Woda Rasi, Tokoh Kebanggaan Ata Lise

Dion Dosi Bata Putra
KAMI anak cucunya di Suku Lise (Lio - Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur)  sangat akrab dengan nama tokoh ini. Di masa kecil, ketika bangun pagi sambil memanggang diri di perapian guna mengusir dingin, orang-orang tua selalu menceritakan tentang sosok Woda Rasi. Juga dalam berbagai acara kalau sedang kumpul banyak orang. Woda Rasi menjadi buah bibir dan bahan cerita tutur turun temurun.

Menurut ayahku Thomas Bata tokoh ini patut dicatat khusus dalam sejarah orang Lise, siapa pun Anda. Dialah yang memiliki dan menguasai lahan tanah persekutuan sangat luas di wilayah Lise.

Warga Kecamatan Lio Timur dan Kota Baru  dan sebagian Wolowaru adalah anak cucu Woda Rasi atau kerap juga disebut Woda Kumi Merah. Disebut demikian karena Putra Bungsu Rasi Leu tersebut  kumisnya berwarna kemerah-merahan seperti rambut jagung.

Walaupun anak bungsu dari enam bersaudara putra Rasi Leu, Woda dikenal sebagai petualang yang berani. Dia juga memiliki kemampuan berperang dengan suku atau kampung yang lain. Kemampuan berperang ini pula yang membuat Woda Rasi memiliki lahan pertanian sangat luas yang dikenal dengan julukan: Eko Take Tola Ndale - Ulu Soe Endo Mbawe. 

Artinya, ekor atau ujung tanah Woda Rasi adalah Tana Tola (Lia Tola) dan Mau Ndale di pantai selatan Flores dan kepala tanahnya di Tana Endo dan Mbawe di pesisir utara Pulau Flores.   Agar kau tidak bingung, Tola Ndale itu letaknya di wilayah Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini. Sedangkan Endo Mbawe lokasinya di Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Ende.

Tanah Woda Rasi itulah yang dia wariskan secara turun-temurun kepada anak cucunya Ata Lise sampai sekarang. 

Woda Rasi memiliki tiga orang putra yakni Wangge, Mbete dan Senda. Generasi ketujuh sejak kedatangan dari Malaka ini bermukim di Kampung Nua Tu yang menjadi kampung besar pertama seluruh orang Lise.

Kampung Nua Tu kini masih ada dan masuk dalam teritori Desa Lisedetu, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Menurut penuturan ayahku serta sejumlah mosalaki di persekutuan Lise Tana Telu, sejak zaman  Lio Laka sampai dengan generasi kedelapan yaitu Woda Mbete dan lima saudaranya, keturunan Woda Rasi bermukim di Kampung  Nua Tu tersebut.

Pada generasi kesembilan sejak kedatangan dari Malaka, seiring dengan pertambahan populasi penduduk, anak Woda Mbete masing-masing Tani, Mbete, Dosi, Senda, Kewa dan Kemba, lokasi pemukiman makin menyebar ke utara, timur dan selatan. Hal ini dapat dimengerti karena pada masa itu mereka berkebun dan berburu lalu mulai membangun pondok tinggal di kebun atau daerah sekitar kebunnya.

Itulah cikal bakal adanya perkampungan baru. Tani Woda dan keturunannya memilih tinggal di Rate Nggoji (masuk wilayah Desa Tani Woda, Kecamatan Kotabaru sekarang), Mbete Woda di Wololele A, Dosi Woda di Mulawatu (desa Fatamari, Kecamatan Lio Timur), Senda Woda atau Senda Lo'o memilih kampung Ranggatalo, Kewa tinggal di Wolomage, Desa Fatamari, Lio Timur.

Sejak generasi kesembilan ini pemukiman menetap dan bertahan  turun-temurun sampai sekarang. Jika hitungan satu generasi berperiode 60 tahun misalnya, maka generasi kesembilan orang Malaka (orang Lise) sekitar tahun 900 atau 1.000 atau abad ke-10. Karena itu perkampungan di wilayah Lise umumnya berusia tua. Demikian pula dengan warisan dan peninggalan nenek moyang yang lestari sampai sekarang.

Peninggalan nenek moyang yang masih ada sampai sekarang, beberapa bisa disebut di sini. Bhaku Rate (rumah kecil tempat menyimpan peti tulang-belulang nenek moyang), Hanga (halaman rumah atau lapangan, tempat digelar pesta adat syukur atau menang perang). One ria tenda bewa (rumah besar tempat tinggal mosalaki/ria bewa).

Sue wea (emas 24 karat) dalam beragam bentuk dan motif dan gading gajah. Gading dalam kepercayaan orang Lise bisa beranak pinak. Karena itu, para gadis dilarang keras tidur di rumah adat yang menyimpan gading. Kalau larangan itu dilanggar, si gadis akan dikawini oleh gading tersebut. Pembuktian keyakinan ini agak irasional tetapi masih diyakini hingga kini. Masih banyak kisah yang  akan kurekam dan kucatat untuk dibagikan kepada siapa saja terutama saudara-saudariku sesama keturunan Woda Rasi. Salam Lise! *

Di sini kutulis tentang asal-usulku. Juga kucatat penggalan-penggalan kisah leluhur. Aku bagian dari darah daging mereka yang ada dan mengalir adanya hingga anak cucu Lise mendatang.

Dion Dosi Bata Putra
Embu Woda, Ana Mbete, Wewa Tani Woda, Mamo Ngaba Tani, Benge Dede Dosi, Putra Bata. Gelombang yang tiada henti bergelora dalam arus zaman.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes