Ketika Duri-duri Tak Lagi Terasa

 


Elcid Li dan Fima Inabuy (kanan)
PRAKTIK cerdas mengesankan di tengah amukan pandemi Covid-19 datang dari tenggara Indonesia.

Tepatnya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tetangga terdekat Bali.

Daerah itu sudah memiliki Laboratorium Biomolekuler untuk tes massal Covid-19.

Kalau sekadar bangun lab sih biasa. Yang luar biasa adalah NTT membangun lab pertama di Indonesia atas inisiatif masyarakat.

Mereka sukses merajut kerja kolaborasi apik dengan pemerintah daerah.

Kehadiran laboratorium tersebut memungkinkan tes massal Covid-19 gratis bagi masyarakat. Sebuah inovasi yang membanggakan.

Lebih menggetarkan hati justru pihak yang berinisiatif pertama kali dan bekerja tanpa mengeluh.

Mereka adalah sekelompok anak muda Nusa Tenggara Timur dari aneka latar belakang profesi dan pendidikan.

Ada mahasiswa, tukang batu, sarjana baru lulus, para doktor tamatan luar negeri, dosen dan lain-lain.

Mereka kerja bahu-membahu. Hari ini 28 Oktober 2020, sontak saya ingat mereka. Pemuda-pemudi Indonesia modern yang sungguh menghayati makna Sumpah Pemuda.

Tuan dan puan. Lab karya kolaborasi itu sudah beroperasi.

Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto meresmikan laboratorium biomolekuler hasil kerja sama masyarakat, Pemerintah Provinsi NTT dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang dan Forum Academia NTT (FAN) di Kupang, Jumat 16 Oktober 2020.

Seperti dikutip dari pos-kupang.com, Menteri Terawan dalam sambutan yang dia sampaikan melalui aplikasi zoom di hadapan Gubernur NTT Viktor B Laiskodat, Wakil Gubernur Joseph Nae Soi, Rektor Undana Prof Fred Benu serta Ketua Tim Pool Test Dr Fima Inabuy menyampaikan apresiasi kepada NTT.

"Saya mengapresiasi sinergi dan kolaborasi masyarakat dan Pemerintah NTT dalam meningkatkan akses layanan pemeriksaan spesimen Covid-19 ini," kata Terawan.

Menteri Terawan mengharapkan mutu dan kedisiplinan serta aspek-aspek lainnya yang berkaitan dengan penerapan laboratorium biomolekuler tetap diperhatikan saat lab tersebut melayani pemeriksaan spesimen Covid-19.

Menteri Kesehatan menilai keberadaan laboratorium biomolekuler ini bukti kerja sama kerja cerdas, kerja keras, kerja ikhlas dari masyarakat NTT. Dia mengharapkan laboratorium tersebut meringankan beban masyarakat NTT di tengah pandemi Covid-19.

Gubernur Viktor Laiskodat mengatakan dengan adanya laboratorium biomolekuler itu, pemerintah provinsi NTT menggratiskan layanan pemeriksaan menggunakan alat tes diagnostik cepat maupun pemeriksaan spesimen usap guna mendeteksi penularan Covid-19.

Gubernur Viktor sudah menandatangani surat keputusan mengenai penyediaan layanan tes cepat dan pemeriksaan spesimen usap gratis.

"Kemarin saya sudah panggil beberapa pihak, mulai dari pihak Universitas Nusa Cendana, untuk mulai hitung-hitung dan saya rasa kalau hanya rugi beberapa saja tidak apa-apalah," ujar Gubernur Viktor.

Inisiatif Rakyat

Moderator Forum Academia NTT (FAN), Dominggus Elcid Li merupakan satu di antara tokoh muda NTT yang berinisiatif menghadirkan laboratorium hasil kerja kolaborasi ini.

Elcid Li dan teman-temannya di Forum Academia NTT bersyukur akhirnya niat luhur tersebut terwujud.

“Jalanan yang dulu tiada, kini terbuka, dan mulai ramai dilalui. Bahkan pertemuan yang tak disangka menjadi mungkin. Ide berkembang, bertumbuh, dan yang terlibat berlipat ganda,” ujarnya.

“Kegembiraan itu datang dari pertemuan, kerja sama, dan semangat untuk belajar. Tangan yang terbuka, bersedia memberi jauh lebih dibutuhkan daripada tangan yang mengambil,” kata Elcid Li dalam catatan refleksi perjalanan membangun laboratorium biomolekuler untuk tes massal atau pool test Covid-19 ini.

Menurut doktor jebolan Universitas Birmingham, Inggris tersebut, laboratorium ini adalah laboratorium pertama di Indonesia yang khusus melakukan riset inovasi terkait tes massal.

“Laboratorium datang dari Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk Indonesia. Krisis tidak hanya melahirkan penderitaan tetapi melahirkan inovasi. Gambaran ini muncul pada Fainmarinat S. Inabuy, Ph.D, doktor biomolekuler pertama asal NTT lulusan Washington State University.” kata Elcid Li.

Elcid yang juga anggota Tim Pool Test untuk NTT mengatakan, rekannya Inabuy yang juga angota FAN, datang dengan ide tes massal Covid-19.

Proses inkubasi idenya seiring dengan rekan lain di Bandung, Hafidz.

Tak heran mereka kerap berkomunikasi bersama dengan Dahlan Iskan, wartawan senior itu.

Pada tanggal 1 Mei 2020 Fainmarinat S. Inabuy, Ph.D dari Forum Academia NTT pertama kali mempresentasikan idenya tentang pembuatan laboratorium biomolekuler untuk test massal di depan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT.

Ia menjelaskan dengan gamblang tentang metode pooled test. Ide itu diam cukup lama, tidak mendapatkan sapaan balik dari pemerintah.

Meski demikian, Fima, demikian sapaan akrab Fainmarinat S. Inabuy, tetap punya keyakinan. Ia mulai merekrut, dan melakukan pelatihan untuk para laboran di awal bulan Juni 2020.

Dukungan pertama datang dari Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang. Mereka menyiapkan ruangan, alat, dan reagen.

Tak hanya itu, acara pembukaan dan penutup pun mereka persiapkan. Mereka masih sempat memberikan tenun tanda persaudaraan untuk semua peserta.

Awalnya, Fima sempat mendesain acara pelatihan selama setengah hari saja. Pelatihan berhenti sebelum jam makan siang.

“Ya, dana makan siang memang tidak ada. Kas Forum Academia NTT sisa Rp 500 ribu. Hanya cukup untuk makanan ringan,” kata Elcid.

Namun dukungan publik ternyata luar biasa.. Gelombang dukungan masyarakat NTT maupun dari luar NTT mengalir.

BLK (Balai Latihan Kerja) dan Dinas Kesehatan Provinsi NTT pun turun tangan.

Mereka ikut membawa makan siang. Pelatihan bisa selesai sore jam 6, dan peserta masih bisa makan malam bersama atau dibawa pulang.

Elcid mengatakan, kebanyakan laboran anak kos. Sejak itu tim pool test berisi para laboran muda terbentuk.

Pelatihan demi pelatihan mereka jalankan. Sejak Juni mereka bekerja tanpa mengharapkan upah.

“Hanya semangat. Modalnya gerakan sukarelawan. Gotong royong. Prinsipnya jika saling membantu kita tidak pernah kekurangan, sebaliknya jika ini dianggap proyek, duit selalu kurang,” ujarnya.

Sejak Juli 2020, SK untuk pendirian laboratorium biomolekuler keluar. Laboratorium ini ditempatkan di Universitas Nusa Cendana (Undana).

Sejak itu selama tiga bulan, Fima, doktor biomolekuler ini tak hanya membaca jurnal. Ia adalah mandor pembangunan laboratorium.

Mandor bukanlah kata yang pas, sebab Fima dan keluarganya kemudian juga memberi secara harian.

“Seluruh makan siang para laboran disumbangkan oleh Ibu Ietje yang adalah mama dari Fima, dari Sekolah Abdi Kasih Bangsa, Kupang.” kata Elcid.

Sikap sukarelawan itu menular. Setidaknya ada 8 laboran pejuang yang bertahan hingga kini dari 16 orang. Bekerja dari pagi hingga menjelang tengah malam adalah hal biasa.

Sebagai anak muda. Mereka telah bertarung hingga titik tertinggi.

“Memberikan yang terbaik tanpa pamrih. Bekerja dalam kondisi darurat syaratnya hanya satu: one for all, all for one. Humanity. Anak-anak muda ini tak hanya laboran. Mereka adalah pasukan task force sesungguhnya. Dari memasak, cleaning service, mencatat laporan keuangan, hingga membuka jurnal membahas alur pool test mereka kerjakan dalam satu hela napas.” kata Elcid Li.

Ia menambahkan, kehadiran doktor biomolekuler kedua asal NTT juga amat membantu. Alfredo Kono, Ph.D yang pulang dari Iowa State University juga turut mengambil sebagian peran dari pundak Fima.

Edo, sapaan akrab Alfredo, pulang lebih cepat ke Kupang untuk membantu.

Jika sudah tiba membaca hasil PCR, mereka bercakap-cakap dalam dunia mikro itu. Mereka tenggelam dalam alam laboran.

“Hening dan detil. Waktu seolah diam. Dari Dinas Kesehatan Provinsi ada srikandi pejuang. Ibu Erlina R. Salmun. Ia adalah pejuang pekerja di dalam birokrasi. Ia membantu yang belum macet. Menyambungkan yang perlu. Ia adalah anomali dalam birokrasi. Pakai hati,” ujarnya.

Onak dan duri dialami Elcid Li dkk. Menurut Elcid, beberapa bulan lalu tim interdisipliner dari Forum Academia NTT yang menginisiasi pembangunan laboratorium ini sempat difitnah mendapatkan uang 900 ribu per jam oleh beberapa oknum wartawan.

“Namun isu tidak pernah mereka selesaikan dengan bukti. Tapi, semua itu sudah lama berlalu. Kini, duri-duri itu tak lagi terasa, hanya ada bunga yang mekar.”

“Malam-malam menunggu hasil tes dari PCR sudah terbayarkan. Panas dalam APD di ruang ekstraksi sudah lewat. Jari yang penat menggunakan micro pipet, sudah berlalu. Tubuh yang dingin diguyur air dingin tengah malam keluar dari ruang ekstraksi sudah tak lagi terasa.” kata Elcid Li.

Elcid dengan bangga mengatakan, 16 Oktober 2020, anak-anak muda Indonesia asal Provinsi NTT sedang mencatatkan sejarah bersama.

Mereka membuat Laboratorium Biomolekuler yang hadir karena insiatif rakyat.

Momentum semangat persaudaraan yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh mereka buktikan.

“Ya, insiatif ini mungkin yang pertama terjadi di dunia. Laboratorium rakyat, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Semangat itu yang sering hilang. Rakyat adalah entitas politik dari republik. Tanpa rakyat tidak ada republik.” jelas Elcid Li.

Menurut Elcid, ketika ide dikerjakan tanpa kepentingan (interest), dan uang hanya menjadi salah satu variabel dan bukan tujuan ternyata bisa menghasilkan sesuatu.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat pun tergerak. Gubernur berjanji memberikan swab gratis untuk seluruh warga.

Untuk bersama-sama sehat, semua harus punya akses yang sama di saat pandemi Covid-19.

“Prioritas tim saat ini adalah mengurai antrean sampel swab sebanyak 3000-an, dan membantu tim surveillance Dinas Kesehatan Provinsi/Kota/Kabupaten di NTT Kita sedang berjalan bersama keluar dari krisis,” kata Elcid Li.

Elcid Li benar. Pendekatan ekonomi saja tidak lagi menjadi solusi. Pendekatan Ekonomi-Kesehatan harus menjadi panglima.

Selama para teknokrat dan birokrat meminggirkan rakyat, hanya ada nestapa beruntun.

Sebaliknya jika republik dikerjakan dalam politik kerakyatan, untaian bunga mawar menjadi hadiah perjalanan melalui sekian duri dan onak. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

“Mengerjakan republik perlu dilakukan dengan gembira. Agar pekik ‘merdeka’ dilepaskan ke angkasa tanpa beban, cuma rasa syukur masih bisa saling sapa dan bantu demi kehidupan yang lebih baik. Semoga pemulihan akibat krisis bisa lebih cepat,” demikian Elcid Li. Ya begitulah harapan kita semua. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes