Dosa Ekologis

BANJIR menjadi kata terpopuler dan mungkin baling banyak dibicarakan belakangan ini. Maklum, mulai ibu kota DKI Jakarta hingga sejumlah daerah termasuk Sulawesi Utara (Manado) fenomena banjir telah lazim di kalangan masyarakatnya. Bicara banjir tak lepas dari satu kata yang dalam terminologi Yunani kuno masuk unsur kehidupan, yakni air (di samping tanah, api, dan udara).

Muncul pertanyaan mengapa air (elemen kehidupan) tersebut dewasa ini telah menjadi sumber bencana bagi umat manusia? Banyak kalangan percaya itu berkaitan dengan perubahan iklam global akibat kerusakan ekologi (ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya). Kita harus menyadari bencana yang melanda Manado dan wilayah lain di Tanah Air bukan datang tanpa sebab. Sudah sering dikemukakan banjir datang bersamaan menghilangnya wilayah resapan air berupa hutan di hulu sungai.

Kerusakan ekologi (lingkungan hidup) tak dapat dipisahkan dengan aktivitas manusia. Eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan seperti penebangan pohon, pemanfaatan lahan untuk permukiman dan industri, hingga kegiatan pertambangan telah menjadikan ekosistem terganggu.

Tak hanya para ahli lingkungan hidup, kerusakan ekologi terus disuarakan kalangan rohaniawan. Tidak terkecuali pimpinan Gereja Katolik, Paus Benediktus XVI atau dikenal sebagai Green Pope (Paus Hijau). Dia bahkan memasukkan upaya penyelamatan lingkungan pada misi Gereja untuk peduli dan prihatin terhadap pemanasan global, kerusakan lingkungan, dan kekacauan iklim. Di kalangan rohaniawan kerusakan ekologis sering diistilakan "dosa ekologis".

Secara teori hampir mustahil mengembalikan keaslian ekologis (ciptaan Sang Pencipta). Campur tangan manusia telah menodainya. Namun bukan tanpa harapan, selagi kita (manusia) mau berusaha paling tidak menekan bencana (banjir dan tanah longsor). 

Seperti pada serial animasi televisi berjudul Avatar: The Legend of Aang. Pengendalian unsur kehidupan (air, tanah, api, dan udara) oleh manusia bukan mustahil dilakukan. Cuma bedanya film animasi karya James Cameron itu merupakan bentuk ilmu sihir fiktif. Sementara, dunia dewasa ini membutuhkan sentuhan tangan-tangan manusia yang peduli keselamatan alam semesta.

Sederhana saja. Perilaku bersahabat dengan lingkungan hidup seperti menanam pohon, buang sampah pada tempatnya, hemat bahan bakar minyak (BBM), hemat listrik, hemat gunakan tissue dan plastik perlu dibudayakan di kalangan masyarakat. Harus dimulai dari lingkungan keluarga.

Upaya ini akan lebih maksimal bila didukung kebijakan nasional seperti menghentikan deforestasi (pemanfaatan hutan), stop konversi lahan menjadi permukiman, dan bersihkan serta perbaiki kualitas selokan. Banjir bandang di Manado semestinya menjadi momentum yang mampu menyadarkan kita bahwa "dosa ekologis" bisa membawa bencana kepada kita kapan pun dan di mana saja.

Ingat, Tuhan menciptakan langit dan bumi serta isinya dengan sangat baik. Sebagai ciptaan Tuhan, apakah kita sudah berpartisipasi menjaga apa yang sudah diciptakan-Nya? Ataukah kita sudah ikut merusak ciptaan-Nya?(*)

Sumber Tribun Manado: 27 Januari 2014
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes