Daftar Riwayat Hidup Damyan Godho


Damyan Godho
Nama lengkap           : Damyan Godho
Tempat tanggal lahir     : Boawae, Kabupaten Nagekeo, Flores,  25 Maret 1945
Nama ayah              : Lambertus Laga Nenu
Nama Ibu             : Klara Wona

Damyan Godho adalah putra kedua dari 9  bersaudara 

Saudara kandung
1. Getrudis
2. Sofia Uta
3. Fabianus Aga
4. Wens Mola
5. Lusia Fesa
6. Adel Tawa
7. Fransiskus
8. Yohanes Kasto Tue Nenu

Keluarga
Damyan Godho menikah dengan Theodora Menodora Mandaru pada  tanggal 26 Juni 1977 di  Waerana, Kabupaten  Manggarai Timur

Pasangan ini dikaruniai empat orang anak yaitu:
1. Romanus Krisantus Tue Nenu (almarhum)
2. Eleonora Ira
3. Berno Marselino
4. Clara Fransisca 

Pendidikan
1.    Menamatkan pendidkan SR  pada tahun  1957 di Boawae
2.    Menamatkan SMP Kotagoa Boawae pada tahun 1961
3.    Menamatkan SGA (Sekolah Guru Atas) Ndao Ende pada tahun 1964
4.    Setelah menamatkan pendidikan SGA beliau merantau ke Kupang

Karier di bidang Pers
1. Pada 1977 sampai dengan 1984 mengelola Mingguan  Kupang Post
2. Pada tahun 1976 bergabung ke Harian Kompas Jakarta dan diangkat menjadi karyawan pada tanggal 1 Januari  tahun 1990
3. Pada tahun 2005 beliau pensiun sebagai wartawan Harian Kompas. Masa kerja beliau di harian terkemuka Indonesia tersebut kurang lebih selama 30 tahun.

4.  Pada tanggal 1 Desember 1992 bersama-sama dengan Bapak  Valens Goa Doy (alm) dan Bapak Rudolf  Nggai (alm)  mendirikan Harian Umum Pos Kupang beralamat di Jl.  Jenderal Soeharto 53 Kupang, lokasi  Hotel Syilvia saat ini. Pos Kupang merupakan koran harian pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

5. Pada tahun 1996 Harian Pagi Pos Kupang memiliki gedung kantor sendiri di Jalan. Kenari No. 1 Naikoten 1. Kupang  dan berkantor sampai dengan 8 Januari 2018. Kini Pos Kupang memiliki kantor baru di Jalan RW Monginsidi III, Kelurahan Fatululi Kota Kupang.

6. Pada tahun 1998-2008 beliau dipercayakan sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang NTT. Beliau memimpin PWI selama dua periode.

7. Damyan Godho merupakan pemegang Kartu Pers Utama yang diberikan Komunitas Hari Pers Nasional yang terdiri dari Dewan Pers, PWI, IJTI, SPS, Serikat Grafika Pers, ATVSI, ATVLSI, Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia dan  PRSSNI. Pemegang kartu ini adalah para tokoh pers yang karya jurnalistiknya diakui di tingkat nasional dan internasional dan menghasilkan karya jurnalistik yang bermutu secara konsisten dalam kurun waktu 25 tahun.

7. Pada tahun 2013  Damyan Godho  menerima penghargaan dari pemerintah provinsi NTT  berupa cincin emas. Penghargaan itu diberikan  pada saat peringatan HUT ke-55 Provinsi NTT.

8. Sampai  akhir hayatnya beliau merupakan komisaris  Harian Pos Kupang.


Riwayat Sakit
Pada bulan Februari 2017 almarhum  mulai sakit dan sempat ke Singapura untuk pemeriksaan lengkap. Pada Agustus 2018 almarhum sempat merasa pinggang sakit dan dibawa ke RS Siloam. September  2018 beliau menjalani perawatan di  Penang Malaysia. Perawatan selanjutnya di Kupang hingga beliau menghembuskan napas terakhir pada tanggal 29 Januari 2019 pukul 01.30 Wita di RS St. Carolus Borromeus Belo, Kupang. Beliau meninggal  pada usia 73 Tahun, 10 Bulan, 4 Hari.

Demikian  riwayat hidup singkat Bapak Damyan Godho

Catatan: Daftar riwayat hidup ini dibacakan Dion DB Putra (Pemimpin Redaksi Pos Kupang) saat misa pemakaman di Gereja Fransiskus dari Assisi Kolhua Kupang, 31 Januari 2019.

Selamat Jalan Om Damy Godho


Damyan Godho
"Kalau tidak pakai kata seru itu bukan Om Damy. Akumulasi pengetahuan Om Damy dan integritasnya sangat luar biasa. Dia betul-betul menjalankan tugas sesuai tagline Kompas 'Hati Nurani Rakyat."

SETELAH disemayamkan semalam di Gereja St. Fransiskus Assisi BTN Kolhua Kota Kupang, jenazah Damyan Godho kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Damai Fatukoa, Kamis (31/1/2019) siang. Upacara pemakaman diiringi hujan.

Istri Damyan Godho, Theodora Menodora Mandaru bersama tiga anaknya, Eleonora Ira, Berno Marselino dan Clara Fransisca mendampingi jenazah hingga kubur ditutup.

Acara pemakaman jenazah dipimpin Romo Simon Tamelab, Pr, Pastor Paroki St. Fransiskus Assisi. Meski hujan, kerabat kenalan mengikuti proses pemakaman sampai selesai yang ditandai dengan peletakan karangan bunga.



Sebelum dikebumikan, dilaksanakan misa requiem di Gereja St. Fransiskus Assisi, dipimpin Romo Simon Tamelab, Pr dan 19 imam konselebrantes dan 1 orang diakon.

Pelayat memenuhi gereja, termasuk karyawan PT. Timor Media Grafika, perusahaan penerbit Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang.

Sejumlah tokoh dan pejabat pemerintah hadir, di antaranya Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, Ketua DPRD NTT, H. Anwar Pua Geno, Sekretaris Daerah (Sekda) NTT, Ir. Ben Polo Maing, Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man, Wakil Bupati Manggarai, Viktor Madur dan General Manager SDM dan Umum Kompas, Pieter P Gero.

Selain itu Ketua dan Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT, Jimmi Sianto dan Muhammad Ansor, Mantan Pejabat Bupati Ende, Oswaldus Toda dan insan pers. Mereka memberi penghormatan terakhir kepada tokoh pers NTT dan pendiri SKH Pos Kupang ini.

Saat memberi sambutan, General Manager SDM Umum Kompas, Pieter P Gero mengatakan, Damyan Godho merupakan 'orang besar'. Sebagai wartawan Kompas, ia mengabdi selama 30 tahun dan sering memberitakan kabar dari NTT sampai ke pelosok-pelosok daerah di NTT.

"Kami kehilangan seorang tokoh besar," katanya sembari melukiskan sosok jurnalis yang memulai kiprahnya sebagai koresponden Kompas itu.


Sebagai wartawan Kompas, Damyan Godho termasuk jajaran wartawan di daerah yang sangat berpengaruh. Bukan hanya itu, sebagai pemimpin Harian Pos Kupang, pengaruhnya justru sangat luar biasa.

"Saya pernah membantu Pos Kupang selama dua bulan. Om Damy dan Valens Goa Doi, Eja Dion (Pemred Pos Kupang kini, Dion DB Putra) kami bersama-sama dalam ruang redaksi yang sempit itu. Suara Om Damy yang paling menggelagar."

Menurutnya, Komisaris Umum Pos Kupang itu selalu menggunakan 'kata seru' untuk menggambarkan kepribadiannya yang tegas dan keras dalam prinsip.

"Kalau tidak pakai kata seru itu bukan Om Damy. Akumulasi pengetahuan Om Damy dan integritasnya sangat luar biasa. Dia betul-betul menjalankan tugas sesuai tagline Kompas 'Hati Nurani Rakyat," bebernya.

Pieter Gero ingat pesan Om Damy yang selalu disampaikan kepada para wartawan, yaitu tidak perlu menulis berita atau feature yang tidak membawa manfaat bagi rakyat.
"Om Damy adalah sosok jurnalis sejati sebab dalam membuat karya jurnalistiknya, ia harus melihat dan terjun langsung ke lapangan. Kalau ada bencana, misalnya, dia selalu ada di lapangan."

Pieter pun mengisahkan bagaimana seorang Damyan Godho membawa motornya dari Kupang menggunakan pesawat hanya untuk meliput putusnya jembatan Kali Wajo di Lekebai, Kabupaten Sikka. Hal seperti inilah yang membuat Pieter menilai kalau Om Damy selalu menulis dengan penuh empati dari pelosok daerah sehingga acapkali membuat dia sering meninggalkan keluarga.

Mewakili keluarga besar Harian Kompas, Pieter berterima kasih kepada keluarga yang telah menjaga sosok jurnalis kawakan tersebut. Sisi lain dari Damyan Godho juga dibeberkan Pieter pada kesempatan itu.

Disampaikannya, Om Damy juga sangat peduli dengan daerah asalnya, Kabupaten Nagekeo dan orang yang selalu setia dengan sahabat. Ia pun mengisahkan bagaimana ia pernah meloloskan sahabatnya, Valens Goa Doi dari kejaran tentara saat konflik Timor Timur.

"Orang yang baik dan lurus jalannya bisa dilihat dari begitu banyak orang yang datang memberi penghomatan terakhir hari ini. Bagi kami Om Damy jelas adalah panutan bagi kita, bagi Kompas dan Pos Kupang.


Ketua Ikatan Keluarga Besar Nagekeo (Ikabana), Marsianus Djawa mengatakan, sudah sejak kemarin orang-orang menyampaikan kisah-kisah inspiratif dari seorang Damyan Godho sebab pengabdiannya untuk NTT begitu besar.

"Bagi Ikebana Kupang, kami merasa kehilangan sosok inspirator. Karyamu tidak akan terkikis oleh waktu," ucap Djawa.

Kepala Inspektorat Provinsi NTT ini juga menuturkan kembali kisah yang pernah diceritakan almarhum kepadanya. Om Damy, kenangnya, pernah di penjara di Kupang karena dengar radio Malaysia dan baru dibebaskan pada 17 Agustus 1965.

Ketua DPRD Provinsi NTT, Anwar Pua Geno menyebut Om Damy juga merupakan aktivis pemuda pada zamannya yang menanamkan nilai-nilai perjuangan dan idealisme untuk daerah ini.

 Baginya, Damyan Godho  tidak hanya seorang tokoh pers, jurnalis Kompas dan pendiri Pos Kupang yang telah banyak melahirkan kader pers di NTT, lebih dari itu, dia adalah tokoh yang memberi sumbangsih pikiran, gagasan, kepedulian dan karya nyata bagi NTT di pelbagai bidang kehidupan.

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian sang tokoh NTT.

"Bapak Damy boleh mati dalam hidup tapi sekarang menemukan kehidupan. Dia orang yang tegas dalam prinsip dan iman. NTT bersedih karena kepergian seorang tokoh. Dia telah meninggalkan benih-benih kebaikkan, ketegasan dan luar biasa. Terima kasih kepada keluarga. Jasanya tidak pernah akan dilupakan oleh seluruh rakyat NTT," ujarnya.

Mendengar semua sanjungan dan kesaksian ini, Eleonora Ira, anak tertua almarhum mengaku tersentak dan tidak menyangka semua hal besar yang dilakukan ayahanda tercinta.

Dalam mendidik anak-anak, kata Ira, bapaknya jarang memberi nasihat dengan kata kata. Sebaliknya, nasihat itu ia wujudkan dengan tindakan dan teladannya sendiri.
Beberapa hal yang ia ajarkan seperti, peduli pada sesama dan spirit untuk tidak pernah menyerah dalam hidup.

"Seumur hidup tidak pernah lihat bapak sakit. Paling parah itu flu. Jadi kaget juga karena bapak sakit."

Bagi Ira yang kini melanjutkan jejak bapaknya sebagai jurnalis CNN Indonesia, ayahnya itu adalah sahabat terbaiknya.

"Kami sering membicarakan banyak hal. Mulai dari hal yang paling serius sampai yang tidak serius," ujar Ira.

Karyawan SKH Pos Kupang memberi penghormatan terakhir dengan mendendangkan sebuah lagu bertitel Tak Satu Pun, disertai pembacaan pusi.

'Apa yang dapat memisahkanku/dari kasihMu Tuhan sahabatku/kelaparankah, ketelanjangankah/tak satu pun tak satu pun/apa yang dapat memisahkanku/dari kasihMu Tuhan sahabatku/aniayakah, penderitaankah/tak satu pun tak satu pun."

Demikian sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan di depan jenazah Damyan Godho. Lagu yang dipopulerkan oleh Grezie Epiphania ini disenandungkan oleh para karyawan Pos Kupang sambil berurai air mata kesedihan yang luar biasa.

Setelah misa requiem, jenazah Damyan Godho dihantar ke TPU Damai Fatukoa. Iring- iringan kendaraan yang panjang mengantar jenazah tersebut. Saat jenazah dibawa keluar dari gereja, hujan pun mengguyur. Namun, prosesi pemakaman berjalan lancar sampai selesai. (ricko wawo)

Sumber: Pos Kupang 1 Februari 2019 hal 1

Uskup Agung Kupang Mengenang Damyan Godho


Damyan Godho
KUPANG, PK -Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr mengenang kebersamaannya dengan tokoh pers NTT, Damyan Godho. Hal itu disampaikan Uskup Turang saat memimpin misa requiem di Gereja Paroki St. Fransiskus Asisi,  Kolhua, Kota Kupang, Rabu (30/1/2019) malam.

"Sebagai seorang wartawan senior, pendiri harian Pos Kupang, Om Damy telah melahirkan banyak wartawan muda yang berkompeten. Di samping itu, sebagai seorang tokoh umat. Damyan Godho telah mewariskan kepada umat Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo," ucap Uskup Turang dalam khotbahnya.

"Setiap kali kita berkunjung ke Taman Ziarah Oebelo, kita bertemu dengan dia secara rohani. Itu yang dia berikan untuk pengembangan hidup iman supaya kita belajar," tambahnya.


Uskup Turang mengatakan, semasa hidupnya Om Damy telah melakukan apa yang Yesus minta, yakni berbuat yang baik dan benar. Mantan wartawan harian Kompas juga memberikan kegembiraan untuk semua orang dalam keseluruhan karya baktinya selama hidup di dunia.

"Kepergian Om Damy adalah suatu kehilangan. Akan tetapi sesungguhnya, kita tidak pernah alami kehilangan karena itu bagian dari hidup kita. Sekarang yang dia bawa adalah perbuatan baiknya. Hanya perbuatan baik yang bisa kita negosiasikan dengan Tuhan. Yang paling penting itu adalah kebaikan," ujar Uskup Turang.

Uskup Turang mengucapkan turut berbelasungkawa kepada keluarga dan sahabat kenalan yang ditinggalkan.

Misa requiem diikuti ratusan kerabat kenalan, termasuk Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi. Selain Uskup Turang, misa dihadiri sepuluh imam konselebrantes di antaranya RD Gerardus Duka, RD Simon Tamelab, RD Dus Bone, dan RD Sipri Senda.

Jenazah Damyan Godho dibawa dari rumah duka di Jl Fetor Funay menuju Gereja Paroki St. Fransiskus Asisi, BTN Kolhua. Sebelum pelepasan jenazah, keluarga mengadakan ritual adat singkat dan doa bersama.

Jenazah tiba di gereja tepat pukul 18.00 Wita dan langsung disambut dengan bunyi lonceng doa Angelus selama beberapa menit. Di gereja paroki, jenazah pendiri Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang ini diterima Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi, RD Simon Tamelab dan RD Longginus Bone.

Jenazah disemayamkan semalam di gereja, selanjutnya dilaksanakan pemakaman di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Damai Fatukoa Kupang, Kamis (31/1/2019). Upacara pemakaman dimulai pukul 10.00 Wita.

Pada Rabu (30/1/2019) pagi, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat melayat jenazah Damyan Godho di rumah duka. Gubernur memberikan peneguhan kepada istri dan anak-anak almarhum. Gubernur cukup lama berada di rumah duka.

Sahabat almarhum, Adrianus Ceme mengatakan, Om Damy merupakan seorang motivator, tokoh inspirasi yang sangat vokal tetapi tetap rendah hati.

Adrianus mengatakan selain dikenal sebagai jurnalis senior, Om Damy juga adalah tokoh umat katolik.

Semasa hidupnya, ia pernah menjabat sebagai Penasihat Dewan Pastoral Paroki St Fransiskus Asisi, Ketua Panitia Percepatan Pembangunan Gereja paroki dan Ketua DPP Taman Ziarah Yesus Maria Yoseph Oebelo Kabupaten Kupang.

Sementara itu tokoh perempuan NTT, Emilia Nomleni mengatakan, Damyan Godho merupakan orang yang sangat ramah dan banyak ide. "Beberapa kali kita bertemu meskipun tidak dalam diskusi yang besar, tapi itu sudah menggambarkan  sosok Om Damy," katanya saat ditemui di rumah duka. (ll)


Sumber: Pos Kupang 31 Januari 2019 hal 1

Damyan Godho Legenda Pers NTT



Damyan Godho
Oleh Pater Edu Dosi, SVD
Pakar Komunikasi dari Unwira Kupang

Saya mengingat catatan Bapak Damyan Godho atau biasa disapa Om Dami  tentang SKH Pos Kupang yang didirikannya. Sang legenda pers ini mencatat bahwa dalam perjalanan ke Restoran Pantai Timor, Kupang, Senin sore 30 November 1992, tempat akan berlangsungnya Acara Peresmian POS KUPANG di benaknya penuh khayalan.

Dengan hati berbunga-bunga membayangkan koran yang akan diterbitkan perdana esok hari Selasa 1 Desember 1992: "Suatu hari nanti, POS KUPANG seperti KOMPAS beredar luas. Dibaca banyak orang, dipercaya dan disayangi...di halte-halte, di bawah tiang listrik, di pasar dan dimana-mana terlihat orang asyik membaca...setidaknya membawa koran di tangan". Koran itu adalah POS KUPANG yang telah menjadi kebutuhan.


Setelah mimpinya sebagian menjadi kenyataan sang Khalik memanggilnya kembali ke rumah Ilahi, di kampung keabadian tempat kenyang pada segala musim. Di sana keindahan cinta diberitakan seperti halnya Om Dami memberitakannya pada surat khabar Pos Kupang dengan segala kelebihan dan kekurangan serta kelemahannya. Tuhan sudah meminjamkan Om Dami kepada kita,dan kita merasa bahagia karena pernah memiliki dia.

Kematian telah mendekatinya pada jam 1.30 dini hari 29 Januari 2019, setelah kurang lebih semenit Om Dami menggenggam erat jemari Rany putrinya lalu menghembus nafas terakhir.

Guru, Orangtua, PemimpinKita pernah memiliki Om Dami, kita mengalami bahwa beliau sosok yang dihadiahkan Tuhan bagi kita. Kita pernah merasakan susah senang hidup bersama dia. Kita mengenal dia dalam banyak ragam pengalaman. Pada saat kematiannya kita mengingat dan merenungkannya.

Dalam kisah hidup, Dion Putra, Pemimpin Redaksi Pos Kupang tak bisa melupakan Om Dami. Dion menyebut bahwa baginya Om Dami adalah pemimpin, orangtua dan guru kehidupan.

Dari sisi pers, Om Dami adalah guru wartawan. Guru wartawan yang profesional adalah guru yang mengajar bahwa panggilan wartawan bukan sekadar sebagai suatu kewajiban dan mata pencaharian tapi sebagai panggilan hidup yang dijalani dengan sepenuh hati, kesungguhan otak dan hati sanubari serta bekerja untuk suatu tujuan  mulia.

Panggilan ini dijalani dengan pembawaannya yang sederhana, bernyali, tegas, kritis, rendah hati, konsisten, teguh pada jalan kebenaran. Om Dami bisa marah dan terus terang tapi dia sangat kebapaan yang merangkul wartawan dan karyawan Pos Kupang. Vian Burin menulis bahwa Om Dami mentor yang keras tetapi sebenarnya baik hatinya.

Om Dami berharap bahwa apa yang ditulis tidak hanya sebagai berita saja. Tetapi sebaliknya tulisan itu harus dapat mengubah keadaan masyarakat NTT, menciptakan transformasi sosial masyarakat NTT. Sehingga komunikasi tidak tinggal komunikasi saja.

Tak mustahil bila om Dami berani membuat pernyataan-pernyataannya yang pedas kepada penyelenggara pemerintahan karena perhatiannya untuk kemajuan Negeri Flobamora tercinta.

Om Dami bersama SKH Pos Kupang berusaha untuk menjalankan profetisme pers. Profetisme pers di suatu Negara seperti di Indonesia dan satu wilayah seperti NTT bukanlah gampang. Om Dami berkehendak agar wartawan Pos Kupang berdedikasi yang tinggi dan memiliki totalitas serta menanggung risiko.

Romo Sindhunata SJ (wartawan Kompas tahun 1977-1980) menulis, dedikasi seorang wartawan adalah totalitas dan berani menanggung risiko. Akibat tulisannya wartawan berani dicari-cari polisi. Ketika mengejar berita di Lewoleba, wartawan berani menahan lapar dan mengetuk pintu rumah orang untuk minta sekadar penambahan kekuatan.

Bagi Om Dami, Pak Jacob Oetama mengajarkan dedikasi yang tinggi, setiap saat Om Dami siap ditelpon oleh Pak Jacob. Wartawan siap sedia ketika diminta berangkat ke daerah bencana atau ketika sedang ada masalah, kapan pun itu.

Catatan indah antara lain datang dari Bapak Mundus Lema, sahabatnya : RIP kakanda tercinta Damyan Godho, selesai sudah ceritera suka, duka dan perjuangan kerasulan awam di bumi Cendana Timor.

Dialah salah satu dari yang sedikit pemuda Flores yang menjadi benteng kerasulan awam dan komandan serdadu Kristus dan sejarah perjalanan Gereja Katolik di Pulau Timor, khususnya Kota Kupang mencatat tapak-tapak perjuangan heroik kak Dami terutama pada saat bersama Bung Kanis Pari menghadapi PKI di era 60-70 an. Inilah bukti bahwa dia 100 persen Katolik 100 persen Pancasila-NKRI. Slamat jalan kakanda terkasih menuju "Sao Ria Bewa Kebahagiaan Kekal-Abadi Surgawi bersama ananda Romi anak tersayang. Salve.

Wartawan ProfesionalBagi saya nama Damyan Godho telah menjadi legenda pers NTT. Ia menjadi salah satu tonggak pers NTT, beliau telah menjadi tokoh pers NTT. Tulisan ini sebagai penghargaan yang tulus pada Om Dami yang memberi keteladanan pada komitmen sebagai pekerja pers. Dia telah memberikan bimbingan dan tuntunan yang sangat bernilai.

Hingga ajal kematian menjemputnya Om Dami telah berusaha menjadi wartawan yang profesional. Kata profesional mengandung arti yang jauh lebih dalam, To profess adalah mengaku dengan seluruh eksistensi.

Jadi profesi berarti pekerjaan yang dilakukan dengan sepenuh hati, dan dengan segenap jiwa, tekun dan setia
dengan mutu dan disiplin serta bersedia menanggung konsekuensi sesuai dengan nilai-nilai luhur profesi itu.

John Hohenberg dalam bukunya "The Professional Journalist" mengemukakan beberapa syarat menjadi wartawan, antara lain: Tidak pernah berhenti mencari kebenaran; maju terus menghadapi jaman yang berubah dan jangan menunggu sampai dikuasai olehnya; melaksanakan jasa-jasa yang berarti dan ada konsekuensinya bagi umat manusia; memelihara suatu kebebasan yang tetap teguh.

 Wartawan harus mencoba untuk menemukan, menyusun dan menjabarkan fakta serta opini kepada khalayak ramai yang kian bertambah maju.

James Reston, editor eksekutip surat kabar New York Times, berkesimpulan bahwa vitalitas merupakan kunci bagi wartawan yang sukses. Selain itu ada kewaspadaan, dan memiliki nilai-nilai moral.

Tak berlebihan bila Om Dami dengan segala keunggulan dan kekurangannya telah berusaha menjadi wartawan profesional seperti yang dilukiskan oleh John Hohenberg dan James Reston.

Om Dami, terimakasih berlimpah makna hidupmu yang bisa menegaskan lagi komitmen kami pada panggilan professional, entah sebagai pekerja pers, pemimpin dll, selamat jalan sang legenda pers . (*)

Sumber: Pos Kupang 30 Januari 2019 hal 4

NTT Kehilangan Tokoh Pers Inspiratif


Damyan Godho
KUPANG, PK - Tokoh pers Nusa Tenggara Timur (NTT), Damyan Godho wafat dalam usia 73 tahun 10 bulan. Pendiri Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang ini mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit (RS) St. Carolus Borromeus Kupang, Selasa (29/1/2019) pukul 01.30 Wita.

Kepergian Damyan Godho untuk selama-lamanya, tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, melainkan masyarakat NTT, lebih khususnya lagi kalangan dunia pers. Berbagai pihak merasa kehilangan sosok yang tegas, visioner, berhati lembut dan humoris ini.

Damyan Godho meninggalkan seorang istri, Theodora Mandaru-Godho dan tiga orang anak, Ira Godho, Ino Godho dan Rany Godho. Anak sulung, Romi Godho sudah lebih dahulu menghadap sang Khalik.


Saat ini jenazah Damyan Godho disemayamkan di rumah duka di Jl. Fetor Foenay Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa Kota Kupang. Menurut rencana, jenazah akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Abadi di Keluarahan Fatukoa, Kamis (31/1/2019).

Pria yang akrab disapa Om Damy ini pertama kali menggeluti dunia jurnalistik dengan bergabung bersama Harian Kompas pada tahun 1980, bertugas di NTT. Pada 1 Januari 1990 diangkat menjadi wartawan Kompas.

Om Damy kemudian mendirikan SKH Pos Kupang pada tanggal 1 Desember 1992. Beliau sempat menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Kupang selama dua periode (1998-2008). Om Damy juga pernah menjabat Ketua Dewan Penasehat PWI Cabang Kupang.

Atas jasanya dalam pembangunan di NTT, khususnya dalam bidang pers, Om Damy mendapat penghargaan cincin emas dari Pemerintah Provinsi NTT. Penghargaan diberikan Gubernur NTT saat itu, Drs. Frans Lebu Raya. Acara penyematan cincin emas terjadi saat peringatan HUT ke-55 Provinsi NTT yang berlangsung di Alun-alun Rumah Jabatan Gubernur NTT, Jumat (20/12/2013) silam.

"Beliau memang kita nilai pantas dan layak menerima penghargaan ini. Beliau kita nilai berhasil dan konsisten bergerak di bidang pers. Banyaknya usaha media dan pers di NTT ini tidak terlepas dari kontribusi beliau," kata Asisten I Sekda NTT, Johana Lisapali saat itu.


Ketua DPRD Provinsi NTT, H. Anwar Pua Geno, S.H mengatakan, masyarakat NTT tentu merasa kehilangan sosok yang semangat dan sudah banyak menorehkan sejarah dalam pembangunan pers di NTT.

"Almarhum sudah lahirkan banyak kader-kader muda yang profesional di bidang jurnalistik. Karya dan semangatnya  juga tetap menjadi panutan," kata Anwar saat ditemui di rumah duka.

Anwar juga mengatakan, secara pribadi dirinya menangkap kesan humanis pada sosok Om Damy. Selain itu, Om Damy sangat dekat dengan keluarga dan masyarakat.
Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man mengatakan Damyan Godho merupakan  temannya. Menurutnya, Damyan Godho merupakan orang yang sangat berjasa dalam pembangunan NTT.

"Beliau adalah orang yang perkenalkan NTT dulu melalui Harian Kompas. Dulu saya baca berita tentang itu ada inisal DAG dan itu beliau. Jadi bagi kami beliau orang pertama yang cukup berjasa promosi NTT lewat Kompas," kata Herman.

Saat melaksanakan tugasnya sebagai seorang jurnalis, kata Herman, Damyan Godho selalu memberikan kritik kepada pemerintah khususnya mengenai pembangunan dan pelayanan publik.

"Pak Damy selalu kritik kami. Tapi kritikannya itu membangun dan memberi kami motivasi," ujarnya.

"Beliau pelaku sejarah, karyanya turut berkontribusi bagi NTT. Kita kehilangan orang berjasa, karena Pak Damy sudah perkenalkan NTT lebih dahulu dari yang lain," ucap Herman.

Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur memiliki kesan tersendiri dengan sosok Damyan Godho. "Pak Damy itu sosok yang sangat visioner. Pikiran-pikirannya sangat maju, selalu memberikan dorongan dan bijaksana. Dalam beberapa kali pertemuan, Pak Damy selalu mengatakan jangan takut kalau melakukan sesuatu yang diyakini benar untuk kepentingan banyak orang," kata Yentji Sunur ketika dihubungi, Selasa siang.

Menurutnya, dalam beberapa kesempatan bertemu Pak Damy di Kupang, dirinya merasakan betapa gaya berpikir Pak Damy jauh ke depan dan sangat visioner.
Pesan lain yang diterima langsung dari Pak Damy, demikian Yentji Sunur, adalah jangan takut kalau apa yang hendak dilakukan itu diyakini benar dan baik untuk kepentingan banyak orang.   "Pesan itu selalu diingat sampai sekarang," ujarnya.

Mantan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si mengatakan, Damyan Godho adalah aset daerah yang kita banggakan. "Kita sangat kehilangan sosok inspiratif," ujar Esthon saat ditemui di rumah duka.

Esthon mengisahkan awal mula mengenal Damyan Godho, yaitu ketika dirinya masuk kuliah di Fapet Undana.

"Saya masuk kuliah ternyata sama-sama dengan ibu Dora (istri Damyan Godho). Saya teman baik ibu Dora. Jadi karakter Pak Damy dari dulu seperti ini," tambahnya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi NTT, Ir. Andre Koreh, MT, sosok Damyan Godho tak hanya sebagai guru tapi juga sahabat dan teman diskusi yang bisa mencairkan semua kebekuan.

"Beliau juga tokoh panutan bagi generasi muda dan seorang pekerja keras yang handal dan gigih," kata Andre.

Menurut Andre, Om Damy juga merupakan tokoh yang lugas dalam membangun komunikasi dengan semua kalangan, dan dengan semua generasi. Om Damy juga selalu berpikir logis dalam setiap masalah dan memberi saran konstruktif untuk mencari solusi.

"Saya secara pribadi merasa sangat kehilangan figur Om Damy," ucap Andre.

Pemimpin Redaksi SKh Pos Kupang, Dion DB Putra mengatakan, "Om Damy adalah segalanya bagi saya. Guru terbaik dalam kehidupannya sebagai karyawan maupun kehidupan pribadi."

Menurut Dion Putra, Om Damy sebagai pemimpin yang hebat. "Om Damy banyak membimbing, mendidik, menggembleng selama mengelola Harian Umum Pos Kupang," ujarnya saat ditemui di rumah duka.

Dikatakannya, Om Damy telah memberikan banyak kesempatan kepadanya untuk memimpin Pos Kupang. Semua karyawan Pos Kupang pantas untuk berterima kasih atas segala jasa Om Damy semasa hidup.

"Lembaga ini sangat kehilangan sosok Om Damy, sebagai pendiri Surat Kabar Harian Umum Pos Kupang. Ada ribuan karyawan yang pernah menghidupi dirinya dan keluarga. Kita bisa makan dan minum dari lembaga ini karena jasa baik Om Damy," ucap Dion Putra.

"Om Damy itu keras dalam sikap tetapi sesungguhnya sangat lembut dalam cara," tambahnya.

Mantan Pemimpin Perusahaan (PP) PT Timor Media Grafika, Daud Sutikno memiliki kesan sendiri terhadap Damyan Godho. "Sosok yang baik. Guru dan orangtua terbaik," ucap Daud Sutikno.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi NTT, Veronika Ata alias Tory Ata mengatakan, Damyan Godho merupakan sosok yang luar biasa dalam memimpin Pos Kupang.

"Saya sangat kehilangan beliau, tokoh dan putra terbaik NTT dalam dunia pers.  Beliau seorang motivator. Selalu memberi semangat. Kita patut apresiasi kepada om Damy karena selama ini beliau dan teman-teman jusnalis di SKH Pos Kupang telah mencerahkan masyarakat melalui karya jusnalistiknya," kata Tory.

Direktris LBH APIK NTT, Ansy Damaris Rihi Dara, SH menilai sosok Damyan Godho adalah seorang yang tegas, disiplin, berwibawa dan memiliki karakter yang baik.

"Saya sangat mengagumi jiwa kepeloporan, komitmen dan profesionalisme dunia jurnalistik itu dari beliau, Om Damyan Godho. Hal ini ditunjukkan dari hasil karya tulisannya dan juga dari keberadaan SKH Pos Kupang hingga saat ini," kata Ansy, Selasa (29/1/2019). (yel/kro/vel/kas/aca)


Pergi ke Taman Ziarah Oebelo


PUTRI bungsu Damyan Godho, Rany Godho menceritakan detik-detik menjelang kepergian ayahnya, Senin dini hari. Saat itu, Rany memang berada di dekat ayahnya yang terbaring lemah.

Rany menuturkan, pada Senin (28/1/2019) siang sepulang dari Kantor Bank NTT tempatnya bekerja, dirinya langsung menemani ayahnya yang sudah seminggu terakhir dirawat di RS St. Carolus Borromeus.

Ketika tiba, sang ayah langsung berkata, "Eh..kamu kemana saja? Hari ini kita bersama Bapak Uskup (Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr) akan pergi ke Gua Maria Oebelo."

Rany sempat bingung dengan perkataan ayahnya yang mengajak ke Taman Ziarah di Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Padahal ayahnya tidak ada janjian berziarah ke Gua Maria Oebelo.

"Mendengar itu saya hanya tersenyum dan bertanya-tanya dalam hati, apa maksud papa bilang seperti itu?" ungkap Rany saat ditemui di rumah duka.

Rany berusaha menepis rasa penasarannya dengan bercanda. Rany sangat bahagia siang itu karena ayahnya ceria dan bersemangat. "Ada bapak kecil saya, kakak sulung dan ibu, kami banyak bercerita dan bercanda," ujarnya.

Pada malam hari, Rany mulai gelisah saat mendengar bunyi ngorok ayahnya. Menurutnya, suara ngorok itu terdengar aneh, tidak biasa. Ia bergegas menemui perawat untuk menanyakan apa yang terjadi dengan ayahnya.

Singkat cerita, suasana di ruang tempat Damyan Godho dirawat berubah. Dokter dan perawat sibuk memompa jantungnya. Rany bersama ibunya serta anggota keluarga lainnya hanya menangis.

Rany mengatakan, detik-detik sebelum menghembuskan napas terakhir, ayahnya menggenggam erat jemari tangan kanannya. Hal itu dilakukan kurang lebih selama semenit. Namun tak ada kata-kata yang terucap. "Kami hanya bisa menangis," ujarnya mengenang.

Bagi Rany, ayahnya adalah sosok yang tegas tapi juga lembut. Selalu memberi teguran dan nasehat setiap kali dirinya membuat kesalahan. "Dari situlah Rany selalu belajar untuk jadi lebih baik hari demi hari," katanya.

Ayahnya juga sosok yang lembut hati. Tidak akan memaksakan kehendaknya kepada anak-anak. "Yang penting kita juga bisa memberikan penjelasan yang masuk akal atau
tentunya dipertimbangkan dengan matang."

Rany menjelaskan, ayahnya suka berteman dengan siapa saja. Ayahnya pernah berpesan, hal yang penting dalam menjalani hidup ialah merawat hubungan dengan orang lain.

"Bagi ayah, relasi atau hubungan itu lebih berharga daripada harta dan kekayaan. Itulah yang Rany teladani, selalu menjaga relasi atau hubungan baik dengan orang lain," kata Rany.

Rany juga mengungkapkan kebiasaan ayahnya saat berada di rumah. Menurutnya, ayahnya suka menanam dan mempretel mobil, bahkan ketika kondisi kesehatanya mulai memburuk.

"Di rumah kami ini hijau karena banyak tanaman. Bapa memang suka menanam selain itu juga suka mempretel mobil," ungkap Rany.

Beberapa hari sebelum meninggal, kata Rany, ayahnya menyampaikan beberapa pesan penting kepadanya. Salah satunya adalah menjaga dan merawat ibunya.

"Papa sering bilang, tolong jaga dan rawat ibu baik-baik. Kalau papa meninggal, papa mau dikubur dekat almarhum kakak sulung Rany," ucapnya lirih.

Ira Godho menambahkan, ayahnya mulai mengalami sakit dan terasa pada Februari 2017 lalu. Ketika itu, lanjut Ira, keluarga berupaya untuk berobat, bahkan sampai ke Singapura. Kemudian, pada Agustus 2018, mengalami sakit pinggang dan sempat dibawa ke RS Siloam. Selanjutnya sang ayah dirawat di RS St. Carolus Borromeus Kupang. "Upaya yang dilakukan keluarga ternyata lain yang terjadi sehingga papa meninggal pada Selasa dini hari," ujar Ira. (yel/kk)

Sumber: Pos Kupang 30 Januari 2019 hal 1

Jenazah Damyan Godho Disemayamkan di Gereja


Damyan Godho
SELAIN kerabat kenalan dan masyarakat umum, sejumlah tokoh melayat jenazah Damyan Godho di rumah duka, Jl. Fetor Foenay Kelurahan Kolhua Kota Kupang, Selasa pagi hingga malam. Ada juga yang menyatakan duka cita dengan mengirim karangan bunga. Isak tangis dan deraian air mata silih berganti.

Beberapa pejabat pemerintah terpantau hadir melayat, di antaranya Walikota dan Wakil Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore dan dr. Herman Man serta Ketua DPRD NTT, H. Anwar Pua Geno bersama istri. Dua mantan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay dan Yohanes Pake Pani serta Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr juga ikut melayat. Tak ketinggalan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur, Josef Nae Soi.

Uskup Turang tiba di rumah duka, Selasa (29/1/2019) pagi. Uskup Turang sempat berdiri di depan jenazah Damyan Godho, lalu memanjatkan doa.


Saat bertemu dengan keluarga, Uskup Turang sempat berbicara lepas. Hal ini dijelaskan anggota keluarga, Linda Uta. "Kau sudah jalan e Damy. Saya mau buat misa tapi harus di gereja. Kau mau ya Damy..," ujar Linda mengutip pernyataan Uskup Turang.

Hal senada dijelaskan John Elphi Parera dan Isyak Nuka. Keduanya mengatakan, Uskup Turang menghendaki agar misa arwah berlangsung di gereja.

"Karena itu permintaan Bapak Uskup, maka kita pada Rabu (30/1/2019) akan membawa jenazah Bapak Damyan Godho ke Gereja St. Fransiskus dari Assisi BTN Kolhua," ujar Elphi Parera.

Isyak Nuka menambahkan, saat Uskup Turang melayat, langsung meminta agar misa arwah hari berikut harus dilakukan di gereja. "Kami juga sudah berembuk bersama keluarga, maka pada Rabu (30/1/2019) ini jenazah bapak Damy akan kita pindahkan ke gereja," terang Isyak.

Perayaan misa di Gereja St. Fransiskus dari Assisi, Rabu malam dimulai pukul 19.00 Wita. Misa dipimpin Romo Geradus Duka. Sedangkan misa pemakaman dilaksanakan Kamis (31/1/2019) pukul 10 :00 Wita. Jenazah Damyan Godho akan dimakamkan di TPU Damai Kelurahan Fatukoa.

Pada Selasa malam, berlangsung misa yang dipimpin RD Gerardus Duka di rumah duka. Usai misa, anggota Komunitas Terang, Theodorus Widodo menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian Damyan Godho. Komunitas Terang didirikan Damyan Godho.

Theo Widodo mengatakan, dirinya sudah mengenal Damyan Godho sejak tahun 1980-an. "Om Damy sangat tegas, sangat peduli pada sahabat. Kami tentu merasa sangat kehilangan seorang kakak dan orangtua teristimewa bagi Komunitas Terang," ucapnya.

Sebulan sekali, jelasnya, bersama Om Damy, Komunitas Terang mengadakan kegiatan di gereja dan kegiatan sosial seperti pengobatan gratis. "Kesan kami semua, Om Damy betul-betul seorang bapak yang bisa mengayomi kami semua dan mau berbaur."

Kebersamaan lainnya, lanjut Theo Widodo, saat bersama-sama pergi ke Taman Ziarah Oebelo, Kabupaten Kupang. "Bisa dikatakan Taman Ziarah Oebelo adalah buah tangan Om Damy. Orang yang selalu setia ada di taman ziarah. Sehari bisa dua kali ke taman ziarah," katanya.

Dia juga mengatakan, Om Damy sangat tegas dan keras. Bahkan pada saat sakit, tidak mau kalau banyak orang mengetahui kondisinya. "Setelah beberapa kali, baru Om Damy mau kami datang pada tanggal 6 Januari 2018 menjenguknya," tutur Theo Widodo.

Menurut Theo Widodo, kepergian Om Damy merupakan jalan terbaik karena beliau sangat menderita. "Kita yakin karena iman dan perbuatan baik, ia sudah berbahagia di surga," pungkasnya. (yel/kk/ll)

Damyan Godho di Mata Mereka


Damyan Godho
PAK Damy Godho adalah aset daerah yang kita banggakan. Kita sangat kehilangan sosok inspiratif. (yel)

- Mantan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay -


Lahirkan Banyak Kader

MASYARAKAT NTT tentu merasa kehilangan sosok yang semangat dan sudah banyak menorehkan sejarah dalam pembangunan pers di NTT. Almarhum sudah lahirkan banyak kader-kader muda yang profesional di bidang jurnalistik. Karyanya dan semangatnya juga tetap menjadi panutan. (yel)

- Ketua DPRD Provinsi NTT, H. Anwar Pua Geno, S.H -


Sosok Visioner

PAK Damy Godho itu sosok yang sangat visioner. Pikiran-pikirannya sangat maju, selalu memberikan dorongan dan bijaksana. Dalam beberapa kali pertemuan, Pak Damy selalu mengatakan jangan takut kalau melakukan sesuatu yang diyakini benar untuk kepentingan banyak orang. (kro)

-- Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur -



Karya Istimewa Tetap Abadi

PAK DAMY boleh tiada tapi karya-karya istimewanya tetap abadi di hati kami semua. Karyanya membanggakan dan sulit dilupakan. Beliau salah satu orang hebat NTT. Selamat jalan! (yel)

- Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD NTT, Winston Neil Rondo -


Punya Daya Ingat Tajam

DAMYAN Godho adalah seorang motivator, pemberi semangat dan memiliki daya ingat yang kuat atau tajam. Kita sangat kehilangan tokoh dan putra terbaik NTT dalam dunia pers. Kita patut memberikan apresiasi kepada Om Damy karena telah memimpin pers di NTT yang mampu mencerahkan masyarakat melalui karya-karya jurnalisik di Pos Kupang. (vel)

- Ketua DPD WKRI NTT, Ursula Gaa Lio Dando -


Menghargai Orang Muda

SAYA ingat, sekitar tahun 1998 kalau tidak salah, SKh Pos Kupang mengalami masa sulit, masa kritis, namun Om Damy tetap bertahan dan mempertahankan eksistensi SKH Pos Kupang sampai hari ini. Beliau juga sangat menghargai orang muda dan selalu memberi kesempatan orang muda untuk maju di bidangnya masig-masing. Beliau mau mendengarkan pendapat kami walapun posisi kami sebagai anak. (vel)

- Henderina Malo, SH, MH, Jaksa Kejari Kupang -

Sumber: Pos Kupang 30 Januari 2019 hal 1

Nasib 18 Nelayan Asal Alor


KABAR kurang menggembirakan  datang dari tetangga terdekat kita. Angkatan Laut (AL) negara  Republik Demokratik Timor Leste  menahan 18 nelayan asal Kabupaten  Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 19 Januari 2019.  Mereka ditangkap karena kedapatan  membawa alat tangkap kompresor  saat memasuki perairan negara  tersebut.

Menurut Duta Besar RI untuk Timor Leste,  Sahat Sitorus,  nelayan Alor yang masuk perairan Timor Leste dengan tiga perahu motor membawa kompresor yang dilarang menurut hukum perikanan  Timor Leste Nomor 7677.

Kepala Badan Pengelola Perbatasan Kabupaten Alor, Abdul M  Kapukong menjelaskan,  ke-18 nelayan itu meninggalkan Pulau Buaya (Alor)   pada 15 Januari 2019 untuk  mencari ikan.


 Pada tanggal 19 Januari 2019, mereka membawa hasil tangkapan ke Timor Leste tanpa dokumen resmi sehingga ditangkap AL Timor Leste  saat kapal motor mereka  berlabuh di Pelabuhan Dili.

Menurut Abdul, dari 18 orang nelayan  tersebut  yang memiliki paspor hanya tiga orang yaitu juragan Nurdin Kasim, Hikmah Hasan dan Talib Samsudin. Satu di antara 18 orang tersebut masih berusia 16 tahun yaitu Sabirin H Wahid. 

Proses hukum terhadap ke-18 nelayan asal Alor masih berlangsung. Sampai Selasa (22/1/2019), tiga nakhoda kapal diperiksa satu persatu oleh penyelidik di pengadilan Timor Leste.  Sahat Sitorus mengatakan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dili  terus memonitor agar para nelayan dalam kondisi yang baik dan mengawal kasus hukumnya diproses secara adil. 

Kita tentu berharap agar proses hukum terhadap saudara kita itu segera berakhir. Mereka dibebaskan sehingga bisa pulang ke kampung halaman untuk berkumpul kembali dengan keluarga. Kita bisa ambil hikmah  dari peristiwa ini.

Persoalan laut memang sangat kompleks. Bagi nelayan, laut adalah sumber kehidupan. Mereka akan terus melaut karena di sanalah kebahagiaan hidup itu tergenapi. Harus diakui masih banyak nelayan kita yang belum belum tahu batas laut antarnegara.

Mereka cuma tahu  cari makan di laut.  Bagi mereka laut itu tanpa batas. Selama ini nelayan asal NTT sudah biasa melaut sampai ke perairan Timor Leste.  Mereka lupa bahwa Timor Leste sudah menjadi negara sendiri sehingga yang berlaku adalah hukum internasional. Itulah sebabnya sosialisasi kepada para nelayan kita sangat penting. Kalau masuk ke negara lain harus memiliki dokumen resmi. Tidak bisa seenaknya saja. Dari 18 nelayan hanya tiga orang yang memiliki paspor. Selebihnya tidak sama sekali. Dari sisi aturan keimigrasian jelas salah.

Kejadian semacam ini tidak boleh terulang. Ketika Indonesia gencar menangkap nelayan asing yang masuk perairan Nusantara bahkan menenggelamkan kapal mereka, maka nelayan  kita pun harus taat hukum. Kiranya ini menjadi bahan instrospeksi. Sudah saatnya kita fokus  membangun maritim yang tangguh.*

Pos Kupang 23 Januari 2019 hal 4

Salah Urus Sampah Medis di Kota Kupang


ilustrasi
Kita kembali berhadapan dengan problem yang sama yaitu salah urus sampah medis. Kabar terbaru menyebutkan, Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) yang dihasilkan sepuluh rumah sakit pemerintah dan swasta di Kota Kupang mencapai 83 ton lebih.

Jumlahnya terus bertambah sehingga terjadi penumpukan. Pengolalaan sampah medis kering ini tidak dilakukan secara baik lantaran  tidak semua rumah sakit  memiliki insinerator.

Rumah sakit terbanyak yang memproduksi limbah B3 adalah RSUD Prof. Dr. WZ Johannes Kupang mencapai 26.112,0 kg atau 26 ton lebih disusul Rumah Sakit SK Lerik sebanyak 19 ton dan Rumah Sakit Tentara (RST) Wira Sakti Kupang 10 ton lebih. Rumah Sakit St. Carolus Boromeus dan Rumah Sakit TNI Angkatan Udara (AU) El Tari mampu mengolah limbah B3 karena punya insinerator atau alat pembakar sampah medis sendiri.


Data tersebut  dirilis Dinas Lingkungan Hidup Provinsi NTT, Jumat (11/1/2019). Limbah B3 yang dihasilkan rumah sakit merupakan akumulasi selama Januari- September 2018 yang sampai kini belum tertangani secara baik. Pada Jumat (11/1/2018) siang,  Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi NTT, Drs. Benyamin Lola, M.Pd datangi RSUD Johannes Kupang.

 Dia menemukan limbah B3 menumpuk di sekitar ruangan Poli Anak dan Kebidanan. Limbah B3 diisi dalam dos, karung dan kantong plastik. Ada juga yang ditutup dengan jaring biru. Di lokasi itu ada dua tumpukan besar  limbah B3. Terdapat plang dengan tulisan dilarang masuk ke tumpukan limbah. 

Tentu saja kita prihatin dengan kondisi ini. Penumpukan sampah medis merupakan masalah yang berulang. Sudah kerapkali dikeluhkan masyarakat namun manajemen RS seolah memandangnya sebagai hal biasa.Kita belum melihat ada langkah konkret yang sungguh-sungguh untuk mengatasi persoalan krusial  tersebut.

Benyamin Lola memang mengatakan bahwa persoalan limbah medis menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT. Menurutnya, Pemprov NTT sudah dua kali menyurati Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI.
Isi surat  meminta rekomendasi pembakaran limbah B3 rumah sakit di Kota Kupang oleh PT. Sarana Agra Gemilang. Namun sampai saat ini belum ada jawaban.

  Menurut Beni, surat pertama dilayangkan pada tanggal 11 April 2018 ditandatangani Gubernur NTT, Frans Lebu Raya. Sedangkan surat kedua tanggal 11 Oktober 2018 ditandatangani Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat.

Kita berharap pemerintah provinsi segera menempuh langkah cepat agar tumpukan sampah medis tersebut segera dibakar sesuai ketentuan. Untuk jangka panjang perlu UPT khusus yang mengurus soal ini mengingat produksi sampah medis di Kota Kupang tergolong tinggi. Rata-rata produksi limbah B3 dari 12 RS di Kota Kupang mencapai 400-an kg per hari. *

Pos Kupang, 14 Januari 2019 hal 4

Kisah Tentang Rompi Oranye


BERAGAM ekspresi tersaji di halaman  Gedung Sasando, Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT)  di Jalan El Tari Kupang, Senin 7 Januari 2019. Itu hari pertama pegawai negeri sipil (PNS) di lingkup Pemerintah Provinsi NTT mengikuti upacara bendera setelah libur Natal dan Tahun Baru.

Apel dipimpin Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat. Turut hadir Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi, Sekretaris Daerah (Sekda) NTT, Ir. Ben Polo Maing dan pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Ekspresi beragam tercipta saat pimpinan OPD memakaikan rompi warna oranye pada PNS yang merupakan stafnya. Mereka memakai rompi  dengan tulisan 'Saya Tidak Disiplin' lantaran terlambat masuk kantor, pulang lebih awal dan tidak masuk kantor tanpa berita selama periode  Oktober-Desember 2018.

Jumlahnya lumayan banyak. Total sebanyak 143 PNS yang memakai rompi oranye hari itu. Cukup banyak wajah yang murung, tegang dan tanpa senyum. Namun ada pula PNS berompi oranye melakukan wefie sembari mengumbar senyum dan tawa. Kesannya seolah tanpa beban mendapat hukuman semacam ini.


Disiplin! Begitulah gebrakan Gubernur Viktor Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi. Kedua pemimpin NTT ini meyakini bahwa disiplin merupakan modal penting bagi NTT agar bisa mengejar berbagai ketertinggalannya dari daerah lain.

 Jika sikap kerja asal-asalan maka  NTT tetap tertinggal. Dan, Pegawai Negeri Sipil atau Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai motor penggerak pembangunan mesti menjadi contoh. 

Dsiplin PNS di daerah ini memang patut mendapat perhatian serius. Sudah menjadi rahasia umum bahwa masih banyak oknum PNS yang masuk kerja sesuka hatinya. Terlambat berjam-jam atau pulang ke rumah lebih awal dianggap bukan masalah. Menunda pekerjaan bahkan meninggalkan tempat tugas tanpa izin kepada pimpinan.

Secara umum  kinerja PNS di daerah ini pun masih jauh dari memuaskan. Indikatornya sederhana. Masih kerap kita mendengar riuh keluhan masyarakat yang mendapatkan pelayanan seadanya dari aparatur negara. Masih ada yang berprinsip kalau bisa dipersulit mengapa dipermudah? Spirit melayani masih sebatas pemanis bibir. Belum terwujud dalam pelayanan sehari-hari.

Pemakaian rompi oranye itu mestinya sebuah cambuk agar PNS sungguh disiplin dalam bekerja melayani masyarakat. Sejauh ini efek jera pemakaian rompi belum tampak. Malah ada  yang merespons dengan cara yang kurang elok.  Tersenyum ria seolah tidak ada masalah sama sekali. Memakai rompi oranye  tak lebih dari lima menit dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja. 

Gerakan disiplin memang tidak semudah membalik telapak tangan karena mengubah kebiasaan seseorang. Itulah sebabnya  kita dukung penuh gebrakan Gubernur Viktor Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi. Segala upaya demi penegakan disiplin  tidak boleh kendor. *

Pos Kupang 9 Januari 2019 halaman 4

Sensasi Jepit Buku di Ketiak


Oleh Dion DB Putra

POS-KUPANG.COM - Beta  bukan kutu buku. Bukan pula kolektor buku yang tekun. Saya hanyalah penggemar buku ala kadarnya. Setahun paling dua atau tiga kali membeli buku. Saya pun mengoleksi buku apa saja. Tidak hanya fokus pada tema tertentu. Ya koleksi buku saya terbanyak memang tentang jurnalisme. Maklumlah belakangan ini banyak yang saya peroleh secara gratis buku-buku tersebut.

Biang buku gratis itu bernama Margiono. Nama yang patut kusebut karena selama 10 tahun sukses mewariskan tradisi yang baik bagi anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).


Margiono adalah ketua umum PWI Pusat periode 2008-2018, Sejak menakhodai PWI hasil kongres di Banda Aceh yang saya ikuti tahun 2008 silam, Margiono sangat menekankan profesionalisme wartawan.

• Drakor Clean With Passion For Now Rating Tertinggi di Episode 1, Malam ini Episode 2 Tayang

• 6 Zodiak Ini Dikenal Tulus Berteman dan Bukan Tipe Fake Friends

• Jungkook Dan V BTS Dihina Katerina Kainourgiou Pembawa Acara Program Televisi Yunani, Army Geram

Dia pun menyadari bahwa buku itu sejatinyan adalah mahkota wartawan. Maka setiap tahun selalu ‘mewajibkan’ wartawan anggota PWI menerbitkan buku. Biaya penerbitan urusan pengurus PWI Pusat menggandeng para donatur dan sponsor yang tidak mengikat.

Tugas anggota PWI hanyalah menyiapkan naskah lalu mengirim kepada tim penulisan buku. Peluncuran buku biasanya pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tanggal 9 Februari.

Dalam pidatonya di hadapan presiden RI dan seluruh undangan yang hadir pada puncak peringatan HPN, Margiono selalu menyinggung buku karya para wartawan. Itu yang bikin bangga.

Saya yang semula pesimistis bisa menulis buku ikut termotivasi mengambil bagian dalam kerja intelektual itu. Saban tahun saya menyumbang tulisan bahkan menerbitkan buku sendiri. Terima kasih Mas Margiono alias Mas MG yang mengakhiri jabatannya sebagai ketua umum pada kongres PWI di Solo 27-30 September 2018.

Apakah tradisi membukukan karya wartawan itu akan berlanjut ? Saya tidak terlalu yakin karena eranya sudah berbeda. PWI periode 2018-2023 dipimpin Bang Atal S Depari sebagai ketua umum. Kepengurusan Atal S Depari bergumul di tengah badai digitalisasi yang masif, serba maya, berubah amat lekas dan tak terprediksikan.

Rezim buku cetak sudah di remang senja menjemput malam nan panjang. Saatnya jagat maya merajai dunia siang dan malam tanpa batas sehingga terbitkan buku konvensional bukan pilihan bijaksana. Selain prosesnya panjang, ongkosnya pun tidak sedikit tuan dan puan. Kini masanya e-book. Buku digital yang efisien. Cukup bermodalkan tablet dan akses internet, urusan beres!

Tapi beta perlu bertutur jujur. Sebagai generasi kelahiran akhir 1960-an tidak mudah bagiku beradaptasi dengan apa yang disebut e-book. Entahlah dengan Anda. Meski sesekali mengakses e-book, tetap saja beta masih merasa lebih nyaman membaca buku cetak. Yang tak tergantikan adalah sensasi mencium bau kertas, baik yang baru buka plastik pembungkus tipis maupun sudah kusam termakan usia.

Memegang buku tebal atau tipis dalam genggaman kerap tak terlukiskan dengan kata-kata. Asyiknya lagi bisa jepit di ketiak yang sudah bersih setelah mandi atau masih beraroma khas selepas lelah bekerja. Cukup sering beta mengagumi cover buku yang merupakan karya intelektual pula. Pilihan huruf pun sebuah seni. Buku sungguh kaya rasa dan karsa. Tak sekadar kertas dan kumpulan huruf.

Sisi praktis yang lebih luar biasa adalah buku cetak bisa tuan dan puan bawa ke mana saja pergi. Buku bisa jadi teman saat mendaki gunung dan bukit, menuruni lembah, menelusuri ngarai, melewati sungai, mengakrabi bulir padi menguning atau mencumbui pantai. Dikau tak perlu pening mencari colokan listrik manakala baterai HP atau tablet telah menipis kritis. Buku cetak tak mengenal istilah lobet atau susah sinyal.

Buku cetak memanjakan pembacanya. Seseorang bebas merdeka membolak-balik halaman. Bosan baca bagian awal bisa melompat dulu ke bagian tengah atau akhir secara cepat. Beda dengan e-book yang repot dan rumit. Buku cetak pun tentu bebas radiasi elektronik yang menurut para pakar ikut berkontribusi terhadap kesehatan seseorang.

Ada lagi satu kebiasaan kami generasi lama kalau mengoleksi sebuah buku. Bangga bukan main kalau buku itu ditandatangani penulis atau editornya. Tanda tangan basah. Tandatangan penulis merupakan kenangan yang sangat indah. Kesannya jadul tapi manusiawi.

Seorang kawan menginformasikan saat ini terjadi semacam anomali di era disrupsi digital karena kenyataannya buku cetak alami sedikit kenaikan oplah di Amerika Serikat dan Eropa, sementara e-book jalan saja di tempat. Mungkin kondisi di tanah air kita kurang lebih sama.

Artinya jaringan toko buku besar memang tersiksa bahkan ada yang bangkrut karena disrupsi dan pasar yang berubah drastis. Lalu kini muncul banyak toko buku independen dan penerbit indie. Para penulis muda umumnya memilih penerbit indie. Sudah seharusnya demikian.

Ada yang meyakini bahwa buku cetak masih akan bertahan lebih lama dari yang diprediksi banyak orang. Yang berubah hanyalah cara produksi dan pola distribusinya. Di masa lalu penerbit dan toko buku besar mendominasi produksi sampai jaringan distribusi buku.

Kekuatan mereka mencekik peluang penerbit kecil dengan modal minim. Dalam platform digital, penerbit yang tidak jumbo pun dapat bertahan hidup sesuai segmen pasar masing-masing. Yang penting tetap kreatif agar lekas beradaptasi dengan pasar yang terus berubah.

Menurut pengalaman penulis muda, sekarang produksi buku cetak lebih terukur sesuai kebutuhan sehingga menekan risiko kegagalan di pasar. Kini buku bisa dicetak pakai mesin digital sesuai pesanan untuk jumlah puluhan atau satuan. Toko buku dan jaringan distribusi online tumbuh bak jamur di musim hujan. Isi buku makin beragam sesuai selera pembaca.

Akhirnya beta cuma mau bilang begini. Menulislah terus dan bukukanlah karya tuan dan puan, entah berwujud buku cetak atau e-book. Itu jauh lebih baik daripada sekadar omong-omong atau bikin status aduhai di akun medsos dengan target jempol dan komentar. Hehehehe… Salam buku saudaraku! *

Pos Kupang.com, 6 Januari 2019

Setelah Tsunami Senyap di Selat Sunda


BENCANA sungguh akrab dengan kehidupan kita. Dalam enam bulan terakhir gempa bumi dan tsunami memporak-porandakan Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Palu, Donggala dan Sigi di Sulawesi Tengah dan terakhir tsunami senyap di Selat Sunda. Derita mendera masyarakat pesisir Provinsi Banten dan Lampung.  

Dari tiga bencana alam gempa dan tsunami tersebut,  jumlah korban jiwa lebih dari 3.000 orang Korban tewas terbanyak di Kota Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya. Dalam bencana Lombok, Palu dan Selat Sunda,  jumlah korban luka-luka mencapai  belasan ribu orang dan ratusan  ribu orang mengungsi. Penderitaan pun masih menyertai mereka di lokasi bencana hingga hari-hari ini.

Bangsa Indonesia secara umum memang hidup bersama gempa dan tsunami. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat,  rata-rata dalam satu tahun terjadi 6 ribu kali gempa di Indonesia. Gempa  dalam skala magnitudo tertentu menimbulkan tsunami sebagaimana terjadi di Aceh tahun 2004 dan Palu 2018.


Tsunami yang menerjang Banten dan Lampung 22 Desember 2018 malah bukan dipicu gempa tektonik tetapi kuat dugaan akibat erupsi anak Gunung Krakatau
sehingga datangnya tsunami begitu hening.

Mengingat rentannya wilayah Indonesia dari bencana  alam, maka kita tak akan bosan mengingatkan ihwal  pentingnya membangun budaya sadar bencana. Mitigasi dan edukasi bencana harus ditanamkan berulang-ulang. 

Setiap penduduk Indonesia mesti memahami potensi bahaya bencana semisal gempa dan tsunami serta memahami mitigasinya agar terjadi  harmoni tinggal di wilayah rawan bencana.

Wajib hukumnya bagi anak Indonesia sejak usia dini membudayakan perilaku sadar bencana. Memperbanyak latihan atau simulasi penyelamatan jika terjadi gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor dan bencana alam lainnya merupakan cara membentuk kebiasaan yang bermanfaat jika bencana sesungguhnya datang.

Mitigasi sebagaimana perintah Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan bencana harus menjadi kewajiban pemerintah daerah demi meminimalisir risiko dan dampak bencana, baik melalui pembangunan infrastruktur atau memberikan kesadaran dan kemampuan menghadapi bencana.

Sejauh ini kita masih melihat pemerintah daerah di NTT  setengah hati menjalankan program mitigasi. Padahal bencana dapat terjadi kapan dan di mana saja serta dapat menimbulkan kerugian materi dan korban jiwa manusia.

Kita belum melihat agenda aksi yang konkret dari pemerintah daerah melaksanakan mitigasi struktural dan non struktural yang berkesinambungan. Pemerintah  umumnya baru memberi respons manakala sudah terjadi bencana alam yang menelan korban materi dan manusia.

Mari kita tinggalkan cara lama menghadapi bencana alam. Mitigasi dan edukasi bencana harus menjadi program utama yang tidak kalah penting dibandingkan pembangunan sektor lainnya karena taruhannya adalah keselamatan manusia.*

Pos Kupang, 28 Desember 2018 hal 4

Membangun Sumba Tengah


GUBERNUR Nusa Tenggara Timur (NTT),  Viktor Bungtilu Laiskodat  telah melantik pasangan Drs. Paul K  Limu-Ir. Daniel Landa sebagai Bupati dan Wakil Bupati (Wabup)  Sumba Tengah periode 2018-2023 di Kupang, Senin (12/11/2018).

Kepada wartawan pasangan ini mengatakan akan fokus memenuhi kebutuhan dasar masyarakat  semisal penyediaan air bersih serta menciptakan keamanan dan kenyamanan masyarakat. Bupati Paul K Limu dan Wabup Daniel Landa sudah melakukan survei di seluruh wilayah Sumba Tengah untuk melihat potensi sumber air yang bisa dikelola demi memenuhi kebutuhan masyarakat.

Bupati Paul K Limu menjelaskan, satu di antara program prioritas mereka adalah membangun sarana air bersih di Kota Waibakul pada  tahun 2019  yang berlanjut ke semua wilayah kabupaten itu. Target duet pemimpin ini adalah  seluruh masyarakat  Sumba Tengah segera terbebaskan dari krisis air.


Kita mengapresiasi langkah Bupati Paul Limu dan Wabup Daniel Landa. Sudah semestinya pemerintah memenuhi kebutuhan dasar masyarakat seperti air. Krisis air tidak hanya merepotkan masyarakat memenuhi kebutuhan untuk masak, mandi dan cuci saban hari tetapi juga untuk mengolah lahan pertanian mereka.

Sumba Tengah memiliki lahan pertanian yang memadai namun belum didukung ketersediaan air yang memungkinkan masyarakat dapat mengolah lahan mereka untuk pertanian dan perkebunan. Secara kasat mata kita melihat tidak sedikit lahan tidur yang belum diolah secara  baik dan berkesinambungan.

Usaha mengatasi krisis air di Sumba Tengah sudah dimulai sejak lama. Bupati dan Wabup sebelumnya yaitu pasangan  Umbu S Pateduk  dan Umbu Dondu telah merintis berbagai langkah yang tinggal dikembangkan lebih lanjut oleh Bupati Paul K Limu dan Wabup Daniel Landa.

 Selama sepuluh tahun memimpin wilayah tersebut tentunya sudah banyak keberhasilan yang sudah ditorehkan Umbu S Pateduk dan Umbu Dondu.

Tugas dan tanggung jawab pemimpin Sumba Tengah yang baru adalah meningkatkan  keberhasilan serta menekan sekecil mungkin kegagalan.

Air  bukan satu-satunya kebutuhan mendesak. Pemenuhan kebutuhan lainnya di bidang infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan pun sangat penting guna memudahkan akses masyarakat. Sumba Tengah harus bebas dari keterisolisasian wilayah. Demikian  pula di bidang kesehatan dan pendidikan.

Berbagai indikator pembangunan menunjukkan, Sumba Tengah masih tertinggal dalam banyak hal. Sumba Tengah harus bergerak lebih aktif, lebih gesit dan lebih tangguh agar dapat mengejar ketertinggalannya dari kabupaten lain di Pulau Sumba dan NTT umumnya.

Kita yakin pasangan Bupati Paul K Limu dan Wabup Daniel Landa sudah memiliki program dan agenda kerja yang jelas untuk membawa masyarakat  Sumba Tengah lebih sejahtera.

Dukungan publik menjadi kunci sukses bupati dan wakil bupati mengaplikasikan visi misi dan program kerja secara nyata di lapangan selama lima tahun ke depan. Jika kebutuhan dasar mereka terpenuhi niscaya masyarakat Sumba akan merasa aman dan nyaman serta derajat kehidupan mereka semakin baik. *

Pos Kupang, 13 November 2018 hal 4

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes