Wartawan yang Mencintai Profesi Lebih dari Segalanya



Valens Doy
Mengenang 5 Tahun Wafat Valens Doy (3 Mei 2005-3 Mei 2010)

Oleh Steve H Prabowo

“Papa … Papa jangan tinggalin Elva!”

Suasana ruang Intensive Care Unit RSUD Sanglah, Denpasar, mencekam. Gadis itu, Elva, putri sulung wartawan senior Valens Goa Doy, memegang tubuh sang ayah. Sementara sang ibu, Ny Elsa Doy, memegang kaki almarhum.

Air matanya jatuh. Ya, malam itu, Selasa, 3 Mei 2005, Oom Valens – begitu ia biasa dipanggil para murid dan anak buahnya – meninggal dunia.

Beberapa saudara, teman-sahabat dan anak didik Oom Valens yang hadir di ruangan itu tepekur.

Sementara dokter dan paramedis mencoba menyelamatkan hidupnya, yang hadir memanjatkan doa berdasarkan agama dan keyakinan masing-masing.


Tampak sejumlah wartawan dan mantan wartawan Kompas, Damyan Godho, Frans Sarong, juga bekas anak didik almarhum di Persda Kompas-Gramedia seperti Victorawan “Itong” Sophiaan, Sri Unggul Azul dan Suwidi Tono.

Hampir satu jam upaya membuat jantung Oom Valens berdetak dilakukan. Namun, tubuh Oom Valens tetap tak bergerak. Pendiri koran-koran daerah milik Kelompok Kompas-Gramedia itu meninggal dunia.

Azul yang satu jam sebelumnya telah mengabarkan kematian Oom Valens lewat pesan teks kepada rekan-rekan lainnya, menghela nafas panjang. “Gua nyesel kirim berita duka duluan,” keluhnya.

Satu jam sebelumnya, kami, saya, Azul dan Itong, masih berada di luar ICU, ketika Frans Sarong mengabarkan Oom Valens meninggal. Azul langsung mengirim berita duka ke beberapa teman. Kami pun bergegas masuk ruangan tempat Oom Valens dirawat.

Ternyata, dokter dan para pembantunya sedang mengupayakan penyelamatan. Pesan teks Azul rupanya menjadi pesan berantai yang akhirnya, entah dari tangan ke berapa, kembali lagi pada pengirimnya.

Di dipan rumah sakit, tubuh Oom Valens membujur dikelilingi keluarga dekatnya, Tante Elsa, Elva dan Alex Doy, juga saudara kandungnya, Tante Waldeet dan Romo Frans Doy Pr. Isak tangis masih terdengar.

***

Mendengar tangisan dan ratapan Elva, ingatan saya kembali ke belasan tahun silam. Tepatnya tahun 1989. Oom Valens yang tengah membuka Harian Surya di Surabaya, lebih banyak tidur di mes kantor Jl Basuki Rachmat ketimbang bersama keluarganya di Jl Tumapel.

Malah, ia lebih suka tidur di ruang lay out, ketimbang di kamar mesnya.
Istrinya, Tante Elsa, setiap hari mengirim makanan ke kantor.

“Gila si Oom itu,” kata Manuel Kaisiepo, redaktur saya, ketika ngopi di kantin Gramedia. “Anaknya sudah lima hari di rumah sakit, dia baru tadi jenguk,” imbuh Manuel.

Hari itu memang hari kelima Elva dirawat di rumah sakit. Baru hari itu pula, Oom Valens menjenguk putri sulungnya.

“Nggak sempat,” kata Oom Valens, tertawa ketika saya tanya. “Mana sempat urus yang begitu-begitu (keluarga, pen), kalau kalian masih bikin berita biasa-biasa saja,” ujarnya.

Bagi Valens waktu itu, keluarga nomor dua. Pekerjaan nomor satu. Tapi itu berubah menjelang akhir hidupnya.

Sekitar seminggu sebelum meninggal, ketika hendak makan malam di rumah makan seafood di Cikini Raya, Oom Valens meminta saya ikut mobilnya, sementara teman lain berangkat duluan. Di mobil ia berpesan: “Keluarga itu yang paling penting. Jangan sia-siakan mereka, jaga mereka.”

Mereka yang mengenal Valens, pasti tidak percaya kalimat itu keluar dari mulutnya.

***

Berita adalah hidup sehari-hari Valens. Hidupnya dari deadline ke deadline. Selesai produksi, waktu itu koran masih sering terlambat, sekitar pukul 01.00 WIB, ia sudah rapat dengan para redaktur dan redaktur pelaksana.

Oom Max Margono, Trias Kuncahyono, dan (pada awal-awal Surya terbit) Oom Peter A Rohi, merupakan teman rapat rutinnya setiap dini hari.

Dalam rapat, ia menyusun penugasan kepada para redaktur dan kepala biro, untuk diteruskan kepada reporter-reporternya di lapangan esok harinya. Penugasannya begitu detil dan jelas.

Usai rapat, biasanya koran sudah terbit. Ia langsung memeriksa semua halaman, tak terlewat satu pun. Mencoret-coret koran dengan pena, baik untuk evaluasi maupun untuk dikembangkan lagi beritanya.

Pekerjaan ini biasanya dilakukan sampai subuh.

Pukul 08.00 WIB, Valens sudah rapi duduk di ruang rapat dengan koran yang sudah dicorat-coret di hampir setiap halamannya. Ia siap memimpin rapat redaksi pagi.
Usai rapat dengan redaksi, ia biasa juga mengadakan rapat dengan tim bisnis yang waktu itu dipimpin Herman Darmo.

Sore ia sudah memimpin rapat budgeting. Kantor yang sejak siang sepi, ramai oleh suara ketukan tuts kibor. Canda dan obrolan wartawan terdengar. Di antara hiruk pikuk itu, yang paling keras adalah suara Valens Doy. Teriakan, teguran, bahkan ketawanya terdengar dari depan sampai mes belakang kantor.

Begitulah kegiatan sehari-hari Valens Doy. Rutin, tapi penuh ketegangan, terutama bagi bawahannya.

“Dia memang kerja seperti kuda,” kata DJ Pamoedji, wartawan senior Kompas, saat menunggu jenazah disemayamkan di ruang duka.

Di proyek Surya, Mas Pam pernah berantem hebat dengan Oom Valens. Gara-garanya, Pamoedji marah diajak rapat pukul 03.00. “Emang semua kaya lu, kerja kaya kuda!” bentak Pamoedji, ketika pintu kamarnya diketuk Valens. “Orang perlu istirahat!”
Mereka bertengkar hebat, sampai-sampai Pamoedji membanting pintu. “Gua pulang (ke Jakarta) besok!” katanya.

Pamoedji benar-benar pulang ke Jakarta hari itu.

Menyadari kehilangan teman kerja yang andal, Valens pun minta maaf dan meminta Pamoedji kembali ke Surabaya, melanjutkan proyek Surya.

Istirahat dan santai adalah dua kata yang mungkin tidak dikenal Valens zaman itu. Bekerja bersama dia, jangan sekali pun berharap bisa bersantai. Ada cerita menarik di proyek penerbitan koran di Ambon, Pos Maluku, tahun 1990.

Suatu hari Sabtu sore (koran tidak terbit hari Minggu), kami – saya, Satrio Hutomo, Muhammad Yamin, dan Adrizon Zubair – berencana santai ke diskotek kota itu. Rencana itu gagal dengan kedatangan Oom Valens ke kantor.

 “Ayo, cicil untuk (terbitan) Senin!” teriaknya ketika kami duduk-duduk di depan kantor. Tommy, panggilan Satrio Hutomo, yang paling kesal. Tak lama kemudian, syukur pada Tuhan … listrik mati!

Si Oom marah besar, memaki-maki PLN karena tulisan dia hilang akibat mati listrik. Tommy menahan tawa, demikian juga Adrizon. Sikap mereka itu membuat saya dan Yamin berpikir bahwa merekalah, atau paling tidak salah satu dari mereka, dalang matinya listrik di kantor Pos Maluku.

***

Bekerja dengan Valens Doy sama artinya dengan menempatkan kantor sebagai rumah pertama, sedangkan tempat tinggal hanya “losmen” tempat berganti baju.

Tanggal 7 Desember 1989 malam, saya bertiga bersama Anwar Hudijono dan Trias Kuncahyono ngobrol-ngobrol sehabis kerja. Salah satu topik obrolan adalah wafatnya KH Ali Maksum hari itu.

Pukul 03.00 dini hari saya pamit. Sesampai di rumah, belum sempat ganti baju, sopir kantor datang. “Mas, dijaluk Oom balik kantor. Nggawa klambi, dikongkon luar kota (Mas, diminta Oom kembali ke kantor. Bawa baju, disuruh ke luar kota),” katanya.

Dini hari itu juga, saya berangkat ke Yogya mengikuti Ano – panggilan Anwar Hudijono – meliput wafatnya KH Ali Maksum. Tentu, dalam hati mengeluh: “Daripada pergi jam segini, kan mending dari tadi. Gak cape.”

Keasyikan ngobrol di kantor kadang ada untungnya. Salah satunya yang dialami Trias Kuncahyono, kini Wapemred Kompas. Hari itu, 26 Desember 1989, sekitar pukul 03.00 WIB, Trias masih berada di mejanya usai ngobrol dengan beberapa reporter dan redaktur.
Entah karena tak bisa tidur, ia iseng-iseng melihat lembaran teleks dari kantor berita. Waktu itu ia memang menangani desk luar negeri.

Tiba-tiba matanya membelalak. Malam hari sebelumnya, ia menulis headline “Ceausescu Ditangkap”. Nicolae Ceausescu memang ditangkap 22 Desember 1989 waktu Bucharest.

Tapi, pagi itu ia menemukan berita pendek, entah dari Reuters atau AFP, diktator Romania itu sudah dieksekusi, 25 Desember 1989 waktu setempat. Langsung ia telepon percetakan untuk stop press. Hari itu, sementara semua koran di Indonesia memasang headline Ceausescu ditangkap, Surya memasang judul “Ceausescu Ditembak”.

Total. Itu kata yang tepat untuk menggambarkan kerja Valens Doy. Ia selalu ingin timnya total bekerja. Awal tahun 1990-an, dan pasti sebelumnya juga, ia dikenal sebagai pribadi yang tanpa kompromi untuk hasil terbaik.

 Seperti yang dilakukannya sendiri, Valens Doy selalu menuntut anak buahnya untuk total dan bekerja keras.

“Kerja keras nggak bikin orang mati,” kalimat itu sering didengar anak didik atau rekan kerjanya.

Tentu bagi yang tidak terbiasa, atau bahkan yang sudah terbiasa sekalipun, bekerja sama dengan Valens Doy kadang merupakan siksaan. Baru datang liputan, sudah disuruh berangkat lagi. Entah untuk melengkapi hasil liputan yang dirasa kurang, atau liputan baru lagi.

***

Bagi yang mengenal dia, Valens Doy adalah sosok tanpa kompromi. Apa yang diinginkan harus terpenuhi. “Tidak ada sesuatu pun yang tidak bisa dikerjakan,” kata Oom Valens, di suatu hari bulan April 2005, saat rehat setelah seharian kami bertiga – Oom Valens, Azul Sjafrie dan saya – berdiskusi membahas konsep koran baru milik Grup MNC, Seputar Indonesia.

Ia lalu bercerita tentang awal-awal proyek Surya. Dari cerita itu, tampak jelas sosok seorang Valens yang penuntut, tanpa kompromi.

Ketika memulai proyek Surya, tutur Valens, ia sudah mensyaratkan adanya percetakan sendiri. Dengan saingan Jawa Pos yang sudah meraja, mustahil menerbitkan koran tanpa percetakan sendiri.

Tidak hanya meminta mesin cetak sendiri, Valens Doy juga menuntut mesin harus sudah siap saat dummy koran. Itu artinya, mesin harus sudah siap cetak tiga bulan dari saat kick off.

Tentu saja para ahli percetakan dari Kelompok Kompas Gramedia langsung menggeleng.
“Tidak mungkin,” kata mereka. Mesinnya saja saat itu masih di Jerman. Perjalanan ke Indonesia butuh lebih dari seminggu. Belum lagi fondasi untuk mesin cetak yang menurut mereka butuh paling cepat dua minggu. Ditambah lagi waktu merakit mesinnya.

Bukan Valens Doy kalau ia menyerah pada argumentasi semacam itu. Ia tetap ngotot mesin harus sudah siap cetak dalam waktu tiga bulan. “Nggak ada mesin, nggak ada koran,” ultimatumnya. Ia benar-benar tidak mau kompromi sedikit pun.

Tim percetakan rapat mencari cara untuk mempersiapkan mesin. Akhirnya ditemukan cara, dengan melakukan semua pekerjaan secara paralel. Baik persiapan mesin, pembuatan fondasi untuk gedung percetakan, sampai perakitan mesin, semua dilakukan bersamaan.
Hasilnya, ketika gedung dan konstruksi untuk mesin selesai, mesin pun tiba di Surabaya, tinggal memasangnya. Semuanya tepat waktu.

“Yang dibutuhkan cuma kemauan berpikir di luar frame,” kata Valens, mengakhiri ceritanya.

Jangan pernah bilang “tidak” di depan Valens Doy. Ia tidak akan mendengarnya. Kata “tidak” mungkin tidak ada dalam perbendaharaan otaknya. Kalimat “Ya, Oom!” biasanya otomatis keluar dari mulut, begitu Valens Doy memberi perintah. Bahkan, seringkali belum habis ucapan Valens, anak buahnya sudah menjawab: “Ya, Oom!”

Tidak bisa adalah kalimat tabu bagi dia. Setelah harian Pos Kupang terbit, saya ditugaskan Valens Doy ke Dili untuk proyek Suara Timor Timur (STT). Oom masih di Kupang ketika saya tiba di Dili. Dia menyusul keesokan harinya. Tiga hari ke depan STT harus sudah terbit.

Tiba di kantor STT saya agak pesimistis. Di kantor cuma ada tiga komputer, dua desktop dan satu laptop milik Oom Valens. “Pasti bisa. Harus bisa,’’ kata si Oom. Dari sisi kesiapan redaksi mungkin tidak masalah, karena sebagian wartawan dan redaktur sudah berpengalaman.

Kebanyakan dari Majalah Dian yang terkenal sebagai tempat belajar wartawan asal NTT. Tapi dari sisi infrastruktur? Bagaimana mungkin tiga komputer, salah satunya untuk layout, bisa mendukung deadline?

Benar. Koran bisa terbit sesuai jadwal, meski deadline molor tiga jam. Pagi itu juga, semua koran yang dicetak habis terjual. Tak satu pun koran masih tersisa di kantor, termasuk untuk dokumentasi ikut dijual juga.

***

Tampang sadis, jiwa romantis. Itu ungkapan saya untuk Valens Doy. Meski tanpa kompromi untuk tugas, ternyata hatinya sangat lembut. Ia mudah tergerak hatinya melihat penderitaan orang lain.

Satu peristiwa yang melekat di ingatan saya tentang hal ini. Tahun 1990, saya diajak Oom Valens ikut serta di proyek penerbitan Tifa Irian di Jayapura, Papua. Seperti biasa, tangan besi dipakai Valens di koran baru ini. Ia tak bisa melihat siang hari wartawan masih di kantor.

“Oom istirahat sebentar ya,” katanya pada saya, sambil naik tangga menuju attic kantor yang sehari-hari dijadikan tempat tidur wartawan Tifa malam hari. Sejenak kemudian saya terkejut oleh suara Oom. “Jam segini belum berangkat?” bentaknya marah. Rupanya di atas masih ada seorang wartawan yang masih “di kamar”.

“Tidak bisa bekerja, Bapa,” kata wartawan itu ketakutan. “Harus cuci baju,” lanjutnya. Alasan itu membuat Valens tambah naik pitam. Alasan yang tak masuk akal, masakan mencuci baju saja harus mengorbankan pekerjaan. Rupanya si wartawan hanya punya sepotong baju yang dicuci seminggu sekali.

Mendengar pengakuan wartawan itu, Oom terdiam. Ia menengok ke arah lain, dan turun. Saya lihat matanya berkaca-kaca. Setelah bisa menguasai diri, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan uang dari dompetnya. “Kau belilah baju,” katanya.

Valens Doy menangis. Mungkin tak banyak orang punya kesempatan istimewa melihat hal itu. Kenangan Oom Valens menangis itulah yang melintas di pikiran saya ketika melihat tubuhnya terbujur diam di RSUD Sanglah, 3 Mei 2005 malam itu.

Isak tangis dan untaian doa masih terdengar. Valens Doy masih dikelilingi dokter dan perawat yang mencopoti alat-alat penyelamatan di tubuhnya. Ia diam, wajahnya tenang seperti sedang tidur. Wartawan yang mencintai profesinya melebihi apa pun itu telah pergi. ***

Sumber: Facebook Steve H Prabowo

Pembeli Pun Bisa Belari-lari

ilustrasi
JUDUL menohok ini langsung menarik perhatian saya ketika memulai aktivitas kerja pagi 1 Juli 2019. Kompas.com menulis demikian, Kejayaan ITC Mangga Dua Mulai Surut, Pembeli Pun Bisa Berlari-lari…

Saat diakses pada pukul 09.05 Wita, artikel ini menempati posisi nomor satu terpopuler, sudah dibaca 122.696 kali. Ya, siapa tidak kenal ITC Mangga Dua? Tempat itu merupakan satu di antara pusat perbelanjaan favorit di Jakarta.

Saya pernah beberapa kali berkunjung ke pusat perbelanjaan tersebut. Koleksi pakaiannya memang sangat beragam dan sesuai selera pasar. Kiranya banyak orang pernah ke sana bukan?

Kompas.com melukiskan lokasi ini dulu merupakan salah satu pasar tersibuk di ibu kota. Pada masa itu, pengunjung yang datang untuk berjalan kaki saja susah, tak hanya pengunjung yang padat, tapi ruang-ruang yang ada juga dimanfaatkan oleh pedagang sehingga hanya tersisa sedikit ruang untuk berjalan kaki.

Namun, kini pemandangan itu sirna. Seperti terlihat pada Minggu 30 Juni 2019, hari yang lazimnya masyarakat berbelanja, ITC Mangga Dua tak lagi seramai dulu. Kesepian sungguh terasa. Banyak ruang kosong. “Pembeli pun bisa berlari-lari,” kata seorang penjual dalam nada berseloroh yang miris.

Mau bilang apa, inilah perubahan yang sedang terjadi. Benarlah apa yang sejak lama diingatkan para pakar bahwa generasi milenial akan merontokkan banyak hal, baik produk, layanan jasa bahkan bidang kerja yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun digeluti manusia. Mereka menyebutnya “millennials kill”.

Anda bisa baca ulasan menarik Andrew Bridgman berjudul The Official Ranking of Everything Millennials Have Killed (http://www.collegehumor.com/post/7045438/millennials-are-bad). Dibeberkan aneka produk dan layanan yang “dibunuh” kaum milenial.

Sebut misalnya bir di urutan ke-5, kartu kredit urutan ke-10, sabun batang 15, department store di urutan 20, TV kabel 21, olahraga golf 23 dan berlian di urutan ke-29.

Sekarang kita mengerti mengapa ITC Mangga cenderung sunyi. Nasib yang mirip pun sudah mendera pusat-pusat perbelanjaan lainnya di tanah air.

Sungguh tak dapat dipungkiri bahwa perilaku dan preferensi kaum milenial berubah drastis dibandingkan dengan generasi sebelumnya seperti Baby Boomers dan Gen-X, sehingga produk dan layanan tertentu tidak relevan lagi bahkan terancam punah.

Setidaknya sejak dua tahun terakhir pengunjung department store di seluruh dunia termasuk di Indonesia seperti Ramayana, Matahari Lotus secara pelan tapi pasti mulai bertumbangan. Jumlahnya tak serimbun masa lalu.

Musababnya adalah milenial yang bergeser perilaku dan preferensinya tadi. Ciri perilaku milenial adalah lebih doyan berbelanja via online dan tak lagi getol berburu barang, mereka justru banyak mengonsumsi pengalaman (leisure).

Anak saya yang berusia 19 tahun, saat mengisi liburan kuliah baru-baru ini minta ongkos bukan untuk belanja barang, makan-makan atau nonton film. Tapi untuk jalan-jalan ke berbagai destinasi menarik di Pulau Timor bersama kawan-kawannya. Mereka memburu spot yang instagramable.

Cuma makan nasi bungkus pun mau. Kulitnya terpanggang matahari bukan masalah besar. Sebelumnya, saat liburan tengah semester dia pun jalan-jalan ke bumi Parahyangan. Begitu ceria dan penuh semangat menjelajahi beragam spot menarik di Jawa Barat.

Jadi kaum milenial tak gandrung amat main ke mal hari-hari belakangan. Kalaupun ke sana mereka toh sekadar cuci mata, nongkrong dan mencari suasana berbeda guna mengusir kejenuhan.

Tak berbeda dengan cabang olahraga golf. Popularitas golf mencemaskan . Sebuah survei menemukan fakta hanya 5 persen kaum milenial yang menekuni golf.

Dalam satu dekade terakhir semakin sedikit penonton yang menyaksikan event golf dunia. Jauh berkurang misalnya jika dibandingkan pada masa keemasan pegolf Amerika Serikat berdarah Thailand, Tiger Woods di era 2000-an.

Dampak kesunyian golf merebak ke mana-mana. Pada tahun 2016 raksasa produsen perlengkapan olahraga Adidas menjual sebagian besar bisnis perlengkapan golfnya karena terus-menerus merugi. Pihak Adidas menyatakan ingin fokus pada bisnis sepatu dan pakaian olahraga saja.

Sebenarnya sejak Agustus 2015, perusahaan asal Jerman tersebut meluncurkan tinjauan bisnis golfnya. Sebagai pemasok perlengkapan golf terbesar dunia, Adidas sungguh merasakan dampak buruk dari makin tidak populernya olahraga elit ini (Kompas.com, 6/5/2016, 15:00).

Perilaku kaum milenial yang unik pun mengguncang dunia kerja. Hari gini jangan lagi tuan dan puan bayangkan mereka mau rutin masuk kantor pukul 08.00 pagi dan pulang ke rumah pukul 17.00. Mereka sungguh tak betah terikat pada sistem semacam itu.

Milenial butuh fleksibilitas dalam bekerja. Dengan kata lain mereka mendambakan bisa bekerja di manapun dan kapan pun demi mencapai kinerja yang dipatok. Survei Deloitte menunjukkan, sebesar 92 persen milenial menempatkan fleksibilitas kerja sebagai prioritas utama.

Anak perempuan senior saya di dunia kewartawanan sudah pindah tempat kerja sebanyak 4 kali dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Apakah karena alasan gaji atau pendapatan? Bukan! Baginya besar kecil gaji itu relatif. Dia pindah karena mendambakan fleksibilitas itu.

Sejak penghujung tahun lalu ia bekerja pada sebuah perusahaan multinasional berbasis di Jakarta yang memenuhi harapannya. Maka dia pun bisa bekerja sambil berlibur ke Eropa  bersama kekasihnya, jalan-jalan ke Labuan Bajo dan keliling Pulau Flores yang indah itu bahkan sempat pula ke Bali. “Saya ini workcation, Om. Bekerja sambil liburan,” katanya bangga.

Artinya bila suatu tempat kerja masih kaku menerapkan gaya bekerja ala generasi Baby Boomers, maka pelan tapi pasti akan kehilangan peminat.

Tentu saja batasan waktu masuk kerja sesuai ketentuan UU ketenagakerjaan dan peraturan internal suatu instansi patut diberlakukan pula.

Namun, mengingat perilaku milenial maka unsur fleksibilitasnya jangan terabaikan. Ini menjadi ujian seni mengelola seorang manajer atau pemimpin unit kerja.

Dalam nada agak menyeramkan, ada yang bilang millennials will kill everything! Kalau demikian, tak ada jalan yang lebih elok selain kita mesti melayaninya dengan bijak.

Darwin sejak abad lalu telah mengingatkan, bukan mereka yang kuat dan hebat yang mampu bertahan hidup. Tapi yang mau beradaptasi dengan tuntutan zamannya. Atau bagaimana menurut tuan dan puan? (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Komang Tastriani Sedih Sekolahnya Ditutup



ilustrasi
Penutupan menjadi pilihan lantaran selama dua tahun terakhir sekolah tersebut minim siswa. Jumlahnya hanya belasan orang.

SEMPAT berjaya pada tahun 1990-an, SMP Taman Pendidikan 45 atau dikenal TP 45 Kayuambua Susut akhirnya ditutup tahun 2019 ini.

Penutupan menjadi pilihan lantaran selama dua tahun terakhir sekolah tersebut minim siswa.  Kesedihan pun melanda para siswa yang pernah belajar di sana.

Saat ditemui Kamis (20/6), Kepala SMP TP 45, Ngakan Putu Alit  membenarkan hal tersebut. Menurut dia, pada tahun ajaran 2018/2019,  sekolah yang dipimpinnya hanya memiliki 11 peserta didik yang terdiri dari 5 siswa dan 6  orang siswi.  Mereka semua sudah lulus tahun ini.


“Saat ini kami sedang mendekor ruangannya untuk acara perpisahan kelulusan. Rencananya, acara ini digelar besok Jumat (hari ini, Red) jam 9.30 Wita,” kata Alit sembari menunjuk ruang kelas dimaksud.

Alit  menceritakan, SMP TP 45  Kayuambua berdiri tahun 1983. Kala itu banyak siswa yang putus sekolah lantaran lokasi SMP cukup jauh. Atas inisiatif perbekel dan tokoh masyarakat setempat, akhirnya dibangun SMP TP 45 yang berlokasi di sisi jalan raya Kayuambua-Kintamani.

“Sejak dibuka, anak-anak sekitar yang telat masuk (putus sekolah) kembali mengenyam pendidikan. Kala itu tidak sedikit dari mereka yang sudah besar, ada pula yang sudah berkumis,” kenangnya.

SMP TP 45 mengalami masa kejayaan pada tahun 1990-an. Sekolah yang memiliki tujuh ruang kelas ini menjadi pilihan  siswa-siswi dari desa sekitar. Bahkan siswa datang dari wilayah Kecamatan Kintamani hingga Kabupaten Gianyar.

Saking banyaknya peminat, lanjut Alit, pada tahun 1993 SMP TP 45 membuka dua shift. “Dulu kebanyakan siswa yang bersekolah di sini dari Desa Tiga dan Desa Penglumbaran, Susut. Beberapa datang dari Tampaksiring serta Desa Sekardadi, Kintamani,” ungkap Alit.

Masa emas sekolah ini mulai menyusut sekitar tahun 2000 bersamaan dengan pembukaan sejumlah sekolah negeri di dekat lokasi SMP TP 45.  Calon siswa lebih memilih sekolah negeri apalagi adanya sistem rayonisasi.

“Kita swasta tidak ada rayonnya. Jadi kita menerima siswa yang tidak dapat di negeri. Terakhir kita menerima siswa baru tahun 2016, dan setelah itu kami tidak mendapatkan siswa baru,” ujarnya.

Diungkapkan pula, SMP TP 45 sebelumnya mempekerjakan 12 tenaga guru terdiri dari 7 orang guru PNS serta 5 orang guru honor. Namun karena jumlah siswa terus menyusut, para guru terpaksa pindah lantaran kekurangan jam mengajar.

“Sekarang tinggal saya di sini. Namun dalam waktu dekat saya juga akan pindah ke SMPN 1 Susut mengajar matematika,” ungkapnya.

Alit mengaku belum bisa memastikan peruntukan sekolah itu setelah ditutup.
“Kami serahkan kepada Yayasan TP 45 anak cabang Kayuambua. Untuk apa rencananya ke depan seperti apa, nanti menunggu hasil rapat,” tandasnya.
Enam orang siswi lulusan SMP TP 45 pada hari itu berada di sekolah. Mereka ikut membantu menyiapkan ruangan yang akan digunakan untuk acara perpisahan.

Ni Komang Tastriani mengungkapkan saat menjadi siswi baru ia hanya memiliki delapan orang kakak kelas. Tastriani mengaku sangat sedih karena almamaternya tidak lagi melaksanakan kegiatan belajar mengajar mulai tahun ini.

Menurutnya banyak kenangan yang tertinggal di sekolah tempatnya menimba ilmu selama tiga tahun. “Harapannya ada murid baru agar tidak ditutup," ungkapnya. (muhammad fredey mercury)

Sumber: Tribun Bali 21 Juni 2019 halaman 1

MK Tolak Seluruh Gugatan Prabowo-Sandiaga


JAKARTA, TRIBUN BALI - Majelis hakim konstitusi menolak seluruh gugatan sengketa hasil Pemilu Presiden 2019 yang diajukan pasangan calon presiden-calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Menurut Mahkamah, permohonan pemohon tidak beralasan menurut hukum. Dengan demikian, pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin akan memimpin Indonesia periode 2019-2024.

Putusan dibacakan Ketua MK Anwar Usman yang memimpin sidang di Gedung MK, Jakarta, Kamis (27/6/2019) malam.

"Dalam pokok permohonan, menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya," ujar Anwar Usman. Sidang dimulai 12.45 WIB dan baru berakhir pukul 21.16 WIB. Pertimbangan putusan dibacakan bergantian oleh delapan hakim konstitusi lainnya.

Saat membuka sidang, Ketua MK Anwar Usman menekankan bahwa putusan tersebut berdasarkan fakta persidangan.


Majelis hakim konstitusi sudah mendengar keterangan saksi dan ahli yang diajukan Prabowo-Sandi, ahli dari KPU serta saksi dan ahli pihak Jokowi-Ma'ruf. Mahkamah juga sudah memeriksa seluruh barang yang dijadikan alat bukti.

Mahkamah sadar bahwa putusan MK tidak akan memuaskan semua pihak. Hanya MK berharap semua pihak tidak menghujat atau menghina pascaputusan.

Dalam pertimbangannya, hakim membacakan pendapat Mahkamah atas masing-masing dalil yang diajukan tim 02. Tim hukum Prabowo-Sandi mengajukan sejumlah dalil yang menurut mereka adalah bukti kecurangan secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM)  oleh Jokowi-Ma'ruf dalam Pilpres 2019.

Seluruhnya ditolak Mahkamah dengan berbagai argumen. Menurut MK, dalil 02 tidak beralasan menurut hukum. Dalam sidang tersebut, hadir tim hukum Prabowo-Sandiaga yang dipimpin Bambang Widjojanto.

Sebagai termohon, seluruh Komisioner KPU hadir didampingi tim hukum yang dipimpin Ali Nurdin. Adapun pihak terkait, hadir 33 pengacara Jokowi-Ma'ruf yang dipimpin Yusril Ihza Mahendra. Hadir pula seluruh komisioner Bawaslu.

Hasil rekapitulasi KPU yang ditetapkan pada Selasa (21/5/2019), suara Jokowi-Ma'ruf unggul atas Prabowo-Sandiaga. Jumlah perolehan suara Jokowi-Ma'ruf mencapai 85.607.362 atau 55,50 persen suara.
Sedangkan perolehan suara Prabowo-Sandi sebanyak 68.650.239 atau 44,50 persen suara.  Selisih suara kedua pasangan mencapai 16.957.123 atau 11 persen suara.

Calon presiden 02 Prabowo Subianto menerima keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak seluruh permohonan yang diajukan Prabowo-Sandi dalam sengketa pilpres.
Meski kecewa, namun Prabowo memastikan dirinya akan patuh terhadap konstitusi.

"Kami menyatakan, kami hormati hasil keputusan MK tersebut. Kami serahkan sepenuhnya kebenaran yg hakiki pada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa," ujar Prabowo dalam jumpa pers di kediamannya, Jalan Kertanegara, Jakarta, Kamis (27/6/2019) malam.

Dalam jumpa pers ini, Prabowo didampingi oleh calon wakil presiden 02 Sandiaga Uno beserta sejumlah petinggi partai koalisi Adil Makmur.

Prabowo menyadari, putusan MK itu telah menimbulkan kekecewaan termasuk di kalangan pendukungnya.

"Walaupun kami mengerti keputusan itu sangat mengecewakan bagi kami, dan para pendukung Prabowo Sandi. Namun sesuai kesepakatan, kami akan tetap patuh dan ikuti jalur konstituisi kita yaitu UUD 1945 dan sistem perundangan yang berlaku," kata Prabowo.

Dia berterima kasih kepada seluruh pendukungnya yang sudah ikhlas mendoakan dan membantunya selama pelaksanaan pemilihan presiden lalu.

DPR Terpilih asal NTT Hasil Pemilu 2019



Inilah Anggota DPD Terpilih asal NTT Tahun 2019-2024



Anggota DPD. Final Perolehan Suara

1. Hilda Riwukore - Manafe 228.487

2. Dr. Asyera Wulandalero 199.022

3. Angelius Wake Kako 179.197

4. Ir. Abraham Liyanto 173.915


---------------

5.  Lusia Lebu Raya 139.153

6. Sarah L Mboeik 126.664

7. M Siki 124. 006

8. Abdulah 107.209

9. Marthinus Medah 93.169

10. Ivan Nestorman 92.411

Inilah 65 Caleg Yang Lolos Jadi DPRD NTT 2019-2024



Didominasi Wajah Baru.  Berikut nama-nama 65 caleg yang terpilih menjadi anggota DPRD NTT periode 2019 - 2024.



Dapil NTT I (Kota Kupang) 



* Jonas Salean (Golkar)



* Chris Mboeik (Nasdem)



* dr. Christian Widodo (PSI)



* Adoe Yuliana Elisabeth (PDIP)



* Alex Foenay (Perindo)



* Muhammad Ansor (Golkar)





Dapil NTT II (Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua) 



* Nelson Obed Matara (PDIP)



* Adrian Manafe (Hanura)



* Cornelis Feoh (Golkar)



* Julius Uly (Nasdem)



* Junus Naisuis (PKB)



* Jan Windy (Gerindra)



* Maria Nuban Saku (Perindo)



Dapil NTT III (Sumba Timur, Sumba Barat, Sumba Tengah, SBD) 



* Dominikus Rangga Kaka (PDIP)



* Yunus Takandewa (PDIP)



* Kristien S. Pati (Nasdem)



* Rambu K.A.Praing (PAN)



* Aloysius Malo Ladi (PKB)



* Hugo Rehi Kalembu (Golkar)



* Dominggus Dama (PPP)



* Stevanus Come Rihi (Gerindra)



* Oktaviana Vinsiana Kaka (Perindo)



* Refafi Gah (Hanura)



Dapil NTT IV (Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur) 



* Yeni Veronika (PAN)



* Inosensius Ferdi Mui (Nasdem)



* Pata Vinsensius (PDIP)



* Yohanes Rumat (PKB)



* Bonefasius Jebarus (Demokrat)



* Maxi Adipati Pari (Golkar)



* Ben Isidorus (Hanura)



* Yohanes Mad Ngare (Perindo)



* Yohanes Halut (Gerindra)



* Jimur Siena Katarina (PAN)



Dapil NTT V (Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka) 



* Patrianus Lali Wolo (PDIP)



* Thomas Tiba (Golkar)



* Josef Gadi Djou (Golkar)



* Emanuel Konfildus (PDIP)



* Paulinus Nuwa Veto (Hanura)



* Agustinus Lobo (PAN)



* Leonardus Lelo (Demokrat)



* John Elpi Parera (Nasdem)



* Mercy A. Piwung (PKB)



* Gonzalo Muga Sada (Perindo)



* Sipriyadin Pua Rake (Gerindra)



Dapil NTT VI (Flotim, Lembata, Alor) 



* Viktor Mado Wutun (PDIP)



* Yohanes de Rosari (Golkar)



* Alexander Take Ofong (Nasdem)



* Syaiful Sangadji (PAN)



* Ana Waha Kolin (PKB)



* Gabriel Beri Bina (Gerindra)



* Rocky Winaryo (Perindo)



Dapil NTT VII (TTU, Belu, Malaka) 



* Gabriel Manek (Golkar)



* Ludovikus Taolin (PKB)



* Kasimirus Kolo (Nasdem)



* Agus Bria Seran (Gerindra)



* Dolvianus Kolo (Nasdem)



* Bernardinus Taek (PAN)



* Hironimus Banafanu (PDIP)



* Anselmus Tallo (Demokrat)



Dapil NTT VIII (TTS) 



* Emelia Nomleni (PDIP)



* Inche Sayuna (Golkar)



* Obed Naitboho (Nasdem)



* Eduard Lioe (Hanura)



* Reny Marlina Un (Demokrat)



* Johanis Lakapu (PKB).

Daftar Riwayat Hidup Damyan Godho


Damyan Godho
Nama lengkap           : Damyan Godho
Tempat tanggal lahir     : Boawae, Kabupaten Nagekeo, Flores,  25 Maret 1945
Nama ayah              : Lambertus Laga Nenu
Nama Ibu             : Klara Wona

Damyan Godho adalah putra kedua dari 9  bersaudara 

Saudara kandung
1. Getrudis
2. Sofia Uta
3. Fabianus Aga
4. Wens Mola
5. Lusia Fesa
6. Adel Tawa
7. Fransiskus
8. Yohanes Kasto Tue Nenu

Keluarga
Damyan Godho menikah dengan Theodora Menodora Mandaru pada  tanggal 26 Juni 1977 di  Waerana, Kabupaten  Manggarai Timur

Pasangan ini dikaruniai empat orang anak yaitu:
1. Romanus Krisantus Tue Nenu (almarhum)
2. Eleonora Ira
3. Berno Marselino
4. Clara Fransisca 

Pendidikan
1.    Menamatkan pendidkan SR  pada tahun  1957 di Boawae
2.    Menamatkan SMP Kotagoa Boawae pada tahun 1961
3.    Menamatkan SGA (Sekolah Guru Atas) Ndao Ende pada tahun 1964
4.    Setelah menamatkan pendidikan SGA beliau merantau ke Kupang

Karier di bidang Pers
1. Pada 1977 sampai dengan 1984 mengelola Mingguan  Kupang Post
2. Pada tahun 1976 bergabung ke Harian Kompas Jakarta dan diangkat menjadi karyawan pada tanggal 1 Januari  tahun 1990
3. Pada tahun 2005 beliau pensiun sebagai wartawan Harian Kompas. Masa kerja beliau di harian terkemuka Indonesia tersebut kurang lebih selama 30 tahun.

4.  Pada tanggal 1 Desember 1992 bersama-sama dengan Bapak  Valens Goa Doy (alm) dan Bapak Rudolf  Nggai (alm)  mendirikan Harian Umum Pos Kupang beralamat di Jl.  Jenderal Soeharto 53 Kupang, lokasi  Hotel Syilvia saat ini. Pos Kupang merupakan koran harian pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

5. Pada tahun 1996 Harian Pagi Pos Kupang memiliki gedung kantor sendiri di Jalan. Kenari No. 1 Naikoten 1. Kupang  dan berkantor sampai dengan 8 Januari 2018. Kini Pos Kupang memiliki kantor baru di Jalan RW Monginsidi III, Kelurahan Fatululi Kota Kupang.

6. Pada tahun 1998-2008 beliau dipercayakan sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang NTT. Beliau memimpin PWI selama dua periode.

7. Damyan Godho merupakan pemegang Kartu Pers Utama yang diberikan Komunitas Hari Pers Nasional yang terdiri dari Dewan Pers, PWI, IJTI, SPS, Serikat Grafika Pers, ATVSI, ATVLSI, Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia dan  PRSSNI. Pemegang kartu ini adalah para tokoh pers yang karya jurnalistiknya diakui di tingkat nasional dan internasional dan menghasilkan karya jurnalistik yang bermutu secara konsisten dalam kurun waktu 25 tahun.

7. Pada tahun 2013  Damyan Godho  menerima penghargaan dari pemerintah provinsi NTT  berupa cincin emas. Penghargaan itu diberikan  pada saat peringatan HUT ke-55 Provinsi NTT.

8. Sampai  akhir hayatnya beliau merupakan komisaris  Harian Pos Kupang.


Riwayat Sakit
Pada bulan Februari 2017 almarhum  mulai sakit dan sempat ke Singapura untuk pemeriksaan lengkap. Pada Agustus 2018 almarhum sempat merasa pinggang sakit dan dibawa ke RS Siloam. September  2018 beliau menjalani perawatan di  Penang Malaysia. Perawatan selanjutnya di Kupang hingga beliau menghembuskan napas terakhir pada tanggal 29 Januari 2019 pukul 01.30 Wita di RS St. Carolus Borromeus Belo, Kupang. Beliau meninggal  pada usia 73 Tahun, 10 Bulan, 4 Hari.

Demikian  riwayat hidup singkat Bapak Damyan Godho

Catatan: Daftar riwayat hidup ini dibacakan Dion DB Putra (Pemimpin Redaksi Pos Kupang) saat misa pemakaman di Gereja Fransiskus dari Assisi Kolhua Kupang, 31 Januari 2019.

Selamat Jalan Om Damy Godho


Damyan Godho
"Kalau tidak pakai kata seru itu bukan Om Damy. Akumulasi pengetahuan Om Damy dan integritasnya sangat luar biasa. Dia betul-betul menjalankan tugas sesuai tagline Kompas 'Hati Nurani Rakyat."

SETELAH disemayamkan semalam di Gereja St. Fransiskus Assisi BTN Kolhua Kota Kupang, jenazah Damyan Godho kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Damai Fatukoa, Kamis (31/1/2019) siang. Upacara pemakaman diiringi hujan.

Istri Damyan Godho, Theodora Menodora Mandaru bersama tiga anaknya, Eleonora Ira, Berno Marselino dan Clara Fransisca mendampingi jenazah hingga kubur ditutup.

Acara pemakaman jenazah dipimpin Romo Simon Tamelab, Pr, Pastor Paroki St. Fransiskus Assisi. Meski hujan, kerabat kenalan mengikuti proses pemakaman sampai selesai yang ditandai dengan peletakan karangan bunga.



Sebelum dikebumikan, dilaksanakan misa requiem di Gereja St. Fransiskus Assisi, dipimpin Romo Simon Tamelab, Pr dan 19 imam konselebrantes dan 1 orang diakon.

Pelayat memenuhi gereja, termasuk karyawan PT. Timor Media Grafika, perusahaan penerbit Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang.

Sejumlah tokoh dan pejabat pemerintah hadir, di antaranya Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, Ketua DPRD NTT, H. Anwar Pua Geno, Sekretaris Daerah (Sekda) NTT, Ir. Ben Polo Maing, Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man, Wakil Bupati Manggarai, Viktor Madur dan General Manager SDM dan Umum Kompas, Pieter P Gero.

Selain itu Ketua dan Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT, Jimmi Sianto dan Muhammad Ansor, Mantan Pejabat Bupati Ende, Oswaldus Toda dan insan pers. Mereka memberi penghormatan terakhir kepada tokoh pers NTT dan pendiri SKH Pos Kupang ini.

Saat memberi sambutan, General Manager SDM Umum Kompas, Pieter P Gero mengatakan, Damyan Godho merupakan 'orang besar'. Sebagai wartawan Kompas, ia mengabdi selama 30 tahun dan sering memberitakan kabar dari NTT sampai ke pelosok-pelosok daerah di NTT.

"Kami kehilangan seorang tokoh besar," katanya sembari melukiskan sosok jurnalis yang memulai kiprahnya sebagai koresponden Kompas itu.


Sebagai wartawan Kompas, Damyan Godho termasuk jajaran wartawan di daerah yang sangat berpengaruh. Bukan hanya itu, sebagai pemimpin Harian Pos Kupang, pengaruhnya justru sangat luar biasa.

"Saya pernah membantu Pos Kupang selama dua bulan. Om Damy dan Valens Goa Doi, Eja Dion (Pemred Pos Kupang kini, Dion DB Putra) kami bersama-sama dalam ruang redaksi yang sempit itu. Suara Om Damy yang paling menggelagar."

Menurutnya, Komisaris Umum Pos Kupang itu selalu menggunakan 'kata seru' untuk menggambarkan kepribadiannya yang tegas dan keras dalam prinsip.

"Kalau tidak pakai kata seru itu bukan Om Damy. Akumulasi pengetahuan Om Damy dan integritasnya sangat luar biasa. Dia betul-betul menjalankan tugas sesuai tagline Kompas 'Hati Nurani Rakyat," bebernya.

Pieter Gero ingat pesan Om Damy yang selalu disampaikan kepada para wartawan, yaitu tidak perlu menulis berita atau feature yang tidak membawa manfaat bagi rakyat.
"Om Damy adalah sosok jurnalis sejati sebab dalam membuat karya jurnalistiknya, ia harus melihat dan terjun langsung ke lapangan. Kalau ada bencana, misalnya, dia selalu ada di lapangan."

Pieter pun mengisahkan bagaimana seorang Damyan Godho membawa motornya dari Kupang menggunakan pesawat hanya untuk meliput putusnya jembatan Kali Wajo di Lekebai, Kabupaten Sikka. Hal seperti inilah yang membuat Pieter menilai kalau Om Damy selalu menulis dengan penuh empati dari pelosok daerah sehingga acapkali membuat dia sering meninggalkan keluarga.

Mewakili keluarga besar Harian Kompas, Pieter berterima kasih kepada keluarga yang telah menjaga sosok jurnalis kawakan tersebut. Sisi lain dari Damyan Godho juga dibeberkan Pieter pada kesempatan itu.

Disampaikannya, Om Damy juga sangat peduli dengan daerah asalnya, Kabupaten Nagekeo dan orang yang selalu setia dengan sahabat. Ia pun mengisahkan bagaimana ia pernah meloloskan sahabatnya, Valens Goa Doi dari kejaran tentara saat konflik Timor Timur.

"Orang yang baik dan lurus jalannya bisa dilihat dari begitu banyak orang yang datang memberi penghomatan terakhir hari ini. Bagi kami Om Damy jelas adalah panutan bagi kita, bagi Kompas dan Pos Kupang.


Ketua Ikatan Keluarga Besar Nagekeo (Ikabana), Marsianus Djawa mengatakan, sudah sejak kemarin orang-orang menyampaikan kisah-kisah inspiratif dari seorang Damyan Godho sebab pengabdiannya untuk NTT begitu besar.

"Bagi Ikebana Kupang, kami merasa kehilangan sosok inspirator. Karyamu tidak akan terkikis oleh waktu," ucap Djawa.

Kepala Inspektorat Provinsi NTT ini juga menuturkan kembali kisah yang pernah diceritakan almarhum kepadanya. Om Damy, kenangnya, pernah di penjara di Kupang karena dengar radio Malaysia dan baru dibebaskan pada 17 Agustus 1965.

Ketua DPRD Provinsi NTT, Anwar Pua Geno menyebut Om Damy juga merupakan aktivis pemuda pada zamannya yang menanamkan nilai-nilai perjuangan dan idealisme untuk daerah ini.

 Baginya, Damyan Godho  tidak hanya seorang tokoh pers, jurnalis Kompas dan pendiri Pos Kupang yang telah banyak melahirkan kader pers di NTT, lebih dari itu, dia adalah tokoh yang memberi sumbangsih pikiran, gagasan, kepedulian dan karya nyata bagi NTT di pelbagai bidang kehidupan.

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian sang tokoh NTT.

"Bapak Damy boleh mati dalam hidup tapi sekarang menemukan kehidupan. Dia orang yang tegas dalam prinsip dan iman. NTT bersedih karena kepergian seorang tokoh. Dia telah meninggalkan benih-benih kebaikkan, ketegasan dan luar biasa. Terima kasih kepada keluarga. Jasanya tidak pernah akan dilupakan oleh seluruh rakyat NTT," ujarnya.

Mendengar semua sanjungan dan kesaksian ini, Eleonora Ira, anak tertua almarhum mengaku tersentak dan tidak menyangka semua hal besar yang dilakukan ayahanda tercinta.

Dalam mendidik anak-anak, kata Ira, bapaknya jarang memberi nasihat dengan kata kata. Sebaliknya, nasihat itu ia wujudkan dengan tindakan dan teladannya sendiri.
Beberapa hal yang ia ajarkan seperti, peduli pada sesama dan spirit untuk tidak pernah menyerah dalam hidup.

"Seumur hidup tidak pernah lihat bapak sakit. Paling parah itu flu. Jadi kaget juga karena bapak sakit."

Bagi Ira yang kini melanjutkan jejak bapaknya sebagai jurnalis CNN Indonesia, ayahnya itu adalah sahabat terbaiknya.

"Kami sering membicarakan banyak hal. Mulai dari hal yang paling serius sampai yang tidak serius," ujar Ira.

Karyawan SKH Pos Kupang memberi penghormatan terakhir dengan mendendangkan sebuah lagu bertitel Tak Satu Pun, disertai pembacaan pusi.

'Apa yang dapat memisahkanku/dari kasihMu Tuhan sahabatku/kelaparankah, ketelanjangankah/tak satu pun tak satu pun/apa yang dapat memisahkanku/dari kasihMu Tuhan sahabatku/aniayakah, penderitaankah/tak satu pun tak satu pun."

Demikian sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan di depan jenazah Damyan Godho. Lagu yang dipopulerkan oleh Grezie Epiphania ini disenandungkan oleh para karyawan Pos Kupang sambil berurai air mata kesedihan yang luar biasa.

Setelah misa requiem, jenazah Damyan Godho dihantar ke TPU Damai Fatukoa. Iring- iringan kendaraan yang panjang mengantar jenazah tersebut. Saat jenazah dibawa keluar dari gereja, hujan pun mengguyur. Namun, prosesi pemakaman berjalan lancar sampai selesai. (ricko wawo)

Sumber: Pos Kupang 1 Februari 2019 hal 1

Uskup Agung Kupang Mengenang Damyan Godho


Damyan Godho
KUPANG, PK -Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr mengenang kebersamaannya dengan tokoh pers NTT, Damyan Godho. Hal itu disampaikan Uskup Turang saat memimpin misa requiem di Gereja Paroki St. Fransiskus Asisi,  Kolhua, Kota Kupang, Rabu (30/1/2019) malam.

"Sebagai seorang wartawan senior, pendiri harian Pos Kupang, Om Damy telah melahirkan banyak wartawan muda yang berkompeten. Di samping itu, sebagai seorang tokoh umat. Damyan Godho telah mewariskan kepada umat Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo," ucap Uskup Turang dalam khotbahnya.

"Setiap kali kita berkunjung ke Taman Ziarah Oebelo, kita bertemu dengan dia secara rohani. Itu yang dia berikan untuk pengembangan hidup iman supaya kita belajar," tambahnya.


Uskup Turang mengatakan, semasa hidupnya Om Damy telah melakukan apa yang Yesus minta, yakni berbuat yang baik dan benar. Mantan wartawan harian Kompas juga memberikan kegembiraan untuk semua orang dalam keseluruhan karya baktinya selama hidup di dunia.

"Kepergian Om Damy adalah suatu kehilangan. Akan tetapi sesungguhnya, kita tidak pernah alami kehilangan karena itu bagian dari hidup kita. Sekarang yang dia bawa adalah perbuatan baiknya. Hanya perbuatan baik yang bisa kita negosiasikan dengan Tuhan. Yang paling penting itu adalah kebaikan," ujar Uskup Turang.

Uskup Turang mengucapkan turut berbelasungkawa kepada keluarga dan sahabat kenalan yang ditinggalkan.

Misa requiem diikuti ratusan kerabat kenalan, termasuk Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi. Selain Uskup Turang, misa dihadiri sepuluh imam konselebrantes di antaranya RD Gerardus Duka, RD Simon Tamelab, RD Dus Bone, dan RD Sipri Senda.

Jenazah Damyan Godho dibawa dari rumah duka di Jl Fetor Funay menuju Gereja Paroki St. Fransiskus Asisi, BTN Kolhua. Sebelum pelepasan jenazah, keluarga mengadakan ritual adat singkat dan doa bersama.

Jenazah tiba di gereja tepat pukul 18.00 Wita dan langsung disambut dengan bunyi lonceng doa Angelus selama beberapa menit. Di gereja paroki, jenazah pendiri Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang ini diterima Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi, RD Simon Tamelab dan RD Longginus Bone.

Jenazah disemayamkan semalam di gereja, selanjutnya dilaksanakan pemakaman di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Damai Fatukoa Kupang, Kamis (31/1/2019). Upacara pemakaman dimulai pukul 10.00 Wita.

Pada Rabu (30/1/2019) pagi, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat melayat jenazah Damyan Godho di rumah duka. Gubernur memberikan peneguhan kepada istri dan anak-anak almarhum. Gubernur cukup lama berada di rumah duka.

Sahabat almarhum, Adrianus Ceme mengatakan, Om Damy merupakan seorang motivator, tokoh inspirasi yang sangat vokal tetapi tetap rendah hati.

Adrianus mengatakan selain dikenal sebagai jurnalis senior, Om Damy juga adalah tokoh umat katolik.

Semasa hidupnya, ia pernah menjabat sebagai Penasihat Dewan Pastoral Paroki St Fransiskus Asisi, Ketua Panitia Percepatan Pembangunan Gereja paroki dan Ketua DPP Taman Ziarah Yesus Maria Yoseph Oebelo Kabupaten Kupang.

Sementara itu tokoh perempuan NTT, Emilia Nomleni mengatakan, Damyan Godho merupakan orang yang sangat ramah dan banyak ide. "Beberapa kali kita bertemu meskipun tidak dalam diskusi yang besar, tapi itu sudah menggambarkan  sosok Om Damy," katanya saat ditemui di rumah duka. (ll)


Sumber: Pos Kupang 31 Januari 2019 hal 1

Damyan Godho Legenda Pers NTT



Damyan Godho
Oleh Pater Edu Dosi, SVD
Pakar Komunikasi dari Unwira Kupang

Saya mengingat catatan Bapak Damyan Godho atau biasa disapa Om Dami  tentang SKH Pos Kupang yang didirikannya. Sang legenda pers ini mencatat bahwa dalam perjalanan ke Restoran Pantai Timor, Kupang, Senin sore 30 November 1992, tempat akan berlangsungnya Acara Peresmian POS KUPANG di benaknya penuh khayalan.

Dengan hati berbunga-bunga membayangkan koran yang akan diterbitkan perdana esok hari Selasa 1 Desember 1992: "Suatu hari nanti, POS KUPANG seperti KOMPAS beredar luas. Dibaca banyak orang, dipercaya dan disayangi...di halte-halte, di bawah tiang listrik, di pasar dan dimana-mana terlihat orang asyik membaca...setidaknya membawa koran di tangan". Koran itu adalah POS KUPANG yang telah menjadi kebutuhan.


Setelah mimpinya sebagian menjadi kenyataan sang Khalik memanggilnya kembali ke rumah Ilahi, di kampung keabadian tempat kenyang pada segala musim. Di sana keindahan cinta diberitakan seperti halnya Om Dami memberitakannya pada surat khabar Pos Kupang dengan segala kelebihan dan kekurangan serta kelemahannya. Tuhan sudah meminjamkan Om Dami kepada kita,dan kita merasa bahagia karena pernah memiliki dia.

Kematian telah mendekatinya pada jam 1.30 dini hari 29 Januari 2019, setelah kurang lebih semenit Om Dami menggenggam erat jemari Rany putrinya lalu menghembus nafas terakhir.

Guru, Orangtua, PemimpinKita pernah memiliki Om Dami, kita mengalami bahwa beliau sosok yang dihadiahkan Tuhan bagi kita. Kita pernah merasakan susah senang hidup bersama dia. Kita mengenal dia dalam banyak ragam pengalaman. Pada saat kematiannya kita mengingat dan merenungkannya.

Dalam kisah hidup, Dion Putra, Pemimpin Redaksi Pos Kupang tak bisa melupakan Om Dami. Dion menyebut bahwa baginya Om Dami adalah pemimpin, orangtua dan guru kehidupan.

Dari sisi pers, Om Dami adalah guru wartawan. Guru wartawan yang profesional adalah guru yang mengajar bahwa panggilan wartawan bukan sekadar sebagai suatu kewajiban dan mata pencaharian tapi sebagai panggilan hidup yang dijalani dengan sepenuh hati, kesungguhan otak dan hati sanubari serta bekerja untuk suatu tujuan  mulia.

Panggilan ini dijalani dengan pembawaannya yang sederhana, bernyali, tegas, kritis, rendah hati, konsisten, teguh pada jalan kebenaran. Om Dami bisa marah dan terus terang tapi dia sangat kebapaan yang merangkul wartawan dan karyawan Pos Kupang. Vian Burin menulis bahwa Om Dami mentor yang keras tetapi sebenarnya baik hatinya.

Om Dami berharap bahwa apa yang ditulis tidak hanya sebagai berita saja. Tetapi sebaliknya tulisan itu harus dapat mengubah keadaan masyarakat NTT, menciptakan transformasi sosial masyarakat NTT. Sehingga komunikasi tidak tinggal komunikasi saja.

Tak mustahil bila om Dami berani membuat pernyataan-pernyataannya yang pedas kepada penyelenggara pemerintahan karena perhatiannya untuk kemajuan Negeri Flobamora tercinta.

Om Dami bersama SKH Pos Kupang berusaha untuk menjalankan profetisme pers. Profetisme pers di suatu Negara seperti di Indonesia dan satu wilayah seperti NTT bukanlah gampang. Om Dami berkehendak agar wartawan Pos Kupang berdedikasi yang tinggi dan memiliki totalitas serta menanggung risiko.

Romo Sindhunata SJ (wartawan Kompas tahun 1977-1980) menulis, dedikasi seorang wartawan adalah totalitas dan berani menanggung risiko. Akibat tulisannya wartawan berani dicari-cari polisi. Ketika mengejar berita di Lewoleba, wartawan berani menahan lapar dan mengetuk pintu rumah orang untuk minta sekadar penambahan kekuatan.

Bagi Om Dami, Pak Jacob Oetama mengajarkan dedikasi yang tinggi, setiap saat Om Dami siap ditelpon oleh Pak Jacob. Wartawan siap sedia ketika diminta berangkat ke daerah bencana atau ketika sedang ada masalah, kapan pun itu.

Catatan indah antara lain datang dari Bapak Mundus Lema, sahabatnya : RIP kakanda tercinta Damyan Godho, selesai sudah ceritera suka, duka dan perjuangan kerasulan awam di bumi Cendana Timor.

Dialah salah satu dari yang sedikit pemuda Flores yang menjadi benteng kerasulan awam dan komandan serdadu Kristus dan sejarah perjalanan Gereja Katolik di Pulau Timor, khususnya Kota Kupang mencatat tapak-tapak perjuangan heroik kak Dami terutama pada saat bersama Bung Kanis Pari menghadapi PKI di era 60-70 an. Inilah bukti bahwa dia 100 persen Katolik 100 persen Pancasila-NKRI. Slamat jalan kakanda terkasih menuju "Sao Ria Bewa Kebahagiaan Kekal-Abadi Surgawi bersama ananda Romi anak tersayang. Salve.

Wartawan ProfesionalBagi saya nama Damyan Godho telah menjadi legenda pers NTT. Ia menjadi salah satu tonggak pers NTT, beliau telah menjadi tokoh pers NTT. Tulisan ini sebagai penghargaan yang tulus pada Om Dami yang memberi keteladanan pada komitmen sebagai pekerja pers. Dia telah memberikan bimbingan dan tuntunan yang sangat bernilai.

Hingga ajal kematian menjemputnya Om Dami telah berusaha menjadi wartawan yang profesional. Kata profesional mengandung arti yang jauh lebih dalam, To profess adalah mengaku dengan seluruh eksistensi.

Jadi profesi berarti pekerjaan yang dilakukan dengan sepenuh hati, dan dengan segenap jiwa, tekun dan setia
dengan mutu dan disiplin serta bersedia menanggung konsekuensi sesuai dengan nilai-nilai luhur profesi itu.

John Hohenberg dalam bukunya "The Professional Journalist" mengemukakan beberapa syarat menjadi wartawan, antara lain: Tidak pernah berhenti mencari kebenaran; maju terus menghadapi jaman yang berubah dan jangan menunggu sampai dikuasai olehnya; melaksanakan jasa-jasa yang berarti dan ada konsekuensinya bagi umat manusia; memelihara suatu kebebasan yang tetap teguh.

 Wartawan harus mencoba untuk menemukan, menyusun dan menjabarkan fakta serta opini kepada khalayak ramai yang kian bertambah maju.

James Reston, editor eksekutip surat kabar New York Times, berkesimpulan bahwa vitalitas merupakan kunci bagi wartawan yang sukses. Selain itu ada kewaspadaan, dan memiliki nilai-nilai moral.

Tak berlebihan bila Om Dami dengan segala keunggulan dan kekurangannya telah berusaha menjadi wartawan profesional seperti yang dilukiskan oleh John Hohenberg dan James Reston.

Om Dami, terimakasih berlimpah makna hidupmu yang bisa menegaskan lagi komitmen kami pada panggilan professional, entah sebagai pekerja pers, pemimpin dll, selamat jalan sang legenda pers . (*)

Sumber: Pos Kupang 30 Januari 2019 hal 4

NTT Kehilangan Tokoh Pers Inspiratif


Damyan Godho
KUPANG, PK - Tokoh pers Nusa Tenggara Timur (NTT), Damyan Godho wafat dalam usia 73 tahun 10 bulan. Pendiri Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang ini mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit (RS) St. Carolus Borromeus Kupang, Selasa (29/1/2019) pukul 01.30 Wita.

Kepergian Damyan Godho untuk selama-lamanya, tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, melainkan masyarakat NTT, lebih khususnya lagi kalangan dunia pers. Berbagai pihak merasa kehilangan sosok yang tegas, visioner, berhati lembut dan humoris ini.

Damyan Godho meninggalkan seorang istri, Theodora Mandaru-Godho dan tiga orang anak, Ira Godho, Ino Godho dan Rany Godho. Anak sulung, Romi Godho sudah lebih dahulu menghadap sang Khalik.


Saat ini jenazah Damyan Godho disemayamkan di rumah duka di Jl. Fetor Foenay Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa Kota Kupang. Menurut rencana, jenazah akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Abadi di Keluarahan Fatukoa, Kamis (31/1/2019).

Pria yang akrab disapa Om Damy ini pertama kali menggeluti dunia jurnalistik dengan bergabung bersama Harian Kompas pada tahun 1980, bertugas di NTT. Pada 1 Januari 1990 diangkat menjadi wartawan Kompas.

Om Damy kemudian mendirikan SKH Pos Kupang pada tanggal 1 Desember 1992. Beliau sempat menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Kupang selama dua periode (1998-2008). Om Damy juga pernah menjabat Ketua Dewan Penasehat PWI Cabang Kupang.

Atas jasanya dalam pembangunan di NTT, khususnya dalam bidang pers, Om Damy mendapat penghargaan cincin emas dari Pemerintah Provinsi NTT. Penghargaan diberikan Gubernur NTT saat itu, Drs. Frans Lebu Raya. Acara penyematan cincin emas terjadi saat peringatan HUT ke-55 Provinsi NTT yang berlangsung di Alun-alun Rumah Jabatan Gubernur NTT, Jumat (20/12/2013) silam.

"Beliau memang kita nilai pantas dan layak menerima penghargaan ini. Beliau kita nilai berhasil dan konsisten bergerak di bidang pers. Banyaknya usaha media dan pers di NTT ini tidak terlepas dari kontribusi beliau," kata Asisten I Sekda NTT, Johana Lisapali saat itu.


Ketua DPRD Provinsi NTT, H. Anwar Pua Geno, S.H mengatakan, masyarakat NTT tentu merasa kehilangan sosok yang semangat dan sudah banyak menorehkan sejarah dalam pembangunan pers di NTT.

"Almarhum sudah lahirkan banyak kader-kader muda yang profesional di bidang jurnalistik. Karya dan semangatnya  juga tetap menjadi panutan," kata Anwar saat ditemui di rumah duka.

Anwar juga mengatakan, secara pribadi dirinya menangkap kesan humanis pada sosok Om Damy. Selain itu, Om Damy sangat dekat dengan keluarga dan masyarakat.
Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man mengatakan Damyan Godho merupakan  temannya. Menurutnya, Damyan Godho merupakan orang yang sangat berjasa dalam pembangunan NTT.

"Beliau adalah orang yang perkenalkan NTT dulu melalui Harian Kompas. Dulu saya baca berita tentang itu ada inisal DAG dan itu beliau. Jadi bagi kami beliau orang pertama yang cukup berjasa promosi NTT lewat Kompas," kata Herman.

Saat melaksanakan tugasnya sebagai seorang jurnalis, kata Herman, Damyan Godho selalu memberikan kritik kepada pemerintah khususnya mengenai pembangunan dan pelayanan publik.

"Pak Damy selalu kritik kami. Tapi kritikannya itu membangun dan memberi kami motivasi," ujarnya.

"Beliau pelaku sejarah, karyanya turut berkontribusi bagi NTT. Kita kehilangan orang berjasa, karena Pak Damy sudah perkenalkan NTT lebih dahulu dari yang lain," ucap Herman.

Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur memiliki kesan tersendiri dengan sosok Damyan Godho. "Pak Damy itu sosok yang sangat visioner. Pikiran-pikirannya sangat maju, selalu memberikan dorongan dan bijaksana. Dalam beberapa kali pertemuan, Pak Damy selalu mengatakan jangan takut kalau melakukan sesuatu yang diyakini benar untuk kepentingan banyak orang," kata Yentji Sunur ketika dihubungi, Selasa siang.

Menurutnya, dalam beberapa kesempatan bertemu Pak Damy di Kupang, dirinya merasakan betapa gaya berpikir Pak Damy jauh ke depan dan sangat visioner.
Pesan lain yang diterima langsung dari Pak Damy, demikian Yentji Sunur, adalah jangan takut kalau apa yang hendak dilakukan itu diyakini benar dan baik untuk kepentingan banyak orang.   "Pesan itu selalu diingat sampai sekarang," ujarnya.

Mantan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si mengatakan, Damyan Godho adalah aset daerah yang kita banggakan. "Kita sangat kehilangan sosok inspiratif," ujar Esthon saat ditemui di rumah duka.

Esthon mengisahkan awal mula mengenal Damyan Godho, yaitu ketika dirinya masuk kuliah di Fapet Undana.

"Saya masuk kuliah ternyata sama-sama dengan ibu Dora (istri Damyan Godho). Saya teman baik ibu Dora. Jadi karakter Pak Damy dari dulu seperti ini," tambahnya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi NTT, Ir. Andre Koreh, MT, sosok Damyan Godho tak hanya sebagai guru tapi juga sahabat dan teman diskusi yang bisa mencairkan semua kebekuan.

"Beliau juga tokoh panutan bagi generasi muda dan seorang pekerja keras yang handal dan gigih," kata Andre.

Menurut Andre, Om Damy juga merupakan tokoh yang lugas dalam membangun komunikasi dengan semua kalangan, dan dengan semua generasi. Om Damy juga selalu berpikir logis dalam setiap masalah dan memberi saran konstruktif untuk mencari solusi.

"Saya secara pribadi merasa sangat kehilangan figur Om Damy," ucap Andre.

Pemimpin Redaksi SKh Pos Kupang, Dion DB Putra mengatakan, "Om Damy adalah segalanya bagi saya. Guru terbaik dalam kehidupannya sebagai karyawan maupun kehidupan pribadi."

Menurut Dion Putra, Om Damy sebagai pemimpin yang hebat. "Om Damy banyak membimbing, mendidik, menggembleng selama mengelola Harian Umum Pos Kupang," ujarnya saat ditemui di rumah duka.

Dikatakannya, Om Damy telah memberikan banyak kesempatan kepadanya untuk memimpin Pos Kupang. Semua karyawan Pos Kupang pantas untuk berterima kasih atas segala jasa Om Damy semasa hidup.

"Lembaga ini sangat kehilangan sosok Om Damy, sebagai pendiri Surat Kabar Harian Umum Pos Kupang. Ada ribuan karyawan yang pernah menghidupi dirinya dan keluarga. Kita bisa makan dan minum dari lembaga ini karena jasa baik Om Damy," ucap Dion Putra.

"Om Damy itu keras dalam sikap tetapi sesungguhnya sangat lembut dalam cara," tambahnya.

Mantan Pemimpin Perusahaan (PP) PT Timor Media Grafika, Daud Sutikno memiliki kesan sendiri terhadap Damyan Godho. "Sosok yang baik. Guru dan orangtua terbaik," ucap Daud Sutikno.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi NTT, Veronika Ata alias Tory Ata mengatakan, Damyan Godho merupakan sosok yang luar biasa dalam memimpin Pos Kupang.

"Saya sangat kehilangan beliau, tokoh dan putra terbaik NTT dalam dunia pers.  Beliau seorang motivator. Selalu memberi semangat. Kita patut apresiasi kepada om Damy karena selama ini beliau dan teman-teman jusnalis di SKH Pos Kupang telah mencerahkan masyarakat melalui karya jusnalistiknya," kata Tory.

Direktris LBH APIK NTT, Ansy Damaris Rihi Dara, SH menilai sosok Damyan Godho adalah seorang yang tegas, disiplin, berwibawa dan memiliki karakter yang baik.

"Saya sangat mengagumi jiwa kepeloporan, komitmen dan profesionalisme dunia jurnalistik itu dari beliau, Om Damyan Godho. Hal ini ditunjukkan dari hasil karya tulisannya dan juga dari keberadaan SKH Pos Kupang hingga saat ini," kata Ansy, Selasa (29/1/2019). (yel/kro/vel/kas/aca)


Pergi ke Taman Ziarah Oebelo


PUTRI bungsu Damyan Godho, Rany Godho menceritakan detik-detik menjelang kepergian ayahnya, Senin dini hari. Saat itu, Rany memang berada di dekat ayahnya yang terbaring lemah.

Rany menuturkan, pada Senin (28/1/2019) siang sepulang dari Kantor Bank NTT tempatnya bekerja, dirinya langsung menemani ayahnya yang sudah seminggu terakhir dirawat di RS St. Carolus Borromeus.

Ketika tiba, sang ayah langsung berkata, "Eh..kamu kemana saja? Hari ini kita bersama Bapak Uskup (Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr) akan pergi ke Gua Maria Oebelo."

Rany sempat bingung dengan perkataan ayahnya yang mengajak ke Taman Ziarah di Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Padahal ayahnya tidak ada janjian berziarah ke Gua Maria Oebelo.

"Mendengar itu saya hanya tersenyum dan bertanya-tanya dalam hati, apa maksud papa bilang seperti itu?" ungkap Rany saat ditemui di rumah duka.

Rany berusaha menepis rasa penasarannya dengan bercanda. Rany sangat bahagia siang itu karena ayahnya ceria dan bersemangat. "Ada bapak kecil saya, kakak sulung dan ibu, kami banyak bercerita dan bercanda," ujarnya.

Pada malam hari, Rany mulai gelisah saat mendengar bunyi ngorok ayahnya. Menurutnya, suara ngorok itu terdengar aneh, tidak biasa. Ia bergegas menemui perawat untuk menanyakan apa yang terjadi dengan ayahnya.

Singkat cerita, suasana di ruang tempat Damyan Godho dirawat berubah. Dokter dan perawat sibuk memompa jantungnya. Rany bersama ibunya serta anggota keluarga lainnya hanya menangis.

Rany mengatakan, detik-detik sebelum menghembuskan napas terakhir, ayahnya menggenggam erat jemari tangan kanannya. Hal itu dilakukan kurang lebih selama semenit. Namun tak ada kata-kata yang terucap. "Kami hanya bisa menangis," ujarnya mengenang.

Bagi Rany, ayahnya adalah sosok yang tegas tapi juga lembut. Selalu memberi teguran dan nasehat setiap kali dirinya membuat kesalahan. "Dari situlah Rany selalu belajar untuk jadi lebih baik hari demi hari," katanya.

Ayahnya juga sosok yang lembut hati. Tidak akan memaksakan kehendaknya kepada anak-anak. "Yang penting kita juga bisa memberikan penjelasan yang masuk akal atau
tentunya dipertimbangkan dengan matang."

Rany menjelaskan, ayahnya suka berteman dengan siapa saja. Ayahnya pernah berpesan, hal yang penting dalam menjalani hidup ialah merawat hubungan dengan orang lain.

"Bagi ayah, relasi atau hubungan itu lebih berharga daripada harta dan kekayaan. Itulah yang Rany teladani, selalu menjaga relasi atau hubungan baik dengan orang lain," kata Rany.

Rany juga mengungkapkan kebiasaan ayahnya saat berada di rumah. Menurutnya, ayahnya suka menanam dan mempretel mobil, bahkan ketika kondisi kesehatanya mulai memburuk.

"Di rumah kami ini hijau karena banyak tanaman. Bapa memang suka menanam selain itu juga suka mempretel mobil," ungkap Rany.

Beberapa hari sebelum meninggal, kata Rany, ayahnya menyampaikan beberapa pesan penting kepadanya. Salah satunya adalah menjaga dan merawat ibunya.

"Papa sering bilang, tolong jaga dan rawat ibu baik-baik. Kalau papa meninggal, papa mau dikubur dekat almarhum kakak sulung Rany," ucapnya lirih.

Ira Godho menambahkan, ayahnya mulai mengalami sakit dan terasa pada Februari 2017 lalu. Ketika itu, lanjut Ira, keluarga berupaya untuk berobat, bahkan sampai ke Singapura. Kemudian, pada Agustus 2018, mengalami sakit pinggang dan sempat dibawa ke RS Siloam. Selanjutnya sang ayah dirawat di RS St. Carolus Borromeus Kupang. "Upaya yang dilakukan keluarga ternyata lain yang terjadi sehingga papa meninggal pada Selasa dini hari," ujar Ira. (yel/kk)

Sumber: Pos Kupang 30 Januari 2019 hal 1

Jenazah Damyan Godho Disemayamkan di Gereja


Damyan Godho
SELAIN kerabat kenalan dan masyarakat umum, sejumlah tokoh melayat jenazah Damyan Godho di rumah duka, Jl. Fetor Foenay Kelurahan Kolhua Kota Kupang, Selasa pagi hingga malam. Ada juga yang menyatakan duka cita dengan mengirim karangan bunga. Isak tangis dan deraian air mata silih berganti.

Beberapa pejabat pemerintah terpantau hadir melayat, di antaranya Walikota dan Wakil Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore dan dr. Herman Man serta Ketua DPRD NTT, H. Anwar Pua Geno bersama istri. Dua mantan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay dan Yohanes Pake Pani serta Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr juga ikut melayat. Tak ketinggalan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur, Josef Nae Soi.

Uskup Turang tiba di rumah duka, Selasa (29/1/2019) pagi. Uskup Turang sempat berdiri di depan jenazah Damyan Godho, lalu memanjatkan doa.


Saat bertemu dengan keluarga, Uskup Turang sempat berbicara lepas. Hal ini dijelaskan anggota keluarga, Linda Uta. "Kau sudah jalan e Damy. Saya mau buat misa tapi harus di gereja. Kau mau ya Damy..," ujar Linda mengutip pernyataan Uskup Turang.

Hal senada dijelaskan John Elphi Parera dan Isyak Nuka. Keduanya mengatakan, Uskup Turang menghendaki agar misa arwah berlangsung di gereja.

"Karena itu permintaan Bapak Uskup, maka kita pada Rabu (30/1/2019) akan membawa jenazah Bapak Damyan Godho ke Gereja St. Fransiskus dari Assisi BTN Kolhua," ujar Elphi Parera.

Isyak Nuka menambahkan, saat Uskup Turang melayat, langsung meminta agar misa arwah hari berikut harus dilakukan di gereja. "Kami juga sudah berembuk bersama keluarga, maka pada Rabu (30/1/2019) ini jenazah bapak Damy akan kita pindahkan ke gereja," terang Isyak.

Perayaan misa di Gereja St. Fransiskus dari Assisi, Rabu malam dimulai pukul 19.00 Wita. Misa dipimpin Romo Geradus Duka. Sedangkan misa pemakaman dilaksanakan Kamis (31/1/2019) pukul 10 :00 Wita. Jenazah Damyan Godho akan dimakamkan di TPU Damai Kelurahan Fatukoa.

Pada Selasa malam, berlangsung misa yang dipimpin RD Gerardus Duka di rumah duka. Usai misa, anggota Komunitas Terang, Theodorus Widodo menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian Damyan Godho. Komunitas Terang didirikan Damyan Godho.

Theo Widodo mengatakan, dirinya sudah mengenal Damyan Godho sejak tahun 1980-an. "Om Damy sangat tegas, sangat peduli pada sahabat. Kami tentu merasa sangat kehilangan seorang kakak dan orangtua teristimewa bagi Komunitas Terang," ucapnya.

Sebulan sekali, jelasnya, bersama Om Damy, Komunitas Terang mengadakan kegiatan di gereja dan kegiatan sosial seperti pengobatan gratis. "Kesan kami semua, Om Damy betul-betul seorang bapak yang bisa mengayomi kami semua dan mau berbaur."

Kebersamaan lainnya, lanjut Theo Widodo, saat bersama-sama pergi ke Taman Ziarah Oebelo, Kabupaten Kupang. "Bisa dikatakan Taman Ziarah Oebelo adalah buah tangan Om Damy. Orang yang selalu setia ada di taman ziarah. Sehari bisa dua kali ke taman ziarah," katanya.

Dia juga mengatakan, Om Damy sangat tegas dan keras. Bahkan pada saat sakit, tidak mau kalau banyak orang mengetahui kondisinya. "Setelah beberapa kali, baru Om Damy mau kami datang pada tanggal 6 Januari 2018 menjenguknya," tutur Theo Widodo.

Menurut Theo Widodo, kepergian Om Damy merupakan jalan terbaik karena beliau sangat menderita. "Kita yakin karena iman dan perbuatan baik, ia sudah berbahagia di surga," pungkasnya. (yel/kk/ll)

Damyan Godho di Mata Mereka


Damyan Godho
PAK Damy Godho adalah aset daerah yang kita banggakan. Kita sangat kehilangan sosok inspiratif. (yel)

- Mantan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay -


Lahirkan Banyak Kader

MASYARAKAT NTT tentu merasa kehilangan sosok yang semangat dan sudah banyak menorehkan sejarah dalam pembangunan pers di NTT. Almarhum sudah lahirkan banyak kader-kader muda yang profesional di bidang jurnalistik. Karyanya dan semangatnya juga tetap menjadi panutan. (yel)

- Ketua DPRD Provinsi NTT, H. Anwar Pua Geno, S.H -


Sosok Visioner

PAK Damy Godho itu sosok yang sangat visioner. Pikiran-pikirannya sangat maju, selalu memberikan dorongan dan bijaksana. Dalam beberapa kali pertemuan, Pak Damy selalu mengatakan jangan takut kalau melakukan sesuatu yang diyakini benar untuk kepentingan banyak orang. (kro)

-- Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur -



Karya Istimewa Tetap Abadi

PAK DAMY boleh tiada tapi karya-karya istimewanya tetap abadi di hati kami semua. Karyanya membanggakan dan sulit dilupakan. Beliau salah satu orang hebat NTT. Selamat jalan! (yel)

- Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD NTT, Winston Neil Rondo -


Punya Daya Ingat Tajam

DAMYAN Godho adalah seorang motivator, pemberi semangat dan memiliki daya ingat yang kuat atau tajam. Kita sangat kehilangan tokoh dan putra terbaik NTT dalam dunia pers. Kita patut memberikan apresiasi kepada Om Damy karena telah memimpin pers di NTT yang mampu mencerahkan masyarakat melalui karya-karya jurnalisik di Pos Kupang. (vel)

- Ketua DPD WKRI NTT, Ursula Gaa Lio Dando -


Menghargai Orang Muda

SAYA ingat, sekitar tahun 1998 kalau tidak salah, SKh Pos Kupang mengalami masa sulit, masa kritis, namun Om Damy tetap bertahan dan mempertahankan eksistensi SKH Pos Kupang sampai hari ini. Beliau juga sangat menghargai orang muda dan selalu memberi kesempatan orang muda untuk maju di bidangnya masig-masing. Beliau mau mendengarkan pendapat kami walapun posisi kami sebagai anak. (vel)

- Henderina Malo, SH, MH, Jaksa Kejari Kupang -

Sumber: Pos Kupang 30 Januari 2019 hal 1

Nasib 18 Nelayan Asal Alor


KABAR kurang menggembirakan  datang dari tetangga terdekat kita. Angkatan Laut (AL) negara  Republik Demokratik Timor Leste  menahan 18 nelayan asal Kabupaten  Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 19 Januari 2019.  Mereka ditangkap karena kedapatan  membawa alat tangkap kompresor  saat memasuki perairan negara  tersebut.

Menurut Duta Besar RI untuk Timor Leste,  Sahat Sitorus,  nelayan Alor yang masuk perairan Timor Leste dengan tiga perahu motor membawa kompresor yang dilarang menurut hukum perikanan  Timor Leste Nomor 7677.

Kepala Badan Pengelola Perbatasan Kabupaten Alor, Abdul M  Kapukong menjelaskan,  ke-18 nelayan itu meninggalkan Pulau Buaya (Alor)   pada 15 Januari 2019 untuk  mencari ikan.


 Pada tanggal 19 Januari 2019, mereka membawa hasil tangkapan ke Timor Leste tanpa dokumen resmi sehingga ditangkap AL Timor Leste  saat kapal motor mereka  berlabuh di Pelabuhan Dili.

Menurut Abdul, dari 18 orang nelayan  tersebut  yang memiliki paspor hanya tiga orang yaitu juragan Nurdin Kasim, Hikmah Hasan dan Talib Samsudin. Satu di antara 18 orang tersebut masih berusia 16 tahun yaitu Sabirin H Wahid. 

Proses hukum terhadap ke-18 nelayan asal Alor masih berlangsung. Sampai Selasa (22/1/2019), tiga nakhoda kapal diperiksa satu persatu oleh penyelidik di pengadilan Timor Leste.  Sahat Sitorus mengatakan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dili  terus memonitor agar para nelayan dalam kondisi yang baik dan mengawal kasus hukumnya diproses secara adil. 

Kita tentu berharap agar proses hukum terhadap saudara kita itu segera berakhir. Mereka dibebaskan sehingga bisa pulang ke kampung halaman untuk berkumpul kembali dengan keluarga. Kita bisa ambil hikmah  dari peristiwa ini.

Persoalan laut memang sangat kompleks. Bagi nelayan, laut adalah sumber kehidupan. Mereka akan terus melaut karena di sanalah kebahagiaan hidup itu tergenapi. Harus diakui masih banyak nelayan kita yang belum belum tahu batas laut antarnegara.

Mereka cuma tahu  cari makan di laut.  Bagi mereka laut itu tanpa batas. Selama ini nelayan asal NTT sudah biasa melaut sampai ke perairan Timor Leste.  Mereka lupa bahwa Timor Leste sudah menjadi negara sendiri sehingga yang berlaku adalah hukum internasional. Itulah sebabnya sosialisasi kepada para nelayan kita sangat penting. Kalau masuk ke negara lain harus memiliki dokumen resmi. Tidak bisa seenaknya saja. Dari 18 nelayan hanya tiga orang yang memiliki paspor. Selebihnya tidak sama sekali. Dari sisi aturan keimigrasian jelas salah.

Kejadian semacam ini tidak boleh terulang. Ketika Indonesia gencar menangkap nelayan asing yang masuk perairan Nusantara bahkan menenggelamkan kapal mereka, maka nelayan  kita pun harus taat hukum. Kiranya ini menjadi bahan instrospeksi. Sudah saatnya kita fokus  membangun maritim yang tangguh.*

Pos Kupang 23 Januari 2019 hal 4

Salah Urus Sampah Medis di Kota Kupang


ilustrasi
Kita kembali berhadapan dengan problem yang sama yaitu salah urus sampah medis. Kabar terbaru menyebutkan, Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) yang dihasilkan sepuluh rumah sakit pemerintah dan swasta di Kota Kupang mencapai 83 ton lebih.

Jumlahnya terus bertambah sehingga terjadi penumpukan. Pengolalaan sampah medis kering ini tidak dilakukan secara baik lantaran  tidak semua rumah sakit  memiliki insinerator.

Rumah sakit terbanyak yang memproduksi limbah B3 adalah RSUD Prof. Dr. WZ Johannes Kupang mencapai 26.112,0 kg atau 26 ton lebih disusul Rumah Sakit SK Lerik sebanyak 19 ton dan Rumah Sakit Tentara (RST) Wira Sakti Kupang 10 ton lebih. Rumah Sakit St. Carolus Boromeus dan Rumah Sakit TNI Angkatan Udara (AU) El Tari mampu mengolah limbah B3 karena punya insinerator atau alat pembakar sampah medis sendiri.


Data tersebut  dirilis Dinas Lingkungan Hidup Provinsi NTT, Jumat (11/1/2019). Limbah B3 yang dihasilkan rumah sakit merupakan akumulasi selama Januari- September 2018 yang sampai kini belum tertangani secara baik. Pada Jumat (11/1/2018) siang,  Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi NTT, Drs. Benyamin Lola, M.Pd datangi RSUD Johannes Kupang.

 Dia menemukan limbah B3 menumpuk di sekitar ruangan Poli Anak dan Kebidanan. Limbah B3 diisi dalam dos, karung dan kantong plastik. Ada juga yang ditutup dengan jaring biru. Di lokasi itu ada dua tumpukan besar  limbah B3. Terdapat plang dengan tulisan dilarang masuk ke tumpukan limbah. 

Tentu saja kita prihatin dengan kondisi ini. Penumpukan sampah medis merupakan masalah yang berulang. Sudah kerapkali dikeluhkan masyarakat namun manajemen RS seolah memandangnya sebagai hal biasa.Kita belum melihat ada langkah konkret yang sungguh-sungguh untuk mengatasi persoalan krusial  tersebut.

Benyamin Lola memang mengatakan bahwa persoalan limbah medis menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT. Menurutnya, Pemprov NTT sudah dua kali menyurati Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI.
Isi surat  meminta rekomendasi pembakaran limbah B3 rumah sakit di Kota Kupang oleh PT. Sarana Agra Gemilang. Namun sampai saat ini belum ada jawaban.

  Menurut Beni, surat pertama dilayangkan pada tanggal 11 April 2018 ditandatangani Gubernur NTT, Frans Lebu Raya. Sedangkan surat kedua tanggal 11 Oktober 2018 ditandatangani Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat.

Kita berharap pemerintah provinsi segera menempuh langkah cepat agar tumpukan sampah medis tersebut segera dibakar sesuai ketentuan. Untuk jangka panjang perlu UPT khusus yang mengurus soal ini mengingat produksi sampah medis di Kota Kupang tergolong tinggi. Rata-rata produksi limbah B3 dari 12 RS di Kota Kupang mencapai 400-an kg per hari. *

Pos Kupang, 14 Januari 2019 hal 4

Kisah Tentang Rompi Oranye


BERAGAM ekspresi tersaji di halaman  Gedung Sasando, Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT)  di Jalan El Tari Kupang, Senin 7 Januari 2019. Itu hari pertama pegawai negeri sipil (PNS) di lingkup Pemerintah Provinsi NTT mengikuti upacara bendera setelah libur Natal dan Tahun Baru.

Apel dipimpin Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat. Turut hadir Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi, Sekretaris Daerah (Sekda) NTT, Ir. Ben Polo Maing dan pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Ekspresi beragam tercipta saat pimpinan OPD memakaikan rompi warna oranye pada PNS yang merupakan stafnya. Mereka memakai rompi  dengan tulisan 'Saya Tidak Disiplin' lantaran terlambat masuk kantor, pulang lebih awal dan tidak masuk kantor tanpa berita selama periode  Oktober-Desember 2018.

Jumlahnya lumayan banyak. Total sebanyak 143 PNS yang memakai rompi oranye hari itu. Cukup banyak wajah yang murung, tegang dan tanpa senyum. Namun ada pula PNS berompi oranye melakukan wefie sembari mengumbar senyum dan tawa. Kesannya seolah tanpa beban mendapat hukuman semacam ini.


Disiplin! Begitulah gebrakan Gubernur Viktor Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi. Kedua pemimpin NTT ini meyakini bahwa disiplin merupakan modal penting bagi NTT agar bisa mengejar berbagai ketertinggalannya dari daerah lain.

 Jika sikap kerja asal-asalan maka  NTT tetap tertinggal. Dan, Pegawai Negeri Sipil atau Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai motor penggerak pembangunan mesti menjadi contoh. 

Dsiplin PNS di daerah ini memang patut mendapat perhatian serius. Sudah menjadi rahasia umum bahwa masih banyak oknum PNS yang masuk kerja sesuka hatinya. Terlambat berjam-jam atau pulang ke rumah lebih awal dianggap bukan masalah. Menunda pekerjaan bahkan meninggalkan tempat tugas tanpa izin kepada pimpinan.

Secara umum  kinerja PNS di daerah ini pun masih jauh dari memuaskan. Indikatornya sederhana. Masih kerap kita mendengar riuh keluhan masyarakat yang mendapatkan pelayanan seadanya dari aparatur negara. Masih ada yang berprinsip kalau bisa dipersulit mengapa dipermudah? Spirit melayani masih sebatas pemanis bibir. Belum terwujud dalam pelayanan sehari-hari.

Pemakaian rompi oranye itu mestinya sebuah cambuk agar PNS sungguh disiplin dalam bekerja melayani masyarakat. Sejauh ini efek jera pemakaian rompi belum tampak. Malah ada  yang merespons dengan cara yang kurang elok.  Tersenyum ria seolah tidak ada masalah sama sekali. Memakai rompi oranye  tak lebih dari lima menit dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja. 

Gerakan disiplin memang tidak semudah membalik telapak tangan karena mengubah kebiasaan seseorang. Itulah sebabnya  kita dukung penuh gebrakan Gubernur Viktor Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi. Segala upaya demi penegakan disiplin  tidak boleh kendor. *

Pos Kupang 9 Januari 2019 halaman 4
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes