Tampilkan postingan dengan label Marcel W Gobang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marcel W Gobang. Tampilkan semua postingan

Marcel Gobang: Disiplin dan Tidak Banyak Bicara

Doa untuk Om Marcel Gogang (foto Novemy Leo)
KUPANG, PK -  Delapan hari yang lalu, tepatnya Sabtu (13/6/2015), mantan Pemimpin Redaksi Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang, Marcel Weter  Gobang meninggal dunia di kediamannya di Jakarta. Banyak kenangan serta keutamaan nilai yang ditinggalkan almarhum bagi Pos Kupang.

Pemimpin Umum SKH Pos Kupang, Damyan  Godho bersama seluruh karyawan Pos Kupang menggelar  doa untuk arwah almarhum Marcel  Gobang di ruang rapat redaksi surat kabar ini, Jumat (19/6/2015) sore. Ibadat sabda dipimpin  Diakon Januario Gonzaga, Pr dari Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui Kupang.

Sebelum ibadat sabda, Damyan Godho menyampaikan kesan-kesannya selama bersama almarhum Marcel W Gobang membangun surat kabar yang dicintai masyarakat NTT ini. Menurut Damyan, sebelum ke Kupang Marcel W Gobang bekerja pada Surat Kabar Harian Surya di Surabaya.

Pada tahun 1996, ketika SKH Pos Kupang sedang berusaha mengembangkan usaha,  dirinya mendapat telepon dari pimpinan grup koran daerah Kompas Gramedia di Jakarta tentang rencana kehadiran Marcel W Gobang di Kupang.
"Saya jawab, datang secepatnya. Tahun 1996, Marcel datang ke Kupang," cerita Damyan. "Marcel bersama Pos Kupang kurang lebih selama sembilan tahun. Tahun 2005 dia pensiun dan memilih kembali ke Jakarta," tambah Damyan.

Menurut Damyan, Marcel Weter Gobang sangat memberi warna dalam perjalanan hidup SKH Pos Kupang, khususnya di bidang redaksi. Marcel Gobang pun berperan besar dalam  mendidik wartawan koran harian ini.  "Marcel itu cerdas. Tidak banyak bicara. Dia bicara seperlunya saja. Dia juga disiplin. Dalam keseharian, teman-teman di redaksi Pos Kupang yang pernah bersamanya pasti mengenal betul karakternya," kata Damyan.

Pada Jumat (12/6/2015) pekan lalu, tambah Damyan, tiba-tiba ia dan istrinya mendengar ada suara laki-laki memanggil-manggil di teras rumahnya. Halo-Halo.. Setelah dilihat ternyata tidak ada tamu yang datang. Sapaan itu seperti pertanda. Pada Sabtu siang, Damyan mendapat informasi dari Dion DB Putra bahwa Marcel W Gobang telah meninggal dunia di Jakarta.  "Kita mendoakan semoga almarhum Marcel Gobang mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan," kata Damyan.

Damyan juga menyampaikan permohonan maafnya kepada almarhum Marcel Gobang atas semua kesalahpahaman dan tutur kata yang mungkin membuat almarhum tersinggung atau sakit hati selama kerja di Pos Kupang atau dalam keseharian selama ini.


Kesan mendalam tentang almarhum pun disampaikan  Dion DB Putra. Menurut Dion, Marcel  Gobang adalah sosok pemimpin yang mampu meneguhkan hari wartawan dan seluruh karyawan Pos Kupang saat menghadapi masalah berat.
"Om Marcel katakan, dengan jumlah wartawan empat atau lima orang pun besok Pos Kupang harus tetap terbit. Dia selalu menguatkan kami di saat yang sulit," kata Dion.

Bagi Dion, Marcel  Gobang adalah figur seorang guru. "Om Marcel itu orangnya teliti dan penuh pertimbangan. Almarhum juga memiliki jiwa kebapaan. Kalau hendak menegur atau memarahi bawahan, almarhum biasanya putar-putar dulu. Ya kurang lebih seperti gaya penulisan feature," kata Dion.

Setelah Dion DB Putra, dilanjutkan dengan kesan-kesan dari Plh Pemred Pos Kupang, Benny Dasman, Pemimpin Perusahaan Daud Sutikno, Setya MR, Sekretaris Redaksi, Marsel Ali, Fery Jahang dan Manajer Iklan, Mariana Dohu.
Benny Dasman mengatakan, saat Marcel  Gobang menjadi pemimpin redaksi, ia menjabat manajer produksi surat kabar ini. Suatu saat, ia dimarahi Marcel Gobang karena suatu kesalahan. Ia merasa sakit hati dan sempat tidak masuk kerja selama dua hari. Tapi di luar dugaan, Marcel W Gobang menemui Benny rumahnya dan memberi penjelasan mengapa ia marah dan apa yang ia lakukan sebagai bentuk teguran dari seorang bapak kepada anak atau adiknya.

"Saya sangat tersentuh dengan cara beliau. Besoknya saya langsung masuk kerja kembali," kata Benny. Kesan lain diceritakan Pemimpin Perusahaan Daud Sutikno yang pernah tinggal bersama serumah dengan Marcel Gobang di Kupang. "Om Marcel orang baik," demikian Daud Sutikno. (mar)


Sumber: Pos Kupang edisi Sabtu 20 Juni 2015 halaman 6

Jubah

SUATU hari di bulan Agustus 1971. Saya bersama seorang sepupu saya menunggu opelet (baca: oplet, yaitu sejenis angkutan kota di Jakarta kala iatu yang karoserinya terbuat dari kayu). di Jl. Martaman Raya, Jakarta tak jauh dari kompleks RS St. Carolus. Saat berdiri menunggu, tiba-tiba bus Pelita Mas jaya, yang supirnya dan kondekturnya umumnya didominasi oleh moat-moat dari daerah Sikka, berhenti.

Berhamburan turunlah belasan orang berjubah putih dan beberapa di antara mereka bertopi mirip yang dipakai haji-haji. Tiba-tiba saudari sepupu saya yang baru dua minggu datang dai kampung di Lambaleda, Manggarai, Flores Barat, menyelutuk dengan dialek khas Lambaleda, "Oleee, mai nia mai frater siok ta kaka? Ae, diod frater ce'e Jakarta ho'ok (Hai, kakak, dari mana frater-frater itu? Kok, beda sekali frater di Jakarta ini)."

    Mendengar celetukan spontan sepupu saya itu, saya tidak tahan tertawa geli lalu menjelaskan, "Orang-orang itu bukan frater (calon pastor/imam Katolik). Itu orang-orang Bangladesh atau bisa pula orang-orang Pakistan. Pakaian mereka umumnya memang begitu, mirip jubah yang biasa dipakai frater-frater atau pastor-pastor". Untuk lebih menyakinkan saudari sepupu saya yang masih mirip rusa masuk kampung itu, saya pun melanjutkan, "Frater-frater seperti di Flores itu kan selalu berpenampilan rapi, necis. Rambut tidak acak-acakan, tidak berewokan dengan jenggot lebat, kalau bepergian dengan jubah tapi tidak pakai sandal jepang/jepit seperti orang-orang yang baru turun dari bus itu. Di Flores, frater atau pastor itu kalau pergi ke mana-mana tidak mengenakan jubat tapi pakaian biasa. Meskipun pakai pakaian biasa seperti kita orang awam ini, baisanya merkea lebih tahu diri bila berada di tempat umum. Pokoknya, frater-frater biasanya tidak macam-macam di jalanan atau di mana saja mereka berada, kapan pun mereka beraktivitas dan dengan siapa mereka bergaul"
   
Hal itu jelaskan sebab penampilan orang-orang yang baru turun dari bus itu kelihatan kampungan sekali. Begitu mengingakkan kaki di trotoar, ada yang bercanda dan berjalan sambil mengangkat baji panjangan mirip jubah itu lewat lutut sehingga terlihat jelas paakaian dalammnya yang hanya celana pendek berbentuk segi tiga.

    Dalam kesempatan lain pada tahun-tahun berikutnya, saya sering disuguhi pertanyaan-pertanyaan seputar orang-orang yang mengenakan jubah yaitu biarawan dan biarawati Katolik. Pertanyaan yang mirip diskusi kecil itu datang dari teman-teman mislimin dan milimat baik yang seprofesi dengan saya maupun tidak

    Suatu hari, masih di Jakarta, di bulan Oktober 1984 - di sela-sela meliput suatu kegiatan - seorang wartawati berjilbab dari sebuah media massa cetak yang ktntal dengan warnanya yang dianut rekan wartawati itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang saya nilai sangat mendasar. Rekanita jebolan sebuah pesantren di Jawa Timur ini tahu banyak tentang kehiduap selibat, tetangn kaul yang dijalani biawawn dan biarawatoi Katolik, tentang suster-suster yang ke mana-mana tetap mengenakan jubah sebagian pakaian 'kebesaran' sementara pastor tidak, tentang pengakuan dosa, hubungan antara biarawan dan biarawati dengan berbagai dampak yang mungkin, tentang hubungan antara mereka yang sudah diurapi sebagai imam dengan umat dan warga masyarakat yang lain jenis atau hubungan antara mereka yang sudah berkaul kekal dengan umat dan warga masyarakat lain jenis, serta macam-macam pertanyaan seputar kehidupan biarawan dan biarawati.

    Pertanyaan-pertanyaan itu memang cukup memusingkan saya. Tetapi sebagai warga masyarakat awam yang peduli tentang semua itu, saya punya kewajiban moril menjelaskannya dan merasa wajib 'melindungi' orang-orang pilihan itu. Saya bersyukur bahwa saya juga punya bekal sedikit tentang semua itu sehingga saya bisa menjelaskan kepada rekanita seprofesi saya itu atau yang lainnya.

    Menyangkut kaul, saya menceritakan tahapan-tahapan yang harus dilalui baik oleh calon biarawan maupun calon biarawati. Kaul-kaul itu diantaranya adalah kaul kesucian/kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan. Saya katakan, yang paling berat rata-rata dirasakan tiap calon biarawan/biarawati adalah kaul kesucian/kemurnian. "Kesucian dalam memelihara indera dan seluruh komponen tubuh. Atau dengan kata lain, bagaimana si calon itu mampu mengekang emosi dan nafsu manusiawi, mampu mengendalikan sensor motoriknya. Ini sangat berat sebab ini agak ke laur dari kodrat/naluri kemanusiaannya," kata saya, dengan maksud agar rekanita tadi lebih bisa menerima secara akali. Kemurnian itu, kata saya, sudah mulai dideteksi semenjak calon masuk di sekolah khusus, yaitu seminari untuk calon biarawan.

    Tiba-tiba Reno Aysah, nama awrtawati berjilbab rekan saya asal Blitar, Jawa timur, tadi, menimpal, " Kalau yang calon biarawati itu saya kira mudah dideteksi. Tapi yang laki-laki itu khan sulit dideteksi." Ucapannya itu membuat saya kelinggungan menajwabnya. Sambil menarik napas panjang saya katakan, " Disinilah letak kejujuran orang itu. Selama ditempat persemaian, seminarium, ia harus sudah sadar bahwa ia akan hidup selibat. Karena itu, ia harus jujur terhadap diri sendiri. Jujur terhadap Tuhan, jujur terhadap sesama tidak saja terhadap  kalangannya tapi juga terhadap kalangan lain, warga masyarakat agama lain. Pokoknya, kejujuran itu ia harus jaga sampai ia masuk ke liang lahat."

    Namun, Retno memotong dengan berkata, "bagaimana dengan mereka yang sudah diurapi. Tetapi kemudian ternyata mengingkari kaulnya, khususnya kaul kesucian, dengan melakukan hal-hal yang bahkan lebih 'berani' menyimpang dari norma-norma dan adat kebiasaan masyarakat yang tidak atau jarang dilakukan kaum awam yang soleh atau saleha?"

    Beruntung, pertanyaan Retno ini tidak sempat saya jawab karena suara panitia melalui loud speaker meminta para wartawan berkumpul untuk mengikuti konperensi pers. Bagaimanapun juga, pertanyaan Retno tidak mengada-ada. Pertanyaan itu muncul dari fakta yang fenomenal.    

    Betapapun masuk akalnya penjelasan-penjelasan diatas, penjelasan yang paling masuk akal adalah penjelasan oleh mereka yang menyandang predikat-predikat tadi yaitu, penjelasan yang tidak manipulatif, tapi penjelasan yang sesuai antara pilihan hidup dan pengejawantahan dalam hidup ini. Dan, pertanyaan Retno yang tidak sempat saya jawab, saya pulangkan juga kepada mereka yang menyandang predikat-predikat itu, yang berjubah. (marcel weter gobang)

Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin, 10 Januari 2000 hal 1


Si Bodot

Gus Dur
 "KALAU anda ingin menegakkan negara dalam negara, kita berhadapan. Ini bukan kehendak saya, tetapi kehendak Anda."

    Penegasan bernada ancaman itu disampaikan Presiden Gus Dur sebagai jawaban atas pernyataan salah satu tokoh masyarakat Irian jaya yang mengklaim diri sebagai pemimpin besar Papua. Theys H Eluay. "Keinginan untuk merdeka bukan keinginan segelintir orang, tetapi telah menjadi keinginan seluruh bangsa Papua," kata Theys

    Keinginan untuk merdeka alias membentuk negara sendiri dengan melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah menjadi isu hangat selama beberapa tahun sampai menjelang berakhirnya tahun 1999 lalu. Aceh ingin merdeka, masyarakat di Propinsi Riau juga demikian. Bahkan segelintir orang di Sulawesi Selatan bertekad ingin mendirikan negara sendiri menyukul kekecewaan karena idola mereka tidak terpilih menjadi presiden di negara berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa ini pada Sidang Umum MPR lalu.

    Bersyukurlah, masyarakat NTT tidak atau belum terpengaruh oleh isu-isu seperti itu. Meskipun kecenderungan untuk itu mungkin telah tumbuh pula dalam benak satu dua orang di antara tiga juta lebih penduduk daerah ini yang tidak ingin dinilai ketinggalan kereta. Bagi orang-orang di dalam hati kecilnya sudah mempunyai kecenderungan seperti itu barangkali mereka sedang menunggu momentum yang tepat atau menunggu datangnya dukungan sang provokator dari luar NTT baik yang kelahiran NTT, berdarah keriting NTT atau berdarah lain tetapi sesama bangsa, Bangsa Indonesia. Nah, bila mereka muncul dengan macam-macam argumentasi logsinya, barangkali kita perlu berkepala dingin menanggapinya. Tidak perlu takut dicap adem ayem saja.

    Bersyukur pula bahwa dalam percaturan politik lokal di daerah ini, khususnya dalam suksesi kepemimpinan tingkat kabupaten dibeberapa daerah tingkat dua, kita belum pernah mendengar masyarakat beraksi dengan mengancam membentuk kabupaten sendiri karena calon dari sukunya tidak terpilih sebagai bupati. Dengan demikian, Gubernur NTT tidak perlu mengeluarkan pernyataan berna ancamana sebagaimana diucapkan Presiden Gus ur tehradpa tokoh di IRian Jaya ini.

    Lalu, apa arti semua ini? Barangbali inilah dampak positid dari sisa-sisa keikutsertaan banyak orang NTT dalam penataran P-4 (Pedoman Penghayatan Pengalaman Pancasila) yang tleah ditiadakan dengan dibubarkannya lembaga penyelenggaraan, BP7 (Bdan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila) oleh Pemerintah Transisi pada masa Presiden BJ Habibie

    Kembali kepada cara berpikir sektarian emosional yang menjadi cara, potret birokasi dimana-mana di Indonesia termasuk di NTT, masihkah kita harus berpegang pada konvensi bahwa kalau bupati dari Suku A, maka wakil buapti harus dari suku B dan KEtua DRD II-nya harus dari suku C, mialnay? Masihkah ktia tetap menganut pada kesepakatan kebetulan, bahwa posisi Anu yang kebetulan diduduki si Bodot harus tetap menajdi jatah orang-orang yang berseikatan emosional dengan si Bodot? Masih relevankah ktia harus membentengi posisi kita dngna macam-macam pagar?

    Politik kancil boleh-boleh saja dijalankan asal saja demi kepentingan, keamanan dan kesejateraan seluruh rakyat, seluruh subetnik betapapun kecilnya daerah itu. Dna, yang utama, hasilnya nyata dirasakan rakyat, tidak sekedar lip servoce yaitu slogan demi kepentingan seluruh rakyat tetapi nyatanya  hanya kamuflase bagi kepentingan golongan seikatan emosi

    Mungkin ini baik sebagia renungan, introspeksi dalam mengarungi tahun 2000 ke depan demi menjaga kesatuan, persatuan dengan mulai dari lingkup lokal dan regional sebagia kontribusi terhadap keutuhan bangas dan negara tercinta. Memang, ke depan, bagiamana juga kita lebih menginginkan birokrat-birokrat moderat, demokaratis dan pragmatik. (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin, 3 Januari 2000 hal 1


Peradilan rakyat

PEMERKOSA dibakar massa! Demikian judul salah satu berita dalam sebuah mingguan terbitan ibukota yang rajin mengunjungi pembacanya di Kota Kupang baru-baru ini.

    Peristiwanya terjadi di salah satu desa di Tangerang, Jawa Barat, persis berbatasan dengan kota metropolitan Jakarta. Dua lelaki yang dituduh memperkosa seorang gadis berusia 16 tahun dibakar hidup-hidup oleh massa di halaman kantor desa itu. Ironisnya, pengadilan oleh massa itu justru terjadi ketika kedua tertuduh sedang menyelesaikan kasusnya di hadapan pamong praja, dan berada di bawah pengawalan ketat empat anggota polisi militer. Apakah polisi militer itu sengaja membiarkan massa menghakimi kedua korban? Jelas tidak! Secara naluri, kehadiran aparat keamanan apalagi itu polisinya militer setidak-tidaknya membuat nyali pelaku tindak tidak manusiawi terhadap orang lain ciut. Tapi, surutnya nyali itu mungkin kalau orang-perseorang, ibarat lidi yang tercerai berai dari berkas sapu lidi. Tetapi sebagai sapu lidi, ia kuat, apalagi punya kesamaan emosi terhadap suatu obyek.

    Pengadilan oleh massa atau peradilan rakyat tak terhitungkan lagi terjadi di negeri multietnik dengan kebudayaannya yang spesifik dan unik ini. Pengadilan oleh massa itu bukan baru belakangan ini terjadi, sudah dari dulu kala sejak emosi dan rasio ada pada manusia. Tetapi kenapa justru belakangan ini pengadilan massa semakin manjadi-jadi di negeri ini?

Banyak komentar dan pendapat disampaikan orang-orang dengan latar pandang dan nalar yang berbeda. Tapi intinya cuma satu dan itu sudah jamak diucapkan; tidak percaya kepada aparat penegak hukum. Pernyataan ini tidak mengada-ada alias merekayasa untuk mendiskreditkan aparat. Referensi yang dipegang masyarakat adalah fakta. Padahal aparat sebenarnya tidak tutup mata atau mendiamlan kasus-kasus tindak pidana. Sebab penanganannya melalui proses, dan itu ada prosedurnya, tidak asal tembak alias sembrono. Namun masyarkat menilai cara itu lambat. Bahkan aparat dituduh tidak tanggap. Akibatnya, masyarakat menjadi temperamental, tidak sabaran, ingin segalanya serba instan. Mungkin ini dampak buruk dari budaya mengonsumsi makanan super cepat saji seperti mie instan itu, yang cepat mengembalikan engeri tanpa memperhatikan dari segi gizi perlu diuji ulang.

Soal penangan secara instan pun sesungguhnya sudah diresponsi aparat. Di antaranya apa yang disebut peradilan cepat atau peradilan kilat atas suatu kasus. Namun untuk kasus-kasus istimewa jelas tidak mungkin dilakukan peradilan kilat. Jika pun itu dipaksakan, boleh-boleh saja. Yang penting, te-es-te atau tau sama tau-lah. Yang ini adalah bahasa sandi, tidak perlu dideskripsikan. Ini adalah budaya, budaya yang sudah mengakar, seperti halnya korupsi di negeri ini yang sudah masuk ke dalam khazanah kebudayaan bangsa. Tidak apa-apa walaupun memalukan sekaligus menjijikkan.

Itulah romantika penegakan hukum di negeri ini. Kendati ketidakpercayaan kepada parat penegak hukum sudah kuat melekat di hati dan benak warga masyarakat, tapi masih bersyukur bahwa dalam ketidakpercayaan itu, justru kita masih rajin mendengung-dengungkan: negeri ini adalah negara hukum!

Memang, hukum dan orde itu ada untuk mengatur laku hidup manusia agar tidak sembrawut, tidak homo homini lupus, tidak chaos. Yang menjadi masalah adalah the man behind the law itu, yaitu para bapak/ibu polisi, jaksa, hakim dan pengacara/penasihat hokum. Betul bahwa mereka ini adalah manusia. Dan, sebagai manusia, mereka tidak lepas dari keinginan-keinginan untuk lebih. Ini erat kaitannya dengan nafsu. Tapi, apakah karena paham akan hukum lalu boleh bernafsu-nafsi, raja di mata, suitan di hati dalan mengaplikasikan hukum terhadap para pencari keadilan?

Jangan heran bila reaksi spontan masyarakat terhadap sesama warga masyarakat yang la’a sala (Bajawa: Berzinah, memperkosa dan sejenisnya) atau sejenisnya diwujudkan dalam bentuk ramai-ramai menjadi hakim. Mungkin baik juga pengadilan massa/peradilan rakyat ini tidak hanya menjadi milik orang kecil.  (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 13 Desember 1999 hal 1

Roda itu Berputar

RODA itu berputar. Sebentar di atas, sebentar di tengah, sebentar di bawah. Dalam mengarungi hidup ini, suka dan duka datang silih berganti menghinggapi diri sendiri. Apa pun dan bagaimana pun orang itu. Adalah mustahil bahwa sepanjang hidup seseorang itu tidak pernah mengalami suka atau tidak pernah mengalami duka. Keduanya, suka dan duka, melekat pada diri sendiri. Sebentar dia berada pada bagian yang harus menahan hampir seluruh beban di atasnya - seperti halnya roda -, sebentar dia berada pada sisi yang enteng kendati tetap menanggung beban di atasnya, begitu seterusnya. Begitulah kira-kira siklus hidup manusia.

    Roda itu berputar! Ungkapan pasrah ini biasanya datang dari orang yang tengah dirundung kemalangan. Kemalangan di sini, biasanya, terhadap rasa keadilan. Apa yang ia rasakan sudah menjadi haknya, ternyata tidak ia peroleh. Tetapi sebaliknya, yang merasa bukan haknya, ternyata seakan-akan haknya. Yang disebutkan terakhir ini pun merasa biasa-biasa saja, wajar-wajar saja. Jarang manusia di dunia ini menolak untuk menerima yang bukan haknya. Yang berani melakukan itu hanya pada manusia yang punya nurani. Tapi nurani saja bisa dimanipulasi, dipermainkan. Buktinya? Banyak contoh kasus untuk itu.

    Ketidakadilan adalah drama kehidupan manusia dari hari ke hari, dari saat ke saat. Ketidakadilan justru datang dari sesama manusia. Dan, memang, keadilan pun sangat relatif bagi tiap orang.

    Indonesia saat ini sedang mencoba memutar kembali arah jarum jam. Mulai dari titik awal. Itulah yang coba dilakuan seorang ulama yang kini tengah memimpin bangsa dan negara ini. The right man on the right position coba digelindingkan.

    Begitulah, hukum yang penerapannya sudah sangat semrawut, yang seenak perutnya dimainkan oleh mereka yang menamakan dirinya penegak hukum coba diluruskan. Produk hukum yang dinilai tidak manusiawi coba dibenahi. Benyamin Mangkoedilaga yang oleh publik dikenal sebagai pendekar hukum, coba ditunjuk sebagai ketua Mahkaman Agung. Presiden Gus Dur juga akan membentuk Badan Evaluasi Produk-produk Hukum Nasional. Untuk posisi ini ditunjuk Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, Profesor JE Sahetapy dan mantan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus),  Antonius Suyata.

    Demi keadilan, Presiden Gus Dur juga menunjuk dan mengangkat mantan Direktur Utama PT Telkom, Cacuk Sudarijanto, sebagai Wakil Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

    Nama-nama di atas: Benyamin Mangkoedilaga, Antonius Suyata dan Cacuk Sudarijanto adalah nama-nama yang memiliki catatan reputasi, track record yang tidak diragukan. Cacuk Sudarijanto yang di masa pemerintahan Soeharto dikeranjangsampahkan lalu terlunta-lantung di luar sistem. Sebagai  Jampidsus, Antonius Suyata adalah kerikil dalam sepatu bagi rezim yang berkuasa kala itu. Begitulah, Cacuk Sudarijanto dan Antonius Suyata harus menanggung dosa integritas terhadap penegakan hukum dan keadilan, harus menerima kenyataan, dikeranjangsampahkan. Tetapi itulah, roda itu berputar. Presiden Gus Dur mencoba menempatkan kembali mereka pada tempat yang terhormat.

    Begitulah, pejabat atau mereka yang berada pada posisi strategis dalam pemerintahan atau pengabdian pada publik dan selalu berjalan lurus, taat setia mengikuti aturan, tata tertib, norma dan adat, bebas KKN, tidak saja dimusuhi oleh rekan-rekan sejawat atau di atasnya yang ingin memetik keuntungan pribadi dari posisi seperti itu, tetapi juga oleh keluarga atau sahabat dekat mereka.

    Ucapah "Ah, dia itu mau masuk surga bulat-bulat" atau ungkapan senada tidak jarang datang dari pihak seputar kelaurga, sahabat dekat. Ya, itulah nada ketidakpuasan keluarga, sahabat dekat karena tidak mendapatkan keuntungan dari anggota keluarga/sahabat yang punya kedudukan. Tapi, fakta menunjukkan, tidak sedikit dari orang-orang lurus itu bahagia dalam mengarungi sisa-sisa hidupnya di kemudian hari. Fakta juga menunjukkan sebaliknya, yang jaya, yang menindas karena kuasa yang melekat kala ia berkuasa tapi saat ia menjadi rakyat biasa, ia terpuruk dalam macam-macam penderitaan. Bagi Anda yang menjabat, tinggal pilih mau yang mana. (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 6 Desember 1999 hal 1

Dosa yang membawa nikmat

JEFFREY A WINTERS adalah seorang profesor ekonomi politik pada Northwestern University, AS. Selama lima belas tahun dia  bekerja sebagai konsultan. Indonesia termasuk salah satu negara di antara negara-negara di Asia Tenggara yang dibidik dalam kajian dan penelitiannya. Tulisan-tulisannya berupa kupasan-kupasan politik dan ekonomi tentang Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara itu ia sebarluaskan di berbagai media massa di luar  negeri, dan tentu saja masuk juga ke Indonesia. Maka jadilah santapan rohani bagi para cerdik cendekia negeri ini.

    Oleh beberapa cerdik cendekia negeri ini, tulisan-tulisan dari hasil analisis Jefrrey Winters menyangkut sepak terjang Soeharto selama periode pemerintahannya bersama elit politik yang mengitarinya pada kurun waktu 1993-1998 disusun secara kronologis. Maka jadilah sebuah buku berjudul Dosa-dosa Politik Orde Baru.

    Terserah Anda, apakah yang dilukiskan Jeffrey Winters tentang pelaku berpolitik pada era Soeharto itu disebut dosa atau bukan. Tapi yang jelas, inspirasi yang datang dari judul buku itu sepertinya telah membuat orang-orang belakangan ikut-ikutan kalau tidak disebut latah-latahan. Kekhilafan - mengikuti gaya Orba, ucapan lebih santun untuk ungkapan kesalahan - seorang pejabat disusun dan dijadikan semacam satu litani panjang: Daftar dosa.

    Tersebutlah baru-baru ini di Kabupaten Sikka. Seorang kepala sekolah (Kepsek) diamankan ke bagian administrasi di Kantor Depdikbud setempat. Sanksi pengamanan terhadap diri sang Kepsek konon sebagai sanksi atas dosa-dosa yang dilakukannya. Total dosa yang dilakukannya ada sembilan belas. Rinciannya, sembilan dosa penyelewengan keuangan dan sepuluh dosa nepotisme. Jumlah ini bahkan belum terhitung dosa otoriter sang Kepsek.

    Ya, itulah nikmatnya menyusun daftar dosa orang lain. Sang Kepsek dimutasikan, kolega dan para orangtua murid yang ditinggalkan merasa lega. Entahlah nasib sang Kepsek selanjutnya.

    Itu kejadian di daerah terpencil di Bola, desa selatan di Kabupaten Sikka. Desa yang dikenal memiliki kenangan religi. Yaitu tatkala orang Portugis meninggalkan tanda mata berupa tiang balok berpalang satu sehingga membentuk tanda salib - suatu tanda yang menjadi kiblatnya kaum kristiani - di atas batu karang di pantai laut Bola yang dikenal dengan sebutan Watukrus.

    Daftar dosa seseorang yang ada kaitannya dengan pengabdian kepada publik memang lagi ngetrend. Karena itu, tidak salah kalau kita memakai kesempatan emas ini untuk menyampaikan unek-unek. Tapi unek-unek disertai landasan nalar yang kokoh, bukan seperti kelakuan anak-anak dari Taman Kanak-Kanak (TKK).

    Terhadap Presiden Gus Dur sendiri bahkan orang mulai mengumpulkan 'dosa-dosanya'. Mereka mulai dengan pernyataan-pernyataan yang dinilai kontroversial. Setelah lengser keprabhon seperti halnya Soeharto, mungkin saja orang menyebut 'dosa terbesar' Presiden Gus Dur adalah menyamakan para anggota Dewan terhormat dengan murid-murid Sekolah Taman Kanak-Kanak.

    Kalau Presiden saja orang sudah berani mulai menginventarisasi 'dosa-dosanya', apalagi yang di bawah-bawahnya. Ketua MPR juga sudah diusik-usik. Bila saja Aceh nanti memilih merdeka dan lepas dari negara kesatuan Republik Indonesia, barangkali, 'dosa terbesar' yang dikenakan pada Amien Rais adalah gara-gara gagasan dia membentuk negara federal.

    Ya, memang tak lama setelah Presiden Soeharto lengser keprabhon 21 Mei 1998, masyarakat Indonesia ibarat kuda jantan lepas kandang. Yang dulu tabu, kini tidak ditabukan. Dulu takut terkena petrus (penembak misterius) atau segolongannya karena blak-blakan menyebut dosa-dosa pejabat, kini orang tidak ambil pusing lagi.

    Barangkali ini pertanda baik menuju era buka-bukaan yang sebenarnya tanpa harus adanya rasa risih apalagi dendam. Semuanya untuk kebaikan semua. Bila demikian, pantas kalau kita mengatakan Oh, dosa yang membawa nikmat!

    Maka, bersiap-siaplah Anda untuk menerima daftar dosa dari rakyat Anda, dari anak buah Anda. (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 22 November 1999 hal 1

Orang desa

SETINGGI-TINGGI bangau terbang, ke kubangan/perlimbahan juga ia kembali. Itulah peribahasa yang sering dikenakan kepada orang tidak lupa kampung asalnya dengan segala adanya budaya yang melingkupnya. Sejauh-jauh dia merantau, ke kampung juga ia kembali. Ya, orang yang tahu diri, betapa pun ia telah 'menjadi orang' ia tidak lupa akan kampung halaman tempat ari-arinya ditanam di kala baru keluar dari rahim ibunya. Ia tetap menghargai, menghormati, peduli dan mau dekat denga orang-orang di desanya betapapun mereka kuyu dan dekil. Ia tidak apatis terhadap mereka kendati budaya desa, cara berpikir orang desa yang pernah melekat pada diri seseorang telah terlebur dalam budaya dan cara berpikir baru, tetapi asli desa tidak mungkin terhapuskan dari benaknya.

    Sikap itu biasanya bertolak belakang dengan orang yang mentang-mentang. Mentang-mentang sudah mendapat pendidikan tinggi, mentang-mentang sudah menjadi pejabat ini pejabat itu lalu kampung dengan segala ketertinggalannya bersama sanak keluarga dan masyarakat yang masih berkutat dengan yang itu-itu saja sejak dari dulu, ia lihat dengan sebelah mata. Bahasa yang dipakainya pun bahasa pejabat dengan segala retorika bernuansa manipulatif.

    Salah satu hal yang masih melekat kuat pada orang desa adalah berpikir asosiatif. Bagi etnik atau subetik tertentu di NTT ini misalnya, sinyal yang diberikan alam atau binatang mempunyai makna tertentu. Kupu-kupu masuk ke ruang tamu pada malam hari punya makna tertentu. Misalnya, pertanda bakal kedatangan tamu. Atau kupu-kupu malam hari terbang langsung masuk kamar tidur juga punya arti tertentu, tanda bakal dapat berita sedih. Hal yang sama juga terhadap serangga belalang. Belalang sentadu yang masuk rumah pada malah hari mungkin tidak membawa sinyal apa-apa. Belalang dengan bentuk kaki panjang dan leher jangkung ini dipakai sebagai lelucon. Tetapi kalau malam hari belalang hijau dengan kepala bentuk kerucut masuk rumah bukan pada musimnya, pertanda kurang baik.

    Berpikir asosiatif memang masih monopoli orang-orang desa. Tapi dari contoh di atas, berpikir asosiatif masih berlaku pada orang-orang terpelajar yang rasional.

    Kembali pada belalang. Petani sudah bisa membaca apa yang bakal terjadi seandainya serombongan belalang jenis tertentu menghinggapi tanaman ladangnya. Bagi petugas penyuluhan pertanian (PPL) juga sudah bisa membaca hahaya apa yang akan menimpa petani kalau belalang jenis tertentu itu menumpuk di atas daun-daun tanaman. Petani paham akan bahaya itu karena pengalamannya Sedangkan PPL paham karena referensi ilmu yang pernah diperolehnya dalam pendidikan formal. Dan, untuk bahaya belalang itu, mereka sama-sama peduli.

    Begitulah kira-kira yang terjadi di Sumba Timur. Petani dan orang pertanian berteriak. Sayang, teriakan mereka hanya setengah didengar. Tatkala serangan hama belalang merambah sampai ke rumah-rumah pejabat barulah kepedulian datang. Masyarakat dikerahkan ramai-ramai menangkap belalang. Upahnya, beras.

    Kini, apa jadinya? Kita berkutat seputar diksi lapar dan rawan pangan. Sementara orang desa masuk hutan mencari iwi tetap dianggap budaya. Itulah kepedulian kita terhadap orang desa. Kita yang masih berkutat pada diksi lapar dan rawan pangan, barangkali ada baiknya tidak lupa desa, kampung halaman. Bukankah orang kota bergantung pada orang desa? Apa jadinya orang kota tanpa petani-petani di desa? (marcel weter gobang)

Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 15 November 1999 hal 1

Uang panas

BELAKANGAN ini orang-orang di Kota Kupang atau warga masyarakat di beberapa kota kabupaten, kota kecamatan atau masyarakat yang bermukim tak jauh dari pantai, terasa gerah pada siang atau malam. Apalagi kalau langit terlihat mendung. Gerah yang terasa pada malam hari membuat suasana tidur pun tidak nyaman.

    Gerah atau panas lengas dikenal dalam kamus sehari-hari sebagai tanda hari hendak hujan. Suasana ini biasanya disertai kurangnya hembusan angin. Ini membuat badan berasa panas dan keringatan. Tapi orang yang keringatan karena gerah itu tentu beda dengan orang yang keringatan karena kepedasan makan lombok.

    Dikalangan elit politik saat ini, rasa gerah itu bukan lantaran pertanda hari akan hujan. Tapi, karena perannya di masa lalu mulai dikuak. Tentu saja peran yang merugikan banyak orang. Rasa gerah itu sudah terasa setelah pemilu lalu. Setelah partainya masuk dalam kelompok peraih suara terbanyak, skenario pun diatur. Lalu disusul dengan manuver-manuver. Ya, untuk apa kalau bukan untuk menggolkan calonnya duduk di kursi teratas. Atau bagaimana supaya orang-orang dari partainya lebih khusus lagi dari kliknya dalam partai itu, bisa meraih posisi cukup menentukan. caranya, duit dimainkan atau kerennya, money politics. Duit dari mana? Ya, mencetak uang asli tapi palsu tidak mungkin. Karena itu, pengusaha pun dicecar. Kenapa mereka dicecar? Alasannya mereka itu kan menjadi besar karena telah mendapat semacam konsesi di masa lalu. Jadilah Bank Bali salah satu korbannya. Dirutnya dipenjara sementara yang mencecer tetap leluasa bergerak malah dilantik sebagai pejabat ini pejabat itu, pokoknya mendapat proteksilah.

    Duit dimainkan untuk tujuan apa? Supaya orang-orang dari kliknya itu bisa naik. Dengan naiknya orang-orang yang diperjuangkan itu maka mereka bisa cuci tangan dari permainan kotor yang telah mereka lakukan.

    Pada hari-hari ini, kegerahan sangat mereka rasakan. Apalgi nama-nama mereka ditulis terang-terangan oleh media massa cetak. Bisa dibayangkan, betapa tidak tenangnya hidup mereka. Duduk di kursi mobil mewah tapi pantat terasa panas padahal udara sejuk terpancar terus-menerus dari AC mobil mengenai jidat mereka.

    Ini suatu gelagat baik. Pertanda, orang-orang seperti itu bakal dikikisbersihkan. Benarkah begitu? Mudah-mudahan!

    Di NTT, dalam menangani arus pengungsi dari Timor Timur, tidak sedikit orang bekerja keras membantu karena landasan kasih, karena panggilan nurani yang tulis. Tapi kalau mau jujur, tidak sedikit pula yang bekerja karena pamrih. Mudah-mudahan hasil kerja pembangunan barak-barak pengungsi yang diprotes camat Sulamu di Kabupaten Kupang itu dibangun atas landasan pamrih.

    Orang-orang bijak selalu mengingatkan bahwa para penjudi tidak akan menjadi kaya dari hasil perjudian. Kalaupun menjadi kaya raya, itu pun tidak langgeng, tidak bertahan. Soalnya, orang-orang seperti itu bergelimang di atas uang panas. Sekali dia ambruk, dia akan jatuh melarat tidak kepalang tanggung. Pernyataan itu tidak mengada-ada tapi mengacu pada pengalaman, diangkat dari fakta yang pernah terjadi.

    Uang panas tidak saja didapat melalui permainan judi tetapi melalui cara-cara yang tidak sah, apalagi dari himpitan penderitaan orang lain. Uang panas, kata orang, biasanya tidak membawa berkah. Buktinya? Banyak contoh tentang itu.

    Saat itu, para pengungsi asal Timor Timur yang masih ada di wilayah NTT, khususnya di daratan Pulau Timor bagian barat sangat meraaskan betapa gerahnya tidur berbulan-bulan di bawah tenda terpal plastik atau di bawah naungan pohon atau di barak-barak darurat. Masihkah kita menangguk untung dari keadaan mereka? (marcel weter gobang)

Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 8 November 1999 hal 1

Dekat Tuhan

Marcel W Gobang
SEORANG teman pernah bercerita: Saya pernah menganggur selama hampir empat tahun, tanpa pekerjaan tetap. Padahal beban hidup makin menindih. Anak nomor satu mau masuk TK. Satu sedang dalam kandungan istri. Saya melamar ke sana ke mari, bahkan sampai puluhan lamaran, tetapi tidak berhasil. Meski begitu, saya tetap rajin berdoa, rajik ke gereja.

Namun suatu hari, saya begitu putus asa, saya marah pada Tuhan. Dalam sikap asal-asalan, saya berkata, "kok, teman-teman saya yang tidak pernah ke gerja, hidupnya gampang. Tuhan memberikan mereka kemudahan-kemudahan, pekerjaan bagus dengan penghasilan yang bagus pula. Padahal kualitas teman-teman itu di bawah saya."

    Teman tadi melanjutkan ceritanya: Ya, begitulah saya berdoa kepada Tuhan. Habis, saya sudah hampir putus asa. Bagaimana saya bisa membiayai hidup dan pendidikan anak-anak saya kalau saya tidak mempunyai pekerjaan tetap? Anda kan tahu, kita ini hidup di kota besar (maksudnya, Jakarta). Nah, tiap hari di koran-koran selalu ada iklan lowongan pekerjaan. Sambil memperhatikan salah satu iklan lowongan kerja itu, saya berkata begitu "Tuhan, kalau Engkau tidak ingin keluarga saya menderita, coba tunjukkan bahwa Engkau benar-benar ada. Kalau lamaran ke perusahan dalam iklan ini tetap juga saya tidak berhasil diterima, sudahlah itu berarti Engkau benar-benar tidak ada. Bila itu benar, itu berarti selama ini saya ditipu oleh pastor dan guru agama, juga orang tua saya yang mengatakan bahwa Tuhan itu ada tapi tidak bisa dilihat."

    "Nah, apa yang terjadi?" tanya teman itu. Tanpa menunggu jawaban, teman itu menjawab sendiri, "Tahu, nggak. Saya kirim surat lamaran ke perusahaan tadi. Dua hari kemudian datang surat panggilan minta saya ikut tes. Saya nilai, tes itu hanya formalitas saja. Dua hari kemudian, saya dapat surat panggilan lagi. Isinya, minta saya segera masuk kerja. Nah, sebelum saya berangkat menuju ke kantor perusahaan itu, saya berdoa singkat tapi khusuk. Saya berkata : Tuhan, ternyata Engkau benar-benar ada !

    Di perusahaan itu, karir teman tadi cepat sekali menanjak. Dia juga sangat enjoy dengan pekerjaan itu. Ketika bertemu lagi setelah belasan tahun tidak pernah ada komunikasi, teman tadi ternyata sudah menjadi orang berkecukupan.

    Lalu bagaimana hubungannya dengan Tuhan? "Ya, jujur saja, saya tetap ingat Tuhan meskipun jarang ke gereja. Kalaupun berdoa, tidak sampai dua tiga menit," jawab teman tadi.

***
    CERITA lain, pengalaman seorang wartawan yang dikirim lembagannya untuk meliput jalanannya dan hasil jajak pendapat di Timor Timur bulan Agustus sampai sekitar medio September lalu.

    Ketika hasil jajak pendapat diumumkan 4 September, reaksi ketidakpuasan dan rasa kecewa berat kubu prointegrasi membuat kelompok ini mata gelap. Milisi prointegrasi membuat kelompok ini dibumihanguskan. Penduduk dipaksa dan terpaksa mengungsi. Keselamatan para wartawan pun ikut terancam.

    Meskipun wartawan tadi mengaku bahwa di dalam gedung gereja itu dia dan teman-temannya merasa aman dan ingat kembali Tuhan, lalu bagaimana setelah dia kembali ke tempat asalnya? "Ya, memang kalau lagi terancam bahaya baru kita ingat Tuhan," tutur wartawan itu.

    Tempat pengungsian yang paling dan relatif aman hanyalah markas Korem, Polda dan gereja, tutur teman tadi. "Tapi karena markas Korem dan Polda tepah padat diisi pengungsi, maka saya dan beberapa teman wartaawn lain pun terpaksa mengungsi ke gereja. Berat sebenarnya kami harus mengungsi ke gedung gereja. Soalnya, ternyata tidak cuma saya tidak pernah ke gereja. Teman-teman itu juga ternyata sama dengan saya," tutur wartawan tadi.

    Meskipun wartawan tadi mengaku bahwa  di dalam gedung gereja itu dia dan teman-temannya merasa aman dan ingat kembali Tuhan, lalu bagaimana setelah dia kembali ke tempat asalnya? "Ya, memang kalau lagi terancam bahaya baru kita ingat Tuhan," tutur wartawan itu.

    Hal yang sama dilakukan sebagian warga Muslim Kosovo di Kota Tirana, Albania. Melalui media massa yang merekam sikap hidup mereka, sebagian warga muslim di kota itu baru mencari ketenangan dengan rajin menjalankan shalat lima waktu ketika nyawa mereka terancam peluru. Itu pun ketika menyelamatkan diri dengan mengungsi ke mesjid-mesjid. Namun, ketika ditanya apakah para pengungsi itu beraliran Sunni atau Syiah, salah satu pengungsi mengatakan, "Apa? Kami semuanya Muslim. Semuanya."

    Di Kota Kupang, pada hari Minggu pagi antara jam 06.00 sampai 09.00 jalanan relatif sepi. Bisa dihitung dengan jari angkota dan kendaraan roda dua dan empat lainnya di jalan-jalan. Toko-toko juga baru dibuka di atas jam 11.00 tapi umumnya sore. Asumsi kita, tentu mayoritas warga masyarakat di kota ini ke gereja. Sehingga pantas kalau kota ini disebut kota religius.

    Ya, kita angkat topi atas budaya masyarakat kota yang religius ini. Kita juga angkat topi tanda salut, rajin ke gereja rajin juga memajak angkota, berkelahi antar kelompok lalu merusak rumah-rumah orang yang tidak tahu menahu masalahnya, juga rajin memperdayai gadis-gadis di bawah umur. Siapa? (marcel weter gobang)

Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 1 November 1999 hal 1

Ngambek

NGAMBEK berasal dari atau akar katanya, ambek. Dan, menurut KBBI (kamus besar bahasa Indonesia), kata ini adalah dialek Melayu Jakarta atau Melayu Betawi. Sinonimnya, merajuk. Selain sama, keduanya sedikit beda. Dalam dialek Melayu Betawi, terutama dalam pergaulan sehari-hari, kalau dikatakan, "Dia lagi ngambek", atau "dia ambekan", maka maknanya adalah orang itu agak marah, mudah marah, lekas marah. Sedangkan merajuk, artinya menunjukkan rasa tidak senang. Ini diperlihatkan dalam tingkah laku misalnya berdiam diri, tidak mau bergaul (tentu dengan tampilan wajah yang mendukung perilaku kejiwaan untuk itu dan sifatnya sesaat). Juga berarti, bersungut-sungut atau mengomel.

    Ngambek atau merajuk, melekat dalam kehidupan sehari-hari setiap orang entah itu anak-anak, entah itu orang dewasa, bisa sampai pada kakek-kakek dan nenek-nenek. Karena sifat ini melekat pada setiap individu, maka itu ada pada orang terpelajar dan kurang atau tidak terpelajar. Buktinya, seorang intelektual  yang pernah belajar sembilan tahun di Amerika Serikat (AS)  dan kemudian meraih doktor di negeri Paman Sam iatu baru-baru ini menunjukkan sifat childish-nya, yaitu tatkala idolanya tidak terpilih menjadi raja di negeri yang zaman dahulu kala diproklamirkan sebagai Nusantara melalui Sumpah Palapa-nya Pati Gajahmada dari Kerajaan Majapahit.

    Dalam kehidupan, Anda pasti pernah melakukan itu, sadar atau tidak sadar. Anda sebagai suami, tentu pernah ngambek atau merajuk terhadap istri Anda. Begitu pula sebaliknya. Alasannya bisa saja karena masalah sepele. Wujudnya, bisa halus, bisa pula kasar dan sadis. Misalnya, ada suami yang ngambek, dan itu diperlihatkannya tidak saja dengan kata-kata bernada marah, tapi bisa pula melampiaskan dengan menghancurkan benda-benda yang ada sekelilingnya, seperti piring atau gelas dibanting hingga pecah, nasi atau sayur di piring dan mangkuk ditebar dan ditumpahkan. Anak merajuk atau ngambek pada kedua orangtuanya, sering terjadi. Alasannya juga macam-macam. Bahkan pasti terjadi, ada anak yang ngambek dengan menggancam meninggalkan kedua orangtua (dalam dialek Melayu Betawi atau Jawa disebut minggat) yang menyayanginya. Bisa saja 'ancaman itu datang dari hati kecil si anak sendiri, bisa pula karena 'ditusuk-tusuk' oleh sang kakak dalam keluarga itu yang sudah pintar bikin skenario mengusik orangtua. Dalam hal ini, ada orangtua yang menanggapi serius, ada pula yang tidak menanggapi serius 'ancaman' si anak.

    Di kalangan anak muda (umumnya), terutama kalau lagi kasmaran, dua perilaku itu menjadi biasa (maaf, tidak seperti contoh suami istri itu).

    Nah, itu ngambek dan atau merajuk dalam kehidupan keluarga. Ngambek dan merajuk juga terjadi dalam kehidupan suatu kelurga besar, yaitu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Ya, bukankah keluarga (ayah, ibu, dan anak) itu nukleus, inti terkecil atau tersedikit dari suatu bangsa? Dari inti terkecil ini kemudian berkembang menjadi satu rumpun subetnik. Kumpulan rumpun subetnik-subetnik itu kemudian menjadi satu etnik yang terikat menjadi satu karena berlatar belakang sejarah yang sama atau hampir sama.      Negara Kesatuan Republik Indonesia, kita tahu, memiliki begitu banyak subetnik. Tidak beda dengan keluarga inti, tiap anak dalam keluarga inti memiliki sifat, karakter sendiri-sendiri, demikian pula subetnik dalam keluarga besar bangsa. Kalau dalam keluarga inti ada anak yang ngambek lalu mengancam untuk minggat, dalam keluarga besar bangsa juga demikian, mau berdiri di atas kaki sendiri alias berdikari, melepaskan diri sama sekali dari keluarga inti alias merdeka. Tapi lucunya, perlakuannya tidak beda dengan anak dalam keluarga inti. Mengancam orangtua dengan memanipulasi suara dari anak-anak tetangga terdekat bersekongkol untuk 'minggat'. Benarlah kata para pakar bahwa apa yang tengah terjadi di suatu wilayah di negeri ini tidak lain dari ciri kekanak-kanakan, childish.

    Persis anak kecil dalam keluarga, di belahan lain negeri ini, ada anak yang ngambek, tapi setelah diberi 'permen', bungkamlah dia. Tapi korban ambekan telah terlanjur besar. Lalu bagaimana dengan yang belum diberi 'permen'? Seperti dalam keluarga, kalau ada di antara anak-anak itu yang sudah pintar membuat skenario mengusik orangtua, mungkin anak-anak yang membuat skenario itulah yang perlu dikasih sesuatu. Tapi jangan permen, kasih saja pil kina. Soalnya, seperti dalam dialek Jawa bilang, orang-orang seperti ini tidak ambekparamarta. (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 25 Oktober 1999 hal 1

Muka badak

Marcel W Gobang
DI INDONESIA, badak termasuk binatang langka. Akronim binala. Ini untuk membedakannya dari manula, akronim untuk sebutan manusia langka (bukan manusia usia lanjut). Postur dan bobot badan binala ini bervariasi di belaham bumi ini. Karena bangun tubuhnya agak berbeda, maka nama yang diberikan manusia padanya pun berbeda. Ada yang disebut badak bibir lebar. Binala jenis ini beratnya lebih dari tiga ton. Ada badak India (2,5 ton), badak bibir runting (0,5 ton), badak Jawa (1,5 ton) dan badak Sumatera (0,5 ton). Apakah berbibir lebar atau runcing, semua jenis badak berbibir tebal.
   
Nah, bayangkan kalau Anda diinjak-injak badak. Anda bisa jadi seperti bubur lumpur bercampur bau tahi dan kencing binatang ini. Maklum, setelah membuang hajat, binala ini berkebiasaan menginjak-injak tinjanya sendiri, juga air seninya. Maksudnya, supaya di tanah yang ditapakinya akan tertinggal jejak kakinya sehingga mudah dibaui oleh gerombolannya yang lewat kemudian.

    Selain bobot badanya mencapai tiga ton lebih, binatang ini memiliki semacam tanduk yang disebut cula. Tapi, tempat tumbuh cula ini beda dengan tempat tumbuhnya tanduk pada binatang mamalia atau binatang berkuku lainnya seperti sapi, kambing, kerbau atau rusa. Tanduk sapi,misalnya tumbuh di bagian atas jidat. Sedangkan cula badak tumbuh di atas tulang-tulang hidung. Kalau sapi, kambing atau kerbau biasanya bertanduk dua, tapi binatang ini ada yang bercula dua, dan ada yang bercula satu.

    Keunikan lain, binatang ini memiliki kulit yang tebal. Bahkan ada jenis yang kulitnya berbentuk lempengan-lempengan seperti lapisan baja dengan lipatan-kipatan di antaranya sebagai sendi yang dapat digerakkan. Kulit yang berlipat-lipat ini mirip dengan baju baja serdadu Romawi zaman baheula. Hampir semua jenis badak berkulit tanpa bulu. Karena itu, kulit binatang ini terlihat mengkilap seperti diamplas bila terkena sinar, ya seperti kulit kerbau.

    Bila kita lagi nasib baik saat ke cagar alam di Ujungkulon, Jawa Barat, bisa menyaksikan betapa mengerikan melihat tampang bintang yang satu ini. Bulu roma bisa langsung tegak melihat tampangnya yang tidak karuan dengan lubang hidung yang besar, mata lebar, dsb.

    Karena keunikannya itu disertai populasinya yang semakin kurang, maka binatang ini dimasukkan dalam kategori binatang langka (binala). Karena itu pula, dia harus dilindungi agar tidak punah. Maka ditempatkanlah mereka di cagar alam seperti di Ujungkulon itu.

***

    MUNGKIN karena bangun tubuh dan kulitnya yang unik itu maka nama binala yang satu ini dimasukkan ke dalam khazanah kiasan terhadap manusia. Ya, seperti binatang kancil diibaratkan kepada manusia yang lincah bersilat lidah, misalnya. Karena itu, terdengar dan kesohor pula sebutan muka badak. Tapi di NTT, orang mengenal dengan sebutan muka kerbau.

    Ihwal manusia muka badak ini sesungguhnya ada di mana-mana, manusia di seputar lingkungan kita. Kiasan muka badak atau muka kerbau atau kemiripannya ada dalam bahasa di tiap etnik, termasuk NTT. Kalau tidak salah, di Ngada, ada kata nozo, Di wilayah tertentu di Manggarai, ada kata lami. Makna kedua katakias ini hampir sama. Yaitu, semacam tamu tidak diundang. Datang ke rumah tetangga yang mengadakan hajatan. Dengan berpura-pura ngobrol sana ngobrol sini tanpa ujung pangkal sampai berjam-jam, tapi sasaran tembaknya, tunggu makan enak di rumah tetangga.

    Di tingkat manusia elit pun manusia-manusia muka badak itu bergentayangan. Mungkin pula merupakan semacam konvensi bahwa ditingkat elit memang harus ada manusia-manusia seperti itu. Dan, orang-orang oportunistik yang kebetulan punya otoritas biasanya sangat berterima kasih atas kehadiran muka-muka badak itu. Keberadaan orang-orang bermuka badak itu dimanfaatkan untuk mencapai sasaran tertentu apakah sasaran politis atau ekonomis. Karena itulah mereka dipelihara, ya, diperlakukan seperti binala itu, mendapat azilum. Seperti halnya binatang badak yang karena postur badannya yang kasar dan berkulit tebal sehingga bisa menerobos hutan berduri, naik tanjakan atau turuni tebing curam tetapi nyawanya tetap selamat, demikian pula orang-orang oportunistik yang dilekati otoritas memanfaatkan manusia-manusia atau elit-elit beratribut muka badak itu.

    Kata kias muka badak itu pun ada pada manusia-manusia ambisius. Biar dicerca terang-terangan dan habis-habisan tapi dia tidak ambil pusing. Dan, banyak orang, kita di bumi Indonesia ini sudah menjadi korban orang-orang bermuka badak ini. Kita 'diinjak-injak tapi kita tak berdaya. Maklum, 'bobot badak' itu lebih dari setengah ton. (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 18 Oktober 1999 hal 1

Nyanyian sunyi DPR

ilustrasi
HEBAT! Komisi VIII DPR RI pantas diacungi jempol. Lebih-lebih sebut saja Ichsanudddin Noorsy, Eki Syahruddin, Tayo Tarmadi (ketua Komisi) dan Thomas Suyatno. Tentu saja tanpa mengecilkan peran para anggota komisi VIII lainnya dalam kasus Bank Bali, mereka benar-benar telah melaksanakan salah satu fungsi DPR: Kontrol.

    Seperti pekerjaan seorang wartawan, melakukan konfirmasi tidak langsung dalam artian melalui digging out tanpa menyebut-nyebut nama orang atau angka rupiah manipulatif tapi dengan terus mencercar dan menunggu sampai akhirnya (karena terperangkap) narasumber menyebut sendiri, demikianlah yang dilakukan para anggota Dewan di Komisi VIII DPR RI terhadap Menkeu Bambang Subianto

    Memang menggali suatu yang 'sangat rahasia' dari seseorang, untuk pekerjaan yang satu ini sama baik bagi seorang polisi menyelidik, wartawan maupun bagi anggota Dewan. Dan, bagi ketiganya, perlu ketelatenan. Emosi boleh naik, tapi nalar tetap dijaga. Karena yang terpenting adalah fokus, tidak terkecoh penjelasan atau jawaban yang berputar-putar yang tanpa disadari terjadinya bias.

Ya, mirip-mirip interogasi terhadap calon pesakitan di kepolisian atau kejaksaan, tetapi taktis diplomatis (maklum politikus), para anggota Komisi VIII DPR akhirnya 'bisa' 'memaksa' Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Subianto, 'bernyanyi'. Meskipun alot dan berputar-putar, tapi pada akhirnya meluncurlah nama pejabat tinggi (Baramuli) yang menekan Menkeu dalam upayanya meresktrukrisasi aset nasional bernilai triliun rupiah.

    Begitu nama-yang memang ditunggu-tunggu para anggota Dewan-pejabat tinggi itu disebut Bambang Subianto, serentak pula tepukan tangan para anggota Dewan dan para hadirin lain menggemuruhi ruang rapat kerja Komisi VIII dengan Menkeu cs, hari Senin tanggal 13 September lalu.

    Sadar telah terperangkap, Menkeu Bambang Subianto pun menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menarik napas panjang di tengah gemuruhnya tepukan tangan. Rupanya, melihat bosnya terhentak karena terperangkap, Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Glenn MS Yusuf, yang duduk disampingnya langsung menepuk-nepuk punggung Bambang Subianto. Tepukan punggung berbahasa sandi ini bisa bermakna penguatan batin terhadap Bambang, bisa sebagai tanda salut atas keberanian tanpa tedeng aling-aling menyebut nama pejabat tinggi itu, bisa pula sebagai tanda dukungan penuh Glenn MS Yusuf berdiri kokoh di belakang Subianto untuk mengungkap borok-borok dan kebrengsekan yang dilakukan para pejabat di lapisan-lapisan atas.

    Bersyukurlah Bambang Subianto karena apa yang dilakukannya itu terjadi pada era reformasi. Buktinya, sampai hari ini dia belum diapa-apakan. Kenyataan ini pun mematahkan isu-isu penggantiannya. Namun demikian, teror mental dan fisik mulai menghantui. Bersyukurlah pula anggota Dewan di Komisi VIII, karena mereka juga belum diapa-apakah  atas 'perbuatan tidak etis' yang telah mereka lakukan.

    Kita pun bangga telah terjadinya transparansi, tidak adanya rasa takut menyebut nama pejabat tinggi yang terlihat dalam skandal yang merugikan bangsa dan negara. Tapi, bukankah ini hanya sorak sorai, euforia sesaat? Toh sebentar lagi orang-orang di Komisi VIII itu diganti? Toh masih ada dan bakal diadakan isu-usi lain sehingga menenggelamkan isu-isu aktual saat ini dan isu besar lain sebelumnya?
Maka sunyi senyaplah kasus Bank Bali, dan bersorak gempitalah yang pernah dipermalukan. Lalu ke depannya bangsa ini? walahualam! Ya, pejabat sudah bernyanyi tentang pejabat. Nyanyian DPR pun telah dilantunkan. Tetapi apakah nyanyian itu bukan sekadar nyanyian sunyi? (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang, Senin 20 September 1999 hal 1

Rosario 'Megawati’

SEMBARI mencium seorang ibu yang tak dikenalnya, Megawati Soekarnoputri diam-diam menyerahkan sesuatu dari genggamannya. Tak disangka kalau yang diserahkan Megawati itu adalah seutas rosario berwarna putih. Sang ibu yang kemudian diketahui bernama ... Lu Karmo (55) itu adalah salah seorang di antara sekian ratus pengungsi asal Dili, Timor Timur. Si ibu yang tak mengira akan mendapat oleh-oleh itu langsung meneteskan air mata haru sambil melepas kepergian Mbak Mega untuk menemui pengungsi lainnya.

"Drama" singkat yang berlangsung cepat itu  disaksikan hanya oleh sedikit pasang mata. 'Aksi' Megawati itu terjadi di tengah kerumunan pengungsi asal Timor Timur di lokasi penampungan pengungsi di Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang pekan lalu.

Bagi umat Katolik Roma, rosario identik dengan penghormatan kepada Bunda Maria, Bunda Yesus, Isa Almasih. Dan, kunjungan Megawati itu terjadi pada tanggal 9 September. Atau sehari setelah tanggal 8 September yang menurut almanak Gereja Katolik, tanggal itu dalam tahun, adalah tanggal bagi Bunda Maria. Umat Katolik Roma sedunia memperingati hari itu sebagai Hari Kelahiran Bunda Mari. Dan, bulan Oktober dalam tahun oleh Gereja Katolik Roma dijadikan bulan khusus sebagai Bulan Maria. Ini ditandai dengan kebaktian khusus sebagai Bulan Maria. Ini ditandai dengan kebaktian khsusus kepada Bunda Maria melalui doa rosario yang dilakukan tiap hari dalam bulan tersebut. Dan, hari terakhir dalam bulan itu, tanggal 31 Oktober, oleh Gereja Katolik Roma dibaptis lagi sebagai hari Bunda Maria yaitu untuk memperingati Bunda Maria sebagai Ratu Semesta Alam, salah satu dari sekian banyak gelar yang diberikan Gereja Katolik Roma kepada Bunda Maria.

    Bagi umat Katolik Timtim, Bunda Maria mendapat tempat sangat khusus. Devosi mereka kepada Bunda Maria sangat tinggi. Kalau Anda pernah datang ke Timtim sebelum jajak pendapat lalu, Anda bisa saksikan adanya patung atau gua Maria di rumah atau sekitar rumah sebagian penduduk.

Saya teringat, apa yang dilakukan Megawati mirip dengan apa yang dilakukan pastor-pastor misionaris dari Belanda dulu. Saya teringat, sewaktu kecil, pastor misionaris itu suka membagi-bagikan skapulir (semacam asesori dari logam atau kain bergambar para kudus dengan gantungan bulat kecil untuk dikalungkan di leher) atau juga rosario. Skapulir umumnya diberikankeapda anak-anak sedangkan rosario kepada orang dewasa. Karena adanya kebiasaan seperti itu, maka biasanya pula anak-anak kalau datang kepada pastor suka minta bernika (skapulir).
Mereka tidak minta barang-barang lain. Tapi kebiasaan anak-anak minta bernika tadi beralih kepada minta bolo. Tapi minta bolo ini hanya berlaku di daerah Sikka, sekitar Ledalero-Ritapiret di Flores.
Selain membagi-bagi bernika, sebelum berangkat menuju tanah misi pastor-pastor misionaris itu terlebih dahulu mempelajari budaya, bahasa, tradisi dan adat istiadat masyarakat yang bakal didatangi. Cara itu membuat mereka mudah beradaptasi dan cepat  diterima masyarakat.

Apa yang dilakukan pastor-pastor tadi tentu punya nuansa lain dengan apa yang dilakukan Megawati. Kendati demikian, esensinya sama, pendekatan budaya. Dengan menyerahkan seutas rosario bertasbih putih, itu menunjukkan betapa Megawati memahami betul budaya, tradisi keimanan yang melekat kuat pada orang Timtim. Dia datang ke tengah para pengungsi tidak membawa dan membagi-bagikan uang atau materi jasmani langsung kepada mereka seperti yang pernah dilakukan orang-orang tertentu menjelang kampanye Pemilu lalu di NTT. Meski demikian, Megawati juga tahu betul kebutuhan jasmani para pengungsi (pada hari yang sama, sebelum menemui para pengungsi, Megawati menyerahkan bantuan untuk para pengungsi berupa uang tunai senilai Rp 100 juta, dll lewat Pemda NTT)

Ya, kalau Anda ingin kedamaian, ingin persahabatan sejati, ingin 'menaklukkan' orang lain Anda hendaknya tidak membawa pedang, tidak pula dengan menunjukkan rasa superior sebagaimana orang Romawi dulu kala berkata: Si vis pacem, para bellum! tetapi datang dengan membawa 'hati' pendekatan budaya, Ya Megawati 'merebut hati' dengan hati dan empati.

Mengenal dan menghargai budaya setempat itu sering didenggung-denggungkan dan diharapkan banyak orang ketika kita pertama kali mengingak kaki dan menerima saudara-saudara kita di Timor Timur seperempat abad lalu. Tetapi ketika itu kenyatannya lain. Lalu apa jadinya? (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang, Senin 13 September 1999 hal 1

Lidah

Marcel W Gobang
SEORANG teman bercerita, ketika dia menimba ilmu dengan tinggal di asrama, pokoknya kalau dia jatuh sakit, obat satu-satunya yang bisa memupuskan segala rasa sakitnya adalah menu lidah. Tapi bukan sembarang lidah, kata teman itu. Lidah erwe, katanya. Cerita soal lidah erwe ini, diulang-ulang teman tadi pada kesempatan santai, sewaktu sama-sama di asrama. Sengaja itu dilakukannya agar teman-teman lain yang belum pernah merasakan seperti apa sih rasanya daging yang beratnya hanya beberapa ons itu kalau disantap. Belum lagi bumbu-bumbu cerita seputar lidah erwe itu. Katanya biar sajian lidah sepotong, tapi kalau hidangan itu dinikmati rame-rame dengan duduk melingkari sambil ngobrol ditemani moke, maka menu lidah sepotong itu bagaikan sepiring penuh.

Ambil sepotong kecil, diolesi pada lombok ulekan garam dan siraman air jeruk nipis, dimasukkan ke mulut, dikunyah pelan-pelan sambil sedikit-sedikit menelan sari kunyahannya baru kemudian didorong dengan setengah gelas moke. Itu sebabnya terasa seakan menu lidah sepotong itu sepertinya tak habis-habisnya, kata teman tadi.

    Cerita tentang sepotong daging lidah sebagai hidangan lezat, bisa panjang. Mulai dari bagaimana dia diolah dan diramu lalu dihidangkan sehingga menjadi sajian sedap yang sangat diminati kalangan tertentu. Banyak cara mengolahnya. Nama menu yang satu ini pun beda-beda. Ada yang menyebutnya semur lidah, dan sebagainya.

    Lidah, bagi manusia dan binatang, sangat penting. Tidak usah kita tanya pada binatang seperti kerbau atau sapi bagaimana manfaat lidah itu pada diri mereka. Bagi manusia, kita bisa bercerita banyak dan panjang lebar tentang peranan lidah itu.

    Bagi manusia, lidah tak terpisahkan dari bibir, gigi dan langit-langit mulut. Bila dihitung-hiatung, di antara bibir, gigi dan langit-langit mulut, lidah barangkali punya peran dan manfaat jauh lebih tinggi. Peran lebih yang kedua ada pada bibir. Anda bisa rasakan sendiri. Anda tidak akan bisa berkomunikasi, berbicara dengan menggunakan bibir. Tapi toh tetap tidak sempurna.

    Itu manfaat lidah dan bibir untuk berkomunikasi, untuk berbahasa, berbicara dengan sesama. Memang, dalam berbahasa, khususnya bahasa sandi, mungkin bibir lebih berperan banyak dan bermakna tinggi. Apalagi bila bagian wajah seperti mimikan mata, kelopak mata dan kening ikut menunjang. Ya, barangkali Anda masih ingat lagunya Bimbo? "... dalam bercinta, bibir pegang peranan...!"

    Barangkali karena peran lidah itu jauh lebih dominan dibanding yang lainnya dalam komunikasi, dalam bercakap-cakap, maka orang-orang bijak selalu mengingatkan: jagalah lidahmu! Memang, peran lidah bisa positip, bisa pula sebaliknya. Terhadap peran negatipnya, timbullah kiasan-kiasan: lidah tak bertulang! Lidahnya tidak bisa dipegang, dan sebagainya.

    Ya, karena lidah, pamor seseorang bisa naik, bisa jatuh terhempas, bisa kehilangan muka di hadapan publik, bisa stres, dan sebagainya.

    Anda barangkali masih ingat. Seorang pejabat tingkat nasional dikritik dan dikecam habis-habisan karena lidah. Di tingkat regional NTT, Anda juga barangkali masih ingat. Seorang juru kampanye dari satu organisasi peserta Pemilu dikritik, tapi kemudian orang lain di organisasinya mengklarifikasi dengan memverifikasinya sebagai hanya keseleo lidah.

    Pada masa Orde Baru, para elite politik, para penguasa memanfaatkan benar peran lidah ini. Pengamat Sastra dan Bahasa dari Universitas Jember (Unej), Prof. Dra. Sri Surani,M.S, suatu ketika mengatakan, gerakan reformasi tidak hanya ditimbulkan karena ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah Orde Baru, tetapi juga disebabkan oleh adanya penyelewengan makna unsur bahasa yang dilakukan elite pemerintahan untuk menutupi kekurangannya. Menjelang berakhirnya Orde Baru, elit pemerintah semakin jauh menyelewengkan makna unsur bahasa dengan kata-kata dan ungkapan halus bernada positif, katanya.

    Sebaliknya, masyarakat yang tidak puas terhadap realitas produk elite politik dan penguasa Orde Baru, melakukan kontrol sosial dengan bahasa plesetan. Pleset lidah, bukan keseleo lidah, tampaknya merupakan senjata yang ampuh dan aman di masa Orde Baru.    Itulah peran lidah. (marcel weter gobang)

Sumber: SKH Pos Kupang, Senin 16 Agustus 1999 hal 1

Lombok

KETIKA kecil, saya teringat orang-orang tua di kampung mengajarkan: kalau mau supaya anjing piaraan di rumah itu galak, berani, campurlah makanannya dengan lombok. Atau supaya anjing itu galak sehingga mampu merobek-robek mangsa jika berburu di hutan, sering-seringlah kasih makan kalajengking atau tawon, dan jangan lupa kombinasikan juga dengan lombok.

    Itu teori orang-orang di kampung. Resep membikin anjing galak dan setia menjaga rumah atau cekatan dalam berburu rusa atau babi hutan tentu beda-beda pada tiap etnik yang ada di NTT. Teori atau lebih tepat disebut resep ini tentu tidak pas kalau diaplikasikan pada manusia.

    Tetapi lombok atau sebutan lainnya cabai atau cabe atau di Kupang orang bilang kurus, justru sangat dibutuhkan dalam hidangan ibu rumah tangga pada hampir setiap keluarga. Biar macam-macam bumbu sudah masuk, tapi menu akan terasa hampar tanpa kehadiran barang satu ini, yang telah diolah menjadi sambal. Ia menjadi kebutuhan utama tiap kali makan. Bagi orang-orang tertentu, sambal malah dikesampingkan, lebih suka kehadiran lombok segar. Memang, biar makanan sederhana tapi sering kurang mengandung gizi, apa yang ada bisa dilahap habis asalkan ditemani sambal atau lombok.

    Saya juga teringat ketika hidup di asrama di tahun 1960-an. Dibandingkan dengan teman-teman yang juga tinggal di asrama untuk menimba ilmu, saat itu, asrama kami relatif jauh lebih unggul. Hanya pada saat-saat tertentu, terutama pada tahun-tahun para petani mengalami paceklik. Sajian menu dalam asrama pun ikut paceklik. Makan nasi dibatasi. Pagi dan malam makan  jagung bombo. Siang makan nasi. Lauknya, juga sangat sederhana. Sayur daun kupang (yang di Kupang orang bilang ginseng putih) menjadi sajian rutin. Tapi, terasa lezat dan membikin nafsu makan menjadi-jadi karena sayur daun kupang dibumbui lombok dan ditambah celupan kepala ikan asin. tidak nampak ikannya tapi hanya aromanya. Sedap juga. Nah, pada saat makan jagung bombo itulah sangat dirasakan perlunya sambal lombok pedas. Mungkin berkat jagung bombo dengan sambal lombok seadanya itulah banyak alumni asrama itu kemudian mampu mandiri dengan aneka profesi yang cukup terhormat dan membanggakan. Kalau tidak percaya, tanya saja sama Bupati Manggarai yang sekarang, antara lain. Untuk itu, terima kasih kepada para pengasuh asrama, terutama Pater Leo Perik, SVD dan almarhum Bruder Arnoldus, SVD.

    Lombok sebagai penyedap saat santapan keluarga atau saat santapan di mana saja, sangat dicari-cari. Tidak heran kalau ada keluarga yang memanfaatkan pekarangan rumahnya dengan aneka tanaman konsumtif. Dan, tanaman lombok ada di antara tanaman lain itu. Yang pekarangannya tidak luas, cukup tanam di polybag atau di pot-pot bertanah sedikit pun jadilah. Sehingga saat santap siang tinggal comot beberapa buah langsung dari batang pohonnya.

    Lombok atau cabe memang dicari-cari karena digemari. Di media massa cetak, diceritakan harga cabe naik terus. Dalam bulan Juli ini harganya di atas Rp 25.000,00 perkilogram. Diberitakan, di Kotamadya Jambi, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kota itu, terpaksa didatangkan cabe dari propinsi tetangga yaitu dari Propinsi Bengkulu dan Sumatera Barat.

    Berita lain menyebutkan, para pedagang pengumpul lombok di Sulawesi Tengah setiap hari mengantarpulaukan puluhan ton cabe ke berbagai kota di Pulau Kalimantan dan Jawa. Di Sulawesi Tengah mereka beli dengan harga Rp 5.000,00/kg. Di kota-kota di Jawa mereka jual Rp 25.000,00/kg. Di Samarinda dan Balikpapan mereka jual dengan harga Rp 45.000,00/kg.

    Di Kupang, saat ini, cabe susah didapat, padahal orang NTT terkenal doyan cabe. Kalaupun ada, penjualannya tak seberapa. Hari Sabtu lalu (24/7), di Pasar Seribu, harga satu kumpul (sekitar belasan buah) Rp 500,00. Hanya satu kios yang menjualnya. Itu pun hanya tiga kumpul.

    Di Jambi, Dinas Pertanian setempat menggalakkan penanaman cabe kepada para petani. Untuk musim tanam tahun 1999, lahan seluas 495 hektar dibuka untuk cabe. Kantor Departemen Koperasi dan PPK setempat ikut membantu. Juga bank-bank. Dana sebesar Rp 208,74 juta sudah dicairkan lewat unit usaha koperasi.

    Di NTT? Kita bangga, komoditi cabe lebih banyak diantarkeluargakan. Yang lebih banyak diantarpulaukan justru paket-paket kredit, termasuk paket kredit untuk cabe. (marcel weter gobang).


Sumber: SKH Pos Kupang, Senin 26 Juli 1999 hal 1

Topeng

ilustrasi
NEGARA ini adalah negara hukum! Semua warga negara, laki-perempuan, kaya-miskin, buta-melek, bodoh-pintar, rohaniwan-awam, ulama-umat biasa, sama di mata hukum!
   
Itulah kata-kata yang digantang dari angin sorga. Kata-kata itu berulang-ulang kita dengar kalau ada di antara kita bermasalah dengan sesama lalu mau mencari penyelesaian lewat jalur hukum. Dan, hakim hukumlah yang akan menetapkan hukum ini pada pasal ini you bersalah, hukum itu pada pasal itu kowe tidak bersalah.

    Nah, bila sudah sampai di depan sang hakim, insan dari kelas atas, tengah atau bawah biar yang di tengah terkadang enak, tapi di kursi pesakitan, semuanya serba tidak enak, semuanya merasa kecil. Maklum, hakim dengan toga pakaian kebesarannya ditambah palu di tangan plus wajah serius rada angker membuat pesakitan tidak bersalah serasa bersalah, membuat pesakitan yang vokal menjadi gagap, gugup serta kecut. Belum lagi ditambah tata adab di muka hakim yang diisyaratkan kepada pesakitan. Tata krama dalam persidangan yang mengajarkan, selama persidangan berlangsung, pesakitan harus menunjukkan sikap seperti hamba sahaya, merendah serendah-rendahnya.

    Terberitalah suatu kisah nyata  di suatu pengadilan negeri di Jakarta di suatu hari, hari Senin, tanggal 21 Juni tahun 1999. Dua puluh delapan dari 32 mahasiswa-mahasiswi diadili. Sidang kali itu lain dari biasanya. Keangkeran sang hakim sepertinya luluh di hadapan para pesakitan yang senyum sepanjang proses pengadilan berlangsung, sejak sidang dibuka hingga ditutup dengan ketukan palu sang hakim, mereka tetap saja senyum. Maklum, mereka semua mengenakan topeng dari kertas karton berbentuk wajah mantan Presiden Soeharto sedang mengumbar senyum, sehingga tidak jelas mana tampang mahasiswa, dan mana tampang mahasiswi. Keangkeran sang hakim hanya diperlihatkan dengan kepeduliannya membacakan naskah dakwaan yang telah ia siapkan.

    Begitulah, tatkala sang hakim selesai membaca satu persatu daftar hadir nama-nama para pesakitan, tiba-tiba ada yang celetuk, "Soeharto kok belum diabsen, Pak". Gerrr... pun memenuhi ruang sidang. Lalu, tatkala sang hakim meminta para pesakitan membuka topeng, dengan alasan sidang ini masuk lembaran negara, seoranga pesakitan menjawab, "Kami mau buka kalau Soeharto juga diadili". Bagaikan koor, jawaban senada pun muncul, "Kami bersedia kalau Soeharto dihadirkan juga dalam sidang ini".

    Sidang pun diteruskan, dan sang hakim menjatuhkan sanksi berupa denda dua ribu rupiah kepada tiap pesakitan. Tapi usai sidang, tidak terlihat seorang pun dari para pesakitan merogoh kantong untuk mengeluarkan lembaran sejumlah Rp 2.000,00.

    Senyum memang mahal dibanding emas atau berlian apalagi uang. Buktinya, banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari. Laki-laki mana yang tidak mendesir darahnya melihat lemparan senyum penuh arti dari seorang perempuan? Perempuan mana yang tidak membayang-bayang sepanjang waktu senyum penuh arti dari seorang pria ganteng, pria bergelimang segalanya? Atau senyum di pengadilan para mahasiswa-mahasiswi itu tadi. Memang, kita harus belajar bersenyum. Bagi para calon pesakitan, barangkali ini penting. Mereka harus terlebih dahulu belajar menjadi seorang The Smiling General, kalau tidak ingin menjadi pesakitan benaran.

    Kembali kepada topeng. Topeng, kita kenal ada dua macam. Bergambar manusia dan binatang. Yang paling dikenal adalah topeng monyet dan topeng manusia. Mengenai topeng manusia, ya seperti yang dikenakan para mahasiswa di sidang pengadilan itu.

    Kita juga kenal, topeng dipakai anak-anak untuk menakut-nakuti teman seusianya. Itu kalau topeng binatang atau bisa juga berupa wajah manusia serem, seperti ninja-lah. Anak-anak bermain-main dengan topeng orang, tapi biasanya orang terkenal. Maksudnya untuk mengidentikkan dirinya sebagai orang dewasa dan mirip orang yang diidolakan dalam topeng itu.

    Topeng juga dipakai manusia dewasa. Selain untuk membangkitkan rasa cerita, ketawa-ketawa bagi yang melihatnya, juga untuk aksi kriminalitas. Ya, kita ingat ninja di Banyuwangi, Jawa Timur, atau ninja-ninja yang bergentayangan malam hari di Dili, Timor-Timur, beberapa waktu allu.

    Dalam kehidupan bermasyarakat, topeng alias kedok juga dikenakan oleh hampir semua orang. Tidak peduli apa dia itu pejabat sipil, pejabat militer, pejabat hukum, pejabat agama, termasuk yang tidak berjabat. Untuk apa? Ya, tahu toh?! (marcel weter gobang)

Sumber: SKH Pos Kupang, Senin 19 Juli 1999 hal 1

Tokek

ilustrasi
PARA pencinta lingkungan hidup atau mereka yang aktif dalam lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti World Wildlife Fund sangat menganjurkan kepada warga masyarakat agar mencintai lingkungan sekitar dengan menjaga dan ikut melestarikan flora dan fauna yang ada. Jangan sekali-kali merusak atau membinasakannya. Kita tidak boleh egoistis. Kita jangan berpikiran pendek untuk kepentingan dan keuntungan kini dan di sini saja atau dalam bahasa 'Jawa Kuno',  nunc et hic, saat selagi kita hidup. Kita harus ingat akan anak dan cucu kita.

Tapi entah kenapa, hampir semua kita memusuhi binatang reptilia, khususnya ular. Coba, kalau kita jalan-jalan lalu ketemu ular di jalan atau di kebun, spontan saja kita mengambil ranting kayu dan menghajar binatang itu sampai menggelepar tak bernyawa.  Atau kalau yang bernyali kecil, langsung menghindar jauh. Kenapa kita memusuhi ular?  Bila dihubung-hubungkan, mungkin saja karena adanya dendam kesumat  sejak manusia pertama diciptakan. Karena ularlah kita manusia jadi begini, hidup menderita dan susah.

Coba kalau ular dulu tidak menggoda, merayu Eva/Hawa untuk memetik dan memakan 'buah terlarang' di Taman Firdaus itu barangkali kita turunan manusia pertama itu tidak seperti sekarang ini tapi kita hidup dalam keadaan serba enak, serba damai, tenteram lahir batin. Dan, ini kita dapati dalam pelajaran agama di sekolah meskipun tidak disarankan untuk memusuhi ular. Dendam kesumat itu telah menjadi bagian dari alam bawah sadar kita sehingga saat ketemu ular, logika kita tidak jalan tapi saraf motoriklah yang beraksi. Itu ular yang berpapasan dengan kita di jalan. Beda dengan ular masuk rumah. Untuk kalangan tertentu, haram sifatnya ular masuk rumah itu dibunuh. Bagi kalangan ini, logikanya langsung bekerja: Jangan bunuh! Ini ular kiriman! Biarkan dia hidup.
Kita usir pakai garam saja. Atau kalau garam tidak ada, pakai abu dapur saja. Soalnya, ini bukan ular benaran, tapi ular jadi-jadian. Bisa bahaya kalau dimatikan.

    Lain dengan cecak atau tokek yang juga menghuni rumah bersama kita. Meski binatang-binatang ini terlihat menjijikkan dan meskipun terasa mengganggu tatkala tokek berbunyi sampai belasan kali:  teke...teke...teke... saat kita tidur misalnya, namun hal itu tidak membuat kita marah dengan mencari dan membunuhnya.

    Kedua binatang ini ternyata sangat bermanfaat bagi penghuni rumah. Di sekolah, sejak di SD bahkan mungkin di TK, kita diajarkan Pak guru atau Bu guru agar jangan membunuh cecak atau tokek di rumah. Soalnya, kedua binatang ini memakan serangga termasuk nyamuk yang bikin manusia sakit. Dalam pergaulan di masyarakat, kita dikasih tahu bahwa tokek itu obat. Kalau Anda menderita eksem atau penyakit bengek, makanlah daging tokek. Benar tidaknya, terserah pada Anda sendiri.

    Omong punya omong, orang bilang, binatang tokek itu mempunya cerita sendiri. Dia bisa menjadi penuntun langkah hidup, khususnya dalam hal mengambil keputusan atau ingin tahu kesialan dan keberuntungan kita.

    Seorang teman (pria) bercerita, dia mempunyai dua orang pacar. Bingung dia untuk memilih salah satu sebagai teman sehidup semati, seranjang sekasur. Keduanya sangat ideal, menurut penilaian teman tadi. Lalu mau pilih yang mana? "Saya ikuti nasihat orang-orang," kata teman tadi. Tanya pada tokek, katanya. Nah, caranya, kata teman tadi, pilihan jatuh pada siapa, ikuti bunyi tokek. Teman ini bercerita: Dalam hati, saya sebut gadis A duluan, disusul gadis B. Jadi, bunyi pertama dari tokek tadi, saya sebut A. Bunyi kedua, si B. Begitu seterusnya. Di akhir bunyi tokek, ternyata si A yang kena. Jadilah saya melamar si A. Sampai sekarang kami hidup rukun bahagia, tutur teman itu.

    Lain lagi cerita seorang bapak yang mau ikut mete dan sudah tekad untuk ikut pasang main dadu goyang. Ternyata bunyi tokek diakhiri dengan alarm: kalah! Tetapi si bapak tetap nekad. Ternyata dia memang kalah. Lalu apa katanya? "Coba saya ikut nasihat tokek tadi, saya tidak bakalan kalah dua ratus ribu!"

    Nah, kita sekarang lagi pusing-pusing siapa bakalan jadi presiden nanti. Ini bekal bagus buat mereka yang akan menjadi anggota MPR. Daripada bingung-bingung membuat analisis macam-macam, atau diskusi yang bisa mengundang adu jotos, nanti, kalau di MPR diberlakukan one man one vote, pakailah resep bunyi tokek itu. (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang, Senin 12 Juli 1999 hal 1

Siamang

ORANG cerdik pandai bilang, monyet, kuda, babi sama dengan manusia: hewan. Tapi, supaya para cerdik pandai itu tidak didamprat habis-habisan oleh manusia lain, mereka memberikan batasan yang membedakan manusia dari monyet atau kuda atau babi. Kata mereka, manusia itu memang hewan tapi hewan berakal budi. Sedangkan monyet, kuda atau babi adalah juga hewan tapi tidak berakal budi. Sebutan lainnya, binatang.

    Para cerdik pandai yang lain, yaitu para cendekia kelompok kedua, juga bilang, pada usia tertentu, manusia itu adalah binatang, belum sepenuhnya disebut sebagai manusia. Manusia pada kategori ini, demikian para cerdik pandai kelompok kedua itu, adalah anak manusia yang masih bayi.

    Mungkin benar apa yang dikatakan para cerdik pandai kelompok kedua itu.  Mereka memberikan ilustrasi sebagai berikut.

    Anda mungkin pernah melihat - dari kejauhan tentunya atau mungkin juga pada acara flora dan fauna atau lingkungan hidup di televisi -, bagaimana seekor induk burung liar menyuapi anak-anaknya yang baru saja menetas di sarangnya. Begitu sang induk datang, anak-anak burung, yang sekujur badannya masih gundul dari bulu-bulu, langsung mencuap-cuap membuka kedua paruhnya meminta makanan kepada sang induk. Sambil menoleh kiri-kanan - maksudnya sang induk mengamati jangan-jangan di sekitar sarang ada musuh (ular atau unggas pemangsa unggas) dan setelah yakin lingkungan aman -, sang induk mulai mengeluarkan bawaannya ke dalam mulut anak-anak bayinya. Setelah semua makanan bawaannya habis disuapin, sang induk dengan ceria terbang mencari makanan lagi, kendati perut sang induk sendiri keroncong. Begitu seterusnya .

    Apa yang dilakukan induk burung dan perilaku anak burung itu, tidak beda dengan kisah ibu-ibu atau nenek-nenek di kampung dengan bayi atau bayi cucu mereka pada zaman dulu, zaman malaise, zaman serba kekurangan di NTT. Pada zaman orang-orang belum tahu apa itu higienis atau tidak higienis. Pokoknya daripada si bayi menangis terus-menerus sementara ASI sang ibu tak kunjung keluar, si bayipun diberi makan seperti orang dewasa. Jagung atau ubi kayu dikunyah sang ibu atau sang nenek. Jagung atau ubi yang sudah lumat di mulut itu kemudian disuap langsung ke mulut sang bayi. Proses dari mulut ke mulut itu persis cerita induk burung tadi. Maklum, sama-sama hewan. Ya, segala macam 'vitamin' di mulut sang ibu atau sang nenek ikut membantu membongsorkan sang bayi.

    Bayi burung disuap, bayi manusia disuap akan terus berlangsung selagi planet bumi ini belum ditelan kekelaman hampa. Dan, cerita suap itu tidak terbatas pada manusia yang masih bayi saja, yang oleh para cendekia kelompok kedua di atas dikategorikan binatang. Pokoknya, berlaku untuk semua usia. Bedanya, tidak berlaku untuk semua manusia yang sudah lolos dari klasifikasi para cerdik cendekia kelompok kedua di atas, hanya berlaku untuk manusia-manusia khusus.

    Di negeri ini, soal suap, untuk hampir semua urusan, hampir semua orang muak. Kendati demikian, daripada tidak diurus, daripada tidak didapatkan apa yang ingin didapat, praktek itu tetap dijalankan meski 'memberi' dengan rasa dongkol dan umpat makian di belakang-belakang, yang penting bereslah.

    Seorang teman yang pernah mengurus surat-surat izin usaha pabrik padat modal memberikan nasihat sekaligus resep: jangan lupa siamang! Sebagai tanda terima kasih, tutur teman tadi, wajar kalau dia membalas 'jasa baik' para abdi dan pelayan masyarakat. Cara menyampaikannya, tidak beda seperti induk burung tadi sebelum menyuapkan makanan kepada bayi-bayinya, lihat sana sini dulu jangan sampai ada orang lain tahu atau sempat melihat.

    Di dalam amplop besar yang berisi beberapa amplop kecil-kecil, pada surat salah satu amplop kecil si kawan tadi menulis "Saya sangat berterima kasih atas jasa baik Bapak. Saya juga sangat bangga, foto-foto bapak ternyata dicari-cari orang, bahkan banyak orang mempertaruhkan segala-galanya demi mendapatkan foto Bapak. Bersama ini saya kembalikan kepada Bapak beberapa foto Bapak yang beradar di mana-mana!"

    Maksudnya? Ya, dia itu kan bayi menurut klasifikasi para cerdik pandai kelompok kedua itu, jawab teman tadi. "Lembaran yang saya kasih pun, ya lembaran yang pas untuk dia, siamang" kata teman tadi. (marcel weter gobang)

Sumber: SKH Pos Kupang, Senin 5 Juli 1999 halaman 1

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes