Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Tulisan yang Merindu


Oleh Dion DB Putra

MENJAHIT fakta sosial dalam nada dan langgam yang indah, dalam cara rupawan. Mencubit  tanpa meninggalkan sakit hati. Keras menghela tanpa melukai, mencandai realitas tanpa hujat mempermalukan.

Itulah sosok Marsel Robot. Guru, pendidik dan terutama dia seorang penulis cerdas dan piawai. Pejuang kata sepanjang hidupnya yang menghibur, membesarkan hati dan menawarkan harapan bagi sesama ciptaan Tuhan.

Maka membaca tulisan Marsel Robot selalu menarik rindu. Rindu untuk baca dan baca lagi. Sang penulis jauh dari menggurui. Dia hanya bercerita dan sidang pembaca menikmati cerita itu lalu meresapi dan  memahami pesannya. Pesan renyah gurih yang merasuk jauh hingga ke sumsum, otak dan hati.

Menggerakkan batin  untuk introspeksi dan terus bertanya. Menggugat. Mempertanyakan lagi. Siapakah diriku. Siapakah sesamaku manusia?  Apa dan bagaimana seharusnya bersikap menghadapi fakta sosial budaya agar adab hidup lebih bermartabat, agar tata dunia baru sungguh adil bagi semua.

Coretan tangan Marsel Robot senantiasa telanjang menghentak kesadaran. Gemas menggaruk ingatan bahwa di kolam kehidupan ini janganlah dikau sekadar memancing atau menatap birunya langit, tetapi bergeraklah lebih  dalam untuk menggapai makna kehidupan yang lebih hakiki. Berilah kontribusi, tidak cuma kata manis di bibir.


Buku ini memang hanya menceritakan tentang secuil  kegelisahan sosial di  aula
sejarah. Itu kata sang penulis. Temanya lahir dari situasi tertentu dan dibesarkan dalam konteks-konteks  tertentu pula. Aromanya berganti bersama musim namun senantiasa merajam nalar dan rasa. Marsel Robot membawa pembaca bukunya ke suatu masa, menyajikan pesan galau, gelisah dan ceria dalam selimut kesadaran reflektif, introspektif, aksi.

Buku ini sungguh sebuah aula sejarah nan kaya, setidaknya dalam dua dekade terakhir. Marsel merekam, mencatat dan meramunya dengan apik. Mulai dari masalah  politik, sosial budaya, sastra, pendidikan hingga soal ekonomi dan infrastruktur dasar kebutuhan masyarakat.  Dari Sebutlah Presiden Kita Ini: Ibunda Si Mulut Sunyi  hingga Manggarai Timur, Sepanjang Jalan, Aku Retang Bao.  

Susur sejarah artikel karya Marsel mempertemukan lagi pembaca dengan  Opera Osama Bin Laden, kisruh Ambon Manise, Ambon Menangise, Sidang Tahuan DPR-MPR juga sentilan bagi Pers sebagai Lembaga Politik. Kadang bikin ngakak terkekeh, juga pilu menikmati sentilan nan satir.

Sebut misalnya Tuhan Yesus: Keluar Gereja Naik Bemo, Mengecup Kening Manggarai pada Peristiwa Lonto Leok, Adegan Pembangunan di Tepi Lapangan, Selamat Datang Manggarai Timur, Selamat Datang Kesedihan, Tentang Wajahmu di Tikungan Itu,  Gayus dan Menara Pasir  atau Parodi Kontekstual Ahok.

Hebatnya lagi, Marsel Robot ogah tergoda membuat benang merah. Silakan tuan dan puan menautkan sendiri peristiwa itu dalam konteks waktu tertentu. Begitulah sejatinya sifat buku. Dia hanyalah sebuah undangan kepada sidang pembaca untuk menyusuri parit-parit yang mengalirkan fakta agar dapat menemukan   sumber  kegalauan  sosial,  kemudian menarik simpul sendiri.

Watak buku pun sama dari waktu ke waktu, dari purnama ke purnama. Buku  ibarat jendela  yang memberi ruang kepada siapa saja boleh melongok memandang  dalam langgam kaya perspektif.

Baca buku ini jadinya sungguh asyik. Tuan bebas memilih topik sesuai selera. Marsel Robot tidak meminta pembaca untuk misalnya harus baca dulu artikel M untuk memahami artikel N. Sebab, masing-masing artikel hadir dengan cara dan sejarahnya.

Marsel mewarisi spirit intelektual sejati. Penulis yang rendah hati. Dosen dengan banyak pengagum ini menyadari sungguh tulisannya secara substansial hanya segepok ringkasan kegelisahan sosial yang dipandang amat subjektif dengan horison pengetahuan cuma seluas testa. Antena diskursiflah yang menangkap riuh-rendah di aula sejarah.
Dengan begitu sang penulis mengajak siapa pun untuk berdiskusi, mengkritisi pikiran, gagasan dan argumentasinya.  Berbeda pandangan  adalah lumrah. Justru menjadi humus penyubur daya  kritis yang memang dibutuhkan dalam menyikapi dialektika sosial.  Benar adanya, pembaca pun diuntungkan dari pertengkaran yang merimbunkan pengetahuan tersebut.
Tidak banyak penulis cerdas menghantar makna dalam cara bercanda. Guyonan memukau. Mencumbui realitas tanpa kehilangan selera humor. Marsel Robot adalah pengecualian karena memiliki kemampuan itu.  Masalah politik, ekonomi dan sosial budaya yang pelik dan rumit  diraciknya sedemikian rupa menjadi bahan bacaan yang cair menyegarkan.
Membaca tulisannya tidak membuat dahimu berkerut apalagi sampai pening kepala. Bahasanya selalu bikin kangen. Saya mengenal sejumlah penggemar setianya yang selalu minta informasi manakala Pos Kupang mempublikasikan artikel Marsel Robot. "Tolong beritahu kalau dimuat, saya mau beli Pos Kupang yang ada tulisannya itu. Sejak dulu saya koleksi tulisan-tulisan Pak Marsel," kata seorang fansnya,
Tidak mengherankan memang. Hal ini terjadi karena Marsel Robot merajut  artikel-artikelnya dalam gaya bahasa  gaul. Tulisannya bisa dipahami dengan baik oleh anak milenial hingga opa dan oma. Tuan dan puan tidak hanya boleh melibatkan pikiran tetapi juga melegokan perasaan. Silakan masuk ke lokus logika, mengendap ke dasar  palung rasa, dari testa terus ke rasa. Duhai indahnya!
***
SEBUAH kehormatan bagi saya  ikut berkata-kata sedikit mengenai isi buku di tangan Anda ini. Maklumlah beliau guru saya. Pembimbing yang telaten dan super sabar tatkala kami baru belajar merangkai kata dan kalimat.

Kami mengenalnya sejak penghujung 1980-an, terutama karena pesona tulisannya yang sudah menghiasai berbagai koran dan majalah lokal, regional dan nasional. Sebut di antaranya Mingguan Dian, Mingguan Asas, Simponi,  Swadesi, Harian Bali Post, Harian Nusra dan lainnya.

Ketika saya masih mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, beliau sudah menjadi dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendikan Undana.

Saya dan teman-teman seangkatan seperti Viktus YK Murin, Anton Gelat, Mezra E Pellondou, mengaguminya. Nama besarnya sebagai penulis tak membuatnya jumawa. Dia dengan rendah hati mau berbagi. Mendidik dan mengajarkan kami tentang dunia tulis-menulis.

Dia guru dan pendidik bertangan dingin. Tak sedikit muridnya yang sukses menjadi jurnalis dan penulis dengan reputasi baik. Sebagian menjadi sastrawan, bintang teater dengan karya monumental. Sampai detik ini dia pun masih menjadi guru, pendidik dan sahabat para muridnya.

Terima kasih ka'e (kakak) Marsel Robot. Guru bagi banyak orang. Semangat menulisnya tak pernah padam. Takkan bosan bertengkar dengan kenyataan.

 Spririt luar biasa itu tersembul molek di bagian akhir kata pengantarnya,  "Andalah yang menyuruh saya untuk menghampiri jendela, mengusap senja, mereken gerimis yang menerpa di palkah. Sedangkan  di daratan yang jengang  itu, saya diminta untuk menepi, ambil biola memuja  kenyataan yang tak pernah menyentuh dan  merindu."

Kupang, medio Agustus 2018
Dion  DB Putra
Wartawan Pos Kupang


Info Buku

Judul: Ringkasan Kegelisahan Sosial di Aula Sejarah

Penulis: Marsel Robot

Penerbit: Dusun Flobamora, Oktober 2018

Efek Tuan Rumah HPN bagi Nusa Tenggara Timur

Oleh Tony Kleden
Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Provinsi NTT, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah Kabar NTT

UNTUK apa  menjadi tuan rumah suatu even? Atau apa untungnya menjadi tuan rumah suatu hajatan, apalagi hajatan skala besar?

Data-data memperlihatkan begitu banyak untung yang bisa diraih  suatu daerah atau negara ketika menjadi tuan rumah sebuah even. Pada Piala Dunia Sepakbola, misalnya,  banyak negara berlomba-lomba menjadi tuan rumah, meski disadari begitu banyak uang yang harus digelontorkan menyiapkan banyak fasilitas untuk menjadi tuan rumah.

Brasil mengeluarkan dana sekitar 200 triliun rupiah memperbaiki dan membangun fasilitas penunjang ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia Sepakbola 2014. Afrika Selatan harus menghabiskan 28 miliar rand  (1 rand = 1.100 rupiah) ketika tampil sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010. Dana sangat banyak dibutuhkan untuk menyiapkan berbagai fasilitas  yang perlu untuk mendukung sebagai tuan rumah.


Ketika Kupang menjadi tuan rumah  peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2011, banyak sekali orang yang ragu dan cemas. Entahkah Kupang  siap menjadi tuan rumah untuk even sebesar HPN? Apakah sarana dan fasilitasnya menunjang? Hotel-hotelnya cukup untuk menampung ribuan tamu dari seluruh Indonesia?

Sampai dengan tahun 2011, saat penyelenggaraan HPN Kupang, sarana penunjang seperti hotel, hall atau ruang pertemuan skala besar di Kupang masih bisa dihitung dengan jari. Hotel berbintang cuma dua, selebihnya hotel melati.  Hall atau aula untuk pertemuan skala besar masih sulit. Singkatnya, dilihat dari fasilitas penunjang Kupang sepertinya jauh dari harapan.

Itu sebabnya, pada rapat-rapat awal membahas persiapan menjadi tuan rumah, ada suara yang menolak Kupang menjadi tuan rumah HPN. Malu-malu saja, begitu pendapat segelintir orang.
Tetapi Pemda NTT sudah bertekad bulat. Kupang  harus jadi tuan rumah, apa pun yang terjadi dan seperti apa pun juga kondisinya. Panitia pelaksana dibentuk dan mulai bekerja. Fasilitas yang belum ada diadakan, yang kurang dan rusak diperbaiki. Maka banyak dana dialokasikan Pemda NTT untuk menyukseskan HPN Kupang. Masyarakat dari berbagai elemen dilibatkan.

Pengusaha hotel, pemilik restoran, gerai kerajinan dilibatkan untuk menyukseskan HPN Kupang.
Sejujurnya harus diakui bahwa sebelum diselenggarakan HPN Kupang, image tentang Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya tentang Kupang, masih minor. NTT miskin, terkebelakang, susah maju. Kupang sangat jauuhh.. Ada yang mengira Kupang lebih jauh dari Ambon jika dilihat dari Jakarta.

Gambaran, image miring seperti ini wajar dan masuk akal,  karena NTT, Kupang jarang tampil dan ditampilkan di pentas nasional. Kecuali sektor olahraga, khususnya yang berurusan dengan adu otot seperti tinju, kempo, karate dan atletik, NTT jarang berkibar di tingkat nasional.
HPN Kupang kemudian  dianggap sebagai saatnya menunjukkan kepada dunia luar bahwa NTT bisa, bahwa Kupang juga bisa menjadi tuan rumah. Ada target jangka  panjang yang ingin dicapai menjadi tuan rumah. Dengan kata lain, dengan serba keterbatasannya, Pemda NTT ingin menjadikan HPN Kupang sebagai kesempatan memperbaiki image, menaikkan pamor NTT di mata dunia luar dan menciptakan merek. Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya selalu mengingatkan, NTT boleh dibilang miskin, tetapi kalau sudah menjadi tuan rumah, jadilah tuan rumah yang baik. Jangan sekali-kali membuat tamu kecewa di Kupang.

Jika semangatnya seperti ini, maka targetnya adalah branding. Dalam ilmu pemasaran, merek itu sangat penting dan vital. Orang pemasaran menjadikan merek itu branding. Terjemahan lurusnya cap. Cap, itu sederhana sekali, tapi manfaatnya luar biasa. Ijazah seseorang tidak diakui kalau tidak ada cap. Semua surat penting baru resmi dan legal kalau ada cap.

Dengan cap atau merek itulah sesuatu dikenal. Para sales  menjual sebuah produk dari mereknya. Merek itu membentuk brand image. Dengan brand image itulah sesuatu produk dikenal, dicintai dan diminati.

Semua sabun mandi fungsinya sama, yakni membersihkan badan. Tetapi mana ada sabun mandi yang mampu mengalahkan lux? Pasta gigi, tak ada yang mampu menyaingi pepsodent.
Kerabat saya yang bekerja di Zaire punya cerita menarik. Di Zaire, Indonesia dikenal dari sabun giv. Sabun mandi ini kalah pamor dengan merek sabun mandi lain yang dianggap lebih berkelas seperti lux, dethol, lifebuoy, camay  di Indonesia. Tetapi giv sudah punya merek di Zaire.

Sepuluh tahun lalu, nokia menguasai pasaran handphone di jagat ini. Sekarang samsung mengambil alih. Kualitas produk, nokia lebih unggul. Yang tidak unggul dari nokia adalah lemahnya pencitraan yang menjatuhkan brand image-nya. Mereka yang menggunakan HP nokia dianggap `jadul', jaman dulu. Sebaliknya mereka yang menggunakan HP merek samsung dianggap pintar `jaim', jaga image.

Dilandasi semangat seperti itulah Kupang akhirnya menjadi tuan rumah HPN 2011 dengan segala kelebihan dan terutama kekurangannya. Kekurangan fasilitas diimbangi dengan pelayanan yang baik kepada semua tamu.  Ibu gubernur yang sekaligus sebagai Ketua Dekranasda NTT tak mau malu menjadi tuan rumah. Kepada semua tamu yang datang dihadiahi sarung tenun ikat khas daerah-daerah di NTT.

Boleh dibilang, HPN Kupang cukup bagus. Terbukti Presiden SBY dalam pidatonya pada HPN tahun berikutnya di Jambi tiga kali menyebut penyelenggaraan HPN Kupang sebagai HPN yang cukup berhasil. Pada HPN 2013 di Manado, sukses HPN Kupang masih disebut-sebut sejumlah rekan wartawan dari daerah lain.

Efek yang diperoleh
Pertanyaan penting selanjutnya, apa efek menjadi tuan rumah HPN di Kupang? Beberapa efek nyata bisa disebut. Pertama, perubahan luar biasa terjadi dengan pembangunan sejumlah fasilitas umum di Kupang pasca HPN 2011. Geliat pembangunan di Kupang sangat terasa dan terlihat di mana-mana. Ruko menghiasi jalan umum. Restoran  serba rasa dengan aneka menu menjamur. Hotel berbintang dan melati dibangun menjulang membelah angkasa.

Kedua, di  sektor transportasi udara. Arus manusia yang datang dan pergi melalui bandar udara meningkat tajam. Maskapai penerbangan menambah frekuensi terbang. Saat ini, jumlah penumpang yang datang dan pergi melalui Bandara El Tari Kupang sekitar 4000-5000 orang setiap hari. Jumlah ini belum termasuk bandara-bandara di Pulau Flores, khususnya Bandara Frans Seda di Maumere dan Bandara Komodo di Labuan Bajo.

Ketiga, pamor NTT meningkat. Setelah sukses menyelenggarakan HPN 2011, Kupang sepertinya kebanjiran order menjadi tuan rumah sejumlah even nasional dan internasional. Selain beberapa even olahraga nasional, even lain seperti Munas Gerakan Pramuka juga diadakan di Kupang. Teranyar Kupang menjadi tuan rumah Munas Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).

Kepercayaan menjadi tuan rumah sejumlah even ini tak lain berarti pamor NTT, khususnya Kota Kupang semakin terangkat. Tak ada lagi kekhawatiran menyelenggarakan even nasional, bahkan internasional di Kupang.  Kupang siap selalu manakala ditunjuk menjadi tuan rumah even-even nasional dan internasional.

Di balik ketiga efek yang sangat nyata ini, terdapat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa.  Biar kecil, hampir semua sektor memperlihatkan geliat pertumbuhan yang luar biasa. Geliat pertumbuhan ini selanjutnya mendongkrak pendapatan masyarakat.  Dana miliaran rupiah yang dibelanjakan untuk menyukseskan HPN Kupang tidak sia-sia. Tentu dana yang dikeluarkan tahun 2011 adalah investasi jangka panjang yang ternyata sudah mulai terlihat manfaatnya di berbagai sektor.  Peningkatan arus manusia yang masuk ke Kupang langsung menggerakkan mata rantai ekonomi. Dari transportasi darat, belanja makan dan minum hingga cenderamata.

Bagi masyarakat, efek paling  terasa adalah meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang selanjutnya mendongkrak pendapatan. Tetapi bagi pemerintah, efek paling penting dari HPN Kupang adalah perbaikan image dan penciptaan brand image tentang NTT dan tentang Kupang.  Bahwa NTT tidak semiskin seperti yang tergambar selama ini. Bahwa orang NTT tidak sekasar seperti yang diperkirakan sekian lama. Bahwa NTT juga punya apa-apa untuk dibanggakan.

Belakangan brand image ini semakin penting dan urgen mengingat kerja sama  golden triangle (segitiga emas) antara Kupang-Darwin-Dili.  Sudah beberapa  pertemuan dalam kerangka segitiga emas digelar di Kupang. Pastilah, ke depan banyak program yang bisa digagas dan direncakan dalam kerja sama golden triangle ini.

Tiga tahun sudah Kupang mencatat sejarah sebagai tuan rumah peringatan Hari Pers Nasional. Lepas dari kekurangannya, Kupang telah menginvestasi banyak dana untuk kepentingan dan kebutuhan demi kemajuan NTT ke depan.  *

Sumber: Buku Geliat NTT, Jambi dan Bengkulu Pasca HPN. Diterbitkan PWI Pusat dan diluncurkan pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2015 di Batam, Kepri 9 Februari 2015.

Investasi di NTT Tumbuh Pesat Setelah HPN 2011

Oleh Laurensius Molan
Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kepala LKBN ANTARA Biro Kupang

PESONA Hari Pers Nasional (HPN) 2011 di Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 9 Februari 2011 agaknya masih melekat dalam ingatan setiap insan pers, masyarakat dan pemerintahan daerah setempat. Mengapa? Aura HPN 2011 saat itu, tidak hanya sekadar menghadirkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  untuk membuka acara tersebut, tetapi kepala negara malah mengikutsertakan pula hampir sebagian besar menterinya serta para pengusaha papan atas untuk melihat dari dekat sosok NTT lewat HPN tersebut.

Kepala negara tidak hanya sekadar berkantor di Kupang selama tiga hari untuk mengendalikan pemerintahan dari atas wadas tanah karang, tetapi melakukan pula napak tilas dengan melakukan perjalanan darat dari Kupang menuju Atambua sejauh sekitar 400 kilometer, untuk mengenang masa mudanya sebagai prajurit TNI-AD ketika menjadi Komandan Batalyon Infanteri (Yonif) 744/Satya Yudha Bhakti (SYB), pasukan organik milik Kodam IX/Udayana.


Batalyon ini mencatat prestasi gemilang dalam operasi penumpasan Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) di Timor Timur, ketika wilayah bekas jajahan Portugis dan bekas provinsi ke-27 Indonesia itu, masih menjadi bagian dari NKRI. Ketika Timor Timur memilih lepas dari Indonesia lewat referendum pada Agustus 1999, Batalyon kebanggaan ini tetap dipertahankan eksistensinya dan menjadi bagian dari pasukan organik Korem 161/Wirasakti Kupang.

Batalyon ini bermarkas di Atambua, ibu kota Kabupaten Belu dan di Kefamenanu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara dengan tugas permanen menjaga tapal batas negara dengan Timor Leste. Atas dasar inilah, Presiden SBY kemudian memilih jalan nostalgia dengan melakukan napak tilas dari Kupang ke Atambua untuk bersua dengan para prajurit TNI-AD dari Yonif 744/SYB di wilayah perbatasan RI-Timor Leste itu.

Dampak dari HPN 2011 di Kupang itu, tidak hanya membuat para pekerja pers di Nusa Tenggara Timur bangga, karena sukses dalam menyelenggarakannya serta menjadi model atau semacam studi banding bagi daerah lain di Indonesia yang bakal menjadi tuan rumah HPN, tetapi lebih dari itu, mengalirlah investasi ke daerah ini untuk membangun NTT yang sering dianekdotkan dengan sebutan Nasib Tidak Tentu atau Nanti Tuhan Tolong (NTT).

Data yang disuguhkan Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) NTT memaparkan bahwa dalam kurun waktu 2011-2012, tercatat 103 investor asing menanamkan modalnya di NTT dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun. Bidang investasi yang digarap antara lain perhotelan, pertambangan umum dan pertambangan mangan serta kegiatan ekspor impor dengan menyerap sekitar 2.371 orang.

Sementara investasi dalam negeri (PMDN) hanya tercatat tujuh investor dengan nilai investasi sekitar Rp588 miliar. Lahan usaha mereka di sektor pemurnian mangan dan kehutanan. Sedang, total investasi untuk tahun 2013 hanya mencapai sekitar Rp50 miliar. Namun, pada 2014, jutru mengalami peningkatan yang sangat spektakuler.  

Saat ini, NTT menjadi incaran para penanam modal, baik PMA maupun PMDN. Hal ini terlihat dari tingkat pertumbuhan investasi yang cukup mendebarkan, yakni Rp2,9 triliun dari target yang ditetapkan BKPMD NTT hanya Rp2 triliun untuk tahun 2014.

"Pertumbuhan investasi tersebut menunjukkan bahwa iklim investasi di wilayah provinsi kepulauan ini cukup menjanjikan. Sarana dan prasarana penunjang investasi sudah cukup tersedia, tidak ada bentuk perizinan yang bertele-tele serta adanya kepastian hukum atas lahan untuk berinvestasi," kata Kepala BKPMD NTT Semuel Rebo.

Hal ini cukup terlihat jelas dengan geliat pembangunan di Kota Kupang sebagai ibu kota Provinsi NTT, seperti pembangunan rumah toko (Ruko) dan hotel-hotel berbintang. Hampir di semua sudut kota ini, para pemilik modal seakan berlomba untuk membangun ruko, hotel berbintang dan berbagai fasilitas umum lainnya, sehingga membuat wajah kota "karang" ini--sebutan khas untuk Kota Kupang--perlahan berubah menjadi kota modern.

Pesatnya pertumbuhan investasi tahun ini, dinilai cukup spektakuler karena total investasi pada tahun sebelumnya hanya mencapai Rp50 miliar. "Target kami tahun ini hanya Rp2 triliun, tetapi belum mencapai akhir 2014, nilai investasinya justru sudah melampaui target menjadi Rp2,9 triliun," kata Rebo menambahkan.

Menurut dia, investasi paling besar terjadi di sektor perhotelan yang menyebar di Kota Kupang dan Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat, sebagai pintu masuk utama ke Taman Nasional Komodo (TNK) yang telah ditetapkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia (New7wonders).

Investasi asing (PMA) dalam tahun ini berkonsentrasi pada 41 proyek, sedang investasi dalam negeri (PMDN) hanya berkonsentrasi pada 19 proyek dengan nilai investasi mendekati Rp1 triliun.

"Kepastian hukum dan keamanan serta kenyamanan merupakan syarat mutlak bagi para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia, termasuk di NTT," tambah Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia wilayah NTT Fredy Ongko Saputra.

Geliat pembangunan di Kota Kupang pasca HPN 2011 memang cukup terasa seperti dengan hadirnya hotel-hotel berbintang, yang ketika berlangsungnya HPN membuat panitia nasional dan lokal berdebar-debar, karena hotel berbintang di Kupang hanya Kristal dan Sasando, sementara sisanya adalah hotel kelas melati.

Hotel kelas melati yang jarang penghuninya, akhirnya di-book-ing pula oleh panitia untuk menampung para peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Ketua Umum PWI Pusat Margiono hanya bisa berseloroh..."fasilitas penginapan di Kota Kupang bukan sedikit jumlahnya, namun karena tamu undangannya terlalu banyak sampai akhirnya tidak bisa tertampung semuanya".

Meskipun demikian, para peserta merasa nyaman untuk mengikuti kegiatan tersebut sampai tuntas. Jika Kupang terpilih kembali menjadi tuan rumah, tampaknya tidak ada rasa khawatir lagi bagi panitia, karena fasilitas hotel berbintang sudah cukup banyak berdiri tegar di atas batu karang ini yang merupakan dampak dari pelaksanaan HPN 2011 di Kupang. *

Sumber: Buku Geliat NTT, Jambi dan Bengkulu Pasca HPN. Diterbitkan PWI Pusat dan diluncurkan pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2015 di Batam, Kepri 9 Februari 2015.

Wajah Kupang Berubah Secara Signifikan

Buku yang diluncurkan saat HPN 2015 di Batam
(Catatan mengenang HPN 2011)

Oleh Dion DB Putra
Ketua PWI Provinsi Nusa Tenggara Timur, Wartawan Harian Pos Kupang


SAYA menghabiskan waktu hampir enam jam saat pulang dari Manado ke Kupang hari itu,  Selasa 18 Desember 2012 atau dua hari sebelum Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merayakan Hari Ulang Tahunnya ke-54. Kabut tipis  dan renai gerimis menyelimuti Bandara Sam Ratulangi tatkala pesawat Lion Air  take off sekitar pukul 06.10 Wita menuju Surabaya dengan transit selama 25  menit di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Penerbangan Surabaya-Kupang berlangsung lebih nyaman lantaran cuaca siang itu lumayan cerah.  Bumi Kupang baru saja bermandikan hujan ketika Lion Air mendarat tak seberapa  mulus di run way Bandara El Tari sekitar pukul 14.50 Wita. Saya pulang untuk kesekian kalinya ke kota ini. Pulang untuk libur bersama keluarga setelah hari-hari menjalani penugasan di Harian Tribun Manado, salah satu Koran daerah  Grup Kompas Gramedia, kolega Harian Umum Pos Kupang.

Om Ali, sopir taksi langgananku batal menjemput karena mendadak ibunya sakit. Saya pilih taksi Om Sius menuju perumahan Lopo Indah Permai, Kolhua Kupang. Saat meninggalkan area parkir Bandara El Tari, Om Sius langsung berceloteh  tentang Hypermart, pasar modern pertama di  Kota Kupang yang  baru dibuka sehari sebelumnya. "Ramai sekali.  Orang Kupang  berbondong-bondong belanja, mungkin barang-barang di sana sudah habis dibeli," katanya sambil terkekeh.

Om Sius menyebut lokasi pasar modern tersebut berada  di Bundaran PU, kira-kira hanya  selemparan baru dari Jembatan Liliba Kupang. Rupanya Om Sius sengaja menunjukkan kepada saya karena dia memilih jalur itu sebelum memutar mobil taksi  ke arah Oebufu, Maulafa terus menuju ke perumahan  Kolhua.

Ketika melintas di bundaran PU mata saya  masih menangkap sisa-sisa pesta pembukaan Hypermart oleh Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Ada kerumunan spanduk dan umbul-umbul aneka rupa dan warna. Juga sampah yang belum seluruhnya disingkirkan.

Perasaan senang sekaligus bangga menghiasi batin. Luar biasa Kupang, kota tempatku menjalani hidup lebih dari 25 tahun terakhir. Kalau pasar modern telah masuk di ibu kota provinsi  ini berarti secara ekonomis Kupang bukanlah yang terletih geliat bisnisnya di antara ibu kota provinsi lain di ini negeri.

Sontak pikiranku melayang jauh ke awal tahun 2010. Suatu hari di penghujung April tahun itu,  ponselku bordering nyaring. Telepon masuk dari Hendri Ch Bangun, wartawan senior Harian Kompas yang sehari-hari menjabat Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

"Dion, kami baru selesai rapat pleno pengurus harian PWI Pusat. Dalam rapat tadi pimpinan PWI setuju kalau  peringatan Hari Pers Nasional tahun 2011 berlangsung di Kupang sebagaimana permintaan PWI  NTT tahun yang lalu. Apakah NTT siap? Tugasmu diskusikan segera dengan gubernur dan wakil gubernur serta pimpinan Dewan. Kami tunggu jawaban secepatnya. Kalau NTT tidak siap akan dialihkan ke daerah lain yang mau. Ini sudah antre Sulsel, Sulut dan Jambi bahkan Jatim. Saya tunggu kabar balik segera ya.." Klik! Sambungan telepon terputus.

NTT Pasti Bisa

Perasaaanku campur aduk. Provinsi NTT menjadi tuan rumah HPN, sebuah event akbar berskala nasional dengan tamu undangan lebih dari 1.000 orang?  Ah mengapa tidak? NTT pasti bisa kalau ada kemauan!  Saya ingat tahun 2003 ketika mengikuti Kongres PWI di Palangkaraya, Kalimantan Tengah untuk memilih kembali Drs. Tarman Azzam sebagai ketua umum PWI Pusat.

Akomodasi hotel di Palangkaraya minim amat, tetapi PWI Cabang setempat berani ambil tanggung jawab sebagai host. Saya bersama Bernard Tokan dan Aser Rihi Tugu, delegasi PWI  Cabang NTT kala itu, bahkan nginap di rumah penduduk karena keterbatasan hotel dan penginapan.  Selama tiga hari kami merepotkan mantan kepala stasiun RRI Kupang sekeluarga di Palangkaraya.

Fokus pikiran saya langsung tertuju ke gubernur, wakil gubernur dan pimpinan DPRD Provinsi NTT. Malam itu juga saya bersama anggota Dewan Kehormatan Daerah (DKD) PWI Cabang NTT, Damyan Godho serta Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI NTT, Bernard Tokan bertemu Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya dan Wakil Gubernur, Ir. Esthon L Foenay, MSi di rumah jabatan gubernur di Jalan El Tari  Kupang.

Kebetulan saat itu gubernur dan wakil gubernur akan menggelar acara  dengan para tokoh agama. Sebelum menuju tempat acara di aula rumah jabatan, kami mencuri waktu bertemu kedua pasangan yang akur ini sekitar 15 menit.

Gubernur Frans Lebu Raya  terdiam sekitar dua menit setelah menyimak penjelasan saya soal keputusan PWI Pusat memilih NTT sebagai tuan rumah HPN 2011. Sambil menatap saya, dia berkata, "Kita harus siap. Kalau tidak sekarang kapan lagi. NTT pasti bisa." Jawaban singkat dan mantap. "Kita memang banyak keterbatasan, tetapi kalau terus berpikir soal keketerbatasan kita tidak akan pernah jadi tuan rumah event nasional. Saya setuju dengan Pak Gub. Kita pasti bisa jadi tuan rumah yang baik," kata Wagub Esthon Foenay. Plong sudah perasaan saya.

Baru sekitar 10 menit meninggalkan rumah jabatan gubernur malam itu di tengah hujan lebat, saya angkat ponsel. Memencet nomor Hendri Ch Bangun dan mengabarkan kepastian NTT siap jadi tuan rumah. "Wah, cepat sekali keputusannya. Oke Dion, ini tantangan sekaligus momentum emas bagi NTT mempromosikan dirinya di mata nasional," kata Hendri.

Tugas saya dan teman-teman Pengurus PWI Provinsi NTT selanjutnya adalah bertemu dengan pimpinan DPRD NTT kala itu, Drs. Ibrahim Agustinus Medah. Justru yang terjadi di luar prediksi. Bahkan sebelum kami temui secara resmi Medah yang membaca statement gubernur di media soal HPN, langsung menggelar jumpa pers dan menegaskan bahwa DPRD NTT mendukung penuh Kupang menjadi tuan rumah HPN 2011. "Sejauh kegiatan itu untuk masyarakat NTT, Dewan sebagai representasi dari 4,6 juta penduduk NTT pasti  mendukung," kata Medah seperti diberitakan Harian Pos Kupang hari Rabu, 16 Juni 2010 halaman 6.

Pengurus PWI secara resmi bertemu dengan pimpinan DPRD NTT pada tanggal 13 Juli 2010 di gedung Dewan, Jl. El Tari Kupang. Pengurus PWI NTT antara lain, Zacky W Fagih, Indra Alvian, Tony Kleden, Laurens Molan dan Bernard Tokan diterima pimpinan DPRD NTT, Nelson Matara dan LS Foenay. Sama seperti sikap Medah, Matara dan LS Foenay pun menyatakan  mendukung suksesnya HPN.

"DPRD NTT pasti setuju soal pengalokasian anggaran asal tidak melanggar rambu-rambu. Kami bangga karena PWI NTT sudah berjuang menyelenggarakan kegiatan nasional di NTT. DPRD akan memberikan dukungan penuh agar pelaksanaan HPN di Kupang bisa berjalan lancar dan sukses," kata Nelson Matara.

Persetujuan pimpinan tertinggi eksekutif dan legislatif di NTT merupakan jaminan event ini bakal sukses. Sekarang tinggal urusan operasional. Pertanyaan berikut adalah siapakah sosok yang pantas menjadi  ketua dan sekretaris Panitia Pelaksana HPN 2011 tingkat lokal NTT? Panitia Pusat bukan masalah karena itu otomatis ditekel pengurus pusat. Sebagai mantan aktivis mahasiswa yang  sarat pengalaman berorganisasi, Gubernur Frans Lebu Raya  dan Wagub Esthon Foenay paham dan tahu betul siapa orang yang tepat.

Pada bulan Agustus 2010 terbitlah SK Gubernur NTT tentang komposisi kepanitian HPN Kupang 2011. Ketua Panitia Pelaksana Ir. Andre W Koreh, MT (Kepala Dinas  PU Provinsi NTT)  dan Sekretaris Drs. Ary Moelyadi, MPd (Kepala Bidang Keolahragaan  Dinas PPO NTT). Secara pribadi saya mengenal baik figur Andre dan Ary. Cukup lama kami bekerja sama dalam kapasitas sebagai pengurus KONI Provinsi NTT. Itulah yang menguatkan saya dan pengurus PWI bahwa hajatan besar ini  dikelola orang yang tepat.

Komposisi kepanitian HPN Kupang 2011 merupakan gabungan unsur birokasi, pers, aktivis sosial dan relawan. Saya sebagai ketua PWI provinsi NTT adalah penanggungjawab bersama dengan Sekretaris Daerah. Gubernur, Wagub, Ketua DPRD NTT  serta Forum Pimpinan Daerah merupakan pelindung dan penasihat. Klop sudah! Tapi bukan tanpa soal. Melihat sosok birokrat dalam diri Andre Koreh dan Ary yang aktif dalam kepantian, ada ada teman-temanku sesama wartawan yang menyindir dengan memplesetkan HPN sebagai "Hari Pejabat Nasional, Hari Pemerintah Nasional". Andre dan Ary pun diganggu dengan pertanyaan macam- macam via SMS, telepon atau tatap muka langsung.

Saya pun tidak luput dari sasaran tembak. Selain lewat SMS, telepon atau bicara tatap muka,  komentar- komentar di jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook sungguh membuat kuping sempat panas. HPN Kupang dilukiskan sebagai gawenya PWI saja yang hanya menghabiskan uang daerah. Ketika mereka membaca rencana agenda penyambutan Presiden SBY dengan menghadirkan murid SD dan SMP di Kupang berdiri berjejer di sisi jalan dengan memegang bendara Merah Putih mini, itu dilukiskan sebagai  gaya Orba (Orde Baru).

Dalam hati saya tertegun. Apakah semua yang berbau Orde Baru itu buruk? Tidak tiap hari seorang Presiden RI datang ke kampong Nusa Tenggara Timur  ini. Anak-anak itu akan lama mengenang dalam benaknya bahwa pada masa bocah mereka berjejer di pinggir jalan menyambut SBY, Presiden Republik Indonesia. Siapa tahu di antara mereka kelak akan menjabat presiden atau pemimpin negeri ini dalam bidang yang lain. Tapi sudahlah.  Ini era Reformasi  Bung! Bahkan presiden dan kepresidenan bukan lagi person dan institusi yang imun kritik.  Bukan lagi lembaga yang nihil dari hujatan dan makian.

Saya sungguh tidak kaget dengan sindiran itu. Saya dan teman-teman pengurus PWI  Provinsi NTT sadar sepenuhnya bahwa hajatan besar selevel HPN pasti penuh warna. Bahkan ada beberapa rekan wartawan yang beritahu akan bikin demonstrasi. Kalau tidak mempertanyakan segala sesuatu itu bukan wartawan namanya. Maka sindiran dan ancaman bukan alasan bagi saya untuk marah apalagi putus asa. Kuanggap semua itu sebagai dinamika lumrah. Malah diramu secara positif sebagai pelecut semangat menyiapkan diri sebagai tuan rumah HPN yang baik. Kami  pun salut pada Bung Andre dan Ary, dua orang yang sudah berpengalaman dalam berorganisasi sehingga mereka tetap fokus.

Malam-malam yang panjang serta hari kerja ekstra mulai menyertai panitia HPN sejak bulan Oktober 2010.  Praktis hampir setiap hari selalu berkoordinasi antarseksi dan setiap minggu rapat pleno lengkap. Rapat-rapat secara bergantian dipimpin Bung Andre, saya  atau Ary. Bahkan banyak kali langsung dipimpin Sekda NTT, Frans Salem di Aula Setda NTT, lantai II Kantor Gubernur. Setiap seksi pun menggelar rapat sendiri mempersiapkan segala sesuatunya.

Venue untuk  acara puncak HPN pada 9 Februari 2011 yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merupakan topik yang hangat. Berdasarkan hasil survei  panitia pusat, hanya ada dua tempat yang representatif di Kupang yang bisa menampung 700 hingga 1.000 orang yaitu GOR Flobamora atau Aula El Tari.  Dilema muncul tatkala melihat wajah GOR Flobamora  yang butuh dana besar untuk renovasi. Pilihan akhir jatuh pada Aula El Tari. Yang dibenahi hanya sistem akustiknya agar suara tidak berdengung lagi. Pembenahan akustik selesai tepat waktu. Aula El Tari dipercantik dan memang indah memanjakan mata.

Sejak awal Gubernur NTT,  Frans Lebu Raya menekankan satu hal penting. Di tengah berbagai keterbatasan,  NTT harus menjadi tuan rumah yang baik dan memberi perbedaan dengan tuan rumah HPN tahun-tahun sebelumnya. Berikan sesuatu yang berkesan dan lama diingat 1.000-an tamu yang datang pada HPN 2011 di Kupang.  Panitia pun menerjemahkan pesan itu melalui beberapa hal cara yang spesial dan belum pernah ada pada HPN sebelumnya. Sebut misalnya, menyiapkan tenaga Liaison Officer (LO) yang akan mendampingi delegasi dari 33 provinsi, duta besar negara sahabat serta mitra pers nasional dari dalam dan luar negeri.

Bung Dr Johny Lumba dari Universitas Kristen Artha  Wacana Kupang dan Sipri Seko bersama timnya sukses merekrut 70 putra- putri NTT sebagai LO. Mereka smart dan jadi penghubung yang mengesankan. Ada mahasiswa, mahasiswi. Ada pula dosen dan karyawan. Mereka itu minimal bisa berbahasa Inggris. Bahkan ada yang cakap berbahasa Jerman dan Prancis. Panitia HPN Kupang juga menyiapkan mobil untuk setiap delegasi, sesuatu yang belum pernah ada pada penyelenggaraan HPN terdahulu.

HPN Kupang akan lama dikenang peserta karena mereka disambut ramah sejak kedatangan di Bandara El Tari hingga  pulang dengan membawa sekian banyak souvenir khas NTT seperti patung Komodo, topi Ti'i Langga yang mirip Sombrero Meksiko, selendang tenun ikat, Sasando dan lainnya. Di Bandara El Tari saat kedatangan semua bagasi milik degelasi dari 33 provinsi diurus panitia. Dua nama patut saya sebut yaitu Ferdy Amatae dan Hermensen Ballo yang  bersama anggota timnya, sebagian besar atlet berbagai cabang olahraga di NTT,  sigap dan rapi mengurus semua bagasi tanpa komplain. Peserta HPN Kupang 2011 sungguh mendapat pelayanan istimewa.

Spirit Kebersamaan

Dana untuk HPN merupakan masalah krusial. Dalam banyak kesempatan berkomunikasi dengan pimpinan eksekutif dan legislatif kami selalu menggarisbawahi bahwa HPN Kupang jangan sampai menjadi beban bagi APBD Provinsi ataupun kabupaten dan kota di NTT. Mesti dicari cara yang bijaksana agar seluruh pembiayaan HPN bisa terkover dengan sumber bukan satu-satunya dari APBD.

Melalui diskusi, dialog dan debat yang tentu diwarnai beda pendapat akhirnya kami tiba pada satu kesimpulan yakni HPN Kupang 2011 bisa sukses jika putra-putri Flobamora menyatukan spirit kebersamaannya. Harus bakutopang dan bakubantu. Bahu-membahu. Beri kontribusi dari apa yang dimiliki. Gubernur Frans Lebu Raya dalam banyak kesempatan bertemu bupati, walikota, wakil rakyat NTT baik tingkat daerah serta pusat, pimpinan BUMD dan BUMN serta kalangan dunia usaha  memompakan spirit bakutopang itu.

Semangat "urunan" sungguh tercipta di HPN Kupang 2011. Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Setya Novanto  yang kini menjabat Ketua DPR RI, misalnya menyumbangkan baju tenunan bermotif NTT untuk 500  tamu undangan HPN termasuk buat Presiden  SBY, Ibu Negara Ani Yudhoyono serta para menteri Kabinet Indonesia Bersatu  jilid II dan  para duta besar negara sahabat. Setya Novanto melibatkan perancang busana kondang Oscar Lawalata dan timnya.

Wali Kota Kupang kala itu Drs. Daniel Adoe menanggung jamuan makan malam untuk seluruh peserta pada tanggal 7 Februari 2011, Bupati Rote Ndao Lens Haning menyumbang 250 buah topi Ti'ilangga sebagai souvenir, Bupati Kupang Ayub Titu Eki memberikan miniatur Sasando  sebagai buah tangan, Bank NTT, Bank BNI serta pimpinan perbankan di Kupang pun urunan memberikan bantuan sesuai kemampuan. Juga patut disebut peran ibu-ibu Dekranasda.  Ketua Dekranasda NTT, Ny. Lusia Adinda Lebu Raya bersama para ketua Dekranasda kabupaten dan kota se-NTT menyumbangkan selendang tenun ikat yang dikalungkan di leher sekitar 1.000 tamu saat tiba di Bandara El Tari mulai tanggal 6, 7 dan 8 Februari 2011, serta aneka makanan ringan khas NTT yang ditempatkan dalam sebuah tas rajutan untuk peserta HPN.

Kalangan dunia usaha  pun tak mau ketinggalan. Mereka menyumbang baliho, spanduk dan lainnya yang membuat semarak Kota Kupang selama rangkaian kegiatan HPN tanggal 4-11 Februari 2011. Dari momentum HPN Kupang 2011,  ada satu  best practise (praktek cerdas)  yang bisa dipetik yakni indahnya kebersamaan. NTT yang terbatas ini bisa menjadi kekuatan maha dashyat manakala ada kebersamaan. Putra- putri NTT dari sononya sudah terlahir sebagai orang yang berbeda, berbeda asal- usul, beda partai politik dan lainnya,  tetapi untuk nama baik Nusa Tenggara Timur (NTT) mereka sehati sesuara. Sukses HPN Kupang 2011 membuktikan hal itu.

HPN Kupang meninggalkan sejumlah catatan historis. Itulah pertama kali dalam sejarah HPN seorang Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara menginap dan berdinas di lokasi tuan rumah HPN lebih dari dua hari. Presiden SBY bahkan pertama kali melewati jalan darat lebih dari 300 km dari Kupang sampai Atambua, Kabupaten Belu dan tidur semalam di barak TNI lalu kembali ke Kupang via Pelabuhan Atapupu dengan kapal perang. Atambua adalah daerah perbatasan antara  Indonesia dan negara Timor Leste.

Gara-gara Presiden SBY berkantor di Kupang selama tiga malam empat hari, dalam sekejap NTT menjadi pusat perhatian seluruh bangsa Indonesia. Wujud perhatian tersebut saya kira masih membekas dan akan terus berlanjut hingga hari-hari mendatang.  Pada tanggal 18 Oktober 2012,  Presiden SBY dan Ibu Negara Ani Yudhoyono lagi-lagi menikmati perjalanan darat dari Kota Labuan Bajo ke Ruteng PP saat menghadiri peringatan Yubelum 100 Tahun Gereja Katolik di Manggarai, Pulau Flores. Rasanya hanya di NTT Presiden RI sungguh menikmati perjalanan semacam itu.


Pening Kepala

Saya merasa perlu berbagi cerita tentang suasana menjelang dan saat kedatangan tamu HPN Kupang tanggal 6, 7 dan 8 Februari 2011. Tak banyak yang tahu betapa peningnya kepala kami, khususnya panitia HPN  seksi akomodasi mengatur penginapan bagi para tamu yang datang hampir bersamaan dalam jumlah lebih dari 1.000 orang. Tamu dan undangan HPN Kupang sungguh di luar prediksi awal lantaran Presiden SBY menginap selama tiga malam. Jumlah menteri yang datang ke Kupang kala itu sebanyak 24 orang atau lebih dari separuh anggota Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Kedatangan pejabat negara serta tamu VIP, VVIP dan tokoh pers nasional dari 33 provinsi bukan sesuatu yang mudah.

Lain ceritanya bila Kupang memiliki akomodasi perhotelan yang memadai. Nah, kita semua maklum bahwa hotel di Kupang selain jumlahnya sudah  terbatas, standar hotel berbintang pun bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Saya melihat sendiri betapa Ketua Panitia HPN, Bung Andre Koreh terlibat diskusi alot (untuk tidak melukiskannya sebagai bersitegang)  dengan staf protokoler Istana juga komandan Paspampres saat mengatur penempatan para tamu VIP dan VVIP. Rata- rata hanya mau  memilih Hotel Kristal atau minimal Hotel Sasando, sementara kapasitas kedua hotel itu tidak sanggup menampung semuanya. Tentu harus ada yang mengalah dan hal tersebut butuh penjelasan yang santun sehingga mereka bisa memahami keterbatasan Kupang sebagai tuan rumah.

Alhamdulilah. Cara panitia memberi penjelasan dapat dimaklumi para tamu meskipun gerutuan dan sindiran-sindiran kecil tak bisa dipungkiri. Tak apalah. Ini konsekwensi dari kesiapan Kupang menjadi host event akbar. Keterbatasan akomodasi perhotelan di Kupang merupakan fakta tak terbantahkan.

Pada tanggal 7 Februari 2011 kira-kira pukul 21.24 Wita, seorang LO menemui saya di Sekretariat Panitia HPN Kupang. Dia baru saja mendampingi seorang duta besar dari negara Asia Selatan ke salah satu hotel di Kupang. "Saya sempat risih dan malu, Om. Beliau nginap di kamar hotel yang sangat sederhana untuk standar seorang duta besar. Tapi setelah mendengar penjelasan saya,  syukurlah beliau mengerti bahwa Kupang adalah daerah Indonesia Timur yang dalam banyak hal masih berkekurangan," kata LO itu, mahasiswi dari Undana Kupang. Saya salut. Dia telah menjadi duta NTT yang smart.

Praktis hanya empat bulan setelah peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Kupang tanggal 9 Februari 2011, saya bertugas di luar Kota Kupang. Memang saya masih bolak-balik ke Kupang saban bulan, namun perkembangan kota ini tidak bisa saya ikuti setiap saat. Setidaknya saya kini menjadi semacam outsider,  melihat Kupang (NTT) dari luar. Cara memandang semacam itu jauh lebih elok untuk menemukan perbedaan, perkembangan dan perubahan wajah Kupang, kota yang dalam banyak sisi menjadi barometer bangunan  Nusa Tenggara Timur.

Dalam tiga tahun terakhir, harus diakui wajah Kupang telah banyak berubah. Lebih dari 10 hotel yang baru dibangun dalam kurun waktu tahun 2011-2014. Bahkan beberapa saat ke depan akan hadir lagi hotel berbintang dari grup ternama di Indonesia. Pusat-pusat perbelanjaan baru pun tumbuh pesat.

Sebagai orang yang kerap bepergian karena tugas, indikator yang saya pakai simpel saja. Setiap kali menumpang pesawat baik dari Surabaya, Bali atau Jakarta tujuan Kupang, semakin banyak saja muka baru alias orang yang saya tak kenal. Artinya apa? Itu menandakan betapa tingginya mobilitas manusia dari dan ke Kupang, Ibu Kota Provinsi NTT. Tingginya mobilitas manusia dan barang mencerminkan bisnis tumbuh. Perputaran uang tidak lagi berjalan di tempat.  Kupang atau NTT umumnya  sebagai tujuan investasi bukan lagi isapan jempol.

Tanggal 29 Desember 2012 atau sepekan setelah PWI NTT menggelar Konferensi Cabang di Hotel Sylvia Kupang,  saya bersama pengurus harian PWI Cabang NTT periode 2012-2017 beraudiensi dengan Gubernur NTT Drs. Frans Lebu Raya. Dalam pertemuan itu Gubernur Frans Lebu Raya menyampaikan beberapa event berskala nasional yang berlangsung di Kota Kupang dalam tahun 2013.  Dia menyebut di antaranya Kupang dipercaya sebagai tuan rumah Kongres Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) serta  Sail Komodo 2013. Jumlah peserta, tamu serta undangan untuk event sekelas itu kurang lebih 1.000 orang. "Soal hotel bukan masalah lagi di Kupang," kata Lebu Raya dengan wajah sumringah.

Tahun 2014  juga telah berlangsung sejumlah event berskala nasional dan internasional di ibu kota Provinsi NTT ini. Sebut misalnya Musyawarah Nasional (Munas) PKBI,  Pekan Olahraga Pelajar Wilayah (Popwil) IV yang melibatkan atlet dan ofisial dari delapan provinsi dan Lomba Bintang Radio tingkat Nasional dan ASEAN pada bulan Oktober 2014.  Kini sudah menjadi hal biasa bagi Kupang dipercaya sebagai tuan rumah.

Ya,  Kupang  sebagai barometer wajah Provinsi NTT  sudah mengalami perubahan signifikan wajah dan profilnya setelah tiga tahun berlangsungnya HPN 2011.  Pemerintah dan masyarakat NTT  menyadari sungguh HPN telah membuat perubahan itu.  Tentu saja masih ada kekurangan di sana-sini, namun kekurangan itu selalu mungkin untuk disempurnakan terus-menerus.

Kolegaku para ketua PWI dari berbagai daerah di Indonesia serta rekan-rekan wartawan masih saja menyampaikan kesan manis tentang HPN Kupang 2011. Saat ditunjuk menjadi tuan rumah tahun 2012, teman-teman dari PWI Provinsi Jambi melakukan studi banding ke Kupang.  Demikian pula dengan Bengkulu yang dipercaya sebagai tuan rumah HPN tahun 2014.

  Tentu saja bukan kesan itu yang utama dan terus dibangga-banggakan sekadar romantisme nostalgik. Dengan menulis catatan ini saya secara pribadi dan dalam kapasitasku sebagai ketua PWI Provinsi NTT mau menyuarakan sekali lagi bahwa momentum peringatan Hari Pers Nasional tidak sekadar seremoni rutin tahunan.  Peringatan HPN mendorong daerah di tanah air tercinta ini untuk bangkit meraih kemajuan demi kesejahteraan rakyat yang empunya kedaulatan. *

Sumber: Buku Geliat NTT, Jambi dan Bengkulu Pasca HPN. Diterbitkan PWI Pusat dan diluncurkan pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2015 di Batam, Kepri 9 Februari 2015.

Paolus Nong Susar: Lahir dan Besar di Jalan

Dion menyerahkan buku kepada Paolus Nong Susar, 9 Februari 2015
MAUMERE, PK--Wakil Bupati Sikka, Drs. Paolus  Nong Susar, meluncurkan buku biografi "PNS (Paolus Nong Susar) Lahir dan Besar di Jalan." Peluncuran buku ini dilakukan di Aula Hotel Benggoan III, Maumere, Senin (9/2/2014).

Buku ini berisi kisah perjuangan dan pergulatan hidup PNS  sejak lahir hingga puncak perjuangan mencapai posisinya kini sebagai wakil bupati Sikka. Tidak banyak orang yang tahu tantangan, perjuangan dan pergulatan hidup PNS. Melalui bukunya itu, dia membagikan pengalaman dan perjuangan, menjadi inspirasi kepada masyarakat kecil di Sikka dalam perjuangan hidup.

Royalti penjualan biografi PNS itu pun akan didonasikannya sesama saudaranya di Sikka yang kurang beruntung, masyarakat yang kini dia abdikan seluruh tenaga dan pikirannya.
Penyunting biografi tersebut, wartawan senior Pos Kupang, Dion DB Putra mengungkapkan kekagumannya akan detail kisah dalam buku yang akan memberi inspirasi bagi banyak orang di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Buku ini menginspirasi bahwa keterbatasan, kekurangan, pengalaman pahit yang dialami sebagian besar masyarakat NTT bukan  menjadi alasan untuk tidak berjuang meraih cita-cita.

"Ketika menyunting kisah ini, air mata saya jatuh. Hidup saya lebih baik dari PNS, ini bukan cerita romantisme belaka. Ini adalah mutiara bahwa kesusahan kita bukan alasan untuk kita tidak berjuang," ujar Dion.

Peluncuran buku saat masih aktif menjabat sebagai kepala daerah, kata Dion adalah tindakan  nekat dan berani.

"Apakah ini bukan menjadi bumerang bagi PNS? Bukankah akan dikritik banyak orang? Tetapi PNS terbuka dan sangat jarang orang menulis saat masih menjadi pemimpin," kata Dion.
Biografi PNS itu juga, kata Dion, adalah gambaran realistis tentang Sikka karena masih banyak orang susah.

"Dengan menuliskan ini, mau mengingatkan diri dari mana dia berasal dan kepada siapa dia mengabdi," kata Dion.

Pater John M. Prior SVD, dosen pembimbing skripsi PNS saat kuliah di Ledalero dipercayakan menulis prolog buku dan E.P Da Gomez menuliskan epilog.

Sedangkan PNS, wakil bupati Sikka dalam pesannya mengungkapkan terima kasih kepada semua undangan yang hadir dalam peluncuran. Diharapkan PNS agar buku itu menjadi inspirasi dan sebagai tantangan bagi pembaca dan tidak rendah diri dalam berjuang bagi kesejahteraan masyarakat Sikka. Hadir dalam peluncuran itu forum komunikasi pimpinan daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh muda  dan berapa pimpinan SKPD Sikka. (lik) 

Sumber: Pos Kupang 11 Februari 2015 halaman 11

Hiruk Pikuk Pilkada dan Kursi Dewan



Judul                  : Hiruk Pikuk Pilkada dan Kursi Dewan
Penulis               : Dion DB Putra
Penyunting        : Usman Yatim
Desain Cover    : Apat Supriyono
ISBN                 :  978-602-7936-16-4
Cetakan I          :  Tahun 2014
Penerbit             :  RMBOOKS Jakarta Bekerjasama dengan Panitia HPN 2014 dan Pengurus PWI Pusat
Peluncuran      : Bengkulu, 9 Februari 2014.


Membincangkan Politik Tanpa Harus Berkerut Dahi

Oleh  Dr Usman Yatim *

Pemilihan raya, pemilihan umum untuk legislatif, presiden dan wakil presiden kembali segera digelar. Hingga kini memasuki tahun politik, tahun pesta demokrasi. Hingar bingar politik 2014 akan lebih menggema dibandingkan 2009. Pertarungan berlangsung antara calon lama dan baru untuk wakil rakyat serta orang baru untuk presiden dan wapres. Bagaimanakah kira-kira keramaian politik pemilu kali ini?

"Tanpa duit, tak ada pintu. Tanpa uang, tak mungkin "jual diri" kepada konstituen. Tanpa uang mana mungkin mampu berkeliling tanpa rasa lelah dari pulau ke pulau, kota ke desa, turun gunung dan lembah demi "unjuk muka" dan "cari muka" kepada rakyat." Itulah antara lain menurut Dion DB Putra, merekam peristiwa pemilu (pemilihan umum) dan pilkada (pemilihan kepala daerah) di Nusa Tenggara Timur.

Cerita Dion tak jauh berbeda dengan berbagai pilkada di seantero negeri ini, dan tentu juga pemilu legislatif. Bahkan, biarpun tuturan ini tidak lagi baru, berlangsung seputar 2008-2011, tetap saja seolah kita sedang membaca peristiwa yang sedang atau akan terus berlangsung. Dunia politik di negeri ini, terutama seputar pemilihan umum digambarkan Dion secara gamblang dalam buku berjudul "Hiruk Pikuk Pilkada dan Kursi Dewan" ini.

Para wakil rakyat ramai menyampaikan visi dan misi saat kampanye. Dion menggambarkan peserta pilkada, begitu juga calon wakil rakyat bagaikan kucing. "Dulu kita beli kucing dalam karung. Kini sungguh menyenangkan karena tuan dan puan pilih sendiri sesuai selera. Dan, selera tidak boleh diperdebatkan. Kucing yang kita mau beli pun jelas warna bulunya. Kita sudah tahu cara dia mengeong, menerjang, mencakar dan menggigit. Tuan tentunya sudah kenal kira-kira kucing mana bergaya total football alias serangan total atas lawan-lawannya.Mana kucing berwatak jinak-jinak merpati. Murah senyum, kaya tawa tapi diam-diam mencakar dari belakang. Mana kucing yang otaknya berisi, dapat diandalkan meski malu-malu kucing!"

Coba simak pula aroma "Politik Dinasti". Kita seperti sudah diingatkan jauh hari bahwa politik di negeri ini dibangun dengan melibatkan banyak anggota keluarga sendiri. "Begitulah tuan dan puan. Kita mungkin tidak pernah membayangkan bahwa pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat Indonesia yang dimulai sejak 2005 akan berkembang seperti sekarang. Kalau di masa lalu jabatan kepala daerah seolah menjadi hak istimewa para birokrat, sekarang siapa pun bisa mencalonkan diri. Kapasitas dan kapabilitas seseorang menjadi nomor sekian, bukan syarat utama. Asal ada pintu masuk lewat partai politik yang notabene sangat dekat dengan kekuatan duit, siapa pun berpeluang menjadi calon bupati dan wakil bupati.  Jadi, tidak mengherankan bila istri, anak, kakak, adik,  paman dan bibi ramai-ramai melamar menjadi calon pemimpin di suatu daerah."

Membaca itu kita jadi teringat tentang seputar heboh korupsi di Provinsi Banten. Pilkada bisa membuat satu keluarga mendominasi sebuah daerah,sesuatu yang muskil terjadi di rezim lalu. Berbagai cara dilakukan untuk meraih kekuasaan. Pesta demokrasi yang seharusnya adalah pesta rakyat, ternyata hanyalah buat segelintir orang. Caranya terlihat legal, tapi menjegal demokrasi itu sendiri. Janji-janji kampanye begitu muluk, setelah duduk, berkuasa, lupa janji tapi rajin korupsi.

Buku ini adalah kumpulan tulisan Dion DB Putra yang dimuat dalam Kolom "Beranda Kita" yang dia asuh sejak April 2008 hingga  Juni 2011 di Harian Pos Kupang.

Menurut Dion, tahun 2008 muncul diskusi di newsroom Pos Kupang tentang perlunya tulisan ringan yang bisa menyikapi masalah sosial kemasyarakatan sehari- hari. Hasil survei membuktikan, pembaca jenuh hanya menikmati hard news yang menjadi sajian utama koran harian. Sajian media memang harus beragam bentuk tulisan, ada berita, feature, kolom, pojok, karikatur, foto dan lainnya.

Atas persetujuan Pemimpin Umum Pos Kupang Damyan Godho saat itu, Dion DB Putra dipercayakan mengasuh kolom bernama Beranda Kita, lalu disingkat BETA. Beta (saya) adalah tutur khas orang Kupang yang sama dengan orang Ambon. Kalau di Jakarta bahasa gaulnya Lu dan Gua. Kolom Beta terbit sekali sepekan setian Senin di halaman satu Harian Pos Kupang. Kolom ini identik dengan Dion DB Putra dan tidak diadakan lagi semenjak dia mendapat tugas baru dari Pos Kupang sejak Juli 2011, salah satunya membantu manajemen koran Tribun Manado.

Mengapa Beranda? Menurut Dion, dinamai Beranda karena mengisyaratkan tulisan itu seperti obrolan di beranda rumah saat pagi atau sore hari sambil minum teh atau kopi. Obrolan sekenanya saja, bisa soal politik, ekonomi, sosial budaya, hukum dan lainnya. Berada di beranda rumah, seseorang bahkan bisa juga sekadar melamun, bergumam juga berangan-angan.

"Saya sendiri tidak begitu yakin apakah model tulisan semacam ini bisa masuk kategori essay. Bagi saya yang penting dikemas ringan, sederhana, kadang jenaka sekadar  menyentil, menggugah, mengingatkan orang untuk refleksi diri," ucap Dion.

Pada periode 2008-2010, banyak tulisan Dion yang berkaitan dengan pemilihan umum kepala daerah (pilkada) dan pemilihan umum (pemilu) caleg. Maklum, saat itu banyak event pilkada di NTT dan juga Pemilu 2009. Dion juga menyoroti kinerja birokrasi. Setting sosialnya 90 persen di NTT tetapi benang merahnya bisa saja berlaku sama di seantero negeri ini.

Hanya sebagian dari tulisan Dion yang dimuat dalam buku ini, terutama terkait pilkada dan wakil rakyat yang tentu masih relevan, mengingat kita memasuki momentum Pemilu 2014. Artinya, masih ratusan artikel dari kolom itu yang Dion simpan karena topiknya berbeda-beda. "Mungkin suatu saat nanti bisa dibukukan juga," kata Dion berharap.

Buku ini diterbitkan dalam rangka menyambut Hari Pers Nasional 2014 yang puncaknya berlangsung di Bengkulu, 9 Februari 2014. Dion menyampaikan terima kasih kepada Panitia HPN 2014 dan Ketua Umum PWI Pusat Drs Margiono yang berkenan menerbitkan buku ini. Tentu saja, ucapan sama ditujukan Dion kepada penyunting.

"Saya sungguh berharap pak Usman membedah isinya, menuliskan dalam kata pengantar buku nanti sebagai panduan untuk sidang pembaca menikmati tulisan saya. Pak Usman memberi konteks dan corak sehingga bunga rampai tulisan ini menjadi satu buku yang utuh. Saya juga minta Pak Usman menjadi editornya. Mungkin saja ada tulisan yang kurang pas pengelompokkannya sehingga bisa diabaikan saja. Mengingat banyak artikel, boleh jadi buku ini terlalu tebal. Beberapa artikel bisa dipending saja demi efisiensi. Pokoknya saya serahkan sepenuhnya kepada Pak Usman untuk mengaturnya. Saya sangat berterima kasih Pak Usman memberi kesempatan untuk membukukan tulisan yang cerai-berai ini."

Saya harus minta maaf kepada Dion. Tak banyak harapannya dapat dipenuhi. Sesungguhnya buku ini tanpa banyak dibedah, apalagi disunting, sudah terasa pas untuk dinikmati. Biarpun tak banyak menyunting, semua tulisan Dion ini saya baca, terkadang larut mengikuti tuturannya. Kesimpulannya: menggelitik, mengundang senyum dan penuh makna.

Sebagai seorang wartawan, Dion coba mengajak pembaca membincangkan dunia politik kita tanpa harus berkerut dahi. Dia mengumbar kegundahan hati anak negeri  namun tak harus membuat kita larut bersedih. Dia mengkritik tapi ada solusi yang coba dia kedepankan. Bagusnya pula, gaya tulisan Dion tidak menggurui. Dion mengulas politik dengan tetap mengedepankan fakta yang mudah dicerna. Sebagaimana motto Tempo, buku ini "enak dibaca dan perlu."

Dr Usman Yatim, wartawan senior, dosen di beberapa perguruan tinggi di Jakarta dan pengurus PWI Pusat.


ANDA INGIN MEMBACA  BUKU INI? Silakan klik linknya di bawah ini i!!!

Daftar Isi

Bagian 1
HIRUK PIKUK PILKADA
- Sayonara Rakyat!
- Pemimpin Ora et Labora
- Jangan oh Jangan
- Pelukan Hangat Turnamen
- Bersua Tanpa Jumpa
- Impikan Pemimpin Gila
- Roh Dwi Tunggal
- Mbeka yang Terpasung
- Suara Getir Berulang
- Satu, Dua, Tiga
- PR dan RP
- Aroma Politik Dinasti
- Menawarkan Akan
- Bolakada
- Amnesia Rakyat
- Penantian Ania
- Keganjilan Negeri Ini
- Golkar Versus PDIP. Masih Skor 5: 5


Bagian 2
WAKIL RAKYAT YANG TERHORMAT
- Sama-sama Enak
- Transaksi Nomor Urut
- Tambah Kursi, Tambah Ongkos
- Harim Sakit Kepala
- Pak Visi Mengumbar Misi
- Eh Porno
- Nasib Om Pe'u
- Orang Ketiga
- Warna dan Lambang Partai
- Visi Gizi Setelah Visi Misi
- Rasa Malu Sri Hayati
- Oh Pak Tua, Sudahlah!
- Sapaan Yth
- Negeri SGM
- Stuba Thomas
- Protes Pong
- Berangkat ke Mana-mana
- Kesadaran GST
- Siapa Punya Celana Dalam?

Bagian 3
SALAH URUS BIROKRASI
- Melebihi Pilot
- Diam-diam Saja
- Alorawe
- Curhat Sang Anak Muda
- Kecebong Cerdas
- Kebakaran Jenggot
- Negeri Loba
- Pemikir Otda
- Koleksi MoU
- Sabu oh Sabu
- Aula 301 Unwira
- Prosedur Birokrasi
- Hasil Tes CPNS
- Negara Banci
- Dikte Sumpah

EPILOG: Menukik dari Pinggir oleh Hengky Ola Sura


Biodata Penulis

Kegalauan Robertus Prasetiyo

Robertus Prasetiyo (kedua dari kiri)
Oleh Dion DB Putra
Ketua PWI Provinsi Nusa Tenggara Timur

Robertus Rimawan Prasetiyo galau! Editor Online Harian Pagi Tribun Manado yang punya blog pribadi www.robertussenja.com tersebut dinyatakan tidak lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) untuk kelompok muda  yang diselenggarakan PWI Pusat di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara bulan Juli 2012. Di tempat kerjanya, Robertus pun tercatat sebagai karyawan terbaik pada tahun 2011.

"Jelas tidak terima. Saya galau, mungkin galau tingkat akut mengalahkan anak alay nusantara," kata Robertus ketika saya bertanya kepadanya bagaimana perasaanmu tidak lulus UKW?  Sampai saat ini Robertus selalu mengingat nama Ibu Siti, pengujinya kala itu. "Bu Siti oh Bu Siti. Beliau akan selalu saya kenang," ujarnya sambil terkekeh.

Awalnya, kata  Robertus, dia menganggap penguji bersikap subjektif saat menilai
berita features yang dia tulis. Karangan khas itu menurut penguji tidak melewati standar nilai minimal.


"Saat itu saya menganggap penguji sangat subjektif, muncul dugaan penguji menilai bukan kemampuan saya tapi karena faktor suka dan tidak suka. Setelah itu saya print tulisan saya lalu menyiapkan surat gugatan untuk penguji UKW atas ketidaklulusan saya. Bahkan saya menyampaikan kepada atasan saya bahwa selama ini dipercaya sebagai editor online, edit berita rekan-rekan reporter tapi uji kompetensi tak lulus. Itu artinya saya tak mampu. Kalau memang tak mampu lebih baik saya jangan jadi editor online dan kembali jadi reporter, turun ke lapangan untuk belajar kembali," kata Robertus.

Mendengar keluhan itu, atasannya yakni Pemimpin Redaksi Tribun Manado Ribut Raharjo dan Koordinator Liputan Charles Komaling dan Wakil Koordinator Liputan Donald Aswin Lumintang membesarkan hari Robertus. Mereka menekankan bahwa penguji UKW dari PWI Pusat tentu menguji sesuai kriteria yang sudah dipatok. Ketika seorang wartawan  dinyatakan tak lulus UKW, artinya dia belum berkompeten. Hal itu tidak berkorelasi dengan posisi Robertus dalam institusi media sebagai wartawan senior atau editor.

Yudith S Rondonuwu
"Atasan saya menyarankan agar mengikuti tes kembali di periode selanjutnya dan diminta membuktikan kalau saya mampu. Itu yang menjadi pijakan saya. Ikut uji kompetensi yang diselenggarakan PWI memang berat, berat bukan karena lelah tapi lebih pada psikis. Kalau lulus uji itu wajar karena profesi saya sehari-hari
namun kalau tak lulus merasa malu luar biasa, karena dianggap tak mampu. Pada UKW selanjutnya bulan Oktober 2012 di Manado, saya datang dengan tekad kuat.  Sebelum ikut UKW, saya belajar. Buku tes yang lalu kembali saya pelajari, apa-apa saja yang sekiranya bisa menggagalkan uji kompetensi, saya minimalisir. Saya ingin membuktikan bahwa saya mampu, mampu karena saat kuliah sudah bertahun-tahun ikut pers mahasiswa. Sambil kuliah jadi reporter radio dan presenter televisi di kota asal saya di Yogyakarta dan empat tahun sebagai wartawan lalu naik jadi editor, saya yakin saya bisa," kata Robertus dengan mimik semangat.

Pengalaman pahit pada UKW pertama menyadarkan Robertus menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Dan, dia meraih hasil di luar prediksinya sendiri. Dari seorang pecundang, dia tampil sebagai pemenang!

"Ternyata di luar perkiraan, saya malah dinyatakan sebagai peserta yang lulus terbaik untuk uji kompetensi wartawan muda. Saya diundang maju ke panggung menerima sertifikat secara simbolis dari penguji. Puji Tuhan, luar biasa. Sikap awal membenci penguji kini sebaliknya, justru saya mengucapkan terima kasih karena saya mendapatkan pelajaran penting, tak terlupakan, amazing, spektakuler. Bu Siti memang istimewa. Penguji 'killer' yang patut jadi standar. Bayangkan kalau semua penguji UKW seperti Bu Siti hanya ada dua kemungkinan, kemungkinan pertama banyak wartawan andal tercipta dan kemungkinan kedua banyak wartawan tak lulus uji kompetensi," kata Robertus Prasetiyo.

Bangga sebagai Wartawan

Saya tidak hanya menemui Robertus Prasetiyo yang belajar dari kegagalannya mengikuti UKW. Saya pun sempat berbincang dengan beberapa wartawan lagi, peserta UKW baik yang berlangsung  di Manado maupun di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka yang sudah melalui UKW dan dinyatakan lulus oleh tim penguji merasa lebih percaya diri dan bangga menjalani profesinya.
Perasaan itu antara lain diungkapkan Yudith Rondonuwu, wartawati Harian Tribun Manado yang merupakan Peserta Terbaik Kelompok Madya UKW yang diselenggarakan PWI Pusat di Manado bulan Oktober 2012.

"Setelah ikut uji kompetensi saya menyadari betapa pentingnya mengerti teori-teori jurnalistik dan penerapannya di lapangan. Kemudian belajar kerja sama tim, mengelola berita agar tidak menjadi bumerang bagi masyarakat. Sebab satu goresan pun bisa menghancurkan kehidupan satu orang bahkan satu lembaga atau negara. Mengikuti uji kompetensi membuat saya merasa sangat bangga menjadi wartawan. Apalagi tidak semua yang ikut ujian kompetensi bisa lulus, itu artinya ada standar yang membuat kualitas seorang wartawan benar-benar teruji," demikian Yudith.

UKW menuntut seorang wartawan tiada henti belajar. Begitu pelajaran yang dipetik wartawati senior  Harian Umum Pos Kupang yang juga anggota PWI Provinsi NTT Apolonia Mathilde Dhiu.

 "Bagi saya saya mengikuti UKW dari PWI Pusat di Kupang tahun 2012  sangat mengesankan. Saat saya diberitahu mengikuti UKW, saya  bertanya-tanya, ujian apa lagi ini? Saya kemudian baca beberapa referensi. Walau sudah baca dan menyiapkan diri, saat masuk Hotel Silvya Kupang mengikuti ujian, saya tetap deg-degan juga. Ada rasa risih, padahal saat itu saya sudah sembilan tahun menjadi wartawan Pos Kupang dan pernah meliput di beberapa bidang seperti Pendidikan, Humaniora, Ekonomi Bisnis dan Politik. Rasa tidak percaya diri tetap menyelimuti. Apalagi melihat penguji dari PWI Pusat pada serius. Tahap demi tahap ujian saya lalui, baik mengenai perencanaan materi sebelum liputan, rapat perencanaan, wawancara, penulisan dan editing. Saya juga diminta menghubungi 10 nara sumber. Saya bersyukur bisa melalui ujian tersebut dengan baik dan dinyatakan lulus. Di sini saya sadar bahwa sejatinya wartawan harus terus belajar dan belajar, memperkaya diri dengan membaca, banyak mendengar dan melihat," demikian Apolonia.

Menurut Apolonia, UKW merupakan keniscayaan. Di tengah kemajuan pers yang begitu pesat, UKW sangat penting bagi insan pers. Ke depan, semua wartawan harus mengantongi sertifikat kompetensi sehingga tidak ada lagi wartawan abal-abal yang hanya bermodal kartu pers saja. PWI sebagai organisasi profesi kewartawanan   paling terkemuka di Indonesia tetap menjadi pioner dalam hal ini.
Pandangan yang sama disampaikan Bernadus Tokan, Wartawan LKBN ANTARA Biro NTT dan juga anggota PWI Provinsi NTT. Bernadus mengikuti UKW di Kupang bulan Desember 2012 untuk kelompok wartawan madya dan lulus.

"Pesan saya kepada teman-teman seprofesi, khususnya yang ada di NTT untuk segera mengikuti  ujian komptensi wartawan karena ibarat seorang pengemudi. pengemudi harus memiliki surat izin  mengemudi (SIM) jika hendak membawa kendaraan. Kalau Anda tidak punya SIM, maka Anda tidak boleh membawa kendaraan. Begitupun wartawan, UKQ menentukan apakah seorang wartawan itu  memenuhi standar kompetensi atau tidak. Jika tidak, dia tidak pantas menyandang profesi sebagai wartawan," kata Bernadus.
Manfaat besar telah dikecapi wartawan yang sudah mengikuti UKW. Ujian itu menjadi suluh bagi mereka untuk tetap setia pada profesi dan terus mengembangkan kapasitas dirinya. Kesan ini diungkapkan  wartawan SCTV yang juga Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia ( IJTI) Cabang NTT,  Didimus Payong. Didimus mengikuti UKW yang digelar PWI bulan Desember 2012 di Kupang.

"UKW yang digelar PWI  punya daya saing yang luar biasa bila dibandingkan dengan UKW yang digelar organisasi  lainnya. Saya merasakan manfaat yang sangat besar dari para penguji.  Dari UKW saya disadarkan bahwa kualitas seorang wartawan sangat bergantung kepada individu yang bersangkutan dan UKW akan memastikan seseorang kompeten atau tidak.  Keberpihakan PWI untuk meningkatkan kualitas insan pers nasional sudah dirasakan peserta yang sudah lulus UKW. Semoga PWI terus melakukan gebrakan baru agar melebar menggait organisasi wartawan lain yang nyaris mati suri di negeri ini. Jayalah kepemimpinan PWI," demikian harapan Didimus.*


Catatan kaki
Pengalaman Robertus dan sejumlah wartawan ini telah dibukukan.
Judul: Uji Kompetensi Wartawan (UKW): Memantapkan Profesionalitas Wawasan dan Etika Wartrawan.
Cetakan I: Februari 2014
Penyunting: Dr Usman Yatim
Penerbit:  RMBOOKS bekerjasama dengan Panitia Hari Pers Nasional (HPN) Bengkulu 2014 dan Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat.

Buku ini diluncurkan pada puncak Peringatan HPN 2014 di Bengkulu yang dihadiri Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Menangkap Suara-suara di Dili

Bersama Ramos Horta di depan kantornya di Dili (2009)
  Saya tiba-tiba membayangkan wajah Timor Leste dalam kurun waktu lima belas atau dua puluh tahun yang akan datang.Bukan mustahil mereka amat lekas maju dan jauh meninggalkan Indonesia yang pernah bersamanya selama 23 tahun.

DIRIKU  larut dan menikmati hiruk-pikuk serta kemeriahan pesta rakyat Timor Leste merayakan HUT ke-7 restorasi kemerdekaan. Hari Rabu tanggal 20 Mei 2009 rakyat Timor Leste khususnya warga Kota Dili tumpah ruah di sepanjang pantai ibu kota negeri itu,  sambung-menyambung mulai dari kawasan Pantai Kelapa di barat  Dili hingga Pantai Pasir Putih.

Pesta rakyat berlangsung hingga Rabu larut malam. Sebagian orang bahkan baru pulang ke rumah  Kamis dinihari 21 Mei 2009. Beragam permainan dan atraksi mereka gelar di pantai tersebut. Atraksi tradisional hingga kontemporer. Ada United Nations (UN) Police, ada PNTL (Polisi Nasional Timor Leste). Tetapi mereka tidak menebarkan wajah seram. Mereka cuma mengawal pesta rakyat. Bahkan berbaur.
Ah, saya sungguh merasa seperti di kampung sendiri, di Timor Barat, Indonesia.

Sekilas kesan menyeruak,  Republik Demokratik Timor Leste di bawah kepemimpinan Perdana Menteri (PM), Xanana Gusmao sudah jauh lebih baik dibandingkan masa lalu. Lebih baik dari sisi rasa nyaman dan aman. Tidak lagi terbelenggu dengan  kontak senjata yang menebarkan ketakutan setiap saat.

Saya pernah merasakan suasana mencekam itu tatkala melakukan liputan jurnalistik keliling Timor Leste tahun 1997 atau dua tahun sebelum referendum untuk menentukan nasib sendiri. Rakyat Timor Leste kini tentu boleh berbangga dengan pemimpin kharismatik itu karena Xanana memberikan kedamaian.
Kemacetan lalu lintas di Dili

Di antara keramaian di kawasan Lecidere Rabu malam itu, perbincangan sekelompok pria dan wanita menarik perhatianku. Mereka bercakap dalam bahasa Tetun diselingi bahasa Indonesia. Saya mengerti alurnya. Saya tangkap makna kontekstualnya. Mereka berdiskusi tentang kondisi politik terkini di Indonesia. Tentang hasil pemilu legislatif 9 April 2009 dan terutama isu panas mengenai calon presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang berkompetisi pada 8 Juli 2009.

Saya menikmati diskusi informal ala warung kopi itu sebagai pendengar sambil menikmati tarian Tebe Tebe, alunan musik dan lagu Timor. Mereka membahas tentang figur Prabowo Subianto, Wiranto, Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, Boediono dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Luar biasa! Analisis mereka tak kalah mendalam dibandingkan pandangan pakar politik Indonesia yang hampir saban malam hadir di televisi.

Sekilas kesan yang kutangkap dari diskusi "pinggir jalan" itu nama Prabowo paling populer di Timor Leste disusul Wiranto dan Megawati Soekarnoputri. Berkali-kali mereka menyebut nama Prabowo dan Wiranto. Maklumlah dua mantan pejabat tinggi TNI tersebut pernah bersentuhan langsung dengan rakyat Timor Leste ketika masih menjadi Provinsi ke-27 Indonesia (1976-1999). Tetapi yang mengejutkan adalah mereka menilai SBY lebih baik dan paling berpeluang terpilih kembali sebagai Presiden RI. "Di antara tiga calon presiden RI, tidak ada tokoh yang lebih berpengaruh dan populer daripada SBY," kata salah seorang dari mereka.

Pengibaran bendera Timor Leste
SBY dinilai lebih berani dibanding presiden RI terdahulu dalam memberantas kasus korupsi. SBY lebih akomodatif terhadap pemerintahan Timor Leste dan Australia, SBY juga dianggap lebih populer di mata rakyat yang dibuktikan lewat kemenangan Partai Demokrat pada pemilu legislatif 2009. Salah seorang peserta diskusi mengatakan, pesaing kuat SBY adalah pasangan Jusuf Kalla-Wiranto, bukan Mega-Prabowo. Terbukti pada Pilres 8 Juli 2009, pasangan SBY-Budiono meraih suara mayoritas. SBY memimpin Indonesia untuk periode kedua.

Tapi setidaknya analisis itu sungguh menggugah saya untuk menelusuri lebih jauh mengapa warga Dili terlihat begitu "paham" tentang konstelasi politik Indonesia? Tak butuh waktu lama untuk mendapatkan jawaban. Program acara dari saluran televisi Indonesia merupakan menu harian hampir setiap rumah tangga di Dili. Demikian pula dengan bar, restoran dan hotel. Jadi warga Timor Leste mengikuti dengan baik semua perkembangan yang terjadi di tanah air kita.

Seperti kecelakaan pesawat Hercules di Magetan pada tanggal 20 Mei 2009 itu, saya justru mendengar pertama kali informasi itu dari warga Dili yang menonton parade pasukan usai upacara bendera memperingati HUT ke-7 Timor Leste di halaman depan Kantor Perdana Menteri (Palacio do Governo) Dili. "Ada pesawat jatuh di Magetan, barusan saya lihat breaking news di Metro TV," kata warga Dili tersebut yang mengaku lulusan Universitas Brawijaya Malang.

Joao, kawan saya yang bekerja di sebuah LSM internasional di Dili bahkan bercerita bahwa putrinya yang duduk di kelas 4 SD sudah fasih bicara bahasa Indonesia dengan dialek Jakarta. "Bung tahu dia belajar di mana? Saya tidak pernah ajarkan dia Bahasa Indonesia di rumah karena saya dan istri pakai bahasa ibu kami, Tetun. Anakku bisa bahasa Indonesia karena tiap hari nonton televisi Indonesia. Dia nonton acara untuk anak-anak, nonton sinetron dan lain-lain," kata Joao yang menyelesaikan studi S1-nya di Universitas Katolik Atmajaya Yogyakarta.

Meskipun telah satu dasawarsa lebih berpisah dengan Indonesia (sejak referendum 1999), warna Indonesia masih kuat melekat di bumi Timor Lorosae. Bahasa resmi negara baru itu adalah Portugis dan Tetun, tetapi "bahasa bisnis dan bahasa kerja" sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dan Inggris.  Berada di Dili Anda serasa berada di negeri sendiri.

Perbatasan Motaain
Tata upacara bendera, misalnya,  sungguh kental warna Indonesia. Petugas pengibar bendera (semacam paskibraka = pasukan pengibar bendera pusaka di Indonesia) persis sama warna seragam dan komposisi grup pengibar bendera nasional. Yang berbeda cuma lambang dan atribut yang melekat pada busana mereka.

Bahkan di daerah pelosok Timor Leste, murid sekolah dasar, SLTP dan SLTA masih mengenakan seragam warisan Indonesia, paduan Putih Merah, Putih Biru dan Putih Abu-abu. Bahasa pengantar di sekolah pun sebagian masih  menggunakan Bahasa Indonesia.  Yang berubah adalah papan nama tempat sudah dialihkan ke Bahasa Portugis dan Tetun. Dan, mereka menggunakan uang dolar Amerika Serikat (US Dollar).

Satu lagi yang berubah drastis sekarang, arus lalulintas Kota Dili yang tidak seberapa luas itu tersendat-sendat pada pukul 07.00 pagi saat orang berangkat kerja atau ke sekolah dan pukul 17.00 saat mereka pulang. Pertambahan jumlah mobil meningkat amat lekas di negara baru itu. Orang Dili  secara parodial melukiskan demikian, "Kami  orang Dili bisa saja tidak punya rumah, tapi mobil pasti ada."

Bangun Desa Perbatasan
Denyut perekonomian memang mulai bertumbuh di Timor Leste! Di jalan-jalan berseliweran mobil berbagai merk buatan mancanegara. Dari beberapa sumber saya mendapat informasi bahwa mobil-mobil itu berasal dari Singapura dan Australia. Pemerintahan Xanana konon membuka kran impor relokasi mobil dari kedua negara tersebut. Tentu saja harga jualnya menjadi lebih murah, sehingga terjangkau kantong  warga Timor Leste.

Kehidupan malam di Dili, ibu kota Timor Leste pun sudah lebih marak. Restoran dan cafe tumbuh bak jamur di musim hujan. Melayani konsumen hingga larut malam.  Pertokoan dan pasar-pasar menggeliat. Kehidupan di Dili sudah berjalan jauh lebih produktif dibanding masa-masa konflik beberapa tahun lalu. Mudah menemukan remaja Kota Dili memakai hot pants atau busana yang selalu mengikuti trend dunia mode. Selain Tetun, mereka juga fasih  berbahasa Inggris.

Dili berubah. Negara baru  Timor Leste penuh semangat mengisi kemerdekaan. Itulah suara-suara yang saya tangkap di Dili. Tidak lengkap memang karena perjalanan jurnalistik saya  hanya beberapa saat. Tetapi  setidaknya menangkap apa yang sedang direncanakan pemerintah negara tersebut untuk membangun negerinya.

Ketika meliput pertemuan antara Wakil Gubernur NTT Ir. Esthon L Foenay, M.Si dengan PM  Xanana Gusmao, Presiden Ramos Horta serta sejumlah menteri  di sela-sela peringatan kemerdekaan Timor Leste kala itu, saya menangkap  gairah yang bergelora dari para pemimpin negeri itu untuk segera mengeluarkan Timor Leste sebagai negara termiskin di Asia.

Satu hal yang menghentak adalah cara pandang pemerintahan Xanana tentang dari mana harus mulai membangun. Xanana ternyata ingin membangun mulai dari desa dan sasaran pertama justru desa-desa di perbatasan dengan wilayah Indonesia. Dan, itu berarti pemerintahan Xanana Gusmao akan membangun daerah tapas batas dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), baik yang berbatasan dengan Kabupaten Belu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Kabupaten Kupang.

Sebagai orang yang lama bersinggungan dengan Indonesia, rencana pemerintahan Xanana bukan hal baru. Selama puluhan tahun tekad pemerintah Indonesia pun sama yaitu bangun bangsa mulai dari desa. Persoalannya itu sebatas jargon pemanis di bibir,  tidak membumi pada level eksekusi. Terdapat jurang pemisah yang amat lebar antara desa dan kota di Indonesia. Desa selalu terpinggirkan karena hampir semua sumber daya terbaik tersedot ke daerah perkotaaan.

Selain desa termarjinalkan, fokus pembangunan Indonesia selama puluhan tahun justru melupakan wilayah perbatasan dengan negara tetangga, seperti daerah tapal batas dengan Malaysia, Australia, Filipina, Singapura dan Papua Nugini. Baru dalam tahun-tahun belakangan ini kesadaran itu muncul bahwa tapal batas sesungguhnya merupakan beranda terdepan NKRI, pintu masuk, teras rumah Indonesia.

Lucu dan menyakitkan manakala orang masuk ke Indonesia melihat beranda rumah berlepotan, miskin dan tertinggal.  Maka lahirlah apa yang disebut pulau-pulau terdepan NKRI. Pemerintah Indonesia mengubah paradigma, perbatasan mesti dibangun dengan lebih fokus dan ofensif.

Saya menduga pemerintahan Xanana coba belajar dari kegagalan Indonesia. Xanana fokus membangun daerah perbatasan sebagai halaman depan Timor Leste. Sebagai negara yang baru, memang masih banyak kekurangan Timor Leste dibandingkan dengan Indonesia. Namun, geliat membangun perbatasan sudah terlihat setidaknya antara perbatasan antara Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia dengan Distrik Oekusi, Timor Leste.

Surat kabar tempat saya mengabdi, Harian Pos Kupang sudah berulang kali memberitakan betapa  Distrik Oekusi, Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) yang berbatasan langsung dengan Kabupaten TTU memiliki infrastruktur dasar yang lebih baik. Sebut misalnya infrastruktur air minum dan listrik.

Jika malam tiba,  warga desa-desa  perbatasan TTU kembali ke peraduannya guna melepas lelah setelah seharian bekerja di ladang. Mereka menikmati malam hanya bermodalkan lampu pelita yang redup. Sementara desa tetangga yang hanya selemparan batu di Distrik Oekusi, listrik terang-benderang. Warganya bisa menonton televisi, mendengarkan radio. Anak-anak mereka bisa belajar dengan penerangan yang memadai.  Miris memang! Toh ketika masih bergabung dengan Indonesia nasib mereka sama yaitu tidur malam berselimutkan kegelapan.

Begitulah  suara-suara yang kurekam sejenak di Dili. Negara baru dengan populasi penduduk belum menembus angka 1 juta tersebut terus berbenah guna mengejar ketertinggalannya dalam berbagai bidang kehidupan. Saya tiba-tiba membayangkan wajah Timor Leste dalam kurun waktu lima belas atau dua puluh tahun yang akan datang.Bukan mustahil mereka amat lekas maju dan jauh meninggalkan Indonesia yang pernah bersamanya selama 23 tahun.*

Sumber:  Buku Bunga Rampai Hari Pers Nasional 2014: Dari Gampong Pande hingga UU Otsus Plus Papua halaman 97. Buku yang disunting Usman Yatim ini diterbitkan Panitia Hari Pers Nasional (HPN) 2014 dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat.  Buku ini diluncurkan pada puncak HPN 2014  di Bengkulu yang antara lain dihadiri Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes