Kupangku

SEORANG kawan yang baru pertama kali berkunjung ke Kota Kupang beberapa waktu lalu sempat merepotkan beta. Setelah tiga hari berada di ibu kota Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini dia percaya diri untuk jalan-jalan sendiri dengan sepeda motor. "Bung, ternyata kotamu tidak seberapa luas. Kupang ini sama dengan kota kecamatan di Pulau Jawa," kata Joko, nama kawanku itu.

Wuih...Joko anggap remeh betul kota terbesar di Flobamora. Beta mau protes tapi niat itu kuurungkan karena khawatir dia tersinggung. Tiga jam kemudian tiba-tiba telepon genggamku berdering. Telepon dari Joko. Waktu pukul 20.23 Wita. "Bung, saya tidak tahu berada di daerah mana nih. Tolong kasih petunjuk dulu, saya mau pulang ke Kolhua," katanya dari balik telepon. Beta terbahak. Su rasa!

Mau tahu mengapa dia tersesat? Setelah puas pelesiran sepanjang pantai Kota Kupang mulai dari kawasan kota lama sampai Lasiana, Joko pulang ke perumahan Kolhua. Tiba di kawasan Maulafa perjalanannya terganggu karena jalan ditutup warga di sana yang sedang menggelar suatu acara. Dia diarahkan melewati jalan alternatif. Karena belum hafal jalur jalan, dia berputar-putar saja di kawasan Maulafa-Tofa. Setengah jam berlalu dia mulai cemas lalu menelepon beta.


"Saya sudah tanya orang-orang sini, cuma kurang yakin petunjuk mereka benar karena sejak tadi saya belum temukan jalan ke Kolhua," katanya. "Makanya bung, jangan anggap kecil Kupangku ini. Hehehe..." kataku bercanda. Beta tanya posisi terakhir dia lalu beri panduan tentang jalan menuju puncak bukit Kolhua. Joko selamat!

Begitulah tuan dan puan salah satu ciri khas Kupang. Bagi tuan yang baru pertama kali ke kota ini jangan kaget bila menghadapi masalah seperti Joko. Sudah tradisi Kupang bila ada kenduri orang tutup jalan umum. Pengguna jalan silakan mencari sendiri jalan lain menuju ke tempat tujuan. Cukup sering yang menutup jalan menghardik dengan kata-kata keras jika puan coba bertanya. Kata maaf mahal nian terlontar dari bibir. Misalnya, Maaf pak, ibu, jalan kami tutup karena ada acara. Mohon pengertian. Yang lebih kerap terdengar, Hoe..jangan lewat sini. Lihat ko sonde sudah ada tanda di situ! Ujaran begini tidak cuma remaja tanggung. Orang dewasa pun sama galaknya. Ko Kupang na! Santun bertutur agak langka di sini.

Ciri lain Kupang adalah kesulitan saat hendak buang air besar dan buang air kecil di fasilitas umum seperti pasar dan terminal. Berada di tempat umum semacam itu, tuan dan puan mesti tahan-tahan diri jika mau be'ol alias po'e (baca: buang air besar) sudah memberi sinyal. Harap maklum, kamar WC atau toilet adalah sarana yang terpinggirkan di ruang publik kota ini bahkan termasuk di sejumlah kantor milik pemerintah. Satu-satunya yang lebih terjamin hanyalah toilet di terminal bandar udara.

Ingin melihat bukti? Cobalah tengok ke Terminal Kupang, Terminal Oebobo, Noelbaki, Pasar Naikoten, Pasar Oeba, Pasar Oebobo, Kuanino, Pelabuhan Tenau dan Bolok. Lihat dan rasakan sendiri sensasi toilet di sana. Kita klaim diri sudah maju, dapat Adipura berkali-kali tapi cara berpikir dan mengelola kakus masih di zaman batu. Toilet urusan terbuntut. Bukan ukuran peradaban.

Kalau kesulitan air bersih, lampu jalan lebih kerap padam serta sampah berserakan di mana-mana, bukan lagi sekadar ciri melainkan identik dengan Kupang. Begitu menyatunya dengan kota ini sehingga para wali negeri...eh sorry maksudku yang urus negeri Kupang terkasih mungkin tidak lagi menganggap sebagai tragedi kegagalan negara mengurus kemaslahatan orang banyak.

Ciri Kupang yang lebih unik adalah otak jangka pendek. Contohnya bangun jalan di dalam kota, khususnya di kawasan pengembangan sesuai master plan tata ruang kota. Kultur Kupang rupanya senang yang sempit-sempit. Bangga sekali bangun jalan kecil. Jalan yang dalam tempo sesingkat-singkatnya sudah sesak berdesak, tak sanggup menampung luapan kendaraan bermotor yang terus bertambah. Percayalah tuan dan puan, dalam kurun waktu lima tahun ke depan Kupang akan dilanda kemacetan yang luar biasa. Bukankah sekarang tuan telah merasakannnya di sejumlah ruas jalan protokol saat jam sibuk pergi dan pulang kerja? Mungkin ada yang berpikir kemacetan lalulintas itu bukti kemajuan Kota Kupang.

Bangun jalan sempit itu kurang jelas argumentasinya. Entah untuk alasan hemat anggaran atau sebagian besar dikorupsi, tak tahulah. Cuma tuan tentunya belum lupa, Kupang termasuk kota terkorup di Indonesia menurut survey Transparansi Internasional Indonesia (TII) dua tahun silam. Kupang tersohor karena itu. Wow!

Kadang beta merasa geli sendiri. Soalnya belasan tahun lalu serombongan besar penggede kota ini studi banding ke Australia Utara. Di sana mereka terkagum-kagum dengan cara bangsa Aussie membangun kota. Misalnya bangun jalan, mereka sudah hitung daya tampungnya minimal sampai 50 tahun ke depan. Pembebasan lahan disiapkan untuk jalan dua jalur. Perkara bangun duluan satu jalur, itu disesuaikan dengan kebutuhan. Tiba saatnya bangun dua jalur tidak direpotkan lagi dengan pembebasan lahan atau terpaksa menggusur rumah rakyat.
Studi banding rupanya berakhir dengan kekaguman semata. Tidak mampu diadopsi demi kebaikan kota atau daerah sendiri. Tuan dan puan masih percaya manfaat studi banding oleh pembesar kita? Manfaatnya, ya kagum sesaat lalu lupa!

Satu lagi ciri Kupang yang amat membekas kalbu. Susah amat menjawab pertanyaan tamu atau kolega dari jauh tentang lokasi wisata jika mereka ingin melepas penat setelah menjalani suatu kegiatan di Kota Kupang. Kota ini memiliki bentangan pantai yang indah menawan serta tempat-tempat bersejarah. Ada Lasiana, Nunsui, Tablolong. Ada air terjun Oenesu, Tesbatan. Namun, tuan dan puan tahulah seperti apa wajah lokasi wisata tersebut. Dari tahun ke tahun wajahnya serupa sebangun. Pernah dengar pejabat kita promosikan Lasiana dengan bangga?

Pernah dengar landmark Kota Kupang? Kita hidup di kota tanpa identintas. Kota tanpa ikon kebanggaan. Kota kabur air. Kalau Jakarta punya Monas, Surabaya punya tugu Buaya, Kupangku tak jelas jenis kelaminnya. Aih, sedih sekali ko! 
Sebenarnya litani ciri Kota KASIH masih bisa kuperpanjang lagi. Cuma beta cukupkan sekian dulu. Izinkan beta untuk mengucapkan selamat Ulang Tahun ke-14 Kota Kupang. Buruk-buruk begini kasihku untuk Kupang tak terkira. Kupangku kupangku dengan kasih. Dirgahayu! (dionbata@gmail.com)

Pos Kupang edisi Senin, 26 April 2010 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes