Dari Dulu Hanya Gula Air...

Oleh Syarifah Sifat

ROTE Ndao dan Tuban, Jawa Timur, identik dengan pohon lontar (borassus sundaicus). Di Kota Tuban, lontar benar-benar menjadi pohon kehidupan. Sebaliknya, di Rote Ndao, hanya pohonnya yang hidup, belum menghidupi warganya.

Bila Anda berjalan dan mengaso sejenak di Tuban, mata Anda akan tertuju pada minuman fermentasi nira yang dikenal dengan sebutan legen atau tuak. Legen dijual di sepanjang jalan Kota Tuban. Legen dilabeli sebagai minuman khas tradisional masyarakat Tuban. Siapa pun menyukainya. Manis. Tidak memabukkan. Bisa disimpan berhari-hari, tergantung saat mana kita mau meminumnya.

Di Rote, pulau terselatan di Indonesia, pun bertetangga dengan Timor Leste, terdapat jutaan pohon lontar. Pengelolaan dilakukan seadanya, tradisional. Belum menjadi industri rumah tangga yang menjadi ikon Rote Ndao. Paling-paling hanya gula lempeng, gula air, gula semut. Dari dulu bentuknya tak pernah berubah. Tak menarik. Itu-itu saja.

Daun lontar untuk mengatap rumah. Mendandani musik Sasando. Pun pernak-pernik topi Ti'i langga. Buahnya yang muda (saboak, Red) untuk minuman segar. Yang tua untuk bahan baku make up atau luluran. Nira untuk bahan baku pembuatan anggur, kecap manis dan kecap asin. Hasil olahan nira untuk gula air, gula lempeng, gula semut. Batang lontar untuk bangunan rumah. Bisa juga untuk peti mati.

Gula air bisa difermentasi dan disuling menjadi minuman tradisional beralkohol (sopi). Sopi bisa disuling lagi menjadi alkohol untuk kepentingan medis. Sumber kehidupan semuanya dari lontar. Anehnya, lontar masih dilihat sebelah mata. Belum menjadi sumber pangan utama serta kekuatan untuk mendulang
pendapatan asli daerah (PAD).

Pemerintah pun belum kreatif memaksimalkan potensi ini untuk mensejahterakan rakyatnya. Semua pejabat masih lebih senang mewacanakan lontar sebagai ini dan itu. Belum banyak mencari terobosan bagaimana mengolah lontar agar lebih berdayaguna. Out put-nya masih berjalan di tempat. Sekitar 100 ribu lebih jiwa penduduk Rote belum benar-benar menikmati lontar untuk 'mengusir' kemiskinan.

***
MENJADI kabupaten otonom sejak tahun 2002, pertumbuhan ekonomi warga Rote Ndao menunjukkan kemajuan yang siginifikan. Masalah utamanya adalah indeks kemiskinan manusia yang cukup tinggi, mencapai 27,50 persen. Selain itu, 30,80 persen penduduk Rote tidak menikmati pelayanan kesehatan yang memadai sehingga balita di daerah itu kerap menderita gizi kurang dan sebagainya.

Tidak hanya lontar, Pulau Rote juga memiliki potensi wisata memikat. Pantainya indah, Nemberala, sulit dicari tandingannya. Surga untuk berselancar. Apesnya, promosi dilakukan Senin-Kamis. Bahkan tak ada sama sekali.

Di Jawa, para pengusaha dan pemerintah daerah sudah mempromosikan wilayah mereka melalui berbagai situs. Menjual aneka produk pun dilakukan melalui situs internet. Di Rote, dan NTT umumnya, situs internet masih merupakan barang langka. Kalau pun ada, datanya tak pernah diperbaharui. Yang itu-itu saja dari tahun ke tahun. Padahal, kalau kita kreatif, gula air, gula lempeng tak hanya dipikul oleh papalele untuk dijual. Kita bisa promosikan melalui situs internet. 

Hasilnya untuk jangka panjang. Tapi, itu tadi, promosi masih dianggap kurang penting. Akibatnya, kita selalu kalah bersaing. Baik dari segi kemasan maupun mutu. Selalu terpuruk.

Apesnya, kita masih bermental eksploitasi. Suatu waktu pohon lontar pasti habis, punah. Tak ada yang giat menanam. Berharap pada alam. Jadi, perlu ada semangat baru untuk perubahan. Dinas terkait harus bisa mengubah pola kerja masyarakat dari tradisional menjadi lebih modern. Untuk mengubah budaya atau etos kerja masyarakat membutuhkan pimpinan satuan kerja yang tidak hanya pintar bicara tapi juga cerdas, trampil dalam bertindak melayani masyarakat. 

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rote Ndao, Domi ST Nunuhitu, mengakui, pihaknya terus berusaha mengembangkan pola produksi hasil lontar menjadi lebih baik. "Saya ini orang baru di disperindag. Saya berusaha pelan-pelan mencari alternatif baru untuk berbagai macam potensi usaha yang ada di masyarakat," kata Nunuhitu di Ba'a, belum lama ini. Betul, pak. Masa hanya gula lempeng terus! *

Pos Kupang edisi Sabtu, 22 November 2008 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes