.
"Saya tidak bermaksud berlebihan dan mengutip Spider-Man, tapi kekuatan besar datang bersamaan dengan tanggung jawab besar," kata Bryant kepada The Times.
Dunia akan terus mengenang Bryant untuk inspirasinya yang luar biasa.
Di lapangan, Black Mamba memang punya beragam aksi menawan. Julukan Black Mamba itu berasal dari nama ular Afrika, yang gesit dan cepat gerakannya.
Penggemar basket pastilah akan suka meniru gaya slam dunkthree pointssteal atau assistnya.
Black Mamba sudah menjadi legenda.Dia pergi selamanya pada umur 41 tahun. Dengan nama semerbak harum.
Selamat jalan Black Mamba. Dunia olahraga berduka tapi warisanmu akan terkenang lama.
Tak mudah lekang oleh waktu. Requiescat in Pace. Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Kota yang Bahagia


ilustrasi
KOTA selalu punya sisi yang risau. Dia merupakan ekspresi paling jujur ihwal kemanusiaan. Tidak hanya soal kecerdasan otak tapi juga hati yang acap menangis.

Jika tuan ingin mencintai sebuah kota, selami kegundahannya untuk mengerti seberapa kerap dia terbahak.

Ada pula yang bilang, selama berabad-abad, manusia selalu membangun kota dan kota membentuk karakter dan kultur manusianya.

Batavia dari purnama ke purnama telah membuat orang jatuh cinta. Entah cinta yang terstimuli motif ekonomi, politik pun kekuasaan. Begitulah.

Sebagai ibu kota negara bangsa-bangsa Nusantara, Jakarta merupakan episentrum hampir segalanya.
Ya politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya. Kemakmuran, kemasyuran, kemuliaan, kejayaan.

Serentak pula Jakarta bugil berwajah kemiskinan, kejahatan, tragedi, pengkhianatan, dusta serta nestapa.

Manusia membangun kota, dan kota membentuk manusia.

Dan, lihatlah betapa Jakarta selama hampir satu abad di bawah tudung NKRI, membentuk manusianya dengan moda transportasi umum serampangan hingga memendam kerisauan panjang.

Transportasi umum yang buruk bikin warga Jakarta (Jabodetabek) menjerit lirih di tengah gemuruh kemajuan zaman.

Kemacetan telah menjadi bagian keseharian sehingga mereka acap menggoda diri dengan kata-kata “tua di jalan”.

Ya sebagian besar waktunya tersedot untuk perjalanan padat merayap bahkan tersendat berjam-jam.Tak berbilang tekanan fisik dan mental.

Sebuah kota yang sesak, macet dan kini kebanjiran pula. Demikianlah wajah metropolitan Jakarta.

Jadi keputusan pemerintah membangun ibu kota negara yang baru di Kalimantan kiranya baik dalam perspektif Indonesia masa depan.

Juga demi mewariskan sesuatu yang lebih baik bagi generasi berikutnya.
Bahasa kerennya biar Jakarta menjadi kota yang manusiawi. Kota yang (warganya) bahagia, mengutip tekad Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Manusia membangun kota dan kota membentuk manusia.

Senin pekan ini, sebelum pulang ke Denpasar setelah merajut persaudaraan kasih dalam suatu acara keluarga, saya selintas melihat bagaimana Jakarta membentuk perilaku manusianya melalui moda transportasi umum bernama MRT (Mass Rapid Transit) alias Moda Raya Terpadu.

Kebiasaan berdesak-desakan yang dulu jamak di stasiun kereta api kini fakir di mata. MRT bersih, tertib, rapi dan wangi.

Anak milenial, ibu rumah tangga, orang kantoran, pekerja bersandal sampai yang berdasi, cantik, ganteng dan harum, naik MRT dengan bangga.

Batavia berubah. Keberadaan MRT di Jakarta membentuk kultur urban baru yang bikin setiap orang merasa nyaman.

Calon penumpang MRT antre membeli tiket. Tertib.

Jadi terkenang Munich, Bonn, Frankfurt, Istanbul dan beberapa kota di Eropa yang sempat saya jejaki.

Mereka telah terbiasa dengan kultur kereta api bawah tanah sebagai moda transportasi massal yang efisien, murah dan nyaman.

Kawasan sekitar stasiun pemberhentian MRT Jakarta apik tertata. Senang sekali melihat pejalan kaki menjelajahi trotoar yang lega dan bersih. Trotoar tanpa PKL karena fungsinya memang bukan buat pedagang kaki lima.

MRT Jakarta terkoneksi dengan bandara, terminal bus, stasiun kereta api dan pelabuhan.

Informasi praktis jelas terbaca. Memudahkan siapa saja untuk mencobanya.

MRT Jakarta, kendati digerutui sejumlah pihak sebagai telat hadir dan belum sepenuhnya mengatasi kemacetan, setidaknya memberi bukti bahwa moda transportasi massal yang nyaman bisa disediakan bagi rakyat.

Persis seperti kata bijak di atas, manusia membangun kota dan kota membentuk manusianya yang beradab.

Maka bangunlah kota dengan pikiran dan perasaan sebagai manusia.

Bangun kota sebagaimana tuan dan puan dambakan menjadi penghuninya yang bahagia.

Bagaimana Denpasar? Syahdan, sejak abad-abad yang lampau, ibu kota Provinsi Bali ini telah membuat banyak orang jatuh cinta.

Jutaan manusia seantero jagat saban tahun mencumbui indahnya Bali.

Mengagumi setiap debur ombak dan pantainya, budaya dan tradisi, mengecup kehangatan cinta manusianya.

Bali itu sang juita. Punuk bukitnya seksi berisi, sawah ladangnya permai. Lembah ngarai, gunung, danau dan air terjunnya merangsang memikat hati.

Maka berbondonglah orang ke sana.

Dan, mereka yang datang dari lima benua atau delapan penjuru mata angin pastilah pernah menghabiskan malam bersama Denpasar atau lebih persis Sarbagita, akronim Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan – pusat pariwisata Pulau Dewata.

Tak ubahnya Batavia, Denpasar punya sisi yang risau.

Inilah kota tanpa moda transportasi umum terkoneksi - terintegrasi dari bandara, terminal bus, pelabuhan sampai ke permukiman penduduk.

Bus Trans Sarbagita yang diidealkan sebagai tranportasi umum murah dan nyaman, bak pepatah hidup enggan mati pun tak mau.

Pernah berhenti beroperasi lalu diaktifkan lagi. Kini gemagaungnya sayup. Kalah riuh ketimbang protes menolak keberadaan taksi online.

Kemacetan Sarbagita memang belum sesesak Jabodetabek. Tapi saat tertentu dia bisa membuatmu galau.

Selalu ada waktu Jalan By Pass Ngurah Rai pun padat merayap hingga butuh semangkuk kesabaran menanti lalu lintas terurai lancar.

Dengan populasi Sarbagita sekitar 3 juta, dari total 4,2 juta jiwa penduduk Bali (BPS, 2018), urusan yang satu ini bukanlah remeh temeh. Apalagi di ini negeri jumlah kendaraan bermotor hanya mengenal kata tambah.

Entah apa yang terjadi dengan Sarbagita 25 sampai 50 tahun mendatang jika sistem transportasi tidak kita tata apik dan smart sejak sekarang.

Bahkan lima atau 10 tahun lagi pun sudah terbayang betapa repotnya Bali mengurus jalanan agar tetap ramai, lancar, menyenangkan –prasyarat demi terus bergeliatnya destinasi wisata kelas dunia.

Sudah tercetus niat pemerintah membangun rel kereta api serta moda transportasi publik berupa kereta cepat ringan atau Light Rapid Transit (LRT) di Pulau Dewata.

Krama Bali tentu menanti realisasinya. Entah kapan.

Kerisauan Sarbagita pun menyentuh aspek vital sumber daya alam dan daya dukung lingkungan nan asri.

Air tanah atau air bawah permukaan kencang amat tersedot mesin sumur bor.

Perorangan dan institusi ramai-ramai menghujam perut bumi Sarbagita dengan mesin bor.

Kedalaman sumur bervariasi, sekadar puluhan hingga ratusan meter.

Sementara air pemukaan yang melimpah ruah justru menguap percuma ke langit biru dan mengalir sampai jauh. Bergulung-gulung lalu larut di perut Samudera Hindia.

Penggunaan sumur bor di Sarbagita bahkan seluruh Bali cenderung tak terkendali, untuk tidak menyebut kebablasan.

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) pun mengandalkan sumur bor semata.

PDAM Denpasar, seturut data yang pernah diwartakan Tribun Bali, jumlah sumur bor sebanyak 22.
PDAM Badung memiliki 31 sumur bor, PDAM Gianyar 45 sumur bor, PDAM Klungkung 22 sumur bor, PDAM Karangasem 15 sumur bor, PDAM Buleleng 20 sumur bor, PDAM Tabanan 3 sumur bor, dan PDAM Jembrana 10 Sumur bor.

Kendati bor sumur demikian banyak, nyatanya Bali krisis air bersih.

Data Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida menunjukkan potensi air di Bali 216 meter kubik/detik atau setara 216.000 liter/detik.

Potensi air itu berasal dari sungai, danau, mata air, termasuk air tanah. Sementara kebutuhan air bersih di Bali saat ini 119.000 liter/detik.

"Jadi masih ada gap atau kekurangan air bersih sebanyak 18 meter kubik per detik,” kata Kepala BWS Bali-Penida, Airlangga Mardjono dalam diskusi terfokus tentang Danau dan Air di Provinsi Bali yang digelar Ikatan Ahli Geologi Indonesia Bali di Denpasar, medio November 2019.

Air bukan satu-satunya perkara. Kisah Sarbagita adalah cerita tentang sampah yang membuat tunggang langgang.

Tukad (sungai) bercampur limbah sablon tak berizin serta amis TPA Suwung.

Suwung itu artinya sunyi. Tapi Suwung tak lagi senyap di antara nama besar Kuta, Nusa Dua, Sanur, Seminyak, Jimbaran, Ubud, Uluwatu, Canggu, Tanah Lot, Bedugul. Nama Suwung riang mencabik relung ingatan krama Bali hari-hari ini.

Berminggu-minggu sepanjang Oktober-November 2019, heboh pemberitaan tentang Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung.

Hampir semua media terbitan Bali menjadikannya headlines karena Suwung tak sanggup lagi menampung sampah produksi Sarbagita sebanyak 1.200 sampai 1.300 ton per hari.

Bayangkan jumlahnya sebulan hingga setahun? Seluas-luasnya Suwung pada akhirnya akan meluber juga.

Mana mampu menggendong Tsunami sampah sedemikian dahsyat tanpa disertai pengolahan semestinya.

Keputusan Gubernur Bali terbit di penghujung Oktober 2019.

Hanya Denpasar boleh buang sampah ke sana. Badung, Gianyar, Tabanan harus bangun TPA sendiri.

Badung kewalahan. Suwung berubah fungsi. Bukan lagi TPA regional yang dulu didambakan sebagai TPA modern yang antara lain dapat menghasilkan sumber energi terbarukan.

Nasib tukad (sungai) di Sarbagita pun tak seindah namanya.

Hari selasa 26 November 2019, air Tukad Badung yang semula berwarna hijau kecokelatan berubah merah darah.

Fenomena ganjil ini viral. Jadi topik hangat perbincangan warga Kota Denpasar dan sekitarnya.

Merah darah ternyata warna limbah. Buangan pengusaha tekstil celup di Jalan Pulau Misol I, Dauh Puri Kauh Denpasar.

Pasca kejadian ini Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Denpasar sontak mengungkap data lebih menantang.

Semua usaha sablon di kota ini yang jumlahnya kurang lebih 200 tidak mengantongi izin.

Pengusaha sablon pun kucing-kucingan. Siang hari bersikap manis. Pada malam hari mereka buang limbah ke sungai. Duhaienaknya...

Ketika ditanya mengapa pemerintah tidak menutup usaha sablon tak berizin, seorang pejabat enteng berkata Pemerintah Kota Denpasar masih beri toleransi karena berkaitan dengan urusan perut.

Namun, dia meminta pengusaha sablon turut menjaga lingkungan dengan tak membuang limbah sembarangan. Apakah mungkin?

Tukad Bali juga saksi tragedi menikam nurani tatkala tubuh anak manusia dicampakkan begitu saja.

Dua peristiwa teranyar ini sekadar misal. Orok mengambang di Sungai Ayung, Sabtu 18 Januari 2020.

Dua hari berselang, warga Denpasar kembali digegerkan penemuan orok di Tukad Badung, Jl. Imam Bonjol,Banjar Buagan Pemecutan Kelod.

Tubuh mungil rapuh mengapung di dalam tas ransel.

Kedua orok sama-sama berjenis kelamin perempuan. Tubuh mungil mereka tidak utuh lagi. Kepala dan sebagian jari hilang.

Oh Tuhan. Mengapa manusia gampang amat membuang buah cinta?

Hai malaikat kecil, semoga beristirahatlah dalam damai dan kasih ilahi.

Denpasar adalah kota cinta. Destinasi favorit bagi mereka yang sedang honey moon.

Tapi Denpasar tak selalu berdendang indah, semanis ritmis lirik Denpasar moon-nya Maribeth yang pernah tersohor.

Begitulah tuan dan puan. Kota selalu punya sisi risau dalam derap gemuruh pembangunan yang mengasyikkan.

Anda bahagia menghuni Sarbagita? Saya pun tak yakin apakah kaki langit itu sudah tampak di mata.

Semeton Dewata yang budiman, pada akhirnya semua ini bertalian dengan kasih. Memberi diri sebagai urban.

Banyak orang datang dan pergi dari kehidupan kotamu, akan selalu begitu selama rembulan masih bersinar dan matahari rutin menyapa fajar.

Akan tetapi hanya krama bijak yang akan meninggalkan jejak terindah agar Sarbagita menjadi kota yang membahagiakan.

Siapa saja.

Tak mesti kerutkan kening. Setidaknya buanglah sampah pada tempatnya, bukan di tukad atau selokan.

Mau atau tidak, terpulang padamu jua. Matur suksma. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Bau Bawang dari China



ilustrasi
TATKALA tuan dan puan menikmati menu makan pagi, siang atau makan malam hari ini, ketahuilah asal-asal usul sumber protein dan gizi yang menghidupimu itu.

Berasmu dari Vietnam, kacang hijau produksi Amerika, garam Singapura, bawang putih dari China, buah asal Thailand, dan daging sapi Australia.

Dari negerimu sendiri yang dikau agungayukan sebagai gemah ripah loh jinawi mungkin hanya air.

Ya, air yang makin ke sini harganya pun mencekik selangit.


Begitulah tuan dan puan. Di era industri 4.0 ini sekadar "kedaulatan  meja makan" bukan sepenuhnya milikmu.

Kita adalah bangsa dan negara yang dikaruniai sumber pangan berlimpah ruah, mungkin paling kaya di dunia.

Namun, keberadaan kita di zamrud katulistiwa tak berdaulat pangan.

Penghuni negeri +62 ini akan langsung terkapar kehilangan selera makan hanya dengan sekali gertak.

Sebut misalnya, penguasa Tiongkok tiba-tiba bersabda hentikan dulu ekspor bawang putih ke Indonesia atau tetangga terdekat Singapura dan Australia iseng tutup keran ekspor garamnya.

Maka semangkuk sup di meja makanmu akan hambar tanpa bau bawang dari Tiongkok atau asin garam Singapura yang bahkan luas lautnya hanya sejengkal dibandingkan samudera raya Indonesia.

Bau bawang dari China menyengat kesadaran betapa negeri agraris ini begitu loyo menyiapkan sembako buat perut rakyatnya sendiri.

Impor ekspor dalam alam globalisasi memang keniscayaan.

Namun, impor mestinya sekadar menutupi kekurangan.

Ilmu ekonomi mengajarkan demikian. Nah yang terjadi pada Indonesia tercinta adalah ketergantungan hampir paripurna pada impor. OMG!

Jerit sedih mengenai kesuna (bahasa Bali = bawang putih) mengudara dari Pulau Dewata.

Kepada Tribun Bali di Denpasar, Kamis (9/1/2020). Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Ida Bagus Wisnuardhana mengatakan, ketersediaan bawang putih menjadi masalah di destinasi pariwisata nomor wahid ini.

Bali bergantung pada bawang impor dari Tiongkok untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari.

“Kalau bawang putih kita masih impor dari China,” kata Wisnuardhana lugas.

Akademisi dari Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud) Denpasar, Prof I Wayan Windia mengakui, produksi bawang putih dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan.

Dari segi kualitas, bawang putih Indonesia juga kalah bersaing.

“Bawang putih dari RRT (China) mulus-mulus dan besar," kata dia.

Windia mengatakan, jika Indonesia tidak serius menyikapi permasalahan ini, bisa dipastikan ketergantungan pada bawang putih dari Tiongkok berlanjut.

"Sekali tergencet akan tetap tergencet," katanya.

Di sisi lain, Windia melukiskan kondisi masyarakat kita sudah telanjur nyaman dan jatuh cinta pada bawang putih mulus dan besar dari Tiongkok yang harganya relatif terjangkau di pasar.

Pengimpor Terbesar di Dunia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia impor bawang putih saban tahun dengan jumlah yang terus membuncit.

Dalam empat tahun terakhir, volume impor bawang putih RI rata-rata pada kisaran 500.000
ton.

Jumlah itu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat rata-rata 450 ribu sampai 500 ribu ton per tahun.

Pada tahun 2018, misalnya, jumlah impor bawang putih bahkan sudah mencapai 582.994 ton atau senilai 497 juta dollar AS (setara kira-kira Rp 7,1 triliun).

Mengutip warta CNBC Indonesia, pada tahun 2018, Indonesia merupakan importir bawang putih terbesar di dunia.

Fakta tersebut diperoleh dari kompilasi perdagangan luar negeri seluruh dunia yang dihimpun UN Comtrade (lembaga PBB).

Thailand berada di urutan kedua dengan jumlah impor 74,9 ribu ton disusul Filipina dan Pakistan masing-masing 74,6 dan 37,5 ribu ton.

Sebagian besar bawang putih impor yang masuk ke Indonesia tahun 2018 berasal dari China.

Jumlahnya 580,84 ribu ton. Sisanya dari 1.684 ton dari negara Asia lainnya dan hanya 464 ton dari India. Artinya, nyaris 100 persen (99,6) kebutuhan bawang putih Indonesia berasal dari China.

Betapa berkuasanya Tiongkok untuk bumbu dapur di meja makan kita serta untuk industri kuliner (makanan).

Mau bilang apa. Produksi bawang putih dalam negeri memang sangat minim.

Sebagai contoh, pada tahun 2017, Indonesia hanya memproduksi 19,5 ribu ton bawang putih pada lahan seluas 2.146 ha.

Bahkan jumlahnya berkurang dari tahun 2016 yang masih mampu produksi 21,15 ribu ton di atas lahan seluas 2.407 ha.

Di kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis 25 April 2019, Menteri Pertanian Amran Sulaiman kala itu menyebutkan lahan produksi bawang putih RI mencapai 11 ribu hektare.

Setiap hektare lahan menghasilkan 8 sampai 10 ton bawang putih.

Tahun 2019 Kementerian Pertanian menargetkan luas lahan dapat meningkat menjadi 20 ribu hektare.

Klaim Pak Menteri yang sudah mengakhiri masa pengadiannya pada bulan Oktober 2019 tersebut belum terverifikasi realisasinya.

BPS pun belum merilis data produksi terbaru. Patokan realistis tetap di angka 19,5 ribu ton bawang putih yang tumbuh di atas lahan seluas 2.146 ha.

Coba simak luas lahan bawang putih di negeri kita.

Bayangkan negara yang tanah pertaniannya berjuta-juta hektare dari Sabang hingga Merauke, Miangas sampai Pulau Rote, hanya 2 ribuan hektar ditanami bawang putih.

Menurut Amran Sulaiman, jika mau mewujudkan swasembada bawang putih, maka Indonesia membutuhkan 60 ribu hektare lahan tanam.

Ah, kalau cuma segitu sebenarnya tak seberapa bila kita bandingkan misalnya dengan
lahan sawit di Sumatera dan Kalimantan.

Konon, lahan sawit milik korporasi di negeri ini bahkan bisa lebih luas dari satu kabupaten di
Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Pada akhirnya semua ini berkaitan dengan good will pemerintah.

Mau membangun pertanian demi kedaulatan pangan atau tidak?

Gengsi NKRI tak berkurang seinci pun kalau meniru jejak China dan India, dua negara dengan populasi manusia miliaran jiwa tapi bisa berdaulat pangan bahkan ikut mengisi perut bangsa lain.

Bawang putih mulus dari Tiongkok mestinya menggugah kesadaraan dan aksi kolektif pemerintah dan rakyat Indonesia untuk berbenah.

Yang pemimpin negeri omong berapi-api mengenai kemandirian ekonomi dalam spirit Nawacita itu penjabarannya termasuk kedaulatan pangan.

Pembangunan pertanian mestinya bergerak seirama. Seiring sejalan.

Bukan cuma jalan tol yang makin panjang meluas, tapi impor sembakonya harus makin berkurang.

Rezim Orde Baru yang tuan kritik habis-habisan karena otoritarian itu mewariskan sesuatu yang membanggakan.

Indonesia pernah swa sembada pangan hingga mendapat penghargaan FAO.

Kelemahan Orde Baru dalam hal pangan hanyalah “politik beras” kelewat kencang di seluruh pelosok Nusantara sehingga pangan seolah identik dengan beras.

Akibatnya orang di kampung saya, Nusa Tenggara Timur yang makanan pokok umumnya jagung dan ubi-ubian, Maluku dan Papua yang makanan pokoknya sagu, beralih ke beras (makan nasi) sehingga ketergantungan pada beras makin menebal bahkan sulit hilang sampai sekarang,

Yang Penting Untung

Besarnya impor kebutuhan pokok menguatkan dugaan bahwa bangsa kita memang doyan “politik ekonomi rente”. Yang penting untung bro. Berdaulat pangan nomor belakang.

Kalau ternyata impor lebih untung, buat apa letih menanam bawang putih, untuk apa buang waktu mengubah air laut menjadi garam, kalau ternyata impor lebih gampang?

Janji pemerintah menurunkan angka impor masih sekadar janji.

Malah cenderung meningkat pada sejumlah komoditas .

Impor bawang juga sumber duit. Pesonanya menggiurkan. Meninabobokan.

Belum genap sepuluh purnama berlalu, gara-gara impor bawang putih sejumlah orang termasuk anggota DPR yang terhormat dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dalam operasi senyap di Jakarta 7-8 Agustus 2019, KPK membekuk 11 orang, di antaranya orang kepercayaan anggota DPR Komisi VI dari Fraksi PDIP I Nyoman Dhamantra, Mirawati Basri, importir bawang dan pihak lainnya.

KPK juga sita uang Rp 2 miliar. Nyoman yang sempat menghadiri kongres PDIP di Sanur kala itu akhirnya dibawa ke kantor KPK di Jakarta pada 8 Agustus 2019.

Pada kasus suap impor bawang putih ini, KPK menetapkan enam orang tersangka.

Tiga orang berperan sebagai pemberi suap yakni pemilik PT Cahaya Sakti Agro Chandry Suanda alias Afung, pihak swasta T Wahyudi dan Zulfikar.

Sementara tiga orang lainnya sebagai tersangka penerima suap yakni I Nyoman Dhamantra, Mirawati Basri dan Elviyanto.

Menurut KPK, para penyuap memberikan uang untuk memuluskan pengurusan rekomendasi impor produk holtikultura di Kementerian Pertanian dan Surat Persetujuan Impor di Kementerian Perdagangan.

Senin 6 Januari 2020, majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi Jakarta memvonis Chandry Suanda alias Afung 2 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp 100 juta, Tuti Wahyudi 2 tahun penjara dan denda Rp 75 juta.

Sedangkan Zulfikar divonis kurungan 1 tahun 6 bulan denda Rp 50 juta.

“Menyatakan terdakwa Chandry Suanda alias Afung, Tuti Wahyudi, dan Zulfikar, terbukti secara sah meyakinkan bersalah melalukan tindak pidana korupsi secara bersama seperti didakwakan,” kata hakim Saifudin Zuhri.

Menurut hakim Afung terbukti menyuap anggota Komisi VI DPR I Nyoman Dhamantra sebesar Rp 3,5 miliar.

Salah urus bawang putih mulus ternyata bisa menjerumuskan orang ke hotel prodeo. Mereka pun berurai air mata. Bawang oh bawang…! (dion db putra)

Sumber: Ngopi Santai Tribun Bali

Melebihi Panggilan Tugas

Yusran Pare 
PERASAAN harubiru itu muncul di penghujung tahun. Tahun 2019 yang baru berlalu kurang dari 48 jam.  Dua seniorku pamit lalu meninggalkan Grup WA, ruang kami berbagi informasi, bertukar pandangan atau sekadar curhat dan bercanda ria.

Yusran Pare menulis dalam nada liris.

Teman-teman terkasih, izinkan saya pamit.
Terhitung 31 Desember 2019, saya sudah sepenuhnya pensiun. Terima kasih atas segala kebaikan, ilmu dan pengetahuan  yang telah teman-teman berikan kepada saya. Saya mohon ampun maaf jika selama berinteraksi ada hal-hal yang tidak berkenan di hati teman-teman.

Mas Kris, Om Dion, Mas HDP, titip Ombudsman, ya. Mohon maaf jika selama memimpin Ombudsman, saya belum mampu mewujudkan kerja ideal yang kita rancang.

Yusran Pare left…

Tak lama berselang Ahmad Suroso juga  keluar grup setelah meninggalkan kata-kata demikian.

Teman-teman Ombudsman Tribun, kang Yusran, mas HDP, mas Dion, Krisna...saya juga mohon izin left dari WAG Ombudsman Tribun, mengingat saya sudah resmi pensiun dari Tribun per 1 Desember 2019.

Terima kasih teman atas kerja samanya selama ini. Mohon maaf jika ada yg kurang berkenan. Sukses untuk kita semua,  semakin jaya di mana pun, amin

Tak hanya dari Grup WA Ombudsman. Mereka juga pamit dari  WA Grup lainnya yaitu Grup Tribun dan Editor in Chief Tribun.

Kendati pensiun sebagai karyawan merupakan sesuatu yang lazim, namun tetap saja mengiris perasaan.  Puluhan tahun kami  bersama-sama bekerja dalam jaringan unit usaha koran daerah Kompas Gramedia (Tribun Network).

Waktu terasa berlalu amat lekas. Tiba-tiba saja Kaka Yusran dan Mbah Roso – sapaan akrab Ahmad Suroso -  sudah berada di titik akhir pengabdian.  Purna tugas.

Ahmad Suroso (kiri)
Tentu selalu ada kesempatan untuk berjumpa, tetapi pasti telah berbeda bobot dan suasananya, takkan sesering seperti biasa ketika kami masih sama-sama karyawan Tribun.  Kebayang bahwa rapat kerja berikutnya tidak bersua mereka lagi.

Kiranya benar ungkapan dalam bahasa Prancis, “Partir c’est un mourir un peu” atau “kepergian adalah satu kematian kecil”. Mulai 1 Januari 2020 tak ada lagi kebersamaan seperti puluhan tahun dengan Kaka Yusran dan Mbah Roso.

Selalu ada yang hilang, setidaknya begitu yang saya rasakan setiap kali berpisah dengan senior yang pensiun. Maklumlah bekerja toh tidak sekadar mencari nafkah. Tempat kerja adalah juga rumah untuk  menjalin kasih persaudaraan.

Bukan pertama kali  saya berpisah dengan pendahulu yang memasuki purna tugas. Lima belas tahun silam saya rasakan getaran batin yang sama ketika Om Marcel W Gobang (alm)  pensiun dari Kompas Gramedia. Om Marcel, seingat saya,  merupakan karyawan pertama  PT Indopersda Primamedia atau Persda (kini Tribun) yang pensiun.

Ketika beliau pamit dalam pertemuan sederhana di kantor lama Harian Pagi Pos Kupang di Jl. Kenari No 1 Naikoten Kupang, ada rekan wartawan yang menitikkan air mata.

Sepuluh tahun menahkodai redaksi Pos Kupang bukan waktu yang singkat. Om Marcel Gobang, meninggal dunia tahun 2015,  mewariskan banyak hal baik bagi jurnalis dan karyawan Pos Kupang.

Akhir tahun 2018 di kantor baru Harian Pagi Pos Kupang di Jalan RW Monginsidi Fatululi,  saya  ikut melepas tiga karyawan yang  pensiun yaitu Hyeronimus Modo (Persda), Setya Mudjo R (Persda) dan Mariana Dohu (Pos Kupang).

Makin ke sini akan semakin banyak karyawan Tribun yang pensiun. Di Jakarta bulan September 2019 dalam raker Ombudsman, Mas Febby  Mahendra Putra (Direktur) sepintas memberikan informasi tersebut.

Dalam tahun 2020 ini dan tahun-tahun selanjutnya akan ada lagi karyawan yang pensiun. Tentu sebuah keniscayaan mengingat keberadaan Persda  yang telah mencapai lebih dari tiga dekade.

Marcel Gobang, Uki M Kurdi,  Yusran Pare, Gunawan Wibisono, Hyeronimus Modo, Setya Mudjo dan Mbah Roso serta para senior yang dalam dua tiga tahun ke depan akan purna tugas merupakan generasi perintis dan peletak dasar Tribun yang kini hadir di 23 kota di tanah air. Dari Aceh hingga Kupang,  Manado, Pontianak hingga Solo.

Dari Kota ke Kota

Generasi perintis - peletak dasar merupakan orang yang berkeliling dari kota ke kota lain. Sangat sedikit yang hanya bekerja di suatu tempat dalam waktu lama.

Kaka Yusran  Pare, misalnya, sejak bergabung dengan Persda tahun 1989,  bertugas di lebih dari lima kota termasuk Kupang. Awalnya di Harian Mandala (Bandung)  sebagai redaktur. Setahun kemudian  ke Harian Bernas (Yogyakarta).

Pose bersama seusai raker Ombudsman Tribun Sept 2019
Pengabdian berlanjut ke Palembang, di Harian Sriwijaya Pos (1993-1995) sebagai wakil redaktur pelaksana kemudian ke Pos Kupang (1995-1996).  Di sinilah saya menimba banyak ilmu dari beliau.

Selama di Pos Kupang, Kaka Yusran merekrut dan mendidik reporter baru, memperbaiki kualitas konten, perwajahan dan sebagainya. Setahun di Pulau Timor, dia kembali ditugaskan manajemen ke Bernas (1996-1998) sebagai redaktur pelaksana.

Dari Yogya, Kaka Yusran berkelana ke Kalimantan Selatan  sebagai wakil pemimpin Redaksi Banjarmasin Post  (1998-2000).

Menyongsong tahun 2000 manajemen di Jakarta membuka media baru di Kota Bandung. Kaka Yusran pulang kampung halaman, turut mengelola Metro Bandung (2000-2005) yang kemudian bermetamorfosis menjadi Tribun Jabar dan mengawali proses digitalisasi konten, sebagai pemimpin redaksi sampai 2009.

Tak cukup sampai di situ. Kaka Yusran sempat pula dijeda selama  6 bulan pada 2006, sebagai Pemred Tribun Batam.

Seolah sudah menjadi takdirnya, Kaka Yusran berkelana dari kota ke kota. Dari Sumatera ke bumi Borneo  Kalimantan lagi. April 2009 sampai 2016,  ayah tiga orang anak dan dua cucu ini dipercayakan sebagai Pemimpin Redaksi Harian Banjarmasin Post. 

Dari Banjarmasin pindah ke Semarang menahkodai Harian  Tribun Jateng (sampai 2017) lalu pulang kampung halaman lagi, Tribun Jabar, sampai purna masa kekaryawanan pada bulan Juli 2018.

Seperti ditulis Kaka Yusran dalam akun Facebooknya 31 Desember 2019, waktu seolah melintas demikian cepat.  Serasa baru kemarin dia berkemas pindah dari Bandung ke Yogya, Palembang, Kupang, Batam, Banjarmasin, Semarang dan seterusnya.

Karyawan  perintis –peletak dasar seperti Kaka Yusran sudah terbiasa hidup terpisah dengan keluarga. Tinggal di kos atau mess.  Paling  kumpul dua tiga hari dalam sebulan dengan istri, anak dan cucu. Namun seperti dikatakan Kaka Yusran, cinta kasihlah yang menyatukan.

Mbah Roso juga  berpindah dari kota ke kota, antara lain Yogya, Batam, Balikpapan  dan terakhir di Pontianak. Sampai purna tugas Desember 2019,  pria asal Yogyakarta ini menjabat Pemimpin Redaksi Tribun Pontianak.

“Nasib” berpindah dari kota ke kota pun dialami Mas Febby Mahendra Putra, Dahlan Dahi, Dodi Sardjana, Ribut Raharjo, Setya Krisna Sumargo, Hadi Prajogo, Cecep Burdansyah, Sunarko, Musafik, Abdul Haerah dan lainnya yang kini masih aktif mengabdi.

Pimpinan kami Mas Febby Mahendra Putra bertahun-tahun tinggal di kos, sekitar 100 meter dari kantor pusat kami di Palmerah. Karena tugas dan tanggung jawabnya sebagai direktur, Mas Febby bahkan selalu keliling ke berbagai kota tempat koran Tribun beroperasi untuk melakukan supervisi, monitoring, pembinaan, pelatihan dan sebagainya.

“Modalnya” tas ransel berisi beberapa potong pakaian.  Sesimpel itu kehidupan sebagai punggawa Tribun.

Dari  Kaka Yusran, Mbah Roso, Mas Febby, Dahlan kita petik pelajaran mengenai sense of duty. Rasa tanggung jawab pada tugas dan pekerjaan. Juga beyond the call of duty yaitu kesadaraan untuk bekerja melebihi panggilan tugas. Bahwa bekerja itu harus all out, mengerahkan segenap kemampuan yang ada, pikiran dan tenaga.

Di tengah distrupsi gempa digital yang maha dahsyat dewasa ini, para senior seperti Kaka Yusran dan Mbah Roso mewariskan keutamaan akan kesetiaan pada profesi, terus menghidupkan komitmen bahwa tanggung jawab media adalah pada masyarakat dan konsumen dan bahwa kerja itu merupakan ibadah.

Nilai keutamaan ini semoga tetap hidup dalam sanubari generasi baru Tribun,  setiap karyawan Kompas Gramedia.

Akhirnya,  buat Kaka Yusran, Mbah Roso terima kasih untuk tahun-tahun kebersamaan kita yang mengagumkan.

Terima kasih telah menjadi guru, mentor, kakak, rekan kerja yang banyak memberi inspirasi, ilmu, pengetahuan dan keterampilan. Mohon maaf atas khilaf dan salah.

Kita berpisah sebagai karyawan, tidak untuk persaudaraan. Keep in touch.

Dion DB Putra
Pada hari pertama 2020

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes