Semua Desa di Sulut Bangun Pusat Rabies

ilustrasi
Penyakit rabies (anjing gila) yang telah menelan korban jiwa sebanyak 46 orang sejak tahun 2009 kini  menjadi perhatian khusus pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).  Gubernur Sulut Dr. Sinyo Harry Sarundajang menyarankan pemerintah kabupaten/kota membangun pusat rabies di setiap desa atau kelurahan.

Kehadiran pusat rabies itu untuk memudahkan penanganan terhadap warga masyarakat yang digigit anjing rabies. "Pak Gubernur menyarankan membuat center-center (pusat)  rabies di kabupaten/kota kalau perlu sampai di desa-desa. Kalau desa itu berhasil artinya akan dikembangkan di daerah lain," tutur Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulut dr Max Rondonuwu melalui Kepala Bidang
Pengendalian Masalah Kesehatan dr Jemmy Lampus di Manado, Rabu (4/4/2012).

Lampus mengatakan, perhatian khusus dari gubernur itu memberikan kesempatan kepada pimpinan instansi lintas sektor agar serius bekerja menanggulangi rabies yang hampir setiap bulan menelan korban jiwa. "Kalau kita melihat data, setiap tahunnya mengalami peningkatan kasus," kata dr Jemmy Lampus.

Lampus menjelaskan, pada tahun 2011  jumlah kasus gigitan rabies di Sulut sebanyak 2.946 kasus, warga yang divaksi 1.078 orang, dan yang meninggal sebanyak 26 orang. "Nah untuk tahun 2012, data hingga Februari, jumlah kasus gigitan sebanyak 460, yang divaksinasi sebanyak 169 orang. Sedangkan yang meninggal sebanyak sembilan orang," jelas Lampus.Ia menambahkan, ada beberapa daerah dengan angka kasus gigitan rabies tertinggi yakni Minahasa, Minahasa Selatan dan Kota Manado. Menurut dia, yang paling tinggi korban gigitan rabies justru di Kota Manado. "Buktinya dari sembilan orang yang tewas akibat gigitan rabies tahun 2012 ini,lima di antaranya dari Kota Manado," kata Lampus.

Ia mengatakan, stok vaksin rabies untuk manusia masih mencukupi  di dinas kesehatan (dinkes) provinsi. Untuk tahun 2012 Dinkes Sulut menyiapkan lebih dari 100 cure. "Kita mengutamakan vaksin bagi mereka yang tidak mampu, kalau yang mampu pasti bisa beli sendiri vaksinnya. Tapi yang masalah adalah vaksin pada anjing yang terbatas, sementara jumlah populasi anjing di Sulut sangat besar," jelasnya. Lampus mengatakan, jangan sampai masyarakat tidak dilayani vaksin rabies karena dampaknya fatal yakni bisa berakibat kematian.

Ia mengakui, sosialisasi tentang penyakit rabies masih terbatas. Selain itu masyarakat  masih enggan memeriksakan diri ketika terjadi gigitan. "Ada yang beranggapan karena ini adalah hewan yang selalu bersama-sama hidup dengan mereka, sehingga ketika digigit dibiarkan saja. Kami mengimbau agar sesegera mungkin memeriksakan diri agar mendapat pertolongan, " tuturnya.

Dinas Kesehatan Kota Manado pun menyiapkan vaksin rabies untuk manusia. "Untuk mengantisipasi korban,  kami menyiapkan 200 vaksin rabies yang disebar di 15 puskemas yang ada di Manado," ujar Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Manado dr Joy Zeekeon saat ditemui di ruang kerja, Rabu (4/4/2012).

Menurut Joy, jika jumlah tersebut kurang, biasanya puskemas langsung meminta tambahan ke Dinkes Provinsi karena bantuan vaksin dari pemerintah pusat didistribusikan melalui provinsi. Dia mengimbau masyarakat yang digigit anjing segera datang ke puskesmas untuk diberikan vaksin secara gratis.  Joy menjelaskan, berdasarkan cakupan wilayah, kasus terbanyak  di wilayah Puskesmas Tikala dan Paniki. Warga di sana diminta lebih waspada terhadap anjing. (aro/erv/jhp/art)

Vaksin Door to Door


PERSEDIAAN  vaksin rabies di Kotamobagu tersisa 600 dosis awal tahun ini. Jumlah tersebut akan berkurang 360 dosis lantaran mulai Februari 2012 lalu Dinas Pertanian Perikanan Peternakan Perkebunan Kehutanan dan Ketahanan Pangan (DP4K-KP) Kotamobagu mulai lakukan vaksinasi.

"Kami melaksanakan secara 'door to door'  agar pelaksanaan vaksinasi efektif," ujar Kepala Bidang Peternakan DP4K-KP Kotamobagu Nurachim P Mokoagow, Rabu (4/4).  Dikatakannya, vaksin diberikan bukan hanya pada anjing  tapi juga hewan-hewan yang berisiko rabies, seperti kucing dan kera. Vaksinasi akan dilakukan lagi enam bulan kemudian. "Untuk stok vaksin, kami akan melihat situasi dan kondisinya. Kami akan pesan ke pihak provinsi, jika ada daerah yang belum tuntas sementara stok menipis," tambah Nurachim.

Dia mengatakan, hingga triwulan I tahun 2012, belum ada kasus rabies di Kotamobagu. Sementara tahun sebelumnya, terjadi satu kasus rabies di kota tersebut. Sebab itu, DP4K-KP Kotamobagu menjalankan vaksinasi hewan yang berisiko rabies. "Kami merencanakan Tumubui sebagai kelurahan percontohan bebas rabies yang diharapkan bisa menular ke kelurahan/desa tetangga," ujarnya.

Di Kabupaten Bolmong, persediaan vaksin kini tersisa 50 dosis. Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Bolmong berencana menambah stoknya. "Dalam waktu dekat ini, kami akan menambah sebanyak 2.500 dosis vaksin rabies. Dari provinsi, kami akan menerima 5.000 dosis. Jadi, total persedian vaksin, bisa sampai 7.500 dosis," ujar Kepala Distanak Bolmong Taufik Mokoginta, Rabu (4/4).

Diakui, pihaknya secara berkala mengadakan vaksinasi hewan berisiko terkena rabies terutama anjing. Populasi anjing di Bolmong, kata dia, tak kalah banyak dengan daerah-daerah lain di Sulawesi Utara (Sulut). Hewan tersebut kerap dipelihara para petani untuk turut menjaga tanaman. Adapun untuk kasus rabies, Taufik mengatakan hingga triwulan I tahun 2012 nihil. Namun pada tahun 2011, rabies telah merenggut nyawa seorang warga Desa Lobong. Sebab itu, Distanak telah membuat Desa Lobong sebagai pilot project penuntasan rabies.

Sementara itu,  Kabag Tata Usaha RSUD Manembo-nembo Bitung  dr Pieter Lumingkewas mengatakan pihaknya secepat mungkin menangani pasien rabies. "Begitu didiagnosa terhadap anjing dan manusia yang digigit, langsung dilakukan pencegahan," kata Lumingkewas kepada Tribun Manado, Rabu (4/4). Menurutnya ciri-ciri  anjing terkenan virus rabies, biasanya kondisi anjing lain dari biasa. "Misalnya anjing tersebut pendiam tiba-tiba menjadi agresif, takut terhadap air, mengonggong, hingga mengejar manusia," tuturnya. Untuk pasien  akut juga akan memiliki ciri-ciri seperti sama seperti diatas. "Untuk manusia sendiri, awalnya akan panas suhu tubuhnya, kemudian mengalami kejang-kejang, agresif berteriak-teriak seperti anjing, dan takut air," tambahnya. (suk/crz)


Bila Anda Digigit

SEANDAINYA Anda atau anggota keluarga Anda terkena gigitan anjing yang diduga rabies, apa yang harus segera dilakukan? Pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk meminimalkan resiko tertularnya rabies adalah mencuci luka gigitan dengan sabun atau deterjen selama 5-10 menit di bawah air mengalir atau diguyur. Kemudian luka diberi alkohol 70 persen atau yodium tincture.

Setelah secepatnya ke Puskesmas atau dokter terdekat untuk mendapatkan pengobatan sementara sambil menunggu hasil dari rumah observasi hewan. Resiko yang dihadapi orang yang mengidap rabies sangat besar. Karena itu, setiap orang yang digigit hewan tersangka rabies di daerah endemik rabies seperti Sulut ini  sedini mungkin mendapat pertolongan. (*)





Anjing Terbanyak di Minahasa

Populasi Anjing di Sulut  2011
Minahasa                                 67.620
Minahasa Selatan                    35.855
Bitung                                      28.212
Minahasa Utara                       26.919
Manado                                   21.218
Kepulauan Sangihe                 17.656
Tomohon                                 16.451
Minahasa Tenggara                 14.567
Bolaang Mongondow             10.724
Sitaro                                       5.200
Kepulauan Talaud                   4.513
Bolmong Utara                       4.378
Bolmong Timur                      3.318
Kotamobagu                           1.742
Bolmong Selatan                       879
Jumlah                                  259.253
Sumber : Dinas Pertanian dan Perternakan & Dinas Kesehatan Sulut

Sumber: Tribun Manado 5 April 2012 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes