Efek Tuan Rumah HPN bagi Nusa Tenggara Timur

Oleh Tony Kleden
Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Provinsi NTT, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah Kabar NTT

UNTUK apa  menjadi tuan rumah suatu even? Atau apa untungnya menjadi tuan rumah suatu hajatan, apalagi hajatan skala besar?

Data-data memperlihatkan begitu banyak untung yang bisa diraih  suatu daerah atau negara ketika menjadi tuan rumah sebuah even. Pada Piala Dunia Sepakbola, misalnya,  banyak negara berlomba-lomba menjadi tuan rumah, meski disadari begitu banyak uang yang harus digelontorkan menyiapkan banyak fasilitas untuk menjadi tuan rumah.

Brasil mengeluarkan dana sekitar 200 triliun rupiah memperbaiki dan membangun fasilitas penunjang ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia Sepakbola 2014. Afrika Selatan harus menghabiskan 28 miliar rand  (1 rand = 1.100 rupiah) ketika tampil sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010. Dana sangat banyak dibutuhkan untuk menyiapkan berbagai fasilitas  yang perlu untuk mendukung sebagai tuan rumah.


Ketika Kupang menjadi tuan rumah  peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2011, banyak sekali orang yang ragu dan cemas. Entahkah Kupang  siap menjadi tuan rumah untuk even sebesar HPN? Apakah sarana dan fasilitasnya menunjang? Hotel-hotelnya cukup untuk menampung ribuan tamu dari seluruh Indonesia?

Sampai dengan tahun 2011, saat penyelenggaraan HPN Kupang, sarana penunjang seperti hotel, hall atau ruang pertemuan skala besar di Kupang masih bisa dihitung dengan jari. Hotel berbintang cuma dua, selebihnya hotel melati.  Hall atau aula untuk pertemuan skala besar masih sulit. Singkatnya, dilihat dari fasilitas penunjang Kupang sepertinya jauh dari harapan.

Itu sebabnya, pada rapat-rapat awal membahas persiapan menjadi tuan rumah, ada suara yang menolak Kupang menjadi tuan rumah HPN. Malu-malu saja, begitu pendapat segelintir orang.
Tetapi Pemda NTT sudah bertekad bulat. Kupang  harus jadi tuan rumah, apa pun yang terjadi dan seperti apa pun juga kondisinya. Panitia pelaksana dibentuk dan mulai bekerja. Fasilitas yang belum ada diadakan, yang kurang dan rusak diperbaiki. Maka banyak dana dialokasikan Pemda NTT untuk menyukseskan HPN Kupang. Masyarakat dari berbagai elemen dilibatkan.

Pengusaha hotel, pemilik restoran, gerai kerajinan dilibatkan untuk menyukseskan HPN Kupang.
Sejujurnya harus diakui bahwa sebelum diselenggarakan HPN Kupang, image tentang Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya tentang Kupang, masih minor. NTT miskin, terkebelakang, susah maju. Kupang sangat jauuhh.. Ada yang mengira Kupang lebih jauh dari Ambon jika dilihat dari Jakarta.

Gambaran, image miring seperti ini wajar dan masuk akal,  karena NTT, Kupang jarang tampil dan ditampilkan di pentas nasional. Kecuali sektor olahraga, khususnya yang berurusan dengan adu otot seperti tinju, kempo, karate dan atletik, NTT jarang berkibar di tingkat nasional.
HPN Kupang kemudian  dianggap sebagai saatnya menunjukkan kepada dunia luar bahwa NTT bisa, bahwa Kupang juga bisa menjadi tuan rumah. Ada target jangka  panjang yang ingin dicapai menjadi tuan rumah. Dengan kata lain, dengan serba keterbatasannya, Pemda NTT ingin menjadikan HPN Kupang sebagai kesempatan memperbaiki image, menaikkan pamor NTT di mata dunia luar dan menciptakan merek. Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya selalu mengingatkan, NTT boleh dibilang miskin, tetapi kalau sudah menjadi tuan rumah, jadilah tuan rumah yang baik. Jangan sekali-kali membuat tamu kecewa di Kupang.

Jika semangatnya seperti ini, maka targetnya adalah branding. Dalam ilmu pemasaran, merek itu sangat penting dan vital. Orang pemasaran menjadikan merek itu branding. Terjemahan lurusnya cap. Cap, itu sederhana sekali, tapi manfaatnya luar biasa. Ijazah seseorang tidak diakui kalau tidak ada cap. Semua surat penting baru resmi dan legal kalau ada cap.

Dengan cap atau merek itulah sesuatu dikenal. Para sales  menjual sebuah produk dari mereknya. Merek itu membentuk brand image. Dengan brand image itulah sesuatu produk dikenal, dicintai dan diminati.

Semua sabun mandi fungsinya sama, yakni membersihkan badan. Tetapi mana ada sabun mandi yang mampu mengalahkan lux? Pasta gigi, tak ada yang mampu menyaingi pepsodent.
Kerabat saya yang bekerja di Zaire punya cerita menarik. Di Zaire, Indonesia dikenal dari sabun giv. Sabun mandi ini kalah pamor dengan merek sabun mandi lain yang dianggap lebih berkelas seperti lux, dethol, lifebuoy, camay  di Indonesia. Tetapi giv sudah punya merek di Zaire.

Sepuluh tahun lalu, nokia menguasai pasaran handphone di jagat ini. Sekarang samsung mengambil alih. Kualitas produk, nokia lebih unggul. Yang tidak unggul dari nokia adalah lemahnya pencitraan yang menjatuhkan brand image-nya. Mereka yang menggunakan HP nokia dianggap `jadul', jaman dulu. Sebaliknya mereka yang menggunakan HP merek samsung dianggap pintar `jaim', jaga image.

Dilandasi semangat seperti itulah Kupang akhirnya menjadi tuan rumah HPN 2011 dengan segala kelebihan dan terutama kekurangannya. Kekurangan fasilitas diimbangi dengan pelayanan yang baik kepada semua tamu.  Ibu gubernur yang sekaligus sebagai Ketua Dekranasda NTT tak mau malu menjadi tuan rumah. Kepada semua tamu yang datang dihadiahi sarung tenun ikat khas daerah-daerah di NTT.

Boleh dibilang, HPN Kupang cukup bagus. Terbukti Presiden SBY dalam pidatonya pada HPN tahun berikutnya di Jambi tiga kali menyebut penyelenggaraan HPN Kupang sebagai HPN yang cukup berhasil. Pada HPN 2013 di Manado, sukses HPN Kupang masih disebut-sebut sejumlah rekan wartawan dari daerah lain.

Efek yang diperoleh
Pertanyaan penting selanjutnya, apa efek menjadi tuan rumah HPN di Kupang? Beberapa efek nyata bisa disebut. Pertama, perubahan luar biasa terjadi dengan pembangunan sejumlah fasilitas umum di Kupang pasca HPN 2011. Geliat pembangunan di Kupang sangat terasa dan terlihat di mana-mana. Ruko menghiasi jalan umum. Restoran  serba rasa dengan aneka menu menjamur. Hotel berbintang dan melati dibangun menjulang membelah angkasa.

Kedua, di  sektor transportasi udara. Arus manusia yang datang dan pergi melalui bandar udara meningkat tajam. Maskapai penerbangan menambah frekuensi terbang. Saat ini, jumlah penumpang yang datang dan pergi melalui Bandara El Tari Kupang sekitar 4000-5000 orang setiap hari. Jumlah ini belum termasuk bandara-bandara di Pulau Flores, khususnya Bandara Frans Seda di Maumere dan Bandara Komodo di Labuan Bajo.

Ketiga, pamor NTT meningkat. Setelah sukses menyelenggarakan HPN 2011, Kupang sepertinya kebanjiran order menjadi tuan rumah sejumlah even nasional dan internasional. Selain beberapa even olahraga nasional, even lain seperti Munas Gerakan Pramuka juga diadakan di Kupang. Teranyar Kupang menjadi tuan rumah Munas Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).

Kepercayaan menjadi tuan rumah sejumlah even ini tak lain berarti pamor NTT, khususnya Kota Kupang semakin terangkat. Tak ada lagi kekhawatiran menyelenggarakan even nasional, bahkan internasional di Kupang.  Kupang siap selalu manakala ditunjuk menjadi tuan rumah even-even nasional dan internasional.

Di balik ketiga efek yang sangat nyata ini, terdapat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa.  Biar kecil, hampir semua sektor memperlihatkan geliat pertumbuhan yang luar biasa. Geliat pertumbuhan ini selanjutnya mendongkrak pendapatan masyarakat.  Dana miliaran rupiah yang dibelanjakan untuk menyukseskan HPN Kupang tidak sia-sia. Tentu dana yang dikeluarkan tahun 2011 adalah investasi jangka panjang yang ternyata sudah mulai terlihat manfaatnya di berbagai sektor.  Peningkatan arus manusia yang masuk ke Kupang langsung menggerakkan mata rantai ekonomi. Dari transportasi darat, belanja makan dan minum hingga cenderamata.

Bagi masyarakat, efek paling  terasa adalah meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang selanjutnya mendongkrak pendapatan. Tetapi bagi pemerintah, efek paling penting dari HPN Kupang adalah perbaikan image dan penciptaan brand image tentang NTT dan tentang Kupang.  Bahwa NTT tidak semiskin seperti yang tergambar selama ini. Bahwa orang NTT tidak sekasar seperti yang diperkirakan sekian lama. Bahwa NTT juga punya apa-apa untuk dibanggakan.

Belakangan brand image ini semakin penting dan urgen mengingat kerja sama  golden triangle (segitiga emas) antara Kupang-Darwin-Dili.  Sudah beberapa  pertemuan dalam kerangka segitiga emas digelar di Kupang. Pastilah, ke depan banyak program yang bisa digagas dan direncakan dalam kerja sama golden triangle ini.

Tiga tahun sudah Kupang mencatat sejarah sebagai tuan rumah peringatan Hari Pers Nasional. Lepas dari kekurangannya, Kupang telah menginvestasi banyak dana untuk kepentingan dan kebutuhan demi kemajuan NTT ke depan.  *

Sumber: Buku Geliat NTT, Jambi dan Bengkulu Pasca HPN. Diterbitkan PWI Pusat dan diluncurkan pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2015 di Batam, Kepri 9 Februari 2015.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes