Tinjau Lagi Lokasi Patung Yesus di Citraland

Patung Yesus Memberkati di Citraland
MANADO, TRIBUN -  Sulawesi Utara (Sulut)  terbukti menjadi salah  satu  wilayah di Indonesia yang paling rawan bencana. Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono usai meninjau sejumlah posko pengungsian korban bencana banjir dan tanah longsor di Kota Manado, Selasa (19/2/2013).

Agung juga mengkhawatirkan pengembang properti perumahan yang berani membangun pemukiman di daerah kritis bencana, semisal lereng-lereng perbukitan.  Ia pun menyorot properti pribadi dan Patung Yesus Memberkati  di lokasi Perumahan Citraland yang menurutnya sangat rawan terjadi longsor.

"Saya kira kejadian ini (longsor) menjadi sinyal untuk melakukan evaluasi pengujian kembali, termasuk pembangunan patung Yesus. Tempat itu rawan longsor, melemahkan pondasi yang ada. Saya harap segera diambil langkah teknis," ujar Agung Laksono di rumah Makan Pondok Kelapa Sukur Manado, usai meninjau lokasi longsor di Perumahan Citraland.

Ia mendesak pemerintah daerah bertindak tegas bagi pengembang perumahan agar mengutamakan keselamatan warga "Ketentuan harus dipatuhi betul. Jangan dibangun di tempat kritis, sudah ada contoh hingga menimpa rumah warga," katanya. Pemerintah Kota (Pemko) Manado dan Pemprov Sulut, kata  Agung, juga perlu mengaudit kembali lokasi pembangunan secara keseluruhan.  Terutama lokasi rumah warga di Daerah Aliran Sungai (DAS) dan lereng perbukitan.

Ia mengusulkan relokasi warga secara bertahap. "Relokasi secara bertahap, kita mohonkan juga kearifan masyarakat. Kalau daerah kritis jangan, cari lokasi  yang bisa dihuni secara aman. Masa tiap ada bencana harus seperti ini," katanya.

Langkah berikut usai tanggap bencana adalah rehabilitasi. Pemerintah pusat, kata Agung,   akan mengupayakan bantuan untuk Sulut. Satu di antaranya  program normalisasi sungai. Menurut dia, Sungai adalah elemen penting kehidupan, hanya saja kerap dianggap sepele masyarakat "Jadikanlah Sungai, laut, danau itu halaman depan, yang ada malah dianggap bagian belakang tempat pembuangan sampah," ujarnya.

Kota Manado pun kata dia mirip Jakarta. Banjir terjadi karena air kiriman dari daerah dataran tinggi, ditambah tumpukan sampah di sungai. "Hampir sama terjadi di ibukota, kiriman dari gunung, kemudian ditambah hujan lokal, air pasang," ungkapnya. Ia berharap masyarakat sadar pentingnya melestarikan lingkungan, bencana yang terjadi pun kata dia merupakan ada andil ulah manusia sendiri.

Citraland Evaluasi
Pihak pengembang Citraland berjanji melakukan evaluasi  terkait pembangunan rumah di kawasan itu pasca musibah longsor yang menimpa tiga rumah serta menewaskan enam orang. "Kami akan melakukan evaluasi segera setelah ini," kata Manager SDM, Legal & GA Citraland Heince Sumakul,  Senin (18/2/2013).

Dijelaskannya, evaluasi tersebut akan menyangkut banyak hal, meski pada awal pembangunan telah dilakukan berbagai kajian.  "Kami sudah sepuluh tahun, kami pakai konsultan untuk meneliti kemiringan lereng, struktur tanah serta jarak antar rumah dan perbukitan," bebernya. Ia menampik jika tanggul yang berada di belakang tiga rumah yang tertimbun jebol. Yang benar adalah tanah melewati tanggul, lalu jatuh menimpa tiga rumah di bawahnya. "Itu diakibatkan curah hujan yang sangat tinggi dan menjadikan titik jenuh pada tanah," ujarnya.

Menurutnya, ini adalah peristiwa alam yang dapat terjadi kapan dan dimana pun, lepas dari apa yang dibuat tangan manusia. Sebagai wujud dari tanggung jawabnya, pihak Citraland membantu para korban. "Kami tanggung biaya evakuasi, rumah sakit, persiapan penguburan. Kami akui itu tak akan mengambalikan situasi, tapi sekali lagi kami punya tanggung jawab," tutur Sumakul. Tentang kondisi patung Yesus Memberkati di puncak bukit,  ia meminta masyarakat agar tidak perlu khawatir. "Seperti tanggul, kami juga pakai konsultan, lagi pula patung itu berdiri di atas tanah yang keras dengan posisi melayang pula," kata Sumakul.

Sementara itu, kedatangan Menko Kesra Agung Laksono kemarin disambut hangat oleh pengungsi korban banjir. Tak datang dengan tangan kosong,  Agung Laksono turut serta membawa bantuan Rp 2 miliar dari Kementerian Sosial. Dana itu terdiri dari Rp 1,5 miliar dalam bentuk pangan, pakaian dan peralatan penyelamat dan Rp 500 juta berbentuk uang tunai

Menurut Gubernur Sulut, Dr  Sinyo Harry Sarundajang, bantuan itu akan disalurkan kepada  warga Manado, Minahasa, dan Sitaro, wilayah yang kena bencana "Bantuan ini akan diberikan untuk meringankan beban korban bencana," kata Sarundajang di Posko Pengungsian Terminal Paal 2 Manado, Selasa (19/2).
Dana itu pun langsung dibagikan. Uang tunai Rp 200 jutà dalam bentuk cek. disalurkan ke pemerintah Kota Manado yang diterima langsung Wali Kota Manado Vicky Lumentut di Posko pengungsian Terminal Paal 2.

Wakil Gubernur Sulut Djouhari Kansil  menyerahkan Rp 100 juta ke Kabupaten Minahasa diterima Sekda Warouw Karouan di Kantor Gubernur. Wakil Gubernur mengungkapkan, dana yang diberikan merupakan dana tanggap darurat. pascabencana. Sesuai ketentuan ditetapkan masa waktu 14 hari untuk tanggap darurat.  Uang itu langsung bisa dicairkan dari kas daerah "Namanya juga darurat langsung bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat," ujarnya.

Kansil mengingatkan pemerintah kabupaten dan kota untuk memasukkan laporan pertanggungjawaban paling lama 1 bulan "Silahkan digunakan, jangan lupa pertanggungjawabannya," ujar Mantan Kadis Pendidikan Sulut ini.
Untuk Kabupaten Sitaro secara simbolis akan diserahkan langsung ke Pemerintah Sitaro, Rabu (20/2). Selain itu, bagi korban bencana meninggal dunia, pemerintah memberi santunan masing-masing Rp 5 juta. (ryo/art)

4.220 Rumah Warga Rusak

HINGGA hari Selasa (19/2/2013) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Manado mencatat total jumlah korban akibat bencana banjir dan tanah  longsor yang menerjang sebagian besar wilayah Manado hari Minggu 17 Februari 2013  lalu mencapai angka 12.453 Kepala Keluarga (KK).

Kepala BPBD Kota Manado Maximilan Tatahede menyebutkan, jumlah korban tersebut terbagi atas 11.935 KK korban banjir dan sebanyak 518 KK korban tanah longsor. "Sedangkan jumlah total jiwa yang kena dampak banjir dan longsor  berjumlah 41.863 dengan rincian 40.018 jiwa korban banjir dan 1.845 jiwa korban longsor," ujarnya.

Tatahede menjelaskan, jumlah rumah penduduk yang rusak akibat bencana banjir dan longsor  sebanyak 4.220 unit. "Dengan rincian 3.579 rusak ringan dan 641 rusak berat," jelasnya.

Selain bantuan dari Pemko Manado, kata Maximilan Tatahede, bantuan baik dalam bentuk makanan siap saji, air mineral, bahan natura dan keperluan mendesak semisal terpal, matras dan selimut juga datang  dari  masyarakat dan komunitas peduli bencana. "Selain ikut membantu proses evakuasi mereka juga memberi bantuan makanan,  pakaian dan mendirikan pos kesehatan," ujarnya.

Sementara itu tim Palang Merah Indonesia (PMI) Sulawesi Utara mendapati tujuh unit rumah di Lorong Manggis Kelurahan Dendengan Dalam, Kecamatan Tikala rata tanah atau hanyut terbawa air sungai. "Di Lorong Manggis ini ada sekitar 150 kepala keluarga yang menjadi korban banjir dan sebanyak tujuh  rumah rata dengan tanah. Semua penghuni rumah-rumah ini hanya menyisahkan pakaian di tubuh," ujar Ketua PMI Sulut, James Karinda,  Selasa (19/2/2013).

Bantuan yang diberikan PMI Sulut bekerja sama dengan Tribun Manado Peduli membawa sukacita warga di daerah ini. Bantuan yang diberikan di antaranya makanan siap saji, pakaian, susu dan natura lainnya. Saat ini 150 KK  yang menjadi korban banjir di Dendengan Dalam ini mengungsi ke  Kantor Pendidikan Nasional (Diknas) Manado  di Perkamil.  PMI Sulut juga membuka beberapa lokasi dapur umum untuk menyediakan makanan siap saji bagi korban banjir dan tanah longsor. Lokasi di antaranya di samping SPBU Paal Dua.

Ada 20 orang yang mengelola makanan di dapur umum tersebut. Warga pun selama 1x24 jam bisa mendapatkan makanan secara gratis. Tim PMI Sulut di bawah koordinasi James Karinda, Reyner Oentoe, Kowan Maleke, Tommy Sumakul, dr Herry Sumual stand by di dapur umum. Selain petugas di dapur umum, PMI Sulut juga sudah membagi tugas semua personelnya yang dibantu PMI dari Manado, Tomohon, Bitung, Minsel, Universitas Negeri Manado dan Palang Merah Remaja (PMR) sekolah-sekolah."Jadi kami ada tim untuk evakuasi korban, assesment, dan pemberi bantuan. Semua bekerja dengan sukarela untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang terkena bencana," kata  James. (ika/dru)

Sumber: Tribun Manado 20 Februari 2013 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes