Peran dan Tugas Kardinal dalam Gereja Katolik

Paus Fransiskus dan para kardinal
 Paus Fransiskus pada akhir Agustus 2019 memilih Mgr Ignatius Suharyo sebagai kardinal Indonesia. Suharyo adalah kardinal ketiga Indonesia.

Kardinal pertama adalah Mgr Justinus Darmojuwono yang dilantik pada 1967 di sela pengabdiannya sebagai Uskup Agung Semarang periode 1963 sampai 1981.

Kardinal kedua adalah Mgr Julius Darmaatmadja yang ditunjuk pada 1994 saat menjabat sebagai Uskup Agung Semarang.

Pada tahun 1996 Mgr Julius diminta menggembalakan Keuskupan Agung Jakarta menggantikan Mgr Leo Soekoto. Mgr Julius mundur dari Jakarta karena alasan kesehatan pada 2010.

Mgr Julius digantikan Mgr Suharyo yang kemudian ditunjuk Sri Paus sebagai kardinal.

Apa itu kardinal? Bagaimana posisinya dalam Gereja Katolik? Berikut ini ulasan Pastor Markus Solo Kewuta, SVD, Imam Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD) seperti dikutip dari Kompas.Com.

Kardinal adalah sebuah gelar rohani sangat tua di dalam Gereja Katolik, yang secara hirarkis berada langsung di bawah paus.

Paus Silvester I (314-335) adalah paus pertama yang menggagas dan membentuk gelar ini.

Secara etimologis kata "kardinal" berasal dari kata bahasa Latin "cardo", yang berarti engsel pintu yang menyambung dua helai pintu.

Kata "cardo" juga merupakan nama sebuah gereja utama kota Roma zaman dulu yang terletak di wilayah periferi Roma dan merepresentasi kehadiran gereja-gereja lokal di berbagai belahan dunia.

Berpijak pada dua pengertian di atas, seorang kardinal dipilih dan diangkat dengan sebuah tugas dan fungsi penting, yakni ibarat ‘’engsel“ yang menyambungkan Sri Paus (Tahta Suci Vatikan) dengan gereja lokal atau wilayah kerja di bawah tanggungjawab seorang kardinal.

Para kardinal bisa diidentifikasi dengan mudah melalui penampilan dengan pakaian kebesaran serba merah.

Para kardinal Gereja Katolik berbagai jenjang umur adalah anggota persekutuan para kardinal yang disebut kollegium para kardinal (College of Cardinals).

Kollegium para kardinal juga lumrah disebut "Senat Sri Paus" tetapi istilah ini sudah kedaluwarsa. Kadang istilah ini masih digunakan hanya dalam publikasi-publikasi atau tulisan-tulisan khusus saja.

Hilang munculnya istilah di atas kurang lebih sama dengan istilah lain, yakni "kollegium para kardinal yang kudus" (Holy College of Cardinals).

Penggunaan kedua istilah di atas melemah sejak tahun 1983. Istilah yang lebih popuper adalah kollegium para kardinal.

Setelah penganugerahan entitas ganda kepada Vatikan sebagai negara dan Tahta Suci melalui Traktat Lateran pada tanggal 11 Pebruari 1929, para Kardinal juga berikan julukan "pangeran-pangeran Gereja".

Hak prerogatif paus

Para kardinal yang dipilih dan diangkat oleh Sri Paus, dan ini merupakan hak prerogatif Sri Paus, bertujuan untuk mendukungnya di dalam menjalankan tugas kepausannya memimpin Gereja Katolik, baik secara individu, maupun secara kollegium.

Tugas para kardinal bisa bervariasi; mulai dari memimpin perkantoran-perkantoran Kuria di Vatikan, hingga pemimpin Gereja lokal negara masing-masing dan penasihat atau pengarah Gereja lokal.

Artinya, kardinal-kardinal yang tidak ditentukan oleh Paus untuk memimpin perkantoran Kuria di Vatikan, tetap tinggal dan bekerja di negara mereka masing-masing.

Mereka selalu siap bersedia untuk memenuhi panggilan Sri Paus, manakala kehadiran mereka di Vatikan dibutuhkan untuk sebuah tujuan penting tertentu.

Seorang kardinal yang berkarya di negaranya, tidak selamanya atau tidak harus menjadi pemimpin konferensi para uskup.

Hal ini bergantung dari kebutuhan dan hasil pemilihan yang independen. Ketidakharusan ini memberikan ruang gerak kepadanya yang lebih luas untuk menjalin relasi kerjanya dengan Sri Paus.

Tidak bertujuan merepresentasikan negara

Pengangkatan para kardinal pada dasarnya tidak bertujuan untuk merepresentasi sebuah negara. Banyak negara di mana hadir juga Gereja Katolik, tidak memiliki kardinal.

Hal ini merupakan hak prerogatif Paus yang berbasis pada kebutuhan beliau dan kriteria-kriteria yang beliau miliki.

Oleh karena pengangkatan seorang kardinal sesuai dengan kebutuhan Sri Paus, pada masa-masa terakhir, Paus Fransiskus bahkan juga memilih para pastor dan diangkat menjadi kardinal tanpa harus menjadi uskup atau uskup agung terlebih dahulu seperti lazimnya terjadi pada masa-masa sebelumnya.

Mereka-mereka itu biasanya memiliki kualifikasi-kualifikasi tertentu yang sangat mendukung tugas kegembalaan Sri Paus, atau oleh karena jasa-jasa dan pengalaman-pengalaman luar biasa yang dianggap bisa memberikan masukan penting bagi Sri Paus dalam menjalankan kepemimpinannya.

Tugas penting: memilih paus

Selain tugas-tugas di atas, para kardinal memiliki tugas lain yang sangat penting, yakni memilih paus yang baru. Ketika terjadi “Sedes vacans” (kekosongan jabatan Paus), para kardinal sebagai kollegium memimpin roda pemerintahan Gereja Katolik.

Selama “Sedes Vacans’’, artinya ketiadaan paus, para kardinal biasanya hadir di Vatikan untuk mengadakan pertemuan atau sidang harian guna membahas berbagai hal untuk menjamin jalannya pemerintahan serta mempersiapkan Konklav (upacara pemilihan Paus yang baru).

Selama masa ini, mereka tidak berhak menggantikan atau mengubah hukum atau keputusan serta ketetapan apapun yang sudah dilakukan oleh paus sebelumnya.

Pemimpin kollegium para kardinal adalah seorang kardinal dekan yang dibantu oleh kardinal subdekan.

Keduanya memiliki status titular kardinal uskup. Selain kardinal uskup, masih ada lagi dua pangkat lainnya di dalam hirarki kollegium kardinal yaitu kardinal imam dan kardinal diakon.

Gelar-gelar ini pertama-tama berkaitan dengan sistim administratif Tahta Suci Vatikan dengan gereja-gereja utama seputar Roma (gelar Kardinal Uskup) dan pembagian gereja-gereja titular di Roma (kardinal imam) dan pembagian institusi-institusi gereja di bagian diakonia dan sosial-karitatif, juga di kota Roma dan sekitarnya (kardinal diakon).

Kardinal diakon tertua menerima gelar protodiakon (diakon utama) dan memiliki tugas untuk mengumumkan nama paus yang baru terpilih dengan rumusan terkenal "habemus papam" (kita memiliki seorang paus).

Pengaturan dan penetapan ketiga gelar di dalam kollegium para kardinal diatur di dalam Kitab Hukum Kanonik atau Codex Iuris Canonici, Kanon 205 §1. Jumlah total kardinal segala jenjang umur saat ini adalah 215 orang (per 2 September 2019).

Dari jumlah ini, seandainya sebuah konklav terjadi pada hari ini, artinya sebelum ada pengangkatan kardinal baru oleh Paus, maka ada 118 kardinal berumur di bawah 80.

Mereka berhak memilih paus baru (dan berhak dipilih juga). Akan tetapi menurut Konstitusi Apostolik Paus Yohanes Paulus II “Universi Dominici Gregis”, ditetapkan 120 kardinal pemilih. Ketetapan ini belum diubah oleh Paus Fransiskus.

* Markus Solo, SVD adalah imam asal Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Seorang ahli Islamologi. Kini bertugas menangani Desk Relasi Katolik-Muslim di kawasan Asia dan Pasifik, Wakil Presiden Yayasan Nostra Aetate "Pendidikan Dialog Lintas Agama" pada Kantor Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama di Vatikan.

Sumber: Tribun Bali

Air Mata Ni Luh Mustika Sari dan Putri Dewi


ilustrasi
DUKA itu akhirnya mencabik sunyinya langit Bali. Ni Luh Mustika Sari, balita berumur dua tahun yang menderita gizi buruk serta tuberkulosis (TB) meninggal dunia.

Balita asal Desa Tukadsumaga, Kecamatan Gerokgak, Buleleng menghembuskan napas terakhir di rumah kakeknya di Tukadsumaga, Minggu 11 Agustus 2019.

Nih Luh Mustika Sari sempat menarik perhatian publik Pulau Dewata di penghujung Juli 2019.

Anak kecil itu jauh dari kasih sayang orangtua. Tubuhnya sangat kurus lantaran memikul dua beban sekaligus, gizi buruk dan penyakit TB.

Kakek neneknya bekerja sebagai buruh kerajinan bambu. Pendapatan tak menentu, sehingga Mustika Sari tidak mendapatkan perawatan medis memadai demi memulihkan kondisinya.

Sebagaimana diberitakan Harian Pagi Tribun Bali, pemerintah coba turun tangan membantu, namun bisa dlukiskan terlambat karena harus melewati prosedur administrasi dan regulasi.

Ni Luh Mustika Sari yang sebelumnya tinggal di Gianyar bersama kakeknya harus kembali ke Buleleng karena secara administrasi pemerintahan, orangtua dan kakeknya merupakan warga di sana.

Pada akhir Juli lalu Mustika pulang ke Buleleng untuk dibuatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan dokumen administrasi lainnya.

Mustika Sari sempat dirawat di Puskesmas Gerokgak hingga dirujuk ke RSUD Buleleng. Namun, nyawanya tak tertolong setelah berulangkali masuk keluar rumah sakit. Pada hari Minggu 11 Agustus 2019, anak itu menghadap Sang Khalik.

Oh Tuhan. Usianya masih sangat muda. Dia menderita dua penyakit klasik-primitif, kurang gizi dan tuberkulosis. Wajah kemiskinan itu tampak bening di tengah gema gaung industri pariwisata Bali yang mendunia.

Nasib Mustika Sari nyaris setali tiga uang dengan Putri Dewi Nilaratih.

Pagi itu wajah Putri terlihat pucat, lesu, dan keringat dingin mengucuri keningnya. Pelajar SLTP Peureulak, Kabupaten Aceh ini tidak mengeluh.

Namun, teman-temannya melihat Putri sedang menahan sakit yang luar biasa. Ternyata benar Putri memang sakit. Perutnya lapar. Sejak Rabu 7 Agustus 2019, remaja berusia 14 tahun itu belum makan. Oh Gusti!

Sebagaimana ditulis seniorku di jagat jurnalistik, Asro Kamal Rokan (Antara, Jumat, 9 Agustus 2019), setelah diberi makan, guru dan teman-temannya menyarankan agar lain kali Putri sarapan dulu sebelum berangkat ke sekolah.

Mendengar saran itu, air mata Putri menetes. "Di rumah tidak ada beras..," ujarnya lirih. Putri menghapus air matanya dengan jilbab. Setelah diberi makan oleh pihak sekolah, remaja malang ini diantar pulang ke rumah.

Di mata guru dan teman sekelasnya, Putri Dewi murid yang baik. Menurut gurunya, dia rajin ke sekolah dan nilai pelajaran Putri di atas rata-rata. Selama ini, Putri tidak pernah menceritakan kesulitan yang dialami keluarganya. Dia memilih diam dan tekun belajar.

Media online Aceh, modusaceh.co mewartakan, rumah orangtua Putri di Dusun Tualang Masjid Desa Tualang, Kecamatan Peureulak, Aceh Timur berdinding triplek dan papan, beratapkan daun rumbia, dapurnya lapuk dan bocor.

Putri merupakan anak keempat dari enam bersaudara buah kasih pasangan Suparno dan Mariani. Ayahnya tidak punya pekerjaan tetap. Untuk menafkahi keluarga, Suparno terkadang ke Banda Aceh, bekerja apa saja. Kerja serabutan.

*

Begitulah tuan dan puan. Tatkala sekelompok elite politik negeri ceria merayakan kemenangan Pilpres dan Pemilu 2019, gencar lobi merebut kursi menteri, ketika sejumlah pejabat negara ditangkap tangan KPK karena dugaan korupsi dan NKRI memasuki hari jadi ke-74, kenangkanlah dua anak bangsa ini: Ni Luh Mustika Sari dan Putri Dewi Nilaratih.

Ni Luh Mustika Sari dan Putri Dewi kiranya tidak sendirian. Rona kemiskinan telah menjadikan jutaan balita, anak-anak dan remaja kita, yang mestinya tidak dibebankan untuk berpikir soal sesuap nasi, menderita tak terkira.

Wajah kemiskinan masih berjingkrak ria di pelosok Ibu Pertiwi, dari Sabang hingga Merauke, Miangas sampai Rote. Anak-anak dan remaja dari keluarga miskin lazimnya menerima kenyataan seolah itulah kehidupan yang harus mereka lakoni. Sehari belum tentu bisa makan tiga kali. Sekali saja pun sudah disyukuri.

Di sisi lain, rakyat Indonesia kembali mendengar dan melihat fakta miris ini. Hari Rabu 7 Agustus 2019, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap tangan sebelas orang diduga terkait suap impor bawang putih.

Penyidik komisi antirasuah menyita uang Rp 2 miliar dan sejumlah uang dolar Amerika Serikat. Menurut KPK, uang itu diduga untuk Nyoman Dhamantra, anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan.

Sepekan sebelumnya, Rabu malam 31 Juli 2019, KPK menangkap tangan lima orang setelah transaksi dugaan suap proyek di Angkasa Pura (AP) ll. Penyidik menyita uang sebesar 96.700 dolar Singapura dari staf PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT Inti). Satu di antara yang ditangkap tangan malam itu Direktur Keuangan AP II Andra Y Agussalam. KPK tetapkan Andra sebagai tersangka suap.

Dua operasi tangkap tangan (OTT) beruntun tersebut menunjukkan betapa praktik korupsi di ini negeri akut amat. Pelakunya pun lagi-lagi mereka yang sesungguhnya tidak berkekurangan. Mereka yang kuat kuasa. Sejak 2004 hingga 2019, KPK telah menangkap 21 gubernur dan 103 wali kota/bupati di Indonesia.

Jumlah anggota DPRD/DPR jauh lebih banyak lagi. Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat 254 anggota Dewan menjadi tersangka korupsi sepanjang 2014-2019. Dari angka tersebut, 22 orang di antaranya anggota DPR yang pendapatannya per bulan bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Orang-orang besar dan hebat semacam ini toh tak pernah jera. Hukuman badan dan denda materi seolah tak mempan. Ada saja yang nekat mencuri uang rakyat dan masih pula tersenyum tanpa beban ketika mengenakan rompi oranye di gedung Merah Putih KPK.

Tak pelik memahami peristiwa ini. Jelas bahwa mereka yang menggarong uang rakyat, bukan kaum fakir miskin dan papa. Gaji yang mereka peroleh dari negara serta pendapatannya lebih dari cukup untuk sekadar makan minum dan membiayai kebutuhan sehari-hari.

Mereka biasa rapat di ruang berpendingin udara, bersua muka di hotel berbintang, makan malam di restoran mewah. Pun untuk beli secangkir kopi saja, bisa menghabiskan uang ratusan ribu rupiah, jumlah yang berarti sesuatu bagi kaum papa. Benar kata orang bijak bestari, keserakahan dapat membutakan mata dan hati.

Di tengah euforia politik Pemilu 2019 yang melelahkan itu, tak sedikit jumlah sesama anak bangsa yang nasibnya kurang beruntung. Di Nusa Tenggara Timur misalnya, rata-rata dua hari sekali menerima kiriman peti mati TKI ilegal dari negeri jiran Malaysia. Nekat mencari sesuap nasi di negeri orang, malah pulang mengalirkan air mata duka.

Gelombang pemutusan hubungan kerja terjadi di berbagai perusahaan besar dan menengah. Saban hari ada saja yang mengeluh hidup tidak berubah menjadi lebih mudah.

Ni Luh Mustika Sari dan Dewi Putri Nilaratih hanyalah contoh. Masih banyak anak dan remaja seusia mereka tak tersentuh akses kesehatan dan pendidikan yang layak.

Mustika Sari dan Dewi Putri tidak meminta, tidak yang bukan haknya. Mereka cuma bisu menahan pilu. Ironi di negara merdeka, Indonesia Raya yang dibangun para pendiri bangsa dengan tujuan mulia menghadirkan kesejahteraan rakyat. Merdeka dari apa dan untuk siapa?

Bumi dan seisinya sesungguhnya mampu memenuhi kebutuhan lebih dari 7 miliar penduduk dunia, tetapi takkan pernah cukup untuk satu orang yang serakah. Bagaimana menurut tuan dan puan? Selamat hari ulang tahun ke-74 Republik Indonesia. Ad multos annos. Dirgahayu! (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Bersua Umbu Landu Paringgi


Cak Nun dan Umbu Landu Paringgi 5 Agustus 2019
Meski dikau berada di Bali, tak mudah bersua Om Umbu Landu Paranggi.

Maka kubersyukur bisa mendengar suara dan menikmati sekulum senyum Sang Presiden Malioboro, lima hari menjelang ulang tahunnya ke-76.

Malam yang asyik di Batubulan saat peluncuran buku Metiyem, Pisungsung Adiluhung untuk Umbu Landu Paranggi.

Buku ini dirajut tim penyusun yang terdiri dari Iman Budi Santosa, Mustofa W Hasyim, Sutirman Eka Ardhana dan Budi Sardjono. Prolog apik dari Sapardi Djoko Damono dibalut epilog menggetarkan Emha Ainun Nadjib.

Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun berkali-kali menyapa Om Umbu Landu Paranggi sebagai mahaguru.

Ya, pria kelahiran Kananggar, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur itu sungguh seorang guru. Guru sastra. Muridnya banyak. Karya mereka berkelas dan meninggalkan gema abadi dalam jagat sastra Indonesia.

Malam itu Om Umbu banyak senyum. Suaranya masih renyah menggelegar.
Namun kulihat dia tercenung ketika seorang penyair muda membacakan puisi karya sahabatnya,Taufik Ismail...

Beri Daku Sumba

Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
Aneh, aku jadi ingat pada Umbu

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh...

Campuhan, Batubulan, Gianyar Bali
Dari sepenggal malam yang hangat
5 Agustus 2019.

Si Bening yang Bersemayam di Perut Raja Laut



ilustrasi
SEPERTI hari-hari yang telah berlalu, di pagi yang cerah itu saya bersua lagi pria paruh baya yang energik di lapak sayur.

Baju kausnya masih basah oleh keringat. Wajahnya berbinar. Ramah menyapa. Dia baru saja joging selama kurang lebih 45 menit mengitari kawasan perumahan.

Sebelum pulang ke kediamannya, dia mampir di lapak sayur yang letaknya tak jauh dari tempat kosku.

“Selamat pagi Pak, wah baru selesai joging ya?” sapaku padanya. Dia menjawab salamku sambil menebarkan senyum. Pak Dirman memang punya kebiasaan menawan. Dia rajin berolahraga serta mau belanja kebutuhan rumah tangga, sesuatu yang tidak banyak dilakoni kaum pria semacam saya.

Sekurang-kurangnya dua atau tiga hari sekali dia belanja sayur mayur, ikan, daging, bumbu dapur dan aneka kebutuhan lainnya di lapak tersebut.


“Bagi tugas dengan istriku. Maklum dia pagi-pagi sekali harus ke kantor, sedangkan waktu kerja saya lebih luwes, bisa atur sendiri,” kata pria berusia 52 tahun asal Jawa Tengah yang wiraswasta ini.

Kebiasaan lainnya adalah dia selalu membawa tas kain dari rumah untuk mengisi semua belanjaannya. Tak pernah sekalipun saya lihat dia meminta tas kresek (plastik) kepada pemilik lapak sayur. Tas kain so pasti bisa dipakai berkali-kali. Bukan cuma sekali lalu berubah menjadi sampah.

“Saya dan istri pakai tas kain untuk isi belanjaan begini sejak lima tahun lalu. Jadi lebih dulu dari Peraturan Gubernur Bali. Kami terinspirasi saat melawat ke negeri Kanguru,” kata Dirman yang sudah 21 tahun tinggal di Denpasar. Yang dia maksudkan adalah Peraturan Gubernur (Pergub) Bali No. 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbunan Plastik Sekali Pakai.

Peraturan itu sudah berlaku di seluruh Bali sejak penghujung 2018 dan meraih apresiasi positif masyarakat termasuk masyarakat dari luar Bali dan mancanegara. Saya yang belum lama menghuni Pulau Dewata ini masih gagap. Ke minimarket, mal, kios dan pasar masih saja lupa bawa tas yang bisa dipakai berulang. Ini karena kebiasaan mengelola sampah tidak tertanam sejak bocah dan di tempat asalku belum ketat berlaku aturan serupa itu.

Ya, Provinsi Bali tergolong lebih maju merespons kampanye nasional mengurangi sampah plastik di ini negeri. Bali lekas mengeksekusi melalui kebijakan lokal dibandingkan dengan provinsi lain, sebut misalnya tetangganya Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Ketika daerah lain masih omong -omong, Bali sudah mulai beraksi.

Indonesia hari ini sungguh tidak boleh memandang remeh lagi sampah plastik. Berbagai publikasi menyebutkan negara kita nomor dua di dunia yang terbanyak mengotori lautan dengan sampah plastik setelah Tiongkok.

Berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia menebarkan sampah plastik ke laut sebanyak 187,2 juta ton per tahun atau nomor dua setelah China yang mencapai 262,9 juta ton. Urutan ketiga Filipina sebanyak 83,4 juta ton, diikuti Vietnam 55,9 juta ton, dan Sri Lanka yang mencapai 14,6 juta ton per tahun.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut 100 toko anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) menghasilkan 10,95 juta lembar sampah kantong plastik dalam setahun. Jumlah itu setara luas 65,7 hektar kantong plastik atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola.

Pada 2018, merujuk data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia 64 juta ton per tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.

Menurut sumber yang sama, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 milar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik. Data Greenpeace Indonesia menyebutkan, produksi sampah di Indonesia mencapai 65 juta ton per tahun. Sebanyak 10,4 juta ton atau 16 persen merupakan sampah plastik. Ngeri bung!

Tsunami kantong plastik di negeri tercinta memang miris. Sampah plastik memenuhi jalanan, saluran air, menyelimuti semak belukar bahkan sudah masuk ke usus hewan yang merupakan sumber protein manusia.

Hari Senin 19 November 2018, Wakatobi geger. Dalam perut paus Sperma sepanjang 9,6 meter yang terdampar ditemukan sampah plastik seberat 5,9 kg. Paus itu mati. Kasus Wakatobi pun menambah litani mamalia ini menelan sampah plastik yang berujung kematian.

Di perairan Bunaken Sulawesi Utara yang indah itu, pada tahun 2012 silam peneliti menemukan si bening sampah plastik bersemayam riang di perut ikan Raja Laut (Coelacanth). Pedih sekali. Ikan purba yang menurut undang-undang dilindungi tersebut sejatinya tak terlindungi sama sekali.

Sampah plastik merusak kesan eksotis suatu destinasi. Pimpinan Tribun Network Kompas Gramedia, Mas Febby Mahendra Putra suatu ketika jalan-jalan ke SoE, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Jarak kota dingin itu dari Kota Kupang kurang lebih 120 km.

Beliau menikmati panorama alam Pulau Timor yang dominan sabana dengan vegetasi khas dan semilir angin sepoi yang menggoda. Namun, kesan yang membekas di batinnya justru mengenai sampah. “Sepanjang jalan saya melihat sampah plastik berserakan di sisi kiri dan kanan jalan. Mengapa orang begitu mudah membuangnya?” kata Febby.

Begitulah adanya. Pemandangan jamak di berbagai pelosok NTT adalah sampah plastik bertebaran. Bahkan daerah cagar alam seperti Gunung Mutis pun tidak luput. Demikian pula Labuan Bajo, Pulau Padar di kawasan Taman Nasional Komodo, Flores Barat yang kesohor itu. Masih saja orang membuang sampah plastik sesukanya.

Jadi langkah Bali mengurangi timbunan sampah plastik merupakan pilihan yang baik. Destinasi wisata andalan provinsi ini bakal kehilangan pesona manakala sampah plastik berlepotan di mana-mana. Lantas apakah Pergub Bali Bali No. 97 Tahun 2018 tersebut efektif? Apa indikator untuk mengukur level keberhasilannya?

*

Mari sejenak berkaca. Kampanye nasional memerangi sampah plastik di Indonesia bisa dilukiskan masih setengah hati. Sampai saat ini pemerintah belum pernah memastikan berapa penurunan penggunaan kantong plastik sejak diterapkan kebijakan kantong plastik berbayar pada 21 Februari 2016.

Mohon maaf tuan dan puan. Efektivitas kebijakan yang bertujuan mengurangi jumlah sampah plastik ini fakir hasil. Jauh panggang dari api. Tipis rasa optimistis sampah bakal menjauh dari saluran air, sisi jalanan dan lautan biru Nusantara yang kaya ikan dan udang.

Maka bolehlah berlayar ke negeri nun jauh Afrika. Berguru dulu ke Kenya barang sejenak karena untuk urusan ini bukan saat yang elok menimba ilmu sampai ke negeri China.

Wartawan Kompas, Ahmad Arif dalam Harian Kompas, 11 April 2019 halaman 10 melaporkan pengalaman inspiratif yang patut ditiru.

Kenya merupakan negara yang membelakukan larangan penuh penggunaan kantong plastik. Negeri itu menerapkan larangan memakai, memproduksi dan mengimpor kantong plastik. Sanksi berat dikenakan bagi pelanggar. Bukan main keras dan beratnya yaitu berupa denda uang mulai dari 19.000 dollar hingga 30.000 dolar AS (kurang lebih Rp 400 juta) hingga penjara 4 tahun.

Hanya setahun sejak pemberlakuan larangan itu, lingkungan di Nairobi, ibukota Kenya mengalami transformasi luar biasa. Tidak terlihat lagi sampah plastik di sepanjang jalan yang terbang ke mana-mana kalau musim angin. Pun sirna sudah kebiasaan buruk sejumlah orang yang bungkus kotoran pascabuang hajat dengan kantong plastik lalu dilempar hingga kota ini dijuluki “toilet terbang”.

Lingkungan Nairobi bersih dari sampah kantong plastik. Di pasar swalayan atau pasar tradisional, orang membungkus barang belanjaan dengan kertas, kardus atau ngiri-ngiri, tas tradisional dari kulit atau kain.

Pelarangan penggunaan kantong plastik memicu inisiatif dan kegairahan baru di kalangan warga untuk mencari pengganti yang inovatif. Sorang siswi di Kenya timur menciptakan tas dari daun pisang kering. Fotonya viral di media sosial.

Banyak orang meniru langkahnya. Demikian pula aneka tas tradisional dari rajutan berbahan serat alami kembali bermunculan. Masyarakat Kenya tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kantong plastik.

Tentu saja kebijakan berani itu bukan tanpa perlawanan. Penentang utama terutama datang dari kalangan industri plastik yang berjumlah 170 perusahaan.

Kenya Association of Manufactures (KAM) beralasan warga yang terlibat dalam industri plastik di Kenya mencapai 60.000 orang atau 3 persen dari tenaga kerja di negara tersebut.

Mereka menggugat pemerintah Kenya agar membatalkan aturan ini. Namun pengadilan menguatkan keputusan pemerintah. Memasuki tahun kedua pelarangan kantong plastik sekali pakai ini ternyata tidak menimbulkan gejolak sosial dan ekonomi berarti. Justru melahirkan industri baru yang produksinya lebih ramah lingkungan.

Kenya kini menjadi tempat belajar masyarakat dunia karena mau memilih opsi tegas. Tiba-tiba tergelitik, mengapa Indonesia atau Bali tidak meniru langkah negeri Afrika tersebut? Larang penuh penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Efeknya pasti sesuatu, lebih nyata hasilnya dibandingkan kondisi Bali hari ini. Bali bebas sampah (kantong) plastik niscaya menjadi promosi yang makin mengharumkan namanya. Bagaimana menurut tuan dan puan?  (dion db putra)

Sumber: Rubrik Ngopi Santai Harian Tribun Bali

Wartawan yang Mencintai Profesi Lebih dari Segalanya



Valens Doy
Mengenang 5 Tahun Wafat Valens Doy (3 Mei 2005-3 Mei 2010)

Oleh Steve H Prabowo

“Papa … Papa jangan tinggalin Elva!”

Suasana ruang Intensive Care Unit RSUD Sanglah, Denpasar, mencekam. Gadis itu, Elva, putri sulung wartawan senior Valens Goa Doy, memegang tubuh sang ayah. Sementara sang ibu, Ny Elsa Doy, memegang kaki almarhum.

Air matanya jatuh. Ya, malam itu, Selasa, 3 Mei 2005, Oom Valens – begitu ia biasa dipanggil para murid dan anak buahnya – meninggal dunia.

Beberapa saudara, teman-sahabat dan anak didik Oom Valens yang hadir di ruangan itu tepekur.

Sementara dokter dan paramedis mencoba menyelamatkan hidupnya, yang hadir memanjatkan doa berdasarkan agama dan keyakinan masing-masing.


Tampak sejumlah wartawan dan mantan wartawan Kompas, Damyan Godho, Frans Sarong, juga bekas anak didik almarhum di Persda Kompas-Gramedia seperti Victorawan “Itong” Sophiaan, Sri Unggul Azul dan Suwidi Tono.

Hampir satu jam upaya membuat jantung Oom Valens berdetak dilakukan. Namun, tubuh Oom Valens tetap tak bergerak. Pendiri koran-koran daerah milik Kelompok Kompas-Gramedia itu meninggal dunia.

Azul yang satu jam sebelumnya telah mengabarkan kematian Oom Valens lewat pesan teks kepada rekan-rekan lainnya, menghela nafas panjang. “Gua nyesel kirim berita duka duluan,” keluhnya.

Satu jam sebelumnya, kami, saya, Azul dan Itong, masih berada di luar ICU, ketika Frans Sarong mengabarkan Oom Valens meninggal. Azul langsung mengirim berita duka ke beberapa teman. Kami pun bergegas masuk ruangan tempat Oom Valens dirawat.

Ternyata, dokter dan para pembantunya sedang mengupayakan penyelamatan. Pesan teks Azul rupanya menjadi pesan berantai yang akhirnya, entah dari tangan ke berapa, kembali lagi pada pengirimnya.

Di dipan rumah sakit, tubuh Oom Valens membujur dikelilingi keluarga dekatnya, Tante Elsa, Elva dan Alex Doy, juga saudara kandungnya, Tante Waldeet dan Romo Frans Doy Pr. Isak tangis masih terdengar.

***

Mendengar tangisan dan ratapan Elva, ingatan saya kembali ke belasan tahun silam. Tepatnya tahun 1989. Oom Valens yang tengah membuka Harian Surya di Surabaya, lebih banyak tidur di mes kantor Jl Basuki Rachmat ketimbang bersama keluarganya di Jl Tumapel.

Malah, ia lebih suka tidur di ruang lay out, ketimbang di kamar mesnya.
Istrinya, Tante Elsa, setiap hari mengirim makanan ke kantor.

“Gila si Oom itu,” kata Manuel Kaisiepo, redaktur saya, ketika ngopi di kantin Gramedia. “Anaknya sudah lima hari di rumah sakit, dia baru tadi jenguk,” imbuh Manuel.

Hari itu memang hari kelima Elva dirawat di rumah sakit. Baru hari itu pula, Oom Valens menjenguk putri sulungnya.

“Nggak sempat,” kata Oom Valens, tertawa ketika saya tanya. “Mana sempat urus yang begitu-begitu (keluarga, pen), kalau kalian masih bikin berita biasa-biasa saja,” ujarnya.

Bagi Valens waktu itu, keluarga nomor dua. Pekerjaan nomor satu. Tapi itu berubah menjelang akhir hidupnya.

Sekitar seminggu sebelum meninggal, ketika hendak makan malam di rumah makan seafood di Cikini Raya, Oom Valens meminta saya ikut mobilnya, sementara teman lain berangkat duluan. Di mobil ia berpesan: “Keluarga itu yang paling penting. Jangan sia-siakan mereka, jaga mereka.”

Mereka yang mengenal Valens, pasti tidak percaya kalimat itu keluar dari mulutnya.

***

Berita adalah hidup sehari-hari Valens. Hidupnya dari deadline ke deadline. Selesai produksi, waktu itu koran masih sering terlambat, sekitar pukul 01.00 WIB, ia sudah rapat dengan para redaktur dan redaktur pelaksana.

Oom Max Margono, Trias Kuncahyono, dan (pada awal-awal Surya terbit) Oom Peter A Rohi, merupakan teman rapat rutinnya setiap dini hari.

Dalam rapat, ia menyusun penugasan kepada para redaktur dan kepala biro, untuk diteruskan kepada reporter-reporternya di lapangan esok harinya. Penugasannya begitu detil dan jelas.

Usai rapat, biasanya koran sudah terbit. Ia langsung memeriksa semua halaman, tak terlewat satu pun. Mencoret-coret koran dengan pena, baik untuk evaluasi maupun untuk dikembangkan lagi beritanya.

Pekerjaan ini biasanya dilakukan sampai subuh.

Pukul 08.00 WIB, Valens sudah rapi duduk di ruang rapat dengan koran yang sudah dicorat-coret di hampir setiap halamannya. Ia siap memimpin rapat redaksi pagi.
Usai rapat dengan redaksi, ia biasa juga mengadakan rapat dengan tim bisnis yang waktu itu dipimpin Herman Darmo.

Sore ia sudah memimpin rapat budgeting. Kantor yang sejak siang sepi, ramai oleh suara ketukan tuts kibor. Canda dan obrolan wartawan terdengar. Di antara hiruk pikuk itu, yang paling keras adalah suara Valens Doy. Teriakan, teguran, bahkan ketawanya terdengar dari depan sampai mes belakang kantor.

Begitulah kegiatan sehari-hari Valens Doy. Rutin, tapi penuh ketegangan, terutama bagi bawahannya.

“Dia memang kerja seperti kuda,” kata DJ Pamoedji, wartawan senior Kompas, saat menunggu jenazah disemayamkan di ruang duka.

Di proyek Surya, Mas Pam pernah berantem hebat dengan Oom Valens. Gara-garanya, Pamoedji marah diajak rapat pukul 03.00. “Emang semua kaya lu, kerja kaya kuda!” bentak Pamoedji, ketika pintu kamarnya diketuk Valens. “Orang perlu istirahat!”
Mereka bertengkar hebat, sampai-sampai Pamoedji membanting pintu. “Gua pulang (ke Jakarta) besok!” katanya.

Pamoedji benar-benar pulang ke Jakarta hari itu.

Menyadari kehilangan teman kerja yang andal, Valens pun minta maaf dan meminta Pamoedji kembali ke Surabaya, melanjutkan proyek Surya.

Istirahat dan santai adalah dua kata yang mungkin tidak dikenal Valens zaman itu. Bekerja bersama dia, jangan sekali pun berharap bisa bersantai. Ada cerita menarik di proyek penerbitan koran di Ambon, Pos Maluku, tahun 1990.

Suatu hari Sabtu sore (koran tidak terbit hari Minggu), kami – saya, Satrio Hutomo, Muhammad Yamin, dan Adrizon Zubair – berencana santai ke diskotek kota itu. Rencana itu gagal dengan kedatangan Oom Valens ke kantor.

 “Ayo, cicil untuk (terbitan) Senin!” teriaknya ketika kami duduk-duduk di depan kantor. Tommy, panggilan Satrio Hutomo, yang paling kesal. Tak lama kemudian, syukur pada Tuhan … listrik mati!

Si Oom marah besar, memaki-maki PLN karena tulisan dia hilang akibat mati listrik. Tommy menahan tawa, demikian juga Adrizon. Sikap mereka itu membuat saya dan Yamin berpikir bahwa merekalah, atau paling tidak salah satu dari mereka, dalang matinya listrik di kantor Pos Maluku.

***

Bekerja dengan Valens Doy sama artinya dengan menempatkan kantor sebagai rumah pertama, sedangkan tempat tinggal hanya “losmen” tempat berganti baju.

Tanggal 7 Desember 1989 malam, saya bertiga bersama Anwar Hudijono dan Trias Kuncahyono ngobrol-ngobrol sehabis kerja. Salah satu topik obrolan adalah wafatnya KH Ali Maksum hari itu.

Pukul 03.00 dini hari saya pamit. Sesampai di rumah, belum sempat ganti baju, sopir kantor datang. “Mas, dijaluk Oom balik kantor. Nggawa klambi, dikongkon luar kota (Mas, diminta Oom kembali ke kantor. Bawa baju, disuruh ke luar kota),” katanya.

Dini hari itu juga, saya berangkat ke Yogya mengikuti Ano – panggilan Anwar Hudijono – meliput wafatnya KH Ali Maksum. Tentu, dalam hati mengeluh: “Daripada pergi jam segini, kan mending dari tadi. Gak cape.”

Keasyikan ngobrol di kantor kadang ada untungnya. Salah satunya yang dialami Trias Kuncahyono, kini Wapemred Kompas. Hari itu, 26 Desember 1989, sekitar pukul 03.00 WIB, Trias masih berada di mejanya usai ngobrol dengan beberapa reporter dan redaktur.
Entah karena tak bisa tidur, ia iseng-iseng melihat lembaran teleks dari kantor berita. Waktu itu ia memang menangani desk luar negeri.

Tiba-tiba matanya membelalak. Malam hari sebelumnya, ia menulis headline “Ceausescu Ditangkap”. Nicolae Ceausescu memang ditangkap 22 Desember 1989 waktu Bucharest.

Tapi, pagi itu ia menemukan berita pendek, entah dari Reuters atau AFP, diktator Romania itu sudah dieksekusi, 25 Desember 1989 waktu setempat. Langsung ia telepon percetakan untuk stop press. Hari itu, sementara semua koran di Indonesia memasang headline Ceausescu ditangkap, Surya memasang judul “Ceausescu Ditembak”.

Total. Itu kata yang tepat untuk menggambarkan kerja Valens Doy. Ia selalu ingin timnya total bekerja. Awal tahun 1990-an, dan pasti sebelumnya juga, ia dikenal sebagai pribadi yang tanpa kompromi untuk hasil terbaik.

 Seperti yang dilakukannya sendiri, Valens Doy selalu menuntut anak buahnya untuk total dan bekerja keras.

“Kerja keras nggak bikin orang mati,” kalimat itu sering didengar anak didik atau rekan kerjanya.

Tentu bagi yang tidak terbiasa, atau bahkan yang sudah terbiasa sekalipun, bekerja sama dengan Valens Doy kadang merupakan siksaan. Baru datang liputan, sudah disuruh berangkat lagi. Entah untuk melengkapi hasil liputan yang dirasa kurang, atau liputan baru lagi.

***

Bagi yang mengenal dia, Valens Doy adalah sosok tanpa kompromi. Apa yang diinginkan harus terpenuhi. “Tidak ada sesuatu pun yang tidak bisa dikerjakan,” kata Oom Valens, di suatu hari bulan April 2005, saat rehat setelah seharian kami bertiga – Oom Valens, Azul Sjafrie dan saya – berdiskusi membahas konsep koran baru milik Grup MNC, Seputar Indonesia.

Ia lalu bercerita tentang awal-awal proyek Surya. Dari cerita itu, tampak jelas sosok seorang Valens yang penuntut, tanpa kompromi.

Ketika memulai proyek Surya, tutur Valens, ia sudah mensyaratkan adanya percetakan sendiri. Dengan saingan Jawa Pos yang sudah meraja, mustahil menerbitkan koran tanpa percetakan sendiri.

Tidak hanya meminta mesin cetak sendiri, Valens Doy juga menuntut mesin harus sudah siap saat dummy koran. Itu artinya, mesin harus sudah siap cetak tiga bulan dari saat kick off.

Tentu saja para ahli percetakan dari Kelompok Kompas Gramedia langsung menggeleng.
“Tidak mungkin,” kata mereka. Mesinnya saja saat itu masih di Jerman. Perjalanan ke Indonesia butuh lebih dari seminggu. Belum lagi fondasi untuk mesin cetak yang menurut mereka butuh paling cepat dua minggu. Ditambah lagi waktu merakit mesinnya.

Bukan Valens Doy kalau ia menyerah pada argumentasi semacam itu. Ia tetap ngotot mesin harus sudah siap cetak dalam waktu tiga bulan. “Nggak ada mesin, nggak ada koran,” ultimatumnya. Ia benar-benar tidak mau kompromi sedikit pun.

Tim percetakan rapat mencari cara untuk mempersiapkan mesin. Akhirnya ditemukan cara, dengan melakukan semua pekerjaan secara paralel. Baik persiapan mesin, pembuatan fondasi untuk gedung percetakan, sampai perakitan mesin, semua dilakukan bersamaan.
Hasilnya, ketika gedung dan konstruksi untuk mesin selesai, mesin pun tiba di Surabaya, tinggal memasangnya. Semuanya tepat waktu.

“Yang dibutuhkan cuma kemauan berpikir di luar frame,” kata Valens, mengakhiri ceritanya.

Jangan pernah bilang “tidak” di depan Valens Doy. Ia tidak akan mendengarnya. Kata “tidak” mungkin tidak ada dalam perbendaharaan otaknya. Kalimat “Ya, Oom!” biasanya otomatis keluar dari mulut, begitu Valens Doy memberi perintah. Bahkan, seringkali belum habis ucapan Valens, anak buahnya sudah menjawab: “Ya, Oom!”

Tidak bisa adalah kalimat tabu bagi dia. Setelah harian Pos Kupang terbit, saya ditugaskan Valens Doy ke Dili untuk proyek Suara Timor Timur (STT). Oom masih di Kupang ketika saya tiba di Dili. Dia menyusul keesokan harinya. Tiga hari ke depan STT harus sudah terbit.

Tiba di kantor STT saya agak pesimistis. Di kantor cuma ada tiga komputer, dua desktop dan satu laptop milik Oom Valens. “Pasti bisa. Harus bisa,’’ kata si Oom. Dari sisi kesiapan redaksi mungkin tidak masalah, karena sebagian wartawan dan redaktur sudah berpengalaman.

Kebanyakan dari Majalah Dian yang terkenal sebagai tempat belajar wartawan asal NTT. Tapi dari sisi infrastruktur? Bagaimana mungkin tiga komputer, salah satunya untuk layout, bisa mendukung deadline?

Benar. Koran bisa terbit sesuai jadwal, meski deadline molor tiga jam. Pagi itu juga, semua koran yang dicetak habis terjual. Tak satu pun koran masih tersisa di kantor, termasuk untuk dokumentasi ikut dijual juga.

***

Tampang sadis, jiwa romantis. Itu ungkapan saya untuk Valens Doy. Meski tanpa kompromi untuk tugas, ternyata hatinya sangat lembut. Ia mudah tergerak hatinya melihat penderitaan orang lain.

Satu peristiwa yang melekat di ingatan saya tentang hal ini. Tahun 1990, saya diajak Oom Valens ikut serta di proyek penerbitan Tifa Irian di Jayapura, Papua. Seperti biasa, tangan besi dipakai Valens di koran baru ini. Ia tak bisa melihat siang hari wartawan masih di kantor.

“Oom istirahat sebentar ya,” katanya pada saya, sambil naik tangga menuju attic kantor yang sehari-hari dijadikan tempat tidur wartawan Tifa malam hari. Sejenak kemudian saya terkejut oleh suara Oom. “Jam segini belum berangkat?” bentaknya marah. Rupanya di atas masih ada seorang wartawan yang masih “di kamar”.

“Tidak bisa bekerja, Bapa,” kata wartawan itu ketakutan. “Harus cuci baju,” lanjutnya. Alasan itu membuat Valens tambah naik pitam. Alasan yang tak masuk akal, masakan mencuci baju saja harus mengorbankan pekerjaan. Rupanya si wartawan hanya punya sepotong baju yang dicuci seminggu sekali.

Mendengar pengakuan wartawan itu, Oom terdiam. Ia menengok ke arah lain, dan turun. Saya lihat matanya berkaca-kaca. Setelah bisa menguasai diri, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan uang dari dompetnya. “Kau belilah baju,” katanya.

Valens Doy menangis. Mungkin tak banyak orang punya kesempatan istimewa melihat hal itu. Kenangan Oom Valens menangis itulah yang melintas di pikiran saya ketika melihat tubuhnya terbujur diam di RSUD Sanglah, 3 Mei 2005 malam itu.

Isak tangis dan untaian doa masih terdengar. Valens Doy masih dikelilingi dokter dan perawat yang mencopoti alat-alat penyelamatan di tubuhnya. Ia diam, wajahnya tenang seperti sedang tidur. Wartawan yang mencintai profesinya melebihi apa pun itu telah pergi. ***

Sumber: Facebook Steve H Prabowo

Pembeli Pun Bisa Belari-lari

ilustrasi
JUDUL menohok ini langsung menarik perhatian saya ketika memulai aktivitas kerja pagi 1 Juli 2019. Kompas.com menulis demikian, Kejayaan ITC Mangga Dua Mulai Surut, Pembeli Pun Bisa Berlari-lari…

Saat diakses pada pukul 09.05 Wita, artikel ini menempati posisi nomor satu terpopuler, sudah dibaca 122.696 kali. Ya, siapa tidak kenal ITC Mangga Dua? Tempat itu merupakan satu di antara pusat perbelanjaan favorit di Jakarta.

Saya pernah beberapa kali berkunjung ke pusat perbelanjaan tersebut. Koleksi pakaiannya memang sangat beragam dan sesuai selera pasar. Kiranya banyak orang pernah ke sana bukan?

Kompas.com melukiskan lokasi ini dulu merupakan salah satu pasar tersibuk di ibu kota. Pada masa itu, pengunjung yang datang untuk berjalan kaki saja susah, tak hanya pengunjung yang padat, tapi ruang-ruang yang ada juga dimanfaatkan oleh pedagang sehingga hanya tersisa sedikit ruang untuk berjalan kaki.

Namun, kini pemandangan itu sirna. Seperti terlihat pada Minggu 30 Juni 2019, hari yang lazimnya masyarakat berbelanja, ITC Mangga Dua tak lagi seramai dulu. Kesepian sungguh terasa. Banyak ruang kosong. “Pembeli pun bisa berlari-lari,” kata seorang penjual dalam nada berseloroh yang miris.

Mau bilang apa, inilah perubahan yang sedang terjadi. Benarlah apa yang sejak lama diingatkan para pakar bahwa generasi milenial akan merontokkan banyak hal, baik produk, layanan jasa bahkan bidang kerja yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun digeluti manusia. Mereka menyebutnya “millennials kill”.

Anda bisa baca ulasan menarik Andrew Bridgman berjudul The Official Ranking of Everything Millennials Have Killed (http://www.collegehumor.com/post/7045438/millennials-are-bad). Dibeberkan aneka produk dan layanan yang “dibunuh” kaum milenial.

Sebut misalnya bir di urutan ke-5, kartu kredit urutan ke-10, sabun batang 15, department store di urutan 20, TV kabel 21, olahraga golf 23 dan berlian di urutan ke-29.

Sekarang kita mengerti mengapa ITC Mangga cenderung sunyi. Nasib yang mirip pun sudah mendera pusat-pusat perbelanjaan lainnya di tanah air.

Sungguh tak dapat dipungkiri bahwa perilaku dan preferensi kaum milenial berubah drastis dibandingkan dengan generasi sebelumnya seperti Baby Boomers dan Gen-X, sehingga produk dan layanan tertentu tidak relevan lagi bahkan terancam punah.

Setidaknya sejak dua tahun terakhir pengunjung department store di seluruh dunia termasuk di Indonesia seperti Ramayana, Matahari Lotus secara pelan tapi pasti mulai bertumbangan. Jumlahnya tak serimbun masa lalu.

Musababnya adalah milenial yang bergeser perilaku dan preferensinya tadi. Ciri perilaku milenial adalah lebih doyan berbelanja via online dan tak lagi getol berburu barang, mereka justru banyak mengonsumsi pengalaman (leisure).

Anak saya yang berusia 19 tahun, saat mengisi liburan kuliah baru-baru ini minta ongkos bukan untuk belanja barang, makan-makan atau nonton film. Tapi untuk jalan-jalan ke berbagai destinasi menarik di Pulau Timor bersama kawan-kawannya. Mereka memburu spot yang instagramable.

Cuma makan nasi bungkus pun mau. Kulitnya terpanggang matahari bukan masalah besar. Sebelumnya, saat liburan tengah semester dia pun jalan-jalan ke bumi Parahyangan. Begitu ceria dan penuh semangat menjelajahi beragam spot menarik di Jawa Barat.

Jadi kaum milenial tak gandrung amat main ke mal hari-hari belakangan. Kalaupun ke sana mereka toh sekadar cuci mata, nongkrong dan mencari suasana berbeda guna mengusir kejenuhan.

Tak berbeda dengan cabang olahraga golf. Popularitas golf mencemaskan . Sebuah survei menemukan fakta hanya 5 persen kaum milenial yang menekuni golf.

Dalam satu dekade terakhir semakin sedikit penonton yang menyaksikan event golf dunia. Jauh berkurang misalnya jika dibandingkan pada masa keemasan pegolf Amerika Serikat berdarah Thailand, Tiger Woods di era 2000-an.

Dampak kesunyian golf merebak ke mana-mana. Pada tahun 2016 raksasa produsen perlengkapan olahraga Adidas menjual sebagian besar bisnis perlengkapan golfnya karena terus-menerus merugi. Pihak Adidas menyatakan ingin fokus pada bisnis sepatu dan pakaian olahraga saja.

Sebenarnya sejak Agustus 2015, perusahaan asal Jerman tersebut meluncurkan tinjauan bisnis golfnya. Sebagai pemasok perlengkapan golf terbesar dunia, Adidas sungguh merasakan dampak buruk dari makin tidak populernya olahraga elit ini (Kompas.com, 6/5/2016, 15:00).

Perilaku kaum milenial yang unik pun mengguncang dunia kerja. Hari gini jangan lagi tuan dan puan bayangkan mereka mau rutin masuk kantor pukul 08.00 pagi dan pulang ke rumah pukul 17.00. Mereka sungguh tak betah terikat pada sistem semacam itu.

Milenial butuh fleksibilitas dalam bekerja. Dengan kata lain mereka mendambakan bisa bekerja di manapun dan kapan pun demi mencapai kinerja yang dipatok. Survei Deloitte menunjukkan, sebesar 92 persen milenial menempatkan fleksibilitas kerja sebagai prioritas utama.

Anak perempuan senior saya di dunia kewartawanan sudah pindah tempat kerja sebanyak 4 kali dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Apakah karena alasan gaji atau pendapatan? Bukan! Baginya besar kecil gaji itu relatif. Dia pindah karena mendambakan fleksibilitas itu.

Sejak penghujung tahun lalu ia bekerja pada sebuah perusahaan multinasional berbasis di Jakarta yang memenuhi harapannya. Maka dia pun bisa bekerja sambil berlibur ke Eropa  bersama kekasihnya, jalan-jalan ke Labuan Bajo dan keliling Pulau Flores yang indah itu bahkan sempat pula ke Bali. “Saya ini workcation, Om. Bekerja sambil liburan,” katanya bangga.

Artinya bila suatu tempat kerja masih kaku menerapkan gaya bekerja ala generasi Baby Boomers, maka pelan tapi pasti akan kehilangan peminat.

Tentu saja batasan waktu masuk kerja sesuai ketentuan UU ketenagakerjaan dan peraturan internal suatu instansi patut diberlakukan pula.

Namun, mengingat perilaku milenial maka unsur fleksibilitasnya jangan terabaikan. Ini menjadi ujian seni mengelola seorang manajer atau pemimpin unit kerja.

Dalam nada agak menyeramkan, ada yang bilang millennials will kill everything! Kalau demikian, tak ada jalan yang lebih elok selain kita mesti melayaninya dengan bijak.

Darwin sejak abad lalu telah mengingatkan, bukan mereka yang kuat dan hebat yang mampu bertahan hidup. Tapi yang mau beradaptasi dengan tuntutan zamannya. Atau bagaimana menurut tuan dan puan? (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Komang Tastriani Sedih Sekolahnya Ditutup



ilustrasi
Penutupan menjadi pilihan lantaran selama dua tahun terakhir sekolah tersebut minim siswa. Jumlahnya hanya belasan orang.

SEMPAT berjaya pada tahun 1990-an, SMP Taman Pendidikan 45 atau dikenal TP 45 Kayuambua Susut akhirnya ditutup tahun 2019 ini.

Penutupan menjadi pilihan lantaran selama dua tahun terakhir sekolah tersebut minim siswa.  Kesedihan pun melanda para siswa yang pernah belajar di sana.

Saat ditemui Kamis (20/6), Kepala SMP TP 45, Ngakan Putu Alit  membenarkan hal tersebut. Menurut dia, pada tahun ajaran 2018/2019,  sekolah yang dipimpinnya hanya memiliki 11 peserta didik yang terdiri dari 5 siswa dan 6  orang siswi.  Mereka semua sudah lulus tahun ini.


“Saat ini kami sedang mendekor ruangannya untuk acara perpisahan kelulusan. Rencananya, acara ini digelar besok Jumat (hari ini, Red) jam 9.30 Wita,” kata Alit sembari menunjuk ruang kelas dimaksud.

Alit  menceritakan, SMP TP 45  Kayuambua berdiri tahun 1983. Kala itu banyak siswa yang putus sekolah lantaran lokasi SMP cukup jauh. Atas inisiatif perbekel dan tokoh masyarakat setempat, akhirnya dibangun SMP TP 45 yang berlokasi di sisi jalan raya Kayuambua-Kintamani.

“Sejak dibuka, anak-anak sekitar yang telat masuk (putus sekolah) kembali mengenyam pendidikan. Kala itu tidak sedikit dari mereka yang sudah besar, ada pula yang sudah berkumis,” kenangnya.

SMP TP 45 mengalami masa kejayaan pada tahun 1990-an. Sekolah yang memiliki tujuh ruang kelas ini menjadi pilihan  siswa-siswi dari desa sekitar. Bahkan siswa datang dari wilayah Kecamatan Kintamani hingga Kabupaten Gianyar.

Saking banyaknya peminat, lanjut Alit, pada tahun 1993 SMP TP 45 membuka dua shift. “Dulu kebanyakan siswa yang bersekolah di sini dari Desa Tiga dan Desa Penglumbaran, Susut. Beberapa datang dari Tampaksiring serta Desa Sekardadi, Kintamani,” ungkap Alit.

Masa emas sekolah ini mulai menyusut sekitar tahun 2000 bersamaan dengan pembukaan sejumlah sekolah negeri di dekat lokasi SMP TP 45.  Calon siswa lebih memilih sekolah negeri apalagi adanya sistem rayonisasi.

“Kita swasta tidak ada rayonnya. Jadi kita menerima siswa yang tidak dapat di negeri. Terakhir kita menerima siswa baru tahun 2016, dan setelah itu kami tidak mendapatkan siswa baru,” ujarnya.

Diungkapkan pula, SMP TP 45 sebelumnya mempekerjakan 12 tenaga guru terdiri dari 7 orang guru PNS serta 5 orang guru honor. Namun karena jumlah siswa terus menyusut, para guru terpaksa pindah lantaran kekurangan jam mengajar.

“Sekarang tinggal saya di sini. Namun dalam waktu dekat saya juga akan pindah ke SMPN 1 Susut mengajar matematika,” ungkapnya.

Alit mengaku belum bisa memastikan peruntukan sekolah itu setelah ditutup.
“Kami serahkan kepada Yayasan TP 45 anak cabang Kayuambua. Untuk apa rencananya ke depan seperti apa, nanti menunggu hasil rapat,” tandasnya.
Enam orang siswi lulusan SMP TP 45 pada hari itu berada di sekolah. Mereka ikut membantu menyiapkan ruangan yang akan digunakan untuk acara perpisahan.

Ni Komang Tastriani mengungkapkan saat menjadi siswi baru ia hanya memiliki delapan orang kakak kelas. Tastriani mengaku sangat sedih karena almamaternya tidak lagi melaksanakan kegiatan belajar mengajar mulai tahun ini.

Menurutnya banyak kenangan yang tertinggal di sekolah tempatnya menimba ilmu selama tiga tahun. “Harapannya ada murid baru agar tidak ditutup," ungkapnya. (muhammad fredey mercury)

Sumber: Tribun Bali 21 Juni 2019 halaman 1

MK Tolak Seluruh Gugatan Prabowo-Sandiaga


JAKARTA, TRIBUN BALI - Majelis hakim konstitusi menolak seluruh gugatan sengketa hasil Pemilu Presiden 2019 yang diajukan pasangan calon presiden-calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Menurut Mahkamah, permohonan pemohon tidak beralasan menurut hukum. Dengan demikian, pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin akan memimpin Indonesia periode 2019-2024.

Putusan dibacakan Ketua MK Anwar Usman yang memimpin sidang di Gedung MK, Jakarta, Kamis (27/6/2019) malam.

"Dalam pokok permohonan, menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya," ujar Anwar Usman. Sidang dimulai 12.45 WIB dan baru berakhir pukul 21.16 WIB. Pertimbangan putusan dibacakan bergantian oleh delapan hakim konstitusi lainnya.

Saat membuka sidang, Ketua MK Anwar Usman menekankan bahwa putusan tersebut berdasarkan fakta persidangan.


Majelis hakim konstitusi sudah mendengar keterangan saksi dan ahli yang diajukan Prabowo-Sandi, ahli dari KPU serta saksi dan ahli pihak Jokowi-Ma'ruf. Mahkamah juga sudah memeriksa seluruh barang yang dijadikan alat bukti.

Mahkamah sadar bahwa putusan MK tidak akan memuaskan semua pihak. Hanya MK berharap semua pihak tidak menghujat atau menghina pascaputusan.

Dalam pertimbangannya, hakim membacakan pendapat Mahkamah atas masing-masing dalil yang diajukan tim 02. Tim hukum Prabowo-Sandi mengajukan sejumlah dalil yang menurut mereka adalah bukti kecurangan secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM)  oleh Jokowi-Ma'ruf dalam Pilpres 2019.

Seluruhnya ditolak Mahkamah dengan berbagai argumen. Menurut MK, dalil 02 tidak beralasan menurut hukum. Dalam sidang tersebut, hadir tim hukum Prabowo-Sandiaga yang dipimpin Bambang Widjojanto.

Sebagai termohon, seluruh Komisioner KPU hadir didampingi tim hukum yang dipimpin Ali Nurdin. Adapun pihak terkait, hadir 33 pengacara Jokowi-Ma'ruf yang dipimpin Yusril Ihza Mahendra. Hadir pula seluruh komisioner Bawaslu.

Hasil rekapitulasi KPU yang ditetapkan pada Selasa (21/5/2019), suara Jokowi-Ma'ruf unggul atas Prabowo-Sandiaga. Jumlah perolehan suara Jokowi-Ma'ruf mencapai 85.607.362 atau 55,50 persen suara.
Sedangkan perolehan suara Prabowo-Sandi sebanyak 68.650.239 atau 44,50 persen suara.  Selisih suara kedua pasangan mencapai 16.957.123 atau 11 persen suara.

Calon presiden 02 Prabowo Subianto menerima keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak seluruh permohonan yang diajukan Prabowo-Sandi dalam sengketa pilpres.
Meski kecewa, namun Prabowo memastikan dirinya akan patuh terhadap konstitusi.

"Kami menyatakan, kami hormati hasil keputusan MK tersebut. Kami serahkan sepenuhnya kebenaran yg hakiki pada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa," ujar Prabowo dalam jumpa pers di kediamannya, Jalan Kertanegara, Jakarta, Kamis (27/6/2019) malam.

Dalam jumpa pers ini, Prabowo didampingi oleh calon wakil presiden 02 Sandiaga Uno beserta sejumlah petinggi partai koalisi Adil Makmur.

Prabowo menyadari, putusan MK itu telah menimbulkan kekecewaan termasuk di kalangan pendukungnya.

"Walaupun kami mengerti keputusan itu sangat mengecewakan bagi kami, dan para pendukung Prabowo Sandi. Namun sesuai kesepakatan, kami akan tetap patuh dan ikuti jalur konstituisi kita yaitu UUD 1945 dan sistem perundangan yang berlaku," kata Prabowo.

Dia berterima kasih kepada seluruh pendukungnya yang sudah ikhlas mendoakan dan membantunya selama pelaksanaan pemilihan presiden lalu.

DPR Terpilih asal NTT Hasil Pemilu 2019



Inilah Anggota DPD Terpilih asal NTT Tahun 2019-2024



Anggota DPD. Final Perolehan Suara

1. Hilda Riwukore - Manafe 228.487

2. Dr. Asyera Wulandalero 199.022

3. Angelius Wake Kako 179.197

4. Ir. Abraham Liyanto 173.915


---------------

5.  Lusia Lebu Raya 139.153

6. Sarah L Mboeik 126.664

7. M Siki 124. 006

8. Abdulah 107.209

9. Marthinus Medah 93.169

10. Ivan Nestorman 92.411

Inilah 65 Caleg Yang Lolos Jadi DPRD NTT 2019-2024



Didominasi Wajah Baru.  Berikut nama-nama 65 caleg yang terpilih menjadi anggota DPRD NTT periode 2019 - 2024.



Dapil NTT I (Kota Kupang) 



* Jonas Salean (Golkar)



* Chris Mboeik (Nasdem)



* dr. Christian Widodo (PSI)



* Adoe Yuliana Elisabeth (PDIP)



* Alex Foenay (Perindo)



* Muhammad Ansor (Golkar)





Dapil NTT II (Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua) 



* Nelson Obed Matara (PDIP)



* Adrian Manafe (Hanura)



* Cornelis Feoh (Golkar)



* Julius Uly (Nasdem)



* Junus Naisuis (PKB)



* Jan Windy (Gerindra)



* Maria Nuban Saku (Perindo)



Dapil NTT III (Sumba Timur, Sumba Barat, Sumba Tengah, SBD) 



* Dominikus Rangga Kaka (PDIP)



* Yunus Takandewa (PDIP)



* Kristien S. Pati (Nasdem)



* Rambu K.A.Praing (PAN)



* Aloysius Malo Ladi (PKB)



* Hugo Rehi Kalembu (Golkar)



* Dominggus Dama (PPP)



* Stevanus Come Rihi (Gerindra)



* Oktaviana Vinsiana Kaka (Perindo)



* Refafi Gah (Hanura)



Dapil NTT IV (Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur) 



* Yeni Veronika (PAN)



* Inosensius Ferdi Mui (Nasdem)



* Pata Vinsensius (PDIP)



* Yohanes Rumat (PKB)



* Bonefasius Jebarus (Demokrat)



* Maxi Adipati Pari (Golkar)



* Ben Isidorus (Hanura)



* Yohanes Mad Ngare (Perindo)



* Yohanes Halut (Gerindra)



* Jimur Siena Katarina (PAN)



Dapil NTT V (Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka) 



* Patrianus Lali Wolo (PDIP)



* Thomas Tiba (Golkar)



* Josef Gadi Djou (Golkar)



* Emanuel Konfildus (PDIP)



* Paulinus Nuwa Veto (Hanura)



* Agustinus Lobo (PAN)



* Leonardus Lelo (Demokrat)



* John Elpi Parera (Nasdem)



* Mercy A. Piwung (PKB)



* Gonzalo Muga Sada (Perindo)



* Sipriyadin Pua Rake (Gerindra)



Dapil NTT VI (Flotim, Lembata, Alor) 



* Viktor Mado Wutun (PDIP)



* Yohanes de Rosari (Golkar)



* Alexander Take Ofong (Nasdem)



* Syaiful Sangadji (PAN)



* Ana Waha Kolin (PKB)



* Gabriel Beri Bina (Gerindra)



* Rocky Winaryo (Perindo)



Dapil NTT VII (TTU, Belu, Malaka) 



* Gabriel Manek (Golkar)



* Ludovikus Taolin (PKB)



* Kasimirus Kolo (Nasdem)



* Agus Bria Seran (Gerindra)



* Dolvianus Kolo (Nasdem)



* Bernardinus Taek (PAN)



* Hironimus Banafanu (PDIP)



* Anselmus Tallo (Demokrat)



Dapil NTT VIII (TTS) 



* Emelia Nomleni (PDIP)



* Inche Sayuna (Golkar)



* Obed Naitboho (Nasdem)



* Eduard Lioe (Hanura)



* Reny Marlina Un (Demokrat)



* Johanis Lakapu (PKB).

Daftar Riwayat Hidup Damyan Godho


Damyan Godho
Nama lengkap           : Damyan Godho
Tempat tanggal lahir     : Boawae, Kabupaten Nagekeo, Flores,  25 Maret 1945
Nama ayah              : Lambertus Laga Nenu
Nama Ibu             : Klara Wona

Damyan Godho adalah putra kedua dari 9  bersaudara 

Saudara kandung
1. Getrudis
2. Sofia Uta
3. Fabianus Aga
4. Wens Mola
5. Lusia Fesa
6. Adel Tawa
7. Fransiskus
8. Yohanes Kasto Tue Nenu

Keluarga
Damyan Godho menikah dengan Theodora Menodora Mandaru pada  tanggal 26 Juni 1977 di  Waerana, Kabupaten  Manggarai Timur

Pasangan ini dikaruniai empat orang anak yaitu:
1. Romanus Krisantus Tue Nenu (almarhum)
2. Eleonora Ira
3. Berno Marselino
4. Clara Fransisca 

Pendidikan
1.    Menamatkan pendidkan SR  pada tahun  1957 di Boawae
2.    Menamatkan SMP Kotagoa Boawae pada tahun 1961
3.    Menamatkan SGA (Sekolah Guru Atas) Ndao Ende pada tahun 1964
4.    Setelah menamatkan pendidikan SGA beliau merantau ke Kupang

Karier di bidang Pers
1. Pada 1977 sampai dengan 1984 mengelola Mingguan  Kupang Post
2. Pada tahun 1976 bergabung ke Harian Kompas Jakarta dan diangkat menjadi karyawan pada tanggal 1 Januari  tahun 1990
3. Pada tahun 2005 beliau pensiun sebagai wartawan Harian Kompas. Masa kerja beliau di harian terkemuka Indonesia tersebut kurang lebih selama 30 tahun.

4.  Pada tanggal 1 Desember 1992 bersama-sama dengan Bapak  Valens Goa Doy (alm) dan Bapak Rudolf  Nggai (alm)  mendirikan Harian Umum Pos Kupang beralamat di Jl.  Jenderal Soeharto 53 Kupang, lokasi  Hotel Syilvia saat ini. Pos Kupang merupakan koran harian pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

5. Pada tahun 1996 Harian Pagi Pos Kupang memiliki gedung kantor sendiri di Jalan. Kenari No. 1 Naikoten 1. Kupang  dan berkantor sampai dengan 8 Januari 2018. Kini Pos Kupang memiliki kantor baru di Jalan RW Monginsidi III, Kelurahan Fatululi Kota Kupang.

6. Pada tahun 1998-2008 beliau dipercayakan sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang NTT. Beliau memimpin PWI selama dua periode.

7. Damyan Godho merupakan pemegang Kartu Pers Utama yang diberikan Komunitas Hari Pers Nasional yang terdiri dari Dewan Pers, PWI, IJTI, SPS, Serikat Grafika Pers, ATVSI, ATVLSI, Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia dan  PRSSNI. Pemegang kartu ini adalah para tokoh pers yang karya jurnalistiknya diakui di tingkat nasional dan internasional dan menghasilkan karya jurnalistik yang bermutu secara konsisten dalam kurun waktu 25 tahun.

7. Pada tahun 2013  Damyan Godho  menerima penghargaan dari pemerintah provinsi NTT  berupa cincin emas. Penghargaan itu diberikan  pada saat peringatan HUT ke-55 Provinsi NTT.

8. Sampai  akhir hayatnya beliau merupakan komisaris  Harian Pos Kupang.


Riwayat Sakit
Pada bulan Februari 2017 almarhum  mulai sakit dan sempat ke Singapura untuk pemeriksaan lengkap. Pada Agustus 2018 almarhum sempat merasa pinggang sakit dan dibawa ke RS Siloam. September  2018 beliau menjalani perawatan di  Penang Malaysia. Perawatan selanjutnya di Kupang hingga beliau menghembuskan napas terakhir pada tanggal 29 Januari 2019 pukul 01.30 Wita di RS St. Carolus Borromeus Belo, Kupang. Beliau meninggal  pada usia 73 Tahun, 10 Bulan, 4 Hari.

Demikian  riwayat hidup singkat Bapak Damyan Godho

Catatan: Daftar riwayat hidup ini dibacakan Dion DB Putra (Pemimpin Redaksi Pos Kupang) saat misa pemakaman di Gereja Fransiskus dari Assisi Kolhua Kupang, 31 Januari 2019.

Selamat Jalan Om Damy Godho


Damyan Godho
"Kalau tidak pakai kata seru itu bukan Om Damy. Akumulasi pengetahuan Om Damy dan integritasnya sangat luar biasa. Dia betul-betul menjalankan tugas sesuai tagline Kompas 'Hati Nurani Rakyat."

SETELAH disemayamkan semalam di Gereja St. Fransiskus Assisi BTN Kolhua Kota Kupang, jenazah Damyan Godho kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Damai Fatukoa, Kamis (31/1/2019) siang. Upacara pemakaman diiringi hujan.

Istri Damyan Godho, Theodora Menodora Mandaru bersama tiga anaknya, Eleonora Ira, Berno Marselino dan Clara Fransisca mendampingi jenazah hingga kubur ditutup.

Acara pemakaman jenazah dipimpin Romo Simon Tamelab, Pr, Pastor Paroki St. Fransiskus Assisi. Meski hujan, kerabat kenalan mengikuti proses pemakaman sampai selesai yang ditandai dengan peletakan karangan bunga.



Sebelum dikebumikan, dilaksanakan misa requiem di Gereja St. Fransiskus Assisi, dipimpin Romo Simon Tamelab, Pr dan 19 imam konselebrantes dan 1 orang diakon.

Pelayat memenuhi gereja, termasuk karyawan PT. Timor Media Grafika, perusahaan penerbit Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang.

Sejumlah tokoh dan pejabat pemerintah hadir, di antaranya Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, Ketua DPRD NTT, H. Anwar Pua Geno, Sekretaris Daerah (Sekda) NTT, Ir. Ben Polo Maing, Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man, Wakil Bupati Manggarai, Viktor Madur dan General Manager SDM dan Umum Kompas, Pieter P Gero.

Selain itu Ketua dan Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT, Jimmi Sianto dan Muhammad Ansor, Mantan Pejabat Bupati Ende, Oswaldus Toda dan insan pers. Mereka memberi penghormatan terakhir kepada tokoh pers NTT dan pendiri SKH Pos Kupang ini.

Saat memberi sambutan, General Manager SDM Umum Kompas, Pieter P Gero mengatakan, Damyan Godho merupakan 'orang besar'. Sebagai wartawan Kompas, ia mengabdi selama 30 tahun dan sering memberitakan kabar dari NTT sampai ke pelosok-pelosok daerah di NTT.

"Kami kehilangan seorang tokoh besar," katanya sembari melukiskan sosok jurnalis yang memulai kiprahnya sebagai koresponden Kompas itu.


Sebagai wartawan Kompas, Damyan Godho termasuk jajaran wartawan di daerah yang sangat berpengaruh. Bukan hanya itu, sebagai pemimpin Harian Pos Kupang, pengaruhnya justru sangat luar biasa.

"Saya pernah membantu Pos Kupang selama dua bulan. Om Damy dan Valens Goa Doi, Eja Dion (Pemred Pos Kupang kini, Dion DB Putra) kami bersama-sama dalam ruang redaksi yang sempit itu. Suara Om Damy yang paling menggelagar."

Menurutnya, Komisaris Umum Pos Kupang itu selalu menggunakan 'kata seru' untuk menggambarkan kepribadiannya yang tegas dan keras dalam prinsip.

"Kalau tidak pakai kata seru itu bukan Om Damy. Akumulasi pengetahuan Om Damy dan integritasnya sangat luar biasa. Dia betul-betul menjalankan tugas sesuai tagline Kompas 'Hati Nurani Rakyat," bebernya.

Pieter Gero ingat pesan Om Damy yang selalu disampaikan kepada para wartawan, yaitu tidak perlu menulis berita atau feature yang tidak membawa manfaat bagi rakyat.
"Om Damy adalah sosok jurnalis sejati sebab dalam membuat karya jurnalistiknya, ia harus melihat dan terjun langsung ke lapangan. Kalau ada bencana, misalnya, dia selalu ada di lapangan."

Pieter pun mengisahkan bagaimana seorang Damyan Godho membawa motornya dari Kupang menggunakan pesawat hanya untuk meliput putusnya jembatan Kali Wajo di Lekebai, Kabupaten Sikka. Hal seperti inilah yang membuat Pieter menilai kalau Om Damy selalu menulis dengan penuh empati dari pelosok daerah sehingga acapkali membuat dia sering meninggalkan keluarga.

Mewakili keluarga besar Harian Kompas, Pieter berterima kasih kepada keluarga yang telah menjaga sosok jurnalis kawakan tersebut. Sisi lain dari Damyan Godho juga dibeberkan Pieter pada kesempatan itu.

Disampaikannya, Om Damy juga sangat peduli dengan daerah asalnya, Kabupaten Nagekeo dan orang yang selalu setia dengan sahabat. Ia pun mengisahkan bagaimana ia pernah meloloskan sahabatnya, Valens Goa Doi dari kejaran tentara saat konflik Timor Timur.

"Orang yang baik dan lurus jalannya bisa dilihat dari begitu banyak orang yang datang memberi penghomatan terakhir hari ini. Bagi kami Om Damy jelas adalah panutan bagi kita, bagi Kompas dan Pos Kupang.


Ketua Ikatan Keluarga Besar Nagekeo (Ikabana), Marsianus Djawa mengatakan, sudah sejak kemarin orang-orang menyampaikan kisah-kisah inspiratif dari seorang Damyan Godho sebab pengabdiannya untuk NTT begitu besar.

"Bagi Ikebana Kupang, kami merasa kehilangan sosok inspirator. Karyamu tidak akan terkikis oleh waktu," ucap Djawa.

Kepala Inspektorat Provinsi NTT ini juga menuturkan kembali kisah yang pernah diceritakan almarhum kepadanya. Om Damy, kenangnya, pernah di penjara di Kupang karena dengar radio Malaysia dan baru dibebaskan pada 17 Agustus 1965.

Ketua DPRD Provinsi NTT, Anwar Pua Geno menyebut Om Damy juga merupakan aktivis pemuda pada zamannya yang menanamkan nilai-nilai perjuangan dan idealisme untuk daerah ini.

 Baginya, Damyan Godho  tidak hanya seorang tokoh pers, jurnalis Kompas dan pendiri Pos Kupang yang telah banyak melahirkan kader pers di NTT, lebih dari itu, dia adalah tokoh yang memberi sumbangsih pikiran, gagasan, kepedulian dan karya nyata bagi NTT di pelbagai bidang kehidupan.

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian sang tokoh NTT.

"Bapak Damy boleh mati dalam hidup tapi sekarang menemukan kehidupan. Dia orang yang tegas dalam prinsip dan iman. NTT bersedih karena kepergian seorang tokoh. Dia telah meninggalkan benih-benih kebaikkan, ketegasan dan luar biasa. Terima kasih kepada keluarga. Jasanya tidak pernah akan dilupakan oleh seluruh rakyat NTT," ujarnya.

Mendengar semua sanjungan dan kesaksian ini, Eleonora Ira, anak tertua almarhum mengaku tersentak dan tidak menyangka semua hal besar yang dilakukan ayahanda tercinta.

Dalam mendidik anak-anak, kata Ira, bapaknya jarang memberi nasihat dengan kata kata. Sebaliknya, nasihat itu ia wujudkan dengan tindakan dan teladannya sendiri.
Beberapa hal yang ia ajarkan seperti, peduli pada sesama dan spirit untuk tidak pernah menyerah dalam hidup.

"Seumur hidup tidak pernah lihat bapak sakit. Paling parah itu flu. Jadi kaget juga karena bapak sakit."

Bagi Ira yang kini melanjutkan jejak bapaknya sebagai jurnalis CNN Indonesia, ayahnya itu adalah sahabat terbaiknya.

"Kami sering membicarakan banyak hal. Mulai dari hal yang paling serius sampai yang tidak serius," ujar Ira.

Karyawan SKH Pos Kupang memberi penghormatan terakhir dengan mendendangkan sebuah lagu bertitel Tak Satu Pun, disertai pembacaan pusi.

'Apa yang dapat memisahkanku/dari kasihMu Tuhan sahabatku/kelaparankah, ketelanjangankah/tak satu pun tak satu pun/apa yang dapat memisahkanku/dari kasihMu Tuhan sahabatku/aniayakah, penderitaankah/tak satu pun tak satu pun."

Demikian sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan di depan jenazah Damyan Godho. Lagu yang dipopulerkan oleh Grezie Epiphania ini disenandungkan oleh para karyawan Pos Kupang sambil berurai air mata kesedihan yang luar biasa.

Setelah misa requiem, jenazah Damyan Godho dihantar ke TPU Damai Fatukoa. Iring- iringan kendaraan yang panjang mengantar jenazah tersebut. Saat jenazah dibawa keluar dari gereja, hujan pun mengguyur. Namun, prosesi pemakaman berjalan lancar sampai selesai. (ricko wawo)

Sumber: Pos Kupang 1 Februari 2019 hal 1

Uskup Agung Kupang Mengenang Damyan Godho


Damyan Godho
KUPANG, PK -Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr mengenang kebersamaannya dengan tokoh pers NTT, Damyan Godho. Hal itu disampaikan Uskup Turang saat memimpin misa requiem di Gereja Paroki St. Fransiskus Asisi,  Kolhua, Kota Kupang, Rabu (30/1/2019) malam.

"Sebagai seorang wartawan senior, pendiri harian Pos Kupang, Om Damy telah melahirkan banyak wartawan muda yang berkompeten. Di samping itu, sebagai seorang tokoh umat. Damyan Godho telah mewariskan kepada umat Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo," ucap Uskup Turang dalam khotbahnya.

"Setiap kali kita berkunjung ke Taman Ziarah Oebelo, kita bertemu dengan dia secara rohani. Itu yang dia berikan untuk pengembangan hidup iman supaya kita belajar," tambahnya.


Uskup Turang mengatakan, semasa hidupnya Om Damy telah melakukan apa yang Yesus minta, yakni berbuat yang baik dan benar. Mantan wartawan harian Kompas juga memberikan kegembiraan untuk semua orang dalam keseluruhan karya baktinya selama hidup di dunia.

"Kepergian Om Damy adalah suatu kehilangan. Akan tetapi sesungguhnya, kita tidak pernah alami kehilangan karena itu bagian dari hidup kita. Sekarang yang dia bawa adalah perbuatan baiknya. Hanya perbuatan baik yang bisa kita negosiasikan dengan Tuhan. Yang paling penting itu adalah kebaikan," ujar Uskup Turang.

Uskup Turang mengucapkan turut berbelasungkawa kepada keluarga dan sahabat kenalan yang ditinggalkan.

Misa requiem diikuti ratusan kerabat kenalan, termasuk Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi. Selain Uskup Turang, misa dihadiri sepuluh imam konselebrantes di antaranya RD Gerardus Duka, RD Simon Tamelab, RD Dus Bone, dan RD Sipri Senda.

Jenazah Damyan Godho dibawa dari rumah duka di Jl Fetor Funay menuju Gereja Paroki St. Fransiskus Asisi, BTN Kolhua. Sebelum pelepasan jenazah, keluarga mengadakan ritual adat singkat dan doa bersama.

Jenazah tiba di gereja tepat pukul 18.00 Wita dan langsung disambut dengan bunyi lonceng doa Angelus selama beberapa menit. Di gereja paroki, jenazah pendiri Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang ini diterima Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi, RD Simon Tamelab dan RD Longginus Bone.

Jenazah disemayamkan semalam di gereja, selanjutnya dilaksanakan pemakaman di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Damai Fatukoa Kupang, Kamis (31/1/2019). Upacara pemakaman dimulai pukul 10.00 Wita.

Pada Rabu (30/1/2019) pagi, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat melayat jenazah Damyan Godho di rumah duka. Gubernur memberikan peneguhan kepada istri dan anak-anak almarhum. Gubernur cukup lama berada di rumah duka.

Sahabat almarhum, Adrianus Ceme mengatakan, Om Damy merupakan seorang motivator, tokoh inspirasi yang sangat vokal tetapi tetap rendah hati.

Adrianus mengatakan selain dikenal sebagai jurnalis senior, Om Damy juga adalah tokoh umat katolik.

Semasa hidupnya, ia pernah menjabat sebagai Penasihat Dewan Pastoral Paroki St Fransiskus Asisi, Ketua Panitia Percepatan Pembangunan Gereja paroki dan Ketua DPP Taman Ziarah Yesus Maria Yoseph Oebelo Kabupaten Kupang.

Sementara itu tokoh perempuan NTT, Emilia Nomleni mengatakan, Damyan Godho merupakan orang yang sangat ramah dan banyak ide. "Beberapa kali kita bertemu meskipun tidak dalam diskusi yang besar, tapi itu sudah menggambarkan  sosok Om Damy," katanya saat ditemui di rumah duka. (ll)


Sumber: Pos Kupang 31 Januari 2019 hal 1

Damyan Godho Legenda Pers NTT



Damyan Godho
Oleh Pater Edu Dosi, SVD
Pakar Komunikasi dari Unwira Kupang

Saya mengingat catatan Bapak Damyan Godho atau biasa disapa Om Dami  tentang SKH Pos Kupang yang didirikannya. Sang legenda pers ini mencatat bahwa dalam perjalanan ke Restoran Pantai Timor, Kupang, Senin sore 30 November 1992, tempat akan berlangsungnya Acara Peresmian POS KUPANG di benaknya penuh khayalan.

Dengan hati berbunga-bunga membayangkan koran yang akan diterbitkan perdana esok hari Selasa 1 Desember 1992: "Suatu hari nanti, POS KUPANG seperti KOMPAS beredar luas. Dibaca banyak orang, dipercaya dan disayangi...di halte-halte, di bawah tiang listrik, di pasar dan dimana-mana terlihat orang asyik membaca...setidaknya membawa koran di tangan". Koran itu adalah POS KUPANG yang telah menjadi kebutuhan.


Setelah mimpinya sebagian menjadi kenyataan sang Khalik memanggilnya kembali ke rumah Ilahi, di kampung keabadian tempat kenyang pada segala musim. Di sana keindahan cinta diberitakan seperti halnya Om Dami memberitakannya pada surat khabar Pos Kupang dengan segala kelebihan dan kekurangan serta kelemahannya. Tuhan sudah meminjamkan Om Dami kepada kita,dan kita merasa bahagia karena pernah memiliki dia.

Kematian telah mendekatinya pada jam 1.30 dini hari 29 Januari 2019, setelah kurang lebih semenit Om Dami menggenggam erat jemari Rany putrinya lalu menghembus nafas terakhir.

Guru, Orangtua, PemimpinKita pernah memiliki Om Dami, kita mengalami bahwa beliau sosok yang dihadiahkan Tuhan bagi kita. Kita pernah merasakan susah senang hidup bersama dia. Kita mengenal dia dalam banyak ragam pengalaman. Pada saat kematiannya kita mengingat dan merenungkannya.

Dalam kisah hidup, Dion Putra, Pemimpin Redaksi Pos Kupang tak bisa melupakan Om Dami. Dion menyebut bahwa baginya Om Dami adalah pemimpin, orangtua dan guru kehidupan.

Dari sisi pers, Om Dami adalah guru wartawan. Guru wartawan yang profesional adalah guru yang mengajar bahwa panggilan wartawan bukan sekadar sebagai suatu kewajiban dan mata pencaharian tapi sebagai panggilan hidup yang dijalani dengan sepenuh hati, kesungguhan otak dan hati sanubari serta bekerja untuk suatu tujuan  mulia.

Panggilan ini dijalani dengan pembawaannya yang sederhana, bernyali, tegas, kritis, rendah hati, konsisten, teguh pada jalan kebenaran. Om Dami bisa marah dan terus terang tapi dia sangat kebapaan yang merangkul wartawan dan karyawan Pos Kupang. Vian Burin menulis bahwa Om Dami mentor yang keras tetapi sebenarnya baik hatinya.

Om Dami berharap bahwa apa yang ditulis tidak hanya sebagai berita saja. Tetapi sebaliknya tulisan itu harus dapat mengubah keadaan masyarakat NTT, menciptakan transformasi sosial masyarakat NTT. Sehingga komunikasi tidak tinggal komunikasi saja.

Tak mustahil bila om Dami berani membuat pernyataan-pernyataannya yang pedas kepada penyelenggara pemerintahan karena perhatiannya untuk kemajuan Negeri Flobamora tercinta.

Om Dami bersama SKH Pos Kupang berusaha untuk menjalankan profetisme pers. Profetisme pers di suatu Negara seperti di Indonesia dan satu wilayah seperti NTT bukanlah gampang. Om Dami berkehendak agar wartawan Pos Kupang berdedikasi yang tinggi dan memiliki totalitas serta menanggung risiko.

Romo Sindhunata SJ (wartawan Kompas tahun 1977-1980) menulis, dedikasi seorang wartawan adalah totalitas dan berani menanggung risiko. Akibat tulisannya wartawan berani dicari-cari polisi. Ketika mengejar berita di Lewoleba, wartawan berani menahan lapar dan mengetuk pintu rumah orang untuk minta sekadar penambahan kekuatan.

Bagi Om Dami, Pak Jacob Oetama mengajarkan dedikasi yang tinggi, setiap saat Om Dami siap ditelpon oleh Pak Jacob. Wartawan siap sedia ketika diminta berangkat ke daerah bencana atau ketika sedang ada masalah, kapan pun itu.

Catatan indah antara lain datang dari Bapak Mundus Lema, sahabatnya : RIP kakanda tercinta Damyan Godho, selesai sudah ceritera suka, duka dan perjuangan kerasulan awam di bumi Cendana Timor.

Dialah salah satu dari yang sedikit pemuda Flores yang menjadi benteng kerasulan awam dan komandan serdadu Kristus dan sejarah perjalanan Gereja Katolik di Pulau Timor, khususnya Kota Kupang mencatat tapak-tapak perjuangan heroik kak Dami terutama pada saat bersama Bung Kanis Pari menghadapi PKI di era 60-70 an. Inilah bukti bahwa dia 100 persen Katolik 100 persen Pancasila-NKRI. Slamat jalan kakanda terkasih menuju "Sao Ria Bewa Kebahagiaan Kekal-Abadi Surgawi bersama ananda Romi anak tersayang. Salve.

Wartawan ProfesionalBagi saya nama Damyan Godho telah menjadi legenda pers NTT. Ia menjadi salah satu tonggak pers NTT, beliau telah menjadi tokoh pers NTT. Tulisan ini sebagai penghargaan yang tulus pada Om Dami yang memberi keteladanan pada komitmen sebagai pekerja pers. Dia telah memberikan bimbingan dan tuntunan yang sangat bernilai.

Hingga ajal kematian menjemputnya Om Dami telah berusaha menjadi wartawan yang profesional. Kata profesional mengandung arti yang jauh lebih dalam, To profess adalah mengaku dengan seluruh eksistensi.

Jadi profesi berarti pekerjaan yang dilakukan dengan sepenuh hati, dan dengan segenap jiwa, tekun dan setia
dengan mutu dan disiplin serta bersedia menanggung konsekuensi sesuai dengan nilai-nilai luhur profesi itu.

John Hohenberg dalam bukunya "The Professional Journalist" mengemukakan beberapa syarat menjadi wartawan, antara lain: Tidak pernah berhenti mencari kebenaran; maju terus menghadapi jaman yang berubah dan jangan menunggu sampai dikuasai olehnya; melaksanakan jasa-jasa yang berarti dan ada konsekuensinya bagi umat manusia; memelihara suatu kebebasan yang tetap teguh.

 Wartawan harus mencoba untuk menemukan, menyusun dan menjabarkan fakta serta opini kepada khalayak ramai yang kian bertambah maju.

James Reston, editor eksekutip surat kabar New York Times, berkesimpulan bahwa vitalitas merupakan kunci bagi wartawan yang sukses. Selain itu ada kewaspadaan, dan memiliki nilai-nilai moral.

Tak berlebihan bila Om Dami dengan segala keunggulan dan kekurangannya telah berusaha menjadi wartawan profesional seperti yang dilukiskan oleh John Hohenberg dan James Reston.

Om Dami, terimakasih berlimpah makna hidupmu yang bisa menegaskan lagi komitmen kami pada panggilan professional, entah sebagai pekerja pers, pemimpin dll, selamat jalan sang legenda pers . (*)

Sumber: Pos Kupang 30 Januari 2019 hal 4
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes