Kopi Tomohon Tinggal Kenangan

Kopi instan memborbardir pasar dengan promosi yang masif sempat membuat kopi lokal Sulawesi Utara (Sulut) terpukul. Pasar kopi lokal tergusur oleh  merk kopi berskala nasional atau internasional.

Handri Sulangi, pengusaha kopi asal Kotamobagu, mengakui, kopi instan memang praktis pembuatanya sehingga lebih disukai konsumen. Dengan kekuatan modalnya, kopi instan pun mampu penetrasi sampai ke warung atau kios-kios.

 "Terus terang kami memang sempat terpukul. Namun, kopi lokal masih bisa bertahan karena memang mempunyai pasar tersendiri," ujar Handri yang sudah memasarkan merk kopi sendiri saat ditemui Tribun Manado di tokonya, Senin (19/4/2012).

  Dia pun mulai promosi lewat media massa. Untuk menarik minat konsumen dia memberikan hadiah bagi mereka yang menukarkan plastik bekas pembungkus kopi buatannya. "Kami juga melakukan pengemasan lebih baik lagi untuk menarik minat pembeli," tambah pria ini. 

Handri mengatakan di Kotamobagu sudah ada beberapa merk lokal lainnya. Pasokan kopi berasal dari para petani di wilayah Bolmong. Dia menyebut dua daerah penghasil kopi di sana yakni daerah Modayag termasuk Purworejo dan Liberia di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) dan Bilalang, Kecamatan Passi, Bolmong. Dari dua daerah tersebut, daerah penghasil kopi terbesar adalah Modayag. Para pengusaha membeli biji-biji kopi yang kemudian diolah menjadi kopi bubuk. Harga per kilogram biji kering kopi antara Rp 22-23 ribu. "Tergantung kualitas kopi dan kandungan airnya," tambah dia.

Dikatakannya, harga biji kopi sempat turun drastis hingga Rp 5 ribu per kilogram. Hal tersebut terjadi pada masa krisis moneter atau sekitar tahun 1997-1998. Saat itu, para petani juga mengalihfungsikan lahan perkebunan kopinya untuk tanaman holtikultura. Namun, setelah itu produksi kopi relatif stabil.

Handri menambahkan produksi kopi dari  perusahaannya sangat tergantung pasokan kopi dari para petani. Dia mencontohkan pada kwartal pertama tahun ini, pasokan kopi dari petani sangat kurang. Namun, kendati pasokan kopi kurang, dia memastikan produksi kopi masih berjalan.Kopi produksinya dipasarkan di berbagai daerah Sulut. "Pernah ada teman dan dari pihak pemerintah daerah membantu mempromosikan juga ke luar daerah seperti ke Jawa, namun  memang perlu usaha lebih untuk bisa bersaing dengan merk-merk dari luar," papar dia. Handri
memastikan rumah kopi di Manado memakai kopi lokal. Namun dia tidak menyebut berapa besar pasokan ke rumah kopi yang menjamur di Manado tersebut.

Pengusaha kopi di Manado, Wendry Runtuwene mengakui mendapatkan bahan baku kopi lokal dari Kotamobagu. Lewat CV Pundi Emas, Wendy memproduksi kopi bubuk yang diberi nama Kopi Sejati. Kopi Sejati termasuk salah satu merk kopi yang paling banyak dipesan pengelola rumah kopi di Kota Manado. "Usaha ini  didirikan kakek saya kemudian diteruskan oleh anak-anaknya hingga sampai cucu- cucu," kata Wendry ketika ditemui Tribun Manado, Senin (9/4). Usaha yang dirintis sejak tahun 1986 itu  terbilang sukses.  Kopi Sejati bukan hanya dijual di wilayah Sulut tetapi  seluruh pulau Sulawesi bahkan dijual ke Taiwan dan Filipina.

Menurut Wendry, selain dari Kotamobagu pihaknya juga membeli biji kopi dari Jawa karena pasokan kopi dari Kotamobagu tidak memenuhi permintaan."Kami ambil sekitar 30 persen saja dari Kotamobagu, 70 persennya dari luar. Tapi kopi dari luar itu kami pesan yang sama kadarnya dengan kopi Kotamobagu," katanya.
Dia mengatakan, di Sulut  ada dua daerah penghasil kopi yakni di Tomohon dan  Kotamobagu. Kopi dari kedua daerah tersebut memiliki rasa yang berbeda. Jika di Tomohon, kopinya jenis arabika dan di Kotamobagu jenis robusta. Kedua jenis kopi ini memiliki perbedaan rasa. Kopi robusta rasanya lebih pekat sedangkan arabika asam. "Arabika itu cocok jika dicampurkan dengan susu," terangnya lagi.

Perbedaan lain soal harganya. Arabika lebih mahal. Oleh sebab itu, banyak masyarakat Sulut khsus Manado lebih memilih kopi robusta.
Sementara itu, kepopuleran kopi Tomohon yang memiliki rasa khas pada tahun 1960 hingga 1970-an, kini tinggal kenangan.  "Kopi Tomohon paling sedap karena ditanam dan diolah sendiri secara alami. Tapi kini tinggal kenangan, sebab hanya sedikit yang masih menaman kopi," jelas Marthen Sualang (60), warga Paslaten I, Minggu (8/4).  Ia menjelaskan, dulu saat dia SMP, kopi menjadi idola masyarakat Tomohon. Dia bahkan ikut memetik buah kopi bersama kakek dan neneknya di lahan seluas 1 ha di Rurukan, Kecamatan Tomohon Timur. "Dulunya di wilayah Rurukan ditumbuhi kopi, lahannya memang sangat subur," tuturnya.

Hilangnya tanaman kopi di Tomohon,  kata dia, terjadi sekitar tahun 1970-an, saat dimulainya program revolusi hijau  dari pemerintah orde baru. Kopi diganti dengan jenis hortikultura seperti yang dibudidayakan masyarakat sampai saat ini.  "Tanaman kopi diganti dengan nenas," kata Marthen. Hal ini dibenarkan Robby Kalangi, Camat Tomohon Selatan. "Kopi sudah terlupakan memang," tegasnya.
Donny Mundung (42), pedagang di Pasar Beriman Tomohon mengakui, kopi yang dia jual berasal dari luar daerah seperti Kawangkoan Kabupaten Minahasa dan Kotamobagu, bukan dari Tomohon. ((suk/kev/war)

Tentukan Batas Harga


HARGA jual kopi yang rendah menjadi keluhan para petani di lima desa di daerah Liberia dan Purworejo, Kecamatan Modayag, Bolaang Mongondow Timur (Boltim), satu di antara sentra produksi komoditas tersebut di Bolmong Raya.
Sangadi Liberia, Ismail Sirun, mengatakan, harga jual kopi dari petani masih rendah bila dibandingkan ongkos untuk merawat tanaman tersebut. "Petani masih bisa hidup dengan harga sekarang, tapi mengharapkan lebih sudah tidak bisa," ujar Ismail saat ditemui  di rumahnya, Minggu (8/4/2012).

Harga kopi per kilogram setelah giling berkisar Rp 20-22 ribu. Hitungan dia, petani bisa meraup untung lebih jika harga kopi di atas Rp 25 ribu per kg. Dikatakannya, perawatan pohon kopi minimal dilakukan tiga bulan sekali. Selain dibersihkan dari tanaman pengganggu, pembersihan tunas atau wiwil mutlak dilakukan.

Ismail mengharapkan agar pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan untuk melindungi harga kopi. Pasalnya, harga kopi ini sangat ditentukan  pembeli atau pengepul di toko-toko, baik dari dari wilayah Bolmong atau pun dari luar daerah. Dia menyebutkan, harga kopi bisa jatuh sampai Rp 12 ribu per kg. "Kalau tidak salah cengkih ada batas harga beli. Jadi, kami para petani kopi juga mengharapkan pemerintah mengeluarkan kebijakan batas harga kopi," tambahnya.

Ismail yang sudah memimpin Desa Liberia hampir dua tahun ini mengatakan, di daerah Liberia (ada dua desa) dan Purworejo (tiga desa), sebagian besar kehidupannya di bidang pertanian, terutama kopi. Luas areal perkebunan kopi di daerah tersebut awalnya mencapai 600 ha.  Menurutnya, luas perkebunan kopi di desanya sudah berkurang sekitar 20 persen. Penyusutan lahan tersebut karena petani lebih suka mengalihfungsikan untuk lahan sawah atau holtikultura. Jangka panen yang pendek, membuat tanaman holtikultura menjanjikan lebih banyak keuntungan. 
"Dulu sempat ada keraguan mengubah lahan kopi menjadi tempat menanam holtikultura atau padi. Namun secara ekonomis holtikultura lebih  menjanjikan.
Ismail mengatakan setiap satu hekatre yang terdiri antara 900 hingga 1.200 pohon kopi, bisa menghasilkan 800 kg hingga 1 ton kopi sekali panen. Namun hal tersebut sangat tergantung cuaca. Bila hujan terus mengguyur, hasilnya akan lebih sedikit. Kopi termasuk tanaman tahunan. Ada juga panen raya dua tahun sekali. Panen raya terakhir tahun 2010.

Secara terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Utara, Sanny Parengkuan, mengatakan, harga kopi lokal Sulut sangat  ditentukan oleh daya saing dan kualitas kopi.  "Ini pengaruh kualitas kopi itu sendiri, dan pengusaha tidak mau lagi mengekspor kopi,dan jumlah produksinya rendah," kata Sanny kepada Tribun Manado, Senin (9/4).

Menurutnya, kopi berkualitas baik di Sulut masih terbatas dan mesti banyak dipromosi seperti Kopi Sejati. Namun kopi ini pun harus bersaing dengan kopi yang berasal dari luar Sulut yang sudah banyak dikenal masyarakat. "Persaingan di kopi sangat ketat, karena ini mekanisme pasar. Banyak kopi dari luar Sulut yang mempunyai kualitas baik," ujarnya.  (suk/def)


Pagi Sore ke Rumah Kopi

RUMAH kopi seolah sudah mendarah daging bagi masyarakat Manado, ibarat taman bermain anak, rumah kopi menjadi tempat 'bermain' bagi politisi, aktivis LSM, pendidik bahkan tempat belajar para pengamat. Mahyudin Damis misalnya, pengamat dan peneliti sosial Sulut mengaku tiap hari selalu pergi ke rumah kopi. "Saya ke rumah kopi, nyaris setiap hari. Pagi dan sore malah. Ya..buatan istri tiada tara tentunya. Tapi, sebagai seorang peneliti sosial, tentu tidak hanya mengandalkan konsep dan teori dari berbagai literatur. Kita membutuhkan fakta empiris di lapangan agar analisis menghampiri kebenaran," katanya, Minggu (8/4).

Sebagai dosen di Universitas Sam Ratulangi Manado, Mahyudin membutuhkan penjelasan atas fenomena sosial di lapangan sehingga perlu berbagai informasi dari masyarakat. Sebagai tempat berkumpulnya warga dari berbagai pelosok, rumah kopi paling representatif untuk menggali informasi dan dapatkan fakta empiris.

"Saya bisa pagi dan sore karena tempat tinggal sangat berdekatan dengan  Rumah Kopi Tikala. Cukup dengan jalan kaki bisa. Kalau rumah kopi Jarod itu sering dengan kendaraan, tapi saya juga pernah jalan kaki dari Komo ke Jarod, justru sehat karena gerak badan," katanya. Damis menilai kelebihan di rumah kopi, akademisi bisa menangkap langsung respon masyarakat atas kebijakan pemerintah. "Saya imbau pemda agar sekali-sekali ngopi di rumah kopi di Kota Manado," tegasnya.


Tak berbeda dengan Mahyudin Damis, pengamat pemerintahan dari FISIP Unsrat, Ferry Liando jug amengaku selalu memanfaatkan rumah kopi untuk berbagi ilmu. "Dosen itu kan kerjaanya berpikir, mencari ide-ide baru, terutama jika ada masalah-masalah politik yang belum terpecahkan. Di rumah kopi saya ketemu teman-teman dari segala profesi," ujarnya.Di rumah kopi Liando mendapatkan second opinion  (pendapat lain) tentang sesuatu. Ia menilai rumah kopi adalah tempat  menambah wawasan. "Rumah kopi mewabah karena orang Manado senang diskusi terutama diskusi-diskusi politik. Sementara lembaga-lembaga formal seperti perguruan tinggi, LSM, ormas, media dan pemerintah jarang memfasilitasi diskusi politik," pungkasnya. (rob)

Produksi Kopi di Sulut  2011
Kabupaten     Lahan (ha)      Produksi (ton)
Minahasa          495,75                 180,35
Minsel              885,60                34,71
Minut                52,94                    13,77
Mitra                  287                      68,68
Bolmong             3.985,07              1.937,83
Bolmut                127                       43,48
Bolmong Selatan  433,50           4,95
Bolmong Timur    2.475,74       584,59
Kep Talaud           23,40              2,27
Tomohon              40,63               -
Kotamobagu          231               65,13
Jumlah              9.037,63           2.935,67
Sumber : Dinas Perkebunan Pemprov Sulut

Sumber: Tribun Manado 10 April 2012 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes