Ketika Kupang Minim Trek Joging

ilustrasi
KOTA Kupang kekurangan fasilitas trek joging. Ungkapan itu lugas disuarakan sejumlah warga ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini kepada Pos Kupang pekan lalu.

Minimnya fasilitas joging trek memaksa sebagian warga Kota Kupang yang hobi olahraga ringan  memanfaatkan jalan-jalan umum atau halaman kantor. Misalnya  Jalan El Tari Kupang, halaman Kantor Kejaksaan Tinggi Kupang dan halaman kantor DPRD Provinsi  NTT.

Lokasi baru yang saat ini banyak diminati masyarakat untuk joging adalah jalan menuju Bandara El Tari Kupang, Jalan Adi Sucipto Penfui. Satu-satunya lokasi yang aman untuk joging adalah Taman Nostalgia. Namun, masih ada keluhan karena lokasi ini juga dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi,  kegiatan formal dan tempat jual jajanan ringan.

Pantauan di beberapa titik seperti Jalan El Tari Kupang, Jalan Adi Sucipto halaman kantor DPRD Provinsi NTT banyak sekali warga yang joging pada sore hari mulai pukul 15.00 hingga pukul 18.00 Wita. Kecuali di Jalan El Tari biasanya ramai pada pagi hari sekira pukul 05.00  hingga pukul 06.00 Wita. 

Di Jalan El Tari Kupang, kebanyakan mereka yang joging pagi hari adalah orang tua. Di Kantor DPRD Provinsi NTT yang melakukan joging adalah orang tua dan profesional muda.

Sementara di Bandara El Tari terdiri dari berbagai profesi dan kebanyakan  mahasiswa dan pelajar SMA baik dilakukan bersama komunitas, berdua saja maupun bersama keluarga.

Joging menjadi pilihan warga karena merupakan jenis olahraga ringan dan menyenangkan. Hanya butuh waktu 30 sampai 40 menit untuk mengeluarkan keringat.  Joging pun dapat berlangsung dalam suasana santai dan menyenangkan. Dan, lebih menyenangkan apabila  melakukan joging bersama  teman-teman atau anggota komunitas.

Kiranya kekurangan arena joging atau trek joging menjadi perhatian Walikota dan Wakil Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore dan Herman Man  yang baru dilantik 22 Agustus 2017 lalu. Kebutuhan fasilitas ini masuk dalam delapan agenda program prioritas walikota dan wakil walikota, khususnya agenda ketiga yaitu mewujudkan kesehatan warga Kota Kupang (Kupang Sehat).

Lebih dari itu sebuah kota yang manusiawi adalah kota yang mampu menyiapkan fasilitas publik bagi warganya agar mereka dapat beraktivitas dengan leluasa dan nyaman  termasuk berolahraga.

Trek joging masih mungkin dibangun pemerintah di berbagai kawasan dalam  Kota Kupang. Kita memiliki lahan yang cukup memadai untuk kepentingan itu. Tinggal pemerintah mau atau tidak untuk menyiapkannya.

Untuk kota dengan penduduk hampir 500 ribu jiwa sungguh tidak pada tempatnya membanggakan trek joging yang "cuma satu-satunya" di Taman Nostalgia Kupang. *

Sumber: Pos Kupang 12 September 2017 hal 4

Demokratisasi a la Valens Goa Doy

Valens G Doy
Oleh: Steve H Prabowo

Pengantar:

Victorawan "Itong" Sophiaan tiba-tiba menelepon saya. "Gua bosen tiap tahun Oom dikenang gitu-gitu aja. Oom kaya ginilah, Oom kaya gitulah. Kaga ada yang betul-betul gambarin Oom secara utuh, kecuali dia pekerja keras, dedikasi tinggi pada profesi, dan sebagainya dan sebagainya. Padahal, dia punya pemikiran, ide, visi, tentang Indonesia," kata Itong.

Betul juga. Valens Doy, yang dipanggil "Oom" itu lalu sekadar figur nostalgik. Sama seperti lagu-lagu oldies yang ditayangkan dalam Tembang Kenangan. Haul Valens Doy, setiap 3 Mei, cuma jadi ajang orang-orang tua berkumpul dan berbagi kenangan. Lalu bercerita tentang Si Oom pada adik-adiknya yang -kata Itong -tak bakal dapat apa-apa dari cerita nostalgia itu.

Ide Itong untuk bikin buku tentang Oom Valens Goa Doy patut dipikirkan. Buku tentang visi Si Oom tentang Indonesia yang -lagi-lagi mengutip ucapan Itong -sedang sekarat. Nah, dalam rangka itu saya coba berbagi pengalaman, yang mudah-mudahan bisa menggambarkan sebagian sangat kecil dari begitu luas visi Si Oom tentang tugas media bagi hidup berkebangsaan.


***

"Mana komentar dari DPR?" tanya Valens Goa Doy lewat telepon, di suatu waktu tahun 1990.

"Belum ada, Oom," jawab saya.

"Ah, kalian ini. Semua versi pemerintah," keluhnya.

Komentar dari DPR, sejelek apapun kualitas omongan mereka, bagi Valens Doy penting. DPR, bagaimana pun adalah representasi rakyat (meski semu). Di tahun-tahun awal 1990-an, ketika Pak Harto sedang kuat-kuatnya, menurut pandangan dia, suara DPR sangat penting sebagai ejawantah dari demokrasi.

Oleh karena itu, ia minta selalu ada tanggapan anggota Dewan untuk setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Meski pada kenyataannya, saat itu banyak yang membebek pernyataan pemerintah.

Tentu, jangan dibandingkan dengan saat ini. DPR kini sudah jauh lebih kuat. Bahkan sangat kuat, dan cenderung arogan. Saat itu, DPR begitu inferior berhadapan dengan Pak Harto di puncak kekuasaannya.

Demokrasi memang jadi concern Valens Doy. Terutama saat itu, ketika posisi Pusat begitu kuat. Itu juga mungkin alasan dia menjadikan Harian Surya sebagai corong bagi Indonesia Timur. Surabaya, yang nota bene berada di Pulau Jawa, cocok untuk basis suara daerah Indonesia Timur. Kota terbesar kedua di Indonesia, dan tidak terlalu jauh dari Jakarta, sehingga diharapkan suara wilayah timur Indonesia bisa lebih lantang daripada kalau diteriakkan dari daerah.

Alasan itu pula yang membuat koran-koran yang digagas Valens Doy waktu itu selalu memberikan rubrik khusus bagi man on the street untuk bicara. Rubrik itu ada di Halaman Opini Surya, dengan nama Mimbar Demokrasi. Juga ada di Sriwijaya Pos, lupa nama rubriknya. Di Pos Kupang, awal-awal saya ada di sana juga sempat ada space khusus untuk man on the street itu.

Meski kecil, rubrik yang mewawancari rakyat jelata -bisa tukang becak, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga -lengkap dengan foto wajah mereka, sangat diperhatikan. Saya yang ketika di Surabaya menjadi anak buah Bang Manuel Kaisiepo -mantan Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia -di Desk Opini Surya, bertanggung jawab atas Mimbar Demokrasi ini. Tidak ada alasan, wajah 5 orang rakyat itu harus terpampang setiap hari.

Seringkali, teman-teman reporter yang dimintai bantuan (bergiliran tiap-tiap desk setiap hari) lalai membawa naskah dan foto untuk Mimbar Demokrasi. Saya bisa paham, memaklumi bahwa "berita" itu sepele, remeh temeh. Kalau sudah begitu, biasanya sudah di atas pukul 17.00 sementara deadline pukul 17.00 juga, saya kalang kabut. Mewawancarai sendiri siapa pun di sekitar kantor.

Si Oom sempat mengeluhkan, atau tepatnya memarahi saya, karena kualitas Mimbar Demokrasi makin buruk. Cenderung seadanya. Asal ada. "Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau menulis pendapat mereka?" katanya. Saya, seperti biasa hanya bisa menjawab: "Ya, Oom ..." sambil menunduk. Tak berani melihat matanya.

Rubrik Mimbar Demokrasi memang sepele, bukan berita hot. Tapi buat dia, tak ada rubrik yang sepele. Semua harus digarap serius. Itu pendapat saya waktu itu. Tapi belakangan, lama setelah ia meninggal, saya baru paham: Suara rakyat yang riil itu adalah ucapan yang keluar dari mulut mereka sendiri. Bukan oleh wakil mereka di Dewan. Itu alasan mengapa ia minta Mimbar Demokrasi digarap betul-betul.

Apa yang dilakukan Valens Doy waktu itu, mungkin bisa disamakan dengan apa yang disebut sebagai media "interaktif". Jauh sebelum ada telepon seluler dan internet seperti sekarang, Si Oom sudah berpikir bagaimana interaksi aktif pembaca melalui koran. Sekarang sudah banyak koran yang memberikan space untuk interaksi ini, antara lain melalui SMS. Si Oom sudah melakukannya, dengan cara sederhana: Mewawancarai dan memajang foto mereka.

Salah kalau saya waktu itu berpikir, rubrik ini sekadar supaya orang-orang biasa ini bangga fotonya masuk koran, kemudian membeli koran. Pemikiran praktis dari sudut pandang pemasaran sederhana. Valens Doy berpikir lebih sekadar pemasaran -yang memang mungkin tak efektif, karena rakyat biasa itu belum tentu menjadikan koran sebagai kebutuhan. Ada visi yang lebih tinggi: Rakyat biasa harus punya suara.


***



Baru-baru ini, teringat hari meninggalnya Valens Doy sudah dekat, saya coba baca lagi tulisan Mas Uki M Kurdi tentang dia. Mas Uki, mantan Desk Sunting Olahraga dengan redakturnya Bang Yesayas Oktavianus, bercerita tentang bagaimana Si Oom minta dicarikan seorang mantan pemain bola lokal yang punya nama dan integritas untuk menulis kolom sepak bola. Akhirnya, lewat diskusi dengan reporter olahraga (diskusi redaktur, penyunting, dan reporter seperti itu kini sudah jarang ditemui di surat kabar), ketemulah nama Rusdy Bahalwan.

Hal serupa juga terjadi di Desk Opini yang diasuh Bang Man (panggilan Manuel Kaisiepo). Ia selalu berpesan, dan pesan itu selalu diulang-ulang Bang Man, untuk memberi ruang bagi cendekia lokal. "Kita harus memunculkan orang daerah," katanya seringkali.

Ketika sebagai reporter politik pun, Si Oom menghendaki ada wawancara dengan cendekia Unair. Terutama yang muda-muda. Saya lihat hal itu juga dilakukan di Desk Ekonomi Bisnis. Orang daerah tidak boleh ketinggalan.

Saya pikir itu adalah salah satu upaya demokratisasi a la Valens Doy. Media menjadi saluran suara daerah, dan kalau bisa menjadi alat memunculkan tokoh-tokoh dari daerah.

***
Suatu malam, di Gedung Teja Buana, markas Majalah Prospektif, kami -saya, Yusran Hakim, Sri Unggul Azul, dan beberapa teman lain -berbicara dengan Si Oom di meja Yusran. Dia berucap soal pemihakan terhadap pengusaha. Untuk diketahui, Majalah Prospektif adalah majalah ekonomi.

"Pemerintah punya power untuk memaksakan kebijakan. Pengusaha tidak. Lewat media seperti kitalah mereka (pengusaha) bisa menyuarakan pendapat," katanya kurang lebih.

Serius sekali dia bicara begitu. Mungkin agak naif, karena pengusaha sebenarnya punya lobi sangat kuat terhadap pemerintah. Mereka bisa mempengaruhi, bahkan membeli, kebijakan pemerintah. Tapi saya coba berpikir positif. Ucapan itu lebih bersemangatkan keberpihakan terhadap yang tak punya power.

Pengusaha, khususnya dari etnis Tionghoa, saat itu memang bisa dipandang sebagai kelompok minoritas. Meski para konglomerat itu punya lobi kuat, terutama kroni-kroni Pak Harto, secara umum mereka lemah. Sering menjadi sapi perah penguasa. Mungkin istilah "sapi perah" tidak begitu tepat, karena bagaimana pun hubungan antara keduanya merupakan hubungan simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. Tapi di lain pihak, mereka juga sering dimanfaatkan penguasa, termasuk dijadikan kambing hitam atau pun pengalih isu. Dan, harus diakui mereka juga korban stigmatisasi negatif yang dipertahankan penguasa.



***



Rasanya, jika diingat-ingat, masih banyak cerita tentang Si Oom dari sisi lain itu. Termasuk bagaimana dia berkeinginan kuat membantu Bung Salvador mendirikan koran di Dili, Timor Leste. Saya yang ikut membidani Suara Timor Timur, banyak mendapat pelajaran dari Si Oom tentang hak-hak warga Timor yang tertindas saat itu.

Juga mengapa ia begitu bernafsu mendirikan Pos Kupang, belakangan Flores Pos di Ende. Terlalu panjang jika saya bercerita kali ini. Apalagi sekarang waktunya deadline koran saya. Dan, mungkin yang lebih tepat bercerita adalah Oom Damyan Godho, Pater Henri Daros SVD, dan juga mungkin Bung Salvador.

Saat ini saya hanya ingin mengenang dia, guru dan pembimbing saya: Si Oom bagi anak-anaknya.

 Palangka Raya, 2 Mei 2012


Sumber: Akun FB Steve H Prabowo

Kutipan Sepakbola dari Dion DB Putra dan Sindhunata (1)

Ada apa dengan bola, mengapa dia menghipnotis dunia? Menghibur dan atau membuat orang menangis dalam waktu bersamaan, cuma beda tempat, warna kulit serta asal-usul. Percayalah bahwa tidak ada jawaban yang benar-benar tepat sampai hari ini (Dion DB Putra, Bola itu Telanjang, 2010)

Orang suka bola karena dia telanjang. Toh kenyataannya benda kecil seberat 16 ons itu memang tidak pakai apa-apa. Tak pakai baju, tanpa celana. Dia telanjang bulat (Dion DB Putra, Bola itu Telanjang, 2010)

Karena telanjang, bola menyentuh sesuatu yang sangat mahal di bumi hunian kita yaitu spontanitas,  kejujuran, tanpa basa-basi (Dion DB Putra, Bola itu Telanjang 2010)


Karena bola tak pakai apa-apa, percayalah bahwa kita semua akan terus memburu dan menunggunya. Hari ini, besok dan lusa (Dion DB Putra, Bola itu Telanjang, 2010)

Menonton sepakbola ibarat menonton orang-orang lapar akan pengakuan sebagai sang juara (Dion DB Putra, Bola itu Telanjang, 2010)

Bisa disebut sepakbola telah menjadi simbol kehidupan kreatif dan daya hidup. Sepakbola adalah kehidupan itu sendiri (Yosni Herin, dalam Bola itu Telanjang karya Dion DB Putra, 2010)

Sejarah bola sudah membuktikan bahwa tim Jerman kendali berintikan pemain biasa-biasa saja selalu bermental juara, disiplin tinggi, kerja keras dan solid (Dion DB Putra, Bola itu Telanjang, 2010)

Romantisme bola itu dalam sejarah Piala Dunia cukup sering menghantar Brasil ke lembah duka. Setiap penampilan Brasil pasti menghibur, namun tidak selalu berakhir dengan kemenangan (Dion DB Putra, Bola itu Telanjang, 2010)

Sepakbola akhirnya menyisakan sebuah misteri yang tak mungkin dipahami. Mungkin itulah sebabnya sepakbola mendekati sebentuk religiositas, yang oleh sebagian orang dikritik sebagai menggantikan dan mengkhianati keagamaan (Sindhunata, Air Mata Bola, 2002).

Kenangan Marilonga...


Stadion Marilonga Ende 2017
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

L' Histoire se Repete, kata orang Prancis. Sejarah hampir 18 tahun lalu di lapangan Stadion Marilonga terulang. Kesebelasan PSN Ngada berjumpa tuan rumah Perse Ende di grandfinal kejuaraan sepakbola El Tari Memorial Cup. Era berbeda, generasi pemain tak lagi sama namun atmosfer rivalitas dua tim bertetangga tak berubah jua.

Duel PSN Ngada versus Perse Ende di Stadion Marilonga pada hari Selasa 7 Desember 1999, sungguh meremas jantung para penonton sejak Wasit Umar Wongso melakukan kick off. Lima gol tercipta dalam laga 2x25 menit. Final paling mendebarkan. PSN yang begitu perkasa kala itu harus mengakui keunggulan tim underdog Perse dalam kemasan skor super tipis 2-3. Perse yang dalam daftar pertemuan melawan PSN lebih banyak tiarap,. mengangkat tropi juara turnamen sepakbola paling bergengsi di bumi Flobamora.


Namun, predikat jago kandang pun langsung melekat pada tim Laskar Kelimutu karena tahun-tahun sesudahnya, setelah kisah indah Marilonga 1999, prestasi Perse tak lagi menjulang.

Perse tetaplah tim medioker di buana bola Nusa Tenggara Timur. Kurang lebih mirip dengan kiprah saudaranya Persami Maumere yang dua tahun lalu hebat amat di Gelora Samador. Mereka "horrro" (baca: taklukkan) semua lawan mainnya. Eh, di Marilonga 2017 pulang begitu lekas dengan rekor tanpa kemenangan. Bola memang telanjang, teman. Kalau ente kurang siap bertanding ya siap terima apa adanya.

Urusan rekor beda amat dengan PSN Ngada yang prestasinya konsisten. Tahun lalu anak-anak dari kaki Gunung Inerie nyaris menjuarai Liga Nusantara di Pulau Jawa. Mereka hanya kurang beruntung melawan Perseden Denpasar di final. PSN Oba Bha'i itu nyata dan mereka pemilik tunggal legenda sepakbola NTT. Tentu ini subyektivitas beta tanpa melupakan nama besar seperti PS Kota Kupang, Perseftim dan tim lainnya.

PSN Ngada merupakan tim dengan penampilan nyaris sempurna sejak babak penyisihan grup El Tari Memorial Cup 2017. Perse Ende juga sama baiknya namun grafik Perse cenderung biasa saja sejak babak perempatfinal dan semifinal.

Ketika mengalahkan Persab Belu 4-0 di babak semifinal, Selasa (8/8/2017) malam, PSN Ngada bermain begitu lugas, taktis dan mematikan. Yoris Nono, Ota Pone, Leonardus Ruu dkk mengepung Persab hampir sepanjang laga 2x45 menit.
Tim bintang masa depan dari perbatasan RI-Timor Leste kedodoran untuk mengembangkan permainan karena terus ditekan dari segala penjuru. Lapangan tengah praktis dikuasai pemain PSN Ngada sepenuhnya.

Bila tim asuhan Pelatih Kletus Gabhe dapat mempertahankan irama serupa, kemenangan atas Perse Ende bukanlah mustahil. PSN punya segalanya untuk meraih gelar terbaik malam ini.

Dalam final 18 tahun lalu, PSN Ngada terperangkap dalam karakter khasnya sebagai tim yang panas terlambat. Eman Watu, Renny Pati, Marsel Woto, Johni Dopo dkk saat itu ketinggalan dua gol terlebih dahulu di babak pertama. Perse unggul melalui gol cepat Yosef Bebo pada menit ke-9, hasil tembakan bola mati dari luar kotak 16 meter.
Kiper Imu Kadu lagi-lagi dipaksa memungut bola dari gawangnya hasil tembakan striker Perse Lody Mitan pada menit ke-29.

Justru dalam posisi tertinggal 0-2 PSN Ngada tampil beringas. Babak kedua sepenuhnya milik PSN. Gol Ronda Rato pada menit ke-65 memperkecil ketinggalan menjadi 1-2. Sayang setelah gol itu PSN agak kendor sehingga kecolongan lagi menit ke-80 hasil serangan balik Perse dan melonggarnya pengawalan terhadap Alit Santika.
Gol Johni Dopo hasil tembakan langsung dari sepak pojok untuk mengubah skor 2-3 pantas disebut sebagai datang terlambat karena sisa pertandingan tinggal enam menit.

Pada saat itu sesungguhnya nafas tim Perse nyaris habis dan para pendukungnya mulai resah dan gemas, takut juara bertahan bisa menyamakan kedudukan hingga memaksa laga pada tambahan waktu. Pada detik-detik akhir, bola liar dihalau begitu saja oleh Muhamad Adha, Rahman Toro dan Yosef Bebo sebelum memasuki kotak penalti. Perse parkir bus di lini pertahanan hingga mempertahankan skor 3-2 untuk mengangkat trofi El Tari Memorial Cup 1999.

Bagaimana laga final kali ini? Zaman berbeda, generasi pun sudah tak sama. PSN Ngada 2017 adalah panggungnya bintang baru bernama Octavianus W Pone, Yohanes K Nono, David Pea Demu, Cornelis Daga dkk. Juga di kubu Perse Ende telah lahir bintang millenial sebut misalnya Faris, Ajuar, Rizky, Adi, Alvian Cs. Mereka pun sudah bertanding malam hari di stadion yang lebih apik. Beda jauh dibandingkan 18 tahun lalu saat lapangan Marilonga gundul tanpa rumput menghijau.

Jelang final tahun ini Perse Ende lebih beruntung dalam banyak hal. Tim asuhan Pelatih Nyongki Kastowo itu bermain di kandang sendiri, didukung penuh penonton fanatik yang suka mendendangkan yel-yel roreee! (baca: potong). Diksi yang bikin saya galau karena menebarkan kekerasan verbal. Semoga tak menular menjadi kekerasan fisik yang dapat menodai nama baik Ende sendiri sebagai tuan rumah.

Pemain Perse pun lebih bugar karena mendapat masa istirahat lebih dari 24 jam sebelum final. Sebaliknya PSN Ngada kurang tidur. Berharap Pelatih PSN Ngada, Kletus Gabhe bisa memotivasi anak asuhnya agar bermain efektif selama 2x45 menit.

Setelah bermain di semifinal, Selasa malam, mereka langsung menuju laga puncak pada Rabu (9/8/2017) malam. Jadwal babak semifinal dan final yang demikian mepet kiranya menjadi perhatian serius pengurus PSSI NTT agar tidak terulang di kemudian hari. Kejuaraan sepakbola bergengsi sekelas El Tari Memorial Cup seharusnya dikemas lebih baik lagi agar babak final sungguh menjadi laga puncak yang menghibur dan bermutu.

Semoga babak final malam ini tidak menjadi antiklimaks. Para pemain Perse Ende dan PSN Ngada mesti membuktikan bahwa keduanya layak sebagai finalis. Dan, bagi pendukung PSN maupun Perse tetaplah bersahabat. Jangan sampai gara-gara sepakbola, lantaran tim kesayangan kalah atau menang, mengekspresikasan rasa secara berlebihan. Selamat menonton!

Catatan: Artikel ini dibuat menjelang laga puncak El Tari Memorial Cup 2017 antara Perse Ende melawan PSN Ngada. Laga itu berakhir ricuh. Penonton membludak, duduk hingga tepi garis lapangan. Kapasitas stadion cuma 8.000, dipaksakan tampung dua kali lipat. Laga terhenti menit ke-59 setelah terjadi pelanggaran pemain, penonton serbu lapangan. Perse Ende sementara unggul 1-0. PSSI umumkan Perse juara karena menganggap PSN tinggalkan lapangan.

Role Model Bernama Yabes


Yabes Roni
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

Timnas Indonesia gagal ke final cabang sepakbola SEA Games 2017  tapi permainan Garuda Muda  menjanjikan.

Evan Dimas dkk kalah 0-1 atas Malaysia, namun mereka kalah terhormat. Kepala tetap tegak,  mereka hanya kurang beruntung, sedikit kehilangan konsentrasi di menit-menit terakhir.

Tim asuhan pelatih Luis Milla Aspas ini punya masa depan bagus. PSSI mestinya perpanjang masa tugas Milla, hasil SEA Games  bukan satu-satunya indikator kinerjanya.

Dan, di antara skuat pasukan Garuda Muda yang aduhai menghibur itu ada Yabes Roni Malaifani, putra NTT kelahiran Alor. Yabes paling disorot sejak sebelum kick-off.


Berkali-kali kamera televisi menyinari wajah gagahnya yang berjambang hingga sepintas mirip Dani Alves. Yabes berlinang air mata saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Yabes tidak pura-pura. Raga dan  batin pemuda Moru ini  sungguh terlecut spirit  membela Merah Putih.

Yabes bermain penuh 2x45 menit dan dia tampil  luar biasa dalam posisi  sebagai gelandang serang yang beroperasi dari sayap. Berkali-kali dia merepotkan pertahanan Malaysia, memberikan umpan terukur dan menembak ke gawang. 

Yabes merupakan tipe pemain bola  ideal, dia  sama bagus saat menyerang maupun bertahan. Dia rajin mencari bola dengan daya jelajah tinggi.

Yabes makin matang sebagai pemain, keterampilan mengolah si kulit bundar pun semakin baik. Yabes terus bertumbuh sebagai pemain  profesional. Itulah yang membuat kita bangga.

Pemain kelahiran 6 Februari 1995 itu usianya belum genap 23 tahun. Dia masih  muda. Umur  produktifnya sebagai atlet masih sangat lama. Kurang lebih 7 sampai 8 tahun lagi dari sekarang. Tinggal menjaga kebugaran dan skill, niscaya Yabes akan jadi incaran klub-klub besar dan langganan  timnas Indonesia.
Yabes adalah role model bagi anak-anak Flobamora. Dia menjadi bukti impian putra NTT menjadi pemain timnas bukan mustahil.

Sejak Yabes meroket bersama timnas U-19 tiga tahun silam, NTT menjadi tujuan tim pencari bakat. Tentu kita butuh nama lain selain Yabes yang masuk timnas.

Dari rahim Nusa Tenggara Timur ini harus lahir  Yabes Yabes yang lain. Penerus Yabes.  Potensi dan peluang terbuka lebar, tinggal apakah kita siap manfaatkan momentum atau tidak. Tak ada jalan pintas! Pembinaan sejak usia dini merupakan jalan terbaik.

Sebagian kaki kita  sudah berada di jalur yang benar. Sekolah Sepak Bola (SSB) mulai tumbuh kembang di daerah ini.

Sebut misalnya SSB Tunas Muda Kupang yang telah melahirkan banyak pemain serta beberapa   SSB terakhir yang dikelola dengan manajemen modern  yaitu SSB Bintang Timur Atambua dan Bali United Kristal Football School Kupang.

Kiranya SSB terus diperbanyak diimbangi  kompetisi berjenjang rutin di setiap kabupaten/kota. Juga berharap Asprov dan Askab PSSI lebih profesional  mengelola kompetisi, mengawal regulasi dan memotivasi klub.

 Jangan sampai pengurus PSSI telinga tipis, alergi  kritik dan paksakan kehendak. Apapun argumentasinya kisruh laga final El Tari Memorial Cup 2017 di Ende  jelas mencerminkan salah urus!  Seharusnya tidak jumawa. Ada kerendahan hati untuk mengaku khilaf. Ternyata sepotong kata itu begitu mahal di kampung kita.  *

Sumber: Pos Kupang 28 Agustus 2017 halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes