Mangga Kelapa, Icon Baru Alor?

Oleh Okto Manehat

ALOR identik dengan kenari. Itulah icon kabupaten kepulauan yang letaknya paling timur Nusa Tenggara Timur itu. Kenari hanya tumbuh di sejumlah wilayah tertentu di negeri ini, dan di NTT hanya ada di beberapa daerah. Alor memiliki populasi kenari terbanyak. 

Icon itu perlu dipertahankan karena merupakan ciri khusus daerah yang sering dijuluki nusa kenari itu. Kemajuan teknologi pertanian didukung kondisi alam yang subur, perlahan masyarakat Alor mengembangkan berbagai tanaman, baik tanaman perdagangan maupun buah-buahan. Khusus buah-buahan Alor pernah mencatat mangga kelapa menjadi varietas unggul nasional. Bibit mangga kelapa dari Alor dapat dijadikan varietas unggulan untuk dikembangkan di seluruh Indonesia. 

Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta, dalam berbagai kegiatan pemerintahan dan kemasyarakatan di daerah itu, meminta masyarakat tetap melestarikan kekayaan alam untuk peningkatan kesejahteraan. Masyarakat diajak mengembangkan potensi-potensi unggulan, yang sering disebutnya 'keunggulan komparatif' atau 'keunggulan mutlak'. Disadari benar di daerah lain juga kaya akan berbagai potensi smber daya alam (SDA) yang sama dengan Alor. Namun, potensi-potensi yang dimiliki di Alor ada yang khusus, tidak dimiliki daerah lain.





Apa yang dikampanyekan Ans Takalapeta bukan hanya sebatas wacana atau pemanis di bibir saja. Dia langsung turun lapangan menggerakkan masyarakat mengembangkan mangga kelapa yang telah mendapat merk varietas unggul nasional itu. 

Berkat keuletan itu, membuat Kabupaten Alor semakin dikenal di mata nasional. Di bidang pertambangan, ada batu hitam, di bidang kehutanan ada cendana, di bidang peternakan ada rusa dan di bidang pertanian ada mangga kelapa. Alor juga dikenal memiliki taman laut nasional yang cukup indah. Perairan Alor telah dikenal dunia sebagai tempat diving yang menarik. 

Pada perayaan tahun emas, Alor mendapat kehormatan dan penghargaan dari Departemen Pertanian dengan menetapkan mangga kelapa menjadi varietas unggul nasional. Mangga kelapa yang berganti merek menjadi Mangga Alor telah mendapat sertifikasi nasional. Pengakuan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua melalui perjuangan panjang.

Kepala Badan Bimas Ketahanan Pangan dan PPL Kabupaten Alor, Ir. Yohanis Francis, yang ditemui di Kalabahi, Jumat (13/11/2008), menjelaskan, untuk menjadikan suatu komoditi dari daerah menjadi varietas nasional tidak mudah atau gampang. Perjuangannya harus melalui beberapa tahapan seleksi. 

Untuk mangga kelapa di Alor, awalnya karena komoditi ini telah memiliki spesifik. Mangga ini memiliki ciri khusus dibandingkan dengan mangga yang ada di daerah lain. Ciri khusus yang dimaksud, yakni Mangga Alor memiliki bentuk bulat dengan ukuran buah yang besar dengan berat satu kilogram per buah. Tapi keunggulannya lebih pada cita rasanya yang manis dan aromanya harum. Untuk cita rasa, meski buah masih muda (mentah), namun rasanya manis sehingga mangga ini dimakan saat muda maupun saat masak sama enaknya.

Dengan modal keunikan yang dimilik mangga ini, kata Francis, ditambah dengan sejumlah pengakuan informal responsif dari sejumlah pejabat yang pernah mencicipi mangga alor, mulai dari orang nomor satu di negeri ini, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama istri Ani Yudhoyono, Mantan Presiden RI, Megawati dan jajaran Menteri Kabinet Bersatu yang pernah datang ke Alor, termasuk Menteri Kehutanan, MS Kaban dan Menteri Pertanian, Anton Apriyono, membuat Pemkab Alor percaya diri untuk mengusulkan mangga ini menjadi varietas nasional.

Usul mangga ini menjadi varietas nasional, lanjut Francis, dimulai sejak tahun 2008. Di mana tahapan awalnya dimulai dengan investigasi lapangan. Investigasi ini mencakup sejarah keberadaan mangga ini, nilai ekonomisnya, animo masyarakat untuk pengembangan, dan penyebaran populasi mangga Alor. 

Dari segi sejarah, mangga kelapa ini mulai ditanam di Alor sejak tahun 1923 oleh Marthen Akal (almarhum). Sementara asal bibitnya belum diketahui pasti dari mana, namun tentunya punya kaitan dengan zaman kolonial Belanda. Tetapi berdasarkan referensi yang ada, namanya mangga secara teknis berasal dari India.

Penyebaran populasinya, hampir semua wilayah dapat ditemukan mangga tersebut, dimana populasinya mencapai ribuan pohon. Tetapi tanaman ini lebih dominan berada di empat kecamatan, yaitu Kabola, Alor Barat Laut, Alor Barat Daya, dan Teluk Mutiara. Untuk itu dengan predikat varietas yang ada, maka mutlak program pemerintah akan mengembangkan secara besar-besaran mangga ini di semua wilayah di Kabupaten Alor. Alasannya, semua wilayah di daerah ini kondisi tanahnya sangat cocok akan tanaman mangga ini. Alor memiliki ciri tanah endapan atau aluvial.

Dari segi ekonomi, mangga kelapa harganya cukup menggiurkanRp 5.000/buah. Mangga lainnya seperti mangga harum manis, harganya Rp 5.000/3-5 buah. Dengan telah dimilikinya status varietas unggul ini, maka harga mangga ini akan berpengaruh atau cenderung naik. Karena akan menerima orderan dari daerah lain, lebih dari itu daerahnya menjadi wilayah penangkaran bibit mangga kelapa. Kondisi ini yang membuat nilai jual akan tinggi.

Bertolak dari hasil investigasi yang dimaksud, kata Francis, maka tahapan berikutnya dibuat penelitian yang mencakup aspek adaptasi terhadap lingkungan , kemampuan morfologi tanaman, dan karaktersitik tanaman. Tahapan ini kemudian diikuti dengan seminar dan pemberian nama, yang kemudian dipilih nama mangga Alor. Nama ini sebagai simbol daerah dan menunjukkan identitas atau kultur masyarakat.

Berkaitan dengan penghargaan mangga ini, maka pemerintah pusat di depan dewan pakar pertanian di Bogor, dilakukan pengukuhan atau pelepasan mangga kelapa Alor yang dikenal dengan mangga Alor menjadi varietas unggul nasional. Dengan demikian spirit Bupati, Ir. Ans Takalapeta bahwa dalam pengembangan suatu komoditi harus bisa menjadi identitas daerah, telah terjawab. Dengan predikat yang disandang tanaman ini maka mangga kelapa Alor telah menjadi satu identitas baru Kabupaten Alor.

Mungkinkah mangga ini dapat membawa harapan baru masyarakat Kabupaten Alor, sehingga bisa menjadi ikon dari daerah itu menggantikan kenari yang telah berangsur punah? *

Pos Kupang edisi Jumat, 21 November 2008 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes