Tampilkan postingan dengan label Gelagat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gelagat. Tampilkan semua postingan

Panca-dosa Kita

ilustrasi
 Cita-cita para pejuang dan pendiri bangsa kita sejak dahulu sangat jelas. Yakni terbangunnya suatu negara dengan 17.000 pulau menjadi bangsa besar, bersatu utuh, berdaulat-terhormat. Dengannya, sebagai negara kebangsaan yang tidak kalah modern dengan bangsa lain, Indonesia bisa berperan dalam percaturan antar bangsa. Dalam kerangka itu, Pancasila, rumusan Bung Karno 1 Juni 1945 yang menjadi ideologi negara kita, sangat diyakini sebagai pondasi terkokoh pemwujudan cita-cita besar negara kebangsaan Nusantara.

    Maka, saya sangat terkejut ketika menjelang akhir dekade 1980-an, dalam bincang-bincang lepas dengan beberapa rekan wartawan di Jakarta, salah seorang diantaranya yang kebetulan berasal dari Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menyelutuk dengan nada bertanya. "Apakah Pancasila bisa menjamin persatuan dan kesatuan Bangas sepanjang masa? Lalu Dari Sabang sampai Merauke atau Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, sampai  kapan akan tetap berkumandang? Apakah Jakarta, akan tetap menjadi pusat segala-galanya di Republik ini?

    Pembicaraan bernada pertanyaan dari rekan wartawan yang terbilang senior ini juga aneh buat saya karena dia justru salah satu lullusan Penataran P4 Tingkat Nasional.  Namun kemudian saya sadar bahwa rekan wartawan ini tidak asal omong. Dia rupa-rupanya sedang bingung, kuatir dan gelisah melihat arah, situasi, perkembangan, prospek dan perkiraan ke depan serta terutama perilaku manusia Indonesia di sekitarnya.

    Saya pun semakin menyadari bahwa kebingungan, kekhawatiran  dan kegelisahan rekan wartawan tadi sebenarnya bukan hanya menjadi soal 1-2 orang saja. Ternyata memang tidak sedikit manusia di negara ini dilanda kegelisahan yang sama. Apakah Politisi, Ulama, Pengusaha, Cendikiawan bahkan Birokrat dan orang asing pun sama. Saya pun meyakini kegelisahan ini sebagai suatu masalah bangsa yang sangat gawat, ketika ikut dalam Seminar Pendidikan Wawasan Kebangsaan di Ciloto Jawa Barat, Juli 1993. Seminar diselenggarakan oleh Lembaga Pengkajian Strategi dan Pembangunan (LPSP) atas sponsor Konrad Adenauer Stiftung Jerman (KAS) Perwakilan Indonesia.

    Mengikuti seminar ini sungguh merupakan keberuntungan. Karena dari seminar ini saya bisa memahami kegelisahan para tokoh seperti Gus Dur (Ketua PB NU/kini Presiden RI), Jend (pur) Soemitro (mantan Pangkobkamtib), Prof.DR. Moelyarto Tjokrowinoto (Guru Besar Ilmu POlitik UGM), Prof. DR. Parangtopo (Guru Besar Fisika UI) tentang hari depan negara kebangsaan Nusantara kita. Juga Rm. Mangunwijaya (alm), EP Tambunan (mantan Gubernur Sumatera Utara), DR. J.Riberu (Anggota MPR/DPR) dan DR. Leo Kleden (Rektor Seminari Tinggi Ledalero).

    Tampil dengan makalah berjudl "Masihkah diperlukan Wawasan Kebangsaan dewasa ini" Gus Dus yang suka ceplas-ceplos itu mempertanyakan wujud demokrasi sebagai wahana Negara Kebangsaan Indonesia. Sambil menoleh ke Jend. Soemitro, Gus Dus berkata: "Siapa mau percaya jika jenderal-jenderal yang dulunya tukang tangkap demonstran dan demokrat, tapi sekarang bicara demokrasi? Dan lucu, begitu pensiun, para jenderal itu bertingkah seolah-olah lebih demokrat  dibanding demokrat-demokrat yang dulu ditangkap. Lalu demokrasi macam mana yang akan ditumbuhkan di negeri," tanya Gus Dus agak gelisah.

    Dr Yan Riberu, anggota MPR/DPR dari Golkar yang tampil dengan makalah Program Pendidikan Wawasan Kebangsaan kemudian seolah mengenyahkan keletihan para peserta seminar denagn gurauan yang sarkartis. Kata Riberu ketika tidur malam sebelum seminar, ia bermimpi didatangi arwah seorang pendiri Republik. Dengan wajah bengkak penuh amarah, Pendiri Republik ini mencak-mencak. Arwah tersebut sangat merisaukan nasib dan masa depan negara kebangsaan Nusantara.

    "Dimasa depan" kata arwah tersebut, "nasib negeri yang dulu diperjuangkan kemerdekaannya dengan daerah, tidak menentu. Karena Pancasila hanya menjadi buah bibir. Dalam praktek yang dilakukan adalah Pancadosa. Sila Pertama menjadi keuangan, bukan Ketuhanan Yang Maha Kuasa. Sila Kedua menjadi Kebinatangan yang buas tidak beradab,bukan Kemanusiaan yang adil dan Beradab.

    Selanjutnya sila ketiga menjadi Pemerantakan bangsa atas dasar SARA, sila keempat menjadi Pembadutan wakil rakyat dan sila kelima menjadi Bencana sosial bagi seluruh rakyat. Itulah dosa-dosayang sudah terlalu lama dilakukan dan cukup mustahil bisa berakhir denagn mudah. Jadi janganlah merasa aneh jika kelak ada warga di suatu (bekas) wilayah Nusantara menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai kumandang tidak bermakna dengan menggantikan kata-kata Indonesia Tahan Air-ku menjadi Indonesia raya Air-MU.

    Bagi kita di NTT, pada hari-hari awal milenium ketika sekarang, rupa-rupanya 'mimpi' Dr Yan Riberu yang bukan mimpi sesungguhnya. Artinya kenyataan. Menjadi pembicaraan umum kala ribut-ribut soal pilih Kepala Daerah misalnya, maka buntut-buntutnya nanti soaluang. Uang di atas semua-muanya, menjadi alat ataupun tujuan. Rupa-rupanya di masa datang, siapa saja bisa jadi Kepala Daerah asalkan ada uang.

    Minum mabok yang sering berakhir dengan perkelahian atau perkosaan terkesan dipandang seolah sesuatu yang normal dengan bermain angka-angka 'statistik' kriminal yang menurun sebagai bukti kita masih manusia beradab. Sementara ratusan ribu pembayar pajak tetap setia membayar Pajak Penerangan Jalan, mereka pun harus juga setia menikmati jalan dan lorong gelap bertahun-tahun. Dan itu namanya Keadilana. Namun siapa peduli dengan rangkaian Pancasila?? (damyam godho)

Sumber: Pos Kupang 17 Januari 2000 hal 1

Jubah

SUATU hari di bulan Agustus 1971. Saya bersama seorang sepupu saya menunggu opelet (baca: oplet, yaitu sejenis angkutan kota di Jakarta kala iatu yang karoserinya terbuat dari kayu). di Jl. Martaman Raya, Jakarta tak jauh dari kompleks RS St. Carolus. Saat berdiri menunggu, tiba-tiba bus Pelita Mas jaya, yang supirnya dan kondekturnya umumnya didominasi oleh moat-moat dari daerah Sikka, berhenti.

Berhamburan turunlah belasan orang berjubah putih dan beberapa di antara mereka bertopi mirip yang dipakai haji-haji. Tiba-tiba saudari sepupu saya yang baru dua minggu datang dai kampung di Lambaleda, Manggarai, Flores Barat, menyelutuk dengan dialek khas Lambaleda, "Oleee, mai nia mai frater siok ta kaka? Ae, diod frater ce'e Jakarta ho'ok (Hai, kakak, dari mana frater-frater itu? Kok, beda sekali frater di Jakarta ini)."

    Mendengar celetukan spontan sepupu saya itu, saya tidak tahan tertawa geli lalu menjelaskan, "Orang-orang itu bukan frater (calon pastor/imam Katolik). Itu orang-orang Bangladesh atau bisa pula orang-orang Pakistan. Pakaian mereka umumnya memang begitu, mirip jubah yang biasa dipakai frater-frater atau pastor-pastor". Untuk lebih menyakinkan saudari sepupu saya yang masih mirip rusa masuk kampung itu, saya pun melanjutkan, "Frater-frater seperti di Flores itu kan selalu berpenampilan rapi, necis. Rambut tidak acak-acakan, tidak berewokan dengan jenggot lebat, kalau bepergian dengan jubah tapi tidak pakai sandal jepang/jepit seperti orang-orang yang baru turun dari bus itu. Di Flores, frater atau pastor itu kalau pergi ke mana-mana tidak mengenakan jubat tapi pakaian biasa. Meskipun pakai pakaian biasa seperti kita orang awam ini, baisanya merkea lebih tahu diri bila berada di tempat umum. Pokoknya, frater-frater biasanya tidak macam-macam di jalanan atau di mana saja mereka berada, kapan pun mereka beraktivitas dan dengan siapa mereka bergaul"
   
Hal itu jelaskan sebab penampilan orang-orang yang baru turun dari bus itu kelihatan kampungan sekali. Begitu mengingakkan kaki di trotoar, ada yang bercanda dan berjalan sambil mengangkat baji panjangan mirip jubah itu lewat lutut sehingga terlihat jelas paakaian dalammnya yang hanya celana pendek berbentuk segi tiga.

    Dalam kesempatan lain pada tahun-tahun berikutnya, saya sering disuguhi pertanyaan-pertanyaan seputar orang-orang yang mengenakan jubah yaitu biarawan dan biarawati Katolik. Pertanyaan yang mirip diskusi kecil itu datang dari teman-teman mislimin dan milimat baik yang seprofesi dengan saya maupun tidak

    Suatu hari, masih di Jakarta, di bulan Oktober 1984 - di sela-sela meliput suatu kegiatan - seorang wartawati berjilbab dari sebuah media massa cetak yang ktntal dengan warnanya yang dianut rekan wartawati itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang saya nilai sangat mendasar. Rekanita jebolan sebuah pesantren di Jawa Timur ini tahu banyak tentang kehiduap selibat, tetangn kaul yang dijalani biawawn dan biarawatoi Katolik, tentang suster-suster yang ke mana-mana tetap mengenakan jubah sebagian pakaian 'kebesaran' sementara pastor tidak, tentang pengakuan dosa, hubungan antara biarawan dan biarawati dengan berbagai dampak yang mungkin, tentang hubungan antara mereka yang sudah diurapi sebagai imam dengan umat dan warga masyarakat yang lain jenis atau hubungan antara mereka yang sudah berkaul kekal dengan umat dan warga masyarakat lain jenis, serta macam-macam pertanyaan seputar kehidupan biarawan dan biarawati.

    Pertanyaan-pertanyaan itu memang cukup memusingkan saya. Tetapi sebagai warga masyarakat awam yang peduli tentang semua itu, saya punya kewajiban moril menjelaskannya dan merasa wajib 'melindungi' orang-orang pilihan itu. Saya bersyukur bahwa saya juga punya bekal sedikit tentang semua itu sehingga saya bisa menjelaskan kepada rekanita seprofesi saya itu atau yang lainnya.

    Menyangkut kaul, saya menceritakan tahapan-tahapan yang harus dilalui baik oleh calon biarawan maupun calon biarawati. Kaul-kaul itu diantaranya adalah kaul kesucian/kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan. Saya katakan, yang paling berat rata-rata dirasakan tiap calon biarawan/biarawati adalah kaul kesucian/kemurnian. "Kesucian dalam memelihara indera dan seluruh komponen tubuh. Atau dengan kata lain, bagaimana si calon itu mampu mengekang emosi dan nafsu manusiawi, mampu mengendalikan sensor motoriknya. Ini sangat berat sebab ini agak ke laur dari kodrat/naluri kemanusiaannya," kata saya, dengan maksud agar rekanita tadi lebih bisa menerima secara akali. Kemurnian itu, kata saya, sudah mulai dideteksi semenjak calon masuk di sekolah khusus, yaitu seminari untuk calon biarawan.

    Tiba-tiba Reno Aysah, nama awrtawati berjilbab rekan saya asal Blitar, Jawa timur, tadi, menimpal, " Kalau yang calon biarawati itu saya kira mudah dideteksi. Tapi yang laki-laki itu khan sulit dideteksi." Ucapannya itu membuat saya kelinggungan menajwabnya. Sambil menarik napas panjang saya katakan, " Disinilah letak kejujuran orang itu. Selama ditempat persemaian, seminarium, ia harus sudah sadar bahwa ia akan hidup selibat. Karena itu, ia harus jujur terhadap diri sendiri. Jujur terhadap Tuhan, jujur terhadap sesama tidak saja terhadap  kalangannya tapi juga terhadap kalangan lain, warga masyarakat agama lain. Pokoknya, kejujuran itu ia harus jaga sampai ia masuk ke liang lahat."

    Namun, Retno memotong dengan berkata, "bagaimana dengan mereka yang sudah diurapi. Tetapi kemudian ternyata mengingkari kaulnya, khususnya kaul kesucian, dengan melakukan hal-hal yang bahkan lebih 'berani' menyimpang dari norma-norma dan adat kebiasaan masyarakat yang tidak atau jarang dilakukan kaum awam yang soleh atau saleha?"

    Beruntung, pertanyaan Retno ini tidak sempat saya jawab karena suara panitia melalui loud speaker meminta para wartawan berkumpul untuk mengikuti konperensi pers. Bagaimanapun juga, pertanyaan Retno tidak mengada-ada. Pertanyaan itu muncul dari fakta yang fenomenal.    

    Betapapun masuk akalnya penjelasan-penjelasan diatas, penjelasan yang paling masuk akal adalah penjelasan oleh mereka yang menyandang predikat-predikat tadi yaitu, penjelasan yang tidak manipulatif, tapi penjelasan yang sesuai antara pilihan hidup dan pengejawantahan dalam hidup ini. Dan, pertanyaan Retno yang tidak sempat saya jawab, saya pulangkan juga kepada mereka yang menyandang predikat-predikat itu, yang berjubah. (marcel weter gobang)

Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin, 10 Januari 2000 hal 1


Si Bodot

Gus Dur
 "KALAU anda ingin menegakkan negara dalam negara, kita berhadapan. Ini bukan kehendak saya, tetapi kehendak Anda."

    Penegasan bernada ancaman itu disampaikan Presiden Gus Dur sebagai jawaban atas pernyataan salah satu tokoh masyarakat Irian jaya yang mengklaim diri sebagai pemimpin besar Papua. Theys H Eluay. "Keinginan untuk merdeka bukan keinginan segelintir orang, tetapi telah menjadi keinginan seluruh bangsa Papua," kata Theys

    Keinginan untuk merdeka alias membentuk negara sendiri dengan melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah menjadi isu hangat selama beberapa tahun sampai menjelang berakhirnya tahun 1999 lalu. Aceh ingin merdeka, masyarakat di Propinsi Riau juga demikian. Bahkan segelintir orang di Sulawesi Selatan bertekad ingin mendirikan negara sendiri menyukul kekecewaan karena idola mereka tidak terpilih menjadi presiden di negara berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa ini pada Sidang Umum MPR lalu.

    Bersyukurlah, masyarakat NTT tidak atau belum terpengaruh oleh isu-isu seperti itu. Meskipun kecenderungan untuk itu mungkin telah tumbuh pula dalam benak satu dua orang di antara tiga juta lebih penduduk daerah ini yang tidak ingin dinilai ketinggalan kereta. Bagi orang-orang di dalam hati kecilnya sudah mempunyai kecenderungan seperti itu barangkali mereka sedang menunggu momentum yang tepat atau menunggu datangnya dukungan sang provokator dari luar NTT baik yang kelahiran NTT, berdarah keriting NTT atau berdarah lain tetapi sesama bangsa, Bangsa Indonesia. Nah, bila mereka muncul dengan macam-macam argumentasi logsinya, barangkali kita perlu berkepala dingin menanggapinya. Tidak perlu takut dicap adem ayem saja.

    Bersyukur pula bahwa dalam percaturan politik lokal di daerah ini, khususnya dalam suksesi kepemimpinan tingkat kabupaten dibeberapa daerah tingkat dua, kita belum pernah mendengar masyarakat beraksi dengan mengancam membentuk kabupaten sendiri karena calon dari sukunya tidak terpilih sebagai bupati. Dengan demikian, Gubernur NTT tidak perlu mengeluarkan pernyataan berna ancamana sebagaimana diucapkan Presiden Gus ur tehradpa tokoh di IRian Jaya ini.

    Lalu, apa arti semua ini? Barangbali inilah dampak positid dari sisa-sisa keikutsertaan banyak orang NTT dalam penataran P-4 (Pedoman Penghayatan Pengalaman Pancasila) yang tleah ditiadakan dengan dibubarkannya lembaga penyelenggaraan, BP7 (Bdan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila) oleh Pemerintah Transisi pada masa Presiden BJ Habibie

    Kembali kepada cara berpikir sektarian emosional yang menjadi cara, potret birokasi dimana-mana di Indonesia termasuk di NTT, masihkah kita harus berpegang pada konvensi bahwa kalau bupati dari Suku A, maka wakil buapti harus dari suku B dan KEtua DRD II-nya harus dari suku C, mialnay? Masihkah ktia tetap menganut pada kesepakatan kebetulan, bahwa posisi Anu yang kebetulan diduduki si Bodot harus tetap menajdi jatah orang-orang yang berseikatan emosional dengan si Bodot? Masih relevankah ktia harus membentengi posisi kita dngna macam-macam pagar?

    Politik kancil boleh-boleh saja dijalankan asal saja demi kepentingan, keamanan dan kesejateraan seluruh rakyat, seluruh subetnik betapapun kecilnya daerah itu. Dna, yang utama, hasilnya nyata dirasakan rakyat, tidak sekedar lip servoce yaitu slogan demi kepentingan seluruh rakyat tetapi nyatanya  hanya kamuflase bagi kepentingan golongan seikatan emosi

    Mungkin ini baik sebagia renungan, introspeksi dalam mengarungi tahun 2000 ke depan demi menjaga kesatuan, persatuan dengan mulai dari lingkup lokal dan regional sebagia kontribusi terhadap keutuhan bangas dan negara tercinta. Memang, ke depan, bagiamana juga kita lebih menginginkan birokrat-birokrat moderat, demokaratis dan pragmatik. (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin, 3 Januari 2000 hal 1


Sang Provokator

Damyan Godho
UNTUK anak-anak seusia saya, 11 tahun, peristiwa seram tentang tertembak-matinya dua polisi di Teluk Kelambu – Kabupaten Ngada medio 1956 oleh segerombolan Kahar Muzakar, tidaklah menarik. Juga terhadap cerita lanjutan dari mulut ke mulut bahwa ratusan gerombolan Kahar Muzakar merampok dan membunuh di pantai utara Flores dan menginfiltrasi wilayah Flores lainnya. Bahkan ada rasa aneh dan lucu ketika menyaksikan sejumlah warga, termasuk ayah saya, diam-diam menyiapkan bambu runcing guna dijadikan senjata menghadapi kemungkinan serbuan gerombolan pemberontahak dari Sulawesi ini ke Boawae.

Saya baru tertarik, ketika suatu hari, dua truk penuh pasukan polisi, bedil dan mortir, muncul dari Boawae, tempat lahir saya dan langsung bergerak ke utara Boawae, sekitar 15-20 kilometer. Begitu tiba, sejumlah kawasan bukit yang dilaporkan sebagia ‘sarang’ sejumlah Kahar Muzakar, langsung dihujani ribuan peluru. Namun, hasil pengamatan setelah operasi ini, tidak menemukan sedikit pun tanda-tnada bahwa daerah ini memang sarang gerombolan.

Maka dua warga, Tangi dan Logo, sumber informasi dan penunjuk jalan, menjadi sasaran pertanyaan polisi yang kelelahan setelah turun-naik menyisir kawasan bukit sehari penuh. Akhirnya Tangi dan Logo dengan tergagap-gagap mengaku salah dan minta maaf. Kata mereka, cerita tentang gerombolan Kahar Muzakar hanyalah omongan main-main (mungkin juga sok tahu) di antara sesama kala minum moke. Tetapi, tanpa diduga, omongan main-main ini beredar begitu cepat sehingga warga jadi resah dan takut, Kepala Kerajaan kerepotan dan akhirnya polisi harus didatangkan

Lain lagi di Kupang, suatu hari di tahun 1965. Dua kawan saya, Yos (sudah almarhum) dan yang satu, Michael (masih hidup). Keduanya tiba-tiba dijemput polisi berkaitan dengan  ‘kabar’ jatuhnya pesawat DC3/Dakota Garuda dalam penerbangan Kupang– Maumere-Denpasar sehari sebelumnya. Kepada polisi, Yos Mengaku bahwa berita itu didengarnya kala memangkas rambut di kawasan Kampung Solor Kupang.  Michael lalu meneruskannya kepada temannya, yang ternyata diteruskan lagi dari mulut ke mulut dengan sangat cepat. Akibatnya, Kantor Garuda kebingungan menghadapi jejalan puluhan warga yang mencari tahu nasih anggota keluarganya. Setelah diusut polisi, terungkap bahwa berita ini ‘bohong’. Berasal dari seorang penumpang yang tidak kebagian tempat di pesawat. Karena kesal, di tempat pangkas rambut Kampung Solor,ia tumpahkan amarahnya dengan kata-kata lepas ‘masuk lautlah pesawat itu!”
Yos, yang mendengar kata-kata itu samar-samar lalu menyampaikan kepada Michael bahwa pesawat Garuga jatuh ke laut. Dan tersebar luas berita menggelisahkan masyarakat Kupang  ini hingga keduanya dijemput polisi.
Dua kisah nyata di atas menggambarkan bahwa cerita iseng atau juga cerita sok tahu oleh Tangi dan Logo serta Yos dan Michael yang meneruskan kabar yang tidak benar, secara tidak sadar telah melakukan provokasi. Tangi dan Logo menyebabkan warga Boawae resah, takut dan bisa berbuat nekad serta berakibat polisi membuang-buang peluru. Sedang Yos dan Michael, membikin warga Kupang resah dan untung saja kantor Garuda diserbu. Namun, perbuatan provokasi Tangi, Logo, Yos dan Michael tidak berdampak luas karena akar ceritanya segera diketahui.

Pekan lalu, menjelang Hari Damai Natal 1999, berkaitan dengan batalnya testing Calon Pegawai Negeri Sipil di Wilayah Kota Madya Kupang dan Kabupaten Kupang, Gubernur NTT Piet Tallo mengungkapkan kepada pers bahwa dil ingkungan Pemda NTT ada provokator yang mau menjatuhkannya dari jabatan Gubernur NTT. Seorang Gubernur tentu saja tidak asal omong. Dan seorang Piet Tallo yang kini Gubernur NTT, rasanya tidak mungkin mau meresahkan masyarakatnya sendiri, jika tidak ada buktinya.
Tetapi susahnya ialah, orang lalu hanya bisa mereka-reka apa alasan Gubernur berkata demikian? Mengapa pula pembocoran bahan testing Calon Pegawai Negeri Sipil di Kupang sepertinya kronis dan seolah merupakan tradisi? Namun yang pasti, pelaku pembocoran sebenarnya bermaksud agar adik, kakak, saudara/i, konco atau relasinya bisa lolos testing. Orang ini mungkin tidak membayangkan bahwa yang dilakukannya itu termasuk perbuatan provokatif. Artinya, bias memancing dan/atau melahirkan ketidakpuasan ‘politisi’ dan Gubernur menjadi sasaran tembak.

Tetapi bisa juga suatu provokasi untuk menghantam Piet Tallo, Gubernur NTT melalui rekayasa yang sistematis memang sedang dimainkan. Caranya, dengan membocorkan bahan testing Calon Pegawai Negeri Sipil di Kupang sehingga terbangkitlah ketidakpuasan massal. Mengapa di Kupang? (Kota Madya Kupang dan Kabupaten Kupang)? Karena di sini berkumpul politisi dan birokrat-politik yang bisa dan biasa berpolitik, campur-aduk. Otak provokasi dan pelaku pembocoran mungkin saja berharap, “syukur-syukur” bisa terulanglah semacam peristiwa berdarah di Sumba Barat setahun lalu dan pada gilirannya Gubernur yang bertanggung jawab.

Jika rekaan di atas benar, maka ungkapan Gubernur bahwa ada provokator di lingkungan Pemda NTT memang tidak bisa disangsikan kebenarannya. Artinya ada. Dan yang seperti ini berbeda dengan Tangi, Logo, Yos dan Michael. Yang terakhir ini, semuanya orang-orang partikulir, rakyat kebanyakan tanpa NIP dan Karpeg yang hanya karena omong iseng bisa dianggap provokator. 

Sebaliknya, pelaku pembocoran bahan testing calon pegawai negeri sipil sudah pasti adalah birokrat yang punya NIP dan Karpeg. Ia mungkin sekali sedang berprovakasi alias berpolitik terhadap gubernurnya melalui  birokrasi.  (damyan godho)


Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 27 Desember 1999 hal 1

Persaudaraan El Tari

Damyan Godho
SUATU hari di bulan Maret 1977, Gubernur NTT (kala itu El Tari alm) meminta saya menemuinya. Serangkaian tanda tanya segera saja memenuhi benak saya megingat status saya. Cuma rakyat biasa, bukan birokrat, bukan pengusaha atau politisi, kenapa dipanggil Gubernur. Saya tidak punya hubungan pribadi dengan Pak El. Kalau pun pernah ada, itu sudah lama, lama sekali, kala “ramai-ramai” jadi anggota DPRD GR tahun 1967-1971 yang mau tidak mau harus berhubungan dengan gubernur. Maka pertanyaan seperti mengapa, ada apa, untuk apa, dan macam-macam lagi membebani benak saya kala menuju kantor Gubernur NTT, di Jalan Basuki Rachmat Kupang.

Rupa-rupanya Pak Gubernur membaca kebingunggan saya yang datang dengan dahi agak berkerut. Tetapi saya menjadi lega ketika dengan senyum dan sambil bangkit dari kursi, begitu saya masuk ruangan kerjanya. Pak El langsung menyapa dengan dialek Kupang. “Kermana Damy, bae-bae ko?”. Dan saya, sambil duduk sopan menjawab “ya.. bae-bae sa … Pak”
Pak El pun tidak lama berbasa-basi dan langsung bicara dengan nada bertanya “Orang NTT banyak yang berbakat tulis-menulis. Tidak sedikit jadi wartawan besar. Tapi, kok hebatnya itu di Jawa, di Bali di luar NTT? Kenapa tidak di NTT, khususnya di Kupang, ibukota Propinsi NTT? Beta pung mimpi di akhir jabatan ini (kala itu, El memang tinggal setahun menjabat Gubenur NTT), di Kupang musti ada Koran yang penerbitnya putra NTT”.

Dan tanpa memberi kesempatan kepada saya untuk bicara, Pak El langsung ‘perintah’: “Lu bikin koran ya. Beta kasih doi. Modal awal lima juta rupiah. Bikin dulu, kurang-lebihnya nanti diatur”.

Tentu saja saya makin bingung. Bikin koran? Menjadi penerbit koran? Ah gila. Pekerjaan apa ini? Apalah saya ini, yang belum apa-apa, belum dua tahun ‘tiba’tiba’ jadi wartawan Kompas Jakarta, gara-gara perang saudara di Timtim tahun 1975, disuruh menerbitkan koran?

Pak El pun tetap saja melanjutkan ‘perintahnya’. “Lu.. kumpul beberapa teman dan mulai. Biar jelek. Kritik beta yang keras, jangan takut. Beta bosan orang puji-puji tetapi dibawah sana (maksudnya daerah-daerah kabupaten), rakyat ternyata lapar, miskin, sengsara, susah”, seolah meramal beberapa bulan lagi akan meledak Bencana Paga Kabupaten Sikka 1977 yang makan korban ratusan anak balita tewas karena kurang gizi.
Saya yang masih bingung, diberondong lagi dengan ‘perintah’ terakhir yang sangat menggetar. “Lu… jangan senang naik sepeda motor kesana-kemari siang malam. Lalu pulang rumah, bikin berita. Lalu, tunggu honor. Dan sambil mengepal tinju, Pak El berujar, “Sudalah Damy, lu mulai saja dulu. Ingat orang NTT jangan kalah dengan orang daerah lain”.

Rangkaian perintah Pak EL di atas, kemudian memang melahirkan Surat Kabar Mingguan (SKM) pertama di Kupang bernama “KUPANG POS”. Dengan sangat susah payah, hanya mengandalkan satu mesin tik karena hampir seluruh dana diperuntukkan bagi biaya cetak SKM KUPANG POS terbit awal 5 Desember 1977, empat halaman dan dicetak di percetakan Arnoldus Ende-Flores.

Menyambut kelahiran KUPANG POS 5 Desember 1977 atau hanya empat bulan sebelum dipanggil Sang Pencipta, Pak El seolah menyesali dirinya yang terlambat mendorong kehadiran koran di NTT, khususnya Kupang, Ibu kota Propinsi NTT. “Seharusnya dari dulu, kita sudah mulai”, begitu Pak El menorehkan salam selamat datangnya kepada bayi Redaksi Mingguan KUPANG POS. Tetapi hanya setahun kemudian KUPANG POS pun mati, menyusul Pak El. Berbagai faktor penghambat mengganjal kelangsungan hidup KUPANG POS. Ada faktor internal seperti kurangnya Sumber Daya Manusia, modal,  prasarana dan sarana kerja. Tetapi yang paling berpengaruh adalah faktor eksternal yang berasal dari birokrasi dan politisi. KUPANG POS yang gencar mengeritik dan dikelola oleh yang non-Golkar, dipandang sebagai musuh yang harus dihabisi. Dan memang kisah KUPANG POS berakhir setelah ‘tulang-belulangnya’ diperebutkan oleh sejumlah pentolan birokrat, politisi serta ‘pencuri tulang’.

Proses kelahiran Mingguan KUPANG POS di atas, sesungguhnya memperlihatkan gaya kepemimpinan tipikal Pak El Tari, tentara yang menjadi pamong praja.  Semangat persaudaraan (broederschap) yang selalu didengungkan kepada semua pemimpin di NTT, tercermin dari ‘perintahnya’ untuk mendorong hadirnya koran di Kupang secara bersaudara tanpa mempersoalkan latar belakang seseorang.

Jika sekiranya di Hari Ulang Tahun ke-41 Propinsi NTT hari ini 20 Desember 1999, Pak El masih hidup, rasanya beliau akan menjadi salah seorang yang paling berbahagia. Karena ‘perintahnya’ yang penuh semangat persaudaraan 22 tahun yang lalu, telah menyemangati sejumlah wartawan dan bibit wartawan di NTT untuk memulai pekerjaan di penghujung 1992 menerbitkan Surat Kabar Harian Pertama di NTT, Surat Kabar Harian Pos Kupang. Dan dalam tempo yang relatif singkat, hanya tujuh tahun kemudian, telah lahir sedikitnya empat surat kabar harian di daerah ini, sebagaimana mimpinya Pak El. Pak El, doakan kami dari surga dan Selamat Ulang Tahun ke-41 NTT. (damyan godho)


Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 20 Desember 1999 hal 1

Peradilan rakyat

PEMERKOSA dibakar massa! Demikian judul salah satu berita dalam sebuah mingguan terbitan ibukota yang rajin mengunjungi pembacanya di Kota Kupang baru-baru ini.

    Peristiwanya terjadi di salah satu desa di Tangerang, Jawa Barat, persis berbatasan dengan kota metropolitan Jakarta. Dua lelaki yang dituduh memperkosa seorang gadis berusia 16 tahun dibakar hidup-hidup oleh massa di halaman kantor desa itu. Ironisnya, pengadilan oleh massa itu justru terjadi ketika kedua tertuduh sedang menyelesaikan kasusnya di hadapan pamong praja, dan berada di bawah pengawalan ketat empat anggota polisi militer. Apakah polisi militer itu sengaja membiarkan massa menghakimi kedua korban? Jelas tidak! Secara naluri, kehadiran aparat keamanan apalagi itu polisinya militer setidak-tidaknya membuat nyali pelaku tindak tidak manusiawi terhadap orang lain ciut. Tapi, surutnya nyali itu mungkin kalau orang-perseorang, ibarat lidi yang tercerai berai dari berkas sapu lidi. Tetapi sebagai sapu lidi, ia kuat, apalagi punya kesamaan emosi terhadap suatu obyek.

    Pengadilan oleh massa atau peradilan rakyat tak terhitungkan lagi terjadi di negeri multietnik dengan kebudayaannya yang spesifik dan unik ini. Pengadilan oleh massa itu bukan baru belakangan ini terjadi, sudah dari dulu kala sejak emosi dan rasio ada pada manusia. Tetapi kenapa justru belakangan ini pengadilan massa semakin manjadi-jadi di negeri ini?

Banyak komentar dan pendapat disampaikan orang-orang dengan latar pandang dan nalar yang berbeda. Tapi intinya cuma satu dan itu sudah jamak diucapkan; tidak percaya kepada aparat penegak hukum. Pernyataan ini tidak mengada-ada alias merekayasa untuk mendiskreditkan aparat. Referensi yang dipegang masyarakat adalah fakta. Padahal aparat sebenarnya tidak tutup mata atau mendiamlan kasus-kasus tindak pidana. Sebab penanganannya melalui proses, dan itu ada prosedurnya, tidak asal tembak alias sembrono. Namun masyarkat menilai cara itu lambat. Bahkan aparat dituduh tidak tanggap. Akibatnya, masyarakat menjadi temperamental, tidak sabaran, ingin segalanya serba instan. Mungkin ini dampak buruk dari budaya mengonsumsi makanan super cepat saji seperti mie instan itu, yang cepat mengembalikan engeri tanpa memperhatikan dari segi gizi perlu diuji ulang.

Soal penangan secara instan pun sesungguhnya sudah diresponsi aparat. Di antaranya apa yang disebut peradilan cepat atau peradilan kilat atas suatu kasus. Namun untuk kasus-kasus istimewa jelas tidak mungkin dilakukan peradilan kilat. Jika pun itu dipaksakan, boleh-boleh saja. Yang penting, te-es-te atau tau sama tau-lah. Yang ini adalah bahasa sandi, tidak perlu dideskripsikan. Ini adalah budaya, budaya yang sudah mengakar, seperti halnya korupsi di negeri ini yang sudah masuk ke dalam khazanah kebudayaan bangsa. Tidak apa-apa walaupun memalukan sekaligus menjijikkan.

Itulah romantika penegakan hukum di negeri ini. Kendati ketidakpercayaan kepada parat penegak hukum sudah kuat melekat di hati dan benak warga masyarakat, tapi masih bersyukur bahwa dalam ketidakpercayaan itu, justru kita masih rajin mendengung-dengungkan: negeri ini adalah negara hukum!

Memang, hukum dan orde itu ada untuk mengatur laku hidup manusia agar tidak sembrawut, tidak homo homini lupus, tidak chaos. Yang menjadi masalah adalah the man behind the law itu, yaitu para bapak/ibu polisi, jaksa, hakim dan pengacara/penasihat hokum. Betul bahwa mereka ini adalah manusia. Dan, sebagai manusia, mereka tidak lepas dari keinginan-keinginan untuk lebih. Ini erat kaitannya dengan nafsu. Tapi, apakah karena paham akan hukum lalu boleh bernafsu-nafsi, raja di mata, suitan di hati dalan mengaplikasikan hukum terhadap para pencari keadilan?

Jangan heran bila reaksi spontan masyarakat terhadap sesama warga masyarakat yang la’a sala (Bajawa: Berzinah, memperkosa dan sejenisnya) atau sejenisnya diwujudkan dalam bentuk ramai-ramai menjadi hakim. Mungkin baik juga pengadilan massa/peradilan rakyat ini tidak hanya menjadi milik orang kecil.  (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 13 Desember 1999 hal 1

Roda itu Berputar

RODA itu berputar. Sebentar di atas, sebentar di tengah, sebentar di bawah. Dalam mengarungi hidup ini, suka dan duka datang silih berganti menghinggapi diri sendiri. Apa pun dan bagaimana pun orang itu. Adalah mustahil bahwa sepanjang hidup seseorang itu tidak pernah mengalami suka atau tidak pernah mengalami duka. Keduanya, suka dan duka, melekat pada diri sendiri. Sebentar dia berada pada bagian yang harus menahan hampir seluruh beban di atasnya - seperti halnya roda -, sebentar dia berada pada sisi yang enteng kendati tetap menanggung beban di atasnya, begitu seterusnya. Begitulah kira-kira siklus hidup manusia.

    Roda itu berputar! Ungkapan pasrah ini biasanya datang dari orang yang tengah dirundung kemalangan. Kemalangan di sini, biasanya, terhadap rasa keadilan. Apa yang ia rasakan sudah menjadi haknya, ternyata tidak ia peroleh. Tetapi sebaliknya, yang merasa bukan haknya, ternyata seakan-akan haknya. Yang disebutkan terakhir ini pun merasa biasa-biasa saja, wajar-wajar saja. Jarang manusia di dunia ini menolak untuk menerima yang bukan haknya. Yang berani melakukan itu hanya pada manusia yang punya nurani. Tapi nurani saja bisa dimanipulasi, dipermainkan. Buktinya? Banyak contoh kasus untuk itu.

    Ketidakadilan adalah drama kehidupan manusia dari hari ke hari, dari saat ke saat. Ketidakadilan justru datang dari sesama manusia. Dan, memang, keadilan pun sangat relatif bagi tiap orang.

    Indonesia saat ini sedang mencoba memutar kembali arah jarum jam. Mulai dari titik awal. Itulah yang coba dilakuan seorang ulama yang kini tengah memimpin bangsa dan negara ini. The right man on the right position coba digelindingkan.

    Begitulah, hukum yang penerapannya sudah sangat semrawut, yang seenak perutnya dimainkan oleh mereka yang menamakan dirinya penegak hukum coba diluruskan. Produk hukum yang dinilai tidak manusiawi coba dibenahi. Benyamin Mangkoedilaga yang oleh publik dikenal sebagai pendekar hukum, coba ditunjuk sebagai ketua Mahkaman Agung. Presiden Gus Dur juga akan membentuk Badan Evaluasi Produk-produk Hukum Nasional. Untuk posisi ini ditunjuk Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, Profesor JE Sahetapy dan mantan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus),  Antonius Suyata.

    Demi keadilan, Presiden Gus Dur juga menunjuk dan mengangkat mantan Direktur Utama PT Telkom, Cacuk Sudarijanto, sebagai Wakil Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

    Nama-nama di atas: Benyamin Mangkoedilaga, Antonius Suyata dan Cacuk Sudarijanto adalah nama-nama yang memiliki catatan reputasi, track record yang tidak diragukan. Cacuk Sudarijanto yang di masa pemerintahan Soeharto dikeranjangsampahkan lalu terlunta-lantung di luar sistem. Sebagai  Jampidsus, Antonius Suyata adalah kerikil dalam sepatu bagi rezim yang berkuasa kala itu. Begitulah, Cacuk Sudarijanto dan Antonius Suyata harus menanggung dosa integritas terhadap penegakan hukum dan keadilan, harus menerima kenyataan, dikeranjangsampahkan. Tetapi itulah, roda itu berputar. Presiden Gus Dur mencoba menempatkan kembali mereka pada tempat yang terhormat.

    Begitulah, pejabat atau mereka yang berada pada posisi strategis dalam pemerintahan atau pengabdian pada publik dan selalu berjalan lurus, taat setia mengikuti aturan, tata tertib, norma dan adat, bebas KKN, tidak saja dimusuhi oleh rekan-rekan sejawat atau di atasnya yang ingin memetik keuntungan pribadi dari posisi seperti itu, tetapi juga oleh keluarga atau sahabat dekat mereka.

    Ucapah "Ah, dia itu mau masuk surga bulat-bulat" atau ungkapan senada tidak jarang datang dari pihak seputar kelaurga, sahabat dekat. Ya, itulah nada ketidakpuasan keluarga, sahabat dekat karena tidak mendapatkan keuntungan dari anggota keluarga/sahabat yang punya kedudukan. Tapi, fakta menunjukkan, tidak sedikit dari orang-orang lurus itu bahagia dalam mengarungi sisa-sisa hidupnya di kemudian hari. Fakta juga menunjukkan sebaliknya, yang jaya, yang menindas karena kuasa yang melekat kala ia berkuasa tapi saat ia menjadi rakyat biasa, ia terpuruk dalam macam-macam penderitaan. Bagi Anda yang menjabat, tinggal pilih mau yang mana. (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 6 Desember 1999 hal 1

Dosa yang membawa nikmat

JEFFREY A WINTERS adalah seorang profesor ekonomi politik pada Northwestern University, AS. Selama lima belas tahun dia  bekerja sebagai konsultan. Indonesia termasuk salah satu negara di antara negara-negara di Asia Tenggara yang dibidik dalam kajian dan penelitiannya. Tulisan-tulisannya berupa kupasan-kupasan politik dan ekonomi tentang Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara itu ia sebarluaskan di berbagai media massa di luar  negeri, dan tentu saja masuk juga ke Indonesia. Maka jadilah santapan rohani bagi para cerdik cendekia negeri ini.

    Oleh beberapa cerdik cendekia negeri ini, tulisan-tulisan dari hasil analisis Jefrrey Winters menyangkut sepak terjang Soeharto selama periode pemerintahannya bersama elit politik yang mengitarinya pada kurun waktu 1993-1998 disusun secara kronologis. Maka jadilah sebuah buku berjudul Dosa-dosa Politik Orde Baru.

    Terserah Anda, apakah yang dilukiskan Jeffrey Winters tentang pelaku berpolitik pada era Soeharto itu disebut dosa atau bukan. Tapi yang jelas, inspirasi yang datang dari judul buku itu sepertinya telah membuat orang-orang belakangan ikut-ikutan kalau tidak disebut latah-latahan. Kekhilafan - mengikuti gaya Orba, ucapan lebih santun untuk ungkapan kesalahan - seorang pejabat disusun dan dijadikan semacam satu litani panjang: Daftar dosa.

    Tersebutlah baru-baru ini di Kabupaten Sikka. Seorang kepala sekolah (Kepsek) diamankan ke bagian administrasi di Kantor Depdikbud setempat. Sanksi pengamanan terhadap diri sang Kepsek konon sebagai sanksi atas dosa-dosa yang dilakukannya. Total dosa yang dilakukannya ada sembilan belas. Rinciannya, sembilan dosa penyelewengan keuangan dan sepuluh dosa nepotisme. Jumlah ini bahkan belum terhitung dosa otoriter sang Kepsek.

    Ya, itulah nikmatnya menyusun daftar dosa orang lain. Sang Kepsek dimutasikan, kolega dan para orangtua murid yang ditinggalkan merasa lega. Entahlah nasib sang Kepsek selanjutnya.

    Itu kejadian di daerah terpencil di Bola, desa selatan di Kabupaten Sikka. Desa yang dikenal memiliki kenangan religi. Yaitu tatkala orang Portugis meninggalkan tanda mata berupa tiang balok berpalang satu sehingga membentuk tanda salib - suatu tanda yang menjadi kiblatnya kaum kristiani - di atas batu karang di pantai laut Bola yang dikenal dengan sebutan Watukrus.

    Daftar dosa seseorang yang ada kaitannya dengan pengabdian kepada publik memang lagi ngetrend. Karena itu, tidak salah kalau kita memakai kesempatan emas ini untuk menyampaikan unek-unek. Tapi unek-unek disertai landasan nalar yang kokoh, bukan seperti kelakuan anak-anak dari Taman Kanak-Kanak (TKK).

    Terhadap Presiden Gus Dur sendiri bahkan orang mulai mengumpulkan 'dosa-dosanya'. Mereka mulai dengan pernyataan-pernyataan yang dinilai kontroversial. Setelah lengser keprabhon seperti halnya Soeharto, mungkin saja orang menyebut 'dosa terbesar' Presiden Gus Dur adalah menyamakan para anggota Dewan terhormat dengan murid-murid Sekolah Taman Kanak-Kanak.

    Kalau Presiden saja orang sudah berani mulai menginventarisasi 'dosa-dosanya', apalagi yang di bawah-bawahnya. Ketua MPR juga sudah diusik-usik. Bila saja Aceh nanti memilih merdeka dan lepas dari negara kesatuan Republik Indonesia, barangkali, 'dosa terbesar' yang dikenakan pada Amien Rais adalah gara-gara gagasan dia membentuk negara federal.

    Ya, memang tak lama setelah Presiden Soeharto lengser keprabhon 21 Mei 1998, masyarakat Indonesia ibarat kuda jantan lepas kandang. Yang dulu tabu, kini tidak ditabukan. Dulu takut terkena petrus (penembak misterius) atau segolongannya karena blak-blakan menyebut dosa-dosa pejabat, kini orang tidak ambil pusing lagi.

    Barangkali ini pertanda baik menuju era buka-bukaan yang sebenarnya tanpa harus adanya rasa risih apalagi dendam. Semuanya untuk kebaikan semua. Bila demikian, pantas kalau kita mengatakan Oh, dosa yang membawa nikmat!

    Maka, bersiap-siaplah Anda untuk menerima daftar dosa dari rakyat Anda, dari anak buah Anda. (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 22 November 1999 hal 1

Orang desa

SETINGGI-TINGGI bangau terbang, ke kubangan/perlimbahan juga ia kembali. Itulah peribahasa yang sering dikenakan kepada orang tidak lupa kampung asalnya dengan segala adanya budaya yang melingkupnya. Sejauh-jauh dia merantau, ke kampung juga ia kembali. Ya, orang yang tahu diri, betapa pun ia telah 'menjadi orang' ia tidak lupa akan kampung halaman tempat ari-arinya ditanam di kala baru keluar dari rahim ibunya. Ia tetap menghargai, menghormati, peduli dan mau dekat denga orang-orang di desanya betapapun mereka kuyu dan dekil. Ia tidak apatis terhadap mereka kendati budaya desa, cara berpikir orang desa yang pernah melekat pada diri seseorang telah terlebur dalam budaya dan cara berpikir baru, tetapi asli desa tidak mungkin terhapuskan dari benaknya.

    Sikap itu biasanya bertolak belakang dengan orang yang mentang-mentang. Mentang-mentang sudah mendapat pendidikan tinggi, mentang-mentang sudah menjadi pejabat ini pejabat itu lalu kampung dengan segala ketertinggalannya bersama sanak keluarga dan masyarakat yang masih berkutat dengan yang itu-itu saja sejak dari dulu, ia lihat dengan sebelah mata. Bahasa yang dipakainya pun bahasa pejabat dengan segala retorika bernuansa manipulatif.

    Salah satu hal yang masih melekat kuat pada orang desa adalah berpikir asosiatif. Bagi etnik atau subetik tertentu di NTT ini misalnya, sinyal yang diberikan alam atau binatang mempunyai makna tertentu. Kupu-kupu masuk ke ruang tamu pada malam hari punya makna tertentu. Misalnya, pertanda bakal kedatangan tamu. Atau kupu-kupu malam hari terbang langsung masuk kamar tidur juga punya arti tertentu, tanda bakal dapat berita sedih. Hal yang sama juga terhadap serangga belalang. Belalang sentadu yang masuk rumah pada malah hari mungkin tidak membawa sinyal apa-apa. Belalang dengan bentuk kaki panjang dan leher jangkung ini dipakai sebagai lelucon. Tetapi kalau malam hari belalang hijau dengan kepala bentuk kerucut masuk rumah bukan pada musimnya, pertanda kurang baik.

    Berpikir asosiatif memang masih monopoli orang-orang desa. Tapi dari contoh di atas, berpikir asosiatif masih berlaku pada orang-orang terpelajar yang rasional.

    Kembali pada belalang. Petani sudah bisa membaca apa yang bakal terjadi seandainya serombongan belalang jenis tertentu menghinggapi tanaman ladangnya. Bagi petugas penyuluhan pertanian (PPL) juga sudah bisa membaca hahaya apa yang akan menimpa petani kalau belalang jenis tertentu itu menumpuk di atas daun-daun tanaman. Petani paham akan bahaya itu karena pengalamannya Sedangkan PPL paham karena referensi ilmu yang pernah diperolehnya dalam pendidikan formal. Dan, untuk bahaya belalang itu, mereka sama-sama peduli.

    Begitulah kira-kira yang terjadi di Sumba Timur. Petani dan orang pertanian berteriak. Sayang, teriakan mereka hanya setengah didengar. Tatkala serangan hama belalang merambah sampai ke rumah-rumah pejabat barulah kepedulian datang. Masyarakat dikerahkan ramai-ramai menangkap belalang. Upahnya, beras.

    Kini, apa jadinya? Kita berkutat seputar diksi lapar dan rawan pangan. Sementara orang desa masuk hutan mencari iwi tetap dianggap budaya. Itulah kepedulian kita terhadap orang desa. Kita yang masih berkutat pada diksi lapar dan rawan pangan, barangkali ada baiknya tidak lupa desa, kampung halaman. Bukankah orang kota bergantung pada orang desa? Apa jadinya orang kota tanpa petani-petani di desa? (marcel weter gobang)

Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 15 November 1999 hal 1

Uang panas

BELAKANGAN ini orang-orang di Kota Kupang atau warga masyarakat di beberapa kota kabupaten, kota kecamatan atau masyarakat yang bermukim tak jauh dari pantai, terasa gerah pada siang atau malam. Apalagi kalau langit terlihat mendung. Gerah yang terasa pada malam hari membuat suasana tidur pun tidak nyaman.

    Gerah atau panas lengas dikenal dalam kamus sehari-hari sebagai tanda hari hendak hujan. Suasana ini biasanya disertai kurangnya hembusan angin. Ini membuat badan berasa panas dan keringatan. Tapi orang yang keringatan karena gerah itu tentu beda dengan orang yang keringatan karena kepedasan makan lombok.

    Dikalangan elit politik saat ini, rasa gerah itu bukan lantaran pertanda hari akan hujan. Tapi, karena perannya di masa lalu mulai dikuak. Tentu saja peran yang merugikan banyak orang. Rasa gerah itu sudah terasa setelah pemilu lalu. Setelah partainya masuk dalam kelompok peraih suara terbanyak, skenario pun diatur. Lalu disusul dengan manuver-manuver. Ya, untuk apa kalau bukan untuk menggolkan calonnya duduk di kursi teratas. Atau bagaimana supaya orang-orang dari partainya lebih khusus lagi dari kliknya dalam partai itu, bisa meraih posisi cukup menentukan. caranya, duit dimainkan atau kerennya, money politics. Duit dari mana? Ya, mencetak uang asli tapi palsu tidak mungkin. Karena itu, pengusaha pun dicecar. Kenapa mereka dicecar? Alasannya mereka itu kan menjadi besar karena telah mendapat semacam konsesi di masa lalu. Jadilah Bank Bali salah satu korbannya. Dirutnya dipenjara sementara yang mencecer tetap leluasa bergerak malah dilantik sebagai pejabat ini pejabat itu, pokoknya mendapat proteksilah.

    Duit dimainkan untuk tujuan apa? Supaya orang-orang dari kliknya itu bisa naik. Dengan naiknya orang-orang yang diperjuangkan itu maka mereka bisa cuci tangan dari permainan kotor yang telah mereka lakukan.

    Pada hari-hari ini, kegerahan sangat mereka rasakan. Apalgi nama-nama mereka ditulis terang-terangan oleh media massa cetak. Bisa dibayangkan, betapa tidak tenangnya hidup mereka. Duduk di kursi mobil mewah tapi pantat terasa panas padahal udara sejuk terpancar terus-menerus dari AC mobil mengenai jidat mereka.

    Ini suatu gelagat baik. Pertanda, orang-orang seperti itu bakal dikikisbersihkan. Benarkah begitu? Mudah-mudahan!

    Di NTT, dalam menangani arus pengungsi dari Timor Timur, tidak sedikit orang bekerja keras membantu karena landasan kasih, karena panggilan nurani yang tulis. Tapi kalau mau jujur, tidak sedikit pula yang bekerja karena pamrih. Mudah-mudahan hasil kerja pembangunan barak-barak pengungsi yang diprotes camat Sulamu di Kabupaten Kupang itu dibangun atas landasan pamrih.

    Orang-orang bijak selalu mengingatkan bahwa para penjudi tidak akan menjadi kaya dari hasil perjudian. Kalaupun menjadi kaya raya, itu pun tidak langgeng, tidak bertahan. Soalnya, orang-orang seperti itu bergelimang di atas uang panas. Sekali dia ambruk, dia akan jatuh melarat tidak kepalang tanggung. Pernyataan itu tidak mengada-ada tapi mengacu pada pengalaman, diangkat dari fakta yang pernah terjadi.

    Uang panas tidak saja didapat melalui permainan judi tetapi melalui cara-cara yang tidak sah, apalagi dari himpitan penderitaan orang lain. Uang panas, kata orang, biasanya tidak membawa berkah. Buktinya? Banyak contoh tentang itu.

    Saat itu, para pengungsi asal Timor Timur yang masih ada di wilayah NTT, khususnya di daratan Pulau Timor bagian barat sangat meraaskan betapa gerahnya tidur berbulan-bulan di bawah tenda terpal plastik atau di bawah naungan pohon atau di barak-barak darurat. Masihkah kita menangguk untung dari keadaan mereka? (marcel weter gobang)

Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 8 November 1999 hal 1

Dekat Tuhan

Marcel W Gobang
SEORANG teman pernah bercerita: Saya pernah menganggur selama hampir empat tahun, tanpa pekerjaan tetap. Padahal beban hidup makin menindih. Anak nomor satu mau masuk TK. Satu sedang dalam kandungan istri. Saya melamar ke sana ke mari, bahkan sampai puluhan lamaran, tetapi tidak berhasil. Meski begitu, saya tetap rajin berdoa, rajik ke gereja.

Namun suatu hari, saya begitu putus asa, saya marah pada Tuhan. Dalam sikap asal-asalan, saya berkata, "kok, teman-teman saya yang tidak pernah ke gerja, hidupnya gampang. Tuhan memberikan mereka kemudahan-kemudahan, pekerjaan bagus dengan penghasilan yang bagus pula. Padahal kualitas teman-teman itu di bawah saya."

    Teman tadi melanjutkan ceritanya: Ya, begitulah saya berdoa kepada Tuhan. Habis, saya sudah hampir putus asa. Bagaimana saya bisa membiayai hidup dan pendidikan anak-anak saya kalau saya tidak mempunyai pekerjaan tetap? Anda kan tahu, kita ini hidup di kota besar (maksudnya, Jakarta). Nah, tiap hari di koran-koran selalu ada iklan lowongan pekerjaan. Sambil memperhatikan salah satu iklan lowongan kerja itu, saya berkata begitu "Tuhan, kalau Engkau tidak ingin keluarga saya menderita, coba tunjukkan bahwa Engkau benar-benar ada. Kalau lamaran ke perusahan dalam iklan ini tetap juga saya tidak berhasil diterima, sudahlah itu berarti Engkau benar-benar tidak ada. Bila itu benar, itu berarti selama ini saya ditipu oleh pastor dan guru agama, juga orang tua saya yang mengatakan bahwa Tuhan itu ada tapi tidak bisa dilihat."

    "Nah, apa yang terjadi?" tanya teman itu. Tanpa menunggu jawaban, teman itu menjawab sendiri, "Tahu, nggak. Saya kirim surat lamaran ke perusahaan tadi. Dua hari kemudian datang surat panggilan minta saya ikut tes. Saya nilai, tes itu hanya formalitas saja. Dua hari kemudian, saya dapat surat panggilan lagi. Isinya, minta saya segera masuk kerja. Nah, sebelum saya berangkat menuju ke kantor perusahaan itu, saya berdoa singkat tapi khusuk. Saya berkata : Tuhan, ternyata Engkau benar-benar ada !

    Di perusahaan itu, karir teman tadi cepat sekali menanjak. Dia juga sangat enjoy dengan pekerjaan itu. Ketika bertemu lagi setelah belasan tahun tidak pernah ada komunikasi, teman tadi ternyata sudah menjadi orang berkecukupan.

    Lalu bagaimana hubungannya dengan Tuhan? "Ya, jujur saja, saya tetap ingat Tuhan meskipun jarang ke gereja. Kalaupun berdoa, tidak sampai dua tiga menit," jawab teman tadi.

***
    CERITA lain, pengalaman seorang wartawan yang dikirim lembagannya untuk meliput jalanannya dan hasil jajak pendapat di Timor Timur bulan Agustus sampai sekitar medio September lalu.

    Ketika hasil jajak pendapat diumumkan 4 September, reaksi ketidakpuasan dan rasa kecewa berat kubu prointegrasi membuat kelompok ini mata gelap. Milisi prointegrasi membuat kelompok ini dibumihanguskan. Penduduk dipaksa dan terpaksa mengungsi. Keselamatan para wartawan pun ikut terancam.

    Meskipun wartawan tadi mengaku bahwa di dalam gedung gereja itu dia dan teman-temannya merasa aman dan ingat kembali Tuhan, lalu bagaimana setelah dia kembali ke tempat asalnya? "Ya, memang kalau lagi terancam bahaya baru kita ingat Tuhan," tutur wartawan itu.

    Tempat pengungsian yang paling dan relatif aman hanyalah markas Korem, Polda dan gereja, tutur teman tadi. "Tapi karena markas Korem dan Polda tepah padat diisi pengungsi, maka saya dan beberapa teman wartaawn lain pun terpaksa mengungsi ke gereja. Berat sebenarnya kami harus mengungsi ke gedung gereja. Soalnya, ternyata tidak cuma saya tidak pernah ke gereja. Teman-teman itu juga ternyata sama dengan saya," tutur wartawan tadi.

    Meskipun wartawan tadi mengaku bahwa  di dalam gedung gereja itu dia dan teman-temannya merasa aman dan ingat kembali Tuhan, lalu bagaimana setelah dia kembali ke tempat asalnya? "Ya, memang kalau lagi terancam bahaya baru kita ingat Tuhan," tutur wartawan itu.

    Hal yang sama dilakukan sebagian warga Muslim Kosovo di Kota Tirana, Albania. Melalui media massa yang merekam sikap hidup mereka, sebagian warga muslim di kota itu baru mencari ketenangan dengan rajin menjalankan shalat lima waktu ketika nyawa mereka terancam peluru. Itu pun ketika menyelamatkan diri dengan mengungsi ke mesjid-mesjid. Namun, ketika ditanya apakah para pengungsi itu beraliran Sunni atau Syiah, salah satu pengungsi mengatakan, "Apa? Kami semuanya Muslim. Semuanya."

    Di Kota Kupang, pada hari Minggu pagi antara jam 06.00 sampai 09.00 jalanan relatif sepi. Bisa dihitung dengan jari angkota dan kendaraan roda dua dan empat lainnya di jalan-jalan. Toko-toko juga baru dibuka di atas jam 11.00 tapi umumnya sore. Asumsi kita, tentu mayoritas warga masyarakat di kota ini ke gereja. Sehingga pantas kalau kota ini disebut kota religius.

    Ya, kita angkat topi atas budaya masyarakat kota yang religius ini. Kita juga angkat topi tanda salut, rajin ke gereja rajin juga memajak angkota, berkelahi antar kelompok lalu merusak rumah-rumah orang yang tidak tahu menahu masalahnya, juga rajin memperdayai gadis-gadis di bawah umur. Siapa? (marcel weter gobang)

Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 1 November 1999 hal 1

Ngambek

NGAMBEK berasal dari atau akar katanya, ambek. Dan, menurut KBBI (kamus besar bahasa Indonesia), kata ini adalah dialek Melayu Jakarta atau Melayu Betawi. Sinonimnya, merajuk. Selain sama, keduanya sedikit beda. Dalam dialek Melayu Betawi, terutama dalam pergaulan sehari-hari, kalau dikatakan, "Dia lagi ngambek", atau "dia ambekan", maka maknanya adalah orang itu agak marah, mudah marah, lekas marah. Sedangkan merajuk, artinya menunjukkan rasa tidak senang. Ini diperlihatkan dalam tingkah laku misalnya berdiam diri, tidak mau bergaul (tentu dengan tampilan wajah yang mendukung perilaku kejiwaan untuk itu dan sifatnya sesaat). Juga berarti, bersungut-sungut atau mengomel.

    Ngambek atau merajuk, melekat dalam kehidupan sehari-hari setiap orang entah itu anak-anak, entah itu orang dewasa, bisa sampai pada kakek-kakek dan nenek-nenek. Karena sifat ini melekat pada setiap individu, maka itu ada pada orang terpelajar dan kurang atau tidak terpelajar. Buktinya, seorang intelektual  yang pernah belajar sembilan tahun di Amerika Serikat (AS)  dan kemudian meraih doktor di negeri Paman Sam iatu baru-baru ini menunjukkan sifat childish-nya, yaitu tatkala idolanya tidak terpilih menjadi raja di negeri yang zaman dahulu kala diproklamirkan sebagai Nusantara melalui Sumpah Palapa-nya Pati Gajahmada dari Kerajaan Majapahit.

    Dalam kehidupan, Anda pasti pernah melakukan itu, sadar atau tidak sadar. Anda sebagai suami, tentu pernah ngambek atau merajuk terhadap istri Anda. Begitu pula sebaliknya. Alasannya bisa saja karena masalah sepele. Wujudnya, bisa halus, bisa pula kasar dan sadis. Misalnya, ada suami yang ngambek, dan itu diperlihatkannya tidak saja dengan kata-kata bernada marah, tapi bisa pula melampiaskan dengan menghancurkan benda-benda yang ada sekelilingnya, seperti piring atau gelas dibanting hingga pecah, nasi atau sayur di piring dan mangkuk ditebar dan ditumpahkan. Anak merajuk atau ngambek pada kedua orangtuanya, sering terjadi. Alasannya juga macam-macam. Bahkan pasti terjadi, ada anak yang ngambek dengan menggancam meninggalkan kedua orangtua (dalam dialek Melayu Betawi atau Jawa disebut minggat) yang menyayanginya. Bisa saja 'ancaman itu datang dari hati kecil si anak sendiri, bisa pula karena 'ditusuk-tusuk' oleh sang kakak dalam keluarga itu yang sudah pintar bikin skenario mengusik orangtua. Dalam hal ini, ada orangtua yang menanggapi serius, ada pula yang tidak menanggapi serius 'ancaman' si anak.

    Di kalangan anak muda (umumnya), terutama kalau lagi kasmaran, dua perilaku itu menjadi biasa (maaf, tidak seperti contoh suami istri itu).

    Nah, itu ngambek dan atau merajuk dalam kehidupan keluarga. Ngambek dan merajuk juga terjadi dalam kehidupan suatu kelurga besar, yaitu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Ya, bukankah keluarga (ayah, ibu, dan anak) itu nukleus, inti terkecil atau tersedikit dari suatu bangsa? Dari inti terkecil ini kemudian berkembang menjadi satu rumpun subetnik. Kumpulan rumpun subetnik-subetnik itu kemudian menjadi satu etnik yang terikat menjadi satu karena berlatar belakang sejarah yang sama atau hampir sama.      Negara Kesatuan Republik Indonesia, kita tahu, memiliki begitu banyak subetnik. Tidak beda dengan keluarga inti, tiap anak dalam keluarga inti memiliki sifat, karakter sendiri-sendiri, demikian pula subetnik dalam keluarga besar bangsa. Kalau dalam keluarga inti ada anak yang ngambek lalu mengancam untuk minggat, dalam keluarga besar bangsa juga demikian, mau berdiri di atas kaki sendiri alias berdikari, melepaskan diri sama sekali dari keluarga inti alias merdeka. Tapi lucunya, perlakuannya tidak beda dengan anak dalam keluarga inti. Mengancam orangtua dengan memanipulasi suara dari anak-anak tetangga terdekat bersekongkol untuk 'minggat'. Benarlah kata para pakar bahwa apa yang tengah terjadi di suatu wilayah di negeri ini tidak lain dari ciri kekanak-kanakan, childish.

    Persis anak kecil dalam keluarga, di belahan lain negeri ini, ada anak yang ngambek, tapi setelah diberi 'permen', bungkamlah dia. Tapi korban ambekan telah terlanjur besar. Lalu bagaimana dengan yang belum diberi 'permen'? Seperti dalam keluarga, kalau ada di antara anak-anak itu yang sudah pintar membuat skenario mengusik orangtua, mungkin anak-anak yang membuat skenario itulah yang perlu dikasih sesuatu. Tapi jangan permen, kasih saja pil kina. Soalnya, seperti dalam dialek Jawa bilang, orang-orang seperti ini tidak ambekparamarta. (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 25 Oktober 1999 hal 1

Muka badak

Marcel W Gobang
DI INDONESIA, badak termasuk binatang langka. Akronim binala. Ini untuk membedakannya dari manula, akronim untuk sebutan manusia langka (bukan manusia usia lanjut). Postur dan bobot badan binala ini bervariasi di belaham bumi ini. Karena bangun tubuhnya agak berbeda, maka nama yang diberikan manusia padanya pun berbeda. Ada yang disebut badak bibir lebar. Binala jenis ini beratnya lebih dari tiga ton. Ada badak India (2,5 ton), badak bibir runting (0,5 ton), badak Jawa (1,5 ton) dan badak Sumatera (0,5 ton). Apakah berbibir lebar atau runcing, semua jenis badak berbibir tebal.
   
Nah, bayangkan kalau Anda diinjak-injak badak. Anda bisa jadi seperti bubur lumpur bercampur bau tahi dan kencing binatang ini. Maklum, setelah membuang hajat, binala ini berkebiasaan menginjak-injak tinjanya sendiri, juga air seninya. Maksudnya, supaya di tanah yang ditapakinya akan tertinggal jejak kakinya sehingga mudah dibaui oleh gerombolannya yang lewat kemudian.

    Selain bobot badanya mencapai tiga ton lebih, binatang ini memiliki semacam tanduk yang disebut cula. Tapi, tempat tumbuh cula ini beda dengan tempat tumbuhnya tanduk pada binatang mamalia atau binatang berkuku lainnya seperti sapi, kambing, kerbau atau rusa. Tanduk sapi,misalnya tumbuh di bagian atas jidat. Sedangkan cula badak tumbuh di atas tulang-tulang hidung. Kalau sapi, kambing atau kerbau biasanya bertanduk dua, tapi binatang ini ada yang bercula dua, dan ada yang bercula satu.

    Keunikan lain, binatang ini memiliki kulit yang tebal. Bahkan ada jenis yang kulitnya berbentuk lempengan-lempengan seperti lapisan baja dengan lipatan-kipatan di antaranya sebagai sendi yang dapat digerakkan. Kulit yang berlipat-lipat ini mirip dengan baju baja serdadu Romawi zaman baheula. Hampir semua jenis badak berkulit tanpa bulu. Karena itu, kulit binatang ini terlihat mengkilap seperti diamplas bila terkena sinar, ya seperti kulit kerbau.

    Bila kita lagi nasib baik saat ke cagar alam di Ujungkulon, Jawa Barat, bisa menyaksikan betapa mengerikan melihat tampang bintang yang satu ini. Bulu roma bisa langsung tegak melihat tampangnya yang tidak karuan dengan lubang hidung yang besar, mata lebar, dsb.

    Karena keunikannya itu disertai populasinya yang semakin kurang, maka binatang ini dimasukkan dalam kategori binatang langka (binala). Karena itu pula, dia harus dilindungi agar tidak punah. Maka ditempatkanlah mereka di cagar alam seperti di Ujungkulon itu.

***

    MUNGKIN karena bangun tubuh dan kulitnya yang unik itu maka nama binala yang satu ini dimasukkan ke dalam khazanah kiasan terhadap manusia. Ya, seperti binatang kancil diibaratkan kepada manusia yang lincah bersilat lidah, misalnya. Karena itu, terdengar dan kesohor pula sebutan muka badak. Tapi di NTT, orang mengenal dengan sebutan muka kerbau.

    Ihwal manusia muka badak ini sesungguhnya ada di mana-mana, manusia di seputar lingkungan kita. Kiasan muka badak atau muka kerbau atau kemiripannya ada dalam bahasa di tiap etnik, termasuk NTT. Kalau tidak salah, di Ngada, ada kata nozo, Di wilayah tertentu di Manggarai, ada kata lami. Makna kedua katakias ini hampir sama. Yaitu, semacam tamu tidak diundang. Datang ke rumah tetangga yang mengadakan hajatan. Dengan berpura-pura ngobrol sana ngobrol sini tanpa ujung pangkal sampai berjam-jam, tapi sasaran tembaknya, tunggu makan enak di rumah tetangga.

    Di tingkat manusia elit pun manusia-manusia muka badak itu bergentayangan. Mungkin pula merupakan semacam konvensi bahwa ditingkat elit memang harus ada manusia-manusia seperti itu. Dan, orang-orang oportunistik yang kebetulan punya otoritas biasanya sangat berterima kasih atas kehadiran muka-muka badak itu. Keberadaan orang-orang bermuka badak itu dimanfaatkan untuk mencapai sasaran tertentu apakah sasaran politis atau ekonomis. Karena itulah mereka dipelihara, ya, diperlakukan seperti binala itu, mendapat azilum. Seperti halnya binatang badak yang karena postur badannya yang kasar dan berkulit tebal sehingga bisa menerobos hutan berduri, naik tanjakan atau turuni tebing curam tetapi nyawanya tetap selamat, demikian pula orang-orang oportunistik yang dilekati otoritas memanfaatkan manusia-manusia atau elit-elit beratribut muka badak itu.

    Kata kias muka badak itu pun ada pada manusia-manusia ambisius. Biar dicerca terang-terangan dan habis-habisan tapi dia tidak ambil pusing. Dan, banyak orang, kita di bumi Indonesia ini sudah menjadi korban orang-orang bermuka badak ini. Kita 'diinjak-injak tapi kita tak berdaya. Maklum, 'bobot badak' itu lebih dari setengah ton. (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 18 Oktober 1999 hal 1

Iman vs Demokrasi Luar Biasa

Damyan Godho
TIDAK sedikit politikus yang ada di MPR/DPR berpandangan bahwa terpilihnya Amien Rais menjadi Ketua MPR-RI sah-sah saja meski Amien Rais berasal dari Partai Amanat Nasional, partai yang sangat kecil perolehan suaranya dalam Pemilu 1999. Juga ketika Akbar Tandjung menjadi Ketua DPR-RI meski partainya Akbar, Partai Golkar, hanya di urutan kedua. Dan rasanya, para politikus itu akan berpandangan yang sama, jika yang terpilih nanti menjadi Presiden RI 1999-2004, bukan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, partai peraih suara terbanyak, meski tidak mayoritas, dalam Pemilu 1999.

    Tetapi bagi rakyat kebanyakan, rangkaian 'peristiwa' di gedung MPR/DPR di atas, mengundang tanda tanya dan membingungkan. Bagaimana yang kalah jadi menang dan yang menang justru keok? Yang besar jadi kecil? Sebelum Pemilu, tidak ada "koalisi besar-besaran, tetapi kemudian ada kelompok "poros-tengah", Meski Pemilu bertujuan untuk memilih wakil rakyat, namun untuk kemenangan partai, nama calon presiden sudah dipajang jauh-jauh hari. BJ Habibie dipajang Partai Golkar, Yusril dari PBB dan Amien Rais dari PAN.     Hasilnya, semua orang sudah tahu. Namun di hari-hari ini PDIP dengan Megawati sebagai calon presiden dibikin tidak berarti. Konon "bakal digusur" dalam pertarungan menuju Istana Merdeka sehingga ada yang membaptis gaya demokrasi Indonesia sekarang ini sebagai "demokrasi luar-biasa". Yang kalah harus menang dan yang menang harus kalah. Yang tidak laku harus terjual. Itulah demokrasi luar biasa di Senayan, dua pekan terakhir ini!

    Maka tidak heran, dengan gaya demokrasi luar biasa ini bisa terjadi banyak hal luar biasa yang bisa mengguncang-guncang, terutama iman.

    Bayangkan, jika gaji anda rata-rata Rp 1 juta/bulan dan ketika terpilih menjadi anggota MPR tiba-tiba diam-diam disodok dengan tawaran Rp 5 miliar agar memilih si A untuk jadi presiden, bagaimana "iman"  anda? Bukankah jumlah itu sama dengan gaji setelah bekerja susah payah empat ratus tahun lebih, sementara umur mungkin hanya sampai 60 tahun. Ah, luar biasa tumpukan uang itu, luar biasa pula godaan yang mengguncangkan itu.

    Jadi, wajarlah jika banyak yang jadi curiga atau setidak-tidaknya berkesan luar biasa aneh dalam pemilihan Ketua MPR dan Ketua DPR. Yang hanya didukung sekian suara dalam Pemilu, bagaimana bisa meraih begitu banyak suara? Mengalahkan yang menang Pemilu? Jika hal demikian terjadi di zaman "demokrasi bulat Soeharto", oke. Atau, kalau toh sejumlah suara lari-lari, oke. Atau juga kalau semua partai membuka rahasianya buat rakyat, oke. Tetapi diam-diam yang kalah meraih kemenangan luar biasa, sungguh luar biasalah demokrasi Indonesia, paska reformasi.

    Lalu, bagaimana gerangan bayangan ke depan menjelang pemilihan presiden? Kalaulah benar, cerita burung tentang harga satu suara sekitar 5 miliar, bayangkan berapa triliun rupiah berhamburan dan melayang-layang serta menggedor-gedor menggoncangkan iman yang lemah. Dan tentu saja menjadi pertanyaan: dari mana uang sebanyak itu? Sudah pasti, yang tajam mata dan terutama punya iman dan hati nurani, entah siapa dia, bisa melihat hal yang luar biasa ini. Juga yang masih menderita, entah rakyat pedesaan, pengawai kecil, buruh, mahasiswa-demonstran, suami/ketika "demokrasi luar biasa" hasil Pemilu Reformasi. (damyan godho)
 

Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 11 Oktober 1999 hal 1

Bisakah kita tahu diri?

Damyan Godho
SUATU hari di bulan Agustus 1969 di Ende-Flores, di ruangan kerja Bupati Ende kala itu, HA Aroeboesman (alm). Seperti juga di kabupaten se-Nusa Tenggara Timur, tema pembicaraan yang sedikit hangat diselingi diskusi adalah berkaitan dengan tekad Pemda NTT untuk berswasembada Pangan Tahun 1972. Maklum, tekad Swa Sembada Pangan itu baru dicanangkan bulan April 1969.

Jadi pantaslah jika hal itu menjadi topik pembicaraan luas yang tidak jarang menjadi diskusi yang lalu disertai bermacam nada penilaian. Yang optimis, umumnya ialah mereka yang merasa paling punya andil dalam pencanangan tekad ketika berdebat panjang lebar dalam Rapat Kerja para Bupati NTT April 1969. Mereka berdalih bahwa potensi pertanian di NTT sesungguhnya sangat besar. Betapa besar sih kebutuhan pangan untuk orang NTT, jika daerah pertanian di Manggarai, Ngada dan sumba Barat dapat dijadikan daerah persawahan?

    Tetapi sebaliknya yang pesimis dan ragu-ragu, tidak segan-segan mencap pencanangan tekad itu sebagai kerja orang gila yang rencana bunuh diri. Kata mereka, NTT mempunyai lahan pertanian yang luas, tentu saja betul. Tetapi apakah dalam tempo tiga tahun semua lahan yang ada bisa jadi daerah pertanian produktif? Apakah ada 'lampu aladin' yang bisa menyulap padang savana menjadi sawah? Apakah semua orang NTT mau jadi petani? Apakah cukup tersedia air? Dan macam-macam lagi penilaian, baik yang halus kasar serta membinggungkan.

Di Ende, tidak sedikit warganya yang berpendapat bahwa Ende, kabupaten penghasil kopra bertahun-tahun di NTT ini, juga bisa jadi penghasil pangan. Andalannya, daratan Mautenda dengan areal (calon sawah) paling kurang 5.000 hektar dan air Sungai Mautenda yang sangat besar. Artinya, jika sekiranya dataran Mautenda bisa segera menjadi daerah persawahan

    Maka Bupati Aroeboesman yang sangat memahami kondisi daerahnya, angkat bicara. Dalam pertemuan dengan sejumlah anggota DPRD II Ende dan Tim Peninjau DPRD I NTT, Agustus 1969 di atas, mantan 'Raja Ende" yang mengenal betul wilayah kerajaannya menegaskan perbedaan visinya dengan mereka yang optimis tentang pelaksanaan tekad Swa Sembada Pangan di Kabupaten Ende. Singkat dan sederhana,kata sang "Mantan Raja" ini. "Kita warga Kabupaten Ende, harus tahu diri. Wilayah Kabupaten Ende ini, lebih banyak bukit dan jurangnya. Membikin Mautenda menjadi sawah, diperlukan kerja besar, uang banyak untuk bangun irigasi. Juga waktu membangun irigasi yang harus sangat teknis".

Jadi, lanjut bupati, biarlah Manggarai dan Ngada dijadikan daerah pertanian pangan. Sedangkan Ende, hiduplan dari kelapa sambil menanam tanaman keras perkebunan seperti kakao dan kemiri. Juga mengembangkan  ikan, nelayan dan kelautan, yang dibakati tidak sedikit warga kabupaten Ende bagian selatan serta mendukung upaya membangun transportasi darat/laut yang memadai untuk seluruh Flores.

    Tampak bahwa sikap dan pandangan Bupati Aroeboesman ini sederhana. Dia memang menjadi bupati yang berbeda dengan bupati se-NTT lainnya menggebu-gebu mengejar Tekad Swa Sembada Pangan NTT 1972. Bupati Aroeboesman sebenarnya sangat 'tahu diri'. Bahwa di saat masih susah dana pembangUnan dan kondisi sumber daya manusia yang sangat minim serta berbagai kendala pembangunan lain (maklum, kondisi di awal Pelita 1 Orde Baru 1969 itu), orang haruslah mengukur kemampuan dirinya bagi sesuatu yang sangat sederhana sekalipun. Apalagi, jika menyangkut hal besar, seperti yang berkaitan dengan urusan mati-hidupnya bangsa dan negara.

    Dalam konteks politik hari-hari ini, hal tahu diri ini mencuat kala pimpinan partai politik yang tergabung dalam kelompok Poros Tengah meminta Presiden BJ Habibie untuk mempertimbangkan kembali niatnya untuk menjadi calon Presiden bulan Oktober ini. Para pimpinan Poros Tengah yang antara lain Amien Rais sudah pasti menilai bahwa urusan Negara dan Bangsa Indonesia ke depan nanti terlalu besar dan berat bagi Habibie. Maka sebaiknya Habibie tahu diri dan karenanya tidak usah memaksa diri.

    Dalam kehidupan sehari-hari, dengan ataupun tanpa disadari kita pun sering mengenyampingkan hal tahu diri ini. Yang dilansir banyak orang tentang "politik pakai uang" dalam pemilihan Bupati, anggota DPR/DPRD misalnya, dapat menjadi contoh. Jika ada kesadaran dan tahu diri tentang kepantasan dan kelayakan menjadi tokoh, maka seseorang pasti menjadi tokoh tanpa pakai uang. Sebaliknya, jika ada kesadaran dan tahu diri, orang tidak bakal menerima bayaran dalam menentukan pilihan. Memang menjadi salah satu soal besar di kalangan bangsa kita saat ini. Di tengah ketimpangan yang sangat tajam antara kaya-miskin, iri hati dan culas, nilai persahabatan dan kesetiakawanan serta kejujuran yang rendah, arogansi dan egoisme kelompok dan golongan serta godaan uang dan materi, masih bisakah ditemukan mereka yang tahu diri??? (damyan godho)

Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 4 Oktober 1999 hal 1

Satrio Piningit

ilustrasi
SUATU hari di bulan Juli atau Agustus 1999, di Kediri berkumpul tokoh-tokoh paranormal Indonesia yagn secara khusus membahas pemimpin masa depan Indonesia - Satrio Piningit atau satria yang Dipingit-yang sudah ditunggu-tunggu semenjak lama, sesuai dengan ramalan Joyoboyo, yang kalau tak salah dari awal milenium kedua. Tokoh messianik ini sebenarnya sudah bermunculan terbuka sejak akhir tahun 1990 oleh Permadi, yang meramalkan munculnya Sang Satrio Piningit sesudah nada gonjang-ganjing masa penuh kekacauan dan malapetaka

    Memang sepanjang dasawarsa 1990-an, Indonesia mengalami masa paling berantakan. Bukan saja bencana alam, kita juga mengalami kehancuran ekonomi paling parah dengan jatuhnya nilai rupiah terhadap dolar menyusul meningkatnya jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan yang konon mencapai 80 persen. Kita juga mengalami disintegrasi paling menakutkan dengan puluhan rumah ibadah dibakar, penjarahan toko-toko dan pemerkosaan, pembunuhan ratusan orang yang dituduh dukun, perang antarsuku dan agama, dari Sumba sampai ke Ambon, dari Kalimatan sampai ke Sulawesi.

    Saya ketika itu sedang ditugaskan untuk melatih wartawan baru yang bertugas di Kediri Pos, sebuah koran yang diterbitkan oleh Harian Surya. Kesempatan ini saya pergunakan untuk mengunjungi seorang tokoh paranormal di perbatasan Kediri. Pernyataan saya cuma satu, "Siapa yang pantas menjadi Presiden RI keempat?"

"Menurut pendapat saya," ujarnya sesudah menatap saya dalam-dalam, "Gus Dur tidak bisa diandalkan karena keadaan kesehatannya. Wong jalan saja harus dipapah orang. Amien Rais agak tidak jelas, selalu berubah-ubah. Mega dan Habibie menurut saya sama, kedua-duanya sangat lemah. Yang harus jadi Presiden berikut kalau kita mau selamat mestilah ABRI".

    "Apakah tidak akan terjadi masalah kekerasan karena kita semua tahu pendekatan ABRI selama ini terhadap masalah yang muncul?"

    "Tidak ada masalah. Menurut perhitungan para ahli, justru orang Jawa ini harus sisa sepertiganya saja kalau mau negara bisa diurus dengan baik".

    Saya tentu saja protes, seperti juga ketika saya mewawancarai Permadi untuk Surya di akhir tahun 1990. Ramalan Joyoboyo menurut pendapat saya hanya berlaku untuk orang Jawa saja. Tidak untuk seluruh Indonesia, dan dengan pemikiran Joyoboyo berarti tidak ada kesempatan untuk orang bukan orang Jawa seperti saya untuk menjadi presiden. Dan sang paranormal hanya tertawa. "Kita memang Indonesia, tetapi lebih dari separoh penduduk negara ini masih orang Jawa".

    Dan beberapa hari lalu, Undang-Undang Keadaan Bahaya menimbulkan protes keras dari mahasiswa dan rakyat, dan seperti yang sangat ditakutkan dari undang-undang yang konon membuka peluang bagi berkembangnya militerisme di Indonesia, para mahasiswa dibantai tentara dan enam orang yang dilaporkan meninggal dunia di luar puluhan yang luka parah dan entah berapa yang hilang.

    Masalah yang muncul tentang Timor-Timur, juga dikarenakan pendekatan kita selama seperempat abad ini adalah pendekatan sekuriti dan bukan budaya. Itulah sebabnya, kendati kita sudah membangun daerah tersebut habis-habisan dan membiarkan Timor NTT yang sduah ikut merdeka semenjak 1945 tetap saja melarat, dan kendati kemampuan sumber daya untuk menjadi sebuah negara tidak memadai, kebanyakan rakyat Timtim memilih merdeka.

    Dalam tradisi Hindu yang cukup berpengaruh di Indonesia, memang raja dan tentara berada dalam satu kasta, yang berlainan dengan Cina di mana kedudukan tentara dianggap rendah karena merupakan orang bayaran. Dalam keadaan yang sedemikian kacaunya seperti sekarang ini dan yang masih akan terus berkembang, mungkin pengambilalihan kekuasaan oleh pihak militer bukanlah mustahil. (julius r siyaranamual)


Sumber: SKH Pos Kupang, Senin 27 September 1999 hal 1

Nyanyian sunyi DPR

ilustrasi
HEBAT! Komisi VIII DPR RI pantas diacungi jempol. Lebih-lebih sebut saja Ichsanudddin Noorsy, Eki Syahruddin, Tayo Tarmadi (ketua Komisi) dan Thomas Suyatno. Tentu saja tanpa mengecilkan peran para anggota komisi VIII lainnya dalam kasus Bank Bali, mereka benar-benar telah melaksanakan salah satu fungsi DPR: Kontrol.

    Seperti pekerjaan seorang wartawan, melakukan konfirmasi tidak langsung dalam artian melalui digging out tanpa menyebut-nyebut nama orang atau angka rupiah manipulatif tapi dengan terus mencercar dan menunggu sampai akhirnya (karena terperangkap) narasumber menyebut sendiri, demikianlah yang dilakukan para anggota Dewan di Komisi VIII DPR RI terhadap Menkeu Bambang Subianto

    Memang menggali suatu yang 'sangat rahasia' dari seseorang, untuk pekerjaan yang satu ini sama baik bagi seorang polisi menyelidik, wartawan maupun bagi anggota Dewan. Dan, bagi ketiganya, perlu ketelatenan. Emosi boleh naik, tapi nalar tetap dijaga. Karena yang terpenting adalah fokus, tidak terkecoh penjelasan atau jawaban yang berputar-putar yang tanpa disadari terjadinya bias.

Ya, mirip-mirip interogasi terhadap calon pesakitan di kepolisian atau kejaksaan, tetapi taktis diplomatis (maklum politikus), para anggota Komisi VIII DPR akhirnya 'bisa' 'memaksa' Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Subianto, 'bernyanyi'. Meskipun alot dan berputar-putar, tapi pada akhirnya meluncurlah nama pejabat tinggi (Baramuli) yang menekan Menkeu dalam upayanya meresktrukrisasi aset nasional bernilai triliun rupiah.

    Begitu nama-yang memang ditunggu-tunggu para anggota Dewan-pejabat tinggi itu disebut Bambang Subianto, serentak pula tepukan tangan para anggota Dewan dan para hadirin lain menggemuruhi ruang rapat kerja Komisi VIII dengan Menkeu cs, hari Senin tanggal 13 September lalu.

    Sadar telah terperangkap, Menkeu Bambang Subianto pun menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menarik napas panjang di tengah gemuruhnya tepukan tangan. Rupanya, melihat bosnya terhentak karena terperangkap, Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Glenn MS Yusuf, yang duduk disampingnya langsung menepuk-nepuk punggung Bambang Subianto. Tepukan punggung berbahasa sandi ini bisa bermakna penguatan batin terhadap Bambang, bisa sebagai tanda salut atas keberanian tanpa tedeng aling-aling menyebut nama pejabat tinggi itu, bisa pula sebagai tanda dukungan penuh Glenn MS Yusuf berdiri kokoh di belakang Subianto untuk mengungkap borok-borok dan kebrengsekan yang dilakukan para pejabat di lapisan-lapisan atas.

    Bersyukurlah Bambang Subianto karena apa yang dilakukannya itu terjadi pada era reformasi. Buktinya, sampai hari ini dia belum diapa-apakan. Kenyataan ini pun mematahkan isu-isu penggantiannya. Namun demikian, teror mental dan fisik mulai menghantui. Bersyukurlah pula anggota Dewan di Komisi VIII, karena mereka juga belum diapa-apakah  atas 'perbuatan tidak etis' yang telah mereka lakukan.

    Kita pun bangga telah terjadinya transparansi, tidak adanya rasa takut menyebut nama pejabat tinggi yang terlihat dalam skandal yang merugikan bangsa dan negara. Tapi, bukankah ini hanya sorak sorai, euforia sesaat? Toh sebentar lagi orang-orang di Komisi VIII itu diganti? Toh masih ada dan bakal diadakan isu-usi lain sehingga menenggelamkan isu-isu aktual saat ini dan isu besar lain sebelumnya?
Maka sunyi senyaplah kasus Bank Bali, dan bersorak gempitalah yang pernah dipermalukan. Lalu ke depannya bangsa ini? walahualam! Ya, pejabat sudah bernyanyi tentang pejabat. Nyanyian DPR pun telah dilantunkan. Tetapi apakah nyanyian itu bukan sekadar nyanyian sunyi? (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang, Senin 20 September 1999 hal 1

Rosario 'Megawati’

SEMBARI mencium seorang ibu yang tak dikenalnya, Megawati Soekarnoputri diam-diam menyerahkan sesuatu dari genggamannya. Tak disangka kalau yang diserahkan Megawati itu adalah seutas rosario berwarna putih. Sang ibu yang kemudian diketahui bernama ... Lu Karmo (55) itu adalah salah seorang di antara sekian ratus pengungsi asal Dili, Timor Timur. Si ibu yang tak mengira akan mendapat oleh-oleh itu langsung meneteskan air mata haru sambil melepas kepergian Mbak Mega untuk menemui pengungsi lainnya.

"Drama" singkat yang berlangsung cepat itu  disaksikan hanya oleh sedikit pasang mata. 'Aksi' Megawati itu terjadi di tengah kerumunan pengungsi asal Timor Timur di lokasi penampungan pengungsi di Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang pekan lalu.

Bagi umat Katolik Roma, rosario identik dengan penghormatan kepada Bunda Maria, Bunda Yesus, Isa Almasih. Dan, kunjungan Megawati itu terjadi pada tanggal 9 September. Atau sehari setelah tanggal 8 September yang menurut almanak Gereja Katolik, tanggal itu dalam tahun, adalah tanggal bagi Bunda Maria. Umat Katolik Roma sedunia memperingati hari itu sebagai Hari Kelahiran Bunda Mari. Dan, bulan Oktober dalam tahun oleh Gereja Katolik Roma dijadikan bulan khusus sebagai Bulan Maria. Ini ditandai dengan kebaktian khusus sebagai Bulan Maria. Ini ditandai dengan kebaktian khsusus kepada Bunda Maria melalui doa rosario yang dilakukan tiap hari dalam bulan tersebut. Dan, hari terakhir dalam bulan itu, tanggal 31 Oktober, oleh Gereja Katolik Roma dibaptis lagi sebagai hari Bunda Maria yaitu untuk memperingati Bunda Maria sebagai Ratu Semesta Alam, salah satu dari sekian banyak gelar yang diberikan Gereja Katolik Roma kepada Bunda Maria.

    Bagi umat Katolik Timtim, Bunda Maria mendapat tempat sangat khusus. Devosi mereka kepada Bunda Maria sangat tinggi. Kalau Anda pernah datang ke Timtim sebelum jajak pendapat lalu, Anda bisa saksikan adanya patung atau gua Maria di rumah atau sekitar rumah sebagian penduduk.

Saya teringat, apa yang dilakukan Megawati mirip dengan apa yang dilakukan pastor-pastor misionaris dari Belanda dulu. Saya teringat, sewaktu kecil, pastor misionaris itu suka membagi-bagikan skapulir (semacam asesori dari logam atau kain bergambar para kudus dengan gantungan bulat kecil untuk dikalungkan di leher) atau juga rosario. Skapulir umumnya diberikankeapda anak-anak sedangkan rosario kepada orang dewasa. Karena adanya kebiasaan seperti itu, maka biasanya pula anak-anak kalau datang kepada pastor suka minta bernika (skapulir).
Mereka tidak minta barang-barang lain. Tapi kebiasaan anak-anak minta bernika tadi beralih kepada minta bolo. Tapi minta bolo ini hanya berlaku di daerah Sikka, sekitar Ledalero-Ritapiret di Flores.
Selain membagi-bagi bernika, sebelum berangkat menuju tanah misi pastor-pastor misionaris itu terlebih dahulu mempelajari budaya, bahasa, tradisi dan adat istiadat masyarakat yang bakal didatangi. Cara itu membuat mereka mudah beradaptasi dan cepat  diterima masyarakat.

Apa yang dilakukan pastor-pastor tadi tentu punya nuansa lain dengan apa yang dilakukan Megawati. Kendati demikian, esensinya sama, pendekatan budaya. Dengan menyerahkan seutas rosario bertasbih putih, itu menunjukkan betapa Megawati memahami betul budaya, tradisi keimanan yang melekat kuat pada orang Timtim. Dia datang ke tengah para pengungsi tidak membawa dan membagi-bagikan uang atau materi jasmani langsung kepada mereka seperti yang pernah dilakukan orang-orang tertentu menjelang kampanye Pemilu lalu di NTT. Meski demikian, Megawati juga tahu betul kebutuhan jasmani para pengungsi (pada hari yang sama, sebelum menemui para pengungsi, Megawati menyerahkan bantuan untuk para pengungsi berupa uang tunai senilai Rp 100 juta, dll lewat Pemda NTT)

Ya, kalau Anda ingin kedamaian, ingin persahabatan sejati, ingin 'menaklukkan' orang lain Anda hendaknya tidak membawa pedang, tidak pula dengan menunjukkan rasa superior sebagaimana orang Romawi dulu kala berkata: Si vis pacem, para bellum! tetapi datang dengan membawa 'hati' pendekatan budaya, Ya Megawati 'merebut hati' dengan hati dan empati.

Mengenal dan menghargai budaya setempat itu sering didenggung-denggungkan dan diharapkan banyak orang ketika kita pertama kali mengingak kaki dan menerima saudara-saudara kita di Timor Timur seperempat abad lalu. Tetapi ketika itu kenyatannya lain. Lalu apa jadinya? (marcel weter gobang)


Sumber: SKH Pos Kupang, Senin 13 September 1999 hal 1

Kutu loncat

Kutu Loncat
LUAR BIASA serbuan makhluk yang satu ini. Bayangkan, hanya dalam tempo 2-3 bulan saja, sedikitnya lima juta hektar kawasan lamtoro gung di 23 propinsi se-Nusantara, ludes. Pohon berdaun lebat, rindang, selalu hijau dan gantungan petani-peternak bagi penyubur tanah, pencegah erosi dan bahan pakan ternak sapi unggulan ini, hanya sekejap berubah menjadi tegakan ranting kering. Manfaatnya yang serba guna itu, menjadi hampir tidak berarti. Hanya menjadi kayu bakar.

    Ini gara-gara "kutu loncat", hama yang luar biasa, menyerang dengan sangat eksplosif, luas dan cepat. Di NTT, tercatat sedikitnya 200.000 hektar atau sekitar 80 juta tanaman lamtoro gung punah. Yang tersisa hanyalah kenangan pahit menyakitkan. Seolah-olah kawasan itu tidak pernah ada lamtoro gung. Ada macam-macam bayangan menakutkan seperti kekeringan panjang dan banjir bandang akibat rusaknya terasering lamtoro. Namun,yang paling terpuruk adalah peternak yang sangat mengandalkan daun hijau lamtoro sebagai pakan sapi.

    Di Kecamatan Amarasi misalnya, ribuan ekor sapi paron terpaksa mengunyah ranting kering lamtoro sehingga segera saja sapi-sapi siap jual berharga tinggi itu kehilangan berat badan 50-60 persen, jatuh harga dan memerosotkan ekonomi peternak kecil termasuk tukang jagal. Pemda NTT dan Kabupaten se-NTT pun kena bias berupa merosotnya perolehan Retribusi Ternak. Juga KUD-KUD yang bertahun menikmati rejeki mudah, "fee" ternak dan berkurangnya kunjungan kapal pengangkut ternak ke NTT.

    Jadi, kata Gubernur Ben Mboi saat itu, "perang" melawan kutu-loncat merupakan taruhan "hidup matinya NTT". Di Kabupaten Kupang, "perang pertama" dipusatkan di Kecamatan Amarasi yang warganya sudah sangat lamtoroist, menggunakan pesawat udara dari Brigade Penyemprotan Departemen Pertanian.

    Tetapi "perang" terhadap kutu-loncat rupanya tidak mudah. Karena baru pada hari pertama, muncul "korban". Tersiar kabar bahwa 30 penduduk mati keracunan sehingga 5.000 warga lima desa Kecamatan Amarasi pontang-panting mengungsi ke Kupang, menjubeli kompleks Pasar Inpres Naikoten semalaman.

    Maka keesokan harinya, Danrem 161 Wira Sakti/Komandan "perang lawan kutu loncat", melalui Operasi Flobamora II, tergugup-gagap kena hardikan Panglima ABRI melalui telepon sementara wajah sejumlah staf "itam-blau" kena caci maki Gubernur Ben Mboi. Di Kecamatan Amarasi, Kakanwil Deppen NTT Andi Sipasulta dan Kasdim Kupang Kapten Aribolang pontang panting masuk desa meyakinkan warga desa agar tidak ikut mengungsi ke Kupang.

    Peristiwa di atas hanyalah secuil ilustrasi dari korban peringai dan perilaku "kutu loncat", hanya yang tiba-tiba menyerang secara frontal, menyebar luas dan serentak serta merusak dan menghancurkan lamtoro gung, dambaan dan harapan banyak orang. Serangan eksplosif hama kutu loncat di atas memang sudah berlalu 13 tahun lalu. Namun watak, peringai dan perilaku "kutu-loncat" sesungguhnya masih ada.

    Simak saja rangkaian ribut-gaduhnya Pemilu 1999 yang dikatakan sebagai Pemiu Reformasi. Pergeseran, gontok-gontokkan dan saling jotos di kalangan kontestan Pemilu 1999, nampak sekali mirip perangai "kutu-loncat". Sebagai misal, di dunia politik. Setelah mengenyam enaknya ber-Golkar 23 tahun, tiba-tiba si A sudah menjadi kader partai lain dan menjadi yang paling depan mencaci maki Golkar. Ada yang karena korup dan bodoh lalu tidak dipakai, eh tiba-tiba jadi tokoh partai politik dan tidak tanggun-tanggung menggunakan senjata perusak: isu suku, agama, ras, asal-usul, tidak peduli apapun akibatnya. Segala cara dipakai untuk menggapai semua bidang usaha meski keuangan negara bobol, misalnya. Kasus Bank Bali bisa menjadi contoh. Yang sama di kalangan pers. Watak dan peringai "kutu-loncat", meloncat kesana-kemari sembari bikin "berita-desas-desus", isu dan gosip kumpul envelop, juga tidak bebas. "Jelas toh!!!" (damyan godho)

Sumber: SKH Pos Kupang, Senin 30 Agustus 1999 hal 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes