Perut

Pernah menghitung kebutuhan perutmu
Sehari, seminggu, sebulan, setahun?


GUGATAN itu lahir di Kuta. Menyeruak di antara riuh suara hujan dan Bali yang agak dingin di awal Desember. Pertengahan pekan lalu. Gugatan kecil setelah seharian letih berdiskusi tentang Sunda Kecil yang telah berlalu 50 tahun. Bicara lepas tak jauh dari kolam renang Santika di mana sekelompok bule asyik berendam menjelang senja.

Sungguh mati beta tersentak. Bahkan malu karena memang jarang menghitung kebutuhan isi perut. Bahkan sekadar untuk tempo seminggu. Abang Rikard Bagun, wakil Pemimpin Redaksi Kompas yang 'menggugat' senja itu tersenyum simpul. Lalu terbahak menyadari betapa beta hanya mampu mengangguk setuju.


Berceritalah Rikard tentang bumi Latin Amerika. Negeri yang telah berulang dikunjunginya. Negeri yang digandrungi sobat Jannes Eudes Wawa, Yos Naiobe, Hardi Himan, Faisal Mapawa, Pieter Fomeni. Gandrung Latin Amerika karena sepakbolanya yang memukau miliaran orang sejagat. Mungkin termasuk tuan dan puan bukan?

Tapi Rikard tidak bicara soal bola. Dia bercerita tentang inspirasi dari kampung Fernando Lugo, mantan uskup yang sejak 15 Agustus 2008 menjadi Presiden Paraguay. Rikard mewawancarai Lugo sehari menjelang pelantikan jadi presiden, 14 Agustus 2008. "Dua minggu saya di kampung halaman Lugo," katanya.

Apa yang menarik? Bukan tentang Lugo yang menanggalkan jubah uskup demi kursi presiden. Hampir semua orang sudah tahu soal itu. Rikard terpikat program "menghitung kebutuhan perut" dalam setahun. Inilah gerakan konkret di kebanyakan negara Amerika Latin sekarang guna meminimalisir jerit kaum papa yang kelaparan saban tahun. Jerit tangis itu mesti dijawab dengan langkah nyata yakni menciptakan kedaulatan pangan dalam rumah tangga! Maka kebutuhan perut seisi rumah mutlak dikalkuasikan dengan sungguh-sungguh.

Sebagai contoh keluarga Ronaldo Digodago dengan tiga anak. Berarti jumlah keluarga inti Digodago lima orang. Makanan pokok mereka ubi kayu (singkong), pisang dan jagung. Digodago perlu menghitung kebutuhan keluarganya dalam setahun atau 365 hari. Untuk menu singkong (sehari 3 kali makan), misalnya, keluarga Digodago menghabiskan dua rumpun dengan jumlah umbi 5-7. Kebutuhan keluarga Digodago akan ubi kayu 2 x 365 = 730 pohon. Jumlah inilah yang harus ditanam Digodago di ladang agar berdaulat atas pangan singkong yang kaya karbohidrat itu dalam setahun. 

Kebutuhan akan pisang, jagung, sorgum, padi dan lain-lain juga dikalkulasikan sehingga orientasi utama setiap rumah tangga petani menghasilkan pangan guna memenuhi kebutuhan keluarga. Produksi lebih baru dilempar ke pasar. Para petani pun dirangsang lewat pertanyaan sederhana. Siapa menanam, tanam di mana, bagaimana menanam, mengapa harus menanam, untuk apa menanam ubi kayu, pisang, jagung, padi, sayur-sayuran? 

Tanam di mana merupakan perkara rumit. Dijawab Lugo dan sejumlah pemimpin negara Amerika Latin dengan menata ulang kepemilikan tanah (landreform). Pemimpin Latin Amerika seperti Fernando Lugo (Paraguay), Evo Morales (Bolivia), Lula da Silva (Brasil), Hugo Chavez (Venezuela) kerapkali menegaskan bahwa Tanah adalah Ibu, sumber kehidupan. 

Bagaimana mungkin petani hidup jika tanah dikuasai tuan tanah atau orang-orang berduit. Jika mereka sekadar penggarap dengan upah minim?

***
TANAH adalah Ibu. Tanah sumber kehidupan. Rasanya tidak asing di beranda rumah ini. Rumah Flobamora yang baru saja membahas NTT Food Summit selama dua hari dengan salah satu rekomendasi menciptakan Desa Mandiri Pangan di bumi tenggara Indonesia.

Desa Mandiri Pangan. Apa, mengapa, siapa, di mana, kapan dan bagaimana memulainya? Beta tahu banyak ahli pertanian yang lebih cakap menghitung. Menghitung kebutuhan isi perut? Ilmu ekonomi pertanian telah lama mengajarkan itu. Jauh sebelum Lugo bergerak, Morales dan Chavez berteriak dan bertindak. Ilmu menghitung itu meluap-luap di ruang kuliah Flobamora.
Flobamora tidak kekurangan pakar dan praktisi pertanian. Flobamora jua tak kekurangan warta kelaparan. Nestapa itu masih nyaring terdengar hingga Lelogama, Paga, Watuneso, Reo, Talibura, Bola, Konga, Baranusa, Wewewa.

Tanah adalah Ibu. Sumber kehidupan. Masih adakah lahan di desa milik petani? Jadi teringat seorang sobat petani berdasi. Berhektar-hektar luas lahannya. Lahan tidur. Lahan tak tergarap. Semoga rekomendasi NTT Food Summit 2008 tidak berhenti di meja seminar, berakhir di dalam ruang rapat koordinasi. Selamat datang Desa Mandiri Pangan! (dionbata@poskupang.co.id)

Beranda Kita Pos Kupang edisi Senin, 15 Desember 2008 halaman 1
Reaksi:

1 komentar:

tuteh mengatakan...

Semoga NTT bisa lebih tersenyum dengan Pemimpin baru & wujud nyata terhadap segala rencana. Apalagi tentang menghitung Perut ituh hehehe... kalo emang bisa terwujud sih pastinya kita tambah kaya ya, Om. Tapi kalo cuma sekadar bergeser dari satu kertas rencana ke kertas lainnya yang lebih mengkilap.. kadang percuma hihihihi ;))

*sok tau*

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes