Brengsek


BCA- Transfer BERHASIL 31/03 18:50:38. No Urut 0400. Rp 100,000,000,- Ref 1221008899. Berita: Titipan dari Gayus Tambunan, Jangan boros-boros Ya! Isi pesan singkat berantai dari seorang teman itu sungguh membuatku terbahak.

Gayus Tambunan yang namanya menjulang dalam dua pekan terakhir rupanya telah menginspirasi beberapa orang untuk mengekspresikan kegundahan mereka sebagai anak "bangsa juara korupsi" ini secara jenaka. Boleh jadi tuan dan puan pernah menerima pesan singkat atau SMS serupa.

Ya, siapa tak kenal Gayus Tambunan? Dia pegawai negeri golongan III A, masa kerja kurang dari sepuluh tahun. Punya rumah mewah dan uang di sejumlah rekening sekitar Rp 28 miliar. Pegawai pajak itu sempat jalan-jalan ke Singapura bersama keluarga saat kasusnya mengemuka dan kini menjalani proses hukum di Jakarta berkaitan dengan kasus dugaan penggelapan pajak dan makelar kasus.


Selain Gayus Tambunan, muncul lagi Bahasyim Assifie. Menurut laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), mantan kepala salah satu kantor pajak di wilayah DKI Jakarta ini memiliki rekening sekitar Rp 70 miliar. Dana sebesar itu diduga tak wajar bila dikaitkan dengan pekerjaannya.

Benarlah bila banyak orang mengatakan, kasus Gayus dan Bahasyim hanyalah puncak dari gunung es yang lebih besar, yang tersembunyi di bawah permukaan samudera korupsi Indonesia. Kasus-kasus itu merupakan cermin betapa rapuhnya kelembagaan birokrasi perpajakan terhadap penggelapan uang negara. Sangat mungkin kita telah ditipu dan dikibuli selama bertahun-tahun.

Terima kasih Gayus Tambunan. Terima kasih Susno Duaji. Tuan berdua telah membuka mata Indonesia lebar-lebar. Indonesia yang riang berkubang dengan korupsi. Indonesia yang keropos remuk karena pengkhiatan tiada henti terhadap nilai kejujuran serta tanggung jawab sosial. Fenomena makelar kasus alias markus, fakta tentang harta PNS yang tak wajar membuktikan untuk kesekian kalinya dalam sejarah peradaban umat manusia bahwa uang hanya mengenal kata kurang.

Pemberian remunerasi kepada pegawai pajak yang jumlahnya berlipat ganda bila dibandingkan dengan PNS instansi lain terbukti tidak cukup memuaskan dahaga kerakusan. Dan, Gayus tidak sendirian! Masih ada ribuan bahkan jutaan Gayus lain di sekitar kita. Tentunya termasuk Gayus Flobamora.Gayus-Gayus yang beraksi dengan cara masing-masing di kampung besar Nusa Tenggara Timur.

Di kampung tercinta ini BAP kasus dugaan korupsi selalu berulang tahun. Bolak- balik dari tangan jaksa dan polisi lalu hilang bersama sang waktu! Siapa bilang Flobamora bebas dari makelar kasus alias markus? Markus di sini tak kalah cerdik seperti markus Jakarta, Bandung, Medan atau Surabaya. Markus di beranda Flobamora bergentayangan di mana-mana. Kasus pembunuhan Paulus Usnaat di Timor Tengah Utara jalan-jalan di tempat. Itu sekadar misal.

Hebatnya lagi, mereka amat suka berapologi. Sangat enteng menghibur diri dengan menyebut itu perbuatan oknum. Dengan menyebut oknum seolah-olah kasus itu hanya segelintir. Cuma perkara kecil di antara segudang prestasi. Wah?

Padahal aparat birokrasi mana lagi di negeri ini yang seratus persen dipercayai publik? Polisi, jaksa, hakim, aparat pemerintah pusat dan daerah? Fenomena markus yang secara telanjang menghiasi langit Ibu Pertiwi hari-hari ini menunjukkan, mereka yang terlibat korupsi ternyata ada di hampir seluruh lembaga penegak hukum dan keadilan. Mulai dari kepolisian, kejaksaan hingga peradilan.

Praktik korupsi yang semakin merajalela tak pelak lagi telah merusak institusi birokrasi pemerintahan dan penegak hukum. Yang paling memilukan adalah hilangnya kepercayaan publik kepada aparat birokrasi dan penegak hukum. Padahal siapa pun tahu, kepercayaan merupakan modal sosial yang utama dalam membangun negara dan pemerintahan yang kredibel dan akuntabel.

Sungguh gila Indonesia! Kemarahan publik tak tertahankan lagi. Reformasi telah satu dasawarsa bergulir. Korupsi malah menggurita. Korupsi tersaji dengan genit dari hari ke hari. Bahkan pelakunya makin berani unjuk gigi. Penegakan hukum dalam kasus korupsi selama ini rupanya tidak memberi efek jera.

Hingga Sabtu 10 April 2010, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum telah menerima sekitar 600 laporan pengaduan dugaan praktik mafia hukum dari masyarakat di seluruh Indonesia. Bayangkan tuan dan puan. Dalam waktu 100 hari kerja saja, Satgas telah menerima pengaduan sedemikian banyak. Rata-rata 200 kasus perbulan. Besar harapan Satgas yang dibentuk Presiden RI dengan masa tugas selama dua tahun bisa mengikis epidemi korupsi di negeri ini. Korupsi sistemik di antara orang-orang di satu instansi tertentu atau antar-instansi.

Apakah mungkin? Teringat beta akan sinisme WS Rendra ketika si Burung Merak bersama Bengkel Teaternya mementaskan lakon Buku Harian Seorang Penipu di panggung Gedung Kesenian Jakarta akhir tahun 1980-an. Buku Harian Seorang Penipu bercerita tentang lelaki bujang, tak punya pekerjaan tetap tapi ingin kaya mendadak dengan menikahi janda cantik, kaya dan penganut kebatinan fanatik. Tujuan si bujang dan janda dicapai dengan jalan menipu. Saling menipu.

Melalui lakon yang disadur dari sandiwara karya Alexander Ostrovsky, WS Rendra menunjuk wajah Indonesia yang suka tipu-menipu. Dalam kata-kata Rendra, kebiasaan tipu-menipu merupakan ciri masyarakat brengsek! Dan, kebrengsekan mencerminkan bangsa yang kehilangan hati nurani.

Lalu bagaimana mengurangi kebrengsekan yang bikin sesak dada ini? Kini ada kecenderungan kuat, publik mendambakan hukuman seberat mungkin bagi koruptor. Mulai dari hukuman mati seperti diusul Menteri Hukum, Patrialis Akbar, hukuman seumur hidup, penyitaan seluruh harta sampai sanksi sosial, misalnya dikeluarkan dari masyarakat adat, pengucilan sosial dan lainnya.

Demi shock terapi baik juga mengadopsi cara China. Hukum mati koruptor di lapangan terbuka. Jutaan rakyat melihat dengan mata kepala sendiri si penggarong duit negara mati pelan-pelan di tiang gantungan. Ihh...ngeri kawan! (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang, Senin 12 April 2010 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes