Tampilkan postingan dengan label Lise Tana Telu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lise Tana Telu. Tampilkan semua postingan

Selamat jalan Ka'e Daniel Bheto Dedo


Daniel Bheto Dedo

Keluarga besar suku Lise berdukacita. Mosalaki yang berkedudukan di Kampung Ratenggoji, Desa Taniwoda, Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Ende berpulang.

Ka'e (kakak) Daniel Bheto Dedo meninggal dunia dengan tenang di rumahnya pada Minggu dini hari 16 Maret 2025.

Keluarga besar Tani Woda, Dosi Woda dan Senda Woda berduka. Nie, demikian sapaan Kakak Daniel meninggal dunia dalam usia lebih dari 80 tahun.

Daniel berpulang menyusul adik laki-lakinya Gerardus Baba yang berpulang pada tahun 2022.

Selamat jalan Kakak Daniel Bheto Dedo. Bahagia kekal di sisiNya.

Prosesi Pembangunan Sa'o Ria Woloara

ilustrasi
SEBAGAIMANA daerah lain di Nusa Tenggara Timur (NTT) atau wilayah Indonesia umumnya yang memiliki kekayaan alam dan budaya, Kabupaten Ende juga memiliki khasanah serupa. Hal ini terlihat di Desa Woloara, Kecamatan Kelimutu.

Pos Kupang mendapat kesempatan langka menyaksikan prosesi pembangunan rumah adat yang dalam bahasa daerah setempat disebut Sa'o Ria Woloara. Mosalaki (tetua adat)  Woloara, Don Watu menuturkan, rumah adat Woloara memiliki kesakralan serta nilai-nilai yang harus dipertahankan oleh  masyarakat setempat atau dalam bahasa daerah disebut ana kalo fai walu.

Keberadaan Sa'o Ria saat ini sangat membutuhkan perhatian dari ana kalo fai walu karena dipandang sudah tidak layak lagi untuk ditempati dan menjadi tempat pertemuan mosalaki, atalaki, podoria dan seluruh warga suku.

Oleh karena itu, pada tanggal 30 Mei 2015 Mosalaki Pu'u Tanah Mau Gadho Woloara memanggil Atalaki to'o si'i kuni mbana (petugas mosalaki) dalam struktur adat tana Mau Gadho Woloara yang bertugas menyampaikan dan mengundang seluruh atalaki, podoria dan ana kalo fai walo untuk hadir pada tanggal yang telah ditentukan itu.

Puji Tuhan semua pihak yang berkepentingan hadir pada tanggal tersebut guna membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan Sa'o Ria Woloara.
"Sudah merupakan kebiasaan jika mosalaki pu'u mengundang semua komponen adat maka seluruh persiapan ditanggung  mosalaki pu'u," ujar Don Watu.

Adapun perintah  adat yang harus dilaksanakan adalah pertama penebangan kayu untuk rumah adat dilaksanakan pada tanggal 13 Juni 2015. Kedua, pada saat penebangan kayu, semua ana kalo fai walu mengenakan pakaian adat yakni bersarung Lio. Ketiga, wilayah yang menjadi lokasi penebangan adalah hutan rakyat yang ada di Dusun Woloki, Desa Woloara.

Keempat, mengikuti petunjuk atau arahan dari mosalaki pai nggo niu wani terkait pohon yang akan ditebang.

Kelima, yang menandai kayu (neka kaju) untuk bahan bangunan rumah adat adalah mosalaki kili ndolu wangga taka. Semua pihak yang berkepentingan menaati semua perintah tersebut.

Sisi menjadi menarik dari prosesi penebangan kayu tersebut adalah seluruh ana kalo fai walu menyaksikan dengan seksama. Kendati jaraknya cukup jauh dari kampung, namun ana kalo fai walu tetap setia mengikuti prosesi tersebut.  Setelah tiba di lokasi mosalaki pai nggo niu wani langsung menuju ke pohon kayu yang hendak ditebang. Sebelum ditebang,  mosalaki pai nggo niu wani bersama mosalaki kili ndolu wangga taka melakukan seremonial adat yakni memberikan sesajian kepada tana watu dengan membawa seekor ayam dan mota keu oka (sirih pinang). Setelah itu langsung menandai pohon yang akan ditebang.

Pada hari itu berhasil ditandai tiga pohon kayu. Pohon yang ditandai tersebut masing masing dimiliki podoria atas nama Mathias Gadho, Don Watu (mosalaki pa nggo niu wani) satu  batang) dan satu batang oleh mosalaki dari rumah besar Bhoku Ndolu.  Pohon yang ditandai mosalaki kili ndolu wangga taka menunjukkan kesesuaian, rumah adat tersebut menjadi rumah pertemuan yang ramah dan rukun.

Pohon yang ditebang dan kayunya dibawa ke Sao Ria menandakan bahwa wilayah hukum adat Tana Mau Gadho Woloara sampai di perbatasan hutan negara, kawasan Taman Nasional Kelimutu. Hal ini mempunyai kesesuaian dengan tiga warna Danau Kelimutu yang merupakan keajaiban dunia. "Mudah-mudahan rumah adat Sa'o Ria  mempunyai keajaiban dan sangat istimewa," kata Don Watu.

Dia menyatakan, setelah penebangan pohon, semua atalaki, podoria dan ana kalo fai walu duduk bersama membicarakan prosesi untuk kembali ke Sa'o Ria dengan membawa  kayu yang sudah dipotong.  Mereka juga menikmati makanan adat yang telah disediakan oleh podoria yang dipimpin Mathias Gadho dan  ana kalo fai walu Woloki.

Setelah makan adat, mereka sesuai tugas masing-masing berjalan beriringan  menuju kampung sesuai urutan sebagai berikut. Pertama yang memukul gong adalah mosalaki pai nggo niu wani yakni Don Watu, SH;M.H diikuti mosalaki kili ndolu wangga taka dan mosalaki-mosalaki lainnya.

Setiba di Sa'o Ria mosalaki pu'u  Dominikus We,u dan Adrianus Sega  sudah menunggu kedatangan  atalaki, podoria dan ana kalo fai walu. Mereka diterima dengan tarian adat diiringi nggo wani. Sudah menjadi kebisaan dalam masyarakat Lio, selama melaksanakan kegiatan adat nggo wani harus tetap dibunyikan.
Gong merupakan tanda adat yang awalnya diserahkan mosalaki pu'u  kepada mosalaki pai nggo niu wani lalu diserahkan kembali kepada mosalaki pu'u.

 Dengan diserahkan kembali gong adat tersebut maka seluruh kegiatan adat pada saat itu telah usai. Tepat jam 20.00 Wita hari itu, semua duduk dan makan bersama mendengar arahan dari mosalaki pu'u terkait dengan pelaksanaa kegiatan adat selanjutnya. Akhirnya diperintahkan kepada atalaki, podoria dan ana kalo fai walu bahwa kegiatan lanjutan penebangan pohon berlangsung pada tanggal 15 Juni 2015 dengan prosesi yang kurang lebih sama. (romualdus pius)

Sumber: Pos Kupang 28 Juni 2015 halaman 5

Woda Rasi Wika Tana

Dion DB Putra, cucu Rasi Leu
Oleh Dion Dosi Bata Putra

WODA Rasi adalah putra bungsu Rasi Leu, generasi keempat sejak kedatangan dari Malaka.  Rasi Leu  memiliki enam orang anak yaitu Pati, Mboti, Mali,Ngeo. Bao dan Woda. Jika kelima saudaranya yang lain menetap di Wolowaru Wawo (rumah adatnya masih tegak berdiri sampai sekarang), Woda Rasi lebih suka bertualang ke arah utara dan  timur. 

Masa hidupnya lebih lama di hutan rimba, baik untuk berkebun, mengiris tuak atau berburu. Karena jarang pulang ke rumah,  termasuk bila ada acara besar keluarga, Woda Rasi selalu mendapat bagian bupa `muku sa wunu, au salaru."

Woda Rasi pada masa  itu dikenal sebagai pemberani dan berkali-kali menaklukkan suku lainnya di Lio Timur, Kabupaten Ende  sekarang ini. Salah satu kisah kepahlawan Woda Rasi adalah saat dia "wika"" (merebut atau mendapatkan tanah Waru Jeja). Lokasi tanah itu kini di wilayah Desa Detupera dan sekitarnya.

Kisahnya demikian. Pada suatu hari ketika Woda Rasi sedang berburu di kawasan hutan Nonu Bua dan Nenda - di sebelah utara Kampung Wololele A sekarang, Woda menemukan sebatang pohon enau yang anak aneh. Pohon enau itu memiliki tiga mayang yang bentuknya sangat bagus untuk diiris menjadi tuak, aren (moke).

Lazimnya enau mengeluarkan satu atau dua mayang, itupun bentuknya kecil-kecil. Tapi enau yang ditemukan Woda memiliki mayang yang besar dan berbulir padat. Karena sifatnya yang berani dan suka tantangan, Woda memutuskan mengiris moke tersebut. Ketiga-tiganya diiris semuanya. Selang tiga hari kemudian, irisannya mengeluarkn aren yang manis dalam jumlah berlimpah.

Beberapa hari berselang ketika dia datang pagi hari untuk mengambil aren yang ia tamping dengan seruas bambu, bambunya tak ada isi sama sekali. Ia hanya menemukan tetesan aren yang tumpah di pangkal pohon enau. Woda bertanya-tanya dalam hati, siapakah gerangan yang mengambil  aren milikku ini? Kejadian serupa terus berulang hingga tiga hari kemudian. "Aku harus menunggui pohon enau ini, aku harus tahu siapakah sesungguhnya yang mencuri," Woda bergumam dalam hati.

Pada malam itu juga dia tidur di sekitar pohon enau tersebut. Dia tidak kembali ke pondoknya yang berjarak sekitar 2 km dari pohon enau tersebut. Keesokan harinya saat matahari terbit di ufuk timur, Woda Rasi bangun dan bersembunyi di balik pohon ara besar dekat pohon enau. Tidak lama kemudian Woda melihat ada bayangan yang mendekati bambu  yang dia gantung di pohon enau. Bayangan itu berwarna pelangi yang sekilas terlihat seperti tiga ujud. Tetapi tidak dalam bentuk atau rupa manusia biasa. Dengan mata telanjang, Woda Rasi melihat ketiga bayangan pelangi itu meminum aren dengan lahapnya.

"Oo. sekarang saya sudah tahu. Jadi kaulah yang minum arenku sampai habis. Saya yang iris, kau yang minum hasilnya. Kau harus saya bunuh," teriak Woda dengan suara lantang sambil keluar dari tempat persembunyiannya. Woda pun menghunus pedang dan menyiapkan anak panahnya untuk ditembakkan ke arah bayangan pelangi tersebut.


"Memang benar kamilah yang selama ini minum kau punya moke (aren). Dan kami melakukan ini dengan sengaja agar kami bisa bertemu dengan dirimu. Ada sesuatu yang akan kami berikan kepadamu," kata bayangan pelangi. Mendengar kata-kata tersebut, Woda Rasi mengurungkan niatnya melepaskan anak panah.

Bayangan pelangi selanjutnya berpesan kepada Woda Rasi supaya pergi ke Nusa Toe di Pantai Lia Tola tujuh hari berikutnya. "Di sanalah kami akan memberikan sesuatu untukmu," kata bayangan pelangi.

"Tapi apa tandanya bagi saya bahwa kalian tidak berbohong," kata Woda. Bayangan pelangi minta Woda Rasi memotong kayu bercabang dua. Kayu bercabang dua itu dimasukkan ke dalam gua yang disebut Ola Ngai. "Inilah tandanya bagimu. Jika kau sampai di Pantai Lia Tola dan menemukan kayu bercabang dua, maka kami ada di sana," kata bayangan pelangi.  Woda mengikuti saran itu dan secara tiba-tiba bayangan pelangi menghilang entah ke mana. Woda Rasi pulang ke pondoknya.

Tujuh hari kemudian pergilah Woda ke Pantai Lia Tola yang jaraknya sekitar 12 km dari pondoknya. Dalam perjalanan itu, Woda tetap membawa perlengkapan senjata seperti parang, busur dan anak panah. Woda Rasi meninggalkan pondoknya dengan modal obor sebelum fajar menyingsing atau kira-kira jam empat subuh. Dia turun dari lereng Nonu Bua melewati Kampung Wolobheto, Wololele Loo, terus menyusur pinggir sungai Lowo Ria lewat Detupera, Aemalu, Puujita, Watuneso, Kolijana hingga tiba di Pantai Lia Tola kira-kira jam 09.00 pagi.
Sesampai di sana dia langsung mencari kayu bercabang dua yang menjadi tanda kehadiran bayangan pelangi. Dia tidak membutuhkan waktu lama. Setelah menemukan kayu bercabang dua itu, Woda berteriak, "Sekarang saya sudah datang, di manakah kalian? Tunjukkan diri kalian kepadaku."

Tiba-tiba Woda mendengar suara nyaring dari arah laut."Kami di sini, di Nusa Toe. Datanglah ke sini, kami akan memenuhi janji kami kepadamu," demikian suara itu yang langsung dikenal Woda. Nusa Toe adalah sebuah pulau karang kecil yang letaknya persis di depan Pantai Lia Tola. Ajakan suara pelangi untuk datang  ke Nusa Toe dianggap Woda Rasi sebagai cara memperdayainya. "Kalian jangan mempermainkan saya. Saya orang gunung, tidak bisa berenang. Bagaimana mungkin saya bisa mencapai Nusa Toe," kata Woda Rasi dengan suara tinggi.

"Jangan takut dan cemas. Datanglah ke mari dengan berjalan kaki. Kau tidak akan tenggelam," jawab bayangan pelangi. Woda merasa gamang dan ragu-ragu sehingga bayangan pelangi meyakinkan sekali lagi. Woda berpikir kalau dia mundur, maka perjalanan jauhnya akan sia-sia saja.  Dia pun tertantang dan memberanikan diri masuk laut dan siap menerima apapun risikonya. Maka berjalanlan dia menuju Nusa Toe, karang  atol dengan puncak mirip kerucut itu.  Kecemasan Woda tidak menjadi kenyataan. Dia sampai di Nusa Toe dengan selamat. Saat  Woda berjalan ke Nusa Toe. Sejumah nelayan yang sedang membersihkan jalanya di pinggir pantai bergumam, orang ini nekat!!

Sesampainya di Nusa Toe Woda disambut ramah bayangan pelangi yang telah berubah wujud menjadi manusia normal. Setelah berbasa-basi sejenak dan minum, bayangan pelangi mengajak Woda Rasi masuk ke dalam laut bersama-sama. Woda tidak takut lagi. Ketika masuk ke dalam laut, Woda merasakan perjalanan yang sangat menakjubkan. Woda seolah bermimpi. Mereka berenang dan menyelam sampai ke dasar laut terdalam.

Di sana bayangan pelangi mengambil kerang mutiara dan memberikan kepada Woda. Kerang mutiara (wuli dalam bahasa Lio), merupakan biota laut yang langka. "Dengan wuli ini, kau akan mendapat berkat asalkan digunakan secara benar, bukan untuk kejahatan terhadap sesama  manusia," kata bayangan pelangi ketika mereka hendak berpisah di Nusa Toe. Woda Rasi mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.

Setelah mengumpulkan sekeranjang kecil siput di Pantai Lia Tola, pulanglah Woda Rasi ke kampungnya dengan langkah gagah dan tegap. Woda Rasi merasa mempunyai kekuatan dan semangat hidup yang baru. Wuli pemberian bayangan pelangi dikalunginya di leher. Rupanya wuli itulah yang mengantar Woda mendapatkan tanah Waru Jeja.  Dan inilah kisah lanjutannya.
Dalam perjalanan pulang ke pondoknya dari Lia Tola, Woda Rasi melintasi perkampungan sepanjang daerah aliran sungai  (DAS) Lowo Ria mulai dari Kolijana, Watuneso, Kopo Watu, Puu Jita,Aemalu dan Waru Jeja. Sesampainya di kampung Waru Jeja yang sedang berlangsung acara adat sehingga banyak orang berkumpul, Woda Rasi menghadapi cobaan  berat.

Saat dia melintasi kampung itu, pandangan orang-orang tertuju kepadanya. Mereka melihat penampilan Woda Rasi dengan pakaian kebesarannya dilengkapi senjata parang dan panah. "Sombong betul orang itu. Dia seperti jagoan sehingga jalan di kampung orang juga masih bergaya," kata mosalaki kampung itu. Matanya terus tertuju ke Woda yang berjalan  pulang ke pondoknya. Saat Woda Rasi hampir mencapai ujung Kampung Waru Jeja, mosalaki itu bergegas menyusulnya. Mosalaki ini hendak mencobai Woda Rasi.

"He eja. pulang dari mana dan mau ke mana?" sapa mosalaki itu ketika ia mendekati Woda. "Saya pulang mencari siput di Pantai Lia Tola," jawab Woda sambil terus melangkah. "Sabar dulu eja, istirahatlah sebentar di sini," kata mosalaki. "Maaf eja, hari sudah beranjak senja, saya harus melanjutkan perjalanan karena kampung masih jauh di gunung," kata Woda.
Walaupun tawarannya ditolak, mosalaki it uterus berusaha menahan Woda Rasi. Lantaran Woda tidak peduli dengan ajakannya, mosalaki yang sejak tadi menahan geram karena menilai Woda bersikap sombong, mulai mengeluarkan jurus cobannya.

"Saya sudah tahu bahwa eja memang orang hebat dan jagoan. Eja punya ilmu tinggi sehingga eja selalu bersikap sombong dan angkuh. Tapi kalau eja benar-benar hebat, coba tunjukkan kepada kami di kampung ini," kata mosalaki. Hati Woda tergelitik juga dengan pernyataan yang memancing ini. Woda tetap berusaha tenang. "Mungkin eja salah dengar, saya hanya orang biasa. Saya ke Lia Tola semata-mata untuk cari siput dan masak air laut untuk garam,"kata Woda. Namun, mosalaki it uterus memanas-manasi Woda dengan tantangannya yang lebih serius.

"Kalau  kau benar-benar seorang lelaki, harus terima tawaran saya ini. Jangan jadi pengecut eja. Kalau kau berani lompat `musu mase' kami itu, kau berhak atas kampung ini dan seluruh lahan tanah yang kami miliki. (musu mase= menhir, tiang batu lonjong yang dipancang di tengah kampong). Kalau eja tolak, berarti eja harus kami habisi," kata mosalaki sambil bercakak pinggang. Tantangan si mosalaki didengar orang seluruh kampung yang sejak tadi mengerumuni kedua orang ini.

Karena tawaran itu sudah ketiga kalinya, Woda pun memutuskan untuk menerima. "Baiklah, saya coba akan melompat musu mase itu," kata Woda Rasi sambil berjalan ke musu mase yang berada di tengah kampung. Tinggi musu mase itu kurang lebih 7 meter. Mata orang-orang di Kampung Waru Jeja tertuju kea rah Woda Rasi. Mereka bertanya-tanya adalam hati apakah pria ini sanggup melompat melewati musu mase yang berdiri menjulang di tengah kampung.

Sampai sekitar dua meter dari musu mase, tanpa aba-aba Woda langsung melompat melewati puncak musu mase.Woda Rasi melompat bolak-balik sebanyak tiga kali tanpa melepas parang dan busurnya. Orang-orang di kampung itu melihat Woda seperti terbang melewati musu mase dan badannya ringan seperti burung. Mereka terheran-heran dan membelalakkan maata seolah tak percaya dengan apa yang barusan mereka lihat.

"Orang ini benar-benar punya ilmu tinggi," kata orang Waru Jeja. Mereka tidak tahu kalau ilmu itu berupa wuli yang baru saja Woda terima dari bayangan pelangi di Nusa Toe. Setelah sukses melompat musu mase, Woda meninggalkan kampung itu tanpa berkata sepatah katapun. Dengan gayanya yang cuek berat, Woda melanjutkan perjalanannya kembali ke pondok di gunung. Sang mosalaki yang tadinya banyak berceloteh diam seribu bahasa. Ia hanya sanggup melihat kepergian Woda dengan langkah tegap dan gagah hingga menghilang di ujung Kampung Waru Jeja.

Sepeninggal kepergian Woda, sejumlah orang di kampung itu dilanda ketakutan terutama kaum wanita dan anak-anak.  Mereka menyadari bahwa Woda menjawab tantangan mosalaki sehingga kampung itu harus dikosongkan karena sudah menjadi milik Woda Rasi. Namun, sang mosalaki mengatakan warga sukunya tetap tenang karena tidak akan terjadi apa-apa. Menurut mosalaki, dia dan semua kaum lelaki di kampung itu siap menghadapi  Woda yang ia tahu tidak punya banyak saudara.

Woda sendiri berjalan sampai di Kampung Wololele Loo kemudian beristirahat di tempat itu. Wololele Loo berjarak sekitar 2,5 km dari Kampong Waru Jeja dan berada di daerah perbukitan. Dari kampong ini Waru Jeja yang berada di lembah, di pinggir kali Lowo Ria terlihat jelas demikian pula sebaliknya dari kampung Waru Jeja bisa melihat sayup-sayup ke Wololele Loo.

Saat beristirahat di tempat itu Woda Rasi menghisap tembakau dan bersandar pada sebatang pohon. Ia mulai menyusun strategi. Ia berpikir bahwa pengosongan Kampong Waru Jeja harus segera direalisasikan sesuai janji si mosalaki. Kalau menunda selama beberapa waktu artinya member kesempatan kepada mosalaki Waru Jeja menyusun kekuatan guna mempertahankan tanahnya. "Hari ini juga mereka harus meninggalkan kampong itu dan seluruh lahan pertanian mereka," gumam Woda membatin.

Woda membuat petasan bambu yang dari jauh akan terdengar seperti bunyi tembakan. Pada masa itu buah damar sudah dipakai sebagai bahan untuk obor dan api. Buah damar kering tidak sulit diperoleh di sekitar kawasan Wololele Loo. Dengan buah damar, ia membuat petasan bambu.

Ia membunyikan petasan sebanayak tujuh kalidan terdengar jelas orang-orang di sekitar Kampung Wololele Loo.  Pada masa itu bila mendengar  bunyi seperti itu berarti ada peperangan. Woda sengaja membunyikan itu sebagai tanda ada perang. Beberapa saat kemudian tibalah di sana enam orang dari daerah sekitar. Mereka itu merupakan teman-teman Woda yang yakin bahwa pada subuh tadi hanya Woda yang keluar dari kampong. Setibanya di Wololele Loo, dugaan enam orang itu terbukti benar.

Saat kenam pria itu datang, Woda menceritakan apa yang baru dialaminya dan menjelaskan strateginya untuk membalas tindakan mosalaki Waru Jeja. "Saya punya cara yang membuat orang-orang Waru Jeja itu meninggalkan kampungnya. Sekarang saya minta tolong kalian buatkan bambu  untuk obor sebanyak 14 buah," kata Woda.  Mereka segera memenuhi permintaan Woda. Mereka bertanya-tanya dalam hati apa gerangan yang hendak Woda lakukan dengan obor sebanyak 14 buah itu? Ketika hari menjelang malam kira-kira pukul 19.00, Woda
meminta mereka menyalakan 14 obor itu dengan olesan minyak buah damar.

"Kita masing-masing pegang dua obor. Kita masing-masing pegang dua obor di tangan kiri dan kanan, obor diangkat setinggi mungkin. Kita turun bersama-sama dari bukit Wololele Loo ini sampai di lembah itu yang jaraknya sekitar 200 meter. Sampai di lembah itu, kita berhenti dan matikan obor lalu naik lagi ke bukit sini.Obor kita nyalakan lagi dan turun lagi ke lembah. Kita lakukan ini bolak-balik sebanyak tujuh kali. Percayalah, dengan cara ini orang Waru Jeja akan melihat ratusan orang turun dari sini menuju kampung mereka," kata Woda Rasi. Keenam sahabatnya mengangguk-anggukkan kepala. Sekarang mereka baru mengerti strategi yang dimainkan Woda Rasi.

Di Kampung Waru Jeja, orang-orang di sana melihat jelas nyala obor di bukit Wololele Loo. Si mosalaki pun serius memperhatikannya. Mula-mula ia merasa biasa saja karena jumlah obor hanya 14 artinya hanya 14 orang yang turun dari bukit itu.  Boleh jadi orang-orang itu hendak ke kampung terdekat seperti Wolo Mage dan Detu Rau. Tapi lama kelamaan ia mulai merasa cemas karena jumlah obor yang turun dari bukit itu sambung-menyambung dalam jumlah banyak (7x14 = 98). Mosalaki mulai berpikir bahwa orang-orang Woda Rasi sudah mengepung kampung mereka dari berbagai penjuru.

Ketika hitungan mereka jumlah obor yang turun dari bukit itu sudah melewati angka  70, sebagian warga Waru Jeja mulai lari meninggalkan kampung dengan membawa barang seadanya. Suasana kampung yang berada di tanah datar di pinggir Sungai Lowo Ria itu panik dan mencekam. Kaum perempuan dan anak-anak menangis histeris.

Tak ada pilihan lain bagi si mosalaki untuk memerintahkan warganya segera meninggalkan kampung. Mereka menyalakan obor dan lari ke arah timur dan selatan. Mengungsi adalah pilihan terbaik saat itu. Dari ketinggian bukit Wololele Loo, Woda dan keenam rekannya melihat suasana huru-hara itu.

Pengungsian warga Waru Jeja akhirnya sampai ke daerah sekitar Paga dan Maulolo (wilayah Kabupaten Sikka sekarang). Di sanalah mereka menetap dan berkembang biak. Untuk mengenang kampung asalnya, di daerah baru itu nama kampong mereka diabadikan, misalnya Kampung Mase Bewa, Puu Bheto, Wolofeo dan lain-lain.

Sementara itu ketika menyaksikan orang Waru Jeja meninggalkan kampung, Woda dan keenam rekannya menyaksikan dengan perasaan bangga, lucu bercampur haru. Woda tersenyum tapi hatinya merasa iba karena kesombongan mosalaki justru mengorbankan warga kampungnya. "Itulah kalau orang angkuh. Saya tidak bermaksud mengusir mereka. Itu karena kesalahan pemimpin mereka sendiri. Cara yang saya pakai ini merupakan keputusan hati saya yang tidak menginginkan terjadi pertumpahan darah," kata Woda kepada enam saudaranya. Woda mengisap tembakaunya dalam-dalam.

Sejak pengungsian warga Waru Jeja itu, lokasi kampung dan tanah pertanian milik mereka selanjutnya menjadi milik Woda Rasi yang dia wariskan kepada anak cucunya sampai sekarang. Di bekas kampung itu masih berdiri musu mase, cuma sudah terpotong separuhnya. Mungkin karena termakan usia. *

Di sini kutulis tentang asal-usulku. Juga kucatat penggalan-penggalan kisah leluhur. Aku bagian dari darah daging mereka yang ada dan mengalir adanya hingga anak cucu Lise mendatang.

Dion Dosi Bata Putra
Embu Woda, Ana Mbete, Wewa Tani Woda, Mamo Ngaba Tani, Benge Dede Dosi, Putra Bata. Gelombang yang tiada henti bergelora dalam arus zaman.
 

Mbete Woda Jatuh Cinta

Dion Dosi Bata Putra
Oleh Dion Dosi Bata Putra

MBETE Woda adalah anak dari Woda Rasi. Dari tokoh inilah kemudian beranak-pihak warga suku Lise Nggonderia dan Lise Kurulande. Mbete Woda dikenal sebagai pemuda tampan dan suka bertualang seperti ayahnya Woda Rasi. Kisah cinta unik dengan seorang gadis asal daerah Bu (sekitar Desa Bu Utara, Kecamatan Paga Kabupaten Sikka sekarang).

Gadis itu berlesung pipi, rambut hitam panjang lurus bak mayang terurai. Matanya lentik, kulit kuning langsat, hidung mancung, betis laksana padi yang hamil. Pembawaannya ramah. Sambe boleh dikata merupakan kembang di kampungnya dan menjadi incaran banyak perjaka. Kecantikan Sambe suah terkenal luas di kampong sekitar.

Syahdan, menurut cerita turun-temurun, Mbete Woda yang suka bertualang itu pada suatu hati tiba di kampung Nona Sambe. Kebetulan saat itu ada pesta syukuran di kampung itu. Mbete rupanya sudah mendengar cerita tentang kecantikan Sambe bahkan diam-diam dia pun sudah melihat kecantikan gadis itu. Makanya saat ke kampong gadis ini,  Mbete membawa serta wea ngawu (perhiasan dari emas) yang diisi dalam periuk tanah.

Ketika tiba di kampung Bu, Mbete Woda melihat gadis incarannya sedang menumbuk padi  sendirian di samping rumah orangtuanya. Sebagaimana lazimnya orang-orang pada masa itu, Sambe hanya mengenakan busana yang menutup dada ke bawah. Keduanya belum pernah bertemu muka sebelumnya.

Dengan tenang  Mbete menghampiri Sambe dan serta-merta memberikan periuk emas kepada sang dara ayu dengan mengucapkan kata-kata sebagai berikut. "Weta e.aku rina weta deo ngawu neku ina. Saya harus pergi buru-buru karena ada urusan yang penting sekali." Artinya, "nona saya minta tolong nona simpan perhiasan emasku ini. Saya h" Mbete Woda hanya mengucapkan kata-kata itu lalu bergegas pergi begitu saja. Sambe yang pangling dan bingung, bahkan tak sempat mengeluarkan sepatah kata pun karena pemuda itu sudah pergi entah ke mana.

Sambe yang bingung mengharu-biru perasaannya karena pertemuan dengan sang pemuda begitu mendadak dan cepat. Sambe heran, mengapa pemuda yang belum dikenalnya itu berani menitipkan perhiasan emas kepadanya. Sambe kemudian melaporkan insiden itu kepada ayah dan ibunya.  Ayahnya sangat terkejut bahkan sempat memarahi Sambe mengapa mau menerima begitu saja titipan itu?

Sambe Cuma bisa meyakinkan ayahnya bahwa ia masih mengingat dengan baik wajah pemuda tampan itu. Kebetulan pada malam harinya  saat pesta syukuran di kampong itu Mbete Woda menampakkan dirinya dengan ikut gawi (tarian missal tanda syukur, kegembiraan dan kebahagiaan dalam tradisi Lio). Sambe kemudian memberi tahu ayahnya bahwa itulah pemuda yang pada siang tadi menitipkan perhiasan emas kepadanya.

Sang ayah mengamati dengan teliti wajah pemuda itu yang sedang menari bersama-sama orang. Dia menunggu waktu sang pemuda istirahat dan akan langsung menemuinya. Entah  Mbete sudah tahu diamati seseorang, dia pun mencari waktu yang tepat dengan tiba-tiba keluar dari lingkaran tarian gawi dan menghilang dalam kegelapan malam. Menurut pengakuan Woda Mbete di kemudian hari, setelah ia melihat Sambe pada malam itu, dia langsung meninggalkan tari gawi dan kembali ke kampong halamannya di Nua Tu, Desa Lise Lowobora Kecamatan Wolowaru (sekarang). Jarak dari kampong Bu puluhan kilometer harus naik gunung dan turun ke lembah. Pada masa itu antarkampung terisolir dan kawasan masih lebat dengan hutan rimba.
Ulah Mbete Woda tentu saja membuat Sambe dan ayahnya gundah.

 Ayah Sambe berembuk dengan keluarganya dan mereka berkesimpulan bahwa pemuda itu pasti punya maksud dan bisa ditebak dia naksir Sambe sejak lama. Perhiasan emas dalam tradisi Lio adalah pemberian istimewa sebagai belis saat seseorang dipinang.  Mereka coba mengumpulkan informasi tentang siapa sesungguhnya pemuda itu. Cuma dapat informasi yang minim kalau pemuda itu berasal dari daerah barat, dari kampong di sebelah gunung. Juga disebut-sebut mungkin dia putra Woda Rasi yang namanya sudah tersohor.

Sambe sendiri pun tak bisa tidur pulas sejak kejadian itu. Dia terus dibayangi wajah sang pemuda yang dengan senyum ramah dan sedikit cuek memberikan wea ngawunya kepada Sambe. Seminggu setelah pertemuan itu akhirnya Sambe memilih jalan ini meskipun sempat ditentang keras orangtuanya. Ditemani sepupunya, seorang peremuan yang lebih tua dan seorang pria paruh baya, Sambe meninggalkan kampung Bu menuju arah barat mencari tahu keberadaan sang pemuda misterius. Mereka membawa bekal secukupnya mengingat tempat tujuan tdak diketahui secara pasti.

Sambe berkali-kali menangis sepanjang perjalanan mencari pemuda itu. Makin ke barat setelah melewati kampong demi kampong, Sambe dan kedua sepupu yang menemaninya makin dapat informasi yang lebih jelas tentang pemuda itu. Sambe meninggalkan kampungnya dan melewati  Kampung Nuanula, Wolowuwu, Wolonia, Detuweru, Watuwisa, Wolobheto, Tebo Laka. Di Tebo Laka Sambe tahu nama pemuda itu  Mbete Woda dan kampungnya di Nua Tu. Sambe pun terus berjalan melewati kampung Ae Tunggu, Wololele A, Wololele B dan akhirnya sampai di Nua Tu.

Di kampung ini Sambe dan kedua sepupunya diantar langsung ke rumah orangtua  Mbete Woda.  Woda Rasi dan istrinya menerima gadis itu dengan baik dan mengertilah mereka bahwa inilah gadis pilihan Mbete. Sudah lama  Woda Rasi meminta putranya segera menikah namun baru kali  ini datang seorang gadis ke rumah itu.

Dua hari kemudian dua sepupu Sambe pulang ke Kampung Bu, sedangkan Sambe tetap tinggal di rumah Mbete Woda. Dalam istilah orang Lise, Sambe paru haki atau paru dheko ata haki (lari ikut laki-laki atau kawin lari) sehingga dia tidak mungkin kembali lagi ke orangtuanya. Tabu bagi seorang gadis yang masuk rumah laki-laki untuk kembali.

Berselang beberapa hari kemudian berangkatlah utusan keluarga  Mbete Woda menemui ayah dan ibu Sambe di Kampung Bu. Sesuai tradisi mereka menyatakan bahwa Sambe sudah "paru haki" sama Mbete Woda. Ditentukan waktu dan hari untuk antaran belis dan kedua sejoli akhirnya resmi menjadi suami istri. Acara pernikahan mereka berlangsung meriah.

Dari hasil perkawinan Woda Mbete dan Sambe inilah lahir anak-anaknya yaitu Ndopo Mbete, Laka Mbete, Tani Mbete (ada dua orang yaitu Tani Loo dan Tani Dua), Woda Mbete dan Wangge Mbete. Woda Mbete kemudian memperanakkan Dosi, Mbete, Tani, Senda, Kewa dan Kemba. Keturunan Mbete Woda itulah di kemudian hari menjadi mosalaki Puu Lise Tana Telu serta Riabewa di Wololele A dan Mulawatu.

Perkawinan Sambe dengan Mbete Woda menunjukkan bahwa sejak berabad-abad yang lalu sudah ada ikatan genealogis yang rapat antara orang Lise dengan orang Bu. Pertalian darah itu bahkan masih bertahan sampai sekarang. Kedua etnis kawin-mawin. Dalam banyak sisi kehidupan maupun tradisi, orang Bu, Paga, Mauloo, Lekebai dengan Lise umumnya sama saja. Hanya ada beberapa perbedaan yang tidak prinsipil. Karena itulah masyarakat Kecamatan Paga, Mego dan Bu selalu dengan bangga menyebut dirinya orang Lio atau Ata Lio, bukan orang Sikka.

Kedekatan geografis dan kultur sebenarnya soal lazim bagi masyarakat Pulau Flores secara keseluruhan. Apabila ditelusuri ke masa silam, ada persamaan-persamaan  yang tetap ada sampai sekarang ini. Kalau ada perbedaan, itu bisa dimengerti mengingat kondisi lingkungan setempat serta perpaduan dengan berbagai unsur budaya. *

Hukum Adat Suku Lise

Dion DB Putra
Oleh Dion Dosi Bata Putra

SUKU
Lise memiliki seperangkat hukum adat yang diwariskan secara turun-temurun. Perkembangan zaman, intevensi agama (Gereja Katolik) ikut melunturkan hokum dat tersebut apalagi dengan praktik hukum kolonial dan hukum positif  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI. Beberapa hukum adat Suku Lise yang masih dikenal antara lain:

1.    Wale Pela

Hukum berupa sanksi atau denda terhadap seseorang yang terbukti berzinah atau istilah pop selingkuh. Zinah dalam pengertian masayarakat Lise sama dengan zinah yang dikenal umum. Artinya seseorang (baik pria maupun wanita) melanggar norma kesusilaan. Yang dikenai wale atau denda dalam kasus zinah adalah pria, sedangkan wanita mendapat sanksi secara moral. 


Pria yang ketahuan berzinah biasanya diadili para hakim adat di rumah pertemuan yang dinamai kuwu, letaknya persis di tengah perkampungan. Kuwu itu semacam tempat mengaso juga dan tempat untuk acara makan bersama dan lain-lain. Kecuali anak di bawah umur, proses peradilan adat itu terbuka untuk umum, menghadirkan pelaku dan saksi-saksi. Yang berzinah harus memberikan wale kepada perempuan berupa hewan, uang, emas serta kain tenunan. Jumlahnya sudah ditentukan sesuai standar umum dalam suku tersebut.

2.    Ngiri Tolo Ata Fai Rio

Kedapatan mengintip perempuan atau laki-laki mandi pun ada sanksinya. Di suku Lise mengenal aturan ini. Biasanya tempat pemandian umum untuk kaum laki-laki dan perempuan sudah ditentukan. Bisa saja lokasinya berbeda dengan letak tak berjauhan. Bisa juga lokasinya sama. Untuk lokasi yang sama, maka waktu mandi bagi kaum perempuan dan laki-laki diatur sedemikian rupa agar tidak bersamaan. Biasanya kaum wanita didahulukan.

Lokasi pemandian pun lazimnya tidak seberapa jauh dari jalan umum, sehingga setiap orang yang melewati jalan itu bertepatan dengan jam mandi harus berteriak dengan suara nyaring rioo...rioooo.. rio.. (rio = mandi, apakah ada orang yang mandi). Kalau ada sahutan rio. berarti di sana masih ada orang mandi, sehingga langkah harus dihentikan menunggu orang itu selesai mandi baru Anda boleh melanjutkan perjalanan. Orang yang mandi akan memberi tahu dengan teriakan pula bila dia sudah selesai membersihkan tubuh dan berpakaian.

Sebaliknya jika tidak ada jawaban sampai panggilan ketiga, berarti tidak ada orang yang mandi di sungai atau kolam tersebut. Cara mandi orang Lise di tempat pemandian umum biasanya telanjang bulat alias bugil, baik perempuan maupun laki-laki. Karena haram hukumnya bagi yang tidak sejenis kelamin untuk melihatnya secara langsung  bagian tubuh vital yang harus dirahasiakan. Saya di masa kecil pada usia sampai 10 tahun masih melihat praktik itu di kampong kami di Mulawatu, Wolonio dan kampung lainnya di wilayah Lise.

Walaupun tidak tertulis waktu mandi untuk kaum perempuan dan laki-laki berbeda. Untuk kaum wanita pagi hari sekitar pukul 06.00-06.30. Sedangkan sore hari sekitar pukul 16.30-17.30 Wita. Untuk kaum pria jadwalnya setelah kaum wanita, baik pagi  maupun sore hari, terutama untuk lokasi pemandian yang sama atau berdekatan. Jika lokasinya berjauhan waktu mandi bisa saja sama atau fleksibel.

Aturan ini cukup ketat dan ditaati warga suku. Barangsiapa melanggar (lazimnya kaum lelaki yang usil mengintip perempuan mandi (ngiri tolo ata fai rio), akan dikenakan sanksi adat. Perempuan yang suka mengintip akan dikenai sanksi, bentuk sanksi berupa denda Cuma lebih ringan dibandingkan wale pela (berzinah).

Dalam urusan mandi di masa lalu, orang Lise tidak mengikuti syarat kesehatan modern yaitu mandi dua kali sehari. Rata-rata orang Lise mandi sekali sehari  yaitu pada sore hari. Pagi hari setelah sarapan mereka langsung ke kebun, ke padang menggembalakan ternah atau mengambil nira (bahan baku moke). Karena itu jangan heran bila pada sore hari tempat pemandian relative lebih ramai ketimbang pagi hari. Kecuali kalau pada hari Minggu, hari libur atau ada suatu hajatan, pastilah ada yang mandi pagi. Atau kaum perempuan yang datang bulan (haid) akan ketahuan karena pagi-pagi ia pergi mandi di lowo (kali, sungai) atau ke gomo (kolam kecil, sumber mata air).

Sebagai alat mengeluarkan daki, kotoran dari tubuh, orang Lise menggunakan batu. Sedangkan sikat gigi menggunakan sabut kelapa atau kulit buah  pinang. Cukup digosok di gigi akan kelihatan bersih dan sehat. Hukum adat soal mandi masih berlaku, walaupun cara mandi kaum perempuan dan laki-laki orang Lise sekarang ini sudah disesuaikan dengan perkembangan zaman. Misalnya, kaum perempuan terutama nona-nona sudah jarang mandi telanjang ramai-ramai di tempat pemandian umum. Saat mandi mereka memakai kain penutup sekitar dada (toko kasa) dan paha (puu paa). Pun dengan budaya kamar mandi dan WC sebagai bagian dari rumah tinggal, sehingga makin jarang yang mandi di lokasi pemandian umum.

Perempuan Lise sekarang pun sudah mengenal shampoo (cream pencuci rambut atau membersihkan ketombe).  Pada masa silam kaum perempuan Lise merawat rambut mereka dengan santan kelapa dicampur kemiri. Istilah setempat  adalah koso holo/kolo. Santan kelapa untuk perawatan rambut dipilih dari buah kelapa terbaik dan diolah secara khusus, lazimnya cukup kental dan harum lalu digosok-gosokkan di kepala, dipijat sedemikian rupa hingga terasa menyegarkan. Setelah beberapa jam kemudian baru dibilas dengan air bersih.

Menyaksikan perempuan Lise koso holo belakangan ini sudah langka karena serbuan shampoo. Perlu diketahui hampir 60 persen perempuan Lise berambut lurus panjang dan hitam mengilap. Yang berambut keriting kemungkinan besar gennya dari suku asli, penduduk pribumi Flores yang menurut Weber masuk kategori manusia Polynesia  dengan cirri fisik hitam-keriting-kecil. Budaya wege fu dalam tradisi Lise dan Lio umumnya logis jikalau perempuan berambut panjang dan lurus, bukan rambut keriting yang akan sulit untuk digulung melingkar (wege).

Sebagai bandingan, kaum perempuan dalam suka Jawa, Sumatera dan Sulawesi juga mengenal wege fu. Itu artinya ada benang merah budaya, ada mata rantai yang terkait sebagai sama-sama keturuan Malaka (Melayu).

3.    Naka Nowi


 Orang yang tangan panjang atau suka mencuri juga dikenai hukuman. Pencuri juga diadili di dalam kuwu dengan menghadirkan saksi-saksi, pelaku dan korban. Jika bukti-bukti mendukung, maka hakim adat memvonis si pencuri dengan hukuman atau sanksi adat antara lain ia harus memberi makan orang sekampung dengan bunuh seekor babi ukuran delapan pikul. Pencuri juga harus mengganti kerugian korban serta dihukum cambuk dengan ekor pari atau berguling keliling tujuh kali di dalam heda hanga (lapangan adat).

Hukuman yang sangat berat ini dimaksudkan agar si pencuri jera dan tidak mengulangi perbuatannya sekaligus berfungsi mendidik bagi warga suku lainnya. Jika pencuri mengulangi perbuatannya, ia dapat diusir keluar dari kampung dan dinyatakan murtad (tidak diakui lagi sebagai warga suku).

Saya pernah menyaksikan sendiri hukuman terhadap pencuri buah pinang di kampu ng Mulawatu tahun akhir tahun 1970-an.  Dia dihukum berguling di heda hanga yang penuh kotoran hewan . Da juga diwajibkan menyembelih seekor babi jantan besar untuk memberi makan orang sekampung sebagai dendanya. Sejak itu si manusia ringan tangan itu tobat.  Secara socsal dia pun merasa bakal dituduh kalau terjadi pencurian lagi.

4.    Pake Ragi Holo Hai

Hukum ini terkait kasus asusila. Misalnya, seorang ayah kawini anak perempuannya (inces), ibu dengan anak lelakinya atau pria dan wanita  melakukan hubungan badan yang melanggar norma umum. Katakanlah ponakan dengan tantenya dan lain-lain. Contoh lain mosalaki yang seharusnya patut digugu dan ditiru malah melanggar susila seperti berzinah atau pelapani.
Untuk mereka yang melakukan pelanggaran ini hukumannya antara lain diisolir dari pergaulan dan hak-hak adatnya dihilangkan sama sekali. Bagi mosalaki, hak segala prestisenya dicabut.

Bahkan jika dia meninggal dunia, jenazahnya dikuburkan di luar kampung, ini pertanda dia murtad. Pake ragi holo hai termasuk kasus serius dan mendapatkan sanksi hukuman yang berat. Pelaku seperti dipenjara selama hidupnya karena relasi sosial serta hak-haknya dipreteli.

5.    Nara Nio, Feo dan Kopi

Hukum ada ini berkaitan dengan dunia pertanian. Sebagai masyarakat agraris, larangan ditetapkan dalam periode waktu tertentu (pada musim kemiri (feo) berbuah, kopi dan kelapa. Biasanya selama tiga sampai enam bulan tergantung jenis komoditi pertanian itu.

Larangan itu ditetapkan mosalaki setelah menerima usul saran dari warga suku atau warga kampung. Mereka yang melanggar akan dikenakan sanksi. Walau memetik kelapa sendiri di masa larangan, dia tetap menerima sanksi. Larangan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Tanaman kelapa, misalnya, tidak boleh dipetik sembarang waktu untuk makan atau dijual. Hanya dibolehkan memungut kelapa tua yang jatuh sendiri karena sudah tiba saatnya. Pengecualian untuk kondisi force major misalnya seseorang digigit ular berbisa dan bisa ular itu harus ditawarkan dengan air kelapa muda maka kelapa boleh dipetik hanya untuk keperluan itu saja.

Sedangkan kemiri dikumpulkan dalam jumlah banyak baru dijual atau ditukarkan dengan bahan kebutuhan lain. Sesuai kebutuhan masyarakat setempat, larangan bisa juga dikenakan pada kopi, jeruk dan komoditi lainnya. Unsur fleksibilitas tetap dijunjung.

Menurut kacamata ilmu perdagangan modern, larangan ini mencegah sistem ijon yang pada galibnya justru menjerat leher petani sendiri. Oleh karena itu, salah kaprah jikalau kita sekarang yang menyebut diri manusia millenium menilai orang pada masa lalu tidak mengerti hukum demi kesejahteraan bersama.

Pola pertanian di Lise umumnya kebun ladang karena dari sono alamnya memamg demikian dan
hanya sedikit daerah lahan basah untuk persawahan. Persawahan luas ada di wilayah pesisir utara seperti Kotabaru, Hangalande dan sekitarnya. Di selatan daerah persawahan umumnya di sekitar daerah alisan sungai (DAS) memanfaatkan kelimpahan air.

Satu ladang dikerjakan atau diolah untuk jangka waktu tertentu, sekitar dua sampai tiga tahun lalu berpindah lagi ke ngebo (lahan kebun) yang baru. Karena itulah secara tradisi orang Lise pun punya budaya tebas bakar, tetapi bukan tebas bakar dalam konteks berburu binatang seperti di daerah lainnya di Flores serta pulau lain di Nusa Tenggara Timur.

Setelah menikmati hasil kebun ladang selama dua sampai tiga tahun, ladang itu ditinggalkan untuk menjadi hutan lagi dan mereka pindah membuka lahan yang baru. Pada masa sekarang sistem ladang berpindah sudah banyak ditinggalkan. Hanya sedikit yang masih mengusahakannya. Petani Lise beralih menanam komoditi perdagangan yang lebih produktif dan bernilai ekonomis tinggi. Memamg masih sekitar 50 persen menggunakan lahan kebun berpindah dengan pola tanam tumpang sari (beragam jenis sayuran dan palawija pada satu lahan).

Secara tradisional orang Lise mengenal model terasering yang belakangan, dimulai sekitar tahun 1970-an diperkenalkan pemerintah melalui instansi pertanian. Istilah lokal adalah kebe uma rema. Kebun ladang orang Lise selalu menggunakan kebe atau hebe sebagai pencegah erosi dan menyiapkan humus tanah. Jarak antara hebe sekitar 3-4 meter tergantung kemiringan lahan kebun, sehingga bila hujan turun humus tanah tetap bertahan, tidak mengalami erosi. Kayu untuk kebe dipilih kayu yang bagus dan bisa bertahan lama seperti kayu kera.

6.    Ru'u Ra'a

Leluhur kami orang Lise sudah mewariskan prinsip hidup selaras alam. Juga prinsip ramah lingkungan. Wilayah Lise yang membentang dari selatan hingga utara (Eko Take Tola Ndale - Ulu Soe Endo Mbawe) merupakan wilayah pegunungan, perbukitan, lembah, ngarai dan pantai yang elok. Gugusan pegunungan itu menghijau lebat dengan hutan perawan yang dipenuhi aneka flora dan fauna. Bagi saya , Lise diciptakan Tuhan ketika suasana batinnya sedang ceria.

Di wilayah Lise terdapat beberapa sungai (kali) besar. Dengan muara di pesisir utara ada Kali  Lowo Lise dan muara di Pantai Selatan Flores ada Kali Lowo Ria. Khusus Lowo Ria alurnya membentang dari pegunungan Watu Kio yang tak jauh dari Kampung Wolonio di Desa Fatamari, Kecamatan Lio Timur Kabupaten Ende sekarang  hingga muaranya di  Pantai Lia Tola. Lowo Ria (Lowo = Sungai. Ria = Besar) merupakan gabungan dari puluhan anak sungai sepanjang jazirah wilayah Kecamatan Lio Timur.

Sungai merupakan sumber kehidupan suku Lise. Di sana ada ikan, udang, belut, katak, kepiting dan lain-lain sebagai sumber pangan bagi keluarga. Oleh karena itu perlu dijaga dengan  bijaksana. Tidak diperkenankan bagi warga suku mengeksploitasi secara serampangan.  Di sini berlaku hukum adat yang namanya Ru'u Ra'a (larangan mengambil udang, belut dan ikan) dalam periode waktu tertentu. Lazimnya minimal enam bulan sekali baru diizinkan mengambil ikan, belut, udang, kepiting di lokasi alur sungai yang sama. Paling bagus setahun sekali sehingga panenannya berlimpah ruah. Juga dilarang keras menggunakan obat-obatan kimia dari pabrik karena akan merusak ekosistem sungai.

Warga suku Lise punya cara yang khas. Mereka mengeringkan alur kali atau sungai yang disebut Ra'a dengan  membendung lalu membelokkan air ke alur baru di bagian lain yang bersebelahan atau bersisian. Nah, di alur yang kering itulah mereka memanen udang, kepiting, belut dan ikan air tawar yang dalam bahasa Lise disebut ngoka woro. 

Ngoka woro di Lise biasanya  berlangsung pada musim kemarau, mulai bulan Agustus hingga Oktober dalam tahun berjalan. Ngoka woro melibatkan beberapa keluarga. Mereka bergotong-royong membendung dan mengeringkan alur sungai (Ra'a). Hasilnya dibagi secara adil. Tentu saja pemilik Ra'a akan mendapat porsi lebih besar. Di kampung Mulawatu misalnya, kami mengenal beberapa pemilik alur sungai atau Ra'a seperti Ra'a Dawa (pemiliknya bernama Dawa), Ra'a Dosi, Ra'a Rangga Rega,  Ra'a Nggubhu Nggai dan sebagainya.  Sudah menjadi konvensi bahwa sepanjang alur sungai itu ada pemiliknya. Tapi ada pula lokasi tertentu yang milik umum, artinya siapa saja boleh mengambil hasilnya. *

Pengukuhan Ria Bewa di Mula Watu

Pengukuhan Ria Bewa di Kampung Mula Watu Ende  26 Juli 2014. (foto PK)
Dari kiri: Ignatius Dosi Woda. Daniel Bheto Dedo dan Mikael Wangge (foto PK)
HARI  Jumat (25/7/2014) malam, suasana di Kampung Mulawatu, Desa Fatamari, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende berbeda dari hari-hari biasanya. Jika pada hari biasa suasana kampung terasa lengang dan hanya terdengar  suara-suara alam, seperti kicauan  burung,  gemercik air di Kali Mbilu maupun aroma kopi arabika serta tanaman buah kakao yang menghijau di hamparan tanah warisan leluhur, maka kali ini suasananya sontak berbeda.

Suara-suara manusia dari berbagai penjuru Kabupaten Ende bahkan dari luar daerah saat itu ramai menghiasi atmosfir kampung itu.  Dentingan musik serta hentakan kaki yang ritmik maupun lengkingan suara  seorang lelaki dewasa mengiringi tarian gawi--tarian khas Ende-Lio.

Tarian heroik itu dibawakan para para lelaki di Kampung Mulawatu. Hari itu,  terasa istimewa karena merupakan momentum menuju pengukuhan Mosalaki Ria Bewa (tokoh adat-red) Mulawatu.

Mulawatu merupakan salah satu kampung tua di wilayah Lio Selatan sebagai  Ibukota Desa Fatamari. Secara administratif pemerintahan desa itu sebagai bagian dari wilayah Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende.

Dalam hirarki Persekutuan Adat Lise Tana Telu, Mulawatu menempati posisi Ria Bewa yang diemban sejak zaman leluhur Dosi Woda. Bersama Ria Bewa Wolololele A, Mosalaki Pu'u di Ratenggoji beserta para mosalaki dan Boge Hage, merupakan satu kesatuan yang utuh dalam bingkai keluarga besar persekutuan adat Lise Tana Telu. Posisi Ria Bewa  sejak leluhur Dosi Woda ini terus berlanjut ke turunannya, yakni Nusa Dosi, ke Dawa Dosi, Nggala Dosi berlanjut ke Tani Nggala, Paulus Nggay Tani hingga terakhir  almarhum Stefanus Nggubhu Nggay.

Dengan meninggalnya Stefanus Nggubhu Nggay pada tahun 2000, jabatan Ria Bewa Lise Tana Telu di Mulawatu fakum  dalam rentang waktu sekitar 14 tahun dan dijalankan oleh Yoseph Ngati Mbete sebagai Pelaksana Tugas Ria Bewa.

Dengan kekosongan tersebut, maka melalui serangkaian musyawarah keluarga besar Dosiwoda menyepakati   dan  menetapkan Ignatius Tani Dosi Woda sebagai Ria Bewa. Dalam bahasa lio disebut "Pusi Eo Muri Peja Eo Meta, Pedo Pase Mula Gelu Walo"

Sesungguhnya prosesi adat ini semata untuk melestarikan nilai budaya dan hirarki kelembagaan dalam bingkai Lembaga Adat Lise Tana Telu. Juga untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan, menjalin kebersamaan di antara sesama keluarga, yakni Aji Ana, Tuka Bela, Eja Weta, Eda Embu, Nge Wa'u.
Podi Lesu Pepa Semba Ria Bewa Lise Tana Telu Mulawatu sebagai kekhasan budaya setempat. Selain meningkatkan rasa cinta  akan warisan leluhur juga untuk mengembangkan peluang di bidang kepariwisataan  Ende Lio khususnya Lise Nggonde Ria.

Waktu pengukuhan Ria Bewa Mula Watu terus berputar yang ditandai pada Jumat (25/7/2014)  malam, warga  di kampung tersebut "berpesta" semalam suntuk hingga pukul 06.00 Wita.

Jarum jam menunjukkan pukul 06.00 Wita, Sabtu (26/7/2014). Momen pengukuhan Ria Bewa tiba. Adalah Ignatius Dosi Woda, salah seorang yang "terurapi" dari sejumlah warga di Kampung Mulawatu tampak turun dari rumah adat didampingi sang istri, Sisi berjalan menuju pelataran di tengah kampung.

Selain didampingi sang istri, Ignastius  Dosi Woda juga didampingi Mosalaki Puu, Daniel Bheto dan Ria Bewa Wololele A, Mikael Tani Wangge. Di sepanjang perjalanan keagungan itu, rombongan diiringi dengan musik tradisional, tarian adat serta nyanyian, Poto Wolo yang bermakna mengangkat kembali seorang ria bewa guna mengganti Ria Bewa yang sebelumnya telah mangkat.

Untuk menghormati kesakralan acara, semua warga yang hadir wajib berdiri serta membuka jalan bagi rombongan menuju pelataran di tengah kampung. Hari itu, ketika fajar menyingsing  Ignatius Dosi Woda dan sang istri, Sisi bak pangeran dan ratu. Keduanya anggun dan menjadi pusat perhatian. Semua mata tertuju pada dua sosok ini.

Tak butuh waktu lama rombongan tiba di pelataran. Di tempat tersebut Ignatius Dosi Woda mengukuhkan diri sebagai Ria Bewa. Tidak ada orang lain yang mengukuhkannya. Dia sendiri yang mengukuhkan diri ditandai dengan mengenakan tanda-tanda kebesaran seperti lesu (ikat kepala) baju adat berupa Semba (lembaran kain yang dibentangkan di tubuh, Red)  serta Londa (kalung emas- Red) yang digantungkan di leher. Pun sang istri tampak mengenakan perlengkapan wanita di atas kepala maupun telinga yang terbuat dari emas.

Setelah semua perlengkapan itu dikenakan maka resmilah, Ignatius  Dosi Woda menjadi Ria Bewa yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari warga yang memadati pelataran.


Pesan Sarat Makna


Sebagai ucapan syukur serta kegembiraan menyambut Ria Bewa yang baru, sejumlah mosalaki bersama Ria Bewa dari Kampung Wololele A, Mikael Tani Wangge membawakan tarian gawi.

Berbeda dengan gawi  era moderen yang diiringi dengan instrumen musik elektronik. Gawi yang dipentaskan di tempat itu adalah gawi tradisional. Seorang pria melantunkan lagu  yang  dalam bahasa setempat disebut dengan nama Sodha.
Penyanyi top Ende-Lio, Eman Bata Dede termasuk yang melantunkan Sodha.

Dalam nyanyian tersebut terselip pesan-pesan yang sarat makna, seperti persatuan dan kesatuan adat, semangat gotong royong, jangan mudah diadu domba serta menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia dan menjaga kelestarian alam lingkungan. Juga agar selalu  mengagungkan kebesaran serta kemuliaan sang pencipta langit dan bumi maupun selalu ingat akan nenek moyang maupun para leluhur.

Seusai gawi yang dibawakan secara khusus oleh para mosalaki maupun Ria Bewa, warga disuguhkan dengan acara serimonial berupa pembantaian kerbau oleh tiga orang tokoh adat. Namun  pembantaian dilakukan secara simbolis di atas tubuh kerbau. Tiga tokoh adat tampak maju mendekati kerbau lalu secara simbolis seakan-akan hendak membunuh kerbau. Saat itu tali kerbau diulurkan hingga masuk ke rumah adat.

Seusai acara serimonial pembantaian,  kerbau lantas digiring ke luar kampung untuk dibantai benaran. Sambil menunggu tukang masak menyelesaikan tugasnya memasak daging kerbau, para undangan maupun warga yang ada di Kampung Mulawatu kembali memanaskan suasana kampung itu  yang dingin dengan  tarian gawi. Seusai santap siang, satu per satu tamu undangan maupun warga dari luar Kampung Mulawatu meninggalkan kampung itu. Tuntaslah acara pengukuhan Ria Bewa.

Tak Mudah Lapuk

Pengukuhan seorang Ria Bewa bagi warga di Kampung Mulawatu, adalah suatu keharusan. Tidaklah heran  meskipun proses pengukuhan ini berlangsung setelah 50 tahun silam.  Pada 27 Juli 2014,  proses pengukuhan kembali dilakukan.

Suatu warisan leluhur yang tidak mudah lapuk oleh zaman.
Menurut Ketua Panitia, Kornelis Wara, proses pengukuhan Ria Bewa di Kampung Mulawatu terjadi 50 tahun silam atas nama, Stefanus Nggubhu Nggay. Namun, setelah Stefanus meninggal di tahun 2000 lalu terjadi kekosongan Ria Bewa maka untuk menjalankan tugas-tugas selaku Ria Bewa ditunjuk seorang Plt Ria Bewa atas nama Yoseph Ngati Mbete. Yoseph menjalankan tugas selaku Ria Bewa selama 14 tahun.

Dalam kurun waktu tersebut warga kampung melalui serangkaian musyawarah keluarga besar Dosiwoda bersepakat menggelar proses pengukuhan Ria Bewa. Pada bulan Oktober 2013, warga bersepakat membentuk panitia pengukuhan Ria Bewa Mulawatu.

Menurut Kornelis, prosesnya tidak mudah karena banyak di antara narasumber sudah meninggal dunia meskipun ada yang masih hidup. Ada beberapa narasumber yang usianya sudah senja sehingga  untuk berkomunikasi dengan  baik.

Meski pun mengalami kesulitan ujar Kornelis,  pihaknya tetap berusaha agar proses pengukuhan Ria Bewa Mulawatu bisa tetap berjalan. "Puji Tuhan berkat dukungan dari semua pihak akhirnya proses pengukuhan Ria Bewa Mulawatu bisa berjalan sukses," kata Kornelis.

Sedangkan menurut Ria Bewa Mulawatu saat ini, Ignastius  Dosi Woda sebelum dirinya sudah ada beberapa Ria Bewa yang dimulai dari Dosi Woda, Nusa Dasi, Nggala Dosi, Dawa Dosi, Tani Nggala, Nggai Tani, Stefanus Nggubhu Nggay.

Pengukuhan Ria Bewa terakhir berlangsung  pada tahun 1964. Tentang dirinya terpilih  selaku Ria Bewa Mulawatu saat ini, Ignatius  mengatakan  itu dilakukan melalui permenungan juga bisikan leluhur. Seorang yang menjadi Ria Bewa bukan karena warisan orangtua sebagaimana kerajaan di Jawa. "Tidak seperti tempat lain yang ada pergantian  ketika orang tua meninggal lalu diwariskan ke anak. "Kalau Ria Bewa diperoleh  melalui mimpi," kata Ignatius Dosi Woda.  (romualdus pius)

Sumber: Pos Kupang edisi 8 dan 9 Agustus 2014 halaman 13

Struktur Organisasi Adat Lise


SEJAK zaman nenek moyang kami Ata Lise, struktur organisasi itu sudah terbentuk dengan fungsi, peranan, tanggung jawab, wewenang serta pembagian tugas (job description) masing-masing.

Posisi tertinggi  adalah Mosalaki Pu'u Lise Tana Telu. Dialah pemimpin untuk seluruh anak cucu Mbete Woda atau Woda Rasi. Simbol pemersatu juga hadir dalam diri Mosalaki Puu Lise Tana Telu. Terbukti untuk suatu upacara adat di wilayah Lise Tana Telu, pernyataan atau pengumuman pertama datang dari Mosalaki Puu.  Misalnya pesta Po'o Fata Mari (poo terbesar), yang menentukan waktunya adalah Mosalaki Puu. Penentuan waktu itu dilaksanakan para aji ana (kelurga besar Lise).

 Po'o adalah perayaan yang digelar pada bulan September atau Oktober saban tahun di Fatamari, sebuah tempat yang teduh di bibir sungai Lowo Ria tak jauh dari kampung Mulawatu. (Makna perayaan ini akan saya kisahkan di artikel tersendiri).

Meskipun sudah ada mosalaki puu, tapi di setiap kampung ada mosalakinya masing-masing. Istilah yang dikenal "Kura Fangga no Lowo-lowo, Roa Loka no keli-keli". Artinya di setiap tempat ada pemimpinnya masing-masing. Dalam teori kepemimpinan, realitas ini bisa dimengerti. Selain mosalaki puu ad aria bewa.

Dalam struktur adat orang Lise ada dua Ria Bewa atau Ria Rua yaitu Ria Bewa yang berkedudukan di Mulawatu dan Ria Bewa yang berkedudukan di Wololele A (keturunan Wangge Woda). Salah satu peranan Ria Bewa yaitu sebagai juru bicara dengan pihak luar suku,semacam menteri luar negeri dalam tata pemerintahan negara modern. Peran Ria Bewa  juga memberikan masukan atau pertimbangan kepada mosalaki puu dalam mengambil keputusan atau kebijakan yang bertautan dengan kepentingan aji ana, ana kalo fai walu (rakyat).

Secara genealogis, mosalaki puu dan ria bewa sesungguhnya kakak beradik. Mereka masih bertalian saudara satu sama lain.  Memang sebagaimana lazimnya keluarga, ada saja ketidakcocokkan, silang pendapat, iri hati, salah paham dan lainnya. Namun, semua itu merupakan dinamika dalam membangun keluarga besar Lise, membangun komunitas masyarakat yang bertahan sampai berabad-abad hingga saat ini.

Selain Ria Bewa ada posisi Hage Loo dan Hage Ria. Ada versi cerita yang menyebutkan Hage Loo dan Hage Ria serta Mosalaki Tuke Sani yang mempunyai peran dan tanggungjawab masing-masing. Pada masa perang suku, mereka itu mempunyai peran dan bekerja sama mengalahkan musuh. Ada yang berperan sebagai penunjuk jalan, peramal, pengintai posisi musuh, prajurit maupun panglima perang di medan laga (ngalu ngeti).

Setelah meraih kemenangan dalam perang atau sukses merebut tanah (wika), tanah itu dibagi-bagi kepada aji ana sesuai prinsip keadilan untuk dijadikan lahan petanian sumber makan minum sehari-hari. Namun, kepemilikannya menganut sistem ulayat. Komunalitas dalam tradisi orang Lise sebenarnya berlaku universal untuk konteks masyarakat Indonesia yang hakekatnya memiliki leluhur yang sama.

Di kalangan masyarakat Lise dikenal istilah ini. Tanah itu milik mosalaki. Yang itu cuma ngebo (kebun) saya. Artinya pemiliknya mosalaki, aji ana berhak menggarap. Eko Take Tola Ndale - Ulu Soe Endo Mbawe itu tanah Woda Rasi yang diserahkan kepada anak cucunya untuk digarap guna memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Dalam hal ikhwal tanah, orang Lise mengenal sumpah adat yang ditandai dengan percikan darah manusia serta makan tanah. Sumpah ini sangat mengikat dan mempertaruhkan kejujuran dan kebenaran hakiki. Apabila ada persoalan tanah, sumpah ini dilakukan untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah. Biasanya yang benar akan menang.

Sumpah minum darah dilandasi keyakinan bahwa tanah itu diperoleh dengan jiwa dan raga (korban jiwa sangat banyak saat perang suku di masa lalu). Nilai dari sumpah makan tanah dan minum darah ini sangat bernas. Karena itu bisa dimengerti jika kasus-kasus tanah (perdata) sangat jarang terjadi di Lise serta wilayah Lio umumnya. Keyakinan akan sumpah itulah pengikatnya, sehingga orang akan berpikir panjang kalau melangkah. (*)

Di sini kutulis tentang asal-usulku. Juga kucatat penggalan-penggalan kisah leluhur. Aku bagian dari darah daging mereka yang ada dan mengalir adanya hingga anak cucu Lise mendatang.

Dion Dosi Bata Putra
Embu Woda, Ana Mbete, Wewa Tani Woda, Mamo Ngaba Tani, Benge Dede Dosi, Putra Bata. Gelombang yang tiada henti bergelora dalam arus zaman.

Woda Rasi, Tokoh Kebanggaan Ata Lise

Dion Dosi Bata Putra
KAMI anak cucunya di Suku Lise (Lio - Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur)  sangat akrab dengan nama tokoh ini. Di masa kecil, ketika bangun pagi sambil memanggang diri di perapian guna mengusir dingin, orang-orang tua selalu menceritakan tentang sosok Woda Rasi. Juga dalam berbagai acara kalau sedang kumpul banyak orang. Woda Rasi menjadi buah bibir dan bahan cerita tutur turun temurun.

Menurut ayahku Thomas Bata tokoh ini patut dicatat khusus dalam sejarah orang Lise, siapa pun Anda. Dialah yang memiliki dan menguasai lahan tanah persekutuan sangat luas di wilayah Lise.

Warga Kecamatan Lio Timur dan Kota Baru  dan sebagian Wolowaru adalah anak cucu Woda Rasi atau kerap juga disebut Woda Kumi Merah. Disebut demikian karena Putra Bungsu Rasi Leu tersebut  kumisnya berwarna kemerah-merahan seperti rambut jagung.

Walaupun anak bungsu dari enam bersaudara putra Rasi Leu, Woda dikenal sebagai petualang yang berani. Dia juga memiliki kemampuan berperang dengan suku atau kampung yang lain. Kemampuan berperang ini pula yang membuat Woda Rasi memiliki lahan pertanian sangat luas yang dikenal dengan julukan: Eko Take Tola Ndale - Ulu Soe Endo Mbawe. 

Artinya, ekor atau ujung tanah Woda Rasi adalah Tana Tola (Lia Tola) dan Mau Ndale di pantai selatan Flores dan kepala tanahnya di Tana Endo dan Mbawe di pesisir utara Pulau Flores.   Agar kau tidak bingung, Tola Ndale itu letaknya di wilayah Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini. Sedangkan Endo Mbawe lokasinya di Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Ende.

Tanah Woda Rasi itulah yang dia wariskan secara turun-temurun kepada anak cucunya Ata Lise sampai sekarang. 

Woda Rasi memiliki tiga orang putra yakni Wangge, Mbete dan Senda. Generasi ketujuh sejak kedatangan dari Malaka ini bermukim di Kampung Nua Tu yang menjadi kampung besar pertama seluruh orang Lise.

Kampung Nua Tu kini masih ada dan masuk dalam teritori Desa Lisedetu, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Menurut penuturan ayahku serta sejumlah mosalaki di persekutuan Lise Tana Telu, sejak zaman  Lio Laka sampai dengan generasi kedelapan yaitu Woda Mbete dan lima saudaranya, keturunan Woda Rasi bermukim di Kampung  Nua Tu tersebut.

Pada generasi kesembilan sejak kedatangan dari Malaka, seiring dengan pertambahan populasi penduduk, anak Woda Mbete masing-masing Tani, Mbete, Dosi, Senda, Kewa dan Kemba, lokasi pemukiman makin menyebar ke utara, timur dan selatan. Hal ini dapat dimengerti karena pada masa itu mereka berkebun dan berburu lalu mulai membangun pondok tinggal di kebun atau daerah sekitar kebunnya.

Itulah cikal bakal adanya perkampungan baru. Tani Woda dan keturunannya memilih tinggal di Rate Nggoji (masuk wilayah Desa Tani Woda, Kecamatan Kotabaru sekarang), Mbete Woda di Wololele A, Dosi Woda di Mulawatu (desa Fatamari, Kecamatan Lio Timur), Senda Woda atau Senda Lo'o memilih kampung Ranggatalo, Kewa tinggal di Wolomage, Desa Fatamari, Lio Timur.

Sejak generasi kesembilan ini pemukiman menetap dan bertahan  turun-temurun sampai sekarang. Jika hitungan satu generasi berperiode 60 tahun misalnya, maka generasi kesembilan orang Malaka (orang Lise) sekitar tahun 900 atau 1.000 atau abad ke-10. Karena itu perkampungan di wilayah Lise umumnya berusia tua. Demikian pula dengan warisan dan peninggalan nenek moyang yang lestari sampai sekarang.

Peninggalan nenek moyang yang masih ada sampai sekarang, beberapa bisa disebut di sini. Bhaku Rate (rumah kecil tempat menyimpan peti tulang-belulang nenek moyang), Hanga (halaman rumah atau lapangan, tempat digelar pesta adat syukur atau menang perang). One ria tenda bewa (rumah besar tempat tinggal mosalaki/ria bewa).

Sue wea (emas 24 karat) dalam beragam bentuk dan motif dan gading gajah. Gading dalam kepercayaan orang Lise bisa beranak pinak. Karena itu, para gadis dilarang keras tidur di rumah adat yang menyimpan gading. Kalau larangan itu dilanggar, si gadis akan dikawini oleh gading tersebut. Pembuktian keyakinan ini agak irasional tetapi masih diyakini hingga kini. Masih banyak kisah yang  akan kurekam dan kucatat untuk dibagikan kepada siapa saja terutama saudara-saudariku sesama keturunan Woda Rasi. Salam Lise! *

Di sini kutulis tentang asal-usulku. Juga kucatat penggalan-penggalan kisah leluhur. Aku bagian dari darah daging mereka yang ada dan mengalir adanya hingga anak cucu Lise mendatang.

Dion Dosi Bata Putra
Embu Woda, Ana Mbete, Wewa Tani Woda, Mamo Ngaba Tani, Benge Dede Dosi, Putra Bata. Gelombang yang tiada henti bergelora dalam arus zaman.

Siapa Leluhur Orang Lise?

Peta Kabupaten Ende, Flores, NTT
NENEK  moyang atau leluhur kami orang Lise diyakini bukan warga asli Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mereka datang jauh dari luar pulau Flores lalu tinggal menetap dalam komunitas sendiri. Dalam perjalanan waktu terjadi kawin-mawin dengan warga lokal.  Leluhur orang Lise diyakini adalah etnis Melayu (Malaka).

Generasi pertama  orang Lise diperkirakan tiba di Flores Tengah (wilayah Kabupaten  Ende) sekitar abad ke-7 dan ke-8 bersamaan dengan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya di Sumatera.

Cerita lisan turun-temurun dari leluhur kami  menyebutkan, nenek moyang orang  Lise datang Malaka. Mereka datang menggunakan perahu tradisional dan membuang sauh di Pantai Wewaria, dekat Ropa, ibukota kecamatan  Wewaria, Kabupaten Ende saat ini.

Ada beberapa versi tentang jumlah rombongan pertama dari Malaka tersebut. Perbedaan ini agaknya bisa dimaklumi karena dokumentasi sejarah ini dalam budaya tutur, sehingga kemungkinan besar terjadi bias atau deviasi bahkan missing link.

Versi lain menyebutkan rombongan dari Malaka juga mendarat di selatan Pulau Timor, tepatnya di daerah Malaka Kabupaten Belu. Mereka satu asal-usul dengan rombongan yang mendarat di Wewaria, Flores. Sepintas, nama-nama orang Malaka (Belu) dan orang Lise ada kemiripan. Misanya Laka, Mali, Bere, Mau dan lainnya.

Versi kisah yang cukup dominan antara lain menyebutkan, rombongan dari Malaka itu setibanya di Wewaria berpencar mencari kawasan permukiman masing-masing. Ada yang bergerak ke arah barat menuju wilayah Manggarai dipimpin Rai Laka, ke Ngada namanya Enga Laka, ke wilayah Kabupaten  Sikka dan Flores Timur namanya Igo Laka.

Sedangkan dua bersaudara yang lain yaitu Lio Laka dan Woda Laka memilih Lio (Ende) sebagai hunian mereka membangun keluarga. Yang sampai saat ini diketahui sebagai orang Lio adalah cucu dari Lio Laka  tersebut.

Dan, inilah silsilah orang Lise tersebut. Lio mempernakkan Le, Le memperanakkan Lela, Lela memperanakkan Leu, Leu memperanakkan Rasi, Waku dan Lengo (Wolojita dan Jopu). Rasi memperanakkan Pati, Mboti, Mali, Ngeo, Bao dan Woda. Woda memperanakkan Wangge, Mbete dan Senda. Mbete memperanakkan Ndopo, Laka, Tani Loo, Wangge, Woda dan Tani Dua. Woda memperanakkan Dosi, Mbete, Tani, Senda, Kewa dan Kemba. Tani memperanakkan Ngaba,  Wangge, Mbete dan Senda.

Khusus untuk mosalaki Puu Lise Tana Telu, Wangge memperanakkan Woda, Woda memperanakkan Tibo, Leu, Dosi, Mbete dan Lando. Tibo memperanakkan  Kilo, Gebo, Siso, Bego dan Dawa. Baba memperanakkan Dedo, Saka, Wero dan Paka. Dedo memperanakkan Bheto dan Baba (generasi ke-15).

Saya dan saudara-saudari saya berasal dari keturunan Ngaba Tani. Nah, silsilah ringkasnya  sebagai berikut. Ngaba memperanakkan Dosi, Dosi memperanakkan Dede dan Wara, Dede memperanakkan Dari, Dosi, Woda dan Bata.  Woda memperanakkan  Manggo, Lidi dan Woda. Bata, ayah saya  memperanakkan Dede, Muwa, Dosi dan Budi, Hando dan Badhe.

Sampai dengan Dede Dosi sudah mencapai generasi kelimabelas sejak generasi pertama Lio Laka. Semua yang diingat ini hanyalah garis keturunan laki-laki. Maklum dalam tradisi Lise garis keturunan menganut sistem patrilienal (laki-laki) hampir sama dengan daerah lainnya di Pulau Flores, kecuali Mangulewa di Kabupaten Ngada.

Begitu dulu kisah ringkas tentang leluhur orang Lise yang darahnya mengalir dalam tubuh saya. Nanti saya sambung lagi pada kesempatan mendatang. *

Aku ata  Lise
 

Di sini kucatat penggalan-penggalan kisah nenek moyang. Aku bagian dari darah daging mereka yang ada dan mengalir adanya hingga anak cucu Lise mendatang.
 

Dion Dosi Bata Putra 
 Embu Woda, Ana Mbete, Wewa Tani Woda, Mamo Ngaba Tani, Benge Dede Dosi, Putra Bata. 

Gelombang yang tiada henti bergelora dalam arus zaman....




Aku Ata Lise

Di sini kutulis tentang asal-usulku. Juga kucatat penggalan-penggalan kisah nenek moyang. Aku bagian dari darah daging mereka yang ada dan mengalir adanya hingga anak cucu Lise mendatang.

Dion Dosi Bata Putra
Embu Woda, Ana Mbete, Wewa Tani Woda, Mamo Ngaba Tani, Benge Dede Dosi, Putra Bata. Gelombang yang tiada henti bergelora dalam arus zaman.


DENGAN bangga saya selalu mengucapkan kata-kata ini. Aku ata Lise (Saya orang Lise atau  berasal dari Suku Lise). Begitulah setiap kali jawabanku bilamana ditanya tentang asal-usul.

Saya tidak pernah malu mengatakannya atau pura-pura tak peduli dengan pertanyaan semacam itu mengingat kehidupan ini sesuatu yang terberi (given). Toh saya dan juga orang-orang Lise lainnya tak pernah meminta lahir sebagai ata Lise bukan?

Kau pasti bertanya-tanya, Lise itu di mana? Baiklah saya beri sedikit penjelasan. Lise  merupakan salah satu sub etnis  Lio-Ende yang secara  geografis menempati wilayah timur dan sebagian kawasan tengah Kabupaten Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia.

Wilayah Suku Lise berada di sisi  timur Kabupaten Ende membentang dari pantai selatan hingga pantai utara Flores dan berbatasan langsung dengan wilayah teritorial pemerintahan  Kabupaten Sikka.

Jika mengacu pada teritorial administrasi pemerintahan masa ini, maka etnis Lise bermukim di Kecamatan Lio Timur (Watuneso), sebagian Kecamatan Maubasa, Kecamatan Wolowaru dan Kecamatan Kotabaru di sisi tengah dan utara Flores. Dalam bahasa setempat, Lise mengenal istilah Lise Tana Telu yang artinya terdiri dari tiga wilayah besar yaitu Lise  Lowobora  atau Lise Detu,  Lise Nggonderia dan Lise Kuru Lande.

Secara demografis maupun geografis, etnis Lise Lio  termasuk penting, strategis dan punya kekuatan dalam struktur pemerintahan adat, pemerintahan kolonial hingga pemerintahan  Negara Kesatuan Republik Indonesia modern dewasa ini.

Untuk kepentingan politik pemerintahan Hindia Belanda, salah seorang putra Lise yaitu Pius Rasi Wangge pernah diangkat menjadi Raja Lio yang wilayah kekuasaan dan pemerintahannya  mencakup 90 persen luas Kabupaten Ende saat ini bahkan sebagian wilayah Sikka. Awalnya pengangkatan Raja Lio ini semata-mata demi kepentingan politik Belanda tetapi secara de facto maupun de jure tidak mengaburkan sama sekali struktur lembaga adat orang Lise yang berlangsung turun-temurun dari masa nenek moyang. Sampai saat ini struktur organisasi persekutuan adat Lise lestari dan tetap dihormati. *

Mulawatu dan Kenangan Kakek Lesu

DI bawah rimbunan pohon kakao dekat rumahnya di Nitakloang, Kakek Andreas Lesu (89) mengenang masa lalu. Untuk menghidupi keluarga, warga Desa Nitakloang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka tersebut menggarap sawah di Nangarasong sejak akhir 1970-an. Lahan miliknya tidak seberapa luas. Kurang lebih 1 hektar.

Untuk mencapai Nangarasong ketika itu, kuda merupakan andalan satu-satunya. Dari rumah dia menyusuri jalan lewat Ledalero, kampung Guru dan menerobos jalan tikus hingga masuk Kota Maumere. Stasi perjalanan berikutnya, Maumere- Nangarasong sejauh 16 km. Kakek Andreas menghabiskan waktu sekitar 3 jam untuk mencapai Nangarasong.

Sebagai bekal dalam perjalanan, Andreas bawa ketupat atau roti. Sampai di Patisomba, km 15 dari Maumere, Andreas Lesu beli ikan untuk persediaan di pondok. Tiga minggu lamanya dia menggarap sawah di Nangarasong. Minggu keempat baru kembali ke Nitakloang. Tiga pekan di Nangarasong, seminggu di Nita. Jika musim panen tiba, masa tinggal di Nangarasong bisa lebih lama. Begitulah rutinitas sang kakek pada masa itu.

Sekitar tahun 1984 pemerintah Sikka merintis pembangunan jalan yang menghubungkan Kota Maumere dengan daerah pesisir utara wilayaj tersebut. Jalan terbuka, kendaraan mulai bergerak dengan sendirinya. Namun, perjalanan tidaklah mudah. Waktu tempuh ke Nangarasong dua setengah hingga tiga jam karena kondisi jalan berbatu-batu. Aspal hanya sampai di Wuring dan sekitar kawasan Wailiti, lokasi pabrik pemintal kapas yang kini tinggal kenangan.

"Kalau melihat kondisi sekarang, saya bangga sekali. Saya jengkel kalau anak-anak malas kerja sawah karena perjalanan ke Nangarasong hanya 30 menit. Mereka bukan naik kuda tapi sudah naik oto dan pakai motor (sepeda motor). Bisa pergi pulang setiap hari ke Nita," kata kakek Andreas yang masih terlihat tangguh dalam usia beliau yang tidak muda lagi.

***
KAKEK Andreas Lesu berkata tentang perubahan yang hadir oleh pembangunan. Wilayah utara Kabupaten Sikka, Ende, Nagekeo dan Ngada dewasa ini tidak terisolir lagi. Kemajuan tranportasi darat bisa dilukiskan sangat pesat kendati masih banyak kekurangan yang perlu dibenah. Pos Kupang menyaksikan kemajuan itu dalam perjalanan selama dua hari tanggal 17 dan 18 September 2008.

Aspal mulus tersaji apik sejak Kota Maumere. Perjalanan ke Nangarasong nyaman dan amat lekas. Kendaraan roda dua maupun roda empat di jalur itu sangat ramai. Datang dan pergi mengangkut manusia dan barang. Perjalanan menyusur utara Flores jauh dari rasa bosan. Eksotisme alam pesisir sungguh memanjakan mata. Nangarasong, Magepanda, Sokolago, Mulawatu Baru, Watu Manu, Kota Baru, Ndondo menyambut dengan keindahan alami. Sawah hijau berlatar bukit-bukit tandus. Laut membiru. Di bulan September, bulir padi menguning. Siap panen. Sebagian petani sedang menanam. Sekelompok bocah bermain dengan kambing. Kerbau yang kepanasan, berkubang ria.

Jalan trans utara Sikka-Ende rupanya sedang berbenah. Di kampung Ratebobi, puluhan orang pria muda dan setengah baya sedang menggali drainase. Para pekerja itu sudah merampungkan jalan hotmix. Jalan agak mendaki kemudian masuk kawasan kampung Mulawatu Baru. Jalan di Mulawatu lebar dan mulus.

Perjalanan berlanjut. Kurang dari satu setengah jam sudah tiba di depan Kantor dan Rumah Dinas Camat Kota Baru. Camat Drs. Kornelis Wara ramah menyambut. Tak terasa sudah masuk wilayah Kabupaten Ende. Magepanda Sikka sudah jauh.

Jarak Maumere-Kota Baru sekitar 43 km. "Kalau jalan santai dari sini ke Maumere, saya menghabiskan waktu sekitar satu jam. Kalau ingin cepat, bisa 45 menit dengan mobil," kata Camat Kornelis Wara. Camat biasa mengisi bensin di SPBU Maumere untuk kebutuhan seminggu atau lebih.

Wara yang lahir dan tumbuh besar di Kota Baru memberi kesaksian mirip dengan Kakek Andreas Lesu. Dulu dia jalan kaki pergi-pulang ke Maumere untuk sekolah. "Saya SMP di Maumere. Pilihan satu-satunya adalah jalan kaki kalau tidak ada kapal motor yang melayari Maumere-Kota Baru," katanya.

Secara teritori, Kota Baru bagian dari Kabupaten Ende. Namun, untuk akses ekonomi, pendidikan dan lainnya, mereka lekat dengan Sikka. Bisa dimengerti karena jarak Kota Baru - Ende adalah 119 km. Dua kali lipat jarak ke Maumere.

***
TRANS utara Flores tidak seluruhnya mulus. Masih ada sejumlah titik kondisinya buruk yaitu di wilayah Kabupaten Ende dan Nagekeo. Selepas Kota Baru, kita akan melewati jalan rusak belasan kilometer. Dibutuhkan kehati-hatian saat berkendara, baik dengan sepeda motor maupun mobil.

Jalan rusak antara lain di kawasan Ndondo hingga Aewora, Kecamatan Maurole. Jarak Kota Baru-Maurole kurang lebih 26 km. Lebih dari setengah kondisi jalan berlubang. Seperti disaksikan Pos Kupang, Rabu (17/9/2008) petang, tiga pengendara sepeda motor dari arah Ndondo menuju Kota Baru nyaris jatuh saat menghindari jalan berlubang, tak jauh dari Kampung Tana Ria, Desa Ndondo.

Kelegaan terasa memasuki wilayah Aewora. Jalan di sana sudah beraspal. Perjalanan Aewora-Maurole kembali nyaman dan cepat. Selepas ibu kota kecamatan Maurole tersebut, setiap pengendara kembali disuguhi jalan rusak berlubang serta debu tanah merah yang beterbangan. Titik kerusakan mulai dari ujung Desa Mausambi hingga Ropa di Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende.

Jalur Ropa hingga pertigaan Sokoria kembali mulus. Menuju Maukaro, Kabupaten Nagekeo pemandangan sama terulang. Aspal nyaris tak berbekas. Jalan lubang dan berdebu. Di wilayah Nagekeo, jalan yang sedang dibenahi saat ini adalah jalur Mbay-Riung (Ngada).

Selain pengaspalan dan perbaikan sarana penunjang pada sejumlah titik yang rusak, kebutuhan trans utara Flores adalah pelebaran ruas jalan karena arus kendaraan di jalur itu terus meningkat. Saban hari ada bus yang melayani rute Maumere- Mbay PP dan sekitar 20-an unit truk dan mobil bak terbuka (pick-up) mengangkut hasil bumi sepanjang jalur Maumere- Ropa-Welamosa.

Saat istirahat di Pantai Ropa, Kamis (18/9/2008) pagi, Pos Kupang menyaksikan bus Sinar Rembulan dari Mbay ke Maumere penuh dengan manusia dan barang. Enam penumpang pria bahkan duduk manis di tempat bagasi. "Musim kemarau tidak masalah. Tapi kalau musim hujan, tidak banyak oto (bus, truk) yang lewat sini," kata Markus Woge, warga Pulau Palue yang ditemui di Pasar Ropa. Kiranya ini pekerjaan rumah bagi pemimpin Sikka, Ende dan Nagekeo yang baru. (dion db putra)

Pos Kupang edisi Rabu, 8 Oktober 2008 halaman 18

Wake Laki Lise Tana Telu (4)

Lise Tana Telu di tengah derap pembangunan

Keseluruhan kebudayaan adalah sebuah ruang lingkup dan tidak terbatas pada aspek-aspek ideational saja. Konsep sentral dari kebudayaan adalah adat-istiadat, yaitu pola prilaku tradisional yang reguler. Gluckman mengakui betapa pentingnya peranan adat-istiadat dalam mengatur perilaku manusia.

Pikiran ilmiah yang diformulasikan Gluckman ke dalam teori-teorinya ini sesungguhnya diangkat dari apa dijalankan masyarakat adat yang berpikir sederhana soal yang lebih luas dari ide-ide dan peranan adat yang mengatur kehidupan mereka.

Masyarakat adat Lise Tana Telu mewujudkan keyakinan mereka tentang pentingnya tradisi adat, dalam pelantikan pucuk pimpinan tradisional, mosalaki pu'u. Kesadaran ini muncul secara komunal melalui mosalaki dengan satu keyakinan bahwa paran dan fungsi mosalaki pu'u terutama menjadi roh penggerak bagi segenap aktivitas sosial budaya.

Bukan saja soal murni tradisi adat semata-mata, tetapi juga memberi pengaruh pada aspek sosial lainnya seperti kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Mosalaki pu'u sebagai pimpinan tertinggi Lise Tana Telu, mosalaki riabewa, dan mosalaki sebagai pemimpin dalam wilayah masing-masing ikut berperan aktif dalam kegiatan pembangunan bersama pemerintah sebagai mitra.

Peran dan fungsi mosalaki pu'u.

Daniel Bheto Dedo sebagai mosalaki pu'u, para ria bewa, mosalaki, bogehage yang berkumpul pada hari puncak Nggubhu luka menjelaskan beberapa hal penting, mengapa pelantikan mosalaki pu'u perlu dilakukan.
Pertama untuk menjalankan adat atau supaya semua upacara adat berjalan kembali, demi kesatuan dan kekeluargaan segenap warga Lise Tana Telu.

Sejak mosalaki pu'u kesepuluh, Dedo Baba, ayah dari Daniel meninggal (tahun 2000), menjalankan upacara adat sedikit terbengkelai. Hal ini disadari mempengaruhi semangat bersatu padu yang sudah ada sejak dulu. Melihat letak geografis, topografi daerah, dan kesulitan transportasi, peristiwa budaya yang terjadi di Ratenggoji mesti digarisbawahi secara serius oleh pemerintah.

Masyarakat adat tahu siapa yang berperan dan memiliki kekuasaan di wilayahnya. Orang-orang yang mereka hormati sebagai pemimpin sekaligus mereka dengar. Sebagai sebuah kelompok masyarakat, basis mereka sangat kuat. Karena itu jika pembangunan masuk melalui basis itu, dijamin partisipasi masyarakat akan sangat kuat.

Dalam kultur dan semangat yang direstui tradisi, kualitas hidup mereka lebih mudah ditingkatkan. Menjalankan upacara adat bagi masyarakat agraris Lise Tana Telu, artinya sama dengan menjalankan berbagai ritual yang berkaitan langsung dengan pekerjaan sehari-hari sebagai petani. Dukungan upacara adat berpengaruh langsung pada aktivitas pertanian, peningkatan ekonomi pertanian, dan lainnya.

Kedua, untuk melestarikan kebudayaan asli Lise Tana Telu terutama yang berkaitan dengan budaya agraris tradisional, budaya asli Lise Tana Telu, maupun kebudayaan Lio, Ende, dan wilayah agraris lainnya di Flores. Upacara adat seperti ritual pertanian po'o bhoro (awal/memasuki musim tanam), panen, mopo (membuka kebun baru yang belum pernah digarap), diharapkan hidup kembali, meskipun tanaman perdagangan merambah begitu kuat dalam usaha percepatan pembangunan ekonomi pertanian.

Daniel Bheto Dedo, mosalaki pu'u Lise Tana Telu yang berpendidikan SD ini memahami benar situasi sosial budaya masyarakatnya. Salah satu contoh yang digarisbawahi adalah po'o bhoro, ritual memasuki musim tanam; khususnya padi ladang.

Dalam acara ini para mosalaki datang ke Ratenggoji untuk mengambil beras (yang telah disiapkan mosalaki pu'u) di sa'o ria tenda bewa. Beras itu disiram di kuburan leluhur di depan sa'o ria tenda bewa sebagai bentuk rera mea atau menyampaikan kepada leluhur bahwa po'o bhoro akan dilakukan. Inti po'o bhoro adalah mempersembahkan beras merah (khusus) di musu mase lodo nda (batu persembahan) untuk para leluhur.

Maknanya adalah agar seluruh proses tanam sampai panen berjalan lancar dengan hasil berlimpah. Digantikannya padi dengan tanaman perdagangan (fanili, cengkeh, kemiri, dll) menyebabkan po'o bhoro tidak dilaksanakan lagi. Menurut Daniel alangkah baiknya jika pemerintah memperhatikan hal ini. Po'o bhoro menyangkut roh atau semangat kerja dalam restu leluhur. Beliau mengharapkan agar proses pembukaan lahan, tanam, sampai panen tanaman perdagangan, hendaknya po'o bhoro tetap dilakukan dengan padi/beras sebagai sentral.

Ketiga, selain ritual pertanian, keberadaan mosalaki pu'u dan segenap mosalaki lainnya penting untuk menjalankan kembali hukum-hukum adat yang berlaku dalam masyarakat secara turun temurun. Misalnya wale dan wale pela (berkaitan dengan sanksi perkawinan), juga hukum adat yang berkaitan dengan hak dan kewajiban mosalaki, serta hak dan kewajiban masyarakat umum.

Keempat, kehadiran mosalaki pu'u, ria bewa, mosalaki, dan segenap perangkat di bawahnya diharapkan dapat menjalin kebersamaan dalam menghadapi berbagai masalah sosial, yang berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, ekonomi, maupun masalah sosial lainnya. Contoh nyata yang terjadi di Ratenggoji adalah masalah SDN Ratenggoji.

Daniel Bheto Dedo adalah Ketua Komite Sekolah yang tentu saja tidak terpisahkan dari perannya sebagai mosalaki pu'u. Beliau mengeluh soal kekurangan guru. "Dalam tahun ajaran ini, SDN Ratenggoji hanya ada satu guru merangkap kepala sekolah, Bapak Damianus Seda (47) untuk lima kelas dengan jumlah murid 107 orang." Sebagai mosalaki pu;u dan ketua komite sekolah, beliau sangat mengharapkan perhatian pemerintah agar masalah guru ini segera diatasi.

Kerja sama dengan pemerintah
Selain bidang pendidikan, masalah kesehatan termasuk di dalamnya pemenuhan kebutuhan air bersih juga dibahas. Hal penting yang digarisbawahi dalam rapat bersama segenap mosalaki adalah pengertian mereka tentang pentingnya kerja sama dengan pemerintah setempat. Ada keterbukaan antara kedua belah pihak untuk mengatasi masalah bersama-sama.

Masalah pokok untuk Ratenggoji dan segenap Desa Tani Woda adalah air. Selain itu masalah tanah juga mendapat perhatian. Terutama menyangkut tanah garapan, wilayah hak milik, pemanfaatan tanah ulayat untuk kepentingan umum. Hal ini diakui juga oleh Camat Kota Baru. Cornelis Wara, S.Sos bahwa selama ini dirasakan konsentrasi lahan ada di tangan mosalaki pu'u. Ana halo dan fai walu (masyarakat umum) hanya menggarap dengan tanam padi dan palawija.

"Mudah-mudahan dengan momen ini kerja sama dengan segenap mosalaki, antar mosalaki, dan mosalaki dengan masyarakat bisa berjalan lebih baik," demikian harapan Camat Kota Baru yang ditemui di sa'o ria tenda bewa, rumah mosalaki pu'u pada hari puncak upacara nggubhu luka.

Harapan yang sama juga disampaikan oleh Aloysius Woda (43) Kepala Desa Tani Woda. Ditemui dirumahnya yang sangat sederhana (lantai tanah, dinding bambu dengan satu kamar tidur). Beliau menyatakan sangat bangga dengan upacara yang baru dilangsungkan. Partisipasi masyarakat sudah terlihat jauh hari sebelum memasuki tujuh hari rangkaian menuju hari puncak. Masyaralat desa setempat telah melakukan berbagai persiapan.

Sebagaimana dijelaskan Geradus Baba (adik kandung mosalaki pu'u) swadaya masyarakat mengumpulkan uang sebanyak tiga juta rupiah untuk menyewa alat berat Dinas Kimpraswil. Dengan dukungan pemerintah ini dilakukan perbaikan dan pelebaran jalan dan pemasangan bambu (berfunghsi sebagai pipa) dari sumber air di ketinggian bukit sampai masuk Ratenggoji. Diharapkan mosalaki pu;u, pipa dapat dibuat permanen dengan kerja sama pemerintah dan masyarakat melalui pemimpin adat mereka.

Menurut para mosalaki, penting sekali pemerintah mengetahui struktur kelembagaan adat masyarakat setempat. Apalagi peran dan fungsi mosalaki terutama berkaitan dengan tanah, hukum adat, dan ritual adat yang yang menyatu dengan sistem sosial masyarakat dengan latar belakang budaya agraris tradisional. Berbagai aturan hukum dan kearifan lokal mesti menjadi bagian dari pertimbangan kebijakan pembangunan. Apalagi jika pembangunan mengutamakan masyarakat sebagai subyek.

Eksistensi mosalaki pu'u, ria bewa, mosalaki, dan segenap perangkatnya, serta masyarakat umum dari Lise Tana Telu diharapkan dapat menjadi satu kekuatan kerja sama pembangunan. Baik kerja sama sesama warga masyarakat adat Lise Tana Telu, maupun kerja sama dengan pemerintah.

Demikianlah, kebudayaan memampukan orang mampu untuk menyesuaikan diri dengan topografi alam serta lingkungan sosial tempatnya menjalani hidup. Kebudayaan - seperti dijelaskan Prof. Dr. Soerjono Soekanto-, bervariasi, terwujud dalam lembaga-lembaga, pola berpikir, dan benda-benda. Kebudayaan mencakup semua unsur yang didapatkan oleh manusia dari kelompoknya, dengan jalan mempelajarinya secara sadar atau dengan suatu proses penciptaan keadaan-keadaan tertentu.

Lise Tana Telu adalah bagian dari kebudayaan yang masih hidup dan terjaga dengan baik di tengah geliat modernisasi. Mudah-mudahan akan tetap hidup dan terpelihara untuk membangun masyarakat Lise Tana Telu sendiri (habis/maria matildis banda)

Wake Laki Lise Tana Telu (3)

Korban adalah sebuah nilai hidup

Merumuskan sebuah teori masyarakat budaya Lise Tana Telu dapat dimulai dari tradisi yang berkembang dan masih bertahan hingga saat ini. Para antropolog memiliki logika ilmu sendiri untuk merumuskan dengan realitas masyarakat.

Namun masyarakat juga memiliki logika tersendiri yang hadir secara turun-temurun. Realitas yang ada dalam masyarakat Lise Tana Telu bukan realitas teoritis melainkan realitas yang hadir secara riil, di tengah jatuh bangunnya masyarakat lokal (petani) mempertahankan hidup dan berusaha hidup layak dari sisi ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

Dalam kondisi sosial budaya yang amat kompleks bersama lembaga adat, tradisi, dan masyarakat adat mempertahankan jati diri, masyarakat adat Lise Tana Telu menghadirkan kembali jati dirinya.

Pengakuan inilah yang mungkin juga melampaui analisis tokoh-tokoh antropolog dan sosiolog yang berusaha berbicara obyektif tentang kehidupan sebuah kelompok etnis, namun tidak dapat mengatakan semuanya.

Dalam wilayah yang begitu luas dan membutuhkan kepastian hukum tertulis, mereka memiliki "kelisanan" yang diyakini hanya dengan menyebutkan ulu soe endo mbawe - eko take tola ndale artinya kepala di Pantai Endo Mbawe (Kota Baru), ekor di Lia Tola (Watuneso) secara hukum adat sudah menggariskan bahwa Lise Tana Telu terbentang dalam tiga wilayah Tana Lise, yaitu Lise Nggonde Ria dari Wololele A sampai pantai Lia Tola, Lise Lowo Boro dari Wololele B sampai Nua Tu , dan Lise Kurulande dari Kelisoke sampai Kota Baru pantai Lio Utara. Pada hari nggubhu luka, kebersamaan sejarah dan asal usul kekerabatan Lise Tana Telu dipersatukan.

Darah kuda, bagi boge, dan ikatan dengan leluhur

Setelah acara nggubu luka dan podi lesu ini, pesta mesti dilengkapi dengan jara nai hanga (kuda dibawa/dinaikan ke hanga) untuk dilakukan acara taga jara (penyembelihan kuda). Darah kuda ini dibiarkan tersiram membasahi hanga sebagai simbol korban dan perjuangan para leluhur pada masa lalu yang telah berperang untuk mendapatkan Lise Tana Telu.

Siraman darah pun menunjukkan restu leluhur pada mosalaki pu'u agar mau berkorban dalam tugas-tugasnya. Daging kuda akan dibagi-bagikan dalam acara bagi boge atau pembagian daging kepada ria bewa, mosalaki, dan boge hage untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing. Dalam kenyataannya di Ratenggoji bukan kuda yang disembeli di hanga, tetapi seekor sapi.

Seperti dijelaskan Daniel meskipun yang disembelih bukan kuda tetapi sapi, mereka harus menyebutnya "taga jara". Hal ini secara simbolis mengingatkan mereka akan peristiwa masa lampau, dimana para leluhur menaklukan atau menguasai Lise Tana Telu dengan menggunakan kuda sebagai sarana transpotasi utama. "Daging kuda" inilah yang selalu dipersembahkan kepada leluhur dalam setiap kesempatan upacara adat, kendati yang disembeli selain sapi, juga kerbau, babi, atau ayam.

Hal ini hampir sama dengan penyembelihan kaba manu (kaba= kerbau, manu = ayam) untuk dipersembahkan kepada leluhur dalam masyarakat adat Ngadha (kabupaten Ngada). Ayam dipakai sebagai simbol untuk mengatakan kerbau.

Daging ini sebelum dimakan, dipersembahkan terlebih dahulu kepada segenap leluhur Lise Tana Telu yang telah berjuang mempertahankan tana Lise pada masa lampau. Pembagian daging ini dilakukan sebagai berikut. Dua orang mosalaki ria bewa mendapat satu ekor babi yang dibelah dua (kela rua) sama besar dari kepala sampai ke ekor.

Para mosalaki mendapat daging boge (potongan besar), dan para boge hage mendapat boge bhoko (boge dengan potongan lebih pendek). Kami melihat Daniel sendiri yang membagi-bagikan daging dalam acara bagi boge ini. Setiap nama yang seharusnya menerima, dicatat agar tidak ada yang terlewati.

Daging yang dibagikan dalam bagi boge dibawa pulang untuk diolah atau dimasak dalam keluarga masing-masing. Dengan demikian "makan bersama" segenap masyarakat Lise Tana Telu setelah nggubhu luka diselenggarakan secara luas, dalam bagi boge sebagai simbol.

Di samping itu, bagi boge ini juga menunjukkan bahwa "pesta syukur" nggubhu luka diyakini oleh segenap mosalaki, bogehage, fai walu dan ana halo, serta segenap lapisan masyarakat Lise Tana Telu. Makan bersama adalah puncak sebuah perjamuan. Demikian pula boge hage yang dilanjutkan dengan makan bersama di "rumah masing-masing" menunjukkan sebuah titik puncak yang lain dari persekutuan Lise Tana Telu.

Catatan historis dan dukungan masyarakat

Eksistensi mosalaki pu'u Lise Tana Telu secara historis tampak dari partisipasi warga adat Lise Tana Telu. Seperti dijelaskan Yustinus Wae (28) pada hari nggbhu luka. "Kami dari wake laki (calon mosalaki), gawi sepanjang malam." Warga kampung Mbe'i Ndori ini bersama kawan-kawannya berjalan kaki pp ke Ratenggoji untuk gawi bersama, memberi dukungan menjelang pesta.

Begitu pula Lambertus Lea (30) warga Nua Baru, Sebas Mode (37) dari Nua Wika, bersama sejumlah besar warga Lise Tana Telu yang dijumpai sepanjang jalan menuju Ratenggoji. Semua mereka menjelaskan hal yang sama. Mereka pergi wake laki, memberi dukungan kepada calon mosalaki yang keberadaanya diakui secara turun-temurun.

Pada malam hari diadakan tarian gawi bersama dengan irama lagu dan hentakan kaki. Acara ini untuk memberitakan persatuan dan kesatuan warga yang boleh diketahui seluruh penghuni jagat raya baik yang berada di langit, di bumi, dan di bawah bumi tentang sebuah upacara pelantikan mosalaki pu'u, pemimpin adat tertinggi Lise Tana Telu.

Pengakuan masyarakat mengenai pemimpin adat mereka adalah barometer utama. Dukungan moril dan materil sejak persiapan upacara antara lain, usaha memperbaiki jalan raya menuju Ratenggoji. Satu-satunya jalan dalam medan berat, berbatu-batu, selebar satu badan kendaraan roda empat itu diperbaiki dengan swadaya masyarakat Lise Tana Telu. Bersama Daniel Bheto Dedo, segenap lapisan masyarakat (fai walu ana halo) dan guru di kampung Nua Wika mengumpulkan uang sebesar Rp. 3000.000.

Uang itu dipakai menyewa alat berat milik pemerintah, Dinas Kimpraswil Kabupaten Ende, untuk memperbaiki bagian-bagian jalan yang rusak parah (longsor pada musim hujan yang lalu). Masyarakat memberi dalam kekurangan mereka, agar jalan yang selama ini putus total, bisa dilewati kendaraan. Masyarakat mungkin saja mengeluh dalam diam dan kekurangan mereka dengan harapan mudah-mudahan perhatian pemerintah untuk pengerasan jalan ke Ratenggoji dapat segera terwujud.

Apa yang terjadi di Ratenggoji desa Tani Woda Kecamatan Kota Baru Kabupaten Ende, tepatnya di Lise Tana Telu mengedepankan sebuah harmoni antara dunia mikro (Lise Tana Telu) dan dunia makro (jagat raya/atau yang lebih luas dari Lise Tana Telu).

Mereka adalah bagian kecil dari keseluruhan hidup pada jaman modern ketika perhatian segenap komponen masyarakat tertuju pada kursi DPR, DPRD, DPD, pada suksesi dari tingkat lurah, camat, bupati, gubernur, bahkan presiden.

Mereka berusaha eksis dalam melaksanakan keyakinan tradisi yang jauh dari pikiran-pikiran pragmatis kedudukan dan pemerolehan keuntungan finansial. Mereka menjalankan apa yang mestinya dijalankan. Rasa hormat pada leluhur, kesetiaan pada pore jaji (sumpah adat) dan sejarah masa lalu leluhur ditampilkan dengan tepat (bersambung/maria matildis banda).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes