Menguji Kesabaran Kesebelasan Milenial


Harry Kane
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

POS-KUPANG.COM - St. Petersburg, kota pelabuhan yang eksotik di tepi Sungai Neva dan Teluk Finskiy ternyata meninggalkan luka di hati Lukaku. Bikin Kevin de Bruyne meringis dan Eden Hazard meradang pada Selasa malam 10 Juli 2018. Belgia baru sebatas kembang penyegar, bukan pahlawan bagi negaranya musim ini.

Berakhir sudah petualangan Si Merah. Prancis menang dengan sebiji gol Samuel Umtiti untuk meraih satu kursi terhormat di partai Final Piala Dunia 2018 tanggal 15 Juli nanti. Didier Deschamps berada sejengkal lagi untuk mencetak sejarah sebagai orang ketiga di planet ini yang sukses sebagai pemain dan pelatih di ajang World Cup.

Umtiti melengkapi kepiawaian bek timnas Prancis yang mencetak gol selama putaran Final Piala Dunia 2018 bersama Benjamin Pavard dan Raphael Varane. Ini kali pertama tiga bek Prancis mencetak gol setelah tahun 1998.



Tahun ini untuk ketiga kalinya Les Bleus mencapai babak final setelah Piala Dunia 1998 dan 2006. Rekor itu sudah selevel dengan Belanda yang tahun ini absen di Rusia. Deschamps menjadi pelatih Prancis pertama yang meraih dua kali final pada turnamen besar yaitu Final Piala Eropa 2016 dan Final Piala Dunia 2018.

Menghadapi Belgia yang bertaburan pemain bintang, Didier Deschamps kembali ke watak dasarnya sebagai gelandang bertahan. Prancis tidak obral serangan ofensif sebagaimana pada pertandingan-pertandingan sebelumnya.

Paul Pogba dan kolega lebih santai. Tidak terburu-buru menusuk ke jantung pertahanan Belgia yang memang rapat dan padu. Statistik FIFA menunjukkan, Belgia lebih banyak menguasai bola dengan persentase mencapai 64 persen.

Menghadapi Belgia, Selasa malam 10 Juli 2018 atau Rabu dini hari 11 Juli 2018 waktu Indonesia, Prancis cenderung defensif. Itulah yang membuat trio Belgia, Eden Hazard, Thibaut Courtois dan Kevin De Bruyne meradang. Kesal tak terkira.

"Saya lebih memilih kalah dengan tim Belgia ini daripada menang dengan cara Prancis," kata Hazard seperti dikutip Kompas.com dari Metro, Rabu (11/7/2018).

Hal serupa diungkapkan kiper Belgia, Courtois. "Prancis menerapkan sepakbola negatif. Saya tidak pernah melihat ada seorang striker sangat jauh dari gawang lawan," kata Courtois. "Menurut mereka itu adalah cara bermain yang benar, tetapi itu tidak enak dilihat," tambah kiper Chelsea tersebut.

Kevin De Bruyne agak diplomatis dengan mengatakan sudah terbiasa bermain melawan tim yang selalu bertahan saat membela Manchester City. "Apakah saya terganggu dengan permainan Prancis? Tidak, saya bermain di Man City dan saya sudah sering melawan tim yang bermain 90 persen bertahan. Inilah sepakbola, dan yang membedakan adalah gol," ucap De Bruyne.

Belgia gagal menciptakan gol. Begitulah faktanya. Prancis lebih beruntung. Meskipun lebih banyak menciptakan peluang dalam 19 percobaan, gol Prancis justru tercipta dari sepakan bola mati. Bermula dari sepak pojok, sundulan Samuel Umtiti pada menit ke-51 sudah cukup memulangkan Belgia lebih lekas.

***

KINI mari kita beralih ke babak semifinal berikutnya Rabu 11 Juli 2018 malam ini atau Kamis (12/7/2018) dini hari Wita. Inggris kontra Kroasia. Dua tim yang sebenarnya tidak begitu difavoritkan penggemar bola sejagat mengingat performa mereka belakangan ini.

Tak dinyana Inggris dan Kroasia sudah melangkah sedemikian jauh di Rusia dan berhak merebut satu kursi untuk meladeni Prancis di babak Final Piala Dunia 2018.

Bagi Inggris, berada di babak semifinal merupakan sesuatu yang membanggakan.  Terakhir mereka mencapai level itu pada tahun 1990. Selebihnya langkah terbaik pasukan Tiga Singa adalah babak perempafinal.

Dalam dua turnamen besar terakhir yakni Piala Dunia 2014 dan Piala Eropa 2016, Inggris malah meraih hasil mengecewakan.

Pada putaran Final Piala Dunia 2014 tim berjuluk The Three Lions ini terhenti di fase grup. Dua tahun berselang, pada ajang Piala Eropa, tim Tiga Singa pun tersingkir di babak 16 besar. Inggris bahkan kalah melawan tim debutan dari negara kecil di Eropa, Islandia.

Kegagalan Inggris dua tahun silam melengkapi berakhirnya era kejayaan sejumlah nama besar yang pernah menghiasi percaturan sepakbola Eropa dan dunia. Pelatih Roy Hodgson tinggalkan kursi pelatih timnas Inggris. Steven Gerrard, Frank Lampard, Michael Carrick, Jermain Defoe, James Milner, dan Wayne Rooney pun mengumumkan pensiun dari timnas Inggris.

Pelatih baru Gareth Southgate menata ulang tim Inggris yang lebih segar. Mereka terbilang anak-anak milenial seperti Jesse Lingard, Marchus Rashford dan Ashley Younh (Manchester United), Harry Kane dan Delle Ali (Tottenham Hotspur), Raheem Sterling dan John Stones (Manchester City), Jordan Pickford (Everton), Harry Maguire (Leicester), Jordan Henderson (Liverpool) dan lainnya.

Kapten timnas Inggris Harry Kane usianya baru memasuki 25 tahun pada 28 Juli 2018 nanti. Tapi kematangan dan ketenangannya sebagai pemimpin di lapangan sudah terbukti. Dia juga pencetak gol paling subur sejauh ini di putaran Final Piala Dunia 2018. Gelar top scorer Piala Dunia 2018 kemungkinan besar menjadi miliknya.

Bermaterikan hampir 90 persen pemain muda usia, Inggris 2018 pantas disapa sebagai kesebelasan milenial. Hebatnya lagi mereka tidak bernaung di bawah bayang-bayang pemain bintang. Misalnya dibandingkan dengan timnas Inggris pada era David Beckham, Michael Owen, Steven Gerrard dan Wayne Rooney.

Pemain Inggris yang bisa disebut bintang saat ini hanyalah Harry Kane seorang. Yang lainnya biasa-biasa saja. Nama mereka tenggelam oleh kebesaran legiun asing yang merajai klub-klub terbaik Liga Inggris.

Justru karena itulah Inggris 2018 bermain lebih rileks alias tanpa beban sejak fase grup. Mereka memperlihatkan diri sebagai anak-anak milenial Britania yang mampu menyihir dan memabukkan lawan.

Mungkin Kroasia menjadi korban berikutnya sekaligus membawa Inggris ke final di Moskwa. Kuncinya adalah kesabaran serta kerja tim yang kompak. Pelatih Gareth Southgate kiranya sudah tahu apa yang akan diraciknya.

Satu yang pasti Inggris tidak memandang rendah lawannya. Inggris tahu betul bahwa Kroasia merupakan lawan paling tangguh dari Eropa Timur. Krosia mencapai hasil luar biasa di Rusia 2018 bila acuannya adalah perjuangan mereka di babak kualifikasi. Terakhir negeri itu mencapai babak semifinal pada putaran Final Piala Dunia 1998 di Prancis.

Timnas Kroasia mendapatkan tempat pada gelaran Piala Dunia 2018 setelah mengalahkan Yunani pada babak play-off kualifikasi zona Eropa dengan agregat 4-1. Mereka harus melalui play-off karena kalah bersaing dengan Islandia yang pada babak penyisihan Grup 16 Juni 2018 lalu membuat pusing kepala Lionel Messi dkk dalam laga yang berakhir 1-1.

Dari sisi kematangan tim jelas milik Kroasia. Pelatih Zlatko Dalic mempunyai pemain dengan kemampuan merata di semua lini. Mulai dari Danijel Subasic di bawah mistar hingga tukang jebol gawang Mario Mandzukic.

Ivan Strinic, Domagoj Vida, Dejan Lovren dan Sime Vrsaljko merupakan pilar pertahanan yang sangat solid. Di lapangan tengah, ada jenderal inspirator Luka Modric. Modric begitu padu menjaga irama permainan bersama Ivan Rakitic, Ivan Perisic, Ante Rebic dan Andrej Kramari. Aksi para gelandang Kroasia akan sangat merepotkan Inggris.

Jangan lupa Kroasia adalah reinkarnasi Yugoslavia, nama besar dari timur Eropa yang selalu diperhitungkan lawan dalam ajang Piala Dunia sejak tahun 1930 hingga 1990. Yugoslavia sudah berakhir gara-gara perang Semenanjung Balkan yang melahirkan sejumlah negara baru termasuk Kroasia sekarang. Tradisi sepakbola di negeri itu sudah berakar lama dan membumi.

Setelah terhenti di babak semifinal tahun 1998, mungkin tahun ini saatnya Kroasia melaju ke grandfinal untuk menghadapi Prancis yang juara di kandangnya sendiri 20 tahun silam. Jika sudah di final laju Kroasia bisa tak tertahankan.

Panggung Rusia 2018 berpeluag melahirkan juara baru. Bukan mustahil pula Dewi Fortuna memihak anak-anak milenial Inggris, negeri asal leluhur bola yang sudah menanti pesta sangat lama sejak 1966. Selamat menonton.  (*)

Orang Ketiga Bernama Didier Claude Deschamps



Didier Deschamps
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

POS-KUPANG. COM - Prancis beruntung memiliki anak bola bernama Didier Claude Deschamps. Pria kelahiran Bayonne, 15 Oktober 1968 tersebut sejauh ini selalu mempersembahkan yang terbaik dari ladang bola demi keharuman bangsa dan negara.

Didier Deschamps memang tak setenar Zinedine Zidane. Apalagi dibandingkan si flamboyan Eric Cantona dan anak ganteng David Ginola. Tapi hanya dia pekerja cerdas di tubuh Les Bleus. Tangguh dan efektif sebagai gelandang bertahan bahkan cukup sering berubah peran sebagai libero.

Dengan daya jelajah yang tinggi, Deschamps melayani dengan sungguh rekan- rekannya. Itulah sebabnya Pelatih Prancis 1998, Aime Jacquet lebih memilih dia ketimbang Cantona dan Ginola.



Dia bagian dari kisah sukses generasi emas Prancis kala merebut trofi Piala Dunia 1998 setelah menekuk tim unggulan Brasil di final. Deschamps bersinar bersama koleganya si botak Fabien Barthez, Marcel Desailly, Laurent Blanc, Bixente Lizarazu, Zinedine Zidane, Lilian Thuram, Emanuel Petit, Thiery Henry, dkk. Tim yang sama pun berjaya di Piala Eropa 2000.

Bagi Prancis, Didier Deschamps yang bermain sebanyak 103 kali untuk timas dan mencetak 4 gol adalah legenda. Nama besar yang akan terkenang selalu.

Dibanding rekan seangkatanya seperti Laurent Blanc dan Zidane, Didier Deschamps tercatat paling sukses menjadi pelatih baik di klub maupun tim nasioal (timnas).

Keberhasilannya sebagai pelatih terlihat sejak ia membawa klub AS Monaco menjadi runner-up Liga Champions Eropa pada tahun 2003. Ia pun sukses membantu bekas klubnya Juventus kembali ke Serie A Italia serta mengantar Marseille juara Liga Prancis hingga akhirnya dipercayakan Federasi Sepakbola Prancis sebagai pelatih timnas tahun 2012.

Didier Deschamps menangani Les Bleus setelah tampil ngos-ngosan di ajang Piala Eropa 2012. Tugas berat dia pada waktu itu adalah mempersiapkan tim untuk Piala Dunia 2014 di Brasil. Dalam berbagai keterbatasan, Didier bisa membawa tim asuhannya bertahan sampai babak perempatfinal. Empat tahun lalu, langkah Prancis dihentikan Jerman yang akhirnya keluar sebagai juara dunia.

Sejak kegagalan di Brasil tersebut, Deschamps melakukan peremajaan pemain. Dia memberi kesempatan lebih besar kepada talenta muda seusia Paul Pogba. Terbukti polesan tangan dinginnya membuahkan hasil.

Selain faktor tuan rumah, Prancis tampil trengginas hingga lolos ke babak grandfinal Piala Eropa 2016. Sayang seribu sayang kala itu Paul Pogba, Olivier Giroud dan Antoine Griezmann dkk kalah melawan Portugal.

Tren kinerja kepelatihan Didier Deschamps bersama pasukan mudanya menjulang positif. Kini mereka sudah berada di babak semifinal Piala Dunia 2018 setelah menyingkirkan tim-tim yang lebih diunggulkan.

Prancis 2018 memiliki peluang besar untuk mengulang sukses 1998. Banyak pemain hebat di tim Deschamps. Sebut misalnya Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Benjamin Pavard dan Nabil Fekir. Mereka merupakan talenta muda berbakat yang bakal terus bersinar.

Selama di Rusia 2018 Deschamps cenderung memakai formasi 4-2-3-1. Kemungkinan skema yang sama bakal dia pakai melawan Belgia, Selasa (10/7/2018) malam atau Rabu (11/7/2018) dini hari Wita.

Paul Pogba dan N'Golo Kante merupakan kunci kekuatan lini tengah Prancis. Ada yang melukiskan peran Kante sebagai mesin perebut bola dan pemutus rantai serangan lawan. Sedangkan Pogba cerdas melihat arah permainan dan mampu mengelolanya dengan apik untuk menghasilkan peluang manis.

Didier Deschamps percaya kekuatan dan kecepatan Mbappe dan serta kelincahan Griezmann akan merepotkan lawan. Apalagi dibantu Olivier Giroud yang bisa hadir mengejutkan dari lini kedua.

Sejarah Piala Dunia mencatat baru dua orang yang pernah memenangi Piala Dunia dalam perannya sebagai pemain dan pelatih, yaitu Mario Zagallo (Brasil) dan Franz Beckenbauer (Jerman). Didier Deschamps berpeluang menjadi orang ketiga bila tahun 2018 ini dia sukses membawa Prancis meraih trofi Piala Dunia di Rusia.

Langkah ke sana terbuka lebar. Malam ini mantan pemain klub Nantes, FC Girondins de Bordeaux, Olympique de Marseille, Juventus, Chelsea dan Valencia ini harus mengalahkan Belgia.

Sanggupkah Prancis? Sulit menjawabnya karena Belgia pun sedang on fire dan memiliki pemain bintang dari kiper hingga striker. Di atas kertas Belgia jelas kurang diunggulkan dan ini menguntungkan. Mereka siap meledak untuk menghentikan langkah Prancis menuju trofi Piala Dunia yang kedua.

Duel di Kota St Petersburg beberapa jam lagi pun akan sangat familiar bagi para pencinta Liga Primer di Indonesia lantaran banyak pemain dari kedua tim yang membela klub anggota liga utama Inggris.

Tercatat 11 pemain Belgia yang berkiprah di Liga Primer, dan lima pemain dari Prancis yang bermain di kompetisi paling meriah sejagat itu.

Kiper Belgia, Thibaut Courtois dan Kapten Belgia, Eden Hazard akan melawan rekannya di Chelsea, Ngolo Kante dan Olivier Giroud. Sedangkan gelandang Prancis Paul Pogba bakal bertarung melawan sobatnya di Manchester United, Romelu Lukaku dan Marouane Fellaini. Seru!

Kita berharap laga semifinal antara Prancis vs Belgia menghasilkan gol. Belgia sejauh ini sudah mengoleksi 14 gol dari lima pertandingan atau rata-rata 2,8 gol di setiap laga.

Tim asuhan Pelatih Roberto Martinez dibantu asistennya yang merupakan rekan seangkatan Didier Deschamps, Thierry Henry merupakan tim haus gol.  Belgia memiliki trisula piawai dalam diri  Eden Hazard, Romelu Lukaku dan Kevin de Bruyne.

Prancis yang sempat mandul di fase penyisihan grup, mulai membaik di babak knock-out dengan menggilas Argentina 4-3 dan Uruguay 2-0.

Dengan komposisi  tim yang relatif seimbang di semua lini, wajar bila Prancis lebih diunggulkan. Namun, sekali lagi perlu diingatkan bagi fans Les Bleus bahwa generasi emas Belgia yang bertabur bintang akan memberikan kejutan. Jangan- jangan Prancis menjadi korban berikutnya setelah Brasil. Selamat menonton. *

Sepenggal Kisah Ngongo dan Nganga


ilustrasi
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

POS-KUPANG.COM – Langkah Brasil berakhir di Kazan Arena 6 Juli 2018 malam atau 7 Juli waktu Indonesia. Liukan goyang Samba tak sanggup mengalahkan tim bertabur bintang asal Eropa, Belgia. Selecao pulang sebelum babak Final Piala Dunia 2018. Takdir Neymar, Paulinho, Marcelino, Coutinho, Willian, Gabriel Jesus dan kolega hanya sampai di sini. Babak perempat final.

Banyak yang sedih, tak sedikit pula yang kecewa. Air mata tumpah di banyak tempat. Sumpah serapah, ungkapan getir sedih memenuhi linimasa media sosial. Dari musim ke musim rontoknya Brasil selalu menyembulkan kehebohan. Dunia terlanjur jatuh cinta pada tim Samba. Cinta dan air mata kerap seiring sejalan.

Jumlah penggemar Brasil terbesar sejagat raya. Maklum negara ini pemegang trofi Piala Dunia terbanyak yaitu lima kali. Selama pesta Rusia 2018 sudah ada korban nyawa gara-gara bakuolok mengenai kiprah tim Samba. Hukum psikologi idola hanya mau mendengar, melihat dan menerima yang baik-baik saja. Peribahasa bilang tahi kucing pun rasa cokelat.

Apa daya Brasil 2018 tak segarang Brasil 2002. Lagak cengeng, manja dan makan puji menyertainya. Bahkan cukup sering berpura-pura, bikin blunder dan sekadar ngongo dan nganga (baca: bingung alias tidak tahu mau melakukan apa) di mulut gawang lawan sebagaimana dikatakan pencintanya asal Kota Kupang, Pius Rengka.

Baca: Malam Bertabur Bintang di Kazan

Brasil memang sempat berjuang keras setelah tertinggal pada paruh pertama. Namun, secara taktikal Belgia lebih baik sehingga mampu mempertahankan keunggulan 2-1 sampai akhir laga. Belgia pantas berada di semifinal bersua juara 1998, Prancis yang menghentikan langkah menawan Uruguay 2-0. Habis sudah wakil Latin Amerika. Bumi Eropa milik Eropa. Juara dunia 2018 milik benua biru.

Sejumlah orang mengaitkan kegagalan Uruguay dengan absennya striker hebat Edinson Cavani yang cedera saat mereka memulangkan Cristiano Ronaldo dan rekan di babak 16 besar. Sesungguhnya ketidakhadiran Cavani hanya mengurangi daya gedor Uruguay, tetapi bukan itu musabab kekalahan.

Uruguay antiklimas. Penyakit semacam ini kerap melanda tim-tim solid ketika mengikuti kejuaraan bergengsi dalam kurun waktu lama. Setelah meraih hasil sempurna di fase grup dan gagah perkasa menekuk Portugal 2-1 di perdelapan final, Uruguay gagal merawat spiritnya ketika jalannya kompetisi makin menanjak. Melawan Prancis, Uruguay tampil jauh di bawah level terbaik mereka.

Luis Suarez dan kolega yang begitu solid pilar pertahanannya dengan noda hanya sekali kebobolan, mendadak longgar kala melawan Les Bleus. Amat mudah ditembus Antoine Griezmann, Giroud, Kylian Mbape dan Paul Pogba.

Gol serangan udara Varane cermin lemahnya koordinasi Caceres, Godin, Gimenez mengawal musuh. Blunder Musrela yang menghasilkan gol kedua Prancis melengkapi nasib tragis Uruguay. Luis Suaez selama 90 menit hanya berlari-lari kecil karena minimnya umpan matang dari sayap kiri, kanan apalagi assist manis dari blok tengah. Uruguay pantas tersisih.

***

MALAM ini , Sabtu 7 Juli 2018 air mata mungkin akan tumpah lagi di berbagai negeri termasuk di bumi Flobamora ketika Inggris bertempur melawan Swedia demi meraih satu jatah semifinal. Sebagai pusat rujukan liga terbaik dunia, timnas Inggris punya banyak fans. Saban pekan serunya Liga Utama Inggris menjadi tontonan penggemar bola sejagat. Dunia pun familiar dan mengenal nama-nama pemainnya.

Setelah menyingkirkan Kolombia, pasukan Gareth Southgate kini berada di jalur yang benar demi mengulang kejayaan 1966. Ada yang menyebut peluang Harry Kane dan kolega sangat besar untuk menjadi semifinalis lantaran “hanya” bersua Swedia. Tim medioker Eropa yang penggemarnya minim amat.

Jangan salah duga kawan. Swedia itu diam-diam ubi berisi. Mereka memiliki modal kuat untuk menjegal langkah Inggris. Penggemar Italia dan Belanda pasti belum lupa bahwa Swedialah yang memupus harapan tim kesayangan mereka lolos ke Piala Dunia 2018. Di babak kualifikasi zona Eropa, Swedia begitu dingin menghabisi kans Gli Azzuri dan tim Oranye Belanda.

Selama berkiprah di Rusia 2018, Swedia pun mengemas hasil meyakinkan. Sukses Emil Forsberg dkk menjuarai Grup F dengan menggeser Meksiko dan Jerman lalu menekuk Swiss tanpa perpanjangan waktu, merupakan peringatan serius bagi Inggris.

Sejak dulu Swedia selalu menjadi lawan tangguh bagi pasukan Tiga Singa. Selama 43 tahun atau sejak 1968 hingga 2011, Inggris tanpa kemenangan menghadapi Swedia. Dalam pertandingan kompetitif, Inggris bahkan cuma sekali unggul dari delapan pertemuan melawan Swedia.

Pertemuan terakhir mereka di turnamen besar adalah ajang Piala Eropa 2012. Kala itu the Three Lions menang dramatis 3-2 berkat gol Andy Carroll, Theo Walcott, dan Danny Welbeck. "Sebagian besar dari mereka menghormati kami,” kata striker Swedia, Marcus Berg seperti dilansir Reuters.

Buruknya rekor pertemuan Inggris vs Swedia diakui Gareth Southgate. Pelatih yang selalu tampil rapi itu tidak meremehkan Swedia. "Selama bertahun-tahun kita (Inggris) selalu meremehkan mereka (Swedia). Namun, Swedia melahirkan kisah mereka sendiri dan membuat sejarah. Kami tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi,” kata Southgate seperti dikutip Telegraph.

Swedia merupakan tim yang solid. Kinerja pilar pertahanan mereka sangat bagus. Dari empat laga yang sudah dijalani, Swedia hanya sekali kebobolan. Sejak fase grup sampai 16 besar, mereka cuma kemasukan gol saat kalah dari Jerman. Swedia sulit ditembus. Saat bertahan, para striker bisa menjadi bek. Begitu rapi tim ini melindungi kotak penalti dari serbuan lawan.

Sebaliknya, Inggris selalu kebobolan sejauh ini di Piala Dunia 2018. Gawang Jordan Pickford kemasukan masing-masing 1 gol saat melawan Tunisia, Panama, Belgia, dan Kolombia. Artinya Inggris mesti merapikan lini pertahanan mereka sambil menambah daya kreasi untuk menembus barikade Swedia demi menciptakan gol.

Harry Kane, Dele Ali, Raheem Sterling, Jesse Lingard, Kieran Trippier cs hendaknya tidak bosan menggempur. Jauhkan sindrom ngongo dan nganga di kotak penalti Swedia. Diperlukan beragam skenario yang efektif agar bisa mencetak gol dalam waktu 90 menit. Kalau sampai babak perpanjangan waktu dan adu penalti, nasib baik belum tentu memihak Inggris lagi.

Kapten Swedia, Andreas Granqvist sangat optimistis menjelang pertandingan melawan Inggris di Samara Arena malam nanti. Dia yakin Swedia bisa memulangkan Harry Kane dan kawan-kawan lebih dini.

"Ada yang berkata, dari seratus kali pertemuan, sembilan puluh sembilan kali Inggris bakal menang. Ya, mari kita bermain dan lihat hasilnya. Kami tahu Swedia biasanya bermain bagus ketika berhadapan dengan Inggris. Kami selalu mendapat hasil yang baik,” kata Andreas Granqvist.

Mantan pelatih timnas Inggris asal Swedia, Sven-Goran Eriksson juga mengingatkan pasukan Gareth Southgate agar tidak makan puji serta over percaya diri. "Sebuah kesalahan apabila mereka (Inggris) berpikir pertandingan nanti bakal berlangsung mudah. Ini akan menjadi laga tersulit mereka di turnamen," kata Eriksson seperti dilansir oleh Sky Sports.

Kalau Inggris sanggup mengalahkan Swedia, maka jalan mereka sangat mungkin berakhir indah hingga malam 15 Juli 2018 di Kota Moskwa yang bertaburan kerlap kembang api, bir dan vodka. *

Malam Bertabur Bintang di Kazan



Harry Kane (kiri)
Catatan sepakbola Dion DB Putra

POS-KUPANG.COM - Pada malam bertabur bintang di Otkrytiye Arena, 2 Juli 2018, Inggris meraih kursi terakhir babak perempatfinal Piala Dunia 2018. Keceriaan meledak di negeri Tiga Singa. Setelah kegetiran panjang, publik Britania kini boleh berharap memori indah 1966 terulang atau sekurang-kurangnya The Three Lions bertahan lebih lama di Rusia 2018.

Dalam laga superalot melawan wakil Amerika Latin, Kolombia hampir saja Inggris mengulangi kegagalan. Untung Dewi Fortuna memihak mereka sehingga menang 4-3 dalam drama adu penalti setelah bermain 1-1 selama dua jam. Pertempuran yang melelahkan bagi Harry Kane dan kawan-kawan.

Dari delapan partai 16 besar yang sudah tersaji, tiga di antaranya harus berakhir dengan drama adu penalti. Selain Kolombia vs Inggris, partai yang berujung adu penalti terjadi saat tuan rumah Rusia menyingkirkan Spanyol dan Kroasia memulangkan Denmark.


Lima pertandingan lainnya berlangsung mulus dalam waktu 90 menit.Prancis yang penuh gairah muda membuat pemuja Argentina sejagat menjerit pada 30 Juni. Laga supersubur dengan tujuh gol tercipta. Skor akhir 4-3 untuk Les Bleus. Lionel Messi dkk pulang kampung.

Duet maut Uruguay Luis Suarez - Edinson Cavani sungguh menodai reputasi pemain terbaik dunia asal Portugal, Cristiano Ronaldo. Portugal kemas koper pada 1 Juli setelah menyerah 1-2 atas La Celeste.

Malam muram bagi CR7. Bintang bersinar untuk Cavani. Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Piala Dunia 2018 bukan panggung buat Messi dan Ronaldo lagi. Uruguay jika tetap on fire bukan mustahil akan melaju sampai jauh hingga meraih bintang di 15 Juli nanti.

Brasil riang menari-nari. Liukan goyang Samba masih menghibur dunia. Neymar dan rekan mengalahkan Meksiko 2-0 dalam laga impresif. Terima kasih Adenor Leonardo Bacchi alias Tite. Berkat racikan pria inilah penggemar Brasil seluruh dunia masih boleh tersenyum sambil sesekali mengolok pemuja Jerman, Spanyol, Argentina dan Portugal yang sudah cium kanvas duluan.

Tite tak direken banyak orang. Namanya tak setenar rekan sejawat seperti Dunga atau Luis Felipe Scolari. Namun di tangan Tite, Selecao mengemas delapan kemenangan beruntun untuk mengunci satu dari 4 tiket otomatis jatah zona Amerika Selatan saat kualifikasi World Cup 2018.

Tite lahir di Kota Caxias do Sul, di selatan negeri romantis Brasil, 55 tahun lalu. Karirnya di sepakbola lumayan panjang kendati namanya baru terdengar setahun terakhir ketika menangani tim nasional Brasil.

Sebagai pemain Tite tidaklah istimewa. Dia gantung sepatu pada usia 27 tahun karena cedera lutut berkepanjangan. Sejak terjun sebagai pelatih tahun 1990, dia telah menangani 16 klub. Pengalaman lebih dari cukup hingga pimpinan Federasi Sepakbola Brasilia memberinya kepercayaan mengasuh Neymar dkk.

Pertandingan babak 16 besar paling dramatis dipersembahkan satu-satunya wakil Asia, tim Samurai Biru Jepang. Belgia sempat kehabisan ide di babak pertama yang berakhir 0-0. Bahkan mulai sempoyongan ketika tertinggal 0-2.

Jepang mengesankan. Memancing decak kagum. Sayang seribu sayang, pasukan Nippon tidak konsisten hingga menyerah 2-3 pada lawan dan gagal meraih tempat delapan besar. Acungan jemput patut untuk Romelu Lukaku dkk. Dalam tempo 25 menit Belgia mencetak tiga gol sekaligus membalikkan keadaan. Hanya tim bermental baja yang dapat mengejar ketinggalan semacam itu.

Banyak yang bilang laga Swiss versus Swedia paling membosankan di babak 16 besar. Kemenangan Swedia 1-0 lebih karena faktor keberuntungan. Sekadar mengingatkan Swedia itu tim pembunuh berdarah dingin. Italia dan Belanda gagal ke Rusia 2018 antara lain gara-gara dinginnya Swedia mematikan lawan.

Maka Inggris mesti berhati-hati. Salah buka langkah bisa keluar dari gelanggang lebih lekas. Kedua tim akan bertemu di Stadion Samara Arena, Sabtu (7/7/2018) malam. Pelatih Inggris, Gareth Southgate mengakui Swedia merupakan lawan yang berat.

Timnas Inggris punya rekor buruk melawan Swedia. Dari 15 pertemuan, Inggris hanya dua kali menang. Bayangkan tuan dan puan. Itulah sebabnya Southgate sangat menghormati Swedia. "Kami tidak punya rekor bagus melawan mereka. Mereka (Swedia) punya sejumlah pemain bagus dan memiliki cara bermain yang jelas. Sangat susah bermain melawan mereka," katanya seperti dilansir Sky Sports.

***

World Cup Rusia 2018 kini menyisakan tujuh pertandingan lagi sampai 15 Juli. Laga yang akan menguras emosi setidaknya mulai tersaji Jumat malam 6 Juli 2018 ketika babak perempafinal mulai bergulir.

Prancis versus Uruguay, Brasil melawan Belgia, Rusia meladeni Kroasia dan Swedia berjumpa Inggris. Partai paling banyak menyedot penonton sejagat bakal tersaji di Kazan Arena, Jumat malam 6 Juli 2018 atau Sabtu (7/7/2018) dini hari Wita.

Juara dunia lima kali Brasil akan melawan tim bertabur bintang asal Eropa, Belgia. Lagi-lagi sejumlah pengamat bola melukiskan duel ini sebagai final kepagian. Mengingat daftar pemainnya, Belgia memang mendapat catatan spesial.

Di antara kontestan Piala Dunia 2018, Belgia memiliki materi pemain yang sangat hebat. Mulai dari kiper sampai ujung tombak, pemain Belgia berstatus bintang. Di bawah mistar gawang berdiri Thibaut Courtois. Dia dipagari trio pilar lini pertahanan yang solid, Kompany, Jan Vertonghen dan Alderweireld.

Di blok tengah berderet nama besar Kevin De Bruyne, Eden Hazard, Dries Mertens, Axel Witsel sampai Marouane Fellaini yang setiap waktu siap memberikan umpan matang bagi tukang jebol gawang musuh Romelu Lukaku.

Dengan dukungan sumber daya manusia top semacam ini, Belgia siap melukai siapa pun termasuk Brasil yang makin apik kendati Neymar masih saja tergoda untuk cengeng.

Belgia 2018 bisa disebut memiliki generasi emas. Mirip Spanyol 2008 dan 2010. Namun, soal nasib baik lain lagi ceritanya. Delapan tahun terakhir, tak sedikit pemain Belgia yang bersinar di klub terkemuka Eropa tapi prestasi masih menjauh dari mereka.

Empat tahun lalu Belgia bertekuk lutut melawan Argentina pada babak perempat final Piala Dunia Brasil. Dua tahun kemudian di Piala Eropa 2016, Belgia kembali terhenti langkahnya di babak yang sama. Mereka kalah dari Wales.

Piala Dunia 2018 merupakan puncak masa emas Kevin De Bruyne dan rekan. Empat tahun lagi di Qatar mungkin tinggal Romelu Lukaku dan Yannick Carasco yang memperkuat skuat Setan Merah. Artinya, inilah saatnya bagi generasi emas Belgia membuat sejarah.

Namun, di atas kertas Tim Samba pastilah favorit. Makin hari Brasil semakin percaya diri. Setelah bermain 1-1 melawan Swiss, pasukan Selecao tak pernah kebobolan pada tiga laga berikutnya yang berujung kemenangan 2-0 atas Kosta Rika, Serbia, dan terakhir atas Meksiko.

Rakyat Brasil sekarang mulai memuji sentuhan Tite yang juga dijuluki "Profesor" tersebut. Maklum rapor Tite tergolong bagus. Dari 25 pertandingan, Brasil asuhan Tite meraih 20 kemenangan, 4 imbang dan hanya sekali kalah yakni dalam partai persahabatan melawan Argentina setahun yang lalu.

Dari 25 laga tersebut, Neymar dkk hanya kebobolan enam gol. Artinya pertahanan mereka sangat baik. Jadi sungguh sebuah ujian bagi tim bertabur bintang seperti Belgia. Kalau Brasil menang, orang hanya akan berkata ya sudah layak dan sepantasnya. Tapi dunia akan terpukau manakala Belgia masuk semifinal. *

Panggung Para Pemain Muda


Lionel Messi
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

POS-KUPANG.COM - Lionel Messi pulang pada malam Minggu tanpa bintang 30 Juni 2018. Tiga jam berselang koleganya Cristiano Ronaldo pun berkemas kembali ke tanah kelahirannya.

Bukan karena solider atau setia kawan. Dua bintang La Liga Spanyol dengan penggemar hampir sama banyaknya sejagat itu kembali ke kampung karena kalah.

Kapten timnas Argentina Lionel Messi gagal memimpin rekan-rekannya untuk melanjutkan ziarah bola mereka di Rusia 2018. Tim Tango meski menari lebih impresif dan menghibur dibandingkan fase grup, tapi tidak cukup gol untuk bertahan di Piala Dunia 2018.

Argentina menyerah 3-4 melawan juara dunia 1998 Prancis di babak 16 besar. Gol Sergio Aguero sudah terlalu larut malam ketika oksigen waktu sudah menipis. Usai sudah perjuangan Messi dkk. Runner-up World Cup 2014 tersebut harus tinggalkan Moskwa sebelum 15 Juli 2018.


Banyak orang menduga mungkin Portugal yang dimotori Cristiano Ronaldo akan tetap bersinar. Ternyata CR7 senasib sepenanggungan dengan Messi. Portugal setali tiga uang mengikuti jejak Argentina setelah menyerah 1-2 atas Uruguay. Kursi delapan besar pun milik Prancis vs Uruguay.

Tentu ini bukan sekadar soal nasib baik dan buruk sehingga kiprah Messi dan Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2018 berakhir. Dengan jiwa besar mesti diakui bahwa Prancis dan Uruguay lebih rapi, lebih rancak, solid dan efektif bekerja memenangi pertempuran.

Puncak penampilan Messi sesungguhnya pada Piala Dunia di Brasil empat tahun silam. Jika takdir memihaknya seharusnya saat itu Argentina meraih juara dunia. Sayang Tim Tango kurang fokus di laga puncak melawan Jerman.

Setelah gagal 2014, Messi sempat menyatakan pensiun dari timnas. Keputusan yang dia ralat lagi beberapa bulan kemudian. Dia kembali memakai jersey kebanggaan Argentina namun tetap saja tim ini ngos-ngosan untuk sekadar lolos ke Rusia 2018. Jadi kegagalan di Rusia sebenarnya tidak mengejutkan.

Grafik Portugal 2018 pun menurun tajam. Setelah merebut trofi Piala Eropa 2016 dengan menekuk Prancis di final, Cristiano Ronaldo dkk tidak cepat melakukan konsolidasi untuk menaikkan level permainan menuju kelas dunia.

Dalam empat laga di Rusia 2018, penampilan terbaik Portugal hanya saat menahan Spanyol 3-3 pada pertandingan pertama Grup B. Sesudahnya mereka bermain jauh di bawah level semestinya saat menghadapi tim dari dunia ketiga, Iran dan Maroko.

Saat melawan Uruguay yang sedang on fire dan meraih hasil sempurna di fase grup, Portugal nyaris kalah segalanya. Masih untung Uruguay tidak mencetak lebih dari dua gol.

Tim papan atas yang memiliki banyak pemuja di dunia, Spanyol juga kemas barang lebih awal. Terlepas dari cara tim tuan rumah Rusia yang tidak berani main terbuka, bahkan cenderung parkir kapal selam di luar kotak enam belas meter, tetap saja La Furia Roja tidak cukup kreatif demi menghasilkan gol. Bahkan gol mereka pun hasil bunuh diri pemain Rusia.

Melawan Rusia Andres Iniesta dkk hanya berputar-putar di tengah lapangan. Tika taka seolah hanya menghabiskan waktu tanpa sekalipun serius mengancam gawang Rusia.

Dan, kemenangan Kroasia atas Denmark adalah harga yang pantas atas konsistensi mereka. Denmark sudah memberikan perlawanan yang baik. Pertemuan Rusia vs Kroasia di perempatfinal akan menjadi laga yang menarik apabila Rusia berani bermain lebih terbuka.

***

PIALA Dunia 2018 bukan lagi panggungnya Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Masa mereka sudah berlalu. Ini pesan penting dari Rusia bagi dunia.

Tahun ini adalah panggunya para pemain muda. Tiga nama pantas disebut yaitu pemain Prancis, Kylian Mbappe, kapten dan striker Inggris, Harry Kane, dan tukang jebol gawang dari Belgia, Romelu Lukaku.

Mbappe sudah unjuk kemampuan saat Prancis menyingkirkan Argentina di babak 16 besar. Golnya pada laga tersebut membuat Mbape untuk sementara mengoleksi tiga gol, hanya terpaut dua gol di belakang Harry Kane dan satu di belakang Romero Lukaku.

Mbappe yang baru berusia 19 tahun menorehkan prestasi istimewa dalam 60 tahun terakhir. Dia menjadi pemain muda pertama yang mencetak gol dalam pertandingan Piala Dunia sejak bintang Brasil, Pele melakukannya pada usia 17 tahun di Piala Dunia 1958.

Sementara Harry Kane, setelah empat musim beruntun mencetak 20 gol atau lebih di Liga Utama Inggris, kini dia memperlihatkan kemampuannya di panggung sepakbola terbesar sejagat.

Tidak hanya memimpin lini serang Inggris, ia bahkan dipercaya menjadi kapten tim nasional dalam usia masih 24 tahun. Padahal, di tubuh The Three Lions masih banyak pemain yang lebih senior darinya.

Sejauh ini Kane mampu menjalankan kedua peran tersebut secara baik. Selain memimpin daftar top scorer dengan koleksi lima gol, ia juga sukses membawa Inggris ke babak 16 besar. Di fase knock-out Inggris akan menghadapi Kolombia di Spartak Stadium, Selasa malam 3 Juli 2018 atau Rabu (4/7/2018) dini hari Wita.

Menurutnya, menjadi kapten Inggris sejauh ini masih cukup enteng karena mereka bekerja sebagai satu tim yang solid.

"Segala sesuatunya berjalan baik. Cukup mudah bagi saya karena memiliki banyak rekan yang siap membantu. Jika ada sesuatu yang salah, mereka akan dengan senang hati berbicara dengan manager atau dengan siapapun yang mereka butuhkan. Yang terpenting adalah melakukan apa yang seharusnya dilakukan," katanya.

Dalam laga melawan Kolombia, Selasa malam, Kane hampir pasti akan dikepung lini pertahanan Kolombia. "Dengan segala hormat, Harry Kane adalah pemain ikonik bagi Inggris yang mendemonstrasikan kemampuannya. Tapi kami tidak akan menghadapinya seorang diri. Di Inggris ada banyak pemain besar," kata gelandang Kolombia, Carlos Sanchez.

Kolombia sudah menyiapkan bek andalannya, Yerry Mina, untuk menghentikan pergerakan Kane. Bek berusia 23 tahun itu mengaku sudah tahu cara mematikan striker klub Tottenham Hotspur tersebut.

"Kami akan membuat permainan dia berjalan tidak mudah. Saya kira, ini bisa membantu karena Davinson bermain dengannya di Spurs. Dia telah berlatih dengannya setap hari selama setahun terakhir dan itu akan memberi dia pengetahuan ekstra tentang kualitasnya dan cara dia bermain," kata Mina.

Inggris dan Kolombia terakhir kali bertemu di Piala Dunia pada tahun 1998 di Prancis. Saat itu, Inggris menaklukkan Kolombia 2-0 di babak penyisihan grup lewat gol Darren Anderton dan David Beckham.

Inggris pun berharap kemenangan serupa terjadi di laga nanti malam. "Melawan Kolombia adalah partai terbesar Inggris dalam satu dekade terakhir," kata Pelatih Gareth Southgate seperti dikutip The Guardian.

Menurut Southgate, Inggris sedang dalam kondisi yang sangat baik secara fisik maupun mental. Kekalahan dari Belgia di laga terakhir penyisihan grup tak membuat mereka kehilangan semangat juang.

Jika Inggris lolos dari babak 16 besar, mungkin jalannya akan terus menanjak tinggi. Bersama bintang muda Harry Kane yang sedang bersinar, nasib Inggris bisa saja lebih baik daripada edisi Piala Dunia sebelumnya. *
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes