Heidy Menangis Baca Pesan Lisa

MANADO, TRIBUN - Tiga peti mati diletakkan di ruang depan rumah keluarga Kawilarang di samping kanan Klenteng Kwan Im Tong Manado, Senin (18/2). Peti itu berisi jenazah keluarga Palit-Kawilarang yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Satu keluarga ini, Frangky Palit (30), Elisabeth Kawilarang serta buah hati mereka Gio Palit  tewas ketika longsoran tanah menimpa rumah kediaman mereka di Citraland, Minggu (17/2/2013) pagi.

Berada tepat depan pintu, peti mati mungil berisi jenazah Gioklie Palit yang masih berusia tiga tahun Ia diapit peti mati berukuran lebih besar milik ayah ibunya, yaitu Frangky dan Elisabeth Kawilarang. Sebuah hio yang terpasang pada meja kecil, pas depan peti mati Giok, terus menyala dan menyebarkan harum seisi ruangan.
Pemandangan itu tersaji sejak peti mati diletakkan Minggu (17/2) malam.

Para pelayat yang datang sejak itu akan mudah meneteskan air mata. Para pelayat terus datang mulai dari keluarga dekat, para kenalan, hingga anak TK Garuda yang merupakan sahabat dekat Giok.  Kemarin siang sepulang sekolah, anak-anak itu diantar orang tuanya memasuki ruangan itu. Para bocah itu bergantian melihat sahabat mereka untuk yang terakhir kali.

Sekeluarnya dari ruangan itu, beberapa anak maupun orang tua tampak mengusap mata mereka yang basah. Di sisi kanan ruangan, Elen Rarung, ibunda Elisabeth terus meratapi kepergian anak dan cucunya.  Beberapa anggota keluarga coba menghibur Elen dengan cara memijit atau membisikkan sesuatu di telinganya.

"Mama, tampak sangat terpukul, apalagi bencana ini menimpa seisi keluarga." kata 
Evelyn Kawilarang, kakak Elisabeth alias Lisa.  Jika Elen belum ikhlas, suaminya Rudi Kawilarang tidak dapat menangkap jelas peristiwa itu akibat menderita lemah ingatan. "Papa baru saja sakit, hingga sering lupa," katanya.

Di ruang depan tempat beradanya tiga peti itu, Rudi sering menunjuk tanpa ekspresi. Jika ingat, maka dia langsung menangis.  Hal ini terasa sangat menyakitkan, karena Rudi sangat dekat dengan Lisa semasa hidup. "Ia dan giok selalu berada di sini, ia sering memegang alat periksa gula darah untuk memeriksa ayahnya," tuturnya. 

Heidy, salah seorang kerabat Lisa menyatakan kejadian itu bagai petir yang menyambar di siang bolong.  Minggu pagi, mereka masih bertemu dan maut memisahkan mereka pada sore harinya. "Padahal kami baru bertemu, baru saja kami imlekan bersama" tuturnya. Dari sakunya, ia mengeluarkan handphone. Pada sekali pencet, foto Giok yang tengah mengenakan baju khas Cina, tampak di layar ponsel. "Ini fotonya, ia sangat pintar dan berbakat," tuturnya sambil menangis.  Ia makin sedih saja ketika membacakan tulisan Lisa di akun media sosialnya. Tulisan yang ia buat beberapa hari itu bunyinya bijak. "Untuk semua yang terjadi terima kasih, untuk semua yang akan terjadi baiklah," katanya.  Tiga korban rencananya dimakamkan di pekuburan Cina Maumbi, Selasa (19/2)

. "Liske (adik korban) minta pemakaman tunggu kedatangannya. Kasihan, Liske sudah 15 tahun tak pulang bersua dengan kami di Manado. Kami tak sangka, pertemuannya dalam keadaan seperti ini," ujar Debora Mamahit, sepupu Frangky Palit.


Ratapi Dua Putrinya
Kesedihan Leni Repi belum reda, Senin (18/2). Perempuan berambut sebahu tersebut terus meratapi jenazah dua putrinya, Lady dan Rafda Oroh yang meninggal akibat tertimpa reruntuhan beton rumah di perumahan Citraland, Minggu (17/2/2013).

"Oh, Tuhan...," ratap Leni yang duduk di antara kedua peti jenazah di rumah duka  di Desa Bangunan Wuwuk, Kecamatan Modayag Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Johan Oroh, suami Leni,  berusaha tegar kendati tetap tak bisa menyembunyikan duka yang mendalam. Pendeta di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI) di Bangunan Wuwuk tampak duduk lunglai di  kursi yang berada di belakang dua jenazah tersebut. Dua memegang handuk kecil dan sesekali menyeka wajahnya.

Sejumlah perempuan tampak menenangkan Leni, sementara pelayat lainya  menemani Johan yang terus diam. Pelayat ikut merasakan rasa sedih orangtua yang kehilangan dua putri sekaligus itu. Mata sejumlah perempuan memerah dan basah.
Dengan langkah tertatih dan digandeng seorang kerabatnya, Johan keluar rumah pastori yang ditinggalinya. "Hal ini memang berat, apalagi bagi ibu yang kehilangan dua putri sekaligus. Namun Tuhan pasti menunjukkan makna di balik ini semua," kata Johan dengan lirih kepada Tribun Manado.

Namun, dia tak kuasa membendung air matanya saat beberapa pelayat datang dan memberikan ucapan duka. "Tidak ada yang bisa menolak kuasa Tuhan. Jika memang sudah waktunya dan Tuhan menentukan titik akhir kehidupan seseorang," kata dia. Harapan Rifda tertolong sebenarnya sudah membumbung. Saat berada di perjalanan menuju Manado, dia mendapat telepon jika anak bungsunya tersebut masih hidup dan sudah diberi infus. "Saya kira, Rafda saat itu sudah di rumah sakit. Ternyata masih tertimbun longsoran," katanya lagi. Setelah sempat bertahan enam jam dihimpit beton mahasiswi ini meninggal dunia.

Johan megaku merasakan firasat sebelum kejadian nahas menimoa kedua putrinya. Seperti saat sang anak mengatakan pisang kukus yang mereka buat tak masak jua. Padahal, sudah lebih dari satu jam mereka memasaknya. Pun jauh sebelumnya saat melihat posisi rumah Lady yang berada di sisi tebing. Dua putrinya tersebut akan dimakamkan pada Rabu (20/2). Namun sebelumnya akan disemayakan dulu di Gereja GPDI Bangunan Wuwuk.

Jenazah Lady dan Rifda dibawa dari Manado  Minggu malam sekitar pukul 24.00 wita. Jenazah sempat dibawa ke Ranomea, Amurang, Minahasa Selatan. Jenazah tiba di Bangunan Wuwuk pukul 6.30 Wita.

Dua putri Johan ini dikenal anak-anak yang pintar dan pandai bergaul. "Mereka itu dikenal pintar. Apalagi yang sulung (Lady). Almarhumah bekerja di bank dan dari dulu menunjukkan kepintaranya," ujar Chen, tetangga Johan di Bangunan Wuwuk. Dewi Gumeleng yang sempat menjadi rekan kerja Lady, megungkapkan rasa tidak percaya atas kejadian yang menimpa Lady. "Sebelum melayat, saya bertanya-tanya apakah betul yang menimpa Lady ini. Saya masih mengenang kepintaran, supel dan kebaikanya saat dulu bekerja bersama-sama di sebuah bank," kata Dewi.

Sementara itu, jumlah korban tewas akibat bencana banjir dan longsor di  Manado bertambah satu lagi. Menurut data yang diperoleh dari Polresta Manado, Senin (18/2),  korban ke-16 bernama Rusdin Rompas (46), warga Ternate Tanjung Lingkungan Lima. "Penemuan mayatnya oleh Femi Rompas (30), adiknya sendiri. Korban ditemukan saat Femi dan keluarga sementara membersihkan rumah di waktu malam. Saat itu air sudah mulai surut," ujar sumber di Polresta.

Data Polresta Manado juga menyebutkan banjir berada di 17 lokasi. Jumlah rumah yang tersapu banjir sebanyak 3.497 unit. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Manado Maximilan Tatahede menyebutkan,  hingga Senin (18/2) jumlah pengungsi mencapai 8.364 jiwa. Mereka tersebar di beberapa posko pengungsian antara lain di kelurahan Dendengan Luar, Dendengan Dalam, Tikala Baru, Paal 2, Komo Luar, Ternate Tanjung, Mahawu, Bailang, Karame, dan Banjer. "Posko pengungsian dipusatkan di kantor kelurahan, masjid, gereja dan rumahwarga," ujarnya. (art/ndo/suk/dma/ika)

Sumber: Tribun Manado 19 Februari 2013 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes