Temu Kenal Gubernur-Wagub di Jakarta (3)

Oleh Tony Kleden

TIGA jam dialog di Aula Yustinus Atma Jaya Jakarta, Sabtu (11/10/2008) malam, itu menghasilkan banyak sekali masukan, saran, pendapat, usul untuk duet Gubernur-Wakil Gubernur NTT lima tahun ke depan.

Panitia dialog juga menyatakan kegembiraannya karena baru kali ini gubernur dan wakil gubernur hadir bareng menemui warga NTT di tanah rantau. Oleh panitia hasil dialog itu disebut Gagasan Jakarta. Penyerahan Gagasan Jakarta malam itu itu agak hambar karena bersamaan dengan berita duka kematian ayahanda Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Meski begitu, duet Frans-Esthon tetap bergairah dan antusias menerimanya sebagai masukan berarti dan berharga.

Banyak sekali gagasan, ide, pemikiran menarik dan kritis yang disampaikan. Ide, pemikiran dan gagasan itu disampaikan secara plastis, langsung, tanpa tedeng aling-aling. Gubernur juga terang-terangan membeberkan kondisi riil yang ada sekarang.

Angka-angka yang menunjukkan keberhasilan dan kegagalan dipaparkan. Potensi dan hambatannya ditunjukkan. Banyak yang geleng-geleng kepala melihat betapa daerah ini dalam hampir semua variabel kemajuan lebih buruk dari rata-rata nasional. Tingkat kemiskinan mencapai 27 % dari total 4,4 juta warga. Kepala Keluarga (KK) miskin bahkan lebih tragis lagi, 58 %. Kematian ibu dan anak, gizi buruk, busung lapar, dan sebagainya dan sebagainya, semuanya selalu lebih jelek dibanding rata-rata nasional.

Memilukan. "Tetapi ini hanya bisa kita atasi kalau ada solidaritas di antara semua kita, warga NTT, baik yang di NTT maupun yang ada di tanah rantau. Kalau Institut Leimena, Jakarta ingin menyumbangkan sesuatu untuk NTT, mudah- mudahan warga NTT di rantau juga bisa ikut menyumbang untuk membangun NTT," pinta Gubernur Lebu Raya.

Para narasumber yang diminta berbicara juga berbicara tanpa beban. Tidak sembunyi-sembunyi. Omong lurus. Gaya khas orang NTT. Dr. Daniel Dhakidae tajam dan kritis. Aloysius Kiik Ro buka-bukaan. Agus Toepoe santai tapi menusuk.
Ben Mboi ketika didaulat untuk berbicara, lebih banyak mengritik program-program, terutama program jagung yang digagas. Jagung, menurut Ben Mboi, tidak tepat mengingat hujan semakin tidak tentu akibat perubahan iklim global. Ben Mboi juga meminta duet Lebu Raya-Esthon lebih realistis dan tidak membuat perencanaan yang muluk-muluk.

Di era otnomi daerah sekarang, Ben Mboi minta gubernur-wakil gubernur selalu membangun koordinasi dengan para bupati/walikota sebab wewenang eksekutif di propinsi dibatasi oleh UU Otonomi.

Kritikan pedas, tajam, menukik, sarkastis dengan gaya penyampaian berapi-api ala NTT sejatinya adalah bukti tanggung jawab warga NTT terhadap daerahnya. Semuanya adalah tanda nyata kecintaan warga NTT di mana pun agar Nusa Flobamora segera bangkit dan jangan cuma bisa terkenang karena serba kekurangan. Ruangan yang penuh adalah bukti kecintaan itu. Mereka gerah melihat kondisi NTT hari ini.

Mereka geram karena dana begitu banyak digelontorkan, sudah delapan gubernur memegang kemudi, toh biduk NTT belum kunjung merapat di dermaga impian.

Kecintaan itu juga ditunjukkan lagi warga Jakarta dan sekitarnya pada hari Minggu (12/10/2008) pagi, ketika bersama-sama menghadiri misa syukuran di Gereja Paroki St. Tomas, Kelapa Dua, Depok. Perayaan ekaristi inkulturatif khas NTT di markas brimob itu dipadati ratusan warga NTT. Kain sarung khas NTT dari beragam etnis terlihat di dalam gereja. Tarian-tarian daerah NTT diragakan. Semuanya menyatu dalam satu nafas, nafas NTT. Harmoni dalam satu warna, warna NTT.

Misa dipimpin Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr dengan pengkotbah, Pater Alex Lanus, OFM. Dengan iringan lagu-lagu khas daerah NTT, terasa seperti sedang mengikuti misa di NTT.

Dari gereja, acara pindah ruangan di sebelahnya, ke aula paroki. Tidak formal. Semua yang hadir lebih banyak berdiri. Meja bundar cuma beberapa, khusus untuk rombongan wakil gubernur. Selebihnya berdiri, pesta gaya Jakarta.

Acara dimulai. Seperti biasa, sambutan-sambutan. Pastor paroki, Uskup Agung Ende dan wakil gubernur berbicara. Semuanya sama, satu nada. Mengasah solidaritas, menajamkan kebanggaan sebagai orang NTT. Dengan keragaman budaya dan etnis, kata Uskup Sensi, NTT harus bisa dibangun dengan nilai-nilai khas NTT. Tidak perlu latah meniru gaya lain, budaya lain. Orang NTT, kata Uskup Sensi, harus bangga menyatakan jatidirinya sebagai orang NTT.

Semua warga NTT mesti bangga menjadi orang NTT. Dari kebanggaan itu akan lahir kecintaan. Dari kecintaan itu akan muncul tanggung jawab. "Jangan terlalu NTT menjadi nasib tidak tentu atau nanti tuhan tolong," kata Uskup Sensi.

Harapan yang sama juga disampaikan Wakil Gubernur, Esthon Foenay. Foenay membeberkan aneka program yang akan dilakukan lima tahun ke depan. Kepada seluruh warga NTT, Foenay mengajak untuk bersatu, mengasa solidaritas membangun NTT. Perbedaan-perbedaan budaya, etnis jangan menghambat solidaritas untuk membangun dan membuat nasib propinsi ini tambah sulit. "NTT sudah sulit. Jangan lagi mempersulit kekerabatan di antara kita," kata Foenay.

Tahun ini NTT berusia emas. WJ Lalamentik meletakkan dasar- dasar pemerintahan pada awal tualang propinsi ini. Mottonya yang sangat terkenal berbunyi, "Semua kesulitan itu ada untuk dipecahkan." El Tari dikenang dengan programnya, "Tanam, Tanam, Sekali Lagi Tanam". Ben Mboi terkenal dengan operasi nusa hijau (ONH) dan operasi nusa makmur (ONM). Hendrik Fernandez tampil dengan Gerakan Membangun Desa (Gerbades) dan Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat (Gempar). Herman Musakabe meracik program strategis bernama Tujuh Program Strategis Membangun NTT. Piet A Tallo mengajak masyarakat membangun dari apa yang ada melalui program Tiga Batu Tungku.

Pasti semuanya dirancang, dikemas dengan satu harapan, yakni NTT 'lepas landas' dari aneka kesulitan dan serba kekurangan. Kita butuh semangat bersama, kesatuan yang kuat tidak cuma sehati sesuara, tetapi juga sehati, sesuara dan setindak membangun NTT.

Tak terasa sudah tiga bulan duet Lebu Raya-Esthon Foenay dilantik. Sudah lebih 100 hari pasangan ini memegang kemudi NTT untuk lima tahun tahun ke depan. Akankah semuanya berjalan mengalir begitu saja? (habis)

Pos Kupang edisi Sabtu, 1 November 2008 halaman 1, http://www.pos-kupang.com
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes