Dikte

INDONESIA adalah negeri seribu sumpah. Tapi hanya tiga sumpah yang paling terkenal. Sumpah Palapa, Sumpah Pemuda dan Sumpah Jabatan. Sumpah Palapa menyatukan Nusantara. Sumpah Pemuda melahirkan Indonesia Raya. Sumpah Jabatan? Lucu, orang dewasa masih mau didikte seperti murid TK!

Eitt...jangan marah dulu kawan. Mari kita bedah satu persatu. Jika tuan membuka kembali buku sejarah, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memang berawal dari sumpah. Tahun 1336 Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa. Sumpah itu diucapkan Gajah Mada pada upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit tahun 1258 Saka atau 1336 Masehi.



Teks Sumpah Palapa ditemukan dalam kitab Jawa kuno, Serat Pararaton (ditulis tahun 1613 M) yang berbunyi, Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, TaƱjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".

Terjemahannya, Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa (nya). Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".

Dari isi naskah Pararaton edisi Brandes (1897:36) ini diketahui pada masa Gajah Mada diwisuda menjadi Patih di hadapan Ratu Majapahit, Tribuwana Tunggadewi, sebagian wilayah Nusantara yang disebut pada sumpahnya belum dikuasai. 

Sejarah membuktikan Gajah Mada mewujudkan sumpahnya dengan menyatukan wilayah-wilayah tersebut. Para ahli sejarah Indonesia sepakat Sumpah Palapa memberi spirit lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diproklamirkan Soekarno-Hatta enam abad kemudian. 

Lima ratus sembilan puluh dua tahun setelah Gajah Mada mengucapkan sumpah legendaris itu dan tiga setengah abad setelah Nusantara remuk dijajah Belanda, pemuda-pemudi dari berbagai suku bersumpah sebagai anak Indonesia lewat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Sumpah itu menghasilkan Trilogi: Satu NUSA, Satu BANGSA, Satu BAHASA: INDONESIA. Selain itu ditetapkan Lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman sebagai lagu kebangsaan. 

Beta kutip ulang isinya. Kami putera dan puteri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia. Kami putera dan puteri Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Kami putera dan puteri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Teks Sumpah Pemuda ini dibacakan pada acara penutupan Kongres II Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 di Jalan Kramat Raya Nomor 106-Jakarta (kini Museum Sumpah Pemuda). Gedung itu dulu milik warga Tionghoa, Sie Kong Liong. Kongres dihadiri 71 peserta termasuk empat utusan golongan Tionghoa yaitu Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien kwie. 

Kongres dipimpin Soegondo Djojopoespito dari PPI dibantu tim inti terdiri dari RM Djoko Marsaid (Jong Java), Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond), Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond), Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond), R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia), Senduk (Jong Celebes), Johanes Leimena (Jong Ambon) dan Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi).

Luar biasa pemuda-pemudi Indonesia saat itu. Di bawah tekanan penjajah mereka berani ucapkan sumpah tentang Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Indonesia! Seperti Sumpah Palapa 1336 yang diwujudkan Gajah Mada pada masanya, Sumpah Pemuda 1928 pun terbukti sakti. Tujuh belas tahun kemudian, Indonesia sungguh merdeka! Setidaknya NKRI masih tegak berdiri sampai usia 65 tahun lebih (2010).

Sekarang coba kita telaah sumpah paling populer di negeri ini, yakni Sumpah Jabatan. Sumpah itu selalu diucapkan seorang pegawai negeri (sipil pun militer) saat memangku jabatan tertentu, antara lain begini bunyinya. 

"Demi Allah! Saya bersumpah, Bahwa saya, untuk diangkat dalam jabatan ini, baik langsung maupun tidak langsung, dengan rupa atau dalih apapun juga, tidak memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun juga; Bahwa saya akan setia dan taat kepada Negara Republik Indonesia; Bahwa saya akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan; Bahwa saya tidak akan menerima hadiah atau suatu pemberian berupa apa saja dan dari siapapun juga, yang saya tahu atau patut dapat mengira, bahwa ia mempunyai hal yang bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan saya; Bahwa saya dalam menjalankan jabatan atau pekerjaan saya, senantiasa akan lebih mementingkan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri atau golongan; Bahwa saya akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan semangat untuk kepentingan Negara". 

Bandingkan dengan Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda. Sumpah Gajah Mada dan Sumpah Pemuda 1928 singkat, padat dan jelas. Sumpah Jabatan panjang nian kalimatnya dan nama Tuhan eksplisit disebut paling awal. Itu berarti Sumpah Jabatan merupakan ikrar kesetiaan, komitmen, kesiapan dan kesanggupan atas nama Tuhan bahwa jabatan itu akan dilaksanakan secara bertanggung jawab. Bersumpah untuk setia kepada sesama dan Tuhan mestinya Indonesia tidak remuk oleh badai kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN). Jika sumpah jabatan itu sungguh dilaksanakan niscaya bangsa ini sudah jauh lebih maju dibandingkan bangsa lain.

"Bung lupa satu hal prinsip. Sumpah Palapa diucapkan Gajah Mada sendiri. Sumpah Pemuda diikrarkan pemuda-pemudi dari berbagai suku di Nusantara dengan tulus hati. Nah, Sumpah Jabatan itu didiktekan atasan pejabat yang berwenang mengambil sumpah. Jadi, bukan keluar dari hati nurani si pejabat. Sumpah cuma formalitas. Lucu sekali, pejabat kan orang dewasa. Kok masih mau didikte seperti murid TK," celetuk seorang kawan sekenanya. Waw!

Mulut beta terkunci! Sejenak bingung mau bilang apa. Bagaimana kalau sumpah jabatan dibacakan sendiri oleh pejabat yang bersangkutan agar dia meresapi dan menghayati pesan setiap kata? Cara lain, minta pejabat buat sendiri rumusan kalimat sumpah jabatan sesuai posisi batinnya. Kalau dia tidak mau bersumpah, tak apa-apa. Artinya, boleh dicoba untuk meniadakan sumpah jabatan. Luar biasa kalau tradisi baru itu dipelopori para pejabat kita di beranda Flobamora. Siapa tahu lebih mujarab khasiatnya bagi bangsa dan negara. (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang Senin, 25 Oktober 2010 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes