Banjir-Longsor Terbanyak di Manado

MANADO, TRIBUN - Hari Minggu 17 Februari 2013 melahirkan duka seantero Manado dan Sulawesi Utara (Sulut). Sebanyak 17 warga di Manado tewas akibat tertimbun longsor dan banjir  di sejumlah lokasi. Jumlah tersebut menjadikan Manado seperti 'kuburan' bagi warga yang bermukim di daerah bencana.

Praktisi Lingkungan Raymond Mudami berpendapat bila pemerintah tak menyentuh akar permasalahan, maka Manado akan tetap menghadapi bencana yang sama. Untuk itu diperlukan agenda aksi yang nyata dari pemerintah untuk mencari solusi yang menyeluruh.  Mudami menilai penanganan yang dilakukan pemerintah selama ini hanya menyentuh ujung permasalahan. Sementara akar permasalahannya tak  dicarikan solusi. "Semestinya penanganan dilakukan  bersifat menyeluruh terintegrasi, lintas kota kabupaten, lintas sektoral," kata Mudani,  Minggu (24/2/2013).

Lalu apa yang jadi akar permasalahan bencana banjir dan tanah longsor di Manado? Mudami menjelaskan, penanganan bencana harus menyentuh konteks hulu dan hilir.  Menyangkut banjir,  Kota Manado memperoleh kiriman dari Kabupaten Minahasa dan Tomohon. Tiga kota dan kabupaten ini harus berkoordinasi memainkan perannya masing-masing. "Contoh sederhana, Minahasa lakukan rehabilatasi hutan, kemudian Manado lakukan apa?" Yang perlu dilakukan Manado yakni pemetaan wilayah layak huni, normalisasi drainase, dan alur sungai," ujarnya.

Kemudian harus memprioritaskan dana penanganan bencana dalam  APBD. "Selama ini, sangat sedikit dana lingkungan dialokasikan pemerintah. Katanya rehabilitasi tepian DAS, mana dana itu, program dimunculkan tapi hasilnya mana?" ujar Mudami. Menurut dia, sedikitnya ada enam alur sungai yang perlu direvitalisasi. Persoalannya sebagian besar wilayah sepanjang bantaran sungai ada pemukiman kumuh. Berbagai aktivitas pun berlangsung di sana. Pemerintah kota (Pemko) Manado harus berani masuk untuk mengatur. Jangan cuma omong.

"Pemerintah berani tidak memprioritaskan penanganan bantaran DAS Tondano? Jokowi di Jakarta sudah berani untuk atur. Bagaimana dengan Pemko?  Jangan cuma retorika," tegas Mudami.

Persoalan lainnya, kata dia, ada di Minahasa. Hutan Minahasa merupakan kedua terbasar setelah Bolmong. Seharusnya hutan berfungsi menjadi wilayah serapan air. Hanya saja di Minahasa kini, wilayah hutan mulai beralih fungsi untuk pembukaan lahan baru, berdampak ketidakstabilan kawasan lindung. "Ini berdampak menggangu cacthman area," katanya.

Fakta lain, lanjut Mudami, lahan hutan semakin kritis dengan adanya pembukaan pemukiman baru, perambahan hutan, pengambilan bahan baku rumah dan pembukaan lahan pertanian. "Solusinya pemerintah harus tegas menghentikan aktivitas perusakan hutan tersebut. Tanam kembali pohon untuk program jangka panjang. Jangan selalu beralasan kekurangan  personel, itu tanggung jawab pemerintah. Yang perlu sekarang penegakan hukum, karena aturannya sudah ada," tandasnya.

Manado Paling Rawan
Dari data Tribun Manado, selang tiga tahun terakhir, sejak 2011, Manado menjadi daerah yang sungguh rawan. Sebelum peristiwa 17 Februari 2013, tercatat delapan orang tewas, tujuh di antaranya tertimbun longsor, dan seorang terseret arus sungai.
Bila dibandingkan dengan daerah lainnya di Sulut, bencana longsor paling banyak memakan korban dan semuanya terjadi di Manado. Beberapa kecamatan yang rawan longsor di Manado di antaranya Singkil, Wanea, Malalayang, dan Tikala.

Untuk sementara Tikala dan Wanea menjadi daerah longsor terawan bagi warga.
Adapun Singkil yang selama ini menjadi langganan longsor belum ada korban jiwa. Namun, jika tidak ada pencegahan sejak sekarang, korban jiwa bisa saja ada di kemudian hari. Sejumlah rumah warga di Kombos Barat dan Timur berada di tepi jurang yang perlahan-lahan terkikis oleh hujan.

Sementara di luar Manado, banjir menjadi momok bagi warga karena sudah beberapa orang yang terseret arus sungai bersama hewan ternak. Pada 26 Januari 2011 banjir bandang di Tagulandang, Kabupaten Kepulauan Sitaro menyeret dua pelajar. Dua hari berselang, banjir di Sibarut menewaskan dua warga. Sementara pada 3 Oktober 2011 banjir luapan Sungai Kopian di Desa Kalawiran, Kecamatan Kombi, Minahasa Selatan, menyeret seorang warga setempat.

Banjir juga sering memutus arus transportasi manusia dan barang. Pasalnya, banjir juga sering mengakibatkan longsor. Jalur Amurang, Kotamobagu, Doloduo (AKD) di Desa Lobong, Kecamatan Passi, Kabupaten Bolaang Mongondow, hingga sekarang sering terputus akibat ambrolnya jalan.

Di Manado banjir memakan korban jiwa pada 3 Maret 2012 ketika seorang warga terseret arus Sungai Mahawu di Tuminting. Korban dinyatakan hilang setelah pencarian beberapa hari. (ryo/max)


Perbaiki Seluruh Drainase

PENGAMAT Tata Kota Veronika Kumurur mengatakan Pemerintah Kota (Pemko) Manado harus segera menempuh langkah yang tepat untuk mengurangi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor di Manado.

"Untuk jangka pendek drainase yang ada di seluruh kota harus diperbaiki agar tidak ada yang tersumbat, sebab sistem drainase di Manado masih belum baik," ujarnya kepada Tribun Manado, Minggu (24/2/2013).

Jika hal tersebut telah dilakukan, kata Veronika, dapat meminimalisir banjir yang terjadi jika hujan datang. "Itu untuk jangka pendek," katanya. Sedangkan untuk jangka menengah, pemerintah harus berani  memperketat izin-izin mendirikan banngunan apalagi di daerah-daerah resapan air agar ketika hujan air tidak langsung ke drainase, melainkan menyerap ke dalam tanah dan menyimpannya. "Jadi pemerintah harus lebih selektif lagi dalam mengeluarkan izin bangunan," katanya.

Untuk jangka panjang, Veronika menganjurkan Pemko Manado bekerjasama dengan pemerintah kabupaten kota lainnya di Sulut, terutama dengan Minahasa untuk menjaga keseimbangan ekosistem hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Tondani, seperti melakukan penanaman pohon dan memelihara aliran sungai.
Menurut Veronika, rencana  pemerintah kota mengantisipasi terjadinya bencana belum berjalan. Langkah lain yang bisa ditempuh Pemko Manado demi meminimalisir banjir  yakni membuat sumur resapan atau membangun  waduk untuk menampung air jika terjadi hujan maupun jika air laut pasang.

Untuk meminimalisir korban jiwa akibat tanah longsor, kata Veroninika, relokasi warga yang tinggal di lereng perbukitan serta daerah rawan longsor mutlak diwujudkan Pemko Manado. Selain itu, Pemko perlu mengevaluasi dan mengawasi dengan sungguh-sungguh pengembang yang membangun pemukimanan.  "Pemko harus lakukan survei, bagaimana mereka mengerjakannya," kata dia.

Harapan agar Pemko Manado bertindak tegas menertibkan rumah dan bangunan di daerah rawan longsor disampaikan Wakil Ketua DPRD Sulut, Arthur Kotambunan yang dihubungi secara terpisah, Minggu (24/2). "Di Kota Manado, rawan longsor ada di wilayah Tingkulu. Hampir semua bangunan ada di wilayah rawan longsor," katanya. Ia menyarankan Pemko Manado tegas dalam hal penertiban bangunan di lokasi rawan longsor dan bangunan-bangunan di bantaran sungai. Termasuk tertibkan masyarakat dalam membuang sampah.

Menurutnya,  Pemko Manado perlu memantapkan rancangan tata ruang wilayah (RTRW) Kota Manado agar korban bencana longsor bisa diantisipasi sejak awal. "Sampai saat ini RTRW Kota Manado dalam proses. Menunggu juga RTRW Pemprov Sulut masih dalam proses perda," kata Kotambunan.(erv/rob)


Kawasan Maut Banjir & Longsor

Banyak lokasi di Manado dan sekitarnya yang jadi langganan  banjir dan longsor yang menelan korban jiwa. Berikut sejumlah  kejadian sejak tahun 2011-2013.

I. Longsor
Tikala
26 April 2011: Longsor di Kelurahan Taas dan Paal IV menelan korban jiwa dua orang. Juga terjadi longsor di Kampung Mayondi, Kombos Timur, Singkil.

Wanea
29 Agustus 2012: Longsor menerjang rumah kos di Kelurahan Bumi Nyiur, Wanea. Grace Kaat dan dua penghuni kos, Audi Lumonon (40) dan Ongen Naitubessi (22) tewas tertimbun longsor
17 Februari 2013: Longsor di  Kelurahan Tingkulu menewaskan empat orang yaitu Ribka Ruru, Gracia Gosal (3), Ripka Gosal (10)  dan Charles Taroreh (27).

Malalayang
30 Desember 2012:  Longsor di Winangun Satu merenggut dua nyawa, Martha Langi dan Roby Saroinsong. Longsor juga merusak sebuah rumah di Pakowa.

Kawasan Citraland
17 Februari 2013: Tanah longsor yang menerjang rumah menewaskan enam orang  yakni Lady Oroh (30), Rafda Oroh (18),  Franky Palit, Elisabeth Kawilarang, Gioklie Palit (3) dan  Tommy Maripi (28).

II. Banjir
16 Juni 2011: Banjir menutup sejumlah kelurahan di tujuh kecamatan, yakni Malalayang, Sario, Singkil, Tuminting, Wanea, Tikala, dan Wenang. Kecamatan yang paling parah terkena longsor adalah Tikala dan Singkil.
3 Maret 2012: Banjir meluapkan air di Sungai Mahawu, Tuminting. Seorang warga, Alim Husain alias Une (52) tercebur dan dinyatakan hilang setelah pencarian beberapa hari/
30 Desember 2012:   Hujan lebat merendam ratusan rumah dan jalan di Paal Dua, Wanea, Sario, dan Tikala
17 Februari 2013: Banjir yang melanda Kecamatan Tikala dan Singkil menelan korban jiwa empat orang.


Sumber: Tribun Manado 25 Februari 2013 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes