Surat Kabar Tribun Network Raih 24 Piala

Dion (kanan) terima piala IPMA dari Menteri Rudiantara
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Regina Kunthi Rosary

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejumlah surat kabar Tribun meraih 24 piala dalam Malam Penghargaan Serikat Perusahaan (SPS) 2017 yang digelar di Millenium Hotel, Jakarta Pusat, Jumat (3/2/2017).

Gelaran tahunan bertema Inovasi yang Menginspirasi itu terdiri atas Indonesia Print Media Awards (IPMA), Indonesia inhouse Magazine Awards (InMA), Indonesia Young Readers Awards (IYRA) dan Indonesia Student Print Media Awards (ISPRIMA) 2017.

Berikut ini daftar surat kabar Tribun Network  yang meraih penghargaan pada Malam Penghargaan Serikat Perusahaan (SPS) 2017.

The Best of Sulawesi Newspaper IPMA 2017
Silver Winner:
Tribun Timur edisi Rabu (7/11/2017)

Bronze Winner:
Tribun Manado edisi Senin (8/2/2016)

The Best of Kalimantan Newspaper IPMA 2017
Gold Winner:
Tribun Pontianak edisi Rabu (20/1/2016)

Silver Winner:
Tribun Pontianak edisi Sabtu (10/5/2016)

Bronze Winner:
Tribun Kaltim edisi Senin (19/12/2016)

The Best of Java Newspaper IPMA 2017
Gold Winner:
Warta Kota edisi Kamis (20/1/2016)

Silver Winner:
Surya edisi Jumat (9/11/2016)
Warta Kota edisi Kamis (15/12/2016)
Tribun Jogja edisi Kamis (10/3/2016)

Bronze Winner:
Tribun Jateng edisi Kamis (8/12/2016)

The Best of Bali dan Nusa Tenggara Newspaper IPMA 2017
Silver Winner:

Pos Kupang edisi Kamis (10/3/2016)
Tribun Bali edisi Kamis (18/2/2016)

The Best of Sumatera Newspaper IPMA 2017

Silver Winner:
Tribun Sumsel edisi Kamis (10/3/2016)
Tribun Medan edisi Jumat (5/2/2016)
Tribun Lampung edisi Rabu (20/1/2016)

Bronze Winner:
Tribun Jambi edisi Rabu (20/1/2016)
Tribun Pekanbaru edisi Rabu (23/3/2016)
Serambi Indonesia edisi Kamis (8/12/2016) dan Sabtu (27/2/2016)
Sriwijaya Post edisi Kamis (4/2/2016)

The Best of Sumatera Newspaper IYRA 2017
Bronze Winner:
Tribun Lampung edisi Minggu (3/4/2016) "Selama Positif Saya Senang"

The Best of Kalimantan Newspaper IYRA 2017
Bronze Winner:
Banjarmasin Post edisi Senin (12/12/2016) "Mulai Atur Kegiatan Akhir Tahun"

The Best of Sulawesi Newspaper IYRA 2017
Bronze Winner:
Tribun Manado edisi Jumat (18/11/2016) "Lima Spot Kece Instagramable"

The Best of Java Newspaper IYRA 2017
Bronze Winner:
Surya edisi Selasa (1/11/2016) "Asyiknya Tuh di Sini Wow!"

IPMA merupakan kompetisi sampul muka atau cover media cetak, sementara ISPRIMA merupakan kompetisi desain rubrik anak muda pada surat kabar harian.

"Ajang kompetisi dan penghargaan IPMA, InMA, IYRA, dan ISPRIMA diyakini mampu merangsang lahirnya karya-karya sampul kreatif yang relevan dengan target pembaca mereka masing-masing sehingga pada gilirannya dapat mencuri perhatian khalayak untuk membeli dan membaca media cetak," ujar Ketua Harian Serikat Perusahaan Pers (SPS) Ahmad Djauhar dalam sambutannya pada awal acara.

"Semoga media cetak kita bisa bangkit lagi seperti dulu dan kegiatan ini sekaligus memberi motivasi pada masyarakat media," tambahnya.

Kompetisi ini merupakan wahana mengukur pencapaian karya jurnalistik media cetak melalui kerja-kerja yang inovatif dan menginspirasi.

Diketahui sebanyak 792 sampul muka (cover) surat kabar, majalah, tabloid serta rubrik anak muda seluruh Indonesia berpartisipasi dalam gelaran tahunan itu.

"Meski dari sisi kuantitatif entri cover tahun ini mengalami penurunan, secara kualitas, cover-cover terlihat digarap sangat serius," ujar Direktur Eksekutif SPS Asmono Wikan yang turut hadir dalam malam penghargaan.

"Bahkan, pada kategori ISPRIMA untuk pers mahasiswa, bermunculan ide-ide kreatif yang di luar ekspektasi para juri," tambahnya.

Dibanding tahun 2016, jumlah entri cover dan rubrik anak muda yang masuk tahun 2017 ini memang mengalami penurunan sebesar 11,07%, yakni dari 884 entri menjadi 792 entri.

Masing-masing tersebar pada IPMA (450 entri), turun 11 % dibanding raihan 2016 dengan 503 entri. Demikian juga IYRA merosot 17% dengan 122 entri, jauh dibanding 2016 dengan 144 entri.

Nasib serupa juga dialami majalah internal korporasi/lembaga yang turun 22%. InMA tahun 2017 hanya mengemas 142 entri, jauh dari raihan tahun lalu 188 entri.

Satu-satunya kenaikan digapai ISPRIMA yang naik 34% dibanding tahun lalu. Cover pers mahasiswa ini diikuti 78 entri, melonjak signifikan dibanding tahun 2016 dengan 58 entri.

Meski turun, Dewan Juri sepakat memberi pujian pada karya karya yang masuk lantaran lebih inovatif, berani, dan ingin berbeda dari sebelumnya.

Tahun ini dewan juri terdiri atas Ndang Sutisna (Ide kreatif pada IPMA, IYRA, dan InMA), Oscar Motuloh (Foto jurnalistik untuk IPMA dan IYRA), Nina Armando (Komunikasi massa untuk IPMA, IYRA, dan InMA).

Kemudian, Ika Sastrosoebroto (Kepiaran untuk InMA), Suharjo Nugroho (Branding untuk IPMA, IYRA, dan InMA), Danu Kusworo (Foto jurnalistik untuk InMA dan ISPRIMA), Nasihin Masha (Jurnalistik untuk ISPRIMA), dan Asmono Wikan (Ide kreatif dan desain untuk ISPRIMA dan InMA).

Mereka menilai 792 entri cover dan rubrik yang datang dari 118 media cetak seluruh Indonesia, 48 Korporasi dan Lembaga serta 30 perguruan tinggi negeri dan swasta seluruh Indonesia.

Sementara itu, selain penghargaan IPMA, InMA, IYRA dan ISPRIMA, SPS juga memberikan penghargaan kepada 14 tokoh pers berusia 70 tahun ke atas yang dipandang telah berjasa juga berkontribusi nyata bagi pertumbuhan serta perkembangan industri media cetak nasional dan asosiasi.

Di antara 14 tokoh pers tersebut, terdapat nama pendiri Kompas Gramedia Jakob Oetama dan pendiri Banjarmasin Pos Gusti Rusdi Effendi. Penghargaan diberikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara kepada tokoh-tokoh pers tersebut.

Menggandeng Perpustakan Nasional, penghargaan juga diberikan kepada penerbit media cetak yang secara teratur dan konsisten menyerahkan dokumentasi penerbitannya melalui serah terima karya cetak dan karya rekam selama tahun 2016 kepada Perpustakaan Nasional.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Kepala Perpustakaan Nasional Mohammad Syarif Bando kepada sejumlah penerbit media cetak yang terdiri atas surat kabar dan majalah.

"Kami berharap, partisipasi semua untuk tetap menyerahkan surat kabar, majalah, dan sejenisnya perlu ditingkatkan. Menjadi kebanggaan bagi kita untuk turut mencerdaskan bangsa," ujar Muhammad Syarif Bando usai menyerahkan penghargaan.

Dalam acara itu dibacakan pula rekomendasi hasil Rapat Kerja Nasional SPS Pusat 2017. Empat poin yang menjadi hasil rapat tersebut termasuk perihal verifikasi dan standarisasi oleh Dewan Pers serta rencana perayaan ulang tahun SPS di Manado dengan tuan rumah SPS Sulawesi Utara.

Acara dilanjutkan dengan Pelantikan Pengurus SPS 2016--2020 cabang Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jawa Barat, Sulawesi Utara.

Ahmad Djauhar pun diundang ke panggung untuk melantik para pengurus tersebut.

Penyerahan Penghargaan SPS Cabang Terbaik pada SPS Cabang Riau, Kalimantan Barat dan Sumatera Utara pun dilakukan pula dalam acara tersebut. (*)

Sumber: tribunnews.com

Cover Pos Kupang Terbaik Se-Bali dan Nusra 2016

Dion (kanan) menerima piala IPMA dari Menteri Rudiantara
JAKARTA, PK -Cover (sampul muka) Harian Pagi Pos Kupang edisi 10 Maret 2016 tentang Gerhana Matahari meraih penghargaan medali perak sebagai cover terbaik se-Bali Nusra pada ajang lomba sampul muka Indonesia Print Media Award (IPMA) 2017.

Penghargaan itu diterima Pemimpin Redaksi Pos Kupang, Dion DB Putra dari Menteri Kominfo Rudiantara  pada malam penganugerahan di Ballroom Hotel Millenium Sirih, Jl. Fachrudin No. 4 Jakarta Pusat, Jumat (3/2/2017). Selain IPMA pada saat yang sama  juga diberikan penghargaan bagi pemenang lomba IYRA, InMA dan ISPRIMA.

Hadir dalam acara ini Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara,  para tokoh pers nasional dan lebih dari 300 undangan.

Pos Kupang meraih medali perak IPMA 2017 untuk kategori Surat Kabar Harian Regional Bali dan Nusa Tenggara. Meraih medali perak berarti Pos Kupang merupakan koran terbaik di kawasan Bali Nusra bersama Tribun Bali, Lombok Post dan Denpasar Post yang juga sama-sama meraih medali perak. Tidak ada koran yang meraih emas dari kawasan ini.

Selain Pos Kupang, koran-koran daerah dalam jaringan Tribun (Grup Kompas Gramedia) juga berjaya di ajang ini. Di Region Sumatera yang meraih penghargaan yaitu Harian Tribun Lampung, Tribun Sumsel, Sriwijaya Post, Tribun Pekanbaru, Tribun Medan, Serambi Indonesia, Tribun Batam,  Tribun Jambi dan Tribun Medan.
Cover edisi 10 Maret 2016

Harian Tribun Jogya, Harian Surya, Tribun Jateng dan Warta Kota berjaya untuk media di regional Jawa. Di Kalimantan penghargaan disabet Tribun Kaltim, Banjarmasin Post  dan Tribun Pontianak. Di Sulawesi diraih Harian Tribun Timur Makassar dan Tribun Manado.

Tahun ini lomba sampul muka (cover) IPMA yang diselenggarakan Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat merupakan kali kedelapan. SPS menunjuk tim juri independen untuk menyeleksi dan memutuskan para pemenang.

Ikhwal kemenangan Pos Kupang sudah disampaikan Direktur Eksekutif SPS Pusat Asmono Wikan melalui surat No. : 198/I/2017/LXXI Jakarta tertanggal 23 Januari 2017. Dalam suratnya itu, Asmono mengundang pemimpin redaksi Pos Kupang menerima penghargaan tersebut di Jakarta pada hari Jumat, 3 Februari 2017.

"Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Pos Kupang yang telah berpartisipasi dalam ajang The 8th Indonesia Print Media Awards (IPMA) tahun 2017. Bersama ini kami sampaikan bahwa berdasarkan Hasil Penilaian Dewan Juri telah diputuskan suratkabar yang bapak/Ibu pimpin keluar sebagai salah satu pemenang," demikian Asmono dalam suratnya itu.

"Ajang kompetisi dan penghargaan IPMA, InMA, IYRA, dan ISPRIMA diyakini mampu merangsang lahirnya karya-karya sampul kreatif yang relevan dengan target pembaca mereka masing-masing sehingga pada gilirannya dapat mencuri perhatian khalayak untuk membeli dan membaca media cetak," ujar Ketua Harian Serikat Perusahaan Pers (SPS) Ahmad Djauhar dalam sambutannya pada awal acara.

"Semoga media cetak kita bisa bangkit lagi seperti dulu dan kegiatan ini sekaligus memberi motivasi pada masyarakat media," tambahnya.

Kompetisi ini merupakan wahana mengukur pencapaian karya jurnalistik media cetak melalui kerja-kerja yang inovatif dan menginspirasi. Diketahui sebanyak 792 sampul muka (cover) surat kabar, majalah, tabloid serta rubrik anak muda seluruh Indonesia berpartisipasi dalam gelaran tahunan itu. (osi/tribun)

Sumber: Pos Kupang 4 Februari 2017 hal 1

Tradisi Non Pah di Kabupaten TTU

Pasukan berduka dalam tradisi Non Pah
RATUSAN orang berkumpul di Sonaf Bikomi Maslete, Senin (16/1/2017) sekira pukul 08.00 Wita.  Sonaf Bikomi Maslete adalah salah satu obyek wisata budaya di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Sonaf ini berada di RT 01/ RW 01, Kelurahan Tubuhue, Kecamatan Kota Kefamenanu.

Mereka berkumpul di Sonaf Bikomi Maslete untuk menjalani ritual Non Pah. Ritual ini masih dipertahankan komunitas adat Bikomi yang digelar tujuh tahun sekali. Dalam upacara ini, pasukan berkuda  mengelilingi wilayah Kerajaan Bikomi hingga Kota Kefamenanu dan kembali masuk ke Sonaf Bikomi Maslete. Pasukan berkuda membawa Pedang Bermata Tujuh atau dalam bahasa lokal disebut Tap Mese Nes Hitu yang dipercayai memiliki kekuatan magis.

Seekor kuda jantan hitam dipersiapkan khusus oleh Sonaf (pemangku rumah adat) untuk membawa Pedang Bermata Tujuh. Kuda didandani dengan giring-giring, perak dan ekor sapi yang sudah dikeringkan ditempatkan  pada bagian leher. Semua meo (panglima perang, red) hadir bersama  kuda masing-masing. Meo memakai pakaian adat lengkap ditemani pedang di bagian pinggang. Mereka siap mengawal Le'o atau benda adat yang dirindukan masyarakat Pah Bikomi sejak tujuh tahun lalu.

Sebelum berangkat, masih ada beberapa ritual adat, seperti meminta izin foto dan syuting yang  dilakukan di Tola Naijuf dengan memotong babi jantan berwarna hitam.
Wisatawan menyaksikan upacara Non Pah
Kemudian melihat hati, usus dan empedu yang dicermati oleh atupas (Usif yang menjaga Sonaf). Ritual ini disaksikan para tua adat. Bagian dada babi dipotong tujuh sayatan dan dimasak, kemudian didoakan dan diiris untuk dibagikan kepada semua pasukan berkuda sebagai tanda siom manikin atau menerima.

Seorang lelaki dari suku Ta'kua berwajah sedikit keriput, mengenakan baju hitam dipadu kain hitam yang diikat di kepala, masuk ke dalam Tola Naijuf (Rumah adat) untuk mengambil Pedang Bermata Tujuh. Keluar dari dalam Tola Naijuf seperti pahlawan  memegang pedang yang sudah dibungkusi kain hitam. Masyarakat setempat dilarang keras bersuara, apalagi berdiri dan melakukan aktivitas. Mereka duduk diam dan tunduk tak berbicara.

Ande Ta'kua sebagai suku yang dimandatkan membawa Pedang Bermata Tujuh, sudah siap di atas kuda punggung  hitam. Dia merapatkan barisan diikuti Tobe dari Suku Sife, yakni Kamilus Sife membawa perlengkapan ritual adat.  Urutan kuda ketiga, yakni Suku Sife atau Ta'nik yang dipercayakan membawa ayam jantan merah.  "Ayam jantan itu berkokok hanya siang dan malam," tutur  Usif Yohanes Sanak.

Pukul 12.31 Wita hari itu pelepasan Non Pah  dimulai. Lianenu, bifelon tok. "Duduk diam-diam sudah hoe," teriak seseorang di luar Sonaf Bikomi Maslete. Empat belas orang Meo yang ikut mengawal Tobe Takua, Sife dan Ta'nik seperti Klemens Malafu, Yohanes Takua, Vinsen Sabuin, Jefri Sonbay, Aldo Sonbay, Bonivasius Sonbay, David Hala, Nikolas Bana, Anus Hala, Blasius Nino, Mikhael Oeleu, David Obe, Benyamin Abi, dan Nikolas Lake. Giring-giring menjadi warna langkah kaki kuda keluar dari Sonaf Bikomi Maslete.
Wisatawan coba menunggang kuda

Pos Kupang dibimbing seorang tua adat mengenakan kendaraan bermotor melalui jalur umum menuju lokasi pintu keluar ke Bikomi, di Naen, Kelurahan Tubuhue, sekitar tujuh kilometer dari Sonaf Bikomi Maslete.

Seorang ibu pulang dari kebun membawa karung, hampir berpapasan dengan pasukan Non Pah. Dia lari terbirit-birit seperti ketakutan ada perang. Ibu itu nyaris masuk ke dalam semak belukar.  Pukul 13. 09 Wita giring-giring berbunyi dari dalam hutan. Masyarakat yang menunggu di etape pertama menunduk. Tak bersuara. Di sana mereka melakukan ritual adat Usapi Maknau untuk menerima rombongan sekaligus membuka jalan bagi pasukan berkuda untuk mengelilingi wilayah Bikomi.

Di sana sudah ada Tobe Nihala. Ada pula Suku Tahoni, Suku Paineon, Metboki, Insan Tuan yang juga  melakukan ritual adat Tualel (Nipe Naik, Koto Nain) atau makan diam-diam, minum diam-diam.

Sejumlah menu makanan dan minuman lokal seperti kelapa muda, tebu, ubi, pisang masak, sopi, pepaya, ubi rebus, kacang tanah goreng, lauk tobe yang sudah disiapkan dari pagi pukul 08.00 Wita.  Berbagai jenis makanan itu dibagikan kepada pasukan berkuda. Ibu-ibu sibuk mengupas kulit pepaya, dan memotong kelapa. Sementara  laki-laki menyuguhkan minuman arak dan makan khas lokal. Kebersamaan dan kekeluargaan  cukup kental.

Dua jam lebih diwarnai pembantaian ternak dan makan adat bersama. Sebelum makan siang dengan menu nasi putih dan beberapa potong daging babi yang dihidangkan, dua orang pria paruh baya membawa hidangan tersebut untuk dipersembahkan dengan tutur adat di tempat penyimpanan benda adat. Pukul 15. 22 Wita rombongan berkuda melanjutkan perjalanan ke Matbes, Desa Tublopo.

Tobe Nihala kepada Pos Kupang, mengatakan, beberapa lokasi persinggahan selanjutnya, yaitu  Maurisu Utara, Faotbana, Maurisu Selatan, Naiola, Desa Oelami dan Desa Inbate akan dilakukan ritual adat yang sama.

Mereka ditunggu para Amaf Bikomi atau tua adat dengan berbagai makanan lokal. Ada perbincangan dan informasi keluhan yang akan diterima dari para Tobe dan Meo untuk disampaikan ke Sonaf, sesuai wilayah kekuasaan masing-masing Amaf.

"Pintu ini disambut dengan aman, damai, tertib dan lancar. Setelah pasukan berkuda jalan, sore ini juga kita akan antar ternak yang sudah dibantai dengan alas kaki (babi) ke Sonaf sebagai bentuk bukti informasi bahwa pasukan berkuda siap melanjutkan perjalanan dan akan disambut para Amaf wilayah Pah Bikomi,"jelas Tobe Nihala.

Pda Sabtu (21/1/2017) pukul 14. 20 Wita, pasukan berkuda tiba di Sonaf Bikomi Maslete. Mobil operasional Sat Lantas Polres TTU duluan memakai toa memberikan informasi agar jangan ada yang berdiri dan melakukan aktivitas di tengah jalan.

Mereka datang tidak bersamaan. Sebagiannya memakai kuda dan sebagian lagi berjalan kaki memasuki Sonaf. Mereka membawa pinang dan bambu. Turut disaksikan dua orang turis dari Australia bernama Luke Hunter, dan Hanna Ling, memakai sarung Bikomi.

"Pak (Polisi) tolong duduk," kata seorang warga yang duduk di bawah pohon.
Pukul 14. 40 Wita dua orang Meo tiba. Seperti lainya membawa pinang dan  bambu berisikan air yang diambil dari tujuh lokasi sumber mata air keramat di Oeleu-Suspin, Oelnitep, Tailneon,   Naisleu (Belakang Masjid Kodim), Nisani (Benpasi), Tasi (Maumolo),  dan Son Oel -Inbate. Air itu akan dimasukkan ke dalam periuk tanah di Tola Feotnaij (rumah adat).

"Saat curah hujan tak menentu, dengan air itu akan dilakukan upacara adat untuk turunkan hujan dan sebagai bahan percikan air berkat untuk para pembawa Maus (Para masyarakat yang membawa padi dan jagung),"  jelas Yohanes Sanak.

Bambu dan pinang langsung ditaruh pada  sebatang kayu bercabang tiga yang ditancapkan dalam tanah di depan Sonaf. Bagian bawah kayu yang disebut Haumonef itu dikelilingi tumpukan batu yang diatur rapi mengelilingi  tiang pohon. Cabang kayu yang di tengah ukurannya lebih tinggi daripada dua cabang lainnya. Posisinya di bagian timur menghadap ke arat barat. Di antara ketiga cabang, diletakkan sebuah batu berbentuk lempeng sebagai tempat persembahan darah hewan kurban.

                               Upacara Tama Maus
Sesepuh Sonaf Bikomi Maslete, Baltasar Sanak, didampingi penerjemah Bahasa Dawan, Yohanes Sanak mengatakan, setelah satu minggu perjalanan para Tobe dan Meo mengelilingi wilayah Kerajaan Bikomi dan kembali ke Sonaf Bikomi Maslete akan dilanjutkan upacara Tama Maus.

Upacara tersebut, jelas Sanak, dilaksanakan setiap tahun sebagai ungkapan syukur dan terima kasih masyarakat kepada Uis Neno atas hasil panen yang diperoleh. Upacara ini juga untuk memohon berkat-Nya agar  musim tanam berikutnya memberikan hasil  berlimpah. "Nanti harta yang dipersembahkan masyarakat berupa jagung sebanyak tujuh bulir per kepala keluarga atau padi sebanyak tujuh tanasak. Hanya tujuh, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang," katta Baltasar, dibenarkan Yohanes Sanak.

Disaksikan Pos Kupang, Sabtu (21/1/2017) malam, seluruh warga Pah Bikomi sudah membawa padi dan jagung ke Sonaf. Sebelum memasuki Sonaf, perwakilan keluarga jalan berderetan membawa persembahan.  Sebelum masuk Sonaf, diperciki air berkat dan disuguhi makanan yang telah didoakan (tekes) agar panen berikutnya berlimpah.
"Upacara Tama Maus, biasanya didahului dengan upacara rehab rumah adat Tola yang biasanya dilaksanakan pada November," ujar Sanak.

Menjelang upacara Tama Maus,  jelas Baltasar, ada satu tahapan lagi yang mendahuluinya, yaitu upacara pengambilan Luma atau upacara pengambilan air berkat yang diambil dari tujuh sumber air keramat. Dalam berbagai upacara adat, termasuk Tama Maus, terdapat dominasi angka tujuh. Contoh lainnya, jelas Baltasar,   sebelum hewan kurban persembahan didoakan lalu disembelih, terlebih dahulu pemimpin ritual adat akan mengangkat tangan yang memegang sebuah kasui atau piring tradisional yang terbuat dari daun lontar ke atas sebanyak tujuh kali. (abe)


Sang Pengatur Matahari

PEMERHATI budaya di Kabupaten TTU, Yohanes Sanak, mengatakan, salah satu ritus yang masih hidup dan dipertahankan komunitas adat Bikomi adalah upacara Non Pah yang dilakukan setiap tujuh tahun sekali.

Dalam upacara ini pasukan berkuda berjumlah puluhan orang mengelilingi wilayah Kerajaan Bikomi selama sepekan dengan membawa Pedang Bermata Tujuh (Tap Mese Nes Hitu) yang memiliki kekuatan magis.

Menurut  Sanak yang merupakan seorang Usif di Sonaf Bikomi Maslete, pembawa pedang mendapat bisikan atau wahyu untuk mendirikan haumonef sebagai altar penyembahan kepada Apinat-Aklaat, Amo'et -Apakaet yaitu Tuhan. Apinat = Yang Menyala, Aklaat = Yang Membara, Amo'et = Yang Menciptakan, Apakaet = Pengukir atau Pemahat yang membuat alam semesta menjadi indah.

Dikatakannya, haumonef  perdana didirikan di Koba Tamnau Lasi (Desa Maurisu Utara), diperkirakan pada tahun 1600-an. Hingga kini fisik bangunannya masih ada meski telah mengalami kerusakan pada beberapa bagian. Secara fisik, kata Sanak, haumonef  terbangun dari sebatang kayu bercabang tiga yang ditancapkan dalam tanah. Bagian bawahnya dikelilingi tumpukan batu yang diatur rapi  mengelilingi pohon tiang.

Cabang kayu yang di tengah, ukurannya lebih tinggi daripada kedua cabang lainnya. Posisinya di bagian timur menghadap ke arat barat. Cabang yang tertinggi, melambangkan Apinat -Aklaat, Amo'et -Apakaet sang pengatur matahari terbit dan terbenam, lahir dan mati.

Sementara dua cabang lainnya berada di sisi utara dan selatan, melambangkan aina ama (leluhur). Di antara ketiga cabang, diletakkan sebuah batu berbentuk lempeng atau plat sebagai tempat mempersembahkan darah hewan kurban.  Makna filosofisnya bahwa manusia dapat berkomunikasi dengan Tuhan melalui perantaraan arwah nenek moyang atau leluhur.

Sanak mengatakan, pedang magis tersebut dibungkus dengan kain hitam. Demikian pula penunggangnya mengenakan baju berwarna hitam, warna yang melambangkan kesakralan. Di dalam warna hitam (gelap) manusia tak dapat melihat sesuatu, tetapi Apinat -Aklaat, Amo'et -Apakaet dapat melihat dan mengetahui semua ciptaan-Nya.

Pada zaman dahulu, upacara Non Pah dilakukan dengan mengelilingi seluruh wilayah Kerajaan Bikomi yang terbentang dari Bijaele Su'in (batas dengan TTS, Belu dan Insana) di Desa Maurisu Selatan hingga Bijaele Sunan di Desa Manusasi (Batas dengan Naktimun dan Ambeno -Republik Demokratik Timor Leste).

Rute ini kemudian mengalami perubahan ketika Kerajaan Bikomi dibagi menjadi dua, yakni kevetoran pada zaman pemerintahan Belanda yaitu Kevetoran Bikomi dan Kevetoran Nilulat. Upacara ritual adat lainnya yang dilaksanakan secara rutin oleh masyarakat Bikomi adalah upacara Tama Maus.

Upacara ini dilaksanakan setiap tahun sebagai ungkapan syukur dan terima kasih masyarakat kepada Apinat -Aklaat, Amo'et -Apakaet (atau yang sekarang dikenal dengan sebutan Uis Neno) atas hasil panen yang diperoleh sekaligus untuk memohon berkat-Nya untuk musim tanam berikutnya agar memberikan hasil yang berlimpah.

Secara harafiah, jelas Sanak, Tama Maus berasal dari Bahasa Uab Meto, Tama berarti memasukkan dan Maus berarti harta. Jadi, Tama Maus berarti membawa persembahan berupa harta. "Harta yang dipersembahkan masyarakat berupa jagung sebanyak tujuh puler per kepala keluarga atau padi sebanyak tujuh tanasak. Tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang," ujar lulusan S2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut.


Upacara Tama Maus, biasanya didahului dengan upacara rehab rumah adat Tola yang biasanya dilaksanakan pada bulan  November. Menjelang upacara Tama Maus, ada satu tahapan lagi yang mendahuluinya yaitu upacara pengambilan Luma atau upacara pengambilan air berkat yang diambil dari tujuh sumber air keramat. Sanak berharap, ritual adat ini tetap dipertahankan oleh masyarakat setempat sebagai khasanah budaya dan warisan bagi anak cucu kelak.  (abe)

Bupati TTU Minta Jaga Keasliannya

BUPATI  Timor Tengah Utara (TTU), Raymundus Sau Fernandes mengatakan  upacara Non Pah merupakan ritus yang unik dan patut dipertahankan sebagai aset wisata budaya di Bumi Biinmaffo.

"Saya sudah omong ini sejak lima tahun yang lalu untuk memproteksi aset budaya yang kita miliki. Yang perlu diperhatikan adalah tetap menjaga keasliannya karena yang namanya peninggalan budaya nilai tambahnya ada pada keasliannya. Jangan diubah-ubah. Harus tetap dijaga agar tetap awet dan terpelihara," tegas Raymundus.

Ia mengatakan, terkait kalender kegiatan pariwisata budaya khusus untuk tradisi Non Pah mulai dari ritual adat sampai selesai harus ditetapkan agar menjadi rujukan pasti bagi wisatawan."Harus ada kepastian waktu sehingga orang luar atau turis mau datang saksikan itu jadwalnya jelas. Tanggal sekian-sekian acara di mana saja. Tidak boleh sesuka hati,"  tandasnya.

Raymundus mengatakan, tradisi Non Pah dilakukan tujuh tahun sekali. Untuk itu, yang perlu diperhatikan adalah waktu penetapan dan jadwal kegiatan ritual. Para pemangku adat harus menetapkan kalender yang jelas.

"Para pemangku adat harus duduk bersama dan bersepakat untuk menentukan jadwal ritual yang baik. Ini menarik, banyak wisatawan yang akan datang berkunjung," ujarnya.
Terkait penataan Sonaf Bikomi Maslete, demikian Raymundus, sudah berulang kali ditekankan agar tetap mempertahankan keaslian fisik dan non fisik. "Kalau mau mempetahankan keaslian, jangan pakai bahan-bahan bangunan modern. Jangan pakai seng, jangan membawa hal-hal yang berhubungan dengan modernisasi. Karena tidak akan bisa mempertahankan nilai keaslian," imbau Raymundus.

Ia berharap masyarakat TTU bersama-sama menjaga keaslian yang sudah ada di Sonaf Bikomi Maslete.  "Kalau mau komitmen, komitmen yang benar. Jangan kita bicaranya baik tetapi tingkah laku berbeda. Saya sangat mendukung," demikian Raymundus. (abe)

Sumber: Pos Kupang 29 Januari 2017 hal 1

Zefanya Soares Juara Nasional Menulis Artikel Populer

Zefanya Soares (tengah)
Semangat untuk belajar menulis membuahkan hasil bagi Zefanya. Ia pun meraih penghargaan tingkat nasional menyisihkan karya para pelajar lain dari berbagai daerah di Indonesia.

Di balik sikapnya yang malu-malu, Zefanya Mesquita Orleans Soares, semangat tetap membara untuk menulis. Alhasil, siswa kelas 8B SMP Katolik Santo Yoseph (Speksanyo) Naikoten Kupang ini berhasil menjuarai lomba menulis artikel populer Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tingkat nasional.

Dalam lomba tingkat nasional yang diikutinya pertama kali ini, ia tak menyangka bisa meraih juara tingkat nasional. Remaja kelahiran Atambua, 5 Januari 2003 ini pun merasa bangga dan senang atas prestasi yang diraihnya itu.

"Ya bangga dan senang. Tetapi kita harus terus belajar dan belajar untuk menulis yang baik bersama para guru dan pembimbing," ujarnya kepada Pos Kupang, Rabu (22/2/2017).

Bersama pembimbingnya Frater Aditya, ia belajar menulis artikel. Ia juga rajin menulis puisi. Selain diterbitkan di majalah dinding (mading) sekolah, beberapa puisinya selalu menghiasi ruang Imajinasi Edisi Minggu Pos Kupang.

Tak pelak, saat ikut lomba menulis BPOM, ia pun tampil sebagai pemenang pertama untuk kategori pelajar se-Indonesia. Pemenang kedua Heksa Kusuma Wardhana dari SMA Kebangsaan Metro Lampung, dan ketiga Jaka Naufal Semendawai dari SMA Xaverius I Palembang.

Putri kelima dari tujuh bersaudara pasangan Domingos Orleans Soares dan Celina Mesquita ini akan berangkat ke Jakarta bersama guru pembimbingnya, Frater Giovanni Aditya Lewa Arum, untuk menerima penghargaan pada puncak HUT ke-16 BPOM, 28 Februari 2017 mendatang.

Zefanya mengatakan, pada lomba ini, dia mengangkat tema 'Gelarkan: Gerakan Pelajar Kawal Obat dan Makanan Aman'. Tema tulisan ini dibuat untuk  membagi idenya kepada para remaja agar menjadi inspirasi dan motivasi khususnya untuk mewujudkan generasi pelajar sehat.

"Dapatkah kita bayangkan, jika kondisi tubuh kita tidak sehat, bagaimana mungkin kita dapat melaksanakan seluruh aktivitas hidup dengan baik? Segala kegiatan dapat berjalan dengan baik dan lancar jika kita memiliki kondisi tubuh yang sehat," ujarnya.

Ia katakan, meski kita mengharapkan kondisi tubuh tetap sehat dan bugar, namun kenyataannya banyak masyarakat yang menderita sakit. "Mengapa hal ini bisa terjadi? Tentu banyak faktor yang menyebabkannya. Namun, masalah utamanya terletak pada pola hidup masyarakat yang tidak sehat," ujar Zefanya.

Baginya, masyarakat belum mampu membangun pola hidup sehat khususnya dalam hal mengkonsumsi makanan sehat dan obat-obatan yang aman. Ia mengatakan, dalam pengalaman sehari-hari, dia menyaksikan pola hidup sehat di sekolah belum berjalan dengan optimal. Kenyataan di sekolah-sekolah masih banyak pelajar yang tidak paham akan pentingnya mengonsumsi makanan yang sehat dan obat-obatan yang aman.

Misalnya saja, masih banyak siswa yang mengomsumsi jajanan di sekolah yang tidak higienis. Tidak adanya kantin sekolah yang sehat, minimnya kebersihan jajanan yang banyak dijual di pinggir jalan, maraknya jajanan yang mengandung bahan kimia berbahaya dan lain-lain, membuktikan bahwa pola hidup sehat di sekolah masih perlu diupayakan dengan sungguh-sungguh.

Menurutnya, sekolah tentunya mempunyai lembaga Organisasi Intra Sekolah (OSIS). Ia melihat peluang yang bisa dimanfaatkan dalam OSIS untuk membentuk gerakan bersama para pelajar yang dia sebut dengan 'Gelarkan'.

Gerakan ini sebenarnya bisa menjadi program strategis dari OSIS yang melibatkan seluruh pelajar di sekolah. Gerakan ini harus memulai agenda awalnya dengan program edukasi makanan dan obat-obatan yang aman.

Dikatakanya, dengan membangun kerja sama dengan para guru dan kepala sekolah, pengurus OSIS bisa mendatangkan tenaga ahli di bidang kesehatan makanan dan obat-obatan yang aman, khususnya dari Balai POM.

Karena, saat ini banyak pelajar yang belum mengetahui bahwa banyak obat-obatan dan makanan yang mengandung bahan-bahan kimia dan mikroba yang berbahaya bagi kesehatan. Di antaranya, formalin, boraks, saccharin atau pemanis buatan, siklamat, zat pewarna sintetis, sodium nitrit, monosodium glutamal (MSG), melamin dan lain-lain. Ini adalah contoh bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit yang mematikan, jika dikonsumsi secara terus-menerus.

"Menurut saya, program-program kecil dan sederhana lebih efektif daripada memiliki program besar yang sulit dilakukan. Saya menawarkan beberapa program strategis yang bisa dilakukan oleh Gelarkan," ujarnya.

Seperti Program Edukasi dan Literasi Makanan dan Obat yang aman. Program ini dapat memanfaatkan media mading sekolah. Gelarkan dapat berbagi informasi kepada seluruh warga sekolah mengenai jajanan sehat di sekolah, tips-tips memilih makanan dan obat-obatan aman, dan lain-lain.

Program Kawal Kantin Sehat. Gelarkan harus mengawal kantin yang sehat. Hal ini bisa dilakukan dengan cara memperhatikan kebersihan lingkungan kantin. Contohnya tidak membuang sampah jajanan sembarangan, mengkonsumsi makanan yang sehat dan bersih, dan lain-lain.

Selain itu ada Program UKS Plus. UKS tidak hanya tempat beristirahat siswa-siswi yang sedang sakit. "Saya mengajak Gelarkan untuk membentuk UKS Plus, yakni menciptakan lingkungan UKS yang bersih dan nyaman, serta pusat layanan informasi tentang makanan sehat terutama bagaimana mengkonsumsi obat-obatan yang aman," uarnya.

Juga ada Program Koperasi Konsumsi Sekolah. "Saya mengusulkan untuk membentuk koperasi konsumsi para pelajar di sekolah. Koperasi ini khusus menyediakan jajanan sehat dan dikelola oleh guru dan siswa-siswi sekolah. Selain berlajar untuk berkoperasi, siswa-siswi juga lebih aman dalam mengkonsumsi makanan sehat karena seleksi jajanan sehat yang terkontrol oleh para guru," katanya.
Dikatakanya, dengan membentuk 'Gelarkan' ia berharap para pelajar dapat menjadi agen-agen kesehatan demi mewujudkan Indonesia Sehat.

Ia memberikan pesan kepada para remaja khususnya pelajar, jika ingin berjalan berkilo-kilo jauhnya, mulailah dengan langkah pertama.  Jika ingin membangun Indonesia Sehat, kita perlu memulainya dari diri kita sendiri. "Karena, jika bukan kita, siapa lagi Jika bukan sekarang, kapan lagi," ujar Zefanya. (nia)

Sumber: Pos Kupang 23 Februari 2017 hal 1

Uskup Agung Kupang Ajak Umat Menanam Cabai

Uskup Petrus Turang dalam suatu acara di Kupang
BELUM banyak warga Kupang yang familiar dengan nama Paroki St. Simon Petrus, Tarus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang. Bisa dimengerti mengingat Tarus merupakan paroki baru di wilayah Keuskupan Agung Kupang. Sebelumnya Tarus merupakan stasi dari paroki St. Yoseph Pekerja Penfui.

Letak gerejanya di lereng bukit yang dulu penuh batu karang. Sejak tahun 2012, pengurus bersama pastor paroki berinovasi mengubah alam batu karang yang gersang menjadi kawasan yang hijau. Bagi umat paroki, tidak boleh sejengkal tanahpun dibiarkan kosong. Di sana harus ada kehidupan.

Tidak heran kalau saat ini kawasan gereja ditumbuhi tanaman berbagai jenis dan dijadikan sebagai taman inovasi kreatif oleh Pastor Paroki, Rd. Philipus Pilich. Hari Minggu (12/2/2017) menjadi spesial buat umat di Paroki St. Simon Petrus Tarus.  Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr memimpin perayaan ekaristi berkenaan dengan pelantikan pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Simon Petrus Tarus.

Seusai perayaan  ekaristi pengurus DPP St. Simon Petrus periode 2017-2019  mendaulat Uskup Petrus Turang, menanam secara simbolis anakan cabai pada polibag di halaman depan gereja.  Didampingi Ketua DPP, Andres Ita, dan Pastor Paroki, RD Philipus Pilich, Uskup Turang menuju polibag yang sudah tertera namanya untuk menanam cabai. "Saya sudah menanam, silakan pengurus DPP, umat dan anak-anak ikut tanam," pesan Uskup Turang.

Pastor Paroki St. Simon Petrus Tarus, RD Philipus Pilich menuturkan,  umat dan pengurus paroki tentu bersyukur karena mendapat bantuan anakan cabai dari pemerintah untuk tahap awal ini sebanyak 250 anakan yang sudah diisi dalam polibag. Penanaman cabai oleh Uskup Agung Kupang memotivasi umat mengembangkan anakan cabai yang harganya melambung tinggi saat ini. Setiap umat di paroki ini dianjurkan menanam cabai di halaman rumah masing-masing.

Gerakan menanam, lanjut Philipus, sesungguhnya sudah dilakukan umat sejak tahun 2012. "Cabai baru saat ini kami dapat anakan. Tetapi sejak tahun 2012 kami sudah melakukan gerakan menanam di kawasan gereja. Ada banyak jenis anakan tanaman yang kami semaikan di sini. Kami menamakan kawasan gereja sebagai taman inovasi kreatif dengan memaksimalkan sejengkal tanah yang ada," ujarnya. "Umat bertekad bahwa di atas batu karang harus ada kehidupan. Tidak boleh ada sejengkal tanahpun terlewatkan harus ditanami anakan cabai," tambahnya.

Rohaniwan asal Kabupaten Sikka ini mejelaskan, apa yang dilakukan umat untuk motivasi masyarakat umum lainnya agar  belajar di Tarus. "Kawasan paroki ini berbatasan dengan alur sungai. Selama ini banjir selalu meluap masuk area paroki. Tetapi setelah kita melakukan gerakan penanaman anakan dan ketika sudah besar, justru memberikan manfaat bagi kita. Banjir tidak masuk lagi ke area paroki. Itu sebabnya gereja ini mengembangkan anakan sekaligus mendukung program Pemerintah Kabupaten Kupang soal 'Taman Eden'," jelas Philipus.

Tanaman cabai yang disiapkan 250 anakan ini, lanjut Philipus, selain ditanam di paroki juga dibagikan kepada umat. Anakan cabai diberikan oleh Pemerintah Provinsi NTT. Ketua DPP St. Simon Petrus, Andreas Ita menambahkan, sebanyak  1.000 anakan cabai sudah diberikan kepada umat dan warga sekitar di paroki tersebut. (fredi hayong)

Sumber: Pos Kupang 13 Februari 2017 hal 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes