Menata Wajah Kota dari Kelurahan

Oleh Paul Burin

JUDUL ini merupakan intisari dari pernyataan Lurah Lasiana, Laesa Latif, ketika membuka musyawarah rencana pembangunan kelurahan itu hari Sabtu 1 Maret tahun 2008. Intinya, wajah kota ini akan baik bila mulai ditata dari rumah tangga, RT/RW dan kelurahan. 

Rasanya pas dan pantas jika pernyataan ini kita angkat ke ruang publik untuk kita diskusikan bersama. Pernyataan itu pas ketika semua orang menyatakan bahwa perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di kota ini masih amburadul. Kota ini masih dinilai sebagai sebuah "kampung besar" meski perlahan mulai mengalami sejumlah kemajuan di tangan Walikota Drs. Daniel Adoe dan Wakil Walikota Kupang, Drs. Daniel Hurek. 


Frase "kampung besar" menggambarkan betapa pembangunan di kota ini mengabaikan aspek perencanaan. Rasanya selaras dengan pernyataan Asisten Bidang Pembangunan Setkot Kupang, Ir. Lay Djaranjoera, M.Si, saat pembahasan RAPBD Kota Kupang Tahun Anggaran 2009 dengan DPRD kota, pekan lalu. Ia mengatakan bahwa kota ini belum punya master plan. 

Pernyataan Lay ini merupakan otokritik terhadap kinerja pemerintahan sekaligus lecutan untuk segera merumuskan master plan kota. Apa yang disampaikan Asisten II ini bukan berarti selama ini tak ada master plan kota. Master plan sudah ada sejak masa kepemimpinan Messakh Amalo sebagai Walikota Administratif Kupang. 

Dasar-dasar pemetaan pembangunan di kota ini sudah ada. Buktinya, beberapa titik di kota ini seperti di Jalan Kartini, Jalan El Tari II sebagai daerah hijau. Itu artinya pemukiman di wilayah ini tak diperkenankan. Namun fakta menunjukkan, meski ada larangan, masyarakat tetap membangun. Kini titik-titik yang disebut sebagai daerah hijau itu telah menjadi pemukiman yang padat. 

Seiring dengan lajunya perkembangan kota, maka tak ada tawaran lain kecuali perlunya penataan ulang, perlu penyesuaian-penyesuaian. Dan, apa yang disampaikan Pak Lay ini patut ditanggapi secara positif. 

Rasanya melitanikan persoalan pembangunan di kota ini tak akan pernah habis. Begitu banyak masalah pembangunan yang dihadapi pemerintahan "Dandan" dan warga kota ini. Ketika suatu persoalan usai, muncul lagi persoalan lain. Karena itu siapa pun pemimpin tak akan menyelesaikan persoalan ini dalam waktu sekejap. Butuh proses, butuh diskusi, buruh komitmen dan konsistensi. 

Karena itu kita ingin memberikan stresing pada beberapa hal positif yang sudah dilakukan pemerintah kota ini. Kita gembira karena di awal kepemimpinan "Dua Dan" ini beberapa ide cemerlang sudah terlaksana, seperti Program Kupang Hijau dan Bersih (Kupang Green and Clean). 

Sejak akhir November hingga awal Desember 2008 ini, pemkot telah menyalurkan 57 ribu anakan mangga harum manis yang didatangkan dari Kabupaten Situbondo, Jawa Timur ke 49 kelurahan di kota ini. Kini tanaman dengan nilai proyek Rp 1.061.531.000,00 ini sudah dibudidayakan di halaman warga kota ini. 

Karena itu, tiga atau empat tahun ke depan kota ini akan berubah wajahnya. Ia bakal menjadi kota mangga, kota hijau, kota sejuk. Sebuah predikat yang lebih elegan ketimbang sebutan Kota Karang. Sebuah predikat baru yang lebih humanis, menunjukkan bahwa warga kota sudah mulai berubah. Kupang bukan yang dulu lagi. Karena itu dalam semangat membangun dari kelurahan ini kita tentu memberi apresiasi yang positif bagi pemerintahan ini.

Kita juga mencatat bahwa tim penggerak PKK Kota Kupang begitu getol dalam memajukan kaum ibu-ibu dan perempuan. Dalam catatan kita, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Kupang, Ny. Welmintje Adoe-Benyamin dan Wakil Ketua Tim Penggerak PKK, Ny. Victorya Hurek telah membuat terobosan bagi kaum ibu. 
Berawal dari studi banding di Surabaya, Jawa Timur, Ny. Welmintje dan Ny. Victorya kemudian mengimplementasikan program ini di kota ini. Sampah-sampah yang selama ini tak berharga menjadi sangat berharga. Ia akhirnya bernilai ekonomis setelah "disentuh". 

Sejumlah pelatihan telah dilakukan bahkan PKK menerjunkan timnya ke semua kelurahan. Ini sebuah langkah positif yang patut dipertahankan. Mudah-mudahan ibu-ibu PKK terus mengobarkan spirit ini. Spirit pelayanan dalam hal memberi keterampilan tak hanya "sampah bekas" menjadi bermanfaat namun aspek-aspek lain yang belum tersentuh. 

Ada baiknya ibu-ibu PKK memberikan pelatihan kepada kaum ibu, bila perlu kaum bapak tentang cara mengolah makanan yang sehat. Sungguh dan kita sangat yakin sampai saat ini masih banyak warga yang belum memahami secara benar mengolah makanan yang sehat dan bergizi, terutama bagi balita dan anak-anak. Pikiran ini penting karena ke depan kita ingin membentuk generasi yang cerdas. 

Kita ingin membentuk generasi yang memiliki pikiran dan gagasan untuk mengubah hidupnya. Investasi ini rasanya tak keliru. 

Daniel Taolin, S.E, M.Si, Caleg DPR RI dari Partai Bintang Reformasi pada Diskusi Terbatas Pos Kupang tentang Kesehatan Ibu dan Anak di Redaksi Pos Kupang belum lama ini, mengusulkan agar perlu ada kalkulasi, berapa biaya yang dibutuhkan untuk menginvestasi "pikiran", terutama masa golden age seorang anak yang menurut para ahli dalam dua tahun pertama. Di masa-masa ini, anak perlu diberi perhatian dalam hal gizi dan kandungan protein dalam membantuk sistem kerja otak secara maksimal. Pertanyaan ini tentu sangat mengena pada inti persoalan jika kita menginginkan perubahan sebuah generasi.

Karena itu tak salah jika pemkot bersama PKK mengalokasikan dana untuk itu. Tentu tak semua anak mendapat alokasi dana. Namun perlu kita uji coba terutama bagi orang-orang miskin. Tak salah dan tak rugi. Investasi masa depan sesungguhnya sebuah taruhan tentang harkat dan martabat kita ke depan. 

Kita tentu tak melupakan peran kader-kader posyandu yang sudah banyak bekerja dan mengabdikan sebagian hidupnya untuk sosialisasi ini. Hanya mungkin nilai dananya masih kecil. Dan, faktanya memang demikian. 
Beberapa catatan lain seperti terbentuknya PDAM Kota Kupang, bantuan dana dari Negeri Belanda untuk pengadaan sumur bor, sanitasi dan listrik serta reklamasi pantai adalah hal penting dan urgen yang patut kita realisasikan pada tahun 2009.

Tentu masalah lain, seperti sampah, drainase dan lalu lintas yang amburadul jangan dilupakan. Memang, secara filosofis, memulai sesuatu dari bawah akan memberi kesan lebih kuat, lebih elegan dan lebih mengakar. Sama dengan membangun dari kelurahan atau dari desa. Di sanalah hakikat sebuah kepemimpinan. * 

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes