Novita Tidur di Pos Kamling

MANADO, TRIBUN  - Banjir hebat yang melanda Manado 17 Februari 2013 menyisakan kesedihan bagi Keluarga Novita Polii-Laholo. Bagaimana tidak mereka harus merelakan rumah tempat bernaung mereka hanyut tersapu dahsyatnya banjir hingga tak bersisa sedikitpun.

Belum hilang dari ingatan bagaimana sulitnya Novita Polii-Laholo bersama suaminya membangun istana sederhana mereka. Belum sampai lima tahun rumah yang terletak di Kelurahan Dendengan Luar lingkungan 3 ini didirikan. Walaupun kondisinya terbilang rumah darurat, tetapi keluarga ini sungguh berhemat untuk bisa menabung demi membangun rumah yang lebih baik.

"Rumah ini dibangun sekitar tiga tahun lalu dengan biaya seadanya. Sebelumnya kami beli lahan sisa rumah orang di sini seharga kurang dari lima juta rupiah," ungkap Novita kepada Tribun Manado di antara sisa puing rumahnya yang rata tanah, Senin (25/2/2013). "Suami saya kerja buruh bangunan dengan penghasilan pas-pasan. Kami harus sehemat mungkin supaya bisa beli seng serta material rumah yang lain," kenangnya.

Novita tidak akan menyangka banjir yang terjadi hari Minggu (17/2) menyapu bersih seluruh badan rumah hingga tidak bersisa."Saat hujan Sabtu sehari sebelum kejadian, kami sudah mengungsi. Minggu besoknya kami diberitahu kalau rumah kami hanyut dibawa banjir," tuturnya. Rumah Novita yang tepat berada di bantaran DAS Tondano menjadi satu dari enam rumah yang hanyut tersapu banjir. "Kami pasrah. Hanya beberapa pakaian saja yang bisa dibawa," ungkapnya sedih.

Bahkan, putra Novita Reynaldi yang saat ini duduk di bangku kelas 1 SD belum bisa masuk sekolah karena semua seragamnya hanyut terbawa banjir. Ekonomi keluarga yang sulit, membuat Novita belum bisa memikirkan bagaimana cara membangun kembali rumahnya. "Saat malam kami tidur di pos kamling kelurahan. Bersyukur kami dipinjamkan kamar pos jaga untuk tidur," ungkapnya lirih.

Novita mengaku hanya ini satu-satunya jalan keluar sementara yang bisa dipikirkan dia dan suami. "Untuk sementara tinggal di sini dulu, nanti pikirkan lagi mau bagaimana," ujarnya.

Kamar pos kamling yang memang hanya untuk petugas jaga sangatlah tidak layak untuk ditempati satu keluarga, apalagi untuk Novita yang juga memiliki seorang putra yang masih kecil. Kamar yang sempit dan dinding yang hanya tutup dengan triplek dan kawat tembus pandang di pos kamling ini terpaksa harus menjadi tempat tinggal sementara Novita dan keluarganya, meski kondisi ini jauh dari kesan layak.
"Kalau siang suami pergi kerja dan saya ke rumah ibu mertua. Yah, bisanya tidur di sini dulu, karena di rumah ibu mertua juga ada banyak sanak keluarga," tuturnya.

Novita berharap Pemerintah Kota (Pemko) Manado  memberikan bantuan untuk keluarganya. "Kalau bisa kami dapat bantuan untuk bangun rumah lagi," harapnya.
Untuk urusan makan minum, menurutnya sejauh ini keluarganya bergantung pada bantuan dermawan. "Sampai hari ini masih dapat bantuan beras, mie instan, dan air mineral," ungkapnya.

Kepala Lingkungan 3 Kelurahan Dendengan Luar Kecamatan Tikala, Jhony Sulu mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami keluarga Polii-Laholo. "Sejauh ini baru ini solusi yang bisa kami berikan, dengan mereka tinggal sementara di pos kamling, meskipun secara pribadi saya kasihan sekali," ungkapnya.

Jhony mengaku sudah menyampaikan kondisi ini ke pemerintah kota melalui kecamatan. "Data warga yang rumahnya hanyut sudah kami laporkan ke pemerintah kota. Kami berharap secepatnya dapat bantuan, karena kasihan mereka yang kehilangan rumah dan  terpaksa tinggal di pos kamling seperti ini," tandas Jhony.

Data Rumah Rusak
Pemko Manado melalui dinas terkait telah mendata jumlah warga yang rusak akibat banjir dan longsor. Mereka akan direlokasi ke tempat aman. Kepala BPBD Manado Maximilan Tatahede mengatakan, secara keseluruhan rumah warga yang mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor 17 Februari 2013 sebanyak 4.220 unit. "Jumlah ini terdiri dari 3.579 unit rumah yang rusak ringan dan 641 unit rumah yang rusak parah," tuturnya, Senin (25/2/2013).

Data ini, kata dia, telah dikirim Pemko Manado ke Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera)) RI. "Diusulkan untuk direlokasi ke tempat aman," ujar Maximilan. Diakuinya, data ini menjadi pegangan pemko meminta bantuan ke pusat untuk membangun rumah susun sewa (rusunawa) bagi warga yang akan direlokasi. "Setelah data dimasukkan, pihak Kemenpera RI akan turun lakukan verifikasi," ujarnya.

Khusus untuk 641 rumah warga yang rusak parah, Maximilan memastikan akan menjadi prioritas untuk relokasi dalam waktu dekat ini. "Mereka diprioritaskan untuk dipindah, dan saat ini pemerintah sementara mengecek kembali rumah bantuan di Pandu yang jumlahnya sekitar 80 an rumah termasuk rusunawa di Ring Road yang akan digunakan untuk tempat relokasi," tuturnya. Ia menambahkan, soal rencana pembangunan beberapa rusunawa untuk relokasi warga yang tinggal di lokasi rawan banjir dan longsor, Pemko Manado sementara survei lokasi yang tepat.

Sementara Sekretaris Daerah Kota Manado, Haervey Sendoh menyatakan, menyikapi bencana banjir dan longsor yang memakan korban jiwa belum lama ini, Pemko Manado segera menertibkan rumah-rumah di sepanjang bantaran DAS Tondano maupun di perbukitan rawan longsor. "Banyak rumah dibangun di atas sungai, di atas parit, sehingga membuat sungai dan parit makin sempit dan dangkal segera akan ditertibkan," ujar Sendoh, Senin (25/2).

Rumah-rumah yang berdiri di atas perbukitan dan di lereng bukit juga akan ditertibkan. "Kita sudah data rumah-rumah di lokasi rawan bencana dan meminta warga untuk tidak lagi tinggal di situ dan siap untuk direlokasi," jelasnya. Sendoh mengatakan, wali kota pun telah memerintahkan para camat dan lurah melarang pembangunan kembali rumah dan bangunan di lereng bukit dan di perbukitan. "Izin Mendirikan Bangunan (IMB)  di lokasi rawan bencana tidak akan dikeluarkan. Semua Camat dan lurah sudah diberitahu," kata Sendoh. (ika)


Rusunawa Mirip Sarang Burung

RUMAH susun sewa (rusunawa) yang dibangun oleh Pemko Manado di dekat Ring Road sampai saat ini tidak berpenghuni. Rusunawa itu terlihat megah namun mirip sarang burung lantaran tak terurus.

Pantauan Tribun Manado, Senin (25/2/2013) siang, rusunawa hanya  dibersihkan ala kadarnya. Tampak seorang petugas sedang membersihkan rumput-rumput liar yang sudah memenuhi lahan tanah di sekitar rusunawa."Di sini memang tidak ada yang tinggal, hanya ada satpam yang menjaga," ujar petugas kebersihan itu.
Dari amatan Tribun, gedung yang sebagian besar dihiasi dinding kaca bening ini, bagian karet pinggiran kaca sudah terbuka. Burung-burung kecil berterbangan bolak-balik di udara dan masuk keluar di sekitar gedung tersebut. Suara burung riuh terdengar.

Pembangunan rusunawa ini memang bermasalah secara hukum dan diperkarakan di Pengadilan Negeri (PN) Manado. Pada 12 Februari 2012, mantan Kepala Dinas Sosial Kota Manado, Ir Revin Lewan terjerat hukuman 1 tahun dan 6 bulan penjara
Mantan Kadis Sosial  tersebut mendapat tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Alexander Sulung SH, dengan hukuman dua tahun penjara denda Rp 50 juta subsidier hukuman tiga bulan penjara.

Terdakwa dinyatakan terbukti melanggar Undang-undang (UU) Nomor 20 tahun 2001 pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Dalam tuntutan, terdakwa selaku pengguna anggaran tidak lagi melakukan pengujian akan kebenaran materil surat-surat jual beli tanah, sebagaimana berdasarkan perhitungan BPK RI Perwakilan Provinsi Sulut. Akibat perbuatan terdakwa mengakibatkan kerugian negara sebesar  Rp 290 juta.

Perumahan Pandu
Selain rusunawa yang belum digunakan karena bermasalah, Pemko Manado memiliki aset lain yaitu Perumahan Pandu di Lingkungan 4, Pandu, Kecamatan Mapanget. Kawasan ini merupakan perumahan tukarguling Pemerintah Kota Manado dengan rumah warga di pinggiran DAS Tondano.

Keluarga Hamzah Labela, satu di antara pemilik rumah di Pandu mengaku betah tinggal di situ dibanding dengan rumah sebelumnya di Karame, Lingkungan 3 yang sering terkena banjir. "Kalau mau bilang senang tinggal di sini itu relatif, tapi kami betah tinggal di sini, buktinya sejak Februari 2011 kami tetap bertahan," ungkap Hamzah, Senin (25/2/2013)

Diakui Hamzah, rumahnya dulu di Karame sering terkena banjir kemudian  hanyut. "Di belakang rumah memang sudah kuala (sungai) kalau air naik memang sering banjir sempat juga rumah hanyut rata tanah," kata Hamzah.

Dengan adanya penggantian rumah di Pandu, Hamzah akui cukup membantu keluarhanya. "Yah.. Mau gimana lagi, daripada tidak ada tempat tinggal. Apalagi rumah kami di Karame sudah digusur," ujar Hamzah.

Kartin Sumailan, warga lainnya yang menempati di perumahan Pandu tersebut, sebelumnya tinggal di Karame, Lingkungan 4. Menurut Kartin, tinggal di perumahan Pandu lebih baik daripada tidak ada tempat tinggal.

Menurut Kartin,  ada juga warga lainnya yang tidak mau tinggal di perumahan ini karena berbagai alasan. "Ada yang tidak tinggal karena terlalu jauh, ada juga hanya ditinggali oleh keluarga lainnya," kata Kartin Diakui Kartin, rumah di Pandu sudah punya pemilik masing-masing. "Walau rumah lainnya masih kosong tapi sudah ada pemiliknya. Memang untuk sertifikat masih berupa SK Walikota," ujar Kartin.

Marlina Julkifli, warga lainnya mengatakan yang tinggal di Pandu adalah warga asal Kelurahan Karame, Dendengan dan Sindulang. "Cuma tiga kelurahan yang di pinggiran sungai yang ditukarguling oleh pemerintah. Saya punya rumah paling pertama dirobohkan pakai oto besar," kata Marlina Marlina yang sudah dua tahun tinggal di  Pandu. Di sana dia mencari nafkah dengan membuka warung. Warung Marlina adalah warung pertama di perumahan itu.

Marlina menambahkan untuk listrik memang sudah terpasang sejak awal. Tapi warga harus cari air bor atau air sumur. "Air di sini pakai air bor ada juga sumur, tidak ada air PAM," kata Marlina. Walau ada sebuah bak penampung yang cukup besar di pinggir jalan masuk, namun tak pernah dimanfaatkan warga karena ketiadaan air. Dari jumlah nomor rumah, terdapat ratusan unit rumah di Pandu. Sebagian sudah direnovasi, ada juga yang tak terurus dimana kaca-kaca rumah sudah tidak ada. Sebelum masuk perumahan, ada sebuah sekolah dasar 4/82 Pandu. Samping kompleks perumahan terdapat perkebunan kelapa. (obi)

Sumber: Tribun Manado 26 Februari 2013 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes