Ketika Duri-duri Tak Lagi Terasa

 


Elcid Li dan Fima Inabuy (kanan)
PRAKTIK cerdas mengesankan di tengah amukan pandemi Covid-19 datang dari tenggara Indonesia.

Tepatnya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tetangga terdekat Bali.

Daerah itu sudah memiliki Laboratorium Biomolekuler untuk tes massal Covid-19.

Kalau sekadar bangun lab sih biasa. Yang luar biasa adalah NTT membangun lab pertama di Indonesia atas inisiatif masyarakat.

Mereka sukses merajut kerja kolaborasi apik dengan pemerintah daerah.

Kehadiran laboratorium tersebut memungkinkan tes massal Covid-19 gratis bagi masyarakat. Sebuah inovasi yang membanggakan.

Lebih menggetarkan hati justru pihak yang berinisiatif pertama kali dan bekerja tanpa mengeluh.

Mereka adalah sekelompok anak muda Nusa Tenggara Timur dari aneka latar belakang profesi dan pendidikan.

Ada mahasiswa, tukang batu, sarjana baru lulus, para doktor tamatan luar negeri, dosen dan lain-lain.

Mereka kerja bahu-membahu. Hari ini 28 Oktober 2020, sontak saya ingat mereka. Pemuda-pemudi Indonesia modern yang sungguh menghayati makna Sumpah Pemuda.

Tuan dan puan. Lab karya kolaborasi itu sudah beroperasi.

Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto meresmikan laboratorium biomolekuler hasil kerja sama masyarakat, Pemerintah Provinsi NTT dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang dan Forum Academia NTT (FAN) di Kupang, Jumat 16 Oktober 2020.

Seperti dikutip dari pos-kupang.com, Menteri Terawan dalam sambutan yang dia sampaikan melalui aplikasi zoom di hadapan Gubernur NTT Viktor B Laiskodat, Wakil Gubernur Joseph Nae Soi, Rektor Undana Prof Fred Benu serta Ketua Tim Pool Test Dr Fima Inabuy menyampaikan apresiasi kepada NTT.

"Saya mengapresiasi sinergi dan kolaborasi masyarakat dan Pemerintah NTT dalam meningkatkan akses layanan pemeriksaan spesimen Covid-19 ini," kata Terawan.

Menteri Terawan mengharapkan mutu dan kedisiplinan serta aspek-aspek lainnya yang berkaitan dengan penerapan laboratorium biomolekuler tetap diperhatikan saat lab tersebut melayani pemeriksaan spesimen Covid-19.

Menteri Kesehatan menilai keberadaan laboratorium biomolekuler ini bukti kerja sama kerja cerdas, kerja keras, kerja ikhlas dari masyarakat NTT. Dia mengharapkan laboratorium tersebut meringankan beban masyarakat NTT di tengah pandemi Covid-19.

Gubernur Viktor Laiskodat mengatakan dengan adanya laboratorium biomolekuler itu, pemerintah provinsi NTT menggratiskan layanan pemeriksaan menggunakan alat tes diagnostik cepat maupun pemeriksaan spesimen usap guna mendeteksi penularan Covid-19.

Gubernur Viktor sudah menandatangani surat keputusan mengenai penyediaan layanan tes cepat dan pemeriksaan spesimen usap gratis.

"Kemarin saya sudah panggil beberapa pihak, mulai dari pihak Universitas Nusa Cendana, untuk mulai hitung-hitung dan saya rasa kalau hanya rugi beberapa saja tidak apa-apalah," ujar Gubernur Viktor.

Inisiatif Rakyat

Moderator Forum Academia NTT (FAN), Dominggus Elcid Li merupakan satu di antara tokoh muda NTT yang berinisiatif menghadirkan laboratorium hasil kerja kolaborasi ini.

Elcid Li dan teman-temannya di Forum Academia NTT bersyukur akhirnya niat luhur tersebut terwujud.

“Jalanan yang dulu tiada, kini terbuka, dan mulai ramai dilalui. Bahkan pertemuan yang tak disangka menjadi mungkin. Ide berkembang, bertumbuh, dan yang terlibat berlipat ganda,” ujarnya.

“Kegembiraan itu datang dari pertemuan, kerja sama, dan semangat untuk belajar. Tangan yang terbuka, bersedia memberi jauh lebih dibutuhkan daripada tangan yang mengambil,” kata Elcid Li dalam catatan refleksi perjalanan membangun laboratorium biomolekuler untuk tes massal atau pool test Covid-19 ini.

Menurut doktor jebolan Universitas Birmingham, Inggris tersebut, laboratorium ini adalah laboratorium pertama di Indonesia yang khusus melakukan riset inovasi terkait tes massal.

“Laboratorium datang dari Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk Indonesia. Krisis tidak hanya melahirkan penderitaan tetapi melahirkan inovasi. Gambaran ini muncul pada Fainmarinat S. Inabuy, Ph.D, doktor biomolekuler pertama asal NTT lulusan Washington State University.” kata Elcid Li.

Elcid yang juga anggota Tim Pool Test untuk NTT mengatakan, rekannya Inabuy yang juga angota FAN, datang dengan ide tes massal Covid-19.

Proses inkubasi idenya seiring dengan rekan lain di Bandung, Hafidz.

Tak heran mereka kerap berkomunikasi bersama dengan Dahlan Iskan, wartawan senior itu.

Pada tanggal 1 Mei 2020 Fainmarinat S. Inabuy, Ph.D dari Forum Academia NTT pertama kali mempresentasikan idenya tentang pembuatan laboratorium biomolekuler untuk test massal di depan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT.

Ia menjelaskan dengan gamblang tentang metode pooled test. Ide itu diam cukup lama, tidak mendapatkan sapaan balik dari pemerintah.

Meski demikian, Fima, demikian sapaan akrab Fainmarinat S. Inabuy, tetap punya keyakinan. Ia mulai merekrut, dan melakukan pelatihan untuk para laboran di awal bulan Juni 2020.

Dukungan pertama datang dari Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang. Mereka menyiapkan ruangan, alat, dan reagen.

Tak hanya itu, acara pembukaan dan penutup pun mereka persiapkan. Mereka masih sempat memberikan tenun tanda persaudaraan untuk semua peserta.

Awalnya, Fima sempat mendesain acara pelatihan selama setengah hari saja. Pelatihan berhenti sebelum jam makan siang.

“Ya, dana makan siang memang tidak ada. Kas Forum Academia NTT sisa Rp 500 ribu. Hanya cukup untuk makanan ringan,” kata Elcid.

Namun dukungan publik ternyata luar biasa.. Gelombang dukungan masyarakat NTT maupun dari luar NTT mengalir.

BLK (Balai Latihan Kerja) dan Dinas Kesehatan Provinsi NTT pun turun tangan.

Mereka ikut membawa makan siang. Pelatihan bisa selesai sore jam 6, dan peserta masih bisa makan malam bersama atau dibawa pulang.

Elcid mengatakan, kebanyakan laboran anak kos. Sejak itu tim pool test berisi para laboran muda terbentuk.

Pelatihan demi pelatihan mereka jalankan. Sejak Juni mereka bekerja tanpa mengharapkan upah.

“Hanya semangat. Modalnya gerakan sukarelawan. Gotong royong. Prinsipnya jika saling membantu kita tidak pernah kekurangan, sebaliknya jika ini dianggap proyek, duit selalu kurang,” ujarnya.

Sejak Juli 2020, SK untuk pendirian laboratorium biomolekuler keluar. Laboratorium ini ditempatkan di Universitas Nusa Cendana (Undana).

Sejak itu selama tiga bulan, Fima, doktor biomolekuler ini tak hanya membaca jurnal. Ia adalah mandor pembangunan laboratorium.

Mandor bukanlah kata yang pas, sebab Fima dan keluarganya kemudian juga memberi secara harian.

“Seluruh makan siang para laboran disumbangkan oleh Ibu Ietje yang adalah mama dari Fima, dari Sekolah Abdi Kasih Bangsa, Kupang.” kata Elcid.

Sikap sukarelawan itu menular. Setidaknya ada 8 laboran pejuang yang bertahan hingga kini dari 16 orang. Bekerja dari pagi hingga menjelang tengah malam adalah hal biasa.

Sebagai anak muda. Mereka telah bertarung hingga titik tertinggi.

“Memberikan yang terbaik tanpa pamrih. Bekerja dalam kondisi darurat syaratnya hanya satu: one for all, all for one. Humanity. Anak-anak muda ini tak hanya laboran. Mereka adalah pasukan task force sesungguhnya. Dari memasak, cleaning service, mencatat laporan keuangan, hingga membuka jurnal membahas alur pool test mereka kerjakan dalam satu hela napas.” kata Elcid Li.

Ia menambahkan, kehadiran doktor biomolekuler kedua asal NTT juga amat membantu. Alfredo Kono, Ph.D yang pulang dari Iowa State University juga turut mengambil sebagian peran dari pundak Fima.

Edo, sapaan akrab Alfredo, pulang lebih cepat ke Kupang untuk membantu.

Jika sudah tiba membaca hasil PCR, mereka bercakap-cakap dalam dunia mikro itu. Mereka tenggelam dalam alam laboran.

“Hening dan detil. Waktu seolah diam. Dari Dinas Kesehatan Provinsi ada srikandi pejuang. Ibu Erlina R. Salmun. Ia adalah pejuang pekerja di dalam birokrasi. Ia membantu yang belum macet. Menyambungkan yang perlu. Ia adalah anomali dalam birokrasi. Pakai hati,” ujarnya.

Onak dan duri dialami Elcid Li dkk. Menurut Elcid, beberapa bulan lalu tim interdisipliner dari Forum Academia NTT yang menginisiasi pembangunan laboratorium ini sempat difitnah mendapatkan uang 900 ribu per jam oleh beberapa oknum wartawan.

“Namun isu tidak pernah mereka selesaikan dengan bukti. Tapi, semua itu sudah lama berlalu. Kini, duri-duri itu tak lagi terasa, hanya ada bunga yang mekar.”

“Malam-malam menunggu hasil tes dari PCR sudah terbayarkan. Panas dalam APD di ruang ekstraksi sudah lewat. Jari yang penat menggunakan micro pipet, sudah berlalu. Tubuh yang dingin diguyur air dingin tengah malam keluar dari ruang ekstraksi sudah tak lagi terasa.” kata Elcid Li.

Elcid dengan bangga mengatakan, 16 Oktober 2020, anak-anak muda Indonesia asal Provinsi NTT sedang mencatatkan sejarah bersama.

Mereka membuat Laboratorium Biomolekuler yang hadir karena insiatif rakyat.

Momentum semangat persaudaraan yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh mereka buktikan.

“Ya, insiatif ini mungkin yang pertama terjadi di dunia. Laboratorium rakyat, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Semangat itu yang sering hilang. Rakyat adalah entitas politik dari republik. Tanpa rakyat tidak ada republik.” jelas Elcid Li.

Menurut Elcid, ketika ide dikerjakan tanpa kepentingan (interest), dan uang hanya menjadi salah satu variabel dan bukan tujuan ternyata bisa menghasilkan sesuatu.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat pun tergerak. Gubernur berjanji memberikan swab gratis untuk seluruh warga.

Untuk bersama-sama sehat, semua harus punya akses yang sama di saat pandemi Covid-19.

“Prioritas tim saat ini adalah mengurai antrean sampel swab sebanyak 3000-an, dan membantu tim surveillance Dinas Kesehatan Provinsi/Kota/Kabupaten di NTT Kita sedang berjalan bersama keluar dari krisis,” kata Elcid Li.

Elcid Li benar. Pendekatan ekonomi saja tidak lagi menjadi solusi. Pendekatan Ekonomi-Kesehatan harus menjadi panglima.

Selama para teknokrat dan birokrat meminggirkan rakyat, hanya ada nestapa beruntun.

Sebaliknya jika republik dikerjakan dalam politik kerakyatan, untaian bunga mawar menjadi hadiah perjalanan melalui sekian duri dan onak. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

“Mengerjakan republik perlu dilakukan dengan gembira. Agar pekik ‘merdeka’ dilepaskan ke angkasa tanpa beban, cuma rasa syukur masih bisa saling sapa dan bantu demi kehidupan yang lebih baik. Semoga pemulihan akibat krisis bisa lebih cepat,” demikian Elcid Li. Ya begitulah harapan kita semua. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Menyamar Sebagai Keluarga Nabunome


Edu Nabunome

Pesan klasik para guru jurnalistik saya, Valens Goa Doy, Damyan Godho, Julius R Siyaranamual, Marcel Weter Gobang sama dan sebangun. Jurnalis harus panjang akal.

Nah gara-gara keistimewaan atlet Indonesia kelahiran Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, saya mempratikkan pesan para guruku tersebut.

Akal saya panjanglebarkan demi menembus ketatnya barikade petugas keamanan di Century Park Hotel Jakarta.

Pagi itu pada medio Oktober ceria 1997.

Wajahku yang semringah berubah kecut melihat seramnya sekuriti mengawal Century Park, hotel atlet peserta SEA Games.

Soeharto masih berkuasa meski riak resah menyembul di mana-mana di persada Pertiwi yang kira-kira tujuh bulan kemudian memaksanya lengser keprabon.

Tanggal 11 Oktober 1997 pemimpin Orde Baru selama 32 tahun itu membuka pesta olahraga multievent antarbangsa Asia Tenggara, SEA Games.

Tanggal 19 Oktober 1997, dia pula yang menutup pesta South East Asian Games yang mengantar tuan rumah Indonesia meraih juara umum.

Saya beruntung masuk tim peliput jaringan Persda, koran daerah Kompas Gramedia.

Selama dua pekan saya tulis berita tidak hanya bagi pembaca Harian Pos Kupang tapi seluruh koran daerah Kompas dari Sabang sampai Merauke.

Hotel atlet yang beralamat di Jalan Pintu Satu Senayan, RT.1/RW 3, Gelora, Tanahabang, Jakarta Pusat itu bukan tempat awak media berseliweran seenak perut.

Wartawan hanya boleh sampai di area lobi pada jam tertentu.

Sesewaktu harus rela diusir petugas keamanan yang mengusung doktrin, atlet jangan sampai terganggu oleh siapapun.

Kalau mau wawancara silakan di arena lomba atau venue pertandingan bukan di Century Park.

Tuan dan puan tentu maklum itu masih Orde Baru. Petugas keamanan berambut cepak ada di mana-mana.

Sangar dan tanpa kompromi. Kalau ente nekat bisa kena bogem dan tanpa proses hukum. Pokoknya jangan
cari masalah deh.

Justru itu masalah bagi saya. Atlet andalan Indonesia Eduardus Nabunome atau karib disapa Edu baru saja meraih medali emas nomor lari maraton.

Edu memang sudah memberi keterangan kepada wartawan di Stadion Madya Senayan. Tapi itu pernyataan normatif dan standar. Sementara saya menguber wawancara eksklusif.

Pesan para editor di newsroom bersama Persda adalah berita kita harus punya diferensiasi.

Bukan nongkrong di press center mengutip data hasil lomba dan pertandingan.

Karya jurnalistik semacam ini garing.

Tak menarik apalagi olahraga yang mengekspresikan manusia dan seluruh dimensinya kemanusiannya.

Nilai lebih berita spesial hanya mungkin diperoleh manakala jurnalis berada di gelanggang dan wawancara eksklusif atlet juara ataupun yang gagal.

Problemnya, wartawan dilarang masuk Century Park. Bagaimana caranya?

Saya lekas putar otak. Berlari-lari kecil mengejar Edu bersama lima orang lainnya termasuk ofisial yang hendak kembali ke Hotel Century Park, cuma selemparan batu dari Stadion Madya Senayan.

Saya pepet Edu lalu bisik di telinganya pakai bahasa melayu Kupang. Ya kami sebaya, usia Bung Edu hanya lebih tua setahun dari saya.

“Bu (Bung), beta mesti wawancara khusus Bu nih. Bisa ko beta ikut pi dalam hotel sekarang sebagai keluarga untuk doa syukur atas keberhasilan Bu tadi.”

Bung Edu ngakak lalu menganggukkan kepala.

Atlet cerdas ini sudah mengerti maksud saya. Maka rompi, tas pinggang, kamera, tape recoder dan lain-lain saya sembunyikan dalam tas plastik warna hitam legam.

Jangan dikau bayangkan saya punya ransel bagus. Dalam situasi darurat tak ada rotan akar pun jadilah.

Saat masuk Century Park wajah dan tubuh saya tidak lagi menunjukkan ciri-ciri wartawan. ID Card alias kartu identintas wartawan pun saya sembunyikan.

Saya malah sudah siapkan jawaban kalau petugas tanya nama. Saya akan bilang namaku Dion Nabunome. Ternyata tak ada pertanyaan tersebut. Syukurlah.

Sambutan petugas keamanan terhadap saya begitu ramah sejak pintu masuk hotel sampai naik lift.

Maklumlah saya kan anggota tim keluarga sang juara Asia Tenggara yang baru saja mengharumkan nama bangsa dan mau ibadah syukur atas keberhasilannya.

Sampai di dalam hotel Edu mandi dan ganti pakaian.

Saya duduk menunggu di ruang tamu, depan kamarnya yang luas sambil menikmati aneka penganan dan minuman khusus bagi atlet.

Sebuah kemewahan yang tidak dimiliki wartawan lain. Century Park merupakan hotel atlet mewah di zamannya.

Setelah mandi dan ibadah singkat, saya mewawancarai Eduardus Nabunome.

Panjang lebar dan mendalam. Laporanku eksklusif.

Tidak hanya buat Harian Pagi Pos Kupang tapi seluruh jaringan koran daerah Kompas Gramedia di bawah payung Indopersda Primamedia (Persda) atau kini beken melalui branding Tribun Network.

SEA Games Jakarta 1997 Persda merajut newroom bersama.

Sejumlah wartawan dari daerah dipanggil ke Jakarta untuk bergabung.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Pos Kupang kala itu, Om Damyan Godho menugaskan
saya.

Saat pembagian kerja tim di Jakarta, saya kebagian tugas utama meliput cabang atletik dan tinju.

Selama sepekan lebih saya bolak-balik dari Senayan ke GOR Kuningan (arena cabang tinju).

Petinju NTT Hermensen Ballo sedang di puncak kejayaannya. Raja kelas terbang ini mempersembahkan medali emas.

Ketua Umum KONI waktu itu Wismoyo Arismunandar bangga luar biasa. Dia peluk dan nyaris
menggendong Hermensen.

Seniorku wartawan Kompas di NTT, Frans Sarong juga masuk dalam tim peliput Kompas untuk SEA Games 1997.

Kami kerap berjumpa di arena atletik, bulutangkis dan renang. Abang Frans hobi berat bulutangkis.

Kami menyaksikan kepiawaian Susi Susanti, Alan Budikusuma dkk .

Sebagai pemuja sepak bola saya tetap curi waktu menonton timnas Indonesia main di Stadion Utama Senayan (kini Stadion Utama Gelora Bung Karno).

Untuk cuci mata ya mampir di cabang akuatik, kolam renang dan bolavoli putri.

Nikmatnya menjadi wartawan olahraga memang di situ. Melihat yang muda, energik, sehat, bugar dan bening.

The second wind

Kembali ke Bung Edu, dalam wawancara denganku dia mengaku sebetulnya tidak cukup yakin bisa meraih medali emas lari maraton SEA Games 1997 yang mengambil start dan finish di Stadion Madya Senayan.

Tenaganya nyaris habis saat memasuki kilometer 21. Napasnya tersengal.

“Beta su (sudah) pasrah Bu. Lemas, kaki berat sekali melangkah,” kata Edu.

Yang dia jaga hanyalah jangan sampai terjatuh mencium aspal.

Edu tetap berlari meski pelan dan fokus menelusuri jalan raya.

Atlet kelahiran 21 April 1968 ini tidak berpikir soal jauhnya jarak 42,195 kilometer yang harus dia tempuh amat lekas demi menjadi juara.

Dia terus melangkah meskipun lawan-lawannya seperti pelari asal Malaysia, Subramaniam dan atlet andalan Filipina Hector Bagio jauh meninggalkannya.

“Beta hanya berusaha jaga kestabilan langkah. Konstan. Jangan terlalu pelan dan tidak juga cepat-cepat,” katanya.

Dia yakin kelelahan juga melanda pelari lainnya.

Stamina cadangan Eduardus Nabunome muncul di kilometer 34.

Di dunia atletik dikenal dengan fenomena second wind.

Seorang atlet yang kehabisan napas dan terlalu lelah untuk melanjutkan langkah tiba-tiba menemukan kekuatan baru untuk mencapai kinerja puncak dengan pengerahan tenaga lebih sedikit.

Sejak kilometer 35, 36, 37 pemilik nama lengkap Anderias Hiler Eduardus Nabunome mempercepat langkahnya. Di kilometer 39 dia mulai melewati pelari terdepan.

Dua kilometer jelang finish Edu tak tertahankan lagi. Saya ikut berjingkrak girang menyambutnya di garis
akhir di Stadion Madya.

Medali emas dari Edu melengkapi pencapaian kontingen Indonesia sebagai juara umum dengan koleksi 194 medali emas, 101 perak dan 115 perunggu.

SEA Games 1997 diikuti 10 negara mempertandingkan 34 cabang olahraga dalam 440 ajang.

Thailand berada di urutan kedua dengan 83 emas, 97 perak, 78 perunggu disusul Malaysia Malaysia 55 medali emas, 68 perak dan 75 perunggu.

Terbaik Selama 40 Tahun

Tak bisa dipungkiri Eduardus Nabunome yang menikah dengan sesama atlet atletik berdarah NTT juga, Marcelina Ina Piran merupakan pelari jarak jauh terbaik Indonesia selama 40 tahun terakhir.

Belum ada atlet lain di negeri ini yang menyamai prestasinya.

Bahkan sampai sekarang Eduardus Nabunome masih pemegang rekor nasional (rekornas) lomba lari Bali 10K tahun 1989 dengan catatan waktu 29 menit 25 detik.

Rekor Bali 10K itu sudah bertahan selama 31 tahun. Entah sampai kapan baru bisa terpecahkan.

Edu juga memegang rekor maraton Singapura 1993 (2 jam 19 menit 18 detik), lari 10.000 meter junior tahun 1986 di Jakarta dengan catatan waktu 30 menit 6,33 detik.

Edu Nabunome adalah pemegang rekor nasional lari maraton dengan catatan waktu 2 jam 19 menit 18 detik.

Catatan itu dibuatnya pada 12 September 1993 di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XIII/1993 di
Jakarta.

Prestasi lain yang mengagumkan adalah Edu menciptakan hattrick medali emas nomor lari 10.000 meter putra SEA Games tahun 1987, 1989, dan 1991.

Di nomor lari 5.000 meter putra, Edu mengoleksi medali emas SEA Games 1987 dan 1989. Juga lari maraton di SEA Games 1997.

Selama periode 1980-2000, Eduardus Nabunome menciptakan 14 rekor lari jarak jauh dan menengah.

Dari jumlah itu, lima rekor nasional masih bertahan atas namanya hingga saat ini. Hampir 40 tahun berlalu.

Adapun lima rekor yang dicatat lulusan FISIP Universitas Moestopo Beragama, Jakarta itu adalah lari 10 ribu meter jalan raya, 29 menit 25 detik yang dibuatnya pada Bali 10K tahun 1989.

Rekornas junior lari 10 ribu meter trek 30 menit 6 detik, rekor PON lari 5 ribu meter 14 menit 20 detik, rekor PON maraton 2 jam 19 menit 27 detik, dan rekor SEA Games maraton 2 jam 20 menit 17 detik.

Pada tahun 2018, Eduardus Nabunome pernah bercerita tentang rekornya tersebut.

Edu menilai rekor itu seharusnya bisa dipecahkan para pelari muda Indonesia.

Namun, rekor itu pada akhirnya sulit dipecahkan karena tidak banyak lomba lari dengan hadiah menarik yang berlangsung di Indonesia.

Menurut Edu Nabunome, penyelenggara lomba lari kebanyakan tidak mau repot dan takut memberi rangsangan hadiah untuk peserta lomba.

"Sampai saat ini, jangankan melewati atau menyamai, mendekati catatan waktu saya itu saja tidak ada," kata Edu Nabunome dikutip dari Harian Kompas, 24 Maret 2018.

"Kalau mau serius, PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) seharusnya bisa membantu," kata Edu.

"Kalau tidak, cobalah membuat lomba lari 10k dengan hadiah yang menarik misalnya, memperebutkan tiga mobil untuk yang berhasil memecahkan rekor. Itu pasti akan menarik," tambah Edu Nabunome.

Meski rekornya masih belum terpecahkan, Edu pada 2018 mengaku tetap bersyukur karena olahraga lari sudah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia.

"Paling tidak, sekarang sudah banyak orang menggemari olahraga lari. Semakin banyak, semakin bagus tentunya," ujarnya.

Dalam wawancara dengan Pos Kupang empat tahun silam, Sekretaris Pengprov PASI NTT, Eduard Setty mengungkap sedikit kilas balik lahirnya Edu Nabunome sebagai atlet legendaris.

Dikatakannya, saat Mell Yacob, S.H menjabat Ketua DPRD Kabupaten Kupang sekaligus Ketua Pengcab PASI Kabupaten Kupang, dia mencanangkan program Atletik Masuk Desa tahun 1980 -1985.

Melalui program Atletik Masuk Desa inilah muncul atlet berbakat seperti Eduardus Nabunome, Welmintje Sonbay dan lain-lain.

NTT pun menjadi gudang atlet atletik nasional. Kalau belakangan ini prestasi atlet atletik NTT meredup, pasti ada sesuatu yang keliru dan perlu dibenahi segera.

Saat Piet A Tallo memimpin Pengda PASI NTT, tokoh yang sempat menjabat Gubernur NTT ini menggelar rutin Sirkuit Atletik NTT antara tahun 1995 -2009.

Banyak atlet lahir dari sana, di antaranya Oliva Sadi yang kini masih aktif berlari.

"Masih menjadi kebanggaan NTT karena catatan rekor nasional yang diraih atlet NTT Eduardus Nabunome pada nomor lari 10.000 meter junior tahun 1986 di Jakarta, Bali 10K tahun 1989 (29:25.0), dan lomba lari
maraton 1993 di Jakarta (2:19.18), belum terpecahkan sampai saat ini," kata Eduard Setty.

Menurut Eduard Setty, Edu Nabunome terakhir membela NTT di PON 1996.

Mulai PON 2000 di Surabaya, Edu Nabunome mewakili DKI Jakarta karena alasan KTP, domilisi dan bekerja di Jasamarga Jakarta.

Setelah pensiun dari atlet, Eduardus Nabunome masih aktif melatih dan membina pelari-pelari muda Indonesia.

Dia antara lain mengasuh atlet muda lewat Eduard Atletik Club Jakarta yang mengabadikan namanya sendiri.

Senin malam 12 Oktober 2020 kabar duka datang dari Jakarta.

Eduardus Nabunome meninggal dunia pada usia 52 tahun.

Edu Nabunome didiagnosa terkena serangan jantung saat melatih anak asuhnya di kawasan Gelora Bung Karno, Sabtu 10 Oktober 2020 sehingga dilarikan ke rumah sakit.

Almarhum meninggalkan seorang istri, Marcelina Ina Piran dan enam orang anak. Kepergiannya meninggalkan
lara. Banyak orang merasa kehilangan.

Selamat jalan Sang Legenda.

Terima kasih atas pemberian dirimu yang terbaik untuk bangsa dan tanah air tercinta. Sampai akhir hayatmu engkau tak pernah jauh dari atletik.

Kami akan terus mengenangmu. Selamanya.

Bung Edu telah berlari menembus kefanaan. Dia yang maharahim mendekapmu. Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Kalau Kursi Kosong Bisa Omong

 



ilustrasi
URUSAN kosong dan kekosongan lagi naik daun di buana ini.

Di mana-mana. Di meja presenter, di taman bunga, gedung bioskop, rumah ibadah pun di stadion olahraga.

Kekosongan sedang mendapatkan momentum spesial agar manusia tidak gosong tergerus virus Covid-19.

Kekosongan juga melanda jagat politik bernama pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang akan berlangsung 9 Desember 2020.

Jumlah kotak kosong meningkat pesat dibandingkan musim Pilkada sebelumnya. Makin gemuk pula pasangan calon tunggal pada Pilkada 2020.

Biar lebih afdal saya kutip catatan Kompas, koran referensi terkemuka di republik ini.

Pada Pilkada tahun 2015 hanya ada tiga pasangan calon tunggal yaitu terjadi di Kabupaten Blitar (Jawa Timur), Kabupaten Timor Tengah Utara (Nusa Tenggara Timur) dan Kabupaten Tasikmalaya (Jawa Barat).

Seperti penyakit menular, dua tahun kemudian (2017), jumlahnya meningkat tiga kali lipat menjadi sembilan daerah.

Muncul di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.

Pilkada 2017 kotak kosong terjadi di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Kabupaten Landak, Kabupaten Tembrauw, Kota Jayapura, Kota Sorong, Kabupaten Pati, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Buton.

Selanjutnya pada 2018 naik lagi. Sebanyak 16 daerah yang menggelar Pilkada dengan pasangan calon tunggal, yaitu di Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Puncak, Kabupaten Membramo Tengah, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Tapin.

Berikutnya, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Prabumulih, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lebak, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Minahasa Tenggara, Kabupaten Bone, Kabupaten Mamasa dan Kota Makassar.

Nah tahun 2020 ini jumlahnya menjulang lagi. Tak tanggung-tanggung, 25 pasangan calon tunggal yang melawan kotak kosong dari Bali sampai Boyolali, Gunungsitoli Sumatera hingga Raja Ampat di Papua.

"Jumlah daerah yang terdapat calon tunggal sebanyak 25 kabupaten dan kota," kata Komisioner KPU Ilham Saputra, dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/9/2020).

Pasangan calon yang melawan kotak kosong tersebar di 12 provinsi dari Sumatera sampai Papua. Kekosongan terbanyak di Jawa Tengah yakni 6 kabupaten/kota disusul Papua Barat dan Sumatera Utara masing-masing 3
kabupaten.

Provinsi Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing 2 kabupaten. Sedangkan Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Bali, Sumatera Barat dan Bengkulu masing-masing 1 kabupaten/kota.

Berikut daftar lengkap 25 pasangan calon yang akan melawan kotak kosong di Pilkada Serentak 2020.

Provinsi Papua Barat

1. Kabupaten Manokwari Selatan

Markus Waran-Wempie Welly Rengkung (petahana bupati-wakil bupati)

2. Kabupaten Pegunungan Arfak

Yosias Saroy-Marinus Mandacan (petahana bupati-wakil bupati)

3. Kabupaten Raja Ampat

Abdul Faris Umlati (petahana bupati) - Orideko I Burdam

Provinsi Sulawesi Selatan

1. Kabupaten Gowa

Adnan Purichta Ichsan-Abdul Rauf Malaganni (petahana bupati-wakil bupati)

2. Kabupaten Soppeng

H. A. Kaswadi Razak (petahana bupati) - Luthfi Halide

Provinsi Sulawesi Barat

1. Kabupaten Mamuju Tengah

H. M. Aras T-H. Muha Amin Jasa (petahana bupati-wakil bupati)

Provinsi Kalimantan Timur

1. Kota Balikpapan

Rahmad Mas'ud (petahana wakil wali kota) - Thohari Aziz

2. Kabupaten Kutai Kartanegara

Edi Damansyah (petahana bupati) - Rendi Solihin

Provinsi Nusa Tenggara Barat

1. Kabupaten Sumbawa Barat

W. Musyafirin-Fud Syaifuddin (petahana bupati-wakil bupati)

Provinsi Bali

1. Kabupaten Badung

I Nyoman Giri Prasta-I Ketut Suiasa (petahana bupati-wakil bupati)

Provinsi Jawa Timur

1. Kabupaten Kediri

Hanindhito Himawan Pramana-Dewi Mariya Ulfa

2. Kabupaten Ngawi

Ony Anwar Harsono (petahana wakil bupati) - Dwi Rianto Jatmiko

Provinsi Jawa Tengah

1. Kabupaten Boyolali

Mohammad Said Hidayat (petahana wakil bupati) - Wahyu Irawan

2. Kabupaten Grobogan

Sri Sumarni (petahana bupati) - Bambang Pujiyanto

3. Kabupaten Kebumen

Arif Sugiyanto (petahana wakil bupati) - Ristawati Purwaningsih

4. Kota Semarang

Hendrar Prihadi-Hevearita Gunaryanti Rahayu (petahana wali kota-wakil wali kota)

5. Kabupaten Sragen

Kusdinar Untung Yuni Sukowati (petahana bupati) - Suroto

6. Kabupaten Wonosobo

Afif Nurhidayat-Muhammad Albar

Provinsi Sumatera Utara

1. Kabupaten Humbang Hasundutan

Dosmar Banjarnahor (petahana bupati) - Oloan P. Nababan

2. Kota Gunungsitoli

Lakhomizaro Zebua-Sowa'a Laoli (petahana wali kota-wakil wali kota)

3. Kota Pematangsiantar

Asner Silalahi-Susanti Dewayani

Provinsi Sumatera Barat

1. Kabupaten Pasaman

Benny Utama-Sabar AS

Provinsi Sumatera Selatan

1. Kabupaten Ogan Komering Ulu

Kuryana Azis-Johan Anuar (petahana bupati-wakil bupati)

2. Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan

Popo Ali Martopo-Sholehien Abuasir (petahana bupati-wakil bupati)

Provinsi Bengkulu (1 kabupaten)

1. Kabupaten Bengkulu Utara

Mian-Arie Septia Adinata (petahana bupati-wakil bupati)

Coba tuan dan puan simak, dari 25 pasangan calon (paslon) yang melawan kotak kosong tersebut nyaris 100 persen merupakan petahana. Mereka yang kini masih memangku kekuasaan sebagai kepala daerah, baik bupati,
wakil bupati, wali kota atau wakil wali kota.

Hanya empat paslon yang nonpetahana yaitu di Kota Pematangsiantar (Asner Silalahi-Susanti Dewayani), Kabupaten Pasaman (Benny Utama-Sabar AS), Kabupaten Wonosobo (Afif Nurhidayat-Muhammad Albar) dan Kabupaten Kediri (Hanindhito Himawan Pramana-Dewi Mariya Ulfa P).

Petahana merasa lebih baik melawan kotak kosong daripada lawan yang nyata. Caranya merangkul semua kekuatan partai politik di daerah itu sehingga tidak ada kesempatan mengusung pasangan calon lain.

Hegemoni tak sekadar bergenit ria tapi berasyik masyuk di panggung demokrasi Indonesia.

Merujuk data Komisi Pemilihan Umum (KPU), Golkar merupakan partai yang paling banyak mengusung paslon tunggal, jumlahnya 27 disusul PDIP sebanyak 26 dan PKS 18 paslon. PPP dan Hanura masing-masing mengusung 16 paslon tunggal.

Jumlahnya lebih banyak ketimbang kandidat karena partai berkoalisi.

Sebuah kompetisi Pilkada mestinya minimal dua kandidat bertarung. Yang terbaiklah (mendapat dukungan suara mayoritas) yang menang dan berhak memimpin daerah selama lima tahun. Nah ini lawannya kotak
kosong?

Sulit dipungkiri adanya sikap pragmatis partai. Daripada pening kepala usung jagoan sendiri yang belum tentu berjaya, lebih baik bergabung dalam koalisi mengusung calon yang ditaksir memiliki elektabilitas tinggi dan akan menang. Partai tak percaya diri sekaligus mencerminkan proses kaderisasi jalan di tempat.

Politik biaya tinggi di negeri ini memperburuk situasi. Sangat mungkin elit partai tidak memiliki cukup amunisi uang dan sumber daya lainnya untuk mengusung paslon sendiri.

Biangnya bersumber pula dari regulasi Pilkada yang terus berubah. Dalam lima tahun sudah berubah tiga kali.

UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada mengamanatkan calon kepala daerah yang hendak mengikuti kontestasi dapat diusung partai politik maupun gabungan partai politik yang membentuk koalisi serta calon
perseorangan.

Bagi calon perseorangan, kandidat harus mengumpulkan dukungan minimal 6,5-10 persen dari daftar pemilih tetap pemilu terakhir.

Dukungan harus tersebar di lebih dari 50 persen jumlah kabupaten/kota untuk pemilihan gubernur dan lebih dari 50 persen jumlah kecamatan untuk pemilihan bupati/wali kota.

Sedangkan bagi calon yang maju melalui partai politik atau gabungan partai politik harus mengantongi ambang batas parlemen 20 persen kursi atau 25 persen suara dari pemilu sebelumnya.

Syarat ini, menurut Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi, Khoirunnisa Agustyati sangat berat.

Cuma secuil partai yang bisa melampaui batas tersebut. Akibatnya, parpol harus berkoalisi dan dampaknya tak jarang semua parpol berbondong-bondong mencalonkan satu paslon.

"Melihat fenomena ini, Perludem mengusulkan agar tidak perlu ada syarat minimal dukungan itu. Dengan demikian, setiap parpol memiliki peluang untuk mengusungkan paslon dan publik punya alternatif pilihan," kata Khoirunisa seperti dilansir dari Kompas.id, Kamis (3/9/2020).

Khoirunnisa menilai proses kaderisasi di partai politik yang belum baik ikut mempengaruhi tren kenaikan calon tunggal dalam Pilkada 2020.

Menurut Khoirunnisa, peluang calon tunggal untuk menang pun sangat besar. Ia menuturkan selama ini hanya di Kota Makassar yang calon tunggal pernah keok melawan kotak kosong.

Tingginya kemenangan calon tunggal, ujar Khoirunnisa, dipengaruhi minimnya informasi dan edukasi kepada masyarakat bahwa calon tersebut tidak wajib dipilih. Penyelenggara Pemilu tak setara memperlakukan calon tunggal dan kotak kosong.

Ah, seandainya kursi eh…kotak kosong bisa omong, dia pasti tak akan bohong. Dia akan bilang hari-hari ini tidak ada yang promosikan dirinya lewat kampanye.

Kampanye yang difasilitasi uang rakyat dari APBD seperti saat penyebaran alat peraga, debat publik dan kampanye via media massa.

Kalau kotak kosong bisa omong, mungkin dialah yang akan meraih kursi kepala daerah meskipun kursinya nanti kosong.

Kalau kotak kosong bisa omong, dia akan jujur bersenandung mengapa Pilkada musim 2020 ini tak sebaiknya ditunda dulu? Pandemi Covid-19 masih bergelora menelan korban jiwa, hajatan politik yang mengundang
kerumunan jalan terus.

Hegemoni kekuasaan, sejak dulu, memang selalu membuat marhaen kehabisan kata dan hampir tak dapat bicara.

Seperti penggalan syair terkenal Doel Sumbang dan Nini Carlina (Kalau Bulan Bisa Ngomong), dalam hati hanya ada rasa. Yang tak dapat kuwakilkan pada sajak atau bunga. Mau bilang apa?

Kalau kotak kosong bisa omong, sayang dia tak bisa omong. Ada demokrasi yang terlalu. Ironi! (dion db putra)


Sumber: Tribun Bali

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes