Pertahankan Ende sebagai Kota Pelajar

Oleh Maxi Marho

SEBUAH patung pelajar berdiri tepat di perempatan jalan antara Jalan Wirajaya, Jalan Diponegoro, Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Onekore di Kota Ende. Patung pelajar ini berbentuk dua orang pelajar, yakni pelajar pria dan pelajar wanita, membawa tas. Letaknya yang berada di perempatan jalan membuat semua orang yang melintas di perempatan itu pasti melihat bentuk patung pelajar. Patung pelajar ini sudah dibangun sekitar 15 tahun yang lalu atau lebih.

Keberadaan patung pelajar di Kota Ende pasti memiliki suatu alasan tertentu. Paling tidak, keberadaan SMAK Syuradikara dan SMPK Ndao sebagai sekolah Katolik yang cukup ternama menjadi bagian dari alasan pemerintah Kabupaten Ende membangun patung pelajar di Kota Ende disamping alasan- alasan lainnya.

Semua orang di NTT ini pasti menyadari bahwa banyak orang berhasil di NTT yang merupakan alumni SMAK Syradikara atau SMPK Ndao Ende, tanpa bermaksud mengabaikan alumni sekolah negeri dan swasta lainnya di Kota Ende. 

Karena usianya yang sudah cukup tua, kondisi patung pelajar di Kota Ende saat ini kurang menarik lagi dipandang. Patung pelajar ini mustinya ditata dan diperbaiki lagi agar menjadi pajangan yang indah yang bisa menjadi rangsangan bagi orang tua dan generasi muda untuk bersekolah. Apalagi patung pelajar ini terletak tidak jauh dari SMPK Margot, SMAK Syuradikara dan SMA Negeri I Ende. Para pelajar dari sekolah-sekolah sekitar tentu sehari-hari lewat di depan patung pelajar ataupun menunggu angkutan kota di sekitar patung pelajar Ende.

Berdirinya patung pelajar di Kota Ende sebenarnya memberi sedikit isyarat bahwa Ende sesungguhnya adalah kota pelajar. Kota yang sejak dulu menjadi tempat kaum anak-anak dan remaja atau kaum muda menuntut ilmu. Banyak orang mengirim anaknya dari berbagai daerah ke Kota Ende agar bisa menjadi siswa SMPK Ndao atau SMAK Syuradikara karena dipercaya SMPK Ndao dan SMAK Syradikara merupakan sekolah bermutu yang bisa melahirkan tamatan SMP dan SMA yang bermutu pula. 

Mahalnya biaya sekolah tidak dipersoalkan para orangtua dari berbagai penjuru Flores, bahkan dari luar Pulau Flores, asalkan putra atau putri mereka nantinya menjadi orang pandai dan mendapatkan masa depan yang cemerlang.

Tapi sejalan dengan perkembangan zaman dan sejalan dengan semakin tuanya usia patung pelajar di Kota Ende, apakah saat ini Ende masih pantas disebut Kota Pelajar? Bukankah saat ini ada begitu banyak sekolah di Kabupaten Ende atau di Pulau Flores? Apakah mutu sekolah-sekolah ternama di Kota Ende masih menunjukkan gaungnya?

Kompas.com, Selasa 17 Juni 2008 pernah menurunkan berita dengan judul "Di Ende, Cuma Satu SMA Lulus 100 Persen". Kompas.Com memberitakan, pengumuman kelulusan ujian nasional sekolah menengah atas di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur pada, Selasa (17/6/2008), menunjukan, dari 19 SMA yang ada di Kabupaten Ende baik negeri maupun swasta yang mencapai persentase kelulusan 100 persen cuma satu sekolah yakni SMA Katolik Syuradikara.

Berita ini menunjukan bahwa SMAK Syuradikara masih bisa mengangkat muka ketika banyak sekolah setingkatnya mengalami kemunduran dilihat dari porsentase kelulusan. Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende, persentase kelulusan UN SMA tahun 2008 sebesar 61,79 persen. Peserta yang mengikuti UN di Kabupaten Ende sebanyak 2.295 peserta sementara yang lulus sebanyak 1.418 siswa dan yang tak lulus 877 siswa (38,21 persen). 

Menurut Kepala SMAK Syuradikara Ende, Pater Kanisius Bhila SVD, persentase kelulusan yang mencapai 100 persen itu merupakan hasil perjuangan berkat kerja sama dan pengorbanan semua elemen, baik orang tua siswa, peserta UN sendiri, maupun para guru. Peserta UN dari SMAK Syuradikara tahun 2008 sebanyak 176 siswa.

Apakah ke depan kondisi pendidikan di Kabupaten Ende bisa membaik dan SMAK Syuradikara sebagai iconnya bisa mempertahankan mutu pendidikan di sekolah itu? Bukankah mutu pendidikan di NTT secara keseluruhan tergolong sedang merosot? Bisakah ke depan keberadaan patung pelajar menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Ende sehingga Kota Ende bisa menjadi kota yang dipenuhi para pelajar dari berbagai penjuru daerah seperti ketika negara Indonesia mash berada di jalan orde baru?

Usia Propinsi NTT sudah 50 tahun tahun in. Usia emas ini diharapkan bisa memberi semangat baru termasuk bagi masyarakat dan pemerintah Kabupaten Ende. *

Pos Kupang edisi Minggu, 9 November 2008 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes