Segera Jawab Pertanyaan Kartini

TAK kenal lelah untuk bangkit demi melanjutkan hidup. Itulah para korban banjir di Kota Manado. Meski masyarakat mengaku kecewa dengan lambannya penanganan dari Pemkot Manado, namun mereka menyadari hidup harus dilanjutkan sehingga wajib bangkit.

Sedih memang ketika kita mendengar isu-isu tak sedap. Di saat seperti ini, semua harus tergerak, terlebih pemerintah, wajib melayani rakyat.

Kita mulai bisa tersenyum melihat cuaca cerah, matahari muncul, sehingga para korban banjir bisa pulang ke rumah untuk menyingkirkan lumpur dan membersihkan perabot rumah tangga yang masih bisa digunakan.

Rasa lelah, mengantuk terpancar dari wajah mereka. Namun dorongan untuk bangkit dari keterpurukan akibat bencana mampu mengalahkan rasa lelah dan kantuk itu. Mereka mengangkat lumpur dari rumah dan ditumpuk di pinggir-pinggir jalan.

Mereka juga membersihkan dan menjemur perabot rumah tangga seperti sofa, spring bed dan meja yang masih bisa digunakan. Sementara perabot yang sudah rusak, ditumpuk di pinggir jalan agar segera diangkut petugas kebersihan yang menyisir ke jalan-jalan di kawasan banjir.

Tapi ada yang mengganggu di benak mereka, khususnya yang tinggal di daerah rawan banjir. Seperti diwartakan Tribun Manado edisi Senin (19/1), warga sudah berhitung untuk pindah rumah. Seperti warga yang tinggal di Kelurahan Ternate Baru, Kecamatan Singkil, Manado merupakan wilayah yang sering terkena banjir. Pada bulan Februari 2013, Kampung Ternate ini juga terkena banjir.

"Memang langganan banjir, tapi tidak separah tahun ini. Ini rumah langsung hancur, barang-barang semua hanyut disapu banjir," kata seorang warga Kelurahan Ternate Tanjung, Kecamatan Singkil, Kartini.

Kartini mengaku lebih menyukai pindah tempat daripada mempertahankan tinggal di lokasi rumahnya yang selalu terkena bencana banjir. Namun ia tak tahu harus pindah ke mana, dan tentunya memulai dari nol.

"Kalau ada tempat untuk pindah, kita pasti pindah. Siapa yang suka setiap tahun kena banjir begini. Ijazah anak-anak hilang semua. Semua barang dibawa sama arus. Tapi masalahnya mau pindah ke mana?," ujarnya.

Pertanyaan Kartini harus dijawab. Pada bencana Februari 2013 lalu, wacana relokasi bencana sudah mengemuka. Bahkan rumah susun menurut Pemkot Manado segera difungsikan. Namun kenyataannya, ketika bencana kembali melanda, relokasi dan rumah susun itu masih sekadar menjadi wacana.

Apa yang dijanjikan Menko Kesra Agung Laksono ketika meninjau lokasi banjir di Kota Manado harus disambut. Pemerintah Kota Manado segera mendata warganya, menyiapkan lahan dan mengajukan permohonan ke Menko Kesra Agung Laksono.

Butuh kecepatan melangkah. Butuh kecepatan bertindak. Jangan lamban karena rakyat membutuhkan tempat berlindung dari bahaya bencana. (*)

Sumber Tribun Manado: 21 Januari 2014

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes