Kenangan di Lekebai



Di Lekebai, Sikka Flores 27 Oktober 2005
Waiara, 27 Oktober 2005. Jarum jam menunjuk pukul 12.20 Wita. Di kejauhan sana, puncak Gunung Egon berselimut kabut tipis. Egon sedang ramah. Kota Maumere tampak membentang berhiaskan nyiur melambai.

Persis di depan mata, Pulau Besar, Pemana dan Pulau Babi anggun berdiri. Laut utara Flores tenang membiru. Udara bersih. Semilir angin Waiara Beach menyapu lembut wajah kami. Tapi tak ada keheningan.

Gelak tawa dan canda membahana sepanjang acara makan siang. Sungguh jauh dari suasana formal. Benar-benar bersahaja, apa adanya.

Mereka yang menyantap menu makan siang di restoran Flores Sao Resort hari itu adalah dua tokoh nasional, Frans Seda dan Jakob Oetama serta para petinggi Kelompok Kompas Gramedia (GKG) yaitu August Parengkuan, St. Sularto, Rikard Bagun, Petrus Waworuntu, Wandi S Brata, Julius Pour.

Hadir pula pendiri sekaligus Pemimpin Umum Harian Pos Kupang, Damyan Godho dan Kepala Biro Kompas di Bali, Frans Sarong.


Itulah pertama kali saya mengenal lebih dekat Om August Parengkuan. Om August mendampingi Pak Jakob Oetama dalam kunjungan beliau ke Kupang dan Flores tanggal 26-29 Oktober 2005. Orangnya hangat. Murah senyum. Cepat akrab dengan siapa saja.

Kami sempat pose bersama di depan rumah keluarga Frans Seda di Lekebai, sekitar 40 km barat Kota Maumere. Hari Kamis tanggal 27 Oktober 2005 itu setelah makan siang di Waiara.

Frans Seda mengajak Pak Jakob dan seluruh anggota rombongan dari Jakarta ke Lekebai, kampung asal Frans Seda. Di sana mereka bakar lilin di makam orangtua Frans Seda.

August Parengkuan
Kamis malam itu Frans Seda menjamu sahabatnya Jakob Oetama makan malam di rumahnya di Maumere. Saya ingat malam itu setelah acara di rumah Pak Frans Seda, Om August Parengkuan mengajak Om Damyan Godho dan Frans Sarong melanjutkan acara santai di Flores Sao Resort, Waiara.

Setelah Pak Jakob istirahat, Om August, Om Damyan Godho, Frans Sarong dan lainnya ngobrol macam-macam sambil minum bir. Malam agak larut baru mereka menuju ke pembaringan.

Om August Parengkuan merupakan wartawan perintis di Harian Kompas. Pria kelahiran Surabaya 1 Agustus 1943 bergabung dengan Kompas sejak awal terbit dan menempati sejumlah jabatan penting di antaranya Redaktur Pelaksana Harian Kompas, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Direktur Komunikasi KKG (Kelompok Kompas Gramedia), Presiden Direktur TV7 dan staf Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia.

August Parengkuan muda sempat bercita-cita menjadi tentara mengikuti jejak ayahnya. Dia juga berniat menjadi diplomat tapi batal. August melamar ke Harian Kompas yang terbit tahun 1965 dan diterima.

Cita-citanya menjadi diplomat baru tercapai setelah pensiun dari Kompas Gramedia. Om August ditunjuk sebagai Duta Besar RI untuk Italia tahun 2012-2017.

Om August memang wartawan hebat. Jaringannya luas dan dikenal piawai dalam melakukan lobi. Tahun 2011 ketika Kupang dipercayakan menjadi tuan rumah peringatan Hari Pers Nasional (HPN), Om August ikut berperan meyakinkan pengurus pusat PWI dan komunitas masyarakat pers nasional. Dalam kapasitasnya sebagai penasihat PWI Pusat, suara Om August didengar.

Meskipun akomodasi di Kupang sangat terbatas kala itu, beliau menyatakan Kupang harus diberi kesempatan jadi tuan rumah agar memberi efek positif di kemudian hari. Saya dengar cerita itu dari Om Damyan Godho (almarhum).

Hari Kamis 17 Oktober 2019 pukul 05.50 WIB, Om August Parengkuan meninggal dunia di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Meninggalkan seorang istri dan empat anak dan sembilan orang cucu. Selamat jalan Om August. Tuhan maharahim mendekapmu dalam keabadian. Amin.

Ketewel, Sukawati Gianyar Bali, 17 Oktober 2019

Elegi Buat Badil

Rudy Badil (kiri/CNN.Indonesia)
Oleh Albert Kuhon

+ Adiknya Badil ya?

- Bukan. Kenapa?

+ Tampangnya mirip.

Pertanyaan serupa muncul lagi dari seorang perempuan yang baru datang di lantai III RS Hermina Depok, dekat ruang ICU, Selasa 8 Juli 2019 sore.

Tidak lama kemudian datang seorang lelaki yang usianya sekitar 60 tahun dan menanyakan ha yang sama kepadsaya. Jawaban saya tetap sama: “Bukan.”

Saya memang bukan siapa-siapanya Badil. Saya cuma merasa dekat dengannya, seperti sejumlah teman-temannya yang lain.

Bayangkan, kami berkenalan sekitar tahun 1981, tetapi Kamis 11 Juni 2019 saya baru tahu bahwa nama lengkap Badil adalah Rudy David Badil Mesmana. Sebelumnya saya cuma tahu namanya Rudy Badil. Titik.

Padahal selama kurun waktu 1981-1986, sewaktu kami masih bersama-sama jadi wartawan Harian Kompas, kami sering berpergian bersama ke pelosok.

Kami juga sering tidur bersama di kursi-kursi kantor redaksi Kompas, karena menulis laporan sampai larut malam dan sudah tidak ada kendaraan umum buat pulang ke tempat kos.

Kamis 11 Juli 2019 itu, saya baru paham bahwa Badil lahir 25 November 1945. Artinya, lebih tua dibandingkan Raymond Toruan yang pernah jadi bos kami berdua di Redaksi Kompas.

Sore itu Raymond pun baru sadar bahwa selama puluhan tahun ini dia ‘kecolongan’, sewaktu kami melayat Badil di Rumah Duka Heaven di RS Dharmais, Slipi, Jakarta Barat.

Beberapa meter dari jarak kami berbincang, Badil terbujur kaku dalam peti. Tubuhnya gagah berpakaian jas.

Jauh lebih gagah katimbang kondisi terakhirnya. Beberapa tahun terakhir, Badil selalu menggunakan tongkat sehabis kakinya patah akibat ketabrak ojek.

Jumat 12 Juli 2019 siang saya baru tahu bahwa sebetulnya Badil adalah nama julukan yang dicomot dari nama seorang tukang becak asal Tegal.
Tukang becak itu dulu sering mangkal di dekat rumah Badil ketika dia tinggal di Pondok Rotan, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Nasib Badil palsu, jauh lebih baik katimbang Badil yang asli.

 “Kalau ketemu lagi, gua mau kasihduit buat bantu kehidupan dia di kampungnya,” Don Hasman menuturkan kembali kalimat Badil tentang tukang becak itu.

Hebat

Badil itu hebat lho! Dia masuk sebagai wartawan Kompas dua tahun lebih awal dari saya. Tetapi, sebelumnya sekitar tahun 1976-78 saya pernah ‘bertemu’ dengannya.

Ketika itu saya masih wartawan Harian Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta. Waktu itu di Yogya sedang dilaksanakan syuting film November 1928.

Saya mengomentari naskah yang mendasari syuting film tersebut dalam salah satu laporan di Kedaulatan Rakyat.

Saya bilang, sebetulnya ada beberapa adegan dalam film itu yang dijiplak dari naskah drama Monserrat karya Emmanuel Robles, penulis Perancis.
Keesokan harinya Teguh Karya, sutradara film November 1928, memberi keterangan pers menanggapi komentar saya.

Dalam salah satu masa sekitar pertengahan dekade 1980an di Redaksi Kompas, saya dan Badil bersama beberapa teman mengobrol tentang dunia perfilman serta drama.

Lalu muncul nama Teguh Karya dan film November 1928 dalam perbicangan itu. Saya ceritakan betapa saya pernah mengulas naskah yang menurut saya sebagian ‘dijiplak’ dari naskah drama perjuangan kemerdekaan di Amerika Latin yang berjudul ‘Monserrat’.

Saya ingat reaksi Badil dalam diskusi itu: “Sekarang gue inget. Gara-gara tulisan di Kedaulatan Rakyat itu, kita harus ubah naskah dan retake adegan-adegannya. Ternyata loe biang keroknya...”

Sungguh, saya tidak tahu bahwa tangan Badil juga menjamah naskah dan pembuatan film tersebut. Saya paham jejak kaki Badil ada di semua gunung yang pernah saya daki.

Jumlah gunung yang sudah dikencingi Badil (bersama Don Hasman, Norman Edwin dan Utun maupun tidak), jauh lebih banyak dibanding jumlah gunung yang pernah saya kencingi.

Tapi sewaktu saya jadi wartawan di Yogyakartta tahun 1970-an, saya belum kenal Badil. Dan saya tidak tahu bahwa Badil ada di balik pembuatan film November 1928 yang sempat terkenal pada zamannya.

Jejak Badil

Badil sudah menyandang ‘nokeng’ dari pedalaman Papua sewaktu saya baru sempat berkelana di pelosok Jawa dan Sumatera. Badil yang memperkenalkan ukiran Suku Asmat lewat tulisan-tulisannya.

Saking seringnya Badil keluar-masuk pedalaman Papua (waktu itu kita sebut Irian Jaya), saya dan teman-teman menjulukinya ‘ondoafi’ (bangsawan Papua).

Badil juga dekat dengan kegiatan mahasiswa dan tokoh-tokoh mahasiswa Universitas Indonesia. Salah satu sosok yang sangat dekat dengannya adalah Soe Hok Gie (adik Arief Budiman).

Soe Hok Gie adalah penentang kediktatoran, dari zaman Presiden Soekarno sampai zaman Presiden Soeharto.

Ia lebih tua sekitar tiga tahun dibandingkan Badil. Keduanya sama-sama pendaki gunung dan sama-sama berkuliah di Fakultas Sastra UI. Soe Hok Gie meninggal di Gunung Semeru tahun 1969.

Jejak Badil sungguh ada di mana-mana. Badil bersama Erna Witoelar (pegiat lingkungan hidup yang sempat jadi menteri) dan George Aditjondro (pegiat lingkungan hidup yang kemudian lulus doktor dan jadi dosen dan pengamat ekonomi-politik), pada tahun 1980an, adalah orang-orang yang memelopori berdirinya Wahana Lingkungan Hidup (Walhi).

Konon, Badil dan Erna Witoelar juga yang mengajari Emil Salim (mantan menteri di zaman Orde Baru), cara memperpanjang masa pakai celana dalam di daerah terpencil sewaktu kita tidak punya kesempatan mencuci pakaian.

Mau tahu caranya? Dipakai secara bolak-balik alias ‘double sided’!

Kita semua tentu kenal atau pernah mendengar Bentara Budaya, panggung atau etalase budaya yang kini jadi sejenis pelaksanaan corporate social responsibility atau CSR pihak Kompas-Gramedia.

Badil adalah salah satu pelopornya. Awal dekade 1980-an, Badil sempat bolak-balik ke berbagai pelosok menyiapkan acara-acara Bentara Budaya di Jakarta dan Yogyakarta yang baru dirintis.

Banyak temuan dalam kluyuran Badil di berbagai pelosok, yang kemudian dipajang di Bentara Budaya.

Ukiran dan patung Asmat, serta tenun serta kebudayaan Baduy, adalah dua temuan Badil yang diunggah ke panggung etalase grup Kompas-Gramedia tersebut.

Selain urusan pendakian dan urusan kesenian di daerah pedalaman, Badil juga mahir menulis hal-hal serius melalui laporan kocak.

Badil yang kadang-kadang nyebelin dan pemberang, sering membuat kita tersenyum-seyum sendiri ketika membaca tulisannya. Badil memang paling jago menulis laporan feature.

“Jangan terlalu serius, kudu didangdutin dikit,” ujar Badil dalam logat Betawi, kepada saya di dekade 1980an sewaktu kami masih sama-sama di Harian Kompas.

Badil juga salah satu sosok di balik “Operasi Ganesha” tahun 1982, sewaktu 242 ekor gajah yang terperangkap di dekat pemukiman transmigran Air Sugihan di Sumatera Selatan, digiring guna diselamatkan ke Lebong Hitam di Lampung.

Operasi pemindahan ratusan gajah sejauh sekitar 70 km itu dipimpin oleh Letkol I Gusti Kompyang Manila. Dan Badil pada masa itu ikut dalam salah satu tim penggiringan gajah.

Perkasa

Kemampuan dan jejaring Badil memang mengagumkan. Dia dikenal di kalangan pecinta alam dan pegiat lingkungan hidup.

Jauh sebelum kita ribut-ribut soal kelestarian alam, Badil dan teman-temannya sudah menerapkan pola 3 R (reduce, reuse, recycle) guna mengurangi pencemaran lingkungan hidup di pe ndakian maupun puncak-puncak gunung.

Badil yang tampaknya ceroboh dan tidak menaruh perhatian terhadap keadaan sekitarnya, sebetulnya orang yang sangat teliti. Dia bisa ingat nama-nama orang yang baru berkenalan dengannya.

Dalam urusan kesenian dan kebudayaan lokal, Badil ibarat kamus berjalan. Dia bisa bercerita tentang kesenian dan kebudayaan masyarakat di pelosok Aceh, sampai masyarakat di pedalaman Kalimantan maupun pelosok Papua.

Badil bisa menghilang berminggu-minggu, lalu muncul beberapa hari di Jakarta dan menghilang kembali. Badil bisa tidak pulang ke rumah, walaupun sedang di Jakarta.

Badil bisa meninggalkan istrinya, Xenia, sendirian bersama putra tunggal mereka yang bernama Banu, karena ditugasi berjaga-jaga di kantor Redaksi Kompas pada saat kerusuhan Mei 1998.

Badil bisa tertawa terbahak-bahak, atau mengocok perut kita denganb anyolan-banyolannya yang konyol. Tapi dia bisa juga meledak dan marah besar jika merasa tersinggung atau dikhianati.

Badil orang yang sangat tangguh. Badil mermang enak dijadikan teman atau kawan, tapi belum tentu kita kita bisa bertahan lama mendampinginya.

Karenanya, saya sungguh kagum pada Xenia, istri Badil, yang bisa tahan dan bahkan tetap menyemangati Badil dengan segala keunikannya. Saya bertemu Xenia Selasa (9/7) siang sampe sore di rumah sakit dan Kamis (11/7) petang di rumah duka.

Perempuan kecil itu terlihat tegar dan tidak menitikkan airmata, menjawab pertanyaan dan menceritakan proses bagaimana dia ditolak oleh beberapa rumahsakit sewaktu berusaha mencari tempat perawatan Badil yang sudah tidak sadarkan diri di hari Senin 8 Juli 2019.
Si mungil Xenia memang perkasa!

Badil dan saya

Saya beberapa kali bepergian bersama Badil dalam peliputan. Badil selalu punya cara tersendiri buat ‘mengecoh’ para petinggi redaksi dan staf administrasi.

Wartawan lain umumnya meliput berdasarkan penugasan redakturnya. Badil adalah salah satu wartawan Kompas yang meliput sesuai yang dia mau. Biasanya Badil menyusun dan mengusulkan rencana peliputan.

Setelah disetujui, dia menghilang 1-2 minggu atau kadang-kadang sampai beberapa minggu.

Setelah kembali ke redaksi, dia berhari-hari sibuk menulis laporannya. Pada masa-masa dia sibuk di redaksi itulah, kami sering bersama-sama sampai larut malam. Dulu naskah laporan kami buat dengan bantuan mesin tik.

Jadi kami bisa saling menyadari kehadiran satu sama lain di ruang redaksi di tengah malam melalui suara mesin ketik. Menjelang tidur di kursi rapat yang kami susun berderet, biasanya kami ngobrol dulu.

Jauh sebelum Jalan Sultan Agung di pinggir Kali Ciliwung dilebarkan seperti sekarang, saya dan Badil pernah menyusuri jalan sempit itu. Awal dekade 1980an itu, Badil sudah memberitahu saya bahwa jalan yang dipakai buat inspeksi Kali Ciliwung itu bakal dilebarkan.

Saya dan Badil juga pernah ke pelosok-pelosok di pinggir kota Jakarta ke arah Bogor. Kami mampir menengok sejumlah pabrik tapioka di Kandanghaur dan Kedunghalang.

Kebetulan saya sangat menguasai masalah teknologi ekstraksi pati dari singkong atau ubikayu tersebut. Laporan saya yang terbilang serius, kemudian disunting oleh Badil menjadi laporan enteng tapi berisi.

Di lain kesempatan, saya pergi meliput berkeliling pelosok Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Mengumpulkan informasi tentang lahan tidur, teknologi yang membantu para petani kecil dan perkebunan rakyat. Dalam perjalanan itu, kami ajak Don Hasman, sahabat karib Badil.

Kami sempat menemukan lahan tidur di beberapa tempat di Jabar dan Jateng. Juga sempat singgah di pabrik jamur milik perusahaan Mantrust di Dieng (sekarang sudah tutup) di Jawa Tengah. Juga melihat-lihat kebun carica, sejenis pepaya kecil, yang dibudidayakan di Dieng.

Badil tidak sependapat dengan saya sewaktu saya memelopori berdirinya serikat pekerja di Redaksi Kompas tahun 1986. Sejumlah wartawan senior dan petinggi di Redaksi Kompas memang tidak menyetujui adanya serikat pekerja di sana.

Saya tidak dipecat, gaji saya tetap dibayar, tetapi semua tulisan saya tidak dipublikasikan oleh Harian Kompas. Saya tidak tahu, apakah ‘larangan’ itu masih berlaku sampai saat ini.

Namun beberapa kali kiriman tulisan saya ke Kompas ditolak dengan alasan yang normatif. Resminya saya berpisah dengan Badil tahun 1989, sewaktu saya mengundurkan diri dari Kompas.

Hubungan kami tetap baik. Kebetulan Banu, putranya, pernah menjadi mahasiswa dalam beberapa kelas saya di salah satu universitas swasta terkemuka. Setelah bertongkat, Badil pernah juga mampir di kantor konsultan saya.

Penakut juga

Badil tidak takut naik ke puncak gunung yang dianggap mengerikan oleh banyak orang. Badil juga tidak takut keluar-masuk hutan, maupun ke pedalaman yang jarang dirambah wartawan lain. Badil tidak takut badak, atau gajah dan dia juga tidak pernah takut terhadap birokrasi.

Hanya sedikit orang yang tahu Badil sebetulnya tergolong penakut menghadapi beberapa hal dalam hidup ini. Badil adalah salah seorang konseptor lawakan Prambors yang terkenal itu. Ciri lawakannya kritis, nakal dan lucu.

Jarang ada yang tahu bahwa Prambors adalah singkatan dari nama-nama jalan yaitu Prambanan, Mendut, Borobudur dan sekitarnya yang masih terbilang kawasan Menteng di Jakarta.

Pelawaknya yang terkenal adalah Kasino, Dono dan Indro, selain Pepeng, Nana Krip dan lain-lain. Badil pernah glagapan di ajak manggung, sehingga akhirnya memutuskan buat berperanan di belakang layar.

Badil juga sangat takut berkendaraan mobil dengan kecepatan tinggi. Dalam beberapa kali perjalanan dengan saya, Badil berkali-kali menyuruh saya memperlambat kecepatan dan membatasi hanya sampai maksimum 60 km per jam.

Dia mengancam akan turun jika saya membandel. Pernah juga dia menyuruh saya menghentikan mobil di penggir jalan yang sepi di jalur selatan antara Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Alasannya dia kebelet kencing.

Ternyata, dia cuma minta Don Hasman menggantikan saya mengemudikan mobil kami karena dia ketakutan melihat saya melajut pada kecepatan 80 km per jam.

Saya tahu satu hal lagi yang membuat Badil takut. Badil sangat takut foto pernikahannya dipajang di Harian Kompas. Padahal, redaksi Kompas punya kebiasaan memajang foto wartawannya yangh menikah.

Menjelang pernikahannya di gereja, Badil masih hadir di redaksi. Dia dengan bersungguh-sungguh mengancam: “Awas ya, jangan ada yang majang foto gue kawin. Gue serius nih, bakal gue ajak berantem!”

Kebetulan saya sedang menyusun buku yang berisi pengalaman sejumlah wartawan Kompas. Isinya bukan ingin menyoroti kesejahteraan para pensiunan wartawan, melainkan menggambarkan elan generasi wartawan Kompas sebelum era milenial.

Badil pernah mengirimkan tulisan tentang pengalamannya bekerja di Harian Kompas. Naskahnya sudah saya sunting, tapi saya masih bergulat dengan naskah dari teman-teman yang lain.

Badil menyelesaikan penziarahannya Kamis 11 Juli 2019. Badil banyak menulis buku dan laporan di media massa. Dia tidak pernah sibuk berjihad maupun menghujat di media sosial.

Badil dicintai banyak teman karena tidak pernah berkhianat meski kadang-kadang lidahnya tajam dan nada suaranya geram. Buat saya, cerita tentang Badil cuma satu jilid, tapi banyak penerbitnya.

Badil yang baik, pertemananmu nyaris tidak bercacat. Teman-temanmu yang sejak dulu, tetap juga jadi temanmu saat ini. Tidak banyak orang yang mampu jaga pertemanan. Apalagi jangka panjang!

Okay Dil, mudah-mudahan loe sekarang lagi tenang ngobrol dengan teman-teman lama yang sudah nunggu di alam sana. Gue liat Xenia dan Banu cukup tegar di sini. Nanti pasti gue nyusul dan kita bisa ngobrol bareng lagi.

Bintaro, 12 Juli 2019.

Sumber: : Obituari yang indah ini saya ambil dari akun Facebook Om Albert Kuhon (Kopral Jabrik). Saya berteman dengan beliau di FB dan selalu suka membaca tulisan-tulisannya. Satu di antara wartawan senior yang luar biasa.

Obituari Aristides Katoppo


Aristides Katoppo (wowkeren.com)
Oleh Albert Kuhon


+ Masak you gak bisa dapat sih?

- Nanti dicarikan

+ Kan sudah 25 tahun. Pasti sudah di-declassified. Coba you cari Marshal Green, bekas Dubes Amerika yang pernah tugas di Jakarta tahun 1965an.

- Oke

Begitu kira-kira percakapan singkat saya dengan Aristides Katoppo, yang akrab disapa Tides di akhir tahun 1990. Waktu itu saya Kepala Biro Harian Suara Pembaruan di Washington DC.

Wartawan senior Aristides Katoppo, bukan petinggi di redaksi. Tapi suaranya tetap berpengaruh. Percakapan itu diakhiri dengan komentar agak sinis: “Masak Albert Kuhon gak bisa dapat sih?”

Kami berbincang singkat tentang dokumen rahasia yang dibuat oleh pihak Kedubes Amerika Serikat di Indonesia menghenai Peristiwa G30S.


Sampai dengan tahun 1990 tersebut, sudah banyak informasi berkembang yang menyatakan pihak CIA (Central Intelligence of America) terlibat dalam tragedi 30 September 1965 dan penggulingan Presiden Sukarno.

Tides

Tides mengawali karir jurnalistik sejak tahun 1957, sewaktu ia bergabung dengan Pers Biro Indonesia. Tahun 1961, Tides bergabung dengan HG Rorimpandey dkk memperkuat redaksi koran sore Sinar Harapan. 

Tahun 1968, Tides menjabat Redaktur Pelaksana Sinar Harapan.  Ia menjadi pemimpin redaksi Sinar Harapan sampai ditutup tahun 1986.

Ia sempat belajar di Stanford University di Amerika Serikat selama lima tahun.

Tides juga pernah belajar di Center for International Affairs, Harvard University di Boston. Ketika kembali ke Indonesia, Tides mengajar jurnalistik di Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Indonesia.

Dalam penugasan kewartawanan, Tides memang selalu ‘menuntut’. Tides bersama Sabam Siagian menjadi tulang punggung koran sore Sinar Harapan yang diterbitkan tahun 1961oleh Hendrikus Gerardus Rorimpandey bersama JCT Simorangkir, Subagyo PR dan kawan-kawan.

Produk-produk jurnalistik Tides sangat mewarnai koran sore tersebut. Banyak wartawan (yang sekarang sudah senior) hasil didikan Tides. Di antaranya, Atmadji Sumarkidjo, Upa Labuhari, Bernadus Sendouw, Yuyu AN Mandagie, dan lain-lain.

Penghargaan prestasi jurnalistik berupa Trofi Adinegoro (dari Persatuan Wartawan Indonesia) maupun Kalam Kencana (dari Departemen Penerangan) banyak diterima oleh para wartawan Sinar Harapan.

 Para wartawan Sinar Harapan penerima penghargaan tersebut antara lain Subekti, Panda Nababan, Yuyu A.N Mandagie, Tinnes Sanger dan Bernadus Sendouw, Indra Rondonuwu, Suryanto Kodrat, Samuel Pardede, Pramono R Pramoedjo dan Thomas Lionar.

Piawai

Di lingkungan Redaksi Kompas, almarhum Polycarpus Swantoro adalah orang yang meletakkan dasar-dasar penulisan laporan jurnalistik sejak terbitnya harian tersebut Juni 1965.

Swantoro adalah orang yang melatih para wartawan senior seperti J. Widodo, Raymond Toruan, R. Sugiantoro, Indrawan dll. Di lingkungan Sinar Harapan, Aristides Katoppo adalah salah seorang arsitek peliputan yang sangat handal.

Kepiawaian Tides dalam menakhodai Sinar Harapan patut diacungi jempol. Pada era kepemimpinannya, koran sore Sinar Harapan digemari pembacanya karena keunggulan dalam news getting atau peliputan.

Sikap Tides yang sangat menuntut (demanding) merupakan salah satu faktor penyebab keunggulan tersebut. Koran sore itu menjadi sangat kritis dalam menerapkan motto “Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan, Kebenaran dan Perdamaian berdasarkan Kasih”.

Sinar Harapan harus mengalami beberapa kali pembredelan oleh pemerintah sebagai konsekuensi dari konsistensi dalam pemberitaannya.

Tides nyaris tidak peduli dan berkali-kali harus berbeda pendapat dengan para pemilik modal. Bagi Tides, fakta merupakan sesuatu yang suci dan tidak perlu ditutup-tutupi.

Larangan terbit yang pertama dialami Sinar Harapan (dan sejumlah media lain) tanggal 2-8 Oktober 1965, karena penguasa tidak menghendaki peristiwa G 30 S-PKI diekspos secara bebas oleh media.

Hanya media-media tertentu saja yang boleh terbit. Pada tanggal 8 Oktober 1965 Sinar Harapan diperbolehkan kembali terbit. Bulan Juli 1970, Sinar Harapan mendapat ‘teguran’ memberitakan temuan Komisi IV DPR RI mengenai adanya korupsi di kalangan pemerintah Orde Baru.

Jurnalistik

Tides nyaris tidak terlalu memikirkan urusan bisnis. Baginya, jurnalistik harus menggambarkan fakta dan diwarnai kekritisan berpikir. Penggalian data dan informasi harus dilakukan secara teliti dan laporannya kudu analitis.

Keterbatasan waktu karena Sinar Harapan adalah koran sore, tidak boleh mengurani nilai-nilai dasar jurnalistik tersebut. Karenanya, tidak jarang Tides berbeda pendapat dengan para pemilik modal korannya.

Pemberitaan Sinar Harapan tanggal 31 Desember 1971 yang berjudul “Presiden Larang Menteri-menteri Beri Fasilitas pada Proyek Mini” mengakibatkan pihak Redaksi Sinar Harapan beroleh teguran.

Tanggal 2-12 Januari 1973 Pangkopkamtib (Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) mencabut sementara Surat Izin Cetak Sinar Harapan akibat pemberitaan yang ‘membocorkan’ RAPBN (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).

Sejumlah wartawan Sinar Harapan sempat diperiksa pihak Kejaksaan Agung akibat pemberitaan tersebut.

Sinar Harapan dan sejumlah media dibreidel lagi tahun 1974, sehubungan pemberitaan tentang kegiatan demonstrasi mahasiswa yang disebut Malari (lima belas Januari).

Koran itu dibolehkan terbit kembali 4 Februari 1978 Sinar Harapan diperbolehkan. Breidel terakhir terjadi Oktober 1986, ketika Sinar Harapan ‘membocorkan’ rancangan undang-undang antimonopoli yang sedang digodok di DPR.

Tangan Tides menyentuh hampir semua pemberitaan ‘panas’ Sinar Harapan. Tides memang tidak pernah kompromi dalam soal kekritisan.

 Pada tahun-tahun itu, penerbitan media massa telah beralih dari yayasan ke PT (perseroan terbatas) dan Surat Izin Cetak telah berganti menjadi SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers).

 Akibat pemberitaan tentang rancangan undang-undang antimonopoli yang ‘menyerang’ sejumlah kepentingan bisnis keluarga pejabat tinggi, pemerintah yang dipimpin Presiden Soeharto membatalkan SIUPP koran Sinar Harapan.

Para wartawan dan karyawan yang mengerjakan koran Sinar Harapan, dialihkan dari PT Sinar Kasih (penerbit Sinar Harapan) ke PT Media Interaksi Utama (MIU) di alamat yang sama. PT MIU kemudian sejak tahun 1987 menerbitkan koran sore Suara Pembaruan. Namun Tides, Rorimpandey dan Subagio PR tidak dibolehkan duduk di lingkungan redaksi.

Saya dan Tides

Saya kenal Tides secara pribadi pada awal dekade 1980an. Akhir dekade 1980an, saja diajak bergabung ke harian Suara Pembaruan, penjelmaan dari Sinar Harapan yang dibreidel tahun 1986. Sejak itu saya sering bertemu dengan Tides.

Sebagian lingkaran pertemanan Tides, ternyata teman-teman saya juga. Teman-teman Tides ada di mana-mana dan dari berbagai kalangan. Tides juga berteman dengan para mahasiswa, mulai dari Angkatan 66 sampai para aktifis tahun 1998.

Bayangkan, Tides bersahabat dengan Soe Hok Gie (aktifis Angkatan 1966 yang wafat di Gunung Semeru) dan akrab juga dengan wartawan muda para aktifis Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang didirikan pertengahan dekade 1990an. Bahkan Tides adalah salah seorang pendiri AJI!

Tides akrab dengan alam. Ia seorang pendaki gunung, yang me njadi bagian tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan Wanadri maupun Mapala UI.

Teman-teman lamanya di lingkungan pecinta alam antara lain Herman Lantang, almarhum Rudy Badil, almarhum Norman Edwin, dan Don Hasman.

Tides sangat pandai menjaga persahabatannya. Ia masih aktif hadir dalam berbagai acara.

Saya bertemu terakhir dengannya ddalam peringatan 40 hari wafatnya Badil yang diselenggarakan Yosephine Komara (Obin) dan teman-teman Badil lainnya September lalu. Sebelum Tides pergi ke Semeru.

Berkali-kali Tides mengundang saya buat ngopi, tapi belum sempat terlaksana. Undangannya disampaikan lewat Jossi Katoppo, adiknya yang juga sobat lama saya.

Seorang mantan reporter SCTV (Surya Citra Televisi), Iwan Setiawan, juga beberapa kali menyampaikan pesan tentang ajakan Tides.

Bahkan dalam acara pemakaman Rudy Badil di Tanahkusir Agustus lalu, Mimis (istri Tides) yang mendampingi Tides dan Herman Lantang, masih mengingatkan tentang undangan tersebut.

Tides meninggal dunia dalam usia 81 tahun di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta Pusat, Minggu (29/9/2019) siang.

Beberapa hari sebelumnya, ia bersama sobat-sobatnya Herman Lantang dan Don Hasman bernostalgia di Gunung Semeru, napak tilas pendakian terakhir Soe Hok Gie.

Di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto, Herman Lantang sempat menangis tersedu-sedu di pinggir peti jenazah, Senin 30 September siang.

Herman berjalan tertatih-tatih dengan tongkatnya, mengenakan pakaian warna khaki, kacamata gelap, dan topi lebar yang biasa dipakai para pendaki. Beberapa menit Herman ‘berbincang’ dengan sobatnya yang terbaring dalam peti jenazah itu.

Tides yang perkasa, Tides yang kritis, Tides yang punya banyak sahabat, Tides yang jurnalis, Tides yang pecinta alam, kini telah berpulang.

Teman-temannya seperti Soe Hok Gie, Norman Edwin dan Rudy Badil mungkin sudah menunggu Tides di alam sana buat bercengkerama.

Masak you gak bisa dapat sih? Selamat jalan, Senior!

Bintaro, 1 Oktober 2019
ak


Sumber: Obituari yang indah ini saya ambil dari akun Facebook Om Albert Kuhon (Kopral Jabrik). Saya berteman dengan beliau di FB dan selalu suka membaca tulisan-tulisannya. Satu di antara wartawan senior yang luar biasa.

Peran dan Tugas Kardinal dalam Gereja Katolik

Paus Fransiskus dan para kardinal
 Paus Fransiskus pada akhir Agustus 2019 memilih Mgr Ignatius Suharyo sebagai kardinal Indonesia. Suharyo adalah kardinal ketiga Indonesia.

Kardinal pertama adalah Mgr Justinus Darmojuwono yang dilantik pada 1967 di sela pengabdiannya sebagai Uskup Agung Semarang periode 1963 sampai 1981.

Kardinal kedua adalah Mgr Julius Darmaatmadja yang ditunjuk pada 1994 saat menjabat sebagai Uskup Agung Semarang.

Pada tahun 1996 Mgr Julius diminta menggembalakan Keuskupan Agung Jakarta menggantikan Mgr Leo Soekoto. Mgr Julius mundur dari Jakarta karena alasan kesehatan pada 2010.

Mgr Julius digantikan Mgr Suharyo yang kemudian ditunjuk Sri Paus sebagai kardinal.

Apa itu kardinal? Bagaimana posisinya dalam Gereja Katolik? Berikut ini ulasan Pastor Markus Solo Kewuta, SVD, Imam Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD) seperti dikutip dari Kompas.Com.

Kardinal adalah sebuah gelar rohani sangat tua di dalam Gereja Katolik, yang secara hirarkis berada langsung di bawah paus.

Paus Silvester I (314-335) adalah paus pertama yang menggagas dan membentuk gelar ini.

Secara etimologis kata "kardinal" berasal dari kata bahasa Latin "cardo", yang berarti engsel pintu yang menyambung dua helai pintu.

Kata "cardo" juga merupakan nama sebuah gereja utama kota Roma zaman dulu yang terletak di wilayah periferi Roma dan merepresentasi kehadiran gereja-gereja lokal di berbagai belahan dunia.

Berpijak pada dua pengertian di atas, seorang kardinal dipilih dan diangkat dengan sebuah tugas dan fungsi penting, yakni ibarat ‘’engsel“ yang menyambungkan Sri Paus (Tahta Suci Vatikan) dengan gereja lokal atau wilayah kerja di bawah tanggungjawab seorang kardinal.

Para kardinal bisa diidentifikasi dengan mudah melalui penampilan dengan pakaian kebesaran serba merah.

Para kardinal Gereja Katolik berbagai jenjang umur adalah anggota persekutuan para kardinal yang disebut kollegium para kardinal (College of Cardinals).

Kollegium para kardinal juga lumrah disebut "Senat Sri Paus" tetapi istilah ini sudah kedaluwarsa. Kadang istilah ini masih digunakan hanya dalam publikasi-publikasi atau tulisan-tulisan khusus saja.

Hilang munculnya istilah di atas kurang lebih sama dengan istilah lain, yakni "kollegium para kardinal yang kudus" (Holy College of Cardinals).

Penggunaan kedua istilah di atas melemah sejak tahun 1983. Istilah yang lebih popuper adalah kollegium para kardinal.

Setelah penganugerahan entitas ganda kepada Vatikan sebagai negara dan Tahta Suci melalui Traktat Lateran pada tanggal 11 Pebruari 1929, para Kardinal juga berikan julukan "pangeran-pangeran Gereja".

Hak prerogatif paus

Para kardinal yang dipilih dan diangkat oleh Sri Paus, dan ini merupakan hak prerogatif Sri Paus, bertujuan untuk mendukungnya di dalam menjalankan tugas kepausannya memimpin Gereja Katolik, baik secara individu, maupun secara kollegium.

Tugas para kardinal bisa bervariasi; mulai dari memimpin perkantoran-perkantoran Kuria di Vatikan, hingga pemimpin Gereja lokal negara masing-masing dan penasihat atau pengarah Gereja lokal.

Artinya, kardinal-kardinal yang tidak ditentukan oleh Paus untuk memimpin perkantoran Kuria di Vatikan, tetap tinggal dan bekerja di negara mereka masing-masing.

Mereka selalu siap bersedia untuk memenuhi panggilan Sri Paus, manakala kehadiran mereka di Vatikan dibutuhkan untuk sebuah tujuan penting tertentu.

Seorang kardinal yang berkarya di negaranya, tidak selamanya atau tidak harus menjadi pemimpin konferensi para uskup.

Hal ini bergantung dari kebutuhan dan hasil pemilihan yang independen. Ketidakharusan ini memberikan ruang gerak kepadanya yang lebih luas untuk menjalin relasi kerjanya dengan Sri Paus.

Tidak bertujuan merepresentasikan negara

Pengangkatan para kardinal pada dasarnya tidak bertujuan untuk merepresentasi sebuah negara. Banyak negara di mana hadir juga Gereja Katolik, tidak memiliki kardinal.

Hal ini merupakan hak prerogatif Paus yang berbasis pada kebutuhan beliau dan kriteria-kriteria yang beliau miliki.

Oleh karena pengangkatan seorang kardinal sesuai dengan kebutuhan Sri Paus, pada masa-masa terakhir, Paus Fransiskus bahkan juga memilih para pastor dan diangkat menjadi kardinal tanpa harus menjadi uskup atau uskup agung terlebih dahulu seperti lazimnya terjadi pada masa-masa sebelumnya.

Mereka-mereka itu biasanya memiliki kualifikasi-kualifikasi tertentu yang sangat mendukung tugas kegembalaan Sri Paus, atau oleh karena jasa-jasa dan pengalaman-pengalaman luar biasa yang dianggap bisa memberikan masukan penting bagi Sri Paus dalam menjalankan kepemimpinannya.

Tugas penting: memilih paus

Selain tugas-tugas di atas, para kardinal memiliki tugas lain yang sangat penting, yakni memilih paus yang baru. Ketika terjadi “Sedes vacans” (kekosongan jabatan Paus), para kardinal sebagai kollegium memimpin roda pemerintahan Gereja Katolik.

Selama “Sedes Vacans’’, artinya ketiadaan paus, para kardinal biasanya hadir di Vatikan untuk mengadakan pertemuan atau sidang harian guna membahas berbagai hal untuk menjamin jalannya pemerintahan serta mempersiapkan Konklav (upacara pemilihan Paus yang baru).

Selama masa ini, mereka tidak berhak menggantikan atau mengubah hukum atau keputusan serta ketetapan apapun yang sudah dilakukan oleh paus sebelumnya.

Pemimpin kollegium para kardinal adalah seorang kardinal dekan yang dibantu oleh kardinal subdekan.

Keduanya memiliki status titular kardinal uskup. Selain kardinal uskup, masih ada lagi dua pangkat lainnya di dalam hirarki kollegium kardinal yaitu kardinal imam dan kardinal diakon.

Gelar-gelar ini pertama-tama berkaitan dengan sistim administratif Tahta Suci Vatikan dengan gereja-gereja utama seputar Roma (gelar Kardinal Uskup) dan pembagian gereja-gereja titular di Roma (kardinal imam) dan pembagian institusi-institusi gereja di bagian diakonia dan sosial-karitatif, juga di kota Roma dan sekitarnya (kardinal diakon).

Kardinal diakon tertua menerima gelar protodiakon (diakon utama) dan memiliki tugas untuk mengumumkan nama paus yang baru terpilih dengan rumusan terkenal "habemus papam" (kita memiliki seorang paus).

Pengaturan dan penetapan ketiga gelar di dalam kollegium para kardinal diatur di dalam Kitab Hukum Kanonik atau Codex Iuris Canonici, Kanon 205 §1. Jumlah total kardinal segala jenjang umur saat ini adalah 215 orang (per 2 September 2019).

Dari jumlah ini, seandainya sebuah konklav terjadi pada hari ini, artinya sebelum ada pengangkatan kardinal baru oleh Paus, maka ada 118 kardinal berumur di bawah 80.

Mereka berhak memilih paus baru (dan berhak dipilih juga). Akan tetapi menurut Konstitusi Apostolik Paus Yohanes Paulus II “Universi Dominici Gregis”, ditetapkan 120 kardinal pemilih. Ketetapan ini belum diubah oleh Paus Fransiskus.

* Markus Solo, SVD adalah imam asal Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Seorang ahli Islamologi. Kini bertugas menangani Desk Relasi Katolik-Muslim di kawasan Asia dan Pasifik, Wakil Presiden Yayasan Nostra Aetate "Pendidikan Dialog Lintas Agama" pada Kantor Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama di Vatikan.

Sumber: Tribun Bali

Air Mata Ni Luh Mustika Sari dan Putri Dewi


ilustrasi
DUKA itu akhirnya mencabik sunyinya langit Bali. Ni Luh Mustika Sari, balita berumur dua tahun yang menderita gizi buruk serta tuberkulosis (TB) meninggal dunia.

Balita asal Desa Tukadsumaga, Kecamatan Gerokgak, Buleleng menghembuskan napas terakhir di rumah kakeknya di Tukadsumaga, Minggu 11 Agustus 2019.

Nih Luh Mustika Sari sempat menarik perhatian publik Pulau Dewata di penghujung Juli 2019.

Anak kecil itu jauh dari kasih sayang orangtua. Tubuhnya sangat kurus lantaran memikul dua beban sekaligus, gizi buruk dan penyakit TB.

Kakek neneknya bekerja sebagai buruh kerajinan bambu. Pendapatan tak menentu, sehingga Mustika Sari tidak mendapatkan perawatan medis memadai demi memulihkan kondisinya.

Sebagaimana diberitakan Harian Pagi Tribun Bali, pemerintah coba turun tangan membantu, namun bisa dlukiskan terlambat karena harus melewati prosedur administrasi dan regulasi.

Ni Luh Mustika Sari yang sebelumnya tinggal di Gianyar bersama kakeknya harus kembali ke Buleleng karena secara administrasi pemerintahan, orangtua dan kakeknya merupakan warga di sana.

Pada akhir Juli lalu Mustika pulang ke Buleleng untuk dibuatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan dokumen administrasi lainnya.

Mustika Sari sempat dirawat di Puskesmas Gerokgak hingga dirujuk ke RSUD Buleleng. Namun, nyawanya tak tertolong setelah berulangkali masuk keluar rumah sakit. Pada hari Minggu 11 Agustus 2019, anak itu menghadap Sang Khalik.

Oh Tuhan. Usianya masih sangat muda. Dia menderita dua penyakit klasik-primitif, kurang gizi dan tuberkulosis. Wajah kemiskinan itu tampak bening di tengah gema gaung industri pariwisata Bali yang mendunia.

Nasib Mustika Sari nyaris setali tiga uang dengan Putri Dewi Nilaratih.

Pagi itu wajah Putri terlihat pucat, lesu, dan keringat dingin mengucuri keningnya. Pelajar SLTP Peureulak, Kabupaten Aceh ini tidak mengeluh.

Namun, teman-temannya melihat Putri sedang menahan sakit yang luar biasa. Ternyata benar Putri memang sakit. Perutnya lapar. Sejak Rabu 7 Agustus 2019, remaja berusia 14 tahun itu belum makan. Oh Gusti!

Sebagaimana ditulis seniorku di jagat jurnalistik, Asro Kamal Rokan (Antara, Jumat, 9 Agustus 2019), setelah diberi makan, guru dan teman-temannya menyarankan agar lain kali Putri sarapan dulu sebelum berangkat ke sekolah.

Mendengar saran itu, air mata Putri menetes. "Di rumah tidak ada beras..," ujarnya lirih. Putri menghapus air matanya dengan jilbab. Setelah diberi makan oleh pihak sekolah, remaja malang ini diantar pulang ke rumah.

Di mata guru dan teman sekelasnya, Putri Dewi murid yang baik. Menurut gurunya, dia rajin ke sekolah dan nilai pelajaran Putri di atas rata-rata. Selama ini, Putri tidak pernah menceritakan kesulitan yang dialami keluarganya. Dia memilih diam dan tekun belajar.

Media online Aceh, modusaceh.co mewartakan, rumah orangtua Putri di Dusun Tualang Masjid Desa Tualang, Kecamatan Peureulak, Aceh Timur berdinding triplek dan papan, beratapkan daun rumbia, dapurnya lapuk dan bocor.

Putri merupakan anak keempat dari enam bersaudara buah kasih pasangan Suparno dan Mariani. Ayahnya tidak punya pekerjaan tetap. Untuk menafkahi keluarga, Suparno terkadang ke Banda Aceh, bekerja apa saja. Kerja serabutan.

*

Begitulah tuan dan puan. Tatkala sekelompok elite politik negeri ceria merayakan kemenangan Pilpres dan Pemilu 2019, gencar lobi merebut kursi menteri, ketika sejumlah pejabat negara ditangkap tangan KPK karena dugaan korupsi dan NKRI memasuki hari jadi ke-74, kenangkanlah dua anak bangsa ini: Ni Luh Mustika Sari dan Putri Dewi Nilaratih.

Ni Luh Mustika Sari dan Putri Dewi kiranya tidak sendirian. Rona kemiskinan telah menjadikan jutaan balita, anak-anak dan remaja kita, yang mestinya tidak dibebankan untuk berpikir soal sesuap nasi, menderita tak terkira.

Wajah kemiskinan masih berjingkrak ria di pelosok Ibu Pertiwi, dari Sabang hingga Merauke, Miangas sampai Rote. Anak-anak dan remaja dari keluarga miskin lazimnya menerima kenyataan seolah itulah kehidupan yang harus mereka lakoni. Sehari belum tentu bisa makan tiga kali. Sekali saja pun sudah disyukuri.

Di sisi lain, rakyat Indonesia kembali mendengar dan melihat fakta miris ini. Hari Rabu 7 Agustus 2019, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap tangan sebelas orang diduga terkait suap impor bawang putih.

Penyidik komisi antirasuah menyita uang Rp 2 miliar dan sejumlah uang dolar Amerika Serikat. Menurut KPK, uang itu diduga untuk Nyoman Dhamantra, anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan.

Sepekan sebelumnya, Rabu malam 31 Juli 2019, KPK menangkap tangan lima orang setelah transaksi dugaan suap proyek di Angkasa Pura (AP) ll. Penyidik menyita uang sebesar 96.700 dolar Singapura dari staf PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT Inti). Satu di antara yang ditangkap tangan malam itu Direktur Keuangan AP II Andra Y Agussalam. KPK tetapkan Andra sebagai tersangka suap.

Dua operasi tangkap tangan (OTT) beruntun tersebut menunjukkan betapa praktik korupsi di ini negeri akut amat. Pelakunya pun lagi-lagi mereka yang sesungguhnya tidak berkekurangan. Mereka yang kuat kuasa. Sejak 2004 hingga 2019, KPK telah menangkap 21 gubernur dan 103 wali kota/bupati di Indonesia.

Jumlah anggota DPRD/DPR jauh lebih banyak lagi. Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat 254 anggota Dewan menjadi tersangka korupsi sepanjang 2014-2019. Dari angka tersebut, 22 orang di antaranya anggota DPR yang pendapatannya per bulan bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Orang-orang besar dan hebat semacam ini toh tak pernah jera. Hukuman badan dan denda materi seolah tak mempan. Ada saja yang nekat mencuri uang rakyat dan masih pula tersenyum tanpa beban ketika mengenakan rompi oranye di gedung Merah Putih KPK.

Tak pelik memahami peristiwa ini. Jelas bahwa mereka yang menggarong uang rakyat, bukan kaum fakir miskin dan papa. Gaji yang mereka peroleh dari negara serta pendapatannya lebih dari cukup untuk sekadar makan minum dan membiayai kebutuhan sehari-hari.

Mereka biasa rapat di ruang berpendingin udara, bersua muka di hotel berbintang, makan malam di restoran mewah. Pun untuk beli secangkir kopi saja, bisa menghabiskan uang ratusan ribu rupiah, jumlah yang berarti sesuatu bagi kaum papa. Benar kata orang bijak bestari, keserakahan dapat membutakan mata dan hati.

Di tengah euforia politik Pemilu 2019 yang melelahkan itu, tak sedikit jumlah sesama anak bangsa yang nasibnya kurang beruntung. Di Nusa Tenggara Timur misalnya, rata-rata dua hari sekali menerima kiriman peti mati TKI ilegal dari negeri jiran Malaysia. Nekat mencari sesuap nasi di negeri orang, malah pulang mengalirkan air mata duka.

Gelombang pemutusan hubungan kerja terjadi di berbagai perusahaan besar dan menengah. Saban hari ada saja yang mengeluh hidup tidak berubah menjadi lebih mudah.

Ni Luh Mustika Sari dan Dewi Putri Nilaratih hanyalah contoh. Masih banyak anak dan remaja seusia mereka tak tersentuh akses kesehatan dan pendidikan yang layak.

Mustika Sari dan Dewi Putri tidak meminta, tidak yang bukan haknya. Mereka cuma bisu menahan pilu. Ironi di negara merdeka, Indonesia Raya yang dibangun para pendiri bangsa dengan tujuan mulia menghadirkan kesejahteraan rakyat. Merdeka dari apa dan untuk siapa?

Bumi dan seisinya sesungguhnya mampu memenuhi kebutuhan lebih dari 7 miliar penduduk dunia, tetapi takkan pernah cukup untuk satu orang yang serakah. Bagaimana menurut tuan dan puan? Selamat hari ulang tahun ke-74 Republik Indonesia. Ad multos annos. Dirgahayu! (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Bersua Umbu Landu Paringgi


Cak Nun dan Umbu Landu Paringgi 5 Agustus 2019
Meski dikau berada di Bali, tak mudah bersua Om Umbu Landu Paranggi.

Maka kubersyukur bisa mendengar suara dan menikmati sekulum senyum Sang Presiden Malioboro, lima hari menjelang ulang tahunnya ke-76.

Malam yang asyik di Batubulan saat peluncuran buku Metiyem, Pisungsung Adiluhung untuk Umbu Landu Paranggi.

Buku ini dirajut tim penyusun yang terdiri dari Iman Budi Santosa, Mustofa W Hasyim, Sutirman Eka Ardhana dan Budi Sardjono. Prolog apik dari Sapardi Djoko Damono dibalut epilog menggetarkan Emha Ainun Nadjib.

Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun berkali-kali menyapa Om Umbu Landu Paranggi sebagai mahaguru.

Ya, pria kelahiran Kananggar, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur itu sungguh seorang guru. Guru sastra. Muridnya banyak. Karya mereka berkelas dan meninggalkan gema abadi dalam jagat sastra Indonesia.

Malam itu Om Umbu banyak senyum. Suaranya masih renyah menggelegar.
Namun kulihat dia tercenung ketika seorang penyair muda membacakan puisi karya sahabatnya,Taufik Ismail...

Beri Daku Sumba

Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
Aneh, aku jadi ingat pada Umbu

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh...

Campuhan, Batubulan, Gianyar Bali
Dari sepenggal malam yang hangat
5 Agustus 2019.

Si Bening yang Bersemayam di Perut Raja Laut



ilustrasi
SEPERTI hari-hari yang telah berlalu, di pagi yang cerah itu saya bersua lagi pria paruh baya yang energik di lapak sayur.

Baju kausnya masih basah oleh keringat. Wajahnya berbinar. Ramah menyapa. Dia baru saja joging selama kurang lebih 45 menit mengitari kawasan perumahan.

Sebelum pulang ke kediamannya, dia mampir di lapak sayur yang letaknya tak jauh dari tempat kosku.

“Selamat pagi Pak, wah baru selesai joging ya?” sapaku padanya. Dia menjawab salamku sambil menebarkan senyum. Pak Dirman memang punya kebiasaan menawan. Dia rajin berolahraga serta mau belanja kebutuhan rumah tangga, sesuatu yang tidak banyak dilakoni kaum pria semacam saya.

Sekurang-kurangnya dua atau tiga hari sekali dia belanja sayur mayur, ikan, daging, bumbu dapur dan aneka kebutuhan lainnya di lapak tersebut.


“Bagi tugas dengan istriku. Maklum dia pagi-pagi sekali harus ke kantor, sedangkan waktu kerja saya lebih luwes, bisa atur sendiri,” kata pria berusia 52 tahun asal Jawa Tengah yang wiraswasta ini.

Kebiasaan lainnya adalah dia selalu membawa tas kain dari rumah untuk mengisi semua belanjaannya. Tak pernah sekalipun saya lihat dia meminta tas kresek (plastik) kepada pemilik lapak sayur. Tas kain so pasti bisa dipakai berkali-kali. Bukan cuma sekali lalu berubah menjadi sampah.

“Saya dan istri pakai tas kain untuk isi belanjaan begini sejak lima tahun lalu. Jadi lebih dulu dari Peraturan Gubernur Bali. Kami terinspirasi saat melawat ke negeri Kanguru,” kata Dirman yang sudah 21 tahun tinggal di Denpasar. Yang dia maksudkan adalah Peraturan Gubernur (Pergub) Bali No. 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbunan Plastik Sekali Pakai.

Peraturan itu sudah berlaku di seluruh Bali sejak penghujung 2018 dan meraih apresiasi positif masyarakat termasuk masyarakat dari luar Bali dan mancanegara. Saya yang belum lama menghuni Pulau Dewata ini masih gagap. Ke minimarket, mal, kios dan pasar masih saja lupa bawa tas yang bisa dipakai berulang. Ini karena kebiasaan mengelola sampah tidak tertanam sejak bocah dan di tempat asalku belum ketat berlaku aturan serupa itu.

Ya, Provinsi Bali tergolong lebih maju merespons kampanye nasional mengurangi sampah plastik di ini negeri. Bali lekas mengeksekusi melalui kebijakan lokal dibandingkan dengan provinsi lain, sebut misalnya tetangganya Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Ketika daerah lain masih omong -omong, Bali sudah mulai beraksi.

Indonesia hari ini sungguh tidak boleh memandang remeh lagi sampah plastik. Berbagai publikasi menyebutkan negara kita nomor dua di dunia yang terbanyak mengotori lautan dengan sampah plastik setelah Tiongkok.

Berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia menebarkan sampah plastik ke laut sebanyak 187,2 juta ton per tahun atau nomor dua setelah China yang mencapai 262,9 juta ton. Urutan ketiga Filipina sebanyak 83,4 juta ton, diikuti Vietnam 55,9 juta ton, dan Sri Lanka yang mencapai 14,6 juta ton per tahun.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut 100 toko anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) menghasilkan 10,95 juta lembar sampah kantong plastik dalam setahun. Jumlah itu setara luas 65,7 hektar kantong plastik atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola.

Pada 2018, merujuk data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia 64 juta ton per tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.

Menurut sumber yang sama, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 milar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik. Data Greenpeace Indonesia menyebutkan, produksi sampah di Indonesia mencapai 65 juta ton per tahun. Sebanyak 10,4 juta ton atau 16 persen merupakan sampah plastik. Ngeri bung!

Tsunami kantong plastik di negeri tercinta memang miris. Sampah plastik memenuhi jalanan, saluran air, menyelimuti semak belukar bahkan sudah masuk ke usus hewan yang merupakan sumber protein manusia.

Hari Senin 19 November 2018, Wakatobi geger. Dalam perut paus Sperma sepanjang 9,6 meter yang terdampar ditemukan sampah plastik seberat 5,9 kg. Paus itu mati. Kasus Wakatobi pun menambah litani mamalia ini menelan sampah plastik yang berujung kematian.

Di perairan Bunaken Sulawesi Utara yang indah itu, pada tahun 2012 silam peneliti menemukan si bening sampah plastik bersemayam riang di perut ikan Raja Laut (Coelacanth). Pedih sekali. Ikan purba yang menurut undang-undang dilindungi tersebut sejatinya tak terlindungi sama sekali.

Sampah plastik merusak kesan eksotis suatu destinasi. Pimpinan Tribun Network Kompas Gramedia, Mas Febby Mahendra Putra suatu ketika jalan-jalan ke SoE, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Jarak kota dingin itu dari Kota Kupang kurang lebih 120 km.

Beliau menikmati panorama alam Pulau Timor yang dominan sabana dengan vegetasi khas dan semilir angin sepoi yang menggoda. Namun, kesan yang membekas di batinnya justru mengenai sampah. “Sepanjang jalan saya melihat sampah plastik berserakan di sisi kiri dan kanan jalan. Mengapa orang begitu mudah membuangnya?” kata Febby.

Begitulah adanya. Pemandangan jamak di berbagai pelosok NTT adalah sampah plastik bertebaran. Bahkan daerah cagar alam seperti Gunung Mutis pun tidak luput. Demikian pula Labuan Bajo, Pulau Padar di kawasan Taman Nasional Komodo, Flores Barat yang kesohor itu. Masih saja orang membuang sampah plastik sesukanya.

Jadi langkah Bali mengurangi timbunan sampah plastik merupakan pilihan yang baik. Destinasi wisata andalan provinsi ini bakal kehilangan pesona manakala sampah plastik berlepotan di mana-mana. Lantas apakah Pergub Bali Bali No. 97 Tahun 2018 tersebut efektif? Apa indikator untuk mengukur level keberhasilannya?

*

Mari sejenak berkaca. Kampanye nasional memerangi sampah plastik di Indonesia bisa dilukiskan masih setengah hati. Sampai saat ini pemerintah belum pernah memastikan berapa penurunan penggunaan kantong plastik sejak diterapkan kebijakan kantong plastik berbayar pada 21 Februari 2016.

Mohon maaf tuan dan puan. Efektivitas kebijakan yang bertujuan mengurangi jumlah sampah plastik ini fakir hasil. Jauh panggang dari api. Tipis rasa optimistis sampah bakal menjauh dari saluran air, sisi jalanan dan lautan biru Nusantara yang kaya ikan dan udang.

Maka bolehlah berlayar ke negeri nun jauh Afrika. Berguru dulu ke Kenya barang sejenak karena untuk urusan ini bukan saat yang elok menimba ilmu sampai ke negeri China.

Wartawan Kompas, Ahmad Arif dalam Harian Kompas, 11 April 2019 halaman 10 melaporkan pengalaman inspiratif yang patut ditiru.

Kenya merupakan negara yang membelakukan larangan penuh penggunaan kantong plastik. Negeri itu menerapkan larangan memakai, memproduksi dan mengimpor kantong plastik. Sanksi berat dikenakan bagi pelanggar. Bukan main keras dan beratnya yaitu berupa denda uang mulai dari 19.000 dollar hingga 30.000 dolar AS (kurang lebih Rp 400 juta) hingga penjara 4 tahun.

Hanya setahun sejak pemberlakuan larangan itu, lingkungan di Nairobi, ibukota Kenya mengalami transformasi luar biasa. Tidak terlihat lagi sampah plastik di sepanjang jalan yang terbang ke mana-mana kalau musim angin. Pun sirna sudah kebiasaan buruk sejumlah orang yang bungkus kotoran pascabuang hajat dengan kantong plastik lalu dilempar hingga kota ini dijuluki “toilet terbang”.

Lingkungan Nairobi bersih dari sampah kantong plastik. Di pasar swalayan atau pasar tradisional, orang membungkus barang belanjaan dengan kertas, kardus atau ngiri-ngiri, tas tradisional dari kulit atau kain.

Pelarangan penggunaan kantong plastik memicu inisiatif dan kegairahan baru di kalangan warga untuk mencari pengganti yang inovatif. Sorang siswi di Kenya timur menciptakan tas dari daun pisang kering. Fotonya viral di media sosial.

Banyak orang meniru langkahnya. Demikian pula aneka tas tradisional dari rajutan berbahan serat alami kembali bermunculan. Masyarakat Kenya tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kantong plastik.

Tentu saja kebijakan berani itu bukan tanpa perlawanan. Penentang utama terutama datang dari kalangan industri plastik yang berjumlah 170 perusahaan.

Kenya Association of Manufactures (KAM) beralasan warga yang terlibat dalam industri plastik di Kenya mencapai 60.000 orang atau 3 persen dari tenaga kerja di negara tersebut.

Mereka menggugat pemerintah Kenya agar membatalkan aturan ini. Namun pengadilan menguatkan keputusan pemerintah. Memasuki tahun kedua pelarangan kantong plastik sekali pakai ini ternyata tidak menimbulkan gejolak sosial dan ekonomi berarti. Justru melahirkan industri baru yang produksinya lebih ramah lingkungan.

Kenya kini menjadi tempat belajar masyarakat dunia karena mau memilih opsi tegas. Tiba-tiba tergelitik, mengapa Indonesia atau Bali tidak meniru langkah negeri Afrika tersebut? Larang penuh penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Efeknya pasti sesuatu, lebih nyata hasilnya dibandingkan kondisi Bali hari ini. Bali bebas sampah (kantong) plastik niscaya menjadi promosi yang makin mengharumkan namanya. Bagaimana menurut tuan dan puan?  (dion db putra)

Sumber: Rubrik Ngopi Santai Harian Tribun Bali

Wartawan yang Mencintai Profesi Lebih dari Segalanya



Valens Doy
Mengenang 5 Tahun Wafat Valens Doy (3 Mei 2005-3 Mei 2010)

Oleh Steve H Prabowo

“Papa … Papa jangan tinggalin Elva!”

Suasana ruang Intensive Care Unit RSUD Sanglah, Denpasar, mencekam. Gadis itu, Elva, putri sulung wartawan senior Valens Goa Doy, memegang tubuh sang ayah. Sementara sang ibu, Ny Elsa Doy, memegang kaki almarhum.

Air matanya jatuh. Ya, malam itu, Selasa, 3 Mei 2005, Oom Valens – begitu ia biasa dipanggil para murid dan anak buahnya – meninggal dunia.

Beberapa saudara, teman-sahabat dan anak didik Oom Valens yang hadir di ruangan itu tepekur.

Sementara dokter dan paramedis mencoba menyelamatkan hidupnya, yang hadir memanjatkan doa berdasarkan agama dan keyakinan masing-masing.


Tampak sejumlah wartawan dan mantan wartawan Kompas, Damyan Godho, Frans Sarong, juga bekas anak didik almarhum di Persda Kompas-Gramedia seperti Victorawan “Itong” Sophiaan, Sri Unggul Azul dan Suwidi Tono.

Hampir satu jam upaya membuat jantung Oom Valens berdetak dilakukan. Namun, tubuh Oom Valens tetap tak bergerak. Pendiri koran-koran daerah milik Kelompok Kompas-Gramedia itu meninggal dunia.

Azul yang satu jam sebelumnya telah mengabarkan kematian Oom Valens lewat pesan teks kepada rekan-rekan lainnya, menghela nafas panjang. “Gua nyesel kirim berita duka duluan,” keluhnya.

Satu jam sebelumnya, kami, saya, Azul dan Itong, masih berada di luar ICU, ketika Frans Sarong mengabarkan Oom Valens meninggal. Azul langsung mengirim berita duka ke beberapa teman. Kami pun bergegas masuk ruangan tempat Oom Valens dirawat.

Ternyata, dokter dan para pembantunya sedang mengupayakan penyelamatan. Pesan teks Azul rupanya menjadi pesan berantai yang akhirnya, entah dari tangan ke berapa, kembali lagi pada pengirimnya.

Di dipan rumah sakit, tubuh Oom Valens membujur dikelilingi keluarga dekatnya, Tante Elsa, Elva dan Alex Doy, juga saudara kandungnya, Tante Waldeet dan Romo Frans Doy Pr. Isak tangis masih terdengar.

***

Mendengar tangisan dan ratapan Elva, ingatan saya kembali ke belasan tahun silam. Tepatnya tahun 1989. Oom Valens yang tengah membuka Harian Surya di Surabaya, lebih banyak tidur di mes kantor Jl Basuki Rachmat ketimbang bersama keluarganya di Jl Tumapel.

Malah, ia lebih suka tidur di ruang lay out, ketimbang di kamar mesnya.
Istrinya, Tante Elsa, setiap hari mengirim makanan ke kantor.

“Gila si Oom itu,” kata Manuel Kaisiepo, redaktur saya, ketika ngopi di kantin Gramedia. “Anaknya sudah lima hari di rumah sakit, dia baru tadi jenguk,” imbuh Manuel.

Hari itu memang hari kelima Elva dirawat di rumah sakit. Baru hari itu pula, Oom Valens menjenguk putri sulungnya.

“Nggak sempat,” kata Oom Valens, tertawa ketika saya tanya. “Mana sempat urus yang begitu-begitu (keluarga, pen), kalau kalian masih bikin berita biasa-biasa saja,” ujarnya.

Bagi Valens waktu itu, keluarga nomor dua. Pekerjaan nomor satu. Tapi itu berubah menjelang akhir hidupnya.

Sekitar seminggu sebelum meninggal, ketika hendak makan malam di rumah makan seafood di Cikini Raya, Oom Valens meminta saya ikut mobilnya, sementara teman lain berangkat duluan. Di mobil ia berpesan: “Keluarga itu yang paling penting. Jangan sia-siakan mereka, jaga mereka.”

Mereka yang mengenal Valens, pasti tidak percaya kalimat itu keluar dari mulutnya.

***

Berita adalah hidup sehari-hari Valens. Hidupnya dari deadline ke deadline. Selesai produksi, waktu itu koran masih sering terlambat, sekitar pukul 01.00 WIB, ia sudah rapat dengan para redaktur dan redaktur pelaksana.

Oom Max Margono, Trias Kuncahyono, dan (pada awal-awal Surya terbit) Oom Peter A Rohi, merupakan teman rapat rutinnya setiap dini hari.

Dalam rapat, ia menyusun penugasan kepada para redaktur dan kepala biro, untuk diteruskan kepada reporter-reporternya di lapangan esok harinya. Penugasannya begitu detil dan jelas.

Usai rapat, biasanya koran sudah terbit. Ia langsung memeriksa semua halaman, tak terlewat satu pun. Mencoret-coret koran dengan pena, baik untuk evaluasi maupun untuk dikembangkan lagi beritanya.

Pekerjaan ini biasanya dilakukan sampai subuh.

Pukul 08.00 WIB, Valens sudah rapi duduk di ruang rapat dengan koran yang sudah dicorat-coret di hampir setiap halamannya. Ia siap memimpin rapat redaksi pagi.
Usai rapat dengan redaksi, ia biasa juga mengadakan rapat dengan tim bisnis yang waktu itu dipimpin Herman Darmo.

Sore ia sudah memimpin rapat budgeting. Kantor yang sejak siang sepi, ramai oleh suara ketukan tuts kibor. Canda dan obrolan wartawan terdengar. Di antara hiruk pikuk itu, yang paling keras adalah suara Valens Doy. Teriakan, teguran, bahkan ketawanya terdengar dari depan sampai mes belakang kantor.

Begitulah kegiatan sehari-hari Valens Doy. Rutin, tapi penuh ketegangan, terutama bagi bawahannya.

“Dia memang kerja seperti kuda,” kata DJ Pamoedji, wartawan senior Kompas, saat menunggu jenazah disemayamkan di ruang duka.

Di proyek Surya, Mas Pam pernah berantem hebat dengan Oom Valens. Gara-garanya, Pamoedji marah diajak rapat pukul 03.00. “Emang semua kaya lu, kerja kaya kuda!” bentak Pamoedji, ketika pintu kamarnya diketuk Valens. “Orang perlu istirahat!”
Mereka bertengkar hebat, sampai-sampai Pamoedji membanting pintu. “Gua pulang (ke Jakarta) besok!” katanya.

Pamoedji benar-benar pulang ke Jakarta hari itu.

Menyadari kehilangan teman kerja yang andal, Valens pun minta maaf dan meminta Pamoedji kembali ke Surabaya, melanjutkan proyek Surya.

Istirahat dan santai adalah dua kata yang mungkin tidak dikenal Valens zaman itu. Bekerja bersama dia, jangan sekali pun berharap bisa bersantai. Ada cerita menarik di proyek penerbitan koran di Ambon, Pos Maluku, tahun 1990.

Suatu hari Sabtu sore (koran tidak terbit hari Minggu), kami – saya, Satrio Hutomo, Muhammad Yamin, dan Adrizon Zubair – berencana santai ke diskotek kota itu. Rencana itu gagal dengan kedatangan Oom Valens ke kantor.

 “Ayo, cicil untuk (terbitan) Senin!” teriaknya ketika kami duduk-duduk di depan kantor. Tommy, panggilan Satrio Hutomo, yang paling kesal. Tak lama kemudian, syukur pada Tuhan … listrik mati!

Si Oom marah besar, memaki-maki PLN karena tulisan dia hilang akibat mati listrik. Tommy menahan tawa, demikian juga Adrizon. Sikap mereka itu membuat saya dan Yamin berpikir bahwa merekalah, atau paling tidak salah satu dari mereka, dalang matinya listrik di kantor Pos Maluku.

***

Bekerja dengan Valens Doy sama artinya dengan menempatkan kantor sebagai rumah pertama, sedangkan tempat tinggal hanya “losmen” tempat berganti baju.

Tanggal 7 Desember 1989 malam, saya bertiga bersama Anwar Hudijono dan Trias Kuncahyono ngobrol-ngobrol sehabis kerja. Salah satu topik obrolan adalah wafatnya KH Ali Maksum hari itu.

Pukul 03.00 dini hari saya pamit. Sesampai di rumah, belum sempat ganti baju, sopir kantor datang. “Mas, dijaluk Oom balik kantor. Nggawa klambi, dikongkon luar kota (Mas, diminta Oom kembali ke kantor. Bawa baju, disuruh ke luar kota),” katanya.

Dini hari itu juga, saya berangkat ke Yogya mengikuti Ano – panggilan Anwar Hudijono – meliput wafatnya KH Ali Maksum. Tentu, dalam hati mengeluh: “Daripada pergi jam segini, kan mending dari tadi. Gak cape.”

Keasyikan ngobrol di kantor kadang ada untungnya. Salah satunya yang dialami Trias Kuncahyono, kini Wapemred Kompas. Hari itu, 26 Desember 1989, sekitar pukul 03.00 WIB, Trias masih berada di mejanya usai ngobrol dengan beberapa reporter dan redaktur.
Entah karena tak bisa tidur, ia iseng-iseng melihat lembaran teleks dari kantor berita. Waktu itu ia memang menangani desk luar negeri.

Tiba-tiba matanya membelalak. Malam hari sebelumnya, ia menulis headline “Ceausescu Ditangkap”. Nicolae Ceausescu memang ditangkap 22 Desember 1989 waktu Bucharest.

Tapi, pagi itu ia menemukan berita pendek, entah dari Reuters atau AFP, diktator Romania itu sudah dieksekusi, 25 Desember 1989 waktu setempat. Langsung ia telepon percetakan untuk stop press. Hari itu, sementara semua koran di Indonesia memasang headline Ceausescu ditangkap, Surya memasang judul “Ceausescu Ditembak”.

Total. Itu kata yang tepat untuk menggambarkan kerja Valens Doy. Ia selalu ingin timnya total bekerja. Awal tahun 1990-an, dan pasti sebelumnya juga, ia dikenal sebagai pribadi yang tanpa kompromi untuk hasil terbaik.

 Seperti yang dilakukannya sendiri, Valens Doy selalu menuntut anak buahnya untuk total dan bekerja keras.

“Kerja keras nggak bikin orang mati,” kalimat itu sering didengar anak didik atau rekan kerjanya.

Tentu bagi yang tidak terbiasa, atau bahkan yang sudah terbiasa sekalipun, bekerja sama dengan Valens Doy kadang merupakan siksaan. Baru datang liputan, sudah disuruh berangkat lagi. Entah untuk melengkapi hasil liputan yang dirasa kurang, atau liputan baru lagi.

***

Bagi yang mengenal dia, Valens Doy adalah sosok tanpa kompromi. Apa yang diinginkan harus terpenuhi. “Tidak ada sesuatu pun yang tidak bisa dikerjakan,” kata Oom Valens, di suatu hari bulan April 2005, saat rehat setelah seharian kami bertiga – Oom Valens, Azul Sjafrie dan saya – berdiskusi membahas konsep koran baru milik Grup MNC, Seputar Indonesia.

Ia lalu bercerita tentang awal-awal proyek Surya. Dari cerita itu, tampak jelas sosok seorang Valens yang penuntut, tanpa kompromi.

Ketika memulai proyek Surya, tutur Valens, ia sudah mensyaratkan adanya percetakan sendiri. Dengan saingan Jawa Pos yang sudah meraja, mustahil menerbitkan koran tanpa percetakan sendiri.

Tidak hanya meminta mesin cetak sendiri, Valens Doy juga menuntut mesin harus sudah siap saat dummy koran. Itu artinya, mesin harus sudah siap cetak tiga bulan dari saat kick off.

Tentu saja para ahli percetakan dari Kelompok Kompas Gramedia langsung menggeleng.
“Tidak mungkin,” kata mereka. Mesinnya saja saat itu masih di Jerman. Perjalanan ke Indonesia butuh lebih dari seminggu. Belum lagi fondasi untuk mesin cetak yang menurut mereka butuh paling cepat dua minggu. Ditambah lagi waktu merakit mesinnya.

Bukan Valens Doy kalau ia menyerah pada argumentasi semacam itu. Ia tetap ngotot mesin harus sudah siap cetak dalam waktu tiga bulan. “Nggak ada mesin, nggak ada koran,” ultimatumnya. Ia benar-benar tidak mau kompromi sedikit pun.

Tim percetakan rapat mencari cara untuk mempersiapkan mesin. Akhirnya ditemukan cara, dengan melakukan semua pekerjaan secara paralel. Baik persiapan mesin, pembuatan fondasi untuk gedung percetakan, sampai perakitan mesin, semua dilakukan bersamaan.
Hasilnya, ketika gedung dan konstruksi untuk mesin selesai, mesin pun tiba di Surabaya, tinggal memasangnya. Semuanya tepat waktu.

“Yang dibutuhkan cuma kemauan berpikir di luar frame,” kata Valens, mengakhiri ceritanya.

Jangan pernah bilang “tidak” di depan Valens Doy. Ia tidak akan mendengarnya. Kata “tidak” mungkin tidak ada dalam perbendaharaan otaknya. Kalimat “Ya, Oom!” biasanya otomatis keluar dari mulut, begitu Valens Doy memberi perintah. Bahkan, seringkali belum habis ucapan Valens, anak buahnya sudah menjawab: “Ya, Oom!”

Tidak bisa adalah kalimat tabu bagi dia. Setelah harian Pos Kupang terbit, saya ditugaskan Valens Doy ke Dili untuk proyek Suara Timor Timur (STT). Oom masih di Kupang ketika saya tiba di Dili. Dia menyusul keesokan harinya. Tiga hari ke depan STT harus sudah terbit.

Tiba di kantor STT saya agak pesimistis. Di kantor cuma ada tiga komputer, dua desktop dan satu laptop milik Oom Valens. “Pasti bisa. Harus bisa,’’ kata si Oom. Dari sisi kesiapan redaksi mungkin tidak masalah, karena sebagian wartawan dan redaktur sudah berpengalaman.

Kebanyakan dari Majalah Dian yang terkenal sebagai tempat belajar wartawan asal NTT. Tapi dari sisi infrastruktur? Bagaimana mungkin tiga komputer, salah satunya untuk layout, bisa mendukung deadline?

Benar. Koran bisa terbit sesuai jadwal, meski deadline molor tiga jam. Pagi itu juga, semua koran yang dicetak habis terjual. Tak satu pun koran masih tersisa di kantor, termasuk untuk dokumentasi ikut dijual juga.

***

Tampang sadis, jiwa romantis. Itu ungkapan saya untuk Valens Doy. Meski tanpa kompromi untuk tugas, ternyata hatinya sangat lembut. Ia mudah tergerak hatinya melihat penderitaan orang lain.

Satu peristiwa yang melekat di ingatan saya tentang hal ini. Tahun 1990, saya diajak Oom Valens ikut serta di proyek penerbitan Tifa Irian di Jayapura, Papua. Seperti biasa, tangan besi dipakai Valens di koran baru ini. Ia tak bisa melihat siang hari wartawan masih di kantor.

“Oom istirahat sebentar ya,” katanya pada saya, sambil naik tangga menuju attic kantor yang sehari-hari dijadikan tempat tidur wartawan Tifa malam hari. Sejenak kemudian saya terkejut oleh suara Oom. “Jam segini belum berangkat?” bentaknya marah. Rupanya di atas masih ada seorang wartawan yang masih “di kamar”.

“Tidak bisa bekerja, Bapa,” kata wartawan itu ketakutan. “Harus cuci baju,” lanjutnya. Alasan itu membuat Valens tambah naik pitam. Alasan yang tak masuk akal, masakan mencuci baju saja harus mengorbankan pekerjaan. Rupanya si wartawan hanya punya sepotong baju yang dicuci seminggu sekali.

Mendengar pengakuan wartawan itu, Oom terdiam. Ia menengok ke arah lain, dan turun. Saya lihat matanya berkaca-kaca. Setelah bisa menguasai diri, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan uang dari dompetnya. “Kau belilah baju,” katanya.

Valens Doy menangis. Mungkin tak banyak orang punya kesempatan istimewa melihat hal itu. Kenangan Oom Valens menangis itulah yang melintas di pikiran saya ketika melihat tubuhnya terbujur diam di RSUD Sanglah, 3 Mei 2005 malam itu.

Isak tangis dan untaian doa masih terdengar. Valens Doy masih dikelilingi dokter dan perawat yang mencopoti alat-alat penyelamatan di tubuhnya. Ia diam, wajahnya tenang seperti sedang tidur. Wartawan yang mencintai profesinya melebihi apa pun itu telah pergi. ***

Sumber: Facebook Steve H Prabowo

Pembeli Pun Bisa Belari-lari

ilustrasi
JUDUL menohok ini langsung menarik perhatian saya ketika memulai aktivitas kerja pagi 1 Juli 2019. Kompas.com menulis demikian, Kejayaan ITC Mangga Dua Mulai Surut, Pembeli Pun Bisa Berlari-lari…

Saat diakses pada pukul 09.05 Wita, artikel ini menempati posisi nomor satu terpopuler, sudah dibaca 122.696 kali. Ya, siapa tidak kenal ITC Mangga Dua? Tempat itu merupakan satu di antara pusat perbelanjaan favorit di Jakarta.

Saya pernah beberapa kali berkunjung ke pusat perbelanjaan tersebut. Koleksi pakaiannya memang sangat beragam dan sesuai selera pasar. Kiranya banyak orang pernah ke sana bukan?

Kompas.com melukiskan lokasi ini dulu merupakan salah satu pasar tersibuk di ibu kota. Pada masa itu, pengunjung yang datang untuk berjalan kaki saja susah, tak hanya pengunjung yang padat, tapi ruang-ruang yang ada juga dimanfaatkan oleh pedagang sehingga hanya tersisa sedikit ruang untuk berjalan kaki.

Namun, kini pemandangan itu sirna. Seperti terlihat pada Minggu 30 Juni 2019, hari yang lazimnya masyarakat berbelanja, ITC Mangga Dua tak lagi seramai dulu. Kesepian sungguh terasa. Banyak ruang kosong. “Pembeli pun bisa berlari-lari,” kata seorang penjual dalam nada berseloroh yang miris.

Mau bilang apa, inilah perubahan yang sedang terjadi. Benarlah apa yang sejak lama diingatkan para pakar bahwa generasi milenial akan merontokkan banyak hal, baik produk, layanan jasa bahkan bidang kerja yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun digeluti manusia. Mereka menyebutnya “millennials kill”.

Anda bisa baca ulasan menarik Andrew Bridgman berjudul The Official Ranking of Everything Millennials Have Killed (http://www.collegehumor.com/post/7045438/millennials-are-bad). Dibeberkan aneka produk dan layanan yang “dibunuh” kaum milenial.

Sebut misalnya bir di urutan ke-5, kartu kredit urutan ke-10, sabun batang 15, department store di urutan 20, TV kabel 21, olahraga golf 23 dan berlian di urutan ke-29.

Sekarang kita mengerti mengapa ITC Mangga cenderung sunyi. Nasib yang mirip pun sudah mendera pusat-pusat perbelanjaan lainnya di tanah air.

Sungguh tak dapat dipungkiri bahwa perilaku dan preferensi kaum milenial berubah drastis dibandingkan dengan generasi sebelumnya seperti Baby Boomers dan Gen-X, sehingga produk dan layanan tertentu tidak relevan lagi bahkan terancam punah.

Setidaknya sejak dua tahun terakhir pengunjung department store di seluruh dunia termasuk di Indonesia seperti Ramayana, Matahari Lotus secara pelan tapi pasti mulai bertumbangan. Jumlahnya tak serimbun masa lalu.

Musababnya adalah milenial yang bergeser perilaku dan preferensinya tadi. Ciri perilaku milenial adalah lebih doyan berbelanja via online dan tak lagi getol berburu barang, mereka justru banyak mengonsumsi pengalaman (leisure).

Anak saya yang berusia 19 tahun, saat mengisi liburan kuliah baru-baru ini minta ongkos bukan untuk belanja barang, makan-makan atau nonton film. Tapi untuk jalan-jalan ke berbagai destinasi menarik di Pulau Timor bersama kawan-kawannya. Mereka memburu spot yang instagramable.

Cuma makan nasi bungkus pun mau. Kulitnya terpanggang matahari bukan masalah besar. Sebelumnya, saat liburan tengah semester dia pun jalan-jalan ke bumi Parahyangan. Begitu ceria dan penuh semangat menjelajahi beragam spot menarik di Jawa Barat.

Jadi kaum milenial tak gandrung amat main ke mal hari-hari belakangan. Kalaupun ke sana mereka toh sekadar cuci mata, nongkrong dan mencari suasana berbeda guna mengusir kejenuhan.

Tak berbeda dengan cabang olahraga golf. Popularitas golf mencemaskan . Sebuah survei menemukan fakta hanya 5 persen kaum milenial yang menekuni golf.

Dalam satu dekade terakhir semakin sedikit penonton yang menyaksikan event golf dunia. Jauh berkurang misalnya jika dibandingkan pada masa keemasan pegolf Amerika Serikat berdarah Thailand, Tiger Woods di era 2000-an.

Dampak kesunyian golf merebak ke mana-mana. Pada tahun 2016 raksasa produsen perlengkapan olahraga Adidas menjual sebagian besar bisnis perlengkapan golfnya karena terus-menerus merugi. Pihak Adidas menyatakan ingin fokus pada bisnis sepatu dan pakaian olahraga saja.

Sebenarnya sejak Agustus 2015, perusahaan asal Jerman tersebut meluncurkan tinjauan bisnis golfnya. Sebagai pemasok perlengkapan golf terbesar dunia, Adidas sungguh merasakan dampak buruk dari makin tidak populernya olahraga elit ini (Kompas.com, 6/5/2016, 15:00).

Perilaku kaum milenial yang unik pun mengguncang dunia kerja. Hari gini jangan lagi tuan dan puan bayangkan mereka mau rutin masuk kantor pukul 08.00 pagi dan pulang ke rumah pukul 17.00. Mereka sungguh tak betah terikat pada sistem semacam itu.

Milenial butuh fleksibilitas dalam bekerja. Dengan kata lain mereka mendambakan bisa bekerja di manapun dan kapan pun demi mencapai kinerja yang dipatok. Survei Deloitte menunjukkan, sebesar 92 persen milenial menempatkan fleksibilitas kerja sebagai prioritas utama.

Anak perempuan senior saya di dunia kewartawanan sudah pindah tempat kerja sebanyak 4 kali dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Apakah karena alasan gaji atau pendapatan? Bukan! Baginya besar kecil gaji itu relatif. Dia pindah karena mendambakan fleksibilitas itu.

Sejak penghujung tahun lalu ia bekerja pada sebuah perusahaan multinasional berbasis di Jakarta yang memenuhi harapannya. Maka dia pun bisa bekerja sambil berlibur ke Eropa  bersama kekasihnya, jalan-jalan ke Labuan Bajo dan keliling Pulau Flores yang indah itu bahkan sempat pula ke Bali. “Saya ini workcation, Om. Bekerja sambil liburan,” katanya bangga.

Artinya bila suatu tempat kerja masih kaku menerapkan gaya bekerja ala generasi Baby Boomers, maka pelan tapi pasti akan kehilangan peminat.

Tentu saja batasan waktu masuk kerja sesuai ketentuan UU ketenagakerjaan dan peraturan internal suatu instansi patut diberlakukan pula.

Namun, mengingat perilaku milenial maka unsur fleksibilitasnya jangan terabaikan. Ini menjadi ujian seni mengelola seorang manajer atau pemimpin unit kerja.

Dalam nada agak menyeramkan, ada yang bilang millennials will kill everything! Kalau demikian, tak ada jalan yang lebih elok selain kita mesti melayaninya dengan bijak.

Darwin sejak abad lalu telah mengingatkan, bukan mereka yang kuat dan hebat yang mampu bertahan hidup. Tapi yang mau beradaptasi dengan tuntutan zamannya. Atau bagaimana menurut tuan dan puan? (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes