Sejarah GMIM di Tanah Minahasa

Kantor Sinode GMIM di Kota Tomohon (foto Warstef, April 2013)
Jika kita tidak lagi mengenal sejarah kita, maka kita tidak dapat mengenal diri kita sendiri.

Demikian ucapan Van der Leeuw yang masih tetap relevan, sekurang-kurangnya dalam lingkungan Gereja, khususnya warga GMIM, sebab kehidupan Gereja tidak dapat dilepaskan dari sejarah umat di masa lampau.

Ucapan Van der Leeuw itu tertuang dalam kata pengantar Badan Pekerja Majelis  Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (BPMS GMIM) pada buku Menggali Harta Terpendam yang merupakan buku peringatan 70 Tahun GMIM bersinode (30 September 1934-30 September 2004) yang ditulis Pendeta DM Lintong.

ekretaris BPMS GMIM 2010-2014, Pendeta Arthur Rumengan mengaku sangat terkesan dengan ucapan itu. Sebab, kata dia, lewat kalimat tersebut, Rumengan dan juga jemaat diingatkan untuk tidak melupakan sejarah saat berada di dunia modern ini, agar dapat terus melayani Tuhan.

"Sangat panjang memang untuk mengulas sejarah perjalanan GMIM, makanya perlu didokumentasikan dan dibukukan seperti ini, agar ke depan generasi berikutnya dapat terus melayani tanpa kehilangan identitasnya," ungkap Rumengan, kemarin.

Ketika ditemui Tribun Manado di ruang kerjanya, Rumenangan mengungkapkan sejarah perkembangan GMIM memang tertuang jelas dalam buku tersebut, sebab telah dirangkum dari  berbagai sumber, termasuk dari mantan Ketua BPMS Pendeta Dr AF Parengkuan MTh (Alm).

Buku tersebut tersimpan rapi di lemari ruang kerjanya, dan memudahkan baginya untuk mengingat sejarah perjalanan ketika masyarakat Minahasa menerima Injil, hingga cikal bakal GMIM dan kelembagaannya.

"Banyak perkembangan yang terjadi memang di GMIM setelah 78 tahun bersinode, yakni kesadaran seluruh jemaat untuk tak melupakan sejarah, yang dibuktikan dengan ditulisnya buku ini. Tentu semua karena Tuhan yang menolong dan memampukan," katanya.

Dalam buku tersebut diungkapkan bahwa penginjilan pertama di Minahaa secara berkesinambungan terjadi pada abad ke-19, ketika Johann Friederich Riedel dan Johann Gottlieb mengawali kedatangan para penginjil dari Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG).

Ada 4 gelombang kedatangan penginjil ke Minahasa di bawah bendera NZG, yakni pertama pada tahun 1831, ketika Riedel dan Schwarz datang dan bekerja di antara orang Tondano dan Langowan.

Gelombang kedua pada tahun 1836-1838 ketika Hermann dan Mattern bekerja di Amurang dan Tomohon, kemudian Gelombang ketiga pada tahun 1848-1849 ketika Hartig, Bossert dan Ulfers datang sambil bekerja di Kema, Tanawangko dan Kumelembuai, serta gelombang keempat pada tahun 1861-1864 ketika JAT Schwarz, anak dari JG Schwarz bekerja di Sonder dan sekitarnya.

Riedel dan Schwarz tiba di Manado pada 12 Juni 1831, yang dipakai sebagai hari peringatan Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen di Minahasa, walalupun Riedel tiba dan menetap di Tondano sebenarnya pada 14 Oktober 1831.

Pada masa itu, orang Tondano menerima pengajaran Kristen yang dibawa Riedel, ditandai dengan selain jumlah mereka yang mengikuti kebaktian semakin banyak, juga perkembangan di bidang pendidikan semakin tampak oleh banyaknya anak-anak yang ke sekolah.

Setelah hampir 40 tahun kegiatan Pekabaran Injil dijalankan oleh Pekabar Injil yang datang dari Eropa, dan dibantu oleh guru Injil dengan susah payah, maka orang Minahasa yang menjawab Pekabaran Injil itu telah berjumlah 77.571.

Pada 1874, Jemaat terus bertumbuh pesat hingga mencapai 141, bukan hanya mereka yang menjadi pendengar Injil, tapi juga yang terdorong untuk mengabarkan Injil. Jemaat pun ketika itu menyediakan dana bagi Pekabaran Injil ke luar daerah.

Dalam dua tahun pertama sejak GMIM berdiri sendiri, perhatian banya ditujukan kepada penataan organisasi gereja, dimana hingga pada 1942, Ketua GMIM masih dipegang oleh Pendeta asal Belanda ketika dalam pendudukan Jepang di Minahasa.

Menjelang berakhirnya kepemimpinan pendeta asal Belanda, Pendeta AZR Wenas menyampaikan pidato tentang GMIM dan Pekabaran Injil dalam suatu pertemuan pada 14 Juli 1941 di Gereja Tondano.



Dari pidato tersebut diketahui bahwa sejak GMIM berdiri sendiri, dan pada 1934 sampai dengan 31 Desember 1936, GMIM belum mengutus tenaga penginjil ke luar Minahasa. Yang dilakukan pada waktu itu barulah mengumpulkan kolekte untuk daerah Luwuk dan Banggai, dimana Pendeta Tumbelaka dan Pendeta Lumanauw sedang bekerja.

Wenas mengatakan bahwa pada waktu itu GMIM belum melaksanakan secara resmi Pekabaran Injil. Namun demikian kesadaran akan pentingnya Pekabaran Injil itu sudah ada dalam GMIM. Orang-orang sudah mulai menanyakan, daerah-daerah manakah yang cocok untuk dijadikan ladang Pekabaran Injil GMIM.

Layani Tanah Karo

Sejak berdiri pada 1934, Gereja Masehi Injili di Minahasa  tak hanya sibuk mengurus pelayanan di Bumi Nyiur Melambai, tapi juga menyebar Injil keluar Sulawesi Utara.

Keberadaan GMIM meneruskan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh penginjil dari Eropa. "Sejak dulu hingga kini, GMIM tetap konsisten mengutus Pekabar Injil seperti guru-guru dan Pendeta untuk melayani jemaat yang membutuhkan hingga di luar Indonesia," ungkap Sekretaris Badan Pekerja Majelis Sinode GMIM, Arthur Rumengan, kemarin.

Dari catatan buku Menggali Harta Terpendam, jemaat-jemaat Minahasa bahkan menyediakan dana bagi Pekabar Injil terutama guru-guru untuk keluar. Misalnya, pada 15 Maret 1891 diutus empat pasang suami istri Minahasa, yakni Benyamin dan Suzana Wenas, Johan dan Penina Pinontoan, Richard dan Sara Tampenawas, Hendrik dan Mintje Pesik untuk melayani di Tanah Karo.

Mereka secara khusus diutus dalam ibadah pengutusan di Gedung Gereja Tondano yang ditopang oleh banyak jemaat. Gereja itu sendiri dapat menampung sekitar dua ribu jemaat. Dan sesuai catatan Kruyt  (Rita Kipp, The early years of a dutch colonial mission, The Karo Field, hal 84), gedung gereja itu hampir tidak dapat menampung anggota jemaat yang ingin menyaksikan pengutusan itu.

Keempat pasang suami istri itu, diseleksi dari sekitar 12 pasangan yang mendaftarkan diri. Mereka diberi informasi soal kesulitan melayani, bukan ilusi-ilusi romantis tentang apa yang akan dihadapi oleh pekabar Injil di ladang penginjilan.

Ada juga prasyarat bahwa para calon hendaknya sudah menikah, karena itu kendati ada orang muda yang memberi diri, yang menyatakan mereka akan menikah ketika terpilih untuk diutus, tetap ditolak.

Tak hanya itu, bagi mereka yang kelihatannya tidak mempunyai yang menunjukkan kesungguhan dalam Pekabaran Injil, lamaran mereka ditolak juga. Pengutusan itu bukan tanpa pengorbanan.

Johan Pinontoan misalnya, sebagai seorang guru dan pemimpin benar-benar melayani jemaat denngan baik dan berkontribusi bagi pekerjaan gereja lainnya.
Di Jemaat ia bekerja, ia sudah menanam pohon pala dan sudah mulai berbuah.

Tetapi bersama istrinya, ia bersedia meninggalkan semua itu untuk diutus ke tanah Karo di Sumatera Utara. Yang sangat menggembirakan dari ulasan buku yang ditulis Pendeta DM Lintong memperingati 70 Tahun GMIM Bersinode, adalah nama-nama mereka tetap diingat oleh jemaat-jemaat Karo (Gereja Batak Karo Protestan).

Pada Januari 1937, pengutusan Injil GMIM di era kepemimpinan Pendeta AZR Wenas sebagai Ketua Sinode juga dilakukan di wilayah Gorontalo dan Donggala. Pada bulai Mei, Wenas juga melakukan kunjungan bersama Ds Vessem ke Buol dan Toli-toli.

Tenaga yang bekerja di Gorontalo pada masa itu adalah, Inlandsch Leraar (Guru Injil pribumi I Massie, Tiendas) dan guru jemaat. Diakui oleh Wenas bahwa sampai pada 1938, masih sedikit yang dilakukan GMIM berkenaan dengan pengutusan Injil.

Dan pada 12 Februari 1939 Guru Injil pribumi A Rondonuwu diutus lagi dari rumah gereja di Tondano, menjadi utusan Injil GMIM ke Toli-toli, dan Pendeta Penolong AA Vermeulen ditetapkan ke Gorontalo, walaupun pengutusan ke sana dibiayai oleh gubernemen (pemerintah).

Pengutusan berlanjut diutusnya AHS Lengkong ke Parigi selaku zendeling pertama GMIM yang keluar mengabarkan Injil dengan biaya yang ditanggung oleh GMIM. Sokongan jemaat terhadap utusan Injilnya dibuktikan dengan pengumpulan dana dalam Minggu Pengutusan Injil di Tahun 1940. Jumlah yang terkumpul terhitung untuk tahun 1939 sebesar 1.200,356 gulden dan pada tahun 1940 sejumlah 4.919,345 gulden.

Jumlah sokongan ini sangat menyenangkan bagi pelaksanaan pengutusan Injil. Semangat Pekabaran Injil keluar Minahasa berkembang pesat. Di tahun 1941 diutus lagi RPH Ngantung ke Molopaga daerah Parigi dan A Malonda ke Izimu. Kedua utusan Injil ini dibiayai langsung oleh GMIM. Sementara itu untuk daerah Ogowele di Toli-toli telah diutus Evangelis J Walewangko.

Dikatakan Rumenang, pengutusan Injil ini disyukuri karena dapat dilihat adanya orang-orang dari Minahasa yang menyediakan dirinya diutus ke daerah yang disebut sebagai daerah yang masih ditudungi dengan kegelapan.

"Saat ini untuk pembiayaan pelayanan di Sinode GMIM masih mengandalkan dana sentralisasi dari jemaat," tandas Pendeta Arthur Rumengan. (warstef abisada)

Sumber: Tribun Manado edisi 6 dan 7 April 2013 hal 1



Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes