Mengapa Banjir Bandang Landa Manado?

MANADO, TRIBUN -  Dosen Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (UGM) Yogjakarta Ir Soekarno mengungkap fakta menarik tentang banjir bandang di Manado 15 Januari 2014  dalam diskusi ilmiah membahas Solusi Aplikatif Mitigasi Bencana Banjir dan Longsor di ruang sidang Fakultas Teknik Unsrat, Selasa (4/2/2014).

Soekarno menyatakan jika bertolak pada data BMKG, curah hujan yang melanda Sulawesi Utara (Sulut) dan Manado khususnya pada tanggal 14 Januari 2014 hingga 15 Januari 2014 jauh lebih kecil dibanding data curah hujan tahun 2006, 2003, 2001, dan 2000.

"Pertanyaannya, mengapa kemudian banjir yang terjadi 15 Januari 2014 jauh lebih dahsyat dari tahun-tahun sebelumnya? " tuturnya. Soekarno menyebut, data curah hujan yang terekam pada tujuh stasiun pencatat curah hujan milik BMKG di Manado menunjukkan angka yang tak terlalu mengkhawaitkan yaitu 88 mm, 87 mm, 145 mm, 211 mm, 235 mm, dan 64 mm.

"Saat Manado dilanda banjir di beberapa kurun waktu sebelumnya data curah hujan justru terekam lebih tinggi dari data ini, tapi kenapa banjir Januari 2014 ini begitu dahsyat dan luas cakupannya," tutur Soekarno.

Beberapa analisis kemudian dikemukakan pakar hidrologi ini, yang pertama dilihat dari pengaruh cuaca dan kondisi alam. Menurutnya, sebelum banjir bandang terjadi 15 Januari 2014.  BMKG mencatat di atas atmosfir Manado terjadi pergerakan aliran udara yang bergerak dari arah Filipina menuju Kalimantan, Sumatera kemudian belok ke atas Sulawesi Utara, dengan maksud hendak menuju Australia, karena di sana mengalami kondisi tekanan rendah.

"Pertanyaannya kemudian, mengapa air hujan kemudian jatuh di atas Manado? Menurut saya pada saat itu terjadi yang namanya pergerakan angin tak sesuai jadwal hendak menuju Australia, dengan alur lintasan dari Filipina menuju Sumatera dan Kalimantan kemudian berbelok ke atas Sulut, maka angin kemudian menjadi lebih kovergen dengan uap air cukup besar dan akhirnya belum sampai Australia sudah jatuh di atas Manado sehingga menimbulkan banjir besar," ujarnya.

Soekarno kemudian meneliti, mengapa hujan dengan potensi banjir besar seperti ini sama sekali tak terdeteksi dan terekam oleh tujuh stasiun pencatat curah hujan milik BMKG. "Jawabannya, angin yang membawa awan dari Filipina saat berada di atas Sulut kemudian mengalami yang namanya tabrakan dengan bukit-bukit yang berada di sekitar kawasan daerah aliran sungai yang mengakibatkannya tak bisa terekam stasiun BMKG," jelasnya.

Hujan yang terjadi ketika awan menambrak bukit-bukit di sekitar kawasan DAS Tondano, Sawangan, Sario volumenya begitu besar, dibanding tahun-tahun sebelumnya. "Masalah kemudian yang memicu banjir bandang, karena volume debit air hujan tak mampu ditampung DAS," ujar Soekarno.

Dia menemukan, sekian tahun Manado mengalami banjir hingga yang diakui terbesar pada 15 Januari 2014, salah satu penyebabnya karena volume debit air hujan yang jatuh ke sungai jauh lebih besar daripada buangan di muara sungai di Kota  Manado.

"Inilah penyebab kenapa banjir terus terjadi. DAS tak lagi mampu menampung debit air hujan. Muara sungai lebih sempit, sehingga air meluber dan menghasilkan genangan yang disebut banjir. Hal ini sudah terjadi berulang kali, kenapa pemeriantah kota tak jeli melihatnya," tandasnya.

Berdasarkan hasil analisa ini, Soekarno memaparkan beberapa rekomendasi penting untuk menyikapi banjir bandang yang terjadi di Manado agar tidak lagi terjadi. Pertama, memahami jenis tanah yang ada di sepanjang kawasan DAS yang melintasi Manado, mulai dari DAS Tondano, Sawangan, Sario. "Mengenal dengan jelas tipe dan jenis tanah membantu untuk kita memilih jenis tanaman dan pohon apa yang bisa ditanam di sepanjang DAS yang berguna untuk penyerapan air," jelasnya.

Kedua, revitalisasi DAS termasuk bantaran dan badan DAS perlu dilakukan. "Kita lihat, apakah kawasan bantaran sungai sudah mengalami alih fungsi jadi pemukiman, dan lain sebagainya, maka harus segera diperbaiki," ujarnya. Ketiga, dengan membuat sumur-sumur resapan, membuat reservoar, memanfaatkan teknologi hidrolik dengan mengalirkan air sungai melalui pipa, membangun waduk untuk mereduksi banjir, serta memperbesar muara sungai "Kita ambil contoh di Jepang, sungai-sungai yang melintas dalam kota lebarnya bisa sampai 150 meter, di kita berapa? Paling besar 7 meter. Ini salah satu penyebab air meluber dan menimbulkan banjir," tandasnya.  (ika)

Sumber: Tribun Manado 5 Februari 2014 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes