Berwisatalah ke Puncak Wolowio di Bajawa


KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR-  Patung Bunda Maria di Puncak Wolowio, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

ADA apa sesungguhnya di Bukit Wolowio, Kampung Wolowio, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur? Pertanyaan itu disampaikan sekelompok Komunitas Tritunggal Mahakudus, dari Paroki Santo Arnoldus dan Yoseph, Waelengga, Keuskupan Ruteng sebelum berwisata sambil berziarah ke Bukit Wolowio, Minggu (7/12/2014) lalu.

Berawal dari sebuah informasi bahwa ada bukit di Kabupaten Ngada yang sering dikunjungi dan menjadi tempat ziarah baru di Keuskupan Agung Ende. Setelah mengumpulkan informasi itu, komunitas doa ini berdiskusi untuk berziarah ke tempat itu. Mereka sepakat mengumpulkan uang masing-masing Rp 50.000 per orang untuk membiayai transportasi dari Kota Waelengga ke bukit tersebut.

Bahkan Kompas.com pun tertarik dengan informasi itu. Akhirnya wartawan Kompas.com bersama keluarga ikut dalam rombongan sambil dalam hati menulis tentang keindahan bukit tersebut.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR- Para peziarah naik kendaraan menuju Puncak Wolowio, di Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
 
 
Mulailah perjalanan dari Kota Waelengga dengan truk beratap kayu. Rombongan bergegas naik truk yang disopiri oleh Om Flori dengan kendaraannya, Credo. Sebanyak 30 orang rombongan bertanya-tanya dalam hati tentang Puncak Wolowio yang selalu dibicarakan warga masyarakat lainnya yang sudah pulang dari sana. Sebagian rombongan menggunakan sepeda motor.

Dari Kota Waelengga berjalan di pinggir pantai Aimere. Berjalan terus sampai di perjalanan berkelok-kelok dari Kota Aimere sampai di terminal Watu Jaji. Ada satu tikungan yang seperti ular merayap. Nama tikungan itu adalah Tikungan Kaju Ala. Semua sopir yang melintasi jalan negara itu baik dari arah Maumere menuju Labuan Bajo dan sebaliknya harus hati-hati mengendarai kendaraan karena ada beberapa kali kejadian kecelakaan di jalan tersebut. Beruntung penumpang tidak mabuk dan muntah.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR - Kota Bajawa dipotret dari Puncak Wolowio, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

 Selanjutnya, rombongan memasuki kota dingin Bajawa dan meneruskan perjalanan menuju ke Puncak Wolowio. Sebanyak dua kali, rombongan yang diantar Om Flori tersesat. Beruntung berbekal pepatah, "Malu Bertanya Sesat di Jalan", akhirnya sang sopir bertanya kepada warga di pinggir jalan di pedesaan Wolowio. Dengan keramahan sebagai orang Flores, warga memberikan petunjuk jalan menuju ke Puncak Wolowio.

Ada yang sangat menarik, sebelum tiba di Puncak Wolowio, rombongan melewati kebun kopi Arabika ratusan hektar milik petani di pedesaan tersebut. Untuk diketahui bahwa kopi Arabika Bajawa sudah diekspor ke luar negeri.

“Ah kita beruntung berwisata sekaligus berziarah ke Puncak Wolowio karena kita bisa melihat perkebunan kopi Arabika yang ditanami petani di Kabupaten Ngada. Selama ini kita hanya mendengarkan nama Kopi Arabika Bajawa. Nah, hari ini kita melihat sendiri betapa kekayaan kebun kopi Arabika dimiliki warga petani Bajawa," ujar Ibu Margaretha Bupu sekaligus Bendahara Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM), Minggu (7/12/2014), dalam perjalanan ziarah yang didampingi Pastor Paroki Santo Arnoldus dan Yoseph Waelengga, Romo Hieronimus Jelahu, Pr.


KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR -Pintu masuk Puncak Wolowio, di Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

 Perjalanan melintasi perkebunan Kopi Arabika di pedesaan Wolowio penuh semangat dengan tujuan sampai di Puncak Wolowio. Rombongan perlahan-lahan menuju ke puncak dengan melihat tulisan di pintu masuk bertuliskan, "Selamat Datang di Taman Wisata Rohani Bunda Maria Ratu Semesta Alam".

Nah, mulai dari situ, kekaguman menyelimuti hati dan pikiran rombongan dengan melihat sebuah Patung Bunda Maria yang sangat tinggi. Sang sopir terus mengendarai kendaraan dengan membawa rombongan. Lalu, mata dari seluruh rombongan tertuju ke kemegahan Patung Bunda Maria yang dibangun oleh pekerja yang didatangkan khusus dari Pulau Jawa serta sebuah salib tinggi di sebelahnya. Di bawah salib itu ada Patung Bunda Maria sedang memangku Yesus.

Hanya kekaguman demi kekaguman yang diungkapkan para peziarah yang pertama kali mengunjungi Puncak Wolowio tersebut.


KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR -Peziarah berjalan kaki menuju Puncak Wolowio, di Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
 
“Tidak sia-sia mengunjungi Puncak Wolowio yang ada Patung Bunda Maria yang sangat tinggi. Bahkan ada salib yang paling tinggi di Pulau Flores. Sepertinya tempat ziarah ini masih baru dibangun sebab masih ada peralatan-peralatan pertukangan. Saya akan ajak orang lain lagi untuk berwisata sambil berziarah ke Puncak Wolowio,” ujar seorang peziarah, Maria Daflora Echo kepada Kompas.com.

Peziarah lainnya, Agustinus Nggose mengajak semua satu keluarga untuk berziarah ke Puncak Wolowio. Berawal dari rasa penasaran dan informasi tentang tempat doa baru di Pulau Flores yaitu di Kabupaten Ngada.

Nggose menjelaskan, tinggi patung Bunda Maria di puncak itu adalah 14 meter. Sementara tempat duduknya setinggi 3 meter. Jadi, keseluruhan tinggi Patung Bunda Maria di Puncak Wolowio adalah 17 meter.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR - Para peziarah bergembira di Puncak Wolowio, di Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
 
“Saya sangat kagum dengan tukang yang membangun Patung Bunda Maria di daerah ketinggian di Pulau Flores. Informasi diperoleh bahwa tukangnya didatangkan dari Pulau Jawa. Saya sangat mengagumi upaya yang dilakukan Pastor Paroki di Wolowio yang berani membangun tempat ziarah di daerah puncak. Di Pulau Jawa ada Puncak Bogor sementara di Flores ada Puncak Wolowio. Bahkan beberapa puncak di Pulau Flores juga dibangun salib seperti di Puncak Ranaka, hanya tidak terawat dan tidak dikunjungi para peziarah,” katanya.

Nggose menjelaskan, apa yang dilihatnya pada Minggu itu akan disebarluaskan kepada keluarga lain di Keuskupan Ruteng agar berziarah ke Puncak Wolowio sambil berdoa di atas puncak.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR - Berpose di depan Salib Yesus di Puncak Wolowio, di Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
 
Setelah berbincang-bincang di puncak itu, Kompas.com, bersama dengan rombongan berdoa di bawah Salib di mana terdapat Patung Bunda Maria memangku Yesus dibawah kaki salib.

Flores Kaya Tempat Ziarah Rohani

Pulau Flores sudah terkenal dari zaman dahulu di seluruh Eropa. Bukan hanya obyek wisata budaya dan bahari yang menarik di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, melainkan juga obyek wisata ziarah rohani bagi penganut Kristiani.

Sebagaimana catatan Kompas.com, di Kabupaten Lembata, ada Taman Doa. Bergeser ke Kabupaten Flores Timur di Larantuka, ada ziarah Paskah yang unik, dan sekarang ada Taman Doa bekerja sama dengan Pemerintah Portugal. Selain itu, di Larantuka ada tempat Ziarah Kapela Mgr. Gabriel Manek, SVD yang saat dibawa dari Amerika Serikat, tubuhnya masih utuh. Banyak mujizat bagi peziarah yang berdoa di depan kuburan Mgr. Gabriel Manek, SVD.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR - Gereja Katolik Wolowio, di Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
 
Lalu bergeser ke Kabupaten Sikka, ada tempat ziarah di puncak serta Museum Santo Yohanes Paulus II. Bahkan ada kamar Paus dari Polandia saat berkunjung ke Kabupaten Sikka beberapa tahun silam. Peziarah terus berjalan menuju ke Kabupaten Ende. Di sana ada Gereja Katedral tertua. Bahkan ada sebuah gedung tempat Presiden Pertama RI, Soekarno, bermain teater saat diasingkan di Kota Ende.

Lalu ke wilayah Manggarai Raya, ada Gereja Katedral yang usianya lebih dari 100 tahun serta Gereja di Lengko Ajang yang berbentuk Sawah Lodok orang Manggarai Raya. Nah, berziarahlah ke Pulau Flores, maka anda akan menemukan kedamaian dan kesejukan dengan tempat-tempat ziarah yang unik.

Sumber: Kompas.Com

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes