Tembakan Ungkit Sonaldo

 

 

Son Heung-min

Korea Selatan tidak hanya drama televisi (drakor) bertema cinta yang mengharubiru rasa.

Korea pun tak sebatas menebarkan demam K-pop (Korean Pop), jenis musik populer yang menembus tapal negara sejak lama.

Korea sedari dulu selalu melahirkan bintang di lapangan sepak bola.

Pekan kedua Premier League musim 2020-2001 kembali menjulangkan nama Korea di Liga Inggris.

Son Heung-min mengemas caturgol untuk Tottenham Hotspur (Spurs) yang bikin sang manajer Jose Mourinho
tersenyum simpul.

Pada laga perdana 13 September 2020 Tottenham keok 0-1 melawan Everton.

Mou kecewa berat, mengomeli Harry Kane dkk sebagai pemalas, tidak kreatif dan tak berani menggebrak.

Laga kedua, Son Heung-min menggila. Penyerang asal Korea Selatan itu menjadi bintang saat Spurs menang telak 5-2 atas Southampton di Stadion St Mary's, Southampton, Minggu (20/9/2020).

Rekor apik pun masuk buku sejarah Liga Inggris. Son menjadi pemain Asia pertama yang mengoleksi hattrick atau lebih dalam satu partai Premier League.

Dia melampaui torehan bintang Manchester United asal Jepang Shinji Kagawa yang cetak trigol ke gawang Norwich City musim 2012/2013.

Di St Mary’s Spurs tampil kurang menggigit pada babak pertama.

Mereka bahkan tertinggal 0-1 dari tuan rumah. Kiper Hugo Lloris terpedaya oleh gol manis Danny Ings menit ke-32 menuntaskan umpan jauh Kyle Walker-Peters.

Menit kedua injury time babak pertama, kerja sama apik Son Heung-min dan Harry Kane baru membuahkan hasil.

Son menyantap umpan terobosan presisi dari Kane lewat tembakan ungkit untuk memperdayai kiper Alex
McCarthy.

Dua menit babak kedua bergulir, Tottenham berbalik unggul saat umpan cerdas Harry Kane diselesaikan Son melalui tembakan keras ke pojok kiri bawah gawang.

Kapten timnas Korea Selatan ini mencetak trigol saat ia menerima umpan lambung Kane lalu menaklukkan Alex McCarthy menit ke-64.

Tak sampai 10 menit kemudian Son cetak gol keempat, yang lagi-lagi berasal dari umpan terukur Kane.

Harry Kane turut mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-82.

Dia menyambar bola muntah dari tangan McCarthy atas tembakan Erik Lamela.

Di pengujung waktu normal, Danny Ings mengkonversi tendangan penalti demi memperkecil kekalahan Southampton jadi 2-5.

Son Heung-min cemerlang. Harry Kane pun demikian.Kane menyodorkan empat umpan mematikan.

Opta mencatat, Harry Kane menjadi pemain Inggris pertama yang bikin empat assist dalam satu laga dan pemain pertama yang mencatatkan empat assist untuk pemain yang sama dalam sebuah laga.

Sepanjang musim lalu (2019-2020), Kane hanya membuat dua assist. Sangat fakir untuk bintang sekelas dia.

Jose Mourinho menyebut penampilan Harry Kane saat timnya mengalahkan Southampton 5-2 di St. Mary's adalah contoh peran penting seorang pemain yang kerap tak tersorot kamera. Kontribusinya sangat fundamental bagi tim.

"Saya tahu semua orang bakal bilang Sonny (Son Heung-min) sebagai pemain terbaik pertandingan tadi karena raihan luar biasanya mencetak empat gol di Liga Premier," kata Mourinho pascalaga seperti dilansir laman resmi Tottenham.

"Tapi saya seorang pelatih, saya lebih memikirkan kebaikan tim dan apa yang Harry lakukan untuk kami adalah contoh seorang pemain yang tak banyak mendapat lampu sorot tapi perannya fundamental bagi tim,"
kata Mou.

Kemenangan itu bekal positif bagi Tottenham yang akan menjalani pekan yang padat.

Mereka melawat ke Makedonia Utara menghadapi Shkendija dalam kualifikasi ketiga Liga Europa, Kamis (24/9/2020) dan menjamu Newcastle United tiga hari kemudian.

Jose Mourinho memang berharap banyak dari kontribusi pemainnya demi kesuksesan tim.

Mou bertekad memberikan prestasi yang lebih baik bagi Spurs dibandingkan musim lalu mereka hanya finis di urutan keenam Liga Inggris.

Sejak Usia 16 Tahun

Siapa Son Heung-min? Jika sekarang tuan dan puan melihat aksinya yang memukai di lapangan hijau, ketahuilah bahwa itu merupakan buah didikan dan latihan sejak usia dini.

Son lahir 8 Juli 1992 di Chuncheon, Korea Selatan.

Pemilik tinggi badan 1,83 meter tersebut sudah mengecapi ketatnya kompetisi sepak bola di benua Eropa saat masih belia.

Son Heung-min bergabung dengan klub Jerman, Hamburger SV pada usia 16 tahun dan memulai debutnya di Bundesliga pada 2010.

Tahun 2013 ia pindah ke Bayer Leverkusen lalu berlabuh di Tottenham tahun 2015.

Transfernya ke Spurs kala itu 30 juta euro, termahal bagi pemain asal Asia.

Rekor sebelumnya dipegang sejak tahun 2001 oleh pemain Jepang, Hidetoshi Nakata, yang ditransfer dari AS Roma ke Parma Italia senilai 25 juta euro.

Di Tottenham, Son Heung-min lagi-lagi menjadi pemain Asia yang mencetak gol terbanyak dalam sejarah Liga Premier. Melampaui rekor pendahulunya Cha Bum-kun untuk gol terbanyak yang dicetak pemain Korea di kompetisi Eropa.

Son membela timnas negaranya sejak 2010 termasuk di Piala Dunia FIFA 2014, dan 2018. Dia pencetak gol terbanyak negaranya di Piala Dunia bersama Park Ji-sung dan Ahn Jung-hwan dengan tiga gol.

Son memimpin timnas Korea Selatan di Asian Games 2018. Mereka meraih medali emas serta edisi 2011, 2015 dan 2019 Piala Asia AFC.

Son Heung-min lahir dari keluarga sepak bola. Ayahnya Son Woong-jung adalah mantan pemain timnas Korea Selatan.

Sejak remaja Son memang ingin berkarier di Eropa. Kala itu idolanya adalah gelandang Lee Chung-yong, yang bermain untuk klub CrystalPalace dan Bolton Wanderers.

Son belajar keras untuk menguasai bahasa Jerman dan Inggris. Menurut agennya Thies Bliemeister, Son belajar bahasa Jerman dengan cara yang unik yaitu menonton episode SpongeBob SquarePants.

Pada bulan Agustus 2008, Son keluar dari Sekolah Menengah Dongbuk dan bergabung dengan akademi muda Hamburger SV melalui Proyek Pemuda FA Korea.

Setahun kemudian, ia kembali ke Korea Selatan. Setelah berpartisipasi dalam Piala Dunia U-17 FIFA, ia secara resmi bergabung dengan akademi muda Hamburger SV pada November 2009.

Dia tampil mengesankan di pramusim 2010-2011, memimpin tim dengan sembilan gol, dan menandatangani kontrak profesional pertama pada ulang tahun ke-18.

Untuk kiprahnya yang luar biasa di Bundelsiga bersama klub Hamburg SV dan Bayer Leverkusen, Son disejajarkan dengan pemain legendaris Korea Selatan Cha Bum-kun yang juga berjaya di Bundesliga Jerman.

Mencetak hattrick bukan sesuatu yang baru bagi Son Heung-min. Pada 9 November 2013, Son mencetak hattrick untuk Leverkusen dalam kemenangan 5-3 melawan mantan klubnya, Hamburger SV.

Pada tanggal 7 Desember, Son mencetak gol krusial melawan Borussia Dortmund untuk menempatkan klubnya hanya empat poin dari puncak Bundesliga.

Pada 10 Mei 2014, Son menyumbang gol lagi melawan Werder Bremen memastikan timnya tempat untuk Liga Champions UEFA 2014-15.

Ia menyelesaikan musim 2013–2014 dengan 12 gol dalam 43 pertandingan.

Son mencetak hattrick melawan VfL Wolfsburg pada 14 Februari 2015, meski timnya kalah 4-5. Ia menyelesaikan musim 2014-2015 dengan 17 gol dalam 42 pertandingan.

Pada 28 Agustus 2015, Son mendarat di kancah Premier League bersama Tottenham Hotspur.

Son debut bersama Spurs pada 13 September 2015 saat tandang ke Sunderland. Timnya menang 1-0.

Dalam pertandingan pertama Tottenham di Liga Eropa UEFA 2015-2016 pada 17 September, Son menjaringkan dua gol dalam kemenangan 3-1 melawan Qarabağ FK.

Tiga hari kemudian, ia mencetak gol pertamanya di Liga Premier, melawan Crystal Palace di White Hart Lane, memberi Tottenham kemenangan kandang pertama di Liga Premier musim itu.

Pada tanggal 28 Desember 2015, dalam laga melawan Watford, Son menggantikan Tom Carroll pada menit ke-80 dan mencetak gol kemenangan Tottenham menit ke-89.

Pada 20 Juli 2018, Son memperpanjang kontraknya dengan Tottenham hingga 2023.

Musim 2018-2019 Son ikut mengantar Spurs ke final Liga Champions Eropa sebelum kalah melawan Liverpool.

Julukan Sonaldo Nazario

Son membuka musim 2019-2020 pada 14 September 2019 dengan mencetak dua gol melawan Crystal Palace di Liga Premier. Spurs menang 4-0.

Pada 3 November 2019, Son Heung-min diusir wasit dari lapangan saat imbang 1-1 melawan Everton. Dia menerjang André Gomes dari belakang, lawannya jatuh canggung dan menderita cedera pergelangan kaki yang
parah.

Cedera semacam ini neraka bagi pemain bola. Son sangat tertekan oleh kejadian itu. Son juga menerima skorsing tiga pertandingan Liga Premier.

Namun, banyak pengamat termasuk mantan pemain Everton Kevin Kilbane mengkritik keputusan kartu merah itu. Tottenham mengajukan banding ke Asosiasi Sepakbola Inggris (FA).

FA akhirnya menerima banding dan kartu merah Son dibatalkan pada 5 November 2019.

Tiga hari setelah kejadian ini, dalam laga tandang Liga Champions melawan Red Star Belgrade, Son mencetak dua gol untuk menggenapi kemenangan Tottenham 4-0.

Bukannya merayakan gol lewat selebrasi ceria, ia justru meminta maaf melalui kamera atas apa yang terjadi di Goodison Park.

Pada tanggal 23 November 2019, Son Heung-min membuat Jose Mourinho tersenyum puas dalam debutnya sebagai Manajer Tottenham Hotspur menggantikan Mauricio Pochettino.

Son mencetak gol saat Spurs menang dramatis 3-2 atas West Ham. Son diganjar penghargaan man-of-the-match dalam pertandingan itu.

Pada tanggal 7 Desember 2019, Son berlari lincah laksana kijang dari satu ujung ke ujung lapangan, melewati tujuh pemain Burnley, untuk mencetak gol individu yang dilukiskan sebagai yang terbaik sepanjang
musim.

Jose Mourinho yang mulai jatuh hati pada pemain ini spontan menjulukinya "Sonaldo Nazario". Mou mengacu pada jenis gol sebangun yang dicetak mantan pemain fenomenal Brasil, Ronaldo Luís Nazario de
Lima alias Ronaldo.

Pada 22 Desember 2019, saat Spurs menghadapi Chelsea, Son dikeluarkan wasit karena mengangkat sepatunya kelewat tinggi menghantam tulang rusuk Antonio Rüdiger.

Meski begitu, pada bulan Januari 2020 ketika pandemi Covid-19 mulai menghantui dunia, Son Heung-min mendapat penghargaan sebagai pencetak gol terbaik Liga Premier bulan Desember 2019. Pengakuan pantas untuk golnya yang menakjubkan ke gawang Burnley.

Bintang Asia di Eropa

Son Heung-min kini memimpin daftar pemain Asia yang bersinar di Eropa. Bintang lainnya yaitu pemain Jepang Takumi Minamino (Liverpool), pemain Korea Hwang Hee-chan (Red Bull Salzburg), pemain asal China
Wu Lei (Espanyol) dan bintang masa depan Jepang, Takefusa Kubo (Real Madrid).

Mereka ini meneruskan kiprah bintang Asia masa lalu yang tampil memukau di Eropa. Sebut misalnya Shinji Kagawa, Yuto Nagatomo (Jepang), Park Ji-Sung (Korea Selatan) dan Ali Dei (Iran).

Jepang dan Korea Selatan menyumbang pemain terbanyak yang membela klub-klub Eropa. Transfermarkt mencatat sejumlah nama berikut.

Wu Lei (China/RCD Espanyol), Daichi Kamada (Jepang/Eintracht Frankfurt), Takumi Minamino (Jepang/Liverpool), Hwang Hee-chan (Korea Selatan/FC Red Bull Salzburg), Takehiro Tomiyasu (Jepang/Bologna), Lee
Kang-in (Korea Selatan/Valencia), Takefusa Kubo (Jepang/Real Madrid), Sardar Azmoun (Iran/Zenit St.Petersburg) dan Shoya Nakajima (Jepang/FC Porto).

Dari semua pemain Asia tersebut, Son Heung-min paling mahal nilai transfernya yaitu 64 juta euro. Konsistensinya selama bergabung dengan Spurs membuat harga Son melambung di bursa transfer.

Sejak bermarkas di London Utara pada tahun 2015, ia telah terlibat langsung dalam 127 gol dari 220 pertandingan Spurs.

Son Heung-min merupakan wajah sepakbola Asia di Eropa saat ini setelah seniornya Park Ji-sung yang sangat populer di Liga Inggris dan dunia.

Kendati belum merasakan gelar juara bersama Tottenham, Son merupakan pemain kunci dan andalan Jose Mourinho. Sejauh ini pencapaian terbaik Son adalah mengantarkan Tottenham lolos ke final Liga Champions Eropa musim 2018-2019.

Son Heung-min bahkan masuk nominasi penerima Ballon d'Or tahun 2019 meski akhirnya kalah dari megabintang Argentina Lionel Messi.

Mengingat usianya baru 28 tahun, Son Heung-min boleh dikata sedang berada di puncak keemasan sebagai pemain bola profesional. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Teman Tapi Lawan


Dominic Thiem

Petenis Austria Dominic Thiem mendapat hadiah ulang tahun terindah. Tepat pada hari jadinya ke-27 dia meraih gelar Grand Slam US Open atau Amerika Serikat Terbuka.

Setelah tiga kali gagal di final Grand Slam, pada usahanya yang keempat, Thiem mampu mewujudkannya. Proficiat!

Menariknya lawan Dominic Thie kalahkan di final US Open pada 13 September 2020 adalah sahabatnya Alexander Zverev asal Jerman.

Teman tapi lawan sampai seorang di antaranya menyerah namun tidak menghilangkan tali persahabatan. Pada akhir laga mereka berangkulan. Begitulah indahnya sportivitas.

Thiem sudah ketinggalan dua set. Secara mengagumkan dia bangkit dari keterpurukan, tampil konsisten dan pada set terakhir menang tipis lewat tie-break.

Sungguh final nomor tunggal putra berkelas dunia. Selama empat jam lebih satu menit penggemar tenis mendapat suguhan pertandingan yang menawan.

Drama bergulir dari poin ke poin hingga pukulan terakhir menandai kemenangan Thiem 2-6, 4-6, 6-4, 6-3, dan 7-6 (6).

Meski laga tanpa penonton di Arthur Ashe Stadium, New York karena Covid-19, namun atmosfer yang mereka ciptakan sungguh menghibur. Penggemar tenis sejagat yang menyaksikan via layar kaca merasakan aroma kompetisi memikat.

Dominic Thiem, peringkat ketiga dunia versi ATP, mengawali pertandingan tak semulus yang ia kira.

Dia terseok-seok melawan Zverev sebelum memegang kendali permainan di set ketiga yang berlanjut
hingga set kelima.

Statistik berikut ini utuh menggambarkan betapa ketatnya pertandingan final US Open 2020. Yang gandrung tenis lapangan paham laga granfinal di akhir pekan itu menakjubkan.

Zverev unggul dalam hal pukulan Ace dengan total 15 kali dibandingkan Thiem hanya melepaskan 8 pukulan
Ace.

Thiem memenangkan break point 7/13, Zverev 8/18. Net point dimenangkan Thiem 23/31, Zverev 43/66. Pukulan winner yang menghasilkan poin Zverev unggul jauh yaitu 52 pukulan, Thiem 43.

Thiem bermain tenang sehingga lebih minim melakukan kesalahan. Kesalahan ganda Thiem 8, Zverev 15. Kesalahan sendiri atau unforced error Thiem hanya 55 kali, sedangkan Zverev 64. Total poin kemenangan
perbedaannya sangat cilik. Thiem 162, Zverev 159.

Menang tipis melalui pertarungan dramatis, Dominic Thiem memuji daya juang sahabatnya Alexander Zverev. Dia merasa hanya sedikit lebih beruntung sehingga meraih trofi Grand Slam perdana dalam kariernya
sebagai petenis profesional.

"Kami mulai saling mengenal sejak 2014 dan setelahnya kami menjalin pertemanan sampai sekarang, dan juga persaingan. Sungguh hebat perjalanan yang sudah kami lalui sejauh ini dari tiap lapangan, kuharap kita bisa punya dua pemenang hari ini. Kami patut menerimanya," kata Thiem seusai pertandingan final sebagaimana dikutip dari laman ATP, Senin 14 September 2020.

Gelar Thiem merupakan kemenangan pertama di US Open yang ditentukan oleh tie break sebanyak lima set. Thiem juga menjadi petenis pertama dalam sejarah tenis lapangan era terbuka yang memenangi US Open
setelah tertinggal dua set.

Kendati Alexander Zverev mengalami kekalahan dalam usahanya meraih gelar Grand Slam pertama, namun petenis berusia 23 tahun ini mencatatkan rekor finalis termuda dalam ajang tertinggi setelah Novak
Djokovic mengukirnya tahun 2010.

Dia pun memuji sobatnya Dominic Thiem.

"Aku mengucapkan selamat pada Dominic atas gelar perdana Grand Slam. Aku berterima kasih pada tim yang tetap mendukungku terutama pada masa-masa sulit dua tahun terakhir. Kita sedang menuju jalan yang bena dan kuharap suatu hari bisa mengangkat piala (Grand Slam) bersama-sama," kata Alexander Zverev.

Sukses Thiem menambah daftar kemenangan mutlak dalam empat pertemuannya dengan Zverev di ajang Grand Slam. Thiem Berjaya pada tiga duel sebelumnya yaitu Roland Garros (French Open) 2016 dan 2018 serta Australia Open 2020.

Sejak Usia 6 Tahun

Dominic Thiem lahir 13 September 1993 di Wiener Neustadt, Austria. Buah kasih pasangan Wolfgang dan Karin Thiem yang sama-sama pelatih tenis ini mulai menekuni olahraga tenis sejak usia enam tahun.

Dia menjalani debut ATP Tour pada 2011 di Kitzbuehel sebagai petenis wildcard, namun dikalahkan Daniel Gimeno-Traver pada babak pertama. Memenangkan pertandingan undian utama pertamanya pada tahun yang sama melawan rekan senegaranya Thomas Muster di Wina.

Tahun 2013, Dominic Thiem finis 15 Besar untuk pertama kali dalam kariernya setelah mencapai babak perempatfinal di Kitzbuhel dan Wina.

Setahun kemudian dia menjalani debut Grand Slam di Australia Open 2014. Mengalahkan Joao Sousa sebelum ditaklukkan Kevin Anderson pada babak kedua.

Dia mencapai final ATP Tour pertama tahun yang sama di Kitzbuehel namun kalah melawan David Goffin dan mengakhiri tahun itu masuk 50 Besar petenis putra dunia.

Menjuarai ATP Tour pertamanya di Nice setahun berikutnya disusul juara di Umag dan Gstaad untuk tuntas dalam predikat petenis paling muda yang masuk 20 Besar.

Dominic Thiem masuk 10 Besar pada tahun 2016 setelah menjadi juara di Buenos Aires, Acapulco, Nice dan Stuttgart serta lolos ke ATP Finals untuk pertama kali dalam kariernya.

Dia juga lolos ke final Grand Slam pertamanya di Roland Garros pada 2018, namun dikalahkan Rafael Nadal.

Menjuarai Masters 1000 pertaman pada tahun berikutnya di Indian Wells setelah mengalahkan Roger Federer dalam final. Mengakhiri musim itu dengan lima gelar juara yang sama dengan Novak Djokovic.

Tahun 2019 Dominic Thiem kembali tak berdaya melawan Rafael Nadal di final French Open. Kekalahan serupa dia alami saat menghadapi Novak Djokovic pada final Australia Open 2020.

Akhirnya setelah melalui perjuangan berliku, dia mengoleksi gelar Grand Slam pertama di US Open 2020 setelah mengalahkan Alexander Zverev. Petenis Austria itu mengharapkan lebih banyak lagi gelar yang datang padanya.

"Saya berharap ini akan lebih mudah bagi saya sekarang di turnamen terbesar," kata Thiem. Dia menjadi petenis pertama di luar Rafael Nadal, Novak Djokovic dan Roger Federer yang merebut gelar Grand Slam sejak kemenangan Stan Wawrinka di US Open 2016.

Selama hampir satu dekade terakhir ini gelar Grand Slam nomor bergengsi tunggal putra didominasi Nadal, Djokovic dan Federer.

Jika dia konsisten merawat kinerjanya dalam waktu tidak lama lagi Thiem bakal menjadi petenis putra nomor satu dunia sekaligus menggeser dominasi Nadal, Djokovic dan Federer yang mulai termakan usia.

Thiem melukiskan kemenangannya di New York adalah puncak dari kerja keras dan pengorbanan selama bertahun-tahun.

"Benar-benar mencapai tujuan hidup, impian yang saya miliki selama bertahun-tahun. Saat itu sangat jauh. Kemudian saya semakin dekat ke puncak dan menyadari mungkin suatu hari saya benar-benar dapat memenangkan salah satu dari empat gelar terbesar ," kata Thiem.

Dominic Thiem tak lupa mengucapkan terima kasih kepada pelatih serta keluarga yang mendukung penuh kariernya.

"Saya mendedikasikan seluruh hidup saya untuk memenangkannya. Itu untuk diri sendiri, tim dan keluarga saya, pencapaian luar biasa. Hari ini saya memberikan kembali sejumlah besar apa yang mereka lakukan
untuk saya," ujarnya.

Ratu Tenis Baru

US Open 2020 pun melahirkan ratu tenis baru dalam diri Naomi Osaka.

Petenis Jepang itu mengakhiri impian Victoria Azarenka guna merebut gelar juara US Open keduanya dalam tiga tahun terakhir.

Seperti Dominic Thiem, Naomi Osaka pun tertinggal satu set sebelum menyudahi perlawanan Azarenka 1-6, 6-3, 6-3 dalam laga Sabtu sore 12 September 2020. Naomi kini mengokohkan diri yang terbaik baik di dalam maupun di luar lapangan.

Tidak seperti kemenangan pertama petenis Jepang berusia 22 tahun itu dalam US Open 2018 atas Serena Williams di Stadion Arthur Ashe yang gegap gempita, drama Sabtu malam itu berlangsung di arena yang sepi.

Panitia US Open menerapkan protokol kesehatan Covid-19 supet ketat untuk mencegah penonton memasuki Billie Jean King National Tennis Center.

Namun sunyinya hingar bingar penonton di seantero tribun tidak menghentikan kedua mantan petenis nomor satu dunia itu menampilkan permainan memukau.

Manakala Osaka merengkuh gelar Grand Slam ketiga, Azarenka malah untuk ketiga kalinya gagal menjuarai US Open setelah runner-up tahun 2012 dan 2013.

Meski demikian tahun ini merupakan perjalanan luar biasa bagi petenis asal Belarus berusia 31 tahun itu. Dia mencapai final turnamen besar pertama dalam tujuh tahun terakhir.

Hebatnya lagi ini merupakan kedua kalinya dalam dua pekan terakhir Azarenka, sang juara dua kali Australia Open dan Osaka bertemu di babak final. Keduanya bertemu di final Western and Southern Open pada 29 Agustus 2020. Saat itu Osaka mundur karena cedera hamstring.

"Saya sebenarnya tak mau lagi melawan Anda di final. Saya tak begitu menikmatinya. Bagi saya ini pertandingan yang sangat berat.," kata Osaka kepada Victoria Azarenka sambil tersenyum saat seremoni penerimaan trofi US Open.

Naomi Osaka tetap menaruh hormat pada Azarenka.

“Sungguh menginspirasi karena saya biasa menonton Anda bermain di sini ketika saya masih muda jadi punya kesempatan bermain melawan Anda adalah benar-benar hebat dan saya belajar banyak," kata petenis kelahiran Osaka, 16 Oktober 1997 tersebut.

Seremoni penyerahan piala malam itu unik demi mematuhi protokol Covid. Kedua petenis mengambil hadiah sendiri dari meja yang diletakkan di lapangan, sementara semua orang berdiri sambil menjaga jarak sosial selama sesi wajib foto.

Seperti yang dia lakukan dalam setiap pertandingan selama US Open 2020, Naomi Osaka muncul dengan paha kiri terikat dan masker wajah bertuliskan nama-nama warga kulit hitam yang jadi korban kebrutalan polisi atau ketidakadilan rasial di negeri Pamam Sam, Amerika Serikat.

Untuk partai final dia mencantumkan nama Tamir Rice, bocah laki-laki berusia 12 tahun yang ditembak polisi pada 2014 saat bermain pistol mainan di playgound.

Naomi Osaka telah menggantikan posisi Serena Williams sebagai petenis berpenghasilan terbanyak sekaligus atlet berpengaruh di dunia.

Setelah kerusuhan mengguncang Amerika Serikat menyusul insiden penembakan polisi terhadap pria kulit hitam Jacob Blake di Kenosha, Wisconsin empat pekan lalu, Naomi muncul dari semifinal Western and Southern Open sambil unjuk protes. Protes sangat keras atas kebrutalan petugas negara itu.

Tour tenis putra dan putri meresponnya. Mereka menunda semua pertandingan yang dijadwalkan berlangsung pada hari protes selama 24 jam dan membujuk Naomi Osaka agar mengikuti pertandingan yang sudah
dijadwal ulang.

Mengambil sikap tegas sebagai aktivis, petenis berusia 22 tahun itu sudah menyampaikan pendapatnya yang didengar dunia.

Victoria Azarenka yang mengakhiri upaya Serena Williams dalam menyamai rekor gelar Grand Slam ke-24 di babak semifinal, membawa momentum kemenangan ke final pada set pertama yang nyaris tanpa cela.

Victoria Azarenka enteng mematahkan perlawanan Naomi pada set pembuka hanya dalam waktu 27 menit.

Seandainya penonton dibolehkan berada di Stadion Arthur Ashe, mereka pasti terpana oleh momen-momen saat Azarenka yang mengamuk lagi untuk mematahkan Osaka sampai memimpin 2-0 di set kedua.

Tetapi si gading Jepang Naomi Osaka tidak kehilangan ketenangannya.

Setelah tidak mencatat satu pukulan Ace pada set pembuka, Naomi Osaka yang merupakan jago servis, perlahan mulai bangkit pada set kedua.

Dia melepaskan lima Ace sambil membantu dirinya untuk tiga break dalam perjalanan menyamakan kedudukan set kedua. Pada set ketiga Osaka berbalik menekan yang membuat Azarenka kebingungan.

Naomi Osaka pimpin 3-1. Azarenka berusaha menunjukkan semangat juangnya sampai kedudukan 3-4 tetapi Naomi Osaka sudah tak terbendung lagi.

Menurut catatan Reuters, ini pertama kalinya sejak Arantxa Sanchez-Vicario pada 1994, pemain yang kehilangan set pertama dalam final tunggal putri bisa berbalik menang guna merengkuh gelar juara.

Naomi memang hebat.

Siapakah Naomi Osaka?

Lahir dari rahim seorang ibu asal Jepang dan ayah dari Haiti, Naomi sangat mengidolakan juara Grand Slam 23 kali Serena Williams. Ayah ibunya membawa dia pindah New York saat berusia tiga tahun dan beralih ke tenis profesional tahun 2013 saat dia berumur 15 tahun.

Naomi bermain untuk pertama kalinya dalam undian utama turnamen WTA di Stanford pada tahun 2014. Mengalahkan Sam Stosur pada babak pertama sebelum menyerah atas Andrea Petkovic.

Dia menjalani debut Grand Slam sebagai petenis kualifikasi Australia Open pada 2016 dengan mengalahkan Elina Svitolina pada babak kedua sebelum dikalahkan Victoria Azarenka.

Berhasil masuk daftar 100 besar petenis putri dunia untuk pertama kalinya pada April 2016 dan memuncaki 50 besar dalam tahun yang sama.

Dinobatkan sebagai "Pendatang Baru Terbaik" WTA 2016 setelah maju ke babak ketiga dalam tiga Grand Slam dan mencapai final WTA pertama.

Naomi Osaka meraih gelar WTA pertama pada Maret 2018 di Indian Wells setelah mengalahkan Maria Sharapova, Karolina Pliskova dan Simona Halep.

Akhirnya dia sukses mengalahkan sang idola, Serena Williams di inal US Open 2018 untuk merebut gelar Grand Slam pertama dan finis tahun itu sebagai peringkat keempat dunia.

Naomi terus bersinar. Dia mengalahkan Petra Kvitova pada final Australia Open 2019 untuk menjadi petenis pertama sejak Jennifer Capriati pada 2001 yang menjuarai kembali Grand Slam.

Mengingat usianya masih tergolong belia, Naomi Osaka akan terus berjaya di panggung dunia pada tahun-tahun mendatang. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Makan Are Gau Bersama Jakob Oetama


Sarapan bersama Jakob Oetama 

“Dion, tugasmu menulis kunjungan Pak Jakob Oetama ke Flores. Kau harus sudah berada di Maumere paling lambat sehari sebelum kedatangan beliau bersama sahabatnya Pak Frans Seda.”

Om Damyan Godho, Pemimpin Umum Harian Pagi Pos Kupang, memberitahu saya pagi itu setelah kami menikmati kopi hangat di ruang kerjanya, hari Selasa 25 Oktober 2005.

Rabu siang 26 Oktober 2005 saya menjejakkan kaki di kota nyiur melambai Maumere manise.

Langsung bergegas mengoleksi data tambahan tentang Flores, Kabupaten Sikka, STFK Ledalero, Nilo, Lekebai dan lain-lain.

“Pak Jakob akan menanyakan hal-hal seperti itu. Dion jangan sampai gagap menjawab pertanyaan beliau,” pesan Om Damy.

Hari Kamis pagi 27 Oktober 2005, pendiri Kompas Gramedia dan Pemimpin Umum Harian Kompas, Jakob Oetama, Frans Seda dan rombongan kecil tinggalkan Kota Kupang menuju Maumere.

Saya sudah berada di Bandara Waioti, kini berganti nama jadi Bandara Frans Seda setelah beliau meninggal tahun 2009, kira-kira 45 menit sebelum pesawat Trans Nusa yang ditumpangi Pak Jakob mendarat.

Saya tak sudi telat. Ini momen bersejarah.

Kunjungan dua tokoh nasional Frans Seda dan Jakob Oetama ke Flores setelah sebelumnya beliau berdua ke Pulau Timor. Tepatnya di Kupang ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di Kupang keduanya menyampaikan gagasan besar tentang menemukan kembali Indonesia dalam seminar nasional di Hotel Kristal. Total lima hari mereka ke Provinsi Nusa Tenggara Timur, 26-30 Oktober 2005. Itulah kunjungan pertama dan terakhir kedua tokoh besar tersebut ke NTT.

Kejutan bagiku terjadi di Waioti 27 Oktober 2005. Saat keluar dari ruang kedatangan, Om Damyan Godho dan Rikard Bagun (Wakil Pemimpin Redaksi Kompas kala itu) meminta saya menemani Pak Jakob menuju ke Sao Wisata Resort di kawasan Waira. Kurang lebih 8 kilometer arah timur Kota Maumere.

Gugup? Pastilah. Tapi saya berusaha lekas menenangkan diri dan hendak duduk di samping sopir. Eh malah dilarang August Parengkuan.

“Dion temani Pak Jakob. Saya duduk di depan ya. Saya ini kan pengawal beliau,” kata August Parengkuan yang belakangan jadi Dubes RI di Italia sambil terkekeh.

Jadilah saya semobil dengan tokoh hebat itu. Duduk berdampingan pula. Pengalaman tak terlupakan seumur hidup.

Benar kata Om Damyan Godho. Dalam perjalanan dari Waioti ke Waiara, Pak Jakob menanyakan beberapa hal tentang Maumere, Sikka, Flores dan lain-lain.

Untung saya sudah koleksi data dan informasi akurat sehingga bisa berbincang santai dengan beliau. Suaranya lembut. Santun menyimak setiap kata yang terucap.

Saya merasa begitu nyaman. Laksana berbincang dengan seorang ayah. Bukan pimpinan tertinggi sekaligus pemilik Grup Kompas Gramedia.

Tak terasa kami sampai Sao Wisata, disambut hangat Manajernya Heri Ajo. Setelah istirahat beberapa saat tibalah waktu santap siang kira-kira pukul 12.20 Wita di pinggir Waiara Beach.

Di kejauhan sana, puncak Gunung Egon berselimut kabut tipis putih. Egon sedang ramah. Tak kedengaran batuk apinya.

Kota Maumere tampak membentang luas di tengah terik matahari, di bawah hamparan nyiur melambai.

Persis di depan mata, Pulau Besar, Pemana dan Pulau Babi terlihat anggun berdiri. Laut utara Flores tenang membiru. Udara bersih. Semilir angin Waiara Beach menyapu lembut wajah kami. Tapi tak ada keheningan.

Gelak tawa dan canda membahana sepanjang acara makan siang. Sungguh jauh dari suasana formal. Benar-benar bersahaja, apa adanya, kental nian aroma persahabatan dan persaudaraan.

Yang menyantap menu makan siang di restoran Flores Sao Resort hari itu adalah dua tokoh nasional.

Hadir pula petinggi Kompas Gramedia lainnya, August Parengkuan, St. Sularto, Rikard Bagun, Petrus Waworuntu, Wandi S Brata, Julius Pour, Damyan Godho dan Kepala Biro Kompas di Bali, Frans Sarong.

Benarlah apa yang mereka katakan bahwa perjalanan bersama selama lima hari ke NTT merupakan ziarah pribadi. Ziarah yang diwarnai kisah ringan tapi bernilai tentang kepribadian, pengalaman, tentang perjuangan hidup dan persahabatan.

Kisah Ulat Bulu

Saat makan siang di Waiara saya lihat betapa dekat hubungan Frans Seda dan Jakob Oetama. Selaku tuan rumah, Frans Seda riang bercerita kepada sahabatnya. Beliau antara lain berkisah tentang ulat bulu.

"Ulat bulu itu makanan kesukaan saya sejak kecil. Rasanya enak sekali, Jakob," katanya. Ulat bulu. Nama yang agak asing bagi Jakob Oetama. Tapi belum sempat beliau bertanya, Frans Seda segera menjelaskan tentang si ulat.

"Ulat ini hidup dalam bambu," jelas mantan Menteri Perkebunan, Menteri Keuangan dan Menteri Perhubungan RI tersebut.

Saya sarapan pagi bersama Jakob Oetama di Sao Wisata Resort Waiara, Jumat 28 Oktober 2005.

Ulat bulu adalah makanan tradisional bagi sebagian masyarakat Ende- Lio, Sikka dan daerah lain di Flores.

"Tapi entahlah, apakah anak- anak sekarang masih suka makan atau tidak. Saya tidak tahu," lanjut Frans Seda.

Ulat bulu hidup dalam bambu, umumnya jenis bambu aur. Dalam satu rumpun bambu, lazimnya ada batang muda yang kurang subur. Buku-bukunya rapat. Ruasnya bengkok.

Di situlah hidup ulat (kepompong) warna putih sebesar jari kelingking anak-anak, panjang 3-5 cm. Masak lalu dimakan. Bisa ditemani sambal. Digoreng atau lawar pun enak. Saat masuk mulut lalu dikunyah akan terdengar bunyi kriuk..kriuk.

"Apa sih khasiatnya Pak Frans?" tanya Wakil Pemimpin Umum Kompas, St Sularto saat itu. "Oh...khasiatnya luar biasa. Makanan bergizi tinggi. Makanya saya sehat dan kuat sampai sekarang," kata Frans Seda yang saat itu berusia 79 tahun.

Semasa hidup, Frans Seda memang cinta mati makanan tradisional dari kampung halamannya Flores. Kecintaan Frans Seda terlihat jelas saat makan siang di Waiara maupun dalam acara syukuran ulang tahunnya ke-79 di rumahnya di Maumere pada Kamis (27/10/2005) malam.

Di meja makan tersaji are gau (ketupat), are merah (nasi dari beras merah), koro/horo ipu dan mbarase (sambal dengan bahan utama ikan kecil) yang mudah diperoleh di perairan Paga-Maulo'o Flores, singkong rebus, ae mage (kuah asam-ikan) serta kura mbo (udang dan ikan dari sungai/kali).

Frans Seda selalu meminta Jakob Oetama mencicipi makanan khas Flores.

"Pak Jakob, cobalah ini. Namanya are gau. Rasanya lain, tidak sama dengan ketupat di Jawa," kata Frans Seda menunjuk are gau saat makan siang di Waiara.

Tokoh kelahiran Borobudur, Jawa Tengah, 27 September 1931 pun enggan menolak. "Memang enak ya.." kata Jakob perlahan. Kami yang lain juga tak ketinggalan makan are gau bersama beliau siang itu.

Makan siang yang sungguh nikmat. Waktu satu jam terasa berlalu amat lekas. Pertanyaan Jakob Oetama menyadarkan kami. "Acara kita selanjutnya apa?"

"Oh, kita ke kampung dulu. Nanti terkutuk kalau saya tidak bakar lilin di kubur orangtua," kata Frans Seda.

Dengan tiga mobil Kijang, kami meninggalkan Waiara lima belas menit jelang pukul 14.00 Wita. Kami menuju Lekebai, 40 km arah barat Maumere.

Di sinilah Frans Seda lahir dan menghabiskan masa kanak-kanaknya. Dibesarkan orangtua dengan cinta, dikasihi saudara dan keluarganya.

Turun dari mobil di Lekebai, Frans Seda mengajak rombongan Jakob Oetama masuk ke pelataran rumah di kompleks yang cukup luas.

Di sana terdiri dari beberapa rumah, termasuk bangunan rumah adat asli yang menurut Frans Seda tersimpan pusaka warisan nenek moyang secara turun-temurun.

Frans Seda mengajak Jakob Oetama dan petinggi Kompas Gramedia lainnya menuju makam orangtuanya. Frans Seda menyalakan lilin. Kami berdoa di sana.

Teh, kopi, ubi rebus dan kue sudah menanti ketika Frans Seda mengajak Jakob Oetama, August Parengkuan, St. Sularto, Julius Pour, Petrus Waworuntu, Rikard Bagun, Damyan Godho menuju rumah induk terbuat dari kayu untuk beristirahat.

Mudah ditebak, ubi rebuslah yang paling laris “diserbu" para tamu ketimbang kue. Canda tawa pun tetap mewarnai acara sore itu.

Sebelum kembali ke Waiara pukul 15.40, Frans Seda mengajak Jakob Oetama melihat Nua Bharaka, kampung adat di puncak bukit kecil, persis di sisi kanan jalan Lekebai-Maumere.

Sahabat dalam Suka dan Duka

Keduanya berangkulan. "Selamat ulang tahun, Pak Frans," kata Jakob Oetama dengan suara lirih menahan haru.

Momen indah tersebut tercipta Kamis (27/10/2005) malam, dalam acara syukuran hari ulang tahun ke-79 Frans Seda di Maumere.

Syukuran yang dihadiri ratusan undangan diawali misa konselebran dipimpin Pastor Philipus Tule, SVD.

Para tokoh masyarakat Sikka hadir di sana antara lain, Lorens Say, Daniel Woda Palle, EP da Gomez, Alex Longginus dan Soter Parera.

Jakob Oetama dan Frans Seda bersahabat karib. Persahabatan yang unik. Satu berwatak NTT (Flores) yang keras, bicara lugas, blak-blakkan.

Yang lainnya pria Jawa, Jawa Tengah yang berpembawaan halus, lembut bahkan malu-malu.

"Bagi saya, Frans Seda adalah sahabat dalam suka dan duka. Memberi kekuatan dan meneguhkan hati di saat sulit. Tiada henti mendorong kami untuk maju," kata Jakob Oetama saat memberikan kesannya tentang Frans Seda.

Secara khusus, Jakob Oetama kembali mengisahkan peran Frans Seda pada awal kelahiran Harian Kompas tanggal 28 Juni 1965. Bagaimana pergulatan mereka saat itu menghadapi bermacamragam tantangan yang tidak ringan.

"Saya merasa beruntung mempunyai sahabat seperti Pak Frans," ujarnya.

Mengenai Kompas Gramedia, Jakob Oetama mengatakan sukses diraih grup ini bukan karena kemampuan dirinya semata dalam memimpin.

"Semua ini merupakan Providentia Dei, penyelenggaraan ilahi," katanya.

"Itulah pembawaan Pak Jakob sejak dulu. Tidak pernah mau menonjolkan diri," kata Frans Seda yang langsung bangun dari tempat duduk menyambut sahabatnya itu dan keduanya kembali berpelukan.

Acara syukuran ulang tahun Frans Seda Kamis malam itu berlangsung sederhana namun berkesan. Tidak ketinggalan irama musik dan lagu- lagu daerah Lio-Sikka-Ngada seperti gawi, rokatenda dan ja’i.

Tak terasa jarum waktu hampir menunjuk pukul 24.00 Wita. Jakob dan Frans pamit untuk beristirahat. Kami pun kembali ke Waira, melepas lelah mengingat esok hari ziarah dua sahabat itu masih panjang.

Kegiatan Jakob Oetama dan Frans Seda pada Jumat 28 Oktober 2005 adalah ziarah ke patung Bunda Maria Segala Bangsa setinggi 28 meter di Nilo serta bicara dalam seminar di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero.

Sebelum ke Nilo, saya kembali mendapat kehangatan luar biasa dari Pak Jakob yaitu menemaninya sarapan pagi. Beliau menanyakan beberapa informasi mengenai Nilo dan saya menjelaskannya.

Warga Nilo berjubel, berdesak-desakan di sisi kiri dan kanan jalan. Bunyi gong waning (gendang) membahana di lereng bukit itu. Prosesi adat Huler Wair menyambut kehadiran Frans Seda dan Jakob Oetama di sana.

Diawali sapaan dalam bahasa adat setempat—Jakob Oetama dan Frans Seda diperciki air kemudian dikenakan selendang dan destar Sikka. Mereka tampak gagah.

Selepas acara Huler Wair, kedua sahabat itu diantar memasuki rumah adat Nilo baru menuju Patung Bunda Maria Segala Bangsa yang berdiri anggun di bukit Keling.

Di sana sudah banyak peziarah yang berdoa. Setelah berdoa dan mendapat berkat seorang pastor dari Kongregasi Pasionis, rombongan Jakob Oetama-Frans Seda meninggalkan Nilo menuju Seminari Tinggi Ledalero.

Waktu hampir pukul 10.00 Wita. Philip Gobang tampak melirik buku panduan acara Festival Ledalero. Tertulis di sana, Jakob Oetama bicara tentang pers mulai pukul 09.00 Wita.

Nah? Mengertilah saya mengapa Philip beberapa kali terlihat bicara dengan Pastor Paul Budi Kleden, SVD (kini superior general SVD di Roma) lewat telepon selulernya.

Mohon maaf! Itulah kata pertama Jakob Oetama saat diberi kesempatan menyampaikan pikiran dan pandangannya sebagai pembicara tunggal dalam seminar di aula STFK Ledalero pagi itu.

"Ke Flores ini, bagi saya adalah suatu penziarahan pribadi. Mohon maaf terlambat tiba di sini (Ledalero). Tadi saya dibawa lebih dulu ke Bunda Maria di Nilo. Tentu sebagai wartawan saya sudah bepergian ke mana-mana. Tapi di sini saya melihat panorama, lingkungan alam yang kaya, yang memikat, mencerminkan kebesaran Tuhan. Jarang ada panorama, suatu lingkungan, suatu langit biru bersih seperti tanjakan tujuh kilometer ke Bunda Maria di Nilo itu. Luar biasa. Luar biasa..." kata Jakob mengungkapkan kekagumannya.

Jakob Oetama yang berbicara dalam seminar bertema: Peran Pers Indonesia dalam Membentuk Budaya Politik Demokratis antara lain, menggarisbawahi perubahan revolusi teknologi informasi yang membuat segala peristiwa di seluruh dunia penyebarannya berlangsung serentak-seketika dan interaktif.

"Perubahan yang dibawa oleh revolusi teknologi informasi luar biasa. Orang macam saya ketinggalan zaman. HP (handphone) saja hanya pakai untuk telepon, SMS saya belum menggunakannya, sangat ketinggalan,” kata Jakob Oetama.

“Komputer saya sudah pakai, tapi sekadarnya. Kalau rusak, wah...cari cucu. Kalau cucu di sekolah, telepon kantor. Orang macam saya seharusnya malu karena bergerak di bidang komunikasi, tapi dalam menghandel teknologinya ketinggalan. Tentu saja lembaga (Kompas Gramedia) tidak boleh ketinggalan," katanya sambil tersenyum disambut aplaus peserta seminar yang memenuhi aula STFK Ledalero saat itu.

Demikian sekilas kenangan yang saya rekam saat Jakob Oetama berkunjung ke NTT hampir lima belas tahun lalu. Yang mengiris hati adalah empat tokoh yang bersama dalam ziarah kala itu sudah berpulang.

Frans Seda meninggal dunia 31 Desember 2009 dalam usia 83 tahun.

Om Damyan Godho 29 Januari 2019, August Parengkuan kembali ke haribaanNya 17 Oktober 2019 dan Jakob Oetama di hari Rabu kelabu 9 September 2020.

Mengenang mereka, tak terasa air mata ini berlinang. Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. (dion db putra)


Sumber: Tribun Bali

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes