Kefa

MUNGKIN kejadian ini telah sirna bersama sang waktu, dilupakan atau luput dari perhatian karena dipandang wajar dan biasa-biasa saja. Di suatu kabupaten hasil pemekaran di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pemerintah daerah amat bersemangat dalam membangun. Mereka bangun dua kantor bupati sekaligus. Waw!

Setelah mekar dari kabupaten induk dan mendapat wewenang mengurus dapur sendiri, pemerintah daerah itu bangun kantor bupati. Sesuai ketentuan yang berlaku bupati pertama tak lama memimpin. Saat dia pergi, kantor bupati nan megah itu belum tegak berdiri. Bupati kedua berjubah diksi definitif tampil lebih percaya diri karena rakyatlah yang memilih. Bukan melanjutkan pembangunan kantor yang belum rampung, bupati baru justru bangun kantor baru. Letaknya pun persis di samping kantor terdahulu. Tercatatlah dalam sejarah Flobamora, dua bupati dua kantor. Hebat ko!



Kampung besar ini memang ganjil tuan dan puan. Keganjilan tidak berhenti di situ. Di kabupaten lain lagi seorang bupati membangun dua kantor. Yang satu dipakai, yang lain tegak berdiri bersama ilalang, dihuni cecak, tikus, kalajengking dan ular. 



Lebih top lagi rumah jabatan pemimpin di ibukota propinsi, megahnya bukan main. Jika kita menganut sistem kerajaan, rumah itu pantaslah disebut istana. Istana berdinding putih dengan halaman luas dan landai. Istana itu dibangun dengan dana miliaran rupiah dari APBD. Rancang bangunnya indah tiada tara. Nasibnya sungguh luar biasa, kawan. Sejak selesai dibangun dia berubah nama menjadi rumah hantu. Pemerintah kota propinsi dengan bangga mencacatnya sebagai aset daerah. Jadi, siapa bilang beranda Flobamora miskin papa? Buktinya kita sangat kelebihan uang sehingga uang lebih tersebut dialokasikan dengan riang untuk membangun rumah hantu nan megah. Ko Kupang na!

Ikhwal membangun gedung baru kita memang piawai. Urusan merawat dan memelihara, nol besar. Begitulah tuan dan puan, antara lain pernak-pernik zaman pemilu kada. Pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah oleh rakyat Indonesia secara langsung, umum, bebas dan rahasia. Semenjak otonomi daerah bergulir diikuti maraknya pemekaran wilayah serta pemilu kada kian banyak saja keganjilan di sekitar kita. Sandiwara politik berjingkrak-jingkrak menguliti etika dan moral. Dan, dendam kesumat membara hingga tujuh turunan. 

Atas nama dendam kantor lama tak dirawat. Karena dendam pula fasilitas negara dibiarkan merana. Gedung pemerintah mubazir dianggap bukan tragedi di ini negeri yang membangun saban tahun dengan utang tujuh turunan. Kelewat biasa hingga kita buta mata. Jangan-jangan kebakaran kantor pemerintah di kampung besar Flobamora terdorong spirit yang sama jua. Yang sudah ada dibumihanguskan biar ada alasan bangun baru. Ada proyek baru. Atau bakar kantor demi menghilangkan jejak buruk, dugaan korupsi kelas kakap misalnya? Walahualam.

Alam pemilu kada sungguh menyesakkan dada. Pemilu tiba kemesraan menebar, tawa berderai. Orang ramai berdua-duaan, makan sepiring, tidur sebantal, susah dan senang sama-sama nikmat. Tahun pertama asyik-masyuk berbulan madu. Tahun kedua tidur bertolak punggung, tahun ketiga tak lagi seranjang, tahun keempat pisah rumah, tahun kelima ini dadaku, mana dadamu. Lu jual beta beli. Siapa takut? Tentu beta tidak memungkiri pasangan yang akur sampai akhir bahkan tetap sehati sesuara hingga periode kedua. Tapi jumlah mereka langka nian di beranda Flobamora. Bisa dihitung dengan jari.

Setiap musim pemilu kada tiba, saudara-saudariku anggota Korpri sebagai salah satu dari lima kekuatan sosial politik di negeri ini merasa terjebak dalam pusaran memabukkan. Cukup sering harus makan buah simalakama. Tidak makan ayah mati, kalau makan ibu mati. Maka mereka memilih jalan derita ini, daripada basah lebih baik mandi sekalian. Mau hancur ya hancurlah. Anggota tim sukses kemudian menjadi "tupoksi" baru pegawai negeri sipil (PNS) sejak pemilu kada langsung bergulir tahun 2005. Nonsense prinsip PNS itu netral. 

Setahun atau dua tahun menjelang musim pemilu kada, PNS terutama mereka yang menduduki jabatan strategis untuk mendulang suara mulai terkotak-kotak, mendukung si A yang sedang berkuasa atau melirik figur lain yang dianggap lebih berpeluang menang. Suasana lazimnya makin membara manakala bupati dan wakil bupati terlibat rivalitas. Kasak-kusuk di lingkup birokrasi pun kurang lebih berdengung demikian. Eh, dia itu orangnya pak bupati. Kalau yang ini jangan korek bung. Maklum tim sukses pak wakil...

Menjelang pemilu kada hampir seluruh gerak pejabat birokrasi selalu dihubung-hubungkan dengan pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Jika dianggap sudah tidak sejalan lagi dengan yang sedang memimpin, bukan mustahil akan terkena mutasi. Dinonjobkan. Sebaliknya bila tuan dan puan tetap setia pasti disanjung dan dimanja-manja. 

Begitu hebatnya sanjungan sampai-sampai si bos tutup mata meski tuan yang memimpin SKPD tertentu gagal total melayani masyarakat. Tim sukses kok dilawan. Tidak penting penilaian berbasis kinerja yang kencang digaungkan di mana-mana. Lebih dari itu energi birokrasi nyaris tersedot habis untuk pesta demokrasi. Begitu kuatnya semangat menyedot sampai-sampai kas daerah kosong melompong dan pemerintah tidak malu meminjam dana dari pihak ketiga. Mereka tetap menyebut ini peristiwa bermartabat. He-he-he...

Aneka keganjilan tidak cuma terjadi menjelang pemilu kada. Pasca pemilu kada pun setali tiga uang. Mutasi biasanya menjadi pekerjaan pertama pasangan pemenang. Prinsip yang mereka anut adalah: babat, gusur dan sikat. Babat semua lawan politik. Gusur semua yang tidak mendukung. Sikat siapa pun yang bukan orang kita. 

Pasca pemilu kada mereka yang menang tertawa ngakak. Yang kalah perang gundah gulana. Yang masuk tim sukses paket pemenang naik pangkat, raih kedudukan. Anggota tim sukses yang "tidak sukses" masuk kotak. Lalu, bagaimana menurut tuan dan puan peristiwa hangat yang kini menggegerkan Kefa, ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara? Maaf, beta no comment saja.

Hari-hari ini Flores Timur dan Lembata bersibuk ria menyiapkan diri menuju hari puncak pemilu kada. Beta ingat kata-kata seorang teman di Senayan. Politikus itu wataknya sama di mana-mana. Mereka merasa boleh bohong dan boleh salah. Pilih pemimpin atau politikus. Terserah tuan dan puan. Kalau mau ditipu pilihlah politikus. Salam babat, gusur dan sikat. Hai Flobamora, kita hidup di zaman batu atau iPad ya? (dionbata@yahoo.com) 

Pos Kupang, Senin 9 Mei 2011 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes