Kami Belum Makan Sejak Pagi

Selain mengeluh kekurangan makanan,  beberapa pengungsi yang menempati salah satu ruang kelas SD N 9 Manado mulai terserang berbagai penyakit
BENCANA di Manado tahun ini sungguh menggetarkan hati. Ketika lumpur dan sampah sisa banjir bandang 15 Januari 2014 belum seluruhnya dibersihkan, banjir kembali mengamuk pada Jumat (24/1) malam hingga Sabtu (25/1/2014). Sebagian besar warga Manado terpaksa kembali mengungsi ke tempat yang aman.

Kondisi di lokasi pengungsian tak selamanya menyenangkan. Meski banyak pihak turun serentak membangun banyak posko dan memberii bantuan untuk korban banjir, tetapi masalah sensitif seperti pasokan makanan terutama bagi warga yang mengungsi masih saja ditemui.

Nabonsaim,  misalnya. Nenek berusia 86 tahun yang sejak hari pertama banjir sudah mengungsi di SD N 9 jalan Pumorow Manado, bersama sekitar 30 pengungsi lain ini mengaku sejak Jumat (24/1) dia dan pengungsi lain tidak lagi mendapat jatah nasi bungkus dari sebuah posko bantuan bank pemerintah tak jauh dari lokasi pengungsian. "Sudah dari kemarin tidak dapat jatah nasi bungkus lagi, tidak tahu juga kenapa," tuturnya, Sabtu (25/1/2014).

Akibatnya, Nabonsaim mengalami iritasi lambung akibat menahan lapar. Kondisi diperparah ketika Jumat malam, banjir kembali naik dengan ketinggian sekitar satu meter  di Kelurahan Banjer, Kecamatan Tikala. "Beberapa cucu saya yang ada di bawah harus balik lagi ke sini karena banjir naik lagi. Pagi ini (Sabtu) kami belum sarapan," ungkapnya. Untunglah rekan sesama pengungsi menawarkan untuk memasak makanan di rumah sanak saudara mereka di daerah Paal 2 untuk kemudian disuplai ke tempat pengungsian.

Selain mengeluhkan kekurangan makanan,  kelompok manusia usia lanjut (manula) dan beberapa pengungsi yang menempati salah satu kelas di SD N 9 Manado ini mulai terserang berbagai penyakit. "Sudah beberapa hari kena diare dan sesak dada. Waktu banjir pertama,  dua hari ada petugas kesehatan yang datang untuk periksa kesehatan pengungsi, tapi setelah itu tak datang lagi," kata Nabonsaim.

Hal yang sama dikeluhkan Suriyani, pengungsi di lokasi ini. "Karena mondar- mandir di lumpur kaki kena luka dan infeksi, tapi belum ada petugas kesehatan yang datang ke sini," tuturnya.


Pantauan Tribun Manado, hujan yang terus mengguyur kota Manado dan sekitarnya membuat lokasi pengungsian dingin dan lembab. Mirisnya, para pengungsi  hanya datang bawa pakaian di badan, perlengkapan tidur pun seadanya. Mereka mengandalkan bantuan donantur seperti beberapa helai tikar dan matras. Pakaian yang digunakan merupakan sumbangan pakaian bekas dari mereka yang peduli.

Untuk beberapa anak yang ikut di pengungsian memang ditempatkan untuk tidur di atas meja belajar yang disusun. Selebihnya para pengungsi harus bisa menyesuaikan diri dengan keterbatasan di lokasi pengungsian. "Kami dapat beras, dapat mie instan tapi mau masak bagaimana, di sini tidak ada dapur umum. Hanya berharap pemerintah bisa memperhatikan kami di sini," ujar Suriyani.

Rencana sekolah untuk mulai kegiatan belajar mengajar hari Senin atau Selasa lusa juga membuat puluhan pengungsi di tempat ini kian bingung. "Kami belum dapat informasi akan dipindahkan ke mana jika sekolah sudah mulai masuk lagi," keluh Suriyani. Ada dua kelas di SD N 9 Manado ini yang digunakan sebagai lokasi pengungsian puluhan warga dari Banjer. Sebagian besar dari mereka yang mengungsi adalah yang rumahnya hanyut dan rusak parah.

Nenek Nabonsaim misalnya, rumahnya hanyut terbawa derasnya banjir, sedangkan Suriyani rumahnya rusak parah diterjang banjir. Bahkan bengkel milik suaminya hancur dan alat-alat bengkel ikut hanyut. Saat ini, mereka hanya berharap ada perhatian pemerintah khususnya untuk kelanjutan hidup mereka ke depan."Paling tidak kami bisa lagi dapat tempat untuk tinggal meski hanya sederhana, pakaian seragam dan buku sekolah untuk anak. Untuk saat ini, selama masih di pengungsian yah kami berusaha tetap tabah, menyesuaikan diri dengan kondisi sambil berharap ada perhatian untuk makan dan kesehatan kami," kata  Suriyani. (fransiska noel)

Sumber: Tribun Manado 26 Januari 2014 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes