Bau Bawang dari China



ilustrasi
TATKALA tuan dan puan menikmati menu makan pagi, siang atau makan malam hari ini, ketahuilah asal-asal usul sumber protein dan gizi yang menghidupimu itu.

Berasmu dari Vietnam, kacang hijau produksi Amerika, garam Singapura, bawang putih dari China, buah asal Thailand, dan daging sapi Australia.

Dari negerimu sendiri yang dikau agungayukan sebagai gemah ripah loh jinawi mungkin hanya air.

Ya, air yang makin ke sini harganya pun mencekik selangit.


Begitulah tuan dan puan. Di era industri 4.0 ini sekadar "kedaulatan  meja makan" bukan sepenuhnya milikmu.

Kita adalah bangsa dan negara yang dikaruniai sumber pangan berlimpah ruah, mungkin paling kaya di dunia.

Namun, keberadaan kita di zamrud katulistiwa tak berdaulat pangan.

Penghuni negeri +62 ini akan langsung terkapar kehilangan selera makan hanya dengan sekali gertak.

Sebut misalnya, penguasa Tiongkok tiba-tiba bersabda hentikan dulu ekspor bawang putih ke Indonesia atau tetangga terdekat Singapura dan Australia iseng tutup keran ekspor garamnya.

Maka semangkuk sup di meja makanmu akan hambar tanpa bau bawang dari Tiongkok atau asin garam Singapura yang bahkan luas lautnya hanya sejengkal dibandingkan samudera raya Indonesia.

Bau bawang dari China menyengat kesadaran betapa negeri agraris ini begitu loyo menyiapkan sembako buat perut rakyatnya sendiri.

Impor ekspor dalam alam globalisasi memang keniscayaan.

Namun, impor mestinya sekadar menutupi kekurangan.

Ilmu ekonomi mengajarkan demikian. Nah yang terjadi pada Indonesia tercinta adalah ketergantungan hampir paripurna pada impor. OMG!

Jerit sedih mengenai kesuna (bahasa Bali = bawang putih) mengudara dari Pulau Dewata.

Kepada Tribun Bali di Denpasar, Kamis (9/1/2020). Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Ida Bagus Wisnuardhana mengatakan, ketersediaan bawang putih menjadi masalah di destinasi pariwisata nomor wahid ini.

Bali bergantung pada bawang impor dari Tiongkok untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari.

“Kalau bawang putih kita masih impor dari China,” kata Wisnuardhana lugas.

Akademisi dari Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud) Denpasar, Prof I Wayan Windia mengakui, produksi bawang putih dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan.

Dari segi kualitas, bawang putih Indonesia juga kalah bersaing.

“Bawang putih dari RRT (China) mulus-mulus dan besar," kata dia.

Windia mengatakan, jika Indonesia tidak serius menyikapi permasalahan ini, bisa dipastikan ketergantungan pada bawang putih dari Tiongkok berlanjut.

"Sekali tergencet akan tetap tergencet," katanya.

Di sisi lain, Windia melukiskan kondisi masyarakat kita sudah telanjur nyaman dan jatuh cinta pada bawang putih mulus dan besar dari Tiongkok yang harganya relatif terjangkau di pasar.

Pengimpor Terbesar di Dunia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia impor bawang putih saban tahun dengan jumlah yang terus membuncit.

Dalam empat tahun terakhir, volume impor bawang putih RI rata-rata pada kisaran 500.000
ton.

Jumlah itu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat rata-rata 450 ribu sampai 500 ribu ton per tahun.

Pada tahun 2018, misalnya, jumlah impor bawang putih bahkan sudah mencapai 582.994 ton atau senilai 497 juta dollar AS (setara kira-kira Rp 7,1 triliun).

Mengutip warta CNBC Indonesia, pada tahun 2018, Indonesia merupakan importir bawang putih terbesar di dunia.

Fakta tersebut diperoleh dari kompilasi perdagangan luar negeri seluruh dunia yang dihimpun UN Comtrade (lembaga PBB).

Thailand berada di urutan kedua dengan jumlah impor 74,9 ribu ton disusul Filipina dan Pakistan masing-masing 74,6 dan 37,5 ribu ton.

Sebagian besar bawang putih impor yang masuk ke Indonesia tahun 2018 berasal dari China.

Jumlahnya 580,84 ribu ton. Sisanya dari 1.684 ton dari negara Asia lainnya dan hanya 464 ton dari India. Artinya, nyaris 100 persen (99,6) kebutuhan bawang putih Indonesia berasal dari China.

Betapa berkuasanya Tiongkok untuk bumbu dapur di meja makan kita serta untuk industri kuliner (makanan).

Mau bilang apa. Produksi bawang putih dalam negeri memang sangat minim.

Sebagai contoh, pada tahun 2017, Indonesia hanya memproduksi 19,5 ribu ton bawang putih pada lahan seluas 2.146 ha.

Bahkan jumlahnya berkurang dari tahun 2016 yang masih mampu produksi 21,15 ribu ton di atas lahan seluas 2.407 ha.

Di kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis 25 April 2019, Menteri Pertanian Amran Sulaiman kala itu menyebutkan lahan produksi bawang putih RI mencapai 11 ribu hektare.

Setiap hektare lahan menghasilkan 8 sampai 10 ton bawang putih.

Tahun 2019 Kementerian Pertanian menargetkan luas lahan dapat meningkat menjadi 20 ribu hektare.

Klaim Pak Menteri yang sudah mengakhiri masa pengadiannya pada bulan Oktober 2019 tersebut belum terverifikasi realisasinya.

BPS pun belum merilis data produksi terbaru. Patokan realistis tetap di angka 19,5 ribu ton bawang putih yang tumbuh di atas lahan seluas 2.146 ha.

Coba simak luas lahan bawang putih di negeri kita.

Bayangkan negara yang tanah pertaniannya berjuta-juta hektare dari Sabang hingga Merauke, Miangas sampai Pulau Rote, hanya 2 ribuan hektar ditanami bawang putih.

Menurut Amran Sulaiman, jika mau mewujudkan swasembada bawang putih, maka Indonesia membutuhkan 60 ribu hektare lahan tanam.

Ah, kalau cuma segitu sebenarnya tak seberapa bila kita bandingkan misalnya dengan
lahan sawit di Sumatera dan Kalimantan.

Konon, lahan sawit milik korporasi di negeri ini bahkan bisa lebih luas dari satu kabupaten di
Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Pada akhirnya semua ini berkaitan dengan good will pemerintah.

Mau membangun pertanian demi kedaulatan pangan atau tidak?

Gengsi NKRI tak berkurang seinci pun kalau meniru jejak China dan India, dua negara dengan populasi manusia miliaran jiwa tapi bisa berdaulat pangan bahkan ikut mengisi perut bangsa lain.

Bawang putih mulus dari Tiongkok mestinya menggugah kesadaraan dan aksi kolektif pemerintah dan rakyat Indonesia untuk berbenah.

Yang pemimpin negeri omong berapi-api mengenai kemandirian ekonomi dalam spirit Nawacita itu penjabarannya termasuk kedaulatan pangan.

Pembangunan pertanian mestinya bergerak seirama. Seiring sejalan.

Bukan cuma jalan tol yang makin panjang meluas, tapi impor sembakonya harus makin berkurang.

Rezim Orde Baru yang tuan kritik habis-habisan karena otoritarian itu mewariskan sesuatu yang membanggakan.

Indonesia pernah swa sembada pangan hingga mendapat penghargaan FAO.

Kelemahan Orde Baru dalam hal pangan hanyalah “politik beras” kelewat kencang di seluruh pelosok Nusantara sehingga pangan seolah identik dengan beras.

Akibatnya orang di kampung saya, Nusa Tenggara Timur yang makanan pokok umumnya jagung dan ubi-ubian, Maluku dan Papua yang makanan pokoknya sagu, beralih ke beras (makan nasi) sehingga ketergantungan pada beras makin menebal bahkan sulit hilang sampai sekarang,

Yang Penting Untung

Besarnya impor kebutuhan pokok menguatkan dugaan bahwa bangsa kita memang doyan “politik ekonomi rente”. Yang penting untung bro. Berdaulat pangan nomor belakang.

Kalau ternyata impor lebih untung, buat apa letih menanam bawang putih, untuk apa buang waktu mengubah air laut menjadi garam, kalau ternyata impor lebih gampang?

Janji pemerintah menurunkan angka impor masih sekadar janji.

Malah cenderung meningkat pada sejumlah komoditas .

Impor bawang juga sumber duit. Pesonanya menggiurkan. Meninabobokan.

Belum genap sepuluh purnama berlalu, gara-gara impor bawang putih sejumlah orang termasuk anggota DPR yang terhormat dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dalam operasi senyap di Jakarta 7-8 Agustus 2019, KPK membekuk 11 orang, di antaranya orang kepercayaan anggota DPR Komisi VI dari Fraksi PDIP I Nyoman Dhamantra, Mirawati Basri, importir bawang dan pihak lainnya.

KPK juga sita uang Rp 2 miliar. Nyoman yang sempat menghadiri kongres PDIP di Sanur kala itu akhirnya dibawa ke kantor KPK di Jakarta pada 8 Agustus 2019.

Pada kasus suap impor bawang putih ini, KPK menetapkan enam orang tersangka.

Tiga orang berperan sebagai pemberi suap yakni pemilik PT Cahaya Sakti Agro Chandry Suanda alias Afung, pihak swasta T Wahyudi dan Zulfikar.

Sementara tiga orang lainnya sebagai tersangka penerima suap yakni I Nyoman Dhamantra, Mirawati Basri dan Elviyanto.

Menurut KPK, para penyuap memberikan uang untuk memuluskan pengurusan rekomendasi impor produk holtikultura di Kementerian Pertanian dan Surat Persetujuan Impor di Kementerian Perdagangan.

Senin 6 Januari 2020, majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi Jakarta memvonis Chandry Suanda alias Afung 2 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp 100 juta, Tuti Wahyudi 2 tahun penjara dan denda Rp 75 juta.

Sedangkan Zulfikar divonis kurungan 1 tahun 6 bulan denda Rp 50 juta.

“Menyatakan terdakwa Chandry Suanda alias Afung, Tuti Wahyudi, dan Zulfikar, terbukti secara sah meyakinkan bersalah melalukan tindak pidana korupsi secara bersama seperti didakwakan,” kata hakim Saifudin Zuhri.

Menurut hakim Afung terbukti menyuap anggota Komisi VI DPR I Nyoman Dhamantra sebesar Rp 3,5 miliar.

Salah urus bawang putih mulus ternyata bisa menjerumuskan orang ke hotel prodeo. Mereka pun berurai air mata. Bawang oh bawang…! (dion db putra)

Sumber: Ngopi Santai Tribun Bali

Melebihi Panggilan Tugas

Yusran Pare 
PERASAAN harubiru itu muncul di penghujung tahun. Tahun 2019 yang baru berlalu kurang dari 48 jam.  Dua seniorku pamit lalu meninggalkan Grup WA, ruang kami berbagi informasi, bertukar pandangan atau sekadar curhat dan bercanda ria.

Yusran Pare menulis dalam nada liris.

Teman-teman terkasih, izinkan saya pamit.
Terhitung 31 Desember 2019, saya sudah sepenuhnya pensiun. Terima kasih atas segala kebaikan, ilmu dan pengetahuan  yang telah teman-teman berikan kepada saya. Saya mohon ampun maaf jika selama berinteraksi ada hal-hal yang tidak berkenan di hati teman-teman.

Mas Kris, Om Dion, Mas HDP, titip Ombudsman, ya. Mohon maaf jika selama memimpin Ombudsman, saya belum mampu mewujudkan kerja ideal yang kita rancang.

Yusran Pare left…

Tak lama berselang Ahmad Suroso juga  keluar grup setelah meninggalkan kata-kata demikian.

Teman-teman Ombudsman Tribun, kang Yusran, mas HDP, mas Dion, Krisna...saya juga mohon izin left dari WAG Ombudsman Tribun, mengingat saya sudah resmi pensiun dari Tribun per 1 Desember 2019.

Terima kasih teman atas kerja samanya selama ini. Mohon maaf jika ada yg kurang berkenan. Sukses untuk kita semua,  semakin jaya di mana pun, amin

Tak hanya dari Grup WA Ombudsman. Mereka juga pamit dari  WA Grup lainnya yaitu Grup Tribun dan Editor in Chief Tribun.

Kendati pensiun sebagai karyawan merupakan sesuatu yang lazim, namun tetap saja mengiris perasaan.  Puluhan tahun kami  bersama-sama bekerja dalam jaringan unit usaha koran daerah Kompas Gramedia (Tribun Network).

Waktu terasa berlalu amat lekas. Tiba-tiba saja Kaka Yusran dan Mbah Roso – sapaan akrab Ahmad Suroso -  sudah berada di titik akhir pengabdian.  Purna tugas.

Ahmad Suroso (kiri)
Tentu selalu ada kesempatan untuk berjumpa, tetapi pasti telah berbeda bobot dan suasananya, takkan sesering seperti biasa ketika kami masih sama-sama karyawan Tribun.  Kebayang bahwa rapat kerja berikutnya tidak bersua mereka lagi.

Kiranya benar ungkapan dalam bahasa Prancis, “Partir c’est un mourir un peu” atau “kepergian adalah satu kematian kecil”. Mulai 1 Januari 2020 tak ada lagi kebersamaan seperti puluhan tahun dengan Kaka Yusran dan Mbah Roso.

Selalu ada yang hilang, setidaknya begitu yang saya rasakan setiap kali berpisah dengan senior yang pensiun. Maklumlah bekerja toh tidak sekadar mencari nafkah. Tempat kerja adalah juga rumah untuk  menjalin kasih persaudaraan.

Bukan pertama kali  saya berpisah dengan pendahulu yang memasuki purna tugas. Lima belas tahun silam saya rasakan getaran batin yang sama ketika Om Marcel W Gobang (alm)  pensiun dari Kompas Gramedia. Om Marcel, seingat saya,  merupakan karyawan pertama  PT Indopersda Primamedia atau Persda (kini Tribun) yang pensiun.

Ketika beliau pamit dalam pertemuan sederhana di kantor lama Harian Pagi Pos Kupang di Jl. Kenari No 1 Naikoten Kupang, ada rekan wartawan yang menitikkan air mata.

Sepuluh tahun menahkodai redaksi Pos Kupang bukan waktu yang singkat. Om Marcel Gobang, meninggal dunia tahun 2015,  mewariskan banyak hal baik bagi jurnalis dan karyawan Pos Kupang.

Akhir tahun 2018 di kantor baru Harian Pagi Pos Kupang di Jalan RW Monginsidi Fatululi,  saya  ikut melepas tiga karyawan yang  pensiun yaitu Hyeronimus Modo (Persda), Setya Mudjo R (Persda) dan Mariana Dohu (Pos Kupang).

Makin ke sini akan semakin banyak karyawan Tribun yang pensiun. Di Jakarta bulan September 2019 dalam raker Ombudsman, Mas Febby  Mahendra Putra (Direktur) sepintas memberikan informasi tersebut.

Dalam tahun 2020 ini dan tahun-tahun selanjutnya akan ada lagi karyawan yang pensiun. Tentu sebuah keniscayaan mengingat keberadaan Persda  yang telah mencapai lebih dari tiga dekade.

Marcel Gobang, Uki M Kurdi,  Yusran Pare, Gunawan Wibisono, Hyeronimus Modo, Setya Mudjo dan Mbah Roso serta para senior yang dalam dua tiga tahun ke depan akan purna tugas merupakan generasi perintis dan peletak dasar Tribun yang kini hadir di 23 kota di tanah air. Dari Aceh hingga Kupang,  Manado, Pontianak hingga Solo.

Dari Kota ke Kota

Generasi perintis - peletak dasar merupakan orang yang berkeliling dari kota ke kota lain. Sangat sedikit yang hanya bekerja di suatu tempat dalam waktu lama.

Kaka Yusran  Pare, misalnya, sejak bergabung dengan Persda tahun 1989,  bertugas di lebih dari lima kota termasuk Kupang. Awalnya di Harian Mandala (Bandung)  sebagai redaktur. Setahun kemudian  ke Harian Bernas (Yogyakarta).

Pose bersama seusai raker Ombudsman Tribun Sept 2019
Pengabdian berlanjut ke Palembang, di Harian Sriwijaya Pos (1993-1995) sebagai wakil redaktur pelaksana kemudian ke Pos Kupang (1995-1996).  Di sinilah saya menimba banyak ilmu dari beliau.

Selama di Pos Kupang, Kaka Yusran merekrut dan mendidik reporter baru, memperbaiki kualitas konten, perwajahan dan sebagainya. Setahun di Pulau Timor, dia kembali ditugaskan manajemen ke Bernas (1996-1998) sebagai redaktur pelaksana.

Dari Yogya, Kaka Yusran berkelana ke Kalimantan Selatan  sebagai wakil pemimpin Redaksi Banjarmasin Post  (1998-2000).

Menyongsong tahun 2000 manajemen di Jakarta membuka media baru di Kota Bandung. Kaka Yusran pulang kampung halaman, turut mengelola Metro Bandung (2000-2005) yang kemudian bermetamorfosis menjadi Tribun Jabar dan mengawali proses digitalisasi konten, sebagai pemimpin redaksi sampai 2009.

Tak cukup sampai di situ. Kaka Yusran sempat pula dijeda selama  6 bulan pada 2006, sebagai Pemred Tribun Batam.

Seolah sudah menjadi takdirnya, Kaka Yusran berkelana dari kota ke kota. Dari Sumatera ke bumi Borneo  Kalimantan lagi. April 2009 sampai 2016,  ayah tiga orang anak dan dua cucu ini dipercayakan sebagai Pemimpin Redaksi Harian Banjarmasin Post. 

Dari Banjarmasin pindah ke Semarang menahkodai Harian  Tribun Jateng (sampai 2017) lalu pulang kampung halaman lagi, Tribun Jabar, sampai purna masa kekaryawanan pada bulan Juli 2018.

Seperti ditulis Kaka Yusran dalam akun Facebooknya 31 Desember 2019, waktu seolah melintas demikian cepat.  Serasa baru kemarin dia berkemas pindah dari Bandung ke Yogya, Palembang, Kupang, Batam, Banjarmasin, Semarang dan seterusnya.

Karyawan  perintis –peletak dasar seperti Kaka Yusran sudah terbiasa hidup terpisah dengan keluarga. Tinggal di kos atau mess.  Paling  kumpul dua tiga hari dalam sebulan dengan istri, anak dan cucu. Namun seperti dikatakan Kaka Yusran, cinta kasihlah yang menyatukan.

Mbah Roso juga  berpindah dari kota ke kota, antara lain Yogya, Batam, Balikpapan  dan terakhir di Pontianak. Sampai purna tugas Desember 2019,  pria asal Yogyakarta ini menjabat Pemimpin Redaksi Tribun Pontianak.

“Nasib” berpindah dari kota ke kota pun dialami Mas Febby Mahendra Putra, Dahlan Dahi, Dodi Sardjana, Ribut Raharjo, Setya Krisna Sumargo, Hadi Prajogo, Cecep Burdansyah, Sunarko, Musafik, Abdul Haerah dan lainnya yang kini masih aktif mengabdi.

Pimpinan kami Mas Febby Mahendra Putra bertahun-tahun tinggal di kos, sekitar 100 meter dari kantor pusat kami di Palmerah. Karena tugas dan tanggung jawabnya sebagai direktur, Mas Febby bahkan selalu keliling ke berbagai kota tempat koran Tribun beroperasi untuk melakukan supervisi, monitoring, pembinaan, pelatihan dan sebagainya.

“Modalnya” tas ransel berisi beberapa potong pakaian.  Sesimpel itu kehidupan sebagai punggawa Tribun.

Dari  Kaka Yusran, Mbah Roso, Mas Febby, Dahlan kita petik pelajaran mengenai sense of duty. Rasa tanggung jawab pada tugas dan pekerjaan. Juga beyond the call of duty yaitu kesadaraan untuk bekerja melebihi panggilan tugas. Bahwa bekerja itu harus all out, mengerahkan segenap kemampuan yang ada, pikiran dan tenaga.

Di tengah distrupsi gempa digital yang maha dahsyat dewasa ini, para senior seperti Kaka Yusran dan Mbah Roso mewariskan keutamaan akan kesetiaan pada profesi, terus menghidupkan komitmen bahwa tanggung jawab media adalah pada masyarakat dan konsumen dan bahwa kerja itu merupakan ibadah.

Nilai keutamaan ini semoga tetap hidup dalam sanubari generasi baru Tribun,  setiap karyawan Kompas Gramedia.

Akhirnya,  buat Kaka Yusran, Mbah Roso terima kasih untuk tahun-tahun kebersamaan kita yang mengagumkan.

Terima kasih telah menjadi guru, mentor, kakak, rekan kerja yang banyak memberi inspirasi, ilmu, pengetahuan dan keterampilan. Mohon maaf atas khilaf dan salah.

Kita berpisah sebagai karyawan, tidak untuk persaudaraan. Keep in touch.

Dion DB Putra
Pada hari pertama 2020

I Gede Siman Sudartawa Selalu Sumbang Emas


I Gede Siman Sudartawa
Disiplin merupakan kunci sukses Siman mempertahankan prestasinya. Menurut sang ibu, Siman memiliki semangat berlatih yang luar biasa dan patuh pada instruksi pelatih.

PERENANG andalan Indonesia asal Bali I Gede Siman Sudartawa kembali menorehkan prestasi  membanggakan. Dialah yang pertama menyumbangkan medali emas dari cabang olahraga (cabor)  renang SEA Games 2019.

Siman Sudartawan meraih medali emas nomor 50 meter gaya punggung putra. Persembahannya itu merupakan emas ke-51 bagi Indonesia. Siman tercepat menyentuh finish dengan catatan waktu 25,12 detik di New Clark City Aquatic Arena Filipina, Sabtu (7/12).

Siman juga memperbaiki rekor SEA Games yang ia ciptakan pada tahun 2017 yaitu 25,20 detik.  Selain Siman, atlet asal Bali yang menyumbang medali emas bagi Indonesia adalah Maria Londa (lompat jauh) dan pedujo Ni Kadek Anny (perak).



Prestasi itu membanggakan  Ni Made Sri Karmini, ibu kandung Siman Sudartawa.
"Ini merupakan partisipasi Siman kelima kalinya di ajang SEA Games sejak tahun 2011 lalu di Palembang," ujar Ni Made Sri Karmnini kepada Tribun Bali, Minggu (8/12).

Prestasi Siman relatif stabil sejak 2011. Hampir di semua event, pemuda asal Desa Tegak, Kabupate Klungkung, Bali tersebut menyumbang medali  emas untuk Indonesia. Hanya pada tahun 2015 di SEA Games Singapura, Siman meraih medali perak.

"Sebelum kembali turun di SEA Games 2019 di Manila, Siman mendapat kesempatan ikut pemusatan latihan di Amerika Serikat  sejak September lalu," kata Sri Karmini. Selama tiga bulan, Siman mengasah kemampuannya di Virginia Tech University. Selain latihan, dia juga mengikuti beberapa perlombaan di negeri Paman Sam.

Disiplin merupakan kunci sukses Siman mempertahankan prestasinya. Menurut sang ibu, Siman memiliki semangat berlatih yang luar biasa dan patuh pada instruksi pelatih.
Siman sendiri dalam suatu kesempatan pernah mengatakan, meski sibuk latihan dia tidak meninggalkan pelajaran sekolah. Setela pulang latihan dia tetap belajar.

"Siman juga  rendah hati. Saya sebagai orangtua selalu mendukung dan berpesan agar tidak lupa berdoa dan apapun hasilnya tetap disyukuri," ujarnya.

Ia berharap Siman terus berprestasi. Tahun depan Siman akan mengikuti PON dan Olimpiade. "Meraih medali Olimpiade tentu menjadi impian bagi setiap atlet, begitu juga Siman," kata Sri Karmini.

Dijelaskannya, Siman tertarik dengan olahraga renang sejak kecil. Ketika Siman di SDN 1 Semarapura Kangin, ia minta izin ikut ekstrakulikuler renang. Dia tertarik pada cabang olahraga ini  setelah melihat teman-temannya berenang di kolam Lila Harsana Klungkung.

"Kalau dia renangnya di sungai, saya jadi takut juga. Apalagi jika hujan, jadi saya izinkan untuk ikut ekstrakulikuler renang,” ujar Ni Made Sri Karmini.

Siman mengalami perkembangan pesat. Baru dua bulan mengikuti privat renang, Siman dipercaya mengikuti perlombaan renang di tingkat kabupaten yang dilaksanakan TNI. Siman memperoleh medali.

“Meraih medali di perlombaan tersebut membuat Siman semakin semangat latihan renang. Kelas IV SD, Siman mendapat kesempatan mengikuti perlombaan renang usia dini di Jakarta,” jelas Ni Made Sri Karmini.

Di sinilah perjuangan dimulai. Tidak hanya Siman, namun juga orangtua dan keluarganya. Saat mengikuti kompetisi renang di Jakarta, seluruh biaya ditanggung sendiri  peserta.

Demi mendukung sang putra tunggal, kedua orangtua Siman menjual seluruh barang berharganya, mulai dari sapi,  mobil, tanah, hingga perhiasan emas. Bahkan keluarga Siman berutang, hingga minta bantuan ke kerabat untuk menutupi biaya tiket dan biaya hidup selama Siman bertanding di Jakarta.

“Saat itu tiket bolak-balik, latihan, hingga biaya hidup semua kita yang tanggung. Kira-kira sampai 25 kali saya dan Siman bolak-balik Jakarta. Saya rela seperti itu karena saya lihat prestasi Siman di renang terus mengalami peningkatan, sehingga kita harus dukung itu,” ujarnya.

Siman akhirnya direkrut bergabung dengan klub renang di Jakarta dan mengikuti pemusatan latihan. Siman mulai berlatih di kolam sepanjang 50 meter.

Tahun 2009, Siman sudah menetap di Jakarta  dan memperoleh emas Porprov Bali tahun 2009. Pada tahun 2010, Siman ikut Asian Games di Guangzhou Tiongkok. Namun, ia belum memperlihatkan prestasi mentereng.

Setahun kemudian barulah Siman menyumbang medali emas bagi Indonesia di ajang SEA Games 2011. Bahkan dia memborong 4 medali emas.

Tahun 2012, pemuda kelahiran 8 September 1994 tersebut ikut Olimpiade London. “Walau tidak mampu mendulang prestasi, namun di usianya yang ke 18 tahun, dia bisa ikut ajang dunia seperti itu sudah merupakan prestasi yang luar biasa bagi Siman," kata Ni Made Sri Karmini.

Setelah berbincang tentang segala prestasi Siman di kediamannya, Sri Karmini mengajak Tribun Bali ke perkebunan durian di Desa Tegak, Klungkung. Di lokasi itu, ayah Siman yakni I Ketut Sudartawa sedang memberi pakan ratusan ekor bebek peliharaan.

Kedua orangtua Siman tetap menjadi peternak bebek dan usaha telur asin. “Seperti inilah kesibukan kami. Kalau ada waktu, salah satu dari kami, bisa saya atau ayahnya menyempatkan diri untuk menengok Siman di Jakarta. Kami gantian, kalau Ayahnya ke Jakarta, jadi saya yang mengurus kandang dan sembahyang di rumah. Kalau saya yang ke Jakarta menengok Siman, ayahnya yang di rumah,” kata  Sri Karmini

Meskipun sudah berprestasi hingga ajang internasional, Siman tetap anak sederhana dan semua penghasilannya diserahkan pada ayah dan ibunya.

“Apapun yang dia dapat, itu untuk membahagiakan orangtua. Ia hanya membawa sedikit uang untuk jajan, sisanya pasti orangtuanya yang diminta untuk mengaturnya,” jelas Made Sri Karmini.

Di mata sang ibu, Siman adalah remaja pendiam namun mudah akrab dengan orang lain. Siman juga suka humor dan supel bergaul.

“Dia itu dekat dan terbuka dengan ibunya. Saat persiapan SEA Games tahun ini, mes untuk cabor renang kebetulan ada di Mengwitani, dan latihannya di Blahkiuh. Jadi Siman hampir setiap Sabtu pulang dan hari Minggu balik lagi karena Senin kan harus latihan lagi,” demikian Sri Karmini.
(eka mita suputra)

Biodata
Nama Lengkap : I Gede Siman Sudartawa
Nama Panggilan : Siman
TTL                    : Klungkung, 8 September 1994
Bidang Atlet       : Renang
Alamat               : Dusun Tengah Desa Tegok Klungkung
Ayah                  : I Ketut Sudartawa
Ibu                     : Ni Made Sri Karmini

Sumber: Tribun Bali 9 Desember 2019 halaman 1

Putu Randu Pernah Jadi Kiper dan Pemain Basket


I Putu Randu
Putu Randu jadi trending topic Twitter. Menyadari viralnya aksi selebrasinya, Randu memberi klarifikasi. Pemain bernomor punggung 18 itu menyatakan selebrasinya semata untuk mengangkat motivasi bertanding tim voli putra Indonesia.

NAMA pemain tim nasional (timnas) bola voli putra Indonesia asal Tabanan, Bali, I Putu Randu Wahyu Pradana menjadi buah bibir.

Putu Randu bersama rekan-rekannya  mempersembahkan medali emas bagi Indonesia di ajang SEA Games 2019 yang baru berakhir, Rabu (11/12) malam. Medali emas itu sangat berarti karena terakhir kali diraih timnas voli putra Indonesia pada SEA Games 2009.

Putu Randu  sukses mencuri perhatian masyarakat pecinta bola voli di Tanah Air maupun publik Filipina.


Nama Putu Randu makin santer setelah aksi selebrasinya mendapat reaksi dari pendukung tim tuan rumah Filipina pada laga pamungkas Grup B, Jumat (6/12) lalu. Saat itu Indonesia menang straight set 25-23, 32-30, 25-20.

Randu yang berperan sebagai quicker tampil impresif. Dia selalu melakukan selebrasi setiap kali tim voli putra Indonesia mencetak angka. Nah selebrasi ekspresifnya itu menjadi viral di media sosial karena terkesan  'menantang' di hadapan pendukung Filipina di Philsports Arena.

Nama Putu Randu pun jadi trending topic Twitter. Menyadari viralnya aksi selebrasi tersebut, Randu akhirnya memberi klarifikasi. Pemain bernomor punggung 18 itu menyatakan  selebrasinya semata untuk mengangkat motivasi bertanding tim voli putra Indonesia.

"Hanya untuk memotivasi rekan satu tim saya. Kalau teman-teman dan warga Filipina terganggu, saya mohon maaf. Itu hanya di pertandingan saja. Di luar lapangan kita tetap saudara. I love Indonesia, I love Philippines," kata Randu seperti dikutip dari BolaSport.com.

Siapakah Putu Randu? Pemuda kelahiran 15 Januari 1994 ini merupakan sulung dari tiga bersaudara buah kasih pasangan I Nyoman Parwata dengan Ni Putu Sri Armoni. Adiknya Ni Kadek Inka Pradnya Pratiwi dan si bungsu Ni Komang Karisa Ayu Putri.

I Nyoman Parwata menyebut putranya itu merupakan kebanggaan keluarga serta masyarakat Banjar Bongan Gede, Desa Bongan, Tabanan, daerah asal Putu Randu. "Dia  bisa menjadi motivator bagi pemuda lainnya. Dan menjadi panutan bagi adik-adiknya." kata Parwata.

Menurut Parwata, sebelum menekuni bola voli, Putu Randu merupakan pemain sepak bola. Saat SD dia menjadi kiper Perst Tabanan. Saat SMP dia sempat beralih ke cabang  bola basket. Ternyata ia  tak betah hingga I Nyoman Parwata (50) mengarahkan putranya bermain voli.

"Kebetulan saya waktu itu pelatih voli dan pengurus PBVSI Tabanan," kata Parwata alias Pan Randu saat dijumpai di rumahnya, Rabu (11/12). Karena latihan di Tabanan kurang menggembirakan, Putu Randu memilih pindah ke Denpasar ikut pelatihan di sekolah voli.

"Ketika berlatih di Denpasar, ia mulai fokus. Bahkan sempat ikut berlatih dengan timnas putri yang saat itu ekspedisi ke Bali dan bermain di Klungkung," tuturnya.

Parwata mengatakan, setelah pelatihan itu ada beberapa pengurus PBVSI tertarik dengan postur tubuh Putu Randu yang tinggi 184 cm. Mereka menawarkan dia bergabung dengan klub di Surabaya. Namun, saat itu terbentur jadwal ujian sekolah sehingga tak diizinkan  orangtuanya.

Setelah ujian akhir SMPN 2 Tabanan, Putu Randu masuk klub Surabaya Samator.  Nyoman Parwata mengantar sendiri anaknya masuk klub tersebut. Pria yang juga Kelian Adat Banjar Bongan Gede, Desa Bongan mengakui, saat dia tiba di Banyuwangi dalam perjalanan pulang ke Tababan,  Randu menghubungi dirinya sambil menangis.

"Saya langsung balik dari Banyuwangi saat itu ke Surabaya. Sampai di Surabaya saya tenangkan Putu (Randu) dan memberikan pemahaman. Wajarlah saat itu dia menjelang tamat SMP atau masih remaja kemungkinan tak betah sendiri dan jauh dari rumah," ujarnya.

Selama di Surabaya, Putu Randu menjalani latihan dengan serius sehingga dia menjadi andalan klubnya. Dia menjadi anggota tim junior selama tiga tahun. Dibiayai manajemen klub dia mengenyam pendidikan SMA hingga kuliah di Universitas Yos Soedarso Surabaya.
Dia mengambil jurusan ekonomi. Putu Randu lulus setelah kuliah selama empat tahun kemudian mengikuti seleksi masuk TNI Angkatan Laut (AL). Ternyata ia lulus dan ditugaskan di Mabes TNI AL di Cilangkap Jakarta. Ia betugas di Bagian Binaan Jasmani.

Sejak tahun 2016 Randu keluar dari klub Surabaya Samator karena bertugas sebagai anggota TNI AL.  Meski demikian, kariernya sebagai atlet tidak berakhir. Putu yang sudah menjadi pemain timnas junior sejak tamat SMA dikontrak membela tim BNI 46 pada 2018. Hingga kini, Randu masih berstatus sebagai pemain BNI 46.

Parwata mengharapkan, Putu Randu tetap konsisten untuk menjaga performanya sehingga dapat kembali mengharumkan nama Bali dan Indonesia.

Mengenai rencana berkeluarga, Parwata menyatakan putranya  belum berpikir ke arah sana. Randu yang merupakan alumni SDN 2 Bongan belum menyinggung soal itu. "Putu tak pernah menyinggung soal pacaran ataupun menikah," ujarnya. (prasetia aryawan)

Sumber: Tribun Bali 12 Desember 2019 halaman 1

Ada Rompi Dr Azahari di Museum Terorisme Denpasar


ilustrasi
Museum terkait antiterorisme memang sudah ada di Mabes Polri Jakarta, namun koleksi yang ditampilkan lebih ke dampak dari aksi terorisme, bukan keadaan di belakang layar dalam penangulangan terorisme.

KAPOLDA Bali Irjen Pol Dr. Petrus Reinhard Golose meresmikan pembukaan Museum Penanggulangan Terorisme  di Denpasar, Rabu (27/11). Ini merupakan museum pertama dan satu-satunya di Indonesia mengenai penanggulangan terorisme.

Museum  tersebut tak hanya memajang koleksi Polri, khususnya Satgas Antiteror, tapi juga di antaranya memajang barang-barang yang dipakai para teroris dalam melakukan aksinya.

Contohnya mobil yang mengangkut bom yang digunakan dalam aksi Bom Bali I tahun 2002. Ada juga sepeda motor bebek yang dipakai salah seorang pelaku Bom Bali I serta rompi antibom yang digunakan Dr Azahari, otak Bom Bali.


“Selama ini, terkait kasus terorisme sudah dibangun monumen peringatan seperti Ground Zero di Kuta, dan juga nanti akan ada Peace Memorial Park di Legian yang dibangun oleh pemerintah Australia. Mereka semua berbicara tentang mengenang para korban terorisme. Tetapi siapa yang berada di balik upaya pencegahan dan penanggulangan terorisme, belum ada sama sekali museumnya. Padahal, bagaimana kisah dan perjuangan para penegak hukum, khususnya satgas antiteror kepolisian dalam mengatasi para teroris itu juga perlu diungkapkan untuk pelajaran. Jadi, ini adalah museum penanggulangan terorisme pertama dan satu-satunya di Indonesia sampai saat ini,” jelas Kapolda  Petrus Reinhard Golose dalam sambutan sebelum pembukaan museum.

Museum terkait antiterorisme memang sudah ada di Mabes Polri, namun koleksi yang ditampilkan lebih ke dampak dari aksi terorisme, bukan keadaan di belakang layar dalam penangulangan terorisme.

Museum yang terletak di bekas lapangan tembak Perbakin di Jl. WR Supratman, Tohpati, Denpasar itu menempati lantai satu dari dua lantai gedung Prakasa Rucira Garjita.
Museum memiliki 22 segmen atau bagian-bagian dengan masing-masing tema koleksi.
Dari puluhan koleksi foto yang dipajang, di antaranya menggambarkan bagaimana petugas Densus 88 Antiteror mengintai para teroris di Batu, Jawa Timur.

Menurut Golose, kehadiran museum ini mengingatkan aparat kepolisian agar selalu waspada.

“Saya tidak suka ketika anak buah ditanya bagaimana kondisi, dan jawabannya selalu bilang ‘aman…’. Memang sejauh ini Bali aman. Tapi justru saya ingin ingatkan mereka, ketika dulu Bali disebut sebagai wilayah paling aman di Indonesia, tiba-tiba kita semua dikejutkan bom teroris pertama dengan korban terbanyak justru meledak di Bali. Bahkan kemudian diikuti Bom Bali II dan nyaris ada Bom Bali ketiga dengan modus seperti  di Tunisia tapi berhasil kita gagalkan sebelum terjadi. Karena itu, museum ini menjadi semacam pengingat bahwa ita semua harus waspada. Justru pada situasi yang sering kita anggap aman-aman saja, para teroris  sedang merencanakan aksinya,” kata Golose.

Peresmian museum itu dihadiri oleh para mantan petinggi Polri yang sebelumnya bergelut dalam dunia penangglangan terorisme, antara lain Komjen Pol (Purn) Gories Mere, Irjen Pol (Purn) Benny Mamoto, Brigjen Pol (Purn) Suryadarma, serta mantan Gubernur Bali yang juga Kapolda Bali saat terjadi Bom Bali I,  Komjen Pol (Purn) Made Mangku Pastika.

“Saya sengaja undang para senior seperti Pak Gories, Pak Benny Mamoto dan Pak Suryadarma karena  kami pernah bersama-sama berada di lapangan dalam menindak para teroris. Pak Mangku Pastika juga kita tahu adalah Kapolda Bali dalam pengusutan Bom Bali,” kata Golose.

Setelah diresmikan, Kapolda mempersilakan para tamu dan undangan untuk melihat koleksi museum. "Ini adalah juga tempat mengenang para pendahulu kami termasuk anggota kita yang gugur," ujarnya.

Selain museum, di gedung Prakasa Rucira Garjita juga ada fasilitas olahraga mulai dari tempat latihan menembak, tenis meja, kempo dan kantor olahraga menyelam.

"Yang saya suka adalah tempat olahraga tenis meja yang beda dari yang lain karena interiornya menggunakan budaya Bali," kata Kapolda.

Kapolda Bali pun mengucapkan terima kasih kepada Bupati Gianyar karena terwujudnya bangunan Prakasa Rucira Garjita itu ditopang dana hibah  dari  Pemkab Gianyar sebesar Rp 10 miliar. (sunarko/rino gale)

Sumber: Tribun Bali, 28 November 2019 halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes