Goyang Peti sampai Tiga Kali

Pemakaman Yunus (foto Rizky Adriansyah @TM)
RATAP tangis masih terdengar di dalam rumah keluarga Kombongan-Sanda yang tengah berduka di Kelurahan Malalayang Manado, Kamis (4/4/2013).

 Hari itu Yunus Kombongan (62) dimakamkan dengan cara adat Toraja.
Puluhan orang sudah berkumpul di sekitar miniatur rumah adat Toraja yang ditaruh di depan rumah duka.Atap miniatur itu berwarna putih dengan bagian tengah hingga bawah berwarna merah dan hitam. Ukiran khas Toraja tertera di seluruh dinding miniatur rumah hingga terlihat semarak bila berpadu dengan warna hitam dan merah.

Pada sisi kanan dan kiri tandu terpasang bulu yang diikat kuat, memanjang dan melintang hingga tampak mirip salib.  Beberapa patah kata berisi pesan almarhum kepada keluarga terdengar lirih,  tentang saat-saat terakhir almarhum bersama mereka.
Tak lama kemudian, satu persatu anggota keluarga keluar dari dalam rumah menuju ke depan  miniatur rumah Toraja itu. 

Seperti dikomando, para pengusung peti merapatkan barisan, bergandengan tangan lalu bernyanyi. Terdengar bunyi e panjang dari mulut mereka. Cuaca yang sempat mendung, mendadak berubah cerah ketika peti dibawa perlahan ke luar rumah.  Tempik sorak terdengar, apalagi ketika peti itu hendak dimasukkan ke dalam miniatur rumah Toraja tersebut.  Peti itu sebelum dimasukkan, digoyang dulu sebanyak tiga kali.  Bersamaan dengan itu kain merah yang sebelumnya digulung di atas miniatur dibuka  Kain itu dibentangkan ke depan, menutupi anggota keluarga, dan seterusnya dipegangi mereka

Kain merah ditemui pula melingkari atas tenda pemakaman. Seseorang melempar botol air mineral ke dalam kerumunan.  Di dalam kerumunan, ada genangan air bekas hujan yang ditendang begitu saja hingga memercik ke mana-mana. Keriuhan pecah saat itu beserta teriakan membahana di mana-mana. Dibalut senyum dan tawa, semua tahu itu hanya prosesi adat Toraja.  Miniatur rumah Toraja berisi peti mati itu pun digotong puluhan orang dengan cara unik. Diangkat dan digoyang-goyangkan ke kanan kiri.

Sorak sorai terdengar sepanjang perjalanan sejauh kira-kira satu kilometer dari rumah duka di Lingkungan IX,  Kelurahan Malalayang Satu hingga Pekuburan Bantik.  Kegembiraan ini rupanya menular pada anggota keluarga, yang tersenyum di bawah  bentangan kain merah.

Tiba di jalan besar, suasana makin meriah. Jalanan yang agak leluasa membuat peserta bebas beraksi, menyorongkan bulu ke segala penjuru.  Keluarga yang berada di depan, kadang tertarik ke belakang menuruti gerak rumah  miniatur itu. Warga yang kebetulan lewat, heran dengan prosesi ini lalu mengambil ponsel untuk mengabadaikannya.

Menurut adat dan tradisi keturunan warga Toraja, tak boleh ada tangis dan rasa sedih saat jenazah meninggalkan rumah hingga ke tempat pemakaman. Tujuannya agar arwah diterima dengan penuh kegembiraan di alam baka.

Luther Kombongan, putra tertua almarhum Yunus  mengatakan, ayahnya meninggal pada hari Jumat Agung tanggal 29 Maret 2013 lalu.  Semenjak saat itu, diadakan ma'badong yaitu adat menyanyi untuk menghibur keluarga setiap malam. Hari Kamis sekitar pukul satu malam diadakan pemotongan kerbau. Jika umumnya kerbau dibaringkan waktu disembelih, kali ini dipotong pada posisi berdiri.

"Daging itu kemudian dibagikan kepada para pelayat," tuturnya. Sebelum ibadah pemakaman, dilakukan ma'badong lagi sebelum acara pemakaman diserahkan pada majelis setempat. "Setelah ibadah, prosesi adat berlangsung kembali," ujarnya.

Kendek, mewakili kaum tua dalam keluarga menyatakan, setiap bagian dalam prosesi punya artinya masing-masing, meski semuanya satu tema. Ma'badong contohnya. "Ini nyanyian pakai bahasa Toraja yang berarti pengganti tangis, yang bercerita riwayat hidup almarhum," jelasnya.  Sementara potong kerbau punya arti dalam, sebagai tanda bahwa almarhum semasa hidup telah berbuat banyak untuk orang lain. "Itu dibagi dari yang tertua hingga muda," katanya.

Sementara peti mati dalam miniatur, yang tak henti diayun-ayunkan merupakan simbol  dari manusia sekembalinya, sama dengan waktu ia datang. "Waktu bayi ia juga diayun- ayun," sebutnya.Lanjut kendek, penguburan merupakan pesta meriah bagi orang Toraja, yang tak semua bisa melaksanakannya. "Ini biasanya dilaksanakan kaum bangsawan, kain merah adalah tanda bangsawan," katanya.

Meski sepintas mirip dengan pemakaman di Tanah Toraja sana, namun pemakaman kali ini tak hendak meraup semuanya dalam adat tersebut. "memang mirip, tapi kami cuma ambil simbolnya saja, yang berbau magis  sudah tak ada,  Injil sudah mengalahkan segalanya," katanya. Wali Kota Manado, Vicky Lumentut yang hadir mengaku turut kehilangan dengan kepergian almarhum yang disebutnya merupakan figur yang baik serta sudah dikenal luas. "Ini merupakan penghormatan bagi almarhum," kata Lumentut. Almarhum tercatat sebagai tokoh masyarakat yang menjadi panutan. Ia berjemaat di jemaat Sion Malalayang. (arthur rompis)


Sumber: Tribun Manado 5 April 2013 hal 1

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes