SKH Pos Kupang dan GMIT

Oleh Paul Bolla

SURAT Kabar Harian (SKH) Pos Kupang dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) memiliki hubungan sejarah. Hubungan ini dibangun diawal berdirinya Pos Kupang tahun 1992 atau 16 tahun silam. Hubungan itu klop karena kedua lembaga ini memiliki misi yang sama, yakni menjadi corong untuk menyuarakan 'suara kenabian.' 

Adalah almarhum Julius Syaranamual yang meyakinkan Damyan Godho, sekarang Pemimpin Umum SKH Pos Kupang, dan almarhum Valens Goa Doy, akan pentingnya mengajak GMIT terlibat sejak awal dalam membangun surat kabar harian pertama di Nusa Tenggara Timur, kala itu. Ketiga tokoh yang disebut di sini adalah pendiri Koran yang kini bertiras di atas 20 ribu eksemplar ini.

Julius Syaranamual adalah sarjana teologi alumnus STT Jakarta, yang juga dikenal sebagai wartawan dan sastrawan. Ia memimpin sebuah tim kecil menemui Ketua Sinode GMIT yang saat itu dijabat oleh Pendeta Dr. Benyamin Fobia. Kedua alumni STT Jakarta ini memiliki pikiran yang sama, bahwa gereja wajib mendukung institusi yang hendak menyatakan keadilan dan kebenaran, serta menyuarakan kepentingan kaum yang mendapat perlakuan tidak adil. Kunjungan tim pendiri SKH Pos Kupang ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan lahirnya Pos Kupang.


Dukungan GMIT atas berdirinya Pos Kupang diwujudkan dengan kesediaan GMIT menyediakan sejumlah orang untuk direkrut menjadi wartawan. GMIT akhirnya mengajukan lima orang untuk melayani di Pos Kupang dalam profesi sebagai seorang jurnalis. Mereka adalah Pendeta Eben Nuban Timo, Pendeta Yulius Lopo, Pendeta Mesakh AP Dethan, Ester Mariani Gah dan Paul Bolla. 

Lima nama yang diajukan Sinode GMIT ke Pos Kupang ini adalah teman seangkatan vikariat. Hanya dua nama terakhir yang saat itu belum bersedia ditabiskan ke dalam jabatan pendeta setelah selesai menjalani masa vikariat. Ester menjalani masa vikariat di dua wilayah pelayanan, yakni di Oekabiti dan Alor. Sedangkan Paul Bolla menjalani masa vikariat di Klasis Lobalain, Rote di Jemaat Syalom Mokdale.


Dalam percakapan di kemudian hari, Pendeta Dr. Benyamin Fobia menjelaskan alasannya mengizinkan para pendeta berkarya di luar gereja. Menurut Fobia, ke depan GMIT harus memikirkan menempatkan para pendeta tidak terbatas hanya sebagai pendeta teritorial saja yang generalis. GMIT juga wajib mempersiapkan pendeta-pendeta kategorial fungsional. GMIT sudah mulai memikirkan merekrut pendeta-pendeta untuk melayani umat dalam fungsi kategorial atau profesi. Sehingga kelak akan dikenal pendeta khusus rumah sakit, pendeta anak, pendeta pemuda, pendeta kaum perempuan, pendeta pelajar, pendeta kampus, dan sebagainya. Pentingnya pendeta-pendeta kategorial fungsional agar pelayanan bisa lebih fokus ke dalam perrmasalahan yang dihadapai setiap kategori.

Usai memberikan pelatihan kepada para calon wartawan, SKH Pos Kupang pun melakukan uji coba terbit. Mula-mula ujicoba terbit seminggu beberapa kali. Kemudian sejak 24 November 1992 dilakukan ujicoba terbit secara reguler. Tanggal 1 Desember akhirnya ditetapkan sebagai hari lahirnya SKH Pos Kupang. Penetapan tanggal itu ditandai dengan perayaan kecil-kecilan berupa pemotongan nasi tumpeng persis tanggal 1 Desember 1992.

Belum lama SKH Pos Kupang terbit, Pendeta Eben Nuban Timo yang saat itu ditarik dari pelayanannya di Amanatun Selatan, mengundurkan diri. Eben curhat ke Pendeta Dr. Fobia, bahwa ia kurang cocok sebagai wartawan, sekaligus meminta izin untuk sekolah lagi. Suami dari Pendeta Ningsih de Fretes ini kemudian mempersiapkan diri kursus bahasa di Jakarta, kemudian tahun berikutnya berangkat ke Kampen, Belanda yang kelak memberinya gelar doktor. 

Ester Mariani tak lama kemudian menyusul Pendeta Eben. Ia mengundurkan diri dari Pos Kupang untuk mengambil program magister di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Setelah kuliahnya selesai ia menjadi salah satu pengajar di almamaternya itu. Yang terakhir mengundurkan diri adalah Pendeta Mesakh AP Dethan, yang saat ini sedang menimba ilmu di Jerman, untuk program doktor.
Dua aset GMIT yang masih bertahan di Pos Kupang adalah Pendeta Yulius Lopo dan Paul Bolla. Selama menjalani profesi wartawan, salah satu tugas tetap adalah melakukan liputan rutin setiap dilaksanakan Sidang Majelis Sinode (SMS) GMIT. Setiap kali dilaksanakan SMS GMIT atau sidang program tahunan, Sinode GMIT membiayai seluruh akomodasi jurnalis Pos Kupang, sedangkan Pos Kupang menyediakan ruang (space) khusus pada halaman koran. Dengan demikian warga GMIT bisa mengikuti dinamika persidangan SMS GMIT melalui SKH Pos Kupang.


Tahun 1999, Paul Bolla mengundurkan diri dari Pos Kupang, dan bersama teman-teman mendirikan harian baru bernama "NTT Ekspres." Koran baru ini melanjutkan tradisi menyediakan halaman khusus setiap dilaksanakan SMS GMIT. Setelah NTT Ekspres tutup, Paul Bolla menjadi konsultan media di PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Timur, sejak tahun 2003 hingga sekarang.
Tinggallah Pendeta Yulius Lopo, satu-satunya aset GMIT yang tetap di Pos Kupang. Sekitar tahun 1999, barulah Yulius Lopo ditarik untuk bertugas di Kupang. Ia memulai tugas di Sumba Barat sejak tahun 1993. Tahun 1994 Yulius Lopo dimutasi ke Alor, pindah ke Manggarai dan Sikka dan masuk lagi ke Kupang tahun 1999. Pos Kupang kemudian mengizinkan asetnya ini direkrut Kompas Grup untuk ditempatkan sebagai wartawan Timika Pos di Timika, Papua. Hingga kini Yulius Lopo tidak lagi menjadi bagian dari Timika Pos yang sudah tutup. Ia pindah ke Jayapura dan bergabung dengan stasiun Top TV Papua. Inilah aset terakhir GMIT di Pos Kupang.

Tanggal 1 Desember lalu, SKH Pos Kupang, telah berusia 16 tahun. GMIT telah menjadi bagian daru perjalanan sejarah sosok koran harian dengan oplah terbesar saat ini. GMIT melalui lembaga Sinode, pernah menyumbangkan orang-orang terbaiknya dalam membesarkan Pos Kupang. Sebaliknya Pos Kupang telah mengambil peran besar dalam sejarah pelayanan GMIT dalam menyebarkan informasi, baik secara umum maupun secara spesifik yang berkaitan langsung dengan kepentingan umat dan gereja. Di dalam peran itu terdapat hal-hal khusus yang berkatan dengan kepentingan GMIT. 

Saat ini meskipun secara fisik lima wartawan utusan GMIT tidak lagi bekerja di Pos Kupang, tetapi komitmen moral Pos Kupang sebagaimana kesepakatan yang dibangun oleh almarhum Pendeta Benyamin Fobia, mantan Ketua Sinode GMIT dan Julius Syaranamual, mewakili Pos Kupang saat itu, tetaplah dipertahankan. Warna kebijakan redaksional Pos Kupang hingga sekarang tetap dalam rangka menyuarakan suara kenabian, misi yang bukan lagi menjadi monopoli fungsi para pendeta atau rahib.

Lalu bagaimana masa depan kerja sama SKH Pos Kupang dan Sinode GMIT? Salah satu gereja Protestan dengan umat terbesar di Indonesia ini, saat ini dipimpin oleh salah seorang mantan wartawan Pos Kupang, Pendeta Dr. Eben Nuban Timo. Hubungan batin yang pernah ada, meskipun tidak lama, setidaknya bisa menjadi perekat untuk membangun suatu kerja sama yang bisa meningkatkan martabat manusia, khususnya bermanfaat bagi kedua lembaga. Universitas Kristen Artha Wacana, misalnya, pernah menempatkan mahasiswanya menjalani colegium pastoral (baca: kuliah kerja nyata/KKN) di Harian NTT Ekspres.

SKH Pos Kupang dan Sinode GMIT bisa duduk bersama berdiskusi untuk menemukan bentuk-bentuk kerja sama yang bermanfaat dalam rangka menyuarakan suara masyarakat Nusa Tenggara Timur. Pos Kupang bisa menjadi tempat para calon pendeta menjalani masa vikariat, misalnya. Pos Kupang bisa membantu para calon pendeta untuk mengasah karakter seorang jurnalis, yakni ketajaman dan kepekaan nurani atau keberanian membela yang tertindas.

Sebaliknya, Pos Kupang bisa menjadi saudara (Lukas 17:2) yang mengkritisi manajemen gereja, atau pola kepemimpinan. Bisa juga membongkar kasus-kasus penyelewengan keuangan di gereja-gereja, yang membuat pelayanan gereja berjalan di tempat. Sebab bukan tidak mungkin gereja justru menjadi sarang korupsi. Selama ini mungkin saja Pos Kupang enggan membongkar kasus penyelewengan karena pertimbangan tertentu. Keengganan itu bisa jadi sebagai suatu bentuk "perlindungan" yang akab mematikan suara kenabian, dan tidak menjadi saudara yang benar. Semoga. * Paul Bola, Wartawan Pos Kupang 1993- 1999.

Opini Pos Kupang edisi Jumat, 5 Desember 2008 halaman 14
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes