Epang Gawang Alfonsa

Alfonsa (kiri).
DI  tengah berkurangnya minat kalangan muda Flores untuk giat mencintai tenun, kehadiran dan kiprah Alfonsa Raga Horeng membawa optimis tersendiri. Setidaknya melalui karyanya-karyanya di bidang tenun, telah membuka mata generasi muda tentang kehadiran tenun sebagai seni warisan leluhur yang bernilai tinggi.

Alfonsa Raga Horeng kini memang sudah dikenal publik. Seiring pengenalan orang terhadap tenun ikat Flores, nama Alfonsa Raga Horeng pun ikut serta mendunia. Melalui kecintaan akan tenun sebagai warisan budaya, dan kesabaran untuk memintal berbagai pengetahuan tentang tenun dari tanah Flores, membuatnya pantas diundang dalam berbagai workshop dan menghadiri ivent budaya  bertaraf nasional maupun internasional.

Sejumlah penghargaan yang diperolehnya merupakan konsekuensi lain darinya sebagai sosok yang inspiratif. Sebut saja ia pernah menjadi delegasi Indonesia untuk kegiatan ISEND 2011 yang berlangsung diLa Rochelle-Prancis, serta diundang dalam kegiatan pariwisata di London. Dalam negeri sendiri ia juga mendapatkan penghargaan Kartini Award sebagai perempuan inspirasi Indonesia dan dari luar negeri seperti Australian Leadership Award.

Alfonsa Raga Horeng  lahir di Desa Nita, Kabupaten Sikka, Flores-NTT, 1 Agustus 1974. Ia sempat kuliah di Universitas Widya Mandala Surabaya, dan mengambil jurusan Pertanian. Setamat kuliah 1998, ia  bekerja di Surabaya, namun kecintaan pada kampung halaman dan kemandiran yang dipunyainya membuatnya kembali ke Nita, kampung halamannya.

Ketika berada di kampung halaman, pada 2002 ia memutuskan untuk bergerak dibidang tenun  dan memulai semua itu dari lingkungan rumah dan desanya.  Keluarganya sangat mendukung niatnya.  Ia kemudian memprakarsai berdirinya lembaga Sentra Tenun Ikat Lepo Lorun (STILL).

Bersama STILL, ia mengembangkan tenun ikat di desanya sendiri yang terdiri dari  ibu-ibu yang dengan tekun dapat menghasilkan karya tenun yang indah.STILL mempunyai desa binaan  yang tersebar di beberapa kabupaten di Flores. Tak jarang ia pun terjun langsung ke desa-desa binaan baik itu di kabupaten Sikka, Ende maupun Flores Timur.

Dengan pengetahuan yang ia miliki, minat yang ia rintis lebih menyerupai  pekerjaan seniman. Ia trampil menenun,  meramu pewarna hingga mampu memahami makna dari aneka motif tenun ikat Flores. Ia juga teribat dalam pendokumentasian proses pembuatan tenun ikat.

Rupanya apa yang dijalankan Alfonsa dilatari dengan pemahaman yang baik tentang warisan leluhur ini. Tidak berlebihan, ketika FBC pada Selasa, (28/2) melakukan wawancara dengannya, ia harus meluruskan beberapa kekeliruan tentang tenun ini. Sepertinya, Alfonsa lebih berpandangan bahwa tenun adalah kerja budaya dan bukan sekadar masalah teknis, apalagi yang menyangkut usaha yang serba instan.

Sebagai karya seni warisan leluhur, Alfonsa menyadari bahwa akibat perubahan, orang muda Flores mulai tidak meminati tenun sebagai  karya terpenting.  Menurut Alfonsa, arus perubahan sering membuat orang tidak mau bersusah payah dengan kerja.

Ada semacam dua dunia yang sedang betolak belakang, yang satu menuntut kesabaran dan ketekunan bahkan kadang menjauhi nilai ekonomi. Sementara, dunia yang lain yang banyak diminati adalah yang gampang dan segera mendapatkan uang.

“Minat orang muda semakin berkurang. Mereka memilih sesuatu yang lekas jadi. Pakaian sudah ada. Tidak  banyak yang mendalami tenun secara sungguh-sungguh,” katanya

Walau kenyataan demikian, Alfonsa sama sekali tidak menyerah bahkan ia terus menumbuhkan kecintaan anak muda Flores akan tenun. Sebab bagaimanapun, tenun sudah menyatu dalam sejarah hidup orang Flores. Dari pembuatan yang lebih sebagai  ritual, maupun peruntukannya pun juga menyangkut urusan adat.

“Sejak dulu tenun sarung sudah menjadi kebiasaan ibu-ibu disana.Dengan tenun, kaum perempuan memiliki relasi yang bermakna dengan laki-laki,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, tenun membuat suatu kehidupan menjadi seimbang karena perempuan dapat menghasilkan sesuatu dalam hidupnya. Perempuan penenun adalah perempuan yang mandiri, tegar dan independen.

“Tenun itu membutuhkan waktu dan tidak semata hanya persoalan ekonomi semata,” ungkapnya. yang baru sejak tanggal 15 hingga 18 Februari  menghadiri pameran Adiwastra Kain Tradisonal Indonesia 2012, di Jakarta Convention Center. Epang Gawang Alfonsa.  Anda memberi inspirasi yang luar biasa. (Benjamin Tukan)


Sumber: Flores Bangkit

Artikel Terkait
    Modifikasi Ikat-Tenun Lembata
    Tenun Ikat Tradisional Masyarakat Adat Watublapi
    Blirian Sina Sanggar Seni Masyarakat Watublapi-Sikka
    ”Epang Gawang Golo” Terima Kasih Bagi yang Berkunjung
    Kampung Sikka, Tenun dan Tradisi
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes