Korban KM Karya Pinang: Satu Sampai Mati

Jenazah korban di RSUD TC Hillers Maumere
MAUMERE, PK -- Keduanya bukan lagi dua, melainkan satu. Kalimat yang biasa diucapkan pada saat janji nikah ini dihayati secara sempurna oleh pasangan Rudolfus Kori dan Theresia Nerti.

Pasangan yang menjadi korban tewas dalam kasus tenggelamnya KM Karya Pinang, Jumat (22/10/2010) ini, dikuburkan bersama dalam satu liang lahat di Pekuburan Iligetang, Maumere, Senin (25/10/2010) siang.

Kedua jenazah ini dikuburkan setelah tim identifikasi dari Polda NTT memastikan korban yang ditemukan tewas bernama Rudolfus dan Theresia. Pasutri asal Kecamatan Koting ini menetap di Kelurahan Beru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka.

Rudolfus dan Nerti sehari-hari bekerja sebagai wiraswasta. Keduanya pergi ke Palue mengikuti misa tahbisan imam baru dan misa perdana. Ketika kembali dari acara di pulau itu, KM Karya Pinang yang mereka tumpangi bersama warga lainnya tenggelam di antara Tanjung Sada Watu Manuk dan Ndondo, Jumat (22/10/2010) siang.


Kedua korban ditemukan dalam pencarian tim gabungan pemerintah dan nelayan Palue, Minggu (24/10/2010) siang. Jenazah keduanya lalu dievakuasi ke RSUD Hillers Maumere untuk diidentifikasi tim dokter Polda dan RSUD TC Hillers.
Disaksikan Pos Kupang, jenazah pasutri ini dibawa ke pekuburan menggunakan kendaraan yang disiapkan pemerintah. Peti jenazah Rudolfus diangkut dengan dump truk. Petinya cukup besar dan berat karena perutnya membesar setelah tiga hari teremdam di laut. Sedangkan jenazah istrinya, Nerti menggunakan peti jenazah ukuran normal. 

Para pelayat dan keluarga menyaksikan pemakaman pasangan ini dengan berurai air mata. Prosesi penguburan dahului ibadat yang dipimpin Romo Wilfrid Valiance, Pr.

Dua Perempuan Ditemukan
Dua jenazah perempuan ditemukan lagi, Senin (25/10/2010), sekitar pukul 11.00 Wita, di dua lokasi berbeda di antara perairan Langawaju dan Mausambi. Setelah diidentifikasi tim dokter di kamar jenazah RSUD TC Hillers Maumere, keduanya dikenali bernama Selestina Selfina dan Hendrika Heret.

Menurut informasi dihimpun Pos Kupang, kedua korban ditemukan dalam posisi terapung di laut. Seorang korban ditemukan kapal Koremap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sikka dan seorang lagi ditemukan oleh kapal nelayan milik Kanis, warga Palue yang ikut dalam pencarian itu. Seorang korban mengenakan celana botol, baju lengan panjang hijau dan baju dalam warna putih.

Kedua jenazah itu tiba di RSUD Maumere pukul 16.00 Wita. Setelah dipastikan identitasnya, yang didukung keterangan keluarga dan sanak famili, jenazah keduanya diserahkan pemerintah daerah kepada keluarga lalu dibawa pulang dan dimakamkan di Desa Aibura, Kecamatan Waigete.
Sementara proses identifikasi 12 jenazah korban KM Karya Pinang, yang ditemukan dalam pencarian hari Minggu (24/10/2010), telah selesai Senin siang. Jenazah yang telah dikenali identitasnya diserahkan kepada sanak keluarga korban untuk dimakamkan. 

Wakil Bupati Sikka, dr.Wera Damianus, MM, didampingi Direktur RSUD TC Hillers Maumere, dr. Asep Purnama, Sp.PD, Danlanal Maumere, Kolonel Laut Hadi Suroso Wibowo, dan tim Disdokkes Polda NTT, memimpin prosesi penyerahan jenazah.

Dari 12 jenazah itu, dua warga Maumere dimakamkan di Pemakaman Umum Iligetang pada Senin siang dan sebagian lain dibawa ke Kloangrotat dan Aibura. Warga dan keluarga korban yang menyaksikan proses penyerahan itu menutup mulut dan hidung karena tak tahan bau dari jenazah yang kondisinya mulai rusak. Jenazah diisi dalam peti lalu diangkut dengan mobil ambulans.

Hanya dua jenazah terpaksa diangkut dengan dump truk, karena ukuran peti normal yang dipesan oleh pemerintah daerah tidak bisa memuat jenazah yang membengkak sangat besar. Peti dibuat baru dari bahan tripleks tebal dengan ukuran yang lebih lebar.

"Besok (Selasa), pencarian akan dilanjutkan lagi. Satu kapal polisi kembali ke Maumere dan satu kapal siaga di Palue," kata Kapolres Sikka, AKB Ghiri Prawijaya, semalam.

Dengan penemuan dua jenazah perempuan kemarin, maka total korban yang berhasil ditemukan 14 orang. Sisa korban yang belum ditemukan sebanyak sembilan orang.(ris/ius)


Eka Tinggal Sebatang Kara

"SAYA mau ikut bapak dan mama. Tolong buat kasih saya satu pintu lagi. Kenapa bapak mati harus sengsara dulu? Saya sayang bapak dan mama. Saya mau ikut mereka. Sekarang saya sendiri. Kenapa Kak Tomy juga tidak ada lagi. Kenapa bapak dan mama tinggalkan Eka sendiri sekarang?" 

Inilah suara tangisan dan kata-kata yang keluar dari bibir Maria Agustina Eka, anak tunggal dari pasangan suami istri (pasutri) Rudolfus Kori dan Theresia Nerti, yang tewas tenggelam dalam pelayaran dengan KM. Karya Pinang Palue-Maumere, Jumat (22/10/2010) siang. 

Eka adalah anak semata wayang dari pasangan ini. Eka yang duduk di kelas III SMPK Vifi Maumere ini kini hidup tanpa bapak dan mama kandungnya. Dia hidup sebatang kara. 
Eka tidak menyangka ayah dan ibunya yang pergi menghadiri acara pentahbisan dan misa perdana imam baru di Palue harus pergi meninggalkan dirinya yang masih membutuhkan kasih sayang orangtua. 

Di Pekuburan Iligetang-Maumere, Senin (25/10/2010) siang itu, suara tangisan Eka membuat keluarga besar dan sidang perkabungan terus menangis. "Saya nanti sekolah rajin, saya janji. Bapak bilang saya harus jadi dokter. Bapak dan mama saya nanti rajin belajar, tapi siapa yang biaya sekolah Eka sekarang? Bapak dan mama sudah pergi, Eka sekarang sendiri tanpa adik. Kak Tomy kenapa tidak ada? Kenapa kak Tomy juga pergi tinggalkan Eka?" kata Eka. 

Selama ibadat penguburan, Eka terus meratapi ayah dan ibunya. Mengenakan sarung hitam, kerudung hitam dan baju hitam, Eka dijaga keluarganya. Eka terus memegang dan melihat foto kedua orangtuanya. 

"Jangan kasih jatuh bapak. Pelan-pelan! Bapak sudah sakit. Kasihan bapak," ucapnya saat jenazah ayah dan ibunya dimasukkan ke dalam liang lahat. 

Ignasius Wodang, wakil keluarga, mengatakan, kematian Rudolfus dan Theresia sungguh memprihatinkan. Kematian keduanya membuat keluarga sangat terpukul. Apalagi keduanya meninggalkan anak mereka yang kini masih membutuhkan kehadiran dan kasih sayang orangtuanya. (aris ninu)

Data KM Karya Pinang:
Tenggelam: Jumat (22/10/2010)
Lokasi : Tanjung Sada Watu Manuk
Total penumpang: 66 orang
Korban selamat: 43 orang
Korban tewas: 14 orang
Korban hilang: 9 orang
Nakhoda: Adeodatus Ora
ABK: 4 orang

14 Korban yang Teridentifikasi:
1.Agustina Wio
2.Angelina Angela
3.Rudolfus Cory, S.H
4.Theresia Nerti
5.Maria Piada
6.Maria Novianti
7.Paulina Pisen
8.Philipus Api
9.Tekla Bolor
10.Yohanes Bulianto
11.Kristina Surijila
12.Maria Ermalinda
13. Selestina Selfina 
14. Hendrika Heret
-------------------
Sumber: RSUD TC Hillers Maumere

Dipicu Awan Cb

TENGGELAMNYA KM Karya Pinang, Jumat (22/10/2010), dipicu oleh awan Cumulunimbus (Cb), yang memicu gelombang secaramendadak. 

Hal ini disampaikan Kepala BMKG El Tari Kupang, Syapi'i, S.Si, melalui Forecaster on Duty, Moh Syaeful Hadi, SP, di ruang kerjanya, Senin (25/10/2010). 

"Apalagi saat itu terjadi turun hujan disertai angin tenggara yang cukup kencang. Meski hanya sesaat, sangat berbahaya hingga kapal tersebut tenggelam," kata Syaeful.

Dijelaskannya, awan Cb biasanya memicu gelombang laut sehingga tinggi gelombang laut bisa naik secara tiba-tiba melampaui kondisi normal. Pada kondisi itu, bisa saja terjadi peristiwa yang tidak diinginkan, meski sebelumnya cuaca normal.

"Biasanya awan-awan Cb muncul di atas perairan. Jika kumpulannya sudah berat, akan jatuh dan pada saat bersamaan turun hujan disertai angin. Gaya tarik awan Cb menimbulkan gelombang tinggi di atas normal," katanya.

Dia meminta para nelayan dan pengguna jasa transportasi laut, terutama kapal-kapal layar atau kapal motor, supaya waspada dalam pelayaran, sebab saat ini potensi awan Cb ada di seluruh wilayah NTT. 

"Saat ini tinggi gelombang rata-rata antara 1 - 2 meter. Pelayaran dan nelayan harus tetap waspada karena adanya anomali cuaca dan iklim tahun ini," ujarnya. 

Kepala BMKG El Tari Kupang, Syapi'i, S.Si, mengatakan pihaknya selalu memberikan informasi mengenai cuaca kepada semua pihak, termasuk syahbandar. 

"Selama ini kami sampaikan data atau informasi itu ke semua pos yang ada di pelabuhan laut. Informasi tentang tinggi gelombang, angin dan lain-lain juga disampaikan ke kapal- kapal. Tapi, kalau kapal yang radio informasinya tidak ada atau terganggu, maka informasi itu tidak bisa mereka ketahui," kata Syapi'i.

Kepala Stasiun Klimatologi Klas II Lasiana Kupang, Ir. Purwanto juga mengatakan, hingga kini (NTT) masih berpotensi ditutup awan Cb atau awan konvektif. (yel)

Pos Kupang, 26 Oktober 2010 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes