Jhony Takut Melintas Malam Hari

TOMOHON, TRIBUN -  Menjadi kawasan mati. Seperti itulah kondisi sebagian ruas jalan Manado-Tomohon dari Km 13 hingga 16  tepatnya di Kelurahan Tinoor II Lingkungan V, Kecamatan Tomohon Utara semenjak dilanda  tanah longsor, Rabu (15/1/2014) lalu yang mengakibatkan enam orang meninggal dunia.

Hari Sabtu (1/2) sore, ketika Tribun Manado menyusuri ruas jalan tersebut, geliat perekonomian  masyarakat yang biasanya sangat ramai sebelum bencana, kini tak terlihat lagi. Rumah makan, hotel, hingga warung-warung kecil yang menghiasi pinggiran jalan untuk melayani masyarakat yang singgah, kini tutup. Pintu-pintu rumah pun sebagian besar terkunci rapat ditinggal penghuninya.

Jalanan jadi sangat sepi, sebab yang tampak hanyalah tumpukan tanah yang longsor menutupi badan jalan. Ada juga material batu di jalan, hasil dari pengerukan tanah pemerintah untuk memperbaiki jalan amblas akibat disapu longsor 15 Januari silam.
Jembatan bailey di Km 13 dan KM 16 yang dibuat prajurit  TNI Angkatan Darat untuk menyambung akses jalan putus, kini hanya berfungsi sebagai jembatan darurat. Artinya, jembatan itu kini praktis hanya dilalui oleh masyarakat kampung untuk pergi ke kebun dan rumah mereka di sekitar lokasi bencana maupun oleh pekerja proyek normalisasi jalan Manado-Tomohon.

Sejumlah alat berat pun tampak bersiaga di pinggir jalan untuk mengeruk tanah dan menghancurkan tebing guna melebarkan jalan di sisi dan kanan menuju Tomohon. Pada malam hari kawasan itu gelap gulita hingga tidak banyak orang yang berani melintas apalagi kalau sendirian..   "Terus terang jika sudah malam hari, saya sangat takut dan tidak berani untuk melintas di jalan ini lagi sebab sudah sangat angker dan rawan tertimpa longsor akibat kondisi tanah di daerah ini masih sangat labil," ujar Jhony Mamangkey, warga Kelurahan Tinoor II, Sabtu (1/2).

Jalan Manado-Tomohon dalam 19 hari terakhir memang berubah menjadi kawasan mati. Menjelang malam tak ada satu pun kendaraan yang melintas di ruas jalan tersebut. Lampu-lampu kendaraan yang biasanya menjadi penghias jalan dan gemuruh suara kendaraan kini tak tak terdengar lagi.

"Saat malam menjelang, tak lagi ada kendaraan yang melintas. Beda dengan dulu, masih banyak lampu kendaraan yang terlihat dan suara yang terdengar sehari penuh tanpa istirahat. Biasanya yang lewat sini tinggal orang kampung saja untuk pergi ke kebun atau mengecek rumahnya di sini. Itupun hanya hingga sore saja," kata Frangky Pangkey (34), warga setempat.

Saat bencana terjadi Frangky mengaku berada di lokasi, namun tak sampai memberi dampak cukup serius bagi seluruh keluarganya. Rumah yang ditempatinya kini masih berdiri kokoh dan tetap dihuni. Tak ada rasa takut yang timbul, kendati sangat sepi setiap hari.

Banyak Keanehan
Frangky Pangkey  mengungkapkan gara-gara enam orang tewas diterjang tanah longsor 15 Januari 2014,  warga merasa kawasan itu berubah angker. "Beberapa hari sebelumnya ada yang berusaha melintas di jalur ini, tapi mereka tiba-tiba balik arah lagi sebab saat tiba di jembatan bailey mereka mengaku melihat ada perempuan yang menggunakan baju putih. Ada juga yang melihat opa dan oma serta sejumlah warga melambaikan tangan meminta tolong. Tapi saya sendiri tidak merasa takut, sebab itu biasa terjadi disini jika ada peristiwa sepert ini," tuturnya

Donald Mamangkey (40) warga lainnya mengungkapkan setelah terjadi bencana yang merenggut enam korban jiwa, di ruas jalan Manado-Tomohon memang sering terjadi keanehan. Seperti tiga  hari  lalu, putri sulungnya Mitha sempat mengalami kerasukan setan. Mitha berbicara sendiri tentang orang-orang yang sudah meninggal saat bencana. "Putri saya sempat kerasukan dua  hari sebelumnya, ia berkata-kata sendiri tanpa sadar tentang orang-orang yang sudah meninggal. Bahkan meminta untuk membersihkan kubur dan tertawa sendiri. Ini baru pertama kali terjadi di sini, beruntung cepat sadar setelah didoakan secara khusus saat kejadian pada pagi itu," kata Donald, Sabtu (1/2).

Kini Donald hanya berharap normalisasi jalan dapat dilakukan secara serius oleh pemerintah, sehingga jalan Manado-Tomohon dapat dilalui lagi dengan aman tanpa dihantui ancaman bencana longsor ataupun banjir. "Saya berharap jalan ini bisa digunakan lagi, sehingga perekonomian kami sebagai warga di sini bisa pulih
kembali. Tak lagi sepi dan angker seperti kampung mati," tukasnya.

Sekretaris Kota Tomohon Arnold Poli menegaskan untuk normalisasi jalan Manado-Tomohon menjadi tanggungjawab pemerintah provinsi dan pusat, sebab merupakan jalan nasional. "Jalan itu baru bisa dilalui jika sudah diperlebar lagi, tak bisa jika dalam kondisi masih ada longsor dan ada jalan amblas, sangat berbahaya. Jadi, baiknya diperbaiki dulu baru dilalui agar keselamatan lebih terjamin," ujarnya.
Sebelumnya Gubernur Sulaesi Utara Dr Sinyo Harry  Sarundajang menegaskan jalan Manado-Tomohon ditutup untuk umum, sebab sangat berbahaya dilalui mengingat kondisi tanah berdasarkan kajian para ahli masih sangat labil. Pemerintah provinsi dan pusat berencana membangun dua poros jalan baru melalui Kali dan Warembungan Tinoor dengan lebar hingga 22 meter. (war)


Frangky Jalan Kaki ke Pasar

JIKA sebelumnya Frangky Pangkey (34), warga Kelurahan Tinoor II Lingkungan V hanya tinggal duduk di rumah menunggu pembeli buah-buahan menyambangi rumahnya di ruas jalan Manado-Tomohon, kini keseharian itu tidak ada lagi.

Ia harus memutar otak untuk menghidupi perekonomian keluarganya setelah lokasi usaha yang selama 5 tahun terakhir ditempati berubah menjadi kawasan mati dari aktivitas ekonomi. "Sebelum terjadi bencana longsor, buah-buahan yang saya jual di pinggir ruas jalan Manado-Tomohon seperti durian, pisang, hingga lansat sangat laku. Banyak orang yang lewat di jalur ini singgah untuk membeli buah. Kadang  keuntungan yang saya dapat hingga Rp 200 ribu setiap harinya," kata Frangky yang saat ditemui Tribun Manado di pinggir ruas jalan Manado-Tomohon, Sabtu (1/2/2014).

Hasil jualan buah-buahan itulah menurut Frangky yang selama ini digunakannya untuk menghidupi keluarganya, termasuk menyekolahkan dua putranya yakni Willy dan Christ  di sekolah dasar. "Untuk menopang ekonomi keluarga termasuk menyekolahkan kedua anak, saya hanya berharap dari hasil jualan itu. Dengan  ditutupnya jalur Manado-Tomohon, buah-buahan tapi setelah diambil di kebun, langsung  saya bawah ke pasar untuk dijual meski harus berjalan kaki," jelasnya.
Meski tak banyak untung yang dia dapat, namun kata Frangky hasil jualan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga di rumah.

"Mudah-mudahan pemerintah memperhatikan kondisi masyarakatnya. Jika  dibiarkan terlalu lama seperti ini, maka akan sulit bagi warga di sini seperti saya untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Nafkah yang didapat memang hanya mengandalkan dari penjualan buah-buahan di jalur  Jalan Manado-Tomohon, belum ada alternatif lainnya," kata dia. (war)

Sumber: Tribun Manado 3 Februari 2014 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes