Tampilkan postingan dengan label Piala Eropa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Piala Eropa. Tampilkan semua postingan

Malam Panjang di Kairagi

MALAM panjang di Kairagi berakhir di hari Senin. Ya, tanggal 1 Juli 2012 malam larut  di Kiev  atau 2 Juli 2012 waktu Manado, Euro 2012 berakhir dengan hasil yang semua kita sudah tahu: Spanyol menciptakan hattrick terbaik dalam sejarah turnamen kompetitif sepakbola sejak awal abad ke-20.

Dalam empat tahun  Spanyol meraih tiga tropi bergengsi sepakbola, juara Piala Eropa 2008 (mengalahkan  Jerman di final 1-0), juara Piala Dunia 2010 (menekuk Belanda 1-0) dan juara Piala Eropa 2012 (menganiaya Italia 4-0). Bahkan negara dengan tradisi sepakbola kuat seperti Jerman dan Italia belum pernah mencetak sejarah emas semacam ini. Mungkin lima 25 sampai 50 tahun lagi sejarah serupa baru terulang, entah oleh negara mana di bumi ini.

Selesailah  sudah pesta bola di Polandia-Ukraina  2012. Kita akan selalu mengenang dan merindukannya. Mengenang momen-momen indah dan sedih. Merindukan aksi-aksi menawan seniman lapangan hijau.

Malam-malam yang panjang sungguh tercipta di Kairagi, satu titik kecil di bumi Kawanua, markas kami Harian Tribun Manado beraktivitas. Selama tiga pekan lebih, bola membius-memesona kami. Bola menyedot energi tak sedikit, setidaknya jam tidurku dan kawan-kawan di Tribun Manado  lebih sedikit dari lazimnya.  

Sejak 8 Juni 2012  praktis malam-malam kami begadang sampai menjelang fajar lantaran menikmati aksi pemain bintang di Polandia-Ukraina.  Diskusi bola mewarnai newsroom.  Ada canda, ada tawa. Ada olok-olokkan. Juga wajah sedih dan hati galau karena tim kesayangan tumbang di babak awal.

Kegalauan melanda fans Belanda. Belanda 2012 begitu rapuh padahal bertaburan bintang. Belanda 2012 laksana elang yang patah sayapnya. Sekalipun tak pernah menang di fase grup, menempati dasar klasemen. Seolah sulit dipercaya mengingat Belanda adalah runner-up Piala Dunia 2012 Afrika Selatan. Mereka melewati kualifikasi Euro 2012 dengan mulus. Dan  tim itu masih yang sama.

Bola memang bukan matematika. Bola adalah ekspresi paling murni tentang kemanusiaan. Mereka boleh saja berintikan 11 bintang. Tapi bintang-bintang yang egois hanya menghasilkan kesia-siaan. Belanda yang mewariskan tradisi total football justru terseok-seok. Lekas pulang kampung dengan wajah muram. Italia yang adem ayem, tampil seadanya malah menembus final dengan memupus impian 82 juta rakyat Jerman. Final ideal mestinya Jerman vs Spanyol yang meraih hasil nyaris sempurna sejak penyisihan grup. Tapi begitulah bola punya logika sendiri. Sebuah tim diyakini menang mudah. Fakta di lapangan dapat berbalik arah. Dengan aktor utamanya manusia, bola merupakan cermin bening human being yang terdiri dari tulang dan daging rapuh. Bejana tanah liat yang sewaktu-waktu bisa remuk dengan entengnya.

Dan, awan kesedihan seketika menggelayuti kubu tim nasional Italia sesaat setelah wasit Pedro Proenca meniupkan peluit tanda berakhirnya pertandingan final Piala Eropa 2012 di Stadion Olympic di Kiev, Minggu 1 Juli 2012. Bukan sekadar kekalahan yang membuat mereka kecewa, poin telak membuat mereka tertunduk.

Spanyol mengubur impian Gli Azurri dalam-dalam dengan empat gol tanpa balas. Skor terburuk sepanjang sejarah final Piala Eropa.  Leonardo Bonucci menangis tersedu-sedu hingga beberapa kali ditenangkan  Pelatih Cesare Prandelli.

"Ini tamparan yang keras. Anda dapat kalah di final, tetapi menyakitkan jika kalah seperti ini," ungkapnya seusai pertandingan seperti dilansir Football Italia.

Penyesalan mendalam pun diungkapkannya. Bek berusia 25 tahun itu menyesal karena pertahanan Italia tidak mampu mengimbangi gempuran Spanyol. Menurutnya, pendekatan lini belakang Italia sudah salah sejak awal. Seharusnya, lanjut Bonucci, mereka tak boleh sedikit pun memberikan ruang kepada  lawan karena mereka sedang melawan Spanyol, bukan Jerman, bukan Inggris atau Portugal.

Riccardo Montolivo datang dengan rasa penyesalan yang sama besarnya. Bahkan, menurut dia, para pemain Italia tak sekadar sedih. Mereka frustrasi. Apalagi, menurutnya, mereka telah bersama-sama bermimpi bersama seluruh rakyat  Italia.

"Kalah 0-4 di final kejuaraan Eropa, Anda tak bisa bahagia. Ada penyesalan yang sangat besar dan rasa frustrasi yang kami alami sampai akhir pertandingan dan kami tidak memainkannya dengan baik," tutur pemain AC Milan ini sendu.

Kepedihan yang mendalam memang menguasai skuad. Prandelli dan kiper Gianluigi Buffon saja yang terlihat tegar. Dengan karakter kebapakannya, Prandelli berusaha menghibur para pemain yang bersedih. Begitu pula Buffon.

Striker bengal timnas Italia, Mario Balotelli, termasuk salah satunya. Air matanya menetes setelah di akhir-akhir babak kedua, wajahnya datar. Publik pun tahu, ini adalah ketiga kalinya Balotelli menangis.

Sebelumnya, ibu Balotelli, Silvia Balotelli, yang dipeluk oleh striker berusia 21 tahun ini saat dua golnya ke gawang Jerman membawa Italia maju ke final, mengatakan bahwa sulit menemukan "Super Mario" menangis.

Setelah menangis karena Jose Mourinho, sekarang Pelatih Real Madrid, terakhir kali Balotelli menangis di pelukan ibunya seusai laga melawan Jerman di semifinal Euro 2012. Dan, Minggu malam 1 Juli 2012, Balotelli kembali menangis bersama Andrea Pirlo yang selama ini senyumnya sangat jarang dilihat....

Italia hanya sedang tak beruntung alias sial. Demikian penilaian dari pelatih tim nasional Spanyol, Vicente Del Bosque. Menurut pelatih berusia 61 tahun ini, "Gli Azzurri" tampil luar biasa sepanjang turnamen, tetapi tidak terlalu beruntung mengakhirinya.

"Kami telah menjalani pertandingan yang sangat luar biasa. Namun, jangan meremehkan Italia. Mereka hanya tidak beruntung. Segala keberuntungan mendukung kami malam ini," katanya seperti dilansir Football Italia.

"Italia bermain dengan satu pemain lebih sedikit, satu hari kurang istirahat, dan mereka telah mencoba yang terbak, tetapi tak bisa masuk ke dalam permainan. Kami main dengan gaya kami, dan yakin dengan apa yang sudah kami lakukan bertahun-tahun," lanjutnya.

Del Bosque mengatakan, siapa saja dan tim mana pun di dunia ini bisa kehilangan suatu kesempatan kapan saja, dan Italia mengalaminya. Meski sudah menunjukkan permainan yang mencengangkan hingga berjalan sampai final, kebobolan terlebih dahulu hingga cederanya Thiago Motta membuat permainan efektif yang coba dibangun Cesare Prandelli segera berakhir.

Namun, menurutnya, para pemain Spanyol memang tengah dalam performa terbaiknya. Iker Casillas dkk tidak mudah menyerah ketika lawan bereaksi terhadap permainan mereka. Mereka  membalasnya dengan reaksi yang tak kalah ngotot.  "Ini adalah generasi pemain yang luar biasa. Mereka memiliki dasar dan tahu bagaimana harus bermain karena mereka datang dari negara yang mengetahui cara-cara (bermain sepak bola). Kami memiliki banyak pemuda yang luar biasa, beberapa bermain di luar negeri," ungkapnya.

"La Furia Roja" menurutnya bisa bermain dengan tenang sehingga menguasai bola dengan lebih baik. Dengan kemenangan ini, Spanyol menjadi tim pertama yang memenangi tiga gelar turnamen besar secara berturut-turut. Bravo Espana..

Kairagi  kembali ke rutinitas biasa. Dan, kami agaknya masih menjalani malam- malam yang panjang. Hidup adalah perjalanan....kawan. Perjalanan seperti bola yang bundar, bergulir. Ada saat di atas, ada waktu tiarap sejajar kulit bumi...

(Catatan rumpu-rampe yang dibuang sayang....Hehehe)

Stinging Like a Bee

"Dancing like butterfly, stinging like a bee." Itu memang gambaran untuk petinju legendaris Muhammad Ali. Ia menari seperti kupu-kupu dan menyengat seperti lebah. Bahkan, petinju-petinju tangguh pun sanggup ia taklukkan.

Gambaran seperti itu rasanya bisa disematkan kepada timnas sepak bola Spanyol. Negara dari kawasan Iberia ini menari dengan permainan tiki-taka, terkesan lembut atau lemah gemulai seperti gerombolan kupu-kupu memburu bunga. Tak ada kesan garang pada gerakan atau wajah-wajah para pemain. Namun, mereka menyengat seperti tawon. Tajam dan menyakitkan.

Dan, Italia yang tak pernah dikalahkan Spanyol dalam waktu normal sejak 1920 akhirnya tumbang juga di final Piala Eropa 1 Juli 2012. Bahkan, tarian Spanyol itu membuat gawang Gianluigi Buffon tersengat empat kali oleh aksi David Silva, Jordi Alba, Fernando Torres, dan Juan Mata.

Bergerak dan mengumpan secara cerdas. Itulah salah satu ciri khas sepak bola Spanyol saat ini yang disebut-sebut berakar dari Barcelona. Dan, memang itu yang ditekankan La Masia (akademi sepak bola Barcelona) dalam mendidik anak asuhnya. Setelah semua dasar teknik dikuasai, para pemain hanya diminta berpikir cerdas untuk bergerak dan mengumpan secara cerdas, kemudian menyelesaikan serangan dengan cerdas pula.

Itulah yang diadopsi timnas Spanyol, hingga didominasi para pemain Barcelona, seperti Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Pedro Rodriguez, Sergio Basquet, Cesc Fabregas, dan Gerard Pique. Bahkan, formasi timnas Spanyol pun sama dengan Barcelona, yakni 4-3-3. Namun, pemain dari klub lain pun tetap bisa menyatu dalam irama dan filosofi yang sama.

Dengan gaya permainan sepak bola seperti itu, mereka selalu mendominasi permainan. Itu pula salah satu kekuatannya. Bagi Spanyol, penguasaan bola adalah awal dari sebuah kesuksesan permainan. Kehilangan bola sama halnya awal dari bahaya.

Filosofi itu pula yang dipegang Pelatih Vicente del Bosque. Maka, dia membuat gebrakan cukup mengejutkan di Piala Eropa 2012 ini. Pada pertandingan pertama melawan Italia di penyisihan Grup C, ia tak memakai striker sejak awal. Tujuannya agar Spanyol mampu menguasai lini tengah yang sangat vital, juga mampu mendominasi penguasaan bola.

Lini depan dia isi tiga gelandang. Cesc Fabregas berperan sebagai "Nomor 9 Palsu" atau striker tipu-tipuan. Hasilnya, Spanyol ditahan Italia 1-1. Lalu, publik mengkritik strategi yang kemudian disebut dengan formasi 4-6-0 karena tak memakai striker murni tersebut.

Del Bosque bergeming. Di final ketemu lawan yang sama, Italia, ia memakai strategi yang sama. Spanyol mendominasi permainan dan kemudian menuai buah strategi barunya dengan kemenangan 4-0. Meski striker Fernando Torres akhirnya main pada menit ke-74, tetapi dasar kemenangan Spanyol dibangun dengan formasi 4-6-0.

"Tipe sepak bola tak hanya satu. Yang terpenting bagaimana mencetak gol," demikian kata Del Bosque memberi alasan.

Jawaban yang masuk akal. Sebab, Spanyol memiliki jajaran gelandang luar biasa yang tak hanya mampu mengkreasi permainan, membantu bertahan, tetapi juga menyerang dan mencetak gol. Nama-nama seperti Xavi Hernandez, Andres Iniesta, David Silva, dan Cesc Fabregas merupakan jaminan penguasaan bola dan mereka punya naluri mencetak gol yang bagus. Terbukti, sebelum menurunkan striker murni, mereka langsung unggul 2-0 berkat gol Silva dan bek Jordi Alba.

"Para pemain kami sangat inteligen. Kami memiliki tim yang seimbang. Ada keamanan dalam diri pemain kami. Kami memiliki beberapa striker, tetapi kami memutuskan untuk menurunkan pemain dengan kondisi yang terbaik bagi gaya sepak bola kami," tambahnya.

Penguasaan bola dengan tiki-taka, itulah yang diutamakan. Kemudian, dengan kecerdasan pemain, peluang akan lahir. Dan, peluang Spanyol yang dibangun dengan tiki-taka dan umpan one-two sering melahirkan peluang emas yang bisa diselesaikan pemain tipe apa pun.

Ibarat kupu-kupu, Spanyol punya pola tersendiri dalam menari. Menggunakan teknik tiki-taka, mereka bergoyang dan menggoyang lawan dalam ritmenya. Sering terkesan lemah lembut, tetapi pergerakan mereka meyakinkan dan sengatannya tajam seperti lebah dan mematikan.

Spanyol telah membuktikan efektivitas sepak bola mereka. Tiga gelar besar secara berturut-turut menjadi bukti superioritas sepak bola Spanyol. Setelah juara Piala Eropa 2008, mereka menjuarai Piala Dunia 2010 dan kini Piala Eropa 2012. Inilah masa kejayaan tiki-taka ala Spanyol. (*)

Sumbernya di SINI

Nereo Rocco

SELAMA perhelatan Piala Eropa 2012, dan juga kompetisi sepak bola besar lainnya, selalu saja catenaccio disebut-sebut. Setiap ada tim yang bermain dengan fokus bertahan dan mengandalkan serangan balik, selalu disebut sepak bola catenaccio.

Pada Piala Eropa 2012 lalu, Italia sebagai negara yang identik dengan catenaccio justru disebut mulai meninggalkan sepak bola bertahan itu. Bahkan, Inggris yang kemudian dituduh mengadopsi catenaccio.

Padahal, catenaccio murni sebenarnya sudah lama mati. Bahkan, tim-tim Italia yang dianggap gemar catenaccio sudah lama tak menggunakannya.

Catenaccio sebenarnya bukan dari Italia. Ide awalnya justru datang dari pelatih Austria, Karl Rappan. Dia memasang satu bek di belakang lini pertahanan, tepatnya di belakang dua bek tengah dan di depan kiper. Tugasnya menjamin keamanan. Jika lini belakang gagal menahan lawan, maka dia bisa menjadi penyapu terakhir sebelum kiper. Bek tambahan ini yang kemudian disebut sweeper atau penyapu. Rappan menyebut sistem ini dengan nama verrou atau gerendel.

Lalu, gaya sepak bola ini kemudian populer di Italia, setelah pelatih Nereo Rocco mengadopsinya. Dia memodifikasi sweeper dengan libero. Bedanya, jika sweeper khusus menunggu lawan lepas atau menjadi defender terakhir. Libero juga demikian, tapi dia diberi kebebasan bergerak. Dengan tugas utama membantu pertahanan, tapi dia juga diberi tugas menjadi playmaker kedua.

Sistem ini kemudian diperhalus oleh pelatih asal Argentina, Helenio Herrera, saat menangani Inter Milan pada era 1960-an. Rocco sukses bersama Milan degan juara Piala Champions (sekarang Liga Champions) musim 1962-63. Sedangkan Herrera sukses bersama Inter dengan menjuarai Piala Champions musim 1963-64 dan 1964-65.

Salah satu kunci dan ciri khas catenaccio adalah penggunaan man marking. Pemain lawan akan ditempel ketat dan sedekat mungkin. Tugas penempelan pemain lawan ini biasanya dilakukan bek tengah, bek sayap, dan gelandang bertahan.

Berbagai variasi catenaccio memang muncul. Tetapi, filosofinya, permainan defensif ini untuk mempertahankan keunggulan atau menghindari kemasukan gol. Juventus dengan bintangnya John Charles pernah memakai catenaccio juga. Setelah menjadi striker utama, tiba-tiba Charles turun menjadi bek tengah.

Lalu, memasuki era 1970-an, muncul Ajax Amsterdam yang begitu superior dengan permainan menyerangnya. Di bawah pelatih Rinus Michels, Ajax juara Piala Champions 1970-71, mengalahkan Panathinaikos 2-0. Saat itu, Ajax mengusung sepak bola total (total football) yang antitesis terhadap permainan bertahan. Ajax bermain sangat menyerang dan bahkan serangan tak hanya diandalkan pada lini depan, tetapi juga bisa lini tengah, bahkan defender. Sehingga, sepak bola man marking gaya catenaccio akan kesulitan membuat skala prioritas siapa saja yang harus ditempel ketat karena semua pemain bisa menyerang dalam total football.

Setahun kemudian, musim 1971-72, Ajax tak hanya mempertahankan Piala Champions. Tetapi, mereka juga menaklukkan catenaccio. Ajax yang bermain menyerang, menghajar Inter Milan 2-0 di final. Dua gol dicetak Johan Cruyff yang menjadi master permainan menyerang Ajax. Semusim kemudian, giliran Juventus yang dikalahkan Ajax di final Piala Champions. Di babak sebelumnya, AC Milan yang bermain bertahan dibantai Ajax 6-0.

Sepak bola menyerang total telah lahir dan juga mengandalkan zonal marking. Sejak saat itu, catenaccio murni yang bertahan dan mengandalkan man marking dianggap sekarat, kemudian mati perlahan. Kalaupun ada tim yang bermain bertahan, bukan berarti menerapkan catenaccio.

Catenaccio murni sudah kehilangan konteksnya di sepak bola modern. Apalagi setelah peraturan offside muncul dan lebih longgar bagi tim penyerang, maka catenaccio murni sudah tak cocok lagi, bahkan terasa riskan.

Memang, permainan bertahan tak mati. Bedanya, pemain gerendel (sweeper atau libero) tak digunakan lagi karena terbukti ketinggalan zaman. Lalu, muncullah zona mista. Sistem ini menggabungkan zonal marking dengan catenaccio yang mengandalkan man marking.

Di sistem zona mista, taktik bertahan adalah zonal marking. Namun, libero tetap dipertahankan untuk menempel (man marking) pemain paling berbahaya. Tim-tim Italia kemudian banyak yang menggunakan sistem ini dan mereka sukses di tingkat klub maupun timnas (juara Piala Dunia 1982). Enzo Bearzot merupakan tokoh sistem ini. Dan, sistem ini kemudian juga dikenal dengan Italian defense atau pertahanan gaya Italia.

Lalu, Arrigo Sacchi menjadi pelatih AC Milan (1987-1991). Dia memperkenalkan sepak bola indah dan menyerang dengan mengandalkan trio Belanda (Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Marco van Basten). Perlahan-lahan, tim sepak bola Italia meninggalkan catenaccio secara total.

Meski begitu, kata catenaccio masih sering dipakai dalam dunia sepak bola. Setiap tim yang bertahan dan mengandalkan serangan balik selalu disebut catenaccio. Padahal, hampir sudah tak ada tim yang menggunakan sweeper atau bahkan libero. Kalaupun ada, bukan berarti sistem permainannya catenaccio.

Tim yang kalah kualitas biasanya memang akan menerapkan permainan bertahan dan menerapkan serangan balik. Itu sudah wajar. Tetapi, kini masih sering terdengar latah soal catenaccio. Setiap tim yang bermain bertahan selalu dinilai menerapkan catenaccio. Padahal, bertahan tidak harus catenaccio. Sebab, bertahan itu adalah iktikad, rencana, dan strategi, bukan sistem. Dengan sistem apa pun, tim bisa bermain bertahan jika memang niatnya bertahan.

Memang, roh catenaccio terkadang merasuki tim-tim yang bermain bertahan. Seperti kala Jose Mourinho menyuruh Pepe menempel ketat Lionel Messi kala Real Madrid melawan Barcelona. Namun, Madrid sebenarnya tak sedang menerapkan catenaccio. Sebab, catenaccio murni sebenarnya sudah mati. (*)

Sumber: Kompas.Com


Bakung Cinta dari Kiev

Upacara Penutupan Euro 2012, Kiev 1 Juli (afp)
DI atas karpet berwarna biru yang dibentangkan di lapangan Olympic Staidum, Kiev, Ukraina, Minggu malam atau Senin (2/7/2012) dinihari Wita, ratusan penari yang didominasi anak-anak kecil membentuk sebuah koreografi seorang pria menendang bola.

Bentuk koreografi kemudian berubah lagi menjadi lambang cinta dengan variasi bunga bakung berwarna putih-kuning. Artis nyanyi kenamaan Jerman, Oceana mengiringi gerak indah tarian tersebut dengan lantunan Endless Summer.

Pemandangan indah itu langsung mendapat tepuk tangan meriah dari 65 ribu penonton yang memenuhi stadion terbesar di ibu kota Ukraina tersebut. Suasana makin haru biru tatkala pembaca acara mengucapkan terima kasih pada seluruh suporter yang telah mewarnai 'kehidupan' Polandia-Ukraina.

Semua seremoni indah tersebut menjadi awal dari akhir gelaran Euro 2012. Berakhir setelah Kapten Spanyol, Iker Casillas, mengangkat trofi penanda status tim terbaik di benua Biru untuk edisi 2012.

Oceana (afp)
Puluhan ribu fans Matador, baik di dalam stadion maupun di luar arena, berteriak. Gemuruh suara mereka bercampur dengan rasa sedih yang sempat bergelayut di rona wajah tifosi Italia. Namun semuanya seketika berbaur, menjadi sebuah pengalaman luar biasa. Mereka akhirnya bersatu dalam naungan dunia sepak bola.

"Viva Espana", begitu teriakan yang paling sering terdengar dari para suporter Spanyol tersebut. Spanyol memang superior. Terlepas dari euforia tersebut, fans Matador dan tifosi Italia mengucapkan terima kasih kepada Polandia dan Ukraina yang telah sukses menjadi tuan rumah Euro 2012.

"Polandia-Ukraina adalah tempat yang sangat nyaman, kami sangat senang berkunjung di dua negara ini. Sejak berada di Gdansk, Warsawa dan kini di Kiev, kami merasakan hangatnya cinta dari mereka. Kami takkan melupakan semua ini, " kata Manuel, seorang suporter Spanyol.

Secara khusus ucapan "Thanks Poland And Ukraine" juga diucapkan UEFA dengan membentangkan spanduk besar di Olympic Stadium Kiev. Spanduk tersebut sebagai bentuk apresiasi UEFA terhadap kerja keras dua negara Eropa Timur itu menggelar hajatan akbar sepak bola Eropa.(tribunnews)

Bintang Spanyol di Euro 2012

Pemain Spanyol di Euro 2012 ketika masih bocah (dok Marca)
MUDAH saja untuk menyebutkan nama para pemain tim nasional Spanyol saat melihat foto wajah mereka saat ini. Namun, bisakah Anda menyebutkan nama-nama mereka jika melihat foto yang satu ini?

Marca, media olah raga Spanyol, menayangkan foto-foto ke-23 penggawa "La Furia Roja" ketika mereka masih anak-anak dan remaja. Mereka adalah para pemain yang ikut berlaga di Polandia-Ukraina.

"Tak ada yang pernah membayangkan sebelumnya bahwa pada hari ini mereka bisa mencatatkan namanya dalam sejarah olah raga. Ke-23 pemain telah tumbuh dengan luar biasa untuk membawa sukacita kepada semua para suporter yang mendukung mereka," tulis Marca,  Minggu (1/7/2012).

Media olah raga terbesar di Spanyol ini juga menyebutkan bahwa kebahagiaan yang dibawa Spanyol melalui kemenangan ini paling dirasakan oleh anak-anak. Ini bisa menjadi pemicu semangat generasi muda Negeri Matador untuk terus mengembangkan kemampuan sepak bola mereka dan meneruskan rekor para senior mereka ini.

Berikut adalah nama-nama pemain dalam foto tersebut dari kiri ke kanan. Wajah siapakah yang tak berubah hingga saat ini?

Atas: Casillas, Ramos, Alba, Cesc, Torres, Juanfran dan Cazorla.

Tengah:
Xavi, Iniesta, Arbeloa, Piqué, Mata, Silva, Albiol dan Reina.

Bawah: Llorente, Martínez, Busquets, Pedro, Valdés, Negredo, Alonso dan Navas.

Sumber: Kompas.Com

Kopi Balotelli dan Pisang Goroho Torres

Suasana Noreng Senin dinihari 2 Juli 2012 di Manado
Pagelaran Euro 2012 dimanfaatkan para pengelola cafe dan restoran di Kota Manado secara kreatif untuk menarik minat pengunjung. Salut.

LAYAR berukuran 2 x 3 meter persegi  terlihat menyolok begitu kaki menyentuh ambang pintu PX Corner Manado. Di dalam ruangan, suasana begitu meriah oleh bendera enam belas negara kontestan yang digantung di langit-langit. Di bawahnya, deretan kursi tersusun rapi bagai arena pertandingan.

Bendera Spanyol dan Italia yang terpasang tepat di depan pintu bagai isyarat pertemuan terakhir Euro 2012. "Saya pasang ini dua hari sebelum pentas Euro digelar dan ternyata tebakan saya benar," kata Eddy Mawikere, Directing PX Corner kepada Tribun Manado, Sabtu (30/6/2012).

Kemeriahan nonton bareng sejak babak penyisihan, diprediksi mencapai puncaknya akan bertambah dalam partai final Minggu malam atau Senin (1/7) dinihari. Itu tampak dari reservasi yang hingga kemarin mencapai 90 persen. "Minat penonton sangat tinggi," tuturnya.

Ada tiga puluh table yang tersedia. Jika setiap table berisi empat kursi, ia pun mengestimasi jumlah penonton. "Mungkin sekitar 120-an. Ini demi kenyamanan penonton," katanya. Jika penonton membludak, pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi. Sebuah layar berukuran 3 x 4 meter dipasang di luar ruangan.

Untuk noreng final Euro 2012 sejumlah persiapan telah dilakukan. Acara akan dikemas semenarik mungkin. "Ada hiburan akustik, dj dan mc profesional yang memandu acara" katanya. Sejumlah hadiah menarik ditawarkan kepada pengunjung mulai dari TV, iPad, handphone serta berbagai menarik lainnya.
Suasana Noreng di Manado 2 Juli 2012

Persiapan matang juga dilakukan Soccer Cafe & Resto Manado. Untuk noreng malam ini cafe di Boulevard ini akan menyuguhkan tontonan ala bioskop. Mengadopsi konsep itu, aksi para pemain akan tampak dari layar berukuran 3 x 4 meter. "Lampu akan dimatikan saat pertandingan dimulai," kata Robby Ong, Owner Soccer Cafe & Resto.

Konser akustik akan membuka acara pada pukul 21.00 Wita. Selain itu, ada juga door prize menarik di sela-sela noreng. Yang unik adalah atraksi kembang api sebelum dan sesudah laga final Spanyol vs Italia. "Durasinya sekitar 20 menit hingga setengah jam" katanya. Sebelumnya ada sesi foto bersama pengunjung yang mengenakan kostum Spanyol dan Italia. Hasilnya dipampang menjadi banner cafe.

Keunikan lainnya ada pada menu makanan serta dandanan para waiter. "Nanti akan ada menu kopi hitam Balotelli dan pisang Goroho Torres, sedang muka para waiter akan dicoret sebelah Spanyol, sebelah Italia," jelasnya. Ada 30 table yang tersedia, berisi empat hingga enam orang. Meski begitu, jika pengunjung membludak pihaknya menyediakan bangku tambahan.

Fans Spanyol di Manado pawai usai laga final
"Jika tidak cukup juga, kami tengah berpikir untuk menyiapkan tempat di luar," kata Robby. Manajemen Soccer Cafe membebaskan setiap orang berekspresi dengan syarat tidak membuat keonaran. "Jika mau teriak atau bawa bendera, silakan saja," ungkapnya.

Waroeng Charity pun tak mau kalah. Sejumlah acara yang menarik telah disiapkan. Ada penampilan akustik serta undian menarik. "Ada undian TV berukuran 21 inch serta berbagai hadiah lainnya," kata Stefanus Suradji, Owner Waroeng Charity.

Ruang pun telah dipersiapkan untuk noreng. Suasana noreng akan makin hangat dengan suguhan kopi coklat susu khas Waroeng Charity. "Pokoknya datang saja ke sini, dijamin puas," tuturnya. Lanjutnya, pengunjung yang datang sebelumnya berasal dari berbagai komunitas seperti fans MU, Barca, Fotografer. "Bahkan ada yang menamakan Charity Community. Ini dibentuk sendiri oleh pengunjung yang sering nongkrong di sini," kata Suradji.

Kemeriahan pun akan tersaji di Griya Sintesa Hotel. Griya Manager Lily Virlanti melalui Stafnya Alan Sumampouw menyatakan pihaknya menyediakan dua screen berukuran 2 x 1,5 meter untuk noreng final Euro. "Khusus final, kami menyediakan dua screen," tuturnya.

Mengantisipasi banyaknya tamu, Lily menyiapkan 20 kursi tambahan selain 50 kursi yang sudah ada. Tiket noreng dijual seharga Rp  15 ribu termasuk harga minuman dan snack. "Dari harga itu, jika tambah 5.000 akan dapat handuk kecil," tutur Alan. Kenyamanan tamu sangat diperhatikan manajemen Griya.  Berbagai jenis hiburan telah disiapkan. "Ada pemutaran film sebelum pertandingan, selain itu pengunjung dapat bermain biliar," tuturnya. (arthur rompis)

Sumber: Tribun Manado 1 Juli 2012 hal 1

Kekalahan yang Layak

Catatan Sepakbola Dion DB Putra

BOLA
selalu akrab dengan tawa dan tangis. Orang bisa tertawa girang karena pemain idolanya mencetak gol tapi sesaat kemudian bisa menangis sejadi-jadinya setelah menyadari betapa kemenangan itu pupus dalam hitungan detik.

Begitulah yang melanda Jerman 2012. Padahal Der Panzer punya rekor tanding tak terkalahkan pasca menyerah 0-1 atas Spanyol di semifinal Piala Dunia 2010. Mereka menang sepuluh laga pada babak kualifikasi Piala Eropa 2012 dan berturut-turut memenangi 15 laga resmi yang merupakan rekor baru dunia.

Publik Jerman memuji pelatih  Joachim "Jogi" Loew. Pesona si Jogi makin memukau selama penyisihan Euro 2012. Jerman satu-satunya tim yang meraih poin sempurna di sesi grup juga menang telak 4-2 atas Yunani di perempatfinal. Tapi kegemilangan itu   pupus di tangan Italia, Kamis 28 Juni 2012.

"Ke mana sentuhan emasmu, Jogi?" tulis koran ternama Jerman, Bild edisi  29 Juni 2012 di halaman utama. Ratapan itu seolah mewakili tangis  Philip Lahm dkk di kamar ganti Die Panzer  seusai kandas dari Italia di semifinal Euro 2012. "Kamar ganti kami penuh air mata. Tak ada suara sedikit pun. Senyap," ucap Loew kepada Bild. "Kami sangat kecewa dengan kekalahan ini. Tim telah bermain baik sepanjang turnamen dan saya belum pernah melihat hal sekritis ini. Semuanya akan belajar dari kekalahan ini," tambah Loew.

Striker legendaris Jerman yang lama menjadi bintang di Serie A Italia, Oliver Bierhoff  pun mengungkapkan lara batinnya. "Kami sangat terpukul dengan kekalahan malam ini," kata Bierhoff yang mendampingi Jogi sebagai asisten pelatih. Bild juga menulis suara hati 82 juta rakyat Jerman. "Kami gagal meraih juara lagi. Terakhir kami meraih trofi tahun 1996 (juara Eropa). Itu enam belas tahun lalu ketika Berti Vogts menjadi pelatih tim nasional."

Kegalauan hati sesungguhnya sudah melanda kubu Jerman saat melihat hasil babak laga perempatfinal. Italia di luar prediksi banyak pengamat sanggup mengalahkan Inggris 4-2 lewat adu penalti setelah duel 120 menit berakhir imbang 0-0 dalam pertandingan, Minggu 24 Juni 2012. Kegalauan antara lain dicetuskan Kapten  Jerman, Philipp Lahm yang berharap Inggris mampu mengalahkan Italia pada laga perempatfinal. Dia mengaku lebih senang jika skuad The Three Lions yang jadi lawan Der Panzer di semifinal. "Saya lebih memilih Inggris  karena itu akan jadi laga semifinal klasik," tutur Lahm.

Lahm Jerman lebih memilih Inggris karena Jerman memang punya rekor head to head   yang lebih baik jika berjumpa Inggris ketimbang bertemu Italia. Jerman sudah 28 kali bertemu Inggris di berbagai ajang termasuk laga persahabatan. Hasilnya cukup berimbang. Inggris menang 12 kali sementara Jerman 11 kali. Namun, catatan terakhir lebih menguntungkan Jerman. Di Piala Dunia 2010 Jerman  menggilas Inggris 4-1 di babak 16 besar, meski ada kontroversi ketika gol Frank Lampard tidak disahkan wasit.

Sementara menghadapi Italia, rekor skuad Die Mannschaaft amatlah buruk. Dari 30 pertemuan mereka (sebelum semifinal Euro 2012) Jerman hanya menang 7 kali, kalah 14 kali, sisanya seri. Jerman tidak pernah menang atas Italia s elama 17 tahun terakhir. Jerman bertemu Italia 7 kali di turnamen resmi dan tidak pernah menang. Termasuk kekalahan 3-4 di perpanjangan waktu semifinal Piala Dunia 1970 Meksiko, kalah 1-3 di final Piala Dunia 1982, dan kalah 0-2 di semifinal Piala Dunia 2006. Dalam pertandingan persahabatan Februari 2012 di Dortmund, Der Panzer pun hanya bermain imbang 1-1, meski sempat unggul 1-0.

Nah, trauma sejarah  itu kuat menghantui timnas Jerman.  Lahm sendiri merasakan sakit hati yang luar biasa saat dikalahkan  Italia pada semifinal Piala Dunia 2006. Saat itu, Jerman yang berstatus sebagai tuan rumah harus memberikan tiket final kepada  Squadara Azzura karena kalah 2-0 di masa extra time  setelah bermain 0-0 di waktu normal. Italia akhirnya keluar sebagai juara dengan menyisihkan Perancis di final lewat adu penalti. Bagi Jerman, Italia merupakan momok di lapangan hijau! Entah sampai kapan?

                        ***
IKHWAL kehancuran Jerman di semifinal Euro 2012, pemain legendaris Jerman Frans Beckenbauer memberikan cacatan berikut.

Di Jerman, warga sempat berkhayal seputar keberhasilan tim nasional mereka menjuarai Piala Eropa. Kekecewaan akhirnya memuncak setelah kekalahan yang layak, 1-2, dari rival lama dan lebih kuat, Italia, yang tak pernah dilibas Jerman di turnamen utama.

Setelah mengakhiri kejuaraan pada 2008 sebagai runner-up dan mencapai semifinal Piala Dunia 2010, semua orang di Jerman menginginkan trofi ini. Mereka juga berusaha tidak terlalu cemas pada data statistik, setelah beberapa laga brilian tim Jerman yang membuat mereka terkesan, yang ditunjukkan dalam berbagai kesempatan.

Meski demikian, Anda hanya bisa mengalahkan Italia jika Anda mengkreasi tekanan dengan memainkan permainan cepat. Jerman gagal melakukan itu pada babak pertama melawan Italia.Memang ada beberapa konsep dan teori yang tak berjalan benar. Sama dengan saat Bayern Muenchen tampil di final Liga Champions melawan Chelsea.

Italia telah mengejutkan kami, tim Jerman, sekali lagi. Terutama jika mencermati persiapan mereka menuju Piala Eropa 2012 yang dibayang-bayangi investigasi kasus pengaturan pertandingan komplet dengan pemberlakuan sanksi dan penahanan.

Namun, pada laga pertamanya, Italia membuat Anda terkesiap dan memaksa orang-orang menoleh kepadanya. Mereka bermain seri 1-1 dengan Spanyol, pada laga yang dianggap sebagai yang terbaik di penyisihan grup. Semua orang pun respek kepada Italia. Mencapai final tak pernah terpikirkan terkait keberadaan mereka sebagai tim yang dirundung masalah sebelum kejuaraan dimulai.

Pelatih Italia Cesare Prandelli juga banyak dipuji terkait kepercayaannya kepada striker berusia 21 tahun yang susah ditangani, Mario Balotelli. Penyerang Manchester City itu membayar kepercayaan sang pelatih dengan dua gol hebat ke gawang Jerman pada semifinal, satu dengan sundulan, satunya lagi dengan sepakan kencang yang sulit diikuti mata.

Kini Spanyol dan Italia akan bertemu lagi, kali ini di final. Saya percaya bahwa, meski Italia tampak tangguh, Spanyol akan mempertahankan gelar juara. Italia harus menutup banyak sisi lapangan saat melawan mereka. Sungguh hebat bagaimana Andrea Pirlo berkembang menjadi pengatur permainan, dibantu sejumlah gelandang, seperti Riccardo Montolivo. Seperti saya katakan, saya memilih Spanyol sebagai tim favorit. Akan tetapi, jika Italia bermain seperti ketika mereka menahan Spanyol 1-1 di babak grup,  Azzurri berpeluang besar untuk menjadi juara Eropa kali ini.


Lalu siapa yang akan keluar sebagai juara Eropa 2012? Tak ada yang tahu sampai final di Kiev berakhir 1 Juli 2012 atau 2 Juli 2012 dinihari waktu Indonesia. Siapa pun yang kalah, agaknya tepat kata-kata Sang Kaisar, Franz Beckenbauer: Itu sebuah kekalahan yang layak! Yang menang pun memang layak meraihnya.  Itulah sepakbola. Ada tangis, ada tawa.Ada kalah dan menang.

Selalu ada yang pertama dalam buku sejarah bola. Boleh jadi Spanyol akan menulis namanya dengan tinta emas sebagai negara pertama yang mampu mempertahankan Piala Eropa yang mereka rebut empat tahun sebelumnya. Itu rekor baru yang hampir saja diraih Jerman tahun 1976.  Boleh jadi juga sejarah itu belum menjadi milik La Furia Roja karena Italia lagi-lagi yang memupus impian besar mereka.*

Kairagi, Minggu 1 Juli 2012, sembilan jam sebelum kick-off final Euro 2012 antara Spanyol vs Italia di Kiev, Ukraina.

Sepotong Cokelat buat Mario

Mario Balotelli (AP)
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

PERHELATAN
Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina akan lama mengenang nama ini, Mario Balotelli.  Why always me? Mungkin saja  striker tim nasional (timnas)  Italia berusia 22 tahun itu akan mengulang komentar begini.  Mario,  mengapa lagi-lagi Mario Balotelli yang akan dikenang?

Italia yang terseok-seok sejak babak kualifikasi serta penyisihan grup lalu menang untung-untungan lewat adu penalti atas Inggris di perempatfinal, justru bermain sempurna. Menggilas  Jerman 2-1 di Stadion Nasional Warsawa-Polandia,  Kamis malam 28 Juni 2012.  Italia ke final Euro 2012 menantang juara bertahan Spanyol.

Bayangkan Italia 2012 tanpa Mario? Di tengah krisis pemain bintang serta penampilan tim yang ngos-ngosan, Mario Balotelli menyuguhkan permainan fantastik di laga hidup mati melawan tim favorit Jerman. Dua golnya meruntuhkan penampilan sempurna Jerman sejak penyisihan grup.

Gol pertama Balotelli melalui tandukan kepala memanfaatkan umpan terukur Antonio Cassano dan gol kedua lewat tendangan akurat kaki kanan yang bersarang mulus di sudut kiri gawang Die Mannschaft yang dikawal Manuel Neuer. Dua gol cepat pada babak pertama itu merupakan momentum emas Italia dan hasil terbaik dalam sejarah penampilan mereka di Piala Eropa. Ketika babak kedua Jerman menyerang habis-habisan untuk mengejar ketinggalan, hasilnya cuma sebiji gol penalti Mesut Ozil  pada masa injury time. Gol yang sangat terlambat untuk mengembalikan peluang Der Panzer. Itulah sebabnya Mario Balotelli yang lahir di Palermo,  12 Agustus 1990 bakal lama dikenang rakyat Italia.

Pemain klub  juara Liga Inggris, Manchester City  itu kerap bertingkah aneh  di luar lapangan. Mulai dari kasus bermain kembang api di dalam rumah, mengunjungi klub wanita bugil di Manchester, terlibat cinta segitiga hingga keusilannya membagi-bagikan uang sebagai sinterklas pada hari Natal.

Why always me merupakan ungkapan  Balotelli yang mempersoalkan mengapa selalu dia yang jadi sorotan. Mengapa selalu dia yang menjadi korban terutama terkait pelecehan rasial. Di tengah pesta bola di Polandia-Ukraina 2012 pelecehan rasial justru  datang dari media di negaranya sendiri.

Media olahraga terbitan Milan, Gazetta dello Sport menggambarkan striker berkulit legam ini  sebagai kingkong yang sedang memanjat Big Ben, menara jam raksasa yang jadi ikon Kota London.

Karikatur ini dicetak pada hari Minggu 24 Juni 2012 sesaat setelah  Italia memulangkan Inggris dalam laga perempatfinal melalui drama adu penalti di Kiev, Ukraina. Telegraph melukiskan gambar itu mau menunjukkan peran signifikan Balotelli mengantar Italia ke semifinal dan Balotelli yang menjadi eksekutor pertama Gli Azzuri sukses menjebol gawang Joe Hart, rekan setimnya di City.

Protes pun membanjiri kantor La Gazetta. Publik menolak penggambaran atas pemain keturunan Ghana ini karena berbau rasial. "Ini bukan pertama kalinya kami melihat gambar serupa dan kami berpikir media harusnya bertanggung jawab. Bagaimana bisa mereka bisa menggambarkan Mario seperti itu?" ungkap juru bicara organisasi pluralisme, Kick It Out.

Gazetta akhirnya minta maaf.  "Sejumlah pembaca kami menyampaikan protes soal kartun  karya Valerio Marini. Balotelli digambarkan sebagai Kingkong. Kami bisa mengatakan dengan jujur bahwa itu bukan salah satu karya terbaik dari kartunis berbakat kami," ujar La Gazzetta. "Namun, mereka yang menuduh bahwa Gazetta dan Marini rasis telah bertindak melampaui batas. Harian ini selalu berjuang melawan segala bentuk rasisme di setiap stadion dan mengecam cemoohan yang diarahkan kepada Balotelli sebagai tindakan tidak layak yang tidak dapat diterima," demikian pernyataan La Gazetta.

Bagaimana reaksi Mario terhadap beragam masalah yang menderanya? Mengingat usianya yang masih muda, dia ternyata cukup bijak. "Saya tidak pernah peduli dengan apa yang orang katakan tentang saya. Dalam suatu periode yang buruk, orang bisa berkata apa pun tentangmu dan bilang yang mereka suka. Namun saya hanya fokus pada sepakbola, rekan, manajer, pacar serta keluarga saya. Setiap orang boleh berkata apa pun tentang saya, namun semua yang dikatakan orang lain sama sekali tidak penting bagiku. Saya akan berusaha menjadi diriku sendiri,  apa adanya," kata pemain yang juga kesohor dengan julukan Super Mario tersebut.

                                                ***
MILIARAN pasang mata sejagat pasti mengingat momen ini. Setelah laga melawan Jerman di Kiev 28 Juni 2012 berakhir, para pemain Italia langsung berkumpul dan merayakan kesuksesan. Tidak demikian dengan Balotelli. Dia berjalan menuju tribun mendekati ibu angkatnya, Silvia Balotelli.  Ia mencium ibunya. "Saya menemui ibu, itu momen terbaik. Saya bilang kepadanya gol  (ke gawang Jerman) ini untuknya," kata Balotelli seperti  dikutip Football Italia.

"Saya menunggu sangat lama untuk momen ini, terutama karena ibu saya tidak lagi muda dan tidak bisa melakukan perjalanan jauh, jadi saya harus membuatnya bahagia saat dia datang ke sini. Ayah saya juga akan ada di Kiev untuk menyaksikan pertandingan final. Memiliki orang terdekat memompa semangat saya," lanjut mantan FC Inter Milan tersebut.

Ternyata hati Balotelli tak seangker wajah dan profil tubuhnya yang kekar-legam. Dia mudah trenyuh dan menangis. Ibu angkat Mario Balotelli, Silvia Balotelli, mengungkapkan bahwa Mario menangis setelah pertandingan lawan Jerman. Itu jarang terjadi. Terakhir kali Balotelli menangis karena Jose Mourinho. "Sangat sulit melihat Mario menangis. Terakhir kali dia menangis mungkin karena Jose Mourinho," kata Silvia kepada La Gazzetta dello Sport. Namun, dia tak menyebutkan apa yang dilakukan Mourinho hingga Balotelli menangis. "Ketika merasa kesulitan, diserang atau dikhianati, Mario bereaksi dengan mengasingkan diri. Itu yang terjadi sebelum pertandingan melawan Irlandia," jelas Silvia.

"Kami sempat berjuang mengontaknya dan dia tak menjawab pesan kami. Itulah sebabnya, saya menangis bahagia. Dua gol itu sangat luar biasa dan terjadi di pertandingan penting. Itu telah membebaskan dia, karena bakat dan kegeniusannya telah keluar. Dia  mampu membuktikan apa yang ingin ia lakukan," jelasnya.

Mario lahir dari ayah-ibu asli Ghana, Afrika. Dia diadopsi keluarga Balotelli saat berusia dua tahun. Dia amat dekat dengan orangtua angkatnya. Bahkan, dia sering menceritakan kemenangan kepada mereka, terutama kepada ayahnya, Franco Balotelli. Namun, Franco sudah amat tua dan tak bisa sering menyaksikan Balotelli bertanding.

"Sangat sulit baginya untuk memeluk saya seperti itu di depan banyak orang. Seperti halnya anak muda lainnya, dia (Balotelli) agak malu terlihat dengan ibunya. Tapi, di momen seperti itu, dia kelewat bahagia. Dia berbisik di telinga saya agar saya membawa ayahnya ke Kiev. Saya kemudian pulang ke Italia dan kami berdua akan berada di sana, Minggu 1 Juli 2012," janjinya. Italia melawan Spanyol di final Piala Eropa 2012 di Kiev, Minggu atau Senin 2 Juli 012 dinihari Wita.

Silvia agak menyesalkan tindakan Balotelli melepaskan baju, setelah mencetak gol kedua ke gawang Jerman. Namun, dia bisa memahami psikologinya. "Dia sangat kesal kepada siapa pun yang mengkritiknya karena tidak melakukan selebrasi kala mencetak gol. Maka, dia mencari cara lain dalam merayakan gol," jelas Silvia.
"Anak saya sering mengatakan bahwa ia bukan arogan, tapi dia merasa dia memiliki sesuatu yang spesial. Itu yang sering ia katakan," tambahnya.

Menurut La Gazzetta dello Sport, ayah angkat Balotelli, Franco, tak hanya akan menyaksikan anaknya bertanding lawan Spanyol. Ia juga akan membawa beberapa potong cokelat. Ini sudah menjadi kebiasannya memberi hadiah cokelat kepada Balotelli ketika  masih kecil. Silvia juga mengucapkan terima kasih kepada Pelatih Italia, Cesare Prandelli. Sebab, dia memberi kesempatan kepada anaknya bertanding di Piala Eropa guna membuktikan kemampuannya. "Prandelli orang baik dan dia telah mengajarkan banyak hal penting kepada anak saya," kata Silvia.

Kini tugas berat menanti Mario Balotelli dan kawan-kawan. Sanggupkah dia ikut mewujudkan mimpi Italia kembali meraih tropi Piala Eropa setelah menunggu selama 44 tahun? Penentuannya adalah melawan Spanyol 1 Juli 2012 di Kiev.

Kerinduan publik Italia sangat kental. Persis seperti dikatakan sang maestro di lapangan tengah, Andrea Pirlo. "Percuma lolos ke final tanpa menang atas Spanyol, sama seperti percuma pergi ke Roma tetapi tidak bertemu  Paus." Italia pasti pulang ke Roma setelah pesta Euro 2012, dan mereka mau pulang dengan membawa tropi Piala Eropa. Sebagai warga Kota Roma, Paus Benediktus XVI  pastilah tersenyum karenanya. (*)

Kairagi-Manado, Minggu dinihari 1 Juli 2012 (buat fans Squadra Azzura)

Pesona Carbonero-Seredova

Sara Carbone dan Iker Casillas
SPANYOL versus Italia. Pasukan di bawah koordinasi Iker Casillas melawan pasukan di bawah pengaruh Gianluigi Buffon. Dua tim terbaik Eropa yang sama-sama dipimpin oleh dua kapten yang adalah kiper atau penjaga gawang. Dua tim finalis Piala Eropa 2012 yang sama-sama dipimpin oleh pemain berpengalaman dengan usia di atas 30 tahun.

Kehebatan Casillas ataupun Buffon, di kampungnya masing-masing, tak perlu diragukan lagi. Aksi di Piala Eropa 2012 sejauh ini sudah membuktikan kehebatan mereka. Dan tentu saja, di belakang karier kiper-kiper terbaik ini ada perempuan-perempuan yang berpengaruh besar bagi kehidupan dan kepribadian mereka.

Iker Casillas mungkin bisa dikatakan lebih beruntung karena sering didampingi oleh Sara Carbonero. Pasalnya, Carbonero adalah seorang presenter dan reporter olahraga televisi yang sering meliput ajang-ajang akbar sepak bola, tempat Casillas juga bisa hadir.

Dia juga kerap menulis kolom di surat kabar-surat kabar besar di Spanyol. Pada Juli 2009, Carbonero dinobatkan oleh FHM USA sebagai "Reporter Terseksi di Dunia", meski kemudian wawasannya sebagai jurnalis olahraga sempat dipertanyakan karena beberapa kali melemparkan pertanyaan konyol kepada narasumbernya.

Alena Seredova-Gianluigi Buffon
Namun, keberuntungan ini kerap dikritik juga oleh sejumlah pihak. Kehadiran perempuan berusia 28 tahun ini di lapangan dinilai kerap mengganggu konsentrasi Casillas saat tampil bersama timnya. Salah satunya, saat Spanyol ditaklukkan 0-1 oleh Swiss dalam laga penyisihan Grup C Piala Dunia 2010. Dia juga akhirnya dikenal setelah mewawancarai kekasihnya seusai salah satu laga. Saat itu, Casillas menciumnya di depan jutaan pasang mata di seluruh dunia.

Pasangan ini rencananya akan menikah setelah ajang Piala Eropa 2012 berakhir. Rumor berkembang bahwa mereka akan menikah pada 7 Juli mendatang. Namun, kabar itu sempat ditampik oleh keduanya.

Oleh pembaca Blick.ch, sebuah situs besar di Polandia-Ukraina, dia dipilih sebagai istri atau kekasih (WAGs atau Wife and Girlfriends) bintang sepakbola yang paling menarik. Penampilannya memang menarik, apalagi karena dia tak segan bergerak ke sana-kemari demi tugasnya.

"Tugas tetap nomor satu, baru kemudian bertemu dan memberi semangat kepada Iker. Saya berharap Spanyol bisa meraih prestasi terbaik di Polandia-Ukraina. Mengenai kostum, apa yang saya pakai, itulah yang paling nyaman buat saya," katanya.

Ingat surat terbuka Gianluigi Buffon yang dituliskan sebelum laga semifinal melawan Jerman, 28 Juni 2012? Surat terbuka itu dipuji banyak pihak. Mereka kagum dengan kepribadian yang kuat dari Buffon untuk menularkan semangat dan keberanian untuk bermimpi kepada semua orang.

Kehidupan pernikahan yang bahagia bersama Alena Seredova menjadi inspirasi tersendiri bagi hidup Buffon. Wanita cantik asal Ceko yang dinikahinya pada Juni 2011 ini kerap terlihat di tribune-tribune penonton bersama kedua anak lelaki mereka, Louis Thomas dan David Lee, untuk menonton aksi kiper berusia 34 tahun itu bersama timnya.

"Kehadiran keluarga bisa menjadi motivasi bagi setiap pemain," ungkap perempuan yang juga berusia 34 tahun ini saat menyaksikan Buffon dan timnas Italia mengalahkan Irlandia, 18 Juni lalu.

Di sela-sela kehidupannya sebagai istri dan ibu, runner-up Miss Ceko 1998 dan mantan supermodel Ceko itu membangun bisnis fashion-nya sendiri berlabel Baci e Abbracci dengan menggandeng mantan striker timnas Italia, Christian Vieri.

Tentu tak ada kaitan langsung dua diva ini dengan hasil pertandingan di Stadion Olympic Kiev, Ukraina, hari Minggu nanti. Namun, jika menerawang dari pesona tiap-tiap diva kapten kedua tim ini, kira-kira Spanyol atau Italia yang akan menjadi juara Eropa berikutnya?

Sumber: Kompas.Com

Kepung CR7

Cristiano Ronaldo (AP)
CRISTIANO Ronaldo (CR7) bakal dikepung para pemain Real Madrid dan Barcelona saat Portugal bertemu Spanyol dalam semifinal Euro 2012 di Donbass Arena, Rabu (27/6/2012) malam atau Kamis (28/6/2012) dinihari Wita. Spanyol melaju setelah mengalahkan Prancis 2-0. Sedang Portugal lebih dulu meraih tiket usai mengandaskan Republik Ceko 1-0.

Ronaldo yang bersama Real Madrid musim ini mengemas 46 gol di La Liga, bakal berhadapan dengan rekan sendiri seperti kiper Iker Casillas, gelandang Xabi Alonso, dan bek Sergio Ramos, serta Alvaro Arbeloa. Nah, yang menarik Ronaldo selalu bermain di sisi kanan pertahanan lawan, baik saat membela Real Madrid maupun timnas Portugal.Ddengan demikian ia akan bertemu, head to head, dengan rekannya di Real Madrid, bek kanan Spanyol,  Arbeloa.

Selain itu, ia pun bakal dijepit para pemain Spanyol asal Barcelona yang merupakan rival abadinya yakni Xavi, Andres Iniesta, Sergop Busquet dan Cesc Fabregas. Para punggawa La Braugana ini  pastinya akan semakin termotivasi untuk mengalahkan Ronaldo sebagai dendam kekalahan Barcelona dari Real Madrid musim ini.

Xabi Alonso, yang memborong dua gol Spanyol ke gawang Prancis kemarin,  mengakui bahwa performa Ronaldo sedang dalam puncaknya. Permainannya di Real Madrid membuktikan kelas Ronaldo sebagai pemain dunia. Namun yang menjadi perhatian utamanya menjelang melawan Portugal adalah, tim harus terus fokus dan bermain dalam performa terbaik.

Namun sebelumnya, banyak pihak telah menyatakan bahwa Portugal tak melulu Ronaldo. Ada pemain lain yang juga memiliki kemampuan yang patut diwaspadai, yaitu Nani dan Joao Moutinho. Keduanya juga kerap memberikan andil bagi kemenangan tim."Portugal juga punya penyerang yang dapat membahayakan lawan, dua sayap Ronaldo dan Nani adalah pemain yang hebat," katanya dilansir Reuters.

Di kubu Portugal, selain ada Ronaldo juga ada Pepe dan Fabio Coentrao yang bermain sebagai bek tengah dan bek kiri Real Madrid. Kedua pemain juga pasti sudah hafal benar permainan gelandang dan penyerang Barcelona dengan tiki-taka-nya. Alonso bahkan memperkirakan bahwa pertandingan semifinal nanti akan menjadi reuni yang hangat antara pemain dua tim yang berasal dari Real Madrid. "Tapi yang pasti adalah, semua pemain akan bertarung mati-matian untuk memenangkan pertandingan," tuturnya.


Gelandang Spanyol, Cesc Fabregas pun mengakui bahwa Portugal akan menjadi lawan yang menyulitkan di laga semifinal nanti. Ia menilai Selecao, yang berisikan pemain berkualitas, tak akan mudah dikalahkan. "Portugal akan sangat sulit dikalahkan. Mereka memiliki pemain yang kuat, Ronaldo, Nani, Raul Meireles, dan Joao Moutinho. Mereka juga sangat bagus dalam serangan balik, dan kami akan bekerja keras dalam pertandingan nanti," jelasnya.Bek La Furia Roja, Sergio Ramos menyatakan siap menghadapi Portugal di semifinal. Baginya, Portugal akan menjadi lawan yang berat untuk dihadapi. "Setiap pertandingan adalah final dan Portugal bermain sangat baik untuk mencapai semi-final, jadi nanti akan sulit," tuturnya.

Pertahankan Formasi
Pelatih Spanyol, Vicente Del Bosque lagi-lagi menerapkan strategi penyerang palsu di laga perempatfinal melawan Prancis, dengan memasukkan Cesc Fabregas menggantikan Fernando Torres. Meski sempat menuai banyak kritikan, Bosque tetap membanggakan taktiknya yang menurutnya selama ini cukup berhasil. Menurutnya, ia tetap memeragakan permainan menyerang, walaupun tanpa penyerang murni. Bukan tidak mungkin ia akan tetap mempertahankan skema 3-4-3 tanpa penyerang dalam menghadapi Portugal di semifinal. Pasalnya, selain Fernando Torres juga gagal mencetak gol tambahan saat melawan Prancis, Pedro yang diturunkan menggantikan Silva juga tampil cemerlang.

Di kubu Portugal, kapten tim Cristiano Ronaldo mengakui bahwa laga semifinal akan lebih berat daripada sebelumnya. Tapi ia yakin dengan performa tim yang terus membaik. "Kami tahu pertandingan semifinal akan sulit, tapi kami siap. Kami percaya diri, tim ini sangat matang, jadi kami siap untuk duel melawan Spanyol," tuturnya.

Bek Pepe juga optimistis menjelang laga semifinal. Baginya, siapapun lawannya, Portugal siap meladeninya.  "Kami siap menghapi Spanyol. Mereka adalah tim besar. Kami menunggu mereka. Saya harap saya akan bermain dengan baik dalam pertandingan nanti, sehingga kami mencapai final," paparnya. Sayang, optimisme mereka sedikit dirusak dengan kabar buruk. Penyerang andalan Helder Postiga dipastikan absen. Meski awalnya Federasi sepakbola Portugal menyatakan ia hanya akan absen di semifinal, namun cederanya dikabarkan sangat parah.

Jika Spanyol mengalahkan Portugal, mereka akan bertemu dengan Jerman yang akan melawan pemenang antara Inggris dan Italia. Sebelumnya pada Piala Eropa 2008, Spanyol merebut trofi setelah menekuk Jerman 1-0 di final. Spanyol adalah tim pertama yang berkesempatan mematahkan mitos bahwa juara bertahan Piala Eropa tidak pernah mampu mempertahankan trofi untuk kedua kalinya, termasuk menyandingkannya dengan trofi Piala Dunia. (tribunnews/wid)

Sumber: Tribun Manado 25 Juni 2012 halaman 1

Cucchiao Pirlo

Pirlo memperdayai Joe Hart di Kiev, 24 Juni 2012
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

MALAM panjang dan membosankan di Stadion Olimpiade Kiev-Ukraina, Minggu 24 Juni 2012 berakhir manis. Dan, seniman yang menghibur itu bernama Andrea Pirlo, satu-satunya pria Italiano berwajah inosen di Euro 2012. 

Pirlo memberi pesan tegas  Italia 2012 memang tim tanpa bintang di antara 16 kontestan. Namun, bintang tua seperti dia belum tergolong karatan. Pirlo tetaplah Pirlo yang menjadi roh Squadra Azzura disokong tiga veteran lainnya kiper Gianluigi "Gigi"  Buffon, si anak nakal Antonio Cassano dan bek tengah  Danielle De Rossi.

Di saat ketegangan demikian memuncak dalam drama adu penalti melawan Inggris setelah skor 0-0 selama 120 menit, Pirlo tetap cool.  Eksekutor pertama Italia, Mario Balotelli membuka skor adu penalti setelah tembakannya mampu mengoyak sisi kanan gawang Joe Hart. Inggris menyamakan 1-1 lewat sontekan jitu kapten tim Steven Gerrard. Moral Italia runtuh saat  tembakan Riccardo Montolivo meleset.

Sementara alogoji Inggris Wayne Rooney mudah saja mengecoh Gigi Buffon.
Dalam posisi Inggris sementara  unggul 2-1, Andrea Pirlo mendapat giliran sebagai algojo ketiga Gli Azzuri. Tidak terbersit sedikitpun keraguan dalam dirinya saat mengambil penalti. Dengan sangat tenang dia mencukil bola ke tengah gawang, memperdayai Hart yang terlanjur bergerak ke sisi kanan. Skor imbang 2-2. Penalti Pirlo menjadi titik balik Italia. Penembak ketiga Ashley Young tertekan. Tendangan Young membentur mistar gawang.

Antonio Nocerino balik membuat Italia unggul 3-2 setelah tendangan penaltinya menipu Hart. Inggris mulai kehabisan napas. Penendang keempat, Ashley Cole gugup. Buffon membaca arah tendangannya ke arah kiri. Si kulit bundar mudah saja dipetik kiper Juventus tersebut. Habislah Inggris. Penendang kelima Italia, Alessandro Diamanti menggenapi kemenangan lewat sepakan kaki kiri.

Penendang kelima Inggris, Joleon Lescott tak perlu menendang lagi karena tim "Tiga Singa" sudah pasti out. Skor 4-2 untuk Italia. Terseok-seok sejak penyisihan grup, Italia kini sudah berada di semifinal Euro 2012 dan siap  melawan Jerman yang so  pasti "pusing kepala" mencari cara jitu untuk menghentikannya.

Penalti Andrea Pirlo ke gawang Inggris pada babak perempafinal Euro 2012 sungguh menjadi buah tutur. Bukan cuma di kalangan pemain bintang, tapi para pelatih. Pirlo  dengan dingin mencongkel bola untuk menipu Joe Hart. Bolanya melengkung, kira-kira setinggi setengah tiang gawang, masuk pelan ke dalam jaring tatkala Joe Hart justru  sibuk menghalau angin.

Ekspresi Pirlo setelah mencetak gol itu pun cool abis. Sedingin pembunuh keji tapi tak merasa berdosa. Padahal itulah gol yang meruntuhkan mental Ashley Young, eksekutor ketiga Inggris. Pelatih Inggris,  Roy Hodgson menyatakan, tendangan  penalti Pirlo dan cara dia mencukil bola tidak biasa diajarkan dalam latihan. Itu sepenuhnya talenta seorang pemain. Talenta itu tidak semata keterampilan mengolah bola, tapi bagaimana ketahanan mental mengelola tekanan pada suasana pertandingan yang menentukan nasib baik dan buruk.

Pelatih Italia  Cesare Prandelli, yang tegang selama babak adu penalti, baru merasa tenang setelah tendangan Pirlo yang indah.  "Dia seorang bintang. Seorang bintang tahu apa yang harus dilakukannya dan, ya, dia melakukannya," demikian Prandelli seperti dilansir UEFA.com.   Media  Italia edisi  Senin 25 Juni 2012 menyebut penalti jenius persembahan gelandang Juventus itu sebagai  Cucchiao. Bahasa Italia yang artinya sendok. Pirlo seperti mencedok bola dengan sendok lalu
memasukkannya secara perlahan ke mulut gawang Inggris.

 Diksi itu pernah diangkat pers Italia untuk penalti Francesco Totti  ke gawang Belanda pada Euro 2000. Aksi kapten AS Roma itu sepertinya menjadi inspirasi Andrea Pirlo kala mengecoh kiper Inggris, Joe Hart. Adalah Daniele De Rossi yang mengingatkan "penalti sendok" tersebut kepada Football Italia. "Malam yang akan selalu dikenang. Tendangan Pirlo mengingatkanku pada gol Totti 12 tahun yang lalu. Pirlo mencetak gol penalti dengan luar biasa," kata De Rossi memuji rekannya.

Lalu bagaimana Pirlo bisa melakukan tendangan yang akan terus dikenang pencinta bola sejagat itu? "Dalam satu saat aku melihat kiper melakukan pergerakan aneh, jadi aku menunggunya bergerak dan menendang bola seperti itu. Buatku, mencongkel bola seperti itu mudah. Apa yang aku lakukan justru menekan Inggris dan faktanya Ashley Young gagal mengeksekusi penaltinya," demikian Pirlo

Terlepas dari faktor keberuntungan bagi Italia  lolos ke semifinal melalui adu penalti, sepanjang laga 120 menit harus diakui mereka bermain lebih baik. Italia di bawah kendali Pirlo bermain lugas dan Pirlo memainkan peran sangat penting.

BBC melansir beberapa fakta terkait Pirlo yang terpilih menjadi man of the match.
Pirlo adalah pemain Italia yang paling rajin memberikan operan. Total Pirlo memberikan 131 passing. Unggul telak dibanding dengan pemberi operan terbanyak di Inggris, Ashley Cole, dengan 44 kali. Sebanyak 13 dari 14 pemain Italia memiliki rerata 80 persen lebih dalam urusan operan yang tipis, sementara Inggris hanya memiliki lima orang dalam kategori tersebut. Italia menendang ke gawang Inggris  39 kali, sebanyak 12 di antaranya ke arah gawang. Sementara lawannya, Inggris, hanya menendang sebanyak 13 kali dengan on target cuma empat kali. Menurut UEFA, Pirlo menjelajahi lapangan sejauh 11,58 kilometer, unggul dibanding kapten Inggris, Steven Gerrard 11,26 kilometer.

Pirlo sukses menjadi jenderal lapangan tengah untuk mengurung Inggris habis- habisan selama 90 menit bahkan sampai babak tambahan waktu 2x15 menit. Dengan statistik ball possesion 64 persen, Italia membalikkan perkiraan banyak orang bahwa tim asuhan  Prandelli  akan bermain defensif. Striker Mario Balotelli mendapat sedikitnya lima peluang emas, namun tak satupun bisa menjebol gawang Joe Hart, rekan setimnya di klub juara Inggris musim ini, Manchester City.
Kekurangan Italia adalah penyelesaian akhir yang buruk  serta gagal menembus kokohnya lini pertahanan Inggris yang dikoordinir bek Chelsea, John Terry.

Bagaimana dengan Inggris? Sepakbola Inggris di Euro 2012 makin tua dan melapuk. Inggris memainkan  gaya bertahan total ala Italia tahun 1980-an yang ketinggalan zaman.  Ketika trio Italiano dipimpin Leonardo Bonucci mengurung Wayne Rooney, tak satupun kreator Inggris yang memupus kebuntuan itu.

Gerrard bermain terlalu ke bawah, sehingga Rooney  harus sering turun menjemput bola sendiri. Itu membuatnya lelah. Danny Welbeck dan Andy Carrol pun tak berbahaya bagi Buffon karena minimnya pasokan bola matang ke kotak penalti. Lapangan tengah Inggris mati kutu tanpa kehadiran Frank Lampard yang cedera dan buruknya penampilan Gerrard. Gerrard mati, Inggris habis!

Inggris sesunguhnya punya pemain dengan karakter dan kualitas lebih kurang sama dengan Pirlo dalam hal usia, kematangan mental, passing, assist,  kontrol bola dan visi bermain. Sayang  dia tidak masuk skuad. Namanya Paul Scholes. Dalam 20 tahun terakhir Inggris menghasilkan puluhan pemain bintang sepakbola dunia sekelas pengumpan nomor wahid,  David Beckham. Namun,  Inggris tidak pernah melahirkan pelatih yang baik. Negara monarki itu cenderung tradisional termasuk dalam mengurus sepakbola. Saat Don Fabio Capello mundur,  FA memilih  Roy Hodgson.  Om Roy sudah terlalu tua usianya. Yang tua lazimnya kurang kreatif lagi. Yang tua  mestinya tahu dirilah. Ciao England! *

Manado, 25 Juni 2012

Tragedi Bloemfontein

"Gol" Lampard 2010
 
"Gol" Marko Devic 2012
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

GELANDANG
Inggris yang absen di Euro 2012 karena cedera, Frank Lampard  tak akan melupakan Bloemfontein. Lampard melukiskan Bloenfontein sebagai tragedi bagi Inggris dan akan selalu terkenang sepanjang hayatnya. Bloemfontein dalam bahasa Belanda berarti "air mancur bunga-bunga" merupakan satu dari tiga ibu kota Afrika Selatan bersama Pretoria dan Cape Town. Nama kota ini dalam bahasa Sesotho adalah Mangaung, yang artinya "tempat para cheetah tinggal".

Tanggal 27 Juni 2010, Frank Lampard menangis di kota ini. Dalam laga melawan Jerman  di babak 16 besar Piala Dunia 2012, tembakan Lampard  menit ke-39 menembus gawang Jerman yang dikawal Manuel Neuer. Bola menerpa mistar lalu memantul ke dalam gawang. Dalam tayangan ulang televisi jelas terlihat bola telah melewati garis gawang, tapi Wasit Jorge Larrionda dari Uruguay tidak meniup peluit untuk mensahkannya sebagai gol. Saat itu Inggris tertinggal 1-2.

Lampard dan pemain Inggris ramai-ramai memprotes Larrionda. Ofisial Inggris di bibir lapangan mulai dari Pelatih Fabio Capello, asisten pelatih Stuart Pearce hingga David Beckham bangkit dari kursi, mengangkat tangan tinggi-tinggi, menggerutu sejadi-jadinya. Apa daya keputusan wasit tak bisa diganggu gugat!

Inggris sempoyongan. Mental John Terry dkk ambruk. Jerman makin garang menggilas lawan hingga 4-1, lebih telak dari kekalahan mereka 44 tahun sebelumnya. "Inggris terkena karma 1966." Begitu bunyi headline pers Jerman.
Inggris pulang dari Afrika lebih cepat dari dua edisi FIFA World Cup sebelumnya ketika The Three Lios bertahan sampai perempatfinal. "Ini lelucon. Hakim garis pura-pura tak melihat. Mereka  kembalikan kita ke tahun 1966," kata fans Inggris dikutip The Sun.  Fans lain berseru nyaring, "Kita butuh hakim garis dari Rusia!"

Rusia yang dimaksud adalah Tofik Bakhramov, hakim garis asal Uni Soviet yang memberitahu wasit Gofffried Dienst (Swiss) di final Piala Dunia 1966, bahwa bola  tendangan Geoff  Hurst menit ke-101 telah melewati garis gawang Jerman yang membuat Inggris juara dunia setelah menang 4-2.  Beda dengan Jorge Larrionda yang tidak berdiskusi dulu dengan asistennya sebelum memutuskan tembakan Lampard tidak gol. Larrionda berseru "Oh My God" melihat tayangan ulang insiden tersebut saat turun minum.

Pada tahun  tahun 1966, sebuah studi menghitung bahwa bola tendangan Hurst  masih berjarak 6 cm dari garis gawang atau belum terjadi gol. Dalam tragedi  Bloemfontein  pers Inggris menyebut tembakan Lampard sudah masuk 60 bahkan 90 cm ke dalam gawang Neuer hingga bisa samakan skor 2-2. Dalam posisi itu Inggris yakin hasil akhir bisa berbeda.

Setelah Wembley 1966 dan Bloemfontein 2012,  "gol hantu" terulang di Stadion Donbass Arena, Donetsk, Ukraina Selasa 9 Juni 2012. Dalam tragedi ketiga ini Inggris yang kegirangan. Dewi Fortuna memihaknya seperti 1966.  Dalam laga penentuan Grup D Euro 2012, bola sepakan pemain Ukraina Marko Devic sejatinya sudah melewati garis gawang Joe Hart sebelum disapu keluar John Terry. Namun wasit Viktor Kassai memutuskan itu belum terjadi gol. Ukraina akhirnya kalah 0-1 dan gagal melaju ke babak perempatfinal.

Beberapa jam kemudian pemimpin wasit UEFA asal Italia, Pierluigi Collina 
angkat bicara. Collina mengakui Ukraina seharusnya berhak atas gol tersebut.
"Kami telah membuat kesalahan," kata Collina, mantan wasit terbaik FIFA. Colina memastikan wasit Viktor Kassai serta para asistennya tidak lagi dipercaya memimpin sisa laga Euro 2012. Tapi dia enggan menyalahkan mereka. "Wasit juga manusia, dan manusia membuat kesalahan," ujarnya.

Insiden Donbass menghangatkan lagi perdebatan heboh soal perlu tidaknya memakai teknologi guna memastikan bola telah melewati garis gawang. Dunia kembali terbelah dalam dua kubu dengan aktornya, Presiden Federasi Sepakbola Eropa (UEFA), Michel Platini dan Presiden Federasi Sepakbola Dunia (FIFA), Sepp Blatter. Blatter mengatakan teknologi garis gawang menjadi harga mati untuk memastikan kesalahan serupa tidak terulang di masa depan.  "Setelah pertandingan Ukraina lawan Inggris, GLT (teknologi gawang) sangat mendesak digunakan sebagai alternatif," tulis Blatter lewat akun Twitternya.

Platini bersikukuh pada sikapnya. Dia menolak karena intervensi teknologi justru mengurangi esensi sepakbola itu sendiri. Menurutnya, penggunaan wasit kelima lebih baik dan dapat mengurangi kesalahan wasit dan hakim garis soal gol. "Dengan adanya wasit kelima, semua akan jelas terlihat. Mereka akan mengambil keputusan dengan lebih tepat," kata Platini kepada The Guardian.

Platini menekankan filosofi bola yang dianutnya yakni tidak boleh mengabaikan sisi manusiawinya. "Teknologi garis gawang sebenarnya bukan masalah. Masalah akan terjadi setelah penggunaan teknologi ini. Akan hadir teknologi yang mengatur handsball lalu memutuskan offside dan seterusnya. Tidak akan berhenti sampai di situ saja. Hal ini akan terjadi terus-menerus. Bola akan kehilangan sisi terpenting yaitu pelaku utamanya tetaplah seorang manusia biasa," kata pria Prancis ini.

Tahun 1966 wasit Dienst  baru dibantu dua asisten wasit (enam mata manusia), tahun 2012 Larrionda dibantu empat asisten (delapan mata), tahun 2012 wasit Kassai disokong lima asisten sekaligus. Bahkan satu asisten khusus bertugas di dekat garis gawang!  Mata wasit bertambah jumlahnya demi menghadirkan laga sepakbola yang lebih fair tetapi akurasinya tetap saja meleset akibat  human error.
Collina benar, wasit adalah manusia dan manusia pasti membuat kesalahan.

Kiper paling kontroversial dalam sejarah bola asal Kolombia, Rene Higuita punya pendapat sederhana. "El Loco" alias Si Gila  kelahiran Medellín, 27 Agustus 1966 itu menyentil Blatter, mainkan saja robot-robot sepakbola agar golnya akurat. "Bola mempesona karena kontroversi manusia seperti saya," demikian Hiquita. Tuan pilih yang mana, sepakat dengan Blatter atau mengamini pandangan Platini? *

Manado, 22 Juni 2012

Pasukan Anti Galau

Catatan Sepakbola Dion DB Putra

TENTANG
sepakbola, Italia memiliki dua  karakter yang khas. Pertama, negeri itu memiliki sistem pertahanan grendel alias catenaccio yang dipandang sebagai cara bermain sepakbola negatif. Cara main bola yang tidak atraktif dan menghibur penonton.

Karakter kedua persis seperti dilukiskan pemain bintang Spanyol, Xabi Alonso.  "Italia selalu mempunyai problem pada babak awal, tetapi kemudian mereka  menjadi lebih baik dan akhirnya juara. Italia memiliki kekuatan luar biasa di tengah krisis," kata Alonso merujuk pada prestasi Italia di Piala Dunia 2006.

Ya, tahun 2005-2006 wajah sepakbola Italia sungguh berlumuran malu oleh skandal calciopoli (pengaturan skor) di ajang kompetisi elit Serie A. Skandal anti fair play yang dibuka polisi Mei 2006 melibatkan juara liga Juventus dan klub-klub terkemuka seperti AC Milan, Fiorentina dan Lazio. Mereka dituduh mengatur permainan dengan memilih wasit tertentu dan sejumlah pemain bintang dituding menjadikan pertandingan sepakbola sebagai ajang judi ilegal.

Pengadilan kemudian menghukum Juventus degradasi ke Serie B, pengurangan 30 nilai untuk musim berikutnya (2006/2007), penghapusan dua gelar juara Serie A musim 2004/2005 dan 2005/2006, dilarang tampil di Liga Champions Eropa musim 2006/2007 serta membayar denda 100.000 dolar AS (Amerika Serikat).

Lazio dan Fiorentina pun degdradasi ke Serie B. Fiorentina mengawali kompetisi musim berikutnya dengan nilai minus 12 serta membayar denda 63.000 dolar AS. Lazio mendapat pengurangan tujuh nilai plus denda 50.000 dolar AS). AC Milan menjadi  satu-satunya tim yang bertahan di Serie A, tetapi nilainya dikurangi 15 untuk musim berikutnya. Melalui banding, keempat tim tersebut mendapat keringanan hukuman. Fiorentina dan Lazio bertahan di Serie A sementara AC  Milan mendapatkan pengurangan nilai menjadi 8 poin saja. Juventus tetap di Serie B namun memulai musim kompetisi 2006-2007 dengan nilai awal  minus 17. Pada 26 Juli 2006, Inter Milan dinobatkan  sebagai juara Serie A musim 2005/2006.
Juara musim 2004/2005 dinyatakan kosong.

Dibayangi skandal paling memalukan dalam sejarah  sepakbola itu,  Italia menuju putaran final Piala Dunia 2006 di Jerman. Ketika banyak orang mencibir serta  pesimistis akan prestasinya, Italia justru perlahan namun pasti terus melaju ke babak puncak bahkan dengan menggulung tuan rumah Jerman di semifinal. Di partai final Italia mengalahkan Perancis lewat adu penalti. Dalam bahasa gaul remaja masa kini, Italia bagaikan pasukan anti galau. Mereka tidak kalut dan gagap meskipun didera skandal.

Sepakbola Italia sungguh hebat! Hanya tahun 1970  kesebelasan Samba Brasil di bawah komando sang maestro Pele berhasil menang telak 4-1. Setelah itu, hampir 40 tahun Italia tidak pernah kalah dengan selisih skor tiga gol. Malah melawan Belanda sejak tahun 1978 pasukan biru tersebut tak terkalahkan.

Kali ini di Piala Eropa 2012 Italia krisis dalam negeri kembali menghantui persiapan tim nasional Italia menuju Poland-Ukraine 2012. Meski belum segempar skandal tahun 2006 silam, namun masalah pengaturan skor kembali tercium di negeri itu. Italia pun tampil pas-pasan di Euro 2012  dengan hanya bermain imbang 1-1 melawan Spanyol dan Rusia di Grup C. Tapi di laga akhir grup melawan Republik Irlandia hari Senin 18 Juni 2012, grafik permainan Squadra Azzurra makin membaik dan  menang 2-0 untuk lolos ke perempatfinal bertemu Inggris (juara Grup D).  "Krisis membuat kami lebih tangguh. Kami sekarang berusaha lolos ke semifinal," kata kapten tim Gianluigi Buffon.

Perjalanan Italia di Euro 2012 memang masih panjang dan berliku. Namun, bukan mustahil  keyakinan Buffon  menjadi spirit bagi Italia untuk melaju lebih jauh. Lawan yang akan mereka hadapi di babak perempatfinal adalah Inggris yang menang kontroversial atas tuan rumah Ukraina dengan skor 1-0  dalam laga akhir Grup D, Selasa 19 Juni 2012 di Stadion Donbass Arena, Donetsk.

Semestinya laga tersebut berakhir 1-1 sebab Ukraina sempat membuat gol di babak kedua. Namun, wasit tak mengesahkan gol tersebut karena bola dianggap belum melampaui garis gawang. Padahal dalam tayangan ulang televisi, bola jelas sudah melewati garis gawang Joe Hart sekitar setengah meter sebelum dihalau keluar oleh John Terry. Gol yang tidak disahkan  tersebut menimbulkan keraguan  apa manfaat ofisial (wasit) keempat yang bertugas di belakang garis gawang yang mulai diberlakukan UEFA di Euro 2012? Keberuntungan lagi-lagi memihak Inggris setelah sebelumnya menang susah payah 3-2 atas Swedia. 

Melawan Italia di babak knok-out  bukan  perkara enteng bagi The Three Lions. Rekor head to head selama ini menunjukkan, Inggris selalu sulit menghadapi Italia baik dalam kejuaraan resmi maupun laga persahabatan.  Striker Inggris, Wayne Rooney menyadari hal itu.  "Italia akan sulit bagi kami. Namun, kami percaya pada diri kami," ungkapnya. Keraguan Rooney bisa dimengerti. Italia telah terbukti piawai mengelola krisis menjadi momentum untuk bangkit.  Krisis tak mesti membuat galau berkepanjangan.*

Kairagi Manado, 20 Juni 2012

Anekdot Beruang Merah


Dick Advocaat (AFP)
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

RUSIA 
dalam enam tahun terakhir sangat percaya dengan polesan tangan dingin pelatih asal Belanda.  Di Piala Eropa 2008 Rusia memilih Guus Hiddink, pelatih fenomenal yang menciptakan sejarah baru di Piala Dunia 2002 dengan mengantar tim Korea Selatan menembus babak semifinal. Itulah pertama kali dalam sejarah Piala Dunia sejak 1932  tim Asia masuk daftar empat besar.

Setelah sukses menjulangkan Korea Selatan, Hiddink dipinang Australia empat tahun kemudian.  Di tangannya juga Australia yang tak ternama dalam jagat persepakbolaan dunia menembus babak perempatfinal Piala Dunia 2006 di Jerman. Prestasinya  luar biasa itulah menjadi alasan bagi Federasi Sepakbola Rusia memilih Hiddink melatih tim Beruang Merah menuju Piala Eropa 2008.  Dalam melatih kesebelasan Rusia, Hiddink mempunyai asisten pelatih bernama Alexander Borodzjoek. Borodzjoek merupakan pemain profesional seangkatan dengan Oleg Blochin, bintang klub Dynamo Kiev  tahun 1970-an.   Kepada Hiddink, Borodzjoek pernah menceritakan anekdot Rusia berikut ini.

Syahdan, hiduplah dua sahabat yang kurang beruntung sehingga mereka memohon kemurahan dari Tuhan.  Tuhan setuju  tetapi mematok syarat yakni jika seorang meminta, lainnya akan mendapat dua kali lipat dari yang ia minta.  Maka mintalah seorang dari mereka, ”Tuhan, berilah saya rumah yang indah.” Dan sahabatnya pun mendapat dua rumah yang indah. Ia minta lagi sebuah mobil, maka sahabatnya mendapat dua mobil di depan rumahnya. Ia memandang temannya dan berkata, ”Tuhan, ambillah sebuah mata saya....”

Hiddink sangat suka anekdot ini. Diterapkan pada bola, anekdot tersebut akan berbunyi: janganlah kamu meminta kemenangan, nanti lawanmu yang mendapat kemenangan dobel. ”Saya tidak percaya pada keberuntungan. Saya menuntut perjuangan,” kata Hiddink.  Bagi Hiddink, anekdot itu juga mengajarkan, jika kamu berani kehilangan sebelah matamu, lawanmu akan buta. Maka katanya, ”Berkorbanlah dan berikanlah dirimu mati-matian.” (Sindhunata dalam The Che Guevara dari Rusia, Kompas.Com,  Rabu  18 Juni 2008).

Filosofi Hiddink yang terinspirasi dari anekdot ini sungguh mumpuni.  Rusia di Euro 2008 yang dipandang sebelah mata  pers Barat justru sanggup meruntuhkan tim-tim raksasa.  Kala itu Rusia memulai kampanye dengan buruk rupa, kalah 1-4 melawan Spanyol dalam laga pembuka.  Ketika banyak orang pesimistis termasuk para pejabat Federasi Sepakbola Rusia,  Hiddink berhasil membalikkan keadaan. Perlahan tapi pasti Rusia terus melaju hingga babak semifinal sebelum menyerah 0-3 atas Spanyol yang akhirnya tampil sebagai juara dengan mengalahkan Jerman di final.

Rusia sebenarnya masih menginginkan Hiddink bersama mereka lebih lama. Namun, sudah menjadi watak Hiddink yang tak mau bersama sebuah tim dalam jangka panjang. Hiddink memilih istirahat dari urusan si kulit bundar dan jabatan pelatih akhirnya jatuh ke tangan Meneer Belanda lainnya yang juga punya nama besar, Dick Advocaat.

Di tangan Advocaat perjalanan Rusia menuju Poland-Ukraine 2012 bagaikan jalan tol. Mengesankan. Bahkan sampai sebelum laga terakhir Grup A Euro 2012 melawan Yunani di Warsawa, Sabtu malam 16 Juni 2012, Rusia memegang rekor 16 partai tanpa kalah di tangan Advocaat. Dari 16 laga tersebut, tim Beruang Merah memenangi delapan di antaranya.  Terakhir Rusia kalah 0-1 melawan Iran dalam partai persahabatan 9 Februari 2011. Tim ini pun sangat efektif di lini pertahanan serta lini depan. Gawang Rusia hanya bobol empat kali dalam 13 partai terakhir.  Tim asuhan Dick Advocaat mencetak lima gol dalam tujuh tembakan ke gawang lawan selama Euro 2012. Artinya dalam dua laga lawan melawan Republik Ceko dan Polanda  hanya dua tembakan pemain Rusia yang meleset.

Rusia memimpin klasemen Grup A dengan empat poin sebelum menjalani pertandingan terakhir melawan Yunani. Mereka membuka Euro 2012 dengan kemenangan 4-1 atas Republik Ceko dan menahan tuan rumah Polandia 1-1. Melawan Yunani di Warsawa Sabtu malam, Rusia cuma butuh hasil seri untuk lolos ke perempatfinal.

Drama 90 menit di Stadion Nasional Warsawa 16 Juni 2012 berakhir tragis. Yunani justru tampil kesetanan dan menang 1-0 lewat gol gelandang veteran Giorgos Karagounis pada masa injury time babak pertama. Satu gol kemenangan sudah cukup bagi tim dari negeri Dewa Dewi untuk memulangkan Rusia ke kampungnya karena peraturan baru UEFA (Federasi Sepakbola Eropa) mensyaratkan skor head to head bukan hitung-hitungan selisih gol.

Dengan demikian meskipun perolehan nilai Yunani dan Rusia sama-sama empat bahkan selisih gol Rusia lebih baik, Yunanilah yang berhak mendampingi Republik Ceko ke babak delapan besar. Dalam pertandingan di saat bersamaan, Ceko menekuk Polandia 1-0.  Ceko yang dipermalukan Rusia pada partai pembuka justru memimpin klasemen grup dengan poin enam disusul Yunani (4). 

Begitulah misteri bola.  Segala kemungkinan masih bisa terjadi sebelum wasit meniup peluit panjang. Orang banyak menduga  tim sekelas Rusia akan melenggang dengan mudah karena alasan rasional  yang ditopang data statistik tentang kinerja tim ini.  Alasan tersebut luruh dalam hitungan menit ketika Yunani mengepakkan sayap kemenangannya. 

Ingat kenangan Euro 2004 ketika Dunia Menemukan Yunani atas prestasinya yang luar biasa. Terseok-seok sejak penyisihan bahkan tidak masuk daftar unggulan, tim asuhan Otto Rehagel saat itu malah melesat sampai partai puncak dan merebut tropi Piala Eropa dengan mengalahkan tuan rumah Portugal di final. Kemenangan Yunani 2004 memaksa  Cristiano Ronaldo menangis seperti bocah kehilangan mainan kesayangannya.

Lalu, ada apa dengan Rusia? Mengapa tiket perempatfinal Euro 2012 yang nyaris dalam genggaman justru hilang begitu mudah?  Seperti pendahulunya Guus Hiddink, Dick Advocaat tidak percaya mutlak pada faktor keberuntungan.  Meneer Dick sudah meminta Andrey Arshavin dkk bertarung habis-habisan seperti beruang ganas. “Saya menuntut perjuangan keras mereka. Tapi kami ternyata gagal menembus pertahanan lawan. Salut untuk Yunani, mereka sulit dilawan di babak kedua," kata Advocaat.  Anekdot Beruang Merah seolah tergenapi. Selamat jalan Rusia. *

(180612PK)

Nazar Ibrahim




Catatan sepakbola Dion DB Putra

SEPAKBOLA
dilahirkan agar dunia boleh tertawa dan menangis dalam kepolosan.  Tawa dan tangis sebagai ekspresi manusiawi yang  spontan, lugas, tanpa basa-basi. Tangis dan tawa dalam jagat bola bukan lakon sinetron, tidak  sekadar peran tokoh di panggung sandiwara. Tangis bola adalah tangis manusia seutuhnya. Tawa bola adalah tawa human being. Bola memang  senantiasa menyembulkan  ketelanjangan.  Hari ini hingga akhir hayat kisah sepakbola. Entah kapan?

Dengan bertelanjang dada  puluhan ribu putera-puteri Ukrania-Prancis mandi hujan di Stadion Donbass-Arena di Donetsk Ukraina, Jumat (15/6/2012) malam. Mandi bareng tanpa komando diiringi musik halintar dan kilatan blitz  petir karya agung penguasa langit dan bumi. 

Cihuy... sungguh pemandangan langka.  Mestinya itu masuk Guinnes  Book of  Record. Kalau di Indonesia layak  terdaftar di Museum Rekor Indonesia (Muri). Hujan badai dan guntur yang menggelegar di langit Donestk bukan halangan bagi mereka untuk berdansa dalam guyuran hujan yang luruh berderai membahasi bumi.  Mana ada manusia dewasa rela mandi hujan sambil girang ria? Di mana pernah dikau melihat itu?  Benar selalu kata-kata filsuf Albert Camus,  penggemar sepakbola sejati itu:  hanya di lapangan bola aku merasa seperti kanak-kanak lagi.

Kaos basah kuyup dan dingin menusuk kulit tak memaksa lebih dari 40 ribu penonton Jumat malam pulang rumah lebih lekas. Mereka menunggu dengan sabar, menanti dengan nyanyian dan lambaian bendera  sambil menyaksikan petugas stadion menikam-nikam lapangan hijau agar air cepat meresap.  Donbass-Arena merupakan stadion bintang lima, baru dibangun tahun 2009 dengan kapasitas 51.504 penonton. Jauh sebelum Euro 2012 bergulir Kepala Eksekutif Donbass-Arena, Alexander Atamanenko, mengatakan stadion yang menjadi markas klub Shakhtar Donetsk itu memiliki sistem drainase paling bagus di antara stadion Euro 2012 di Ukraina.

Jumat malam 15 Juni 2012, Atamanenko tersenyum getir melihat rembesan air liar menabrak ke mana-mana. Drainase mewah tak sanggup menampung air mata langit yang tercurah sedemikian derasnya. “Kami tidak bisa berbuat banyak. Cuaca ekstrem ini di luar perkiraan kami. Dasyhatnya alam siapa bisa melawan?” kata Atamanenko menjawab ofisial pertandingan yang menggerutu di lorong pemain karena jenuh menunggu kepastian pertandingan bisa berlanjut atau tunda.

Untungnya alam seolah berempati dengan keceriaan dan kesabaran para penggemar bola, tidak hanya di Donbass-Arena tapi miliaran pasang mata sejagat raya.  Kegilaan hujan badai dan halintar yang bersahut-sahutan hanya berlangsung sekitar 30 menit. Cuaca sontak berubah lebih cerah dan pertandingan bisa berlanjut lagi setelah sebelumnya dihentikan wasit pada menit ke-4 detik ke-27.

Isyarat alam Jumat malam jadi pertanda buruk bagi tuan rumah Ukraina. Andriy  Shevchenko dkk yang galak membekuk Swedia 2-1 pada laga perdana Grup D Euro 2012 bermain dalam kedinginan. Begitu minim sontekan  berbahaya yang mengancam Prancis. Setelah 45 menit pertama yang agak membosankan, Ayam Jago berkokok nyaring pada awal paruh kedua. Dalam tempo empat menit gawang Ukraina jebol dua kali.   Ketangguhan Andriy Pyatov di bawah mistar Ukraina luruh di menit ke-53 saat sepakan Jeremy Menez bergulir mulus ke pojok kiri gawang Pyatov. Tiga menit kemudian,  Yohan Cabaye menambah derita Ukraina. Dan, Karim Benzema layak mendapatkan pujian. Dua gol Les Bleus semua berawal dari assist-nya yang  terukur.
Wajar bila kemudian Pelatih Laurent Blanc  mengaku sangat menikmati permainan anak buahnya. “Malam ini, kami lebih baik daripada Ukraina, Tuhan tahu pertandingan ini tidak mudah karena mereka didukung seluruh orang dalam stadion ini," kata Blanc.

Blanc berjingkrak girang. Ukraina belum pupus harapan.  Segala kemungkinan bisa terjadi di Grup D karena masih ada satu partai pamungkas. Nasib sial justru menerpa Swedia. Tim kuning tersingkir! Tercatat sebagai kontestan kedua yang out dari persaingan Euro 2012 setelah Irlandia. Ibrahimovic lunglai di ujung laga. Merunduk  bisu di Stadion Stadion NSK Olympic Kyiv-Ukraina Jumat malam.

Sedih melihat kegetiran Ibrahimovic setelah bertarung spartan selama satu jam 30 menit. Swedia menyerah 2-3 atas Inggris. Swedia 2012 yang amat bergairah harus  pamit lebih awal.  Apa mau dikata.  Ibrahim(ovic) nama Bapak Bangsa miliaran manusia sedunia sudah berusaha menjaga imej  (jaim} dengan menahan air mata. Tidak terekam kamera TV memang. Tapi di  kamar ganti, air mata Ibra mengalir di pundak sang pelatih Erik Hamren. “Kami bermain lebih baik daripada Inggris. Kami memberikan yang terbaik, tapi kemenangan bukan milik kami,” kata Ibra, pria bongsor berkuncir yang menjulang namanya di Serie A selama tiga musim terakhir.  Hamren menghibur Ibra dengan kata-kata klise. ”Ibra, kita kalah dengan kepala tegak. Kita bermain seperti yang diinginkan, tapi mereka (Inggris) mencetak tiga gol, sementara kita hanya dua," kata Erik Hamren.

Nasib baik memang memihak Inggris. Sempat tertinggal 1-2 dari Swedia, The Three Lions  akhirnya unggul 3-2 hingga akhir pertandingan.  Pemain yang mengubah nasib Inggris bernama Theo Walcott. Dia hanya butuh 17 detik untuk menyamakan skor kemudian Inggris berbalik unggul lewat gol Danny Welbeck. Hingga hari ini setidaknya kandidat juara Euro 2012 mulai menampakkan diri. Jerman,  Spanyol, Perancis dan Inggris. Italia masih mencemaskan. Portugal was-was. Belanda agaknya harus mengucapkan sayonara Polandia-Ukraina 2012. Der Oranje sungguh kehilangan roh  total football yang dua tahun lalu amat memukau penonton  Piala Dunia di Afrika Selatan.

Cuma satu hal  hampir pasti dilakoni Zlatan Ibrahimovic. Sebelum Euro 2012 kapten Swedia ini mengungkapkan nazarnya yang unik  yaitu  jika timnya merebut trophi Piala Eropa 2012 maka  Ibra  akan mencukur  rambut kuncir kudanya.  Kuncir itu kesayangan Ibra yang ia pelihara sejak bermain di  Ajax, Inter Milan, Barcelona hingga  AC Milan. Ternyata nazar Ibra tak kesampaian! *

Kupang, 16 Juni 2012 (buat fans Inggris dan Perancis)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes