Tokoh Perintis Itu Telah Pergi

Niti Susanto (kanan) bersama koleganya
Oleh: Theodorus Widodo
Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) NTT

Ketika seseorang pergi untuk selamanya, pasti ada cerita yang tersisa.

Pukul 05.30 pagi, di ruang kerja.
Sinar matahari baru saja menembus celah tirai.
Seperti biasa kegiatan rutin harianpun dimulai. Buka buka whatsapp grup(WAG). Baca postingan penting dan jika perlu membalasnya.

Serasa tidak percaya, ada berita di salah satu WAG yang mengejutkan. "Telah pulang ke rumah Bapa pukul 11.55 tadi malam, saudara kekasih kita Niti Susanto".

Saya coba cari kepastian berita ini di grup WA lain yang ada putra almarhum, Alain Niti Susanto. Ternyata benar. Postingan Alain memastikan berita duka ini.
Innalillahi wa inna illaihi rajiun

Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambilnya kembali. Sang maha kuasa telah memanggil pulang ciptaanNya. Kembali keharibaanNya


Pikiran pun menerawang jauh. Kembali ke masa lalu. Seolah ada tangan tak terlihat membuka lembar demi lembar cerita tentang sosok yang saya kagumi ini. Ada cerita tentang keuletan. Ada cerita tentang kerja keras pantang menyerah.

 Ada cerita tentang pengusaha yang di awal karirnya rela bermandikan debu semen, mengangkat sendiri semen di tokonya untuk dinaikkan ke atas mobil pembeli.

Ada pula cerita tentang kebersahajaan seorang pengusaha sukses. Juga tentang seorang dermawan yang selalu siap menolong siapa saja yang datang kepadanya. Ada juga cerita tentang seorang umat Kristiani aktivis Gereja  yang sangat taat beribadat.

Dan, juga tentang pengusaha sukses yang selalu setia di dunia profesi yang ia geluti. Ia tak pernah mau keluar dari dunia itu. Ada pula cerita tentang pengusaha yang selalu tidak pernah konflik dengan siapa pun.

Semuanya itu adalah cerita tentang pribadi tokoh teladan ini. Niti Susanto yang nama aslinya Liang Rong Yuan. Pasti banyak yang kenal sosok ini. Ia pengusaha perintis. Suka memulai usaha di saat orang lain belum berani atau bahkan belum berpikir kearah itu. Melangkah masuk penuh kepastian. Menantang segala risiko. Tapi exit ketika banyak yang sudah menekuni bisnis yang sama. Dia perintis yang lebih suka meretas jalan.

Dimulai dari keberaniannya mengirim bahan bakar minyak ke seluruh pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT). Baik itu di darat maupun harus menyeberang lautan. Termasuk ke pulau Rote dan Sabu. Tidak ada kapal tanker.

Tidak ada depo Pertamina penampung BBM. Tidak ada dermaga khusus bongkar muat BBM. Hanya dengan kapal kayu, berlayar menantang gelombang laut Sawu yang terkenal ganas. Tujuannya Pulau Sabu.

Hanya dengan kapal kayu, berlayar melawan kuatnya arus Pukuafu yang seringkali makan korban. Tujuannya jelas. Rote pulau terluar di ujung selatan Nusantara. Tak jarang kapal kayu itu harus pulang kembali ke Kupang setelah merelakan sebagian muatannya ditelan arus samudra. Tunggu cuaca baik lalu kembali berlayar. Di musim hujan laut memang selalu tidak bersahabat.

Tapi Niti Susanto tidak peduli. Dia sadar betul bahwa warga pulau pulau terpencil dan terluar itu butuh bahan bakar. Tidak boleh terjadi kelangkaan BBM di sana. Dan,  alhasil nyaris memang tidak pernah terjadi kelangkaan BBM.

Harganya pun selalu tetap. Berapa saat musim teduh, itulah pula harganya di musim gelombang. Lalu ketika orang lain sudah mampu membangun SPBU di sana, iapun exit.

Cerita berikut adalah tentang pabrik bajadeck di Kupang. Dengan bajadeck ini atap rumah tidak ada sambungan lagi. Kalaupun ada, berhubung bajadeck ini sangat panjang, jarak antara sambungannya lebih jauh.

Banyak warga NTT yang menikmatinya. Sayangnya usaha ini akhirnya tutup setelah muncul produk lain dari Jawa yang lebih unggul. Tapi Niti  keluar dari bisnis itu dengan kepala tegak. Dia santai saja.

Di lembar lain ada cerita tentang keberaniannya masuk ke dalam bisnis transportasi udara. Ini bisnis yang high-capital. Dan high-risk. Tapi bagi Niti Susanto itu bukan soal besar. Ia yang biasa disapa Shia ini tidak peduli. Dia sadar betul bahwa koneksitas antarkota-kota di NTT sangat penting.

Jika andalannya hanya pesawat Merpati yang sudah uzur dan sering tunda berjam-jam itu, NTT tetap akan tinggal di tempat. Tidak akan tinggal landas. Maka Shia nekat melangkah masuk dalam dunia ini.

Ada pula cerita tentang air kemasan, SPBU, dealer kendaraan roda dua, aspal, hotel dan lain-lain. Dari semua itu ada yang pantas dicatat. Shia selalu siap berbagi bisnis. Kalau sekarang Prof. Rhenald Kasali Ph.D omong tentang Sharing Economy dalam bukunya  Disruption, seorang Niti Susanto sudah menerapkannya jauh sebelum fenomena itu mengemuka.

Sebagai agen semen, awalnya Niti Susanto harus menyediakan banyak truk. Namun ketika sudah ada perusahaan angkutan darat dengan banyak truk berkapasitas besar di Kupang, Niti Susanto perlahan-lahan mengurangi armada angkutnya sampai akhirnya tidak ada sama sekali.

Bagi dia, selagi bisnis bisa berbagi, kenapa tidak. Selain lebih menguntungkan perusahaan, orang lainpun bisa hidup. Sharing economy model taxi online Uber,Grab dll dimana perusahaan tidak perlu punya taxi sendiri yang banyak makan ongkos baru sekarang diterapkan. Niti Susanto sudah sejak dulu.

Kepiawaian  Shia mengelola bisnisnya membuat seorang menteri Hayono Isman yang juga konglomerat kagum. Pada berbagai kesempatan Hayono Isman selalu bilang, dia belajar berwira-usaha dari Niti Susanto di Kupang.

Kisah nyata di atas semuanya adalah tentang bisnis. Masih banyak keteladanannya di bidang  lain. Terutama kemanusiaan. Shia selalu siap menolong sesama yang tertimpa musibah. Ketika terjadi gempa bumi hebat di Alor 12 November 2004, beberapa hari kemudian Shia bersama team Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia(PSMTI) sudah berada di sana memberi bantuan.

Dalam situasi kalut karena kekurangan alat transportasi, tim ini bersama ketua umum PSMTI pusat Brigjen TNI Tedy Jusuf berusaha sampai ke lokasi bencana yang sulit dijangkau menggunakan kendaraan TNI AD.

Minggu, 26 Desember 2004 kembali Indonesia berduka. Gempa dengan 9.3 skala Richter di barat Sumatera disusul tsunami meluluhlantakkan Aceh dan sekitarnya. Korban tercatat lebih dari 130 ribu jiwa. Shia penggerak utama warga Tionghoa di Kupang dalam membantu korban gempa.

Begitu pula ketika terjadi banjir bandang 2013 di Desa Skinu, Timor Tengah Selatan (TTS)   yang menelan korban jiwa tidak sedikit. Mengepalai tim bantuan dari PSMTI NTT Shia turun langsung mengantar bantuan. Kadang pengusaha sukses ini menyetir sendiri truk naik turun bukit untuk mencapai lokasi.

Masih banyak keteladanannya dalam aksi aksi kemanusiaan. Gempa Yogya, longsor Manggarai, gempa Padang, gizi buruk, gempa Alor 4 November 2015 dan lain-lain. Niti Susanto selalu jadi motivator.

Selamat jalan saudaraku.
Buku kehidupanmu telah tutup.
Tapi bagi kami tidak.
Sebab di situ,
Ada banyak halaman bertinta emas.



Sumber: Pos Kupang 15 November 2017, halaman 4

In Memoriam Joseph Niti Susanto

Niti Susanto menumpang pesawat TransNusa
NUSA Tenggara Timur (NTT) ditinggalkan seorang putra terbaiknya, Joseph Niti Susanto. Pengusaha yang sukses merintia berbagai bidang usaha  tersebut meninggal dunia di Rumah Sakit Adi Husada Surabaya, Selasa 7 November 2017 sekira pukul 23.55 WIB.

Di mata sesama pengusaha  yakni Theo Widodo dan Hengky Lianto,  Niti Susanto adalah pengusaha yang berani menanggung risiko membuka usaha baru yang  sangat bermanfaat bagi masyarakat NTT. Sebut misalnya di bidang perhubungan udara. Dia menghadirkan maskapai kebanggaan rakyat Flobamora saat ini bernama TransNusa.

"Kami sungguh kehilangan orang yang rendah hati, sabar, ulet, tangan terbuka kepada siapa dan sayang keluarga. Intinya Pak Niti adalah teladan buat kami semua," kata Theo Widodo di Kupang,  Rabu (8/11/2017).

Theo Widodo melukiskan Niti Susanto yang dua periode memimpin Paguyuban Sosial Marga Tionghoa (PSMTI) NTT sebagai pengusaha dengan visi  tajam.

"Waktu itu Merpati merupakan operator penerbangan satu-satunya di NTT.  Saat kondisi Merpati agak menurun, Pak Niti bersama beberapa pemegang saham melirik usaha ini. Pak Niti ambil langkah yang terlalu berani, buka jalur penerbangan ke berbagai pelosok NTT dengan risiko besar. Boleh dibilang perintis perhubungan udara di NTT adalah pak Niti," katanya.

Hengky Lianto menyebut Niti Susanto sebagai tokoh yang murah hati dan siap membantu siapa saja yang membutuhkan.

 "Ada banjir di perbatasan, di Alor ada bencana, beliau  turun langsung untuk membantu. Jadi contoh bagi kita. Seorang yang rendah hati, beriman. Beliau memberi teladan bagi kita," katanya.

Menurutnya, Niti Susanto sering bicara mengenai ekonomi dan  bagaimana menjadi pengusaha sukses. Hengky Lianto mengatakan, kehadiran  TransNusa sangat membantu masyarakat NTT yang sekian lama kesulitan transportasi udara.

"Saya  usaha perkebunan sering ke Flores, Sumba dan lainnya, dulu kesulitan sekali. Datanglah TransNusa sangat membantu," demikian Hengky Lianto.

Komisaris Pos Kupang, Damyan Godho mengatakan, Niti Susanto sangat berjasa bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur. Dia merupakan pengusaha perintis. Damyan menyebut beberapa contoh. Pada tahun 1987, Niti Susanto menghadirkan perusahaan air kemasan pertama di Kota  Kupang yaitu PT. Viquam. Kemudian pada tahun 2005 bersama Enton Jodjana dkk mendirikan maskapai TransNusa. "Sampai akhir hayatnya beliau menjabat sebagai komisaris utama TransNusa," kata Damyan Godho.

Jauh sebelum itu, Niti Susanto melanjutkan bisnis orangtuanya  yaitu memasok bahan bakar minyak (BBM) seperti minyak tanah, solar dan bensin dari Surabaya ke Kota Kupang. Niti Susanto  melayani kebutuhan masyarakat di Pulau Timor, Rote dan Sabu.  Saat itu Pertamina belum beroperasi di Kupang.  SPBU pun belum ada.  "BBM dari Surabaya waktu itu diangkut kapal kayu, diisi dalam drum-drum," kata Damyan Godho.

Pastor Paroki Kristus Raja (Katedral) Kupang, Romo Ambros Ladjar, Pr melukiskan Joseph Niti Susanto sebagai sosok yang bersahaja serta setia kepada Yesus Kristus yang diimaninya.

"Saat dia sakit di Jakarta, sempat komunikasi lewat telepon. Dia bilang ke saya, romo kalau ke Jakarta jangan lupa bawakan komuni untuk saya," kisah Romo Ambros saat memimpin misa di rumah duka,  Jalan Herewila Kupang, Rabu (8/11/2017) sekira pukul 20.00 Wita. Banyak orang merayakan misa di rumah tersebut. Menurut informasi, jenazah  Niti Susanto akan diterbangkan dari Surabaya ke Kupang, Jumat (10/11/2017).  (ira/dd/osi)

Sumber: Pos Kupang 9 November 2017 halaman 1

Pentingnya Etika Media Sosial

Oleh: Robert Bala
Diploma Public Speaking (Hablar en P├║blico) Universidad Complutense de Madrid, Pelaku Media Sosial.

POS KUPANG.COM -- Beberapa saat lalu, hampir semua pelaku media sosial diingatkan pesan berikut: "Admin WhatsAPP boleh dipenjara". Dijelaskan: `Admin WhatsApp yang gagal bending penyebaran maklumat tidak benar, fitnah, hasut, menipu akan dihukum".

Ditambahkan pula sesuai Pasal 28 ayat 2 UU ITE ditekankan bahwa setiap orang yang sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu, berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dapat dihukum.

Beberapa hari berselang kembali ditampilkan sebuah `INFO TERKNI'. Intinya disampaikan bahwa sejak 31 Oktober 2017, sesuai peraturan terbaru, semua panggilan, rekaman panggilan, wahatsApp, Twitter, Facebook, dan semua media sosial akan dipantau.

Ada apa di baliknya? Mengapa pemberitahuan itu mestinya tidak dianggap sekadar sebuah peringatan atau sungguh sebuah ancaman? Apa yang bisa dibuat agar kita tidak terjebak dalam perangkap tersebut?

Menggoda


Whats on your mind (apa yang sedang anda pikirkan), demikian media sosial membuka kontak di halaman utama. Sebuah frase penuh godaan. Ada aneka pikiran yang mengemuka, terutama pikiran yang menyenangkan tetapi juga yang memunculkan kegalauan.

Permasalahan, sebuah kegembiraan atau kegalauan selalu kontekstual. Ia tekait sebuah situasi, melibatkan orang lain sebagai penyebab, dan tentu saja ketika diungkapkan dapat memunculkan aneka interpretasi.

Sekilas orang merasa, media sosialku bersifat pribadi, hal mana benar adanya. Ia adalah `bilik privatku'. Yang tidak disadari, betapapun media sosial bersifat pribadi, telah dikunci, tidak memiliki follower (pengikut), tetapi di media sosial sudah terdapat linimasa.

Ia akan menangkap semua unggahan terbaru dari semua penggunanya. Artinya, komentar apa pun di media sosial akan ditemukan walaupun sebuah akun sudah diubah lebih pribadi.

Bagi orang yang memiliki masalah, tidak sulit memantau lawan. Cukup dengan menangkap ekspresi. Meski diungkap lewat bahasa berbunga, puitis, apalagi ironis, tidak dilihat sebagai ungkapan hati yang bisa memicu pertikaian.

Lebih lagi, ketika ekspresi hati sesaat diungkap dengan sangat lugas, emosional, dan provokatif. Sudah pasti akan mendapatkan tanggapan.

Di sinilah bahayanya. Media sosial hadir begitu kejam. Ia bisa mengekspresikan hati hingga diketahui begitu banyak orang.

Kedangkalan hati dan etika bisa dipantau. Lebih lagi, ketika dalam posisi apapun, seseorang akan mudah terbaca kematangan diri, hal mana menjadi sebuah evaluasi.

Lebih lagi, ekspresi yang keluar. Shiv Khera misalnya tidak melihat ekspresi negatif yang keluar sebagai hal terpisah.

Baginya, Your positive action combined with positive thinking results in success. Artinya, ketika aksi positif dikombinasikan dengan pikiran positif akan menghasilkan sukses.

Sebaliknya, mengungkapkan pikiran negatif tentang diri dan terutama tentang orang lain akan terkombinasi tanpa disadari dengan perbuatan yang merendahkan diri yang mengarahkan kegagalan.

Korelasi seperti ini umumnya disadari oleh siapapun yang memiliki tanggungjawab.
Ia akan bijak berkata-kata. Godaan media sosial yang memintanya mengungkapkan pikirannya tidak akan dituangkan serta merta.

Ia akan berpikir dua kali sebelum bertindak karena tahu ketika pikiran negatif dikeluarkan, kedalaman diri diketahui. Dan, ketika perasaan diri diungkap, ia akan juga menjadi sebuah konsumsi publik.

Mikrofon

Mudahnya menulis di media sosial serta dampaknya yang bisa sangat besar menjadi sebuah awasan untuk selalu menjadikan etika sebagai payung pelindung diri. Tetapi bagaimana memahami etika medsos itu?

Hal paling sederhana adalah menyadari dan selanjutnya membangun mindset menganggap HP sebagai mikrofon. Mikrofon (HP) akan menyebarluaskan suara (tulisan) dan dapat didengar oleh orang lain.

Di sini ungkapan melalui HP tidak lagi bersifat pribadi tetapi telah disebarluaskan ke orang lain. Orang yang mendengar pun akan menanggapi `celotehan'.

Kesadaran ini diharapkan menumbuhkan etika dasar agar seseorang lebih berhati-hati. Apa yang disampaikan akan diseleksi karena apa yang diungkapkan berdampak luas.

Di sini dibutuhkan etika dasar yang disebut sebagai hukum emas "Lakukan apa yang Anda ingin dilakukan orang lain terhadap Anda dan jangan melakukan apa yang Anda tidak suka orang lain lakukan terhadap Anda".

Lebih jauh, etika yang berasal dari kata `ethos' (ta etha, jamak), yang berarti adat kebiasaan, cara berkipikir, akhlak, sikap, watak, cara bertindak, pada akhirnya diukur dalam enam hal yakni: keindahan, persamaan, kebaikan, keadilan, kebebasan, dan kebenaran.

Dalam kaitan dengan media sosial, apakah apa yang saya tulis (perasaan saya) mendatangkan keindahan diri? Apakah tulisan saya terasa indah yang mendatangkan kebahagiaan bagi diri saya dan orang lain? Yang perlu dipahami, kebahagiaan bersifat universal.

Karena itu ketika kebahagiaan bersifat personal dan membiarkan orang lain menderita di atas kegembiraan (semu) ku, maka tentu saja tidak menghasilkan keindahan dalam arti sebenarnya.

Apakah juga kata-kata yang diungkapkan tidak merendahkan orang lain sambil menonjolkan diri? Apakah suku, agama, ras, antargolongan tidak tersinggung dengan bahasa saya?

Selain itu, apakah tercipta kebaikan? Apakah ungkapan saya tidak menyinggung yang akhirnya menyebabkan ketidakbaikan?

Prinsip keadilan perlu juga mengacu pada keadilan. Sebuah ungkapan di media sosial tidak bisa sekedar mengutamakan kepentingan diri tetapi berdiri pada pihak lain untuk membayangkan tuntutan yang sama dari mereka.

Dua prinsip terakhir tentang kebebasan dan kebenaran juga jadi takaran. Media sosial memberi kebebasan untuk berbuat apa saja, tetapi mesti dilakukan dengan mempertahankan kebenaran.

Apa yang diungkapkan perlu diletakkan dalam prinsip bebas untuk melakukan sesuatu yang positif dan tidak sekedar bebas dari ikatan yang mengekang.

Singkatnya, media sosial akan kian berguna ketika pengguna selalu kembali memeluk etika sebagai penuntun. Dalam bahasa DH Lawrence, etika harus bersifat abadi (juga dalam media sosial) "Ethics and equity and the principles of justice do not change with the calendar."

Penekanan etika inilah pengendali kita saat memasuki media sosial. Kita sadari bahwa hanya dengan etika, bahaya negatif medsos yang bisa menjerumuskan penggunanya dapat terhindarkan. Tanpa pengendalian etis, bahaya keretakan sosial menjadi hal yang sangat nyata. Mari kita kembali pada etika. *

Sumber: Pos Kupang 6 November 2017 halaman 4

Viral, Hoax dan Bijak Bermedsos

ilustrasi
Oleh: Tony Kleden
Wartawan, tinggal di Kupang

Medio pekan lalu, tepatnya hari Kamis, 2 November 2017, Kota Kupang geger. Sekelompok orang, beberapa di antaranya aparatur sipil negara (ASN), `menyerbu' Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man, di ruang kerjanya. Mereka bertindak kasar terhadap wakil kepala daerah yang dipilih secara langsung oleh rakyat itu.

Kejadian ini kita nilai geger. Geger  karena sangat jarang terjadi di Tanah Air seorang kepala daerah dimarahi ASN yang pangkat, jabatan dan golongannya masih kecil. Kalau  insiden ini terjadi di rumah pribadi seorang warga bernama dr. Herman Man dan di luar jam dinas, maka soal dan urusannya bersifat privat dan bisa diselesaikan di rumah dengan hukum adat.

Tetapi karena terjadi di ruang kerjanya di Kantor Walikota Kupang terhadap Wakil Walikota Kupang pada  jam dinas, maka soalnya sudah berat dan terbuka ruang sangat besar untuk diselesaikan di sidang pengadilan melalui hukum positif. Ada seperangkat aturan hukum yang bisa digunakan dalam memroses kasus ini.

Tulisan ini tidak melihat insiden itu dari sudut pandang dugaan pelanggaran peraturan yang dilakukan ASN terhadap seorang wakil kepala daerah. Sebaliknya tulisan  hanya fokus menyoroti kekuatan pengaruh media sosial (medsos) di ruang publik saat ini dengan membawa efek yang juga luar biasa dan di luar dugaan.

Efek Medsos

Yang mengejutkan adalah kejadian itu direkam menjadi video dan kemudian ditayangkan di medsos. Tak pelak, dalam hitungan jam saja, kejadian itu berulang-ulang ditayang. Sampai dengan hari Minggu (5/11/2017), atau tiga hari setelah kejadian, video itu sudah 14 ribu lebih kali ditayangkan. Ketika tulisan ini Anda baca, boleh jadi insiden itu telah ditayangkan puluhan ribu kali.

Karena ditayang ulang berkali-kali, kejadian itu kemudian menjadi viral. Dalam dunia maya, viral itu artinya suatu kejadian yang lagi ngetren, terkenal dan menyebar luas secara cepat karena banyaknya orang yang membaca, menonton dan kemudian mengunggahnya kembali. 

Kata "viral" digunakan untuk menyebut sesuatu yang menyebar dengan cepat di internet. Sebuah gambar, tulisan/artikel, atau blog yang dibagikan secara massif oleh orang banyak disebut viral.


Dalam catatan Etymologi Online Dictionary, kata ini sudah muncul sejak tahun 1944. Kata ini diartikan sebagai "segala sesuatu yang berkaitan dengan virus". Virus sendiri adalah istilah dari ilmu kedokteran untuk menyebut mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, penyebar penyakit tertentu.

Kata virus belakangan juga digunakan untuk menyebut software jahat (ilegal) yang dimasukkan ke dalam sistem komputer melalui jaringan atau  flash disk sehingga menyebar dan dapat merusak program yang ada.

Ada kesamaan esensial dari kata "virus" yang dipakai dalam bidang kedokteran dengan kata yang sama dalam bidang komputer. Kedua-duanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang cepat menyebar. Kesamaan itulah yang digunakan sebagai arti kata "viral. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, `viral' diartikan sebagai "bersifat menyebar luas dan cepat seperti virus."

Apakah kejadian yang sudah viral di Kantor Walikota Kupang itu hoax? Kata  hoax berarti memperdayai atau mengelabui. Pada dasarnya hoax itu berbeda dengan fake news (berita bohong, berita palsu). Pada hoax masih terdapat fakta, tetapi fakta itu sangat dilebih-lebihkan atau didistorsi, dipelintir untuk mendukung isu yang sedang aktual diperbincangkan.  Sebaliknya fake news tidak merujuk fakta apa pun. Singkat kata pada fake news itu memang tidak ada fakta.

Meski berbeda secara mendasar, hoax dan fake news punya tujuan sama, yakni membohongi orang lain dengan merekayasa fakta yang ada menjadi sangat provokatif atau menampilkan `fakta' dari praktik-praktik ilusif. Contoh hoax yang paling fenomenal di Tanah Air adalah serbuan tenaga kerja dari China  beberapa tahun lalu.

Faktanya  benar bahwa ada serbuan tenaga kerja dari China. Jumlahnya puluhan ribu. Tetapi oleh pembuat hoax, jumlah tenaga kerja dari  China itu digelembungkan hingga menjadi dua puluhan juta. Tujuannya menciptakan kekacauan atau kekisruhan untuk memompa semangat anti China.

Di dunia jurnalisme ada juga media yang suka membuat kehebohan dengan menampilkan hoax. Media-media seperti ini berpegang teguh pada adagium ini: if it bleeds, it leads. Jika informasi yang dipelintir itu mampu menciptakan pertikaian yang sungguh brutal, maka semakin layak dirayakan penuh kehebohan.

Dengan penjelasan serba singkat ini jelaslah bahwa insiden di Kantor Walikota Kupang yang  jadi viral itu bukan hoax. Kejadian itu ditampilkan apa adanya sesuai fakta yang terjadi. Walikota Kupang, menurut koran harian yang beredar di Kupang, sangat menyesalkan kejadian itu. Para pihak yang diduga terlibat dalam insiden itu, sebagaimana ditampilkan dalam video yang menyebar, juga sudah memberi penjelasan yang kemudian dikutip media mainstream (koran).

Penyesalan Walikota Kupang  dan penjelasan mereka yang terlibat adalah bukti sah bahwa insiden Kamis pagi itu bukan hoax. Insiden itu benar terjadi dan diviralkan tanpa dilebih-lebihkan. Dia tampil utuh dengan durasi sekitar 6 menit.

Untuk konteks kita di NTT, agaknya inilah `informasi' yang paling banyak menyita perhatian publik. Dia (kejadian itu) ditayangkan ulang sebanyak belasan ribu kali, dibagikan dan disebar ribuan kali, serta ditonton puluhan ribu warganet di NTT dan luar NTT.

Fakta ini sekaligus menunjukkan betapa kuatnya efek media sosial.  Inilah bukti betapa kekuatan medsos begitu dahsyat melebihi media mainstream (koran, majalah, televisi, radio, online/daring).

Perlu Bijak

Tetapi fakta ini sekaligus memperlihatkan sisi lain dari medsos. Yakni bahwa para penggunanya sangat sering lupa bahwa medsos itu tak ubahnya ruang publik yang membutuhkan etika dalam setiap interaksi di dalamnya. Banyak kita sering lupa ketika memegang smartphone kita tidak lagi sendirian. Satu kali pencet tanpa sadar membawa akibat yang sangat jauh dan tidak terbayang sebelumnya.

Maka, yang dibutuhkan adalah bijak melihat status atau postingan yang kita buat
sendiri. Sebisa mungkin menghindari postingan yang memicu pergolakan dalam norma yang berlaku di tengah masyarakat. Medsos memang dunia paling bebas menyampaikan pendapat. Akan tetapi sebisa mungkin menggunakan bahasa yang santun dan tdak menyakiti perasan orang lain ketika menyampaikan pendapat itu.

Kasus Wakil Walikota Kupang adalah contoh kasus yang tepat. Andaikata insiden itu tidak diposting ke media sosial, ceritanya tidak seheboh yang terjadi sekarang. Sangat boleh jadi orang pertama yang memosting insiden tersebut di medsos sama sekali tidak bermaksud jelek. Dia juga barangkali tidak membayangkan pencetan  jarinya membawa dampak yang sangat luas.

Kita jadi ingat kasus yang pernah heboh di Tanah Air beberapa bulan lalu ketika seorang ibu rumah tangga bernama Sri Rahayu ditangkap Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri. Ibu rumah tangga berusia 32 tahun ini ditangkap karena menyebarkan ujaran kebencian di media sosial melalui akun facebooknya.

Medsos memang sudah menjadi `mainan' atau `hiburan' baru yang begitu digandrungi semua kalangan. Tetapi mainan baru ini ibarat pisau: berguna tetapi juga bisa membunuh. Maka perlu bijak dan butuh kesadaran penuh ketika memegang handphone. *


Sumber: Pos Kupang 9 November 2017 halaman 4

Kaka Yusran Pare Pulang ke Kupang

Kaka Yusran di rumah Om Damyan Godho 25 Mei 2017
Setelah  20  tahun, kang Yusran Pare akhirnya balik lagi dengan misi khusus untuk Pos  Kupang. Sungguh penantian yang cukup lama. Kang Yusran pernah dua kali menopang Pos Kupang di saat-saat sulit. Tahun 1996 dan 1997.

Dia memang sempat ke Kupang tahun 2011  namun kala itu statusnya sebagai anggota delegasi Kalsel yang  mengikuti peringatan Hari Pers Nasional (HPN) dimana saya menjadi penanggungjawab dalam kapasitas sebagai Ketua PWI Provinsi NTT.

Kehadirannya pada 2011 bukan untuk Pos Kupang. Itu yang mau saya katakan dengan masa penantian panjang selama 20 tahun di atas.

Kaka Yusran --begitu sapaan akrabku padanya --kali ini hadir sebagai instruktur pelatihan calon wartawan Pos Kupang tanggal 22 Mei sampai 3 Juni 2017. Pelatihan sesuai konsep Tribun yang berlaku sama di seluruh Indonesia.

Bertemu Dany Ratu di Kolhua
Materi yang diberikan beliau tanggal 24 Mei 2017 sangat mendasar atau superpenting bagi setiap wartawan yaitu logika dan bahasa Indonesia jurnalistik. Kegagalan banyak wartawan umumnya  karena salah logika dan bahasa Indonesia yang amburadul.

 Bagaimana seseorang dapat menuangkan pikirannya dengan benar bila logika bengkok?  Dan, apa mungkin menghasilkan karya jurnalistik yang baik kalau bahasa Indonesia kacau balau?

Maka materi dari Kaka Yusran sangat penting. Beliau memberi fondasi dulu bagi calon reporter sebelum melangkah ke materi pelatihan yang lain.

Bersama Setya MR
Tidak bermaksud memuji (karena kaka Yusran yang punya inisial keren JPX pun tak butuh),  di Tribun Group, guru jurnalistik dengan kapasitas selevel Kaka Yusran tak banyak.

Itulah sebabnya beliau selalu terlibat dalam setiap pelatihan wartawan di grup koran daerah Kompas Gramedia ini. Duet abadinya adalah Mas Febby Mahendra Putra, General Manager Newsroom Tribun Network Jakarta. Kalau untuk online (digital), maka ahlinya adalah Dahlan Dahi.

Saya banyak belajar dari senior yang satu ini dalam menjalani profesi sebagai wartawan. Loyal dan total. Segalanya dipersembahkan demi kebaikan bersama.



Bersama anak saya Albertus T Bata
Kaka Yusran sudah berkeliling Indonesia, bukan sekadar jalan-jalan tetapi menjalankan tugas sebagai jurnalis. Dia antara lain pernah  bertugas di Bandung, Yogyakarta, Palembang, Kupang, Banjarmasin, Semarang dan kini kembali ke Bandung sebagai Pemimpin Redaksi Harian Pagi Tribun Jabar, koran yang dulu dilahirkannya berawal dari nama Metro Bandung.

Hampir seluruh hidupnya jadi "bujangan lokal" di kota-kota itu. Dia sendirian, mandiri.  Keluarga (istri dan anak-anak)  menetap di Bandung, Kaka Yusran yang berkeliling sambil berbuat baik (bekerja mencari nafkah).  Biasanya sebulan atau lebih Kaka Yusran pulang ke Bandung menengok keluarga.

Berawal dari "nasib" kaka Yusran itulah kemudian jadi ketentuan di grup kami bagi pimpinan redaksi atau pimpinan perusahaan atau setingkat  manajer  yang pisah dengan keluarga berhak pulang sebulan atau dua bulan sekali. Kebijakan yang manusiawi. Saya sendiri pernah mengalami itu ketika bertugas di Harian Tribun Manado (2012-2014).

Dengan Paul Bolla dan Fery Jahang (kanan)
Oh ya, satu sifat Kaka Yusran yang luar biasa adalah ingat kawan dan sahabat- sahabatnya. Setelah memberikan materi pelatihan bagi calon wartawan Pos Kupang, tanggal 25 Mei 2017 kami berkeliling mengunjungi rekan-rekan di Kota Kupang mulai dari Dany Ratu (Kolhua)  sampai Hans Louk (Tanah Merah, Noelbaki-Oebelo, Kabupaten Kupang).

Sejak keluar dari Hotel Swiss-Belinn Kristal Kupang hari Kamis 25 Mei 2017 siang, kami berdua dengan mobil sewaan (karena saya tidak punya soalnya, hehehehe) pertama berkunjung ke rumah Om Damyan Godho di komplek perumahan Lopo Indah Permai Kolhua.

Bersama Hans Louk dan kaka nona
Di sana ternyata tidak hanya Om Damy dan tanta. Ada abang Marianus Gaharpung (saudara sepupu Om Damy) dan Om Sunga. Om Damy dan tanta menyambut hangat Kaka Yusran. Cerita nostalgia. Di sini kami hampir satu jam, berpisah karena Om Damy dkk ada acara di luar rumah.

Dari rumah Om Damy, saya ajak kaka Yusran mampir di gubuk saya di Blok W No.6 Perumahan Lopo Indah. Jaraknya kurang lebih 1 km dari rumah Om Damyan Godho. Saya senang kaka Yusran datangi rumahku yang sederhana, tipe 21.

Perjalanan kami berlanjut ke bukit Kolhua, menuju rumah Dany Ratu, mantan wartawan Pos Kupang yang kini menjabat komisioner KPU Kota Kupang. Sempat salah duga rumah Dany tapi akhirnya dapat juga. Dua orang itu berpelukan erat. Kami duduk bacarita di teras rumah Dany yang molek.


Matahari  hampir tenggelam tatkala kami meninggalkan rumah Dany Ratu. Setelah janjian kami meluncur ke Tanah Merah, kediaman abang Hans Christian Louk, mantan Redaktur Pelaksana Harian Pos Kupang. Lagi-lagi pertemuan yang mengharukan setelah hampir 20 tahun tak bersua. Kaka Yusran, kaka Hans dan kaka nona bernostalgia. Cerita soal anak-anak dan beragam rupa. Saya setia menyimak dan hanya sesekali menimpali.

Bersama Paul Bolla
Ternyata temu kangen kaka Yusran belum jua berakhir di rumah kaka Hans Louk. Malam itu  berlanjut di Hotel Swiss-Belinn Kristal Kupang. Saya tidak ikut karena harus masuk kerja.  Di Kristal Kamis malam itu  Kaka Yusran kangen-kangenan dengan Kaka Evie Pello, Ana Djukana, Lidya Chandriani dan Hans Louk.

Sebelumnya kaka Yusran juga bersua Paul Bolla.  Saya ikut berbahagia. Kaka Yusran sungguh menikmati perjumpaannya dengan kawan-kawan lama (kini mantan Pos Kupang). Sungguh indah persahabatan...

Di sela raker kami di Jakarta 9-11 Oktober 2017, tiba-tiba kaka Yusran bilang ade beta tahun depan (2018)  su pensiun o... Saya terkejut, waktu terasa cepat berlalu ya. Pensiun sebagai karyawan Kompas Gramedia, tapi  sebagai wartawan hebat melekat pada kaka Yusran selamanya.

Di Hotel Santika Jakarta sebelum berpisah pascaraker pimpinan koran daerah, 12 Oktober 2017, saya  sempat bertanya apa aktivitas kaka setelah pensiun nanti.

Jawabannya begitu sederhana. Semua sudah diatur (oleh pemilik kehidupan) dek, kita tinggal menjalaninya saja. Mengalir saja.

Prinsip hidup bahagia, simpel. Terima kasih Kang. (dion dbp)

In Memoriam Pater John Dami Mukese, SVD


John Dami Mukese (kanan)

"Kain kafan telah terbentang
Ciptakan tata warna tembus pandang 
Pada corak-corak abadi busana kematian 
Yang tak pernah berdusta 
Tentang liku-liku hidup kita"

(Kematian, karya John Dami Mukese)

POS KUPANG-- Kutipan di atas adalah penggalan puisi karya John Dami Mukese berjudul "Kematian". Tentu puisi ini bukan ditujukan pada dirinya sendiri, akan tetapi kematian adalah kepastian, dan kepastian itu kini bersamanya.

 Penyair metafor John Dami Mukese, SVD -biasa disapa Pater Dami. Pada puisi "Deburan Cinta Kedua "John Dami Mukese menulis "Deburan ombak Nanganesa -Deburan cintaku yang kedua -Buah-buah perawan kekasihku -sempurnakan citra keperawananku."


Demikian pula dalam puisi "Semadi" ditulisnya "Di tepi kali kecil aku bersemadi -Sendirian ditemani percak-percik air ... Pada angkasa sunyi mengembara -Membawa aku pulang ke mayapada."

Pater John Dami Mukese, sudah pulang ke keabadian. Penggalan puisi "Kematian", secara tegas mengatakan bahwa kematian tidak pernah berdusta setelah menyerahkan segenap hidupnya sebagai imam biarawan.

Cintanya pada panggilan hidupnya adalah cinta pertama, sedangkan hal-hal lainnya adalah "cinta kedua". hal ini digambarkan secara metaforis melalui simbol-simbol alam. Kenyataan yang menjelaskan bahwa kepenyairannya berakar pada pengalaman masa kecilnya.

 John Dami Mukese: belum selesai

Sekitar tahun 2005 bersama Pater Paul Budi Kleden, SVD kami berencana menulis tentang kepenyairan Pater Dami sebagai hadiah pesta perak tahbisannya sebagai imam.

 Pada waktu itu, Pater Budi sudah siapkan tulisannya. Suster Wilda pun (kalau tidak salah ingat) juga sudah mengirim tulisannya untuk Pater Dami.

Saya sendiri bersama Ida Ayu Sruthy siapkan tulisan berjudul "Pandangan Dunia Penyair Musim Kesenangan Sekali."

 Membaca puisi-puisi Mukese, kami berdua sebenarnya berjalan bersama puisi-puisinya. Kami pergi ke kampung halaman, masa kecil, kehidupan keluarga, dunia dan alam kehidupan Mukese sendiri. Kami mencoba menyelam dan "hidup bersamanya" ketika  makna alam dan simbol-simbol metaforis yang ditampilkannya berusaha  kami pegang. 

Pater Dami sedang studi doktoral di Manila ketika itu. Dalam salah satu suratnya Pater Dami menulis begini, "Kalau Ibu Mary serius mau melakukan apresiasi hasih karya saya, carilah kesempatan untuk menengok kampung saya sebelum menulis sesuatu tentang dunia kepenyairan saya (eh, kalau saya layak menyandang gelar mulia "penyair" itu)".

Secara fisik kami memang tidak pernah ke Lengko Ajang -Pembe kampung halamannya. Namun kami menemukan "dunia" Mukese melalui
puisi-puisinya. 

Sayangnya kerja bersama Pater Paul Budi Kleden, Suster Wilda, dan Ida Ayu Sruthy tetap tertinggal sebagai draf. Belum selesai belum disentuh kembali, sampai pada hari yang mengejutkan. Pater Dami sudah meninggal.

Musim Kesenangan Sekali
 

 John Dami Mukese dilahirkan di  Menggol, Lambaleda, Manggarai (Flores Barat), 24 Maret 1950.

Sebagaimana yang ditulis Pater Dami sendiri, Menggol, pada tahun 1950-an adalah sebuah Sekolah Dasar Katolik yang termasuk dalam wilayah Paroki Benteng Djawa, Hamente atau Kedaluan Lambaleda (sekarang Kecamatan Lambaleda).

  Profesi ayahnya adalah seorang Guru SD.  Tahun 1955, Mukese dan keluarga pindah ke Pembe, Kedaluan Congkar (Manggarai Timur Utara, sekarang dalam wilayah Kecamatan Sambi Rampas).

Pembe kampung asli bapanya. Di kampung inilah  keluarga Mukese menetap sampai sekarang. Mukese lebih  lebih dikenal sebagai "Orang Pembe". Tempat kelahiran, asal daerah orang tua dan keluarganya, sangat berarti bagi perjalanan kreatif Mukese sebagai penyair.

Pater Dami dibaptis oleh P. Anton Moelmann, SVD, seorang misionaris Belanda, yang waktu itu   bertugas asistensi di Paroki Benteng Djawa. P. Anton Moelmann ternyata kemudian menjadi Dosen Mukese di Seminari Tinggi Ledalero dalam mata kuliah Sejarah Filsafat dan Sejarah Gereja.

Ia dibaptis dengan nama Yohanes Damasenus.  Karena salah penulisan, dia  lebih dikenal dengan nama Yohanes Damianus dan disingkat John Dami. Waktu didaftar di Seminari Kisol, namanya hanya  ditulis Damianus Mukese.  

Nama aslinya   adalah Mukese. Nama itu adalah nama buatan atau ciptaan ayahnya sebagai peringatan akan peristiwa penting yang dialaminya bersama keluarga. Mukese adalah akronim dari tiga kata, "Musim Kesenangan Sekali" (gaya bahasa tahun 50-an, menurut Mukese).

Nama ini sudah terlanjur disalahtafsir dan dipopulerkan oleh orang-orang yang tidak tahu persis sejarah namanya. Disebutkan bahwa Mukese berasal dari kata-kata "Musim Kering Sekali". Namun tafsiran terakhir ini menurut Mukese,  sama sekali tidak benar. Bapanya sendiri menjelaskan kepadanya sejarah namanya sebagai berikut.

Makenbat sampai kadimas

Pada tahun 1950, hasil panen sangat melimpah di wilayah Manggarai, khususnya di sekitar Menggol. Keadaan itu persis berlawanan dengan situasi ketika kakak, saudara  lelaki di atasnya, lahir pada tahun 1947.

Pada waktu itu terjadi paceklik hebat. Wabah kelaparan terjadi di mana-mana. Karena itu  dia diberi nama "Makenbat" yang merupakan akronim dari "Masa Kelaparan Hebat". Karena Mukese kemudian lahir dalam musim kelimpahan (kesenangan), musim itu jadi dasar penamaannya, sebagai kontras terhadap nama kakaknya. Jadi tafsiran "musim kering sekali" sama sekali tidak benar.

Selain karena tidak sesuai dengan kisah asli pemberiannya, juga tidak sesuai dengan situasi atau keadaan musim waktu Mukese dilahirkan. Bulan Maret di Manggarai bukanlah musim kering, apalagi musim kering sekali. Di pedalaman Manggarai pada bulan Maret masih banyak turun hujan.

Dalam bulan ini para petani ladang tradisional (tahun 50-an), khusus di wilayah pedalaman Manggarai seperti Menggol, biasanya sedang asyik memanen jagung, ditingkah harapan yang mekar menyaksikan padi juga mulai membunting dan berbunga.

 Satu suasana yang sungguh menciptakan rasa senang atau suka cita.
Bapa dari Mukese  adalah seorang Guru SD yang amat sederhana, tetapi cukup kreatif, terutama dalam soal memberi nama kepada anak-anaknya. Anak ketiga (yang hidup) dalam keluarga,   lahir waktu Jepang masuk Manggarai tahun 1944.

Untuk memperingati peristiwa bersejarah itu Bapa menamai dia "Zahnidam", yang merupakan akronim dari "Zaman Heiho (tentara) Nipon Datang (ke) Manggarai".

Setelah mamanya meninggal (tahun 1960),     menikah lagi tahun 1965. Dari pernikahan ini lahir seorang putera, dan diberinya nama "Kadimas" yang merupakan akronim dari "Karunia di Masa Senja".

Makna Nama Bagi John Dami Mukese

Tentang nama, Shakespeare memang bertanya, "what is in the name?"  Ada apa dengan nama, atau dalam versi lain, mengapa nama begitu dipersoalkan? Bagi Mukese, "nomen ist omen", satu ungkapan Latin yang mau mengatakan bahwa nama, betapa pun sederhananya, memiliki makna atau arti tertentu bagi yang empunya nama.  

Dalam hal Mukese, nama Mukese memiliki pengaruh besar dalam hidupnya. Tidak secara kebetulan Mukese dilahirkan dalam masa yang cukup baik, menyenangkan seperti dikisahkan di atas.

 Dan tidak secara kebetulan pula bapanya memberinya nama yang menyiratkan latar situasi kelahirannya. Baik latar kelahiran  maupun nama, telah memberi warna khas pada kepribadian Mukese sebagai seorang yang cukup riang, tidak berlarut dalam kepedihan, dan cukup optimistik dalam hidup serta punya pandangan positif tentang orang lain dan tentang banyak hal di sekitarnya.

Pandangan positif ini dapat dibaca jelas dalam puisi-puisinya antara lain Mawar Bukit Sion, Dahlia Imanku Untuk Madonna, Maria Irlandia, Bakung Surgawi, Aster Sang Bunda

    Selamat jalan Pater kekasih.
    Engkau pergi ke keabadian
    Bukan pada "Musim Kesenangan Sekali"
    Banyak kisah duka dan luka alam 
    mengulurkan tangan padamu kini
    dari surga kirimkan puisimu di sini 
(maria matildis banda)


Sumber: Pos Kupang 27 Oktober 2017 halaman 1

Sang Penyair Telah Mengalir


John Dami Mukese
Oleh: Pius Rengka
Pengamat Sosial Budaya, tinggal di Kupang

TAK kuingat hari persis. Tahun pun kulupa. Tetapi, hari itu  telah petang. Majalah Horison tiba di  kostku di Wisma Antarnusa, Klebengan, Yogyakarta. Saya mahasiswa pelanggan setia majalah sastra itu. Saya membaca halaman demi halaman. Sebelum malam datang melarut,  puisi pun dibaca.

Bahagia. Pada edisi kali itu, Majalah Horison menyiarkan puisi John Dami Mukese. Doa-doa Semesta. Puisi itu panjang nian. Saya mencermati. Yang dirasakan, semacam sebuah kepergian, keindahan, drama, tetapi ceria dalam derita. Derita para petani Flores, derita para orang tepi yang senantiasa dahaga pada surga perhatian.

Menangkap Lirikan PSM Makassar

ilustrasi
KABAR gembira datang lagi bagi anak-anak Nusa Tenggara Timur (NTT)  untuk membela klub sepakbola ternama anggota Liga 1 Indonesia. Kali ini  tim papan atas Liga 1 kebanggaan masyarakat Indonesia Timur, PSM Makassar melirik talenta- talenta muda NTT. 

Pelatih PSM Makassar, Robert Rene Alberts dan asisten Herman Kadiaman bersama seorang pemain bintang PSM akan berada di Kota Kupang untuk menggelar seleksi terbuka tanggal 24-26 November 2017.  Pemain yang diseleksi kelahiran tahun 1999, 2000 dan 2001. Mereka diharapkan paling lambat sudah berada di Kota Kupang 23 November 2017. Pemain bisa atas nama sendiri, diutus oleh asosiasi dan klub.

Sekali lagi ini merupakan kabar baik. Peluang emas yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh pelatih, pemain dan pengurus klub sepakbola di seluruh NTT.

Seleksi terbuka dari klub ternama PSM merupakan  kesempatan untuk menguji kemampuan anak-anak NTT dalam mengolah si kulit bundar. Kita sangat yakin akan ada  putra Flobamora yang masuk hitungan tim pelatih PSM Makassar untuk dipoles lebih lanjut.

Klub papan atas melakukan seleksi terbuka di NTT memang bukan yang pertama. Dalam proses seleksi sebelumnya sudah terbukti mampu melahirkan bintang baru yang kualitasnya bisa menembus tim nasional Indonsia.

Kesuksesan itu diawali oleh  pemain NTT kelahiran Alor, Yabes Roni Malaifani pada tahun 2013 di Kupang. Yabes dari Klub Putra Kenari Alor kini menjadi pemain utama Bali United. Seleksi berikutnya menghadirkan Alsan Sanda dari SSB Tunas Muda Kupang. Saat ini Alsan bermain untuk klub Bhayangkara FC dan dipercayakan pelatih sebagai wakil kapten tim. Yulius Mauloko dari Kristal FC Kupang sekarang memperkuat  Persegres Gresik. Alsan adalah pemain terbaik turnamen  Pos Kupang Cup 2015 sedangkan Yulius top skorer.

Pemain lainnya dari PSN Ngada adalah Celvan Nau,  sekarang kiper Bali United.  Dia  pernah bermain di Kristal FC. Pemain PSN Ngada, Jackson Tiwu (Bali United), kini dipinjamkan ke Persikad Depok (Liga II). Pemain NTT lainnya yang berkiprah di Liga 1 Indonesia  adalah Billy Keraf (Persib Bandung). Billy pernah bermain di kejuaraan  Piala Gubernur NTT membela Persami Maumere.

Di Liga II Indonesia ada Aldo Leki (Persita Tangerang). Untuk tim U-19, Abdul Hamid dari klub Arsenal Lamahala Flotim sekarang bermain di Pusamania Borneo. Junedi Putra dari SSB Tunas Muda bermain di Bali United.

Menurut catatan kita,  klub Liga 1 Indonesia  yang pernah seleksi pemain  di Kupang yaitu Bali United, Persija Jakarta dan Pusamania Borneo. Mari kita gunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin agar semakin banyak anak NTT yang bermain di klub terbaik Indonesia. Dan, bukan tidak mungkin suatu saat nanti mereka membela klub papan atas mancanegara. *

Sumber: Pos Kupang 3 November 2017 hal 4

NH Dini yang Terus Berkarya

Novelis NH Dini
 SEORANG perempuan tersenyum bahagia saat namanya diundang naik ke panggung untuk menerima penghargaan prestasi seumur hidup (lifetime achivement award) dari penyelenggara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017 di Bali, pekan lalu.

Dibantu oleh putra yang menuntunnya, perempuan yang memakai kebaya putih dipadu bawahan kain batik hijau muda itu melangkah perlahan-lahan ke panggung, berdiri di belakang mikrofon yang telah disediakan untuknya.

"Sastra adalah dunia saya. Saya telah menekuni bidang ini selama 60 tahun, dan berharap bisa terus berkontribusi bagi sastra Indonesia," kata N.H. Dini sesaat sebelum menerima penghargaan.

Sastrawan senior yang memiliki nama asli Nurhayati Sri Hardini itu dianugerahi penghargaan atas kontribusinya sebagai penulis sekaligus aktivis, dalam dunia sastra di Indonesia.

Peran Dini, demikian ia biasa disapa, dianggap sentral sebagai pelopor suara perempuan pada tahun 1960-1980-an, di mana belum banyak perempuan Indonesia memutuskan menjadi penulis.

Penghargaan dari UWRF menambah deretan penghargaan yang pernah diterimanya seperti Hadiah Seni untuk Sastra dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1989), Bhakti Upapradana Bidang sastra dari Pemerintah daerah Jawa Tengah (1991), SEA Write Award dari pemerintah Thailand (2003), Hadiah Francophonie (2008), dan Achmad Bakrie Award bidang Sastra (2011).

Lahir di Semarang pada 29 Februari 1939, Dini sudah rajin menulis sejak duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Karirnya dalam dunia penulisan Tanah Air dimulai saat dirinya mengirim sajak untuk program "Prosa Berirama" yang disiarkan Radio Republik Indonesia, sebelum kemudian menjajal peruntungan membuat cerita pendek untuk majalah wanita Femina.

Karena merasa format cerita pendek tidak cocok untuk dirinya, Dini mulai menulis cerita panjang. Ia mulai menulis karya pertamanya berjudul "Hati yang Damai", kemudian "Pertemuan Dua Hati" (1986) yang diterbitkan di halaman tengah Femina.

Judul tersebut menghasilkan uang dengan jumlah besar, Rp1.000.000 pada tahun 1970-an.

"Uang itu saya taruh di bawah bantal, lalu saya jadikan alas kepala untuk tidur. Saya ingin benar-benar merasakan bahwa saya punya uang sebanyak itu," tuturnya mengenang pencapaian di masa lalu.

Rupanya, Dini belum juga puas. Ia merasa perlu menulis lebih panjang untuk menggambarkan kehidupan orang-orang dan lingkungan sekitarnya.

Dini kemudian merambah ke penulisan biografi dan novel. "Amir Hamzah Pangeran dari Negeri Seberang" (1981) dan "Dharma Seorang Bhikku" (1997) adalah dua buku biografi yang sempat ditulisnya.

Namun, ia lebih dikenal lewat karya-karya novelnya seperti "Pada Sebuah Kapal" (1973), "La Barka" (1975), "Keberangkatan" (1977), serta "Namaku Hiroko" (1977).


Ciri khas novel-novel Dini adalah tokoh utamanya yang hampir selalu perempuan. Ia pun pernah dikritisi karena secara terbuka membicarakan tentang perselingkuhan dan seks sebagai sesuatu yang wajar. Baginya, mengungkapkan persoalan dan perjalanan hidup akan membuat karyanya lebih dekat dengan para pembaca.

Tokoh Sri dalam "Pada Sebuah Kapal", misalnya, yang dikisahkan memiliki suami diplomat berperangai kasar dari Prancis. Perkawinan Sri dan suaminya menjadi hambar setelah mereka mempunyai seorang putri.

Kelembutan dan kehangatan justru didapat Sri dari Michel, kapten kapal yang dikenalnya saat berlayar dari Saigon menuju Marseille. Karena rumah tangga Michel dan istrinya, Nicole, sedang bermasalah, ia dan Sri kemudian berselingkuh dari pasangan masing-masing.

Sri yang adalah perempuan Jawa, digambarkan secara berani melanggar aturan karena tidak lagi nyaman menjalani perkawinan dengan suaminya.

"Mungkin tidak banyak buku pada era itu yang mengangkat tema perselingkuhan, tetapi saya melihat dalam kehidupan nyata banyak perempuan Jawa yang sangat tegas memutuskan berbagai hal dalam hidup, berani menentukan arah hidupnya sendiri," tutur Dini.

Tokoh Sri juga kerap disebut-sebut menggambarkan kehidupan Dini sendiri yang mantan suaminya adalah seorang diplomat Prancis, Yves Coffin.

Dini tidak menampik tudingan tersebut. Ia mengaku hampir selalu "mengikutkan" dirinya dalam tokoh-tokoh ciptaannya, namun tetap menjaga pada takaran tertentu agar tidak menjadi cerita yang terlalu personal.

"Saya yang berlatar Jawa menikah dengan orang asing tentu merasakan benturan budaya dan tradisi Barat dan Timur, pengalaman itu yang sedikit banyak saya tuliskan dalam Pada Sebuah Kapal," kata dia.

Persoalan dan kegelisahan yang dihadapi perempuan banyak didapat Dini dari percakapan dengan teman-teman pramugari saat dirinya bekerja untuk maskapai Garuda Indonesia di Bandara Kemayoran pada 1950-an.

Pada 1960, ia terbang ke Jepang untuk menikah dengan Yves Coffin dan sempat mengikuti suaminya bertugas ke beberapa negara. Namun, pernikahan tersebut tidak bertahan lama. Pada 1984, Dini bercerai dari suami yang telah memberinya dua anak tersebut, dan kembali ke Indonesia untuk terus menekuni dunia penulisan.

Belakangan nama N.H. Dini kembali diperbincangkan setelah kemunculan film animasi "Despicable Me 2" (2013). Karakter alien berwarna kuning, Minions, dalam film tersebut diciptakan dan diisi suaranya oleh putra bungsu Dini, Pierre-Louis Padang Coffin.

Identitas Pierre sebagai animator Hollywood berdarah Indonesia terungkap saat salah satu minion mengucap beberapa kata dalam bahasa Indonesia seperti "terima kasih" dan "masalah".


Terus Menulis

Kini, penulis yang telah melahirkan lebih dari 30 judul buku itu tinggal di sebuah wisma lansia di Banyumanik, Semarang. Dini memilih tinggal di panti tersebut karena tidak ingin merepotkan orang lain.

Selain masih aktif menulis, ia juga kerap diundang sebagai dosen tamu di kampus-kampus atau sebagai pembicara dalam acara-acara sastra dan budaya.

Sejak 1978, ia menerbitkan Seri Cerita Kenangan yang kini telah terdiri dari 14 judul, dari yang pertama "Sebuah Lorong di Kotaku" hingga yang terbaru "Dari Ngalian ke Sendowo" yang diterbitkan pada 2015.

Penulisan seri tersebut terinspirasi dari permintaan ibunda Dini agar dirinya menulis karya-karya yang menunjukkan perubahan zaman.

"Saya bersyukur dikaruniai Tuhan memori yang kuat, itu sangat membantu saya dalam proses penulisan," tutur dia.

Perempuan yang menganut kepercayaan Kejawen itu mengaku memiliki kebiasaan khusus saat membuat buku. Setelah proses penulisan sebuah karya selesai, Dini akan bermeditasi sambil melantunkan doa kepada Gusti Allah pada pukul 01.00-03.00 pagi.

Kebiasaan itu ia yakini dapat memberikan pencerahan dalam proses kreatif, termasuk dalam penulisan "Pada Sebuah Kapal" saat dirinya memutuskan memisahkan masing-masing sudut pandang perempuan dan laki-laki dalam dua bagian yang berbeda, setelah melakukan meditasi tersebut.

Dini saat ini sedang menulis judul lanjutan Seri Cerita Kenangan yang diperkirakan akan selesai tahun depan.

Bagi Dini, profesi pengarang atau penulis itu mulia karena berkaitan dengan proses mencipta.

"Saya menulis karena ingin orang tahu kalau mereka mendapat pengalaman begini, solusinya begini. Sama sekali tidak bermaksud menginspirasi apalagi menggurui, saya hanya ingin berbagi," tuturnya. (ANTARA/Yashinta Difa)

Sumber: ANTARA
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes