Temu Kenal Gubernur-Wagub di Jakarta (1)

Oleh Tony Kleden

Tidak boleh lagi omong NTT miskin. Sebab stigma itu tidak ada nilai positifnya, cuma melemahkan semangat untuk bangkit, untuk bangun.

SUDAH bukan hal baru dan mengejutkan manakala mendengar dan membaca kritikan bernada minor tentang NTT. Miskin, melarat, busung lapar, gizi buruk, sangar-sangar adalah sederetan stigma yang paling menyakitkan di telinga.

Nama propinsi ratusan pulau nan indah ini pun diplesetkan aneh-aneh. Nasib Tidak Tentu, Nanti Tuhan Tolong, Nasib Tergantung Tindakan. Di musim kemarau, saat Kota Kupang ramai dengan aksi bakar-membakar dan menyisahkan batu-batu cadas, NTT diplesetkan lagi menjadi Nona Tidur Telanjang.
Rada lucu dan menjengkelkan mendengar plesetan seperti itu. Galibnya, plesetan itu cuma melemahkan spirit, mematikan semangat dan memasung daya kreasi.

Niat menghilangkan aneka stigma seperti itulah yang mendorong Gubernur-Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya-Ir. Esthon L Foenay, M.Si, membuang langkah ke Jakarta, Jumat-Sabtu (10-11/2008) lalu. Hari Jumat (10/10/2008) malam di Restoran Pulau Dua, Jakarta, Gubernur Lebu Raya bertemu dengan sejumlah pengusaha yang dihimpun Institut Leimena, Jakarta. Dari Institut Leimena hadir antara lain Jakob Tobing dan beberapa pengurus.

Akrab suasana malam itu. Meja-meja bundar terisi penuh. Sekitar 30-an orang hadir. Lebih banyak dari Jakarta. Mereka adalah para pengusaha dengan feeling bisnis tajam. Mereka mewakili grup-grup bisnis yang punya nama beken di negara ini. Dari Grup Ciputra hadir Cakra Ciputra, putra Ciputra. Edwin Suryajaya dari Grup Suryajaya. Albert Salim dari Salim Grup dan beberapa yang lain.

Di hadapan para pengusaha itu Gubernur Lebu Raya membeberkan kondisi NTT, memetakan potensi-potensi yang ada dan menunjukkan peluang-peluang bisnis yang bisa ditangkap.

Menurut Gubernur Lebu Raya, sudah terlalu lama NTT dikesankan sebagai daerah yang serba kurang. Kurang ini, kurang itu. Lemah ini, lemah itu. Kesan yang kemudian berubah menjadi mitos adalah miskin. NTT terlanjur identik dengan kemiskinan. "Saya sudah minta kepada warga NTT agar stigma miskin itu dihentikan. Tidak boleh lagi omong NTT miskin. Sebab stigma itu tidak ada nilai positifnya, cuma melemahkan semangat untuk bangkit, untuk bangun. NTT masih banyak potensi yang butuh sentuhan, butuh perhatian," kata Gubernur Lebu Raya.

Di laut NTT kaya raya. Ikan, teripang, rumput laut, mutiara. Apalagi sepertiga luas NTT adalah lautan. Anehnya, kata gubernur, melaut belum terlalu mentradisi di NTT. Warga asli NTT yang turun ke laut cuma segelintir nelayan di Flores Timur, Lembata, Rote, Ende. Selebihnya datang dari Bugis, Makassar, Buton, Kendari dan menetap di NTT. Mereka ini yang lebih bernyali membelah ombak di perairan NTT hingga menjadi kaya raya. "Banyak orang NTT biar tinggal di pinggir pantai, tetapi membelakangi laut," kata gubernur.

Di darat NTT kaya mineral. Emas, barit, mangaan, semen, panas bumi. Apa yang tidak ada di NTT? "Nah, karena itu pertemuan malam ini sangat berarti. Saya ajak semua kita dalam ruangan ini mari bantu NTT, mari bersama-sama bangun NTT. Pemerintah siap membantu, siap memperlancar segala urusan. Ciputra bangun hotel di mana-mana, saya tunggu Hotel Ciputra di NTT," tantang Gubernur Lebu Raya.

Selepas gubernur membeberkan kondisi NTT berikut potensi yang laik garap, sejumlah pertanyaan terlontar dari kalangan pengusaha Jakarta. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan sederhana saja. Apakah di NTT ada pelabuhan peti kemas? Bagaimana kondisi jalan raya menuju pelabuhan? Ada hotel yang baik dan representatif? Bagaimana jalur teleponnya? Itulah beberapa pertanyaan yang diajukan dalam pertemuan itu.
Sederhana? Mungkin ya. Tetapi untuk pengusaha, fasilitas seperti ini adalah vital. Vital karena akan sangat menentukan maju mundurnya suatu aktivitas industri. Mimpi kita umumnya di langit ketuju. Konsentrasi kita adalah bangunan-bangunan besar, proyek-proek mercusuar. Kita lupa yang kecil-kecil, yang sederhana-sederhana, tetapi vital. Sekali lagi vital.

Terkenang Kawasan Industri (KI) Bolok dengan seorang 'manejer' beberapa tahun lalu. Teringat Kapet Mbay, nun beberapa dekade lampau. Terbayang pabrik Semen Kupang hari- hari ini. Terusik dengan Perusahaan Daerah Flobamor yang lebih banyak didonor dana dari APBD, tanpa banyak mendonor.
Seberapa berhasil aset-aset ini memberi maslahat untuk warga NTT? Cerobong pabrik Semen Kupang mengepul sejak masa Ben Mboi. Kapet Mbay sejak Herman Musakabe. KI Bolok sejak Piet A Tallo. Tetapi situasi dan kondisi tidak membaik. Aset-aset ini lebih banyak hanya punya nama besar, ketimbang manfaatnya.

Maka ketika mendengar pertanyaan-pertanyaan substansial dari para pengusaha Jakarta, rasanya NTT masih sangat jauh dari bayangan para pemodal di negeri ini. Propinsi yang telah menyumbang begitu banyak tokoh intelektual buat negeri ini, mengirim begitu banyak rohaniwan ke begitu banyak negara di dunia terkesan masih begitu tertinggal dan sama sekali tidak masuk agenda ekspansi usaha para pemodal.

Terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti itu, Gubernur Lebu Raya menjelaskan, fasilitas pendukung sebetulnya tidak terlalu jelek. NTT tidak terlalu jeleklah seperti yang didengar. Apa yang dibayangkan selama ini sebagai kurang, tidak semuanya benar. "Kita di NTT punya satu kawasan industri yang kita sebut Kawasan Industri Bolok. Kawasan ini dekat dengan pelabuhan. Pelabuhan ini juga bisa untuk pelabuhan peti kemas. Kondisinya cukup bagus. Ada hotel berbintang dengan fasilitas standar," kata Gubernur Lebu Raya meyakinkan para pengusaha itu.

Gubernur Lebu Raya memahami kegundahan, keraguan dan kecemasan para pengusaha itu menanam modalnya di NTT. Karena itu berkali-kali gubernur meminta perhatian lebih para pengusaha Jakarta untuk berani menanam modalnya di NTT. Investasi, kata gubernur kepada para pengusaha itu, ada untung dan ruginya. "Mungkin ada kerugian dari sisi bisnis, tetapi juga ada untung secara sosial. Karena itu saya mengajak siapa saja yang berkemauan baik untuk tolong bangun NTT ke depan. Berikan perhatian lebih untuk NTT," ajak Gubernur Lebu Raya.

Ruangan Restoran Pulau Dua, Jakarta malam itu aram-temaram. Ikan bakar, minuman ringan, buah-buahan sudah lenyap separuh. Berpindah tempat, dari meja ke perut. Tetapi pertemuan malam itu tidak boleh berhenti di situ. Harapan tetap perlu dilambungkan. "Malam ini kita sudah berkumpul. Ini langkah awal, dan harus ada follow up-nya. Pertemuan malam ini tidak boleh sampai di sini saja. Saya tunggu di Kupang," kata Gubernur Lebu Raya. (bersambung)

Pos Kupang edisi Kamis, 30 Oktober 2008 halaman 1, http://www.pos-kupang.com
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes