Yovita Meta dan Para Penenun Biboki

BIBOKI. Pernah mendengar nama ini? Boleh jadi pernah. Tetapi, bila belum, Anda tidak sendirian karena kawasan ini berada di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) di Provinsi Timor Barat. Dari Kefamenanu, ibu kota TTU, ada jarak 30-90 km untuk mencapai desa-desa di Biboki.

Tiba-tiba nama Biboki mendunia ketika para perempuan penenun Biboki dengan motornya Yovita Meta diumumkan menjadi satu dari 10 penerima penghargaan Prince Claus Award dari Belanda selain Wang Shixiang dari Cina sebagai penerima penghargaan utama. Selain Yovita Meta dan penenun Biboki, penerima penghargaan yang diumumkan setiap bulan Desember--tahun 2003 ini bertema "Kelangsungan dan Inovasi Kerajinan"-- antara lain adalah perempuan produser film Argentina Lita Stantic, arsitek Zimbabwe Mick Pearce yang mengembangkan konstruksi hemat energi berdasarkan sarang rayap, dan perkumpulan olahraga anak muda Mathare (Kenya) yang menggunakan sepak bola untuk memberdayakan anak-anak muda setempat. Foto klik sini

"Yovita Meta terpilih selain karena memang sesuai dengan tema penghargaan tahun 2003, juga karena dia menghidupkan keterampilan menenun dan berhasil membangkitkan rasa percaya diri masyarakatnya, " tutur budayawan Goenawan Mohamad, anggota komite penilai penghargaan untuk bidang kebudayaan dan pembangunan ini, dalam jumpa pers Selasa (13/1/4).

"Yang menarik adalah dalam upaya memberdayakan masyarakat Yovita tidak memaksakan kehendaknya dan dia berangkat dari tradisi di masyarakat yang sudah turun-temurun, " kata Joanna Barrkman, kurator pameran ini yang juga kurator di Museum and Art Gallery of the Northern Territory, Darwin, Australia. Museum ini memiliki koleksi beberapa helai kain karya penenun Biboki.

Duta Besar Belanda untuk Indonesia Ruud Treffers, menyerahkan penghargaan untuk Yovita dan para penenun Biboki pada hari Rabu (14/1/4) sore di Erasmus Huis Jakarta. Selain ada pameran dan juga penjualan kain Biboki sampai tanggal 7 Februari, pada acara Rabu sore itu para penunun itu juga menari-satu dari tiga keterampilan hidup yang harus dipelajari orang Biboki.

YOVITA Meta, lahir di Kefamenanu pada tanggal 4 Desember 1955, mulai terlibat dengan para perempuan Biboki pada tahun 1989. Yovita prihatin melihat keadaan masyarakat Biboki yang miskin, dan perempuannya lebih miskin lagi. "Mereka tidak punya hak bersuara dalam pengambilan keputusan. Biarpun datang ke pertemuan desa, tetapi suara mereka tidak didengar," tutur Yovita.

Yovita yang menjadi anggota DPRD Kabupaten TTU periode 1987-1992 sebagai wakil Dharma Wanita dan periode 1992-1997 atas usulan masyarakat Biboki, melihat ada hubungan antara keberdayaan ekonomi perempuan dan hak bersuara. Di sisi lain, dia melihat perempuan Biboki memiliki potensi luar biasa yaitu kemampuan menenun yang merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki perempuan di sana sebagai cara melestarikan budaya dari nenek moyang mereka.

"Perempuan adalah anggota masyarakat paling miskin dan tidak bisa bersuara. Ketika kami mulai pada tahun 1989, perempuan hanya mendapat Rp 5.000 atau kira-kira seharga satu ikat jagung untuk menenun satu helai kain. Sekarang, mereka bisa mendapat antara Rp 350.000 - 1.000.000," tutur Yovita.

Tidak mudah mengubah keadaan masyarakat, tetapi Yovita pantang menyerah. Dia berpendapat orang tidak akan berubah hanya karena mendapat bantuan, tetapi bisa berubah bila apa yang mereka hasilkan dihargai. Karena itu Yovita berusaha agar kain hasil para penenun Biboki itu mendapat harga yang pantas. Tetapi, untuk bisa mendapat harga yang pantas kain itu harus bermutu.

Untuk bisa bekerja leluasa bersama para perempuan penenun Biboki itu, Yovita mendengar saran dari temannya untuk mendirikan yayasan sehingga lahirlah Yayasan Tafean Pah dan Yovita menjadi direkturnya.

Awalnya Yovita bekerja dengan delapan perempuan penenun di Desa Matabesi. Dalam bekerja dia memegang prinsip membantu masyarakat bisa menolong dirinya sendiri. "Kami mulai menginventarisi potensi yang dimiliki masyarakat. Ada dua potensi yang mereka miliki yaitu kearifan lokal dan potensi keterampilan, " tutur Yovita.

Susana Mutik, salah seorang penenun Biboki yang ikut ke Jakarta menerima penghargaan Prince Claus Award, menyebutkan bahwa sebagai janda dia kini bisa menyekolahkan dua anaknya yang terakhir di SMU dan SLTP. Dua anak perempuannya yang telah menikah juga bergabung dalam kelompok tenun mereka sebagai cara mendapatkan penghasilan.

Kain-kain tenun ikat Biboki yang dipamerkan di Erasmus Huis menunjukkan ketekunan dan bagaimana perempuan Biboki berhasil menjaga warisan leluhur mereka. Kain rata-rata tetap menggunakan pewarna alam, benang kapas pintalan sendiri atau dicampur benang pintal pabrik, dan yang paling mencolok adalah tetap menggunakan motif khas mereka yang disebut mak'aif yang menyerupai kait, melambangkan tangan yang bergandeng untuk kerja sama di antara sesama warga desa.

KEBERHASILAN dengan penenun perempuan membuat Yayasan Tafean Pah juga ingin merengkuh para laki-laki dan perempuan lain. Ditawarkanlah program kredit untuk bertani dan beternak.

Dari awalnya delapan penenun, kegiatan ini kini diikuti oleh 1.779 keluarga yang melibatkan 4.194 orang di tiga kecamatan. Ada 406 perempuan penenun yang terlibat dan mereka semua terlibat secara suka rela tanpa paksaan. Sisanya terlibat dalam pertanian, peternakan dan industri kerajinan rumah tangga, laki-laki dan perempuan.

Ditanya akan dipakai apa hadiah sebesar 25.000 euro, Yovita mengatakan hadiah itu akan dipakai menyelesaikan bangunan gedung koperasi yang akan menampung kegiatan simpan-pinjam anggota. Yovita memilih menggunakan hadiah itu untuk sesuatu yang bisa bermanfaat bagi semua anggota masyarakat ketimbang untuknya pribadi, seperti membeli mobil yang sebenarnya akan memudahkan perjalanannya ke desa-desa para penenun. (Ninuk Mardiana Pambudy)

Sumber: Nama dan Peristiwa, Kompas, 15 Januari 2004
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes