Ruwaida


DI ruang pemeriksaan kesehatan pasangan suami itu tidak bertegur sapa. Mereka seolah orang asing satu sama lain. Istri membuang muka ketika berpapasan dengan suami. Demikian pula sebaliknya. Pemilihan umum kepala daerah (pemilu kada) telah menempatkan mereka dalam posisi berseberangan. Mereka berperang!

Peristiwa unik ini terjadi di RS Aloei Saboe, Kota Gorontalo 15 April 2010. Pasangan suami istri itu adalah Ruwaida Mile dan Ismet Mile. Keduanya merupakan Calon Bupati Kabupaten Bone Bolango, Propinsi Gorontalo dari partai berbeda. Ruwaida yang menjabat Ketua Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) maju berpasangan dengan bupati Haris Hadju. Sedangkan Ismet yang menjabat Ketua Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) menggandeng Ibrahim Dau.


Bersama enam pasangan calon lainnya, hari itu Ruwaida dan Ismet menjalani tes kesehatan yang melelahkan selama lima jam di RS Aloei Saboe. Ismet merupakan bupati yang sedang menjabat (incumbent) dan berusaha kembali memimpin untuk periode kedua (Kompas, 19 April 2010 halaman 2).

Ketidakharmonisan rumah tangga ikut membumbui pemilu kada di Bone Bolango yang menempatkan Ismet dan Ruwaida sebagai `musuh'. Awalnya Ruwaida mendukung suaminya maju lagi. Saat deklarasi Ismet tiga bulan lalu, Ruwaida ikut naik panggung kampanye. Tapi sikap Ismet membuat Ruwaida berubah pikiran. Dia sakit hati karena Ismet tiba-tiba "mencopot" jabatan Ketua Tim Penggerak PKK yang diembannya. Jabatan itu diserahkan Ismet kepada istri kedua, Yayuk. Ismet pun menarik mobil Kijang Innova yang selama ini dipakai Ruwaida. Wah?

"Menjadi bupati kan tidak harus ada izin suami. Ini berbeda kalau suami kawin lagi, ya harus ada izin istri," kata Ruwaida. Ketika Ismet menikahi Yayuk sebagai istri kedua, Ruwaida tidak keberatan. Kini saatnya Ismet harus berbesar hati merelakan sang istri menjadi 'lawan tandingnya' di pemilu kada Bone Bolango 5 Juli nanti. "Itulah demokrasi, tak ada yang bisa melarang," kata Ismet.

Lain Bone Bolango lain pula di Kediri, Jawa Timur. Di Kediri, Bupati Sutrisno telah memimpin dua periode. Sesuai ketentuan UU tak ada kesempatan lagi baginya untuk maju. Sutrisno tak hilang akal. Dia mendorong kedua istrinya bertarung sebagai calon bupati guna meneruskan 'dinasti' keluarga. Gayung pun bersambut.

Istri pertama, Haryanti maju ke arena pemilu kada lewat pintu Partai Golkar, PKNU, PDIP dan PPP. Sedangkan Nurlaila, istri kedua Sutrisno, diusung koalisasi PAN, Gerindra, PDP, Patriot, PKPI dan PPRN. Sekarang Haryanti dan Nurlaila sedang getol berkampanye ke seluruh pelosok Kediri. Keduanya memiliki massa pendukung hampir sama banyak. Istri bupati cakar-cakaran di arena pemilu. Seru!

Istri bupati atau istri gubernur mencalonkan diri -- setelah suami mereka habis masa jabatan -- rupanya sedang jadi trend pemilu kada tahun 2010. Beberapa di antaranya bisa beta sebut di sini. Martiani Setyaningtyas (istri Sujud Pribadi, Bupati Malang), Sri Surya Widati (istri Idham Sumawi, bupati Bantul, DIY), Titik Suprapti (istri Bambang Riyanto, bupati Sukoharjo, Jawa Tengah), Anna Sophiana (istri Irianto MS Syafruddin, bupati Indramayu, Jawa Barat), Adlina T Milwan (istri T Milwan, bupati Labuan Batu, Sumatera Utara) dan Aida Zulaikha Nasution Ismeth (istri Ismeth Abdullah, gubernur Kepulauan Riau). Di Indramayu, Anna Sophiana bahkan akan bertarung dengan putranya sendiri, Daniel Mutaqien.

Begitulah tuan dan puan. Kita mungkin tidak pernah membayangkan bahwa pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat Indonesia yang dimulai sejak tahun 2005 akan berkembang seperti sekarang. Kalau di masa lalu jabatan kepala daerah seolah menjadi hak istimewa para birokrat, sekarang siapa pun bisa mencalonkan diri. Kapasitas dan kapabilitas seseorang menjadi nomor sekian, bukan syarat utama. Asal ada pintu masuk lewat partai politik yang notabene sangat dekat dengan kekuatan duit, siapa pun berpeluang menjadi calon bupati dan wakil bupati. Jadi tidak mengherankan bila istri, anak, kakak, adik, paman dan bibi ramai- ramai melamar menjadi calon pemimpin di suatu daerah.

Apakah fakta semacam itu tidak berlaku di beranda Flobamora? Jangan salah bung! Panggung pemilu kada di Nusa Tenggara Timur juga menebarkan aroma politik dinasti. Mereka yang sedang memegang kemudi kekuasaan atau pernah berkuasa sangat gigih mempertahankan rezim keluarga.

Ada delapan daerah di NTT yang tahun 2010 ini akan melaksanakan pemilu kada. Beta yakin tuan dan puan mudah sekali menemukan fenomena politik keluarga. Memang belum seheboh Bone Bolango, Kediri, Riau atau Indramayu. Tapi pertarungan sesama anggota keluarga cukup terang benderang di Flobamora.

Di Manggarai, misalnya, sulit memungkiri adanya perseteruan diam-diam di antara para calon yang memiliki hubungan kekerabatan sangat dekat. Mereka berasal dari kampung, desa, kecamatan bahkan rumpun keluarga yang sama. 

Pokoknya demi menguber kursi kekuasaan, teman terpaksa makan teman, keluarga bentrok dengan keluarga sendiri! Untuk sementara lupakan dulu hubungan kenyadu (ipar), kakak adik, bapa besar atau bapa kecil, om, keponakan, bibi dan lainnya. Beta bayangkan konstituen dibikin pening dan bingung saat memilih. Pilih om, kakak, adik atau bibi? Jangan-jangan suara mereka hangus karena coblos semua famili.Semoga tidak. Dalam pemilu satu suara itu mahal harganya.

Omong-omong soal Ruwaida, eh.. maksudku pemilu kada, ada yang mencolok mata di Kota Kupang. Meski momentum pemilu kada masih sangat lama, kasak-kusuk calon sudah berembus kencang. Banyak sudah yang ambil ancang-ancang. Cobalah tengok beberapa lokasi di Kota KASIH, sudah ada yang berani mengumumkan kepada publik Kota Kasih sebagai calon "wali" masa depan.

Tidak boleh? Oh... silakan saja kawan. Itu hak asasi. Itu hak politik yang dilindungi Undang Undang negara ini. Malah beta nantikan Ruwaida Flobamora yang berani menantang suami sendiri. Hehehe... Lebih bagus lagi kalau bukan cuma istri bupati atau walikota di sini yang mau tawarkan diri sebagai calon. Perempuan Flobamora naiklah ke panggung demokrasi. Tak perlu takut, mengapa malu? Bertahun-tahun dipimpin laki-laki, wajah NTT ya begini-begini saja. Gizi buruk meradang tahunan. Krisis pangan menggelepar tak habis-habisnya. Maaf o..! (dionbata@gmail.com)

Pos Kupang edisi Senin, 3 Mei 2010 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes