Inilah yang Menyedihkan Kita

KITA patut berterima kasih kepada banyak pihak yang dengan hati penuh cinta memberikan empati bagi warga dan Kota Manado ini saat banjir bandang menerjang hingga sebulan lebih banjir itu telah surut. Di sinilah kemanusiaan kita teruji, apakah kita tulus membantu mereka yang berbeban berat kehilangan sanak saudara, naungan, harta benda, kenangan, dan terbebani bagaimana mengembalikan hidup normal atau sekadar membantu karena udang di balik batu, atau bahkan malah menambah lebih berat beban mereka.

Kebersamaan sebagai wujud mapalus atau torang samua basudara atau sitou timou tumou tou sungguh tampak dalam berbagai sikap empati itu. Inilah modal keutamaan yang patut kita banggakan di kala malapetaka itu datang. Kita sadar bahwa mereka yang menderita itu adalah saudara kita yang patut kita jaga dan bantu.

Namun kita bersedih ketika ada orang atau pihak tertentu yang memanfaatkan peristiwa ini mencari untung di atas derita sesama. Sesama yang seharusnya dibantu dan diberi semangat agar cepat membangun kembali kehidupannya malah dijadikan alat pemuas nafsu diri, dijadikan batu pijakan meraup untung, dijadikan sapi perah demi pundi-pundi rupiah.

Kisah warga korban banjir yang harus menanggung beban pungutan jasa petugas listrik satu di antara perilaku cari untung di atas derita sesama. Pekan lalu Tribun Manado juga mengangkat pungutan liar petugas listrik ini. Kita semua patut bersedih dan prihatin atas tindakan tersebut. Mengapa?

Kita semua tak menginginkan bencana ini datang. Namun saat bencana itu tiba, kita semua bersatu hati ingin bangkit lagi. Mereka yang menjadi korban, mereka yang merasakan dampaknya, atau mereka yang sama sekali tidak merasakan dampak langsung bencana ini turut menyatakan empati.

Ada supir truk yang rela bekerja tanpa dibayar untuk mengangkut sampah dan lumpur, ada mahasiswa yang rela memasak di dapur umum di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas kampus, ada banyak relawan dari Bolaang Mongondow Raya, Minahasa, bahkan anak-anak miskin di Tobelo, rela menyisihkan tenaga dan rupiah untuk membantu. Adakah sikap ini juga dihidupi oleh petugas-petugas listrik yang melakukan pungutan liar itu atau yang memberi tarif atas jasa mereka? Inilah yang menyedihkan kita.(*)

Sumber Tribun Manado: 18 Februari 2014

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes