Dengar Suara Tuhan Sambil Awasi Kota

ilustrasi
Suara orang berdoa terdengar lamat-lamat dari ruang berukuran 6 x 6 meter persegi itu. Di dalamnya tampak empat orang wanita sedang berdoa. Duduk bersila mengelilingi ruangan. Mereka khusyuk melantunkan ujud.

 Di pojok kiri ruangan tampak foto raksasa Gubernur Sulut SH Sarundajang menghimpit peta daerah Manado. Sebuah bendera Merah Putih berkibar.  Sementara di bagian kanan terdapat peta tepat di belakang bendera negara Israel. Di tengah ruangan tampak Alkitab besar berhadapan dengan sepuluh bendera ukuran mini aneka warna. Pemandangan Kota Manado tampak melalui kaca di kanan kiri ruangan.

Ruangan itu adalah menara doa milik Gereja Bethany Wanea Plaza Manado. Berada di lantai tujuh, ruangan ini difungsikan sebagai tempat untuk mendoakan warga Kota Manado dan sekitarnya. "Fungsinya untuk berdoa sambil mengawasi kota," kata Gembala Sidang Gereja Bethany, Dr Lenny Matoke Sp.S, Kamis (19/4/2012).

Menurutnya,  doa untuk kota sesuai dengan Firman Tuhan dalam Kitab Yehezkiel yaitu Tuhan menaruh penjaga di atas satu kota. "Kota ini kita bawa di hadapan Tuhan," tutur Gembala yang juga berprofesi sebagai dokter syaraf ini.

Dikatakannya, menara doa jangkauannya lebih jauh ketimbang doa yang dilakukan  kelompok- kelompok doa biasa. Di sana ada pendoa yang berdoa selama dua puluh empat jam untuk kesejahteraan kota, bangsa maupun dunia.  Berbagai persoalan di Kota Manado menjadi topik utama yang digumuli. "Berbagai masalah keamanan, pemerintahan, kerukunan didoakan oleh para pendoa," ujarnya.

Secara khusus, para pendoa mendoakan para pemimpin daerah Sulawesi Utara (Sulut),  khususnya Gubernur SH Sarundajang. "Baru-baru ini Gubernur mencanangkan bebas korupsi. Kami mendoakan agar beliau dapat memimpin daerah ini dengan baik," tutur Lenny.

Naomi Majusip, Ketua Departemen Doa Gereja Bethany menyebut alasan mengapa doa harus berada di tempat yang tinggi. Menurutnya, di ketinggian itu kita bisa mendengar suara Tuhan sambil mengawasi kota. "Kalau kita mau mendoakan suatu kota, harus dilakukan di tempat yang dapat memantau keadaan kota," jelasnya.
Sebelumnya, menara doa itu berada di perbukitan Pakowa tepatnya di kantor milik suami Gembala Bethany Lenny Matoke. Namun sejak tahun 2010 dipindahkan ke Gereja Bethany seiring rampungnya menara doa di gereja tersebut. "Sebelumnya hanya sementara," katanya. Menara doa itu dikerjakan bertahap mulai tahun 2005. Sumber dananya berasal dari persembahan jemaat.

Doa 24 Jam
Naomi menjelaskan, doa di menara itu berlangsung non stop selama 24 jam. Sebanyak 28 pendoa berdoa secara bergiliran. Ada 12 pendoa full time, didukung dengan pasukan doa berjumlah 16 orang," ujarnya. Para pendoa dibagi dalam empat shift. Setiap shift bertugas selama enam jam. Setiap shift terdiri dari lima orang pendoa. Selanjutnya waktu enam jam per shift pun dibagi masing-masing tiga jam. Para pendoa adalah mereka yang full time sebagai pendoa. Sedang pasukan doa terdiri dari orang dengan berbagai latar belakang profesi umumnya wira usaha.

Meski keadaan Indonesia dan dunia turut didoakan, namun masalah Kota Manado menjadi perhatian spesial. Hal itu diakui Naomi.  "Kami mendoakan setiap persoalan yang terjadi di kota Manado," kata wanita yang juga adalah pendoa ini. Berbagai masalah seperti keamanan, pemerintahan, kerukunan beragama, kekerasan dalam rumah tangga, hingga pergaulan anak muda menjadi topik yang didoakan. "Semua masalah itu kami syafaatkan," katanya.

Doa biasanya bermula dari masalah yang lebih luas yaitu pemerintahan, keamanan hingga menyentuh pribadi  tertentu di Manado. Topik yang sering didoakan adalah masalah korupsi dan  anak muda. "Kami berdoa agar setiap orang kembali pada Tuhan," katanya. Masalah anak muda juga jadi perhatian. "Saat ini banyak anak muda yang dijerat iblis. Tugas kami membawanya kembali pada Tuhan," tuturnya.

Sementara itu untuk keselamatan bangsa, GBI Glow Fellowship Manado juga menjadwalkan doa tiga kali sehari. Menurut Pdt Indrialdo Undras STH, doa dilakukan tiap subuh, pagi, dan sore. "Pokok-pokok doa di jam-jam tersebut yakni untuk bangsa dan negara, kemudian Sulawesi Utara (Sulut) dan Kota Manado, terakhir buat seluruh pelayan dan hamba Tuhan di seluruh dunia," katanya, Kamis (19/4). Jemaat atau pengurus gereja yang ditugaskan untuk  berdoa setiap kesempatan dua orang. Tempat doa di Jalan Wolter Monginsidi Bahu Manado tepatnya di Graha Glow. Selain melaksanakan jam doa, kata Pdt Indrialdo mereka juga membuka konseling 1 kali 24 jam. Ada banyak pelayan Tuhan yang ditugaskan untuk mendoakan warga atau jemaat yang membutukan bantuan doa.

"Konseling doa di nomor 3869999. Siapa saja bisa menelepon ke kami untuk medoakan apa saja," ucapnya.  Menara doa juga disiapkan GBI Megamaal Manado. Gereja yang dipimpin Gembala Pdt Honny Supit Sirapanji STh, melaksanakan jam doa di rumah-rumah dan  di samping power house. Menurut seorang jemaat di sana  dengan jam doa pukul 08.00 sampai 14.00 Wita setiap hari. Greje Tiberias Manado menggelar jam doa tiap hari Senin dan Selasa. Jam doa ini diikuti tak kurang 100 sampai 300 jemaat.  (art/dru)

Saya Dicekik Binatang

PENGABDIAN para pendoa Gereja Bethany untuk membawa pemulihan kota ini sangat mulia. Selain menggelar doa rutin tiap hari di menara doa, mereka juga memanfaatkan momen tertentu untuk berdoa di tempat lain.

Dari puncak Peninsula Manado hingga tower bandara Sam Ratulangi pernah disinggahi kelompok ini untuk berdoa. "Kami berdoa dari empat titik, yang  semuanya berada di ketinggian," ujar Ketua Departemen Doa Gereja Bethany Naomi Majusip.

Selain doa yang dipanjatkan, mereka juga sering mendapat petunjuk dari Tuhan mengenai apa yang akan didoakan. Itu terjadi secara spiritual. "Rekan-rekan lain sering mengalami penglihatan, saya sendiri biasanya mendapat petunjuk melalui ayat-ayat di Alkitab tentang apa yang akan terjadi," ungkapnya. Petunjuk itu tidak mudah dimengerti bahkan oleh para pendoa  sendiri. "Yang kami lakukan adalah terus berdoa kepadaNya agar kota ini mendapat perlindungan dari Tuhan," katanya.

Berbagai tantangan sering dialami para pendoa Bethany. Mulai dari kelelahan menaiki tangga dari lantai satu ke lantai tujuh menara hingga gangguan kuasa gelap. "Saya pernah bermimpi dicekik binatang besar," kata Naomi. Namun hal itu tidak membuatnya mundur. Ia dan rekan-rekannya terus berdoa demi keselamatan warga Manado. "Ini sudah menjadi panggilan kami," demikian Naomi. (art)

Sumber: Tribun Manado 20 April 2012 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes