Roda itu Berputar

RODA itu berputar. Sebentar di atas, sebentar di tengah, sebentar di bawah. Dalam mengarungi hidup ini, suka dan duka datang silih berganti menghinggapi diri sendiri. Apa pun dan bagaimana pun orang itu. Adalah mustahil bahwa sepanjang hidup seseorang itu tidak pernah mengalami suka atau tidak pernah mengalami duka. Keduanya, suka dan duka, melekat pada diri sendiri. Sebentar dia berada pada bagian yang harus menahan hampir seluruh beban di atasnya - seperti halnya roda -, sebentar dia berada pada sisi yang enteng kendati tetap menanggung beban di atasnya, begitu seterusnya. Begitulah kira-kira siklus hidup manusia.

    Roda itu berputar! Ungkapan pasrah ini biasanya datang dari orang yang tengah dirundung kemalangan. Kemalangan di sini, biasanya, terhadap rasa keadilan. Apa yang ia rasakan sudah menjadi haknya, ternyata tidak ia peroleh. Tetapi sebaliknya, yang merasa bukan haknya, ternyata seakan-akan haknya. Yang disebutkan terakhir ini pun merasa biasa-biasa saja, wajar-wajar saja. Jarang manusia di dunia ini menolak untuk menerima yang bukan haknya. Yang berani melakukan itu hanya pada manusia yang punya nurani. Tapi nurani saja bisa dimanipulasi, dipermainkan. Buktinya? Banyak contoh kasus untuk itu.

    Ketidakadilan adalah drama kehidupan manusia dari hari ke hari, dari saat ke saat. Ketidakadilan justru datang dari sesama manusia. Dan, memang, keadilan pun sangat relatif bagi tiap orang.

    Indonesia saat ini sedang mencoba memutar kembali arah jarum jam. Mulai dari titik awal. Itulah yang coba dilakuan seorang ulama yang kini tengah memimpin bangsa dan negara ini. The right man on the right position coba digelindingkan.

    Begitulah, hukum yang penerapannya sudah sangat semrawut, yang seenak perutnya dimainkan oleh mereka yang menamakan dirinya penegak hukum coba diluruskan. Produk hukum yang dinilai tidak manusiawi coba dibenahi. Benyamin Mangkoedilaga yang oleh publik dikenal sebagai pendekar hukum, coba ditunjuk sebagai ketua Mahkaman Agung. Presiden Gus Dur juga akan membentuk Badan Evaluasi Produk-produk Hukum Nasional. Untuk posisi ini ditunjuk Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, Profesor JE Sahetapy dan mantan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus),  Antonius Suyata.

    Demi keadilan, Presiden Gus Dur juga menunjuk dan mengangkat mantan Direktur Utama PT Telkom, Cacuk Sudarijanto, sebagai Wakil Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

    Nama-nama di atas: Benyamin Mangkoedilaga, Antonius Suyata dan Cacuk Sudarijanto adalah nama-nama yang memiliki catatan reputasi, track record yang tidak diragukan. Cacuk Sudarijanto yang di masa pemerintahan Soeharto dikeranjangsampahkan lalu terlunta-lantung di luar sistem. Sebagai  Jampidsus, Antonius Suyata adalah kerikil dalam sepatu bagi rezim yang berkuasa kala itu. Begitulah, Cacuk Sudarijanto dan Antonius Suyata harus menanggung dosa integritas terhadap penegakan hukum dan keadilan, harus menerima kenyataan, dikeranjangsampahkan. Tetapi itulah, roda itu berputar. Presiden Gus Dur mencoba menempatkan kembali mereka pada tempat yang terhormat.

    Begitulah, pejabat atau mereka yang berada pada posisi strategis dalam pemerintahan atau pengabdian pada publik dan selalu berjalan lurus, taat setia mengikuti aturan, tata tertib, norma dan adat, bebas KKN, tidak saja dimusuhi oleh rekan-rekan sejawat atau di atasnya yang ingin memetik keuntungan pribadi dari posisi seperti itu, tetapi juga oleh keluarga atau sahabat dekat mereka.

    Ucapah "Ah, dia itu mau masuk surga bulat-bulat" atau ungkapan senada tidak jarang datang dari pihak seputar kelaurga, sahabat dekat. Ya, itulah nada ketidakpuasan keluarga, sahabat dekat karena tidak mendapatkan keuntungan dari anggota keluarga/sahabat yang punya kedudukan. Tapi, fakta menunjukkan, tidak sedikit dari orang-orang lurus itu bahagia dalam mengarungi sisa-sisa hidupnya di kemudian hari. Fakta juga menunjukkan sebaliknya, yang jaya, yang menindas karena kuasa yang melekat kala ia berkuasa tapi saat ia menjadi rakyat biasa, ia terpuruk dalam macam-macam penderitaan. Bagi Anda yang menjabat, tinggal pilih mau yang mana. (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 6 Desember 1999 hal 1

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes