Lima Abad Tuan Ma di Kota Reinha

Prosesi Tuan Ma di Larantuka
KOTA Larantuka yang dijuluki Kota Reinha atau Kota Ratu pekan ini mulai ramai didatangi para tamu dari berbagai penjuru tanah air, termasuk dari luar negeri. Mereka datang untuk mengikuti pesta akbar perayaan lima abad Tuan Ma (Bunda Maria) di Kota Larantuka.

Kedatangan para tamu atau peziarah rohani ini memberi nuansa lain bagi Kota Larantuka. Kota yang semrawut, jorok dan kotor ini mulai tampak bersih, meski jalan kabupaten dan jalan lingkungan masih berbatu dan berlubang di mana-mana.

Kehadiran mereka hanyalah ingin menjalani ritual lima abad Tuan Ma sebagai perayaan untuk menghormati Santa Maria Bunda Allah. Tuan Ma adalah satu gelar populer yaitu bunda Yesus dan bunda yang boleh disapa dengan kata manis Mama. Tuan Ma diyakini sebagai sebuah patung Santa Perawan Maria. Patung ini disimpan dalam sebuah kapela kecil yang disebut Kapela Tuan Ma di Pante Kebis, Kota Larantuka.

Asal-usul patung Tuan Ma memiliki versi sejarah yang berbeda. Meski demikian, orang Larantuka meyakini patung Tuan Ma adalah patung Bunda Maria yang ditemukan lima abad yang lalu.


Ada yang menceritakan, patung Tuan Ma awalnya ditemukan oleh seorang anak laki-laki bernama Resiona, entah berapa umur anak itu ketika menemukan patung Tuan Ma. Awalnya ia ingin pergi ke pantai di Larantuka mencari kulit-kulit siput. Namun, saat itu, ia melihat seorang ibu cantik. Ketika ia bertanya, siapa namanya dan dari mana datangnya, ibu itu hanya menunduk dan menulis di pasir tiga kata yang tidak dipahami Resiona.

Usai bertanya, Resiona mengangkat muka dan melihat rupa wanita itu sudah berubah menjadi sebuah patung kayu. Resiona pun mengambil batu dan kayu lalu memagari kata yang ditulis wanita cantik yang berubah bentuk tersebut agar tidak terhapus oleh hempasan batu dan pasir saat ombak besar. 

Usai memagari tulisan itu, Rosiona membawa patung kayu tersebut pulang ke rumahnya dan disimpan dalam sebuah korke atau rumah ibadat penduduk asli.

Beberapa tahun kemudian Resiona kecil tumbuh dewasa dan kembali ke pantai. Dari kejauhan ia meliat sebuah kapal berlayar menuju ke tempat ia berdiri. Kapal itu berlabuh lalu turunlah seorang berpakaian putih ke dalam sekoci yang membawanya ke pantai.

Resiona menunjuk kepadanya tempat di mana ada tulisan tiga kata di pasir. Orang itu -- yang kemudian diketahui seorang paderi ordo Santo Dominikus dari Portugal -- membaca tiga kata itu, yakni Reinha Rosario Maria.

Usai membaca kata yang ditulis Resiona, ia diantar ke korke di mana patung kayu itu disimpan. Dengan amat terharu paderi itu langsung mengenal patung itu dan berkata, "Ya, inilah dia, Reinha Rosari. Dia sendirilah yang menulis namanya di pasir yakni Maria."


Karena itu, patung Tuan Ma yang dikenal sebagai patung Mater Dolorosa atau Bunda Kedukaan atau Mater Misericordiae tidak lain adalah sebuah tanda atau lambang Santa Maria Bunda Allah.

Versi lain dalam cerita itu mengatakan, patung itu datang dari laut, anyo deri lao (hanyut dari laut) dan ditemukan di pantai Larantuka pada tahun 1702. 

Menurut versi ini, sebuah kapal Portugis mengalami musibah di Selat Larantuka ketika terjadi pertempuran antara armada Portugis dan orang Larantuka. Dari sebuah kapal Portugis yang karam terkena tembakan, terlempar keluar sebuah patung Bunda Maria yang terbuat dari kayu. Patung itu hanyut dan terdampar di pantai Larantuka. 

Seorang Larantuka yang menemukan patung yang tingginya 160 cm itu mula-mula menyimpannya di sebuah korke kemudian menyimpannya di sebuah kapela kecil yang dianggap sebagai kapela Kerajaan Larantuka.

Sekelumit sejarah keberadaan patung Tuan Ma ini kemudian menjadi pegangan umat Katolik di Kota Larantuka. Umat memahami kehadiran benda-benda seperti patung-patung -- terlepas dari cerita atau dongeng mengenai munculnya atau ditemukannya -- sebagai sarana yang boleh dipandang berasal dari Allah yang Maha Baik untuk membantu umatnya dalam beribadat membangun rohani. 

Menjadi tugas Gereja untuk mengajar, menguduskan, meyakinkan, mendampingi dan membina umatnya sesuai dogma Gereja.

Koordinator Seksi Humas dan Publikasi Perayaan Lima Abad Tuan Ma, Bernad Tukan, kepada Pos Kupang di Gereja Katedral, Selasa (5/10/2010), mengatakan, perayaan lima abad Tuan Ma berawal ketika sejumlah awam di Jakarta ingin memperingati iman Katolik dan devosi kepada Bunda Maria yang dimulai sekitar 500 tahun lalu dengan misinya di Pulau Solor, Flores dan Timor. Bahkan para pemrakarsa menelusuri sejarah iman Katolik di Larantuka dengan mendatangi Kedutaan Besar Portugal di Jakarta.

Di kedutaan ditemukan adanya MOU antara kedutaan dan pemerintah daerah Flotim, yang menyepakati Kota Larantuka dan salah satu kota di Portugal dan disebut sebagai calon Kota Fatima.

"Studi sejarah Tuan Ma ini juga ditulis oleh orang Belanda yang disimpan di Erasmushuis. Karena itu, tidak keliru kita merayakan lima abad Tuan Ma dalam tahun 2010. Ini didasarkan pada tulisan Francois Valentyn dalam bukunya bertajuk, Oud en Nieuw Oost Indien etc. 

Dalam buku ini dilaporkan adanya musibah karam di Pulau Penyu yang disebut Nusapinha Lokea yang aslinya Lewo Kea (kampung Penyu)," tutur Bernad.

Ia mengakui, perayaan lima abad Tuan Ma di Larantuka juga bertepatan dengan tahun awam birokrat. Maka, setiap seksi melibatkan juga unsur awam birokrat untuk berperan serta.
Ia mengakui, perayaan lima abad Tuan Ma ini telah dilakukan sosialisasi oleh Panitia Nasional dengan pembicara Dr. Yoseph Inyo Fernandez, Dr. Paul Budi Kleden, SVD, Martinus Sakeira (alm), dan Dr. J. Riberu. 

Mereka memaparkan alasan diadakan perayaan lima abad Tuan Ma, juga devosi Tuan Ma dari perspektif teologi. Dalam pemaparan itu, semuanya menginginkan perayaan Tuan Ma yang puncaknya 7 Oktober 2010 di Lapangan Ile Mandiri.
Pada puncak acara, Tuan Ma tetap di kapelanya dan dapat diberi penghormatan sebagaimana lazimnya pada hari bae (pekan suci Paskah). Ini juga atas keikhlasan para pelaku tradisi yang bersedia membuka kapela Tuan Ma.

Bernad mengutip Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr, yang menyatakan perayaan ini merupakan momen syukur karena Tuan Ma merupakan benih iman pertama di wilayah Larantuka dan moment tobat dan pembaharuan diri. Jadi, tidak hanya devosi kepada Bunda Maria, tetapi keutamaan Maria hendaknya mengispirasi, memotivasi, terintegrasi dalam seluruh realitas pergumulan hidup. 


Persatukan Rakyat Flotim
Perayaan lima abad Tuan Ma di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Semua suku dan agama mengambil bagian dalam perayaan itu. 

Laksana pesta rakyat. Wajah-wajah lesu dalam pergulatan politik merebut kursi Bupati Flotim yang nyaris tak selesai dan kehidupan ekonomi yang karut-marut hilang seketika. Semua bahagia ketika menyaksikan partisipasi rakyat dalam perayaan lima abad Tuan Ma.

Hari Rabu (6/10/2010) merupakan momentum bersejarah. Berbagai kelompok lintas agama dan suku, baik Muslim, Protestan, Hindu dan Budha hingga paroki-paroki di wilayah Keuskupan Larantuka berjalan beriringan membawa barang bawaan mereka mulai dari sapi, kambing, babi, ayam, jagung, kacang, ubi, beras dan makanan lainnya menuju Gereja Katedral.

Mereka melintasi semua penjuru Kota Larantuka. Tari-tarian dari berbagai etnis mengiringi perjalanan kelompok-kelompok lintas agama itu. Tarian dolo-dolo, yang digandrungi masyarakat Flotim turut mengundang semua untuk berpartisipasi di halaman depan Gereja Katedral yang ditata cukup sempit itu. Gong dan gendang terus membahana menghipnotis warga Kota Larantuka yang saban hari berpacu mengais rezeki. 

Keinginan semua kelompok yang hadir di Gereja Katedral sebagai undangan kerajaan dalam perayaan lima abad Tuan Ma adalah kebersamaan. Karena Tuan Ma atau Mater Dolorosa adalah ibu yang melindungi anak-anaknya.

Laksana Raja Pertama Larantuka, Constantino Ola Adobala yang dalam sejarahnya adalah raja yang melindungi rakyatnya. Sebagaimana sekelumit cerita raja pertama Larantuka ketika dibaptis. Ketika itu, posisi Larantuka sebagai pusat kegiatan misi Solor setelah VOC menduduki benteng Lohayong. Dan, posisi raja yang nama aslinya Ola Adobala semakin menguat ketika dibaptis dengan nama Constantino pada tahun 1646 yang diikuti seluruh keluarganya. 

Hal ini kemudian dilanjutkan pada tanggal 14 September 1887. Setelah raja pertama meninggal, dilantik beberapa raja lalu raja Don Lorenzo II DVG. Dalam tangan raja inilah tongkat kerajaan diletakkan di altar Perawan Tersuci Maria pada 8 September 1888, karena Maria dipandang sebagai ratu yang sebenarnya di Larantuka. Dari sinilah kerajaan dialihkan ke gereja hingga peringatan yubileum lima abad Tuan Ma yang puncaknya dirayakan hari ini, Kamis (7/10/2010).

Sebagaimana pengumuman yang dikeluarkan Keuskupan Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr dalam suratnya nomor KL.317/V.1/IX/2010 menyampaikan, kita patut bersyukur kepada Allah Tritunggal Mahakudus atas peristiwa iman yang terjadi di Keuskupan Larantuka. Lima abad yang lalu Maria Tuan Ma melewati wilayah kita. Bunda Maria menapakkan kaki di pantai pulau kita. Sejak saat itu, pintu keselamatan dibuka untuk wilayah kita. Dan bersama Bunda Maria Tuan Ma kita mulai menjalani ziarah kehidupan iman kita. 

Kini patung bersejarah Tuan Ma sudah lima abad usianya. Kita memperingati dan merayakan peristiwa ini secara khusus dalam perayaan meriah sekaligus menjadikan moment ini menjadi moment tobat dan pembaruan,"tulis Uskup Kopong Kung dalam suratnya.

Pada puncaknya nanti, moment pembaruan iman pada perayaan ekaristi lima abad Tuan Ma di Stadion Ile Mandiri akan dilangsungkan penyerahan ulang tongkat kerajaan dan penyerahan kembali Keuskupan Larantuka kepada Bunda Maria.

Hal ini dilakukan oleh homili, Dona Martina Kanena Ximenes da Salva - Diaz Viera de Godinho akan dijemput dengan tarian gong waning menuju pangung. Permaisuri (alm) Don Lorenzo III DVG (raja nua usi) akan mengulang penyerahan tongkat kerajaan Larantuka kepada Bunda Maria sebagaimana dilakukan oleh tiga raja Larantuka sebelumnya.

Dalam sejarahnya, sebagaimana catatan istana raja, pada tahun 1665 raja Don Fransisco Ola Adobala DVG yang didampingi Mgr. Hendrique menyerahkan tongkat kerajaan berkepala emas kepada Bunda Maria. Bunda Maria dinobatkan sebagai ratu yang memerintah Kerajaan Larantuka. Peristiwa inilah yang dipandang sebagai klimaks tonggak perintis iman umat Katolik di Larantuka.

Prosesi panjang yang dilalui dalam sejarah lima abad Tuan Ma adalah bagaimana mempersatukan umat dan itu menjadi bagian dari andil raja dan gereja sebagai pemilik Tana Nagi. 

Ziarah ke Tuan Senhor
Wure adalah sebuah desa kecil yang memiliki nilai historis religi perjalanan iman Katolik di Kabupaten Flores Timur (Flotim). Desa Wure berada di Kecamatan Adonara Barat, Pulau Adonara. Pada abad ke-15, Wure menjadi pusat penyebaran agama oleh bangsa Portugis. 

Bangsa Portugis memperluas wilayah jajahannya sambil melakukan penyebaran agama Katolik di Flores, khususnya di Flotim dari Lohayong, Pulau Solor, Larantuka hingga Wure, Pulau Adonara.

Portugis yang awalnya menjajah Malaka melakukan eksodus besar-besaran ke Indonesia bagian timur dan menyinggahi Pulau Solor di Lohayong. Mereka membawa semua ornament milik mereka, termasuk patung-patung yang bernilai relegius. 

Di Lohayong tepatnya di Menanga, mereka membangun benteng, namun benteng direbut Belanda. Masyarakat setempat juga tidak menerima mereka. Akhirnya mereka mendarat di Larantuka. 

Di Larantuka mereka mendapat perlakuan yang sama sehingga bangsa Portugis di bawah pimpinan De Abreu kembali berlayar membawa serta semua ornament dan menuju Wure, Pulau Adonara.

Di Wure inilah bangsa Portugis mulai menyebarkan agamanya dan membangun kapela-kapela sebagai tempat penyimpanan ornament termasuk Larantuka setelah Raja Larantuka menerima kembali bangsa Portugis.

Kini Wure, benteng Lohayong dan tempat peninggalan Portugis lainnya menjadi tempat sejarah perjalanan religi di Flotim. Setiap tahun sekitar ribuan peziarah dari dalam dan luar negeri yang masuk ke wilayah Flotim.

Namun, situs-situs religi ini baru menjadi perhatian para rohaniwan dan pihak kerajaan. Pemerintah juga belum serius. Buktinya, Benteng Lohayong hanya tinggal nama. Bahkan, bencana tahun 1982 membuat benteng ini rubuh. Meriam pun hanya menjadi besi tua. Satu meriam yang kelihatan. Sementara lainnya wallahualam sudah ditimbang sebagai besi tua. 

Padahal, pemerintah bisa memugar kembali situs-situs yang ada agar bisa menjadi wisata religi yang dapat meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.

Kamis (7/10/2010) sekitar pukul 08.00 Wita, ratusan peziarah kembali lagi ke Flotim mengikuti perayaan lima abad Tuan Ma. Mereka di antaranya Uskup Pangkal Pinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, uskup emeritus, Isak Dura, SVD, Dirjen Bimas Katolik, Anton Semara Dura, Kakanwil Depag Propinsi NTT, para pastor, suster serta tamu VIP lainnya. Ikut serta Ketua DPRD, Marius Payong Pati dan Wakil Ketua, Theodorus M. Wungubelen. Sementara tamu lainnya ada yang sudah berziarah.

Tamu-tamu yang hadir, antara lain Dubes Portugal dan istri, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya bersama para muspida, Ketua KWI, Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFM.Cap, Uskup Maumere, Mgr. G. Kherubim Parera, Uskup Emeritus, Mgr. Anton Pain Ratu, SVD, Uskup Weetabula, Mgr. Edmund Woga, CSsR, Uskup Agung Samarinda, Mgr. Florentinus Suli, MSF dan sekretarisnya, Uskup Tanjung Selor, Mgr. Y. Harjosusanto, MSF, Uskup Denpasar, Mgr. Silvester San, Pr, Uskup Ruteng, Mgr. Hubert Leteng, Pr, Vikjen Keuskupan Tanjung Karang, RD. Piet Yoenato Sukowiluyo, Pr, utusan Keuskupan T.Karang, P. Marius Lami, CP, Uskup Bogor, Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM, Uskup Manokwari, Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr, Uskup Emeritus Mgr. Issak A. Dura, para mantan Gubernur NTT, di antaranya Herman Musakabe, Arswendo Atmowiloto, Yopi Latul dan para tamu lainnya.

Di Wure para peziarah berdoa. Di bawah Patung Tuan Senhor (Tuan Berdiri) mereka bersujud. Selain itu, mereka juga bersujud di bawah kerangka jenazah Yesus dan ornament-ornament kudus peninggalan Portugal lainnya. 

Ketekunan dan kekuatan doa yang dilantunkan menunjukkan betapa besar pengharapan dan cinta kasih yang dimiliki masyarakat dan para peziarah. Peristiwa ini pada hakekatnya adalah merayakan penemuan patung Tuan Ma pada 1510 di Pantai Larantuka.

Perayaan lima abad Tuan Ma yang monumental ini hendaknya memiliki makna yang mendalam bagi umat Katolik Keuskupan Larantuka dan sekitarnya. Peristiwa ini tidak seperti kita merayakan hari ulang tahun kelahiran kita.

Perayaan lima abad Tuan Ma merupakan moment syukur karena Tuan Ma merupakan benih iman pertama di wilayah Larantuka, perayaan lima abad Tuan Ma mestinya menjadi momentum pembaruan iman dalam ziarah bersama Bunda Maria. Patung Tuan Ma diyakini oleh masyarakat Larantuka sebagai tonggak penyebaran agama Katolik.

Dalam sepatah katanya di Wure, Uskup Samarinda mengatakan, "Saya sangat terkesan dengan keimanan masyarakat Wure. Begitu kuat imannya sehingga ornament religi menjadi pemersatu masyarakat di daerah ini.

"Saya baru pertama kali ke daerah ini dan ini cukup berkesan. Ini menjadi tempat ziarah yang sangat bagus. Kalau saya dekat dengan tempat ini, setiap hari saya ke sini. Apalagi daerah ini sangat subur, banyak buah dan sayur-sayuran," ungkap uskup diikuti tepuk tangan peziarah.

Tepuk tangan para peziarah juga warga setempat seakan-akan menghilangkan penat dan rasa haus selama perjalanan melewati lautan dan daratan dengan jalan yang masih berbatu.

Uskup emeritus Isak Dura mengatakan, ini perjalanan wisata yang cukup menggembirakan. "Dengan melihat ornament yang ada, saya yakin iman masyarakat di Wure sangat kuat. Apalagi, daerah ini sangat subur,"katanya sembari mengucapkan terima kasih atas suguhan kelapa muda segar oleh masyarakat setempat walaupun mereka kecewa dengan panitia Perayaan Lima Abad Tuan Ma yang tidak mengundang mereka untuk terlibat dalam prosesi religi tersebut.

Dirjen Bimas Katolik, Anton Semara Dura mengatakan, dirinya walaupun putra daerah, baru pertama kali ke Wure melihat ornament religi. "Ini sejarah religi yang hebat,"katanya.
Atas segala pujian itu, Lurah Wure, Yoseph L. Fernandez merasa bangga."Kami masyarakat di daerah ini sangat bangga dikunjungi para uskup, pastor dan peziarah lainnya. Ajaklah warga dunia datang ke tempat kami untuk melihat ornament religi yagn suci," ajak Yoseph. (Syarifah Sifah)

Sumber: Pos Kupang, 5-7 Oktober 2010 halaman 1


Jadwal Perayaan:

Rabu 6 Oktober 2010:
08.00: Penataan panggung dan tenda perayaan
10.00: Utusan umat dari masing-masing paroki tiba di Larantuka dengan membawa hantaran bagian dan berkumpul di halaman depan Gereja Katedral
17.00: Rombongan para Uskup dan tamu Negara tiba di Larantuka dan diterima di tempat penginapan
18.00: Salve agung di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka
19.00: Pegelaran Napak Tilas Tuan Ma dan Malam Seni Budaya

Kamis 07 Oktober 2010:
08.00: Para uskup dan tamu VIP mengunjungi benteng Lohayong dan Wureh
09.00: Pentakhtaan Patung Tuan Ma
15.00: Pintu Kapela Tuan Ma ditutup sementara untuk kepentingan perayaan misa. Prosesi mengantar patung Bunda Maria ke Gereja Katedral dan menuju stadion Ile Mandiri
16.00: Perayaan Misa Agung
19.00: Prosesi menghantar kembali Patung Bunda Maria Reinha ke Gereja Katedral
19.30: Acara Resepsi

Jumat 8 Oktober 2010:
Sepanjang hari umat diberi kesempatan untuk melakukan ziarah dan cium Tuan di Kapela Tuan Ma

Sabtu 9 Oktober 2010:
10.00: Pintu Kapela Tuan Ma ditutup. 

Hayati Kerendahan Hati Tuan Ma

Peringatan 500 tahun Tuan Ma
LARANTUKA, PK -- Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya mengatakan, perayaan lima abad Tuan Ma di Kota Larantuka kiranya memurnikan kembali hati rakyat dan umat Katolik di daerah ini dari sekat-sekat perbedaan pandangan dan pilihan yang pernah dan mungkin masih ada.

Tatapan tulus Tuan Ma sebagai ibu yang mengayomi kiranya dapat memadamkan api amarah dan dendam di antara rakyat dan umat daerah ini yang mungkin belum padam. Karena itu, umat di daerah ini dapat menghayati kerendahan hati Bunda Maria dalam hidup bersama sebagai saudara.

"Senyuman kudus Bunda Maria kiranya memulihkan kembali hubungan manis yang dulu pernah ada di antara kita semua. Masih banyak teladan yang bisa direfleksikan dari 500 abad Tuan Ma di Kota Reinha. Namun yang utama adalah kita mengubah diri kita masing-masing. Kita berusaha menjadi manusia-manusia baru yang dipulihkan oleh doa dan air mata Bunda Maria yang berdukacita. Marilah kita berubah karena hanya kita yang dapat melakukannya," ajak Frans Lebu Raya pada perayaan puncak lima abad Tuan Ma (Bunda Maria) di Stadion Ile Mandiri-Larantuka, Kamis (7/10/2010) malam.


Hadir pada acara itu, Duta Besar Portugal, Dirjen Bimas Katolik, pimpinan dan anggota DPRD NTT, para uskup se- Indonesia, Penjabat Bupati Flotim, Drs. H. Muhammad S. Wongso, para imam, suster, biarawan/wati, jajaran Muspida Kabupaten Flotim dan ribuan masyarakat Flotim.


Puncak perayaan itu diawali dengan prosesi menghantar kembali patung Bunda Maria Reinha Rosari ke Gereja Katedral yang diikuti para uskup dan imam setelah misa agung di Stadion Ile Mandiri.

Pada malam puncak tersebut, selain Gubernur NTT, Ketua KWI, Mgr. Martinus Dogma Situmorang, Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr, wakil umat dan panitia juga memberikan kata sambutan.

Selain acara makan bersama, panitia juga menyelingi acara itu dengan koor dan nyanyian-nyanyian, baik dari Flotim maupun Jakarta. Bahkan, Yopi Latul malam itu menyumbangkan sejumlah tembang emas miliknya.

Lebu Raya lebih lanjut mengatakan, peristiwa karamnya kapal dagang Pedro Gonzales dari Portugis saat melintasi selat Larantuka tahun 1510 lalu seolah-olah terbayang kembali. Demikian juga dengan kegembiraan para pemuda Kampung Ijo yang menemukan arca yang terdampar di Pantai Ae Konga. Arca yang kemudian ditakhtakan di korke (rumah sembahyang) sebagai dewi karena kekaguman raja.

"Kondisi ini terus berlangsung selama 100 tahun. Sampai tahun 1615, datanglah Pastor Antonio Dominikan di Larantuka dan melihat arca yang bertuliskan "Santa Maria Mater Dolorosa", yang berarti Santa Maria Bunda Berdukacita.

"Pastor Antonio kemudian menjelaskan tentang latar belakang patung itu dan sejak itulah Agama Katolik masuk ke wilayah Larantuka dan arca tak dikenal itu berganti nama menjadi Tuan Ma dan Larantuka menjadi Kota Reinha atau Kota Santa Maria," kisah Lebu Raya.

Larantuka, demikian Lebu Raya, adalah Kota Reinha, Kota Bunda Maria. "500 tahun sudah arca putri ema ada di Larantuka dan menjadi bagian dari keseharian orang Nagi. Dalam kurun waktu 500 tahun, saya yakin benar bahwa figur Tuan Ma telah dikenal dan menjadi bagian dari keseharian warga Kota Larantuka dan orang Lamaholot secara turun-temurun.

Karena itu, ajak Lebu Raya, orang Nagi Lamaholot agar dapat menghayati kerendahan hati Bunda Maria dalam hidup bersama sebagai saudara. 

"Mengapa hal ini saya sampaikan pada momentum suci ini karena pada titik tertentu kadang anak-anak Lewo Tanah yang hidupnya diilhami teladan Bunda Maria didominasi sikap keras kepala dan kesombongan diri sebagai halnya bangsa Israel dalam pengembaraan antara Mesir menuju Kanaan. (iva)

Pos Kupang, 9 Oktober 2010 halaman 1

Lima Abad Tuan Ma

PERAYAAN lima abad Tuan Ma (Bunda Maria) di Larantuka, Flores Timur, puncaknya hari ini, Kamis, 7 Oktober 2010. Setelah ziarah cium Tuan Ma, sore harinya dilanjutkan dengan perayaan misa agung. Beberapa hari sebelumnya, umat Katolik melaksanakan triduum, prosesi Bunda Maria dan salve di gereja Katedral Larantuka, serta pagelaran napak tilas Tuan Ma.

Dapat dipastikan, rangkaian ritual ini dihadiri ribuan umat Katolik. Tentu, bukan saja berasal dari Larantuka dan daerah sekitarnya, tetapi juga propinsi lain, bahkan dari negara lain. Kehadiran mereka untuk berdoa. Ketekunan dan kekuatan doa yang dilantunkan menunjukkan betapa besar pengharapan dan cinta kasih yang dimiliki masyarakat dan para peziarah.


Peristiwa ini pada hakekatnya adalah merayakan penemuan patung Tuan Ma, pada 1510 di Pantai Larantuka. Konon, saat itu seorang anak laki-laki bernama Resiona menemukan patung berwujud perempuan saat mencari siput di Pantai Larantuka. 

Dari literatur, diketahui diduga patung itu terdampar saat kapal Portugis atau Spanyol karam di Larantuka.
Kendati waktu itu masyarakat belum mengenal patung, kepala Kampung Lewonama, Larantuka, memerintahkan agar patung disimpan di korke atau rumah adat. Patung kemudian dihormati sebagai benda keramat. Penduduk memberi sesaji setiap perayaan panen. 

Ketika padri (pastor) dari Ordo Dominikan datang lalu menyampaikan bahwa patung tersebut adalah Reinha Rosari yang dikenal juga sebagai patung Mater Dolorosa atau Bunda Kedukaan atau Mater Misericordia.

Semenjak penemuan patung Tuan Ma, masyarakat Larantuka yang mayoritas Katolik melakukan devosi kepada Tuan Ma setiap bulan Februari sebagai syukur atas hasil panen dan tangkapan dari laut. Devosi merupakan kegiatan di luar liturgi gereja, praktik-praktik rohani yang merupakan ekspresi konkret keinginan melayani dan menyembah Tuhan melalui obyek-obyek tertentu. Proses inkulturasi pun terjadi antara kepercayaan masyarakat lokal dan ajaran gereja.

Perayaan lima abad Tuan Ma yang monumental ini hendaknya memiliki makna yang mendalam bagi umat Katolik Larantuka dan sekitarnya. Peristiwa ini tidak seperti kita merayakan hari ulang tahun kelahiran, yang lebih diwarnai dengan pesta hura-hura.

Perayaan lima abad Tuan Ma merupakan momen syukur karena Tuan Ma merupakan benih iman pertama di wilayah Larantuka, perayaan lima abad Tuan Ma mestinya menjadi momentum pembaruan iman dalam ziarah bersama Bunda Maria. Patung Tuan Ma diyakini oleh masyarakat Larantuka sebagai tonggak penyebaran agama Katolik.

Selain itu, umat harus menyadari bahwa perayaan lima abad Tuan Ma sebagai momentum pembaharuan iman dan pertobatan masyarakat Larantuka. 
Iya, semua kita mesti bertobat. Orangtua perlu bertobat dan memberikan contoh hidup yang baik bagi anak-anak. Anak-anak juga perlu membaharui diri dengan menjaga nilai-nilai kristiani. 

Pejabat pemerintah juga perlu semakin sadar akan tugasnya untuk melayani rakyat, bukan untuk mengeksploitir rakyat demi keuntungan pribadi. Kebijakan dan program harus dibuat pro rakyat, bukan sebaliknya. Aparat penegak hukum, polisi, jaksa dan hakim harus bekerja sungguh-sungguh menegakkan keadilan yang selama ini dirasakan sudah semakin langka. 

Keadilan bisa dibeli dengan uang. Perilaku koruptif harus dihilangkan sehingga kesejahteraan rakyat dapat terwujud. Tokoh agama juga tidak saja pandai berkotbah dari mimbar tetapi harus menunjukkan sikap yang mencerminkan panggilan hidupnya. Sudah saatnya tokoh agama "turun gunung" untuk membantu umat keluar dari kubangan kemiskinan yang senantiasa melilit. Singkatnya, dibutuhkan pembaharuan total, sehingga makna perayaan lima abad Tuan Ma tetap kuat dihayati.

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa, lima abad Tuan Ma harus menjadi momentum pembaharuan, kesempatan bertobat dan memperbaiki diri. Selama ini, devosi kepada Tuan Ma atau Bunda Maria menjadi sentral hidup keluarga dan masyarakat Larantuka. Oleh karena itu kehidupan devosional yang kental hendaknya berdampak pada perubahan sikap dan perilaku hidup yang lebih kristiani dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, tidak hanya devosi kepada Bunda Maria, tetapi keutamaan Bunda Maria hendaknya menginspirasi, memotivasi, terintegrasi dalam seluruh realitas pergumulan hidup. *

Pos Kupang, 7 Oktober 2010

Jejak Langkah 40 Tahun STM Nenuk

Gedung STM Nenuk (2010)
KEBERADAAN Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Nenuk atau lebih dikenal dengan sebutan STM St.Yosef Nenuk- Atambua sudah dikenal luas. Lembaga pendidikan ini tidak hanya dikenal di NTT, tetapi juga di seluruh tanah air, termasuk di luar negeri (RDTL).

Berada di bawah naungan Serikat Sabda Allah (SVD), letak sekolah ini sangat strategis dalam kawasan Biara SVD Nenuk. Sudah 40 tahun lembaga ini hadir dan sudah menamatkan XXXVII angkatan.

Untuk mengenang keberadaan lembaga ini, pada tanggal 31 Oktober 2010, segenap alumni, termasuk para siswa dan guru di lembaga tersebut, akan merayakan pesta Panca Windu (40 tahun) sekolah tersebut. Usia 40 tahun, jika disamakan dengan umur manusia, termasuk usia matang.

Penggagas berdirinya sekolah ini adalah P. Wilibrodus Meulendyk, SVD, Superior Regional SVD Regio Timor. Dua tahun sebelum resmi berdiri, penggagas terlebih dahulu membuka dua sekolah setingkat SMP yang dapat dianggap sebagai dasar untuk mendirikan sekolah lanjutannya.

Dua sekolah itu adalah ST (Sekolah Teknik) St. Yosef Nenuk dan SMPK (Sekolah Menengah Pertama Kemasyarakatan) St. Yosef Nenuk.Dua sekolah ini dikelola YASUKTI (Yayasan Sekolah Umat Katolik Timor), meliputi jurusan pertanian, pembangunan kayu dan besi.

Kehadiran lembaga ini mengacu pada Surat Keputusan Yayasan Sekolah Umat Katolik Timor No: C-95-68, tanggal 28 Desember 1968. Ada beberapa pertimbangan pembangunan sekolah tersebut.




Pertama, perkembangan di bidang pendidikan terasa sangat membutuhkan tenaga-tenaga pembangunan di masyarakat; Kedua, sesuai dengan rencana pemerintah, perlu lebih memperhatikan sekolah-sekolah kejuruan untuk mengatasi kesulitan tenaga-tenaga pembangunan; Ketiga, bahwa di Nenuk (Atambua) tersedia perbengkelan yang dapat dipinjamkan untuk mengajarkan jurusan pembangunan kayu, mesin dan tanah pertanian untuk ladang dan tanaman sayur-sayuran;

Keempat, di samping itu, dapat dipinjam pula gedung sekolah (ruang kelas), tempat penginapan, lengkap dengan penerangan dan air; Kelima, bahwa telah diperoleh tenaga-tenaga pengajar untuk suatu sekolah menengah pertama kemasyarakatan yang meliputi jurusan pembangunan kayu, besi dan pertanian.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka terhitung mulai tahun pelajaran 1969 (1-1-1969), Sekolah Menengah Pertama Kemasyarakatan (SMP Kemasyarakatan) St.Yosef Nenuk resmi berdiri. Pater Drs. Zenon Stezycki ditunjuk sebagai kepala sekolah.

Sedangkan biaya penyelenggaraan sekolah tersebut didapat dari uang sekolah siswa dan sumbangan-sumbangan lain yang sah.
SK pendirian sekolah tersebut dikeluarkan Ketua Yayasan Sekolah Umat Katolik Timor, H.Lalawar. Berdasar pada SK tersebut, maka tanggal 1 Januari 1970, STM St. Yosef Nenuk dibuka di Biara St. Yosef Nenuk dengan angkatan pertamanya yang berhasil tamat sebanyak 17 orang.

Salah seorang guru senior STM Nenuk (30 tahun mengabdi), Ir.Ale Kayus, punya pengalaman tersendiri dengan STM Nenuk. Meski baru menjadi staf pengajar tahun 1976, cikal bakal keberadaan STM Nenuk cukup diketahuinya.

Sebelum berpindah ke lokasi sekarang, STM Nenuk dimulai di Biara SVDNenuk. Ketika itu dibangun dua lembaga, yakni Sekolah menengah Pertama Kemasyarakatan (SMPK St. Yosef dan Sekolah Teknik.

Setelah dua tahun, ST dan SMPK St. Yosef Nenuk dipindahkan dari Biara SVD Nenuk ke Halilulik. Sementara penggagas, Pater Wilibrodus Meulendyk SVD, mendirikan pula STM.

"Ketika itu memang Pater Meulendyk sudah memikirkan jauh ke depan. Gagasannya kemudian disahuti para guru yang ketika itu bekerja sama untuk mengajar, baik guru dari seminari, SMA Surya Atambua maupun guru-guru yang ada di SMPK/ST," kata Kayus.

Seluruh proses belajar mengajar berjalan laksana air mengalir. Semua kegiatan masih terpusat di Biara SVD. Baru tahun 1986, ketika dimulai perekrutan para frater (novisiat SVD), maka biara yang sebelumnya menjadi tempat kegiatan belajar dialihkan menjadi tempat pembinaan para frater. Secara otomatis lembaga STM Nenuk berpindah ke lokasi baru.

Gedung STM Nenuk yang baru berada di Jalan Nela Raya, persisnya di kilometer 9 Jalan Atambua jurusan Kupang di wilayah Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Propinsi NTT. Luas kawasan STM Nenuk lebih kurang 13 ha dengan pemanfaatan meliputi: lokasi bangunan sekolah, lokasi bangunan asrama putra dan putri, lokasi bangunan asrama karyawan/ti sekolah, lokasi bangunan bengkel sekolah, lokasi bangunan rumah komunitas SVD, lokasi bangunan rumah dinas guru/pegawai STM, lokasi halaman sekolah, lokasi lapangan olahraga siswa, lokasi kebun sekolah, lokasi tempat pemeliharaan dan penggembalaan ternak, lokasi wilayah kosong yang masih dalam rencana pengembangan, dan lokasi ruas jalan dalam lingkungan sekolah.

Lokasi ini merupakan lokasi baru yang diserahkan oleh pimpinan SVD Provinsi Timor kepada YBST (Yayasan Bentara Sabda Timor) selaku pengelola unit STM St. Yosef Nenuk pada tahun 1987 untuk dimanfaatkan bagi kepentingan sekolah. Pada saat penggunaan gedung baru secara resmi, saat itu STM berada di bawah kepemimpinan P. Yuvens Sebatu SVD.

Jika dibandingkan dengan lokasi lama, maka lokasi baru lebih luas dan lebih mandiri, jauh dari lingkungan biara SVD Nenuk.
Menurut Kepala STM Nenuk, Pater Mikael Rusae, SVD, kehadiran STM Nenuk ini berawal dari sebuah ide yang muncul dari pendiri sekaligus pemilik sekolah ini, para misionaris Serikat Sabda Allah Provinsi Timor. Yayasan sangat peduli terhadap pendidikan, kondisi masyarakat dan program pemerintah saat itu.

Yayasan juga memperhitungkan/mempertimbangkan potensi-potensi yang ada di sekitar yang memungkinkan dibukanya sekolah baru.

Lebih dari itu, jelas Pater Mikael, beberapa karya pastoral kategorial SVD lain yang sebagian besar ditangani oleh para bruder di Provinsi Timor, jelas terpotret adanya gambaran bahwa para misionaris tidak hanya berpikir tentang membangun iman kristiani dengan kegiatan rohani, tetapi juga membangun iman sambil mempersiapkan manusianya, terutama tenaga-tenaga pembangunan masyarakat agar siap menghadapi dunia yang ditandai dengan kemajuan teknologi, yang pada saat itu belum terasa, namun saat ini sangat terasa.


Disiplin Yes
STM Nenuk merupakan salah satu sekolah swasta ternama di NTT pada era 1970-an. Kunci sukses lembaga ini adalah disiplin. Para guru mendidik siswa dengan penuh tanggung jawab. Para siswa diwajibkan menetap di asrama.

Misi lembaga ini adalah menyiapkan peserta didik menjadi manusia yang memiliki otak/nalar yang baik, memiliki keterampilan yang handal dan mental yang kuat.

Dalam buku kenangan buat alumni STM Nenuk, dikisahkan soal kehidupan asrama kala itu. Setiap pergantian kegiatan ditandai dengan lonceng kecil yang dibunyikan oleh pemimpin asrama. Bunyi lonceng memberi isyarat bagi penghuni asrama untuk segera beraktivitas.

Terkadang saat lonceng bangun tidur siang belum dibunyikan, para siswa sudah tidak ada lagi di kamar tidur karena sudah ke sekolah ataupun menjalankan aktivitas lainnya. Hal ini karena begitu tingginya tingkat kesadaran untuk mengatur sendiri.
Warna attitude para siswa mengalami perubahan ketika STM melewati suatu peristiwa kelam yang menggemparkan, yaitu peristiwa terbunuhnya Yohanes Tuname, seorang pengemudi bus. Tentu masing-masing siswa yang mengalami peristiwa itu memiliki cerita masing-masing, bagaimana bergulat melewati semua itu. Bahkan ada yang tidak ingin menceritakan dan ingin agar peristiwa itu dilupakan saja bahkan kalau memungkinkan lebih baik dihapus dari sejarah.

Banyak hal termasuk kebijakan pun mulai mengalami perubahan. Suatu saat, diputuskan bahwa STM harus pindah lokasi dari biara SVD ke lokasi yang sekarang. Kehidupan asrama di lokasi baru sedikit berubah. Salah satunya, lonceng kecil diganti dengan lonceng besar. Bunyi lonceng itu telah membuat banyak siswa, terutama siswa kelas I dan II, harus kehilangan keinginan untuk bersantai-santai karena di bawah koordinasi kakak kelas III, semua adik kelas amat sangat ditertibkan.

Singkat kata, dalam era tahun '80-an dan 90-an, setelah tragedi itu, STM mempertahankan eksistensinya dengan menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang khas, yang dapat ditemukan di kamar makan, di dalam kelas, dan lain-lain.

Semua kebiasaan yang khas itu dapat diceritakan dengan baik oleh para alumni. Suatu saat pernah terjadi seorang calon siswa yang datang mendaftar perlu melewati masa inisiasi pra-plonco yang ditentukan oleh anggota senior kelas III. Permintaannya bermacam-macam dan agak ganjil.

Pada dekade terakhir ini, praktik-praktik perpeloncoan semakin dikurangi bahkan ditiadakan oleh karena imbauan pemerintah untuk mengurangi hal-hal yang berbau kekerasan dalam lingkungan sekolah.

"Saya punya pengalaman pribadi. Saya bersama empat teman wanita merupakan siswi pertama yang masuk STM. Bayangkan saja, bagaimana kikuknya kami ketika masuk ke lembaga yang semuanya laki-laki. Pola perpeloncoan merupakan lagu lama yang tetap diberlakukan bagi para calon siswa. Saya sendiri sesungguhnya tidak tertarik masuk STM karena terkenal dengan karakter yang keras. Tapi dorongan orangtua, makanya saya bertahan.

Saya menangkap kesan sangat positif ketika belajar di STM Nenuk. Pola pembinaan membuat kita disiplin terhadap diri sendiri. Jadi Disiplin Yes, Plonco No. Dan, kalau ada yang tanya kenapa STM Nenuk begitu banyak diminati oleh calon siswa dari luar Belu bahkan dari luar negeri, jawabannya karena disiplin," ujar alumna STM Nenuk, Klara Kartina Kolly, ST.

Kepala STM Nenuk, Pater Mikael Rusae, SVD mengamini sistem pembinaan siswa di STM Nenuk pada awal-awal berdirinya sangat keras. Hal ini berkenaan dengan pola penerimaan siswa ketika itu hanya untuk kaum laki-laki. Namun, sejak tahun 1990-an, mulai ada kelonggaran untuk menerima calon siswi dengan pertimbangan kesetaraan gender.
"Pola pembinaan di STM sekarang sudah mulai berubah. Kalau dulu masih mengenal plonco, sekarang sudah pada upaya pembinaan nalar dan keterampilan," ujar Pater Mikael.


Di lembaga STM Nenuk, istilah kompetensi, kompetisi yang sehat, prestasi, networking, profesionalisme, komunikasi, koordinasi, kolaborasi, pemberdayaan, kepercayaan, tanggung jawab dan sebagainya begitu gencar dikumandangkan.

Dalam membentuk tenaga-tenaga profesional manusia zaman sekarang, ternyata dasar-dasarnya sudah ditanamkan oleh para misionaris SVD Timor ketika mereka memulai karya raksasanya di bidang pendidikan di Timor.

Lebih dari itu, skill yang diperkaya dengan knowledge dan attitude, sebagaimana dalam dunia pendidikan saat ini, menjadi tiga elemen yang tak terpisahkan. Pola ini telah diteropong dan dijadikan sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam pendampingan oleh para misionaris pendidik dan rekan guru awam yang menangani pendidikan formal dan kursus keterampilan untuk membekali peserta didik sejak dekade pertama berdirinya sekolah ini. Tempat kursus dan lembaga pendidikan selalu dilengkapi dengan asrama-asrama untuk tujuan pembentukan sikap (attitude).


Tidak Eksklusif
TANGGAL 31 Oktober 2010 akan menjadi hari yang sangat istimewa. Para alumni STM Nenuk dari berbagai pelosok akan memeriahkan hari bersejarah, pesta Panca Windu (40 tahun), sekolah tersebut.

Berbagai persiapan sudah dilaksanakan. Sumbangsih dari para alumni, baik moril maupun materil, demi suksesnya acara bermartabat ini sudah hampir mencapai 100 persen.

Lalu, apa yang menjadi agenda utama acara itu? Apakah sebatas menghadiri acara, bersilaturahmi dan selesai? Ataukah menyimpan kado istimewa buat calon siswa berikutnya untuk dikenang?

Tentu agenda khusus sudah dipersiapkan pihak penyelenggara. Muaranya agar para alumni yang sudah banyak menjadi orang besar di berbagai bidang di tanah air maupun luar negeri itu bisa berbuat lebih untuk kemajuan STM Nenuk ke depannya.
Sudah 40 tahun lembaga ini hadir di tanah Belu. Mutu lulusannya pun tidak diragukan. Sebagian besar lulusan dari STM Nenuk terserap di dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Pola pembinaan di lembaga ini tidak eksklusif. Semua golongan, suku, bangsa, ras dan agama diterima. Intinya, lembaga mendidik sumber daya manusia (SDM) yang handal untuk mengabdi bagi dirinya sendiri dan daerah.

"STM Nenuk berada dalam biara SVD. Bukan berarti eksklusif. Siswa yang diterima bukan hanya dari golongan Katolik, tetapi semua agama, suku dan golongan dididik di lembaga ini. Sejak awal berdirinya penggagas sudah memberi ruang kepada siapa pun tanpa membedakan dari mana asalnya, agama mana pun untuk menuntut ilmu di STM Nenuk.

Mekanisme pembelajaran di lembaga ini tentu para siswa harus patuhi. Tapi, lembaga tidak pernah memaksa para siswa agama lain untuk masuk mengikuti aliran Katolik. Kita berikan kebebasan kepada anak-anak beragama lain untuk mengikuti ibadatnya. Pendidikan yang diajarkan di sekolah tidak eksklusif," ujar Kepala STM Nenuk, Pater Mikael Rusae, SVD.

Menurut Pater Mikael, solidaritas antara para siswa yang berlainan agama justru terjalin sangat bagus di lembaga STM Nenuk. Semua siswa diasramakan sehingga nuansa kekeluargaan sangat nampak. Beberapa lulusan dari lembaga ini yang beragama Islam bahkan sudah menjadi orang penting di beberapa instansi di tanah air.

Pengalaman ini pun diakui mantan siswa STM Nenuk, Ir. Nahak Blasius, yang kini menjabat Kadis Pekerjaan Umum dan Perumahan Belu. Dirinya bangga dengan didikan yang diterapkan para guru di lembaga tersebut. Keakraban di antara siswa dari berbagai suku dan agama sangat kuat.

"Banyak rekan kami dulu berasal dari Flores, Jawa, Kupang, dll. Beda agama, tapi kami begitu menyatu. Saya merasakan betul, penerapan disiplin yang ditunjukkan para pengajar baik pastor maupun guru awam. Bayangkan, meja gambar sepertinya sangat menyatu dengan para siswa di ruang belajar," kata Nahak mengenang.

Menurutnya, pola pendidikan yang diterapkan di STM Nenuk sebelum berlakunya kurikulum saat ini berjalan selama empat tahun. Tiga tahun teori dan satu tahun praktik. Saat praktik, semua siswa disebarkan ke berbagai lokasi yang sudah ditentukan guru pembimbing.

"Zamannya kami dulu, tiga tahun full dalam kelas, sementara satu tahun siswa diterjunkan ke daerah-daerah. Siswa diberikan kesempatan untuk mengaktualisasikan teori yang sudah didapat di kelas. Saya punya pengalaman bersama Bruder Albert, kami membangun Kapela Wekmidar, membuat gantungan lonceng gereja Niki-Niki, membangun asrama susteran di Besikama. Kita begitu disiplin dididik oleh para guru ketika itu," tutur Nahak. **** 

Memasuki usia 40 tahun tentu masih banyak agenda yang harus dikerjakan manajemen STM Nenuk ke depannya. Bersama Yayasan Bentara Sabda Timor (YBST) tentu ada program-program khusus, terutama pembinaan tenaga pengajar (kaderisasi), pembenahan fasilitas dan sarana-prasarana penunjang KBM.

Sejak sekolah ini berdiri, program kaderisasi tenaga guru produktif secara periodik dilaksanakan. Sejak tahun 1971, ada delapan orang guru yang sampai sekarang aktif bekerja diperoleh melalui program kaderisasi oleh yayasan. 

Sebagai sekolah swasta, program ini sejak dulu dipandang sebagai jalan terbaik untuk memperoleh guru kejuruan bermutu bagi sekolah. Walaupun angin segar bantuan ketenagaan melalui jalur PNS atau Guru Bantu semakin terbuka bagi sekolah swasta, program kaderiasi masih mutlak diperlukan agar tetap terpelihara kesinambungan penjaminan mutu tenaga-tenaga guru produktif yang utama bagi sekolah. Program kaderisasi terakhir telah dipanen hasilnya tahun 2005.

Sejak tahun 2004 satu guru kader menempuh pendidikan tahun ke-2 di PPPGT Medan untuk program keahlian Mesin Produksi melalui jalur Beasiswa Dikmenjur atas nama Yulius Moruk.
Dalam rangka penyesuaian metode diklat yang diterapkan guru/instruktur di kelas dan di bengkel agar sesuai dengan metode dan pola diklat yang dituntut Kurikulum Spektrum, maka dipandang perlu untuk menyiapkan program pelatihan Guru Mata Diklat, baik untuk kelompok normatif, adaptif, maupun kelompok produktif.


Perencanaan program diklat bagi Guru Mata Diklat ini sebagian besar diupayakan melalui jalur Dikmenjur atau Dinas PPO Propinsi NTT.

Lalu, bagaimana dengan sarana dan prasarana? Pater Mikael menjawab, dengan memperhatikan prospek perkembangan STM ke depan, termasuk mempertimbangkan kondisi dan kapasitas ruang kelas yang ada, maka STM St. Yosef Nenuk masih merencanakan adanya pengembangan bangunan sekolah, meliputi perluasan bangunan perpustakaan sekolah (1 unit), perluasan kantor tata usaha (dua ruang), penambahan ruang OSIS (1 ruang), bangunan Satpam sekolah dan asrama (1 unit), penambahan gudang sekolah (1 unit), penambahan bengkel praktek TP dan TKBB (2 unit), penambahan kapela (1 unit), penambahan rumah guru/kantor alumni (1 unit), penambahan ruang tidur di komunitas SVD (3 ruang).

Mempertimbangkan kemungkinan bertambahnya jumlah siswa yang akan sekolah di STM St. Yosef Nenuk, maka rencana pengembangan asrama meliputi penambahan kamar tidur siswa berkapasitas 36 siswa (2 ruang), penambahan ruang rekreasi berkapasitas 200 siswa (1 ruang), pengadaan bangunan kapela sekolah berkapasitas 500 orang (1 unit), perluasan kamar mandi/WC (1 unit).

Bangunan gedung yang ada sekarang sebagian berasal dari bangunan yang sudah didirikan saat berpindah ke tempat ini, sebagaian lain ditambahkan setelah itu.

"Kehadiran STM Nenuk hingga sekarang tentu berkat dukungan dari pimpinan sekolah sejak awal berdirinya. Kami perlu memberikan penghargaan yang tinggi atas jasa para mantan kepsek, seperti P. Zenon Stezicky SVD (1 Jan 1970 - Juni 1972), P. Joseph Bloch SVD (1972), P. Adri Conterius SVD (1972 -1973), Ir. Feliks T.B. Morghen (1973-1976), Br. Markus Anin SVD (1976), P. Hendrikus Rua SVD (1976-1978), P. Rufinus Tjeun Fin (1978-1979), Rm. Paulus Klau. Pr (1979-1980), P. Drs. Feliks M. Kosat SVD (15 Feb 1986 - 28 Apr 1988), P. Drs Yuvens Sebatu SVD (28 April 1988 - 20 Juni 1992), P. Drs Petrus Salu, SVD (20 Juni 1992-13 Juni 1997 dan 1 Juli 2002- . 2007), P. Drs Benediktus Bria SVD (13 Juni 1997-1 Juli 2002), P. Drs David Amfotis SVD, MA(2007 - Juni 2010)," kata Pater Mikhael Rusae yang mengabdi di STM Nenuk sejak Juni 2010 lalu.(Oleh Ferdinandus Hayong)

Sumber: Pos Kupang edisi 27-29 Oktober 2010 halaman 1

Dikte

INDONESIA adalah negeri seribu sumpah. Tapi hanya tiga sumpah yang paling terkenal. Sumpah Palapa, Sumpah Pemuda dan Sumpah Jabatan. Sumpah Palapa menyatukan Nusantara. Sumpah Pemuda melahirkan Indonesia Raya. Sumpah Jabatan? Lucu, orang dewasa masih mau didikte seperti murid TK!

Eitt...jangan marah dulu kawan. Mari kita bedah satu persatu. Jika tuan membuka kembali buku sejarah, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memang berawal dari sumpah. Tahun 1336 Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa. Sumpah itu diucapkan Gajah Mada pada upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit tahun 1258 Saka atau 1336 Masehi.



Teks Sumpah Palapa ditemukan dalam kitab Jawa kuno, Serat Pararaton (ditulis tahun 1613 M) yang berbunyi, Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, TaƱjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".

Terjemahannya, Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa (nya). Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".

Dari isi naskah Pararaton edisi Brandes (1897:36) ini diketahui pada masa Gajah Mada diwisuda menjadi Patih di hadapan Ratu Majapahit, Tribuwana Tunggadewi, sebagian wilayah Nusantara yang disebut pada sumpahnya belum dikuasai. 

Sejarah membuktikan Gajah Mada mewujudkan sumpahnya dengan menyatukan wilayah-wilayah tersebut. Para ahli sejarah Indonesia sepakat Sumpah Palapa memberi spirit lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diproklamirkan Soekarno-Hatta enam abad kemudian. 

Lima ratus sembilan puluh dua tahun setelah Gajah Mada mengucapkan sumpah legendaris itu dan tiga setengah abad setelah Nusantara remuk dijajah Belanda, pemuda-pemudi dari berbagai suku bersumpah sebagai anak Indonesia lewat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Sumpah itu menghasilkan Trilogi: Satu NUSA, Satu BANGSA, Satu BAHASA: INDONESIA. Selain itu ditetapkan Lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman sebagai lagu kebangsaan. 

Beta kutip ulang isinya. Kami putera dan puteri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia. Kami putera dan puteri Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Kami putera dan puteri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Teks Sumpah Pemuda ini dibacakan pada acara penutupan Kongres II Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 di Jalan Kramat Raya Nomor 106-Jakarta (kini Museum Sumpah Pemuda). Gedung itu dulu milik warga Tionghoa, Sie Kong Liong. Kongres dihadiri 71 peserta termasuk empat utusan golongan Tionghoa yaitu Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien kwie. 

Kongres dipimpin Soegondo Djojopoespito dari PPI dibantu tim inti terdiri dari RM Djoko Marsaid (Jong Java), Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond), Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond), Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond), R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia), Senduk (Jong Celebes), Johanes Leimena (Jong Ambon) dan Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi).

Luar biasa pemuda-pemudi Indonesia saat itu. Di bawah tekanan penjajah mereka berani ucapkan sumpah tentang Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Indonesia! Seperti Sumpah Palapa 1336 yang diwujudkan Gajah Mada pada masanya, Sumpah Pemuda 1928 pun terbukti sakti. Tujuh belas tahun kemudian, Indonesia sungguh merdeka! Setidaknya NKRI masih tegak berdiri sampai usia 65 tahun lebih (2010).

Sekarang coba kita telaah sumpah paling populer di negeri ini, yakni Sumpah Jabatan. Sumpah itu selalu diucapkan seorang pegawai negeri (sipil pun militer) saat memangku jabatan tertentu, antara lain begini bunyinya. 

"Demi Allah! Saya bersumpah, Bahwa saya, untuk diangkat dalam jabatan ini, baik langsung maupun tidak langsung, dengan rupa atau dalih apapun juga, tidak memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun juga; Bahwa saya akan setia dan taat kepada Negara Republik Indonesia; Bahwa saya akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan; Bahwa saya tidak akan menerima hadiah atau suatu pemberian berupa apa saja dan dari siapapun juga, yang saya tahu atau patut dapat mengira, bahwa ia mempunyai hal yang bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan saya; Bahwa saya dalam menjalankan jabatan atau pekerjaan saya, senantiasa akan lebih mementingkan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri atau golongan; Bahwa saya akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan semangat untuk kepentingan Negara". 

Bandingkan dengan Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda. Sumpah Gajah Mada dan Sumpah Pemuda 1928 singkat, padat dan jelas. Sumpah Jabatan panjang nian kalimatnya dan nama Tuhan eksplisit disebut paling awal. Itu berarti Sumpah Jabatan merupakan ikrar kesetiaan, komitmen, kesiapan dan kesanggupan atas nama Tuhan bahwa jabatan itu akan dilaksanakan secara bertanggung jawab. Bersumpah untuk setia kepada sesama dan Tuhan mestinya Indonesia tidak remuk oleh badai kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN). Jika sumpah jabatan itu sungguh dilaksanakan niscaya bangsa ini sudah jauh lebih maju dibandingkan bangsa lain.

"Bung lupa satu hal prinsip. Sumpah Palapa diucapkan Gajah Mada sendiri. Sumpah Pemuda diikrarkan pemuda-pemudi dari berbagai suku di Nusantara dengan tulus hati. Nah, Sumpah Jabatan itu didiktekan atasan pejabat yang berwenang mengambil sumpah. Jadi, bukan keluar dari hati nurani si pejabat. Sumpah cuma formalitas. Lucu sekali, pejabat kan orang dewasa. Kok masih mau didikte seperti murid TK," celetuk seorang kawan sekenanya. Waw!

Mulut beta terkunci! Sejenak bingung mau bilang apa. Bagaimana kalau sumpah jabatan dibacakan sendiri oleh pejabat yang bersangkutan agar dia meresapi dan menghayati pesan setiap kata? Cara lain, minta pejabat buat sendiri rumusan kalimat sumpah jabatan sesuai posisi batinnya. Kalau dia tidak mau bersumpah, tak apa-apa. Artinya, boleh dicoba untuk meniadakan sumpah jabatan. Luar biasa kalau tradisi baru itu dipelopori para pejabat kita di beranda Flobamora. Siapa tahu lebih mujarab khasiatnya bagi bangsa dan negara. (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang Senin, 25 Oktober 2010 halaman 1

Korban KM Karya Pinang: Satu Sampai Mati

Jenazah korban di RSUD TC Hillers Maumere
MAUMERE, PK -- Keduanya bukan lagi dua, melainkan satu. Kalimat yang biasa diucapkan pada saat janji nikah ini dihayati secara sempurna oleh pasangan Rudolfus Kori dan Theresia Nerti.

Pasangan yang menjadi korban tewas dalam kasus tenggelamnya KM Karya Pinang, Jumat (22/10/2010) ini, dikuburkan bersama dalam satu liang lahat di Pekuburan Iligetang, Maumere, Senin (25/10/2010) siang.

Kedua jenazah ini dikuburkan setelah tim identifikasi dari Polda NTT memastikan korban yang ditemukan tewas bernama Rudolfus dan Theresia. Pasutri asal Kecamatan Koting ini menetap di Kelurahan Beru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka.

Rudolfus dan Nerti sehari-hari bekerja sebagai wiraswasta. Keduanya pergi ke Palue mengikuti misa tahbisan imam baru dan misa perdana. Ketika kembali dari acara di pulau itu, KM Karya Pinang yang mereka tumpangi bersama warga lainnya tenggelam di antara Tanjung Sada Watu Manuk dan Ndondo, Jumat (22/10/2010) siang.


Kedua korban ditemukan dalam pencarian tim gabungan pemerintah dan nelayan Palue, Minggu (24/10/2010) siang. Jenazah keduanya lalu dievakuasi ke RSUD Hillers Maumere untuk diidentifikasi tim dokter Polda dan RSUD TC Hillers.
Disaksikan Pos Kupang, jenazah pasutri ini dibawa ke pekuburan menggunakan kendaraan yang disiapkan pemerintah. Peti jenazah Rudolfus diangkut dengan dump truk. Petinya cukup besar dan berat karena perutnya membesar setelah tiga hari teremdam di laut. Sedangkan jenazah istrinya, Nerti menggunakan peti jenazah ukuran normal. 

Para pelayat dan keluarga menyaksikan pemakaman pasangan ini dengan berurai air mata. Prosesi penguburan dahului ibadat yang dipimpin Romo Wilfrid Valiance, Pr.

Dua Perempuan Ditemukan
Dua jenazah perempuan ditemukan lagi, Senin (25/10/2010), sekitar pukul 11.00 Wita, di dua lokasi berbeda di antara perairan Langawaju dan Mausambi. Setelah diidentifikasi tim dokter di kamar jenazah RSUD TC Hillers Maumere, keduanya dikenali bernama Selestina Selfina dan Hendrika Heret.

Menurut informasi dihimpun Pos Kupang, kedua korban ditemukan dalam posisi terapung di laut. Seorang korban ditemukan kapal Koremap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sikka dan seorang lagi ditemukan oleh kapal nelayan milik Kanis, warga Palue yang ikut dalam pencarian itu. Seorang korban mengenakan celana botol, baju lengan panjang hijau dan baju dalam warna putih.

Kedua jenazah itu tiba di RSUD Maumere pukul 16.00 Wita. Setelah dipastikan identitasnya, yang didukung keterangan keluarga dan sanak famili, jenazah keduanya diserahkan pemerintah daerah kepada keluarga lalu dibawa pulang dan dimakamkan di Desa Aibura, Kecamatan Waigete.
Sementara proses identifikasi 12 jenazah korban KM Karya Pinang, yang ditemukan dalam pencarian hari Minggu (24/10/2010), telah selesai Senin siang. Jenazah yang telah dikenali identitasnya diserahkan kepada sanak keluarga korban untuk dimakamkan. 

Wakil Bupati Sikka, dr.Wera Damianus, MM, didampingi Direktur RSUD TC Hillers Maumere, dr. Asep Purnama, Sp.PD, Danlanal Maumere, Kolonel Laut Hadi Suroso Wibowo, dan tim Disdokkes Polda NTT, memimpin prosesi penyerahan jenazah.

Dari 12 jenazah itu, dua warga Maumere dimakamkan di Pemakaman Umum Iligetang pada Senin siang dan sebagian lain dibawa ke Kloangrotat dan Aibura. Warga dan keluarga korban yang menyaksikan proses penyerahan itu menutup mulut dan hidung karena tak tahan bau dari jenazah yang kondisinya mulai rusak. Jenazah diisi dalam peti lalu diangkut dengan mobil ambulans.

Hanya dua jenazah terpaksa diangkut dengan dump truk, karena ukuran peti normal yang dipesan oleh pemerintah daerah tidak bisa memuat jenazah yang membengkak sangat besar. Peti dibuat baru dari bahan tripleks tebal dengan ukuran yang lebih lebar.

"Besok (Selasa), pencarian akan dilanjutkan lagi. Satu kapal polisi kembali ke Maumere dan satu kapal siaga di Palue," kata Kapolres Sikka, AKB Ghiri Prawijaya, semalam.

Dengan penemuan dua jenazah perempuan kemarin, maka total korban yang berhasil ditemukan 14 orang. Sisa korban yang belum ditemukan sebanyak sembilan orang.(ris/ius)


Eka Tinggal Sebatang Kara

"SAYA mau ikut bapak dan mama. Tolong buat kasih saya satu pintu lagi. Kenapa bapak mati harus sengsara dulu? Saya sayang bapak dan mama. Saya mau ikut mereka. Sekarang saya sendiri. Kenapa Kak Tomy juga tidak ada lagi. Kenapa bapak dan mama tinggalkan Eka sendiri sekarang?" 

Inilah suara tangisan dan kata-kata yang keluar dari bibir Maria Agustina Eka, anak tunggal dari pasangan suami istri (pasutri) Rudolfus Kori dan Theresia Nerti, yang tewas tenggelam dalam pelayaran dengan KM. Karya Pinang Palue-Maumere, Jumat (22/10/2010) siang. 

Eka adalah anak semata wayang dari pasangan ini. Eka yang duduk di kelas III SMPK Vifi Maumere ini kini hidup tanpa bapak dan mama kandungnya. Dia hidup sebatang kara. 
Eka tidak menyangka ayah dan ibunya yang pergi menghadiri acara pentahbisan dan misa perdana imam baru di Palue harus pergi meninggalkan dirinya yang masih membutuhkan kasih sayang orangtua. 

Di Pekuburan Iligetang-Maumere, Senin (25/10/2010) siang itu, suara tangisan Eka membuat keluarga besar dan sidang perkabungan terus menangis. "Saya nanti sekolah rajin, saya janji. Bapak bilang saya harus jadi dokter. Bapak dan mama saya nanti rajin belajar, tapi siapa yang biaya sekolah Eka sekarang? Bapak dan mama sudah pergi, Eka sekarang sendiri tanpa adik. Kak Tomy kenapa tidak ada? Kenapa kak Tomy juga pergi tinggalkan Eka?" kata Eka. 

Selama ibadat penguburan, Eka terus meratapi ayah dan ibunya. Mengenakan sarung hitam, kerudung hitam dan baju hitam, Eka dijaga keluarganya. Eka terus memegang dan melihat foto kedua orangtuanya. 

"Jangan kasih jatuh bapak. Pelan-pelan! Bapak sudah sakit. Kasihan bapak," ucapnya saat jenazah ayah dan ibunya dimasukkan ke dalam liang lahat. 

Ignasius Wodang, wakil keluarga, mengatakan, kematian Rudolfus dan Theresia sungguh memprihatinkan. Kematian keduanya membuat keluarga sangat terpukul. Apalagi keduanya meninggalkan anak mereka yang kini masih membutuhkan kehadiran dan kasih sayang orangtuanya. (aris ninu)

Data KM Karya Pinang:
Tenggelam: Jumat (22/10/2010)
Lokasi : Tanjung Sada Watu Manuk
Total penumpang: 66 orang
Korban selamat: 43 orang
Korban tewas: 14 orang
Korban hilang: 9 orang
Nakhoda: Adeodatus Ora
ABK: 4 orang

14 Korban yang Teridentifikasi:
1.Agustina Wio
2.Angelina Angela
3.Rudolfus Cory, S.H
4.Theresia Nerti
5.Maria Piada
6.Maria Novianti
7.Paulina Pisen
8.Philipus Api
9.Tekla Bolor
10.Yohanes Bulianto
11.Kristina Surijila
12.Maria Ermalinda
13. Selestina Selfina 
14. Hendrika Heret
-------------------
Sumber: RSUD TC Hillers Maumere

Dipicu Awan Cb

TENGGELAMNYA KM Karya Pinang, Jumat (22/10/2010), dipicu oleh awan Cumulunimbus (Cb), yang memicu gelombang secaramendadak. 

Hal ini disampaikan Kepala BMKG El Tari Kupang, Syapi'i, S.Si, melalui Forecaster on Duty, Moh Syaeful Hadi, SP, di ruang kerjanya, Senin (25/10/2010). 

"Apalagi saat itu terjadi turun hujan disertai angin tenggara yang cukup kencang. Meski hanya sesaat, sangat berbahaya hingga kapal tersebut tenggelam," kata Syaeful.

Dijelaskannya, awan Cb biasanya memicu gelombang laut sehingga tinggi gelombang laut bisa naik secara tiba-tiba melampaui kondisi normal. Pada kondisi itu, bisa saja terjadi peristiwa yang tidak diinginkan, meski sebelumnya cuaca normal.

"Biasanya awan-awan Cb muncul di atas perairan. Jika kumpulannya sudah berat, akan jatuh dan pada saat bersamaan turun hujan disertai angin. Gaya tarik awan Cb menimbulkan gelombang tinggi di atas normal," katanya.

Dia meminta para nelayan dan pengguna jasa transportasi laut, terutama kapal-kapal layar atau kapal motor, supaya waspada dalam pelayaran, sebab saat ini potensi awan Cb ada di seluruh wilayah NTT. 

"Saat ini tinggi gelombang rata-rata antara 1 - 2 meter. Pelayaran dan nelayan harus tetap waspada karena adanya anomali cuaca dan iklim tahun ini," ujarnya. 

Kepala BMKG El Tari Kupang, Syapi'i, S.Si, mengatakan pihaknya selalu memberikan informasi mengenai cuaca kepada semua pihak, termasuk syahbandar. 

"Selama ini kami sampaikan data atau informasi itu ke semua pos yang ada di pelabuhan laut. Informasi tentang tinggi gelombang, angin dan lain-lain juga disampaikan ke kapal- kapal. Tapi, kalau kapal yang radio informasinya tidak ada atau terganggu, maka informasi itu tidak bisa mereka ketahui," kata Syapi'i.

Kepala Stasiun Klimatologi Klas II Lasiana Kupang, Ir. Purwanto juga mengatakan, hingga kini (NTT) masih berpotensi ditutup awan Cb atau awan konvektif. (yel)

Pos Kupang, 26 Oktober 2010 halaman 1

Pasangan Dubes Menang di TTU

Raymundus Sau Fernandes (kiri) dan Aloysius Kobes (Dubes)
KEFAMENANU, PK - Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Timor Tengah Utara (TTU) menetapkan pasangan Raymundus Sau Fernandes-Aloysius Kobes (Dubes) sebagai paket calon Bupati-Wakil Bupati TTU terpilih untuk periode 2010-2015.

Pasangan calon terpilih itu ditetapkan KPUD TTU dalam rapat pleno, Selasa (19/10/2010), di gedung Biinmafo-Kefamenanu. Dubes, pasangan calon yang diusung PDIP yang berkoalisi dengan PDS, PPD, PIS, PKDI dan PKPB itu memperoleh suara terbanyak dalam pemungutan suara Pemilu Kada TTU pada 11 Oktober 2010.

Sesuai rekapitulasi perolehan suara yang dilakukan KPUD, pasangan ini memperoleh 42.709 suara, mengalahkan Gabriel Manek (Bupati TTU) dan wakilnya, Simon Feka yang mendulang 41.216 suara. Dubes unggul 1.493 suara dari Gabriel-Simon.




Perolehan suara terbanyak ketiga diraih pasangan Yohanes Usfunan- Nikolaus Suni (Funan-Suni) yang meraih 26.621 suara. Menyusul pasangan Pius Tjanai-Raymundus Loin (Pijar) yang memperoleh 6.573 suara. Sedangkan Joao Meko-Alexander Sanan (JD) hanya kebagian 2.303 suara.

Paket Dubes unggul di 11 kecamatan, yakni Kecamatan Miomaffo Timur, Noemuti, Insana, Mutis, Miomaffo Barat, Miomaffo Tengah, Musi, Bikomi Nilulat, Insana Tengah, Kota Kefamenanu, Noemuti Timur.

Sementara Paket Gabriel-Simon unggul di sembilan kecamatan yakni Kecamatan Biboki Feotleu, Insana Fafinesu, Biboki Utara, Biboki Selatan, Naibenu, Insana Utara, Biboki Moenleu, Biboki Anleu, Biboki Tanpah.

Kepala Divisi Logistik KPUD TTU, Fidelis Olin, dalam rapat pleno tersebut mengatakan bahwa pemilih yang terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap) dalam Pemilu Kada TTU tahun ini sebanyak 144.575 orang. Pemilih yang menggunakan hak suaranya pada pemungutan suara 11 Oktober 2010, sejumlah 120.495 pemilih. Yang tidak mencoblos sebanyak 24.080 pemilih.

Surat suara seluruhnya berjumlah 148.233 lembar dan yang terpakai 120.802 lembar. Surat suara yang dikembalikan karena rusak berjumlah 116 dan yang tidak terpakai sebanyak 27.315 lembar.

Dirincikannya bahwa dari 460 TPS (tempat pemungutan suara) yang tersebar di 24 kecamatan, suara sah mencapai 119.422 suara dan tidak sah 1.380 surat suara. 

Rapat pleno terbuka itu dimulai pukul 10.30 Wita yang dipimpin Ketua KPUD TTU, Drs. Aster da Cunha, didampingi anggotanya, Dolfianus Kolo, S.Pd, Lamur Isfridus, Fidelis Olin, S.Fil dan Yasintus Lopez. Turut hadir, Ketua KPUD NTT, John Depa.

Pleno disaksikan Kapolres TTU, AKBP Adi Wibowo, S.H, Dandim 1618/TTU, Letkol Inf Taufiq Hanafi, Ketua PN Kefamenanu, Togi Pardede, S.H. Para anggota PPK, saksi, serta undangan lainnya.

Pantauan Pos Kupang, sekitar pukul 19.00 Wita, Paket Dubes mendatangi Balai Biinmafo, usai proses rekapitulasi perolehan suara. Kedatangan Dubes disambut hangat para hadirin dengan menyalami sebagai tanda proficiat sebagai pasangan terpilih. Rapat pleno berakhir sekitar pukul 21.10 Wita.

Raymundus Fernandes yang dimintai komentarnya tentang hasil tersebut, mengatakan, ini adalah kemenangan Tuhan dan rakyat yang mencintai perubahan. Dia dan wakilnya akan menjalankan tugas sebaik-baiknya agar tidak mengecewakan rakyat yang telah memberikan kepercayaan.

Terkait empat paket yang kalah, Dubes mengatakan, "Kemarin kita berkompetisi, namun mulai hari ini mari kita bergandengan tangan untuk membangun TTU tercinta". (dd)

Perolehan Suara:
1. Dubes = 42.709 Suara Sah (35,76%)
2. Gabriel-Simon = 41.216 Suara Sah (34,51%)
3. Funan-Suni = 26.621 Suara Sah (22,29%)
4. Pijar = 6.573 Suara Sah (5,50%)
5. JD = 2.303 Suara Sah (1,93%)
-------------------------------------------------
Total Suara Sah = 119.422
--------------------------------------------------
Sumber: Pleno KPUD TTU, Selasa (19/10/2010).

Diwarnai Aksi Walk Out

SAAT pleno KPUD TTU, Selasa (19/10/2010), memasuki pembacaan rekapitulasi perolehan dari PPK Miomaffo Barat, Ketua Panwas Pemilu Kada dan anggotanya meninggalkan ruang rapat pleno. Aksi walk out itu disusul saksi Paket Gabriel Manek-Simon Feka.

Ketua Panwas, Viktor Manbait, kepada wartawan, mengatakan, keputusan walk out dilakukannya karena tidak ingin menciderai proses demokrasi di TTU. Sebab pada rekapitulasi di PPK Miomaffo Barat, KPUD tidak mempertanggungjawabkan kevalidan data hasil rekapitulasi di tingkat PPK.

Sementara Magnus Kobesi, saksi Paket Gabriel Manek-Simon Feka mengatakan, KPUD tidak mengklarifikasi kekeliruan data yang diperoleh di beberapa TPS. Juga tidak membuat berita acara pelanggaran administrasi di Kecamatan Miomaffo Barat. 

Keduanya mengatakan akan segera melaporkan KPUD ke Polres TTU dengan tuduhan melakukan pelanggaran pidana.
Ketua KPUD NTT, John Depa, yang dimintai tanggapannya mengenai aksi walk out yang mewarnai pleno KPUD TTU itu mengatakan, walk out yang dilakukan Panwas maupun saksi dari paket calon merupakan hak dan itu sah-sah saja. Namun ketidakhadiran mereka dalam rapat pleno tidak mempengaruhi keabsahan hasil pleno.

Depa menjelaskan bahwa tidak semua orang bisa dipuaskan satu persatu dalam forum rapat pleno KPUD TTU tersebut. Pihak KPUD TTU, kata dia, sudah berusaha menjelaskan mekanisme peraturan. Jika ada pelanggaran dalam keseluruhan proses, katanya, maka itu menjadi kewenangan Panwas untuk menanganinya sesuai aturan yang berlaku.Rapat pleno berlangsung alot sejak pagi sampai malam, diwarnai interupsi. (dd)

Pos Kupang, 20 Oktober 2010 halaman 1

Copiapo

PADANG gurun Atacama yang sunyi mendadak gemerlap. Dusun Copiapo sontak menjadi pusat perhatian dunia. Sekitar 5.000 orang, termasuk 2.000-an jurnalis dari berbagai negeri menyerbu Copiapo. Mereka melaporkan kisah kemanusiaan paling heroik abad ini dengan bintang utama bernama Sebastian Pinera!

Chile menginspirasi dunia! Begitu judul besar dalam buku sejarah umat manusia yang ditulis dengan tintas emas pada 13 Oktober 2010. Inspirasi itu niscaya akan bertahan lama. Menjadi sumber referensi bagi spirit pro kehidupan. Bahwa nyawa manusia sungguh tak ternilai harganya. Tidak bisa ditakar atau ditukar dengan uang, kekuasaan atau ukuran apapun yang dikenal manusia.

Melalui layar televisi, koran, majalah atau media online, tuan dan puan kiranya telah menjadi saksi mata aksi penyelamatan 33 petambang Chile yang terjebak selama 69 hari pada kedalaman 700 meter di perut bumi tanggal 12-13 Oktober 2010 lalu. Atensi dunia pada operasi penyelamatan itu tidak kalah dengan perhatian manusia saat menyaksikan pernikahan Lady Diana-Pangeran Charles 1982, pemakaman Diana tahun 1997 dan pemakaman Paus Yohanes Paulus II tahun 2005.



Ketika Luis Urzua, petambang terakhir muncul di permukaan bumi, Rabu (13/10/2010), hampir satu miliar warga dunia larut dalam kebahagiaan tiada tara. Proses penarikan 33 petambang Chile satu per satu dari ruang pengap di kedalaman 700 meter rampung dalam waktu 22 jam lebih.

Presiden Chile, Sebastian Pinera dan istrinya Cecilia Morel Montes menyeka air mata haru pada momen mendebarkan itu. Urzua adalah orang pertama yang bicara dengan Pinera setelah 17 hari ke-33 petambang "terkubur" pada 5 Agustus 2010. Ia adalah pemimpin bagi 32 petambang lainnya yang memiliki ketangguhan fisik dan mental luar biasa karena mampu bertahan di ruang pengap selama dua bulan lebih. Hasil tes kesehatan menunjukkan mereka baik adanya. Luar biasa!

Pada tanggal 23 Agustus 2010, setelah bisa berkomunikasi pertama kali lewat terowongan kecil, Urzua memohon kepada Pinera, "Jangan tinggalkan kami." Presiden Pinera berjanji menyelamatkan Urzua dan rekan-rekannya. Ketika para teknisi dan pejabat Chile bahkan masyarakat dunia ragu akan sukses aksi penyelamatan yang pelik itu, Pinera berkata, "Kita akan melakukan penyelamatan sejauh yang bisa dilakukan manusia."

Pinera memenuhi janjinya. Dia mengerahkan seluruh daya dan upaya untuk menyelamatkan nyawa 33 rakyatnya. Untuk operasi yang rumit dan mendebarkan itu pemerintah Chile menghabiskan dana sekitar Rp 19 miliar. Semangat Pinera melahirkan sinergi tidak saja dari Chile, tetapi dari banyak negara termasuk Amerika Serikat lewat kecanggihan teknologi NASA. Operasi itu melibatkan peran ahli pertambangan, ahli gizi dan psikologi. "Saya bangga kepada Anda yang telah menunjukkan rasa persahabatan dengan menyelamatkan kami. Anda pemimpin yang baik dan hebat," kata Urzua kepada Presiden Pinera.

"Anda layak mendapatkannya," ujar Pinera kepada Urzua. Tepuk tangan pun membahana di antara ribuan orang yang berkerumun di Copiapo, 13 Oktober 2010.

Untuk komitmen serta kerja kerasnya menyelamatkan nyawa 33 petambang, Pinera dikagumi pemimpin dunia. Mereka mengungkapkan rasa haru dan elegi kepada Chile yang melakukan misi kemanusiaan dengan baik. Presiden Amerika, Barack Obama melukiskan keberhasilan penyelamatan 33 petambang itu menginspirasi dunia. "Upaya penyelamatan itu tidak saja merupakan hasil dari determinasi para petugas penyelamat dan Pemerintah Chile, tetapi mengukuhkan kesatuan dan cara penyelesaian yang ditunjukkan rakyat Chile yang memberi inspirasi kepada dunia," kata Obama.

"Penyelamatan 33 petambang adalah kemenangan semangat kemanusiaan," kata Menteri Luar Negeri Australia, Kevin Rudd. Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy, Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, dan Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik, Paus Benediktus XVI mengucapkan ucapan selamat kepada Pinera, pengusaha kaya yang terpilih jadi presiden Maret 2010.

Chile menginspirasi dunia! Sukses Sebastian Pinera (60) memicu diskusi hangat tentang kepedulian para pemimpin. Tak sedikit yang merasa malu. Ada yang membandingkan Pinera dengan mantan Presiden AS, George W Bush yang gagal total membangun New Orleans saat diterjang badai Katrina tahun 2005. Presiden AS yang doyan perang itu dipermalukan dengan ketidakmampuannya menyelamatkan para korban badai Katrina, yang pada umumnya warga kulit hitam, sementara orang kulit putih menginap nyaman di hotel-hotel.

Pinera bahkan mempermalukan idolanya sendiri, Obama, yang reputasinya tercemar ceceran minyak di Teluk Mesiko akibat bocornya ladang minyak British Petroleum. Sampai kini Obama belum mampu menyelamatkan kerusakan lingkungan.

Ada juga yang membandingkan Pinera dengan Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari yang tetap berkunjung ke Perancis dan Inggris saat jutaan warganya menjadi korban banjir terbesar sepanjang sejarah di negara itu bulan Agustus lalu. Sedikitnya 1.500 warga Pakistan tewas ditelan banjir bandang.

Bagaimana kalau Sebastian Pinera dibandingkan dengan para pemimpin di negeri tercinta Indonesia? Ah, kalau soal ini beta tidak perlu berkicau. Toh tuan dan puan sudah tahu. Bercicit lagi merupakan pekerjaan sia-sia. Tuan pasti sanggup dan mampu menjelaskan lebih baik.

Pinera menginspirasi dunia! Dari gurun Atacama yang sepi, dari lubang tambang Copiapo kini kita menjadi lebih paham, siapa pemimpin sejati, siapa pemimpin yang lebih ingat diri. Terima kasih Chile! Setelah 29 petambang Timor meregang nyawa di lubang mangan sejak medio 2009, adakah spirit kepemimpinan seperti Sebastian Pinera? Beta tak sanggup menjawab... (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang edisi Senin, 18 Oktober 2010 halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes