Kembalikan Aroma Kopi Manggarai

Oleh Kanis Lina Bana

AGAKNYA menyebut kopi identik dengan Manggarai.Aroma kopi menjadi ikon komoditi unggulan di wilayah itu.Hampir pasti semua wilayah setempat seperti Lamba Leda, Borong, Kota Komba, Elar, Poco Ranaka, kopi menyebar secara merata. Sepertinya di sini ada kopi di sana ada kopi. Di mana-mana ada tanaman kopi kecuali wilayah pesisir pantai seperti Sambi Rampas. Maka syair tandak, "Manga kopi manga doi" hanya mau menunjukkan kepada publik betapa membanggakan memiliki tanaman kopi itu.

Lalu dari mana tanaman Itu? Tidak disebutkan secara jelas asal-muasal komoditi andalan itu di Manggarai. Hampir pasti para misionaris asinglah yang memperkenalkan tanaman kopi. Alhasil, sejak tahun 1920 kopi sangat populer di kawasan Gelarang Colol, Kecamatan Poco Ranaka. Aroma kopi Colol pula menyihir simpati Pemerintah Belanda sehingga pada tahun 1937 memberi penghargaan kepada Bernardus Ojong sebagai pemenang perlombaan kebun kopi Arabika.

Tidak itu saja, aroma kopi Colol memberi getah rasa yang berbeda. Bahkan sejajar dengan kopi Ermera di Timor Leste atau Kopi Liwa di Lampung.

Karena itu pada masa kepemimpinan Frans Sales Lega dan Frans Dulla Burhan, pengembangan tanaman kopi menjadi idola. Hampir semua daerah potensial dikembangkan kopi. Alamarhum Paulus Kantor termasuk salah seorang petani kopi yang sukses. Hingga kini masyarakat Manggarai dan Manggarai Timur menikmati kontribusi ekonomi dari hasil kopi itu. Kopi menjadi trade mark- nya Manggarai. Kopi menjadi "jenis kelamin" wilayah Manggarai dan Manggarai Timur.

Topografi berbukit-bukit dan bergunung-gunung serta iklim agak sejuk menguntungkan pengembangan tanaman kopi, terutama kopi Arabika. Selain Arabika, jenis robusta pun banyak ditanam di Manggarai dan Manggarai Timur. Produksi kopi setiap tahun membanggakan. Seturut data seluas 22.845 ha. Data ini memperlihatkan sedikitnya Colol menyumbang 50 persen terhadap produksi kopi di daerah Manggarai dan Manggarai Timur.

Meski demikian, hingga saat ini sistem pertanian kopi masih tradisional. Masih alami, seturut istilah David Sutarto, seorang petani kopi yang juga anggota DPRD Manggarai Timur, sistim pertanian kopi hanya bergantung pada alam dan Allah. Sentuhan teknologi masih jauh dari harapan, belum ada apa-apanya. PPL yang diharapkan, jauh panggang dari api. Kondisi itu masih diperburuk lagi oleh harga kopi yang tidak memihak petani. Harga jual kopi Arabika di tingkat petani berkisar Rp 14.000,00 sebelumnya sempat menanjak angka Rp 18.000,00 kilogram biji kering. Sedangkan kopi Robusta Rp 10.000,00 sampai Rp 15.000,00. Harga itu fluktuatif, bahkan cenderung menurun. Belum lagi tradisi ijon yang beranak pinak di tengah masyarakat akibat belitan ekonomi.

Memang, tahun-tahun sebelumnya harga kopi Arabika masih bisa mencapai0 Rp 20.000 per kilogram biji kering sedangkan Robusta Rp 15.000 per kilogram. Turunnya harga kopi bisa jadi efek dari bisnis kopi dunia yang semakin menunjukkan kompetisi yang cukup tinggi. Apalagi sekarang muncul pesaing baru dari Asia seperti Vietnam yang notabene dulu pernah belajar kopi di Indonesia tepatnya di Pusat Penelitian Perkebunan Kopi dan Kakao Jember. Persaingan ini membuat harga kopi nasional, termasuk kopi Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur mengalami fluktuasi.

Harus diakui daya saing kopi Manggarai sebenarnya masih rendah. Sebagai akibat sistem pengolahan secara tradisional. Biji kopi hanya dijemur di bawah terik matahari di pinggir jalan. Ini membuat biji kopi tidak kering sempurna. Akibatnya, kualitasnya pun rendah. Saat ini mulai dirintis unit pengolahan kopi secara mekanis pabrik pengupasan kulit buah kopi milik Toko Matahari di Ruteng juga dibangun di Tangkul-Desa Rendenao, Kecamatan
Poco Ranaka.

Dengan alat ini biji kopi baru bisa dikeringkan saja, belum sampai tahap pengolahan menjadi bubuk. Memang pernah ada beberapa perusahaan di Ruteng yang mengolah biji kering menjadi bubuk. Tapi, jumlahnya sangat terbatas. Sampai saat ini, kebanyakan pemasaran kopi dari petani masih dalam bentuk biji kering.

Meski demikian, harus diakui, tanaman itu telah menjadi tumpuan keluarga, modal dalam menyekolahkan anak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pernah di era 1990-an harga kopi melonjak tinggi. Harga jualan mencapai jutaan rupiah sehingga membeli bus kayu (dump truk yang dimodifikasi, Red) seperti beli kacang goreng. Atau kisah sensasi beberapa warga Colol sarapan pagi di Ruteng sebelum memetik kopi di kebunnya.

Namun ketika instruksi Bupati Manggarai No: DK.522.11/1134/10/2002 tanggal 7 Oktober 2002 sebagai
implementasi SK Bupati Manggarai No: Pb.188.45/27/VI/2002
tentang pembentukan tim terpadu dalam rangka penertiban dan pengamanan hutan menjadi titik balik masa keemasan tanaman kopi itu.

Tanaman kopi yang tersebar di beberapa wilayah ditebang. Mulai dari Meler-Kuwus TRK 111 hingga Colol TRK 118. Tercatat lebih dari 1.000 hektar dari target 86.556,93 ha, tanaman kopi dari berbagai usia dibabat tim terpadu itu. Tanaman kopi para petani seperti Aleksander Dahar (47), Yohanes Darus, Konstan Budi dari Colol serta ratusan petani lainnya rata tanah. Akibat kerugian yang dialami petani lebih dari Rp 10 M, enam nyawa melayang. Belum lagi ratusan anak putus sekolah, hijrah ke Malaysia.

Memang, alasan penertiban dan pembabatan tanaman rakyat dalam rangka penertiban kawasan hutan. Apakah alasan penertiban menjadi halal dengan membabat tanaman rakyat. Bukankah ini sebuah langkah mundur karena telah membunuh petani secara sistematis? Yang tampak dari kebijakan pembabatan tanaman kopi justru sebuah potret buram dari sebuah kebijakan yang tidak memihak kepentingan rakyat. Di masa pemerintahan Drs. Christian Rotok-Dr. Deno Kamelus, S.H.M.H, rasa percaya diri petani muncul lagi, meski masih dihantui masalah tanah dan tapal batas. Masih ada kecemasan terhdap sebuah lingkaran setan yang belum ada ujung penyelesaian yang jelas dan tegas. Solusi terhadap konflik itu yakni harus diakui kepemilikan hak ulayat.

Pengembangan kawasan tanaman perkebunan dengan pola pertanian berbasis masyarakat. Misalnya pengembangan kopi perlu disentuh dengan teknologi sehingga kawasan yang dikembangkan itu tidak hanya mendatangkan produksi kopi bagi masyarakat, tetapi sekaligus menjadi kawasan hutan lindung. Studi banding jauh-jauh ke Bandar Lampung harus ada guna-ganaya.

Hanya dengan kebijakan populis, pro rakyat serta pendekatan lonto leok aroma kopi tetap segar dan hutan pun tetap lestari. 

****
Memang, secara faktual pola pertanian kopi masih serampangan. Dalam lokasi kopi, misalnya, petani melakukan polikultur. Mereka tidak hanya mengandalkan tanaman kopi dan hasil dari kopi saja, tetapi juga melakukan diversifikasi tanaman lain seperti jambu mete, vanili, dan kemiri. Ini merupakan salah satu cara mengganti peran kopi bila harganya mulai tidak berpihak pada petani. Produk unggulan Manggarai yang lain adalah vanili. Nilai ekonomisnya lumayan tinggi.

Namun harus diakui masalah tahunan hampir sama. Harga komoditi kembang kembis seturut salera pemilik modal. Ketika harga tinggi petani senang dan ketika harga amerosot tajam petani tidak ada pilihan. Mereka pasrah dan mengikuti grafik harga komoditi itu. Inilah tantangan bagi pemerintah daerah. Pemerintah wajib membangun manajemen pemasaran yang baik, teratur dan terukur. Tidak hanya kemasan menghabiskan anggaran seperti perusahaan daerah itu. Atau teriakan retorika semata di media massa dan asa kata tak berbisa di berbagai kesempatan. Perlu ada keterlibatan yang membumi, merakyat. Pemerintah daerah bersama DPRD dan dunia usaha, perlu diskusi merumuskan formulasi yang tepat menyikapi harga komoditi petani itu.

Selain itu dinamika pertanian yang baik, pengembangan berwawasan ekologis dengan sentuhan teknologi yang memadai sehingga meningkatkan produktivitas kopi itu tetap diperhatikan. Pengembangan berwawasan ekologis yang diamksudkan, pemerintah tidak serta merta mempersalahkan petani, tetapi menempatkan secara proporsional dalam konteks pengembangan dan peningkatan kesejahteraan rakyat.

Perbanyak petugas penyuluh pertanian dan perkebunan dengan sistim tinggal di tengah-tengah petani. Jika hal ini diperhatikan secara baik teriakan merosotnya harga komoditi dapat diminimalisir. Mudah-mudahan, dalam perjalanan selanjutnya kopi yang menjadi andalan dan tumpuhan hidup masyarakat Manggarai dan Manggarai Timur tetap segar. Produktivitas makin besar dan nilai jual menembus dunia. Aroma kopi pun tetap menusuk hidung dan menjadi sumber kehidupan masyarakat sehingga syair lagu manga kopi manga doi tetap didengungkan. *

Pos Kupang edisi Sabtu, 8 November 2008 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes