Wartawan yang Mencintai Profesi Lebih dari Segalanya



Valens Doy
Mengenang 5 Tahun Wafat Valens Doy (3 Mei 2005-3 Mei 2010)

Oleh Steve H Prabowo

“Papa … Papa jangan tinggalin Elva!”

Suasana ruang Intensive Care Unit RSUD Sanglah, Denpasar, mencekam. Gadis itu, Elva, putri sulung wartawan senior Valens Goa Doy, memegang tubuh sang ayah. Sementara sang ibu, Ny Elsa Doy, memegang kaki almarhum.

Air matanya jatuh. Ya, malam itu, Selasa, 3 Mei 2005, Oom Valens – begitu ia biasa dipanggil para murid dan anak buahnya – meninggal dunia.

Beberapa saudara, teman-sahabat dan anak didik Oom Valens yang hadir di ruangan itu tepekur.

Sementara dokter dan paramedis mencoba menyelamatkan hidupnya, yang hadir memanjatkan doa berdasarkan agama dan keyakinan masing-masing.


Tampak sejumlah wartawan dan mantan wartawan Kompas, Damyan Godho, Frans Sarong, juga bekas anak didik almarhum di Persda Kompas-Gramedia seperti Victorawan “Itong” Sophiaan, Sri Unggul Azul dan Suwidi Tono.

Hampir satu jam upaya membuat jantung Oom Valens berdetak dilakukan. Namun, tubuh Oom Valens tetap tak bergerak. Pendiri koran-koran daerah milik Kelompok Kompas-Gramedia itu meninggal dunia.

Azul yang satu jam sebelumnya telah mengabarkan kematian Oom Valens lewat pesan teks kepada rekan-rekan lainnya, menghela nafas panjang. “Gua nyesel kirim berita duka duluan,” keluhnya.

Satu jam sebelumnya, kami, saya, Azul dan Itong, masih berada di luar ICU, ketika Frans Sarong mengabarkan Oom Valens meninggal. Azul langsung mengirim berita duka ke beberapa teman. Kami pun bergegas masuk ruangan tempat Oom Valens dirawat.

Ternyata, dokter dan para pembantunya sedang mengupayakan penyelamatan. Pesan teks Azul rupanya menjadi pesan berantai yang akhirnya, entah dari tangan ke berapa, kembali lagi pada pengirimnya.

Di dipan rumah sakit, tubuh Oom Valens membujur dikelilingi keluarga dekatnya, Tante Elsa, Elva dan Alex Doy, juga saudara kandungnya, Tante Waldeet dan Romo Frans Doy Pr. Isak tangis masih terdengar.

***

Mendengar tangisan dan ratapan Elva, ingatan saya kembali ke belasan tahun silam. Tepatnya tahun 1989. Oom Valens yang tengah membuka Harian Surya di Surabaya, lebih banyak tidur di mes kantor Jl Basuki Rachmat ketimbang bersama keluarganya di Jl Tumapel.

Malah, ia lebih suka tidur di ruang lay out, ketimbang di kamar mesnya.
Istrinya, Tante Elsa, setiap hari mengirim makanan ke kantor.

“Gila si Oom itu,” kata Manuel Kaisiepo, redaktur saya, ketika ngopi di kantin Gramedia. “Anaknya sudah lima hari di rumah sakit, dia baru tadi jenguk,” imbuh Manuel.

Hari itu memang hari kelima Elva dirawat di rumah sakit. Baru hari itu pula, Oom Valens menjenguk putri sulungnya.

“Nggak sempat,” kata Oom Valens, tertawa ketika saya tanya. “Mana sempat urus yang begitu-begitu (keluarga, pen), kalau kalian masih bikin berita biasa-biasa saja,” ujarnya.

Bagi Valens waktu itu, keluarga nomor dua. Pekerjaan nomor satu. Tapi itu berubah menjelang akhir hidupnya.

Sekitar seminggu sebelum meninggal, ketika hendak makan malam di rumah makan seafood di Cikini Raya, Oom Valens meminta saya ikut mobilnya, sementara teman lain berangkat duluan. Di mobil ia berpesan: “Keluarga itu yang paling penting. Jangan sia-siakan mereka, jaga mereka.”

Mereka yang mengenal Valens, pasti tidak percaya kalimat itu keluar dari mulutnya.

***

Berita adalah hidup sehari-hari Valens. Hidupnya dari deadline ke deadline. Selesai produksi, waktu itu koran masih sering terlambat, sekitar pukul 01.00 WIB, ia sudah rapat dengan para redaktur dan redaktur pelaksana.

Oom Max Margono, Trias Kuncahyono, dan (pada awal-awal Surya terbit) Oom Peter A Rohi, merupakan teman rapat rutinnya setiap dini hari.

Dalam rapat, ia menyusun penugasan kepada para redaktur dan kepala biro, untuk diteruskan kepada reporter-reporternya di lapangan esok harinya. Penugasannya begitu detil dan jelas.

Usai rapat, biasanya koran sudah terbit. Ia langsung memeriksa semua halaman, tak terlewat satu pun. Mencoret-coret koran dengan pena, baik untuk evaluasi maupun untuk dikembangkan lagi beritanya.

Pekerjaan ini biasanya dilakukan sampai subuh.

Pukul 08.00 WIB, Valens sudah rapi duduk di ruang rapat dengan koran yang sudah dicorat-coret di hampir setiap halamannya. Ia siap memimpin rapat redaksi pagi.
Usai rapat dengan redaksi, ia biasa juga mengadakan rapat dengan tim bisnis yang waktu itu dipimpin Herman Darmo.

Sore ia sudah memimpin rapat budgeting. Kantor yang sejak siang sepi, ramai oleh suara ketukan tuts kibor. Canda dan obrolan wartawan terdengar. Di antara hiruk pikuk itu, yang paling keras adalah suara Valens Doy. Teriakan, teguran, bahkan ketawanya terdengar dari depan sampai mes belakang kantor.

Begitulah kegiatan sehari-hari Valens Doy. Rutin, tapi penuh ketegangan, terutama bagi bawahannya.

“Dia memang kerja seperti kuda,” kata DJ Pamoedji, wartawan senior Kompas, saat menunggu jenazah disemayamkan di ruang duka.

Di proyek Surya, Mas Pam pernah berantem hebat dengan Oom Valens. Gara-garanya, Pamoedji marah diajak rapat pukul 03.00. “Emang semua kaya lu, kerja kaya kuda!” bentak Pamoedji, ketika pintu kamarnya diketuk Valens. “Orang perlu istirahat!”
Mereka bertengkar hebat, sampai-sampai Pamoedji membanting pintu. “Gua pulang (ke Jakarta) besok!” katanya.

Pamoedji benar-benar pulang ke Jakarta hari itu.

Menyadari kehilangan teman kerja yang andal, Valens pun minta maaf dan meminta Pamoedji kembali ke Surabaya, melanjutkan proyek Surya.

Istirahat dan santai adalah dua kata yang mungkin tidak dikenal Valens zaman itu. Bekerja bersama dia, jangan sekali pun berharap bisa bersantai. Ada cerita menarik di proyek penerbitan koran di Ambon, Pos Maluku, tahun 1990.

Suatu hari Sabtu sore (koran tidak terbit hari Minggu), kami – saya, Satrio Hutomo, Muhammad Yamin, dan Adrizon Zubair – berencana santai ke diskotek kota itu. Rencana itu gagal dengan kedatangan Oom Valens ke kantor.

 “Ayo, cicil untuk (terbitan) Senin!” teriaknya ketika kami duduk-duduk di depan kantor. Tommy, panggilan Satrio Hutomo, yang paling kesal. Tak lama kemudian, syukur pada Tuhan … listrik mati!

Si Oom marah besar, memaki-maki PLN karena tulisan dia hilang akibat mati listrik. Tommy menahan tawa, demikian juga Adrizon. Sikap mereka itu membuat saya dan Yamin berpikir bahwa merekalah, atau paling tidak salah satu dari mereka, dalang matinya listrik di kantor Pos Maluku.

***

Bekerja dengan Valens Doy sama artinya dengan menempatkan kantor sebagai rumah pertama, sedangkan tempat tinggal hanya “losmen” tempat berganti baju.

Tanggal 7 Desember 1989 malam, saya bertiga bersama Anwar Hudijono dan Trias Kuncahyono ngobrol-ngobrol sehabis kerja. Salah satu topik obrolan adalah wafatnya KH Ali Maksum hari itu.

Pukul 03.00 dini hari saya pamit. Sesampai di rumah, belum sempat ganti baju, sopir kantor datang. “Mas, dijaluk Oom balik kantor. Nggawa klambi, dikongkon luar kota (Mas, diminta Oom kembali ke kantor. Bawa baju, disuruh ke luar kota),” katanya.

Dini hari itu juga, saya berangkat ke Yogya mengikuti Ano – panggilan Anwar Hudijono – meliput wafatnya KH Ali Maksum. Tentu, dalam hati mengeluh: “Daripada pergi jam segini, kan mending dari tadi. Gak cape.”

Keasyikan ngobrol di kantor kadang ada untungnya. Salah satunya yang dialami Trias Kuncahyono, kini Wapemred Kompas. Hari itu, 26 Desember 1989, sekitar pukul 03.00 WIB, Trias masih berada di mejanya usai ngobrol dengan beberapa reporter dan redaktur.
Entah karena tak bisa tidur, ia iseng-iseng melihat lembaran teleks dari kantor berita. Waktu itu ia memang menangani desk luar negeri.

Tiba-tiba matanya membelalak. Malam hari sebelumnya, ia menulis headline “Ceausescu Ditangkap”. Nicolae Ceausescu memang ditangkap 22 Desember 1989 waktu Bucharest.

Tapi, pagi itu ia menemukan berita pendek, entah dari Reuters atau AFP, diktator Romania itu sudah dieksekusi, 25 Desember 1989 waktu setempat. Langsung ia telepon percetakan untuk stop press. Hari itu, sementara semua koran di Indonesia memasang headline Ceausescu ditangkap, Surya memasang judul “Ceausescu Ditembak”.

Total. Itu kata yang tepat untuk menggambarkan kerja Valens Doy. Ia selalu ingin timnya total bekerja. Awal tahun 1990-an, dan pasti sebelumnya juga, ia dikenal sebagai pribadi yang tanpa kompromi untuk hasil terbaik.

 Seperti yang dilakukannya sendiri, Valens Doy selalu menuntut anak buahnya untuk total dan bekerja keras.

“Kerja keras nggak bikin orang mati,” kalimat itu sering didengar anak didik atau rekan kerjanya.

Tentu bagi yang tidak terbiasa, atau bahkan yang sudah terbiasa sekalipun, bekerja sama dengan Valens Doy kadang merupakan siksaan. Baru datang liputan, sudah disuruh berangkat lagi. Entah untuk melengkapi hasil liputan yang dirasa kurang, atau liputan baru lagi.

***

Bagi yang mengenal dia, Valens Doy adalah sosok tanpa kompromi. Apa yang diinginkan harus terpenuhi. “Tidak ada sesuatu pun yang tidak bisa dikerjakan,” kata Oom Valens, di suatu hari bulan April 2005, saat rehat setelah seharian kami bertiga – Oom Valens, Azul Sjafrie dan saya – berdiskusi membahas konsep koran baru milik Grup MNC, Seputar Indonesia.

Ia lalu bercerita tentang awal-awal proyek Surya. Dari cerita itu, tampak jelas sosok seorang Valens yang penuntut, tanpa kompromi.

Ketika memulai proyek Surya, tutur Valens, ia sudah mensyaratkan adanya percetakan sendiri. Dengan saingan Jawa Pos yang sudah meraja, mustahil menerbitkan koran tanpa percetakan sendiri.

Tidak hanya meminta mesin cetak sendiri, Valens Doy juga menuntut mesin harus sudah siap saat dummy koran. Itu artinya, mesin harus sudah siap cetak tiga bulan dari saat kick off.

Tentu saja para ahli percetakan dari Kelompok Kompas Gramedia langsung menggeleng.
“Tidak mungkin,” kata mereka. Mesinnya saja saat itu masih di Jerman. Perjalanan ke Indonesia butuh lebih dari seminggu. Belum lagi fondasi untuk mesin cetak yang menurut mereka butuh paling cepat dua minggu. Ditambah lagi waktu merakit mesinnya.

Bukan Valens Doy kalau ia menyerah pada argumentasi semacam itu. Ia tetap ngotot mesin harus sudah siap cetak dalam waktu tiga bulan. “Nggak ada mesin, nggak ada koran,” ultimatumnya. Ia benar-benar tidak mau kompromi sedikit pun.

Tim percetakan rapat mencari cara untuk mempersiapkan mesin. Akhirnya ditemukan cara, dengan melakukan semua pekerjaan secara paralel. Baik persiapan mesin, pembuatan fondasi untuk gedung percetakan, sampai perakitan mesin, semua dilakukan bersamaan.
Hasilnya, ketika gedung dan konstruksi untuk mesin selesai, mesin pun tiba di Surabaya, tinggal memasangnya. Semuanya tepat waktu.

“Yang dibutuhkan cuma kemauan berpikir di luar frame,” kata Valens, mengakhiri ceritanya.

Jangan pernah bilang “tidak” di depan Valens Doy. Ia tidak akan mendengarnya. Kata “tidak” mungkin tidak ada dalam perbendaharaan otaknya. Kalimat “Ya, Oom!” biasanya otomatis keluar dari mulut, begitu Valens Doy memberi perintah. Bahkan, seringkali belum habis ucapan Valens, anak buahnya sudah menjawab: “Ya, Oom!”

Tidak bisa adalah kalimat tabu bagi dia. Setelah harian Pos Kupang terbit, saya ditugaskan Valens Doy ke Dili untuk proyek Suara Timor Timur (STT). Oom masih di Kupang ketika saya tiba di Dili. Dia menyusul keesokan harinya. Tiga hari ke depan STT harus sudah terbit.

Tiba di kantor STT saya agak pesimistis. Di kantor cuma ada tiga komputer, dua desktop dan satu laptop milik Oom Valens. “Pasti bisa. Harus bisa,’’ kata si Oom. Dari sisi kesiapan redaksi mungkin tidak masalah, karena sebagian wartawan dan redaktur sudah berpengalaman.

Kebanyakan dari Majalah Dian yang terkenal sebagai tempat belajar wartawan asal NTT. Tapi dari sisi infrastruktur? Bagaimana mungkin tiga komputer, salah satunya untuk layout, bisa mendukung deadline?

Benar. Koran bisa terbit sesuai jadwal, meski deadline molor tiga jam. Pagi itu juga, semua koran yang dicetak habis terjual. Tak satu pun koran masih tersisa di kantor, termasuk untuk dokumentasi ikut dijual juga.

***

Tampang sadis, jiwa romantis. Itu ungkapan saya untuk Valens Doy. Meski tanpa kompromi untuk tugas, ternyata hatinya sangat lembut. Ia mudah tergerak hatinya melihat penderitaan orang lain.

Satu peristiwa yang melekat di ingatan saya tentang hal ini. Tahun 1990, saya diajak Oom Valens ikut serta di proyek penerbitan Tifa Irian di Jayapura, Papua. Seperti biasa, tangan besi dipakai Valens di koran baru ini. Ia tak bisa melihat siang hari wartawan masih di kantor.

“Oom istirahat sebentar ya,” katanya pada saya, sambil naik tangga menuju attic kantor yang sehari-hari dijadikan tempat tidur wartawan Tifa malam hari. Sejenak kemudian saya terkejut oleh suara Oom. “Jam segini belum berangkat?” bentaknya marah. Rupanya di atas masih ada seorang wartawan yang masih “di kamar”.

“Tidak bisa bekerja, Bapa,” kata wartawan itu ketakutan. “Harus cuci baju,” lanjutnya. Alasan itu membuat Valens tambah naik pitam. Alasan yang tak masuk akal, masakan mencuci baju saja harus mengorbankan pekerjaan. Rupanya si wartawan hanya punya sepotong baju yang dicuci seminggu sekali.

Mendengar pengakuan wartawan itu, Oom terdiam. Ia menengok ke arah lain, dan turun. Saya lihat matanya berkaca-kaca. Setelah bisa menguasai diri, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan uang dari dompetnya. “Kau belilah baju,” katanya.

Valens Doy menangis. Mungkin tak banyak orang punya kesempatan istimewa melihat hal itu. Kenangan Oom Valens menangis itulah yang melintas di pikiran saya ketika melihat tubuhnya terbujur diam di RSUD Sanglah, 3 Mei 2005 malam itu.

Isak tangis dan untaian doa masih terdengar. Valens Doy masih dikelilingi dokter dan perawat yang mencopoti alat-alat penyelamatan di tubuhnya. Ia diam, wajahnya tenang seperti sedang tidur. Wartawan yang mencintai profesinya melebihi apa pun itu telah pergi. ***

Sumber: Facebook Steve H Prabowo

Pembeli Pun Bisa Belari-lari

ilustrasi
JUDUL menohok ini langsung menarik perhatian saya ketika memulai aktivitas kerja pagi 1 Juli 2019. Kompas.com menulis demikian, Kejayaan ITC Mangga Dua Mulai Surut, Pembeli Pun Bisa Berlari-lari…

Saat diakses pada pukul 09.05 Wita, artikel ini menempati posisi nomor satu terpopuler, sudah dibaca 122.696 kali. Ya, siapa tidak kenal ITC Mangga Dua? Tempat itu merupakan satu di antara pusat perbelanjaan favorit di Jakarta.

Saya pernah beberapa kali berkunjung ke pusat perbelanjaan tersebut. Koleksi pakaiannya memang sangat beragam dan sesuai selera pasar. Kiranya banyak orang pernah ke sana bukan?

Kompas.com melukiskan lokasi ini dulu merupakan salah satu pasar tersibuk di ibu kota. Pada masa itu, pengunjung yang datang untuk berjalan kaki saja susah, tak hanya pengunjung yang padat, tapi ruang-ruang yang ada juga dimanfaatkan oleh pedagang sehingga hanya tersisa sedikit ruang untuk berjalan kaki.

Namun, kini pemandangan itu sirna. Seperti terlihat pada Minggu 30 Juni 2019, hari yang lazimnya masyarakat berbelanja, ITC Mangga Dua tak lagi seramai dulu. Kesepian sungguh terasa. Banyak ruang kosong. “Pembeli pun bisa berlari-lari,” kata seorang penjual dalam nada berseloroh yang miris.

Mau bilang apa, inilah perubahan yang sedang terjadi. Benarlah apa yang sejak lama diingatkan para pakar bahwa generasi milenial akan merontokkan banyak hal, baik produk, layanan jasa bahkan bidang kerja yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun digeluti manusia. Mereka menyebutnya “millennials kill”.

Anda bisa baca ulasan menarik Andrew Bridgman berjudul The Official Ranking of Everything Millennials Have Killed (http://www.collegehumor.com/post/7045438/millennials-are-bad). Dibeberkan aneka produk dan layanan yang “dibunuh” kaum milenial.

Sebut misalnya bir di urutan ke-5, kartu kredit urutan ke-10, sabun batang 15, department store di urutan 20, TV kabel 21, olahraga golf 23 dan berlian di urutan ke-29.

Sekarang kita mengerti mengapa ITC Mangga cenderung sunyi. Nasib yang mirip pun sudah mendera pusat-pusat perbelanjaan lainnya di tanah air.

Sungguh tak dapat dipungkiri bahwa perilaku dan preferensi kaum milenial berubah drastis dibandingkan dengan generasi sebelumnya seperti Baby Boomers dan Gen-X, sehingga produk dan layanan tertentu tidak relevan lagi bahkan terancam punah.

Setidaknya sejak dua tahun terakhir pengunjung department store di seluruh dunia termasuk di Indonesia seperti Ramayana, Matahari Lotus secara pelan tapi pasti mulai bertumbangan. Jumlahnya tak serimbun masa lalu.

Musababnya adalah milenial yang bergeser perilaku dan preferensinya tadi. Ciri perilaku milenial adalah lebih doyan berbelanja via online dan tak lagi getol berburu barang, mereka justru banyak mengonsumsi pengalaman (leisure).

Anak saya yang berusia 19 tahun, saat mengisi liburan kuliah baru-baru ini minta ongkos bukan untuk belanja barang, makan-makan atau nonton film. Tapi untuk jalan-jalan ke berbagai destinasi menarik di Pulau Timor bersama kawan-kawannya. Mereka memburu spot yang instagramable.

Cuma makan nasi bungkus pun mau. Kulitnya terpanggang matahari bukan masalah besar. Sebelumnya, saat liburan tengah semester dia pun jalan-jalan ke bumi Parahyangan. Begitu ceria dan penuh semangat menjelajahi beragam spot menarik di Jawa Barat.

Jadi kaum milenial tak gandrung amat main ke mal hari-hari belakangan. Kalaupun ke sana mereka toh sekadar cuci mata, nongkrong dan mencari suasana berbeda guna mengusir kejenuhan.

Tak berbeda dengan cabang olahraga golf. Popularitas golf mencemaskan . Sebuah survei menemukan fakta hanya 5 persen kaum milenial yang menekuni golf.

Dalam satu dekade terakhir semakin sedikit penonton yang menyaksikan event golf dunia. Jauh berkurang misalnya jika dibandingkan pada masa keemasan pegolf Amerika Serikat berdarah Thailand, Tiger Woods di era 2000-an.

Dampak kesunyian golf merebak ke mana-mana. Pada tahun 2016 raksasa produsen perlengkapan olahraga Adidas menjual sebagian besar bisnis perlengkapan golfnya karena terus-menerus merugi. Pihak Adidas menyatakan ingin fokus pada bisnis sepatu dan pakaian olahraga saja.

Sebenarnya sejak Agustus 2015, perusahaan asal Jerman tersebut meluncurkan tinjauan bisnis golfnya. Sebagai pemasok perlengkapan golf terbesar dunia, Adidas sungguh merasakan dampak buruk dari makin tidak populernya olahraga elit ini (Kompas.com, 6/5/2016, 15:00).

Perilaku kaum milenial yang unik pun mengguncang dunia kerja. Hari gini jangan lagi tuan dan puan bayangkan mereka mau rutin masuk kantor pukul 08.00 pagi dan pulang ke rumah pukul 17.00. Mereka sungguh tak betah terikat pada sistem semacam itu.

Milenial butuh fleksibilitas dalam bekerja. Dengan kata lain mereka mendambakan bisa bekerja di manapun dan kapan pun demi mencapai kinerja yang dipatok. Survei Deloitte menunjukkan, sebesar 92 persen milenial menempatkan fleksibilitas kerja sebagai prioritas utama.

Anak perempuan senior saya di dunia kewartawanan sudah pindah tempat kerja sebanyak 4 kali dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Apakah karena alasan gaji atau pendapatan? Bukan! Baginya besar kecil gaji itu relatif. Dia pindah karena mendambakan fleksibilitas itu.

Sejak penghujung tahun lalu ia bekerja pada sebuah perusahaan multinasional berbasis di Jakarta yang memenuhi harapannya. Maka dia pun bisa bekerja sambil berlibur ke Eropa  bersama kekasihnya, jalan-jalan ke Labuan Bajo dan keliling Pulau Flores yang indah itu bahkan sempat pula ke Bali. “Saya ini workcation, Om. Bekerja sambil liburan,” katanya bangga.

Artinya bila suatu tempat kerja masih kaku menerapkan gaya bekerja ala generasi Baby Boomers, maka pelan tapi pasti akan kehilangan peminat.

Tentu saja batasan waktu masuk kerja sesuai ketentuan UU ketenagakerjaan dan peraturan internal suatu instansi patut diberlakukan pula.

Namun, mengingat perilaku milenial maka unsur fleksibilitasnya jangan terabaikan. Ini menjadi ujian seni mengelola seorang manajer atau pemimpin unit kerja.

Dalam nada agak menyeramkan, ada yang bilang millennials will kill everything! Kalau demikian, tak ada jalan yang lebih elok selain kita mesti melayaninya dengan bijak.

Darwin sejak abad lalu telah mengingatkan, bukan mereka yang kuat dan hebat yang mampu bertahan hidup. Tapi yang mau beradaptasi dengan tuntutan zamannya. Atau bagaimana menurut tuan dan puan? (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Komang Tastriani Sedih Sekolahnya Ditutup



ilustrasi
Penutupan menjadi pilihan lantaran selama dua tahun terakhir sekolah tersebut minim siswa. Jumlahnya hanya belasan orang.

SEMPAT berjaya pada tahun 1990-an, SMP Taman Pendidikan 45 atau dikenal TP 45 Kayuambua Susut akhirnya ditutup tahun 2019 ini.

Penutupan menjadi pilihan lantaran selama dua tahun terakhir sekolah tersebut minim siswa.  Kesedihan pun melanda para siswa yang pernah belajar di sana.

Saat ditemui Kamis (20/6), Kepala SMP TP 45, Ngakan Putu Alit  membenarkan hal tersebut. Menurut dia, pada tahun ajaran 2018/2019,  sekolah yang dipimpinnya hanya memiliki 11 peserta didik yang terdiri dari 5 siswa dan 6  orang siswi.  Mereka semua sudah lulus tahun ini.


“Saat ini kami sedang mendekor ruangannya untuk acara perpisahan kelulusan. Rencananya, acara ini digelar besok Jumat (hari ini, Red) jam 9.30 Wita,” kata Alit sembari menunjuk ruang kelas dimaksud.

Alit  menceritakan, SMP TP 45  Kayuambua berdiri tahun 1983. Kala itu banyak siswa yang putus sekolah lantaran lokasi SMP cukup jauh. Atas inisiatif perbekel dan tokoh masyarakat setempat, akhirnya dibangun SMP TP 45 yang berlokasi di sisi jalan raya Kayuambua-Kintamani.

“Sejak dibuka, anak-anak sekitar yang telat masuk (putus sekolah) kembali mengenyam pendidikan. Kala itu tidak sedikit dari mereka yang sudah besar, ada pula yang sudah berkumis,” kenangnya.

SMP TP 45 mengalami masa kejayaan pada tahun 1990-an. Sekolah yang memiliki tujuh ruang kelas ini menjadi pilihan  siswa-siswi dari desa sekitar. Bahkan siswa datang dari wilayah Kecamatan Kintamani hingga Kabupaten Gianyar.

Saking banyaknya peminat, lanjut Alit, pada tahun 1993 SMP TP 45 membuka dua shift. “Dulu kebanyakan siswa yang bersekolah di sini dari Desa Tiga dan Desa Penglumbaran, Susut. Beberapa datang dari Tampaksiring serta Desa Sekardadi, Kintamani,” ungkap Alit.

Masa emas sekolah ini mulai menyusut sekitar tahun 2000 bersamaan dengan pembukaan sejumlah sekolah negeri di dekat lokasi SMP TP 45.  Calon siswa lebih memilih sekolah negeri apalagi adanya sistem rayonisasi.

“Kita swasta tidak ada rayonnya. Jadi kita menerima siswa yang tidak dapat di negeri. Terakhir kita menerima siswa baru tahun 2016, dan setelah itu kami tidak mendapatkan siswa baru,” ujarnya.

Diungkapkan pula, SMP TP 45 sebelumnya mempekerjakan 12 tenaga guru terdiri dari 7 orang guru PNS serta 5 orang guru honor. Namun karena jumlah siswa terus menyusut, para guru terpaksa pindah lantaran kekurangan jam mengajar.

“Sekarang tinggal saya di sini. Namun dalam waktu dekat saya juga akan pindah ke SMPN 1 Susut mengajar matematika,” ungkapnya.

Alit mengaku belum bisa memastikan peruntukan sekolah itu setelah ditutup.
“Kami serahkan kepada Yayasan TP 45 anak cabang Kayuambua. Untuk apa rencananya ke depan seperti apa, nanti menunggu hasil rapat,” tandasnya.
Enam orang siswi lulusan SMP TP 45 pada hari itu berada di sekolah. Mereka ikut membantu menyiapkan ruangan yang akan digunakan untuk acara perpisahan.

Ni Komang Tastriani mengungkapkan saat menjadi siswi baru ia hanya memiliki delapan orang kakak kelas. Tastriani mengaku sangat sedih karena almamaternya tidak lagi melaksanakan kegiatan belajar mengajar mulai tahun ini.

Menurutnya banyak kenangan yang tertinggal di sekolah tempatnya menimba ilmu selama tiga tahun. “Harapannya ada murid baru agar tidak ditutup," ungkapnya. (muhammad fredey mercury)

Sumber: Tribun Bali 21 Juni 2019 halaman 1

MK Tolak Seluruh Gugatan Prabowo-Sandiaga


JAKARTA, TRIBUN BALI - Majelis hakim konstitusi menolak seluruh gugatan sengketa hasil Pemilu Presiden 2019 yang diajukan pasangan calon presiden-calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Menurut Mahkamah, permohonan pemohon tidak beralasan menurut hukum. Dengan demikian, pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin akan memimpin Indonesia periode 2019-2024.

Putusan dibacakan Ketua MK Anwar Usman yang memimpin sidang di Gedung MK, Jakarta, Kamis (27/6/2019) malam.

"Dalam pokok permohonan, menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya," ujar Anwar Usman. Sidang dimulai 12.45 WIB dan baru berakhir pukul 21.16 WIB. Pertimbangan putusan dibacakan bergantian oleh delapan hakim konstitusi lainnya.

Saat membuka sidang, Ketua MK Anwar Usman menekankan bahwa putusan tersebut berdasarkan fakta persidangan.


Majelis hakim konstitusi sudah mendengar keterangan saksi dan ahli yang diajukan Prabowo-Sandi, ahli dari KPU serta saksi dan ahli pihak Jokowi-Ma'ruf. Mahkamah juga sudah memeriksa seluruh barang yang dijadikan alat bukti.

Mahkamah sadar bahwa putusan MK tidak akan memuaskan semua pihak. Hanya MK berharap semua pihak tidak menghujat atau menghina pascaputusan.

Dalam pertimbangannya, hakim membacakan pendapat Mahkamah atas masing-masing dalil yang diajukan tim 02. Tim hukum Prabowo-Sandi mengajukan sejumlah dalil yang menurut mereka adalah bukti kecurangan secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM)  oleh Jokowi-Ma'ruf dalam Pilpres 2019.

Seluruhnya ditolak Mahkamah dengan berbagai argumen. Menurut MK, dalil 02 tidak beralasan menurut hukum. Dalam sidang tersebut, hadir tim hukum Prabowo-Sandiaga yang dipimpin Bambang Widjojanto.

Sebagai termohon, seluruh Komisioner KPU hadir didampingi tim hukum yang dipimpin Ali Nurdin. Adapun pihak terkait, hadir 33 pengacara Jokowi-Ma'ruf yang dipimpin Yusril Ihza Mahendra. Hadir pula seluruh komisioner Bawaslu.

Hasil rekapitulasi KPU yang ditetapkan pada Selasa (21/5/2019), suara Jokowi-Ma'ruf unggul atas Prabowo-Sandiaga. Jumlah perolehan suara Jokowi-Ma'ruf mencapai 85.607.362 atau 55,50 persen suara.
Sedangkan perolehan suara Prabowo-Sandi sebanyak 68.650.239 atau 44,50 persen suara.  Selisih suara kedua pasangan mencapai 16.957.123 atau 11 persen suara.

Calon presiden 02 Prabowo Subianto menerima keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak seluruh permohonan yang diajukan Prabowo-Sandi dalam sengketa pilpres.
Meski kecewa, namun Prabowo memastikan dirinya akan patuh terhadap konstitusi.

"Kami menyatakan, kami hormati hasil keputusan MK tersebut. Kami serahkan sepenuhnya kebenaran yg hakiki pada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa," ujar Prabowo dalam jumpa pers di kediamannya, Jalan Kertanegara, Jakarta, Kamis (27/6/2019) malam.

Dalam jumpa pers ini, Prabowo didampingi oleh calon wakil presiden 02 Sandiaga Uno beserta sejumlah petinggi partai koalisi Adil Makmur.

Prabowo menyadari, putusan MK itu telah menimbulkan kekecewaan termasuk di kalangan pendukungnya.

"Walaupun kami mengerti keputusan itu sangat mengecewakan bagi kami, dan para pendukung Prabowo Sandi. Namun sesuai kesepakatan, kami akan tetap patuh dan ikuti jalur konstituisi kita yaitu UUD 1945 dan sistem perundangan yang berlaku," kata Prabowo.

Dia berterima kasih kepada seluruh pendukungnya yang sudah ikhlas mendoakan dan membantunya selama pelaksanaan pemilihan presiden lalu.

DPR Terpilih asal NTT Hasil Pemilu 2019



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes